Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Protozoa


Protozoa berasal dari kata protos, terdiri dari dua kata yaitu proto : pertama dan zoa:
hewan, jadi protozoa berarti hewan yang pertama kali dikenal. Protozoa merupakan
mikroorganisme uniseluler, namun bukan mikroorganisme yang sederhana.bahkan bisa
dikatakan protozoa lebih kompleks daripada sel dari organisme tingkat tinggi.
Ukuran protozoa beraneka ragam, mulai dari kurang dari 10 mikron sampai ada yang
mencapai6 mm, meskipun jarang. Diperairan protozoa adalah penyusun zooplankton.
Makanan protozoa meliputi bakteri, dan jenis protista lain atau deritus (materi organic dari
organisme mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni. Jika keadaan lingkungan kurang
menguntungkan, protozoa membungkus kista untuk mempertahankan diri. Bila mendapat
lingkungan yang sesuai maka protozoa akan aktif lagi.
Protozoa dibagi menjadi 7 filum, yang anggotanya terdiri atas makhluk hidup
eukariotik sederhana yang mamou bergerak berpindah pindah tempat dan dapat mencerna
makanan, cara bergeraknya ada yang menggunakan flagela, silia atau pseudopodia, bahkan
ada yang tidak memiliki alat gerak (gambar 2.1.1).

Gambar 2.1.1 Protozoa


(sumber : Zoology Phylum, R.L Kotpal )
2.2 Homeostatis protozoa
Protozoa memiliki organella yang sama dengan organella pada sel eukariotik lainnya
(gambar 2.1 ). Beberapa organella yang dimiliki oleh protozoa antara lain :
1. Pelikel
Merupakan mikrotubulus yang tersusun teratur dibawah membran plasma.
Adanya pelikel menyebabkan protozoa memiliki bentuk kaku dan fleksibel.
2. Sitoplasma
Pada protozoa sitoplasma dibedakan menjadi 2 daerah yaitu ektoplasma (terletak
dibawah pelikel) sifatnya lebih jernih dan lebih kental sedangkan endoplasma
(sitoplasma terletak lebih dalam ) bersifat granuler, dan lebih cair. Perubahan
sitoplasma dari endoplasma ke ektoplasma dan sebaliknya berfungsi utuk
pergeakan bagi beberapa anggota protozoa
3. Vakuola kontraktil
Organel ini berfungsi untuk mengeluarkan sisa makanan berbentuk cair ke luar sel
melalui membrane sel serta mengatur kadar air dalam sel. Vakuola kontraktil
merupakan vakuola yang selalu mengembang dan mengempis. Pada beberapa
anggota protozoa vakuola ini dibentuk dari penggabungan vakuola yang berukura
lebih kecil, sementara pad aanggota yang lain vakuola ini bersifat tetap berupa
tabung pengumpul dalam susunanradial didalam sitoplasma.
4. Chytopharing
Organella ini merupakan analogi dengan ulut, dimana bebrapa anggota dari
protozoa memasukkan makanan pada organell ini. Sedangkan yang tidak memiliki
organell ini akan menyerap makanan berupa larutan melalui proses transport aktif
atau memlalui proses endositosis.
5. Vakuola makanan
Berfungsi untuk mencerna makanan dan mengedarkannya. Vakuola ini terbentuk
saat endositosis, proses pencernaan ini dibantu oleh enzim pencernaan. Vakuola
pencernaan akan bergabung dengan lisosom yang mengandung enzim pencernaan,
kemudian akan bergerak berkeliling didalam sitoplasma untuk mengedarkan hasil
proses pencernaan makanan.
6. Vakuola engesti
Vakuola yang berfungsi untuk pembuangan setelah vakuola makanan selesai
melakukan oencernaan dan mengedarkannya, vakuola makanan disebut sebagai
vakuola engesti.
7. Cytopige
Merupakan daerah tertentu pada membran plasma atau pelikel yang berfunsi
untuk melepaskan sisa pencernaan melalui proses eksositosis
Gambar 2.1. Organella Di dalam Tubuh Protozoa

2.3 Reproduksi Protozoa

Protozoa dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. Secara aseksual
protozoa dapat mengadakan pembeahan diri menjadi 2 anak sel (biner), tetapi
pada flagellata pembelahan terjadi secara longitudinal dan pada ciliata secara
transversal (gambar 2.3.1). Beberapa jenis protozoa membelah diri menjadi
banyak sel (schizogony). Pada pembelahan schizogony, inti membelah beberapa
kali kemudian diikuti pembelahan sel menjadi banyak sel anakan. Bentuk lain dari
reproduksi secara aseksual adalah dengan pembentukan tunas. Pada proses
tersebut terjadi melalui pembelahan mitosis dan sel anak berukuran lebih kecil
dari sel induknya. Perkembangan secara seksual dapat melalui cara
konjugasi,autogami, dan sitogami.
Protozoa yang memiliki inang lebih dari satu dapat mempunyai beberapa cara
perkembangbiakan. Sebagai contoh plsmodium dapat melakukan schizogony
secara aseksual didalam sel inang manusia, tetapi dalam sel inang nyamuk dapat
terjadi perkembangbiakan secara seksual. Reproduksi secara seksual memerlukan
gamet atau sel kelamin dan selanjutnya gamet akan bergabung membentuk zigot.
Pada sebagian besar protozoa,individu yang matang secara seksual adalah haploid.
Gamet akan dihasilkan melalui pembelahan mitosis dan meiosis engikuti tahapan
penggabungan gamet. Protozoa bersilia adalah perkecualian untuk pola tersebut.
Gambar 2.3.1. Pembelahan Biner Secara Longitudinal dan Transversal Pada
Beberapa Protozoa
(sumber : Haris 1990)

2.4 Taksonomi Protozoa

Protozoa mirip hewan dibagi atau diklasifikasikan menjadi 4 filum


berdasarkan alat geraknya (gambar 2.4.1) yaitu :
a. Rhizopoda
Alat geraknya berupa pseudoposia (kaki semu), bergerak
menggunakan pseudoposia yang merupakan penjuluran
protoplasma sel. Contohnya adalah Amoeba proteus, Entamoeba
histolityca, Foraminifera sp, Radilaria sp.
b. Flagellata
Alat geraknya berupa flagel (bulu cambuk). Bergerak mengunakan
flagel yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk
menangkap makanan. Contohny antara lain Euglena viridis,
Noctiluca milliaris, Volvox globator, Trypanosoma gambiense

c. Ciliata
Alat gerak berupa silia (rambut getar) rambut getar ini digunakan
sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukurannya lebih pendek
dari flagel. Contoh anggotanya antara lain Paramaecium
caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli
d. Sporozoa
Merupakan protozoa yang tidak memiliki alat gerak. Cara
bergeraknya degan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Sporozoa
tidak memiliki alat gerak khusus, dan menghasilkan spora sebagai
cara perkembang biakannya. Anggotanya antara lain Plasmodium
falciparum, Plasidium malarie, Plasmodium vivax.

Gambar 2.4.1 Protozoa dibagi Menjadi 4 Filum Berdasarkan Alat


Gerak
(sumber : Haris 1990)
Sedangkan menurut para ahli atau protozoologist sepakat bahwa protozoa adalah
subingdom yang terdiri atas 7 filum. Ketujuh filum tersebut dibagi berdasarkan tipe
inti sel, tipe produksi, dan mekanisme pergerakan. Ke tujuh filum tersebut antara
lain sebagai berikut
1. Filum Sarcomastigophora
Terdiri dari protozoa yang memiliki flagella, kaki semu (pseudopodia)
atau meiliki keduanya, yang digunakan untuk bergerak dan makan. Filum
ini terdiri dari tiga subfilum
a. Subfilum Mastigophora
Memliki satu atau lebih flagela untuk pergerakan, bersifat
autotrofik, heterotrofik dan saprozoik. Subfilum ini terbagi menjadi
dua kelas yaitu kelas Phytomastigophora (memiliki klorofil) dan
kelas Zoomastigophora (tidak meiliki klorofil).
b. Subfilum Sarcodina
Memiliki pseudopodia untuk bergerak dan makan, tidak
bercangkang atau ada yang memiliki cangkang. Subfilum ini
terbagi menjadi 2 superkelas yaitu superkelas Rhizopoda
(pseudopodia bertipe lobopodia, filopodia, reticulopodia) dan
superkelas Actinopodia (plangtonik, berbentuk spherikal, memiliki
pseudopodia bertipe axopodia)
c. Subfilum Opalina
Tubuhnya berbentuk silindris, tertutup oleh silia.
2. Filum Labyrinthomorpha
Fase topik sebagai hubungan ektoplasma dengan bentuk spindel atau
sperikel,sel tidak bersifat amoeboid, bersifat saprozoik atau parasit pada
alga atau rumput laut, umumnya hidup dilaut atau di air payau contoh
Labyrinthula
3. Filum Apicomplexa
Bersifat parasit dengan ujung apikal tubuhnya digunakan unuk masuk ke
sel induk, tidak memiliki flagel ata silia, kecuali pada tahap tertentu dari
tahapan reproduksi. Cntoh anggotanya Monocystis, Eimeria, Sarcocystis.
4. Filum Microspora
Spora yang tergolong uniseluler, bersifat parasit intraseluler pada hamir
semu hewan. Contoh mikrospora (Nosema)
5. Filum Acetospora
Tergolong multiseluler, semua bersifat parasit pada hewan invertebrata.
Contohnya Paramyxa, Haplosporidium
6. Filum Myxozoa
Spora yang ergolog multiseluler dan semua bersifat parasitik. Contohnya
Myxosoma
7. Filum Ciliophora
Protozoa yang memiliki silia sederhana atau kompleks pada semua tahap
kehidupannya. Bersifat heterotrof dengan sitosotoma yang berkembang
baik dan memliki organella untuk makan. Contohnya Paramaecium,
Stentor, Euplotes