Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

AGAMA ISLAM
TENTANG
ISLAM DAN AGAMA LAIN

OLEH KELOMPOK 7
1. ERI NOVIANTI
2. NAILAWINARNI
3. WENDI SUGANDA
4. JUMADI

S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
SEMESTER 1 TAHUN AJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat allah SWT yang maha pengasih dan maha penyayang
karena atas berkat dan ramat dan hidayah–nya. Terima kasih kepada Bpk. Amelyadi.S,Ag
selaku dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini sehingaKami klompok 7 kelas 1.A
dapat menyusun makalah agama islam yang membahas tentang islam dan agama lain.Yang di
harapkan sebagai buku panduan mahasiswa.Makalah ini di susun dalam rangka untuk
mempelajari agama islam tentang pangangan, keistimewaan, dan perbedaan agama islam
dengan agama lain, semoga makalah ini dapat memberi wawasan yang lebih luas bagi
mahasiswa. Kami menyadari makalah ini tidak luput dari kekurangan, kritik dan saran sangat
dibutuhkan oleh penulis agar kelak dapat memperbaiki kesalahan dan menjadikan makalah
ini lebih baik lagi. Dan kami membutukan untuk perbaikan dan kemajuan di masa yang akan
datang.
Akhir kata kami kelompok 7 mengucapkan mohon maaf apa bila pembaca
menemukan kekurangan dalam makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan berkat dan rahmat –nya kepada kita semua. Amin

i
DAFTAR ISI
Kata pengantar ................................................................................................................ i
Daftar isi ................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ....................................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Keistimewaan islam sebagai agama ..................................................................... 2


B. Perbedaan islam dari agama lain ............................................................................ 5
C. Pandangan islam terhadap agama lain .................................................................... 6
D. Perbedaan agama yahudi dan kriten ..................................................................... 11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Makalah ini merupakan pemenuhan tugas Pendidikan Agama Islam yang memang
harus terpenuhi sebagai nilai tambahan yang sudah ditentukan oleh pengajar, disamping itu
juga makalah ini sangat bermanfaat bagi pembaca karena pada makalah ini sedikit/banyaknya
terdapat ilmu yang dapat diambil sebagai pengetahuan atau wawasan.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberikan kesempurnaan
dibandingkan makhluk lain, maka dari itu ada beberapa manusia yang memang menggunakan
akalnya untuk mengkaji hal-hal yang belum ada sebagai rasa keingintauan seperti halnya
pada makalah ini juga akan mengkaji yaitu diantaranya tentang pandangan islam terhadap
agama lain yang berisi dari berbagai sumber, agar makalah ini ada nilai banding dengan
makalah lain.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan pada latar belakang di atas maka kelompok kami merumuskan
sebagai berikut “bagaimana pandangan islam terhadap agama lain ”

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Menambah nilai dan memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
2) Mengetahui keistimewaan agama islam sebagai agama.
3) Mengetahui perbedaan agama islam dengan agama lain.
4) Mengetahui bagaimana pandangan islam terhadap agama lain.
5) Mengetahui perbedaan agama yahudi dengan agama kristen.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Keistimewaan islam sebagai agama


Islam adalah agama satu-satunya yang memiliki banyak keistimewaan dan keindahan
yang sangat mengagumkan bagi siapapun yang memeluknya.
Diantara keistimewaan dan keindahan agama Islam selain sebagai satu-satunya agama yg
diterima n diridhoi oleh Allah pada hari Kiamat ialah sebagai berikut:
1. Memeluk agama Islam akan menghapuskan seluruh dosa dan kesalahan orang-orang kafir
yang dilakukan sebelum masuk Islam.
Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya:
‫سنَّةُ مضت فقد يعُود ُوا وإِن سلف قد ما ل ُهم يُغفر ينت ُهوا إِن كف ُروا ِللَّ ِذين قُل‬
ُ ‫األ َّو ِلين‬
Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad, pent) kepada orang-orang kafir itu: ”Jika mereka
berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa
mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali (kepada kekafiran) lagi, sesungguhnya
akan berlaku (kepada mereka) sunnatullah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang (kafir)
terdahulu”. (QS. Al-Anfaal: 38).
Hadits ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk
Islam, ia berkata:
َّ ِ‫النَّب‬
… ‫ي أتيتُ قلبِي فِى ا ِإلسالم للاُ جعل فل َّما‬
ُ‫ فقُلت‬: ‫سط‬ُ ‫با ِيعك فل ُ ي ِمينك اب‬. ‫ ي ِمينهُ فبسط‬. ‫ قُلتُ قال ))؟ عم ُرو يا لك ما(( قال يدِى فقبضتُ قال‬: ُ‫أن أردت‬
ُ ‫ قُلتُ ))؟ ِبماذا تشت ِر‬: ‫يُغفر ِلى أن‬. ‫اإلسالم أ َّن ع ِلمت أما(( قال‬
‫ط(( قال أشت ِرط‬ ِ ‫وأ َّن ؟ قبلهُ كان ما يه ِد ُم‬
‫))؟ قبلهُ كان ما يه ِد ُم الح َّج أ َّن و ؟ قبلها ماكان ته ِد ُم ال ِهجرة‬
Artinya: “Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu
alaihi wasallam, dan aku berkata: ”Bentangkanlah tanganmu. Aku akan berbai’at kepadamu.”
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin
‘Ash) berkata: ”Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi shallallahu alaihi
wasallam).” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: ”Ada apa, hai ‘Amr?” Dia
berkata: ”Aku ingin minta syarat.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: ”Apakah
syaratmu?” Maka aku berkata: ”Agar (dosa-dosa dan kesalahan) aku diampuni.” Maka Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Apakah engkau belum mengetahui, bahwa
sesungguhnya (masuk) Islam itu menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya.
Hijrah itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.
2
Dalam haji itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman,
I/112, nomor. 121).
2. Apabila seorang masuk Islam kemudian ia membaguskan kwalitas keislamannya, maka ia
tidak disiksa atas perbuatannya ketia dia masih kafir, bahkan Allah Ta’ala akan
melipatgandakan (pahala)amal-amal kebaikan yang dilakukannya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam sebuah hadits berikut ini:
‫ هُريرة أ ِبي عن‬: ‫سو ُل قال‬
ُ ‫ للاِ ر‬:”‫أحسن ِإذ‬
‫ِبعش ِر تُكتبُ يعملُها حسنة ف ُكل ِإسالمهُ أحد ُ ُكم‬
ِ . ‫للا يلقى حتَّى بِ ِمث ِلها تُكتبُ يعملُها سيِئة و ُكل‬
‫ضعف سب ِع ِمائ ِة إِلى أمثا ِلها‬
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda: ”Jika salah seorang diantara kalian membaguskan (kwalitas) Islamnya, maka setiap
kebaikan yang dilakukannya akan ditulis (oleh Allah)sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus
kali lipat. Adapun keburukan yang dilakukannya, akan ditulis (oleh Allah)satu kali (saja)
sampai ia berjumpa dengan Allah (maksudnya hingga ia mati, pent).”. (HR. Muslim di dalam
Kitab Al-Iman, I/118 nomor. 129).
3. Islam tetap menghimpun amal-amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang, baik
ketika ia masih kafir maupun ketika sudah menjadi seorang muslim.
Hal ini sebagaimana ditunjukkan hadits shohih berikut ini:
‫قال ِحزام ب ِن ح ِكيم عن‬: ُ‫ قُلت‬: ‫سول يا‬ ُ ‫أو عتاقة أو صدقة ِمن الجا ِه ِلي ِة ِفى ِبها أتح َّن‬
ُ ‫للاِ ر‬، ‫ثَ ُكنتُ أشياء أريت‬
ِ ‫ ر ِحم‬، ‫ النَّبِي فقال أجر؟ ِمن فِيها فهل‬:”‫خير ِمن سلف ما على أسلمت‬
‫صل ِة‬
Dari Hakim bin Hizam, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang
perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa jahiliyah (kafir), seperti:
shodaqoh, membebaskan budak atau silaturahim tetap mendapat pahala?” Maka Nabi
bersabda: ”Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang terdahulu.” (HR. Al-
Bukhari, Kitab Zakat, nomor. 1436.
4. Islam menjadi sebab terhindarnya seorang hamba dari siksa api neraka.
Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
ُ ‫ي يخد ُ ُم ي ُهودِي‬
‫قال أنس عن‬: ‫غالم كان‬ َّ ِ‫يعُودُهُ النَّبِي فأتاهُ فم ِرض النَّب‬، ‫رأ ِس ِه ِعند فقعد‬
‫ لهُ فقال‬: ((‫ِعندهُ هُو و أ ِبي ِه ِإلى فنظر ))أس ِلم‬
ِ ‫النَّ ِبي فخرج فأسلم القا ِسم أبا‬
‫ لهُ فقال‬: ‫أطع‬
‫ يقُو ُل وهُو‬: (ُ ‫ار ِمن أنقذهُ الَّذِي ِ َّلِلِ الحمد‬
ِ َّ‫)) الن‬
Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata : “Ada seorang anak Yahudi yang selalu membantu
Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia sakit.
3
Maka Nabi datang menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, seraya mengatakan:
”Masuklah ke dalam agama Islam,” maka anak Yahudi itu melihat ke bapaknya yang berada
di sisinya, maka bapaknya berkata kepadanya: ”Taatilah (perintah) Abul Qasim (yakni
Nabi).” Maka anak itu akhirnya masuk Islam. Kemudian Nabi keluar, seraya mengucapkan:
”Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkannya dari siksa api neraka.” (HR.
Al-Bukhari, hadits nomor. 1356 & 5657).
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda:
“…ُ‫الر ُج ِل الدِين هذا ليُؤيِد ُ للا وإِ َّن ُمس ِلمة نفس إِالَّ الجنَّة اليد ُخ ُل إِنَّه‬
َّ ِ‫اج ِر ب‬
ِ ‫“ الف‬
Artinya: “…Sesungguhnya tidak akan masuk surga, melainkan jiwa yg muslim. Dan
sesungguhnya (bisa saja) Allah menolong agama ini dengan orang-orang fajir (orang muslim
yg melakukan dosa-dosa namun tidak menyebabkannya keluar dari Islam, pent).” (HR. Al-
Bukhari, Kitab Jihad, hadits nomor. 3062 dan 4203; dan Muslim, I/105 nomor. 111).
5. Kemenangan, kesuksesan dan kemuliaan hanya terdapat dalam agama Islam.
Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
ُ ‫ قال للاِ ر‬:”‫أسلم من أفلح قد‬، ‫كفافًا و ُر ِزق‬، ُ‫“ آتاهُ بِما للاُ وقنَّعه‬
ِ ‫الع‬, ‫سول أ َّن‬
‫اص ابن عم ِرو ب ِن للاِ عب ِد عن‬
Artinya: Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah bersabda:
”Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam dan diberi rizki yang cukup. Dan Allah
memberikan kepadanya sifat Qona’ah (selalu merasa cukup n puas) atas rizki yang ia terima.”
(HR. Muslim dalam Kitab Zakat, Juz II/730, hadits nomor. 1054).
Umar bin Khathab radhiyallahu anhu berkata: ”Kami adalah suatu kaum yang telah
dimuliakan oleh Allah dengan (memeluk) agama Islam. Maka, apabila kami mencari
kemuliaan dengan selain cara-cara Islam, niscaya Allah akan menghinakan kami.”
(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, I/62. Dan ia berkata: “(Hadits ini)
Shahih.” Dan imam Adz-Dzahabi menyepakatinya).
Demikianlah beberapa keistimewaan dan keindahan agama Islam yang akan diraih
oleh seorang hamba di dlm kehidupan dunia n akhirat. Semoga Allah memberikan taufiq n
pertolongan-Nya kpd kita semua agar selalu istiqomah n konsekuen dlm memegang teguh
ajaran agama Islam yg murni hingga akhir hayat. Dan semoga Allah membebaskan kita
semua dari siksaan api Neraka, dan memasukkan kita ke dalam Surga-Nya yg hakiki nan
abadi.

4
B. Perbedaan Islam Dengan Agama Lain
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Islam mempercayai Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semeta ini dan menampilkan
keesaanNya dengan kata-kata yang amat bersahaja, komprehensif dan menarik. Minat
seorang pedusunan ataupun seorang terpelajar. Islam menyebut Tuhan sebagai Wujud Yang
Paripurna, sumber segala keindahan dan bebas dari segal cacat. Dia Wujud Yang Maha
Hidup yang menjelmakan diriNya dimana-mana dan yang mencintai makhlukNya serta
mendengarpermohonan-permohonan mereka. Tidak ada dari antara sifat-sifatnya yang telah
ditangguhkan.Oleh karena itu Dia berkomunikasi dengan makhluk manusia seperti halnya
Dia berkomunikasi sebelum ini dan tidak menutup jalan untuk mencapai Dia secara langsung.

2. Islam percaya bahwa tidak ada kontradiksi antara perkataan Tuhan dengan perbuatanNya.
Dengan demikian Tuhan membebaskan kita dari permusuhan tradisional antarasains dan
agama, dan tidak menghendaki kita mempercayai sesuatu yang berada di luar
kawasanhukum-hukum alam yang telah ditetapkan olah-Nya. Tuhan mendorong kita untuk
merenungkanperihal alam dan mengambil faedah daripadanya, sebab segala sesuatu telah
diciptakan demi kepentingan umat manusia.

3. Islam tidak mengemukakan pengakuan yang kosong melompong ataupun memaksa kita
mempercayai sesuatu yang kita tidak mengerti. Islam mendukung ajaran-ajarannyadengan
alasan dan keterangan yang memberi kepuasan kepada pikiran kita dan kepada dasar jiwa kita
yang sedalam-dalamnya. Islam tidak berlandaskan pada mitos-mitos atau hikayat-hikayat.
Islam mengundang setiap orang untuk bereksperimen bagi dirinya sendiri dan berpendirian
bahwa kebenaran selamanya dapat dibuktikan dalam satu atau lain bentuk.

4. Kitab wahyu Islam (Al-quran) itu unik dan membedakan wajah agama ini dari agama-
agama lainnya. Kendati musuh-musuh Islam berupaya secara terpadu selama berabad-
abad,mereka tidak mampu menyamai bagian kecil sekalipun daripada kitab yag ajaib ini.
Kelebihannya tidak hanya terletak hanya di dalam keunikan dan keindahan
susasteranya,melainkan juga di dalam kebersahajaannya dan keluasan wawasan serta
kepepakan ajarannya.Al-quran memproklamasikan bahwa ajarannya adalah yang terbaik-
suatu pengkuan yang tidak dibuat oleh kitab-kitab wahyu lainnya.
Al-quran mangaku telah mengkombinasikan unsur-unsur ajaran samawi yang terbaik
yangterdapat di dalam kitab-kitab suci terdahulu dan telah menempatkan di dalamnya semua
ajaranyang abadi dan luas rangkumannya. Alquran mengingatkan: “Sesungguhnya inilah
yang diajarkan dalam kitab-kitab terdahulu, kitab-kitab suci Ibrahim dan musa” (87:19).

C. Pandangan islam terhadap agama lain


Inti dari beragama adalah ketundukan, yakni tunduk kepada apa saja yang menjadi
aturan dan ketentuan Tuhan tanpa harus tahu lebih dulu tujuan dan hikmahnya. Hal ini dalam
istilah lain disebut ta’abbud (ibadah).
Aturan dan ketentuan Tuhan ada dua :
a. Ketentuan dan aturan yang harus ditaati oleh alam materi, seperti bulan dan matahari.
b. Ketentuan dan aturan Tuhan yang harus ditaati oleh manusia sebagai makhluq Tuhan
yang terdiri dari materi dan ruh.
Dalam kenyataan, alam materi lebih tunduk pada aturan Tuhan dari pada manusia.
Bisa dikatakan, bahwa alam materi tidak pernah durhaka kepada Tuhan. Ketundukan manusia
pada aturan dan ketentuan Tuhan lahir dari mahabbah (rasa cinta), dan mahabbah lahir dari
ma’rifat, yakni keyakinan dan pengetahuan tentang Tuhan sebagai dzat yang berhak untuk
disembah dan ditaati. Ma’rifat sendiri dari mana datangnya? Para ulama membagi ma’rifat
kepada dua bagian: ma’rifat ta’rîf dan ma’rifat ta’arruf. Ma’rifat ta’rîf ialah ma’rifatnya kaum
intelek (ilmuwan, mutakallimin, dan filosof) yang diperoleh melalui tafakkur dan renungan
akan ciptaan-ciptaan Allah. Sedangkan ma’rifat ta’arruf ialah ma’rifatnya kaum sufi yang
diperoleh melalui mujâhadah, membersihkan jiwa, dan hati dari kotoran dan dosa. Ma’rifat
ta’rîf dianggap sebagai ma’rifat kelas dua karena pemiliknya hanya bisa melihat dalil, tidak
bisa melihat madlul atau hanya bisa melihat ciptaan (akwân), tidak bisa melihat penciptanya
(mukawwin).
Di era ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, kajian tentang eksistensi Tuhan
banyak dilakukan ilmuwan (scientist) Barat dan ternyata hasil kajian mereka tentang Tuhan
tidak berbeda dengan yang ada di dalam kitab-kitab suci, termasuk al-Qur’an.
Sebagai contoh, penulis kemukakan pernyataan beberapa pakar ilmu pengetahuan Amerika
sebagai berikut :

6
Claude M. Hashway: “Alam semesta ini tidak lain adalah sebuah gumpalan yang
tunduk pada sistem tertentu. Dengan demikian, alam ini butuh pada sebab pertama (al-sabab
al-awwal) yang tidak tunduk pada hukum termodinamika yang kedua dan sudah barang tentu
sebab pertama itu immaterial (lathîf)”.
John Adolf Baoer: “Kita tidak ingin terjebak dalam kesalahan seperti dialami orang-
orang kuno, dengan meyakini banyak Tuhan untuk mendapatkan penafsiran terhadap hal-hal
yang tidak jelas, di mana masing-masing Tuhan memiliki kekuasaan tertentu dan tugas
tertentu. Setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan dan ketika fenomena alam yang
dulu gelap sudah dapat dipahami dan hukum-hukumnya telah diketahui, manusia tidak lagi
memerlukan banyak tuhan yang dulu mereka buat, tetapi banyak manusia mengingkari wujud
Allah justru karena sebab ini”.
Andrew Conway Aigea: “Saya telah mengkaji sifat-sifat Allah secara panjang lebar
dengan basis logical analysis seperti yang dilakukan para filosof. Dan dengan menggunakan
logika, bisa dicapai kesimpulan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat tertentu. Berikut ini
dikemukakan tidak secara lengkap beberapa sifat Allah; Allah itu kekal-abadi (bâqi),
immaterial (lathîf), tidak baharu (qadîm), maha suci…..Haq, Maha Tahu (‘alîm),
berkehendak (murîd), …sumber segala kebaikan.”
Berhubung keberagamaan seseorang dibangun di atas dasar keyakinan, maka
logikanya tidak boleh ada paksakan dalam agama, tidak boleh ada paksaan untuk meyakini
atau tidak meyakini suatu agama. Hal ini merupakan salah satu prinsip dalam agama Islam.
Al-Qur’an meyatakan: “Apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi
mukmin” (Qs.Yunus : 99)
Hal lain yang mutlak harus dijadikan prinsip umat beragama adalah prinsip toleransi
(al-tasamuh). Ini berangkat dari kesadaran bahwa segala perbedaan, termasuk perbedaan
dalam beragama, merupakan fitrah kemanusiaan. Mengingkari perbedaan berarti mengingkari
fitrah. Sejalan dengan fitrah itu, al-Qur’an menyatakan: “Barang siapa mau beriman silahkan
beriman, dan barang siapa mau kafir silahkan kafir” (Qs. al-Kahfi : 29). Dengan prinsip
toleransi, maka tidak diperlukan upaya menyatukan agama dan tidak perlu ada usaha
menciptakan keyakinan bahwa semua agama benar. Sebaliknya, dengan adanya keyakinan
semua agama benar tidak diperlukan toleransi dalam agama.
Salah satu realitas yang banyak terjadi di atas bumi ini ialah, bahwa pemeluk suatu
agama bangga dengan agamanya dan berkeyakinan bahwa agama yang ia anut saja yang
benar kemudian berupaya untuk membentengi agamanya itu,
7
misalnya dengan memperkokoh tali ukhuwwah diniyyah di antara sesama pemeluk agama
tersebut. Ini sah-sah saja bahkan logis dan rasional. Yang tidak logis dan tidak rasional
bahkan berbahaya adalah bila orang yang meyakini suatu agama membenci dan memusuhi
agama lain, apalagi sampai menghalalkan darah dan harta penganut agama lain. Meski ini
tidak masuk akal dan berbahaya, tapi banyak orang yang melakukannya. Termasuk dari
kalangan umat Islam, bahkan sebagian menganggap bahwa dengan aksi seperti itu, mereka
telah ber-taqarrub ila Allâh (mendekatkan diri kepada Allah). Boleh jadi maksud mereka
baik, tapi yang terjadi sebaliknya. Mungkin maksud mereka ingin memoles wajah agamanya
agar tambah anggun, tapi malah mencorengnya. Maklum, pada umumnya mereka hanya
punya modal semangat, sementara pengetahuan yang cukup tentang agamanya tidak mereka
miliki secara memadai. Adalah runyam bila agama mengajari pemeluknya membenci atau
menyerang pemeluk agama lain yang tidak bersalah. Apa jadinya bila pemeluk agama lain itu
keluarganya sendiri; bapaknya, pamannya, kakeknya, atau yang lain. Islam sendiri tidak
melarang pemeluknya sengaja memiliki paman, kakek, atau nenek yang beragama lain. Perlu
disimak ajaran al-Qur’an tentang hal ini: “Dan jika keduanya (bapak dan ibumu) memaksamu
untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti (kemauan) mereka, dan temanilah mereka di dunia ini
dengan baik“. (Qs. Luqman : 15).
Dalam Islam ada sebuah istilah yang mungkin bisa membuat penganut agama lain
tersinggung, yaitu istilah “kafir”, tapi sekiranya istilah ini dipahami makna dan maksudnya
pasti tidak akan ada yang tersinggung apalagi marah. Kafir berarti orang yang mengingkari
atau tidak mengakui. Kafir dengan pengertian ini tidak selalu melekat dengan orang non-
Muslim, tapi juga bisa menjadi sifat bagi Muslim sendiri. Sebagai contoh al-Qur’an
menyatakan: “Barang siapa kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh
dia telah berpegang pada tali yang kokoh“. (Qs. al-Baqarah : 256).
Kafir dengan arti mengingkari yang dialamatkan kepada orang-orang non-Muslim
bisa dibagi kepada tiga bagian :
a. Mulhid (atheist), yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan.
b. Musyrik (polytheist), yaitu orang-orang yang mengingkari ke-Esa-an Tuhan atau
meyakini adanya lebih dari Satu Tuhan atau Tuhan Yang Satu.
c. Ahli kitab (kitaby), yaitu orang-orang yang meyakini ke-Esa-an Tuhan dan mengingkari
kerasulan Muhammad atau tidak mengkui kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu dari
Allah.
8
Dalam agama Yahudi dan Nasrani, sepanjang pengetahuan penulis, tidak
berkembang istilah kafir yang dialamatkan kepada orang-orang Muslim. Mungkin karena
dalam dua agama ini tidak ada hal-hal prinsip yang tidak diakui oleh kaum muslimin, seperti
kerasulan Musa dan Isa dan eksistensi kitab Taurat dan kitab Injil sebagai wahyu Allah.
Bahkan bagi kaum muslimin, meyakini kerasulan Musa dan Isa serta Taurat dan Injil sebagai
kitab yang datang dari Allah merupakan salah satu rukun asasi bagi keimanan dan keislaman
seseorang. Artinya seseorang tidak diakui sebagai orang mukmin atau muslim tanpa iman
kepada Musa, Isa, Taurat, dan Injil.
Dari aspek lain, kafir (non muslim) dalam konsep fiqh dibagi menjadi tiga bagian:
a. Harby, yaitu non muslim yang terlibat permusuhan dengan kaum muslimin.
b. Mu’âhad, yaitu non muslim yang terikat komitmen dengan kaum muslimin untuk tidak
saling bermusuhan.
c. Dzimmy (ahlu dzimmah), yaitu non muslim yang berdomosili di negara Islam.
Kalau ada yang beranggapan bahwa istilah ahlu al-dzimmah merupakan ungkapan
sinis atau merendahkan, maka anggapan itu tidak benar karena makna ungkapan tersebut
ialah orang-orang yang mendapatkan perlindungan Allah, perlindungan Rasulullah dan
perlindungan kaum muslimin. Akan tetapi, kalau ada yang keberatan dengan ungkapan itu
sebaiknya istilah itu dihilangkan saja. Karena itu tidak prinsip dan bukan istilah baku di
dalam al-Qur’an atau al-Sunnah. Yang baku pun kalau mengundang masalah juga, bisa
dibuang seperti istilah jizyah. Istilah ini tidak digunakan oleh Sayyidina Umar ibn al-Khattab
(Khalifah ke 2 setelah Abu Bakar) setelah Nashara Bani Taghlib keberatan dengan istilah
tersebut. Dari pada istilah jizyah, mereka lebih suka istilah “shadaqah” untuk sumbangan
wajib yang harus mereka bayarkan kepada negara meskipun jumlahnya harus dua kali lipat
dari jizyah. Mengomentari kemauan mereka, Umar ibn al-Khattab berkata: “Mereka itu
bodoh, pada isinya mereka mau pada kulitnya tidak mau”.
Islam adalah agama rahmah dan ramah. Hal ini dinyatakan sendiri secara langsung
di al-Qur’an: “Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh
alam”. (Qs. al-Anbiya: 107). Ini tidak berarti bahwa Islam harus selalu tampil manis, lemah
lembut dan selalu menurut kepada setiap kemauan orang.
Dalam kondisi tertentu, Islam perlu tampil tegas, bahkan kadang-kadang Islam
terpaksa tampil keras ketika ada pihak yang lebih dulu melakukan kekerasan yang hanya bisa
diatasi dengan kekerasan. Oleh karena itu, dalam Islam ada konsep jihad yang salah satu
artinya ialah qitâl (perang fisik).
9
Jihad pada mulanya dalam arti berpayah-payah dengan melakukan sesuatu untuk
mencapai suatu kebaikan bagi diri sendiri atau orang lain. Selain jihad, ada istilah mujâhadah.
Dua istilah ini berasal dari akar kata yang sama, yaitu jahd (payah/berat). Akan tetapi, istilah
yang kedua (Mujâhadah) lebih banyak digunakan dalam pengertian berjuang atau berperang
melawan keinginan hawa nafsu, seperti melawan keinginan untuk korupsi, mencuri, berzina,
melawan kecenderungan nafsu untuk tidak berbuat baik kepada orang lain.
Berperang melawan nafsu sangat berat, lebih berat dari berperang melawan orang.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengatakan, perang melawan nafsu sebagai jihad besar
(al-jihad al-akbar). Jihad fisik juga berat karena berpotensi besar bagi terjadinya penderitaan
dan kematian. Sementara manusia pada umumnya lebih suka hidup dari pada mati. Orang
yang lebih suka mati dari pada hidup adalah manusia luar biasa. Orang semacam ini ada
kalanya karena putus asa, merasa tidak punya masa depan, dan ada kalanya karena ingin
segera menikmati masa depan setelah kematian yang diyakini jauh lebih baik. Pinjam istilah
Siti Rabi’ah Adawiyah; ingin segera bertemu dengan Tuhannya. Bagi manusia yang normal,
dari agama apapun termasuk dari kalangan kaum muslimin, perang merupakan sesuatu yang
sangat dibenci. Sekiranya tidak ada tujuan suci yang bermanfaat bagi kemanusiaan tentu
perang tidak perlu dilakukan. Dalam hal ini al-Qur’an menyatakan: “Diwajibkan kepadamu
berperang, padahal berperang itu kamu membencinya. Boleh jadi kamu membenci sesuatu
sementara sesuatu itu sangat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal
hal tersebut sangat buruk bagimu.” (Qs. al-Baqarah: 216).
Pada mulanya jihad dalam arti perang fisik dilarang dalam Islam. Di saat-saat
sebelum izin berperang keluar, kaum muslimin selalu diperintahkan untuk sabar dan tabah
menghadapi penindasan dan keganasan kaum musyrik Makkah. Izin itu baru turun setelah
lebih dari 10 tahun dari kenabian, yakni setelah Nabi hijrah ke Madinah. Keluarnya izin
tersebut ditandai dengan turunnya firman Allah: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-
orang yang diperangi, karena mereka benar-benar telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-
benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung
halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali hanya karena mereka berkata: “Tuhan kami
adalah Allah”.
Sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang
lain, tentunya telah dirobohkan biara-biara Nashrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah
orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Dan pastilah
Allah menolong orang-orang yang menolong-Nya.
10
Sungguh Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Qs. al-Hajj: 39-40).
Jihad yang kadang terpaksa dilakukan itu memiliki rambu-rambu amat ketat yang
wajib ditaati oleh kaum muslimin. Rambu-rambu itu kebanyakan berupa larangan-larangan,
seperti larangan berkhianat, memotong-motong anggota tubuh, memotong pohon,
merobohkan bangunan, membunuh anak kecil, perempuan dan orang yang sudah tua.

D. Perbedaan agama yahudi dan kristen


a. Agama Yahudi
Ajarannya disebut "Yudaisme" karena bersifat ke-bangsa-an dan khusus bagi
bangsa Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran yang berasal dari agama yang diturunkan
Allah untuk bani Israil dengan perantaraan utusan-Nya yaitu Musa a.s. Kitab sucinya
dinamakan Thaurat (wasiat lama) yang aslinya tidak ditemukan lagi sekarang.
Agama bangsa yahudi diperoleh dari Ibrahim a.s., melalui jalur keturunan anaknya Ishak
a.s. Agama bangsa Yahudi dipercaya diperoleh dari garis keturunan Ibrahim a.s.,
kemudian dilanjutkan melalui jalur keturunan anaknya Ishak a.s.
Menurut alur Al-Kitab asal usul bangsa Yahudi adalah keturunan salah satu
cabang ras Semitik purba yang berbahasa Ibrani. Hampir 4000 tahun yang lalu, Ibrahim
nenek moyang mereka beremigrasi dari kota besar Ur Kasdim yang sangat makmur di
Sumeria ke negeri Kanaan. Darinya garis keturunan orang Yahudi dimulai dengan Ishak
puteranya dan Yakub cucunya, yang namanya diubah menjadi Israel.
Israel mempunyai 12 putera, yang menjadi pendiri 12 suku. Salah seorang dari
mereka adalah Yehuda yang akhirnya dari namanya berasal kata "Yahudi" 2 raja 16:6,
JP. Diantara garis keturunan tersebut, bagi bangsa Yahudi Musa a.s. mendapat tempat
yang sangat istimewa meskipun Isa a.s. juga diutus untuk bangsa Israel. Musa dianggap
memenuhi peranan penting sebagai perantara perjanjian Taurat yang Allah berikan
kepada Israel, disamping sebagai nabi, hakim, pemimpin dan sejarawan. Agama ini
percaya pada keesaan Tuhan secara mutlak (monoteis) dan menganggap Allah turun-
tangan dalam sejarah manusia, khususnya berkenaan dengan orang Yahudi. Ibadat
bangsa Yahudi menyangkut beberapa perayaan tahunan dan berbagai kebiasaan.
Meskipun tidak ada kredo atau dogma yang diterima oleh semua orang yahudi
mengenai keesaan Allah yang dinyatakan dalam Shema, yaitu doa berdasarkan kitab
Ulangan 6:4, merupakan bagian terpenting ibadat sinagoge: "Dengarlah, Hai bangsa
Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa".
11
Pada mulanya Nabi Musa a.s. mengajarkan kepada umatnya tentang ada dan
esanya Allah. Tetapi ajaran murni ini akhirnya berubah karena sifat "exclusive
nasionalistic" penganutnya. Perubahan tersebut dapat dilihat dari sumber prinsipil
Syahadat mereka "Schema Yisrael, adonai alaheynu adonai achud" Ulangan: [6][4] yang
didalam pelaksanaannya rasa kebangsaan diatas segalanya sehingga keesaan Allah
sendiri menjadi kabur.
Ajaran Yudaisme tidak menyebut adanya hari kiamat, akhirat, siksaan pada hari
akhirat dan pembalasan dalam bentuk pahala. Mereka tidak membicarakan keselamatan
pribadi penganut-penganut ajaran mereka. Kepada mereka selalu diindoktrinasikan
adanya kejayaan yang abadi dipalestina sebagai negara yang dijanjikan Tuhan bagi
minoritas Yahudi, satu-satunya umat yang berhak mewarisi bumi Tuhan sebagai umat
yang terpilih.
Hingga kini kita dapat melihat mengapa Israel begitu ngotot menguasai Palestina
dengan menteror semua bangsa yang bukan Yahudi agar minggat dari tanah Palestina.
Peribadatan mereka dilakukan terutama pada hari sabtu mulai terbit fajar sampai
terbenam matahari. Segala pekerjaan tangan seperti menyalakan lampu, memadamkan
api dan lain-lainnya terlarang pada hari tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan diatas
diberi ancaman keras. Mereka dianjurkan berjamaah dan minimal 10 orang dan
dilakukan tiga kali sehari. Sebelum sembahyang mereka juga berhadas dan mengambil
wudhu. Di dalam sembahyang mereka diharuskan memakai penutup kepala.
Puasa mereka dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti "Yom Kippur" selama 24
jam, tanggal 10 bulan Tishri dan setiap hari senin dan kamis. Didalam kitab Imamat
orang lewi Thaurat [10]:[9], [10]:[11] minuman yang memabukkan terlarang bagi setiap
penganut ajaran Yudaisme. Larangan ini tidak pernah diperdulikan, malah minuman
keras merupakan suatu keharusan didalam upacara-upacara keagamaan dan mereka
meminumnya atas nama Tuhan. Setiap orang yahudi tidak mempunyai kewajiban untuk
menyampaikan ajaran mereka kepada orang-orang yang bukan keturunan Yahudi,
sehingga ajaran mereka bersifat "non missionary". Orang Yahudi tidak mengakui adanya
Nabi Isa a.s.
Mereka menentang sekali ketuhanan Isa atau Yesus yang diajarkan oleh agama
Kristen. Juga tidak mengenal pejabat agama (hirarki gereja).

12
Bangsa Yahudi mendasari doktrin keagamaan mereka atas dasar Sepuluh perintah
Tuhan yakni:
1. Jangan ada padamu Allah selain Aku.
2. Jangan membuat bagimu patung, atau yang menyerupai apapun yang ada
dilangit diatas, atau dibumi dibawah, atau didalam air dibawah bumi.
3. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya...(pada
permulaan zaman ini, sekitar 1513 SM, perintah unik dalam penolakannya
mengenal penyembah berhala).
4. Jangan engkau bersumpah palsu demi Tuhan Allahmu....Ingatlah hari Sabat dan
peliharalah suci. Tuhan memberkati hari Sabat dan menyucikannya.
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu.
6. Jangan membunuh.
7. Jangan berzina.
8. Jangan mencuri.
9. Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu.
10. Jangan mengingini rumah sesamamu isteri hamba laki-laki atau perempuan
lembu atau keledainya, atau apapun milik sesamamu (keluaran 20:3-17).

b. Agama Kristen
Agama kristen memiliki sejarah kekisruhan terlama didunia, meski diakui bahwa
ajarannya bersumber dari Yesus (Nabi Isa a.s.) tetapi penelusuran sejarah menunjukkan
bahwa peranan Yesus (Nabi Isa a.s.) dalam ajaran kristen masa kini sudah kehilangan
eksistensinya, karena sebagian besar isi kitab Injil adalah tulisan seorang Yahudi yaitu
Raul/Paul yang belakangan disebut sebagai Paulus.
Istilah Kristen sesungguhnya juga bukan berasal dari nama yang dibawa oleh
Nabi Isa a.s. (Yesus) istilah Kristen muncul dan erat hubungannya dengan peristiwa
penyaliban Yesus (Cross-salib) dari istilah inilah kemudian muncul istilah Kristus (orang
yang disalib) dan pengikutnya disebut sebagai umat Kristen. sementara sebutan Nasrani
bagi penganutnya bersumber dari sejarah perjalanan Dakwah Yesus di tanah Nazareth
(Nasharo). Sebagian lagi mengatakan Nazareth adalah tempat kelahiran Yesus.
Akan tetapi sebagian orang Kristen menyangkalnya, menurut mereka Yesus lahir
di Bethlehem. Hal ini dihubungkan dengan persoalan nubuat yang akan dibahas
kemudian.
13
c. Yesus dan Paulus
Sebagian dari sarjana telah menitikberatkan perhatiannya pada tulisan-tulisan
Paulus dalam Kitab Perjanjian Baru, yang dimulai oleh F.C. Baur dari Tübingen. Mereka
mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru terdapat dua aliran yang sangat bertentangan
satu sama lain, yaitu ajaran-ajaran Yesus dengan ajaran-ajaran Paulus. Bagi mereka,
ajaran Yesus telah diubah oleh Paulus sedemikian rupa, sehingga pada hakikatnya
Pauluslah yang merupakan pendiri agama Kristen yang dianut oleh banyak orang saat
ini. Ketika Yesus mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai kerajaan surga dengan
bertobat dan berbuat baik, maka Paulus mengatakan bahwa dosa manusia telah ditebus
Yesus. Dengan menyadari dosa yang telah dilakukannya dan menyelami kejahatan
manusia. Paulus mengembara meletakkan tiang-tiang agama Kristen dengan doktrin
tentang Yesus sebagai penebus dosa, yang telah membebaskan manusia sejak jatuhnya
Adam.
Ajaran penebusan dosa oleh darah Kristus atas umat manusia, suatu dosa yang
menurut ajaran Gereja dibawa sebagai warisan turun temurun sejak jatuhnya Adam, yang
merupakan bagian dari skema Tritunggal, kemudian ditentang pula oleh kaum Kristen
sendiri. Pada abad kelima, Pelagius menyatakan dengan tegas di Roma, bahwa dosa
adalah suatu perbuatan, bukan suatu keadaan setiap manusia bertanggung jawab atas
dosanya sendiri. Dengan keyakinan yang sempurna Paulus mengajarkan Injilnya tentang
Yesus yang tidak diajarkan Yesus dalam Injil-injil sinoptik.
Tatkala Yesus mengatakan dengan tegas kepada dua belas muridnya: "Jangan
kamu menyimpang kejalan bangsa lain atau masuk kedalam kota orang Samaria,
melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Matius, 10:5-6)
dan mengatakan "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel"
(Matius, 15:24).
Paulus kemudian menentangnya, karena kelemahannya (Isa a.s.) menghadapi
orang Yahudi, dan kemudian ia mengembara kenegeri-negeri orang kafir. (Kisah Para
Rasul, 22:18-21). Yesus yang sejak awal sampai akhir hidupnya bertindak sesuai dengan
hukum Taurat, yang menyuruh manusia menaati Musa (Markus, 1:44) dan yang
mengatakan:
"Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau
kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya" (Matius, 5:17).
14
Paulus dengan tegas menentang: "sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan
dihadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat
orang mengenal dosa" (Roma, 3:20). "sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa,
karena kamu tidak berada dibawah hukum Taurat, tetapi dibawah kasih karunia" (Roma,
6:14). "sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian
Kristus" (Galatia, 2:26).
Adanya pertentangan kedua injil ini Wrede berkata: "Maka terdapatlah suatu
celah yang tak terhubungkan antara Yesus dan Paulus. Paulus adalah pendiri kedua dari
agama Kristen. Pendiri kedua ini tidak syak lagi bertentangan dengan pendiri yang
pertama dalam keseluruhannya dan yang terkuat - tetapi tidak lebih baik".
Teolog-teolog itu bertanya: hak apakah yang dipergunakan oleh Paulus untuk
mengubah atau menghapus hukum Taurat, sedangkan dia bukanlah Kristus atau Messias,
bukan Nabi, malah bukan murid Yesus. kekuasaan apa yang dipergunakannya untuk
berkata: "Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna
bagimu" (Galatia, 5:2), sedangkan Yesus (Lukas, 2:21) dan seluruh muridnya bersunat.

d. Tritunggal
Dengan meragukan keaslian Injil, kaum terpelajar berpendapat, bahwa dogma
Tritunggal dan skemanya, seperti penebusan dosa dengan darah Yesus (atonement) yang
tidak dapat diterima oleh akal, bukanlah ajaran Yesus. Kaum terpelajar berpendapat
bahwa ajaran Tuhan Bapa telah masuk kedalam ajaran Kristen dari paham Yunani. Mitos
Yunani mengenai istilah Zeus-Pater atau Yupiter sebagai Tuhan Bapa.
Demikian pula tentang penjelmaan Tuhan kedalam tubuh manusia yang
merupakan ajaran Yunani, telah masuk pula kedalam ajara agama Kristen. Dalam ajaran
agama Kristen, meskipun ibu Yesus yang bernama Maria bersuamikan Yusuf situkang
kayu, tetapi sebelum Maria kawin dengan Yusuf, yaitu sejak mereka bertunangan, Maria
telah mengandung dan melahirkan Yesus. Dan Yesus adalah anak Tuhan. Menurut
sarjana-sarjana, cerita ini sama dengan cerita Herkules sebagai anak dari Tuhan Bapa
yang bernama Zeus-Pater.
Ibu Herkules, Alkmene, telah mengandung dan melahirkan anak (dengan Tuhan
Bapa) yang bernama Herkules. Jadi kedua-duanya, Yesus dan Herkules, beribu manusia
tetapi berayahkan Tuhan Bapa. Kedua-duanya adalah Anak-Tuhan, keduanya adalah
Tuhan.
15
Anehnya kedua cerita ini bersamaan pula dengan dongeng atau cerita agama
Hindu. Krishna, juga beribukan manusia, yaitu Devanaki, penjelmaan dari Wishnu
sebagai anak Tuhan dan ayahnya adalah juga Tuhan Bapa atau Zupitri, yaitu Brahma.
Krishna adalah Tuhan atau anak Tuhan, tepat seperti Kristus. Para ahli sejarah agama
Jerman, seperti Bruno Freydank, Prof. Rudolf Seydel, Dr. Hubbe-Scheiden, Th. Schultze,
K.E. Neumann membuktikan pula bahwa sebenarnya agama Kristen mempunyai
hubungan erat dengan Hinduisme.
Mereka memastikan bahwa agama Kristen tumbuh dari Hinduisme dan
Budhisme. Ini dapat diterangkan menurut persamaan dengan apa yang kita temui dalam
cerita Herkules; Bapanya bernama Zeus, namun ayahnya-manusianya adalah
Amphitryon. Demikian pula Yesus, menurut Matius, disamping Anak Tuhan juga
disebut anak Yusuf. Dongeng Herkules tertua menyebut Amphitryon disebut tunangan
Alkmene. Demikian pula yang dikhotbahkan dalam Injil Matius. Persamaan ajaran-
ajaran dan dongeng-dongeng Yunani dengan ajaran-ajaran Gereja begitu banyaknya,
sehinggga sebagian besar sarjana berpendapat bahwa cerita-cerita dalam Injil-injil itu
pada hakikatnya adalah mitos-mitos yang dibuat-buat manusia.
Sebagian kristolog membuktikan bahwa ada hubungan antara ajaran-ajaran
Kristen dengan dongeng Yunani, maka sebagian lagi membuktikan bahwa terdapat
hubungan yang erat antara dongeng-dongeng Hindu dan ajaran-ajaran Gereja. Bagi
mereka, ajaran-ajaran dan mitos Hindu telah dipakaikan busana dan perhiasan Barat serta
dinamakan agama Kristen, tetapi kerangka dasarnya tetap ajaran Hindu. Th. J. Plange
berkata:
"kita tidak mendapat kabar baru tatkala kita mendapatkan bahwa penjelmaan Tuhan
menjadi manusia, yaitu turunnya Tuhan keatas bumi untuk menebus dosa makhluknya,
yang dasarnya agama Hindu. Setiap orang akan mengetahui apabila mereka membaca
buku Hindu. Seterusnya kitab-kitab suci agama Kristen diambil dari dongeng-dongeng
Hindu, dari cerita Krishna dan Budha, adalah sangat mungkin dan dapat dianggap hampir
pasti. Dalam penyatuan kedua dongeng-dongeng keagamaan dari India yang penting ini,
dengan mudah kita menemukan lagi seluruh bagian keempat Injil Kristen yang penting
itu.
Akhirnya terbukalah rahasia kepada para Ahli ini. Memang bahasa Sansekerta
serta dongeng-dongengnya bersamaan dengan bahasa serta dongeng-dongeng Yunani.
Kedua aliran ini, Yunani dan Hindu, dalam ukuran tertentu, telah mempengaruhi agama
16
Kristen. Namun yang menjadi pertanyaan ialah, bagaimanakah ajaran-ajaran dan
mitos-mitos ini memasuki Perjanjian Baru? Banyak sarjana mengemukakan
pendapatnya.
David Friedrich Strauze mengatakan bahwa mitos-mitos dalam Perjanjian Baru
timbul karena kehendak penulis-penulis Injil, bahwa nubuat dalam Perjanjian Lama
harus dipenuhi. Begitu juga keajaiban Yesus, katanya, merupakan penjelmaan-
penjelmaan dongeng. Dikemukakannya dalam bukunya 'Das Leben Jesu' atau 'Riwayat
Hidup Jesus', bahwa riwayat Jesus terbagi dalam dua bagian, yaitu "Yesus dalam batas-
batas sejarah" dan "riwayat dongeng Yesus dalam kejadiannya dan pertumbuhannya"
yang terakhir ini menerangkan bagaimana timbulnya dongeng Yesus sebagai Anak
Tunggal Tuhan yang turun untuk menebus dosa manusia, dari mana asalnya ceritera
bintang yang jalan dilangit dan berhenti ditempat kelahiran Yesus, bagaimana timbulnya
pemenuhan nubuat dalam Perjanjian Baru yang dipaksakan; karena Messias yang
dijanjikan itu haruslah anak Daud, maka penulis Injil telah membuat kesalahan ketika
mengatakan bahwa bapak Yesus adalah Yusuf, tunangan Maria yang berasal dari turunan
Daud, sedangkan Yusuf bukanlah ayah Yesus, sebab Yesus telah dinyatakan sebagai
Anak Tuhan Bapa oleh penulis Injil.
Demikian pula Strausz berpendapat, bahwa ia juga membuktikan bahwa
Perjanjian Baru bukanlah merupakan pencatatan kitab pada zaman Yesus, tetapi baru
ditulis lama berselang setelah Yesus wafat. Ia mengatakan bahwa mitos-mitos itu timbul
secara tidak disadari. Perjanjian Baru ditulis dengan tambahan mitos-mitos yang secara
tidak sadar dibentuk dalam masyarakat Kristen, sebagai pernyataan untuk memenuhi
kedatangan Messias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama...Menurut Strausz, tatkala
orang datang menemui Yesus, mula-mula dalam jumlah sedikit, kemudian banyak,
mereka berpikir bahwa segala sesuatu harus terjadi padanya sebagaimana yang
dinubuatkan dan diterangkan dalam Perjanjian Lama...Karena Messias itu haruslah anak
Daud sebagaimana yang dinubuatkan Mikha, maka ia harus dilahirkan di Bethlehem.
Karena Musa telah melakukan keajaiban-keajaiban, maka Yesus harus pula
melakukan keajaiban-keajaiban. Karena Yesaya meramalkan bahwa pada masa itu orang
buta akan melihat, orang tuli akan dapat mendengar, orang lumpuh akan meloncat seperti
rusa jantan dan lidah orang bisu akan dapat berbicara, maka orang-orang telah
mengetahui sampai kedetil-detilnya keajaiban-keajaiban apa yang harus dilakukan
Yesus,
17
kalau beliaulah Messias yang dinanti-nantikan itu. Sedangkan sarjana-sarjana
yang dipelopori Bauer berpendapat bahwa Philo-lah yang turut bertanggung jawab
membentuk medium yang memperkenalkan unsur-unsur Yunani seperti Plato (428-389
Seb-M),
Heraklitus dan aliran Stoa kepada agama Kristen. Orang Yahudi dari Alexandria
inilah yang turut serta membentuk wadah agama Kristen dengan memadukan ajaran-
ajaran Yunani itu dengan ajaran Yahudi, yang kemudian 'dijiplak' oleh penulis Injil.
Karya Philo adalah sumbangan pendahuluan ajaran Yahudi kepada ajaran Kristen; filosof
Yahudi ini telah mengerjakan falsafah Yunani sedemikian rupa, sehingga merupakan
bentuk awal agama Kristen, dengan melanjutkan karya-karya Heraklius, Plato dan aliran
Stoa.
Kisruh mengenai Tritunggal bermula dari filsafat Neoplatonisme yang telah
dimasukkan ke dalam Injil Yohanes dengan mengambil istilah "Logos" yang berasal dari
Plato itu, sebagai Tuhan yang menjelmakan dirinya menjadi manusia. Unsur-unsur
Neoplatonisme yang paling mencolok dapat dipelajari dari Injil Yohanes. Injil ini paling
menarik, karena timbulnya lama sesudah Masehi, dan terpisah, tak bersamaan isinya
dengan ketiga Injil Sinoptik, Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas.
Oleh karena itu mereka memastikan bahwa Yohanes ini bukanlah murid Yesus,
melainkan seorang yang tidak pernah dikenal pada zaman Yesus. Tatkala Yohanes
memulai Injilnya dengan "Pada mulanya adalah Logos (Kalam atau Firman)... Dan
seterusnya, maka sesungguhnya Yohanes tidak menulis suatu penyaksian mata tentang
perbuatan dan ajaran Yesus, karena teori Logos ini bukanlah tradisi Perjanjian Lama,
melainkan dari bahasa filsafat Yunani. Dengan kata-kata ini Yohanes telah membawakan
filsafat Neoplatonis dari Philo dan lainnya. Mereka telah mengacaukan perkataan 'firman'
dari Perjanjian Lama dengan 'Logos' dari Plato dan kaum Platonis.
Kata 'firman' dalam Perjanjian Lama yang berbunyi "Oleh firman Tuhan, langit
telah dijadikan" (Mazmur, 33:6) disamakan oleh kaum Neoplatonis dengan Logos lalu
dimasukkan oleh penulis-penulis Injil kedalam Perjanjian Baru. Firman atau perintah
Tuhan telah dijadikan Logos atau Tuhan itu sendiri, "yang segala sesuatu dijadikan oleh
Dia." Logos atau Tuhan itu sendiri telah menjadi daging atau manusia sebagaimana
bunyi Injil Yohanes. Dengan filsafat tersebut, Yesus telah dijadikan daging penjelmaan
dari Logos.

18
Yesus telah dijadikan Anak Tuhan yang oleh karenanya adalah Tuhan juga.
Sementara doktrin Tritunggal sendiri diperoleh dari Injil Yohanes "Sebab ada tiga yang
memberi kesaksian di surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu..."
(Yohanes 1: 5-7).
Yang paling mengejutkan ialah, ajaran penjelmaan Tuhan menjadi manusia
merupakan wujud inkarnasi, adalah paham inkarnasi dalam ajaran Hindu. Sehingga tak
pelak lagi mereka berkesimpulan Injil Yohanes ini jelas memasukkan paham ajaran
Hindu kedalam doktrin Kristen melalui filsafat Yunani. Disamping ajaran-ajaran
Tritunggal, ajaran penebusan dosa dan sebagainya, juga sakramen, berasal dari
Hinduisme, yang membaptiskan anak yang baru lahir disungai Gangga atau dengan air
suci.
Origenes (185-254), seorang Bapak Gereja di Alexandria, umpamanya, malah
mempercayai ajaran-ajaran reinkarnasi Hindu. Para ilmuwan menyelidiki dan mengambil
kesimpulan bahwa misi-misi agama Hindu telah sampai ke Yunani maupun Alexandria,
sebelum Yesus lahir (O. Hashem: 1984).
Kisruh mengenai Tritunggal kemudian meluas dengan dilakukannya kongres-
kongres (Konsili Nisea) untuk membahas mengenai ketuhanan Yesus mencapai waktu
berabad-abad lamanya dan menimbulkan perpecahan dan pembunuhan-pembunuhan
bagi pihak yang tidak sepakat pada aliran yang berkuasa. Berbagai rentetan fakta sejarah
dan peristiwa diatas memberi pelajaran bagi kita bahwa, semakin jelas keberadaan agama
Kristen tidak lagi dapat dipertahankan argumennya bahwa ia juga termasuk agama
wahyu.

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam adalah agama satu-satunya yang memiliki banyak keistimewaan dan keindahan
yang sangat mengagumkan bagi siapapun yang memeluknya. Kelebihannya tidak hanya
terletak hanya di dalam keunikan dan keindahan susasteranya,melainkan juga di dalam
kebersahajaannya dan keluasan wawasan serta kepepakan ajarannya.Al-quran
memproklamasikan bahwa ajarannya adalah yang terbaik-suatu pengkuan yang tidak dibuat
oleh kitab-kitab wahyu lainnya.Alquran mangaku telah mengkombinasikan unsur-unsur
ajaran samawi yang terbaik yangterdapat di dalam kitab-kitab suci terdahulu dan telah
menempatkan di dalamnya semua ajaranyang abadi dan luas rangkumannya.
Inti dari beragama adalah ketundukan, yakni tunduk kepada apa saja yang menjadi
aturan dan ketentuan Tuhan tanpa harus tahu lebih dulu tujuan dan hikmahnya. Hal ini dalam
istilah lain disebut ta’abbud (ibadah).
Dalam Islam ada sebuah istilah yang mungkin bisa membuat penganut agama lain
tersinggung, yaitu istilah “kafir”, tapi sekiranya istilah ini dipahami makna dan maksudnya
pasti tidak akan ada yang tersinggung apalagi marah. Kafir berarti orang yang mengingkari
atau tidak mengakui. Kafir dengan pengertian ini tidak selalu melekat dengan orang non-
Muslim, tapi juga bisa menjadi sifat bagi Muslim sendiri. Sebagai contoh al-Qur’an
menyatakan: “Barang siapa kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh
dia telah berpegang pada tali yang kokoh“. (Qs. al-Baqarah : 256).
Perbedaan agam yahudi dan kristen terdiri ata: agama yahudi, agama kristen, yesus
dan paulus, dan tri tunggal.

20
DAFTAR PUSTAKA

[Wakil Pengasuh PP Sukorejo Asembagus Situbondo]. Makalah dipresentasikan pada


“Workshop Islam Dan Pluralisme” kerja sama The WAHID Institute Jakarta-GKI
Jawa Timur, 5-8 November 2007, di Pacet Mojokerto Jawa Timur.

Dipublikasikan oleh Retadani Kusumaningrum


http://id.scribd.com/doc/67383329/Perbedaan-Islam-Dengan-Agama-Lain

http://peperonity.com/go/sites/mview/syahran7/12230068;jsessionid=9E12DE22D6B5B2E54
4CC29E95119D415.cdb02