Anda di halaman 1dari 3

Diskusi

Dilaporkan satu kasus generalized pustular psoriasis (GPP) pada perempuan


berumur 46 tahun. Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang lainnya. GPP adalah salah satu bentuk varian akut dari
psoriasis yang jarang dan dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta
membutuhkan perawatan di rumah sakit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Hyunju JIN dkk di Korea, rata –rata umur 45,6 tahun. Hal yang sama didapatkan pada
penelitian yang dilaporkan oleh Baker yaitu rata – rata umur penderita GPP adalah 40
– 60 tahun. GPP juga lebih sering terjadi pada perempuan, dimana perbandingan laki
– laki : perempuan adalah 1 : 1,2.3
Psoriasis dapat dicetuskan oleh kombinasi antara genetik, gangguan sistem
imun dan faktor lingkungan. Ada beberapa faktor lingkungan yang berperan dalam
psoriasis, yaitu paparan UV, medikasi, merokok, obesitas, konsumsi alkohol, infeksi
dan stress. Dari hasil pemeriksaan fisik, didapatkan indeks massa tubuh (IMT) pada
pasien ini adalah 35,11 kg/m2 (obesitas). Dari beberapa penelitian menunjukkan
bahwa obesitas dapat memperburuk psoriasis.2 Pada tahun 2009 Work dkk melakukan
terhadap 373 pasien psoriasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa invidu dengan
obesitas memiliki resiko dua kali lebih besar menderita psoriasis dibandingkan
dengan individu dengan berat badan normal. Selain itu juga didapatkan bahwa setiap
peningkatan unit IMT berhubungan dengan peningkatan resiko menderita psoriasis
sebanyak 9% dan peningkatan derajat keprahan psoriasis sebanyak 7%.5
Etiologi dari GPP masih belum diketahui. Analisis yang telah dilakukan di
Jepang oleh Umezawa Y dkk, membagi GPP kedalam 2 grup, yaitu penderita yang
memiliki riwayat psoriasis sebelumnya (pso+ GPP) dan penderita yang tidak memiliki
riwayat psoriasis sebelumnya (pso- GPP). Faktor pencetusnya pun berbeda. Dimana
pso+ GPP lebih sering dicetuskan oleh penghentian kortikosteroid, sedangkan pso-
GPP lebih sering dicetuskan oleh infeksi.7 Pada pasien ini terdapat riwayat bercak
merah dengan sisik putih tebal pada tungkai bawah kanan yang memiliki gambaran
klinis serupa dengan plak psoriasis sejak 1 tahun yang lalu. Penelitian Hyunju dkk
pada tahun 2015 menunjukkan bahwa 77,8% pasien GPP memiliki riwayat plak
psoriasis sebelumnya dan 22,2% pasien GPP tidak memilki riwayat psoriasis.4 Pasien
telah mendapatkan beberapa obat sistemik berupa tablet bulat kecil warna pink
(dexamethasone), tablet kecil bulat warna putih dan tablet bulat kecil warna kuning
selama ± 5 bulan dan obat topikal berupa salep Phi kang Shuang® (Triamcinolone

26
acetonide 10 mg, Miconazole nitrate 100 mg, Neomycin sulfate 30.000 units) selama
± 5 bulan. Banyak literatur yang mengemukakan bahwa GPP dapat dicetuskan oleh
penurunan dosis atau penghentian dari terapi sistemik dan topikal steroid. (U
Mrowietz, John L). Pada tahun 1971, Ryan dan Baker melakukan penelitian terhadap
155 orang penderita GPP. Dari penelitian ini didapatkan 24% pasien GPP dicetuskan
akibat pengobatan steroid selama satu bulan pertama atau penurunan dosis steroid
pada bulan pertama. Sedangkan Joao BC dkk pada tahun 2011, menemukan bahwa
50% pasien GPP memliki riwayat penggunaan obat kortikosteroid topikal. Pasien ini
telah mendapatkan terapi steroid sistemik berupa dexamethasone tablet dan steroid
topikal berupa triamsinolone acetonide. Dimana saat ini, obat – obat ini dijual bebas
di pasaran. Sehingga penggunaannya sulit dikontrol. Selain itu dari anamnesis
diketahui ada riwayat demam, batuk dan nyeri menelan. Adanya infeksi saluran
pernapasan merupakan salah satu pencetus GPP.
Diagnosis GPP ditegakkan berdasarkan kriteria diagnostik GPP menurut
Umezawa dkk. Pada pasien ini ditemukan adanya gejala sistemik seperti demam,
multipel pustul yang pada dasar eritem tersebar pada sebagian besar tubuh. Pada
pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukositosis. Pada awalnya pasien ini
didiagnosis banding dengan subcorneal pustular dermatosis karena memiliki
gambaran klinis yang hampir serupa. Untuk itu pada pasien dilakukan pemeriksaan
histopatologi. Pada pemeriksaan histopatologi tampak jaringan dengan permukaan
dilapisi oleh epitel berlapis gepeng yang sebagian hyperplasia elongasi rete ridges,
parakeratosis, hiperkeratosis serta adanya kogoj’s spongiform pustule.7
Terapi utama yang diberikan pada pasien ini adalah siklosporin. Sikosporin
atau dikenal juga sebagai siklosporin A termasuk obat golongan makrolaktam adalah
sebuah peptide yang bersifat lipofilik dan hidropobik yang diekstraksi dari jamur.
Siklosporin secara selektif menekan respon sel T melalui mekanisme inhibisi
transduksi sinyal dependen kalsium yang kemudian menekan transkripsi gen sitokin
pro inflamasi serta menginhibisi siklus aktivasi sel T. Pada penggunaan secara oral,
konsentrasi tertinggi (Tmax) tercapai pada 1,5 – 2 jam dan 90% obat terikat pada
lipoprotein di plasma. Siklosporin dimetabolisme sacara ekstensif di hati oleh
sitokrom P-450 isoenzim 3A4. Waktu paruh eliminasi rata – rata 8,4 jam (pada
rentang 5 – 18 jam) dan eliminasi utamanya adalah melalui saluran empedu. Salah
satu indikasi pemberian siklosporin adalah penderita GPP. Dosis siklosporin 2 – 4
mg/kgBB/hari. Pada pasien ini diberikan dosis 150 mg yang dibagi dalam 3 kali

27
pemberian. Direncanakan, setelah 4 minggu akan dilakukan evaluasi. Jika belum ada
respon dosis dapat ditingkatkan 0,5 – 1 mg/kgBB/hari tiap 2 minggu, dengan dosis
maksimum 4 mg/kgBB/hari. Selain itu dilakukan pemantauan selama terapi berupa
pemantauan serum kreatinin dan tekanan darah setiap bulan, pemantauan
laboratorium setiap 3 bulan yang meliputi pemeriksaan darah lengkap, asam urat,
potassium, profil lipid, SGOT, SGPT dan bilirubin serum.11

Resume
 Telah dilaporkan seorang pasien perempuan dengan generalized pustular
psoriasis.
 Pada anamnesis didapatkan adanya riwayat bercak merah dengan sisik putih
kasar berlapis pada tungkai bawah kanan serta riwayat pengobatan dengan
steroid sistemik dan topikal. Pada pasien juga ditemukan adanya riwayat
demam.
 Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya demam, overweight, moon face,
non pitting udem pada kedua tungkai. Pada status dermatologikus ditemukan
adanya plak eritem dengan skuama putih kecoklatan disertai pustule pada
sebagian besar tubuh.
 Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukositosis.
 Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan adanya gambaran pustular
psoriasis.
 Pasien diterapi dengan siklosporin 2x100 mg, mometason furoat 0,1% krim
2xsehari dan lanolin 10% 2xsehari ½ jam sebelum mandi. Pasien dirawat
selama 13 hari dan pulang dengan perbaikan yang ditandai dengan
berkurangnya plak eritem, skuama putih kasar dan hilangnya pustul – pustul.

28