Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS

“APPENDISITIS AKUT”

Disusun untuk Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarwa

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Shofia Agung, Sp. B, M.Si.Med

Disusun Oleh :
Meliany Hutami Putri
1620221167

Kepaniteraan Klinik Departemen Bedah


FAKULTAS KEDOKTERAN – UPN ”VETERAN” JAKARTA
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa
Periode 15 Oktober – 22 Desember 2018
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS

“APPENDISITIS AKUT”

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah

Di RSUD Ambarawa

Disusun Oleh:

Meliany Hutami Putri 1620221167

Mengetahui,

Pembimbing : Dr. Shofia Agung Priyanto Sp.B MSi, Med

Tanggal : Desember 2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan berkah dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
kasus ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik
bagian Departemen Bedah Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta di RSUD
Ambarawa. Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Dr. Shofia Agung Priyanto
Sp.B MSi, Med selaku pembimbing makalah ini dan kepada seluruh dokter yang telah
membimbing selama kepaniteraan. Tidak lupa ucapan terimakasih kepada seluruh
pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun
agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Terima kasih atas perhatiannya, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi pihak yang terkait dan kepada seluruh pembaca.

Ambarawa, Desember 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

COVER ......................................................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ................................................................................................ iii
DAFTAR ISI............................................................................................................... iv

BAB I STATUS PASIEN............................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 15


II.1 Anatomi Apendiks ............................................................................................... 15
II.2 Fisiologi Appendiks ............................................................................................ 17
II.3 Definisi ................................................................................................................ 18
II.4 Etiologii ............................................................................................................... 18
II.5 Patofisiologi ........................................................................................................ 18
II.6 Manifestasi Klinis ............................................................................................... 20
II.7 Pemeriksaan Penunjang ....................................................................................... 24
II.8 Alverado Score .................................................................................................... 25
II.9 Diagnosa Banding ............................................................................................... 26
II.10 Penatalaksanaan.................................................................................................. 27
II.11 Komplikasi ......................................................................................................... 30
II.12 Prognosis ............................................................................................................ 31

BAB III PEMBAHASAN KASUS ........................................................................... 32


BAB IV KESIMPULAN ........................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 35

iv
BAB I
STATUS PASIEN

I.1 Identitas Pasien


 Nama : Ny. N
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Tanggal Lahir : 22 Mei 1974
 Usia : 44 tahun
 Alamat : Kebondowo 4/10 Banyubiru, Kab. Semarang
 No. Rekam Medis : 155xxx-2018
 Tanggal Masuk RS : 17 Oktober 2018
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Swasta
 Status : Menikah

I.2 Hasil Anamnesa


Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 20
Oktober 2018, pukul 06.30 WIB di ruang perawatan Asoka.

Keluhan Utama
Nyeri pada perut kanan bawah

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa pada tanggal 17 Oktober 2018 pukul
14.15 WIB dengan keluhan nyeri perut di sekitar ulu hati dan sekitar pusar. Kemudian
nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan bawah sejak 3 hari SMRS. Sifat nyeri
tajam seperti ditusuk-tusuk, terkadang terasa mulas dan kram-kram. Nyeri perut hilang
timbul. Keluhan disertai rasa mual tetapi tidak ada muntah. Keluhan juga disertai
adanya demam. Pasien juga mengeluhkan 1 minggu SMRS BAB berdarah. Darah

1
dirasakan menetes di permukaan feses dan cukup banyak. Darah yang keluar saat BAB
merupakan darah segar. BAB tidak disertai dengan lendir. Namun 3 hari SMRS pasien
mengatakan sulit BAB namun jika pasien mengedan darah tetap keluar. Pasien juga
tidak dapat flatus. BAK pasien dalam batas normal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat hemoroid sekitar 2 tahun yang lalu. Pasien mengaku
tidak memiliki riwayat Diabetes Melitus, hipertensi, keganasan, riwayat penyakit
gastritis, riwayat penyakit hati dan riwayat penyakit paru kronis sebelumnya. Tidak ada
alergi obat.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengatakan pernah melakukan pengobatan hemoroid 2 tahun yang lalu
ketika pasien bekerja sebagai TKW di Malaysia. Pasien tidak pernah menjalani
pengobatan paru selama 6 bulan atau riwayat pengobatan dalam jangka lama lainnya.

Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan makan pedas dan rendah serat. Minum ± 2 liter air
mineral setiap hari. Pasien tidak meminum alkohol dan menggunakan Napza. Pasien
jarang olahraga.

I.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 Berat Badan : 58Kg
 Tinggi Badan : 158 cm
 Tekanan Darah : 130/80
 Nadi : 99 x/menit
 Pernapasan : 20 x/menit
 Suhu : 38º C

2
 SpO2 : 98%
Kepala

 Bentuk : Normocephale.
 Rambut : Warna hitam, distribusi rambut merata, rambut tidak
mudah dicabut.
 Mata : Pelpebra tidak cekung dan tidak edema, konjungtiva
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflex cahaya (+/+), isokor,
3mm/3mm
 Telinga : Normotia, tidak ada cairan yang keluar dari telinga.
 Hidung : Bentuk normal, tidak ada deviasi septum, secret (-/-)
 Tenggorokan : Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1
 Mulut : Mukosa bibir lembab, tidak pucat, tidak sianosis

Leher
 Inspeksi : Proporsi leher dalam batas normal, benjolan/massa (-)
 Palpasi : Trakea terletak ditengah, tidak teraba pembesaran tiroid,
Tidak ada pembesaran KGB

Thorax
1) Paru-paru
 Inspeksi : Bentuk dada normochest, pergerakan dinding dada simetris,
Tidak ada lesi ataupun massa
 Palpasi : Vocal fremitus sama antara dada kanan dan kiri.
 Perkusi : Suara perkusi sonor pada seluruh lapang paru.
 Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
2) Jantung
 Inspeksi : Pulsasi iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : Tidak teraba pulsasi iktus kordis
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni regular, murmur (-), gallop (-)

3
Abdomen
 Inspeksi : Datar, dinding perut tidak tegang, tidak terlihat ada massa.
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Palpasi : shifting dullnes (-), undulasi (-), nyeri tekan (+), Hepar dan
Lien tidak teraba membesar
 Perkusi : Timpani

Ekstremitas
 Superior : Edema (-) pucat (-)
 Inferior : Edema (-/-) pucat (-)
 CRT : <2 detik
 Akral : Hangat

Status Lokalis Abdomen :

Pemeriksaan Hasil

Inspeksi Bentuk datar, simetris, massa (-)

Auskultasi Bising usus (+) normal

Perkusi Timpani

Palpasi Nyeri tekan (+) terutama regio kanan


bawah

(Mc Burney sign +), Rovsing sign (-),


Blumberg sign (-), defans muscular (-),
Dunphy sign (+)

Psoas sign Positif

Obturator sign Positif

Rectal toucher Tidak dilakukan

4
I.4 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 17 Oktober 2018 (16.38)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

HEMATOLOGI
Hemoglobin 13.4 g/dl L 11.7-15.5 g/dL
Leukosit 14.500 (H) 3.6-11.0 ribu
Eritrosit 4.72 juta 3.8-5.2 juta
Hematokrit 40.1% 35-47 %
Trombosit 262.000 150.000-400.000
MCV 84.9 82-98 fL
MCH 28.5 27-32 pg
MCHC 33.5 32-37 g/dl
RDW 11.8 10-16 %
MPV 5.85 L 7-11 mikro m3
Limfosit 12 L 25-40%
Monosit 5.55 2-8%
Eosinofil 1.93 2-4%
Basofil 0.481 0-1%
Neutrofil 80.1 (H) 50-70%
PCT 0.153 0.2-0.5%
PDW 18.7 10-18%
PTT 9.9 9.3-11.4 detik
INR 0.95
APTT 28.0 2.45-32.8 detik
Kimia Klinik
Glukosa Sewaktu 92 74-106 mg/dL
Ureum 16.8 10-50 mg/dL
Kreatinin 0.72 0.45-0.75 mg/Dl

5
SGOT 15 0-35 U/L
SGPT 14 0-35 IU/L
SEROLOGI
HBsAg Non-Reaktif Non-reaktif

Pemeriksaan Urine Lengkap


Tanggal 19 Oktober 2018 (Jam 8.28)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

URINE LENGKAP
Warna Kuning
Kekeruhan Jernih
Protein urine Negatif Negatif
Glukosa urine Negatif Negatif
pH 5.5 5-9
Bilirubin urine Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Berat jenis urine 1.030 1000-1030
Leukosit Negatif Negatif
Eritrosit Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Sedimen
Eritrosit 11.4 <8.7 uL
Leukosit 58.2 <7.4 uL
Epitel 24.4 <12.9 uL
Silinder 3.37 <0.47 uL
Bakteri 55.4 <83 uL
Kristal 0.1 Negatif
Epitel tubulus 15.5 Negatif

6
Silinder patologis 1.50 Negatif
Mucus 1.03 Negatif

b. Pemeriksaan EKG
Tanggal 18 Oktober 2018

Kesan : Dalam batas normal

7
c. Pemeriksaan Xray Abdomen 3 posisi
Tanggal 17 Oktober 2018 (Dilakukan pada saat di IGD)

Kesan : Tak tampak air fluid level, tak tampak gambaran step ladder, tak tampak udara
bebas cavum peritoneum. Tak tampak gambaran ileus obstruktif.

I.5 Resume
Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa dengan keluhan nyeri perut di sekitar
ulu hati dan sekitar pusar. Kemudian nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan
bawah sejak 3 hari SMRS. Sifat nyeri tajam seperti ditusuk-tusuk, terkadang terasa
mulas dan kram-kram. Nyeri perut hilang timbul. Adanya mual, muntah tidak ada.
Keluhan juga disertai adanya demam. Pasien juga mengeluhkan 1 minggu SMRS BAB
berdarah. Darah dirasakan menetes di permukaan feses dan cukup banyak. Darah yang
keluar saat BAB merupakan darah segar. BAB tidak disertai dengan lendir. Namun 3
hari SMRS pasien mengatakan sulit BAB namun jika pasien mengedan darah tetap
keluar. Pasien juga tidak dapat flatus. BAK pasien dalam batas normal. Nafsu makan
pasien berkurang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38oC dan pada abdomen
ditemukan nyeri tekan (+) terutama regio kanan bawah (Mc Burney sign +), Rovsing
sign (-), Blumberg sign (-), defans muscular (-), Dunphy sign (+), Psoas sign (+) dan
Obturator sign (+). Pada pemeriksaan lab darah didapatkan leukosit tinggi yaitu 14.500.

8
1.6 Diagnosis Klinis
Appendisitis Akut

I.7 Penatalaksanaan
Pada Saat di IGD RSUD AMBARAWA
- IVFD RL 20 tetes / menit
- Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
- Inj. Ranitidine 1A/12 jam
- Inj. Asam Tranexamat 500 mg/8 jam
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Konsul dokter spesialis bedah

Laporan Pembedahan
 Dilakukan pembedahan pada tanggal 19 Oktober 2018 pukul 10.35 WIB di
ruang OK IBS RSUD AMBARAWA.
 Tindakan Operasi :
1. Pasien posisi tidur terlentang.
2. Dilakukan tindakan asepsis dan antiseptik pada lapang operasi.
3. Dilakukan insisi transverse lower abdomen yaitu 4 cm diatas anterior
spinal iliaka, insisi melintang dibagian bawah lapis demi lapis secara
tajam.
4. Dilakukan eksplorasi  tampak daerah operasi : ditemukan appendix
letak antecaecal, panjang 8 cm, diameter 1.5 cm, hiperemis, dengan
fekalit di 1/3 medial.
5. Setelah menemukan apendiks yang terinfeksi, apendiks dipotong dan
dikeluarkan dari abdomen.
6. Dilakukan hacting untuk menjahit lapis demi lapis.
7. Berikan kassa steril dan desinfektan untuk menutup luka operasi.
8. Operasi selesai.

9
Terapi Post Laparotomy
Non Medikamentosa Medikamentosa
- Rawat di ruang bangsal - IVFD RL 20 tetes/menit +
- Posisi head up 30˚ Biocombin (I)
- Diet lunak - Inj. Cefotaxim 3x1 gr
- Inj. Ketorolac 3x30 mg
- Inj. Metronidazol 3x500 mg

Foto Luka Pasien Post OP

I.8 Prognosis
Ad Vitam : et Bonam
Ad Fungtionam : et Bonam
Ad Sanationam : et Bonam

10
1.9 Hasil Follow Up

18 Oktober 2018
S O A P
- Nyeri perut terutama KU : TSS , K : CM Appendisitis Akut - IVFD RL 20
kanan bawah. TD : 110/80 mmhg tpm
- Kepala terasa cekot- N : 71 x/menit - Inj. Cefotaxim
cekot. RR : 20x/menit 3x1 gr
-1 Minggu SMRS T : 37.9 C - Inj. Ketorolac
BAB disertai darah 3x30 mg
dan BAB kecil-kecil. Status Lokalis - Inj. Ranitidin
- Mual (+), Muntah (-) Abdomen : 3x1 gr
- Flatus (-) Nyeri tekan (+) - Besok
terutama regio kanan (19/10/2018)
bawah (Mc Burney Laparotomy
sign +), Rovsing - Puasa
sign (-), Blumberg - Konsul Sp An
sign (-), defans
muscular (-),
Dunphy sign (+),
Psoas sign (+) dan
Obturator sign (+)

11
19 Oktober 2018
S O A P
- Nyeri perut terutama KU : TSS , K : CM Appendisitis Akut - IVFD RL 20
kanan bawah. TD : 130/80 mmhg tpm
- Kepala terasa cekot- N : 73 x/menit - Inj. Cefotaxim
cekot. RR : 20x/menit 3x1 gr
- Flatus (+) T : 37.6 C - Inj. Ketorolac
- Mual (+), Muntah (-) 3x30 mg
Status Lokalis - Inj. Ranitidin
Abdomen : 3x1 gr
Nyeri tekan (+) - Hari ini op
terutama regio kanan Laparotomy
bawah (Mc Burney
sign +), Rovsing
sign (-), Blumberg
sign (-), defans
muscular (-),
Dunphy sign (+),
Psoas sign (+) dan
Obturator sign (+)

20 Oktober 2018
S O A P
- Nyeri perut pada luka KU : TSS , K : CM Post Laparotomy - IVFD RL 20
post op. TD : 130/80 mmhg H-1 ec tpm
- Flatus (+) N : 64 x/menit Appendisitis Akut - Inj. Cefotaxim
- Mual (-), Muntah (-) RR : 20x/menit 3x1 gr

12
T : 36.7 C - Inj. Ketorolac
3x30 mg
Status Lokalis - Inj. Ranitidin
Abdomen : 3x1 gr
Luka post op terbalut - Inj.
perban (+), rembes Metronidazol
(+) sedikit, nyeri (+) 3x500 mg
- Diet biasa
- Besok
(21/10/18)
Ganti balut
- Mobilisasi

21 Oktober 2018
S O A P
- Nyeri perut pada luka KU : TSS , K : CM Post Laparotomy - IVFD RL 20
post op berkurang TD : 110/70 mmhg H-2 ec tpm
- Flatus (+) N : 65 x/menit Appendisitis Akut - Inj. Cefotaxim
- Mual (-), Muntah (-) RR : 20x/menit 3x1 gr
T : 36.6 C - Inj. Ketorolac
3x30 mg
Status Lokalis - Inj. Ranitidin
Abdomen : 3x1 gr
Luka post op terbalut - Inj.
perban (+), rembes (- Metronidazol
), nyeri (+) 3x500 mg
berkurang - Diet biasa

13
- Ganti balut hari
ini
- Mobilisasi

22 Oktober 2018
S O A P

Pasien mengatakan KU : TSS , K : CM Post laparotomy H- Pasien boleh


tidak ada keluhan TD : 110/80 mmhg 3 ec Appendisitis pulang
N : 75 x/menit Akut
RR : 20x/menit
T : 36.5 C

14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI 1,2


Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch
membentuk produk immunoglobulin, berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm
(kisaran 3-15 cm) dengan diameter 0,5-1 cm, dan berpangkal di caecum. Lumennya
sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.
Appendiks terletak di kuadran kanan bawah abdomen, tepatnya di ileocaecum
dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli (taenia libera, taenia colica, dan taenia
omentum). Dari topografi anatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik
McBurney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3
dari SIAS kanan.
Appendix vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang
bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale.
Mesenteriolum berisi a.apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya terletak 2,5
cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai
pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil.
Struktur appendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,
submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa.
Appendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan
lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal,
menutup caecum dan appendiks. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor
dan jaringan elastik membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara
mukosa dan submukosa terdapat lympho nodes. Mukosa terdiri dari satu lapis
collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn.
Dinding dalam sama dan berhubungan dengan caecum (inner circular layer). Dinding
luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada

15
pertemuan caecum dan appendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan
untuk mencari appendiks.
Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8
yaitu bagian ujung dari protuberans caecum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari caecum yang berlebih akan menjadi appendiks, yang akan berpindah
dari medial menuju katup ileosekal.
Pada bayi, appendiks berbentuk kerucut , lebar pada pangkalnya dan
menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden
appendicitis pada usia itu.
Pada 65% kasus, appendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu
memungkinkan appendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang
mesoappendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, appendiks terletak
retroperitoneal, yaitu di belakang caecum, di belakang kolonasendens, atau di tepi
lateral kolon asendens. Gejala klinis appendicitis ditentukan oleh letak appendiks.
Jenis-jenis Posisi Appendiks : 3
1. Promontorik : ujung appendiks menunjuk ke arah promontorium sacri.
2. Retrocolic : appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya
retroperitoneal.
3. Antecaecal : appendiks berada di depan caecum.
4. Paracaecal : appendiks terletak horizontal di belakang caecum.
5. Pelvic Descenden : appendiks menggantung ke arah pelvis minor.
6. Retrocaecal : intraperitonal atau retroperitoneal; appendiks berputar ke
atas ke belakang caecum.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti
a.mesenterika superior dan a.appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal
dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada appendicitis bermula di sekitar
umbilikus. Pendarahan appendiks berasal dari a. appendikularis yang merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi,
appendiks akan mengalami gangren.1

16
Secara histologis, appendiks mempunyai basis struktur yang sama seperti usus
besar. Glandula mukosanya terpisahkan dari vaskular submukosa oleh mukosa
maskularis. Bagian luar dari submukosa adalah dinding otot yang utama. Appendiks
terbungkus oleh tunika serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar dan
bergabung menjadi satu di mesoapendiks. Jika appendiks terletak di retroperitoneal,
maka appendiks tidak terbungkus oleh tunika serosa.3

Gambar 1. Anatomi Appendiks

II.2 FISIOLOGI 1,2


Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir di muara appendiks
tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis. Imunoglobulin sekretoar yang
dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang
saluran cerna termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai
pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks
tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali
jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.
Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar 2 minggu
setelah lahir. Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat dewasa dan

17
kemudian berkurang mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun, tidak ada jaringan
lymphoid lagi di appendiks dan terjadi penghancuran lumen appendiks komplit.

II.3 DEFINISI
Appendicitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis. Peradangan
akut appendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya.1

II.4 ETIOLOGI
Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Fekalit merupakan
penyebab tersering dari obstruksi appendiks. Penyebab lainnya adalah hipertrofi
jaringan limfoid, sisa barium dari pemeriksaan Roentgen, diet rendah serat, dan cacing
usus termasuk ascaris. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat
mencetuskan inflamasi pada appendiks.
Frekuensi obstruksi meningkat dengan memberatnya proses inflamasi. Fekalit
ditemukan pada 40% dari kasus appendicitis akut, sekitar 65% merupakan appendicitis
gangrenous tanpa ruptur dan sekitar 90% kasus appendicitis gangrenous dengan ruptur.
Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan appendicitis adalah erosi mukosa
appendiks karena parasit seperti E. histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan
peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap
timbulnya appendicitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal, yang
berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan
kuman flora kolon biasa. Semuanya akan mempermudah terjadinya appendisits akut.2

II.5 PATOFISIOLOGI
Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian
proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa appendiks

18
yang distensi. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan.
Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.
Kapasitas lumen appendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 ml
dapat meningkatkan tekanan intralumen sekitar 60 cmH2O. Manusia merupakan salah
satu dari sedikit yang dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi
sehingga menjadi gangren atau terjadi perforasi.1
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan appendiks mengalami
hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi
menyebabkan pembengkakan appendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik
karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding appendiks). Pada saat
inilah terjadi appendicitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan
perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda
setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. 1,2
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus
dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan appendicitis
supuratif akut.1
Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks yang
diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan appendicitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi appendicitis perforasi. Bila semua
proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke
arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate appendicularis.
Peradangan appendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Infiltrat appendikularis merupakan tahap patologi appendicitis yang dimulai di
mukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding appendiks dalam waktu 24-48 jam
pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang
dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga

19
terbentuk massa periappendikular. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa
abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, appendicitis akan
sembuh dan massa periappendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan
mengurai diri secara lambat.
Dalam pathogenesis appendicitis akut urutan kejadiannya adalah : 4
1. Obstruksi lumen menyebabkan sekresi mukus dan cairan yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraluminal.
2. Ketika tekanan intraluminal meningkat, tekanan dalam mukosa venula dan limfatik
meningkat, aliran darah dan limfe terhambat karena tekanan meningkat pada
dinding appendiceal.
3. Ketika tekanan kapiler meningkat, terjadi iskemia mukosa inflamasi dan ulserasi
kemudian bakteri tumbuh pesat di dalam lumen dan bakteri menyerang mukosa dan
submukosa sehingga terjadi inflamasi transmural, edema, vascular stasis, dan
nekrosis dari muscular. Perforasi mungkin dapat terjadi.

Pada perjalanan penyakitnya, penyakit appendicitis akut dapat berubah menjadi : 4


1. Phlegmon 2-3 hari perforasi, 3-5 hari peritonitis difusa sepsis.
Phlegmon ialah proses penahanan dalam jaringan ikat longgar. Pada orang dewasa,
terjadi karena keterlambatan dalam menegakkan diagnosa, sedangkan pada anak
kecil disebabkan appendiks kecil dan kurang komunikatif.
2. Mikroperforasi massa / infiltrate periappendiks.
Mikroperforasi adalah suatu peradangan oleh omentum dan jaringan sekitarnya.
Tubuh melokalisir perforasi oleh karena daya tahan tubuh meningkat (dengan
pemberian antibiotik). Jika peradangan tidak sempurna, dapat terjadi penyebaran
pus dari ruangan omentum.

II.6 MANIFESTASI KLINIS


a. Gejala Klinis
Appendicitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian
disertai adanya massa periapendikular. Gejala appendisitis akut umumnya timbul

20
kurang dari 36 jam, dimulai dengan nyeri perut yang didahului anoreksia. Gejala klasik
appendicitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus.
Nyeri menetap, kadang disertai kram yang hilang-timbul. Dalam 2-12 jam nyeri beralih
ke kuadran kanan, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Pada
permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun
dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif.1
Terdapat juga keluhan malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Suhu
tubuh biasanya naik hingga 38oC, tetapi pada keadaan perforasi suhu tubuh meningkat
hingga >39oC. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare,
mual dan muntah. Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut
dan banyak pasien yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. Diare timbul
pada beberapa pasien terutama anak-anak.1
Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya terjadi satu atau dua
kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Umumnya urutan
munculnya gejala appendisitis adalah anoreksia, diikuti nyeri perut dan muntah. Bila
muntah mendahului nyeri perut, maka diagnosis appendisitis diragukan. Muntah yang
timbul sebelum nyeri perut mengarah pada diagnosis gastroenteritis. 1
Appendicitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak appendiks yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai
rangsang peritoneum lokal. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam
nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Disini nyeri dirasakan lebih
tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatik setempat. Kadang tidak
ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa
memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa
mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum biasanya
pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.1
Bila letak appendiks retrosekal di luar rongga perut, karena letaknya terlindung
sekum maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan
peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat
berjalan, karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.2

21
Appendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan
gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat,
pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika appendiks tadi
menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena
rangsangan dindingnya.2
Pada beberapa keadaan, appendicitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak
ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi. Gejala appendicitis akut pada anak
tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering
tidak bisa melukiskan rasa nyerinya dalam beberapa jam kemudian akan timbul
muntah-muntah dan anak akan menjadi lemah dan letargi. Karena gejala yang tidak
khas tadi, sering appendicitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90 %
appendicitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.2
Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar-samar saja, tidak jarang
terlambat diagnosis. Akibatnya lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis
setelah perforasi.2
Pada kehamilan, keluhan utama appendicitis adalah nyeri perut, mual, dan
muntah. Yang perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering juga
terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dengan appendiks terdorong
ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke
regio lumbal kanan.2

b. Pemeriksaan Fisik
Appendiks umumnya terletak di sekitar McBurney, namun perlu diingat bahwa
letak anatomis appendiks sebenarnya dapat pada semua titik, 360o mengelilingi
pangkal caecum. Appendisitis letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di
antara costa 12 dan spina iliaca posterior superior. Appendicitis letak pelvis dapat
menyebabkan nyeri rektal.1
Secara teori, peradangan akut appendiks dapat dicurigai dengan adanya nyeri
pada pemeriksaan rektum (rectal toucher). Namun pemeriksaan ini tidak spesifik untuk

22
appendicitis jika tanda-tanda appendicitis lain telah positif. Secara klinis, dikenal
beberapa manuver diagnostik : 1,2,4

 Rovsing’s Sign
Penekanan pada abdomen kuadran kiri bawah akan menimbulkan nyeri di abdomen
kuadran kanan bawah. Hal ini disebabkan oleh karena iritasi dari peritoneum. Disebut
juga nyeri tekan kontralateral. Sering positif pada appendicitis namun tidak spesifik.

Gambar 2. Rovsing’s Sign

 Blumberg Sign
Manuver dikatakan positif apabila penderita merasakan nyeri di kuadran kanan bawah
saat pemeriksa menekan di abdomen kuadran kiri bawah lalu melepaskannya. Disebut
juga nyeri lepas kontralateral.
 Psoas Sign
Pasien berbaring pada sisi kiri, tangan pemeriksa memegang lutut pasien dan tangan
kiri menstabilkan pinggulnya. Kemudian tungkai kanan pasien digerakkan ke arah
anteroposterior. Nyeri pada manuver ini menunjukkan appendiks mengalami
peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver.

Gambar 3. Psoas Sign

23
 Obturator Test
Pasien terlentang, tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki kanan
pasien sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Kemudian pemeriksa memposisikan
sendi lutut pasien dalam posisi fleksi dan articulatio coxae dalam posisi endorotasi
kemudian eksorotasi. Tes ini positif bila pasien merasakan nyeri di hipogastrium saat
eksorotasi. Nyeri pada manuver ini menunjukkan adanya perforasi apendiks, abses
lokal, iritasi m.obturatorius oleh appendiks dengan letak retrocaecal, atau adanya
hernia obturatoria.

Gambar 4. Obturator Sign

II.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Laboratorium
Leukositosis ringan berkisar antara 10.000-18.000/mm2, biasanya didapatkan
pada keadaan akut. Appendicitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan
polimorfonuklear sedang. Jika hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan shift
to the left, diagnosis appendicitis akut harus dipertimbangkan. Jarang hitung jenis sel
darah putih lebih dari 18.000/mm2 pada appendicitis tanpa komplikasi. Hitung jenis sel
darah putih di atas jumlah tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi
appendiks dengan atau tanpa abses. Pada appendicitis infiltrat, LED akan ditemukan
meningkat.

CRP (C-Reactive Protein) adalah suatu reaktan fase akut yang disintesis oleh
hati sebagai respon terhadap infeksi bakteri. Jumlah dalam serum mulai meningkat
antara 6-12 jam inflamasi jaringan.

24
Kombinasi 3 tes yaitu adanya peningkatan CRP > 8 mcg/mL, hitung leukosit >
11.000, dan persentase neutrofil > 75% memiliki sensitivitas 86% dan spesifitas 90.7%.
Pemeriksaan urine bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis infeksi dari
saluran kemih. Walaupun dapat ditemukan beberapa leukosit atau eritrosit dari iritasi
urethra atau vesica urinaria seperti yang diakibatkan oleh inflamasi appendiks. Namun
pada appendicitis akut dalam sample urine catheter tidak akan ditemukan
bakteriuria.1,2

b. Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen jarang membantu penegakan diagnosis appendicitis akut,
namun bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis banding. Adanya fecalith jarang
terlihat pada foto polos, tapi bila ditemukan sangat mendukung diagnosis.
Ultrasonografi cukup bermanfaat dalam menegakkan diagnosis appendicitis.
USG dilakukan khususnya untuk melihat keadaan kuadran kanan bawah atau nyeri
pada pelvis pada pasien anak atau wanita. Adanya peradangan pada appendiks
menyebabkan ukuran appendiks lebih dari normalnya (diameter 6 mm). Kondisi
penyakit lain pada kuadran kanan bawah seperti inflammatory bowel disease,
diverticulitis cecal, divertikulum Meckel’s, endometriosis dan pelvic inflammatory
disease (PID) dapat menyebabkan positif palsu pada hasil USG.

II.8 ALVARADO SCORE 2

Appendicitis point pain 2


Leukositosis (> 10.000/ul) 2
Vomitus 1
Anorexia 1
Rebound tenderness phenomenon 1
Abdominal migrate pain 1
Degree of celcius (> 37.5 oC) 1
Observation of hemogram (> 72%) 1+
Total point 10

25
 Dinyatakan appendicitis akut apabila nilai > 7 poin.
 Penanganan berdasarkan Alvarado Score :
1–4 Dipertimbangkan appendisitis akut, diperlukan observasi.
5–6 Possible appendicitis, tidak perlu operasi. Terapi antibiotik.
7 – 10 Appendisitis akut, perlu operasi dini.

II.9 DIAGNOSIS BANDING 1,2,4


1. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual dan muntah serta diare mendahului rasa sakit. Sakit perut
dirasa lebih ringan dan tidak tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Demam dan
leukositosis kurang menonjol.
2. Diverticulitis
Meskipun diverticulitis biasanya terletak di perut sebelah kiri, namun tidak menutup
kemungkinan untuk terjadi di perut sebelah kanan. Gejala klinis sangat mirip dengan
appendicitis akut.
3. Kolik Traktus Urinarius
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi
intravena dapat memastikan penyakit tersebut.
4. Peradangan Pelvis
Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat dengan appendiks. Radang kedua organ
ini sering bersamaan sehingga disebut salpingo-oovoritis atau adneksitis. Didapatkan
riwayat kontak seksual pada diagnosis penyakit ini. Suhu biasanya lebih tinggi
daripada appendicitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya disertai
dengan keputihan pada wanita. Pada colok vaginal (vaginal toucher) terasa nyeri bila
uterus diayunkan.
5. Kehamilan Ektopik
Riwayat menstruasi terhambat dengan keluhan tidak menentu. Jika terjadi ruptur tuba
atau abortus di luar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus
di daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan colok

26
vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan di cavum Douglas, dan pada kuldosentesis
akan didapatkan darah.
6. Demam Dengue
Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di sini didapatkan
hasil tes positif untuk Rumple Leede, trombositopenia, dan hematokrit yang meningkat.
7. Kista Ovarium Terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal, atau colok rektal. Tidak terdapat demam.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menetukan diagnosis.
8. Endometriasis Eksterna
Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri ditempat endometriosis
berada, dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar.

II.10 PENATALAKSANAAN 1,2,3


Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat appendiks menjadi dilindungi
oleh omentum dan gulungan usus halus di dekatnya. Mula-mula, massa yang terbentuk
tersusun atas campuran membingungkan bangunan-bangunan ini dan jaringan
granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. Jika peradangan pada
appendiks tidak dapat mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus
mengalami peritonitis umum, massa tadi menjadi terisi nanah, semula dalam jumlah
sedikit, tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya.
Bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam, akan dilakukan tindakan
operasi untuk membuang appendiks yang mungkin gangren dari dalam massa
perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya, dan bilamana karena massa ini
telah menjadi lebih terfiksasi dan vascular, sehingga membuat operasi berbahaya maka
harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase.
Massa appendiks terjadi bila terjadi appendicitis gangrenosa atau
mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada
massa periappendikular yang dindingannya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran
pus ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta

27
generalisata. Oleh karena itu, massa periappendikular yang masih bebas disarankan
segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah.
Pada anak, dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa
dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna,
dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh,
ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa
periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan appendectomy
elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat
ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses appendiks. Hal
ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba
pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.
Massa appendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan
tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena dikhawatirkan akan
terjadi abses appendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus
dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada
pembedahan pada appendicitis sederhana tanpa perforasi.
Pada periappendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan bedah
apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa
appendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut.
Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun
tanpa peritonitis umum.
Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak kecil,
wanita hamil,dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya. Bila pada waktu membuka
perut terdapat periappendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi, appendiks
dibiarkan saja. Terapi konservatif pada periappendikular infiltrat :
1. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi.
2. Diet lunak bubur saring.
3. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif
terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar

28
6-8 minggu kemudian, dilakukan appendectomy. Kalau sudah terjadi abses,
dianjurkan drainase saja dan appendectomy dikerjakan setelah 6-8 minggu
kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan pemeriksaan
jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses, dapat
dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah.
Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi. Biasanya
48 jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat, tandanya terjadi perforasi maka
harus dipertimbangkan appendectomy. Batas dari massa hendaknya diberi tanda
(demografi) setiap hari. Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan
terlokalisir. Bila massa tidak juga mengecil, tandanya telah terbentuk abses dan massa
harus segera dibuka dan didrainase.
Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri
tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Abses dicapai secara ekstraperitoneal, bila
appendiks mudah diambil, lebih baik diambil karena appendiks ini akan menjadi
sumber infeksi. Bila appendiks sukar dilepas, maka appendiks dapat dipertahankan
karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Abses didrainase
dengan selang yang berdiameter besar, dan dikeluarkan lewat samping perut. Pipa
drainase didiamkan selama 72 jam, bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari, drain dapat
diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. Antibiotik sistemik
dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi. Untuk mengecek pengecilan abses tiap
hari penderita diperiksa colok dubur.
Penderita periappendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang : 3
 LED
 Jumlah leukosit
 Massa periappendikular infiltrat dianggap tenang apabila :
1. Anamesis : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen.
2. Pemeriksaan Fisik :
a. Keadaan umum penderita baik, tidak terdapat kenaikan suhu tubuh
(diukur di rektal dan aksiler).
b. Tanda-tanda appendisitis sudah tidak terdapat.

29
c. Massa sudah mengecil atau menghilang, atau massa tetap ada tetapi
lebih kecil dibanding semula.
3. Laboratorium : LED kurang dari 20, Leukosit normal.
Kebijakan untuk operasi periappendikular infiltrat : 3
 Bila LED telah menurun kurang dari 40.
 Tidak didapatkan leukositosis.
 Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak
mengecil lagi.
Bila LED tetap tinggi, maka perlu diperiksa : 3
 Apakah penderita sudah bed rest total.
 Pemberian makanan penderita.
 Pemakaian antibiotik penderita.
 Kemungkinan adanya sebab lain.

Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada
perbaikan, operasi tetap dilakukan. Bila ada massa periappendikular yang fixed, ini
berarti sudah terjadi abses dan terapi adalah drainase.

II.11 KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami pendindingan
berupa massa yang terdiri atas kumpulan appendiks, sekum, dan lekuk usus halus.1
Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis
generalisata. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah : 3
 Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen
menyeluruh.
 Suhu tubuh naik tinggi sekali.
 Nadi semakin cepat.
 Defance muscular yang menyeluruh.
 Perut distended.

30
 Bising usus berkurang.
Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :
1. Pelvic abscess
2. Subphrenic abscess
3. Intra peritoneal abses lokal
Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk ke rongga
abdomen, dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

II.12 PROGNOSIS
Dengan diagnosis yang akurat dan tatalaksana pembedahan, dapat menurunkan
tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini. Keterlambatan diagnosis akan
meningkatkan mortalitas dan morbiditas terutama bila telah terjadi komplikasi.
Serangan berulang juga dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat.1

31
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Pada anamnesa didapatkan pasien mengeluh nyeri di perut daerah ulu hati,
sekitar pusar dan perut kanan bawah. Nyeri tersebut merupakan nyeri visceral yang
sifatnya difus, terletak pada mid-line, sekitar umbilikal, tidak dapat ditunjukkan,
bersifat tumpul dan tidak jelas, tidak menetap. Referred pain sesuai persarafan yang
terjadi akibat regangan organ. Nyeri visceral pada appendicitis ini bermula di sekitar
umbilicus sesuai dengan persarafan dari N.Thorakalis X. Nyeri disebabkan oleh karena
obstruksi lumen appendiks yang akan menyebabkan peningkatan sekresi normal
mukus dari mukosa appendiks yang distensi. Makin lama mucus makin banyak, namun
elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan
appendiks mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe dan invasi bakteri. Infeksi
menyebabkan pembengkakan appendiks bertambah (edema). Pada saat inilah terjadi
appendicitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Pasien juga mengeluhkan nyeri perut kanan bawah yang hilang timbul, nyeri
tersebut merupakan nyeri visceral yang berubah menjadi nyeri somatis. Nyeri ini
disebabkan oleh sekresi mukus yang terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Kemudian hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul akan meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri daerah kanan bawah. Keadaan ini
disebut dengan appendicitis supuratif akut.
Keluhan mual pada pasien disebabkan oleh inflamasi dan tekanan yang
berlebihan pada appendiks yang distensi sehingga pusat muntah akan diaktifkan dari
saluran pencernaan melalui aferen nervus vagus.

32
Nyeri tekan daerah McBurney terjadi karena translokasi bakteri yang
menyebabkan nyeri somatis. Illiopsoas sign menunjukkan peradangan dari appendiks
yang letaknya dekat dengan otot psoas. Obturator test juga positif karena gerakan rotasi
dari pinggang juga menghasilkan nyeri pada pasien dengan appendiks yang juga
terletak berdekatan dengan otot obturator eksternus. Leukositosis yang didapatkan dari
pemeriksaan darah lengkap menunjukkan respon tubuh terhadap infeksi.
Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan tindakan pembedahan dini sesuai
Alvarado score dengan total skor 8, yaitu perlu dilakukan operasi dini bila skor 7-10.

Skor yang
Penilaian Skor Ajuan
Didapat
Gejala -Nyeri beralih 1 1
-Anoreksia 0 1
-Mual / muntah 1 1
Tanda -Nyeri perut kanan bawah 2 2
(Mc Burney point)
-Nyeri lepas 0 1
-Kenaikkan temperature 1 1
(> 37.5 oC)
Laboratorium -Leukositosis (> 10.000/ul) 2 2
-Neutrofil bergeser ke kiri 1 1
(> 72%)
Total Skor 8 10

Pemberian obat Cefotaxime yaitu, antibiotik spektrum luas golongan


sefalosporin generasi 3 pada pasien ini untuk mencegah infeksi berat dan diantaranya
memiliki aktivitas melawan bakteri aerob dan anaerob. Selain itu pemberian kombinasi
dengan Metronidazole dikarenakan ditemukannya leukositosis pada pasien ini sehngga
dikhawatirkan terjadi perforasi, pada appendicitis dengan perforasi dapat ditemukan
bakteri anaerob dan metronidazole merupakan first line yang dapat digunakan.

33
BAB IV
KESIMPULAN

Appendicitis adalah peradangan pada appendix vermicularis. Appendicitis


merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering dijumpai. Faktor predisposisi
dan etiologinya bisa bermacam-macam, namun obstruksi lumen adalah penyebab
utamanya.
Gejala klinis meliputi nyeri perut kanan bawah tepatnya di titik McBurney
disertai nyeri epigastrium, dapat pula nyeri di seluruh perut pada fase tertentu. Dapat
dijumpai mual, muntah, anoreksia, dan demam. Dapat dilakukan manuver Rovsing’s
sign, Blumberg sign, Illiopsoas sign, dan Obturator test dalam membantu penegakan
diagnosis.
Pada pasien ini, berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang yang dilakukan maka diagnosisnya adalah appendicitis akut.
Dari hasil pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien ini sudah cukup
terpenuhi. Penatalaksanan pada pasien ini sesuai dengan teori. Kondisi pasien saat
pulang telah dalam keadaan stabil. Prognosis pada pasien ini adalah ad bonam.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2004. Jakarta: EGC. p.


865-75.
2. Schwatz, et al. Principles of Surgery 8th Edition Volume 2. Jakarta: EGC. p.
1383 – 93.
3. Staf Pengajar FKUI. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 1995. p. 109 – 12.
4. Sugandi . W. Referat Appendicitis. Sub Bagian Bedah Digestif. 2005.
Bandung: FK UNPAD-RSHS.

35