Anda di halaman 1dari 23

2.1.

Bencana

Bencana dapat didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa

yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan

masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non

alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban

jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak

psikologis. Berdasarkan sumber dan penyebabnya, bencana dapat dibagi

dua, yaitu bencana alam dan bencana non alam. Yang termasuk dalam

bencana alam adalah segala jenis bencana yang sumber, perilaku, dan

faktor penyebab/pengaruhnya berasal dari alam. banjir, tanah longsor,

gempa bumi, erupsi gunung api, kekeringan, angin ribut dan tsunami adalah

contoh-contoh bencana alam. Sedangkan yang termasuk dalam bencana

non alam antara lain bencana sosial (teror, konflik dalam masyarakat),

kegagalan teknologi dan wabah penyakit (Undang-Undang, No. 24 Tahun

2007).

2.2. Rawan Bencana

Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis,

hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan

teknologi pada suatu kawasan untuk jangka waktu tertentu yang


mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan

mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu

(Perka BNPB No. 12 Tahun 2012 tentang pedoman umum pengkajian risiko

bencana), sedangkan ancaman bencana adalah potensi kerugian yang

ditimbulkan akibat kejadian bencana. Dalam Perka BNPB Nomor 12 Tahun

2012 tentang pedoman umum pengkajian risiko bencana terdapat

beberapa ancaman bencana yaitu:

2.2.1. Gempa Bumi

Sebagai salah satu dari beberapa negara yang terletak di

kawasan Zona Seismic Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu

negara yang paling tinggi aktifitas seismic-nya dan merupakan teraktif di

dunia. Dikelilingi oleh lempeng Indo-Australia dan Pelat Laut Filipina

yang meretas di bawah lempeng Eurasia dengan lima pulau besar dan

beberapa semenanjung. Indonesia telah mengalami ribuan gempa bumi

dan ratusan tsunami pada rentang empat ratus tahun terakhir (Aydan,

2008). Gempa bumi adalah getaran atau goncangan yang terjadi dan

dirasakan dipermukaan bumi yang berasal dari dalam struktur bumi.

Pergeseran tersebut terjadi sebagai akibat adanya peristiwa pelepasan

energi gelombang seismik secara tiba-tiba yang diakibatkan atas adanya

deformasi lempeng tektonik yang terjadi pada kerak bumi (Christanto,

2011).

Risiko gempa bumi adalah struktur dan kenampakan individual

potensi kecelakaan atau kerusakan akibat bencana gempa bumi.


Sebagai contoh, adanya suatu patahan aktif akan merupakan

pencerminan bencana. Namun demikian, tingkat risiko dari bencana

tersebut sangat tergantung pada kondisi geologi setempat, kekuatan

gempa bumi, tipe dari konstruksi dan struktur bangunan yang ada pada

atau dekat dari lokasi bencana tersebut. Risiko gempa bumi menjadi

lebih besar bagi penduduk yang bertempat tinggal di daerah pusat

gempa seperti daerah patahan aktif. Apalagi seringkali korban jiwa akibat

gempa bumi lebih banyak terjadi akibat terkena rubuhnya rumah

penduduk yang tidak dibangun menggunakan tenaga ahli. Sehingga

identifikasi mengenai rumah-rumah yang tidak menggunakan tenaga ahli

perlu diidentifikasi berbagai kerentanannya (Green, 2008).

Ada tiga kelompok pembagian gempa bumi yang lazim kita kenal,

yaitu; (1) Gempa tektonik, yaitu yang berkaitan erat dengan

pembentukan patahan (fault), sebagai akibat langsung dari tumbukan

antar lempeng pembentuk kulit bumi; (2) Gempa vulkanik, yaitu gempa

berkaitan dengan aktivitas gunung api; dan (3) Terban yang muncul

akibat longsoran/terban dan merupakan gempa kecil. Kekuatan gempa

mungkin sangat kecil sehingga yang muncul tidak terasa, berupa tremor

dan hanya terdeteksi oleh seismograf.

Adapun skala richter untuk magnitudo gempa bumi adalah

sebagai berikut:

1. <2 ; secara umum getaran tak terasa tetapi terekam oleh


seismograf
2. 2 – 2,9 ; getaran hampir terasa oleh sebagian kecil orang

3. 3 – 3,9 ; getaran terasa oleh sebagian kecil orang

4. 4 – 4,9 ; getaran terasa oleh hampir semua orang

5. 5 – 5,9 ; getaran mulai menimbulkan kerusakan bangunan

6. 6 – 6,9 ; getaran menimbulkan kerusakan

7. 7 – 7,9 ; gempa skala besar, getaran kuat, menimbulkan


kerusakan besar

8. 8 – 9,0 ; gempa dahsyat, getaran sangat kuat dan meluluh


lantakkan bangunan

2.2.2. Tsunami

Tsunami adalah perpindahan massa air dari kecepatan yang

tinggi di lautan dalam dengan tinggi gelombang yang rendah, tetapi

ketika mencapai perairan yang dangkal dan hampir mencapai daratan,

kecepatan gelombangnya mulai menurun akan tetapi ketinggian

gelombangnya meningkat. Gelombang tsunami ini terjadi karena

disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gempa bumi, letusan gunung

api bawah laut, longsoran besar di dasar laut dan akibat benturan benda

langit (meteor). Dari beberapa kejadian tsunami yang pernah terjadi di

permukaan bumi, hampir 90% diakibatkan oleh gempa bumi di dasar

laut. Gelombang tsunami di tengah lautan luas tidak terasa bahkan tidak

teramati, seperti ayunan gelombang laut yang lembut. Akan tetapi

gelombang ini menjelma sebagai gelombang ganas yang mampu

menghantam semua benda yang ada di hadapannya setelah mencapai

daratan. Bencana ini kerap mengancam wilayah yang mempunyai


tatanan geologi di sekitar pergerakan lempeng bumi yang aktif (Yunus

dan Rusli, 2005).

2.2.3. Banjir

Banjir adalah bencana alam yang sering terjadi setiap musim

hujan. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian harta benda,

tetapi juga korban manusia. Untuk itu dalam upaya mitigasi banjir,

diperlukan pemetaan tentang daerah yang rentan dan memiliki risiko

terhadap banjir, salah satu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi

daerah yang rentan banjir adalah penginderaan jauh. Teknik ini memiliki

kelebihan yaitu kajiannya meliputi daerah yang luas dan memiliki biaya

yang relatif murah dibandingkan dengan survei lapangan (Somantri,

2008).

Menurut Richards (1955) dalam Suherlan (2001), bahwa banjir

memiliki dua arti yaitu, (1) meluapnya air sungai disebabkan oleh debit

sungai yang melebihi daya tampung sungai pada keadaan curah hujan

yang tinggi; dan (2) banjir merupakan genangan pada daerah rendah

yang datar yang biasanya tidak tergenang. Kerawanan banjir adalah

keadaan yang menggambarkan mudah atau tidaknya suatu daerah

terkena banjir dengan didasarkan pada faktor-faktor alam yang

mempengaruhi banjir antara lain faktor meteorologi (intensitas curah

hujan, distribusi curah hujan, frekuensi dan lamanya hujan berlangsung)

dan karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) (kemiringan


lahan/kelerengan, ketinggian lahan, testur tanah dan penggunaan

lahan).

Wilayah-wilayah yang rentan banjir biasanya terletak pada daerah

datar, dekat dengan sungai, berada di daerah cekungan dan di daerah

pasang surut air laut. Sedangkan bentuk lahan bentukan banjir pada

umumnya terdapat pada daerah rendah sebagai akibat banjir yang

terjadi berulang-ulang, biasanya daerah ini memiliki tingkat kelembaban

tanah yang tinggi dibanding daerah-daerah lain yang jarang terlanda

banjir. Kondisi kelembaban tanah yang tinggi ini disebabkan karena

bentuk lahan tersebut terdiri dari material halus yang diendapkan dari

proses banjir dan kondisi drainase yang buruk sehingga daerah tersebut

mudah terjadi penggenangan air (Pratomo, 2008)

2.2.4. Tanah Longsor

Runtuhnya tanah atau material menuju tempat yang lebih rendah

karena gaya tarik gravitasi biasanya disebut tanah longsor. Kejadiannya

bisa berlangsung sangat cepat tanpa peringatan ataupun sangat lambat

sehingga memungkinkan orang untuk mengungsikan harta bendanya.

Penyebabnya bias jadi hujan yang terus menerus gempa bumi, letusan

gunung berapi atau aktivitas penambangan, yang pasti struktur tanah

dari kemiringan lereng sangat berpengaruh pada kemungkinan tanah

longsor. Tanah yang padat akan lebih sulit longsor dari pada tanah yang

gembur. Semakin miring lereng, semakin cepat tanah longsor terjadi.

Aktivitas penebangan hutan bisa mendorong terjadinya tanah longsor


karena tidak ada akar yang mengikat dan mempertahankan tanah

(Anonim, 2007).

Gerakan tanah (longsoran) merupakan salah satu peristiwa alam

yang sering menimbulkan bencana dan kerugian material, atau biasa

diartikan dengan perpindahan material pembentuk lereng, berupa

batuan, tanah, bahan timbunan dan material campuran yang bergerak

kearah bawah dan keluar dari lereng. Beberapa faktor utama penyebab

terjadinya gerakan tanah antara lain adalah kondisi alam dan aktivitas

manusia. Faktor alam yang menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah

antara lain tingginya curah hujan, kondisi tanah, batuan, vegetasi, dan

faktor kegempaan sebagai pemicunya. Aktivitas manusia juga dapat

menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah, sebagai contohnya adalah

penggunaan lahan yang tidak teratur, seperti pembuatan areal

persawahan pada lereng yang terjal, pemotongan lereng yang terlalu

curam, penebangan hutan yang tidak terkontrol, dan sebagainya (Ageng,

2014).

Bencana longsor merupakan salah satu bencana alam yang

sering terjadi di Indonesia. Potensi longsor di Indonesia sejak tahun 1998

hingga pertengahan 2008, tercatat 647 kejadian bencana, dimana 85%

dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor. Indonesia

yang berada di daerah tropis memiliki curah hujan yang berkisar >2000

mm/tahun. Selain faktor curah hujan, wilayah Indonesia yang berbukit-

bukit, penebangan hutan liar, alih fungsi hutan dengan sudut kelerengan
yang besar menjadi lahan pertanian yang menyebabkan longsor sering

terjadi (Anggun dkk, 2015). Tanah longsor adalah perpindahan material

pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material

campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses

terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang

meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut

menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang

gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan

bergerak mengikuti lereng (ESDM, 2005).

Longsor sering kali terjadi akibat adanya pergerakan tanah pada

kondisi daerah lereng yang curam, serta tingkat kelembaban (moisture)

tinggi dan tumbuhan jarang (lahan terbuka). Faktor lain untuk timbulnya

longsor adalah rembesan dan aktifitas geologi seperti patahan, rekahan

dan liniasi. Kondisi lingkungan setempat merupakan suatu komponen

yang saling terkait. Bentuk dan kemiringan lereng, kekuatan material,

kedudukan muka air tanah dan kondisi drainase setempat sangat

berkaitan pula dengan kondisi kestabilan lereng.

Analisis longsor didasarkan pada 5 (lima) faktor yang

menyebabkan terjadinya kelongsoran. Kelima faktor tersebut adalah:

a. Geologi: meliputi sifat fisik batuan, sifat keteknikan batuan,

batu/tanah pelapukan, susunan dan kedudukan batuan, dan struktur

geologi.
b. Morfologi: aspek yang diperhatiakan adalah kemiringan lereng dan

permukaan lahan.

c. Curah hujan: meliputi intensitas dan lama hujan.

d. Penggunaan lahan: meliputi pengolahan lahan dan vegetasi.

e. Kegempaan: meliputi intensitas gempa.

2.2.5. Gelombang Ekstrim dan Abrasi

Gelombang pasang ekstrem atau badai adalah gelombang tinggi

yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah

Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia

bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan

memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi

disertai hujan deras. Umumnya gelombang pasang terjadi karena

adanya angin kencang/topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan

karena ada pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan

gelombang pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang pasang sangat

berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah

yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi

gelombang pasang di laut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir

pantai atau disebut dengan abrasi.

Abrasi pantai didefinisikan sebagai mundurnya garis pantai dari

posisi asalnya. Abrasi atau erosi pantai disebabkan oleh adanya

angkutan sedimen menyusur pantai sehingga mengakibatkan

berpindahnya sedimen dari satu tempat ke tempat lainya (Triatmodjo,


1999). Abrasi merupakan pengikisan atau pengurangan daratan (pantai)

akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut. Dalam kaitan ini

pemadatan daratan mengakibatkan permukaan tanah turun dan

tergenang air laut sehingga garis pantai berubah. Pantai dikatakan

mengalami abrasi bila angkutan sedimen yang terjadi ke suatu titik lebih

besar bila dibandingkan dengan jumlah sedimen yang terangkut ke luar

dari titik tersebut (Suwedi, 2006 dalam Damaywanti, 2013).

Nur (2004) menyatakan bahwa perubahan konfigurasi pantai di

wilayah pesisir dapat disebabkan oleh kegiatan atau proses proses alami

dan non alami (kegiatan manusia) baik yang berasal dari darat maupun

dari laut. Proses-proses hidro-oseanografi dari laut yang dapat

memberikan pengaruh antara lain, hempasan gelombang, perubahan

pola arus, serta fenomena pasang surut yang kadang-kadang diperkuat

oleh pengaruh perubahan iklim. Fenomena alami dari darat yang ikut

memberikan pengaruh terjadinya perubahan garis pantai, antara lain

erosi dan sedimentasi akibat arus.

2.2.6. Cuaca Ekstrim

Cuaca ekstrim adalah fenomena meteorologi yang ekstrim dalam

sejarah (distribusi), khususnya fenomena cuaca yang mempunyai

potensi menimbulkan bencana, menghancurkan tatanan kehidupan

sosial, atau yang menimbulkan korban jiwa manusia. Pada umumnya

cuaca ekstrim didasarkan pada distribusi klimatologi, dimana kejadian

ekstrim lebih kecil sama dengan 5% distribusi. Tipenya sangat


bergantung pada lintang tempat, ketinggian, topografi dan kondisi

atmosfer. Contoh cuaca ekstrim antara lain adalah: hujan lebat, hujan es,

badai, kekeringan, puting beliung, badai pasir, dan lain-lain.

2.2.7. Kekeringan

Kekeringan merupakan suatu kondisi dimana terjadi kekurangan

air untuk memenuhi kebutuhan. Kekeringan juga merupakan kejadian

klimatologis yang alami dan dapat terjadi bervariasi antara suhu wilayah

dengan wilayah lainnya dan biasanya dimulai dengan berkurangnya

jumlah curah hujan (dibandingkan dengan kondisi normalnya) dan

tergantung berapa lama kedaan tersebut berlangsung (NOAA, 2008).

Kekeringan pada dasarnya diakibatkan oleh kondisi hidrologi suatu

daerah dalam kondisi air tidak seimbang. Kekeringan terjadi akibat dari

tidak meratanya distribusi hujan yang merupakan satu-satunya input bagi

suatu daerah. Ketidak merataan hujan ini akan mengakibatkan di

beberapa daerah yang curah hujanya kecil akan mengalami ketidak

seimbangan antara input dan output air (Shofiyati, 2007).

Menurut Kementerian Ristek (2008) kekeringan secara umum

bisa didefinisikan sebagai pengurangan pesediaan air atau kelembaban

yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume

yang diharapkan untuk jangka waktu tertentu (Raharjo, 2010).

Kekeringan selain disebabkan faktor alamiah (hujan, dan kondisi alami

lahan) juga diakibatkan oleh adanya perubahan penggunaan lahan dan

pemanfaatan teknologi yang kurang tepat. Kerusakan lingkungan


(kekeringan) yang diakibatkan oleh kedua hal tersebut dikarenakan

adanya upaya menaikkan daya dukung lingkungan dengan menaikkan

luas lahan yang digunakan untuk pembukaan lahan pertanian yang

merupakan reaksi terhadap kenaikan kepadatan penduduk yang sangat

umum terjadi. Reaksi ini merupakan kekuatan yang disebut dengan

tekanan pendudukm (Sumarwoto, 2004).

Khairullah (2009) mengemukakan lima definisi kekeringan yaitu

secara meteorologis, hidrologis, pertanian, sosial ekonomi, dan

antropogenik. Adapun definisi kekeringan tersebut adalah sebagai

berikut.

a. Kekeringan Meteorologis adalah kekeringan yang berhubungan

dengan tingkat curah hujan yang terjadi berada di bawah kondisi

normal dalam suatu musim. Perhitungan tingkat kekeringan

meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi

kekeringan. Intensitas kekeringan meteorologis diklasifikasikan

sebagai berikut: Kering, apabila curah hujan antara 70%-80%, dari

kondisi normal, Sangat kering: apabila curah hujan antara 50%-70%

dari kondisi normal, Amat sangat kering: apabila curah hujan di

bawah 50% dari kondisi normal.

b. Kekeringan Hidrologis adalah kekeringan akibat berkurangnya

pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologis diukur

dari ketinggian muka air waduk, danau dan air tanah. Ada jarak

waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya


ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga

kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya

kekeringan. Intensitas kekeringan hidrologis dikelompokkan menjadi,

Kering: apabila debit sungai mencapai periode ulang aliran di bawah

periode 5 tahunan; Sangat kering: apabila debit air sungai mencapai

periode ulang aliran jauh di bawah periode 25 tahunan; Amat sangat

kering: apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran amat

jauh di bawah periode 50 tahunan.

c. Kekeringan Pertanian berhubungan dengan berkurangnya

kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tak mampu lagi

memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu.

Kekeringan ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan

meteorologis. Intensitas kekeringan pertanian dikelompokkan

sebagai berikut, Kering : apabila 1/4 daun kering dimulai pada ujung

daun (terkena ringan s/d sedang), Sangat kering : apabila 1/4-2/3

daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat), Amat

sangat kering: apabila seluruh daun kering (puso).

d. Kekeringan Sosial Ekonomi berhubungan dengan berkurangnya

pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal

sebagai akibat dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian

dan hidrologis. Intensitas kekeringan sosial ekonomi diklasifikasikan

berdasarkan ketersediaan air minum atau air bersih, Kering langka

terbatas: apabila ketersediaan air (dalam liter/orang/hari) > 30, dan


< 60, air mencukupi untuk minum, memasak, mencuci alat

masak/makan, tetapi untuk mandi terbatas, sedangkan jarak dari

sumber air 0.1 - 0.5 km. Kering langka: apabila ketersediaan air

(dalam liter/orang/hari) > 10 dan < 30, air hanya mencukupi untuk

minum, memasak, dan mencuci alat masak/makan, sedangkan jarak

dari sumber air 0.5 - 3.0 km. Kering kritis: apabila ketersediaan air

(dalam liter/orang/hari) <10, air hanya mencukupi untuk minum dan

memasak, sedangkan jarak dari sumber air >3.0 km.

e. Kekeringan Antropogenik terjadi karena ketidaktaatan pada aturan

yang disebabkan oleh kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang

direncanakan sebagai akibat ketidaktaatan pengguna terhadap pola

tanam/pola penggunaan air, dan kerusakan kawasan tangkapan air,

sumber air sebagai akibat dari perbuatan manusia. Intensitas

kekeringan antropogenik diklasifikasikan menjadi, Rawan: apabila

penutupan tajuk 40%-50%, Sangat rawan: apabila penutupan tajuk

20%-40%, Amat sangat rawan: apabila penutupan tajuk di DAS di

bawah 20%.

2.2.8. Kebakaran Hutan dan Lahan

Hutan dan lahan merupakan sumber daya alam yang sangat

potensial untuk dimanfaatkan bagi pembangunan nasional. Kendati

demikian terhadap hutan dan lahan sering terjadi ancaman dan

gangguan sehingga menghambat upaya-upaya pelestariannya. Salah

satu bentuk ancaman dan gangguan tersebut adalah kebakaran hutan


dan lahan yang mempunyai dampak buruk terhadap tumbuhan/tanaman,

sosial ekonomi dan lingkungan hidup. Kebakaran hutan dan lahan bukan

saja berakibat buruk terhadap hutan dan lahannya sendiri, tetapi lebih

jauh akan mengakibatkan terganggunya proses pembangunan.

Kebakaran hutan dan lahan terjadi disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama

yaitu faktor alami dan faktor kegiatan manusia yang tidak terkontrol.

Faktor alami antara lain oleh pengaruh El-Nino yang menyebabkan

kemarau berkepanjangan sehingga tanaman menjadi kering. Tanaman

kering merupakan bahan bakar potensial jika terkena percikan api yang

berasal dari batubara yang muncul dipermukaan ataupun dari

pembakaran lainnya baik disengaja maupun tidak disengaja. Hal

tersebut menyebabkan terjadinya kebakaran bawah (ground fire) dan

kebakaran permukaan (surface fire). Dua tipe kebakaran tersebut

merusak semak belukar dan tumbuhan bawah hingga bahan organik

yang berada di bawah lapisan serasah seperti humus, gambut, akar

pohon ataupun kayu yang melapuk. Apabila lambat ditangani kebakaran

dapat terjadi meluas sehingga menimbulkan kebakaran tajuk (crown fire)

dimana kebakaran ini merusak tajuk pohon (Rasyid, 2014).

Faktor-faktor terjadinya suatu kebakaran hutan dan lahan adalah

karena adanya unsur panas, bahan bakar dan udara/oksigen. Ketiga

unsur ini dapat digambarkan dalam bentuk segitiga api. Pada prinsipnya,

pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah menghilangkan salah

satu atau lebih dari unsur tersebut. Penyebaran api bergantung kepada
bahan bakar dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log, tonggak dan

cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski lambat

tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti

rumput dan resam kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar

dan cepat menyebar, yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran

hutan/lahan yang besar (Cahyono, 2015).

2.2.9. Kebakaran Gedung dan Permukiman

Kebakaran gedung atau rumah di permukiman masyarakat sangat

sering terjadi. Baik itu disebabkan oleh karena hubungan arus pendek

listrik (kosleting) atau akibat lainnya. Ancaman ini muncul akibat

kecerobohan manusia dalam pemasangan instalasi kelistrikan, dan gas

dalam proses pembangunan tempat tinggal/permukiman atau

perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan gedung yang

berlaku. Korsleting listrik, kompor meledak, api lilin/ lampu minyak yang

menyambar kasur, merupakan penyebab umum kebakaran gedung dan

permukiman. Pembukaan lahan pertanian dan perkebunan masyarakat

dengan cara pembakaran, sering tidak terkontrol sehingga

menyebabkan terjadinya penyebaran dan perluasan kebakaran yang

mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Disamping itu efek dari asap

dari hasil pembakaran tersebut menyebabkan pencemaran udara dan

akibat fatal lainnya menimbulkan masalah bagi kesehatan dengan

terjadinya infeksi pada saluran pernafasan (ISPA) pada mahluk hidup

khususnya masyarakat yang bermukim disekitar lokasi tersebut.


2.2.10. Epidemi dan Wabah Penyakit

Epidemi adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat

di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misal penyakit

yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu. Sedangkan wabah

adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat

yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada

keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat

menimbulkan malapetaka (UU RI No.04 Tahun 1984 Tentang Wabah

Penyakit Menular). Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau

kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun

daerah terjangkit.(Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral

Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan

pemukiman).

2.2.11. Konflik Sosial

Penyebab terjadinya berbagai konflik di Indonesia memang sulit

dipetakan secara sederhana. Faktor-faktor penyebab konflik umumnya

sangat kompleks, meliputi berbagai dimensi. Tiap konflik mulanya dipicu

oleh satu masalah tertentu. Akan tetapi, sebenarnya peristiwa yang

terjadi dilatarbelakangi oleh suatu konteks situasi atau kondisi yang lebih

umum, meliputi; aspek sosial, politik dan ekonomi yang tidak dapat

diterima oleh masyarakat. Konflik biasanya bersumber dari beberapa

aspek, seperti; adanya perubahan sosial, perbedaan kewenangan

(otoritas), perbedaan kepentingan, dan perbedaan kultural. Di setiap


masyarakat selalu terdapat konflik, karena ada kepentingan diantaranya

yang memiliki kekuasaan otoritatif, berupa kepentingan untuk

memelihara atau mengukuhkan status-quo dengan pihak yang ingin

merubahnya (Thomas dkk, 2015).

Dari perspektif antropologi, konflik merupakan fenomena sosial

yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terlebih lagi dalam

masyarakat yang berbentuk multi budaya. Selain itu, konflik adalah suatu

hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bersama. Oleh karena

itu, yang perlu dilakukan adalah bagaimana konflik itu dikendalikan dan

diselesaikan secara damai dan bijaksana, agar tidak menimbulkan dis-

integrasi sosial dalam kehidupan masyarakat (Najwan 2009).

2.3. Kerentanan Wilayah

Kerentanan didefinisikan sebagai karakteristik spesifikasi atau kondisi

yang akan meningkatkan bencana yang akan mengakibatkan kerusakan,

kerugian dan kehilangan. Tingkat kerentanan bervariasi tergantung dari

karakteristik exposure, seperti tingkat desain, material konstruksi,

demografis, lokasi geografis, dan lain-lain (Noson,2000). Menurut

Wignyosukarto (2007), kerentanan adalah suatu keadaan penurunan

ketahanan akibat pengaruh eksternal yang mengancam kehidupan, mata

pencaharian, sumber daya alam, pemukiman, infrastruktur, produktivitas

ekonomi dan kesejahteraan. Menurut International Strategi for Disaster

Reduction/ISDR dalam Diposaptono dan Budiman (2007), kerentanan

adalah kondisi-kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor fisik, sosial,


ekonomi dan lingkungan atau proses-proses yang meningkatkan

kerawanan suatu masyarakat terhadap dampak bencana.

Kerentanan diukur berdasarkan empat komponen yang mencakup,

komponen kerentanan sosial, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan

kerentanan ekologi. Kerentanan sosial dibagi dalam dua parameter yaitu

kepadatan penduduk dan kepekaan sosial. Kerentanan ekonomi dibagi

dalam dua parameter yaitu, PDRB per sektor dan penggunaan

lahan/kawasan budidaya. Semakin tinggi PDRB dan penggunaan lahan

maka semakin rentan wilayah tersebut. Kerentanan fisik terbagi dalam 2

parameter yaitu, kerentanan bangunan dan prasarana. Sedangkan

kerentanan ekologi terdiri atas satu parameter yaitu penggunaan

lahan/kawasan lindung. Dari empat komponen kerentanan di atas,

kerentanan sosial memiliki bobot paling tinggi karena mencakup aspek

keselamatan manusia (Perka BNPB No.02 Tahun 2012 tentang Pedoman

Umum Pengkajian Risiko Bencana).

2.4. Pengkajian Risiko Bencana

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat

bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa

kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,

kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat (UU

No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana). Pengkajian risiko

bencana dilaksanakan dengan mengkaji dan memetakan Tingkat

Ancaman, Tingkat Kerentanan dan Tingkat Kapasitas berdasarkan Indeks


Kerugian, Indeks Penduduk Terpapar, Indeks Ancaman dan Indeks

Kapasitas. Metodologi untuk menerjemahkan berbagai indeks tersebut ke

dalam peta dan kajian diharapkan dapat menghasilkan tingkat risiko untuk

setiap ancaman bencana yang ada pada suatu daerah. Tingkat risiko

bencana ini menjadi landasan utama untuk menyusun Rencana

Penanggulangan Bencana Daerah.

2.5. Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem berbasis komputer

yang memberikan empat kemampuan untuk menangani data bereferensi

geografis, yaitu pemasukan, pengelolaan atau manajemen data

(menyimpan atau pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis serta

keluaran. Pemasukan data ke dalam sistem informasi geografis dilakukan

dengan cara digitasi dan tabulasi. Manajemen data meliputi semua operasi

penyimpanan, pengaktifan, penyimpanan kembali, dan pencetakan semua

data yang diperoleh dari masukan data. Proses manipulasi dan analisa data

dilakukan interpolasi spasial dari data non-spasial menjadi data spasial,

mengkaitkan data tabular ke data raster, tumpang susun peta yang meliputi

map crossing, tumpang susun dengan bantuan matriks atau tabel dua

dimensi, dan kalkulasi peta. Keluaran utama dari sistem informasi geografis

adalah informasi spasial baru yang dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu

tersimpan dalam format raster dan tercetak ke hardcopy, sehingga dapat

dimanfaatkan secara operasional (Korte, 1977 dalam Wyatt and Ralphs,

2003). Dalam konteks basis data (database based), Aronoff (1989)


menyatakan bahwa Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu

sistem berbasis komputer yang mempunyai kemampuan untuk menangani

data yang bereferensi geografi, yaitu pemasukan data, manajemen data

(penyimpanan dan pemanggilan kembali), manipulasi dan analisis serta

keluaran (output).

Sistem Informasi Geografis memiliki berbagai fasilitas menu yang dapat

digunakan dalam membantu berbagai jenis analisis data keruangan. Salah

satu fasilitas tersebut adalah fasilitas overlay atau tumpang susun peta.

Fasilitas tumpang susun peta digunakan untuk melakukan penggabungan

informasi antara dua atau lebih data spasial, sehingga dihasilkan file atau

theme baru yang berisi informasi atau atribut gabungan dari berbagai peta

yang digabungkan. Dalam proses penggabungan, terdapat berbagai

macam tipe penggabungan. Dua tipe yang biasa digunakan, antara lain

adalah intersect dan union. Citra penginderaan jauh yang dapat digunakan

untuk ekstraksi informasi-Informasi yang terkait dengan parameter fisik dan

sumberdaya suatu lahan salah satunya adalah citra landsat. Satelit ini

mempunyai kemampuan untuk mendeteksi benda atau kenampakan

terkecil di permukaan bumi (resolusi spasial) sebesar 30 m x 30 m. Selain

resolusi spasial, citra juga mempunyai resolusi radiometrik yang baik.

Keunggulan tersebut menjadikan citra landsat mempunyai kemampuan

yang tinggi dalam membedakan karakteristik spektral masing-masing objek

yang ada di permukaan bumi. Selain itu resolusi temporalnya juga cukup

baik yaitu 16 hari. citra landsat juga sangat baik untuk mendeteksi
kenampakan vegetasi di permukaan bumi, karena ada citra ini terdapat

beberapa saluran sehingga variasi nilai spektral masingmasing objek pada

julat tertentu dapat diamati dengan teliti (Liliesand and Kiefer, 2007).

Integrasi dari metode penginderaan jauh dan SIG dapat memberikan

kemudahan dalam hal manajemen data, pemrosesan data, hingga

penyajian hasil akhir. Dalam hal ini penginderaan jauh memberikan

kontribusi dalam penyediaan sumber informasi data spasial, dan SIG

memberikan kontribusi dalam hal manajemen data hingga penyajian hasil

akhir. Sistem Informasi Geografi untuk selanjutnya disingkat SIG dalam arti

luas adalah sistem manual dan atau kompoter yang digunakan untuk

mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menghasilkan informasi yang

mempunyai rujukan spasial atau geografis (Danoedoro, 1996). Aronoff

(1989) dalam bahasa yang lebih operasional membatasi pengertian SIG

sebagai suatu sistem berbasis komputer yang memberikan empat

kemampuan untuk menangani data bereferensi geografis, yaitu

pemasukan, pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan, dan

pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis, serta keluaran.

SIG yang digabungkan dengan teknologi pengolahan citra digital saat

ini telah mampu meningkatkan potensi pemanfaatan citra satelit, sehingga

informasi yang disadap dari citra digital tidak lagi hanya berdasarkan pada

aspek spektralnya saja. Sebagai contoh, untuk pemetaan penggunaan

lahan dapat disadap dari citra satelit melalui pengolahan yang

diintregasikan dengan SIG, yaitu dengan cara tumpang susun antara


informasi penutup lahan dengan informasi bentuk lahan. Hal inilah yang

mampu meningkatkan penggunaan citra digital secara optimal (Danoedoro,

1996).