Anda di halaman 1dari 3

Tinggi nya risiko HIV pada LGBT

HIV adalah salah satu virus AIDS yang merusak dan memperlemah sistem kekebalan
tubuh manusia. Sistem kekebalan yang dirusak oleh virus ini adalah seluruh organ tubuh
yang terinfeksi oleh virus, bakteri, fungi, atau parasit yang tentunya dapat dicegah dan
ditangani walaupun belum ada kepastian untuk kesembuhan.

Secara global, jumlah infeksi baru HIV turun sebanyak 20% tetapi dari 100 orang yang
mendapatkan perawatan HIV/AIDS terdapat 200 kasus baru. Sedangkan di Indonesia,
kasus pertama AIDS ditemukan tahun 1987. Di masa akhir 1980-an tersebut,
peningkatan infeksi AIDS terbilang lambat, sehingga belum ada tindakan
penanggulangan yang cukup serius dari pemerintah. Namun, sekitar 10 tahun terakhir
jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dan ini merupakan
ancaman nyata yang harus ditanggulangi. Health data mencatat, antara 2005 dan 2015,
kasus HIV baru tumbuh rata-rata 3,2 persen per tahun di Indonesia. Laju infeksi HIV baru
di Indonesia meningkat lebih cepat daripada negara-negara lain di Asia Tenggara. Hal ini
menjadi pertanyaan bagi kita semua, mengapa terjadi peningkatan jumlah kasus baru
HIV dimana sebelumnya tidak demikian.

Berdasaran data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan


Lingkungan (P2PL) selama Januari hingga Maret 2016, ada 7.146 kasus HIV dan 305
kasus AIDS di Indonesia. Ini berarti rata- rata setiap hari ada 90 orang yang terinfeksi
virus HIV, dan 5 orang yang meninggal karena AIDS. Sedangkan perbandingan kumulatif
rasio HIV-AIDS antara pria dan wanita adalah 2 banding 1, yang berarti mayoritas
terinfeksi HIV-AIDS di Indonesia adalah pria. Kasus AIDS terbesar di Indonesia
ditemukan pada umur 20-29, dan penyebab utama dari kasus tersebut adalah karena
hubungan seksual yang tidak terproteksi. Mirisnya lagi, jumlah masyarakat umum yang
terinfeksi HIV seperti Ibu Rumah Tangga, Karyawan, maupun Pekerja Wiraswasta.
Meningkatnya angka HIV-AIDS di Indonesia perlu menjadi sebuah perhatian dan ditindak
lebih lanjut.

LGBT, merupakan inisial yang sudah dikenal luas mewakili kelompok Lesbian, Gay,
Biseksual dan Transgender. Istilah LGBT ini digunakan sejak tahun 1990an. Dalam
beberapa deKade terakhir komunitas LGBT telah mendapatkan perhatian dan suara
positif secara politik dan aturan legal yang cukup signifikan, terutama di belahan dunia
Barat, termasuk kebebaskan mereka untuk menikah. Akibat dari peningkatan jumlah
komunitas ini, terjadi peningkatan temuan kasus baru HIV. Di Amerika Serikat, populasi
LGBT merupakan kelompok yang paling banyak terkena HIV. Pada tahun 2016, 67% dari
keseluruhan kasus baru HIV di Amerika Serikat tercatat terdapat pada kelompok gay dan
biseksual.
Indonesia memiliki data yang lebih mengejutkan. Kemenkes memprediksi jumlah LGBT
mencapai 2juta jiwa pada tahun 2012, dimana sebelumnya pada tahun 2009 diperkirakan
jumlah LGBT sekitar 800.000 orang. Dipercaya bahwa komunitas LGBT ini berlindung di
balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk
berhubungan dengan sesama jenis. Hingga akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional
organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 propinsi. Lebih parahnya, jaringan
ini mendapat dukungan dari organisasi internasional. Hal yang lebih mengejutkan,
dimana data statistik tahun 2016 menunjukkan jumlah populasi LGBT diperkirakan
mencapai 10-20 juta. Sudah bisa diduga kasus baru HIV pun akan mengalami
peningkatan yang pesat.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya risiko HIV pada hubungan
seks gay. Alasan-alasan tersebut sangat beragam dan rumit, mulai dari faktor-faktor
biologis, gaya hidup, dan sosial. Itulah mengapa pencegahan terhadap kasus HIV pada
pasangan gay masih sulit untuk digalakkan. Seks anal menjadi pilihan yang umum bagi
pasangan gay, meskipun banyak juga pasangan beda jenis yang mempraktikkan seks
anal. Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology
mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari
penetrasi vagina. Pasalnya, jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat
berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara
anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja. Selain itu, anus juga tidak memproduksi
lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika
penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.
Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal
sangat kaya akan sel imun, sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau
penggandaan diri. Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang
melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah
pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki
sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh
tubuh.

Biasanya kaum penyuka sesama jenis, transgender, dan biseksual (LGBT) berada
dalam sebuah lingkaran pergaulan dan komunitas yang lebih sempit dari heteroseksual.
Ini dikarenakan kaum LGBT belum diterima secara utuh oleh masyarakat, jadi jumlahnya
pun lebih sedikit dari heteroseksual. Para anggota berbagai komunitas LGBT, terutama
pada daerah tertentu, memiliki jaringan dan hubungan yang sangat erat. Akibatnya, jika
seorang gay berganti-ganti pasangan seksual, biasanya dia pun akan memilih pasangan
yang berasal dari komunitas yang sama. Inilah yang menyebabkan penularan HIV jadi
lebih marak ditemukan pada kasus penyuka sesama jenis alias gay. Di samping itu,
masih banyak pasangan gay yang melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman,
misalnya kondom. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seks anal lebih berisiko
menularkan HIV. Tentu hal ini akan jadi semakin berbahaya jika seks anal dilakukan
tanpa kondom. Penularan HIV akibat perilaku seks bebas ini sebenarnya sangat bisa
dicegah dengan mempraktikkan seks yang aman dan tidak berganti-ganti pasangan.
Bahkan menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementrian
Kesehatan, dr. Sigit Priohutomo, MPH seperti dilansir dari situs MetroTV News,
masalahnya bukan terletak pada dengan siapa hubungan seks dilakukan. Seharusnya
tidak menjadi masalah apakah seks dilakukan dengan sesama jenis atau beda jenis
karena yang penting adalah kesetiaan dan perilaku bertanggung jawab dengan cara
menggunakan alat kontrasepsi.

Karena stigma sosial yang mengecam kaum LGBT dan kasus HIV sebagai
penyakit kaum gay, banyak yang merasa takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan. Padahal, beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi HIV, pasien akan
masuk tahap infeksi akut di mana virus ini dengan mudah menyebar. Sementara pada
tahap infeksi akut ini biasanya gejala-gejala yang dialami disalahpahami sebagai gejala
flu biasa. Dengan perawatan intensif yang diberikan tenaga kesehatan, infeksi virus ini
bisa ditekan. Maka, menunda pengobatan dan perawatan akan semakin membuat kaum
gay berisiko HIV.