Anda di halaman 1dari 13

ekosehat

Minggu, 14 Februari 2016

MAKALAH DISTRES SPIRITUAL


MAKALAH DISTRES SPIRITUAL

Eko wijaya kusuma

0433131420112020

STIKES KHARISMA KARAWANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan makhluk tuhan yang lainnya.
Mengapa demikian?,tentu jawabannya karena manusia telah diberkahi dengan akal dan fikiran
yang bisa membuat manusia tampil sebagai khalifah dimuka bumi ini. Akal dan fikiran ini lah yang
membuat manusia bisa berubah dari waktu ke waktu.Dalam kehidupan manusia sulit sekali
dipredeksi sifat dan kelakuannya bisa berubah sewaktu-waktu. Kadang dia baik,dan tidak bisa bisa
dipungkiri juga banyak manusia yang jahat dan dengki pada sesame manusia dan makhluk tuhan
lainnya.
Setiap manusia kepercayaan akan sesuatu yang dia anggap angung atau maha.kepercyaan inilah
yang disebut sebagai spriritual. Spiritual ini sebagai kontrol manusia dalam bertindak, jadi spiritual
juga bisa disebut sebagai norma yang mengatur manusia dalam berperilaku dan bertindak.

Dalam ilmu keperawatan spiritual juga sangat diperhatikan.Berdasarkan konsep keperawatan,


makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem
kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek
spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan
Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan transpersonal.
Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi
kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya
dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).

B. Tujuan

Berdasarkan uraian latar belakang diatas kami dapat menarik kesimpulan tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah

2. Untuk membantu mahasiswa mengerti tentang distres spiritual

3. Unyuk membantu mahasiswa bisa mengerti bagaimana konsep distres spiritual dalam
keperawatan (kesehatan)

C. Rumusan masalah

Dalam makalah ini ingin menyampaikan beberapa permasalah yang menjadi dasar penulisan
makalah ini

1. Apa yang dimaksud dengan distres siritual

2. Apa penyebab dari distres spiritual

3. Apa karakteristik dari distres spiritual


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan mengintegrasikan arti
dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni, musik, literature, alam dan kekuatan
yang lebih besr dari dirinya (EGC, 2008).

Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan dalam prinsip hidup yang
meliputi seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan biologis dan psikososial (EGC, 2011).

Dengan kata lain kita dapat katakan bahwa distres spiritual adalah kegagalan individu dalam
menemukan arti kehidupannya.

B. Penyebab

Menurut Budi anna keliat (2011) penyebab distres spiritual adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian Fisik  Abuse

2. Pengkajian Psikologis  Status mental, mungkin adanya depresi, marah, kecemasan,


ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah, dan pemikiran yang
bertentangan (Otis-Green, 2002).

3. Pengkajian Sosial Budaya dukungan sosial dalam memahami keyakinan klien


(Spencer, 1998).

C. Patofisiologi

Patofisiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan struktur serta fungsi otak.

Stress adalah realitas kehidupan manusia sehari-hari. Setiap orang tidak dapat dapat
menghindari stres, namun setiap orang diharpakan melakukan penyesuaian terhadap
perubahan akibat stres. Ketika kita mengalami stres, otak kita akan berespon untuk terjadi.
Konsep ini sesuai dengan yang disampikan oleh Cannon, W.B. dalam Davis M, dan kawan-
kawan (1988) yang menguraikan respon “melawan atau melarikan diri” sebagai suatu
rangkaian perubahan biokimia didalam otak yang menyiapkan seseorang menghadapi
ancaman yaitu stres.

Stres akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan tanda bahaya ke hipotalamus.


Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk melakukan perubahan. Sinyal
dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh sistem limbik dimana salah satu bagian
pentingnya adalah amigdala yang bertangung jawab terhadap status emosional seseorang.
Gangguan pada sistem limbik menyebabkan perubahan emosional, perilaku dan kepribadian.
Gejalanya adalah perubahan status mental, masalah ingatan, kecemasan dan perubahan
kepribadian termasuk halusinasi (Kaplan et all, 1996), depresi, nyeri dan lama gagguan (Blesch
et al, 1991).

Kegagalan otak untuk melakukan fungsi kompensasi terhadap stresor akan menyebabkan
seseorang mengalami perilaku maladaptif dan sering dihubungkan dengan munculnya
gangguan jiwa. Kegagalan fungsi kompensasi dapat ditandai dengan munculnya gangguan
pada perilaku sehari-hari baik secara fisik, psikologis, sosial termasuk spiritual.

Gangguan pada dimensi spritual atau distres spritual dapat dihubungkan dengan timbulnya
depresi.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana mekanisme patofisiologi terjadinya depresi. Namun
ada beberapa faktor yang berperan terhadap terjadinya depresi antara lain faktor genetik,
lingkungan dan neurobiologi.

Perilaku ini yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memenuhi
kebutuhan spiritualnya sehingga terjadi distres spritiual karena pada kasus depresi seseorang
telah kehilangan motivasi dalam memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan spritual.

D. Karakteristik distres spiritual

Karakteristik Distres Spritual menurut EGC (2008) meliputi empat hubungan dasar yaitu :

A. Hubungan dengan diri

1. Ungkapan kekurangan

a. Harapan

b. Arti dan tujuan hidup

c. Perdamaian/ketenangan

d. Penerimaan

e. Cinta

f. Memaafkan diri sendiri

g. Keberanian

2. Marah

3. Kesalahan
4. Koping yang buruk

B. Hubungan dengan orang lain

1. Menolak berhubungan dengan tokoh agama

2. Menolak interaksi dengan tujuan dan keluarga

3. Mengungkapkan terpisah dari sistem pendukung

4. Mengungkapkan pengasingan diri

C. Hubungan dengan seni, musik, literatur, dan alam

1. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan kreativitas (bernyanyi, mendengarkan


musik, menulis)

2. Tidak tertarik dengan alam

3. Tidak tertarik dengan bacaan keagamaan

D. Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya

1. Ketidakmampuan untuk berdo’a

2. Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan

3. Mengungkapkan terbuang oleh atau karena kemarahan Tuhan

4. Meminta untuk bertemu dengan tokoh agama

5. Tiba-tiba berubah praktik agama

6. Ketidakmampuan untuk introspeksi

7. Mengungkapkan hidup tanpa harpaan, menderita

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Puchalski’s FICA Spritiual History Tool
(Pulschalski, 1999) :
1. F : Faith atau keyakinan (apa keyakinan saudara?) Apakah saudara memikirkan diri saudara
menjadi sesorang yang spritual ata religius? Apa yang saudara pikirkan tentang keyakinan
saudara dalam pemberian makna hidup?

2. I : Impotance dan influence. (apakah hal ini penting dalam kehidupan saudara). Apa
pengaruhnya terhadap bagaimana saudara melakukan perawatan terhadap diri sendiri?
Dapatkah keyakinan saudara mempengaruhi perilaku selama sakit?

3. C : Community (Apakah saudara bagian dari sebuah komunitas spiritual atau religius?)
Apakah komunitas tersebut mendukung saudara dan bagaimana? Apakah ada seseorang
didalam kelompok tersebut yang benar-benar saudara cintai atua begini penting bagi
saudara?

4. A : Adress bagaimana saudara akan mencintai saya sebagai seorang perawat, untuk
membantu dalam asuhan keperawatan saudara?

5. Pengkajian aktifitas sehari-hari pasian yang mengkarakteristikan distres spiritual,


mendengarkan berbagai pernyataan penting seperti :

a. Perasaan ketika seseorang gagal

b. Perasaan tidak stabil

c. Perasaan ketidakmmapuan mengontrol diri

d. Pertanyaan tentang makna hidup dan hal-hal penting dalam kehidupan

e. Perasaan hampa

Faktor Predisposisi :

 Gangguan pada dimensi biologis akan mempengaruhi fungsi kognitif seseorang sehingga akan
mengganggu proses interaksi dimana dalam proses interaksi ini akan terjadi transfer pengalaman yang
pentingbagi perkembangan spiritual seseorang.
 Faktor frediposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan, pendapattan, okupasi,
posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial, tingkatan sosial.
Faktor Presipitasi :

 Kejadian Stresful
Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang dapat terjadi karena perbedaan tujuan
hidup, kehilangan hubungan dengan orang yang terdekat karena kematian, kegagalan dalam
menjalin hubungan baik dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan zat yang maha tinggi.

 Ketegangan Hidup
Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya distres spiritual adalah
ketegangan dalam menjalankan ritual keagamaan, perbedaan keyakinan dan
ketidakmampuan menjalankan peran spiritual baik dalam keluarga, kelompok maupun
komunitas.

Penilaian Terhadap Stressor :

 Respon Kognitif
 Respon Afektif
 Respon Fisiologis
 Respon Sosial
 Respon Perilaku
Sumber Koping :

Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi distres spiritual :

 Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan pada kepentingan orang
lain.
 Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi positif thingking,
mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.
 Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu menyediakan pelayanan langsung
yang berkaitan dengan dimensi spiritual.
 Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat, petunjuk dan umpan
balik bagaimana seseorang harus berperilaku berdasarkan keyakinan spiritualnya.
 Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan dukungan kelompok untuk
berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor, dkk (2003) menambahkan dukungan apprasial yang
membantu seseorang untuk meningkatkan pemahaman terhadap stresor spiritual dalam mencapai
keterampilan koping yang efektif.
PSIKOFARMAKA :

 Psikofarmaka pada distres spiritual tidak dijelaskan secara tersendiri. Berdasarkan dengan
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia III aspek
spiritual tidak digolongkan secara jelas apakah masuk kedalam aksis satu, dua, tiga, empat
atau lima

Diagnosa :

Distters Spritual
Kriteria hasil:

 Individu :

1. Klien dapat melakukan spiritual yang tidak mengganggu kesehatan

2. Klien dapat mengekspresikan pengguguran perassaan bersalah dan ansietas

3. Klien dapat mengekspresikan kepuasan dengan kondisi spiritual.

Intervensi :

Sp. 1-P :

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

2. kaji faktor penyebab distress spiritual pada pasien

3. bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap agama yang diyakininya

4. bantu klien mengembangkan kemampuan untuk mengatasi perubahan spritual dalam


kehidupan.

Sp. 2-P :

1. Fasilitas klien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinan klien,

2. fasilitas klien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain

3. bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan.

Tindakan keperawatan

Tujauan intervensi keperawatan untuk pasien:

1. Mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat


2. Mamapu mengungkapkan penyebab distres spritual
3. Mampu mengungkapkan perasaan dan fikiran tentang kyakinannya
4. Mempu mengembangkan kemampuan mengatasi masalah dan perubahan
keyakinannya.
5. Mampu melakukan kegiatan keagamaan
Tindakan keperaawatan untuk pasien distres spiritual

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien


2. Kaji faktor penyebab distres spritual pada pasien
3. Bantu pasien mengungkapkan perasaan dan fikiran tentang keyakinanya
4. Bantu klien mengembangkan keterampilan untuk mengatasi perubahan spiritul dalam
kehidupan
5. fasilitasi pasien dengan alat alat ibadah seseuai agamanya
6. fasilitasi pasien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain
7. bantu passien untuk ikut serta dalam keadaan keagamaan
8. bantu pasien mengevaluasi perasaan setelah melakukan kegiatan keagamaan
Fase kerja

SP 1-P:

 Bina hubungan saling percaya dengan pasien

 kaji faktor penyebab distres spritual pada pasien

 bantu pasien mengungkapkan perasaan dan fikiran terhadap agama yang diyakini

 bantu pasien mengembangkan kemampuan mengatasi perubahan spiritual dalam


kehidupan

Orientasi
selamat pagi pak, nama saya suster. . . suka dipanggil. . nama bapak siapa? Suka di panggil
apa? Saya perawat disini yang akan merawat bapak saya akan datang secara berkala
kerumah bapak. Bagaimana perasaan bapak hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-
cakap tentang masalah yang bapak alami, kita ngobrol selama 30 menit yaa? Dimana
tempatnya? Mari pak kalau begitu.

SP 1-P : Bina hubungan saling percaya dengan pasien

Fase Kerja

Apa masalah yang bapak rasakan saat ini coba bapak sampaikan apa menyebabkan bapak
tidak aktif solat dan pengajian yang di adakan di masjid seperti dulu. Oh ya

Pak masi adakah faktor lain yang menyebabkan bapak tidak aktif lagi

Apa saja kegiatan ibadah dan sosial yang dapat bapak jalankan

Mana yang kira-kira ingin bapak jalankan? Bagus sekali. Mari bapak coba ya.

Terminasi

Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang?

Tampaknya bapak semangat menjawab pertanyaan suster ya?


Coba bapak ulangi apa yang udah kita diskusikan ya bagus sekali selain itu bapak juga
telah mengungkapkan perasaan dan pikiran bapak tentang agama yang bapak bisa
lakukan seminggu lagi kita bertemu untuk mengetahui manfaat kegiatan yang bapak
lakukan

SP 2-P : Fasilitasi klien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinannya fasilitasi klien untuk
menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain, bantu pasien untuk ikut serta dalam
kegiatan keagamaan

Orientasi

Selamat pagi pak bagaimana keadaan bapak saat ini? Sudah dicoba melakukan ibadah?
Bagaimana perasaan bapak setelah mencobanya? Hari ini kita akan mendiskusikan tentang
persiapan alat-alat solat dan cara-cara menjalankan solat baik sendiri maupun berjamaah
bersama orang lain. Bagaimana kalau kita ngobrol selama 30 menit? Dimana bapak mau
ngobrolnya? Bagaimana kalau disini saja?

Kerja

Pak, sepengetahuan bapak apa saja persiapan solat baik alat maupun diri kita. Bagus sekali
menyiapkan kopiah, sejdah dan sarung. Dan sebelum solat bapak harus mandi dulu dan
berwudhu. Coba bapak sebutkan solat lima waktu sehari semalam solat subuh jam berapa?
Bagaimana ucapannya, sampai dengan solat isa. Selain itu, bapak dapat melakukan solat
berjamaah dirumah. Bagaimana kalau kita buat tempat solat dirumah bapak ini. Setujukan
pak? Baik, kalau begitu kamar depan ini bapak siapkan untuk tempat solat lima waktu nanti
dan dapat bersama-bersama. Mulai hari ini bapak sudah bisa melakukan solat dan berdoa
secara teratur agar diberikan ketenangan oleh tuhan dalam menghadapi masalah ini. Pada
hari jumat nanti bapak bisa pergi bersama dengan warga lain untuk solat jumat di masjid.
Bagaimana pak?

Terminasi

Bagaimana perasaan bapak setelah diskusi tentang cara-cara menyiapkan alat solat dan
mengerjakan solat dirumah berapa kali sehari bapak mencobanya? Mari kita buat jadwalnya,
kalau sudah dilakukan, beri tanda ya! Tiga hari lagi,saya akan datang untuk mendiskusikan
tentang perasaan bapak dalam melakukan solat serta membahas kegiatan ibadah yang lain.
Kalau begitu saya permisi dulu. Samai jumpa. Selamat pagi.

Tujuan tindakan keperawatan untuk keluarga pada pasien distres spritual, agar keluarga mampu:

1. mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien dengan masalah


spiritual
2. mengetahui terjadinya masalah spiritual yang dihadapi oleh pasien
3. mengetahui cara merawat keluarga yang mengalami masalah spiritual
4. melakukan rujukan pada tokoh agama apabila diperlukan
tindakan keperawatan untuk keluarga:

1. mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam merawat pasien


2. jelaskan proses terjadinya masalah spiritual yang dihadapi pasien
3. jelaskan pada keluarga cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
spiritual
4. bantu keluarga untuk membantu pasien melaksanakan kegiatan spiritual
5. beri pujian bila keluarga mampu melakukan kegiatan yang pasitif
SP 1-K : Bantu keluarga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat
pasien, bantu keluarga untuk mengetahui proses terjadinya masalah
spiritual yang dihadapi dan perawatannya.

Orientasi

Selamat pagi, pak. Bagaimana keadaan anak bapak, hari ini? Hari ini kita akan mendiskusikan
tentang masalh yang bapak hadapi dalam merawat atau membantuanak bapak, selama 30
menit. Di sini saja ya, pak.

Kerja

Menurut bapak apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat atau membantu anak bapak?
Jadi A malas sholat dan tidak mau mengikuti pengajian?

Apakah hal tersebut terjadi setelah gempa atau akibat dari stunami yang lalu. Oh, jadi masalah
yang bapak hadapi adalah susah memberi tahu dan mengajak A untuk sholat lima waktu ya?

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan mengintegrasikan arti
dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni, musik, literature, alam dan kekuatan
yang lebih besr dari dirinya namun adapun penyebabnya yaitu dapaat dilihat dari pengkajian
fisik, pengkajian psikologis  Status mental, mungkin adanya depresi, marah, kecemasan,
ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah, dan pemikiran yang
bertentangan dan Pengkajian sosial budaya  dukungan sosial dalam memahami keyakinan.

B. Saran

perlu banyak pembelajaran tentang spiritualitas karena spiritual sangat penting bagi manusia dalam
berbagai hal. dalam ilmu kesehatan juga perlu ditingkatkan agar seorang tenaga kesehatan tidak salah
mengambil sikap atau tindakan dalam menghadapi klien dengan gangguan spiritualitas. perhatian
spiritualitas dapat menjadi dorongan yang kuat bagi klien kearah penyembuhan atau pada
perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritualitas. untuk itu seorang perawat tidak boleh
mangesampingkan masalah spiritualitas klien.

DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani S. Hamid, Bunga rampai asuhan keperawatan kesehatan jiwa/ Achir Yani S. Hamid: editor,
Monica Ester,Onny Anastasia Tampubolon. –Jakarta: EGCC, 2008.

Manajemen kasus gangguan jiwa : CMHN ( intermadiate course )/ editor, Budi Ana Keliat, Akemat
Pawiro Wiyono, Herni Susanti ; editor penyelaras, Monica Ester, Egi Komara Yudha – Jakarta : EGC,
2011

Lihat versi web