Anda di halaman 1dari 6

ADC – Analog to Digital Converter

Muhamad Rony Febiantoro / 161810201024/ A-3


Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Jember.
r8febiantoro@gmail.com

1. Latar Belakang
Analog To Digital Converter (ADC) adalah pengubah input analog menjadi kode – kode
digital. ADC banyak digunakan sebagai pengatur proses industri, komunikasi digital dan rangkaian
pengukuran/pengujian. Umumnya ADC digunakan sebagai perantara antara sensor yang
kebanyakan analog dengan sistim komputer seperti sensor suhu, cahaya, tekanan/berat, aliran dan
sebagainya kemudian diukur dengan menggunakan sistim digital (komputer). ADC (Analog to
Digital Converter) memiliki 2 karakter prinsip, yaitu kecepatan sampling dan resolusi. Kecepatan
sampling suatu ADC menyatakan seberapa sering sinyal analog dikonversikan ke bentuk sinyal
digital pada selang waktu tertentu. Kecepatan sampling biasanya dinyatakan dalam sample per
second (SPS).
Prinsip kerja ADC adalah mengkonversi sinyal analog ke dalam bentuk besaran yang
merupakan rasio perbandingan sinyal input dan tegangan referensi. Sebagai contoh, bila tegangan
referensi (Vref) 5 volt, tegangan input 3 volt, rasio input terhadap referensi adalah 60%. Jadi, jika
menggunakan ADC 8 bit dengan skala maksimum 255, akan didapatkan sinyal digital sebesar 60%
x 255 = 153 (bentuk decimal) atau 10011001 (bentuk biner). ADC Simultan ADC Simultan atau
biasa disebut flash converter atau parallel converter. Input analog Vi yang akan diubah ke bentuk
digital diberikan secara simultan pada sisi + pada komparator tersebut, dan input pada sisi –
tergantung pada ukuran bit converter. Ketika Vi melebihi tegangan input – dari suatu komparator,
maka output komparator adalah high, sebaliknya akan memberikan output low.
Sistem digital mempunyai masukan analog. Tegangan berubah berkesinambungan dari 0
sampai 3 V. pengkode merupakan alat khusus yang mengubah sinyal analog ke informasi digital.
Pengkode ini kita sebut sebagai pengubah analog-ke-digital atau singkatnya pengubah A/D.
pengubah A/D mengubah informasi analog ke informasi digital.sistem digital juga mempunyai
pengkode. Pengkode ini merupakan jenis khusus: dapat mengubah informasi digital dari unit
pengolahan digital ke keluaran analog. Sebagai contoh, keluaran analog berupa tegangan yang
berubah secara berkesinambungan dari 0 sampai 3V. Pengkode ini kita sebut pengubah digital-ke-
analog atau singkatnya pengubah D/A. pengubah D/A mendekode informasi digital menjadi bentuk
analog.

Keseluruhan system disebut sebagai system hibrida karena berisi baik peralata digital
maupun analog. Pengkode dan pendekode yang mengubah analog ke digital dan dari digital ke
analog disebut alat antar-muka oleh ahli para rekayasa. Istilah “antar-muka” umumnya digunakan
untuk alat atau rangkaian yang mengubah dari satu mode operasi kelainnya, dalam hal ini kita
mengubah antar data analog dan data digital (Tokheim,1990).
Tegangan ini dapat dihasilkan oleh transdesur. Transdesur didefinisikan sebagai alat yang
mengubah suatu energy ke energy lain. Sebagai contohnya, fotosel dapat digunakan sebagai input
transdesur untuk memberikan tegangan yang sebanding dengan intensitas cahaya. Pada contoh ini
energy cahaya dapat diubah menjadi energy listrik oleh fotosel. Transdesur lainnya bias
digabungkan dengan mikrofon, speaker, ukuran strain, sel fotoresistif, sensor temperature,
potensiometer, dan lilitan pembawa. Table kebenaran pengubah D/A (Tokheim,1990) :
Keluaran
Masukan Digital
Analog

D C B A Volt
Baris 1 0 0 0 0 0.0
Baris 2 0 0 0 1 0.2
Baris 3 0 0 1 0 0.4
Baris 4 0 0 1 1 0.6
Baris 5 0 1 0 0 0.8
Baris 6 0 1 0 1 1.0
Baris 7 0 1 1 0 1.2
Baris 8 0 1 1 1 1.4
Baris 9 1 0 0 0 1.6
Baris 10 1 0 0 1 1.8
Baris 11 1 0 1 0 2.0
Baris 12 1 0 1 1 2.2
Baris 13 1 1 0 0 2.4
Baris 14 1 1 0 1 2.6
Baris 15 1 1 1 0 2.8
Baris 16 1 1 1 1 3.0
Jika kita ingin mengubah biner dari unit pengolahan kesuatu keluaran 0 sampai 3V,
pertama kali kita harus membuat table kebenaran dari semua situasiyang mungkin. Table tersebut
memperlihatkan empat masukan (D,C,B,A) kedalam pengubah D/A. Masukan berbetuk biner
setiap 1 berkisar +3 sampai +5V. setiap 0 berkisar 0V. keluaran diperlihatkan sebagai tegangan
pada kolom paling kanan. Menurut table tersebut, bila biner 0000 muncul pada masukan pengubah
D/A keluarannya adalah 0V. Bila biner 0001 adalah masukan, mak keluarannya adalah 0,4V. Kita
perhatikan bahwa untuk masing-masing baris yang ditelusuri kebawah pada table, keluaran analog
bertambah dengan 0,2V. Pendekode terdiri atas dua bagian : jaringan resistor dan penguat
penjumlahan (Sumarna,2000).
Alat bantu digital yang paling penting untuk teknologi kontrol proses adalah yang
menerjemahkan informasi digital ke bentuk analog dan juga sebaliknya. Sebagian besar
pengukuran variabel-variabel dinamik dilakukan oleh piranti ini yang menerjemahkan informasi
mengenai vaiabel ke bentuk sinyal listrik analog. Untuk menghubungkan sinyal ini dengan
sebuah komputer atau rangkaian logika digital, sangat perlu untuk terlebih dahulu melakukan
konversi analog ke digital (A/D). Hal-hal mengenai konversi ini harus diketahui sehingga ada
keunikan, hubungan khusus antara sinyal analog dan digital (Wijaya,2006).
Analog To Digital Converter (ADC) adalah pengubah input analog menjadi kode – kode
digital. ADC banyak digunakan sebagai Pengatur proses industri, komunikasi digital dan
rangkaian pengukuran/ pengujian. Umumnya ADC digunakan sebagai perantara antara sensor
yang kebanyakan analog dengan sistim komputer seperti sensor suhu, cahaya, tekanan/ berat,
aliran dan sebagainya kemudian diukur dengan menggunakan sistim digital (komputer). ADC
(Analog to Digital Converter) memiliki 2 karakter prinsip, yaitu kecepatan sampling dan resolusi.
Kecepatan sampling suatu ADC menyatakan seberapa sering sinyal analog dikonversikan ke
bentuk sinyal digital pada selang waktu tertentu. Kecepatan sampling biasanya dinyatakan dalam
sample per second (SPS) (Sumarna,2000). .

Resolusi ADC menentukan ketelitian nilai hasil konversi ADC. Sebagai contoh: ADC 8

bit akan memiliki output 8 bit data digital, ini berarti sinyal input dapat dinyatakan dalam 255 (2n–
1) nilai diskrit. ADC 12 bit memiliki 12 bit output data digital, ini berarti sinyal input dapat
dinyatakan dalam 4096 nilai diskrit. Dari contoh diatas ADC 12 bit akan memberikan ketelitian
nilai hasil konversi yang jauh lebih baik daripada ADC 8 bit (Widjanarka, 2006).
Prinsip kerja ADC adalah mengkonversi sinyal analog ke dalam bentuk besaran yang
merupakan rasio perbandingan sinyal input dan tegangan referensi. Sebagai contoh, bila
tegangan referensi 5 volt, tegangan input 3 volt, rasio input terhadap referensi adalah 60%. Jadi
jika menggunakan ADC 8 bit dengan skala maksimum 255, akan didapatkan sinyal digital
sebesar 60% x 255 = 153 (bentuk decimal) atau 10011001 (bentuk biner). (Widjanarka, 2006)
2. Metode
2.1 Alat dan Bahan
1. IC ADC 8 Bit digunakan sebagai converter analog ke digital
2. Potensio 10 K digunakan sebagai pengatur hambatan
3. Resistor 1,5K digunakan sebagai hambatan
4. Resistor 10K digunakan sebagai hambatan
5. Kapasitor 150pF digunakan sebagai penyimpan muatan
6. LED digunakan sebagai indicator digital
7. Push button digunakan sebagai switch
8. Power supply digunakan sebagai pemberi tegangan
9. AVO meter digunakan sebagai alat pengukur besaran
10. Jumper digunakan sebagai alat penghubung
11. Project Board digunakan sebagai tempat merangkai

2.1 Desain rangkaian


Desain rangkaian yang digunakan pada praktikum rangkaian ADC adalah:

2.2 Parameter Keberhasilan


Analog to Digital Converter adalah suatu perangkat elektronika yang mengubah suatu
data yang kontinu terhadap waktu (analog) menjadi suatu data yang diskrit terhadap waktu
(digital). Dapat dilihat bahwa LED harus bekerja sesuai dengan tegangan yang diberikan dan
dengan proses tidak kontinu. Kontinu proses berkesinambungan, dapat dianalogikan seperti
jalanan yang menanjak, antara titik satu dengan yang berikutnya tidak terlihat nyata perbedaannya.
Hasil yang diperoleh harus diskrit. Diskrit artinya kebalikan dari kontinu, dapat dianalogikan
seperti anak-anak tangga, lompatan satu anak tangga ke yang berikutnya terlihat nyata.
DAFTAR PUSTAKA

Sumarna, 2000, “Elektronika Digital”, Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas
Negeri Yogyakarta

Tokheim, Roger L.,1990,” Elektronika Digital”, edisi kedua, alih bahasa: Ir. Sutisno, M.Eng,
Erlangga, Jakarta

Widjanarka N.,Ir. Wijaya, 2006,”Elektronika Digital”, editor: Wibi Hardani,S.T, MM, Erlangga,
Jakarta