Anda di halaman 1dari 2

Nama : Liska Pathul Zannah

Nim : 180101050904
Mata Kuliah : Pengantar Filsafat
Dosen Pengampu : Hajriansyah M. Ag

1. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata “pragma” (bahasa Yunani) yang berarti tindakan,
perbuatan, pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria
kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Pragmatisme berpandangan bahwa substansi kebenaran adalah jika segala sesuatu
memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Misalnya, beragama sebagai kebenaran, jika
memperoleh kenikmatan intelektual, mendapatkan gaji atau apa pun yang bernilai kuantatif dan
kualitatif. Sebaliknya jika memberikan kemudharatan, tindakan yang dimaksud bukan
kebenaran. Epistomologi pragmatisme berdasarkan pendekatan empiris : apa yang dirasakan
itulah yang benar. Artinya, akal, jiwa, dan materi adalah sesuatu yang tidak bias dipisahkan.
Sebab hanya dengan mengalaminya lah pengetahuan itu dapat diserap. Pengalaman menjadi
parameter ketika sesuatu dapat diterima kebenarannya, oleh karena itu para pragmatis tidak
nyaris pernah mendasarkan satu hal kebenaran. Menurut mereka pengalaman yang alami akan
berubah jika realitas yang mereka alami pun berubah.
corak yang paling kuat dari pragmatisme adalah kuatnya pemikiran tentang kegunaan,
makna kegunaan dalam pragmatisme lebih ditetapkan pada kebenaran sains, bukan pada hal-
hal bersifat metafisik
A. Wiliam james (1842-1910 M)
James lahir di New York City tahun 1842 M, dan merupakan putra dari Henrt James, sr, seorang
yang terkenal, berkebudayaan tinggi, dan pemikir yang kreatif. Ayahnya merupakan kepala
rumah tangga yang menekankan kemajuan intelektual. Pendidikan formalnya mula-mula tidak
teratur lalu ia mendapat tutor berkebangsaan Inggris, prancis, swiss, jerman, dan amerika.
Akhirnya ia memasuki Harvard Medical School pada tahun 1864 dan memperoleh M.D-nya pada
tahun 1869, ia kurang tertarik pada praktik pengobatan, ia lebih menyenangi fungsi alat-alat
tubuh. Oleh karena itu ia kemudian mengajarkan anatomi dan fisiologi di hardward. Tahun 1875
perhatiannya lebih tertarik pada psikologi dan fungsi pikiran manusia.
Pandangan filsafatnya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum,
yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalaman kita
berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu
senantiasa berubah, karena dalam praktik apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh
pengalaman berikutnya.
Nilai konsep atau pertimbangan kita bergantung pada akibatnya, pada kerjanya artinya
bergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh perbuatan itu. Pertimbangan itu
benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinannya.
Menurut james, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja.
Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan. Tentang kepercayaan
agama dikatakan bagi orang orang perorangan, kepercayaan adanya suatu realitas cosmis lebih
tinggi itu merupakan nilai subjektif yang relative, sepanjang kepercayaan itu memberikan
kepadanya suatu hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan dan
sebagainya. Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, jika akibatnya
sama-sama memberikan kepuasan kepada kebutuhan keagamaan.
Metode yang dilakukan james adalah miliorisme, dengan cara menggabungkan rasionalisme dan
empirisme yang berlawanan, untuk memecahkan masalah-masalah dalam filsafatnya,
sementara dalam mengkaji agama, ia melibatkan kerja sama filsafat dan psikologi dengan target
diperolehnya descripsi dan evaluasi terhadap pengalaman beragama individu untuk mengetahui
makna dan pentingnya agama.
Warna psikologis filsafatnya dipahami oleh antropologi kemigranan bangsanya untuk
menciptakan kultur baru yang khas dan dinamis, sedangkan makna survivalnya adalah
penekanannya pada factor belief dan decision untuk bertindak