Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sampai dengan saat ini, Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
khususnya pada bayi dan balita. Menurut WHO dan UNICEF, setiap tahunnya terjadi sekitar 2
milyar kasus diare di dunia, dan sekitar 1,9 juta anak balita diantaranya meninggal. Sebagian
besar kasus diare terjadi di negara berkembang. Dari semua kematian anak balita karena
diare, 78% terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Indonesia, diare merupakan penyebab
nomor satu (proporsi) kematian bayi (31,4%) dan kematian balita (25,2%) serta penyebab
kematian nomor 4 (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular (Riskesdas
2007).

Pada tahun 2013, period prevalen diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia sebesar
7.0%. Lima provinsi dengan period prevalen dan insiden diare tertinggi, yaitu Papua (14,7%
dan 6,3%), Nusa Tenggara Timur (10,9% dan 4,3%), Sulawesi Selatan (10,2% dan 5,2%),
Sulawesi Barat (10,1% dan 4,7%), dan Sulawesi Tengah (8,8% dan 4,4%). Semakin rendah
kuartil indeks kepemilikan, semakin tinggi proporsi diare pada penduduk.
Petani/nelayan/buruh mempunyai proporsi tertinggi (7,1%), jenis kelamin dan tempat tinggal
menunjukkan proporsi yang tidak jauh berbeda.

Insiden diare balita di Indonesia sebesar 6,7%. Lima provinsi dengan insiden diare pada balita
tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta (8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan
Banten (8,0%). Anak balita merupakan kelompok umur paling tinggi menderita diare,
terutama 12-23 bulan (7,6%), laki-laki (5,5%), tinggal di daerah pedesaan (5,3%), dan
kelompok kuintil indeks kepemilikan terbawah (6,2%) (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan laporan Ditjen PP dan PL, Kemenkes RI tahun 2014, angka kematian diare (Case
Fatality Rate=CFR) diare pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 2013 sebesar 1,11%,
dan tahun 2014 sebesar 1,14%. Case Fatality Rate ini masih masih di atas target nasional
yang telah ditetapkan (<1%). Tingginya angka kematian diare ini menunjukkan bahwa Sistem
Kewaspadaan Dini KLB (SKD-KLB) belum terlaksana dengan baik.

Tingginya angka kematian diare merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian semua
pihak. Teknologi sederhana dan tepat guna dalam penanggulangan diare, yaitu dengan
pemberian cairan (rehidrasi) dan tablet zinc pada balita sangat diperlukan dalam
menurunkan angka kematian. Pada tahun 2014, WHO-UNICEF merekomendasikan bahwa
pemberian oralit dan tablet zinc, pemberian ASI dan makanan serta antibiotika selektif
merupakan bagian utama dari manajemen diare.

Penyediaan fasilitas “Pojok Oralit” di puskesmas merupakan salah satu upaya pemerintah
dalam menurunkan angka kematian diare, dan sarana bagi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan
konseling atau Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) untuk meningkatkan pengetahuan, serta membangun
sikap dan perilaku positif masyarakat untuk berperan aktif dalam penanggulangan diare pada bayi dan balita.
1
Namun kenyataannya cakupan pemberian oralit di masyarakat masih rendah, yaitu sebesar
33,3% dan cakupan pemberian tablet zinc hanya 16,9% (Riskesdas, 2013). Penanganan diare
di puskesmas juga masih banyak yang belum sesuai dengan standar. Hasil pengamatan Ditjen
PP dan PL di 40 puskesmas di 10 provinsi tahun 2012, menunjukkan bahwa penggunaan oralit
sebesar 86,5%, penggunaan tablet zinc 22%, penggunaan antibiotik tidak rasional 81,8%, dan
penggunaan anti diare 8,8%. Hasil pengamatan pada tahun 2014, pelaksanaan pojok oralit
belum sesuai dengan yang diharapkan, dan jumlah pojok oralit yang tersedia di puskesmas
masih rendah.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya upaya peningkatan layanan rehidrasi oral di
fasyankes khususnya puskesmas. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengganti istilah
“Pojok Oralit” menjadi “Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA)”. Mengingat LROA juga
merupakan salah satu indikator kegiatan pengendalian diare, maka buku ini perlu disusun
sebagai petunjuk teknis dalam pelaksanaan LROA di Indonesia. Indikator pengendalian diare
di Indonesia adalah sebesar 90% kabupaten/kota yang mempunyai layanan rehidrasi oral
aktif pada tahun 2019.

B. Tujuan

1. Tujuan umum
Terlaksananya kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif di Puskesmas sesuai dengan
ketentuan.

2. Tujuan khusus
a. Penanggung jawab/pengelola program/kegiatan pengendalian diare di dinas kesehatan
provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota mampu melakukan manajemen dan
meningkatkan jumlah LROA di Puskesmas minimal sesuai dengan target yang telah
ditetapkan.
b. Petugas puskesmas mampu melaksanakan kegiatan LROA di puskesmas sesuai dengan
ketentuan (petunjuk teknis).

C. Sasaran
Penanggung jawab/pengelola program/kegiatan pengendalian diare di dinas kesehatan
provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota, dan petugas puskesmas.

.
D. Dasar Hukum
1. UU. No.4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik
Indonesia Thn 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3273).
2. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
3. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2015-2019.

2
5. Permenkes No. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
6. Permenkes No. 741/Menkes/per.VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan Kab/Kota.
7. Kepmenkes No. 828/Menkes.SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kab/Kota.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit
Menular (Berita Negara Republik Indonesia tahun 2010 Nomor 1755)
9. Kepmenkes No. HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan Tahun 2015-2019.

BAB II

3
PENANGANAN DIARE

A. Klasifikasi Diare

1. Diare akut
Buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau
lebih) perhari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari.

a. Etiologi
Secara klinis penyebab diare akut dibagi dalam 4 kelompok yaitu infeksi, malabsorbsi,
keracunan makanan, dan diare terkait penggunaan antibiotika. Infeksi dapat
disebabkan oleh bakteri, virus, fungi, parasit (protozoa, cacing). Dari berbagai
penyebab tersebut, yang sering ditemukan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi
virus (Bagan 1).

Bagan 1. Etiologi Diare Akut

Pe
ny
eb
ab

Dia
re

Ak
ut

b. Patofisiologi

4
1) Diare sekretorik
Disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang terjadi akibat
gangguan absorpsi natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan sekresi klorida
tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit
keluar dari tubuh sebagai tinja cair.

Diare sekretorik ditemukan pada diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri akibat
rangsangan pada mukosa usus oleh toksin, misalnya toksin Escherichia coli atau
Vibrio cholerae 01.

2) Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit
dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus dan
cairan intrasel. Oleh karena itu, bila di lumen usus terdapat bahan yang secara
osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan diare.

2. Diare bermasalah
Diare bermasalah terdiri dari disentri, diare berkepanjangan (prolonged diarrhea), diare
persisten/kronik, diare dengan gizi buruk (malnutrisi), dan diare dengan penyakit
penyerta.

a Disentri
1) Batasan
Diare berdarah tidak selalu disentri, tidak selalu karena infeksi, bisa alergi pada
bayi, IBD (Inflammatory Bowel Disease). Disentri adalah diare dengan darah dan
lendir dalam tinja, dapat disertai dengan adanya tenesmus. Disentri berat adalah
disentri yang disertai dengan komplikasi.

2) Etiologi dan Epidemiologi


Di Indonesia penyebab Disentri adalah Shigella sp, Salmonella sp, Campylobacter
jejuni, E.coli, dan Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebakan oleh
Shigella dysentriae, Shigella flexneri, Salmonella dan Entero Invasive E.Coli (EIEC).

3) Patogenesis
Faktor risiko kejadian beratnya disentri antara lain gizi kurang, usia sangat muda,
tidak mendapat ASI, menderita campak dalam 6 bulan terakhir, mengalami
dehidrasi, serta penyebab disentrinya, misalnya Shigella sp yang menghasilkan
toksin dan/atau multiple drug resistent.

Pemberian spasmolitik memperbesar kemungkinan terjadinya megakolon toksik.


Pemberian antibiotika pada disentri yang disebabkan oleh kuman yang telah
resisten terhadap antibiotika akan memperberat manifestasi klinis dan
memperlambat sekresi kuman dalam fases penderita.

4) Gambaran klinis

5
Disentri umumnya diawali oleh diare cair, kemudian pada hari kedua atau ketiga
baru muncul darah dengan atau tanpa lendir, sakit perut yang diikuti tenesmus,
panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa lemah. Pada saat
tenesmus terjadi, pada kebanyakan penderita akan mengalami penurunan volume
diare dan mungkin tinja hanya berupa darah dan lendir. Pada kondisi seperti ini
perlu dipikirkan kemungkinan invaginasi terutama pada bayi. Gejala Infeksi
Saluran Pernapasan Akut dapat menyertai disentri. Disentri dapat menimbulkan
dehidrasi, dari yang ringan sampai dengan dehidrasi berat, walaupun kejadiannya
lebih jarang jika dibandingkan dengan diare cair akut. Komplikasi disentri dapat
terjadi lokal di saluran cerna, maupun sistemik.

b. Kolera
Gejala/tanda kolera, yaitu diare terus menerus, tinja cair seperti air cucian beras,
tanpa sakit perut, disertai mual dan muntah pada awal penyakit.
Seseorang dicurigai kolera apabila:
1) Berumur >5 tahun menjadi dehidrasi berat karena diare akut secara tiba-tiba
(biasanya disertai mual dan muntah), tinjanya cair seperti air cucian beras, tanpa
rasa sakit perut/mulas.
2) Diare akut pada umur >2 tahun di daerah yang terjangkit KLB kolera.

Diagnosis kolera ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium.

c. Diare berkepanjangan (prolonged diarrhea)


Diare yang berlangsung lebih dari 7 hari dan kurang dari 14 hari. Penyebab berbeda
dengan diare akut. Pada keadaan ini kita tidak lagi memikirkan infeksi virus melainkan
infeksi bakteri, parasit, malabsorpsi, dan beberapa penyebab lain dari diare persisten.

d. Diare persisten/diare kronik


1) Batasan
Diare persisten atau diare kronik adalah diare dengan atau tanpa disertai darah,
dan berlangsung selama 14 hari atau lebih. Bila sudah terbukti disebabkan oleh
infeksi disebut sebagai diare persisten.

2) Etiologi
Sesuai dengan batasan bahwa diare persisten atau diare kronik adalah diare akut
yang menetap, dengan sendirinya etiologi diare persisten atau diare kronik
merupakan kelanjutan dari diare akut.

e. Diare dengan gizi buruk


Gizi buruk yang dimaksud adalah gizi buruk tipe marasmus atau kwarsiorkor, yang
secara nyata mempengaruhi perjalanan penyakit dan tatalaksana (penanganan) diare
yang muncul. Diare yang terjadi pada gizi buruk cenderung lebih berat, lebih lama dan
dengan angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan diare pada anak
dengan gizi baik. Walaupun pada dasarnya penanganan diare pada gizi buruk sama
dengan pada anak dengan status gizi baik, tetapi ada beberapa hal yang perlu
mendapat perhatian.

f. Diare dengan penyakit penyerta


6
Anak yang menderita diare (diare akut atau diare persisten) mungkin juga disertai
dengan penyakit lain. Penanganan pada penderita selain berdasarkan acuan baku
penanganan diare juga tergantung dari penyakit yang menyertai.

Penyakit yang sering terjadi bersamaan dengan diare:


 Infeksi saluran pernapasan (bronkhopneumonia, bronkhiolitis, dan lain-lain)
 Infeksi sistem saraf pusat (meningitis, ensefalitis, dan lain-lain)
 Infeksi saluran kemih
 Infeksi sistem lain (sepsis, campak, dan lain-lain)
 Kurang gizi (gizi buruk, kurang vitamin A, dan lain-lain)

B. Prinsip Penanganan Diare pada Anak

Prinsip penanganan diare pada anak adalah Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare),
yaitu: Langkah 1. Pemberian oralit osmolaritas rendah; Langkah 2. Pemberian zinc; Langkah
3. Pemberian ASI/Makanan; Langkah 4. Pemberian antibiotik hanya atas indikasi; dan
Langkah 5. Pemberian nasihat.

1. Pemberian oralit osmolaritas rendah


Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan
oralit. Bila tidak tersedia, berikan lebih banyak cairan rumah tangga yang mempunyai
osmolaritas rendah yang dianjurkan seperti air tajin, kuah sayur, kuah sup, sari buah, air
teh, dan air matang.

Jenis cairan yang digunakan tergantung pada:


 Kebiasaan masyarakat setempat dalam mengobati diare
 Tersedianya cairan/sari makanan yang cocok
 Jangkauan pelayanan kesehatan

Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke
petugas/fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan rehidrasi yang cepat dan
tepat.

Cara Menyiapkan Oralit:


 Cuci tangan sebelum menyiapkan.
 Lihat kemasan dan masa berlaku oralit.
 Siapkan 1 gelas (200 cc) air matang.
 Gunting ujung pembungkus oralit.
 Masukkan seluruh isi oralit kedalam gelas yang berisi air tersebut
 Aduk hingga bubuk oralit larut.
 Siap untuk diminum.

Cara Memberikan Oralit:


 Anak umur <1 tahun diberikan 50-100 cc cairan oralit setiap kali buang
air besar (BAB).
 Anak umur >1 tahun diberikan 100-200 cc cairan oralit setiap kali BAB.

2. Zinc
7
Di negara berkembang, umumnya anak sudah mengalami defisiensi Zinc. Bila anak diare,
akan kehilangan zinc bersama tinja, menyebabkan defisiensi menjadi lebih berat.

Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Lebih dari 300
macam enzim dalam tubuh memerlukan zinc sebagai ko-faktornya, termasuk enzim
superoksida dismutase.

Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan
diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, dan menurunkan
kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa zinc mempunyai efek protektif terhadap diare dan menurunkan
kekambuhan diare sebanyak 11%. Berdasarkan hasil salah satu pilot studi menunjukkan
bahwa zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67%. Berdasarkan bukti-bukti yang
ada, maka semua anak dengan diare diberikan zinc segera mungkin.

Cara Memberikan Zinc:


 Pastikan semua anak yang diare mendapatkan obat zinc selama 10 hari
berturut-turut.
 Dosis obat zinc (1 tablet=20mg)
- Umur <6 bulan, diberikan 10mg (½ tablet) zinc per hari.
- Umur >6 bulan, diberikan 20 mg (1 tablet) zinc per hari.
 Larutkan tablet dalam satu sendok air matang atau ASI (tablet mudah larut, ±
30 detik) segera berikan kepada anak.
 Bila anak muntah ±10 menit setelah pemberian obat zinc, ulangi pemberian
dengan cara memberikan potongan lebih kecil yang dilarutkan beberapa kali
hingga satu dosis penuh.
 Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan
obat zinc sesegera mugkin setelah anak bisa minum/makan.

3. Pemberian ASI/Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat
badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang minum susu
formula diberikan lebih sering daripada biasanya.

Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus
diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit demi sedikit tetapi sering. Setelah diare
berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu
pemulihan berat badan anak.

4. Pemberian antibiotik hanya atas indikasi


Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin, karena kecilnya kejadian diare yang
memerlukannya (8,4%). Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan diare berdarah
(sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera, dan infeksi-infeksi di luar saluran
pencernaan yang berat, seperti pneumonia. Obat-obatan “anti-diare” tidak boleh
diberikan pada anak yang menderita diare, karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti
muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi
8
ataupun meningkatkan status gizi anak. Obat anti-protozoa digunakan bila terbukti diare
disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).

5. Pemberian nasehat
Ibu atau keluarga yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasihat tentang:
a. Cairan (oralit) dan obat zinc di rumah.
b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan:
 Diare lebih sering
 Muntah berulang
 Sangat haus
 Makan atau minum sedikit
 Timbul demam
 Tinja berdarah
 Tidak membaik dalam 3 hari.

C. Prosedur Penanganan Diare

1. Menilai derajat dehidrasi (Tabel)

Catatan: Hati-hati dalam mengartikan cubitan kulit, karena: 1) Pada penderita yang gizinya
buruk, kulitnya mungkin saja kembali dengan lambat walaupun tidak dehidrasi; dan 2) Pada
penderita yang obesitas (terlalu gemuk), kulitnya mungkin saja kembali dengan cepat
walaupun penderita mengalami dehidrasi.

2. Menentukan rencana pengobatan


9
a. Rencana Terapi (pengobatan) A untuk penderita diare tanpa dehidrasi di rumah.
b. Rencana Terapi B untuk penderita diare dengan dehidrasi ringan/sedang (tidak berat)
di fasyankes untuk diberikan pengobatan dan pemantauan selama 3 jam.
c. Rencana Terapi C untuk penderita diare dengan dehidrasi berat di fasyankes untuk
pemberian cairan rehidrasi Intra Vena.

RENCANA TERAPI B A
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI
RENCANA RINGAN
TERAPI A – SEDANG
(DEHIDRASI
UNTUK TIDAK
TERAPI DIARE BERAT)
TANPA DEHIDRASI
JUMLAH ORALIT YANG
MENERANGKAN DIBERIKAN
5 LANGKAH 4 JAM
TERAPI PERTAMA
DIARE DI SARANA
DIRUMAH
KESEHATAN
1. BERI CAIRAN LEBIH BANYAK DARI BIASANYA
ORALIT Yang Diberikan
 Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama.
 Anak yang mendapat ASI eksklusif,
75 ml berixoralit
BERAT atau air matang sebagai
BADAN anak tambahan.
 Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri susu yang biasa diminumkan dan oralit atau cairan rumah
tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air tajin, air matang dsb).
 Bila BB tidakoralit
 Beri diketahui,
sampai berikan oralit sesuai
diare berhenti. tabel di
Bila muntah, bawah
tunggu 10 ini : dan dilanjutkan sedikit demi sedikit.
menit
 Untuk mencegah dehidrasi, beri cairan rehidrasi oral (ORALIT) sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap BAB cair.
UMUR Sampai
 Anak harus diberi 4 oralit
6 bungkus 4 (200
– 12 ml)
Bulan
di rumah 12bila
– 24Bulan
: 2 – 3 Tahun
BulanRencana Terapi B atau C.
- Telah diobati dengan
- Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan jika diare memburuk.
BERAT BADAN
 Ajari < mencampur
ibu cara 6 kg 6 – 10 kg oralit. 10 – 12 kg
dan memberikan 12 – 19 kg

2. BERI OBAT ZINC


 Beri Zinc 10200
JUMLAH hari –
berturut-turut
400 ml walaupun
400 – 700diare
ml sudah berhenti.
700 – 900 ml 900 – 1.400 ml
 Dapat diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air matang atau ASI.
ORALIT
- Umur < 6 bulan diberi 10 mg (½ tablet) per hari.
- Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1 tablet) per hari.
 Bila anak menginginkan lebih banyak oralit berikanlah.
 Bujuk
3. ibu
BERIuntuk meneruskan
ANAK MAKAN ASI.UNTUK MENCEGAH KURANG GIZI
 Untuk bayi < makan
Beri 6 bulansesuai
yang tidak
umurmendapatkan ASI berikan
anak dengan menu juga 100
yang sama pada–waktu
200 ml air masak
anak sehat. selama masa ini.
 Untuk anak > 6 bulan,
Tambahkan tunda
1-2 pemberian
sendok makan
teh minyak selama
sayur setiap4porsi
jam kecuali
makan.ASI dan oralit.
 Beri obat Zincmakanan
 Beri selama 10 hariKalium
kaya berturut-turut.
seperti sari buah segar, pisang, air kelapa hijau.
 Beri makan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil (setiap 3-4 jam).
 Setelah
AMATI diare berhenti,
ANAK DENGAN beriSEKSAMA
makanan yang samaBANTU
DAN dan makanan
IBUtambahan
MEMBERIKAN selama 2 minggu
ORALIT.
 Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan.
4. ANTIBIOTIK HANYA DIBERIKAN SESUAI INDIKASI (MISAL: DISENTERI,
 Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas.
 KOLERA
Bila kelopak dll) bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI.
mata anak
 Beri oralit sesuai Rencana Terapi A bila pembekakan telah hilang.
5. NASIHAT IBU / PENGASUH
Untuk membawa anak kembali ke petugas kesehatan bila :
SETELAH
 Berak 3-4 JAM,
cair lebih NILAI KEMBALI ANAK MENGGUNAKAN BAGAN PENILAIAN
sering.
KEMUDIAN PILIH
 Muntah berulang.RENCANA TERAPI A, B ATAU C UNTUK MELANJUTKAN TERAPI
 Sangat
 Bila tidak haus. ganti ke Rencana Terapi A.
ada dehidrasi,
 Makan danhilang,
 Bila dehidrasi telah minumanak
sangat sedikit.kencing kemudian mengantuk dan tidur.
biasanya
 Timbul demam.
 Bila tanda menunjukkan Dehidrasi Ringan – Sedang (Dehidrasi Tidak Berat), ulangi Rencana Terapi B.
 Berak
 Anak mulai berdarah.
diberi makanan, susu dan sari buah.
 Tidak membaik dalam 3 hari.
 Bila tanda menunjukkan Dehidrasi Berat, ganti dengan Rencana Terapi C

BILA IBU HARUS PULANG SEBELUM SELESAI RENCANA TERAPI B

 Berikan Oralit 6 bungkus untuk persediaan di rumah. B


 Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah.

 Jelaskan 5 langkah Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah.


10
RENCANA TERAPI C
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI BERAT
DI SARANA KESEHATAN
Ikuti arah anak panah.
Bila jawaban dari pertanyaan YA teruskan ke KANAN, bila TIDAK teruskan ke BAWAH

 Beri cairan Intravena segera. Ringer Laktat atau NaCl 0,9% (bila RL tidak tersedia)
100 ml/kg, dibagi sebagai berikut:
UMUR PEMBERIAN KEMUDIAN
PERTAMA

Bayi < 1 tahun 1 jam * 5 jam

Anak > 1 tahun 30 menit * 2 ½ jam

* Diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau tidak teraba.

 Nilai kembali tiap 15 – 30 menit. Bila nadi belum teraba, beri tetesan lebih cepat.
 Juga beri oralit (5 ml/kg/jam) bila penderita bisa minum; biasanya setelah 3 – 4
jam (bayi) atau 1 – 2 jam (anak).
 Berikan obat Zinc selama 10 hari berturut-turut.
 Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi derajat dehidrasi.
 Kemudian pilihlah Rencana Terapi yang sesuai (A, B atau C) untuk melanjutkan
terapi.

▪ Rujuk penderita untuk terapi Intravena.


 Bila penderita bisa minum, sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya
selama di perjalanan.

▪ Mulai rehidrasi dengan oralit melalui Nasogastrik/Orogastrik. Berikan sedikit demi


sedikit, 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam.
 Nilai setiap 1 – 2 jam :
- Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat.
- Bila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam rujuk untuk terapi Intravena.
 Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih Rencana Terapi yang sesuai (A, B atau C).

▪ Mulai rehidrasi dengan oralit melalui mulut. Berikan sedikit demi sedikit, 20 ml/kg
BB/jam selama 6 jam.
 Nilai setiap 1 – 2 jam :
- Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat.
- Bila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam rujuk untuk terapi Intravena.
 Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih Rencana Terapi yang sesuai.

Catatan :

C
▪ Bila mungkin amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan
bahwa ibu dapat menjaga mengembalikan cairan yang hilang dengan memberi
oralit.
 Bila umur anak diatas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah Saudara,
11
pikirkan kemungkinan kolera dan beri antibiotika yang tepat secara oral begitu
anak sadar.
Dapatkah Saudara
memberikan Y
Y
cairan Intravena? A
A
T
T
II
D
D
A
A
K
K

Adakah terapi ter


dekat (dalam 30 Y
Y
menit)? A
A
T
T
II
D
D
A
A
Apakah Saudara dapat K
K
menggunakan pipa Y
Y
Nasogastrik / Orogastrik A
A
untuk rehidrasi? TT
II
DD
AA
KK
Apakah penderita bisa
minum? Y
Y
A
A
T
T
II
D
D
A
A
K
K
Segera rujuk anak untuk
rehidrasi melalui
Nasogastrik/ Orogastrik
atau Intravena.

D. Rujukan Diare
12
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik,
baik vertikal maupun horizontal. (Permenkes No. 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Perorangan).

Mekanisme rujukan pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas maka
tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui.
Sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya mereka harus menentukan kasus mana
yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk. Yang perlu diperhatikan
dalam merujuk :
1. Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai
kewenangan terdekat, termasuk fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan
kesediaan dan kemampuan penderita.
2. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarganya perlu diberikan informasi
tentang perlunya penderita segera dirujuk mendapatkan pertolongan pada fasilitas
pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
3. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju melalui telepon atau radio
komunikasi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
4. Persiapan penderita
Sebelum dikirim keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih dahulu. Keadaan
umum ini perlu dipertahankan selama dalam perjalanan, Surat rujukan harus
dipersiapkan sesuai dengan format rujukan dan seorang tenaga kesehatan harus
mendampingi penderita dalam perjalanan sampai ke tempat rujukan.

Untuk mempercepat pengiriman pasien sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/


sarana transportasi yang tersedia untuk mengangkut penderita. Untuk penderita yang telah
dikembalikan dan memerlukan tindak lanjut, dilakukan tindakan sesuai dengan saran yang
diberikan. Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak melapor, maka dilakukan
kunjungan rumah.

Pada diare, rujukan dilakukan pada:


1. Dehidrasi ringan, tetapi muntah yang sering dengan mengeluarkan yang ada di dalam
perut.
2. Diare akut dengan dehidrasi berat.
3. Disentri dengan faktor risiko menjadi berat merupakan indikasi rawat inap antara lain
dengan gangguan gizi berat, umur kurang dari dari satu tahun, menderita campak pada
enam bulan terakhir, disentri disertai dehidrasi berat dan disentri dengan komplikasi.
4. Diare persisten pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan, mengalami dehidrasi,
menderita infeksi berat, penderita diperkirakan tidak akan dapat mengkonsumsi makanan
sesuai dengan jenis, bentuk dan jumlah yang direkomendasikan.
5. Diare bermasalah lainnya seperti diare dengan gizi buruk, dan diare dengan penyakit
penyerta.

E. Perencanaan Obat Program


13
1. Oralit
Perhitungan kebutuhan logistik diare ditentukan berdasarkan jumlah penderita diare yang
datang ke puskesmas dan kader.

Perhitungan oralit:
Contoh Perhitungan Kebutuhan Oralit:
Kebutuhan Oralit:  Penduduk
Kabupaten A = 300.000 jiwa
Target penemuan penderita diare x 6 bungkus +
 Angka
cadangan*) - stok kesakitan diare tahun 2012
= *214/1000 penduduk
*)  Target penemuan penderita diare
Cadangan = 10% x target penemuan penderita x 6
= 10% x 214/1000 x 300.000 = 6.420
bungkus. penderita diare
 Misal diketahui sisa oralit (akhir tahun
2012) = 10.000 bungkus
Target penemuan penderita diare = 10 % x angka
kesakitan**) x jumlah penduduk Maka Usulan Kebutuhan Oralit:
6.420 x 6 bungkus + 10% (6.420 x 6)-10.000
*) Angka Kesakitan Diare dapat berubah sesuai hasil terakhir bungkus
= 38.520 + 3.852-10.000 bungkus
**)
Angka kesakitan diare diperoleh dari hasil kajian morbiditas diare = 32.372 bungkus
nasional (2012) = 214/1000 penduduk. = 323,7 kotak = 324 kotak
Stok: sisa obat akhir tahun (1 kotak = 100 bungkus).

2. Obat zinc

Perhitungan obat zi
Kebutuhan Obat Zinc:
Contoh Perhitungan Kebutuhan Zinc:
Target penemuan penderita diare Balita x 10 tablet +  Penduduk
cadangan*) - stok Kabupaten A = 300.000 jiwa
*)  Perkiraan
Cadangan = 10% x target penemuan penderita x 10
jumlah Balita Kabupaten A=10%x300.000 =
tablet. 30.000 Balita
 Apabila
tersedia data jumlah Balita di masing-
Target penemuan penderita diare Balita = 20 % x angka masing daerah, agar menggunakan data
kesakitan Balita**) x jumlah penduduk tersebut.
 Angka
**) kesakitan diare pada Balita tahun
angka kesakitan diare Balita diperoleh dari hasil kajian morbiditas diare 2012=900/1000
nasional (2012) = 900/1000 penduduk Balita.  Misalnya di akhir tahun sisa zinc (stok) =
Stok: sisa obat akhir tahun 20.000 tablet.

Maka Kebutuhan Zinc:


= 5.400 x 10 tablet + 10% (5.400 x10)
- 20.000 tablet

BAB III

14
LAYANAN REHIDRASI ORAL AKTIF

A. Pengertian Layanan Rehidrasi Oral Aktif

Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) merupakan salah satu bentuk layanan di puskesmas yang
didirikan sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan, serta membangun sikap dan perilaku positif
masyarakat (orang tua, pengasuh anak, kader, anggota PKK, karang taruna, dan lain-lain) tentang diare,
pecegahan dan penanggulangannya. Sedangkan Aktif, yaitu aktif memberikan layanan kepada orang
tua/pengasuh Balita yang berkunjung ke puskesmas.

Definisi operasional LROA adalah layanan yang berada di fasyankes, yang melakukan kegiatan
salah satu ruangan (tempat) di puskesmas yang melakukan paling tidak dua dari beberapa
kegiatan Layanan Rehidrasi Oral (LRO) secara terus menerus 3 (cek dengan DO) bulan terakhir
dalam periode pelaporan tahun berjalan, yang dibuktikan dengan adanya data/laporan hasil
pelaksanaan kegiatan.

B. Kebijakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif

Kebijakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif dalam tatalaksana Diare:


1. Layanan Rehidrasi Oral Aktif merupakan salah satu indikator kinerja pengendalian diare di
kabupaten/kota.
2. Layanan Rehidrasi Oral Aktif di laksanakan di puskesmas sebagai upaya untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan
penanggulangan diare.
3. Layanan Rehidrasi Oral Aktif dilakukan dengan cara observasi penderita diare.

C. Strategi Layanan Rehidrasi Oral Aktif

1. Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan


penanggulangan diare.
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta masyarakat dalam
penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan
diare.
3. Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dalam melaksanakan Layanan Rehidrasi
Oral Aktif.
4. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui
peningkatan sumber daya manusia, penguatan institusi, dan standarisasi pelayanan.

15
D. Fungsi Layanan Rehidrasi Oral Aktif

Layanan Rehidrasi Oral Aktif berfungsi:


1. Peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang diare, dan upaya
pencegahan dan penanggulangannya.
2. Promosi upaya rehidrasi oral dan pemberian zinc
3. Pemberian pelayanan bagi penderita diare (yang mengalami dehidrasi ringan- sedang),
diobservasi di Layanan Rehidrasi Oral Aktif paling sedikit selama 3 jam; orang
tua/pengasuh/keluarganya akan diajarkan bagaimana cara penyiapan oralit dan berapa
banyak oralit yang harus diminum oleh penderita.
4. Sosialisasi dan peningkatan kapasitas masyarakat tentang diare dan upaya pencegahan
dan penanggulangannya.

E. Sarana dan Prasarana Layanan Rehidrasi Oral Aktif

1. Sarana pendukung
a. Tenaga pelaksana: dokter atau paramedis terlatih
b. Prasarana :
1. Tempat pendaftaran
2. Ruangan
Ruangan dilengkapi dengan meja, ceret, oralit, zinc, gelas, sendok, lap bersih,
sarana cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, poster/leaflet/lembar
balik/sarana penyuluhan lainnya tentang diare dan penanganannya (tatalaksana).
3. Lokasi
Pilihan lokasi LRO:
a) Dekat ruang tunggu, ruang periksa, serambi/lobby
yang tidak terlalu berdesakan dengan pengunjung puskesmas
b) Dekat dengan toilet/kamar mandi
c) Nyaman dan mempunyai ventilasi yang baik
d) Di ruangan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) atau lainnya sesuai kondisi
puskesmas.
4. Desain
Desain LRO:
a) Sebuah meja untuk menyiapkan larutan oralit.
b) Kursi atau bangku dengan sandaran, sehingga ibu/pengasuh dapat duduk
dengan nyaman saat memangku anaknya.
c) Sebuah meja kecil dimana ibu/pengasuh dapat menempatkan gelas yang
berisi larutan oralit.
d) Oralit paling sedikit 1 kotak (100 bungkus).
e) Gelas ukur
f) Gelas.
g) Sendok.
h) Lembar balik yang dapat digunakan sebagai sarana penyuluhan, untuk
menjelaskan kepada ibu/pengasuh bagaimana mengenali/mencegah dan
menanggulangi anak dengan diare.
i) Leaflet untuk dibawa pulang ke rumah.

16
j) Selain itu, LRO sangat bermanfaat bagi
ibu/pengasuh anak untuk belajar tentang upaya rehidrasi oral serta hal-hal
penting lainnya, seperti pemberian ASI, pemberian makanan tambahan,
penggunaan air bersih, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
penggunaan jamban, imunisasi dan gizi, sehingga poster dan media KIE lainnya
juga diperlukan di LROA.

F. Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif

1. Manajemen Layanan Rehidrasi Oral Aktif


Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA), mencakup: 1) Advokasi dan sosialisasi
kepada pemangku kepentingan dan organisasi terkait dalam masyarakat; 2) Penyuluhan
(KIE) tentang LROA kepada masyarakat; 3) Pelatihan petugas kesehatan dan kader; 4)
Penyusunan petunjuk teknis LROA; 5) Pengadaan logistik LROA; dan 6) Monitoring dan
evaluasi secara berkala dan berkesinambungan.

2. Pelaksanaan kegiatan LROA di puskesmas


Di puskesmas, kegiatan sosialisasi dan KIE LROA dapat diintegrasikan dengan
program/kegiatan lain, seperti MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). MTBS adalah
suatu manajemen untuk balita yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara
terpadu mengenai klasifikasi, status gizi, status imun maupun penanganan dan konseling
yang diberikan. MTBS juga merupakan program pemerintah untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian balita.

Petugas yang melakukan sosialisasi/penyuluhan adalah dokter atau petugas kesehatan


terlatih. Di Puskesmas sosialisasi/penyuluhan dapat dilaksanakan bersama-sama dengan
petugas kesehatan lainnya seperti bidan dan petugas kesehatan lingkungan.

Penyuluhan (KIE) LROA, mencakup:


 Tentang diare, pencegahan dan penanggulangannya, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,
air yang memenuhi syarat kesehatan, jamban sehat, dan rumah sehat.
 Memberikan demonstrasi tentang bagaimana mencampur larutan oralit dan bagaimana
cara memberikannya.
 Menjelaskan tentang bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam memberikan larutan
oralit bila ada muntah.
 Memberikan demonstrasi dan menjelaskan tentang pemberian zinc dan cara mengatasi
kesulitan
 Memberikan dorongan pada ibu untuk memulai memberikan makanan pada anak atau
ASI pada bayi (puskesmas perlu memberikan makanan pada anak yang tinggal
sementara di fasilitas pelayanan.
 Mengajari ibu/pengasuh tentang bagaimana melanjutkan pengobatan selama anaknya
di rumah dan menentukan indikasi kapan anaknya dibawa kembali ke fasyankes.
 Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan pada pengunjung puskesmas tentang
pencegahan dan penanggulangan diare di rumah, dan kapan harus di bawa ke
fasyankes.

17
Pelayanan penderita
Setelah penderita diperiksa, tentukan diagnosis dan derajat dehidrasi diruang
pengobatan, tentukan jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam berikutnya dan bawa
ibu/pengasuh ke LROA untuk menunggu selama diobservasi, serta:
 Jelaskan manfaat oralit dan zinc, ajari ibu cara memberikan oralit dan zinc apabila
diare, dan cara membuat larutan pengganti oralit apabila tidak mempunyai oralit
kemasan.
 Amati ibu/pengasuh saat memberikan oralit dan zinc
 Pantau penderita secara periodik dan catat keadaannya (pada catatan klinik penderita
diare rawat jalan) setiap 1-2 jam sampai dehidrai pada penderita teratasi (3-6 jam)
 Catat/hitung jumlah oralit yang diberikan
 Berikan zinc dengan dosis sesuai usia anak
 Bila diperlukan berikan obat lainnya, seperti penurun panas dan antibiotika apabila ada
disentri atau kolera.

Alur kegiatan LROA sebagaimana terlihat pada Bagan 2.

Bagan 2. Alur Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif

PUSKESMAS
DALAM GEDUNG

Poli Apotik Pulang


L Umum/MTBS
Pasien O
K
E
T LROA
- Sosialisasi
- Penyuluhan (KIE)/demo cara Lokakarya Mini
pemberian oralit, zinc dan lain-lain Puskesmas
- Observasi penderita

Koordinasi
- Lintas sektor terkait
Keterangan: - Toga
Ibu/Pasien Diare - Toma
Petugas LROA - Kader, Dll.

18
G. Pencatatan dan Pelaporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif

Pencatatan dan pelaporan adalah salah satu indikator keberhasilan suatu kegiatan, tanpa ada
pencatatan dan pelaporan kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan
terlihat wujudnya.

Manfaat Pencatatan dan Pelaporan adalah :


1. Memudahkan dalam mengelola informasi kegiatan di tingkat pusat, provinsi,dan
kab/kota.
2. Memudahkan dalam memperoleh data untuk perencanaan dalam rangka pengembangan
tenaga kesehatan.
3. Memudahkan dalam melakukan pembinaan tenaga kesehatan
4. Memudahkan dalam melakukan evaluasi hasil.

Pencatatan dan pelaporan sebagaimana tecantum dalam Buku Pedoman Manajemen


Pengendalian Hepatitis, Diare, dan Infeksi Saluran Pencernaan, meliputi:
1. Puskesmas:
Petugas puskesmas merekap hasil kegiatan LROA, kemudian mengirim laporan tersebut
ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat setiap bulan :
a. Form 13A Register Harian Kunjungan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA).
b. Form 13B Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA).
c. Form 13F Rekapitulasi Kasus Diare Di Puskesmas.
2. Kabupaten/kota
Dinas kesehatan kabupaten/kota merekap hasil laporan puskesmas dan mengirimkan
laporan LROA dan diare ke dinas kesehatan provinsi setiap triwulan menggunakan Form
13C Rekapitulasi Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) Per Puskesmas dan 13G
Rekapitulasi Kasus Diare di Kabupaten.
3. Provinsi
Dinas kesehatan provinsi merekap laporan LROA dari dinas kesehatan kabupaten/kota
menggunakan Form 13D Rekapitulasi Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) dan 13
H Rekapitulasi Kasus Diare setiap triwulan. Mengirimkan umpan balik laporan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota setiap triwulan.
4. Nasional
Subdit Diare dan ISP, Direktorat P2ML merekap laporan LROA dari dinas kesehatan
provinsi menggunakan Form 13F Rekapitulasi Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
(LROA) dan 13 I Rekapitulasi Kasus Diare setiap triwulan. Mengirimkan umpan balik
laporan ke dinas kesehatan provinsi setiap triwulan.

H. Evaluasi Layanan Rehidrasi Oral Aktif

Evaluasi LROA bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah
dilaksanakan. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan
tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.

Dalam evaluasi, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui keberhasilan atau


ketidakberhasilan suatu kegiatan. Indikator yang digunakan adalah (Tabel) di bawah ini :
19
Tabel. Indikator Kegiatan LROA

Indikator 2015 2016 2017 2018 2019

Kabupaten/Kota dengan Layanan Rehidrasi 10 % 20 % 40 % 80 % 90 %


Oral Aktif

Cara perhitungan capaian Indikator:

Jumlah LROA di Puskesmas di kabupaten/kota (dalam 1 tahun)


---------------------------------------------------------------------------------------- X 100%
Jumlah puskesmas di kabupaten/kota (dalam 1 tahun)

 Pembilang: Jumlah LROA di puskesmas di suatu kabupaten/kota dalam 1 tahun


 Penyebut: Jumlah puskesmas di kabupaten/kota dalam 1 tahun terakhir.
 Ukuran/konstanta: Persentase (100%).
 Sumber data: Laporan rutin kegiatan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta 2010.

Kementerian Kesehatan RI. Kajian Morbiditas Diare tahun 2012. Jakarta (Indonesia). 2012.

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan


Lingkungan. Pedoman Tatalaksana Diare Tahun 2014. Jakarta 2014.

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal PP dan PL. Rencana Aksi Kegiatan Pengendalian
Diare Tahun 2015-2019. Jakarta 2014.

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal PP dan PL. Pedoman Manajemen Pengendalian
Hepatitis, Diare, dan Infeksi Saluran Pencernaan. Kemeterian Kesehatan RI. Jakarta 2014.

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan


Lingkungan. Buku Saku Lintas Diare Untuk Petugas Kesehatan. Jakarta 2014.

21
Lampiran

CONTOH TANYA JAWAB SEPUTAR REHIDRASI ORAL

1. Apa itu oralit?


Oralit merupakan campuran garam elektrolit, terdiri dari Natrium Chlorida (NaCl), Kalium
Chlorida, Trisodium Citrat Hidrat, dan Glucose Anhidrat.

2. Apa manfaat oralit?


Oralit yang diberikan pada penderita diare bermanfaat untuk mengganti cairan tubuh yang
hilang pada saat diare (mencegah dehidrasi) disamping itu oralit juga bermanfaat untuk :
a. Mengurangi volume tinja hingga 25%
b. Mengurangi mual muntah hingga 30%
c. Mengurangi secara bermakna pemberian cairan intravena

3. Kapan oralit perlu diberikan?


Segera bila anak diare sampai diare berhenti

4. Bagaimana cara menyiapkan cairan oralit (Gambar 1)?


a. Cuci tangan sebelum menyiapkan.
b. Lihat kemasan dan masa berlaku oralit.
c. Siapkan 1 gelas (200 cc) air matang.
d. Gunting ujung pembungkus oralit
e. Masukkan seluruh isi oralit kedalam gelas yang berisi air tersebut.
f. Aduk hingga bubuk oralit.
g. Siap untuk diminum

Gambar 1. Cara Menyiapkan Cairan Oralit

5. Bagaimana cara memberikan oralit?


a. Anak umur <1 tahun, diberikan 50-100 cc cairan oralit setiap kali Buang Air Besar (BAB).
b. Anak umur >1 tahun, diberikan 100-200 cc cairan oralit setiap kali BAB.
22
6. Dimana oralit bisa didapatkan?
Di apotik, toko obat, rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes,
posyandu/kader kesehatan dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya.

7. Apa itu zinc?


Zinc merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan
anak.

8. Apa manfaat zinc pada anak penderita diare?


a. Zinc bermanfaat untuk mengganti zinc yang hilang pada saat diare.
b. Meningkatkan sistim kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare
selama 2-3 bulan setelah anak sembuh.
c. Mempercepat durasi/lama diare.
d. Mengurangi frekuensi dan mengurangi volume tinja.
e. Mengurangi kegagalan pengobatan.

9. Bagaimana mekanisme kerja zinc?


Zinc mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistim kekebalan tubuh, lebih dari 300
macam zinc dalam tubuh memerlukan zinc sebagai co-faktornya. Zinc juga menghambat
enzim iNOS (Inducible Nitric Oxide Synthase) dimana eksresi enzim ini meningkatkan selama
diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi
dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi selama diare.

10. Zinc tersedia dalam bentuk sediaan apa?


Zinc yang disiapkan oleh pemerintah (Kementerian Kesehatan RI) dalam bentuk sediaan
tablet dispersible, tetapi untuk yang beredar di pasaran juga tersedia dalam sediaan sirup,
sirup kering, serbuk dalam sachet.

11. Berapa dosis zinc dan bagaimana cara pemberiannya?


Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, dengan dosis :
a. Anak umur <6 bulan: 10 mg (1/2 tablet)/hari.
b. Anak umur > 6 bulan: 20 mg (1 tablet)/hari.
Cara pemberian
Untuk yang bentuk tablet dilarutkan dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, untuk anak
yang lebih besar tablet zinc dapat dikunyah.

12. Apa yang dilakukan bila anak memuntahkan zinc setelah pemberian?
Bila setelah pemberian zinc (±10 menit) anak muntah, berikan lagi tablet zinc dengan cara
memberikan potongan lebih kecil dan diberikan beberapa kali sampai satu dosis penuh.

13. Apakah tablet zinc dapat dilarutkan dalam cairan oralit?


Pada prinsipnya obat zinc dapat dilarutkan dalam cairan oralit, namun yang dikhawatirkan
adalah jika oralit tidak diminum habis, maka dosis zinc tidak akan cukup.

23
14. Apakah obat zinc harus diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti?
Ya, pemberian zinc harus diberikan selama 10 hari, karena sudah terbukti membantu
memperbaiki mukosa usus yang rusak saat anak diare dan meningkatkan kekebalan tubuh
secara kekebalan tubuh secara keseluruhan.

15. Apakah oralit dan zinc aman dikomsumsi bersamaan?


Ya, zinc aman dikomsumsi bersamaan dengan oralit. Zinc hanya diberikan satu kali sehari
sedang oralit diberikan tiap kali anak BAB.

16. Apakah efek samping zinc?


Efek samping zinc sangat jarang dilaporkan, biasanya hanya berupa muntah.

17. Bagaimana bila anak meminum lebih dari satu tablet zinc?
Kelebihan satu atau dua tablet tidak akan membahayakan anak. Jika anak mengkomsumsi
terlalu banyak zinc, dia mungkin akan memuntahkannya, sehingga zinc akan terbuang.
Dianjurkan untuk menempatkan zinc yang jauh dari jangkauan anak untuk mencegah hal
tersebut. Bila dikomsumsi zinc berlebihan dapat menganggu metabolisme tubuh dan bahkan
akan mengurangi ketahanan tubuh anak.

18. Apakah anak dengan diare berdarah perlu diberikan zinc?


Ya, zinc tetap diberikan sesuai dosis, jika anak diare berdarah, anak ini juga memerlukan
antibiotika.

19. Apakah tanda-tanda dehidrasi?


a. Tanda-tanda dehidrasi ringan hingga sedang:
- Haus
- Bibir kering dan lengket
- Lebih mudah mengantuk dan lelah (kurang aktif dibanding biasa)
- Berkurangnya frekuensi dan kuantitas buang air kecil
- Untuk bayi tidak buang air lebih dari 3 jam
- Ketika menangis, air mata sedikit atau tidak keluar air mata sama sekali
- Kulit kering

b. Tanda-tanda dehidrasi berat (segera ke fasyankes/UGD!)


- Sangat haus
- Lemas atau rewel berlebilan
- Warna buang air kecil lebih gelap/pekat dari normal, tidak buang air kecil dalam
jangka waktu lama (untuk bayi >6 jam, dan >12 jam untuk anak yang lebih besar)
dengan jumlah sedikit.
- Mata cekung
- Kulit kering dan berkurang elastisitasnya, tidak kembali ketika ditarik
- Pada bayi, ubun-ubunnya cekung (fontanel)
- Tekanan darah rendah
- Detak jantung cepat
- Napas cepat
- Menangis tanpa air mata

24
- Demam
- Pada kasus yang sangat berat, dapat kehilangan kesadaran.

25