Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit hipertensi merupakan penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas maternal
dan janin atau neonatus. Penyakit hipertensi dalam kehamilanmerupakan kelainan vaskuler
yang terjadi sebelum kahamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan
nifas. Penyakit ini sering dijumpai dan masih merupakan salah satu kematian ibu.
Hipertensi merupakan penyakit medis yang paling sering terjadi pada kehamilan, terjadi
pada kira-kira 10% dari seluruh kehamilan.
Hipertensi karena kehamilan adalah kenaikan tekanan diastolik 15mmHg atau > 90
mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan diastolik sampai 110 mmHg.
Tanda lain dari hipertensi karena kehamilan ini adalah proteinuria negatif dan kehamilan
>20 minggu.
Selama kehamilan normal, resistensi vaskular perifer menurun sebagai akibat vaskulator
yang mengalami dilatasi. Jika resistensi perifer meningkat terjadilah hipertensi. Sindrom dari
hipertensi yang diindeksi oleh kehamilan, proteinuria dan odema dikenal dengan bermacam-
macam yaitu sindroma preeklampsia, eklampsia, toksemia, kompleks EPH (odema,
proteinuria, hipertensi) gestosis.
Hipertensi yaitu peningkatan tekanan sistolik sekurang-kurangnya 30 mmHg/peningkatan
tekanan diastolik sekurang-kurangnya 15 mmHg.Menurut data World Health
Organization (WHO), penyakit hipertensi dan gagal ginjal di Indonesia selalu mengalami
peningkatantiap tahunnya. Di negara berkembang, sekitar 80 % penduduk negara mengidap
hipertensi. Untuk penyakit ginjal kronik (PGK), peningkatan terjadi sekitar 2-3 kali lipat dari
tahun sebelumnya

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi hipertensi dalam kehamilan?
2. Apa saja klasisifikasi hipertensi dalam kehamilan?
3. Bagaimana etiologi hipertensi dalam kehamilan?
4. Bagaimana manifestasi klinis hipertensi dalam kehamilan?
5. Bagaimana klisikasi penyakit hipertensi?
6. Bagaimana pencegahan penyakit hipertensi dalam kehamilan?
7. Bagaimana penatalaksanaan dan pendidikan pasien ?

1
8. Bagaimana peran bidan terhadap hipertensi dalam kehamilan?

C. Tujuan
1. Dapat menjelaskan tentang definisi Hipertensi dalam kehamilan.
2. Dapat mengetahuia klasifikasi hipertensi dalam kehamilan.
3. Dapat mengetahui tentang etiologi hipertensi dalam kehamilan.
4. Dapat mengetahui manifestasi klinis hipertensi dalam kehamilan.
5. Dapat mengetahui klasifiksi penyakit hipertensi.
6. Dapat mengetahui cara pencegahan penyakit hipertensi dalam kehamilan.
7. Dapat mengetahui bagaimana penatalaksanaan dan pendidikan pasien dengan
hipertensi.
8. Dapat mengetahui peran bidan terhadap hipertensi dalam kehamilan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Hipertensi karena kehamilan yaitu : hipertensi yang terjadi karena atau pada saat
kehamilan dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya terjadi pada usia kehamilan
memasuki 20 minggu. Tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90mmHg yang disebabkan
karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan gangguan serius pada
kehamilan.
Nilai normal tekanan darah seseorang yang disesuaikan tingkat aktifitas dan keseatan
secara umum adalah 120/80mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah
menurun saat tidur dan meningkat saat beraktifitas atau berolahraga
Hipertensi berasal dari bahasa latin yaitu hiper dan tension. Hiper artinya tekanan yang
berlebihan dan tension artinya tensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu
kondisi medis dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah secara kronis
(dalam waktu yang lama) yang mengakibatkan angka kesakitan dan angka kematian.
Seseorang dikatakan mendetita tekanan darah tinggi atau hipertensi yaitu apabila tekanan
darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg.
Hipertensi yaitu peningkatan tekanan sistolik sekurang- kurangnya 30 mmHg atau
peningkatan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 15 mmHg, atau adanya tekanan sistolik
sekurang-kurangnya 140 mmHg dan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 90 mmHg.
Hipertensi juga dapat ditentukan dengan tekanan arteri rata-rata 105 mm Hg atau lebihatau
dengan kenaikan 20 mmHg atau lebih nilai-nilai yang disebutkan diatas harus bermanifesti
sekurang-kurangnya dua kesempatan dengan perbedaan waktu 6 jam atau lebih dan harus
didasarkan pada nilai tekanan darah sebelumnya yang diketahui.
Hipertensi kehamilan berkembangnya hipertensi selama kehamilan atau 24 jam
pertama postpartum pada seseorang yang sebelumnya normotensi. Tak ada petunjuk-
petunjuk lain dari pre-eklamsia atau penyakit vaskuler hipertensi. Teknan darah kembali
dalam batas normal dalm sepuluh hari setelah persalinan. Beberapa pasien dengan
hipertensi kehamilan sebenarnya mungkin mengidap preeklamsia atau penyakit vaskuler
hipertensi, tetapi mereka tidak mempunyai criteria untuk diagnosis ini.
Proteinuria yaitu adanya protein dalam urine dalam jumlah lebih besar dari 0,3 g per
liter urine 24 jam atau dalam konsentrasi lebih besar dari 1 gram per liter (1+ sampai 2+

3
dengan metode turbidimetrik standard) pada kumpulan urine sacara acak pada dua atau
lebih kesempatan sekurang-kurangnya dengan beda waktu 6 jam. Contoh urin harus
bersih—sebaiknya urine midstream atau yang diambil melalui kateter.
Edema yaitu akumulasi cairan yang menyeluruh dan berlebihan dalam jaringan
umumnya ditampakan dengan adanya pembengkakan ekstremitas dan bawah.
Pre-eklamsia yaitu berkembangnya hipertensi dengan pre-eklamsia atau edema atau
keduanya yang disebabkan oleh kehamilan atau dipengaruhi oleh kehamilan yang
sekarang. Biasanya keadaan ini timbul setelah usia kehamilan 20 minggu tetapi dapat
pula berkembang sebelum saat tersebut pada penyakkit trofoblastik. Pre-eklamsia
merupakan gangguan yang terutama terjadi pada primigravida.
Eklamsia yaitu terjadinya satu atau beberapa kejang yang bukan diakibatkan oleh
keadaan serebral lain seperti epilepsi, atau perdarahan otak pada pasien dengan pre-
eklamsia.
Pre-eklamsia atau eklamsia penyerta: berkembangnya pre-eklamsia atau eklamsia
pada pasien dengan penyakit vascular hipertensi kronik atau penyakit ginjal. Bila
hipertensi mendahului kehamilan , seperti yang diperlibatkan oleh catatan tekanan darah
sebelumnya, suatu peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg atau peningkatan tekanan
diastolic 15 mmHg dan berkembangnya proteinuria, edema atau keduanya harus terjadi
selama kehamilan untuk menetapkan diagnostik.

B. Klasifikasi Hipertensi
1.Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu
atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan
hipertensi menetap sampai 12 minggu pascapersalinan. Preeklampsia adalah hipertensi
yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria.
2.Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/ atau koma.
3.Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia adalah hipertensi kronik disertai
tanda – tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria.
4.Hipertensi gestasional (disebut juga transient hypertension) adalah hipertensi yang
timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3
bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda – tanda preeklampsia tetapi tanpa
proteinuria.

4
C. Etiologi
Keturunan/genetik, obesitas, stress, rokok, pola makan yang salah, emosioal,
wanita yang mengandung bayi kembar, ketidak sesuaian RH, sakit ginjal,
hiper/hypothyroid, koarktasi aorta, gangguan kelenjar adrenal, gangguan kelenjar
parathyroid.

D. Patofisiologi
Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak
teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada
satupun teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut
adalah :
1.Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta
mendapat aliran darahdari cabang-cabang arteri uterine dan arteri ovarika. Kedua
pembuluh darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta
member cabang arteri radialis. Arteria radialis menembus endometrium menjadi arteri
basalis dan arteri basalis memberi cabang arteria spiralis. Pada hamil normal, dengan sebab
yang belum jelas, terjadi invasi trofoblas kedalam lapisan otot arteria spiralis, yang
menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis.
Invlasi tropoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, mengalami distensi dan
dilatasi. Distensi dan Vasodilatasi lumen arteri spiralisini memberi dampak penurunan
tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada daerah
utero plasenta. Akibatnya, aliran darah kejanin cukup banyak dan perfusi jaringan juga
meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini
dinamakan “remodeling arteri spiralis”. Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi
invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya.
Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dank eras sehingga lumen arteri spiralis
tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relatif
mengalami vasokontriksi, dan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”, sehingga
aliran darah uteroplasentamenurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak
iskemia plasenta akan menimbulkan perubahan- perubahan yang dapat menjelaskan
patogenesis HDK selanjutnya. Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal adalah
500 mikron, sedangkan pada preeklampsia rata-rata 200 mikron. Pada hamil normal
vasodilatasi lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10 kali aliran darah ke utero plasenta.
5
2.Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungi endotel
Sebagaimana dijelaskan pada teori invasi trofoblas, pada hipertensi dalam kehamilan
terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis” dengan akibat plasenta mengalami iskemia.
Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan (disebut juda
radikal bebas). Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerima elektron atau
atom/molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Salah satu oksidan
penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis,
khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Sebenarnya produksi oksidan
pada manusia adalah suatu proses normal, karena oksidan memang dibutuhkan untuk
perlindungan tubuh. Adanya radikal hidroksil dalam tubuh mungkin dahulu dianggap
sebagai bahan toksin yang beredar dalam darah, maka dulu hipertensi dalam kehamilan
disebut “toxaemia”. Radikal hidroksil akan merusak membran sel, yang mengandung
banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak.peroksida lemak selain akan
merusak membran sel, juga akan merusak nucleus, dan protein sel endotel.
3.Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin
Pada perempuan hamil normal, respons imun tidak menolak adanya “hasil konsepsi”
yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya human leukosite antigen protein G (HLA-
G), yang berperan penting dalam modulasi respon imun, sehingga si ibu tidak menolak
hasil konsepsi (plasenta). Adanya HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin
dari lisis oleh sel Natural killer (NK) ibu. Selain itu, adanya HLA-G akan mempermudah
invasi sel trofoblas kedalam jaringan desidua ibu. Jadi HLA-G merupakan prakondisi
untuk terjadinya invasi trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu, disamping
untuk menghadapi sel natural killer. Pada plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi
penurunan ekspresi HLA-G. berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta,
menghambat invasi trofoblas kedalam desidua. Invasi trofoblas sangat penting agar
jaringan desidua menjadi lunak, dan gembur sehingga memudahkan terjadinya dilatasi
arteri spiralis. HLA-G juga merangsang produksi sitikon, sehingga memudahkan
terjadinya reaksi inflamasi. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada
preeklampsia. Pada awal trimester kedua kehamilan perempuan yang mempunyai
kecenderungan yang terjadi preeklampsia, ternyata mempunyai proporsi Helper Sel yang
lebih rendah disbanding pada normotensif.
4.Teori adaptasi kardiovaskularori genetic
Pada hamil normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan-bahan vasopresor.
Refrakter, berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan bahan vasopresor, atau
6
dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respons
vasokonstriksi. Pada kehamilan normal terjadinya refrakter pembuluh darah terhadap
bahan vasopresor adalah akibat dilindungi oleh adanya sintesis prostaglandin pada sel
endotel pembuluh darah. Hal ini dibuktikan bahwa daya refrakter terhadap bahan
vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sintesa inhibitor (bahan yang
menghambat produksi prostaglandin). Prostaglandin ini dikemudian hari ternyata adalah
prostasiklin. Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan
vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang
sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor.
Banyak peneliti telah membuktikan bahwa peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester 1 (pertama).
Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan,
sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai
prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan
5.Teori defisiensi gizi

Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kekurangan defisiensi gizi berperan dalam
terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian yang penting yang pernah dilakukan di
Inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet pada preeklampsia beberapa waktu sebelum
pecahnya perang Dunia II. Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan
perang menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan. Penelitian terakhir
membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, termasuk minyak hati halibut, dapat
mengurangi risiko preeklampsia. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tidak
jenuh yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan
mencegah vasokonstriksi pembuluh darah. Beberapa peneliti telah mencoba melakukan
uji klinik untuk memakai konsumsi minyak ikan atau bahan yang mengandung asam lemak
tak jenuh dalam mencegah preeklampsia.hasil sementara menunjukan bahwa penelitian
ini berhasil baik dan mungkin dapat dipakai sebagai alternatif pemberian aspirin. Beberapa
peneliti juga menganggap bahwa defisiensi kalsium pada diet perempuan hamil
mengakibatkan risiko terjadinya preeklampsia/eklampsia. Penelitian di Negara Equador
Andes dengan metode uji klinik, ganda tersamar, dengan membandingkan pemberian
kalsium dan plasebo. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ibu hamil yang diberi

7
suplemen kalsium cukup, kasus yang mengalami preeklampsia adalah 14 % sedang yang
diberi glukosa 17 %.
6.Teori inflamasi
Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah
merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Pada kehamilan normal
plasenta juga melepaskan debris trofoblas, sebagai sisa-sisa proses apoptosis dan nekrotik
trofoblas, akibat reaklsi stress oksidatif. Bahan-bahan ini sebagai bahan asing yang
kemudian merangsang timbulnya proses inflamasi. Pada kehamilan normal, jumlah debris
trofoblas masih dalam batas wajar, sehingga reaksi inflamasi juga masih dalam batas
normal. Berbeda dengan proses apoptosis pada preeklampsia, di mana pada preeklampsia
terjadi peningkatan stress oksidatif, sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik
trofoblas juga meningkat. Makin banyak sel trofoblas plasenta, misalnya pada plasenta
besar, pada hamil ganda, maka reaksi stress oksidatif akan sangat meningkat, sehingga
jumlah sisa debris trofoblas juga makin meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban
reaksi inflamasi dalam darah ibu menjadi jauh lebih besar, disbanding reaksi inflamasi
pada kehamilan normal. Respons inflamasi ini akan mengaktivasi sel endotel, dan sel-sel
makrofag/granulosit, yang lebih besar pula, sehingga terjadi reaksi sistemik inflamasi yang
menimbulkan gejala-gejala preeklampsia pada ibu. Redman, menyatakan bahwa disfungsi
endotel pada preeklampsia akibat produksi debris trofoblas plasenta berlebihan tersebut
diatas, mengakibatkan “aktivitas leukosit yang sangat tinggi” pada sirkulasi ibu. Peristiwa
ini oleh redman disebut sebagai “kekacauan adaptasi dari proses inflamasi intravaskular
pada kehamilan” yang biasanya berlangsung normal dan menyeluruh.

E. Faktor Resiko
Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat
dikelompokan dalam faktor risiko sebagai berikut:
1.Primigravida, primipaternitas.
2.Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes mellitus,
hidrops fetalis, bayi besar
3.Umur yang ekstrim
4.Riwayat keluarga yang pernah preeklampsia/eklampsia
5.Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6.Obesitas

8
F. Manifestasi klinis
Gejala yang biasanya timbul pada ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilan harus
diwaspadai jika ibu megeluh : nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual,
muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium, penglihatan kabur, ayunan langkah yang
tidak mantap, nokturia, oadema dependem dan pembengkakan.

G. Pencegahan Penyakit Hipertensi


Pencegahan kejadian hipertensi secara umum agar menghindari tekanan darah tinggi
adalah dengan mengubah kearah hidup sehat, tidak terlalu banyak pikiran, mengatur
diet/pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan
konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok, perbanyak makan
mentimun, belimbing dan juga jus apel dan seledri setiap pagi. Bagi yang mempunyai
keluarga riwayat penyumbatan arteri dapat meminum jus yang dicampur dengan
susu nonfat yang mengandung omega3 tinggi.
Jika seseorang dicurigai hipertensi, maka dilakukan beberapa pemeriksaan yaitu
anamnesa adakah dalam keluarga yang menderita hipertensi. Dilakukan pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, pegobatan nonfarmakologik, mengurangi berat badan
bila terdapat kelebihan (IMT: >27), membatasi alkohol dan menghentikan rokok serta
mengurangi makanan berkolesterol/lemak jenuh. Menghentikan konsumsi kopi
yang berlebih, berolahraga ringan, mengurangi asupan natrium (400 mmd Na/64
NaCL/hari) mempertahankan asupan kalsium dan magnesium adekuat, perbanyak unsure
kalium (buah-buahan), tidak banyak pikiran, istirahat yang cukup.
PREEKLAMSIA
Data Subjektif :
Kenaikan berat badan yang timbul secara cepat dalam waktu yang singkat
menunjukan adanya retensi cairan dan dapat merupakan gejala paling dini dari
preeklamsia. Pasien sadar akan edema yang menyeluruh , terutama pembengkakan pada
muka dan tangan. Keluhan yang umum adalah sesaknya cin-cin pada jari-jarinya. Sebagai
usaha untuk membedakan edema kehamilan, proses yang jinak, dari preeklamsia, tekanan
darah pasien harus diketahui.
Sakit kepala : meskipun sakit kepala merupakan gejala yang relative biasa selam
kehamilan, sakit kepala dapat juga menjadi gejala awal dari edema otak, sebagai
konsekuensinya, tekanan darah pasien harus ditentukan.Gangguan penglihatan mungkin
gejala dari preeklamsia berat dan dapat menunjukan spasme arteriolar retina, iskema,
9
edema, atau pada kasus-kasus yang jarang, pelepasan retina. Nyeri epigastrium atau kuadran
kanan atas menunjukan pembengkakan hepar yang berhubungan dengan preeklamsia berat
atau menandakan rupture hematoma subkuler hepar.

Data Objektif :
Pemeriksaan umum : tekanan darah meningkat.
Edema menunjukan retensi cairan.edema yang dependen merupakan kejadian yang
normal selama kehamilan lanjut. Edema pada muka dan tangan tampaknya
lebih menunjukan retensi cairan yang patologik.
Kenaikan berat badan : kenaikan berat badan yang cepat merupakan suatu
petunjuk dari retensi cairan ekstravaskuler.
Pemeriksaan retina : spasme arteriolar dan kilauan retina dapat terlihat.
Pemeriksaan toraks: karena edema paru merupakan suatu komplikasi dari preeklamsia
berat , paru-paru harus diperiksa secara teliti.
Reflek tendon profunda (lutut dan kaki): hiperefleksia dan klonus merupakan
penunjuk dari peningkatan irtabilitas susunan syaraf pusat dan mungkin meramalkan suatu
kejang eklamsia
Pemeriksaan abdomen : rasa sakit daerah hepar merupakan suatu pertanda potensial
yang tidak menyenangkan dari preeklamsia berat dan dapat meramalkan rupture dari hepar
Pemeriksaan uterus penting untuk menilai usia kehamilan, adanya kontraksi uterus
dan presentasi janin.
Pemeriksaan pelvis : keadaan pelviks dan stasi dari bagian terbawah merupakan
pertimbangan yang penting dalam merencanakan kelahiran pervaginam atau per
abdominan. (Kapita Selekta, Kegawatdaruratan Obstetri dan Ginekologi. Hal : 237)

Tes Laboratorium :
Pemeriksaan Darah Lengkap dengan Apusan Darah : peningkatan hematokrit
dibandingkan nilai yang diketahui sebelumnya memberi kesan hemokonsentrasi, atau
menurunnya volume plasma. Jika hematokrit lebih rendah dari yang diperkirakan,
kemungkinan hemolisis intravaskuler akibat proses hemolisis mikroangiopatik
perlu dipertimbangkan. Analisa apusan darah tepi dapat mengungkapkan sel-sel darah
merah yang mengalami distorsi dan skitosit.

10
Urinalisis : proteinuria merupakan kelainan yang khas pada pasien dengan
preeklamsia. Jika contoh urin yang diambil secara acak mengandung protein 3+ atau 4+
atau urin 24 jam mengandung 5 g protein atau lebih , preeklamsia dikatakan ‘berat’.
Keparahan Proses Penyakit :
Preeklamsia diklasifikasikan sebagai berat jika pasien mempunyai satu dari tanda-
tanda / gejala-gejala sebagai berikut :
1) Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih, atau diastolic 110 mmHg atau
lebih, pada sekurang-kurangnya dua pemeriksaan dengan interval 6 jam, dan pasien
dalam keadaan tirah baring.
2) Proteinuria 5 gram atau lebih dalam urin 24 jam (3+ atau 4+ pada pemeriksaan
kualitatif
3) Oliguria (500 ml atau kurang dari 24 jam).
4) Gangguan otak atau visual.
5) Nyeri epigastrum atau kuadran kanan atas.
6) Edema paru atau sianosis
7) Hemolisis

H. Penatakaksanaan dan Pendidikan Pasien


Prinsip umum : preeklamsia menetap hingga kehamilan berakhir. Sebagai
konsekuensinya , kelahiran janin dan plasenta merupakan pengobatan satu-satunya .
tujuan penatalaksanaan adallah :
1. Mencegah kejang dan komplikasi lainnya.
2. Melahirkan bayi hidup.
3. Melahirkan dengan trauma minimal terhadap ibu dan bayi.
4. Mencegah keadaan patologik yang tersisa.
Pasien-pasien dengan tekanan darah yang meningkat diatas 140/90 mm Hg harus
dirawat inapkan untuk evaluasi. Perencanaan kelahiran tergantung pada :
1. Umur kehamilan.
2. Beratnya proses penyakit.
3. Keadaan serviks.

Preeklamsia Ringan : bila aterm, kelahiran dianjurkan untuk mencegah komplikasi


ibu dan janin. Sebelum aterm, tirah baring dirumah sakit biasanya dianjurkan sebagai
usaha untuk mempertahankan pasien dalam pengawasan yang cermat. Tekanan darah
11
diperiksa 4x/ hari. berat badan, protein urin dan keluaran urin diperiksa setiap hari.
sebagai tambahan, jumlah trombosit, pengeluaran estriol, nonstress test dan sonografi
membantu evaluasi kesehatan ibu dan janin.
Preeklamsia berat : pasien dirawat inapkan dengan posisi tidur miring (rateral
combent position) untuk meningkatkan filtrasi glomerulus. Ttekanan darah, berat badan,
protein urin, masukan dan keluaran dipantau dengan ketat. Tes-tes diagnostik
dasar mengevaluasi beratnya proses penyakit dan keadaan janin.
Terapi anti kejang : biasanya magnesium sulfat dinjurkan untuk mencegah kejang
terutama selama persalinan. Dosis awal 4 grm dilarutkan dalam 100 ml dekstrosa 5%
dan diberikan intravena dalam waktu 10 sampai 30 menit. Kemudian diikuti dengan 1
sampai 2 g perjam dalam infuse intravena yang diencerkan. Efek terapi magnesium
sulfat dapat diperiksa secara klinis dengan aktifitas reflex patella. Reflex dan klonus kaki
yang hiperaktif memberi kesan kebutuhan pengobatan yang meningkat . tidak adanya
reflex menunjukan bahwa kecepatan infuse harus dilambatkan atau dihentikan, karena
hilangnya reflek patella merupakan tanda pertama dari keracunan magnesium. Aliran
urin dan pernafasan harus dipantau secara ketat.
Komplikasi-komplikasi maternal meliputi eklamsia, solution plasenta, gagal
ginjal, nekrosis hepar, rupture hepar, DIK, anemia hemolitik mikroanglopatik, perdarahan
otak, edema paru dan pelepasan retina.Komplikasi-komplikasi janin meliputi
prematuritas, insufiensi utero-plasental, retardasi pertumbuhan intrauterine dan kematian
janin intrauterine.
I. Peran Bidan Terhadap Hipertensi dalam Kehamilan
Hal – hal yang harus bidan lakukan dalam pengelolaan dini hipertensi pada kehamilanyaitu:
1. Memeriksa tekanan darah secara tepat pada setiap pemeriksaan kehamilan, termasuk
pengukuran tekanan darah dengan teknik yang benar.
2. Melakukan pemeriksaan pada setiap pagi hari.
3. Ukur tekanan darah pada lengan kiri. Posisi ibu hamil duduk atau berbaring dengan
posisi yang sama pada tiap kali pengukuran ( Letakkan tensimeter di tempat yang
datar setinggi jantung ibu hamil dan gunakan ukuran manset yang sesuai)
4. Catat tekanan darah
5. Jika tekanan darah diatas 140/90 mmhg atau peningkatan diastole 15 mmhg atau lebih
(sebelum 20 minggu),ulangi pengukuran tekanan darah dalam 1 jam.Bila tetap maka
berarti ada kenaikan tekanan darah.Periksa adanya edema terutama pada wajah atau
pada tungkai baeah /tulang kering atau daerah sacral.
12
6. Bila ditemukan hipertensi pada kehamilan, lakukan pemeriksaan urin terhadap albumin
pada setiap kali kunjungan.
7. Segera rujuk ibu hamil ke rumah sakit jika : Tekanan darah sangat tinggi, kenaikan
tekanan darah naik secara tiba- tiba,berkurangnya air seni( sedikit dan berwarna
gelap),edema berat yang timbul mendadak,khususnya pada wajah/daerah sacral
8. Jika tekanan darah naik namun tidak ada edema sedangkan doker tidak mudah dicapai
maka pantaulah tekanan darah, periksa protein urin terhadap protinuria dan denyut
jantung janin dengan seksama pada keesokan harinya atau sesudah 6 jam istirahat.
9. Jika tekanan darah tetep naik ,rujuk untuk pemeriksaan lanjutan walaupun tidak edema
atau proteinuria.
10. Jika tekanan darah kembali normal atau kenaikannya kurang dari 15 mmhg:
a. Beri informasi atau penjelasan pada ibu hamil ,suami atau keluarga tentang tanda-
tanda eklamsia yang mengancam ,khususnya sakit kepala ,pandangan kabur, nyeri
ulu hati dan pembengkakan pada kaki/punggung/wajah.
b. Jika tanda-tanda diatas ditemukan segera rujuk ke rumah sakit
11. Bicarakan seluruh temuan dengan ibu hamil dan suami/keluarga.
12. Catat semua temuan pada KMS ibu hamil / buku KIA.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipertensi karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari
140/90mmHg yang disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang
menyebabkan gangguan serius pada kehamilan.
Nilai normal tekanan darah seseorang yang disesuaikan tingkat aktifitas dan keseatan
secara umum adalah 120/80mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan
darah menurun saat tidur dan meningkat saat beraktifitas atau berolahraga

B. Saran
Sebaiknya ibu hamil rajin memeriksakan kehamilannya untuk mendeteksi dini jika
terjadi komplikasi pada kehamilannya, sehingga keselamatannya dan janinnya tidak
terancam.

14