Anda di halaman 1dari 19

SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA

Oleh: Anja Pradnyaparamita (51412109)

Universitas Kristen Petra Surabaya

I. Fungsi dan Kegunaan

Sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia, sedangkan hasilnya adalah sekian
banyak puisi, cerita pendek, novel, roman, dan naskah drama berbahasa Indonesia. Akan
tetapi, definisi yang singkat dan sederhana itu dapat didebat dengan pendapat yang
mengatakan bahwa sastra Indonesia adalah kesuluruhan sastra yang berkembang di
Indonesia selama ini. Istilah sastra klasik Indonesia dipergunakan oleh Robson (1978)
dengan pengertian keseluruhan sastra daerah yang berkembang di Indonesia sebelum
zaman modern atau sebelum abad ke-19. Perlu dicatat bahwa sekarang pun berkembang
sastra-sastra daerah (sastra Sunda, Jawa, Bali, dan lain-lain) bersamaan dengan sastra
(berbahasa) Indonesia. Jadi, istilah sastra klasik Indonesia tidak berhubungan dengan istilah
sastra Indonesia modern yang terbatas pada sastra berbahasa Indonesia. Paparan singkat itu
memberikan gambaran bahwa istilah sastra Indonesia ternyata tidak bermakna tunggal.
Oleh karena itu, diperlukan kesepakatan normatif agar jelas maknanya dalam konteks
pengkajian tertentu. Adapun hasilnya berupa ribuan teks puisi, ratusan cerita pendek
(cerpen), ratusan novel atau roman, dan puluhan sastra drama yang telah tercetak di koran,
majalah, dan buku. Semuanya merupakan khazanah pemikiran budaya bangsa yang telah
diaktualisasikan oleh para pengarang dengan semangat zaman dan gaya pengucapan
masing-masing. Dalam rentang sejarah sastra Indonesia selama ini tercatat sejumlah teks
sastra yang boleh dikatakan “menembus zaman” dengan pengertian tidak hanya dibaca oleh
generasi semasa penciptaan, tetapi juga dibaca oleh generasi semasa penciptaan, tetapi juga
dibaca oleh generasi kemudian. (K.S., Yudiono. 2007, p. 11-13)

Sastra wangi muncul pada awal 2000an, dengan ciri khas penuh dengan ekspresi
pengarang, bebas, dan terbuka terutama dalam mengangkat hal yang tabu, yang awalnya

1 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


tidak layak diperbincangkan menjadi layak untuk dipublikasikan. Tentu saja yang paling
dominan dalam sastra wangi adalah bidang seksualitas, baik dari segi psikologis maupun
sosiologis karena sastra wangi mengandung unsur seksualitas yang frontal dan telanjang.
Para penulis sastra wangi didominasi oleh perempuan-perempuan urban, sangat mencolok
karena biasanya penulis sastra merupakan para lelaki. Para penulis sastra wangi
menyuguhkan kehidupan yang selalu terlihat sebagai sisi gelap atau negatif dengan
kemasan yang menarik dengan berbagai sudut pandang. Sastra wangi banyak menimbulkan
pro dan kontra dari berbagai kaum karena membuat norma-norma yang sudah ada terlihat
menyimpang.

Ibnu Wahyudi (Dosen UI) menulis dalam salah satu jurnal mengatakan sastra wangi
adalah istilah sesaat bagi kepopuleran sastra generasi perempuan yang mengandalkan
tubuh. Dari definisi tersebut nampak jelas, bahwa penulis perempuan tersebut tidak hanya
mengandalkan karyanya, tapi kecantikan dan seksinya penulis. Suatu Hal yang tidak dapat
dipungkiri adalah, dinamika kesastraan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini
diramaikan oleh para pengarang wanita. Dari situlah kehidupan sastra Indonesia semakin
riuh—dengan munculnya beberapa penulis wanita—yang usianya relatif cukup muda, dan
dengan kecenderungan berkarya yang kian beragam, bebas , dan berani. Sehingga banyak
pemikir dan penikmat sastra, mereka disebut-sebut sebagai sastra wangi. Karena merujuk
pada karya sastra yang diciptakan kaum perempuan (Lampung Post, Soroso). Tetapi hal
yang lebih dasar lagi dari sastra wangi adalah seringnya diwarnai tema seks yang bahkan
sedikit vulgar, namun ada semangat feminisme, dengan setting dengan latar belakang yang
menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari (terutama kelas ekonomi atas) dibarengi
dengan tumbuhnya individualisme dan ego yang tinggi. Seperti yang pernah ditulis oleh
Saut Situmorang dalam ”Politik Kanoniasi Sastra 3” sastra wangi banyak mengangkat
seksualitas, dan itu dijadikan sebagai isu yang paling menghantui kepala-kepala jelita para
perempuan muda urban Indonesia, para perempuan yang konon berpendidikan tinggi dan
mandiri secara ekonomi.

Memang karya sastra adalah sebuah cerminan zaman yang penulis alami, suatu
refleksi atas suatu pengalaman dan menulis dijadikan sebagai jalan perenungan. Tapi

2 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


kedatangannya karya mereka di dunia sastra Indonesia tidak lepas hanya sebuah cerminan
fiktif. Akan tetapi, dunia fiktif ini bisa jadi mengandung nilai-nilai yang menjadi alternatif
dari nilai-nilai yang selama ini mendominasi di dunia nyata. Nilai-nilai yang disodorkan
dalam karya sastra ini bisa jadi baik atau bahkan lebih buruk, tergantung dari masyarakat
yang mengkonsumsi karya sastra yang dimaksud. Penulis hanya memainkan parodi,
paradok, dan ironi, sehingga tidak bisa memaksa masyarakat untuk menganut nilai-nilai
dan norma-norma sosial tertentu. Namun, apa yang ditulisnya bisa menyuguhkan sesuatu
yang up to date dan sedikit banyak bisa memberikan pengaruh kepada masyarakat,
walaupun dari segi emosional. Sebenarnya banyak novel yang berbau seksual, tapi tidak
sevulgar novel-novel dari sastra wangi. Begitu eksplisitnya penggambaran tentang bagian
selakangan, tanpa rasa malu. Sehingga bisa dipastikan karya-karya dari sastra wangi
banyak yang menyengat aroma selakangan dan seks dijadikan permasalahan utama dalam
penulisan. Kalau dimasukkan dalam jajaran segmen, jelas karya mereka sudah pasti masuk
dalam segmen pembaca dewasa.

Bukan hanya seks dan kevulgaran dalam pendeskripsian. Ditengok dari sudut
pandang lain penulis sastra wangi juga banyak mengangkat ajaran moral yang baik, kritikan
terhadap pemerintah, dan pernyataan gender. (Agus Sulton, 2010)

II. Tokoh Penting

Berikut beberapa penulis sastra wangi yang mempunyai reputasi nasional dan
internasional.

a. Ayu Utami

Ayu Utami, Saman (DKJ, 1998) adalah awal mula tonggak dominasi genre sastra
baru di dunia ketiga, yaitu ”sastra wangi” tahun 2000-an. Namun kedatangan sastra wangi
banyak yang memperdebatkan. (Agus Sulton, 2010)

3 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Ayu Utami adalah penulis Indonesia yang memenangkan penghargaan nobel
Pangeran Claus 2000. Karyanya dianggap telah memperluas cakrawala sastra Indonesia.
Saman, novel debutnya, memenangkan juara pertama dari Dewan Kesenian Jakarta pada
tahun 1998, menjadi best seller dan telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Selama
rezim militer Indonesia ia adalah seorang jurnalis dan aktivis kebebasan. Dia adalah salah
satu pendiri dari Aliansi Jurnalis Independen, sebuah organisasi yang kemudian dilarang
oleh Soeharto. Setelah perubahan politik, ia fokus menulis novel. Cerita-cerita yang ia buat
mencerminkan masyarakat Indonesia dan situasi politik di negara pada saat itu. Di antara
karya-karyanya ada trilogi 'True Stories' (Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, Pengakuan
Eks-Parasit Lajang) yang berbicara secara terbuka mengenai seks dan hubungan gender,
dan serial 'Bilangan Fu', novel misteri yang berhubungan dengan budaya dan warisan
Indonesia. Ayu Utami juga bekerja di Komunitas Salihara, sebuah pusat seni independen di
Jakarta. (Ubud Writers Festival, 2013)

Saman, yang diluncurkan pada 1998 sempat membuat heboh dunia sastra Indonesia.
Di novel itu, Ayu dianggap terlalu berani. Dia mendobrak norma dan bicara hal yang masih
tabu bagi sebagian besar orang Indonesia. Di novel itu, Ayu Utami bicara amat terbuka soal
seks. Tak hanya berhenti di situ. Ayu masih terus menggebrak kemapanan di novel
berikutnya, Larung dan Bilangan Fu. “Orang bilang saya pendobrak. Tapi, saya bukan anti
kemapanan,” kata Ayu. “Kalau ada yang tidak adil, maka perlu dibicarakan. Dan,
pemberontakan bukan tujuan utama saya.” Ketidakadilan dan moralitas berlebihan sangat
mengganggu Ayu. Ketika bisa bikin novel, lulusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas
Indonesia pada 1994 ini ingin membebaskan bahasa Indonesia dari moralitas berlebihan itu.
Sekalian, tentunya menggugat banyaknya ketidakadilan pada perempuan. Pada Bilangan
Fu, pendobrakan itu makin luas. Ayu juga menggugat fundamentalisme yang selama
sepuluh tahun belakangan ini makin berlebihan. (Tanjung, 2009)

Pada sebuah percakapan online, saya memberanikan diri bertanya kepada Mbak
Ayu Utami pendapat beliau mengenai sastra wangi. “Sastra wangi bukan istilah kritik
sastra, tapi istilah media untuk penulis perempuan urban yang tampak berbeda dari
penulis-penulis pria agraris sebelumnya,” balas perempuan Katolik kelahiran 21 November

4 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


1968 ini. “Jadi yang memakai istilah sastra wangi biasanya tidak bicara soal isi sastra
melainkan tentang tampilan penulisnya.”

Karya-karya Ayu Utami:

a. Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998

b. Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001

c. Kumpulan Esai "Si Parasit Lajang", GagasMedia, Jakarta, 2003

d. Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008

e. Novel Manjali dan Cakrabirawa (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2010

f. Novel Cerita Cinta Enrico, KPG, Jakarta, 2012

g. Novel Soegija: 100% Indonesia, KPG, Jakarta, 2012

h. Novel Lalita (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2012

i. Novel Si Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013

j. Novel Pengakuan: Eks Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013

Penghargaan:

a. Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998

b. Prince Claus Award 2000

b. Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu adalah seorang wanita kelahiran Jakarta, 10 Januari


1970, anak dari Sjumandjaya dan Toety Kirana. Janda dari Edi Wijaya, dan mempunyai

5 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


dua orang anak, Banyu Bening dan Batari Maharani. Djenar Maesa Ayu adalah salah satu
penulis perempuan Indonesia yang cukup menonjol. Cerpen-cerpennya yang bernuansa
feminine membuat namanya dikenal dan diperhitungkan. Namanya semakin melambung
saat dia terjun ke dunia film. Djenar mengawali kariernya sebagai penulis cerita pendek
(cerpen) dan kemudian menulis novel. Dia lahir dari keluarga yang dekat dengan seni.
Ayahnya Sjumandjaya adalah seorang penulis dan sutradara terkemuka, sedangkan ibunya
Toety Kirana adalah aktris era '70an. Dari kecil Djenar telah terbiasa dengan aktivitas
seperti baca buku sastra, dan nonton film. Dalam menulis Djenar mengaku berguru pada
nama-nama besar seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan Sutardji Coulzum
Bachri. Mereka, menurut Djenar, memperkenalkannya pada keberanian dalam menulis.
Keberaniannya menulis bertema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dari kebangkitan
perempuan pengarang era 2000-an. Sejumlah cerpennya dianggap banyak kritikus sastra
sebagai karya yang mengelaborasi tema seksualitas dan dunia perempuan. Tak jarang,
setiap karyanya terbit, selalu disertai kontroversi. Dia tak segan memasukan sejumlah tema-
tema krusial seksualitas berikut idiom dan frasanya, seperti hubungan tak lazim dalam
dunia seks, dan sejumlah tema pemberontakan perempuan yang selama ini masih jarang
dijamah penulis lain. Karya-karya Djenar banyak mendobrak tabu dan tak jarang dinilai
vulgar. Namun di sisi lain banyak yang menilai karyanya mencerahkan.

Djenar termasuk perempuan penulis yang produktif. Dalam kurun waktu tujuh
tahun, empat judul buku sudah tergarap, dan tiga di antaranya itu masuk sebagai shortlist
anugerah sastra tahunan Khatulistiwa Literary Award tahun 2002, 2004 dan 2006. Dan
setiap buku karyanya selalu termasuk deretan daftar buku best seller. Buku pertama Djenar
yang berjudul „Mereka Bilang, Saya Monyet!‟ telah cetak ulang sebanyak delapan kali dan
masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain itu,
buku ini juga akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Cerpen „Waktu Nayla‟ menyabet
predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen „Asmoro‟ dalam
antologi cerpen pilihan Kompas itu. Sementara cerpen „Menyusu Ayah‟ menjadi Cerpen
Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa
Inggris dengan judul „Suckling Father‟ untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan

6 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan. Buku keduanya,
„Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)‟ juga meraih sukses dan cetak ulang kedua hanya
dua hari setelah buku itu diluncurkan pada bulan Februari 2005. Kumpulan cerpen berhasil
ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004. „Nayla‟ adalah novel
pertama Djenar yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Bukunya yang terbaru
berjudul „Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek‟, yang merupakan kumpulan cerpen.
Djenar akhirnya mengikuti jejak orang tuanya dengan terjun ke dunia film. Filmya yang
paling terkenal adalah Film Mereka Bilang, Saya Monyet! Yang digubah dari cerpennya
sendiri dan disutradarainya sendiri.

Menurut Djenar dia membuat film itu karena selalu saja ada niat untuk menuangkan
sisi-sisi keberanian feminis yang berbeda. Berbeda dengan buku dalam film ini, dia bisa
menuangkan kekayaan sastra dalam bentuk visual. Memang sebagaimana bukunya, film
Djenar masih kental dengan feminisme. Karena itu orang menilai karya kakak musisi
Aksan Sjuman itu tak jauh dari tema tentang seks dan kekerasan seks. Bahkan sisi
kehidupan pribadinya juga dihadirkan dalam filmnya. Sebelum filmnya yang terkenal,
Djenar mengaku telah membuat sebuah film, sayangnya tak bisa diterima penonton
Indonesia. Menurut dia hal itu mungkin memang bukan pasarnya di Indonesia. (Viva Life)

Karya Djenar

2002 Mereka Bilang, Saya Monyet!, kumpulan cerpen

2003 Jangan Main-main Dengan Kelaminmu, kumpulan cerpen

2005 Naila, novel

2006 Cerita Pendek tentang Cerita yang Pendek, kumpulan cerpen

2008 Ranjang, novel

7 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


FILMOGRAFI

1990 Boneka dari Indiana

2006 Koper

2007 Mereka Bilang, Saya Monyet!

2008 Cinta Setaman

2009 Dikejar Setan

2010 Melodi

2011 Purple Love

ACARA TELEVISI

2006 Fenomena

2007 Silat Lidah

PENGHARGAAN

2003 Buku Mereka Bilang Saya Monyet masuk dalam nominasi 10 besar buku
terbaik Khatulistiwa Literary Award

Cerpen “Waktu Nayla” menyabet predikat Cerpen Terbaik Kompas

Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan

2004 Buku Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) berhasil ini meraih


penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award

8 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


c. Fira Basuki

Seorang wanita kelahiran Surabaya, 7 Juni 1972, sastrawan berkebangsaan


Indonesia, dan menjabat sebagai pemimpin redaksi di majalah Cosmopolitan, Fira Basuki.

“Bagi dia, menulis adalah kebutuhan. Sama seperti makan, minum bahkan
bernafas, jika tidak menulis, ia akan merasa blingsatan.”

Sejak masih kanak-kanak, Fira Basuki sudah yakin kalau dirinya terlahir untuk
menjadi penulis. Bakat menulisnya mulai terasah saat ia masih berseragam sekolah. Saat
duduk di bangku SMU, Fira terbilang rajin mengikuti berbagai lomba menulis yang
diselenggarakan oleh majalah-majalah seperti Tempo dan Gadis. Beberapa lomba yang
diikuti berhasil dijuarainya. Ketika keinginannya untuk menjadi seorang penulis mendapat
dukungan dari kedua orangtuanya, Fira pun semakin memantapkan pilihannya.

Untuk mengasah bakat yang dimiliki, maka setamat dari SMA, ia melanjutkan
pendidikan ke jurusan jurnalistik di Pittsburgh State University, Amerika Serikat. Waktu itu
Fira merupakan satu-satunya orang Indonesia yang mengambil kuliah jurnalistik di Negeri
Paman Sam itu. Menginjak usia 29 tahun, wanita yang pernah menetap di Amerika Serikat
selama 6 tahun itu mulai aktif menulis novel. Jendela-jendela, merupakan judul novel
pertamanya yang berkisah tentang kehidupan pasangan suami istri dengan segala
problematika rumah tangga. Karya pertamanya itu disambut hangat para penikmat novel
ketika itu.

Mendapat respon positif dari masyarakat, Fira kemudian menulis lanjutan kisah
novel Jendela-Jendela. Sekuel novel itu kemudian diberi judul Pintu yang diterbitkan pada
tahun 2002. Setahun kemudian, menyusul novel Atap yang juga masih merupakan lanjutan
dari novel trilogi karya ibu satu anak itu. Koleksi karya sastra lulusan Wichita State
University itu kian bertambah dengan diluncurkannya novel Biru dan Rojak.

9 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Dari sekian banyak karyanya, hampir semua mengambil latar tempat di negara-
negara dimana ia pernah menetap, seperti Amerika, Singapura, dan Indonesia. Alasannya
sederhana saja, supaya ia dapat mendalami dan mendeskripsikan budaya setempat dengan
begitu jelas.

Fira juga tak memungkiri novelnya sedikit terinspirasi dari kejadian yang pernah
dialaminya, juga teman-temannya. Tapi, ada juga yang ia tangkap dari sekeliling, imajinasi,
dan mimpi. Semua itu tercampur dalam proses kreatif. Tentunya hanya ia yang tahu mana
pengalaman pribadinya dan temannya.

Fira yang sejak kecil dididik dengan disiplin oleh kedua orangtuanya ini juga tidak
menemui banyak hambatan saat harus menjalani profesi gandanya sebagai wartawan dan
penulis. Sehingga tidak heran jika ia tak merasa kesulitan saat harus mengatur waktu di
tengah jadwalnya yang padat. Ia juga tidak pernah bekerja berdasarkan mood melainkan
didasari rasa tanggung jawab dan kecintaannya terhadap profesi.

Sebagai seorang penulis perempuan, Fira Basuki juga mengangkat isu-isu yang
berkaitan dengan kaum hawa. Dengan pengalaman dan sudut pandangnya, ia mampu
merangkai kata-kata dalam memaparkan penderitaan serta ketidakadilan yang kerap kali
harus diterima seorang perempuan. (Copyright © tokohindonesia.com)

d. Dewi Lestari

Novel “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, itu diluncurkan 16
Februari 2001 di Taman Komponis Ismail Marzuki, Jakarta. Novel yang laku 12.000
eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini
banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta.

Dee lahir di Bandung, 20 Januari 1976 sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara dari
pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Ayahnya adalah seorang

10 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


anggota TNI yang belajar piano secara otodidak sedangkan saudara-saudaranya pemain
biola, guru piano, yang profesional. Keluarga Dee sama seperti keluarga kebanyakan yang
hidup sederhana dan harus pandai-pandai mengatur keuangan.

Tak banyak yang tahu bahwa sebelum ia banyak dibicarakan orang karena novelnya
Supernova, ternyata cerpen Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya
berjudul Sikat Gigi pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter.
Sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri.
Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul Ekspresi ke majalah Gadis yang saat itu sedang
mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun
berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul Rico the Coro yang dimuat di majalah
Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15
karangan untuk buletin sekolah.

“Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini


mengakui bahwa novel Supernova berawal dari pergumulan dan perenungannya yang
dalam tentang spiritualitas.”

Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus
pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling, ahlinya dalam urusan menerjemahkan
karya Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin sastra Indonesia ke bahasa Inggris. Ia juga telah
merilis album solo pertamanya - sebuah proyek yang dimulainya sejak 1997 - berjudul Out
of The Shell, diambil dari judul salah satu di antara delapan lagu yang semuanya berbahasa
Inggris. Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang
digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan
Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa
Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan
Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

11 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Sukses dengan novel “Supernova Satu”: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, bagian
pertama “Supernova Dua” (Supernova 2.1) berjudul Akar sudah lepas ke pasaran pada 16
Oktober 2002 di 20 kota utama Indonesia. Novel Supernova 2.1 sempat mendapat protes
keras dari kalangan umat Hindu karena dianggap melecehkan lambang keagamaan Hindu -
lewat surat tertanggal Bali, 26 Februari 2003 yang diatasnamakan Ketua Umum DPP
FIMHD AA Ngrh Arya Wedakarna MWS dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum
Intelektual Muda (FIMHD) Hindu Dharma yang berkedudukan di Bali.

Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan


aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam
bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada
cetakan ke 2 dan seterusnya.

Dalam memasarkan Supernova 2.1 Akar, ibu dari Keenan Sidharta ini memilih tidak
lagi memasarkan 'sendirian' bukunya dengan menjalin kerjasama dengan BArK
Communication, suatu perusahaan penerbitan yang sekaligus perusahaan promosi. Di
samping BArK, muncul sebuah wadah baru: Truedee Semesta. Di BArK dan Truedee
Semesta, Dewi memiliki sejumlah saham dan mendapatkan royalti sekitar 20%. Namun,
sayang, pertengahan tahun 2003, Dee akhirnya berpisah jalan dengan penerbit buku
keduanya ini dan ia kembali 'sendirian' memasarkan bukunya. Menurut rencana, Dee di
sela-sela kesibukannya sebagai spoken person sebuah produk kosmetika berharap
Supernova 2.2 yang berjudul Petir sudah tuntas akhir 2003.

Dalam hal strategi pemasaran, Dee yang menyukai warna hitam ini, tidak semata
bergantung pada jaringan toko buku besar. Prioritas pertama Dee adalah memanfaatkan
keunggulan internet dengan membuka sebuah website beralamat www.truedee.net (situs
sudah tidak aktif, red). Lewat situs ini pengunjung bisa membeli Supernova 2.1 Akar.
Lewat media ini, ia juga sempat mengundang 50 pembeli untuk menghadiri perayaan ulang
tahunnya. Prioritas kedua adalah menggunakan strategi penjualan langsung misalnya
mengadakan diskusi buku dan temu pengarang di berbagai perguruan tinggi seperti

12 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Universitas Indonesia (UI). Terakhir, lahirlah strategi ketiga berupa penjualan tunai ke toko
buku di sejumlah kota besar di luar Jakarta.

Pada Januari 2005, Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah
di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya dengan memasukkan 4 tokoh baru.
Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.

Lama tidak menghasilkan karya, pada Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya
berjudul Rectoverso yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah
Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah
tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku Rectoverso terdiri dari 11 fiksi
dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca
Musiknya.

Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas. Novel ini kemudian
dituangkan dalam bentuk film dan ditayangkan di bioskop di seluruh Indonesia pada
pertengahan Agustus 2012. Film arahan Hanung Brahmantyo ini dibintangi oleh Maudy
Ayunda dan Adipati Dolken sebagai pemeran utama. Sementara Dee tampil sebagai
pemeran pembantu. Kemudian, pada 4 April 2012, Dee kembali mengeluarkan novel
lanjutan serial Supernova yang berjudul PARTIKEL dengan tokoh utama Zarah. (Copyright
© tokohindonesia.com)

III. Timeline

Berbagai masalah sejarah sastra Indonesia selama ini akan dipetakan secara garis
besar dengan memperhitungkan masa-masa pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan
kata lain, pemetaan itu dilakukan secara periodik. Periodisasi dipandang penting dalam
pengkajian sejarah sastra karena memudahkan peminat dan peneliti sastra memahami,
merunut, atau melacak berbagai gejala dan peristiwa yang pernah terjadi sehingga peneliti
berkemungkinan memiliki wawasan yang luas. Masalah tersebut pernah menjadi bahan
diskusi dan pedebatan yang seru pada akhir tahun 1960-an sebagaimana terbaca dalam

13 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia (Rosidi, 1978). Namun, selama
belasan tahun kemudia tidak terdengar lagi perdebatannya, termasuk gagasan Korrie Layun
Rampan tentang Angkatan 2000. Belakangan muncul tulisan Yudiono K.S. di harian
Kompas (2004) yang menawarkan format baru periodisasi sejarah sastra Indonesia menjadi
empat masa, yaitu:

1. Masa Pertumbuhan, 1900-1945,

2. Masa Pergolakan, 1945-1965,

3. Masa Pemapanan, 1965-1998, dan

4. Masa Pembebasan, 1998-.

Dalam hal sastra, sebuah karya sastra dapat diterangkan atau ditelaah secara tuntas
apabila diketahui asal usulnya yang bersumber pada riwayat hidup pengarang dan zaman
yang melingkunginya. Tokoh yang berpengaruh besar terhadap pandangan tersebut adalah
Hypolyte Taine (1828-1893). Pandangannya menegaskan bahwa seorang pengarang
dipengaruhi oleh ras, lingkungan, dan momen atau saat. Ras ialah apa yang diwarisi
manusia dalam jiwa dan raganya, lingkungan meliputi keadaan alam dan sosial, sedangkan
momen ialah situasi sosio-politik pada zaman tertentu. Apabila ketiga fakta itu diketahui
dengan baik maka dimungkinkan simpulan mengenai iklim suatu kebudayaan yang
melahirkan seorang pengarang besera karyanya.

Ahli sejarah sastra Jerman, Wilhelm Sherer (1841-1886) mempergunakan tiga


faktor tertentu, yaitu das Ererbte (warisan), das Erlebte (pengalaman), dan das Erlernte
(hasil proses belajar). Penerapannya menuntut kerjasama yang erat antara ahli fisiologi,
psikologi linguistik, dan sejarah kebudayaan.

Masalah periodisasi sejarah sastra Indonesia secara eksplisit telah diperlihatkan oleh
Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969), Jakob Sumardjo dalam

14 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Lintasan Sejarah Sastra Indonesia 1 (1992), dan Rachmat Djoko Pradopo dalam Beberapa
Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya (1995).

Secara garis besar Ajip Rosidi (1969:13) membagi sejarah sastra Indonesia sebagai
berikut:

I. Masa Kelahiran atau Masa Kebangkitan yang mencakup kurun waktu 1900-1945 yang
dapat dibagi lagi menjadi beberapa period, yaitu:

a. Period awal hingga 1933

b. Period 1933-1942

c. Period 1942-1945

II. Masa Perkembangan (1945-1968) yang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa period,
yaitu:

a. Period 1945-1953

b. Period 1953-1961

c. Period 1961-1968

Menurut Ajip, warna yang menonjol pada periode awal (1900-1933) adalah
persoalan adat yang sedang menghadapi akulturasi sehingga menimbulkan berbagai
problem bagi kelangsungan eksistensi masing-masing, sedangkan periode 1933-1942
diwarnai pencarian tempat di tengah pertarungan kebudayaan Timur dan Barat dengan
pandangan romantis-idealis.

Perubahan terjadi pada periode 1942-1945 atau masa pendudukan Jepang yang
melahirkan warna pelarian, kegelisahan, dan peralihan, sedangkan warna perjuangan dan
pernyataan diri di tengah kebudayaan dunia tampak pada periode 1945-1953 dan
selanjutnya warna pencarian identitas diri dan sekaligus penilaian kembali terhadap warisan
leluhur tampak menonjol pada periode 1953-1961. Pada periode 1961-1968 tampak
menonjol warna perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan

15 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


sesudahnya tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan
sastra. (Yudiono, K.S., 2007)

Pada masa 1970an sampai sekarang, karya sastra berperan untuk membentuk
pemikiran tentang ke Indonesia an. Munculnya gebrakan-gebrakan baru di era ini, beberapa
karya keluar dari paten dengan memperbincangkan agama dan mulai bermunculan kubu-
kubu sastra populer dan sastra majalah. Pada masa ini pula karya yang bersifat absurd
mulai tampak.

Di tahun 1980—1990-an banyak penulis Indonesia yang berbakat, tetapi sayang


karena mereka dilihat dari kacamata ideologi suatu penerbit. Salah satu penerbit yang
terkenal sampai sekarang adalah Gramedia. Gramedia merupakan penerbit yang
memperhatikan sastra dan membuka ruang untuk semua jenis sastra sehingga penulis
Indonesia senantiasa memiliki kreativitas dengan belajar dari berbagai paten karya, baik itu
karya populer, kedaerahan, maupun karya urban. Sementara setelah masa reformasi, yaitu
tahun 2000-an, kondisi sastra tanah air dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Kritik Rezim Orde Baru

b. Wacana Urban dan Adsurditas

c. Kritik Mengenai Pemerintahan

d. Masuknya sastra melalui majalah selain majalah sastra

e. Sastra bersanding dengan seni lainnya, banyak terjadi alih wahana pada jaman
sekarang.

Sastra akan terus menilai jaman melalui pemikiran dan karya sastrawannya. Pada
tahun 1970-an, sastra memiliki karakter yang keluar dari paten normatif. Pada tahun 1980-
an hingga awal 1990-an, sastra memiliki karakter yang diimbangi dengan arus budaya
populer. Pada tahun 2000-an hingga saat ini, sastra kembali memiliki keragaman khazanah
dari yang populer, kritik, reflektif, dan masuk ke ranah erotika dan absurditas.

16 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


IV. Kondisi Terkini

Berikut kutipan-kutipan dari BBC UK

“It all got going in 1998, the same year as the downfall of former President
Soeharto. In that turbulent social and political climate, Ayu Utami’s challenge to tradition
in the best seller Saman proved that young women had something to say, and that there
were plenty of people who wanted to listen.”

“And there’s no doubt “sastra wangi” is a marketing man’s fantasy made real. Dreamy
black and white photos of these writers adorn the walls of bookshops, projecting an image
of cool sophistication. It may help sell the books, but it does little to reveal their literary
merits. And that’s a problem for 32-year-old first time novelist Nukila Amal, who’s
resisting the “sastra wangi” tag. “That label is really negative,” she said. “Writers should
be categorized in genre or style and spirit, not on their physical appearance.”

Sastra wangi mempunyai karakteristik yang kuat dan mendominasi pada generasi
2000 ini. Gaya penulisan yang cenderung bebas, lebih bersifat pop culture dan untuk
sebutan sastra kanon, tampaknya sudah mulai ditinggalkan. Karya sastra yang dihasilkan
lebih bersifat komersil. Ada pengaruh penerbit untuk menentukan bentuk maupun isi cerita.
Contohnya, karya Dewi Lestari dan Djenar Maesa Ayu dengan mengalami perubahan
cover. Muncul fenomena baru, karya sastra yang dihasilkan sengaja untuk di film-kan.
Banyak karya-karya yang berlatar dan hasil kontemplasi spiritual. Pengarang-pengarang
aliran feminis lebih bebas menyuarakan pemikirannya melalui karyanya, contohnya karya-
karya Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami yang lebih bebas mengutarakan pemikirannya
melalui diksi-diksi yang dipakainya. Dunia sastra Indonesia periode 2000-an lebih
didominasi genre prosa daripada puisi dan drama. Dan banyak pihak yang memperdebatkan
karya yang berbau motivasi layak dianggap sebagai sastra atau tidak karena adanya
perbedaan generasi dan idealisme.

17 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


V. REFERENSI

V.I. DATA PRIMER

Percakapan dengan Ayu Utami mengenai Sastra Wangi

www.twitter.com/BilanganFu

V.II. DATA SEKUNDER

a. BUKU

K.S., Yudiono. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo

b. MEDIA ONLINE

Lipscombe, Becky. Chick-lit becomes hip lit in Indonesia. Jakarta: BBC


News, 2003. Web.

Sulton, Agus. Sastra Wangi Aroma Selangkangan. Jombang: Kompas, 2010.


Web.

Agata, Vassilisa. Seks dalam Balutan Sastra. Kompas, 2012. Web.

Ubud Writers Festival, 2013. Web.


http://www.ubudwritersfestival.com/writers/ayu-utami/

Tanjung, Leanika. Ayu Utami: “Kenapa Agama Tak Membuat Orang Lebih
Baik?”. Diskusi Klub Buku dan Film SCTV, 2009. Web.
http://klubbukufilmsctv.wordpress.com/2009/08/07/ayu-utami-“kenapa-
agama-tak-membuat-orang-lebih-baik”/

Budiman, Andi. Ayu Utami: Tentang Iman dan Dosa. 2013. Web.
http://www.dw.de/ayu-utami-tentang-iman-dan-dosa/a-16768358

18 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)


Profil Djenar Maesa Ayu. Viva Life, Web.
http://life.viva.co.id/news/read/316691-djenar-maesa-ayu

Sira. Terlahir Sebagai Penulis. Ensikonesia, 2010. Web.


http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2426-terlahir-
sebagai-penulis

Sira. Terkenal Lewat Supernova. Ensikonesia, 2003. Web.


http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/4163-
terkenal-lewat-supernova

19 | SASTRA WANGI, FEMINISME, DAN GENERASI BARU SASTRA INDONESIA (2013)