Anda di halaman 1dari 4

A.

JUDUL : Pengaruh Implementasi Model Kooperatif Tipe Rally Coach


Berbantuan Media Gambar Terhadap Minat dan Kemampuan
Menulis Narasi Pada Siswa Kelas V Gugus X Kaliuntu

B. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan nasional
Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Republik Indonesia alinea ke-4. Artinya, Negara berusaha untuk menjadikan
masyarakat yang cerdas dan mampu bersaing secara sehat. Untuk mewujudkan
tujuan tersebut, sebagai pendidik hendaknya mampu membimbing siswa untuk
mengembangkan kecerdasan, keterampilan, pengetahuan, dan kepribadian.
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006,
Pendidikan dasar memiliki tujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Berarti pendidikan sekolah dasar
seharusnya mampu mencetak generasi bangsa yang memiliki kecerdasan,
berpengetahuan luas, berakhlak mulia dan memiliki kepribadian yang baik
sehingga mampu bersaing ditingkat internasional. Standar Kompetensi Lulusan
Satuan Pendidikan (SKLSP) tahun 2006 pada jenjang pendidikan sekolah dasar
Kurikulum Tingkat Satuan Sekolah terdapa 17 kompetensi yang salah satunya
yaitu, Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan
berhitung. Kompetensi ini berkaitan dengan kecerdasan siswa dalam berbahasa
yang bias disebut dengan kecerdasan linguistik, Rahmawati (2016).
Pada dasarnya semua siswa sejak lahir memiliki semua jenis
kecerdasan, akan tetapi hanya satu atau dua macam kecerdasan yang
berkembang lebih baik. Perkembangan kecerdasan siswa bisa dipengaruhi
oleh faktor genetik dan lingkungan, sehingga setiap siswa mempunyai
kecerdasan yang berbeda-beda
Masalah bahasa dalam dunia pendidikan merupakan peranan yang sangat
penting. Pendidikan di Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah
satu bidang studi yang diajarkan di sekolah. Pengajaran bahasa Indonesia haruslah
berisi usaha-usaha yang dapat membawa serangkaian keterampilan. Keterampilan
tersebut erat hubungannya dengan proses-proses yang mendasari pikiran. Semakin
terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.
Menurut Tarigan dalam Muchlisoh dalam Sulistyaningsih (2010) ada empat aspek
keterampilan berbahasa yang mencakup dalam pengajaran bahasa adalah; 1)
keterampilan menyimak (listening skills), 2) keterampilan berbicara (speaking
skills), 3) keterampilan menulis (writting skills), keempat keterampilan tersebut
saling berhubungan satu sama lain.
Salah satu bidang aktivitas dan meteri pengajaran Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar yang memegang peranan penting ialah pengajaran menulis.
Rahmawati (2016) mengatakana bahwa, kemampuan menulis siswa dalam bahasa
Indonesia belum baik, hanya beberapa siswa saja yang sudah mampu membuat
karya pantun secara mandiri. Beberapa anak belum mampu membuat pantun
karena para siswa tersebut masih menjiplak dari contoh pantun yang ada di buku
paket bahasa Indonesia. Siswa masih membutuhkan bimbingan dari guru untuk
membuat suatu karya tertulis seperti pantun, sehingga kemampuan menulis siswa
masih perlu ditingkatkan lagi. Hal senada diungkap oleh Rosenblatt dalam
Marhaeni dalam Astawan dkk (2013) mengatakan bahwa pada dasarnya menulis
adalah suatu proses interaksi. Sebagai suatu proses interaksi, mengarang
melibatkan proses berfikir dan penuangan ide pengarang dalam suatu teks
karangan. Proses ini bukan suatu kegiatan sekali jadi, melainkan terjadi suatu
interaksi yang terus menerus antara pengarang dengan teks, sehingga terjadi suatu
“kesepakatan” antara pengarang dengan teks yaitu bentuk teks yang sudah jadi.
Dengan berorientasi pada situasi di atas diperlukan suatu inovasi strategi
pembelajaran menulis yang memadukan antara aktivitas belajar-mengajar dan
materi belajar yang kontekstual, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan
menulis siswa. Inovasi strategi pembelajaran yang dilakukan adalah menggunakan
model kooperatif tipe Rally Coach. According to Kagan in Maelina et.al (2016)
Rally Coach model is cooperative learning model that consists of a group of pairs,
partner A and partner B mutually solve the problems and pay attention and listen,
assess, praised even corrects when needed alternately. The model is useful to
develop students 'social skills, and communication skills, build knowledge
building, as well as students' thinking skills. Artinya adalah, Menurut Kagan
dalam Marlina dkk (2016) model Rally Coach adalah model pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari sekelompok pasangan, mitra A dan mitra B saling
memecahkan masalah dan memperhatikan dan mendengarkan, menilai, memuji
bahkan mengoreksi bila diperlukan secara bergantian. Model ini berguna untuk
mengembangkan keterampilan sosial siswa, dan keterampilan komunikasi,
membangun pengetahuan, serta keterampilan berpikir siswa.
Hali (2017) Mengatakan, Linguistic intelligence includes (1) phonology,
namely the ability of learners in issuing, imitating, or using the language
sounds, (2) morphology, the ability of learners to acquire vocabulary,
choose a vocabulary word that is appropriate, and develop it into a
combination of morpheme and word, (3) syntax, the ability of learners in
arranging acceptable phrases, clauses, and sentences, either a simple
sentence which consists of only one subject and one predicate, and also in
forming complex sentences with correct language structure, including the
ability to arrange simple essay in a discourse with elements of cohesion
and coherence in constructing ideas.
Artinya yaitu, Kecerdasan linguistik meliputi (1) fonologi, yaitu
kemampuan peserta didik dalam mengeluarkan, meniru, atau menggunakan bunyi
bahasa, (2) morfologi, kemampuan peserta didik untuk memperoleh kosakata,
memilih kata kosakata yang sesuai, dan mengembangkannya menjadi kombinasi
morfem dan kata, (3) sintaksis, kemampuan peserta didik dalam mengatur frasa
yang dapat diterima, klausa, dan kalimat, baik kalimat sederhana yang hanya
terdiri dari satu subjek dan satu predikat, dan juga dalam membentuk kalimat
kompleks dengan struktur bahasa yang benar, termasuk kemampuan untuk
menyusun esai sederhana dalam sebuah wacana dengan unsur-unsur kohesi dan
koherensi dalam membangun ide.

1.2 Identifikasi Masalah


1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Tujuan Penelitian
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Secara Teoritis
1.6.2 Manfaat Seacara Empiris