Anda di halaman 1dari 25

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA DI


RUANG ANTORIUM RUMAH SAKIT DAERAH
dr. SOEBANDI JEMBER

Oleh
Velinda Dewi Lutfiana, S.Kep
NIM. 182311101001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
NOVEMBER, 2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Teori tentang Penyakit


1. Review Anatomi Fisiologi
Sistem pernapasan manusia terdiri dari rongga hidung, faring, laring, trakea,
bronkus dan paru-paru. Bronkus bercabang cabang (bronkioli) terdapat
gelembung paru atau yang disebut alveoli (Syaifuddin, 2014). Alveolus pada
hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi oleh jaringan
kapiler. Alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan dengan surfaktan
yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap
pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah kolaps alveolus pada waktu
ekspirasi.
Menurut Sundana (2014) difusi adalah perpindahan molekul gas dari
konsentrasi tinggi menuju konsentrasi rendah. Perpindahan terjadi secara pasif
sampai terjadi keseimbangan yang sama diantara dua tempat. Perpindahan gas
antara alveolus dengan pembuluh darah kapiler pulmonal dipengaruhi oleh :
a. Koefisien Difusi Gas terhadap Membran
Difusi yang baik terjadi karena jumlah ventilasi semenit sebanding dengan
cardiac output. Apabila ventilasi semenit tetap dan CO meningkat, maka laju
aliran sel darah merah akan cepat dan kontak antara molekul gas dengan sel darah
merah menjadi berkurang seperti pada kasus Hipoksemia
b. Luasnya daerah permukaan membran
Paru-paru dilengkapi dengan 200-600 miliar alveoli yang berfungsi dalam
menampung udara dan tempat berdifusi antara tempat di paru dengan sel darah
merah didalam pembuluh darah kapiler. Penurunan ¼ sampai 1/3 dari luas
permukaan normal akan mengakibatkan penurunan terhadap jumlah difusi seperti
pada kasus empisema.
c. Ketebalan membran respirasi
Kecepatan difusi gas antara alveolus dengan pembuluh darah kapiler dapat
diselesaikan dalam waktu 0.25 detik dari total waktu inspirasi normal 0.75.
Semakin tebal membran, maka akan semakin lambat gas berdifusi dan akan
mengakibatkan adanya sekret didalam alveolus.
d. Perbedaan tekanan gas dialveoli
Pada proses inspirasi oksigen berdifusi dari alveolus menuju kapiler
pulmonal dan dari kapiler pulmonal masuk menuju arteri besar untuk berdifusi ke
dalam sel. Sementara pada proses ekspirasi, Co2 dimulai dari sel menuju vena dan
kapiler pulmonal untuk berdifusi di alveolus dengan atmosfir.

Gambar 1. Sistem Pernapasan


Menurut Pearce (2011) fungsi paru paru ialah pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida. Pada pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan eksterna,
oksigen dipungut melalui hidung dan mulut pada waktu bernafas oksigen masuk
melalui trakea dan pipa bronkial ke alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan
darah di dalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapisan membran, yaitu membran
alveoli-kapiler, yang memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus
membran ini dan dipungut oleh haemoglobin sel darah merah dan di bawa ke
jantung. Dari sini dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Darah
meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mmHg dan pada tingkat ini
hemoglobin 95 % jenuh oksigen . Didalam paru-paru CO salah satu hasil buangan
metabolisme, menembus membran alveoler-kapiler dari kapiler-kapiler darah ke
alveoli, dan setelah melalui pipa bronkial dan trakea, dinapaskan keluar melalui
hidung dan mulut.
Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner atau
pernafasan eksterna
1) Ventilasi Pulmoner, atau gerak pernafasan yang menukar udara dalam alveoli
dengan udara luar
2) Arus darah melalui paru-paru
3) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga dalam jumlah tepat
dapat mencapai semua bagian tubuh
4) Difusi gas yang menembusi membran pemisah alveoli dan kapiler.

2. Definisi Pneumonia
Pneumonia merupakan peradangan pada jaringan parenkim paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan protozoa (Librianty, 2015). Pneumonia
adalah suatu penyakit infeksi pernapasan bawah akut (ISNBA) dengan batuk dan
disertai dengan sesak napas disebabkan agen infeksius seperti virus, bakteri,
mycoplasma (fungi), aspirasi substansi asing, berupa radang paru-paru yang
disertai eksudasi dan konsolidasi (Nurarif dan Kusuma, 2013).

Menurut Aulina dkk (2017), pneumonia merupakan keadaan dimana


alveoli pada salah satu atau kedua paru-paru terisi oleh cairan yang menyebabkan
terganggunya pertukaran oksigen yang membuat sulit untuk bernapas. Pada
umumnya, pneumonia dikategorikan dalam penyakit menular yang ditularkan
melalui udara, dengan sumber penularan adalah penderita pneumonia yang
menyebarkan kuman dalam bentuk droplet ke udara pada saat batuk atau bersin.
Lalu kuman penyebab pneumonia tersebut masuk ke saluran pernapasan melalui
proses inhalasi (udara yang dihirup) atau dengan cara penularan langsung, yaitu
percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin, dan berbicara
langsung yang terhirup oleh orang di sekitar penderita, menggunakan benda yang
telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita.
3. Epidemiologi Pneumonia
Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang
dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah
kesehatan (malnutrisi atau gangguan imunologi) (Kemenkes RI, 2014).
Diperkirakan terdapat 1,8 juta atau 20 % dari kematian anak diakibatkan oleh
pneumonia, melebihi kematian akibat AIDS, malaria dan tuberkulosis. Perkiraan
kasus pneumonia secara Nasional di Indonesia sebesar 3,55% namun angka
perkiraan kasus di masing-masing provinsi menggunakan angka yang berbeda-
beda sesuai angka yang telah ditetapkan (Kemenkes RI, 2014).

4. Etiologi Pneumonia
Syamsudin dan Keban (2013) mengemukakan bahwa etiologi dari
pneumonia di sebabkan oleh:
a) Mikroorganisme
1) Bakteri yaitu bakteri gram positif, streptococus pneumoniae, bakteri
staphylococcus aureus, streptococus beta hemolitikus grup A, mycoplasma
legionella, dan chaamydia penyebab pneumonia atipikal.
2) Jamur yaitu jamur candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coocidioido
mycosis, cryptococosis, pneumocytis carinii.
3) Virus (virus sinsisial pernafasan, hantavirus, virus influenza, adenovirus,
rhinovirus, virus herpes simpleks, sitomegalovirus, virus synsitical
respiratorik, rubeola, varisella).
b) Mikroplasma
1) Individu yang mengidap AIDS sering mengalami pneumonia yaitu
pneumocystis carinii
2) Individu yang terlalu lama berada didalam ruanggan yang terdapat aerosol
dari air dengan waktu yang lama seperti AC atau alat pelembab yang kotor
bisa mengidap pneumonia legionella.
3) Individu yang mengalami inspirasi lambung karena muntah/air karena
tenggelam dapat menyebabkan pneumonia asporasi
Faktor risiko seseorang dapat terkena pneumonia yaitu merokok, kekebalan
tubuh yang menurun, menderita penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit
autoimun, penyakit paru kronis. Selain itu juga dapat berisiko pada seseorang
yang mengkonsumsi obat-obatan golongan kortikosteroid, kepadatan hunian
rumah, dan ventilasi hunian rumah (Integra, 2016).

5. Klasifikasi Pneumonia
Berdasarkan pedoman pengendalian infeksi saluran pernapasan akut Dirjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan ( 2011) pada balita klasifikasi
penyakit pneumonia dibedakan untuk golongan umur < 2 bulan dan umur 2 bulan
sampai 5 tahun, adalah sebagai berikut:
a. Untuk golongan umur < 2 bulan, diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
1) Pneumonia berat : ditandai dengan napas yang cepat, yaitu frekuensi
pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam yang kuat. Tindakan : segera dirujuk ke rumah
sakit.
2) Bukan pneumonia : tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam yang kuat, tidak ada napas yang cepat, frekuensi napas : kurang dari
60 kali per menit.
Tindakan : nasehati ibu untuk tindakan perawatan di rumah seperti
menjaga kebersihan lingkungan dan memberikan nutrisi yang cukup pada
anak .
b. Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun, diklasifikasikan menjadi 3 :
1) Pneumonia berat : tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam kuat.
Tindakan : segera dirujuk ke rumah sakit.
2) Pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, ada
napas cepat : 2 bulan - < 12 bulan : > 50 x / menit 12 bulan - < 5 tahun : >
40 x / menit
Tindakan : nasehati ibu untuk tindakan perawatan di rumah, anjurkan ibu
untuk kontrol 2 hari atau lebih cepat bila keadaan anak memburuk.
3) Batuk bukan pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam, tidak ada napas cepat : 2 bulan - < 12 bulan : < 50 x / menit 12
bulan - < 5 tahun : < 40 x / menit
Tindakan : bila batuk > 3 minggu, rujuk kerumah sakit
Anak dengan pneumonia akan lebih sulit bernapas jika mengalami demam
tinggi (> 38,5ºC) , sehingga perlu diterapi dengan paracetamol tiap 6 jam selama 3
hari dengan dosis yang sesuai, sampai demamnya reda. Demam itu sendiri bukan
indikasi untuk pemberian antibiotik, kecuali pada bayi yang berumur kurang dari
2 bulan. Bayi yang berumur kurang dari 2 bulan jika menderita demam maka
harus dirujuk, jangan diberikan paracetamol untuk mengatasi demamnya.
c. Berdasarkan Etiologi
1) Pneumonia yang didapat dari komunitas (community acquired pneumonia)
Pneumonia yang didapatkan di masyarakat yaitu terjadi infeksi di luar
lingkungan rumah sakit. Infeksi yang terjadi dalam 48 jam setelah dirawat
di rumah sakit pada pasien yang belum pernah dirawat di rumah sakit
selama >14 hari.
2) Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (nosokomial)
Pneumonia yang terjadi selama atau lebih dari 48 jam setelah masuk rumah
sakit, jenis ini didapat selama penderita dirawat di rumah sakit. Hampir 1%
dari penderita yang dirawat di rumah sakit mendapatkan pneumonia selama
dalam perawatannya. Demikian pula halnya dengan penderita yang dirawat
di ICU, lebih dari 60% akan menderita pneumonia.
3) Pneumonia aspirasi/anaerob
Infeksi oleh bakteroid dan organisme anaerob lain setelah aspirasi
orofaringeal dan cairan lambung. Pneumonia jenis ini biasa didapat pada
pasien dengan status mental depresi maupun pasien dengan gangguan
refleks menelan.
4) Pneumonia oportunistik
Pasien dengan penekanan sistem imun (misalnya steroid, kemoterapi, HIV)
mudah mengalami infeksi oleh virus, jamur, dan mikrobakteri.
5) Pneumonia rekuren
Disebabkan oleh organisme aerob dan anaerob yang terjadi pada fibrosis
kristik dan bronkietaksis.

6. Patofisiologi Pneumonia
Di antara semua bakteri pneumonia, patogenesis dari pneumonia
pneumokokus merupakan yang paling banyak diselidiki. Pneumokokus umumnya
mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru-
paru paling sering terkena karena efek gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka
pneumokokus menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat tahap yang
berurutan (Price dan Wilson, 2012):
a) Kongesti (24 jam pertama)
Merupakan stadium pertama, eksudat yang kaya protein keluar masuk ke
dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor, disertai
kongesti vena. Paru menjadi berat, edematosa dan berwarna merah.
b) Hepatisasi merah (48 jam berikutnya)
Terjadi pada stadium kedua, yang berakhir setelah beberapa hari. Ditemukan
akumulasi yang masif dalam ruang alveolar, bersama-sama dengan limfosit dan
magkrofag. Banyak sel darah merah juga dikeluarkan dari kapiler yang
meregang. Pleura yang menutupi diselimuti eksudat fibrinosa, paru-paru
tampak berwarna kemerahan, padat tanpa mengandung udara, disertai
konsistensi mirip hati yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti
hepar).
c) Hepatisasi kelabu (3-8 hari)
Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi fibrin yang berlanjut disertai
penghancuran sel darah putih dan sel darah merah. Paru-paru tampak kelabu
coklat dan padat karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam
alveoli yang terserang.
d) Resolusi (8-11 hari)
Pada stadium keempat ini, eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh
makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan mempertahankan
arsitektur dinding alveolus di bawahnya, sehingga jaringan kembali pada
strukturnya semula.
7. Manifestasi Klinis Pneumonia
Menurut Anwar dan Dharmayanti (2014) gejala penyakit pneumonia yaitu
batuk dan atau kesulitan bernapas seperti napas cepat, dan tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam. Biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas
akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh
meningkat dapat mencapai 40 derajat celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk
dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada
sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu
makan, dan sakit kepala.
Adapun tanda-tanda penyakit pneumonia pada balita antara lain :
1) Batuk nonproduktif
2) Ingus (nasal discharge)
3) Suara napas lemah
4) Penggunaan otot bantu napas
5) Demam
6) Cyanosis (kebiru-biruan)
7) Thorax photo menujukkan infiltrasi melebar
8) Sakit kepala
9) Kekakuan dan nyeri otot
10) Sesak napas
11) Menggigil
12) Berkeringat
13) Lelah
14) Terkadang kulit menjadi lembab
15) Mual dan muntah

7. Komplikasi Pneumonia
Komplikasi yang dapat muncul akibat pneumonia antara lain:
a. Abses paru
b. Efusi pleura
c. Emfisema
d. Gagal napas
e. Perikarditis
f. Meningitis
g. Atelektasia
h. Hipotensi
i. Delirium
j. Asidosis metabolic
k. dehidrasi

8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasieng dengan
pneumonia, yaitu (Somantri, 2007) :
a) Chest X-ray
Teridentifikasi adanya penyebaran (misal: lobus dan bronkhial), dapat juga
menunjukkan multiple abses/infiltat, empiema (Staphylococcus);
penyebaran atau lokasi infiltrasi (bakterial); atau penyebaran/extensive
nodul infiltrat (sering kali viral), pada pneumonia mycoplasma chest x-ray
mungkin bersih.

b) Analisis Gas Darah dan Pulse Oximetry


Abnormalitas mungkin timbul tergantung dari luasnya kerusakan paru-paru.
c) Pewarnaan Gram/Kultur Sputum dan Darah
Didapatkan dengan needle biopsy, aspirasi trantrakheal, fiberoptic
bronchoscopy, atau biopsi paru-paru terbuka untuk mengeluarkan
organisme penyebab. Lebih dari satu tipe organisme yang dapat ditemukan,
seperti Diplococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. Hemolytic
streptococcus, dan Hemophilus influenzae.
d) Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count – CBC)
Leukositosis biasanya timbul, meskipun nilai pemeriksaan darah putih
(white blood count-WBC) rendah pada infeksi virus.
e) Tes Serologi
Membantu dalam membedakan diagnosis pada organisme secara spesifik.
f) Pemeriksaan Fungsi Paru-paru
Volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar), tekanan saluran
udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun, hiposekmia.
g) Elektrolit
Sodium dan klorida mungkin rendah.
h) Bilirubin mungkin meningkat
i) LED terjadi peningkatan

9. Penatalaksanaan
Menurut Seyawati dan Marwiati (2018), adapun tatalaksana pneumonia yaitu:
a. Pneumonia ringan
1) Anak di rawat jalan
2) Berikan antibiotik : Kortimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2 kali sehari
selama 3 hari atau amoksisilin (25 mg/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3
hari. Untuk pasien HIV diberikan selama 5 hari.
b. Pneumonia berat
1. Anak dirawat di rumah sakit
2. Terapi antibiotik
Berikan ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kg BB/kali IV atau IM setiap 6
jam), dipantau dalam 24 jam selama 72 jam. Bila anak memberi respon
yang baik maka diberikan selama 5 hari. Selanjutnya terapi dilanjutkan di
rumah atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral (15 mg/kg BB/kali tiga
kali sehari) untuk 5 hari berikutnya. Bila keadaan klinis memburuk sebelum
48 jam, atau terdapat keadaan yang berat (tidak dapat menyusu atau
minum/makan, atau memuntahkan semuanya, kejang, letargis atau tidak
sadar, sianosis, distres pernafasan berat) maka ditambahkan kloramfenikol
(25 mg/kg BB/kali IM atau IV setiap 8 jam). Bila pasien datang dengan
keadaan klinis berat, segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi
ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin – gentamisin. Sebagai alternatif, beri
seftriakson (80-100 mg/kg BB IM atau IV sekali sehari). Bila anak tidak
membaik dalam 48 jam, maka bila memungkinkan foto dada.
Apabila diduga pneumonia stafilokokal, ganti antibiotik dengan gentamisin
(7,5 mg/kg BB IM sekali sehari) dan kloksasilin (50 mg/kg BB Im atau IV
setiap 6 jam) atau klindamisin (15 mg/kg BB/hari-3 kali pemberian). Bila
keadaan anak membaik, lanjutkan kloksasilin atau dikloksasilin secara oral
4 kali sehari sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu atau
klindamisin secara oral selama 2 minggu.
3. Terapi oksigen

Berikan oksigen, jika tersedia pulse oximetri gunakan sebagai panduan


untuk terapi oksigen (berikan pada anak dengan saturasi oksigen < 90%, bila
tersedia oksigen yang cukup). Lakukan periode uji coba tanpa oksigen setiap
harinya pada anak yang stabil. Hentikan pemberian oksigen bila saturasi tetap
stabil > 90%. Gunakan nasal prong untuk menghantarkan oksigen pada bayi
muda. Masker wajah atau maskr kepala tidak direkomendasikan. Oksigen harus
tersedia secara terus menerus setiap waktu. Lanjutkan pemberian oksigen sampai
tanda hipoksia (seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat
atau napas ≥ 70x/menit) tidak ditemukan lagi. Perawat sebaiknya memeriksa
kateter dan nasal prong setiap 3 jam.
4. Perawatan penunjang
Bila anak disertai demam (≥39⁰C) yang menyebabkan distres, maka berikan
parasetamol. Bila ditemukan adanya wheeze, berikan bronkhidilator kerja cepat.
Bila terdapat sekret kental di tenggorokan yang tidak dapat dikeluarkan, hilangkan
dengan alat penghisap secara perlahan. Pastikan anak memperoleh kebutuhan
cairan rumatan sesuai umur, anjurkan ASI dan cairan oral. Jika anak tidak bisa
minum, pasang pipa nasogastrik dan berikan cairan rumatan sedikit tapi sering.
jika oksigen diberikan bersamaan dengan cairan nasogastrik, pasang keduanya
pada lubang hidung yang sama. Bujuk anak untuk makan, segera setelah anak bisa
menelan makanan. Berikan makan sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai
kemampuan anak dalam menerimanya.
5. Pemantauan

Pantau anak sedikitnya 3 jam dan oleh dokter minimal 1x per hari. Jika
tidak ada komplikasi, dalam 2 hari akan tampak perbaikan klinis (bernafas tidak
cepat, tidak ada tarikan dinding dada, bebas demam dan anak dapat makan dan
minum).
B. Clinical Pathway
Penderita sakit berat yang Kontaminasi peralatan Bakteri, virus, jamur,
dirawat di RS benda asing
Penderita yang mengalami
supresi sistem imun Masuk saluran
Droplet
pernafasan
Pertahanan tubuh Lolos dari pertahanan
menmenurun paru
Mudah terpapar bakteri, Menginfeksi area
virus, jamur, parasit bronkus dan parenkim
paru

Pneumonia

Kuman >> di bronkus ↑ suhu Infeksi saluran


pernapasan bawah
Peningkatan ↑ metabolisme Terbentuknya
Proses peradangan
di bronkus Pelepasan fibrin/jaringan ikat
suhu tubuh
Evaporasi >> histamine,
bradikinin,
Adanya eksudasi Jaringan paru
Hipertermi prostaglandin
digantikan jaringan
Kehilangan cairan lewat ikat
kulit Dilatasi pembuluh
Akumulasi secret
>> di bronkus darah
Akumulasi secret Mukus di bronkus Dilatasi pembuluh Jaringan paru
>> di bronkus meningkat Kehilangan cairan lewat darah digantikan jaringan
kulit ikat

Obstruksi jalan Bau mulut tidak Eksudat plasma


nafas oleh sekret sedap, perasaan tidak Kekurangan masuk alveoli
enak di tenggorokan Volume Cairan
Edema
Ketidakefektifan Gangguan difusi
dalam kapiler dan alveoli
Bersihan Jalan Anoreksia
Nafas
alveoli ↑ tekanan
dinding paru
Intake tidak adekuat
Gangguan
Pertukaran Gas ↓ compliance
Ketidakseimbangan paru
Nutrisi : Kurang
dari Kebutuhan
Tubuh Suplai O2 ↓ Dyspnea

Hipoksia Ketidakefektifan
Pola Nafas
Metabolisme
anaerob
Akumulasi asam
Intoleransi
laktat
Kelemahan Aktivitas
C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pasien dengan Pneumonia
1. Pengkajian
a) Identitas klien
1) Nama: mengetahui identitas klien
2) Umur dan tanggal lahir: dapat terjadi pada semua usia meningkat pada
usia rentan yaitu bayi dan lansia.
3) Jenis kelamin: bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan
4) Suku bangsa: dapat terjadi pada semua suku bangsa
5) Pekerjaan: pekerjaan yang meningkatkan pneumonia dapat memicu
lebih banyak terjadinya misalnya pekerjaan yang setiap hari terpapar
dengan AC, lingkungan udara yang kurang sehat.
6) Pendidikan: pendidikan menentukan pengetahuan dalam memahami
proses penyakit
7) Status menikah: dukungan dari istri/suami dapat mempercepat proses
penyembuhan dari pada klien yang hidup sendiri
8) Diagnosa medis: Pneumonia
b) Keluhan Utama
Tanyakan kepada pasien adanya keluhan seperti sesak napas, demam tinggi,
menggigil dan batuk. Adanya keluhan nyeri dada, sesak napas, peningkatan
frekuensi pernapasan, lemas, dan kepala nyeri.
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Informasi yang dapat diperoleh meliputi informasi mengenai keluhan batuk
biasanya timbul mendadak dan tidak berkurang setelah meminum obat
batuk yang biasanya tersedia di pasaran. Pada awalnya keluhan batuk yang
tidak produktif, tapi selanjutnya akan berkembang menjadi batuk produktif
dengan mukus purulen kekuning-kuningan, kehijau-hijauan, dan seringkali
berbau busuk.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit kronik (misalnya ginjal, dan paru), diabetes mellitus, imunosupresi
(misalnya obat-obatan, HIV), ketergantungan alkohol, aspirasi (misalnya
epilepsi), penyakit virus yang baru terjadi (misalnya influenza), malnutrisi,
ventilasi mekanik, pascaoperasi.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan pada pasien apakah keluarga pasien ada yang mengalami hal yang
sama dengan pasien atau apakah keluarga ada yang mengalami penyakit
degeneratif.
f) Pola pemeliharaan kesehatan
1) Kebiasasaan minum alkohol
2) Kebiasaan merokok
3) Menggunakan obat-obatan
4) Aktivitas atau olahraga
5) Stress
g) Pengkajian Fisik (B1-B6)
Setelah melakukan anamnesa yang mengarah pada keluhan klien,
pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian
anamnesis. Pemeriksaan fisik dilakukan secara persistem (B1-B6) dengan
focus pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan dihubungkan dengan
keluhan-keluhan dari klien. Pemeriksaan fisik dimulai dengan memeriksa
TTV. Pada klien pneumonia biasanya didapatkan sesak nafas, peningkatan
suhu tubuh lebih dari normal yaitu 38-48 oC, kemerahan, panas, kulit
kering, dan berkeringat. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses
inflamasi dan iritasi alveoli yang sudah menggangu pusat pengatur suhu
tubuh (Muttaqin, 2008).
1) B1 Breathing
Inspeksi apakah terdapat batuk, produksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan yang
sering didapatkan pada pasien pneumonia. Palpasi adanya
ketidaksimetrisan pernapasan pada klien. Perkusi seluruh dada dan
lapang paru untuk menentukan letak gangguan di paru sebelah mana.
Auskultasi bunyi napas tambahan yaitu stridor maupun ronkhi pada
pasien pneumonia untuk menentukan pneumonia terletak pada lobus paru
sebelah mana.
2) B2 Blood
Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah
menurun. Berhubungan dengan adanya agen asing yang masuk di dalam
tubuh.
3) B3 Brain
Pada klien pneumonia, fase akut dapat terjadi penurunan GCS, refleks
menurun atau normal, letargi. Terjadi karena virus atau bakteri di dalam
paru bersirkulasi mengikuti aliran darah menuju sistem saraf pusat.
4) B4 Bladder
Pada pneumonia produksi urin dapat menurun atau normal. Observasi
adanya penurunan urin sebagai tanda terjadinya penurunan tekanan darah
atau syok hipovolemik.
5) B5 Bowel
Pneumonia kadang tidak mempengaruhi sistem pencernaan, feses normal
atau dapat terjadi mual dan muntah akibat terapi pengobatan dan
anoreksia.
6) B6 Bone
Akibat gangguan pada ventilasi paru maka suplai O2 ke jaringan juga
menurun mengakibatkan penurunan tonus otot dan nyeri otot. Kulit
nampak pucat, sianosis, banyak keingat, suhu kulit meningkat serta
kemerahan.

2. Diagnosa Keperawatan
a) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi ditandai
dengan peningkatan frekuensi pernapasan, pernapasan cuping hidung, dan
penggunaan otot bantu pernapasan.
b) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar-kapiler ditandai dengan peningkatan frekuensi pernapasan,
pernapasan cuping hidung, dan penggunaan otot bantu pernapasan.
c) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan eksudat dalam
alveoli, mukus berlebihan ditandai dengan peningkatan frekuensi
pernapasan dan klien mengatakan susah mengeluarkan sekret di
tenggorokannya.
d) Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan ditandai dengan suhu
meningkat lebih dari 37,5oC, kulit teraba hangat, klien menggigil, dan sakit
kepala.
e) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan makan ditandai dengan anoreksia, penurunan berat
badan, dan klien tampak tidak dapat menghabiskan makanannya.
f) Kekurangan volume cairan kehilangan cairan aktif ditandai dengan haus,
kelemahan, kulit kering, dan membran mukosa kering.
g) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen ditandai dengan klien tampak lemah dan tidak dapat
melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Perencanaan
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL
1. Ketidakefektifan pola napas Setelah dilakukan asuhan Monitor pernapasan 1. indeks pernapasan normal dapat
berhubungan dengan hiperventilasi keperawatan selama 1x7 1. Monitor RR, kedalaman, dilihat dari RR. Semakin besar
ditandai dengan peningkatan jam, pola napas pasien irama pernapasan RR maka seseorang mengalami
frekuensi pernapasan, pernapasan
efektif dengan criteria hasil: 2. Monitor adanya suara sesak napas
cuping hidung, dan penggunaan otot
1. Saturasi oksigen dalam napas tambahan, 2. pada pasien yang mengalami
bantu pernapasan.
batas normal (95-100%) penggunaan otot bantu sesak napas, akan terdengar suara
2. RR 14-20x/menit pernapasan tambahan, dan terlihat
3. Tidak ada suara 3. Monitor saturasi oksigen menggunakan otot bantu
tambahan pernapasan Terapi oksigen pernapasan
4. Tidak ada penggunaan 4. Beri terapi oksigen sesuai 3. indeks pernapasan normal dapat
otot bantu pernapasan kebutuhan dilihat dari saturasi oksigen.
5. Monitor terapi oksigen 4. Terapi oksigen dapat diberikan
pada pasien yang mengalami
masalah oksigenasi\
5. Untuk memastikan terapi oksigen
efektif digunakan.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas Setelah dilakukan perawatan Manajemen jalan napas Membuka jalan napas klien agar tidak ada
berhubungan dengan eksudat dalam selama 3 x 24 jam, jalan napas 1. Posisikan klien untuk hambatan jalan napas
memaksimalkan ventilasi
alveoli, mukus berlebihan ditandai pasien dapat dipertahankan,
2. Identifikasi kebutuhan aktual/
dengan peningkatan frekuensi dengan criteria hasil: potensial klien untuk
memasukan alat membuka
pernapasan dan klien mengatakan 1. RR dalam batas normal
jalan napas
susah mengeluarkan sekret di (16-20x/mnt) 3. Lakukan fisioterapi dada
2. Irama pernapasan regular 4. Motivasi klien untuk bernapas
tenggorokannya.
3. Kedalaman inspirasi pelan, dalam, dan batuk
normal 5. Instruksikan bagaimana agar
4. Mampu mengeluarkan dapat melakukan batuk efektif
secret/ batuk efektif 6. Kelola pemberian
bronkodilator, jika diperlukan
5. Tidak ada suara napas
7. Monitor status pernapasan dan
tambahan oksigenasi

3. Hipertermia berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan 1. Pastikan kepatenan jalan Membantu klien dalam penanganan
proses peradangan ditandai dengan perawatan selama 1 x 24 nafas hipertermia
o
2. Monitor TTV
suhu meningkat lebih dari 37,5 C, jam, termogulasi pasien 3. Berikan oksigen tambahan,
kulit teraba hangat, klien menggigil, sesuai kebutuhan
adekuat dengan criteria
4. Berikan cairan IV, sesuai
dan sakit kepala.
hasil: kebutuhan
5. Berikan obat anti menggigil
1. Suhu dalam rentang
sesuai kebutuhan
normal (36.5-37.5 °C) 6. Jauhkan pasien dari sumber
2. Tidak ada perubahan panas
warna kulit 7. Longgarkan atau lepaskan
pakaian
3. RR dalam batas normal 8. Berikan metode kompres
(16-20 x /menit) hangat (misal kompres
4. Nadi dalam batas normal hangat pada leher, abdomen,
ketiak, selangkanan), sesuai
(60-100x/mnt)
kebutuhan
9. Lakukan pemeriksaan
laboratorium serum elektrolit,
urinalisis, enzim jantung dan
hitung DL, monitor hasilnya
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang Setelah dilakukan Manajemen nutrisi 1. Adanya alergi makanan dapat
dari kebutuhan tubuh berhubungan perawatan selama 3 x 24 1. Identifikasi adanya alergi menghambat proses metabolism
dengan ketidakmampuan makan jam, nutrisi pasien makanan pada pasien makanan
ditandai dengan anoreksia,
adekuat dengan criteria 2. Atur diet yang diperlukan 2. Diet TKTP dapat menambah
penurunan berat badan, dan klien
hasil: (TKTP) energi dan berat badan
tampak tidak dapat menghabiskan
1. Asupan makanan dan 3. Ciptakan lingkungan yang 3. Lingkungan yang nyaman dapat
makanannya.
cairan secara oral dan nyaman untuk meningkatkan nafsu makan
intravena adekuat mengkonsumsi makanan
2. Pasien menghabiskan (berventilasi, bersih, tidak
porsi makanan dari gizi ada bau yang menyengat)

5. Intoleransi aktivitas berhubungan Setelah dilakukan asuhan Manajemen energi Manajemen energi
dengan ketidakseimbangan antara keperawatan selama 3 x 7 1. kaji penyebab kelelahan 1. Untuk menentukan rencana
suplai dan kebutuhan oksigen jam, pasien dapat toleran pasien tindakan yang akan dilakukan
ditandai dengan klien tampak lemah terhadap aktifitas dengan 2. anjurkan pasien kepada pasien
dan tidak dapat melakukan aktivitas criteria hasil: mengungkapkan perasaan 2. Untuk mengidentifikasi
sehari-hari.
secara verbal mengenai keterbatasan yang dialami oleh
5. Saturasi oksigen dalam keterbatasan yang dialami pasien dan untuk merencanakan
batas normal (95-100%) 3. monitor intake/asupan intervensi yang akan diberikan.
6. Frekuensi nadi dalam nutrisi. 3. Untuk memastikan pasien
batas normal (60- Terapi oksigen mendapatkan asupan nutrisi
100x/menit) 1. siapkan pemberian sebagai sumber energi. Energi
7. Tekanan darah dalam oksigen merupakan sumber kekuatan
batas normal 2. monitor aliran oksigen untuk beraktivitas.
(90/60mmHg- 3. monitor efektivitas terapi Terapi oksigen
120/80mmHg) oksigen (tekanan 1. Untuk membantu pernapasan
8. Kemudahan dalam oksimetri, ABGs) pasien
melakukan aktivitas 2. Untuk memastikan aliran oksigen
sehari-hari dengan skala yang sesuai kebutuhan pasien
5 (tidak terganggu) 3. Untuk melihat efektif atau
tidaknya pemberian terapi
oksigen. Pemantauan tekanan
oksimetri merupakan salah satu
cara efektif untuk memantau
pasien terhadap perubahan
saturasi oksigen yang kecil dan
mendadak.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar dan Dharmayanti. 2014. Pneumonia pada Anak Balita di Indonesia. Jurnal
kesehatan masyarakat nasional. 8(8)

Aulina., Rahardjo., Nurjazuli. 2017. Pola Sebaran Kejadian Penyakit Pneumonia


Pada Balita di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. E- Journal. 5
(5)
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Interventions Classification (NIC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Outcomes Classification (NOC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Heather, Herdman. 2018. NANDA-I diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014.


Jakarta: Kemenkes RI.

Librianty, Nurfanida. 2015. Panduan Mandiri Melacak Penyakit. Jakarta: Lintas


Kata.
Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC Jilid 2. Jakarta:EGC

Pearce, Evelyn C. 2011. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama

Price, A.S. dan L.M.Wilson. 2012. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC.

Seyawati dan Marwiati. 2018. Tatalaksana Kasus Batuk Dan Atau Kesulitan
Bernapas: Literature Review. Jurnal ilmiah kesehatan. 30-52

Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada


Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Sundana, k. 2014. Ventilator Pendekatan Praktis Di Unit Perawatan Kritis.


Bandung: CICU Bandung

Syaifuddin. 2014. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:


EGC

Syamsudin & Keban, 2013, Buku Ajar Farmakoterapi Gangguan Saluran


Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.