Anda di halaman 1dari 11

Analisis Perbandingan Antara Inflasi IHK Dengan Inflasi PDRB

Periode 2012 – 2016 Kabupaten Trenggalek

Rachmada Rusydi Wibisana

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura

Wibisana3000@gmail.com

Abstrak
Inflasi merupakan kejadian dimana harga-harga akan naik dan uang yang beredar
meningkat, dalam hal ini terdapat berbagai macam metode untuk menghitung inflasi dimana
dalam sampling penelitian ini menggunakan wilayah Kabupaten Trenggalek dengan data
Inflasi IHK dan data PDRB yang nantinya diolah menjadi Inflasi IHI periode 2012-2016.
Terdapat perbedaan dari hasil perbandingan hitungan inflasi IHK dengan inflasi IHI
dimana inflasi IHK bertujuan untuk perkembangan harga barang dan jasa yang tergabung
pada diagram timbangan harga, sedangkan inflasi IHI bertujuan untuk perkembangan harga
dari agregat pendapatan.
Keyword : Inflasi, Inflasi IHK, Inflasi IHI, Perbandingan.

Pendahuluan
Salah satu peristiwa modern yang sangat penting dan yang selalu dijumpai dihampir
semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan
harga – harga untuk menaik secara umum dan terus menerus (Mankiw, 2006: 145). Ini tidak
berarti bahwa harga – harga berbagai macam barang itu naik dengan presentase yang sama.
Mungkin kenaikan tersebut dapa terjadi tidak bersamaan, yang penting terdapat kenaikan
harga umum barang secara terus menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi
sekali saja meskipun dalam presentase yang besar, bukanlah merupakan inflasi.
Inflasi merupakan suatu fenomena ekonomi yang sangat menarik untuk dibahas
terutama yang berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro ekonomi.
Pertama, inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat balas jasa yang riil terhadap asset
finansial domestik semakin rendah ( bahkan seringkali negatif ), sehingga dapat mengganggu
mobilisasi dana domestik dan bahkan dapat mengurangi tabungan domestik yang menjadi
sumber dana investasi. Kedua, dapat menyebabkan daya saing barang ekspor berkurang dan
dapat menimbulkan defesit dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan
hutang luar negeri. Ketiga, inflasi dapat memperburuk distribusi pendapatan dengan
terjadinya transfer sumberdaya dari konsumen dan golongan berpenghasilan tetap kepada
produsen. Keempat, inflasi yang tinggi dapat mendorong terjadinya pelarian modal keluar
negeri. Kelima, inflasi yang tinggi akan dapat menyebabkan kenaikan tingkat bunga nominal
yang dapat mengganggu tingkat investasi yang dibutuhkan untuk memacu tingkat
pertumbuhan ekonomi tertentu (Hera Susanti et all,1995).

Inflasi juga merupakan masalah yang dihadapi setiap perekonomian. Sampai dimana
buruknya masalah ini berbeda di antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari
satu Negara ke Negara lain. Tingkat inflasi yaitu presentasi kenaikan harga – harga dalam
suatu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan sampai dimana
buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang pesat berkembang
inflasi yang rendah tingkatannya yang dinamakan inflasi merayap yaitu inflasi yang kurang
dari sepuluh persen setahun. Seringkali inflasi yang lebih serius atau berat, yaitu inflasi yang
tingkatnya mencapai diatas seratus persen setahun. Pada waktu peperangan atau ketidak
setabilan politik, inflasi dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi yang kenaikan tersebut
dinamakan hiperinflasi. (Sukirno,2004)

Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di
hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari harga – harga untuk
menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak
dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan
kenaikan sebagian besar dari barang – barang lain (Boediono, 1995). Akan tetapi inflasi tidak
hanya terjadi pada suatu tingkat negara tetapi di tingkat wilayah kota / kabupaten juga dapat
mengalami inflasi. Seperti di wilayah Kabupaten Trenggalek Terjadinya inflasi tersebut
memungkinkan disebabkan oleh faktor-faktor yang menyebabkan inflasi berubah ubah
seperti PDRB, Jumlah uang beredar, tingkat exchange rate, tingkat suku bunga, dan
kemungkinan dari aspek sosial dan budaya masyarakat yang dapat memicu inflasi berubah
menurut hemat Titov 2018.

Angka indeks harga merupakan angka yang menunjukan perbandingan harga dalam
dua waktu yang berbeda sehingga angka indeks harga disebut sebagai angka perbandingan
antara harga komoditas atau kelompok komoditas yang terjadi pada suatu periode waktu
tertentu dengan periode waktu yang telah ditentukan. Karena data harga yang digunakan
merupakan harga konsumen, maka indeks harga yang digunakan adalah indeks harga
konsumen.

Dalam inflasi sendiri terdapat bebagai macam metode untuk penghitungan inflasi
tidak hanya dihitung menggunakan idex harga mum akan tetapi juga tersedia inflasi dari
index harga konsumen, index harga implisit dan masih banyak metode lain yang bertujuan
untuk mengetahui laju inflasi baik periode harian, mingguan, bulanan dan bahkan tahunan
baik di tingakat wilayah Kota/Kabupaten, Provinsi, dan Negara. Oleh karena itu penelitian
ini diharapkan dapat memberikan hasil dari perbandingan antara inflasi harga konsumen
dengan inflasi harga implisit.

Metodologi Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, data yang digunakan yakni data sekunder
yang diambil dari web BPS Kabupaten Trenggalek periode 2012-2016 berupa data PDRB
dan Inflasi. Akan tetapi dalam pengolahan data terdapat beberapa penghitungan rumus untuk
inflasi dan beberapa teori sebagai pedoman dalam menjelaskan hasil penelitian, berikut
beberapa rumus yang akan dijadikan acuan :
 Indeks Harga Konsumsi, dapat diketahui besarnya laju kenaikan harga-harga secara
umum pada periode tertentu, yang biasanya setiap satu bulan, tiga bulan dan 1 tahun.
Selain dengan menggunakan indeks harga konsumen, Berikut rumus
penghitungannya :

Keterangan :
In = inflasi
IHKn = Indeks Harga Konsumen tahun dasar (biasanya nilainya 100)
IHKn–1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya

 Indeks Harga Implisit, diperoleh dengan membagi nilai atas dasar harga berlaku
dengan nilai atas dasar harga konstan untuk masing-masing tahunnya, dikalikan 100.
Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan harga dari agregat pendapatan
terhadap harga pada tahun dasar. Selanjutnya dari indeks harga implisit ini dibuatkan
indeks berantainya (dengan rumus indeks berantai), akan terlihat tingkat
perkembangan harga setiap tahun terhadap tahun sebelumnya. Indeks ini secara
berkala juga dapat menunjukkan besaran inflasi yang mencakup seluruh barang dan
jasa yang diproduksi di dalam wilayah penghitungan PDRB. Indeks harga implisit
dapat menggunakan rumus berikut ini (BPS Kab. Trenggalek, 2014) :

Keterangan :
IHI = Indeks Harga Implisit
PDRB it(ADHB) = PDRB sektor i pada tahun t atas dasar harga berlaku;
PDRB it(ADHK) = PDRB sektor i pada tahun t atas dasar harga konstan;
i = sektor 1, …, sektor 9

 Inflasi PDRB, diperoleh dari indeks harga implisit dengan membuat indeks
berantainya dari tahun ke tahun, dikalikan 100. Angka ini menunjukkan tingkat
perkembangan harga setiap tahun terhadap tahun sebelumnya. Inflasi PDRB dapat

diperoleh dengan menggunakan rumus berikut ini (BPS Kab. Trenggalek, 2014):
Keterangan :

IHI it = Indeks Harga Implisit Lapangan Usaha ke-i tahun t;


IHI it-1 = Indeks Harga Implisit Lapangan Usaha ke-i tahun (t-1);
i = sektor 1, …, sektor 9

Hasil dan Pembahasan


Tabel 1. Inflasi Kabupaten Trenggalek

Tahun Inflasi IHK


2012 4.30
2013 8.38
2014 8.36
2015 3.35
2016 3.02
Sumber : BPS Kab.Trenggalek 2017

Data diatas diambil berdasarkan data Inflasi Kabupaten Trenggalek melalui index
harga konsumen. Dimana tingkat laju inflasi diatas fluktuatif mulai dari kenaikan duakali
lipat hingaa turun dua kali lipat. Laju inflasi biasanya dihitung dari persentase perubahan
IHK pada suatu periode waktu. Indeks harga konsumen atau consumer price index adalah
ukuran rata-rata perubahan harga dari suatu paket komoditas pada kurun waktu tertentu atau
antar waktu tertentu. IHK menunjukan perubahan umum dari sejumlah paket komoditas yang
dikonsumsi oleh rumah tangga di daerah perkotaan. Paket komoditas yang digunakan untuk
menyusun IHK didapat dari survei pengeluaran rumah tangga yang disebut Survey Biaya
Hidup (SBH).

Tujuan perhitungan IHK adalah sebagai berikut:


a. Mengetahui perkembangan harga barang dan jasa yang tergabung pada diagram
timbangan harga.
b. Sebagai pedoman untuk menentukan suatu kebijakan yang akan datang, terutama
dibidang pembangunan ekonomi.
c. Sebagai alat penghitungan dalam penyesuaian Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Tabel 2. PDRB Harga Konstan dan Berlaku Kab. Trenggalek

Tahun PDRB Harga Konstan (miliar) PDRB Harga Berlaku (miliar)

2012 8959464 9969195


2013 9496727 11007903
2014 9998533 12297003
2015 10501577 13634753
2016 11026549 14915999

Sumber : BPS Kab.Trenggalek 2017

Dari data diatas sudah tersaji data PDRB, baik PDRB harga konstan maupun harga
berlaku periode 2012-2016 Kabupaten Trenggalek. Sebelum ditemukan hasil inflasi
PDRBnya maka perlu untuk mengubah data PDRB diatas menjadi Index implisit dahulu
dimanana nanti indeks ini berguna untuk menunjukkan tingkat perkembangan harga dari
agregat pendapatan terhadap harga pada tahun dasar. Selanjutnya dari indeks harga implisit
ini dibuatkan indeks berantainya (dengan rumus indeks berantai), sehingga akan terlihat
tingkat perkembangan harga setiap tahun terhadap tahun sebelumnya. Indeks ini secara
berkala juga dapat menunjukkan besaran inflasi yang mencakup seluruh barang dan jasa yang
diproduksi di dalam wilayah penghitungan PDRB. (BPS Kab. Trenggalek, 2014)

Penghitungan IHI :

𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢 2012


 IHI 2012 = x 100%
𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 2012

9969195
= x 100%
8959464

= 1,11269992

𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢 2013


 IHI 2013 = x 100%
𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 2013

11007903
= x 100%
9496727

= 1,15912597

𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢 2014


 IHI 2014 = x 100%
𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 2014

12297003
= x 100%
9998533

= 1,22988071

𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢 2015


 IHI 2015 = x 100%
𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 2015

13634753
= x 100%
10501577

= 1,29835286

𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢 2012


 IHI 2016 = x 100%
𝑃𝐷𝑅𝐵 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 2012
14915999
= x 100%
11026549

= 1,35273496

Setelah proses penghitungan index implisit maka terbentuk rantai indeks imlisit di
setiap tahunnya mulai dari IHI 2012 – IHI 2016, maka langkah selanjutnya menhitung laju
inflasi menggunakan IHI yang sudah tersedia.

Penghitungan Inflasi :

𝐼𝐻𝐼2013
 𝐿𝐼2013 = 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2013−1
𝐼𝐻𝐼2013
= 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2012
1,15912597
= 𝑥 100
1,11269992

= 1,0417238
𝐼𝐻𝐼2014
 𝐿𝐼2014 = 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2014−1
𝐼𝐻𝐼2014
= 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2013
1,22988071
= 𝑥 100
1,11269992

= 1,0610415
𝐼𝐻𝐼2015
 𝐿𝐼2015 = 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2015−1
𝐼𝐻𝐼2015
= 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2014
1,29835286
= 𝑥 100
1,22988071

= 1,0556738
𝐼𝐻𝐼2016
 𝐿𝐼2016 = 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2016−1
𝐼𝐻𝐼2016
= 𝑥 100
𝐼𝐻𝐼2015
1,35273496
= 𝑥 100
1,29835286

= 1,0418855

* Untuk inflasi tahun 2012 tidak tersedia hasil dikarenakan data IHI tahun
sebelumnya sebagai pembagi tidak tersedia.

Setelah terhitung keseluruhan data akhirnya dapat diketahui nilai dari IHI 2012-2016
dan nilai laju inflasi IHI / Inflasi PDRB 2012-2016 Kabupaten trenggalek. Berikut data tabel
setelah penghitungan rumus diatas :

Tabel 3. Hasil Penghitungan IHI dan Inflasi IHI

PDRB Harga
PDRB Harga
Tahun Konstan IHI Inflasi IHI
Berlaku (miliar)
(miliar)
2012 8959464 9969195 1,11269992 -
2013 9496727 11007903 1,15912597 1,0417238
2014 9998533 12297003 1,22988071 1,0610415
2015 10501577 13634753 1,29835286 1,0556738
2016 11026549 14915999 1,35273496 1,0418855
Sumber : Olah data

Dari data diatas terlihat bahwa inflasi tidak hanya dapat dihitung menggunakan harga
umum melainkan melalui penghitungan Harga implisit ( Harga berlaku dan Harga Konstan).
Terlihat data PDRB Konstan mengalami perubahan yakni peningkatan di setiap tahunnya
begitu juga dengan PDRB Berlaku mengalami kenaikan. Indeks yang terhitung diatas
berguna untuk ndikator tingkat perkembangan harga dari agregat pendapatan terhadap harga
pada tahun dasar di Kabupaten Trenggalek 2012-2016. Sedangkan Inflasi PDRB berguna
untuk melihat perkembangan harga dari tahun ke tahun sebelumnya terhadap PDRB itu
sendiri.

Dari pengolahan data diatas terdapat beberapa poin yang menunjukkan persamaan
dan perbedaan antara Inflasi IHK dengan Inflasi IHI sebagai alat penghitung inflasi di
wilayah Kabupaten Trenggalek. Berikut hasil dari analisis perbandingan antara inflasi IHK
dengan inflasi IHI :

Persamaan
Inflasi IHK Inflasi IHI
 Mengetahui perkembangan harga.
 Sebagai pedoman untuk menentukan suatu kebijakan yang akan
datang, terutama dibidang pembangunan ekonomi.
Perbedaan
Inflasi IHK Inflasi IHI
 Sebagai alat penghitungan  untuk menunjukkan tingkat
dalam penyesuaian Upah perkembangan harga dari
Minimum Kabupaten (UMK). agregat pendapatan.
 Harus menggunakan Indeks  Lebih dikhususkan untuk
Harga Konsumen. penghitungan inflasi PDRB.
 Harus menggunakan Indeks
Harga Implisit.

Kesimpulan dan Saran

Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dalam
penghitungan inflasi dari IHK dengan inflasi IHI di Kabupaten Trenggalek. Masising masing
penghitungan inflasi tersebut memiliki tujuan untuk keperluan yang berbeda dan bahkan
dalam pengolahan datanya dimana dalam IHK menggunakan indeks harga konsumsi
sedangkan IHI indeks harga implisit berasal dari PDRB. Hasil dari inflasi IHI lebih
dikhususkan untuk perkembangan harga dari agregat pendapatan sedangkan Inflasi IHK
sebagai alat penghitung penyesuaian UMK di Kabupaten Trenggalek.

Saran dari saya yakni perlu adanya penelitian yang menganalisis inflasi dengan
metode selain IHK, dikarenakan supaya wawasan khusus di bidang akademisi supaya lebih
luas dan supaya mengerti kedepannya penelitian inflasi tersebut berguna dibidang moneter
kedepannya. Perlu adanya kedisiplinan dalam melakukan update data sekunder di laman web
resmi instansi terkait supaya pihak pihak tertentu dapat menggunakan dan memanfaatkan
dengan mudah.

Daftar Pustaka
Andrianus, F., & Niko, A. (2006). Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Inflasi Di Indonesia Periode 1997:3-2005:2. Jurnal Ekonomi Pembangunan,
11(2), 173–186.
Boediono, 1995, “Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi”, No. 5 : Ekonomi
Moneter. BPFE, Yogyakarta.
Mankiw, N. Gregory, 2006. Pengantar Ekonomi Makro. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Sukirno, Sadono. 2004. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Susanti, Hera, dkk (1995), “Indikator-indikator Makroekonomi”, edisi Kedua, LP-


FEUI, Jakarta.

Website

www.trenggalekkab.bps.go.id

http://www.ilmu-ekonomi-id.com/2016/01/inflasi-dan-indeks-harga.html