Anda di halaman 1dari 4

Ilmu-ilmu kesehatan bisa ikut menyumbangkan sudut pandang

bermanfaat dalam memahami dan mencari jalan keluar mengatasi


patologi radikalisme ini. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir masalah
kekerasan dianggap juga wilayah kesehatan masyarakat mengingat
besarnya korban, kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat tindak
kekerasan (Haegerich "Violence as a public health risk", 2011). Salah
satu sudut pandang yang ditawarkan oleh disiplin ilmu kesehatan dalam
melihat masalah radikalisme ini menggunakan kerangka konsep
"kecanduan" (addiction) atau "ketergantungan" (dependence).

Beberapa prinsip dasar mengenai "kecanduan" relevan dipakai


menganalisis masalah radikalisme secara lebih dalam. Pertama,
"kecanduan" adalah sesuatu yang dipelajari, bukan yang muncul alami.
Salah satu contoh sederhana adalah radikalisme atau dalam bentuk
paling dasar berupa kebencian terhadap yang berbeda (warna kulit, ras,
jenis kelamin, orientasi seksual, agama, ideologi, pandangan politik
kelas sosial maupun tingkat ekonomi) hampir tidak pernah ditemui pada
anak-anak. Anak-anak mulai mengenali perbedaan dan bersikap positif
maupun negatif terhadap perbedaan terutama setelah mendapat
intervensi atau manipulasi dari orang dewasa.

Kedua, "kecanduan" tidak terjadi seketika, tapi akumulasi dari proses


mencoba berkali-kali sampai mendapatkan dampak menyenangkan
(pleasure) dari suatu zat atau stimuli termasuk paham keagamaan dan
ideologi. Alasan mencoba-coba ini sangat beragam dari pemenuhan
rasa penasaran, kecenderungan meniru, mencari identitas baru, hingga
kompensasi dari kehampaan hidup yang dialami. "Kecanduan" atau
"ketergantungan" tidak selalu terjadi pada zat (material seperti
rokok/tembakau, alkohol, maupun narkoba), tapi juga pada nonzat
(seperti kecanduan judi maupun paham seperti
fundamentalisme/radikalisme).

Setelah berulang kali mendapatkan dampak menyenangkan dari


zat/stimuli, secara bertahap seseorang akan "kecanduan". Dalam kasus
radikalisme, seseorang akan mendapatkan dampak menyenangkan
berupa "kepastian semu" (false certainty) akibat "penyederhanaan
masalah" (oversimplification) yang ditawarkan paham ini. "Kepastian
semu" hanya ajaran atau penafsiran kita yang benar dan orang lain yang
berpaham berbeda dengan sendirinya salah. Tentu kenyataan sosial
sehari-hari jauh lebih kompleks daripada ilusi "kepastian semu" dan
"penyederhanaan masalah" yang ditawarkan oleh radikalisme itu.

Ketiga, ketika memasuki tahap "kecanduan" atau "ketergantungan", para


pecandu ini akan sangat sulit melepaskan diri dari zat atau
stimuli/paham itu. Hidup para pecandu selalu difokuskan pada
pemenuhan hasrat terhadap zat atau stimuli/paham itu.

Pada orang yang kecanduan radikalisme, ketakutan terhadap


perbedaan segera menjadi sikap tidak toleran bahkan mengesahkan
atau melakukan tindakan kekerasan terhadap pihak yang berbeda itu.
Dunia dan masyarakat disederhanakan dalam kutub "kami" (us) dan
"mereka" (them/others). Padangan dunia menjadi sangat sempit dan
dikotomis seakan-akan peluang untuk hidup bersama dan saling
memperkaya akibat perbedaan itu sama sekali tidak mungkin.

Pandangan dunia menjadi serbamenihilkan dan memusnahkan. Sering


kali secara tidak disadari mereka menjadi penganjur kebencian dan
kematian (sesuatu yang dalam ilmu kesehatan dan psikologi disebut
sebagai gejala "nekrofilia" atau kecanduan dan kegandrungan pada
kematian, khususnya kematian pihak lain yang berbeda). Diperlukan
upaya rehabilitasi yang intensif untuk mengurangi atau meninggalkan
"kecanduan" atau "ketergantungan" yang telanjur dialami. Diperlukan
pula pemutusan hubungan dengan sesama pecandu
(deattachment/deradicalization) dan peleburan kembali (reintegration)
dalam kelompok yang lebih sehat (yang siap secara mental dan praktis
hidup berdampingan dengan orang dan kelompok sosial berbeda).

Kompleksitas kecanduan radikalisme/kebencian membuat kita harus


berendah hati mengakui tidak ada satu pun obat mujarab (panacea).
Namun, terdapat kumpulan pendekatan yang berdampak positif yang
meliputi pencegahan—mencegah orang-orang masuk atau mengalami
cuci otak menjadi penganut radikalisme—dan upaya rehabilitatif bagi
mereka yang telanjur kecanduan radikalisme.

Tindakan pencegahan berupa penguatan faktor pelindung seperti


penguatan tradisi berpikir kritis sejak usia dini (di rumah maupun di
sekolah) dan penghormatan terhadap kenyataan keberagaman adalah
tindakan preventif. Pemberian contoh nyata sejak usia dini betapa
perbedaan adalah sesuatu yang tak terhindarkan dan sebenarnya bisa
membuat hidup menjadi semakin kaya adalah sangat penting.
Pemberian sebanyak mungkin alternatif pemikiran mengenai kenyataan
sosial yang akan membuat daya kritis menguat juga akan membuat
anak-anak/remaja memiliki kemampuan memilah informasi dan
menghindarkan diri dari para demagog penganjur
radikalisme/kebencian. Hanya orang-orang yang tidak kritis dan
berpandangan sempit yang rentan menjadi korban.

Upaya lain yang bersifat lebih struktural adalah pengurangan lingkungan


berisiko bagi tumbuhnya paham radikalisme termasuk pengurangan
kesenjangan ekonomi dan frustrasi sosial yang sering kali dieksploitasi
para demagog penganjur radikalisme dan kebencian. Bagi mereka yang
telanjur mengidap kecanduan radikalisme dan kebencian, program
rehabilitasi/deradikalisasi dan reintegrasi perlu berkelanjutan meskipun
jauh lebih rumit.

Program berkelanjutan dan komprehensif seperti ini jauh lebih


berpeluang berhasil dibanding tindakan represif seperti pemblokiran
situs internet penganjur radikalisme agama/kebencian (tanpa melalui
proses pengadilan). Tindakan terpadu (preventif dan rehabilitatif) sangat
diperlukan dalam mencegah orang terjerat kecanduan
radikalisme/kebencian. n

Sudirman Nasir

Pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin,


Alumnus Program Doktoral Melbourne School of Population and Global
Health Universitas Melbourne