Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN

PRAKTIK PERAWATAN DAN PERBAIKAN

NO : 04

IDENTIFIKASI PENGUKURAN DAN PENGUJIAN KOMPONEN ELEKTRONIKA

Disusun Oleh:

Annisaa Nur’raudah Kuswandi (1316030023)

Rekan Praktik

1. Abidzar Khalid
2. Agtha Marlinda Putri
3. Ayu Zahrany

PROOGRAM STUDI TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018

1
IDENTIFIKASI PENGUKURAN DAN PENGUJIAN KOMPONEN ELEKTRONIKA

1.1 Tujuan
1. Melakukan identifikasi terhadap beberapa komponen elka
2. Mempelajari dan memahami ciri kerusakan komponen elka
3. Melakukan pengukuran dan pengujian komponen elka

1.2 Dasar Teori


 Resistor
Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi
aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkain elektronika. Sebagaimana fungsi resistor yang
sesuai namanya bersifat resistif dan termasuk salah satu komponen elektronika dalam kategori
komponen pasif. Satuan atau nilai resistansi suatu resistor di sebut Ohm dan dilambangkan dengan
simbol Omega (Ω). Sesuai hukum Ohm bahwa resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus
yang mengalir melaluinya. Selain nilai resistansinya (Ohm) resistor juga memiliki nilai yang lain
seperti nilai toleransi dan kapasitas daya yang mampu dilewatkannya. Semua nilai yang berkaitan
dengan resistor tersebut penting untuk diketahui dalam perancangan suatu rangkaian elektronika
oleh karena itu pabrikan resistor selalu mencantumkan dalam kemasan resistor tersebut.
Berikut adalah simbol resistor dalam bentukgambar ynag sering digunakan dalam suatu desain
rangkaian elektronika.

2
Resistor dalam suatu teori dan penulisan formula yang berhubungan dengan resistor
disimbolkan dengan huruf “R”. Kemudian pada desain skema elektronika resistor tetap
disimbolkan dengan huruf “R”, resistor variabel disimbolkan dengan huruf “VR” dan untuk
resistorjenis potensiometer ada yang disimbolkan dengan huruf “VR” dan “POT”.

Kapasitas daya pada resistor merupakan nilai daya maksimum yang mampu dilewatkan
oleh resistor tersebut. Nilai kapasitas daya resistor ini dapat dikenali dari ukuran fisik resistor dan
tulisan kapasitas daya dalamsatuan Watt untuk resistor dengan kemasan fisik besar. Menentukan
kapasitas daya resistor ini penting dilakukan untuk menghindari resistor rusak karena terjadi
kelebihan daya yang mengalir sehingga resistor terbakar dan sebagai bentuk efisiensi biaya dan
tempat dalam pembuatan rangkaian elektronika.

Toleransi resistor merupakan perubahan nilai resistansi dari nilai yang tercantum pada
badan resistor yang masih diperbolehkan dan dinyatakan resistor dalam kondisi baik. Toleransi
resistor merupakan salah satu perubahan karakteristik resistor yang terjadi akibat operasional
resistor tersebut. Nilai torleransi resistor ini ada beberapa macam yaitu resistor dengan toleransi
kerusakan 1% (resistor 1%), resistor dengan toleransi kesalahan 2% (resistor2%), resistor dengan
toleransi kesalahan 5% (resistor 5%) dan resistor dengan toleransi 10% (resistor 10%). Nilai
toleransi resistor ini selalu dicantumkan di kemasan resistor dengan kode warna maupun kode
huruf. Sebagai contoh resistor dengan toleransi 5% maka dituliskan dengan kode warna pada
cincin ke 4 warna emas atau dengan kode huruf J pada resistor dengan fisik kemasan besar.
Resistor yang banyak dijual dipasaran pada umumnya resistor 5% dan resistor 1%.

 Jenis-jenis Resistor

Berdasarkan jenis dan bahan yang digunakan untuk membuat resistor dibedakan menjadi resistor
kawat, resistor arang dan resistor oksida logam atau resistor metal film.

1. Resistor Kawat (Wirewound Resistor)

3
Resistor kawat atau wirewound resistor merupakan resistor yang dibuat dengan bahat kawat
yang dililitkan. Sehingga nilai resistansiresistor ditentukan dari panjangnya kawat yang dililitkan.
Resistor jenis ini pada umumnya dibuat dengan kapasitas daya yang besar.

2. Resistor Arang (Carbon Resistor)

Resistor arang atau resistor karbon merupakan resistor yang dibuat dengan bahan utama batang
arang atau karbon. Resistor karbon ini merupakan resistor yang banyak digunakan dan banyak
diperjual belikan. Dipasaran resistor jenis ini dapat kita jumpai dengan kapasitas daya 1/16 Watt,
1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt, 1 Watt, 2 Watt dan 3 Watt.

3. Resistor Oksida Logam (Metal Film Resistor)

4
Resistor oksida logam atau lebih dikenal dengan nama resistor metal film merupakan
resistor yang dibuah dengan bahan utama oksida logam yang memiliki karakteristik lebih baik.
Resistor metal film ini dapat ditemui dengan nilai tolerasni 1% dan 2%. Bentuk fisik resistor metal
film ini mirip denganresistor kabon hanya beda warna dan jumlah cicin warna yang digunakan
dalam penilaian resistor tersebut. Sama seperti resistorkarbon, resistor metal film ini juga
diproduksi dalam beberapa kapasitas daya yaitu 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt. Resistor metal film
ini banyak digunakan untuk keperluan pengukuran, perangkat industri dan perangkat militer.

Kemudian berdasarkan nilai resistansinya resistor dibedakan menjadi 2 jenis yaitu resistor
tetap (Fixed Resistor) dan resistor tidak tetap (Variable Resistor)

1. Resistor tetap(Fixed Resistor)


Resistor tetap merupakan resistor yang nilai resistansinya tidap dapat diubah atau tetap.
Resistor jenis ini biasa digunakan dalam rangkaian elektronika sebagai pembatas arus dalam
suatu rangkaian elektronika. Resistor tetap dapat kita temui dalam beberpa jenis, seperti :

 Metal Film Resistor


 Metal Oxide Resistor
 Carbon Film Resistor
 Ceramic Encased Wirewound
 Economy Wirewound
 Zero Ohm Jumper Wire
 S I P Resistor Network

2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor)


Resistor tidak tetap atau variable resistor terdiridari 2 tipe yaitu :

 Pontensiometer, tipe variable resistor yang dapat diatur nilai resistansinya secara
langsung karena telah dilengkapi dengan tuas kontrol. Potensiometer terdiri dari 2 jenis
yaitu Potensiometer Linier dan Potensiometer Logaritmis

5
 Trimer Potensiometer, yaitu tipe variable resistor yang membutuhkan alat bantu
(obeng) dalam mengatur nilai resistansinya. Pada umumnya resistor jenis ini disebut
dengan istilah “Trimer Potensiometer atau VR”
 Thermistor, yaitu tipe resistor variable yangnilairesistansinya akan berubah mengikuti
suhu disekitar resistor. Thermistor terdiri dari 2 jenis yaitu NTC dan PTC. Untuk lebih
detilnya thermistor akan dibahas dalam artikel yang lain.
 LDR (Light Depending Resistor), yaitu tipe resistor variabel yang nilai resistansinya
akan berubah mengikuti cahaya yang diterima oleh LDR tersebut.

 Menghitung Nilai Resistor


Nilai resistor dapat diketahui dengan kode warna dan kode huruf pada resistor. Resistor
dengan nilai resistansi ditentukan dengan kode warna dapat ditemukan pada resistor tetap dengan
kapasitas daya rendah, sedangkan nilai resistor yang ditentukan dengan kode huruf dapat ditemui
pada resistor tetap daaya besar dan resistor variable.
Cicin warna yang terdapat pada resistor terdiri dari 4 ring 5 dan 6 ring warna. Dari cicin
warna yang terdapat dari suatu resistor tersebut memiliki arti dan nilai dimana nilai resistansi
resistor dengan kode warna yaitu :

6
1. Resistor dengan 4 cincin kode warna

Maka cincin ke 1 dan ke 2 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 3 merupakan faktor
pengali kemudian cincin kode warnake 4 menunjukan nilai toleransi resistor.

2. Resistor dengan 5 cincin kode warna

Maka cincin ke 1, ke 2 dan ke 3 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 4 merupakan
faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 5 menunjukan nilai toleransi resistor.

3. Resistor dengan 6 cincin warna

Resistor dengan 6 cicin warna pada prinsipnya sama dengan resistor dengan 5 cincin warna dalam
menentukan nilai resistansinya. Cincin ke 6 menentukan coefisien temperatur yaitu temperatur
maksimum yang diijinkan untuk resistor tersebut.

 Kode Huruf Resistor


Resistor dengan kode huruf dapat kita baca nilai resistansinya dengan mudah karenanilia
resistansi dituliskan secara langsung. Pad umumnya resistor yang dituliskan dengan kode huruf
memiliki urutan penulisan kapasitas daya, nilai resistansi dan toleransi resistor. Kode huruf
digunakan untuk penulisan nilai resistansi dan toleransi resistor.

Kode Huruf Untuk Nilai Resistansi :

 R, berarti x1 (Ohm)
 K, berarti x1000 (KOhm)
 M, berarti x 1000000 (MOhm)

Kode Huruf Untuk Nilai Toleransi :

7
 F, untuk toleransi 1%
 G, untuk toleransi 2%
 J, untuk toleransi 5%
 K, untuk toleransi 10%
 M, untuk toleransi 20%

Dalam menentukan suatu resistor dalam suatu rangkaian elektronika yang harus diingat selain
menentukan nilai resistansinya adalah menentukankan kapasitas daya dan toleransinya. Hal ini
berkaitan dengan harga jual resistor dipasaran dan luas area yang dibutuhkan dalam meletakan
resistor pada rangkaian elektronika.

 Kapasitor
Kapasitor adalah salah satu jenis komponen elektronika yang memiliki kemampuan dapat
menyimpan muatan arus listrik di dalam medan listrik selama batas waktu tertentu dengan cara
mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan arus listrik tersebut. Kapasitor juga
memiliki sebutan lain, yakni kondensator. Kapasitor atau kondensator ini termasuk salah satu jenis
komponen pasif. Komponen yang satu ini ditemukan pertama kali oleh seorang ilmuan bernama
Michael Faraday yang lahir pada tahun 1791, dan wafat pada 1867. Karena itu satuan yang
digunakan untuk kapasitor adalah Farad (F) yang diambil dari nama ilmuan tersebut.
Sekedar informasi saja bahwa 1 Farad sama dengan 9 × 1011 cm2. Seperti yang telah kami
katakan tadi bahwa kapasitor punya nama lain kondensator. Kata “kondensator” sendiri pertama
kali disebut oleh seorang ilmuan berkebangsaan Italia bernama Alessandro Volta pada tahun
1782.Kata kondensator tersebut diambil dari bahasa Italia “condensatore”, yang berarti
kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik. Cara kerja kapasitor dalam sebuah
rangkaian elektronika terbilang sederhana. Listrik dialirkan menuju ke kapasitor atua kondensator.
Saat kapasitor sudah terisi penuh dengan arus listrik, maka kapasitor tersebut akan
mengeluarkan muatannya, dan kembali mengisinya lagi seperti awal. Proses tersebut berlangsung
terus-menerus dan begitu seterusnya. Pada umumnya kapasitor terbuat dari bahan dua buah
lempengan logam yang dipisahkan oleh bahan dielektrik. Bahan dielektrik sendiri adalah bahan
yang tidak bisa dialiri listrik (isolator) seperti ruang hampa udara, gelas, keramik, dan masih
banyak lagi yang lain. Jika kedua ujung plat logam diberikan aliran listrik, maka yang terjadi
adalah muatan positif akan berkumpul pada ujuang plat logam yang satunya atau sebaliknya karena

8
ada bahan dielektrik atau non konduktor, maka muatan positif tidak akan bisa menuju ke muatan
negatif, dan sebaliknya muatan negatif juga tidak akan bisa menuju ke muatan positif. Muatan
elektrik tersebut akan tersimpan selama tidak ada konduksi pada bagian ujung-ujung kaki
kapasitor.
Berikut adalah fungsi-fungsi dari kapasitor:

 Untuk menyimpan arus dan tegangan listrik sementara waktu


 Sebagai penyaring atau filter dalam sebuah rangkaian elektronika seperti power supply
atau adaptor

1. Untuk menghilangkan bouncing (percikan api) abila dipasang pada saklar


2. Sebagai kopling antara rangkaian elektronika satu dengan rangkaian elektronika yang lain
3. Untuk menghemat daya listrik apabila dipasang pada lampu neon
4. Sebagai isolator atau penahan arus listrik untuk arus DC atau searah
5. Sebagai konduktor atau menghantarkan arus listrik untuk arus AC atau bolak-balik
6. Untuk meratakan gelombang tegangan DC pada rangkaian pengubah tegangan AC ke DC
(adaptor)
7. Sebagai oscilator atau pembangkit gelombang AC (bolak-balik)

 Transistor
Secara umum, Transistor dapat digolongkan menjadi dua keluarga besar yaitu Transistor
Bipolar dan Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor). Perbedaan yang paling utama
diantara dua pengelompokkan tersebut adalah terletak pada bias Input (atau Output) yang
digunakannya. Transistor Bipolar memerlukan arus (current) untuk mengendalikan terminal
lainnya sedangkan Field Effect Transistor (FET) hanya menggunakan tegangan saja (tidak
memerlukan arus). Pada pengoperasiannya, Transistor Bipolar memerlukan muatan pembawa
(carrier) hole dan electron sedangkan FET hanya memerlukan salah satunya.

9
Berikut ini adalah jenis-jenis Transistor beserta penjelasan singkatnya.

1. Transistor Bipolar (BJT)


Transistor Bipolar adalah Transistor yang struktur dan prinsip kerjanya memerlukan
perpindahan muatan pembawanya yaitu electron di kutup negatif untuk mengisi kekurangan
electon atau hole di kutub positif. Bipolar berasal dari kata “bi” yang artinya adalah “dua” dan
kata “polar” yang artinya adalah “kutub”. Transistor Bipolar juga sering disebut juga dengan
singkatan BJT yang kepanjangannya adalah Bipolar Junction Transistor.

 Jenis-jenis Transistor Bipolar


Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP. Tiga
Terminal Transistor ini diantaranya adalah terminal Basis, Kolektor dan Emitor.

 Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang
lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
 Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang
lebih besar dari Emitor ke Kolektor.

Simbol Transistor Bipolar (BJT) dapat dilihat di gambar atas.

2. Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor)

10
Transistor Efek Medan atau Field Effect Transistor yang disingkat menjadi FET ini adalah
jenis Transistor yang menggunakan listrik untuk mengendalikan konduktifitasnya. Yang dimaksud
dengan Medan listrik disini adalah Tegangan listrik yang diberikan pada terminal Gate (G) untuk
mengendalikan aliran arus dan tegangan pada terminal Drain (D) ke terminal Source (S).
Transistor Efek Medan (FET) ini sering juga disebut sebagai Transistor Unipolar karena
pengoperasiannya hanya tergantung pada salah satu muatan pembawa saja, apakah muatan
pembawa tersebut merupakan Electron maupun Hole.

 Jenis-jenis Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor)


Transistor jenis FET ini terdiri dari tiga jenis yaitu Junction Field Effect Transistor (JFET),
Metal Oxide Semikonductor Field Effect Transistor (MOSFET) dan Uni Junction Transistor
(UJT).

o JFET (Junction Field Effect Transistor) adalah Transistor Efek Medanyang


menggunakan persimpangan (junction) p-n bias terbalik sebagai isolator antara Gerbang
(Gate) dan Kanalnya. JFET terdiri dari dua jenis yaitu JFET Kanal P (p-channel) dan JFET
Kanal N (n-channel). JFET terdiri dari tiga kaki terminal yang masing-masing terminal
tersebut diberi nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S).
o MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor) adalah Transistor Efek
Medan yang menggunakan Isolator (biasanya menggunakan Silicon Dioksida atau SiO2)
diantara Gerbang (Gate) dan Kanalnya. MOSFET ini juga terdiri dua jenis konfigurasi
yaitu MOSFET Depletion dan MOSFET Enhancement yang masing-masing jenis
MOSFET ini juga terbagi menjadi MOSFET Kanal-P (P-channel) dan MOSFET Kanal-N
(N-channel). MOSFET terdiri dari tiga kaki terminal yaitu Gate (G), Drain (D) dan Source
(S).
o UJT (Uni Junction Transistor) adalah jenis Transistor yang digolongkan sebagai Field
Effect Transistor (FET) karena pengoperasiannya juga menggunakan medan listrik atau
tegangan sebagai pengendalinya. Berbeda dengan jenis FET lainnya, UJT mememiliki dua
terminal Basis (B1 dan B2) dan 1 terminal Emitor. UJT digunakan khusus sebagai
pengendali (switch) dan tidak dapat dipergunakan sebagai penguat seperti jenis transistor
lainnya.

11
 Switch
Sakelar / switch adalah komponen mendasar dalam sebuah rangkaian listrik maupun
rangkaian kontrol sistem. Fungsi utamanya adalah menghubungkan, memutuskan dan mengubah
arah sambungan listrik. Meskipun sakelar adalah komponen yang sederhana, namun memiliki
fungsi yang paling vital di antara komponen listrik yang lain. Sakelar / switch terdiri dalam
berbagai macam , misalnya: toggle, push button, raotary, reed, proximity, hall effect, momentary,
pressure, rocker, magnetic, dip, slide, thumbwheel, lock dal lain-lain. Dari berbagai macam
sakelar / switch yang di buat oleh produsen sakelar, sebenarnya bisa di klasifikasi-kan dalam
beberapa jenis antara lain:

1. Menurut jumlah kaki / kutub-nya : SP, DP, 3P, dll.


2. Menurut jumlah posisi tertutup : Single Trow, double Trow.
3. Menurut jenis kontaknya : knife blade, butt contact, mercury.
4. Menurut jumlah breaks-nya: tunggal dan ganda.
5. Menurut metode isolasinya: air-break, oil immersed.
6. Menurut metode operasinya: manual, magnetik, motor, lever, dial, drum, snap.
7. Menurut kecepatan operasinya: quick break, quick make, slow break.
8. Menurut tempatnya/ casingnya: terbuka dan tertutup.
9. Menurut tingkat perlindungan terhadap perangkat.
10. Menurut jenis penggunaannya: sakelar daya, sakelar kabel / wiring, sakelar kontrol, sakelar
instrumental.

Jadi sakelar dibagi dalam berbagai macam menurut klasifikasi di atas. Pembagian tersebut bisa
mempermudah dalam penyebutan dan pemesanan kepada produsen.

o Toggle Switch ( sakelar toggle)

12
Sakelar jenis ini sering di digunakan pada perkakas elektronika sebagai sakelar catuan daya
utama.

o SPST

Sakelar sederhana jenis on dan off, biasa dipakai untuk sakelar penerangan atau baybuses
rumit yang memerlukan sakelar on off. Switch jenis ini hanya memungkinkan untuk mengubah
sirkuit antara terbuka dan tertutup.

o SPDT

Contoh pemakaian switch ini adalah jika kita membutuhkan beberapa perangkat dengan
tegangan yang berbeda (misalnya kipas angin). Jenis switch ini memungkinkan untuk merubah
antara dua jenis sirkuit tertutup dan sirkuit terbuka.

o DPST

13
Ini jenis SPST , namun memiliki beberapa (dua) kontak sekaligus untuk posisi tertutup.
Switch ini berguna jika dibutuhkan satu gerakan tertutup switch menyambungkan beberapa item
sekaligus.

o DPDT

Switch ini memiliki enam terminal dan memungkinkan untuk merubah dua arah yang
berbeda. Bisa dipakai dalam baybuses tegangan ganda serta mengubah tegangan di sirkuit yang
rumit.

o Momentary Switch ( kontak sementara) / Push Button

Normally Open (NO) biasa digunakan untuk tombol start atau yang lain yang memberikan
catuan saat ditekan dan terputus kembali saat di lepas. Normally Close (NC) biasa digunakan untuk
tombol stop atau yang lain yang memberikan catuan pada saat dilepas dan memutus catuan saat di
tekan.

14
 Diode
Dioda adalah komponen elektronika yang terdiri dari dua kutub dan berfungsi menyearahkan
arus. Komponen ini terdiri dari penggabungan dua semikonduktor yang masing-masing diberi
doping (penambahan material) yang berbeda, dan tambahan material konduktor untuk mengalirkan
listrik.

 Komponen Dioda

Struktur utama dioda adalah dua buah kutub elektroda berbahan konduktor yang masing-
masing terhubung dengan semikonduktor silikon jenis p dan silikon jenis n. Anoda adalah
elektroda yang terhubung dengan silikon jenis p dimana elektron yang terkandung lebih sedikit,
dan katoda adalah elektroda yang terhubung dengan silikon jenis n dimana elektron yang
terkandung lebih banyak. Pertemuan antara silikon n dan silikon p akan membentuk suatu
perbatasan yang disebut P-N Junction.
Material semikonduktor yang digunakan umumnya berupa silikon atau germanium.
Adapun semikonduktor jenis p diciptakan dengan menambahkan material yang memiliki elektron
valensi kurang dari 4 (Contoh: Boron) dan semikonduktor jenis n diciptakan dengan
menambahkan material yang memiliki elektro valensi lebih dari 4 (Contoh: Fosfor).
Secara sederhana, cara kerja dioda dapat dijelaskan dalam tiga kondisi, yaitu kondisi tanpa
tegangan (unbiased), diberikan tegangan positif (forward biased), dan tegangan negatif (reverse
iased).

 Kondisi tanpa tegangan


Pada kondisi tidak diberikan tegangan akan terbentuk suatu perbatasan medan listrik pada
daerah P-N junction. Hal ini terjadi diawali dengan proses difusi, yaitu bergeraknya muatan elektro
dari sisi n ke sisi p. Elektron-elektron tersebut akan menempati suatu tempat di sisi p yang disebut

15
dengan holes. Pergerakan elektron-elektron tersebut akan meninggalkan ion positif di sisi n, dan
holes yang terisi dengan elektron akan menimbulkan ion negatif di sisi p. Ion-ion tidak bergerak
ini akan membentuk medan listrik statis yang menjadi penghalang pergerakan elektron pada dioda.

 Kondisi tegangan positif (Forward-bias)


Pada kondisi ini, bagian anoda disambungkan dengan terminal positif sumber listrik dan bagian
katoda disambungkan dengan terminal negatif. Adanya tegangan eksternal akan mengakibatkan
ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing kutub. Ion-ion
negatif akan tertarik ke sisi anoda yang positif, dan ion-ion positif akan tertarik ke sisi katoda yang
negatif. Hilangnya penghalang-penghalang tersebut akan memungkinkan pergerakan elektron di
dalam dioda, sehingga arus listrik dapat mengalir seperti pada rangkaian tertutup.

 Kondisi tegangan negatif (Reverse-bias)


Pada kondisi ini, bagian anoda disambungkan dengan terminal negatif sumber listrik dan
bagian katoda disambungkan dengan terminal positif. Adanya tegangan eksternal akan
mengakibatkan ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing
kutub. Pemberian tegangan negatif akan membuat ion-ion negatif tertarik ke sisi katoda (n-type)
yang diberi tegangan positif, dan ion-ion positif tertarik ke sisi anoda (p-type) yang diberi tegangan

16
negatif. Pergerakan ion-ion tersebut searah dengan medan listrik statis yang menghalangi
pergerakan elektron, sehingga penghalang tersebut akan semakin tebal oleh ion-ion. Akibatnya,
listrik tidak dapat mengalir melalui dioda dan rangkaian diibaratkan menjadi rangkaian terbuka.

Dioda dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan karakteristik dan fungsinya. Jenis-jenis
dioda dan aplikasinya adalah sebagai berikut.

o PN Junction Diode: Dioda standar yang terdiri dari susunan PN dan memiliki cara kerja
seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dioda jenis ini adalah diode yang umum digunakan di
pasaran (disebut juga diode generik), digunakan terutama sebagai penyearah arus.
o Light Emitting Diode (LED): Saat dialiri arus forward-bias, LED akan mengeluarkan
cahaya. LED saat ini umum digunakan sebagai alat penerangan dan beberapa jenis
digunakan untuk menggantikan lampu fluorescent.
o Laser Diode: Dioda jenis laser juga menghasilkan cahaya, namun cahaya yang dihasilkan
adalah cahaya koheren. Aplikasi diode laser adalah perangkat pembaca CD dan DVD dan
laser pointer.
o Photodiode: Photodiode dapat menghasilkan energi listrik apabila daerah PN junction
disinari. Umumnya photodiode dioperasikan dalam reverse-bias, sehingga arus yang kecil
akibat cahaya dapat langsung terdeteksi. Photodiode digunakan untuk mendeteksi cahaya
(photodetector).
o Gunn Diode: Gunn Diode adalah jenis diode yang tidak memiliki PN Junction, melainkan
hanya terdiri dari dua elektroda. Dioda jenis ini dapat digunakan untuk menghasilkan sinyal
gelombang mikro.

17
o BARITT Diode: BARITT (Barrier Injection Transit Time) Diode adalah jenis diode yang
bekerja dengan prinsip emisi termionik. Dioda ini digunakan untuk memproduksi sinyal
gelombang mikro dengan level derau yang rendah.
o Tunnel Diode: Tunnel Diode adalah dioda yang bekerja memanfaatkan salah satu
fenomena mekanika kuantum yaitu tunneling. Tunnel junction digunakan sebagai salah
satu komponen pada osilator, penguat, atau pencampur sinyal, terutama karena
kecepatannya bereaksi terhadap perubahan tegangan.
o Backward Diode: Backward diode memiliki karakteristik serupa dengan tunnel,
perbedannya terletak pada adanya sisi yang diberi doping lebih rendah dibanding sisi yang
berlawanan. Perbedaan profil doping ini membuat backward diode memiliki karakteristik
tegangan-arus yang serupa pada kondisi reverse dan forward.
o PIN Diode: Pada dioda PIN, terdapat area semikonduktor intrinsic (tanpa doping) yang
diletakkan antara P dan N junction. Efek dari penambahan area intrinsic tersebut adalah
melebarnya area deplesi yang membatasi pergerakan elektron, dan hal ini tepat digunakan
untuk aplikasi pensinyalan (switching).
o Schottky Diode: Pada Schottky diode diberikan tambahan metal pada cuplikan permukaan
bagian tengah semikonduktor. Karakteristik yang menjadi keunggulan dioda ini adalah
tegangan aktivasi yang rendah dan waktu pemulihan yang singkat. Dioda ini sangat umum
digunakan untuk rangkaian elektronik berfrekuensi tinggi, seperti perangkat-perangkat
radio dan gerbang logika.
o Step Recovery Diode: Bagian semikonduktor pada dioda ini memiliki level doping yang
secara gradual menurun dengan titik terendah di junction. Modifikasi ini dapat mengurangi
waktu switching karena muatan yang ada pada daerah junction lebih sedikit. Aplaikasi dari
semikonduktor ini adalah pada alat-alat elektronik frekuensi radio.
o Varactor Diode: Diaplikasikan pada mode reverse biasa dengan lapisan penghalang yang
dapat berubah-ubah sesuai tegangan diberikan. Hal ini membuat dioda ini seolah-olah
merupakan suatu kapasitor.
o Zener diode: Memiliki karakteristik khusus yang mengingkan efek breakdown saat reverse
bias Dioda ini dapat menghasilkan tegangan yang tetap dan umum digunakan sebagai
penghasil tegangan referensi di rangkaian elektronik.

18
 Seven segment
Seven Segment Display memiliki 7 Segmen dimana setiap segmen dikendalikan secara ON dan
OFF untuk menampilkan angka yang diinginkan. Angka-angka dari 0 (nol) sampai 9 (Sembilan)
dapat ditampilkan dengan menggunakan beberapa kombinasi Segmen. Selain 0 – 9, Seven Segment
Display juga dapat menampilkan Huruf Hexadecimal dari A sampai F. Segmen atau elemen-
elemen pada Seven Segment Display diatur menjadi bentuk angka “8” yang agak miring ke kanan
dengan tujuan untuk mempermudah pembacaannya. Pada beberapa jenis Seven Segment Display,
terdapat juga penambahan “titik” yang menunjukan angka koma decimal. Terdapat beberapa jenis
Seven Segment Display, diantaranya adalah Incandescent bulbs, Fluorescent lamps (FL), Liquid
Crystal Display (LCD) dan Light Emitting Diode (LED).
Salah satu jenis Seven Segment Display yang sering digunakan oleh para penghobi
Elektronika adalah 7 Segmen yang menggunakan LED (Light Emitting Diode) sebagai
penerangnya. LED 7 Segmen ini umumnya memiliki 7 Segmen atau elemen garis dan 1 segmen
titik yang menandakan “koma” Desimal. Jadi Jumlah keseluruhan segmen atau elemen LED
sebenarnya adalah 8. Cara kerjanya pun boleh dikatakan mudah, ketika segmen atau elemen
tertentu diberikan arus listrik, maka Display akan menampilkan angka atau digit yang diinginkan
sesuai dengan kombinasi yang diberikan. Terdapat 2 Jenis LED 7 Segmen, diantaranya adalah
“LED 7 Segmen common Cathode” dan “LED 7 Segmen common Anode”.

 LED 7 Segmen Tipe Common Cathode (Katoda)


Pada LED 7 Segmen jenis Common Cathode (Katoda), Kaki Katoda pada semua segmen LED
adalah terhubung menjadi 1 Pin, sedangkan Kaki Anoda akan menjadi Input untuk masing-masing
Segmen LED. Kaki Katoda yang terhubung menjadi 1 Pin ini merupakan Terminal Negatif (-)
atau Ground sedangkan Signal Kendali (Control Signal) akan diberikan kepada masing-masing
Kaki Anoda Segmen LED.

19
 LED 7 Segmen Tipe Common Anode (Anoda)
Pada LED 7 Segmen jenis Common Anode (Anoda), Kaki Anoda pada semua segmen LED
adalah terhubung menjadi 1 Pin, sedangkan kaki Katoda akan menjadi Input untuk masing-masing
Segmen LED. Kaki Anoda yang terhubung menjadi 1 Pin ini akan diberikan Tegangan Positif (+)
dan Signal Kendali (control signal) akan diberikan kepada masing-masing Kaki Katoda Segmen
LED.

Berikut ini adalah Blok Diagram Dasar untuk mengendalikan LED 7 Segmen :

Blok Dekoder pada diagram diatas mengubah sinyal Input yang diberikan menjadi 8 jalur yaitu
“a” sampai “g” dan poin decimal (koma) untuk meng-ON-kan segmen sehingga menghasilkan

20
angka atau digit yang diinginkan. Contohnya, jika output dekoder adalah a, b, dan c, maka Segmen
LED akan menyala menjadi angka “7”. Jika Sinyal Input adalah berbentuk Analog, maka
diperlukan ADC (Analog to Digital Converter) untuk mengubah sinyal analog menjadi Digital
sebelum masuk ke Input Dekoder. Jika Sinyal Input sudah merupakan Sinyal Digital, maka
Dekoder akan menanganinya sendiri tanpa harus menggunakan ADC.
Fungsi daripada Blok Driver adalah untuk memberikan arus listrik yang cukup kepada
Segmen/Elemen LED untuk menyala. Pada Tipe Dekoder tertentu, Dekoder sendiri dapat
mengeluarkan Tegangan dan Arus listrik yang cukup untuk menyalakan Segmen LED maka Blok
Driver ini tidak diperlukan. Pada umumnya Driver untuk menyalakan 7 Segmen ini adalah terdiri
dari 8 Transistor Switch pada masing-masing elemen LED.

1.3 Alat dan bahan


1. Komponen mekanik
- Switch
2. Komponen pasif
- Resistor Carbon Film
- Resistor Metal Film
3. Komponen aktif
- Dioda
4. Protoboard
5. Multimeter
6. Power Supply

1.4 Langkah kerja


1. Kelompokan Kompenen berdasarkan sifatnya
2. Lakukan pengujian terhadap komponen denga indera (penglihatan, perabaan, penciuman)
dan dengan alat ukur
3. Lengkapi tabel kegiatan dibawah ini

21
Cara melakukan Hasil pengujian dan
NO Kompenen Tipe/code/Spesifikasi
pengujian keterangan singkat
Carbon film/390k Ω ± 5% nilai resistor yang didapat
1 Resistor Dengan multimeter
/ 1/2 W adalah 414k Ω
Metal Film/13k Ω ± 5% / nilai resistor yang didapat
2 Resistor Dengan multimeter
¼W adalah 832k Ω
Carbon Film/ 0.1 Ω ± 5% / nilai resistor yang didapat
3 Resistor Dengan multimeter
1W adalah 0.1 Ω
Resistor nilai resistor yang didapat
4 Trimpot / 100k Ω Dengan multimeter
Variabel adalah 69.9k Ω
Elco KMG/ 2200 µF / 35 Kapasitor dalam keadaan
5 Kapasitor Dengan multimeter
V, 105oC baik
Polyester / 474J / 0.47 µF nilai kapasitor yang didapat
6 Kapasitor Dengan multimeter
± 5% adalah 487.4 nF
Keramik/ 223Z Z5U / nilai kapasitor yang didapat
7 Kapasitor Dengan multimeter
6KV, 22 nF adalah 22.41 nF
Kaki tengah dan bawah
8 Switch DPST Dengan multimeter terhubung namun kaki atas
tidak
FET / BC 161/16 M9509 Nilai basis negative dan
9 Transistor Dengan multimeter
PH/ PNP semua kaki terhubung
MOSFET / 2SB507 B05/ Nilai basis negative dan
10 Transistor Dengan multimeter
PNP semua kaki terhubung
Dengan power LED menyala dengan
11 Dioda LED / Warna Merah
supply terang
12 Dioda Bridge/ W06 Dengan multimeter Dioda dalam keadaan baik
13 Dioda Zener / 0.6 V Dengan multimeter Dioda tidak short

22
Seven Seven segment tidak
14 Anoda Dengan multimeter
Segment menyala di setiap kaki

4. Cari salah satu contoh kasus kerusakan komponen dalam suatu rangkaian elka dan jelaskan.

1.5 Analisa
Pada pratikum ini kita harus bisa mengukur sebuah resistor dan mengetahui baik atau tidaknya
beberapa komponen elektronika. Multimeter adalah suatu alat perhitungan yang berfungsi untuk
mengukur tegangan, hambatan dan arus serta untuk mengetahui baik atau tidaknya suatu
komponen tertentu. Dalam pratikum ini kita akan menggunakan Multimeter digital.
Multimeter digital selain di gunakan untuk menghitung besarnya nilai dari suatu
tegangan,hambatan dan arus, multimeter ini juga di gunakan untuk mengetahui baik atau tidaknya
suatu komponen seperti komponen dioda, kapasitor, dan transistor serta mengukur tegangan AC 1
phasa.
Pada pratikum ini kita harus bisa mengukur sebuah resistor dan mengetahui baik atau tidaknya
beberapa komponen elektronika seperti resistor, dioda, dll. Resistor adalah terminal dua komponen
elektornik yang menghasilkan tegangan pada terminal yang sebanding dengan arus listrik.
Komponen resistor termasuk ke dalam komponen pasif yaitu komponen yang bekerja tanpa
memerlukan arus panjar. Pada komponen resistor biasanya terdapat 4 warna. 3 warna sebagai nilai
dan 1 warna sebagai toleransi. Apabila kita ingin mengukur besarnya nilai dari suatu komponen
resistor terlebih dahulu kita harus mengatur tombol putar pada multimeter yang kita gunakan
sesuai dengan kapasitas nilai dari resistornya, setelah itu lakukan kalibrasi supaya dapat
menghasilkan nilai yang baik. Sedangkan untuk pemasangan probenya kita dapat memasangnya
secara bolak balik.
Dioda adalah jenis komponen pasif yang berfungsi terutama sebagai penyearah. Dioda
memiliki dua kutub yaitu kutub anoda sebagai kutub positif dan kutub katoda sebagai kutub
negatif. Pengecekan dioda dilakukan untuk mengetahui baik atau rusaknya dan bocor atau tidaknya
komponen dioda tersebut. Sebelum melakukan pengecekan pada sebuah dioda kita harus mengatur
tombol putarnya pada x1. Kemudian atur probe hitam ke anoda dan probe merah ke katoda untuk
mengetahui baik atau tidaknya suatu komponen setelah itu atur probe hitam ke katoda dan probe
merah ke anado untuk mengetahui bocor atau tidaknya komponen dioda tersebut.

23
Selanjutnya pada pratikum ini kita juga mengukur komponen kapasitor, nama lain dari
komponen kapasitor adalah condensator. Sama hal nya dengan komponen resistor, komponen
kapasitor termasuk ke dalam komponen pasif yaitu komponen yang bekerja tanpa memerlukan
arus panjar. Kapasitor menurut polaritasnya terbagi atas dua yaitu kapasitor polar dan kapasitor
bipolar.
Perbedaan kapasitor polar dan bipolar adalah pada kapasitor polar memiliki polaritas positif
dan negativ sehingga dalam pemasangannya maupun pengukurannya harus memperhatikan kaki –
kakinya. Sedangkan pada kapasitor bipolar tidak sehingga dalam pemasangannya maupun
pengukurannya dapat di ukur dan di pasang bolak balik.
Dalam pengecekan komponen kapasitor kita hanya untuk mengetahui baik atau tidaknya
komponen kapasitor. Cara pengecekannya sama dengan pengecekan dioda yang berbeda pada
komponen kapasitor kita dapat mengatur probe sesuai dengan keinginan kita.
Dalam pratikum ini kita juga melakukan pengecekan pada transistor. Transistor adalah suatu
komponen alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya.
Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau
tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya.
Pada umumnya transitor memiliki 3 terminal yaitu basis,emitor dan kolektor. Tegangan yang
di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih
besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor. Transistor
terbagi atas 2 jenis yaitu transistor PNP (positif negatif positif) dan transistor NPN (negatif positif
negatif).
Dalam pegecekan transistor sama halnya dengan pengecekan kapasitor tetapi yang berbeda
adalah pada transistor PNP letak probe hitam di hubungkan pada kaki emitor atau kaki kolektor
sedangkan probe merah di hubungkan pada kaki basis. Sedangkan pada transistor NPN letak probe
hitam di hubungkan pada kaki basis sedangkan pada probe merah di hubungkan pada kaki emitor
dan kolektor.
Dari keseluruhan pengujian komponen-komponen elektronika, sebagian besar dalam
keadaan baik, hanya saja ada beberapa spesifikasi komponen yang tidak sesuai dengan informasi
dari komponen tersebut

24
1.6 Kesimpulan
1. Komponen memiliki tipe, kode, dan spesifikasi untuk mempermudah dalam memilih
komponen yang ingin digunakan pada rangkaian.
2. Multimeter dapat membaca nilai resistor, kapasitor, switch, transistor, dan beberapa dioda
3. Power Supply dapat digunakan untuk menguji LED dan Seven Segments
4. Resistor, kapasitor bipolar, dan dioda merupakan komponen pasif, yaitu komponen yang
bekerja tanpa memerlukan arus panjar.
5. Resistor mempunyai pita warna untuk menunjukkan nilai dari resistor.
6. Kapasitor dibagi menjadi dua, yaitu kapasitor polar dan kapasitor bipolar.
7. Salah satu fungsi dari diode adalah sebaai penyearah.
8. Transistor merupakan suatu komponen alat semikonduktor fungsinya, sebagai penguat,
switching, stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal.
9. Transistor mempunyai 3 kaki yaitu emitor, kolektor , dan basis.
10. Transistor dibagi menjadi 2 jenis yaitu PNP dan NPN.

25