Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KONSEP PERKEMBANGAN KELUARGA

PRASEKOLAH

OLEH:
KELOMPOK 3

IKA FARDIKA RIJAL


HERLISA RAHMADANI
HARDIYANTI
ARDI HAM

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

PRIMA SENGKANG

TAHUN 2018 / 2019


KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “KONSEP
PERKEMBANGAN KELUARGA PRASEKOLAH”.

Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis mendapat bantuan dari semua pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ns Ery Wardanengsih selaku dosen mata kuliah Keperawatan Keluarga


2. Rekan-rekan Kelompok Tiga
3. Orang tua penulis tercinta yang tiada henti-hentinya memberikan doa dan
dukungan baik moral maupun material yang telah diberikan.
4. Teman-teman yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Penulis sadar bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis
berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
bagi semua pihak yang membacanya.

Sengkang, 01 Desember 2018


Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………. i

DAFTAR ISI…………………………………...………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN………………………..……………………………… 1
A. Latar Belakang……………………………..……………………………. 2
B. Tujuan ……………………………………..…………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN…………………………....………………………….. 4

A. Definisi Keluarga……………………………..…………………………. 2

B. Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia Prasekolah…..…..………………. 2


C. Tugas Perkembangan Anak Usia Prasekolah…………..………………. 2
D. Tugas Perkembangan Keluarga Dengan Anak Usia Prasekola……...…. 2
E. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang………. 2
F. Masalah-Masalah Pada Anak Usia Prasekolah…………………………. 2
G. Bimbingan Selama Fase Prasekolah ……………………………………. 2
H. Stimulasi Bermain Untuk Tumbuh Kembang Anak……………………. 2

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN………………………………………… 33

A. Pengkajian...........……………………………………………………..…. 2
B. Penyelesaian Kasus………………………………………………………. 2

BAB IV PENUTUP..........................………………………………………….... 33

A. Kesimpulan...........………………………………………………………. 2
B. Saran ....................………………………………………………………. 2

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. 35
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional serta individu mempunyai peran masing-masing
yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman: 1998).

Banyak kejadian merisaukan sekarang ini, seperti kenakalan remaja, kasus


gizi kurang, selalu dikaitkan dengan makin kurang berfungsinya pranata keluarga,
antara lain dalam memfasilitsi tumbuh kembang anak dan menanamkan nilai-nilai
luhur seperti saling menghormati, cinta kasih, toleransi, dan empati.

Pada anak usia prasekolah, anak mengalami lompatan kemajuan yang


menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik tetapi juga secara sosial dan emosional.
Anak usia prasekolah ini sedang dalamproses awal pencarian jati dirinya. Beberapa
prilaku yang tidak ada, sekarang muncul. Secara fisik dan psikis usia ini adalah usia
yag rentan berbagai penyakitbdan menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi
tumbuh kembang anak jika kondisi kesehatan anak tidak ditangani secara baik oleh
praktisi kesehatan dan juga usaha-usaha pencegahan adalah yang tetap paling baik
dilakukan.

Keperawatan keluarga berkaitan erat dengan upaya keluarga mempunyai


kemampuan dalam menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan. Perawat dapat
menbantu keluarga dalam memecahkan masalah kesehatannya sehingga mencapai
keadaan keluarga yang optimal.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1. Tujuan Intruksional Umum :
Mahasiswa mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan keluarga dengan
anak prasekolah.
2. Tujuan Instruksional Khusus :
a. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi keluarga.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan tahap tumbuh kembang anak usia
prasekolah.
c. Mahasiswa mampu menjelaskan tugas perkembangan keluarga dengan anak
prasekolah.
d. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah-masalah pada anka usia
prasekolah.
e. Mahasiswa mampu menjelaskan bimbingan selama prasekolah.
f. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan keluarga dengan anak
prasekolah.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Keluarga
1. Friedman (1998)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan dan emosional serta individual memepunyai peran
masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.
2. Sayekti (1994)
Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar
perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama
atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan
atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalamsebuah
rumah tangga.
3. Burgess dan Locke (1992)
Keluarga adalah unit sosial terkecil dari individu-individu yang diikat
oleh perkawinan (suami-istri), darah atau adopsi (orang tua-anak), dan dalam
kasus keluarga luas terlihat adanya nenek atau kakek dengan cucu.

B. Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia Prasekolah

1. Definisi tumbuh kembang pada anak

a. Pertumbuhan (Growth)
Berkembangan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau
dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan
ukuran berat (kg/gr) atau ukuran panjang (meter/centimeter)(Soetjiningsih
: 1998).
Perubahan ukuran atau nilai-nilai yang memberikan ukuran tertentu
dalam kedewasaan
Menurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan
jumlah atau ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya
peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian tubuh (Supartini, Yupi :
2004).
b. Perkembangan (Development)
Menurut Whaley dan Wong, perkembangan manitik beratkan pada
perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke
tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan
pembelajaran ( Supartini, Yupi: 2004).
Perkembangan adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh
yang lebih komleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai
hasil dari proses pematangan ( Soetjiningsih : 1998).
Mencakup aspek-aspek lain dari deferensiasi bentuk termasuk perubahan
emosi atau sosial yang sangat ditentukan oleh interaksi dengan
lingkungan
c. Pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah
1) Pertumbuhan
Beberapa aspek pertumbuhan fisik terus menjadi stabil dalam tahun
prasekolah. Waktu rata-rata denyut jantung dan pernapasan menurun
hanya sedikit mendekati 90x/menit dan pernapasan 22-24x/menit. TD
meningkat sedikit ke nilai rata-rata 95/58mmH. Berat badan anak
meningkat kira-kira 2,5 kg per tahun, berat rata-rata pada usia 5 tahun
adalah kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir. Prasekolah
bertumbuh 2-3 inci per tahun, panjang mereka menjadi dua kali lipat
panjang lahir pada usia 4 tahun,dan berada pada tinggi rata-rata 43
inci pada ulang tahun kelima mereka. Perpanjangan tungkai kaki
menghasilkan penampilan yang lebih kurus. Kepala sudah mencapai
90% dari ukuran orang dewasa pada ulang tahun ke enam. Perbedaan
kecil terjadi antara jenis kelamin, walaupun anak laki-laki sedikit
lebih besar dengan lebih banyak otot dan kurang jaringan lemak.
Kekurangan nutrisi umunya terjadi pada anak-anak berusia dibawah
6 tahun adalah kekurangan vitamin A dan C serta zat besi. Konsumsi
karbohidrat dan lemak dalam jumlah yang sangat besar dari makanan
yang berlemak bisa menimbulkan kegemukan dan menjadikan anak
prasekolah dalm kondisi sangat lapar. Orang tua dan penberi
pelayanan perlu membuat asaha secara sadar untuk membantu anak
prasekolah mengembangkan kebiasaan makan yang sehat dan
mencegah defisiensi dan kelebihan.
2) Perkembangan
1. Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan
semakin besar dan dapat mengembangkan pola sosialisasinya.
2. Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri, seperti
mandi, makan, minum, menggosok gigi, BAK, dan BAB.
3. Mulai memahami waktu.
4. Penggunaan tangan primer terbentuk.
d. Perkembangan psikoseksual ( Sigmund Freud )
Fase berkembangan psikoseksual untuk anak usia sekolah masuk pada
fase falik. Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area
tubuh yang sensitif. Anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin
dengan mengetahui adanya perbedaan jenis kelamin.
Negatif : Memegang genetalia
Oedipus complex
Positif : Egosentris: sosial interaksi
Mempertahankan keinginan
e. Perkembangan psikososial ( Eric Ericson )
Fase perkembangan psikososial pada anak usia prasekolah adalah inisiatf
vs rasa bersalah. Perkembangan ini diperoleh dengan cara mengkaji
lingkungan melalui kemampuan bereksplorasi terhadap lingkungannya.
Anak belajar mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan. Inisiatif
berkembang dengan teman sekelilingnya. Kemampuan anak berbahasa
meningkat. Anak mulai menuntut untuk melakukan tugas. Hasil akhir
yang diperoleh adalah menghasilkan suatu prestasinya.
Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu
berpretasi. Rasa bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi,
lebih marah, mengalami regresi, yaitu kembali ke perkembangan
sebelumnya, misalnya mengompol dan menghisap jempol.
f. Perkembangan kognitif ( Jean Piaget )
Fase berkembangan kognitif anak usia prasekolah adalah fase
praoperasional. Karakteristik utama perkembangan intelektual tahap ini
didasari sifat egosentris. Pemikiran di dominasi oleh apa yang dilihat,
dirasakan dan dengan pengalaman lainnya.
Fase ini dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Prokonseptual ( 2- 4 tahun )
Anak mengembangkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi
dan bermasyarakat. Anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial
dan error dan menginterpretasikan benda/kejadian. Anak mulai
menggunakan sinbulkata-kata, mengingat masa lalu, sekarang dan
yang akan datang.
2. Intuitive thuoght ( 4-7 tahun )
Anak mampu bermasyarakat namun masih belum mampu berpikir
timbal balik. Anak biasanya banyak meniru perilaku orangdewasa
tetapi sudah bisa memberi alasan pada tindakan yang dilakukan.
3. Perkembangan Moral ( Kahlberg )
Fase perkembangan moral pada anak usia prasekolah memasuki fase
prekonvensional. Anak belajar baik dan buruk, benar dan salah
melalui budaya sebagai dasra peletakan nilai moral.
Fase ini terdiri dari 3 tahapan yaitu:
a) Didasari adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan
b) Orientasi hukuman dan ketaatan

Baik dan buruk sebagai konsekuensi dari tindakan. Jika anka berbuat
salah, orang tua memberikan hukuman dan jika anak berbuat benar
maka orang tua memberikan hukuman

C. Tugas Perkembangan Anak Usia Prasekolah


Personal / sosial
a. Upaya untuk menciptakan diri sendiri seperti orang tuanya, tetapi mandiri
b. Menggali lingkungan atas hasil prakarsanya
c. Membanggakan, mempunyai perasaan yang tidak dapat dirusak
d. Keluarga merupakan kelompok utama
e. Kelompok meningkat kepentingannya
f. Menerima peran sesuai jenis kelaminnya
g. Agrsif
h. Motorik
1) Meningkatnya kemampuan bergerak dan koordinasi jadi lebih mudah
2) Mengendarai sepeda dengan dua atau tiga
3) Melempar bola, tetapi silit uintuk menangkapnya
i. Bahasa dan kognitif
1) Egosentrik
2) Ketrampilan bahsa makin baik
3) Mengajukan banyak pertanyaan; bagaimana, apa, dan mengapa?
4) Pemecahan masalah sedarhana; menggunakan fantasi untuk
memahami, mengatasi masalah.
j. Ketakutan
1) Pengrusakan diri
2) Dikebiri
3) Gelap
4) Ketidaktahuan
5) Objek bayangan, tak dikenal.

D. Tugas Perkembangan Keluarga Dengan Anak Usia Prasekolah


1. Membantu anak untuk bersosialis
2. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yang lain
(tua) juga harus dipenuhi.
3. Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam atau luar keluarga
(keluarga lain dan lingkungan sekitar
4. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
5. Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak.

E. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang


Pola pertumbuhan dan perkembangan secara normal antara anak yang satu
dengan yang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh
interaksi banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang, yaitu:
1. Faktor dalam (internal):
a. Genetika
1) Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesiaatau
bangsa lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan.
2) Keluarga
Ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau
perawakan pendek
3) Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya.
4) Jenis kelamin
Wanita akan mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan laki-laki
5) Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom down.
6) Pengaruh hormone
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu saat janin
berumur empat bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat.
Hormon yang berpengaruh terutama adalah hormon pertumbuhan
somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari. Selain
itukelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna
untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
2. Faktor lingkungan
Faktor kelompok yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
pranatal, kelahiran, dan pascanatal.
3. Faktor prenatal
a. Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama
selama trimester akhir kehamilan
b. Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat
menyebabkan kelainan conginetal, misalnya club foot
c. Toksin, zat kimia, radiasi
d. Kelainan endokrin
e. Infeksi TORCH atau penyakit menular sesksual
f. Kelainan imunologi
g. Psikologis ibu
4. Faktor kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forcep dapat menyebabkan
trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya kerusakan jaringan
otak.
5. Faktor pascanatal
Seperti lainnya pada masa prenatal, faktor yang berpengaruh terhadap
TUMBANG anak adalah gizi, penyakit kronis/ kelainan konginetal,
lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosioekonomi, lingkungan
pengasuhan, stimulasi, dan obat-obatan

F. Masalah-Masalah Pada Anak Usia Prasekolah


1. Masalah kesehatan
Masalah kesehatan yang sering muncul pada anak prasekolah seperti; diare,
cacar air, difteri, dan campak.
2. Hubungan keluarga
Pada usia prasekolah biasanya anak merasa cemburu dengan kehadiran
anggota keluarga baru (adik). Anak merasa tidak diperhatikan lagi oleh orang
tua sehingga anak sering membuat olah untuk mendapatkan perhatian orang
tua.
3. Bahaya fisik
a. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang
menghasilkan ketrampilan tertentu. Meskipun tidak meninggalkan bekas
fisik namunkecelakaan dianggap sebagai kegagalan dan anak lebih
bersikap hati-hati akan berbahaya bagi psikologisnya sehingga anak akan
takut terhadap kegiatan fisik. Jika hal ini terjadi bisa berkembang menjadi
masa malu.
b. Keracunan
c. Pada dasarnya usia prasekolah suka mencoba segala sesuatu yang dia
lihat tanpa mengetahui apakah itu berbahaya atau tidak.
4. Bahaya Psikologis
Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu berprestasi.
Rasa bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih pemarah,
mengalami regresi, yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya
mengompol dan menghisap jempol.
5. Gangguan tidur
Mimpi buruk adalah mimpi menakutkan yang terjadi selama tidur REM (rapid
eye movement). Seorang anak yang mengalami mimpi buruk biasanya akan
benar-benar terbangun dan dapat mengingat kembalimimpinya secara
terperinci. Mimpi buruk yang terjadi sewaktu-waktu adalah hal yang normal,
dan satu-satunya tindakan yang perlu dilakukan orang tua adalah
menenangkan anak. Tetapi mimpi buruk yang sering terjadi adalah abnormal
dan bisa menunjukkan masalah psikis. Pengalamam yang menakutkan
(termasuk cerita menakutkan atau film tentang kekerasan di televisi) bisa
menyebabkan terjadinya mimpi buruk. Hal ini terutama sering ditemukan
pada anak-anak yang berumur 3-4 th, karena mereka belum bisa membedakan
antara khayalan dan kenyataan. Teror dimalam hari adalah suatu keadaan
dimana sesaat setelah tertidur anak setengah terbangun dengan kecemasan
yang luar biasa. Anak tidak dapat mengingat kembali apa yang atelah
dialaminya.
Tidur sambil berjalan adalah suatu keadaan dimana dalam keadaan tertidur
anak bengkit dsari tempat tidurnya dan berjalan-jalan. Teror dimalam hari dan
tidur sambil berjalan biasanya berlangsung selama tidur dalam (Non REM)
dan terjadi dalam 3 jam pertama setelah anak tertidur. Tiap episode
berlangsung dari beberapa detik sampai beberapa menit. Teror dimalam hari
sifatnya dramatis karena nak menjerit-jerit dan panik, keadaan ini paling
sering ditemukan pada anak yang berumur 3-8 th.
Untuk anak yang susah tidur bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
1. Ajak anak kembali ketempat tidurnya.
2. Berikan cerita yang pendek.
3. Tawari untuk ditemani oleh boneka atau selimut kesayangannya.
4. Gunakan lampu redup.
5. Masalah Pelatihan Buang Air (Toileting)

G. Bimbingan Selama Fase Prasekolah


1. Usia 3 tahun
a. Persiapkan orang tua untuk peningkatan ketertarikan anak dalam
hubungan yang lebih luas.
b. Anjurkan orang tua untuk mendaftarkan anak ke play group atau TK.
c. Tekankan tentang pentingnya pengaturan waktu.
d. Anjurkan orang tua untuk menawarkan pilihan-pilihan ketika anak
sedang ragu/bimbang.
e. Perubahan pada anak usia 3.5 th : anak akan menjadi kurang koordinasi,
gelisah dan menunjukkan perubahan tingkah laku, seperti bicara gagap.
f. Orang tua harus memberikan perhatioan yang ekstra sebagai refleksi
dari kegelisahan emosi anak dan rasa takut anak kehilangan kasih
sayang orang tua.
g. Ingatkan orang tua tentang keseimbangan yang telah dicapai pada usia 3
th akan berubah menjadi tingkah laku yang agresif pada usia 4 th.
h. antisipasi tentang adanya perubahan nafsu makan, seleksi makanan
anak.
i. Tekankan tentang perlunya perlindungan dan pendidikan untuk
mencegah cedera.
2. Usia 4 tahun
a. Persiapkan pada tingkah laku anak yang lebih agresif, termasuk aktifitas
motorik dan penggunaan bahasa-bahasa yang mengejutkan.
b. Eksplorasi perasaan oreng tua berkenaan dengan tingkah laku anak.
c. Masukkan anak ke TK
d. Persiapkan untuk peningkatan keingintahuan anak tentang seks
e. Tekankan tentang pentingnya menanamkan disiplin pada anak
f. Anjurkan orang tua untuk melatih anak berenang jika belum dilakukan
diusia sebelumnya
3. Usia 5 tahun
a. Masa tenang pada anak
b. Siapkan anak untuk memasuki lingkungan sekolah
c. Pastikan kelengkapan imunisasi lingkungan sekolah

H. Stimulasi Bermain Untuk Tumbuh Kembang Anak


1. Definisi bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarelauntuk
memperoleh kesenangan/ kepuasan. Bermain merupakan cermin
kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan sosial. Bermain merupakan
media yang baik untuk belajar karena bermain, anak akan berkata-kata
(berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan
apa yang dapat dilakukannya, dan mengenalwaktu, jarak, serta suara.
(Wong, 2000)
2. Fungsi permainan pada anak
Fungsi utama bermain adalah menstimulasi perkembangan anak, antara lain:
a. Perkembangan sensori-motorik
b. Perkembangan intelektual
c. Perkembangan social
d. Perkembangan kreativitas
e. Perkembangan kreasi diri
f. Perkembangan moral
g. Bermain sebagai terapi
h. Tujuan bermain

Melalui fungsi yang terurai diatas pada prinsipnya bermain mempunyai


tujuan sebagai berikut:

1. Untuk melanjutkan tumbang yang normal pada saat sakit anak


mengalami gangguan dalam tumbang.
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan dan fantasi serta idenya.
3. Mengembangkan kreatrifitas dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya
untuk menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya pada saat
melakukan permainan anak akan dihadapkan pada masalah dalam
konteks permainannya, semakin lama ia bermain dan semakin tertantang
untuk dapat menyelesaikannya dengan baik.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat
di RS. Stress yang dialami anak di RS tidak dapat dihindarkan sebagai
mana juga yang dialami orang tuanya untuk itu yang penting adalah
bagaimana menyiapkan anak dan orang tua untuk dapat beradaptasi
denga stresor yang dialaminya di RS secara efektif.
5. Alat dan jenis permainan yang cocok untuk anak usia prasekolah (>3-6
th)

Sejalan denga tumbangnya anak prasekolah mempunyai kemampuan


motorik kasar dan halus yang lebih matang daripada anak usia toddler.
Anak sudah lebih aktif, kreatif dan imajinatif. Demikian juga kemampuan
berbicara dan berhubungan sosial dengan temannya semakin meningkat.

Oleh karena itu jenis permainan yang sesuai adalah asosiatif play,
dramatik play dan skill play. Anak melakukan permainan bersama-sama
dengan temannya denga komunikasi yang sesuai dengan kemampuan
bahasanya. Anak juga sudah mampu memainkan peran orang tertentu yang
diidentifikasikannya seperti ayah, ibu dan bapak atau ibu gurunya.
Permainan yang menggunakan kemampuan motorik (skill play) banyak
dipilih anak prasekolah. Untuk itu jenis alat pewrmainan yang diberikan
pada anak, misal: sepeda, mobil-mobilan, alat olah raga, berenang dan
permainan balok-balok besar, dll.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga
a. Identitas
1) Nama pasien
Dimaksudkan agar dapat mengenali klien sehingga mengurangi
kekeliruan dengan pasien lain.
2) Umur
Mengetahui umur pasien sehingga dapat mengklarifikasi adanya
faktor resiko pada epilepsi karena faktor umur dapat dijadikan
bahan pertimbangan dalam penatalaksanaan untuk epilepsi.
3) Agama dan suku bangsa
Mengetahui kepercayaan dan adat istiadat pasien dan keluarga
sehingga dapat mempermudah dalam melaksanakan tindakan sesuai
dengan agama dan kepercayaan dari pasien dan keluarganya.
4) Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman dari
anggota keluarga terutama orang tua dalam memberi informasi
perencanaan pulang bagi anak sekolah dengan masalah kesehatan
epilepsi.
5) Komposisi keluarga
Dimaksudkan untuk mengetahui silsilah dari beberapa generasi,
apakah terdapat anggota keluarga yang terkena penyakit yang
serupa/penyakit turunan.
6) Tipe keluarga
Pengkajian tipe keluarga dimaksudkan untuk mengetahui seberapa
besar perhatian dan peraswatan yang diberikan pada anggota atau
anak yang mengalami sakit.
7) Pekerjaan
Mengetahui tingkat ekonomi keluarga pasien. Hal ini perlu dikaji
untuk mengetahui kesanggupan keluarga untuk memodifikasi
proses penyembuhan penyakit pada anak dan pemanfaatan sarana
kesehatan bagi anak yang sakit.
8) Alamat
Untuk megetahui pasien tinggal dimana dan untuk menghindari
kekeliruan bila ada dua orang pasien dengan nama yang sama serta
untuk keperluan kunjungan rumah bila diperlukan.
9) Aktivitas rekreasi keluarga
Untuk mengetahui seberapa jauh keluarga memenfaatkan aktifitas
rekreasi keluarga yang digunakan untuk menghilangkan kepenatan
dalam kehidupan sehari-harinya.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti.
4) Riwayat keluarga sebelumnya.
c. Lingkungan
1) Karakteristik rumah.
2) Karakteristik lingkungan.
3) Mobilitas keluarga.
4) Hubungan keluarga dengan lingkungan.
5) Sistem sosisl yang mendukung.
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi.
2) Pengambilan keputusan.
3) Peran anggota keluarga.
4) Nilai-nilai yang berlaku di keluarga.

B. Penyelesaian Kasus

Seorang ibu membawa anaknya (An. S) yang berusia 5 tahun ke puskesmas


dengan keluhan anak BAB encer dan buang air besar lebih dari 8 kali dalam 10 jam
terakhir dan di sertai gatal gatal anak lemas dan tidak mau makan dari hasil
pemeriksaan di dapat TTV anak tidak normal /kurang dari normal dan pada kulit anak
di temukan bercak putih,jamur pada kulit punggung .dari penuturan ibu,bahwa
anaknya hipeeraktif dalam beraktivitas,dan lingukungan rumah dari ibu berada dekat
dengan sungai yaitu 50 meter sehingga sebagian besar aktifitas warga di sekitar
termasuk ibu penderita d lakukan di sungai tersebut seperti menycuci,mandi dll.

DATA FOKUS MASALAH ETIOLOGI


DO: BAB encer Gangguan Diare
keseimbangan cairan
Buang air besar lebih dari 8
dan elektrolit
kali

DS: anak pucat

TTV kurang dari normal


DO: anak sering gatal gatal Gangguan integritas Gangguan konsep
kulit diri/citra tubuh
DS; jamur d kulit

DIAGNOSA

1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada An. T b/d


ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah diare
2. Gangguan tumbuh kembang pada An. T berhubungan dengan ketidak
mampuan keluarga mengenal dampak hospitalisasi

SKORING:

DIAG NOSA

NO KRETRIA NILAI BOBOT


1 Sifat msalah: 3 1

Sakala: tidak /kurang sehat 2

Ancaman kesehatan 1

Keadaan sejahtera
2 Kemungkinan masalah dapat di 2 2
ubah:
1
Skala: mudah
0
Sebagian

Tidak dapat
3 Kemungkinan masalah dapat di 3 1
4 cegah:
Skala: tnggi 2 1

Cukup 1

Rendah 2

Menonjolnya msalah: 1

Skala: Masalah berat harus 0


segera di tangani

Ada msalah tapi tidak perlu di


tangani.

Msalah tidak di rasakan

Diagnosa I

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada anak b/d ketidakmampuan


keluarga dalam mengenal masalah diare.

1. Sifat masalah : 2/3×1=2/3


2. Kemungkinan msalah dapat di ubah: 2/2×2=2
3. Potensi msalah dapat di cegah : 3/3×1=1
4. Menonjolnya msalah : 2/2×1=1

TOTAL= 1+2+2/3+1=11/3=4.7

Diagnosa II

Gangguan tumbuh kembang pada An. T berhubungan dengan ketidak mampuan


keluarga mengenal dampak hospitalisasi
1. Sifat masalah : 3/3×1=1
2. Kemungkinan msalah dapat di ubah: 1/2×2=1
3. Potensi msalah dapat di cegah : 2/3×1=2/3
4. Menonjolnya msalah : 2/2×1=1

TOTAL= 1+1+2/3+1=11/3=3,7

INTERVENSI

Diagnosa Intervensi
Gangguan keseimbangan 1. Memberikan penjelasan tentang diare
cairan dan elektrolit pada kepada keluarga
anak b/d ketidakmampuan 2. Membantu keluarga dalam mengenal
keluarga dalam mengenal masalah diare
masalah diare. 3. Membantu keluarga untuk mengambil
tindakan terhadap penanganan diare
4. Membantu keluarga dalam menciptakan
lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan untuk mencegah diare
5. Membantu keluarga memanfaatkan fasilitas
kesehatan di lingkungan setempat untuk
pengobatan diare

Gangguan tumbuh kembang 1. Memberikan penjelasan tentang


pada An. T berhubungan hospitalisasi kepada keluarga
dengan ketidak mampuan 2. Membantu keluarga dalam mengenal
keluarga mengenal dampak masalah hospitalisasi
hospitalisasi 3. Membantu keluarga untuk mengambil
tindakan terhadap penanganan hospitalisasi
4. Membantu keluarga dalam menciptakan
lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan untuk mengatasi dampak
hospitalisasi

EVALUASI

Intervensi Evaluasi
1. 1. Memberikan penjelasan 1. Keluarga mampu mengenal masalah diare
tentang diare kepada
1. Keluarga mampu untuk mengambil
keluarga
tindakan terhadap penanganan diare
2. 2. Membantu keluarga
dalam mengenal masalah
1. Keluarga mampu dalam menciptakan
diare
lingkungan yang dapat meningkatkan
3. 3. Membantu keluarga
kesehatan untuk mencegah diare
untuk mengambil tindakan
terhadap penanganan diare 1. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas
4. 4. Membantu keluarga kesehatan di lingkungan setempat untuk
dalam menciptakan pengobatan diare
lingkungan yang dapat 2. 1. Memberikan penjelasan tentang
meningkatkan kesehatan hospitalisasi kepada keluarga
untuk mencegah diare 3. 2. Membantu keluarga dalam mengenal
5. Membantu keluarga masalah hospitalisasi
memanfaatkan fasilitas 4. 3. Membantu keluarga untuk mengambil
kesehatan di lingkungan tindakan terhadap penanganan
setempat untuk pengobatan hospitalisasi
diare 5. Membantu keluarga dalam menciptakan
1. Keluarga memahami lingkungan yang dapat meningkatkan
tentang diare kesehatan untuk mengatasi dampak
hospitalisasi
1. Keluarga memahami tentang
hospitalisasi

1. Keluarga mampu mengenal masalah


hospitalisasi

1. Keluarga mampu mengambil tindakan


terhadap penanganan hospitalisasi

1. Keluarga mampu menciptakan lingkungan


yang dapat meningkatkan kesehatan untuk
mengatasi dampak hospitalisasi
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
2. Pada akhir periode ini diketemukan lebih banyak perbedaan individual di
antara anak-anak, sekarang nampak lebih banyak perbedaan-perbedaan fisik
yang khas daripada dulu.
3. Emansipasi sebagai penemuan identitas membutuhkan sistem pelajaran yang
memperhatikan anak-anak secara individual, yang berusaha untuk tidak
merugikan perkembangan anak masing-masing.
4. Proses-proses belajar dalam tingkah laku moral memegang peranan yang
penting; tetapi juga proses-prose perkembangan kognitif memberikan
pengaruh yang besar akan sikap perkembangan tingkah laku moral.
5. Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua
kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk (a) adaptasi dan
tendensi (b) organisasi.
6. Intelligensi dan kreativitas tidak saling berhubungan. Kreativitas didefinisikan
sebagai berfikir divergen, sedangkan intelligensi dianggap sebagai konvergen.
Divergen berarti orang tersebut memberikan jawaban yang asli/original, tidak
seperti apa yang dijawabkkan oleh semua orang. Dan konvergen yaitu cara
berfikir normal yang dipakai kebanyakan orang.
7. Stimulasi perkembangan kompensatoris tidak akan berhasil bila hanya khusus
ditunjukan pada aspek-aspek tingkah laku yang terpisah saja, misal pada
bahasa saja. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa keturunan tidak sepenuhnya
menentukan tingkah laku seseorang, melainkan masih ada kemungkinan
untuk dipengaruhi. Hanya satu pengananan yang menyeluruh yaitu terhadap
anak, keluarga, lingkungan (mayarakat) dapat memberikan hasil-hasil tetap.
8. Anak dengan kecerdasan tinggi diperoleh dari factor keturunan dan factor
pendidikan.
A. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah
ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih (2OOO), Tumbuh Kembang Anak, Bagian Kesehatan Anak FK


Udayana, Jakarta.: EGC

Soetjiningsih. (2OOO). Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC.

Supartini, Y. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.