Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN HIPERTENSI PADA LANSIA


REHABILITASI SOSIAL LANJUT USIA KABUPATEN GARUT

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Fakultas : Keperawatan Universitas Padjadjaran


Topik penyuluhan : Pencegahan dan penanganan hipertensi
Pokok bahasan : Pencegahan dan penanganan hipertensi
Sasaran : Lansia RSLU
Tempat : Panti RSLU Garut
Hari/ Tanggal : Selasa, 04 September 2018
Waktu : 30 menit

I. TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan tentang pencegahan dan pengobatan hipertensi,
diharapkan lansia memahami tentang pencegahan dan penanganan hipertensi.

II. TUJUAN KHUSUS


Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang hipertensi diharapkan sasaran mampu:
1. Mengetahui pengertian hipertensi
2. Mengetahui faktor resiko hipertensi
3. Mengetahui tanda dan gejala hipertensi
4. Mengetahui pencegahan dan penanganan hipertensi

III. ANALISIS TUGAS


Kognitif (knowlodge)C2
C2: Menerjemahkan, menginterpretasikan, menyimpulkan konsep dengan kata sendiri
Afektif (Attitute) : A2
A2: Kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk segera
bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Dalam hal ini lansia berpartisipasi
dalam diskusi
III. MATERI
(Terlampir) :
- Mengetahui pengertian hipertensi
- Mengetahui penyebab hipertensi
- Mengetahui faktor resiko hipertensi
- Mengetahui pencegahan dan penanganan hipertensi
IV. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Peragaan

V. MEDIA
1. Materi penyuluhan
2. Poster

VI. KEGIATAN
Tahap Waktu Kegiatan perawat Kegiatan pasien Media
kegiatan
Pendahuluan 5 Menit - Mempersiapkan diri - Mendengarkan Kata-
- Memperkenalkan diri - Bertanya kata /
- Menyatakan tentang mengenai kalimat
tujuan pokok perkenalan dan
tujuan jika ada
yang kurang
jelas

Penyajian 20 Menyajikan materi - Mendengarkan Poster


Menit tentang : dengan seksama
- Mengetahui - Bertanya
pengertian hipertensi mengenai hal-hal
- Mengetahui penyebab yang kurang jelas
hipertensi dan belum
- Mengetahui tanda dan dimengerti
gejala hipertensi
- Mengetahui
pencegahan dan
penanganan hipertensi
- Melakukan diskusi
(menjawab
pertanyaan)

Penutup 5 Menit - Melakukan evaluasi - Sasaran dapat Kalimat


dengan memberikan menjelaskan atau
pertanyaan sederhana kembali point- kata-
point yang kata
- Menyampaikan
diajarkan
ringkasan materi
- Menyampaikan hasil
evaluasi
- Mengakhiri
pertemuan dan
mengucapkan terima
kasih atas
perhatiannya.

VII. KRITERIA EVALUASI


1. Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi.
b. Kesiapan SAP.
c. Kesiapan media: materi penyuluhan dan poster
d. Pasien hadir di tempat penyuluhan.
e. Penyelenggaraan dilaksanakan di wisma lansia RSLU
f. Pengorganisasian penyelenggara penyuluhan dilakukan sebelumnya.

2. Evaluasi proses
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.
b. Lansia antusias terhadap materi penyuluhan.
c. Suasana penyuluhan cukup tertib
d. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
VIII. MATERI PENYULUHAN

HIPERTENSI

1. Pengertian
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah dipembuluh darah
meningkat secara kronis, yang mana terjadi akibat jantung bekerja lebih keras
memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh (Kementrian
Kesehatan RI, 2013). Tekanan darah hipertensi memiliki efek merugikan pada
kesehatan, terutama jika dibiarkan maka akan berlanjut kepada komplikasi yang
serius seperti adanya kerusakan organ utama jantung, otak, ginjal, dan mata (Helathy
People 2020, 2014). Keadaan hipertensi dimana tekanan darah diatas 140 mmhg
untuk sistol dan 90 mmhg untuk diastol. (Thompson & Reid, 2007).

2. Tanda dan Gejala


- Sakit kepala
- Perdarahan dari hidung (mimisan)
- Pusing
- Wajah merah

Keterangan : Jika telah berat atau menahun dan tidak diobati bisa timbul gejala
berikut

- Sakit kepala
- Kelelahan
- Mual
- Muntah
- Sesak napas
- Pandangan menjadi kabur
- Gelisah

3. Faktor Resiko Hipertensi


Faktor resiko terjadinya hipertensi terbagi menjadi 2 yaitu faktor yang tidak
dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Faktor yang tidak dapat dikontrol
diantaranya adalah keturunan, jenis kelamin dan usia. Banyak kejadian hipertensi
ditemukan akibat adanya faktor keturunan sekitar 70-80% orang ditemukan terkena
hipertensi karena berasal dari keluarganya. Menurut data dari Kemenkes, RI (2013)
ditemukan di Jawa Barat dengan presentase 28,8% pada perempuan dan 22,8% pada
laki-laki. Laki-laki lebih beresiko dibandingkan dengan perempuan karena laki-laki
lebih memiliki faktor pendorong seperti stres, kelelahan dan makanan yang tidak
terkontrol (Dalimartha, S., Purnama, B.T., Sutariana, N., Mahendra & Darmawan, R.
2008).

Insiden hipertensi yang semakin meningkat dengan bertambahnya usia,


disebabkan oleh adanya perubahan alamiah dalam tubuh yang mempengaruhi jantung,
pembuluh darah, dan hormon. Hipertensi pada usia kurang dari 35 tahun akan
menaikan insiden penyakit. Semakin bertambahnya usia, resiko tekena hipertensi
lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi sekitar 40%
dengan kematian sekitar 50% diatas umur 60 tahun (Kartikasari, 2012).

Faktor resiko yang dapat dikontrol diantaranya adalah kegemukan, konsumsi


garam berlebih, kurang aktivitas fisik/olahraga, merokok dan konsumsi alkohol dan
stres. Kegemukan atau obesitas merupakan faktor penting pada kejadian hipertensi.
Resiko pada seseorang yang mengalami obesitas adalah 2 hingga 6 kali lebih
dibanding seseorang dengan berat badan normal. Seseorang yang mengonsumsi
garam berlebih sangat rentan terkena hipertensi karena garam memiliki sifat menahan
air. Asupan natrium yang meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan, yang
menigkatkan volume darah. Akibatnya jantung harus memompa keras untuk
mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang semit yang
mengakibatkan hipertensi (Muliyati, Syam, & Sirajuddin, 2010).

Seseorang yang kurang melaksanakan aktivitas fisik/olahraga memiliki resiko


terkena hipertensi sebesar 44,1 kali dibandingkan dengan yang memiliki kebiasaan
olahraga teratur. Olahraga isotonik yang teratur dapat menrunkan tahanan perifer
yanga kan menurunkan tekanan darah. Dalam penelitian Andria (2011) disebutkan
bahwa terdapat hubungan antara olahraga, stres dan penyakit hipertensi. Aktivitas
atau olahraga sangat mempengaruhi terjadinya hipertensi, orang yang kurang aktivitas
akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung lebih tinggi sehingga otot
jantung akan lebih bekerja keras dalam kontrak, sehingga semakin sering otot jantung
memompa maka semakin besar tekanan pada arteri.
Stres juga sangat erat hubunganya dengan hipertensi, saat seseorang stres akan
meningkatkan aktivitas saraf simpatis yang mana akan menaikan tekanan darah secara
intermiten (tidak menentu). Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan
darah menetap tinggi. Orang yang sering merokok sangat rentan terkena hipertensi
dikarenakan zat-zat kimia yang terkandung didalam tembakau yang dapat merusak
lapisan dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi plak (arterosklerosis).

Hal ini terutama disebabkan oleh nikotin yang dapat merangsang saraf
simpatis sehingga memacu kerja jantung lebih keras dan menyebabkan penyempitan
pembuluh darah, serta peran karbonmonoksida yang dapat menggantikan oksigen
dalam darah dan memaksa jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Hal ini juga
diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Setyanda, Sulastri, dan Lestari (2015)
yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara kejadian hipertensi dan merokok
yang dipengaruhi oleh lamanya merokok dan jenis rokok yang digunakan. Sedangkan
Efek dari konsumsi alkohol adalah adanya peningkatakan sintesis katekolamin yang
dalam jumlah besar akan memicu kenaikan tekanan darah. Orang yang mengonsumsi
alkohol akan terkena hipertensi sebesar 71,4% dan yang tidak mengonsumsi alkohol
26,5% (Dalimartha, S., Purnama, B.T., Sutariana, N., Mahendra & Darmawan, R.
2008).

4. Klasifikasi
Klasifikasi tekanan darah
Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik
Normal <120 mmHg (dan) <80 mmHg
Pre-Hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg
Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg
Stadium 2 >160 mmHg (atau) >100 mmHg

5. Komplikasi
Penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dan terjadi dalam waktu yang lama
akan berbahaya dan menyebabkan komplikasi yaitu penyakit jantung koroner, gagal
jantung, kerusakan pembuluh darah, dan gagal ginjal (Dalimartha, S., Purnama, B.T.,
Sutariana, N., Mahendra & Darmawan, R. 2008). Tujuan pengobatan pada penderita
hipertensi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, keadaanya banyak
penderita pasien hipertensi berhenti berobat ketika merasa tubuhnya membaik.
Hipertensi akan menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung atau tidak
langsung. Hal ini terjadi karena akibat langsung dari tekanan darah atau tidak
langsung karena adanya autoantibodi terhadap

6. Pencegahan dan Penanganan Hipertensi


Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis, yang apabila tidak dilakukan

perawatan akan berakibat pada kematian. Perawatan diri merupakan

kemampuan yang didasari oleh individu dalam memprakarsai dirinya untuk mempertahankan

kebutuhan dan kondisi dalam kehidupan, memelihara fungsi kesehatan,perkembangan

fisik,dan psikis dalam norma yang sesuai dengan kondisi kehidupan (Orem 2001). Menurut

JNC7 (2003) perawatan diri hipertensi terdapat beberapa komponen yaitu :

1. Mengurangi Berat Badan

Dengan hipertensi harus mempertahankan berat badan normal dengan nilai

IMT 18,5-24,9kg/m2. Penurunan berat badan dapat disiasati dengan banyak

mengonsumsi buah dan sayur.

2. Makanan atau Diet Sehari-hari

Pasien dengan hipertensi harus mengurangi asupan natrium, yang mana tidak

boleh lebih dari 100mmol perhari yang dapat menurunkan tekanan darah sebesar 2-

8mmhg, diet rendah kolesterol yakni menghindari penggunaan penggunaan lemak

hewan ,margarin , dan mentega. Selain itu pasien juga harus membatasi konsumsi

daging, penggunaan susu skim, konsumsi kuning telur, lebih sering konsumsi tahu

dan tempe, batasi asupan gula dan makanan yang manis-manis.

Diet tinggi serat pada pasien hipertensi dapat diatasi dengan mengonsumsi

buah-buahan dan sayuran telah terbukti memiliki kemampuan untuk menurunkan

resiko penyakit kardiovaskuler karena mengandung fitonutrien, postassium, dan serat

(WHO, 2003). Pasien dengan hipertensi harus mengurangi asupan kalori sejumlah
25%, membatasi konsumsi kafein karena asupan kafein pada pasien dengan aritmia

jantung dan hipertensi yang tidak lebih dari 200mg atau setara dengan 2 cangkir kopi

per hari dan disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsiya

3. Aktivitas Fisik/Olahraga

Pada pasien hipertensi dianjurkan untuk melakukan jenis olahraga yang

sifatnya aerobik, seperti jalan kaki, jogging, bersepeda dan renang. Frekuensi yang

dianjurkan yaitu 5-7 kali dalam satu minggu dengan waktu berolahraga lebih dar 30

menit. Salah satu aktiviats fisik adalah senam bugar. Dalam penelitian yang dilakukan

oleh Setiawan, Wungoum dan Pangemanan tahun (2013) didapatkan hasil bahwa

terdapat hubungan yang signifikan antara senam bugar lansia terhadap kualitas hidup

penderita hipertensi. Hal ini dikarenakan aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur

dapat meningkatkan metabolism glukosa, penguatan tulang dan otot,s eta mengurangi

kadar kolesterol. Sedangkan peningkatan kualitas hidup secara mental ang diperoleh

ialah mengurangi stres, meningkatkan rasa antusias dan rasa percaya diri,serta

mengurangi kecemasan dan depresi seorang terkait dengan penyakit yang dialaminya.

4. Mengurangi Konsumsi Alkohol dan Menghindari Asap Rokok

Pada penderita hipertensi dianjurkan untuk mengurangi asupan makanan atau

minuman yang mengandung alkohol seperti bir, anggur atau wine. (Depkes, 2008).

Selain itu penderita hatus berhenti merokok dan menghindari asap rokok atau perokok

pasif. Pada penelitian yang dilakukan oleh Paat, Ratag dan Kepel (2014) didapatkan

hasil bahwa terdapat hubungan antara konsusmi alkohol dan merokok terhadap

kejadian hipertensi. Sehingga penting bagi seorang penderita hipertensi untuk

mengutangi konsumsi alkohol dan menghindari asap rokok.

5. Pengendalian Stres atau Management Stres


Pada penderita hipertensi dapat melakukan manajemen waktu yang

baik,menggunakan skala prioritas dalam penyelesaian tugas dan masalah, membuat

rencana penyelesaian masalah sebagai cara untuk mengendalikan stres. Selain itu

dapat menerapkan sikan bersyukur dengan apa yang telah dicapai selama ini dan

meluangkan waktu untuk bersantai (American Heart Assosiation, 2014).

6. Tidak Merokok

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eso, Hamra dan Ahmadi (2014)

menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan antara merokok dan kejadian hipertensi.

Racun yang terdapat daalam rokok seperti nikotin merupakan penyebab

meningkatnya tekanan darah segera setelah hisapan pertama. Nikotin diserap oleh

oleh pembuluh-pembuluh darah yang kecil didalam paru-paru dan diedarkan kealiran

darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah mencapai otak. Otak merespon

reaksi nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas hormone

adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah sehingga memaksa jantung

untuk bekerja lebih berat. Jika seorang penderita hipertensi merokok 2 batang saja

akan meningkatkan tekanan darah sebesar 10 mmhg (Sugiharto, 2007).

7. Teratur Mengonsumsi Obat Anti-Hipertensi

Untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta kerusakan organ

pada penderita hipertensi harus adanya keteraturan yang dilaksanakan oleh pasien

untuk patuh terhadap pengbatan. Obat anti-hipertensi bekerja menurunkan tekanan

darah dengan berbagai macam cara. Oleh karena itu penggunaan obat hipertensi

sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter (Windarti, 2008).

8. Teratur memeriksakan Tekanan Darah


Semua orang yang berumur kurang dari 50 tahun, dengan tekanan darah antara

140/90mmHg dan 160/95mmHg harus diperiksa ulang setiap dua atau tiga bulan

(WHO, 2011).

9. Istirahat dan Tidur yang Cukup

Keadaan insomnia memiliki resiko terkena hipertensi 2,9 kali lebih besar

dibandingkan dengan yang tidak menderita insomnia (Iqbal, Maulyadi, dan

Fitriangga, 2012).

10. Pencarian Informasi Kesehatan

Pada penderita hiertensi dalam melaksanakan perawatan diri harus banyak

terpapar informasi, dalam penelitian Guddad, Malagi, dan Kasturiba, (2012)

menyebutkan bahwan gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang

didapatkannya.
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4.


Jakarta: EGC

Chobanian, A.V., Bakris, G.L., Black H.R., Cushman W.C., Green L.A., Izzo J.L., Jr.,
et al, 2003. The seventh report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure: The JNC 7 Report.
JAMA;289:2560-72.

Mansjoer, Arief ... [et al.]. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Cetakan 1.
Jakarta: Media Aesculapius

World Health Organization., International Society Of Hypertension Writing Group.


2003. 2003 World Health Organization (WHO) / International Society Of
hypertension (ISH) Statement On Management Of Hypertension
http://www.who.int/cardiovascular_disease/guideline/hypertension/en/JNC-VII. 2003.
The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.JAMA 289(19): 2560-72