Anda di halaman 1dari 7

A Pengelolaan Sampah

Pengelolaan Sampah adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi
pengurangan dan penanganan sampah. Dari rumusan pengertian pengelolaan sampah dapat
disimpulkan bahwa kegiatan pengelolaan sampah meliputi dua aspek, yaitu pengurangan dan
penanganan sampah. Pengelolaan sampah dengan dua aspek tersebut merupakan konsep
pengelolaan sampah mulai dari hulu sampai ke hilir; suatu paradigma baru pengelolaan sampah.

Pengurangan Sampah Aspek pengurangan sampah meliputi upaya: a. membatasi sampah


untuk meminimalkan produk sampah; b. mengguna-ulang sampah dalam bentuk penggunaan
kembali sampah secara langsung, dan/atau c. mendaur-ulang sampah dalam bentuk pemanfaatan
kembali sampah setelah melalui suatu proses.

Penanganan Sampah Aspek penanganan sampah meliputi upaya: 1) pemilahan sampah


dalam bentuk mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau
sifat sampah. Pemilahan sampah jenis sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah
tangga dilakukan pada sumber sampah, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/atau di kawasan
perumahan dalam bentuk klaster, fasilitas umum, dan fasilitas sosial 2) pengumpulan sampah
dalam bentuk mengambil dan memindahkan sampah dari sumber sampah ke tempat
penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu. Pengumpulan sampah ini
dilakukan dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan
sampah terpadu. 3)

pengangkutan sampah dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau tempat
penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu menuju tempat pemrosesan
akhir. Tempat penampungan sementara, yaitu tempat penampungan sampah sebelum sampah
diangkut ke tempat pendauran-ulang, pengolahan, dan/atau pemrosesan akhir. 55 Pengangkutan
sampah dilakukan dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu ke tempat pemrosesan akhir dengan alat angkut yang memenuhi
persyaratan teknis alat angkut sampah. 4) pengolahan sampah dalam bentuk mengubah
karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah agar dapat diproses lebih lanjut, dimanfaatkan, atau
dikembalikan ke media lingkungan secara aman, dan/atau 5) pemrosesan akhir sampah dalam
bentuk mengembalikan sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media
lingkungan secara aman. Pemrosesan akhir sampah ini dilakukan di lokasi tempat pemrosesan
akhir, yaitu tempat untuk mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman.
Pengoperasian tempat pemrosesan akhir sampah tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur
operasi teknis pemrosesan akhir sampah. Sedangkan penetapan lokasi tempat pemrosesan akhir
sampah didasarkan pada kriteria penetapan lokasi tempat pemrosesan akhir sampah.

Penghasil Sampah Penghasil sampah adalah setiap orang, usaha, dan/atau kegiatan yang
menghasilkan timbulan sampah. 4.1.1.4. Tempat Penyimpanan Sementara Tempat penyimpanan
sementara adalah tempat penampungan sampah sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran-
ulang, pengolahan, dan/atau pemrosesan akhir. 4.1.1.5. Tempat Pemrosesan Akhir Tempat
pemrosesan akhir adalah tempat untuk mengembalikan sampah ke media lingkungan secara
aman. 56 Penetapan lokasi tempat pemrosesan akhir sampah pada dasarnya ditetapkan oleh
Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pada saat
ini telah ditetapkan Standar Nasional Indonesia tahun 1994,

yaitu SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Sampah.
Menurut SNI 03-3241-1994, pemilihan lokasi tempat pemrosesan akhir sampah harus memenuhi
ketentuan: 1. tidak boleh berlokasi di danau, sungai, dan laut; 2. disusun berdasarkan 3 (tiga)
tahapan, yaitu: 2.1. tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang berisi
daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi dalam beberapa zona kelayakan; 2.2.
tahap penyisih yang merupakan tahapan untuk menyisihkan satu atau dua lokasi terbaik di antara
beberapa lokasi yang dipilih dan zona-zona pada tahap kelayakan regional;

2.3 tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi terpilih oleh instansi yang
berwenang. 3. dalam hal suatu wilayah belum bisa memenuhi tahap regional, pemilihan lokasi
tempat pemrosesan akhir sampah ditentukan berdasarkan skema pemilihan lokasi tempat
pemrosesan akhir sampah yang telah diatur dalam SNI 03-3241- 1994 ini. Menurut SNI 03-
3241-1994, kelayakan lokasi tempat pembuangan akhir sampah ditentukan berdasarkan: a.
Kriteria regional digunakan untuk menentukan kelayakan zona meliputi kondisi geologi,
hidrologi, kemiringan tanah, jarak dari lapangan terbang, cagar alam, banjir dengan periode 25
tahun.
B. Pengumpulan Sampah
1. Pendahuluan
Yang dimaksud dengan sistem pengumpulan sampah adalah cara atau proses pengambilan
sampah mulai dari tempat pewadahan/penampungan sampah dari sumber timbulan sampah
sampai ketempat pengumpulan semantara/stasiun pamindahan atau sakaligus ke tempat
pembuangan akhir (TPA).
Pengumpulan umumnya dilaksanakan oleh petugas kebersihan kota atau swadaya masyarakat
(sumber sampah, badan swasta atau RT/RW).
Pengikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan sampah banyak ditentukan oleh tingkat
kemampuan pihak kota dalam memikul beban masalah persampahan kotanya.
Dalam teknis operasional pengelolaan sampah biaya untuk kegiatan pengumpulan sampah dapat
mencapai 40 % dari total biaya operasional. Karenanya perlu diupayakan suatu teknik
pengumpulan yang efektif dan efisien, termasuk pertimbangan terhadap tempat penyimpanan
sampah, agar biaya operasi dapat ditekan serendah mungkin.

2. Permasalahan Pengumpulan Sampah


Salah satu permasalahan di dalam aspek teknis operasional yang umumnya masih dijumpai
adalah terbatasnya jumlah peralatan persampahan (termasuk didalamnya peralatan
pengumpulan), pemeliharaan yang belum terencana dengan baik serta belum adanya metode
operasi yang sesuai.
Pada hampir seluruh kota-kota besar dan sedang di Indonesia, dijumpai sisa-sisa sampah tidak
terangkut yang disebabkan oleh belum efisiensinya cara-cara pengumpulan sampah yang
diterapkan. Hali ini lebih jauh akan membawa dampak negative terhadap kesehatan masyarakat.
Pengumpulan sampah merupakan kegiatan yang padat karya dan proses yang paling mahal
dibandingkan dengan proses-proses lain di dalam pengelolaan sampah. Pada kenyataannya biaya
untuk pengumpulan terus meningkat dari waktu ke waktu dengan munculnya daerah-daerah
kumuh yang harus dilayani sebagai akibat dari proses urbanisasi.
Secara lebih mendetail permasalahan-permasalahan yang umumnya dijumpai pada sistem
pengumpulan ini adalah:

 Penggunaan waktu kerja yang tidak efisien karena keterlambatan mulai bekerja, lamanya
waktu memuat dan membongkar, hilangnya waktu dan lain-lain.
 Penggunaan kapasitas muat yang tidak tepat, misalnya terlalu penuh pada rit 1 dan
kosong pada rit berikutnya. Muatan yang terlalu penuh membuat kendaraan cepat rusak.
 Jenis pewadahan yang tidak tepat, tidak seragam dan standar sehingga memperlambat
proses pengumpulan sampah oleh petugas pengumpul.
 Rute pelayanan yang belum optimum, sehingga tidak diperoleh penghematan waktu
untuk operasi pengumpulan.
 Tingkah laku petugas dan kerja sama masyarakat yang kurang baik, seperti misalnya
kerjasama antara petugas dan masyarakat serta effisiensi kerja petugas kurang baik.
 Aksebilitas yang kurang baik, seperti misalnya jalan-jalan yang terlalu sempit, kondisi
jalan yang rusak, kemacetan dan lain-lain.

3. Operasi Pengumpulan Sampah


Pada dasarnya pengumpulan sampah dapat dikelompokkan dalam 2 pola pengumpulan :
a. Pola individual langsung
Pengumpulan dilakukan oleh petugas kebersihan yang mendatangi tiap-tiap bangunan/sumber
sampah (door to door) dan langsung diangkut untuk dibuang di Tempat Pembuangan Akhir. Pola
pengumpulan ini menggunakan kendaraan truck sampah biasa, dump truck atau compactor truck.
b. Pola individual tidak langsung
Daerah yang dilayani kedua cara tersebut diatas umumnya adalah lingkungan pemukiman yang
sudah teratur, daerah pertokoan, tempattempat umum, jalan dan taman. Transfer Depo tipe I, tipe
II atau tipe III, tergantung luas daerah yang dilayani dan tersedianya tanah lokasi.

c. Pola komunal langsung


Pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing penghasil sampah (rumah
tangga, dll) ke tempat-tempat penampungan sampah komunal yang telah disediakan atau
langsung ke truck sampah yang mendatangi titik pengumpulan (semacam jali-jali di jakarta)

d. Pola komunal tidak langsung


Pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing penghasil sampah (rumah
tangga dll ) ke tempat-tempat yang telah disediakan/ditentukan (bin/tong sampah komunal ) atau
langsung ke gerobak/becak sampah yang mangkal pada titik - titik pengumpulan komunal.
Petugas kebersihan dengan gerobaknya kemudian mengambil sampah dari tempat - tempat
pengumpulan komunal tersebut dan dibawa ke tempat penampungan sementara atau transfer
depo sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir dengan truck sampah. Bila tempat
pengumpulan sampah tersebut berupa gerobak yangmangkal, petugas tinggal membawanya ke
tempat penampungan sementara atau transfer depountuk dipindahkan sampahnya ke atas truck.
C. Pengelolaan Sampah P

engelolaan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan. Selain itu


penimbunan dan insinerasi (proses pembakaran sampah) menjadi cara menangani sampah.

a) Pengumpulan Sampah Proses pengumpulan sampah harusnya dilakukan dengan cara memilah
sampah berdasarkan jenisnya. Pengumpulan sampah yang tidak sesuai dengan tempatnya dapat
menjadi salah satu masalah dari pencemaran lingkungan. Menurut Nugraha, pengumpulan sampah ialah
pengumpulan sampah dari bak-bak sampah yang ada di rumah-rumah, kantor, pasar dan sebagainya.5
Pengumpulan sampah yang ditentukan pada suatu lokasi akan mempermudah proses pengelolaan
sampah berikutnya.

b) Pengangkutan Pengangkutan sampah sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli dibawah pengawasan
dinas kebersihan. Pengangkutan dalam skala rumah tangga biasanya menggunakan gerobak untuk
dikumpulkan di tempat pembuangan sementara. Dalam skala yang lebih besar maka menggunakan truk
atau kontainer dalam proses pengangkutan ke tempat pembuangan akhir. Sebaiknya pengangkutan
sampah menggunakan kendaraan tertutup guna meminimalisir pencemaran udara. Saat ini Indonesia
masih menggunakan truk terbuka saat mengangkut sampah sehingga menimbulkan bau tidak sedap saat
melewati jalan.

c) Pembuangan Sampah yang telah terkumpul harus diangkut ke tempat pembuangan sampah. Masih
menurut Nugraha, “maksud tempat buangan sampah adalah tempat pembuangan sampah terakhir
setelah dikumpulkannnya dari tempat-tempat pengumpulan”.6 Tempat pembuangan sampah
seharusnya dekat dengan sumber sampah agar proses pengelolaannya lebih cepat dan meminimalisisr
biaya pengangkutan. Namun yang terjadi pada kotakota besar sampah dipusatkan pada satu lokasi
pembuangan akhir sehingga biaya pengangkutan cukup tinggi dan mencemari udara saat sampah 5
Adrian R. Nugraha, Op. Cit. 6 Ibid,. Adrian R. Nugraha diangkut ke tempat pembuangan. Lokasi tempat
pembuangan akhir yang jauh menyebabkan banyak orang yang membakar sampah yang dapat
mencemari udara. d) Penimbunan Menurut Soma terdapat beberapa cara dalam penimbunan sampah
diantaranya adalah open dumping, dumping at sea, dan sanitary landfil.7 1) Open Dumping Open
dumping atau penimbunan terbuka yaitu dengan cara membuang dan menumpuk sampah ditempat
terbuka. Penimbunan terbuka merupakan cara yang sederhana dalam penangan sampah, namun
terdapat keuntungan dan kerugiannya. 2) Dumping at Sea Dumping at sea adalah penimbunan yang di
lakukan di pantai. Penimbunan di pantai ini dilakukan dengan cara membuat tanggultanggul pemisah
untuk menghalangi sampah agar tidak terbawa ombak. Setelah dibuat tanggul maka sampah ditimbun
dan jika sudah penuh maka diratakan dengan pasir. Lama kelamaan tempat ini akan menjadi subur dan
dapat ditanami pepohonan dan bisa dijadikan pemukiman. Cara penimbunan ini memiliki keuntungan
dan kerugian. 3) Sanitary Landfill Sanitary Landfill adalah menimbun sampah di dalam tanah. Menurut
Soekmana Soma, “secara definisi sanitary landfill adalah suatu kegiatan membuang sampah setiap hari
ke suatu tempat kemudian dilakukan penutupan pada akhir pembuangan.” Menimbun sampah di dalam
tanah yaitu dengan cara menggali tanah dengan kedalaman tertentu lalu sampah dimasukkan kedalam
lubang dan setelah sampah penuh lalu dipadatkan dan di timbun lagi dengan tanah lalu dipadatkan.
Penimbunan jenis ini tentunya memiliki keuntungan diantaranya menimbun berbagai jenis sampah
dengan jumlah yang besar, modalnya relatif kecil, dan lahan akan menjadi lebih subur dan kerugiannya
dapat mencemari air tanah.