Anda di halaman 1dari 13

JURNAL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA


INJEKSI CEFOTAXIM

Disusun Oleh :
Nina Prety Barelrina (10060315162)
Opi Andaresta (10060316024)
Novaryanti Dwi Putri S. (10060316026)
Irham Rahman Hakim (10060316027)
Ocha Nadia Pertiwi (10060316028)
Faradhya A. Prameswari (10060316030)
Moch. Zandan Firmansyah (10060316031)

Kelompok 4 / Shift A

Tanggal Praktikum : Rabu, 05 Desember 2018

Asisten : Rifnie Raisya US, S.Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT E


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2018 M / 1440 H
INJEKSI CEFOTAXIM

I. Nama Sediaan
Injeksi Cefotaxim Natrium

II. Kekuatan Sediaan


Cefotaxim 1 gr/vial

III. Preformulasi Zat Aktif


1. Cefotaxime Natrium
BM : 477,45
Pemerian : serbuk, putih atau hampir kuning atau sedikit kuning,
higroskopis
Kelarutan : mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam pelarut
organik
Stabilitas : pada larutan pH cefotaxime Na stabil pada pH 5-7,5 pada
pH 3-6 dapat terjadi hidrolisis dan dekomposisi dalam air,
sehingga tidak direkomendasikan produksi dalam larutan
dan lebih baik pada pH 7,5
Inkompatibilitas : pada larutan alkalin seperti sodium bikarbonat sebaiknya
diberikan terpisah dengan amino glikosida
(Dirjen POM, 2014: 1148) (Trissel, 2009:243)

IV. Pengembangan Formula


Sediaan injeksi cefotaxime dibuat dengan zat aktif cefotaxime Na karena
cefotaxime dibuat garamnya agar mudah larut dalam air. Sediaan ini dibuat injeksi
rekonstitusi atau injeksi kering karena sifat dari zat aktif yang mudah terhidrolisis
jika dilarutkan dalam air.
Ditambahkan pula pengawet benzalkonium klorida yang bersifat sebagai
antimikroba. Penambahan pengawet dikarenakan terdapatnya air dalam sediaan
yang merupakan media terbaik bagi mikroba untuk tumbuh.
Digunakan pula aquadest pro injeksi (a.p.i) yang merupakan pembawa air
sebab cairan yang akan masuk kedalam pembuluh darah dalam jumlah besar
sehingga bila digunakan pelarut non air berpotensi menempel pada pembuluh dan
menyebabkan penyumbatan.
Ditambahkan juga kedalam sediaan Natrium Klorida sebagai zat tambahan
yang berfungsi sebagai zat pengisotonis agar tonisitas sediaan sama dengan
tonisitas dalam darah. Apabila sediaan yang dibuat tidak isotonis maka akan
terjadi hemolisis karena sediaan hipotonis, atau sel akan mengalami pengkerutan
karena sediaan hipertonis

V. Perhitungan Tonisitas

Formula : R/ Cefotaxim 1gr/vial

Benzalkonium Klorida 0,01%

Aqua p.i ad 10 mL

Ekuivalensi
Nama Zat Konsentrasi (%) E ×%
(E)

Cefotaxim 10,5 % 0,15 1,575 %

Benzalkonium Klorida 0,01 % 0,18 0,0018 %

1,5768 %
Total
(Hipertonis)

VI. Formula Akhir

Formula : R/ Cefotaxim 1gr/vial

Benzalkonium Klorida 0,01%

Aqua p.i ad 10 mL
VII. Preformulasi Eksipien
1. Benzalkonium Klorida
BM : 360
Pemerian : Putih atau putih kekuningan, serbuk amorf, gel tebal atau
serpihan agar-agar.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam eter, sangat mudah larut dalam
aseton,etanol (95%), metanol, propanol & air.
Kegunaan Pengawet, antimikroba.
Konsentrasi Pada sediaan optalmik 0,01-0,02%
Stabilitas : Benzalkonium klorida merupakan higroskopis dan dapat
dipengaruhi oleh cahaya udara, dan logam. Larutan yang
stabil selama pH dan berbagai suhu dapat disterilkan dengan
autoklaf tanpa kehilangan efektivitas. Larutan dapat
disimpan untuk waktu yang lama pada suhu kamar.
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan aluminium, surfaktan anionik, sitrat,
kapas, fluorescein, hidrogen peroksida, hypromellose,
iodida, kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan nonionik dalam
konsentrasi tinggi, permanganates, protein, salisilat, garam
perak, sabun, sulfonamid, oksalat, seng oksida, seng sulfat,
beberapa campuran karet, dan beberapa campuran plastik.
(Rowe, 2009: 56).
2. Aqua Pro Injeksi
BM : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau.
Kelarutan : Larut dengan kebanyakan pelarut polar.
Kegunaan : Pelarut/ pembawa.
pH :
Stabilitas : Stabil dalam setiap fasa.
Inkompatibilitas : Dalam formulasi farmasi, air dapat bereaksi dengan obat-
obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis
(penguraian dalam keberadaan air atau uap air) di suhu
kamar yang tinggi. Air dapat bereaksi cepat dengan logam
alkali dan dengan logam alkali dan oksida mereka, seperti
kalsium oksida dan magnesium oksida. Air juga bereaksi
dengan garam anhidrat untuk membentuk hidrat dari
berbagai komposisi, dan dengan beberapa organik bahan dan
kalsium karbida.
(Dirjen POM, 2014: 57; Rowe, 2009: 766).

VIII. Perhitungan dan Penimbangan


1. Perhitungan
 Konversi cefotaxim Na ke cefotaxim:
BM cefotaxim Na : 477,5
BM cefotaxim : 455,47
BM cefotaxim Na 477,5
= 455,47 x 1 gram = 1,048 ≈ 1,05 gram
BM cefotaxim
1,05 g
 Konsentrasi cefotaxim: 10 mL x 100 = 10,5 %

 Benzalkonium Klorida (E = 0,18)


0,01% × 0,18 = 0,0018%
 Kondisi hipertonis harus diencerkan
M1 x V1 = M2 x V2
1,5768 % x 10 mL = 0,9% x V2
12,618 = 0,9% x V2
V2 = 17,52 mL
17,52 mL a.p.i diambil dan ditambahkan.

Untuk 12 vial
 Cefotaxim
10,5
x 10 mL = 1,05 gr x 12 = 12,6 gram
100
 Benzalkonium klorida
0,01
 100
x 10 mL = 0,001 gr x 12 = 0,012 gram
2. Penimbangan

Nama zat Konsentrasi Untuk 10 mL Untuk 12 vial

Cefotaxim 10,5 % 1,05 gram 12,6 gram

Benzalkonium 0,01 % 0,001 gram 0,012 gram

Aqua pro injeksi Ad 10 mL Ad 10 mL Ad 120 mL

IX. Sterilisasi Zat dan Alat


No Alat/Bahan Metode Sterilisasi
Filtrasi dan sinar Gamma karena zat
1. Cefotaxime Natrium
tidak tahan panas
Autoclave atau filtrasi karena zat dapat
dilarutkan terlebih dahulu sehingga
2. Benzalkonium Klorida
dapat di filtrasi dan juga tahan
terhadap uap air
Autoclave karena termostabil dan
3. Aqua pro injeksi
tahan terhadap uap air
4. Gelas ukur Sterilisasi awal menggunakan
autoclave karena merupakan alat ukur
5. Pipet volume presisi yang akan rusak dengan suhu
oven yang lebih tinggi
6. Beaker glass
7. Kaca arloji Sterilisasi awal menggunakan oven
8. Erlenmeyer karena bukan merupakan alat ukur
9. Pipet tetes presisi dan tidak masalah dengan suhu
10. Corong oven yang lebih tinggi
11. Spatel
X. Prosedur Pembuatan
Metode aseptis :
1. Semua pengerjaan pembuatan sediaan dilakukan di bawah LAF (Laminar
Air Flow).
2. Jika bahan berkhasiat sensitive terhadap cahaya maka pengerjaan
dilakukan diruang tertutup, di bawah lampu natrium.
3. Bahan disiapkan dan ditimbang
4. Cefotaxime Na dan Benzalkonium klorida dicampurkan, dimasukan
kedalam vial
5. Ditambahkan a.p.i ad 10 mL
6. Tutup vial, dan lakukan sterilisasi akhir dengan sinar gamma.

XI. Evaluasi
1. Penetapan pH
Bertujuan untuk menetapkan pH suatu sediaan larutan agar sesuai dengan
monografi. Nilai pH dalam darah normal 7,35 – 7,45.
Cara kerja : Larutan dapar untuk pembakuan buat menurut petunjuk sesuai
tabel. Simpan dalam wadah tahan bahan bahan kimia, tertutup rapat, sebaiknya
dari kaca tipe 1. Larutan segar sebaiknya dibuat dengan interval tidak lebih dari 3
bulan. Tabel berikut menunjukkan pH dari larutan dapar sebagai fungsi dari suhu.
Petunjuk ini digunakan untuk pembuatan larutan dapar dengan kadar molal
sebagaimana disebutkan. Untuk memudahkan, petunjuk diberikan dengan
pengenceran hingga volume 1000 ml. bukan dengan menyebutkan penggunaan
1000 g pelarut yang merupakan dasar system molalitas dari kadar larutan. Jumlah
yang disebutkan tidak dapat secara sederhana diperhitungkan tanpa informasi
tambahan.
2. Bahan partikulat injeksi
Bertujuan untuk larutan injeksi, termasuk larutan yang dikonstitusi dari
zat padat steril untuk penggunaan parenteral, harus bebas dari partikel yang dapat
diamati pada pemeriksan secara visual.
Cara pengerjaan : Dua prosedur untuk penetapan bahan partikulat
dicantumkan berikut ini, berbeda sesuai dengan volume yang tertera pada etiket
wadah. Semua injeksi volume besar untuk infuse dosis tunggal, dan injeksi
volume kecil yang ditetapkan dalam persyaratan monografi, harus memenuhi
batas bahan partikulat seperti yang tertera pada uji yang digunakan.
3. Keseragaman sediaan
Ada 2 metode, yaitu keseragaman bobot dan keseragaman kandungan.
a. Keseragaman bobot. Sediaan pada steril untuk parenteral : timbang
secara seksama 10 vial satu persatu, beri identitas tiap vial. Keluarkan
isi dengan cara yang sesuai. Timbang seksama tiap vial kosong, dan
hitung bobot netto dari tiap isi vial dengan cara mengurangkan bobot
vial dari masing-masing bobot sediaan (bobot vial yang ada isinya).
b. Keseragaman kandungan. Sediaan pada steril dalam dosis tunggal :
Tetapkan kadar 10 vial satu persatu, seperti pada penetapan kadar
dalam masing-masing monografi kecuali dinyatakan lain dalam uji
keseragaman kandungan.
4. Penetapan volume injeksi dalam wadah
Bertujuan untuk menetapkan volume injeksi yang dimaksudkan dalam
wadah agar volume injeksi yang digunakan tepat/sesuai dengan yang tertera pada
penandaan (volume injeksinya itu harus dilebihkan. Kelebihan volume yang
dianjurkan dipersyaratkan dalam FI IV).
Cara kerja :
a. Pilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,
b. 3 wadah atau lebih bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml,
atau 5 wadah atau lebih bila volume 3 ml atau kurang.
c. Ambil isi tiap wadah dngan alat suntik hipodermik kering berukuran
tidak lebih dari 3 kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan
jarum suntik nomor 21, panjang tidak kurang 2,5 cm.
d. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan
pindahkan isi dalam alat suntik. Tanpa mengosongkan bagian jarum
kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan
sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40%
volume dari kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur
menunjuk volume yang ditampung, bukan yang dituang).
5. Uji kejernihan larutan
Bertujuan untuk sediaan infuse atau injeksi yang berupa larutan harus
jernih dan bebas dari kotoran, maka perlu dilakukan uji kejernihan secara visual.
Cara pengerjaan : Penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar
berdiameter 15 mm hingga 25 mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari
kaca netral. Masukkan kedalam dua tabung reaksi masing-masing larutan zat uji
dan suspense padanan yang sesuai secukupnya. Setelah itu, bandingkan kedua isi
tabung setelah 5 menit pembutan suspense padanan, dengan dengan latar belakang
hitam. Pengamatan dilakukan dibawah cahaya yang terdifusi, tegal lurus kearah
bawah tabung.
6. Uji sterilitas
Bertujuan untuk menetapkan apakah bahan farmakope yang harus steril
memenuhi persyaratan yang berhubungan dengan uji sterilisasi yang tertera pada
masing-masing monografi. Cara pengerjaan :
Uji fertilitas. Tetapkan sterilitas setiap lot media dengan mengikubasi
sejumlah wadah yang mewakili, pada suhu dan selama waktu yang tertera pada
uji.
Uji sterilitas. Prosedur pengujian terdiri dari inokulasi langsung ke dalam
media uji dan teknik penyaringan membran.
7. Uji pirogen
Bertujuan untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat
diterima oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi.
Cara pengerjaan: Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus
untuk uji pirogan dan kondisi lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan,
bebas dari keributan yang menyebabkan kegelisahan.
Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian, apabila pengujian
menggunakan termistor, masukkan kelinci kedalam kotak penyekap, sehingga
kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar. Tidak lebih dari 30 menit
sebelum penyuntikan larutan uji, tentukan “suhu awal” masing-masing kelinci
yang merupakan dasar untuk menentukan kenaikan suhu. Suhu tiap kelinci tidak
boleh lebih dari 1°c dan suhu setiap kelinci tidak boleh > 39,8°.
8. Uji kebocoran
Bertujuan untuk memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas
dan volume serta kestabilan sediaan.
Cara pembuatan : Pada pembuatan secara kecil-kecilan hal ini dapat
dilakukan dengan mata tetapi dalam jumlah besar hal ini tidak mungkin bisa
dikerjakan.
Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas, setelah selesai
disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilena 0,1%. Jika ada wadah-
wadah yang bocor maka larutan metilena akan masuk kedalamnya karena
perbedaan tekanan di luar dan di dalam tersebut. Sehingga cara ini tidak
digunakan/dipakai untul larutan-larutan yang sudah berwarna.
Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik yaitu dengan cara
unjungnya di bawah.ini digunakan pada pembuatan dalam skala kecil. Jika terjadi
kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah dan wadah menjadi
kosong.
Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa
dengan memasukkan wadah-wadah tersebut eksikator, yang kemudian
divakumkan. Jika terjadi kebocoran larutan akan diserap keluar. oleh karena itu,
harus dijaga agar jangan sampai larutan yang keluar, diisap kembali jika di vakum
dihilangkan.
Jenis Evaluasi Hasil Pengamatan
Penetapan pH
Bahan Partikulat dalam Injeksi
Keseragaman Sediaan
Penetapan Volume Injeksi dalam
Wadah
Uji Kejernihan Larutan
Uji Sterilitas
Uji Pirogen
Uji Kebocoran

XII. Daftar Pustaka


Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta: Depkes RI.
Dirjen POM. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Depkes RI.
Dirjen POM. (2014). Farmakope Indonesia edisi V. Jakarta: Depkes RI.
Gray, A. et. al. (2011). Injectable Drugs Guide. London: Pharmaceutical Press.
Lund, W. (1994). The Pharmaceutical Codex edisi 12. London: Pharmaceutical
Press.
Rowe, R. et. al. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients. London:
Pharmaceutical Press.
Sweetman, Sean C. (2009). Martindale: The Complete Drug Reference 36th
edition. London: Pharmaceutical Press.
Trissel, Lawrence A. (2009). Handbook On Injectable Drugs ed 15th. American
Society Of Health System Pharmacists.
XIII. Wadah dan Kemasan
1. Kemasan

2. Etiket
3. Brosur