Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

DEMAM TIFOID PADA ANAK

DISUSUN OLEH:

dr. Ivana Jansen

SUPERVISOR PEMBIMBING:

dr. Felicia Halim, SpA

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

KOTA KOTAMOBAGU

ANGKATAN I TAHUN 2018


LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini menyatakan telah dikoreksi, disetujui dan dan dibacakan

Laporan Kasus dengan judul

“DEMAM TIFIOD PADA ANAK”

Pada tanggal Agustus 2018

Mengetahui,

Supervisor Pembimbing

dr. Felicia Halim, SpA


PENDAHULUAN

Demam tifoid atau demam enterik adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella typhi (S. typhii) dan Salmonella paratyphii (S. paratyphii).
Diperkirakan terdapat 16 juta kasus demam tifoid per tahun di seluruh dunia dan
menyebabkan 600.000 kematian. Di Indonesia, demam tifoid masih merupakan penyakit
endemik dengan angka kejadian yang masih tinggi dengan insiden terbanyak dijumpai
pada populasi yang berusia 3 sampai 19 tahun. Ditjen Bina Upaya Kesehatan Masyarakat
Departemen Kesehatan RI tahun 2010 melaporkan demam tifoid menempati urutan ke-3
dari 10 pola penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit Indonesia. 1,2
Bakteri S. typhii dan S. paratyphii hanya menginfeksi manusia. Salmonella memiliki
antigen somatik O dan antigen flagella H. Antigen O adalah komponen lipopolisakarida
dinding sel yang stabil terhadap panas sedangkan antigen H adalah protein labil panas.
Kuman ini dapat hidup lama di air dan makanan sehingga makanan atau minuman yang
terkontaminasi, lingkungan yang tidak bersih serta hiegenitas yang buruk menjadi
penyebab utama terinfeksi demam tifoid. Penularan penyakit ini adalah melalui urine atau
feses penderita maupun binatang seperti lalat dan kecoa yang mengangkut bakteri ini dari
tempat-tempat kotor..1,3
Pendekatan diagnosis demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis
yang ringan bahkan asimtomatik. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun demam
tifoid memiliki karakteristik adanya bakteremia dan demam yang umumnya timbul pada
akhir masa enterik. Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam
dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala, malaise, anoreksia, letargi, nyeri dan
kekakuan abdomen, pembesaran hati dan limpa, serta gangguan status mental.
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah tepi, bakteriologis atau kultur
organisme dan pemeriksaan serologis diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis
demam tifoid.1,4
Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar bisa diberikan terapi dan
meminimalkan komplikasi. Pada demam tifoid yang tidak diobati dapat mengalami
komplikasi berupa perdarahan dan perforasi usus hingga kematian. Semakin berat
komplikasi yang terjadi, semakin buruk prognosisnya.2,5
Pada laporan kasus ini akan dibahas kasus demam tifoid pada seorang pasien anak yang
dirawat di RSUD Kota Kotamobagu.
LAPORAN KASUS
IDENTITAS

Identitas Pasien

Nama : An. M. F. M.
Jenis Kelamin : Laki-laki
Lahir pada tanggal : 17 Juni 2012
Umur : 6 tahun
Kebangsaan : Indonesia
Suku : Mongondow
Alamat : Matabulu Dusun II Kec. Nuangan, Bolaang Mangondow
Timur
Agama : Islam
Partus di : Puskesmas
Ditolong oleh : Bidan
Lahir secara : Spontan, LBK

Identitas Orang Tua

Nama : Ny. M.B.


Umur : 32 tahun
Perkawinan : Pertama
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Nama Ayah : Tn. F. M.
Umur : 34 tahun
Perkawinan : Pertama
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tambang

Family Tree
ANAMNESIS

Keluhan Utama : Demam sejak 7 hari

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan demam dialami sejak 7 hari SMRS. Awalnya
demam hanya sumer-sumer kemudian keluhan bertambah berat meski sudah
mengonsumsi obat penurun demam. Demam dirasakan semakin meningkat saat
menjelang malam disertai menggigil. Keluhan mual dan muntah baru dialami sejak 2 hari
smrs. Muntah frekuensi 2 kali isi makanan. Nyeri kepala dan nyeri ulu hati juga
dirasakan, sedangkan keluhan lain seperti batuk pilek, diare dan gusi berdarah disangkal.
Buang air kecil dan buang air besar seperti biasa. Pasien terlihat lemas dan nafsu makan
pasien menurun sejak sakit, namun minum masih baik. Pasien memiliki riwayat jajan
sembarangan setiap kali pulang sekolah. Sebelumnya riwayat bepergian ke daerah
endemis maupun memiliki hewan peliharaan di rumah disangkal ibu pasien.

Anamnesis Antenatal

Ibu pasien selama masa kehamilan melakukan antenatal care secara teratur
sebanyak 9 kali di Puskesmas dan telah mendapatkan suntikan Tetanus Toksoid (TT)
sebanyak 2 kali. Selama masa kehamilan, ibu pasien dalam keadaan sehat.

Penyakit yang sudah pernah dialami

Morbili : (–)
Varicella : (–)
Pertusis : (–)
Diarrhea : (–)
Cacing : (–)
Batuk/ Pilek : (+)
Lain-lain : (–)

Riwayat Imunisasi

Dasar Ulangan
Imunisasi
I II III I II III
BCG +
Polio + + +
DTP + + +
Campak +
Hepatitis B + + +

Riwayat Keluarga

Hanya pasien yang sakit seperti ini dalam keluarga

Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan


,

Rumah permanen, atap seng, dinding beton dan lantai tegel dengan 2 buah kamar tidur
dihuni oleh 3 orang dewasa dan 1 anak. Kamar mandi/ WC berada dalam rumah. Sumber
listrik dari PLN dan air minum sumur pompa.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis

Tekanan Darah : 100/70 mmHg Sianosis : (–)


Nadi : 88 kali/ menit Anemia : (–)
Respirasi : 20 kali/ menit Ikterus : (–)
Suhu Badan : 38,5 ºC Kejang : (–)

Berat Badan : 16.5 Kg


Tinggi Badan : 110 cm
Status Gizi : Baik

Kulit Warna : Sawo matang


Efloresensi : (–)
Pigmentasi : (–)
Jaringan Parut : (–)
Lapisan lemak : Cukup
Turgor : Kembali cepat

Kepala Bentuk : Normocephal, rambut tidak mudah dicabut


Mata Exophthalmus : (–)
Enophthalmus : (–)
Konjungtiva Anemis : (–) / (–)
Sklera Ikterik : (–) / (–)
Pupil : Bulat, isokor, Ø 3 mm/ 3 mm, RC +/+
Telinga : Sekret (–) / (–)
Hidung : Sekret (–) / (–)
Mulut Bibir : Sianosis (–)
Lidah : Beslag (+)
Gigi : Caries (–)
Selaput mulut : Mukosa basah
Gusi : Pendarahan (–)
Bau pernapasan : Foetor (–)
Tenggorokan : Tonsil T1/ T1, Hiperemis (–)
Faring : Hiperemis (–)
Leher Trakea : Letak tengah
Kelenjar : Pembesaran KGB (–)
Kaku kuduk : (–)

Thorax Bentuk : Simetris, retraksi (–)


Ruang intercostal : Normal
Jantung : BJ regular, bising (–)
Paru Inspeksi : Simetris, retraksi (–)
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor kanan = kiri
Auskultasi : Sp. Bronkovesikuler, wheezing (–/–),
Ronkhi (–/–)

Abdomen Bentuk : Datar, lemas


Hepar : Teraba 2 jari BAC
Lien : tidak teraba
Lain-lain : BU (+) normal, NTE (+)

Genitalia : Laki-laki, normal


Extremitas : Fraktur (–), deformitas (–), edema (–)
Otot-otot : Eutoni
Refleks-refleks : Refleks fisiologis (+/+), refleks
patologis (–/–)

Resume

Pasien, anak laki-laki berumur 6 tahun dengan berat badan 16,5kg dan tinggi badan 110
cm, masuk rumah sakit pada tanggal 27 Juni 2018 pada pukul 23.30 dengan keluhan
utama demam, mual dan muntah yang dirasakan sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit.
Demam dirasakan semakin meningkat saat menjelang malam disertai menggigil. Selain
demam dijumpai keluhan mual dan muntah, nyeri kepala, nyeri ulu hati serta nafsu
makan yang menurun. Pasien juga memiliki riwayat jajan sembarangan disekolah.

Keadaan Umum : Tampak Sakit Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan Darah : 100/70 mmHg Nadi : 88 kali/ menit


Respirasi : 20 kali/menit Suhu : 38,5°C

Kepala : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cowong (-), lidah
kotor (+)
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Cor : BJ regular, bising (-)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, NTE (+), Hepar teraba 2 jari BAC
Extremitas : Akral hangat, CRT < 2”

Diagnosis Sementara

Demam Tifoid

Diagnosis Banding

Demam Dengue
Malaria

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium 25/06/2018

Hematologi Lengkap Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hemoglobin 10.9 10.7 – 14.7 g/dL
Hematokrit 31.8 31 – 43 %
Eritrosit 4.44 3.7 - 5.7 10^6/µL
MCV 71.6 69-93 fL
MCH 24.5 23 – 31 Pg
MCHC 34.4 32 -36 g/dL
Trombosit 226 181 – 521 10^3/µL
Leukosit 9.1 5.0 -14.5 10^3/µL
LED 35 0 – 10 Mm/jam

Hitung Jenis Leukosit Hasil Nilai Rujukan Satuan


Basofil 0.2 0.0 -1.0 %
Eosinofil 0.0 1.0 – 5.0 %
Neutrofil 54.9 25.0 – 60.0 %
Limfosit 38.6 25.0 – 50.0 %
Monosit 6.3 1.0 – 6.0 %

Imunoserologi Widal Hasil Nilai Rujukan


Widal S. typhi O 1/20 Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi A-O Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi B-O Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi C-O Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi H 1/2560 Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi A-H Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi B-H Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Widal S. typhi C-H Negatif Titer < 1/160 atau kenaikan titer < 4x

Urinalisa Hasil Nilai Rujukan Satuan


Makroskopis :
- Warna Kuning
- Kejernihan Jernih
Kimia :
- Berat Jenis 1.020 1.003 – 1.035
- pH 6.0 4.5 – 8.0
- Leukosit Esterase Negatif Negatif /µL
- Nitrit Negatif Negatif
- Albumin 25 (+) Negatif mg/dL
- Glukosa Negatif Negatif (normal) mg/dL
- Keton 15 (++) Negatif mg/dL
- Uribilinogen Normal Normal <=1 mg/dL
- Bilirubin Negatif Negatif mg/dL
- Darah (blood) Negatif Negatif mg/dL
Sedimen Mikroskopis :
- Eritrosit 0-2 <2 /LPB
- Leukosit 0-2 <5 /LPB
- Silinder Hyalin Negatif <2 /LPK
- Silinder Lain-lain Negatif Negatif /LPK
- Epithel Gepeng 0-2 <10 /LPK
- Epitel Transitional Negatif <10 /LPB
- Epithel Tubulus Ginjal Negatif <10 /LPB
- Bakteri Negatif Negatif /LPB
- Kristal Normal Negatif Negatif /LPB
- Kristal Abnormal Negatif /LPK
- Lain- lain Negatif

FOLLOW UP

28 Juni 2018 (Perawatan hari I)

S : Demam (+), mual (+), muntah (-)


O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 16.5 kg Nadi : 110 kali/ menit
Respirasi : 24 kali/menit Suhu : 37,8°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (+)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, NTE (+) hepar
teraba 2 jari BAC
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : IVFD D5% 1/2 NS (HS) 17-18 tpm


Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (H-I)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth

29 Juni 2018 (Perawatan hari II)


S : Demam (+), lemah badan, BAB cair 1 kali
O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 16.5 kg Nadi : 120 kali/ menit
Respirasi : 24 kali/menit Suhu : 38,2°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (+)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (+) hepar
teraba 2 jari BAC
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : IVFD D5% 1/2 NS (HS+∆1oC)  19-20 tpm


Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (H-II)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth
Kina 3 x 3/4 tab (H-I)
Pro pemeriksaan RDT Malaria

30 Juni 2018 (Perawatan hari III)

S : Demam (+), lemah badan


O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg Nadi : 98 kali/ menit
Respirasi : 20 kali/menit Suhu : 37,5°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (+)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (+) hepar
teraba 2 jari BAC
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid
P : IVFD D5% 1/2 NS (HS+∆1oC)  19-20 tpm
Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (H-III)
Inj. Gentamicin 1x 80 mg (H-I)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth
Kina 3 x 3/4 tab (H-II)

Hasil RDT Malaria: Negatif


Pro DDR bila suhu >39

01 Juli 2018 (Perawatan hari IV)

S : Demam (+), nyeri ulu hati (+)


O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg Nadi : 100 kali/ menit
Respirasi : 24 kali/menit Suhu : 37,3°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (-)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (+) hepar
teraba 2 jari BAC
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : IVFD D5% 1/2 NS (HS+∆1oC)  19-20 tpm


Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (H-IV)
Inj. Gentamicin 1x 80 mg (H-II)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth
Kina 3 x 3/4 tab (H-III)
Antasida Syr 3 x 1 cth

02 Juli 2018 (Perawatan hari V)


S : Demam (+)
O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg Nadi : 94 kali/ menit
Respirasi : 22 kali/menit Suhu : 38,3°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (-)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (-) hepar
teraba 1 jari BAC
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : IVFD D5% 1/2 NS (HS+∆1oC)  19-20 tpm


Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (H-V)
Inj. Gentamicin 1x 80 mg (stop)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Tiamfenikol 3 x 250 mg (H-I)
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth (k/p)
Kina 3 x 3/4 tab (H-IV)
Antasida syr 3 x 1 cth

03 Juli 2018 (Perawatan hari VI)

S : Demam (-)
O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg Nadi : 98 kali/ menit
Respirasi : 22 kali/menit Suhu : 37,4°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (-)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (-) hepar
tidak teraba
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : IVFD D5% 1/2 NS (HS+∆1oC)  19-20 tpm


Inj. Ceftriaxone 2x 650 mg (Stop)
Inj. Ranitidin 2x 20 mg
Tiamfenikol 3 x 250 mg (H-II)
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth
Domperidone syr 3x1 cth (k/p)
Kina 3 x 3/4 tab (H-V)
Antasida syr 3 x 1 cth

04 Juli 2018 (Perawatan hari VII)

S : Demam (-)
O : Keadaan umum : Tampak sakit Kesadaran : Compos mentis
BB : 15 kg Nadi : 102 kali/ menit
Respirasi : 20 kali/menit Suhu : 36°C
Kepala : Conj. Anemis (-/-), Skl. Ikterik (-/-), lidah kotor (-)
Thorax : Simetris, retraksi (–)
Cor : BJ I-II regular, Bising (–)
Pulmo : Sp. Bronkovesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) normal, asites (-), NTE (-), hepar
tidak teraba
Extremitas : Akral hangat

A : Demam Tifoid

P : AFF IVFD
Cefixime 2 x 1 caps
Thiamfenikol 3x 250 mg (H-III)
Antasida syr 3 x 1 cth
Parasetamol syr 3 x 1 ½ cth (k/p)
Domperidone syr 3x1 cth (k/p)
Pro Rawat Jalan
PEMBAHASAN

Dilaporkan kasus seorang pasien anak laki-laki berumur 6 tahun dengan berat badan 51
kg dan tinggi badan 110 cm. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 27 Juni 2018 dengan
keluhan utama demam, mual dan muntah. Keluhan dirasakan sejak 7 hari sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya demam hanya sumer-sumer kemudian keluhan bertambah berat
meski sudah mengonsumsi obat penurun demam. Demam dirasakan semakin meningkat
saat menjelang malam disertai menggigil. Selain demam dijumpai keluhan mual dan
muntah, nyeri kepala, nyeri ulu hati serta nafsu makan yang menurun. Pasien juga
memiliki riwayat jajan sembarangan disekolah.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien tampak sakit, tanda-tanda vital ditemukan
peningkatan suhu tubuh, pada pemeriksaan mulai dari kepala didapatkan lidah kotor,
pemeriksaan thoraks tidak ditemukan kelainan, pada pemeriksaan abdomen didapatkan
nyeri tekan epigastrium dan pembesaran hepar teraba 2 jari bawah arcus costa sedangkan
pada ekstremitas tidak ditemukan kelainan.
Masa inkubasi demam tifoid berlansung antara 7-14 hari. Gejala yang timbul sangat
bervariasi dari ringan sampai berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang
khas disertai komplikasi penyerta. Pada minggu pertama dijumpai keluhan dan gejala
serupa dengan penyakit infeksi akut lainnya seperti demam, nyeri kepala, nyeri otot, mual
muntah, anoreksia, obstipasi atau diare serta perasaan tidak enak diperut. Pada
pemeriksaan fisik suhu badan meningkat dengan sifat demam meningkat perlahan-lahan
dan terutama pada sore hingga malam hari. Dalam minggu kedua gejala-gejala semakin
jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah berselaput, hepatomegali, splenomegali,
meteorismus hingga penurunan kesadaran. 1,2,5
Pemeriksaan penunjang laboratorium hematologi lengkap tidak menunjukkan kelainan
bermakna, pada urinalisis ditemukan proteinuria 25 (+) dan ketonuria 15 (+), sedangkan
pada pemeriksaan imuno-serologi Widal S. thyphii H sangat meningkat yakni titer
>1/2560. Pada kepustakaan, pemeriksaan hematologi lengkap pada pasien demam tifoid
dapat ditemukan leukopenia, anemia dan trombositopenia, namun dapat pula kadar
leukosit normal, sedangkan nilai SGOT dan SGPT seringkali meningkat. Proteinuria
sementara kasus dapat ditemukan pada keadaan infeksi dan demam tinggi, sementara
ketonuria dapat ditemukan pada keadaan dehidrasi. Pemeriksaan lain yang rutin
dilakukan adalah uji widal dan kultur organisme. Pada uji widal bila terjadi kenaikan 4
kali titer antibodi O dan H pada spesimen yang diambil dalam jarak 2 minggu, maka
kemungkinan tinggi terjadi proses infeksi S. tpyhii. Namun demikian, saat ini belum ada
kesamaan pendapat mengenai titer aglutinin yang bermakna diagnostik untuk demam
tifoid. Batas titer yang sering dipakai hanya kesepakatan saja, hanya berlaku setempat dan
batas ini bahkan dapat berbeda di berbagai laboratorium setempat sehingga kultur
organisme masih merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis. Pada kasus ini
tidak dilakukan pemeriksaan kultur, namun demikian diagnosis pasti ditegakkan jika
ditemukannya bakteri positif di darah pada minggu kedua atau di feses pada minggu
ketiga sampai lima serta di urine postif pada minggu keempat. 1,2,5
Penularan penyakit demam tifoid adalah secara faeco-oral. Pada kasus, riwayat jajan
sembarangan pasien menjadi pertimbangan sumber penularan demam tifoid, meski begitu
tidak menutup kemungkinan faktor lain seperti lingkungan hidup yang tidak baik atau
higienitas pasien yang kurang dapat menjadi penyebab. Proses penularan berawal dari
makanan atau minuman yang terkontaminasi melalui mulut masuk ke lambung. Sebagian
bakteri mati dengan asam lambung sementara sebagian bakteri lolos dan masuk ke usus.
Di usus terdapat imunitas humoral mukosa usus (IgA), jika imunitas tidak baik maka
bakteri tembus sel epitel lalu ke lamina propia. Bakteri kemudian berkembang biak dan
difagositosis oleh sel-sel fagosit seperti makrofag. Bakteri Salmonella dapat bertahan dan
berkembang biak dalam makrofag, masuk ke peredaran darah melalui aliran limfe (proses
bakterimia pertama) dan menyebar ke organ retikuloendotelial seperti hati dan limpa. Di
dalam organ bakteri meninggalkan sel-sel fagosit dan berkembang biak di luar sel
kemudian masuk ke aliran darah kembali (proses bakterimia kedua). Bakteri dapat
masuk di kandung empedu berkembang biak, sebagian masuk ke aliran darah, sebagian
keluar melalui feses. Proses yang sama terulang dan makrofag sudah teraktivasi dan
hiperaktif maka saat fagositosis terjadi pelepasan mediator inflamasi yang selanjutnya
menimbulkan reaksi gejala sistemik seperti, demam, malaise, myalgia, nyeri kepala, nyeri
perut, gangguan vaskular dan mental. 2,4,5
Penatalaksaan umum pada kasus ini meliputi tatalaksana suportif berupa tirah baring,
pemberian rehidrasi cairan adekuat baik melalui parenteral maupun peroral serta diet
tinggi kalori dan protein. Tatalaksana simptomatik demam tifoid berupa pemberian
obatan-obatan sesuai keluhan dan gejala klinis pasien. Pemberian paracetamol dengan
dosis 10-15mg/kgBB/8 jam peroral sebagai antipiretik dan analgetik untuk mengurangi
demam dan keluhan nyeri pasien, pemberian ranitidin injeksi intravena dengan dosis
1mg/kgBB/12jam dan antasida sirup dengan dosis 1 sendok takar (5 ml) 3-4 kali sehari
untuk mengurangi gejala dispepsia dan domperidone dengan dosis 0,2-0,4
mg/kgBB/8jam sebagai antiemetik. 6,7
Terapi definitif untuk demam tifoid adalah dengan pemberian antibiotik spektrum luas.
Menurut kepustakaan, antibiotik lini pertama untuk infeksi demam tifoid diantaranya
kloramfenikol, tiamfenikol, ampisilin atau amoksisilin serta kotrimoksasol, sedangkan
lini kedua golongan sefalosporin generasi ketiga (seftriakson) dan fluorokuinolon. Di
Indonesia, kloramfenikol masih merupakan obat pilhan pertama untuk demam tifoid
namun kloramfenikol memiliki efek samping seperti supresi sumsum tulang dan
gangguan hematologi. Pada kasus ini, hari pertama langsung diberikan antibiotik lini
kedua yakni seftriakson secara intravena, namun pemantauan klinis pasien tidak didapati
perbaikan pada peningkatan suhu badan pada hari kelima sehingga diberikan antibiotik
lini pertama yakni tiamfenikol dengan dosis 50mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Dosis dan
efektivitas tiamfenikol pada demam tifoid hampir sama dengan kloramfenikol, akan
tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastik lebih
rendah dibandingkan kloramfenikol. Pengobatan antibiotik pada demam tifoid perlu
dilanjutkan hingga 7 hari bebas demam. 2,5,7
Pencegahan dan edukasi hal terpenting dalam pencegahan adalah penyediaan air bersih,
tidak terkontaminasi dan kebersihan dalam menyiapkan makanan, menjaga higienitas
dengan baik termasuk tindakan mencuci tangan dengan sabun dan air. 5
Komplikasi dapat terjadi apabila demam tifoid tidak diobati. Gangguan hemodinamik,
penurunan berat badan yang bermakna dan terkadang timbul hematokesia atau melena
akibat komplikasi perforasi usus hingga kematian dapat terjadi. Semakin berat komplikasi
yang terjadi, semakin buruk prognosisnya. Prognosis pada kasus pasien dubia ad bonam
1,2

Pasien dipulangkan pada tanggal 04 Juli 2018. Kondisi pasien saat pulang yaitu secara
klinis keadaan pasien membaik. Keluhan seperti demam, mual muntah tidak ada, nafsu
makan pasien baik serta tidak ada keluhan penyerta lainnya. Pasien melanjutkan
pengobatan di rumah dengan rawat jalan. Keluarga pasien diberikan edukasi untuk harus
mampu untuk mengawasi pasien mulai dari tirah baring, minum obat teratur, pemberian
diet, menjaga hiegenitas diri pasien, menghindari terkena infeksi lainnya, teratur
melanjutkan pengobatan pasien di rumah serta rutin untuk kontrol ke dokter.

DAFTAR PUSTAKA
1. Marcdante KJ, Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Esensial. Edisi Keenam. IDAI, editor. Singapore: Sainders Elsevier. 2011. h
483-88
2. Widodo D. Demam Tifoid. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi
Keenam. Setiati S, Alwi I, Sudoyo Aw, dkk, editor. Jakarta: Interna Publishing. 2014.
h. 549-58
3. Judarwanto W. Penyakit Tropik Menular: Penanganan Terkini Demam Tifoid. 2014.
[diakses 16 Jul 2018]. Diunduh dari https://jurnalpediatri.com/tag/penanganan-terkini-
demam-tifoid-tifus
4. Darmowandoyo W. Demam Tifoid. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi
dan Penyakit Tropis. Edisi Pertama. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.
2002. h. 367-75
5. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam: Pediatrics Update. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia. 2003. h. 37-46
6. Alwi I, Salim S, dkk, editor. Malaria. Dalam: Panduan Praktis Klinis. Jakarta: Interna
Publishing. 2016. h. 892-97
7. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak.
Tambunan T, Rundjan L, Satari HI, dkk, editor. Jakarta: IDAI. 2012.
LAMPIRAN

Grafik Pemantauan Pola Demam Pasien