Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu faktor untuk menentukan kualitas sumur adalah dengan melakukan
penilaian formasi batuan (evaluasi formasi). Penilaian formasi adalah suatu proses analisis
ciri dan sifat batuan di bawah tanah dengan menggunakan hasi pengukuran lubang sumur
(logging).
Dari melakukan analisa evaluasi formasi adalah untuk mendapatkan OOIP (original
oil in place) dimana variabel yang dibutuhkan dapat dicari menggunakan metode yang ada
pada penilaian formasi
Secara umum, analisa log dibedakanatas tiga kompenen, berupa Log Lithologi, Log
Resistivity dan Log Porosity. Log Lithologi antara lain Gamma Ray (GR) Log dan
Spontaneous Potential (SP) Log. Untuk Log Resistivity diantaranya adalah Induction Log,
Short Normal Log, Microlog, Lateral Log dan MSFL. Sedangkan untuk Log Porosity terdiri
dari Neutron Log dan Sonic Log.
Pada prakteknya di lapangan tidaksemua jenis log diatas dapat dilakukan. Hal ini
mengingat biaya (cost) yang besar untuk tiap jenis log sehingga hanya digunakan beberapa
jenis log tertentudan kecenderungan untuk mengkombinasikan beberapa jenis log
(combination log) dan ini yang biasa digunakan.
Penilaian formasi sama dengan proses logging, Mengapa pengerjaan logging
dilakukan? Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan lubang sumur
dengan menggunakan instrumen khusus. Pekerjaan yang dapat dilakukan meliputi
pengukuran data-data properti elektrikal (resistivitas dan konduktivitas pada berbagai
frekuensi), data nuklir secara aktif dan pasif, ukuran lubang sumur, pengambilan sampel
fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, pengambilan material formasi (coring) dari
dinding sumur, dsb.

1
1.2 Tujuan Penulisan
Interpretasi formasi Sumur AMB-15 bertujuan untuk:
1. Dapat menginterpretasikan data log secara kualitatif (quick look).
2. Dapat menentukan lapisan permeabel beserta lapisan prospeknya.
3. Dapat menentukan nilai resistivitas air dengan menggunakan metode Archie, Ratio,
dan Pickett Plot.
4. Dapat menentukan volume shale.
5. Dapat menentukan porositas efektif berdasarkan porositas Ncorr dan porositas Dcorr.
6. Dapat menentukan saturasi air menggunakan metode Archie, metode Indonesia,
metode Simandoux, dan Ratio
7. Dapat menentukan net sand dan net pay berdasarkan cut off.

2
BAB II
DASAR PENILAIAN FORMASI
Penilaian formasi merupakan ilmu untuk dapat menginterpretasikan atau meneliti
keadaan bawah permukaan. Logging adalah metode pengukuran parameter batuan dan
fluida reservoir terhadap kedalaman lubang bor.
Penilaian formasi sangat penting untuk mengetahui kondisi reservoir, jenis fluida,
porositas dan permeabilitas dari formasi yang diduga prospek. Untuk mengetahui sifat fisik
batuan dapat menggunakan well logging. Parameter petrofisik yang dapat diperoleh dari
penilaian formasi antara lain mud properties, resistivitas , kandungan shale , porositas dan saturasi
air.
Dalam interpretasi logging, data yang diperoleh dari pembacaan alat dilampirkan
dalam data log yang pada umumnya disajikan dalam triple combo. Data data tersebut ialah
pembacaan permeable log, resistivity log serta porosity log. Pada permeable log dapat dilihat
dari pembacaan gamma ray dan SP log. Resistivitas merupakan pembacaan dari resistivity
tools sedangkan porositas dari pembacaan neutron dan density log.
Dari pembacaan gamma ray kita dapat menentukan kandungan radioaktif yang pada
umumnya terdapat pada shale sehingga kita dapat memprediksikan kandungan shale.
Dengan diketahui nya volume shale kita dapat mengoreksi nilai dari porositas batuan.
Penentuan volume shale dengan gamma ray diperoleh dari perhitungan berikut
𝐺𝑅𝑙𝑜𝑔−𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛
𝑉𝑠ℎ = ....................................... (2.1)
𝐺𝑅𝑚𝑎𝑥−𝐺𝑅𝑚𝑖𝑛

Resistivitas merupakan nilai dari tahanan listrik. Bedasarkan borehole environment


resistivitas dibagi atas tiga zona, yaitu shallow , medium dan deep. Resistivitas dapat
ditentukan dengan resistivity log. Hidrokarbon merupakan fluida yang memiliki resistivitas
yang besar sehingga zona hidrokarbon ditandai dengan nilai resistivitas yang besar. Nilai
resistivitas berbanding terbalik dengan temperature sehingga penentuan resistivitas yang
beda suhu dapat diperoleh dari rumusan berikut
( 𝑇1+6,77 )
𝑅1 = 𝑅2𝑥 ......................................... (2.2)
(𝑇2+6,77)
3
untuk suhu dalam derajat farenheit, atau
( 𝑇1+21,5 )
𝑅1 = 𝑅2𝑥 .........................................(2.3)
(𝑇2+21,5)

Untuk suhu dalam derajat celcius.


Nilai dari porositas dan densitas batuan dapat diperoleh dari data log track tiga. Ciri
ciri dari zona hidrokarbon yaitu densitas pada lapisan tersebut relative kecil karena batuan
berpori dan terisi hidrokarbon. Selain itu ditandai dengan lapisan yang mengandung banyak
hydrogen. Pada track tiga zona prospek dilihat dari adanya crossover antara pembacaan
density tool dengan neutron tool. Nilai porositas dari density tool dapat dihitung dengan
rumus berikut
𝜌𝑚𝑎− 𝜌𝑏𝑢𝑙𝑘
Ø𝐷 = ........................................... (2.4)
𝜌𝑚𝑎− 𝜌𝑓𝑙𝑢𝑖𝑑

Nilai dari porositas neutron diperoleh dari pembacaan dari neutron tools. Porositas
efektif dari suatu batuan merupakan rata rata dari porositas density dan porositas neutron
yang telah dikoreksi dengan kandungan shale. Berikut rumus pengoreksian porositas
∅𝑑𝑐 = ∅𝑑 − (𝑉𝑠ℎ . ∅𝑑−𝑠ℎ )............................ (2.5)
∅𝑛𝑐 = ∅𝑛 − (𝑉𝑠ℎ . ∅𝑛−𝑠ℎ ).............................(2.6)
Perbandingan kandungan air dalam pori pori batuan dengan fluida total dalam pori
tersebut ialah saturasi air (Sw). Sisa bagian yang terisi minyak atau gas disebut saturasi
hidrokarbon (Sh), atau sama dengan (1-Sw). Dengan diketahuinya nilai saturasi air, maka
kandungan hidrokarbon dalam suatu lapisan dapat diperkirakan. Ada beberapa persamaan
yang umum digunakan untuk menghitung nilai saturasi air (Sw) seperti Archie, Simandoux,
dan Persamaan Indonesia serta beberapa persamaan lain. Tetapi pada formasi yang terdapat
shale secara cukup besar maka digunakan metode saturasi Simandoux atau Indonesia.
Metode archie cocok untuk dipakai pada formasi tidak mengandung shale. Metode
archie tidak akurat dalam mengukur saturasi air untuk formasi yang terdapat Volume Shale

4
yang cukup besar. Karena dalam metode ini tidak memperhitungkan volume shale. Berikut
adalah rumus untuk metode Archie:
𝑎 𝑅𝑤
𝑆𝑤 = √∅𝑚 × ............................................. (2.7)
𝑅𝑡

Metode yang dapat digunakan dalam mengukur saturasi air pada lapisan yang
mengandung banyak shale yaitu metode simandoux dan metode Indonesia. Berikut rumus
saturasi air untuk metode simandoux.
2
𝑐.𝑅𝑤 5∅2𝑒 𝑉𝑠ℎ 𝑉
𝑆𝑤 = [√𝑅 + (𝑅 ) − 𝑅𝑠ℎ ]........................ (2.8)
∅2𝑒 𝑤 ×𝑅𝑡 𝑠ℎ 𝑠ℎ

Berikut rumus saturasi air menggunakan metode Indonesia


𝑛/2 1
𝑆𝑤 = 𝑉 ................................ (2.9)
(1− 𝑠ℎ ) 𝑚
2
𝑉 ∅2
(√𝑅𝑡 ) 𝑠ℎ
+
√𝑅𝑠ℎ 𝑎.𝑅𝑤
[ ]

Dimana nilai parameter diatas antara lain :


Rt = Resistivitas formasi, Ω.m
∅ = Porositas, fraksi
a = Faktor tortuositas batuan
m = Faktor sementasi
n = Saturasi eksponen
Rw = Resistivitas air formasi, Ω.m
Sw = Saturasi air, fraksi
Rsh : Resistivitas pada lapisan shale, Ω.m
Vsh : Volume shale, fraksi
C : Konstanta sandstone 0.40 dan karbonat 0.45

Factor formasi atau F adalah perbandingan resistivitas batuan yang mengandung


100% air terhadap resistivitas air formasi. Setelah dilakukan analisis log secara kualitatif,
5
kemudian dilanjutkan dengan analisis log secara kuantitatif. Analisis log secara kuantitatif
ini dilakukan untuk menghitung harga porositas (Ø), harga resistivitas (R), kandungan shale
(Vsh) dan harga saturasi air (Sw). Analisis log secara kuantitatif dibedakan pada formasi
clean dan shaly, karena shaly, kandungan shale akan mempengaruhi pembacaan log. Faktor
formasi dapat ditentukan dengan rumus berikut
𝑅𝑜 𝑎
𝐹= 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐹 = ............................... (2.10)
𝑅𝑤 Ø𝑚

Litologi atau jenis batuan dapat dibedakan dari densitas dan porositas batuan tersebut.
Dengan melakukan plot antara densitas dan porositas neutron dapat ditentukan jenis batuan
nya. Setiap batuan memiliki factor tortuositas , factor sementing dan factor eksponen yang
berbeda beda. Berikut jenis batuan dengan koefisien masing masing factor.

Tabel 2.1
Jenis-jenis Batuan
Faktor a m n Densitas
Sandstone 0,62 2,15 2 2,65
Limestone 1 2 2 2,71

6
BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1 Data-Data Log (AMB-15)


Tabel 3.1
Data Lapangan

Tabel 3.2
Resistivity Correction

7
Tabel 3.3
Mud Properties

Tabel 3.4
Resistivitas Formasi
RESISTIVITY SHALLOW RESISTIVITY DEEP
LLS (RMSFL) X Rxo LLD (RILD) Rm HS Rt
1.1 0.7 0.77 2 0.9486 0 2
1.2 0.7 0.84 2.2 0.9483 0 2.2
2.5 0.77 1.925 4 0.9480 4.5 4.0733
6 0.935 5.61 10 0.9477 7 10.7527
6.2 0.95 5.89 12 0.9474 6.5 13.0152
6 0.937 5.622 11 0.9472 6.5 11.8471
3 0.83 2.49 6 0.9469 6.5 6.2435
1.7 0.72 1.224 3 0.9466 6.5 3.0597
1.7 0.72 1.224 3.2 0.9463 6.5 3.2680
1.3 0.7 0.91 2.8 0.9459 6.5 2.8519

8
Tabel 3.5
Nilai Properties Batuan

Tabel 3.6
Porositas Batuan

9
Tabel 3.7
Porositas Efektif

Tabel 3.8
Resistivitas Air Formasi Metode Ratio

10
Tabel 3.9
Resistivitas Air Formasi Dengan Metode Archie

Gambar 3.1
Picket Plot

11
Tabel 3.10
Saturasi Air Formasi Dengan 4 Metode

Tabel 3.11
Penentuan Net Sand and Net Pay

12
Tabel 3.12
Parameter Cut Off

Tabel 3.13
Before and After CutOff

13
Porositas Efektif Vs Volume Shale
1

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25

Gambar 3.2
Porositas Efektif Versus Volume Shale

Porositas Efektif Vs Saturasi Air


0.4

0.35

0.3

0.25

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25

Gambar 3.3
Porositas Efektif Versus Saturasi Air Indonesia

14
BAB IV
PERHITUNGAN

4.1 Rumus Perhitungan

a) Temperatur Formasi
Tf = To + (GT × MD).......................................................................... (4.1)

b) Resistivitas
To+6.77
R2 = R1 × ( Tf+6.77 ).............................................................................. (4.2)

c) Tebal Mud Cake

bit size−caliper
hmc = | |........................................................................... (4.3)
2

d) LLS Correction
𝑅𝑡 = 𝑋 ∗ 𝑅𝑚𝑓....................................................................................... (4.4)

e) Stand Off
caliper−diameter alat
SO = | |..................................................................... (4.5)
2

f) LLD Correction
1000
CILD = ........................................................................................... (4.6)
RILD

CILDcorr = CILD − HS..........................................................................(4.7)

15
1000
RILDcorr = .............................................................................. (4.8)
CILDcorr

g) Volume Shale
GR log − GR min
Vsh GR = ....................................................................... (4.9)
GR max − Gr min

h) Porositas Density
𝜌𝑚𝑎− 𝜌𝑏
∅D = ........................................................................................(4.10)
𝜌𝑚𝑎− 𝜌𝑓𝑙

∅Dcorr ∗ = ∅D − (∅Dsh × Vsh GR).....................................................(4.11)

i) Porositas Neutron
∅Ncorr = ∅N + corrections..................................................................(4.12)

∅Ncorr ∗= ∅Ncorr − (∅Nsh × Vsh GR)..............................................(4.13)

j) Porositas Efektif
∅Ncorr∗+ ∅Dcorr∗
∅eff = ............................................................................(4.14)
2

k) Resistivitas Air Metode Archie


𝑎
F = 𝑚...........................................................................................(4.15)
Ø
𝑅𝑡
Rwa = ...........................................................................................(4.16)
𝐹

l) Resistivitas Air Metode Ratio


Rt
Rw = × Rmf.............................................................................. (4.17)
Rxo

m) Picket Plot
16
Log ∅eff2−Log ∅eff1
Slope = ..................................................................... (4.18)
Lof Rt2−Log Rt1
1
m = − slope............................................................................................ (4.19)
Rt @ ∅100%
Rw = .................................................................................... (4.20)
𝑎

n) Saturasi Air Metode Archie


𝑎 𝑅𝑤
𝑆𝑤 𝑛 = ∅𝑚 × ..................................................................................... (4.21)
𝑅𝑡

o) Saturasi Air Metode Ratio


Rmf
Sumbu x = ..................................................................................... (4.22)
Rw
Rxo
Sumbu y = ..................................................................................... (4.23)
Rt

p) Saturasi Air Metode Indonesia


𝑛
2

1
𝑆𝑤 = 𝑉𝑠ℎ 𝑚 ......................................................... (4.24)
(1− )
𝑉𝑠ℎ 2 ∅2
√𝑅𝑡×( + )
√𝑅𝑡𝑠ℎ √𝑎×𝑅𝑤
( )

q) Saturasi Air Metode Simandoux

𝐶×𝑅𝑤 5∅ 𝑉𝑠ℎ 𝑚 𝑉𝑠ℎ 2


𝑆𝑤 = × [(√𝑅𝑤×𝑅𝑡 + (𝑅𝑠ℎ) ) − 𝑅𝑠ℎ] × 100%............................ (4.25)
∅𝑚

r) Before Cut Off


Ʃ∅eff
∅eff avg = .................................................................................... (4.26)
Ʃh

17
Ʃ(∅eff ×Sw ×h)
Sw avg = ........................................................................ (4.27)
Ʃ(∅eff ×h)

s) After Cut Off


Ʃ(∅eff×net pay)
∅eff avg = ..................................................................... (4.28)
Ʃ net pay
Ʃ(∅eff ×Sw ×net pay)
𝑆w avg = ............................................................... (4.29)
Ʃ(∅eff ×net pay)
Ʃ𝑛𝑒𝑡 𝑝𝑎𝑦
NTG = ..................................................................................... (4.30)
Ʃℎ

t) Initial Oil In Place


7758 ∗𝐴 ∗ℎ ∗ ∅ ∗(1−𝑆𝑤𝑖)
OOIP = ................................................................. (4.31)
𝐵𝑜𝑖

18
BAB V
PEMBAHASAN

Dalam makalah ini, di bahas mengenai dibahas mengenai sumur AMB-15 lapangan
AMB yang memiliki data lapangan seperti yang tercantum pada table 3.1. zona yang diambil
adalah pada kedalam 1820 ft sampai 1870 ft. Sehingga interval kedalaman antara zona adalah
5.56 ft. pemboran yang dilakukan pada sumur AMB-15 menggunakan bit dengan ukuran 8.5
inch. Pada sumur ini dilakukan pengeboran hingga kedalaman 2032 ft dan kedalaman
pelaksaan logging hingga 2045 ft, sumur AMB-15 memiliki resistivitas mud 0.69 Ωm,
resistivitas mud filtrate 0.87 Ωm, resistivitas mud cake 0.98 Ωm. Sedangkan, zona sisanya
adalah zona permeabel yang memiliki nilai gamma ray terkecil sebesar 45 GAPI dengan nilai
calliper rendah akibat adanya mudcake.

Selain itu dapat dilihat juga pada zona kedua dan ketiga terdapat zona shale dengan
besar pembacaan gamma ray log berturut turut sebesar 126 dan 128 akan tetapi pada zona ini
tidak terjadi caving ataupun sloughing. Dikarekan memiliki inisial resistivity yaitu
resistivitas mud 0.69 Ωm, resistivitas mud filtrate 0.87 Ωm, resistivitas mud cake 0.98 Ωm.
Hal tersebut menyebabkan nilai rm, rmf, dan rmc mengecil menjadi rentang tertentu menjadi
yaitu Rm berkisar antara 0.26628 Ωm hingga 0.26481

Ωm; nilai Rmf berkisar antara 0.33588 Ωm hingga 0.33389 Ωm; nilai Rnc berkisar
antara 0.37834 Ωm hingga 0.3761 Ωm. Untuk pembacaan resistivitas dibagi menjadi
laterolog shallow yang menampilkan nilai resistivitas invaded zone dan laterolog deep yang
menampilkan nilai uninvaded zone. Dengan mempertimbangkan faktor mudcake yang
terbentuk, diketahui bahwa nilai dari resistivitas invaded zone setelah dikoreksi
menggunakan chart Schlumberger Rxo-3. Selanjutnya, didapatkan nilai invaded zone untuk
masing-masing zona sebesar 1.94; 1.44; 1.794; 1.978; 2.76; 3.19; 2.5; 2.6; 2.254; dan 2.376
Ωm. Untuk pembacaan nilai resistivitas batuan murni, pengoreksian pembacaan
menggunakan chart Schlumberger Rcor-4a yang mempertimbangkan faktor hole diameter,
19
standoff, dan juga resistivitas lumpur. Sehingga, didapatkan nilai dari resistivitas murni
masing-masing zona sebesar 1.9920; 5.1546; 9.1202; 3.6795;3.7697; 3.8438; 2.1856;
5.0485; 2.3885; dan 2.1904Ωm. Bila diteliti lebih lanjut, akan ditemukan fakta bahwa lumpur
terbuat dari bahan air garam atau saline water dengan nilai densitas sebesar 1.1 g/cc.
Penelitian untuk porositas dilakukan dengan membuat tabel 3.5. Sehingga,
didapatkan bahwa lapisan permeabel didominasi oleh sandstone yang didapatkan melalui
pembacaan nilai porositas neutron log dan porositas density log pada chart Schlumberger
CP-14. Sehingga, nilai tortuisitas batuan adalah 0.65, faktor sementasi sebesar 2.15, dan
faktor saturasi sebesar 2 dengan densitas batuan sebesar 2.65 g/cc. Selanjutnya, dihitung
besar porositas yang ada dengan koreksi yang dilakukan. Untuk neutron log dapat dikoreksi
dengan chart Schlumberger Por-14c. Selanjutnya, didapatkan harga dari porositas efektif
lapisan yaitu 0.2452;0.3355;0.3484;0.2645;0.2903;0.2645;0.2129;0.3161;0.1419; dan
0.2000.
Penelitian selanjutnya dilakukan di dalam zona air dengan formasi yang lebih dangkal
yaitu pada kedalaman 1755 ft hingga 1770 ft dengan interval 3.75 ft setiap zona. Nilai suhu
yang didapat pada zona ini adalah pada rentang 160 oF hingga 161oF. Pada formasi ini dapat
diteliti nilai resistivitas air dengan metode SP log dan ratio. Hanya saja, pada log ini tidak
terdapat pembacaan SP sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan. Pada metode ratio bisa
didapatkan bahwa nilai resistivitas air adalah 0.2534;0.3041;0.3379;0.3359; dan 0.3059 Ωm.
Pada penentuan resistivitas air lain, dapat ditentukan dengan metoda Archie yang
sedikit kurang teliti bila dibandingkan dengan picket plot. Metoda tersebut membandingkan
antara resistivitas batuan murni dengan porositasnya dan faktor sementasi. Sehingga,
didapatkan nilai resistivitas air minimal guna memperkecil nilai saturasi air. Nilai masing-
masing resistivitas air pada kelima zona adalah 0.1463;0.2061;0.1925;0.2078;0.2129
Sehingga, nilai minimum yang diambil adalah 0.1463 Ωm
Untuk penentuan saturasi air formasi, ditentukan dengan 3 jenis metoda yaitu metoda
Archie yang mendapatkan nilai 0.7818; 0.5546; 0.4651; 0.8645; 0.8271; 0.9235;
0.9512;0.7042;0.9108; dan 0.9374. Untuk metoda Indonesia didapatkan data 0.4482;
20
0.5125;0.4573;0.4911;0.4563;0.5546;0.4934;0.5106;0.4902;0.5115. Terakhir, pada metoda
Simandoux didapatkan nilai 0.2956; 0.3436; 0.3103; 0.2900; 0.2611; 0.3339; 0.3090; 0.3126;
0.3098; 0.3341.
Penelitian terakhir adalah cut off yang dapat ditentukan sendiri sebesar >15% untuk
porositas, <80% untuk volume shale, dan <35% untuk saturasi air. Dari data-data sebelumnya
didapatkan rata-rata porositas awal adalah 14% dan saturasi air awal adalah 31%. Setelah
dilakukan cut off, didapatkan rerata porositas adalah 16% dan saturasi air sebesar 49%
dengan total net to gross adalah 44%.

21
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan isi dari pembahasan yang ada, simpulan yang dapat diambil dari
pembahasan tersebut adalah:
1. Data log AMB-15 memiliki zona prospek yang impermeabel atau shale pada
zona 2 dan 3.
2. Nilai resistivitas air metoda Pickett Plot merupakan metoda terbaik karena
mempertimbangkan seluruh lapisan formasi.
3. porositas sebelum cut off adalah 14% dan saturasi air adalah 31 %
4. Porositas setelah cut off yang didapat adalah 16% dan saturasi air setelah cut
off adalah 49%
5. Saturasi air terbaik memakai metoda simandoux memiliki standar deviasi
yang rendah sekitar 0.2611

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Nugrahanti, Asri. 2011. Penilaian Formasi. Bogor: Calakan Mediatama.


2. Schlumberger. 2000. Log Interpretation Charts. Texas: Schlumberger.
3. Sitaresmi, Ratnayu dan Harin Widyatni. 2015. Petunjuk Praktikum Penilaian
Formasi. Jakarta: Universitas Trisakti.
4. http://sidikfajar60.blogspot.co.id/2010/03/penilaian-formasi.html
5. http://penilainformasi.blogspot.co.id
6. http://petroleumsystems.blogspot.co.id/2012/04/tujuan-penilaian-formasi.html
7. https://earthmax.wordpress.com/2014/08/23/volume-of-shale-vshale/.html

23
DAFTAR SIMBOL

Ø : Porositas ,-
ρb : Densitas Batuan, gr/cc
ρf : Densitas Fluida, gr/cc
ρma : Densitas Matriks Batuan, gr/cc
a : Faktor Tortuositas,-
BHT : Bottom Hole Temperature, ⁰F
F : Faktor Formasi,-
m : Faktor Sementasi,-
MD : Measured Depth, ft
n : Eksponen Saturasi,-
R : Resistivitas, Ωm
Rmf : Resistivitas Mud Filtrate, Ωm
Rt : Resitivitas Formasi, Ωm
Rw : Resistivitas Air Formasi, Ωm
Rxo : Resistivity Flushed Zone, Ωm
Sw : Saturasi Air Formasi,-
TD : Total Depth, ft
Tf : Temperatur Formasi, ⁰F
To : Temperatur Permukaan, ⁰F
Vsh : Volume Shale,-

24
LAMPIRAN
CHART SCHLUMBERGER DAN DATA LOG

25
Gambar A
Chart Schlmberger Por-14c

26
Gambar B
Chart Schlumberger CP-1d
27
Gambar C
Chart Schlumberger Rxo-3
28
Gambar D
Chart Schlumberger Sw-2
29
Gambar E
Data Log B-4 (TM-16)

30