Anda di halaman 1dari 14

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta

taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai


“OSTEORITIS”.

Kami sangat berharap, semoga makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan
serta pengetahuan kita. Kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.

Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah
ini. mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita.

Gorontalo,7 Maret 2017

Penyusun
KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang...................................................................1


1.2. Rumusan masalah..............................................................1
1.3. Tujuan................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Konsep Medik..................................................................3


2.2. Definisi Osteoritis..............................................................5
2.3. Etiologi.............................................................................6
2.4. Manifestasi Klinis..............................................................6
2.5. Patofisiologis.....................................................................6
2.6. Pemeriksaan Penunjang.....................................................10
2.7. Penatalaksanaan.................................................................11
2.8. Konsep Keperawatan.......................................................12
2.9. Pengkajian………………………………………………..
2.10. Diagnosis Keperawatan…………………………………….
2.11. Perencanaan dan Implementasi…………………………….
2.12. Evaluasi................................................................................

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan..............................................................................12
3.2. Saran........................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13

A. Latar Belakang
Osteoatritis merupakan penyakit sendi degeneratif dan progresif yang mengenai
mereka diusia lanjut atau dewasa dimana rawan kartilago yang melindungi ujung tulang
mulai rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkondrak. Penyakit
ini merupakan jenis atritis yang paling sering terjadi dan menimbulkan rasa sakit serrta
hilangnya kemampuan gerak.

Angka kejadian OA di dunia terbilang cukup tinggi. WHO memperkirakan 25%


orang berusia 65 tahun didunia menderita OA. Sementara diasia tenggara, cuman
penderita OA mencapai 24juta jiwa. Prefalensi OA di indonesia sampai saat ini belum ada
laporan yang jelas. Namun Handono dan Kusworini melaporkan bahwa pravelensi OA di
malang pada usia antara 49-60 tahun cukup tinggi yaitu sebesar, 21,7%.
Osteoartritis biasanya mengenai sendi penopang berat badan misalnya pada
panggul, lutut, vertebra, tetapi dapat juga mengenai bahu, sendi-sendi jari tangan, dan
pergelangan kaki. Pada studi radiografi yang dilakukan di amerika dan eropa pada
penduduk usia 45 tahun ke atas di dapatkan prevalensi OA lutut cukup tinggi yaitu
sebesar 14% pada laki-laki dan 22,8% pada wanita.

Penderita OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melkkan aktivitas atau jika
ada pembebanan pada sendi yang terkena. Penderita OA dengan obesitas lebh sering
mengeluh nyeri pada sendi lutut dibandingkan dengan penderita yang tidak obesitas. Hal
ini menunjukkan bahwa berat badan berlebih mempengaruhi derajat nyeri pada penderita
OA lutut. Obesitas merupakan salah satu faktor resiko OA lutut dan mempengaruhi
densitas tulang secara radiologis.

B. Rumusan masalah
- Apa pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan
- Bagaimana cara membuat asuhan keperawatan pada klien osteoartritis
C. Tujuan

- Untuk mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,


penatalaksanaan
- Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari osteoartritis

A. Konsep Medik
1. Definisi
Osteoartitis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh pengeroposan
kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, tullang di
bawahnya mengalami iritasi, yang menyebabkan degenarasi sendi. Osteoartritis dapat
terjadi secara idiopatik (tannpa diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma,
dengan stres berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau balerina, atau
berkaitan dengan deformitas kongenital. Individu yang mengalami hemofilia atau
kondisi lain yang ditandai oleh pembekakan sendi kronis dan edema, dapat
mengalami osteoartritis. Osteoartritis sering dijumpai pada lansia, yang mengenai
lebih dari 70% pria dan wanita yang berusia di atas 65 tahun. Obesitas dapat
memperburuk kondisi ini.

Osteoartritis diklasifikasikan sebagai tipe primer (idiopatik) tanpa kejadian atau


penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan osteortritis, dan tipe sekunder.
Namun, perbedaan antara osteoartritis primer dan sekunder tidak selalu terlihat
dengan jelas.

Pertambahan usia berhubungan secara langsung dengan proses degeneratif dalam


sendi, mengingat kemampuan kartilago artikuler untuk bertahan terhadap micro
fraktur dengan beban muatan rendah yang berulang-ulang mengalami penurunan.
Osteoartritis sering dimulai pada dekade usia ketiga, dan mencapai puncaknya
diantara dekade kelima dan keenam. Menjelang usia 75 tahun, 85% populasi akan
menunjukkan hasil pemeriksaan ronsen atau bukti klinis adanya asteoartritis. Kendati,
demikian, dari angka ini hanya 15% hingga 25% yang mengalami gejala bermakna.

2. Etiologi
Penyebab dari OA untuk sekarang masih belum jelas tetapi faktor resiko OA dapat
diketahui dari:
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Ras
4. Faktor keturunan
5. Faktor metabolic endokrin
6. Faktor mekanik serta kelainan geometri sendi
7. Trauma dan faktor okupasi
8. Cuaca/iklim
9. Diet
3. Manivestasi Klinis
1. Nyeri, kekakuan, dan kerusakan fungsi merupakan manivestasi klinik primer
2. Kekakuan paling sering pada pagi hari setelah bangun tidur dan biasanya
berlangsung kurang dari 30 menit.
3. Kerusakan fungsional terjadi akibat nyeri pada pergerakan dan keterbatasan
gerakan sendi ketika terjadi perubahan struktur.
4. Osteoartritis terjadi paling sering pada sendi yang menahan beban berat
(panggul, lutut, servikal, dan spinal lumbal); sendi jari-jari juga terserang.
5. Mungkin terdapat nodus bertulang (tidak terasa sakit kecuali mengalami
inflmasi)

4. Patofisiologi
Osteoartritis dapat dianggap sebagai hasil-akhir banyak proses patologi yang
menyatu menjadi suatu predisposisi penyakit yang menyeluruh. Osteoartiritis
mengenai kartilago artikuler, tulang subkondrium (lempeng tulang yang menyangga
kartilago artikuler) serta sinovium, dan menyebabkan keadaan campuran dari proses
degradasi, inflamasi serta perbaikan. Proses degeneratif dasar dalam sendi sudah
dijelaskan sebelumnya dalam bab inni dan dicontohkan pada osteoartritis.
Pemahaman terhadap osteoartritis telah berkembang luas hingga sudah berada diluar
pandangan bahwa penyakit tersebut hanya semata-mata proses “aus akibat
pemakaian” yang berhubungan dengan penuaan. Faktor risiko bagi osteoartritis
mancangkup usia, jenis kelamin wanita, predisposisi genetik, obesitas, stres mekanis
sendi, trauma sendi, kelainan sendi atau tulang yang dialami sebelumnya, dan riwayat
penyakit inflamasi, endokrin serta metabolik.
Unsur herediter osteoarttritis yang dikenal sebagai nodal generalized osteoartritis
(yang mengenai tiga atau lebih kelompok sendi) telah dikonfirmasikan. Tipe
osteoartritis ini meliputi proses inflamasi primer. Wanita pascamenopause dalam
keluarga yang sama ternyata memiliki tipe osteoartritis pada tangan yang ditandai
dengan timbulnya nodus pada sendi interfalang distal dan sendi interfalang proksimal
tangan.
Gangguan kongenital dan perkembangan pada koksa sudah diketahui benar
sebagai predisposisi dalam diri seseorang untuk mengalami osteoartritis koksa.
Gangguan ini mencangkup subluksasi-dislokasi kongenital sendi koksa, displasia
asetabulum, penyakit Legg-Calve-Perthes dan pergeseran epifise kaput femoris.
Obesitas memiliki kaitan dengan osteoartritis sendi lutut pada wanita. Meskipun
keadaan ini mungkin terjadi akibat stres mekanis tambahan dan ketidaksejajaran
(misaligment) sendi lutut terhadap bagian tubuh lainnya karena diameter paha, namun
obesitas dapat memberikan efek metabolik langsung pada kartilago. Secara mekanis,
obesitas dianggap meningkatkan gaya yang melintas sendi dan karenna itu
menyebabkan degenerasi kartilago. Teori faktor metabolik menunjukkan adanya
hormon atau mediator biologik yang berkaitan dengan dan menyebabkan osteoartritis.
Faktor-faktor mekanis seperti trauma sendi, aktifitas olahraga dan pekerjaan juga
turut terlibat. Faktor-faktor ini mencangkup kerusakan pada ligamentum krusiatum
dann robekan meniskus, aktifitas fisik yang berat dan kebiasaan sering berlutut.

5. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan serologi (untuk indikasi inflamasi) dan cairan sinovial dalam batas
normal, pemeriksaan mikroskropis
2. Foto Rontgent polos menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi
sebagai penyempitan rongga sendi
3. Pemeriksaan zat besi dan kalsium

6. Penatalaksanaan
 Keseimbangan antara istirahat dan kerja sendi, yang diarahkan untuk
meminimalkan inflamasi, tetapi mempertahankan rentang gerak, sangat
membantu.
 Obat-obatan analgesik dan anti-inflamasi untuk mengurangi pembengkakan
dan inflamasi.
 Pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki deformitas atau
mengganti sendi.

B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian

Anamnesa riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik harus difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku,
demam/panas, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta citra-diri pasien.
Karena pasien reumatik mempengaruhi banyak sistem tubuh, maka riwayat kesehatan dan
pemeriksaan fisik harus mencakup peninjauan dan pemeriksaan semua sistem dengan
memberikan perhatian terutama kepada bagian-bagian tubuh yang sering terkena, termasuk
sistem muskoletal.
Status psikologis serta mental pasien dan sisitem pendukung sosial juga harus dikaji
sebagaimana pula kemampuan pasien untuk turut serta dalam aktivitas sehari-hari,
melaksanakan program pengobatannya dan mengelola perawatan-mandiri. Informasi yang
didapat bias memberikan pandangan menegenai pemahaman pasien terhadap program
pengobatan dan dapat mengungkapkan kesalahan dalam penggunaan obat, ketidakpatuhan
atau pemakaian obat-obat lain yang belum terbukti khasiatnya. Bidang-bidang lainnya yang
perlu dinilai adalah pemahaman pasien, motivasi, kemampuan untuk mengatsi masalah,
pengalaman dimasa lalu, prakonsep dan ketakutan pasien. Efek penyakit terhadap konsep-diri
pasien dan kemampuan koping juga harus dikaji. Persepsi pasien terhadap kondisi dirinya
dan dampaknya akan memperngaruhi keputusan, pilihan dan tindakan yang berkaitan dengan
rekomendasi terapi.
2. Diagnosis Keperawatan

1). Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi dan peningkatan aktivitas penyakit, keadaan
mudah lelah serta keterbatasan mobilitas.
2). Keletihan yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri,
tidur/istirahat yang tidak memadai, dekondisioning, nutrisi yang tidak memadai, stress
emosional/depresi.
3). Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan
otot, nyeri pada gerakan, keterbatasan ketahanan fisik, kurangnya atau tidak tepatnya
pengguaan alat-alat ambulatori.
4). Kurang perawatan-diri yang berhubungan dengan kontraktur, keletihan atau gangguan
gerak.
5). Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta
psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi.
6). Koping tidak efektif yang berhubungan dengan gaya hidup atau perubahan peranan yang
aktual atau yang dirasakan.

3. Perencanaan dan Implementasi

1. Diagnosa Keperawatan: nyeri berhubungan dengan inflamasi dan peningkatatn aktivitas


penyakit, kerusakan jaringan, keterbatasan mobilitas atau tingkat toleransi yang rendah.
Sasaran: perbaikan dalam tingkat kenyamanan: penyertaan pelaksanaan nyeri dalam
kehidupan sehari-hari
Intervensi Keperawatan
1). Laksanakan sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanaan:
a. kompres panas atau dingin
b. masase perubahan posisi, istirahat
c. kasur busa, bantal penyangga bidai
d. teknik relaksasi aktivitas yang mengalihkan perhatian.
Rasional: rasa nyeri dapat responsive terhadap intervensi bukan obat-obatan, seperti
perlindungan sendi, latihan fisik, teknik relaksasi dan bentuk-bentuk terapi suhu.
2). Berikan preparat antiinflamasi, analgesik dan antireumatik kerja lambat seperti yang
dianjurkan.
Rasional: nyeri pada penyakit reumatik responsive terhadap pemberian obat satu macam saja
atau kombinasi.
3). Sesuaikan jadwal pengobatan untuk memenuhi kebutuhan pasien terhadap penatalaksanaan
nyeri.
Rasional: pengalaman nyeri sebelumnya dan strategi penalaksaan dapat berbeda dengan yang
dibutuhkan untuk nyeri paristen.
Hasil yang diharapkan:
 mengenali faktor-faktor yang menimbulkan eksaserbasi atau memperngaruhi respon
nyeri.
 Mengenali dan melaksanakan tindakan dalam penatalaksanaan nyeri.
 Mengutarakan dengan kata-kata berkurangnya rasa nyeri.

2. Diagnosa Keperawatan: Keletihan yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit,


rasa nyeri, susah tidur/istirahat yang tidak memadai, dekondisioning, nutrisi yang tidak memadai
dan depresi/stress emosional.
Sasaran: mengikutsertakan tindakan sebagai bagian dari aktivitas hidup sehari-hari yang
diperlukan untuk mengubah

Intervensi Keperawatan
1). Berikan penjelasan tentang keletihan:
a. hubungan antara aktivitas penyakit dan keletihan
b. menjelaskan tindakan untuk memberikan kenyamanan sementara melaksanakannya
c. mengembangkan dan mempertahankan tindakan rutin untuk tidur (mandi air hangat dan
teknik relaksasi yang memudahkan tidur).
d. Menjelaskan pentingnya istirahat untuk mengurangi stress sistemik, artikuler dan
emosional
Rasional: pemahaman pasien tentang keletihan akan memperngaruhi tindakannya.
a. Tingkat keletihan berhubungan langsung dengan aktivitas penyakit
b. Penurunan gangguan rasa nyaman dapat mengurangi keletihan
c. Tindakan rutin yang efektif pada waktu tidur akan memudahkan yang
memulihkan kondisi pasien.
d. Diperlukan berbagai macam istirahat untuk mengurangi keletihan yang didasrkan
pada kebutuhan serta respon pasien.

2). Fasilitasi mengembangan jadwal aktivitas/istirahat yang tepat.


Rasional: istirahat dan aktivitas yang bergantian akan menghemat tenaga sementara sebagian
besar produktivitas masih berjalan.
3). Dorong kepatuhan pasien terhadap program terapinya
Rasional: pengendalian yang menyeluruh terhadap aktivitas penyakit dapat mengurangi tingkat
keletihan.
Hasil yang diharapkan:
 Melaksanakan evaluasi sendiri dan pemantauan pola keletihan.
 Mengutarakan dengan kata-kata hubungan keletihan dengan aktivitas penyakit.
 Melakukan tindakan yang menimbulkan kenyamanan jika diperlukan

3. Diagnosa Keperawatan: Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan


rentang gerak, kelemahan otot, rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik,
kurangnya atau tidak tepatnya penggunaan alat-alat ambulasi.
Sasaran: Mendapatkan dan mempertahankan mobilitas fungsional yang optimal.
Intervensi Keperawatan
1). Dorong verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan mobilitas.
Rasional: Mobilitas tidak harus yang berhubungan dengan deformitas, rasa nyeri, kaku dan
keletihan dapat membatasi mobilitas untuk sementara waktu. Derajat mobilitas tidak sama
dengan derajat kemandirian. Penurunan mobilitas dapat mempengaruhi konsep diri pasien dan
membawa isolasi sosial.
2). Kaji kebutuhan akan terapi okupasi/fisioterapi:
a. Menekankan kisaran gerak pada sendi yang sakit.
b. Meningkatkan pemakaian alat bantu.
c. Menjelaskan pemakaian alas kaki yang aman.
d. Menggunaka postur/pengayuran posisi tubuh yang tepat menurut individu masing-masing
Rasional: latihan yang bersifat terapi, pemakaian alas kaki yang tepat dan/atau alat bantu dapat
memperbaiki mobilitas. Postur tubuh dan pengaturan posisi yang benar diperlukan untuk
mempertahankan mobilitas yang optimal.
3). Bantu pasien mengenali rintangan dalam lingkungannya.
Rasional: adaptasi perabot dan arsitektur rumah dapat memudahkan mobilitas.
Hasil yang diharapkan:
 Mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas.
 Menjelaskan dan melaksanakan tindakan untuk mencegah gangguan gerakan.
 Mengenali rintangan lingkungan (rumah, sekolah, tempat kerja, masyarakat) yang
menghalangi mobilitas optimal.

4. Diagnosa keperawatan: Kurang perawatan-diri


Sasaran: Mendapatkan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas perawatan-mandiri tanpa
tergantung pada orang lain atau dengan memanfaatkan berbagai sumber daya.
Intervensi Keperawatan
1). Bantu pasien untuk mengenali deficit perawatan-mandiri dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kemampuan pasien untuk melaksanakan aktivitas perawatan-mandiri.
Rasional: Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas perawatan-mandiri dipengaruhi oleh
aktivitas penyakit dan rasa nyeri, kaku, keletihan, kelemahan otot, gangguan gerak dan depresi
yang menyertai penyakit tersebut.
2). Kembangkan rencana berdasarkan persepsi pasien dan prioritas mengenai cara bagaimana
menetapkan dan mencapai tujuan mandiri dengan mengikutsertakan konsep-konsep perlindungan
sendi, penghematan tenaga dan penyederhanaan kerja.
a. Menyediakan alat bantu yang tepat
b. Menguatkan kembali pemakaian alat bantu dengan benar
c. Membiarkan pasien mengendalikan waktu dalam pelaksanaan aktivitas perawatan-
mandiri
d. Menjajaki berbagai cara pasien untuk melaksanakan tugas-tugas yang sulit atau untuk
menyusun daftar bantuan dari orang lain.
Rasional: alat bantu dapat meningkatkan aktivitas perawatan-mandiri. Perencanaan yang efektif
untuk pelaksanaan perubahan harus mengikutsertakan pasien yang harus menerima dan
mengadopsi rencana tersebut.
3). Konsultasi dengan lembaga pelayanan kesehatan lainnya kalau pasien yang sudah mencapai
tingkat maksimal perawatan-mandiri masih memiliki beberapa kekurangan, khususnya yang
berkenaan dengan keamanan.
Rasional: setiap orang mempunyai perbedaaan dalam hal kemampuan dan kemauan untuk
melaksanakan aktivitas perawtan-mandiri. Perubahan dalam kemampuan untuk merawat diri
sendiri dapat menurunkan keamanan pribadi.
Hasil yang diharapkan:
 Mengenali factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan aktivitas
perawatan mandiri.
 Mengenali berbagai metode alternative untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
 Menggunakan metode-metode akternatif untuk memenuhi kebutuhan perawatan-mandiri.

5. Diagnosa Keperawatan: Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan dan
ketergantungan fisik serta psikologis yang diakibatkan oleh penyakit kronik.
Sasaran: Mencapai rekonsiliasi antar konsep-diri dan perubahan fisik serta psikologik yang
ditimbulkan oleh penyakit reumatik.
Intervensi Keperawatan.
1). Bantu pasien untuk mengenali unsur-unsur pengendalian gejala penyakit dan penanganannya.
Rasional: Konsep-diri seseorang dapat diubah oleh penyakit atau penanganannya.
2). Dorong verbalisasi perasaan, persepsi, dan rasa takut.
a. Membantu menilai situasi sekarang dan mengenali masalahnya.
b. Membantu mengenali mekanisme koping pada masa lalu.
c. Membantu mengenali mekanisme koping yang efektif.
Rasional: strategi koping seseorang menunjukkan kekuatan konsep dirinya.
Hasil yang diharapkan:
 Mengutarakan kesadaran bahwa perubahan yang berlangsung dalam konsep-diri
merupakan respons normal terhadap penyakit reumatik dan penyakit kronik lainnya.
 Mengenali strategi untuk menghadapi perubahan konsep-diri

6. Diagnosa Keperawatan: koping tidak efektif yang berhubungan dengan gaya hidup aktual atau
yang dirasakan dan perubahan peranan pasien.
Sasaran : penggunaan koping yang efektif dalam menghadapi keterbatasan aktual atau yang
dirasakan dan perubahan peranan.
Intervensi Keperawatan
1). Kenali bagian-bagian kehidupan yang dipengaruhi oleh penyakit. Jawab pertanyaan dan
hilangkan mitos yang mungkin terdapat.
Rasional: Dampak penyakit kurang-lebih dapat ditangani setelah penyakit diidentifikasi dan
dieksplorasi secara masuk diakal
2). Buatlah rencana untuk penatalaksanaan gejala dan membuat daftar dukungan keluarga dan
teman-teman untuk meningkatkan fungsi harian.
Rasional: dengan mengambil tindakan dan melibatkan orang-orang lain secara tepat, pasien
dapat mengembangkan atau mengetahui tentang keterampilan mengatsi masalah dan dukungan
masyarakat.
Hasil yang diharapkan
 Menyebutkan fungsi dan peranan yang dipengaruhi dan peranan yang dipengaruhi dan
tidak.
 Menjelaskan program terapi dan menyebutkan tindakan yang akan diambil untuk
memperbaiki, mengubah atau menerima situasi, fungsi dan peranan.

4. Evaluasi

Hasil yang diharapkan


1. Mengalami peredaan rasa nyeri atau perbaikan tingkat kenyamanan
a. Mengenali factor-faktor yang menyebabkan atau meningkatkan rasa nyeri
b. Menggunakan strategi penatalaksaan nyeri secara efektif
c. Mengenali tujuan yang realistic untuk peradaan rasa nyeri.
2. Mengalami pengurangan tingkat keletihan
a. Mengenali factor-faktor yang turut menimbulakn keletihan.
b. Mengutarakan dengan kata-kata hubungan keletihan dengan penyakit.
c. Menjadwal saat-saat istirahat yang berkala dan mengenali serta menggunakan
tindskan lain untuk mencegah atau memodifikasi keletihan.
3. Meningkatkan atau mempertahankan tingkat mobilitas
a. Mengenali factor-faktor yang merintangi mobilitas
b. Turut serta dalam aktivitas dan latihan yang meningkatkan atau mempertahankan
mobilitas.
c. Menggunakan alat bantu dengan tepat dan aman.
4. Mempertahankan aktivitas perawatan-mandiri
a. Turut serta dalam aktivitas perawatan-mandiri yang masih mampu dilaksanakan.
b. Menggunakan peralatan adaptif dan metode alternative untuk peningkatan
partisipasi dalam aktivitas perawatan-mandiri.
c. Mempertahankan perawatan-mandiri pada tingkat yang setinggi mungkin.

5. Mengalami perbaikan citra tubuh


a. Mengutarakan dengan kata-kata keprihatinan tentang dampak penyakit reumatik
pada penampakan dan fungsi tubuh.
b. Mendamaikan citra tubuh dengan perubahan yang disebabkan oleh penyakit.
c. Menyatakan sikap menerima keadaan diri.
6. Mengalami tidak adanya komplikasi.
a. Minumlah obat sesuai dengan yang diresepkan.
b. Menyebutkan efek samping obat yang dapat dilaporkan

Memahami dasar pemikiran bagi pelaks

A. Kesimpulan

Osteoartitis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh pengeroposan


kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, tullang di
bawahnya mengalami iritasi, yang menyebabkan degenarasi sendi. Osteoartritis dapat
terjadi secara idiopatik (tannpa diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma,
dengan stres berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau balerina, atau
berkaitan dengan deformitas kongenital. Individu yang mengalami hemofilia atau
kondisi lain yang ditandai oleh pembekakan sendi kronis dan edema, dapat
mengalami osteoartritis. Osteoartritis sering dijumpai pada lansia, yang mengenai
lebih dari 70% pria dan wanita yang berusia di atas 65 tahun. Obesitas dapat
memperburuk kondisi ini.

Pertambahan usia berhubungan secara langsung dengan proses degeneratif dalam


sendi, mengingat kemampuan kartilago artikuler untuk bertahan terhadap micro
fraktur dengan beban muatan rendah yang berulang-ulang mengalami penurunan.
Osteoartritis sering dimulai pada dekade usia ketiga, dan mencapai puncaknya
diantara dekade kelima dan keenam. Menjelang usia 75 tahun, 85% populasi akan
menunjukkan hasil pemeriksaan ronsen atau bukti klinis adanya asteoartritis. Kendati,
demikian, dari angka ini hanya 15% hingga 25% yang mengalami gejala bermakna

B.Saran

Penyusun menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini.


Oleh karena itu, penyusun menharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah
ini, agar penyusun dapat berbuat lebih baik lagi dikemudian hari. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umum.
.

Corwin, J. Elizabeth. Patofisiologi. Vol. 2.Edisi 3. Jakarta: EGC;2005. Hal.346.

Buku NANDA NIC NOC.2015

Brunner & Suddarth.Keperawatan Medikal Bedah.Vol.3.Edisi 8: EGC.2008.Hal,1807.