Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN II


Tahun Akademik 2018

Oleh:
Riski Taufik
Ilatul Holiyah
Muhammad Salman Alfarizi
Cintia Dili Safitri
Afin Ayu Hartatik
Alfin Zakaria

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS BONDOWOSO
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : KB MOW dan MOP


Sasaran : klien dan keluarga
Hari/Tgl : Desember 2018
Waktu : 30 menit
Tempat : Poli Kandungan

I. Analisis Situasi
1.1 Peserta diskusi : klien dan keluarga
1.2 Ruangan Diskusi : Poli kandungan
1.3 Pemberi Materi : Mahasiwa D3 Keperawatan Universitas Bondowoso

II. Tujuan
2.1 Tujuan Umum :
Setelah mengikuti diskusi kelompok tentang kb mow dan mop
diharapkan audien dapat mengetahui dan memahami kb mow dan mop.
2.2 Tujuan Khusus :
Setelah mengikuti penyuluhan kb mow dan mop,diharapkan peserta
dapat :
a. Mengerti Pengertian kb mow dan mop.
b. Mengerti Jenis – Jenis kb mow dan mop.
c. Mengerti Indikasi dan Kontraindikasi kb mow dan mop.
d. Mengerti Keuntungan dan Kerugian kb mow dan mop.
e. Mengerti Efek Samping dan Komplikasi kb mow dan mop.
f. Mengerti tentang perawatan setelah melakukan operasi kb mow dan mop.

III. Materi
3.1 Pengertian Kontrasepsi Mantap
3.2 Jenis – Jenis Kontrasepsi Mantap
3.3 Indikasi dan Kontraindikasi Kontrasepsi Mantap
3.4 Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi Mantap
3.5 Efek Samping dan Komplikasi Kontrasepsi Mantap
3.6 perawatan setelah melakukan operasi kb mow dan mop.

IV. Metode dan Media


4.1Metode :Diskusi kelompok
4.2Media :Leaflet
V. Kegiatan Diskusi
No. Topik Waktu Kegiatan Diskusi Kegiatan Peserta
1. Pembukaan 5 menit 1. Memberikan leaflet 1. Menerima dan
2. Membuka kegiatan diskusi membaca leaflet
dan mengucapkan salam 2. Menjawab salam

2 Pelaksanaan 15 1. Menyampaikan pengertian 1. Memperhatikan


menit dari KB mow dan mop

2. Menyampaikan tentang 2. Memperhatikan


jenis jenis kontrasepsi
mantap.
3. Menyampaikan Indikasi
dan Kontraindikasi 3. Memperhatikan
Kontrasepsi Mantap
4. Menyampaikan tentang
Keuntungan dan Kerugian 4. Memperhatikan
Kontrasepsi Mantap
5. Menyampaikan tentang
Perawatan Setelah
Melakukan Operasi Kb
Mow Dan Mop.
3. Evaluasi 5 menit Pemandu diskusi Replay materi yang
mengevaluasi hasil diskusi telah disampaikan

4. Penutup 5 menit 1. Kesimpulan dari 1. Mendengarkan


penyuluhan
2. Evaluasi dari pemimpin 2. Mendengarkan
diskusi
3. Mengucapkan salam 3. Menjawab salam
penutup, mengakhiri
pertemuan serta
mengucapkan terima kasih
VI. Kriteria Evaluasi
6.1 Evaluasi Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media : leaflet
d. Peserta hadir di tempat diskusi
e. Penyelenggaraan diskusi dilaksanakan di ruang poli kandungan
6.2 Evaluasi Proses
a. Fase dimulai sesuai waktu yang direncanakan
b. Peserta antusias terhadap materi diskusi yang ditandai dengan peserta
menyampaikan pendapatnya.
c. Suasana menyenangkan
d. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat diskusi sebelum diskusi selesai
6.3 Evaluasi Hasil
a. Peserta dapat mengulangi materi yang telah diberikan
b. Peserta dapat memahami tentang komplikasi persalinan

VII. Pengorganisasian
1. Pemimpin Diskusi
Tugas : Afin Ayu Artatik
1. Pembawa acara
2. Mengatur jalannya acara yang disajikan
3. Menyajikan kesimpulan tentang topik yang telah dibahas
4. Menutup acara
2. Pemandu Diskusi Kelompok
Tugas: Cintia Dili Safitri
1. Menyiapkan topik atau pokok yang akan dibahas
3. Sekretaris
Tugas : Ilatul Holiah
a. Menulis pertanyaan yang diajukan oleh peserta
b. Menulis jawaban yang diajukan oleh peserta
2. Fasilitator
Tugas : Muhammad Salman Al farizi
Riski Taufik
a. Membagikan leaflet yang berisi materi tentang Fraktur kepada peserta
b. Memfasilitasi kegiatan Penyuluhan
c. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta
3. Observer
Tugas : Alfin Zakaria
a. Mendemonstrasikan cara batuk dan bersin yang baik dan benar
b. Menyampaikan hasil observasi tentang Penyuluhan
c. Membacakan kesimpulan dari jalannya acara Penyuluhan
MATERI DISKUSI

I. Pengertian Kontrasepsi Mantap

Kontrasepsi mantap (kontap) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan


dalam jangka waktu yang tidak terbatas yang dilakukan terhadap salah seorang dari
pasangan suami isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela
(Zietraelmart, 2010).

II. Jenis – Jenis Kontrasepsi Mantap


1. Tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seorang perempuan (Saifuddin, 2006).
2. Vasektomi
Vasektomi adalah operasi kecil yang di lakukan untuk menghalangi keluarnya
sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani (vas defferent) sehingga
sel sperma tidak keluar pada saat senggama. (Suratun,dkk, 2008).

III. Indikasi dan Kontraindikasi Kontrasepsi Mantap


1. Tubektomi
a. Indikasi
Yang dapat menjalani tubektomi menurut Saifuddin antara lain:
1) Usia lebih dari 26 tahun.
2) Paritas lebih dari dua.
3) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya.
4) Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius.
5) Pasca persalinan.
6) Pasca keguguran.
7) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini.
Menurut seminar Kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta dalam
Wiknjosastro, sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi
syarat-syarat berikut :
1) Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup.
2) Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup.
3) Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup.
Sedangkan pada konferensi khusus perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela
Indonesia di Medan dalam Wiknjosastro dianjurkan pada umur antara 25-40 tahun,
dengan jumlah anak sebagai berikut :
1) Umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih.
2) Umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih.
3) Umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih.
b. Kontraindikasi
Menurut Saifuddin yang tidak boleh melakukan tubektomi antara lain :
1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai).
2) Perdarahan pervaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi).
3) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau
dikontrol).
4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan.
5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan.
6) Belum memberikan persetujuan tertulis.
Kontraindikasi relatif menurut Everett (2008) adalah:
1) Meminta sterilisasi pada usia muda, misalnya dibawah 25 tahun.
2) Obesitas dapat dikontraindikasikan untuk prosedur laparoskopik.
Sedangkan menurut Noviawati dan Sujiyati (2009) yang sebaiknya tidak
menjalani Tubektomi yaitu:
1) Hamil sudah terdeteksi atau dicurigai.
2) Pedarahan pervaginal yang belum jelas penyebabnya.
3) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut hingga masalah itu disembuhkan atau
dikontrol.
4) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan.
2. Vasektomi
a. Indikasi
-Menunda kehamilan
-Mengakhiri kesuburan
-Membatasi kehamilan
-Setiap pria, suami dari suatu pasangan usia subur yang telah memiliki jumlah anak
cukup dan tidak ingin menambah anak.

b. Kontraindikasi
Menurut Hartanto (2004) yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi
vasektomi adalah :
1) Infeksi kulit lokal, misal Scabies
2) Infeksi traktus genitalia.
3) Kelainan skrotum dan sekitarnya:
a) Varicocele
b) Hydrocele besar
c) Filariasis
d) Hernia inguinalis
e) Orchiopexy
f) Luka parut bekas operasi hernia
g) Scrotum yang sangat tebal
4) Penyakit sistemik:
a) Penyakit-penyakit perdarahan
b) Diabetes mellitus
c) Penyakit jantung koroner yang baru
5) Riwayat perkawinan, psikologis atau seksual yang tidak stabil.

IV. Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi Mantap

1. Tubektomi
a. Keuntungan
Menurut BKKBN (2006) keuntungan dari kontrasepsi mantap ini antara lain:
1) Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi.
2) Tidak mengganggu kehidupan suami istri.
3) Tidak mempengaruhi kehidupan suami istri.
4) Tidak mempengaruhi ASI.
5) Lebih aman (keluhan lebih sedikit), praktis (hanya memerlukan satu kali
tindakan), lebih efektif (tingkat kegagalan sangat kecil), lebih ekonomis.
Sedangkan menurut Noviawati dan Sujiyati (2009) keuntungan dari
kontrasepsi mantap adalah sebagai berikut:
1) Sangat efektif (0.5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama
penggunaan).
2) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breasfeeding).
3) Tidak bergantung pada faktor senggama.
4) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius.
5) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal.
6) Tidak ada perubahan fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon
ovarium).
b. Kerugian
Kerugian dalam menggunakan kontrasepsi mantap menurut Noviawati dan
Sujiyati (2009) yaitu antara lain:
1) Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini tidak dapat
dipulihkan kembali.
2) Klien dapat menyesal dikemudian hari.
3) Resiko komplikasi kecil meningkat apabila digunakan anestesi umum.
4) Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan.
5) Dilakukan oleh dokter yang terlatih dibutuhkan dokter spesalis ginekologi atau
dokter spesalis bedah untuk proses laparoskopi.
6) Tidak melindungi diri dari IMS (Infeksi Menular Seksual).
2. Vasektomi
a. Keuntungan
Keuntungan memakai vasektomi menurut Hartanto (2004) antara lain:
1) Efektif.
2) Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas.
3) Sederhana.
4) Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit.
5) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja.
6) Biaya rendah.
7) Secara kultural, sangat dianjurkan di negara-negara dimana wanita merasa malu
untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita dan paramedis
wanita.
8) Metode permanen.
9) Efektivitas tinggi.
10) Menghilangkan kecemasan akan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.
b. Kerugian
Menurut Hartanto (2004) kerugian yang ditimbulkan dari kontrasepsi
vasektomi adalah :
1) Diperlukan suatu tindakan operatif.
2) Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
3) Kontap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa,
yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens,
dikeluarkan.
4) Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin
bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut sistem reproduksi pria.

V Efek Samping dan Komplikasi Kontrasepsi Mantap


1. Tubektomi
a. Efek Samping
Menurut Saifuddin (2006) efek samping yang ditimbulkan setelah prosedur
bedah biasanya adalah:
1) Nyeri bahu selama 12 – 24 jam setelah laparoskopi relatif lazim dialami karena
gas (CO 2 atau udara) di bawah diafragma.
2) Periode menstruasi akan berlanjut seperti biasa (Apabila mempergunakan metode
hormonal sebelum prosedur, jumlah dan durasi haid dapat meningkat setelah
pembedahan).
b. Komplikasi
Komplikasi minor antara lain adalah rasa sakit pada tempat irisan, demam,
perdarahan ringan, dan infeksi luka. Komplikasi mayor adalah perdarahan banyak
yang membutuhkan operasi yang lebih jauh atau transfusi, perlukaan usus atau
kandung kencing, infeksi panggul berat, sepsis dan kematian (Siswosudarmo,
2001).

2. Vasektomi
a. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan kontrasepsi vasektomi menurut Everett
(2008) adalah :
1) Infeksi
2) Hematoma
3) Granula sperma
b. Komplikasi
Komplikasi jangka pendek termasuk sementara memar dan perdarahan, yang
dikenal sebagai hematoma. Komplikasi jangka panjang utama adalah kondisi sakit
permanen, vasektomi sakit sindrom-post. Data pada manusia dan hewan
menunjukkan bahwa vasektomi tidak meningkatkan aterosklerosis dan peningkatan
sirkulasi kompleks imun setelah vasektomi bersifat sementara. Selain itu, berat
bukti tentang prostat dan kanker testis menunjukkan bahwa pria dengan vasektomi
yang tidak mengalami peningkatan risiko kanker tersebut (Everett, 2008).
VI. Perawatan Setelah Melakukan Operasi Kb Mow Dan Mop.
Tubektomi (MOW)
1. Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari
2. kebersihan harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air
selama 1 minggu (sampai benar -benar kering)
3. Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk
4. senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering.
Tetapi bila tubektomi dilaksanakansetelah melahirkan atau kegugurang, senggama
baru boleh dilakukan setelah 40 hari

Vasektomi (MOP)
1. Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari
2. Jagalah kebersihan degan membersihkan diri secara teratur dan jaga agarluka bekas
operasi tidak terkena air atau kotoran
3. Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk
4. Pakailah celana dalam yang kering dan bersih, dan jangan lupa menggantinya setiap
hari
5. Janganlah bersenggama bila luka belum sembuh. Boleh berhubungan seksual setelah
tujuh hari setelah operasi. Bila isteri tidak menggunakan alat kontrasepsi, senggama
dilakuakn dengan memakai kondom sampai 3 bulan setelah operasi.