Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, diharapkan perawat mampu

1. Melakukan pengkajian pada keluarga dengan koping tidak efektif.


2. Menetapkan diagnosis keperawatan pada keluarga dengan oping tidak efektif.
3. Melakukan tindakan keperawatan pada keluarga dengan koping tidak efektif.
4. Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif.
5. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pada keluarga koping tidak efektif.

Keluarga adalah sistem pendukung utama bagi pertumbuhan dan perkembangan optimal setiap
individu. Keluarga dapat mengalami disfungsi dalam menjalankan perannya, yang terutama dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan seperti bencana tsunami yang menyebabkan keluarga terpencar-pencar sehingga
peran keluarga sulit dijalankan.
Koping keluarga tidak efektif adalah suatu keadaan keluarga yang menunjukan resiko tinggi perilaku
destruktif dalam berespon terhadap ketidakmampuan untuk mengatasi stresor internal atau eksternal karena
ketidakmampuan ( fisik, psikologis, dan kognitif ) yang dimiliki.

Tanda dan Gejala


Data yang dapat ditemuka di dalam keluarga meliputi ketegangan dalam keluarga, menurunnya
toleransi satu sama lain, permusuhan dalam keluarga, perasan malu dan bersalah, perasaan tidak berdaya,
agitasi, mengingkari masalah, harga diri rendah, dan penolakan.
Penyebab gangguan ini adalah :
1. Orang yang penting atau berpengaruh dalam keluarga tidak mampu mengekspresikan perasaan
seperti memendam rasa bersalah, kecemasan, permusuhan, keputusasaan.
2. Pola pengambilan keputusan keluarga yang sewenang-wenang (otoriter).
3. Hubungan antar anggota keluarga yang penuh keragu-raguan.

Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat melalui wawancara dan observasi, perawat dapat merumuskan diagnosis
keperawatan pada keluarga sebagai Koping keluarga tidak efektif.

Tindakan Keperawatan

Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga :

1. Mendiskusikan masalah yang dihadapi oleh keluarga.


2. Mengidentifikasi koping yang dimiliki keluarga.
3. Mendiskusikan tindakan atau koping yang dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah.
4. Mendiskusikan alternatif koping atau cara penyelesaian masalah yang baru.
5. Melatih menggunakan koping atau cara mengatasi masalah yang baru.
6. Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif.

Tindakan yang harus dilakukan :


1. Bina hubungan saling percaya. Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan
rasa aman dan nyaman keluarga saat berinteraksi. Tindakan yang dapat dilakukan dalam rangka
membina hubungan saling percaya adalah :
a. Mengucapkan salam terapeutik.
b. Berjabatan tangan sambil mengenalkan nama.
c. Menjelaskan tujuan interaksi.
d. Membuat kontrak, waktu, tempat setiap kali pertemuan dengan keluarga.
2. Identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga, meliputi asal masalah, jumlah, sifat, dan
waktunya.
3. Diskusikan koping atau upaya yang bisa dilakukan keluarga
a. Mekanisme koping yang selalu digunakan menghadapi masalah.
b. Mengungkapkan perasaan setelah menggunakan koping yang bisa digunakan.
4. Diskusikan alternatif koping
a. Keterbukaan dalam keluarga, membahas masalah yang dihadapi dalam keluarga, membahas
cara-cara menyelesaikan masalah danmembagi tugas penyelesaian masalah.
b. Melakukan kegiatan yang disukai ( olahraga, jalan-jalan, dll )untuk mengembalikan energi
dan semangat ( break sesaat ) .
c. Mencari dukungan sosial yang lain
d. Memohon pertolongan kepada Tuhan.
e. Melatih keluarga menggunakan koping yang efektif.
f. Mengevaluasi kemampuan keluarga menggunakan koping yang efektif.

SP 1. Membina hubungan saling percaya, identifikasi masalah yang dihadapi oleh keluarga, koping yang
dimiliki keluarga, tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah, dan alternatif koping.
Orientasi
Selamat pagi. Perkenalkan nama saya ibu Rini, dari puskesmas ...........
Nama Bapak/Ibu siapa dan senang di panggil apa ?
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini ? adakah yang sedang Bapak?ibu pikirkan ?
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang perasaan atau masalah yang Bapak/Ibu hadapi dalam
keluarga ? Mau berapa lama ? Bagaimana kalau 30 menit ? Mau duduk dimana ? Bagaimana kalau di ruang
tamu saja ?
Kerja
Apakah masalah yang Bapak/Ibu alami dalam keluarga ? Apakah ada anggota keluarga yang dirasakan
menjadi sumber masalah ? ( kaji semua anggta keluarga, untuk menemukan asal, jumlah, dan waktu
kejadiannya ).
SP 2. Latihan bicara terbuka.
Apakah bapak/ibu pernah merkan tidak berdaya ? Apakah bapak/ibu merasakan benci atau marah ? Apakah
bapak berharap mempunyai keberanian untuk bicara atau mengharap orang lain yang bicara ?
Apakah bapak merasa tertekan ?
Kalau bapak merasa tertekan apa yang bapak lakukan ?
Bagaimana perasaan bapak setelah melakukannya ?Apakah bapak merasa sulit berhadaapan dengan orang
lain ?
Apakah bapak diam tetapi mengerutu dalam hati ?
Apakah akhirnya bapak bicara, tetapi tampak sangat marah ?
Apakah bapak mengatakan Ya, padahal Tidak ?
Apakah bapak pernah perlu memberikan nasehat pada orang lain ?Apakah bapak menghindari masalah,
dan hanya berharap akan ada perubahan ?
Apakah bapak pernah marah-marah menhabiskan tenaga ?
Apakah bapak bersikap kasar untuk mendapatkan pembenaran ?
Semua perasaan itu normal kita rasakan
Nah, mari kita belajar berbicara secara terbuka atau disebut asertif, yaitu menyampaikan perasaan kita
kepada orang yang bersangkutansecara spontan sesuai dengan situasi yang mendukung, sehingga orang lain
memahami apa maksuddan tujuan kita sertamemahami alasan keberatan yang disampaikan. Apakah ada
hal yang sangat menggangguyang ingin bapak/ibu sampaikan ? saya akan mendampingi bapak/ibu melatih
tekhnik ini. Mari kita latihan, bapak/ibu sampaikan masalah yang bapak rasakankepada istri/suami dengan
nada baik tanpa emosional. Bagus sekali. Bapak/ibu telah mencoba. Bagamana persaan bpak/ibu setelah
bapak/ibu mengungkapkan masalah ?
Bagaimana perasaan istri/suami setelah mendengar masalah bapak/ibu ?

Terminasi
Baik pak/bu, bagaimana perasaan bapak/ibu setalah kita berbincang-bincang ?
Bisakah bapak/ibu ulangi apa saja yang sudah kita diskusikan ? Bagus sekali.
Bapak/ibu telah mencoba latihan asertif, jika nanti ada yang ingin disampaikan bapak/ibu bisa mencobanya
lagi. Minggu depan, saya akan datang kesini untuk membicarakan cara penyelesaian masalah yang
bapak/ibu rasakan. Selamat pagi.

SP 3. Latihan penyelesaian masalah


Orientasi
Selamat pagi pak/bu, sesuai dengan janji saya datang lagi.
Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini ? Apakah udah dicoba cara yang kita bahas minggu lalu ?
Baik, sekarang kita akan membicarakan cara menelesaikan masalah yang ibu anggap paling benar. Berapa
lama ? Bagaimana kalau 30 menit ?
Di mana kita akan berbincang-bincang ? Bagaimana kalau di ruang tamu ?

Kerja
Mana masalah keluarga yang paling berat menurut bapak/ibu ?
Apakah kira-kira penyebab masalah itu ?
Apa usaha yang sudah bapak ibu lakukan untuk menyelesaikannya ? Bagaimana hasilnya, apakah selalu
berhasil ? Masih adakan cara lain yang ibu lakukan ? Bagus sekali. Ibu memiliki beberapa kemampuan
untuk mengatasi masalah. Mari, kita diskusikan alternatif lain untuk menyelesaikan maslaah bapak/ibu.
Coba kita bicarakan keuntungan masing-masing alternatif. Nah, mana yang akan bapak/ibu pilih untuk
dicoba ? Bagus sekali.

Terminasi
Bagaimana perasan ibu setelah kita berbincang-bincang ? Apa saja tadi cara yang dapat menyelesaikan
masalah ibu ? Minggu depan, kita akan bertemu lagi dan tolong coba cara yang bapak/ibu pilih tadi. Kita
akan membicarakan maslah lain yang belum terselesaikan. Sampai jumpa. Selamat pagi.

Evaluasi
Untuk menilai kemampuan keluarga yang memiliki koping tidak efektif, menggunakan format penilaian
berikut.

PENILAIAN KEMAMPUAN KELUARGA


DENGAN KOPING TIDAK EFEKTIF

Nama pasien :____________________


Nama perawat :___________________

Petunjuk pengisian :
1. Berilah tanda ( √ ) jikat keluarga mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.

Kemampuan Tanggal
SP 1
1. Menyebutkan masalah yang dihadapi : asal, sifat, waktu, dan
jumlah.
2. Menyebutkan koping yang selalu digunakan menyelesaikan
masalah.
SP 2
1. Mempraktikan cara bicara terbuka
SP 3
1. Mempraktikkan cara penyelesaian masalah
SP 4
1. Mengekspresikan pikiran dan perasaan secara nonverbal.

PENILAIAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM MERAWAT KELUARGA


DENGAN KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF

Nama pasien : ____________________

Nama perawat : _______________

Petunjuk pengisian :
1. Berilah tanda ( √ ) jikat keluarga mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan penilaian.

Kemampuan Tanggal
SP 1
1. Mengidentifikasi maslah yang dihadapi : asal, sifat, waktu,
dan jumlah.
2. Mengidentifikasi koping yang selalu digunakan
menyelesaikan masalah.
3. Membantu keluarga menggunakan koping yang efektif.
4. Mengidentifikasi koping yang efektif.
Nilai SP 1
SP 2
1. Membantu keluaga mempraktikkan latihan bicara terbuka
Nilai SP 2
SP 3
1. Membantu keluarga mepraktikkan penyelesaian maslah
Nilai SP 3

Total Nilai

Penilai :

____________________
Dokumentasi

Di bawah ini adalah contoh dokumentasi asuhan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat keluarga
koping tidak efektif.

CATATAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

Nama Pasien : Keluarga Bapak A


Nama Puskesmas : Puskesmas Bireun
Nama KK : Bapak A
Umur : 35 tahun
Tanggal : 5 Juni 2006

Data

Keluarga Bapak A mengalami masalah dalam keluarganya sejak kejadian tsunami dan gempa. Bapak
A sendiri merasa tidak berdaya menghadapi kenyataan rumah dan tempat usahanya habis dilanda
tsunami. Bapak A sering merasa bersalah melihat kondisi keluarganya saat ini karena ia belum
menemukan usaha yang tepat. Istrinya sering mengeluh pusing tanpa sebab yang jelas. Bapak A sering
merasa minder membandingkan keluarga dengan keluarga lain yang sama-sama korban, tetapi Bapak
A merasa orang lain tidak separah kondisi dirinya. Dua anak Bapak A terpaksa tidak melanjutkan
pendidikan karena belum ada biaya.

Diagnosis Keperawatan

Koping keluarga tidak efektif

Tindakan Keperawatan

1. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi keluarga


2. Membantu keluarga untuk mengidentifikasi koping yang dimiliki dan di gunakan.
3. Memberi pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang cara-cara penyelesaian masalah.

Evaluasi

Subjektif

Bapak A mengatakan :

 Perasaannya tidak nyaman, merasa bersalah kepada keluarganya.


 Karena merasa bersalah, dirinya jadi sering marah pada istri dan anak.
 Anak pasien yang kedua meninggalmdi Banda Aceh saat bencan tsunami datang.
 Cara baru yang bisa dilakukan adalah bicara terbuka, mendekatkan diri kepada ALLAH,
break, dan mencari dukungan sosial.
Objektif
Ekspresi murung, bicara dan kontak mata seperlunya.

Analisis
Masalah belum teratasi

Perencanaan
Mengajarkan latihan bicara terbuka.

Tanda Tangan : _________


Nama Perawat : Nurazimah