Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN ANTARA KESIAPAN DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI

MENARCHE PADA SISWI

Iin Setyawati, dan Wijayanti,


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PKU Muhammadiyah Surakarta

Jl. Tulang Bawang Selatan No.26 Tegalsari RT 01


RW 32 Kadipiro Banjarsari Surakarta
Iinsetyawati181@ymail.com ; wijaya.pw@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang : Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu sejak
lahir yang meliputi pertumbuhan dan perkembangan. Pada saat itu mereka tidak hanya
tumbuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar, tetapi juga terjadi perubahan-perubahan didalam
tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi. Di Indonesia, menunjukkan bahwa rata-rata
usia menarche adalah 13 tahun, dengan kejadian lebih awal pada usia kurang dari 9 tahun atau
lebih lambat sampai umur 17 tahun. Kesiapan mental sangat diperlukan sebelum menarche
karena perasaan cemas dan takut akan muncul saat menstruasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kesiapan dengan kecemasan menghadapi Menarche
pada Siswi Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten Karanganyar.
Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kuantitatif dengan pendekatan waktu Cross sectional. Populasi dalam penelitian
adalah siswi kelas VI sebanyak 46 orang dan sampel 31 responden. Teknik sampling
menggunakan Simple Random Sampling. Analisa data dilakukan dengan Spearman Rank dan
di lanjut dengan Uji t.
Hasil Penelitian : Kesiapan siswi adalah 25 siswi (80,6%) tidak siap menghadapi menarche
dan 15 siswi (48,4%)memiliki kecemasan ringan. Hasil uji statistika dengan rumus Spearman
Rank dengan n = 31, taraf kesalahan 5%, di dapat ρhitung = 0,492, karena n > 30 maka di lanjut
dengan Uji t, nilai thitung sebesar 3,043 dan nilai ttabel sebesar 1,697. Apabila dibandingkan
terlihat bahwa thitung> ttabel (3,043 > 1,697), sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha
diterima.
Kesimpulan : Ada hubungan signifikan antara Kesiapan dengan Kecemasan menghadapi
Menarche Pada Siswi Kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten Karanganyar.

Kata Kunci : Kesiapan, Kecemasan, Menarche.


A. Pendahuluan Di Indonesia, menunjukkan
Tubuh manusia mengalami bahwa rata-rata usia menarche adalah
berbagai perubahan dari waktu kewaktu 13 tahun, dengan kejadian lebih awal
sejak lahir yang meliputi pertumbuhan pada usia kurang dari 9 tahun atau lebih
dan perkembangan. Perubahan yang lambat sampai umur 17 tahun. Di Jawa
cukup mencolok terjadi ketika anak Tengah, khususnya kota Semarang
perempuan dan laki-laki memasuki 9 - sekitar 0,1 % remaja putri mengalami
15 tahun. Pada saat itu mereka tidak menarche lebih awal pada usia 6 sampai
hanya tumbuh menjadi lebih tinggi dan 8 tahun dan sekitar 26,3% lainnya
lebih besar, tetapi juga terjadi mendapat menarche pada usia lebih dari
perubahan-perubahan didalam tubuh 14 tahun. Menarche lebih banyak
yang memungkinkan untuk dialami wanita pada umur 10 – 15
bereproduksi. Masa inilah yang disebut tahun. Menarche yang terlalu dini
dengan masa pubertas atau masa remaja atauterlambat bisa berakibat pada
(Proverawati, 2009; h: 1). keadaan psikis siswi tersebut(Doni,
Menurut Pieter dan Lubis (2010; 2013).
h: 66) masa remaja adalah peralihan Masa pubertas atau disebut juga
dari masa pubertas menuju dewasa. masa puber berawal dari haid. Tetapi,
Selain periode ini, anak remaja banyak pada usia berapa pentingnya masa puber
mengalami perubahan baik fisik, ini dimulai sulit diterapkan, oleh karena
psikologis, ataupun sosial. Perubahan- cepat lambatnya haid sangat tergantung
perubahan fisik itu, yang terbesar pada kondisi tubuh masing-masing
pengaruhnya pada perkembangan jiwa individu (Sarwono, 2011; h: 9).
remaja adalah pertumbuhan tubuh Menarche adalah menstruasi
(badan menjadi makin panjang dan pertama yang biasa terjadi dalam
tinggi), mulai berfungsinya alat-alat rentang usia 10-16 tahun atau pada
reproduksi (ditandai dengan haid pada masa awal remaja di tengah masa
wanita yaitu menarche merupakan pubertas sebelum memasuki masa
menstruasi pertama dan mimpi basah reproduksi. Kesiapan mental sangat
pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual diperlukan sebelum menarche karena
sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2011; perasaan cemas dan takut akan muncul,
h: 62). selain itu juga pengetahuan tentang
Menurut Madaras (2011; h: 178) perawatan diri yang diperlukan saat
usia rata-rata dimulainya datang bulan menstruasi. Perasaan bingung, gelisah,
sedikit berbeda untuk tiap ras dan suku tidak nyaman selalu menyelimuti
bangsa. Sebagai contoh, untuk anak- perasaan seorang wanita yang
anak perempuan kulit putih di Amerika, mengalami menstruasi untuk pertama
usia rata-rata dimulainya periode datang kali (menarche).Menstruasi pertama
bulan pertama adalah 12 tahun lebih (menarche) adalah hal yang wajar yang
10,5 bulan. Untuk anak-anak pasti dialami oleh setiap wanita normal
perempuan yang berasal dari ras dan dan tidak perlu digelisahkan. Hal ini
suku lain belum dipelajarinya, tetapi akan semakin parah apabila
secara keseluruhan usia rata-rata pengetahuan remaja mengenai
dimulainya periode datang bulan menstruasi ini sangat kurang dan
pertama adalah antara 12 - 13 tahun. pendidikan dari orang tua yang kurang.
Meskipun demikian, tidak semua Anggapan orang tua yang salah bahwa
perempuan termasuk dalam usia rata- hal ini merupakan hal yang tabu untuk
rata. diperbincangkan dan menganggap
bahwa anak akan tahu dengan 2) Kematangan jasmani dan
sendirinya, menambah rumitnya rohani adalah perlu untuk
permasalahan (Proverawati, 2009; h: memperoleh manfaat dari
58-60). pengalaman.
3) Pengalaman-pengalaman
B. Tinjauan Teori mempunyai pengaruh yang positif
MenurutSlameto (2003; h: 113- terhadap kesiapan.
116) teori kesiapan adalah
:Kesiapanadalah keseluruhan kondisi Kecemasan merupakan respon
seseorang yang membuatnya siap untuk individu terhadap suatu keadaan yang
memberi respon/ jawaban didalam cara tidak menyenangkan dan dialami oleh
tertentu terhadap suatu situasi. semua makhluk hidup dalam kehidupan
Penyesuaian kondisi pada suatu saat sehari-hari. Kecemasan merupakan
akan berpengaruh pada atau pengalaman subjektif dari individu dan
kecenderungan untuk memberi respon. tidak dapat diobservasi secara langsung
Kondisi mencakup setidak-tidaknya 3 serta merupakan suatu keadaan emosi
aspek, yaitu : tanpa objek yang spesifik. Kecemasan
1) Kondisi fisik, mental dan pada individu dapat memberikan
emosional; motivasi untuk mencapai sesuatu dan
2) Kebutuhan-kebutuhan, merupakan sumber penting dalam usaha
motif dan tujuan; memelihara keseimbangan hidup.
3) Keterampilan, pengetahuan Kecemasan terjadi sebagai akibat dari
dan pengertian yang lain yang telah ancaman terhadap harga diri atau
dipelajari. identitas diri yang sangat mendasar bagi
Ketiga aspek tersebut (yang keberadaan individu. Kecemasan
dimiliki seseorang) akan dikomunikasikan secara interpersonal
mempengaruhinya dan memenuhi/ dan merupakan bagian dari kehidupan
berbuat sesuatu atau menjadi sehari-hari, menghasilkan peringatan
kecenderungan untuk berbuat sesuatu. yang berharga dan penting untuk upaya
Dalam kondisi fisik tidak termasuk memelihara keseimbangan diri dan
kematangan, walau kematangan melindungi diri (Suliswati, Payapo,
termasuk kondisi fisik. Kondisi fisik Maruhawa, Sianturi, Sumijatun, 2005;
yang dimaksud misal kondisi fisik yang h: 108).
temporer (lelah, keadaan, alat indera) Menurut Direja (2011; h: 41)
dan yang permanen (cacat tubuh). ansietas adalah kekhawatiran yang
Kondisi mental menyangkut tidak jelas dan menyebar, yang
kecerdasan. Anak yang berbakat berkaitan dengan perasaan tidak pasti
memungkinkan untuk melaksanakan dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
tugas-tugasc x yang lebih tinggi. tidak memiliki objek yang spesifik.
Kondisi emosional juga mempengaruhi Kecemasan merupakan pengalaman
kesiapan untuk berbuat sesuatu, hal ini subjektif yang tidak menyenangkan
karena ada hubungannya dengan motif mengenai kekhawatiran atau
(hadiah, hukuman) dan akan ketegangan berupa cemas, tegang dan
berpengaruh terhadap kesiapan belajar. emosi yang dialami oleh seseorang
Prinsip-prinsip Kesiapan (Ghufron dan Risnawita, 2011; h: 141).
1) Semua aspek perkembangan Menurut Sumiati, Dinarti,
berinteraksi (saling pengaruh Nurhaeni, Aryani (2009; h: 124)
mempengaruhi). ansietas dapat disebabkan karena :
1) Adanya perasaan takut tidak dengan lesu, banyak mimpi-mimpi,
diterima dalam satu lingkungan mimpi buruk dan mimpi yang
tertentu; menakutkan.
2) Adanya pengalaman traumatis, 5) Gangguan kecerdasan (sulit
seperti traumatis, seperti trauma berkonsentrasi) meliputi : daya
akan perpisahan, kehilangan atau ingat menurun dan daya ingat
bencana; buruk.
3) Adanya rasa frustasi akibat 6) Perasaan depresi meliputi :
kegagalan dalam mencapai tujuan; kehilangan minat, berkurangnya
4) Adanya ancaman terhadap kesenangan pada hobi, sedih,
integritas diri, meliputi bangun dini hari, perasaan berubah-
ketidakmampuan fisiologis atau ubah sepanjang hari.
gangguan terhadap kebutuhan 7) Gejala somatic(sakit dan nyeri
dasar; otot-otot) meliputi : kaku, kedutan
5) Adanya ancaman terhadap konsep otot, gigi gemerutuk dan suara tidak
diri stabil.
8) Gejala somatic/ fisik
Menurut Shah (2000) dalam (sensorik)meliputi : telinga
Ghufron dan Risnawita (2011; h: 144) berdenging, penglihatan kabur,
membagi kecemasan menjadi tiga muka merah atau pucat, merasa
komponen antara lain : lemas dan perasaan ditusuk-tusuk.
1) Komponen fisik, seperti pusing, 9) Gejala kardiovaskuler (jantung
sakit perut, tangan berkeringat, dan pembuluh darah) meliputi :
perut mual, mulut kering, grogi. denyut nadi cepat, berdebar-debar,
2) Emosional seperti panik dan nyeri dada, denyut nadi mengeras,
takut. rasa lesu/ lemas seperti mau
3) Mental atau kognitif, seperti pingsan dan detak jantung
gangguan perhatian dan memori, menghilang sekejap.
kekhawatiran, ketidakteraturan 10) Gejala respiratori(pernafasan)
dalam berpikir dan bingung. meliputi : rasa tertekan di dada,
rasa tercekik, sering sesak nafas,
Menurut Saryono (2010; h: 31-34) nafas pendek.
gejala kecemasan antara lain : 11) Gejala gastrointestinal
1) Perasaan cemas meliputi : firasat (pencernaan) meliputi : sulit
buruk, takut akan pikiran sendiri menelan, perut melilit, gangguan
dan mudah tersinggung. pencernaan, nyeri sebelum dan
2) Ketegangan meliputi : merasa sesudah makan, perasaan terbakar
tegang, lesu, tidak bisa istirahat di perut, rasa penuh/ kembung,
tenang, mudah terkejut, mudah mual, muntah, buang air besar
menangis, gemetar dan gelisah. lembek, sulit buang air besar,
3) Ketakutan meliputi : pada gelap, kehilangan berat badan.
pada orang asing, ditinggal sendiri, 12) Gejala urogenital (perkemihan
pada binatang besar, pada dan kelamin) meliputi : sering
keramaian lalu lintas dan pada buang air kecil, tidak dapat
kerumunan banyak orang. menahan seni, tidak datang bulan
4) Gangguan tidur meliputi : sulit (tidak ada haid), darah haid
memulai tidur, terbangun malam berlebihan, darah haid sangat
hari, tidur tidak nyenyak, bangun sedikit, masa haid berkepanjangan,
masa haid sangat pendek, haid ini menggunakan kuesioner kesiapan
beberapa kali dalam sebulan. menghadapi menarche dan kuesioner
13) Gejala otonom (mulut kering) kecemasan. Dengan kriteria inklusi :
meliputi : muka kering, mudah Siswi kelas VI Madrasah Ibtidaiyah
berkeringat, kepala pusing, kepala Negeri Sroyo Jaten Karanganyar yang
terasa berat, kepala terasa sakit dan berusia 10 – 12 tahun dan belum
bulu-bulu berdiri. mengalami menstruasi atau haid
14) Tingkah laku (sikap) meliputi : pertama.
gelisah, tidak tenang, jari gemetar, Analisa data menggunakan
kerut kening, muka tegang, otot Spearman Rank dan di lanjut dengan
tegang/ mengeras, nafas pendek Uji t.
dan cepat.
Cara penilaian tingkat D. Hasil Dan Pembahasan
kecemasan antara lain : 1. Hasil
a) Angka 0 : tidak ada ( tidak ada a. Umur
gejala sama sekali) Di Madrasah Ibtidaiyah
b) Angka 1 : ringan (satu gejala Negeri Sroyo Jaten
dari pilihan yang ada) Karanganyarada 8 siswi (25,8%)
c) Angka 2 : sedang (separuh dari yang berumur 11 tahun dan ada
gejala yang ada) 23 siswi (74,2%) yang berumur
d) Angka 3 : berat (lebih dari 12 tahun.
separuh gejala yang ada) b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
e) Angka 4 : sangat berat (semua Kesiapan Menghadapi Menarche
gejala ada) pada siswi kelas VI Madrasah
Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
Klasifikasi tingkat kecemasan Karanganyar
antara lain :
< 14 : tidak ada kecemasan Kesiapan Frekuensi Prosentase
14 - 20 : kecemasan ringan Sangat Siap
21 – 27 : kecemasan sedang 0 0,0%
Siap
28 – 41 : kecemasan berat 2 6,5%
Tidak Siap
42 – 56 : kecemasan sangat berat 25 80,6%
Sangat Tidak
4 12,9%
Siap
Total 31 100,0%
C. Metode Penelitian Dengan demikian secara
Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dapat disimpulkan bahwa
penelitian deskriptif kuantitatif dengan sebagian besar siswi dikategorikan tidak
metode studi korelasi.Populasi siap dalam menghadapi menarche.
penelitian adalah siswi kelas VI yang
belum mengalami menstruasi di c. Distribusi Frekuensi
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo berdasarkanKecemasan
berjumlah 46 orang.Peneliti mengambil MenghadapiMenarche pada siswi
sampel sejumlah 31 siswi kelas VI kelas VIMadrasah Ibtidaiyah
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo. NegeriSroyo Jaten Karanganyar
Penelitian ini menggunakan Kecemasa
teknik sampling Probability Sampling Frekuensi Prosentase
n
(Random Sampling) yaituteknik simple Tidak Ada 12 38,7%
random sampling.Instrumen penelitian Ringan 15 48,4%
Sedang 4 12,9% Std. App App
Berat 0 0,0% Value Error rox. rox.
Sangat 0 0,0% T Sig.
Berat Ordinal Spear .492 .107 3.04 .005
Total 31 100,0% by man 4 ‘
Ordinal Correl
Dengan demikian secara ation
deskriptif dapat disimpulkan bahwa N or 31
sebagian besar siswi dikategorikan Valid
memiliki kecemasan ringan dalam Cases
menghadapi menarche.
f. Hasil Perhitungan Uji t untuk
d. Distribusi Silang Korelasi Spearman’s Rank
RespondenKesiapan Menghadapi ρ n t hitung ttabel
Menarche dan Kecemasan 0,492 31 3,043 1,697
Menghadapi Menarche pada siswi
kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Berdasarkan hasil perhitungan
Negeri Sroyo Jaten Karanganyar. Spearman’s Rank, taraf kesalahan 5%, ρ
= 0,492, p = 0,005. Tabel ρ digunakan
Kecemasan jika n < 30 atau n sama dengan 30,
Tota
Kesiapan Tidak Rin Sedan karena n > 30 (n = 31), maka dilanjut
l
Ada gan g dengan uji t, dimana nilai thitung sebesar
0 3,043 dan nilai ttabel sebesar 1,697.
0 2
2 (0, Apabila dibandingkan terlihat bahwa
Siap (0,0% (6,5
(6,5%) 0% thitung> ttabel (3,043 > 1,697) sehingga
) %)
) dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha
13 diterima artinya ada hubungan yang
10 2 25
Tidak (41 signifikan antara kesiapan dengan
(32,3% (6,5% (80,
Siap ,9 kecemasan menghadapi menarche pada
) ) 6%)
%) siswi kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah
2 Negeri Sroyo Jaten
Sangat 2 4
0 (6, Karanganyar.Tingkat keeratan dan arah
Tidak (6,5% (12,
(0,0%) 5% hubungan dapat ditentukan berdasarkan
Siap ) 9%)
) nilai Koefisien Korelasi (ρ). Koefisien
15 korelasi sebesar 0,492 menunjukkan
12 4 31
(48 bahwa tingkat keeratan hubungan antara
Total (38,7% (12,9 (100
,4 kedua variabel termasuk sedang.
) %) ,0%)
%)
Kesimpulan siswi tidak siap 2. Pembahasan
dalam menghadapi menarche dan a. Kesiapan Menghadapi Menarche
memiliki kecemasan ringan. pada siswi kelas VI di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
e. Hasil Perhitungan Statistik Korelasi Karanganyar.
Spearman’s Rank Hubungan Mayoritas sebagian besar siswi
Kesiapan Menghadapi Menarche dikategorikan tidak siap dalam
dengan Kecemasan Menghadapi menghadapi
Menarche menarche.MenurutSlameto (2003;
Asym. h: 113-116) teori kesiapan adalah
keseluruhan kondisi seseorang siswi kelas VI di Madrasah
yang membuatnya siap untuk Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
memberi respon/ jawaban di Karanganyar, di mungkinkan
dalam cara tertentu terhadap suatu dengan kondisi fisik responden.
situasi. Kondisi mencakup Karena responden dalam penelitian
setidak-tidaknya 3 aspek, yaitu ini berusia 11 – 12 tahun, sehingga
kondisi fisik, mental dan usia tersebut merupakan proses
emosional; kebutuhan-kebutuhan, penerimaan seorang perempuan
motif dan tujuan; keterampilan, dalam kesiapan menghadapi
pengetahuan dan pengertian yang menarche. Menurut Proverawati
lain yang telah dipelajari. (2009; h: 58) menstruasi pertama
Ketiga aspek tersebut (yang yang biasa terjadi dalam usia 10 –
dimiliki seseorang) akan 16 tahun.
mempengaruhinya dan memenuhi/ Dalam hal ini asupan gizi
berbuat sesuatu atau menjadi yang baik juga mempercepat proses
kecenderungan untuk berbuat kesiapan tubuh untuk mulai
sesuatu. Kematangan termasuk mengalami menarche. Seiring
kondisi fisik. Selain itu aspek dengan perkembangan biologis,
kesiapan juga dipengaruhi oleh maka pada usia pubertas seseorang
kematangan dan kecerdasan. mencapai tahap kematangan organ-
Kematangan yang menimbulkan organ seks, yang ditandai dengan
perubahan tingkah laku sebagai menarche. Selain itu kesiapan
akibat muncul dari pertumbuhan mental sangat di perlukan dalam
dan perkembangan, sedangkan menghadapi menarche. Bahkan
perkembanganseseorang terlihat responden yang masih
berhubungan dengan fungsi tubuh, berusia 11-12 tahun masih senang
jiwa dan kecerdasan seseorang bermain dan melakukan banyak
dapat memikirkan tentang apa yang aktivitas sehingga tidak terlalu
sedang dipikirkan, terutama memikirkan atau melakukan
kesiapan menghadapi menarche. berbagai hal dalam rangka
Menurut Proverawati (2009; mempersiapkan kedatangan
h: 58) kesiapan mental sangat menstruasi pertama. Selain itu
diperlukan sebelum menarche informasi yang di peroleh siswi
karena perasaan cemas dan takut hanya garis besarnya saja, sehingga
akan muncul, selain itu juga membuat siswi tidak sepenuhnya
kurangnya pengetahuan tentang memahami tentang menarche.
perawatan diri yang diperlukan saat 2. Kecemasan Menghadapi Menarche
menstruasi. Menarche adalah pada siswi kelas VI di Madrasah
menstruasi pertama yang biasa Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
terjadi dalam usia 10 – 16 tahun Karanganyar.
atau pada masa awal remaja di Paling banyak siswi memiliki
tengah masa pubertas sebelum kecemasan ringan. Kecemasan
memasuki masa reproduksi. ringan dipengaruhi oleh ketegangan
Menarche merupakan pertanda yang dialami sehari-hari dan
adanya suatu perubahan sosial dari individu masih waspada serta
anak-anak ke dewasa. mampu memecahkan masalah
Kesiapan menghadapi secara efektif, sebagai contoh
menarche yang masih kurang pada kecemasan ringan dalam
menghadapi menarche yaitu siswi cemas dengan adanya menstruasi.
masih takut dalam menghadapi Hal itu justru menunjukkan bahwa
menarche dan diharapkan siswi tubuh sudah beranjak dewasa.
siap dan tidak minder dalam Berbagai perubahan itu sebagai
menghadapi menarche. indikator untuk mempersiapkan diri
Menurut Suliswati, Payapo, untuk hidup dalam lingkungan
Maruhawa, Sianturi, Sumijatun, dewasa. Banyak perubahan yang
(2005; h: 108) bahwa kecemasan sedang dan akan terjadi pada tubuh.
merupakan respon individu Kebanyakan wanita akan
terhadap suatu keadaan yang tidak bertambah berat badannya.
menyenangkan dan dialami oleh Hasil penelitian menunjukkan
semua makhluk hidup dalam para siswi kelas VI di Madrasah
kehidupan sehari-hari. Kecemasan Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
terjadi sebagai akibat dari ancaman Karanganyar secara umum
terhadap harga diri atau identitas mengalami kecemasan masih dalam
diri yang sangat mendasar bagi tingkatan ringan. Kecemasan ringan
keberadaan individu. dihubungkan dengan ketegangan
Menurut Saryono (2010; h: 31- yang dialami sehari-hari. Individu
34) gejala kecemasan yang dialami masih waspada serta mampu
meliputi perasaan cemas, memecahkan masalah secara efektif
ketegangan, ketakutan, gangguan dan termasuk faktor kecemasan
tidur, gangguan kecerdasan, dalam pemikiran yang tidak
perasaan depresi, gejala somatik/ rasional. Terkait dengan penelitian
fisik (otot), gejala somatik/ fisik ini kecemasan menghadapi
(sensorik), gejala kardiovaskuler, menarche muncul karena
gejala respiratori, gejala menstruasi pertama dianggap bukan
gastrointestinal, gejala urogenital, sebagai ancaman, dan
gejala autonom, tingkah laku ketidakmampuan fisiologis atau
(sikap). gangguan terhadap kebutuhan
Menurut Sumiati, Dinarti, dasar, tetapi dianggap suatu tanda
Nurhaeni, Aryani (2009; h: 124) bahwa tubuh mulai beranjak
kecemasan dapat disebabkan dewasa. Sehingga siswi
karena: adanya perasaan takut tidak beranggapan hal itu merupakan
diterima dalam satu lingkungan perubahan fisiologis yang terjadi
tertentu; adanya pengalaman pada setiap perempuan. Kedatangan
traumatis, seperti trauma akan menarche atau menstruasi pertama
perpisahan, kehilangan, atau merupakan hal yang alami oleh
bencana; adanya rasa frustasi akibat setiap wanita normal dan tidak
kegagalan dalam mencapai tujuan; perlu digelisahkan. Diterimanya
adanya ancaman terhadap integritas masa kematangan seksual ini
diri, meliputi ketidakmampuan dengan rasa senang dan bangga
fisiologis atau gangguan terhadap sebab dia sudah dewasa secara
kebutuhan dasar; adanya ancaman biologis, tetapi semakin muda usia
terhadap konsep diri. anak perempuan mengalami
Menurut Proverawati (2009; h: menarche semakin belum siap
63) secara fisiologis wanita menerima hal tersebut. Sehingga
mengalami menarche atau haid mengalami kecemasan pada siswi.
pertama. Tidak perlu malu atau
3. Hubungan antara Kesiapan Permulaan menstruasi atau
dengan Kecemasan Menghadapi menarche mungkin akan menjadi
Menarche pada siswi kelas VI di peristiwa yang traumatik bagi
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo beberapa remaja putri yang tidak
Jaten Karanganyar. mempersiapkan dirinya terlebih
Tujuan utama penelitian ini dahulu. Jika menstruasi datangnya
adalah mengetahui ada tidaknya pada usia masih sangat muda anak
hubungan antara kesiapan dengan gadis belum siap menerimanya dan
kecemasan menghadapi menarche. peristiwa itu terasa menekan jiwa.
Hasil penelitian menunjukkan ada Reaksi-reaksi psikis yang
hubungan yang signifikan antara menyertai kedatangan menstruasi
kesiapan dengan kecemasan untuk anak yang pertama
menghadapi menarche (thitung> ttabel kalinyayaitu kecewa, takut, panik
atau 3,043 > 1,697) pada siswi sehingga anak seolah-olah akan
kelas VI yang belum mengalami dikebiri atau trauma genetalis yaitu
menstruasi di Madrasah Ibtidaiyah luka atau syok psikis yang
Negeri Sroyo Jaten Karanganyar. disebabkan oleh pengalaman baru,
Tingkat keeratan hubungan berkaitan dengan masalah genetalis
termasuk sedang (ρ = 0,492) (alat kandungan) anak yang
menurut Sugiyono (2010; h: 231). bersangkutan.
Menurut Proverawati (2009; h: Menurut (Pudiastuti, 2012; h:
58 dan 63) secara fisiologis wanita 38) pendidikan mengenai
mengalami menarche atau haid menstruasi harus diberikan sejak
pertama. Kesiapan mental sangat usia dini, agar seorang wanita yang
diperlukan sebelum menarche mengalami menstruasi untuk
karena perasaan cemas dan takut pertama kalinya tidak merasa
akan muncul, selain itu juga minder atau malu dan merupakan
pengetahuan tentang perawatan diri proses alamiah bagi seorang gadis
yang diperlukan saat menstruasi. remaja.
Tidak perlu malu atau cemas
dengan adanya menstruasi. Hal itu E. Kesimpulan
justru menunjukkan bahwa tubuh Berdasarkan penelitian yang telah
sudah beranjak dewasa. Berbagai dilakukan pada para siswi kelas VI yang
perubahan itu sebagai indikator belum mengalami menstruasi di
untuk mempersiapkan diri untuk Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sroyo Jaten
hidup dalam lingkungan dewasa. Karanganyar, dapat diambil beberapa
Banyak perubahan yang sedang dan simpulan sebagai berikut:
akan terjadi pada tubuh. 1. Kesiapan tentang menarche
Sedangkan menurut Pudiastuti dikategorikan tidak siap
(2012; h: 36-37) bahwa perasaan (80,6%)menghadapi menarche.
bingung, gelisah, tidak nyaman 2. Kecemasan menghadapi menarche
selalu menyelimuti perasaan dikategorikan siswi memiliki
seorang wanita yang mengalami kecemasan ringan (48,4%).
menstruasi untuk pertama kali 3. Ada hubungan yang signifikan
(menarche). Menstruasi pertama antara kesiapan dengan kecemasan
hal yang wajar yang pasti dialami menghadapi menarche pada siswi
oleh seorang wanita normal dan keas VI di Madrasah Ibtidaiyah
tidak perlu digelisahkan.
Negeri Sroyo (thitung> ttabel atau Direja, AHS. 2011. Buku Ajar Asuhan
3,043 > 1,697). Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Nuha Medika
E. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan Kusuma, DA. 2012. Hubungan
penelitian, maka peneliti akan Beberapa Faktor Siswi dengan
memberikan saran sebagai berikut : Kejadian Menarche pada Remaja
1. Bagi Siswi awal Di SMPN 11 Kota Semarang
Bagi siswi khususnya kelas VI bulan Juni-Agustus 2012. Update
agar lebih meningkatkan Januari 2013. Jurnal Kesehatan
pengetahuan dengan cara mencari Masyarakat.https://docs.google.co
informasi melalui internet maupun m/viewer?a=v&q=cache:oRuEvZ
buku tentang menarcheagar bisa 0aY0UJ:ejournals1.undip.ac.id/in
menghadapi dengan baik. dex.php/jkm/article/view/1817/18
2. Bagi Institusi Pendidikan 23+hubungan+beberapa+faktor+s
DiMadrasah Ibtidaiyah Negeri iswi+dengan+kejadian+menarche
Sroyo Kecamatan Jaten Kabupaten +pada+remaja+awal+di+SMPN+
Karanganyar, diharapkan dapat 11+KOTA+SEMARANG+BULA
menjalin kerja sama dengan tenaga N+JUNIAGUSTUS+2012&hl=en
kesehatan dalam rangka &pid=bl&srcid=ADGEEShIAI4fu
meningkatkan pengetahuan kQl6HKo-Kltiv-
kesehataan siswi khususnya 7jFh08yNpc2FLjRwrTMI5JdsuOt
mengenai menarche, sehingga Wk_yhin_kOMVu32t0eLJUsEY
dapat meningkatkan kesiapan CNjtMdSqLD1FO0Xnm2ncGRV
siswinya. 5H8whpCY6HuLmRp0oQc09X4f
3. Bagi Profesi Kebidanan 6DWWYf27jX5blo&sig=AHIEtb
Bidan hendaknya TDCW6T3KrZFX65on6Oja4lh5J
meningkatkan kesiapan ZsA Diakses tanggal 16 Februari
menghadapi menarche dengan 2013 jam 13.45 WIB.
memberikan pendidikan kesehatan
tentang menarche sehingga tidak Madaras, L dan Madaras, A. 2011. Ada
menimbulkan kecemasan pada anak Apa Dengan Tubuhku. Jakarta :
perempuan dalam menghadapi PT.Indeks.
menarche. Pieter, HZ dan Lubis, NL. 2010.
4. Bagi Peneliti lain Pengantar Psikologi dalam
Hasil penelitian ini dapat Keperawatan. Jakarta : Kencana
menjadi dasar untuk melakukan Prenada Media Group.
penelitian selanjutnya untuk
mengetahui faktor lain yang Proverawati, A dan Misaroh, S. 2009.
menyebabkan kesiapan dengan Menarche Menstruasi Pertama
kecemasan menghadapi menarche Penuh Makna.Yogyakarta : Nuha
di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medika.
Sroyo. Pudiastuti, RD. 2012. 3 Fase Penting
pada Wanita. Jakata : PT. Elex
Media Komputindo.
Daftar Pustaka
Sarwono, SW. 2011. Psikologi Remaja.
Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
Saryono. 2010. Kumpulan Instrumen
Penelitian Kesehatan. Yogyakarta
: Nuha Medika.

Sugiyono. 2010. Statistika Untuk


Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Suliswati. Payapo. Maruhawa. Sianturi


dan Sumijatun. 2005. Konsep
Dasar Keperawatan Kesehatan
Jiwa. Jakarta : EGC.

Sumiati. Dinarti. Nurhaeni dan Aryani.


2009. Kesehatan Jiwa Remaja
dan Konseling. Jakarta : Trans
Info Media.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-


Faktor yang Mempengaruhinya.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.