Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI I

DIURETIK

OLEH :

NAMA : DIRCIA MARIA GOMES NAIBOBE

NIM : 154111017

KELOMPOK : III (Tiga)

KELAS :A

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

CITRA HUSADA MANDIRI

KUPANG

2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran


urin disebut diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat transpor ion
yang menurunkan reabsorbsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda.
Obat diuretik adalah sekelompok obat yang dapat meningkatkan
laju pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama
menunjukan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang
kedua menunjukan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air.
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang
berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume
cairan ekstrasel menjadi normal. Obat-obatan yang menyebabkan suatau
keadaan meningkatnya aliran urin disebut diuretik. Obat-obat ini merupakan
penghambat transpor ion yang menurunkan reabsorpsi Na+ dan ion lain
seperti Cl + memasuki urin dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dalam
keadaan normal bersama-sama air, yang mengangkut secara pasif untuk
mempertahankan keseimbangan osmotik. Perubahan osmotik dimana dalam
tubulus menjadi meningkat karena natrium lebih banyak dalam urin, dan
mengikat air lebih banyak didalam tubulus ginjal dan produksi urin menjadi
lebih banyak. Dengan demikian diuretik meningkatkan volume urin dan
sering mengubah pH-nya serta komposisi ion didalam urin dan darah.
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui
daya dan kekuatan suatu obat diuretik dan juga dapat membandingkan obat
diuretik satu dengan obat diuretik lainnya.
1.2 Tujuan Percobaan

1. Mengetahui cara pengujian dan efek farmakologi obat diuretik pada


hewan coba tikus
2. Membandingkan kemampuan obat diuretik dalam memberikan efek
diuresisi pada hewan coba tikus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diuretik
Diuretik adalah obat-obat yang menyebabkan suatu keadaan
meningkatnya aliran urine (Mycek, 2000).
Diuretik adalah senyawa yang dapat menyebabkan ekskresi urin yang lebih
banyak. Jika pada peningkatan ekskresi air, terjadi juga peningkatan ekskresi garam-
garam. Dan walaupun kerjanya pada ginjal “obat ginjal”, artinya senyawa ini
tidak dapat memperbaiki atau
menyembuhkan penyakit ginjal. (Mutschler, 1991).
Diuretik dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Dimana istilah
diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan
volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (
kehilangan ) zat- zat terlarut dan air. (sunaryo, 1995).
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti
mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel
kembali menjadi normal. (sunaryo, 1995)
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik ini.
Pertama, tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah yang
reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan
dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. Kedua,
status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis hati, gagal
ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap
diuretik. Ketiga, interaksi antara obat dengan reseptor. Sebagaimana umumnya
diketahui, diuretik digunakan untuk merangsang terjadinya diuresis. Penggunaan
diuretik sudah demikian luas (Siregar, 2008).
Cairan yang menyerupai plasma difiltrasi melalui dinding kapiler
glomerulus ke tubulus ke tubulus renalis diginjal (filtrasi glomerulus). Dalam
perjalanannya sepanjang tubulus ginjal, volume cairan filtrat akan berkurang dan
susunannya berubah akibat proses reabsorbsi tubulus (penyerapan kembali air dan
zat terlarut dari cairan tubulus) dan proses sekresi tubulus untuk membentuk kemih
(urine) yang akan disalurkan melalui pelvis renalis. Dengan membandingkan
susunan plasma dengan urine normal akan diperoleh gambaran betapa
besarnya perubahan-perubahan ini, serta cara hasil metabolisme dibuang dari
plasma . air serta elektrolit dan metabolit penting lainnya akan diserap kembali.
Selain itu, susunan urine dapat berubah-ubah, dan banyak mekanisme pengaturan
homeostasis yang mengurangi atau mencegah perubahan susunan cairan ekstrasel
dengan cara mengubah jumlah air dan zat terlarut tertentu yang diekskresi melalui
urine. Dari pelvis renalis, urine dialirkan kedalam vesika urinaria (kandung kemih)
untuk kemudian dikeluarkan melalui proses berkemih (miksi). Ginjal juga
berperan sebagai organ endokrin karena menghasilkan kinin dan 1,25-
dihidroksikolekalsiferol serta membentuk dan mensekresi renin (Ganong, 2001).
Pengaruh diuretik terhadap ekskresi zat terlarut penting artinya untuk
menentukan tempat kerja diuretik dan sekaligus untuk meramalkan akibat
penggunaan suatu diuretik. Secara umum diuretik dibagi menjadi dua golongan
besar, yaitu (sunaryo, 1995) :

1. Diuretik osmotic
2. Penghambat mekanisme transport elektrolit
Dan secara khusus, obat diuretik yang dapat menghambat transport
elektrolit di tubuli ginjal terdiri atas (sunaryo, 1995) :
1. Penghambat karbonik anhidrase.
2. Benzotiadiazid
3. Diuretik hemat kalium
4.Diuretik kuat
Sebagian besar diuretika bekerja pada segmen anatomis tunggal dari nefron ginjal.
Karena segmen ini punya fungsi- fungsi transport yang khusus. Kerja dari setiap
diuretik paling dapat dimengerti dengan baik dalam hubungan antara titik tangkap
kerjanya pada nefron dan fisiologi normal dari segmen tersebut. ( Katzung, G, 2001 )
Mekanisme kerja diuretik
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik :
1). Tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah
yang reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih
kecil bila dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah
yang reabsorbsi natrium banyak.
2). Status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis
hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon
yang berbeda terhadap diuretik.
3). Interaksi antara obat dengan reseptor.

Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :


1. Diuretik osmotik
Tempat Dan Cara Kerja :

 Tubuli Proksimal penghambatan reabsorbsi natrium dan air melalui


daya osmotiknya
 Ansa Henle penghambatan reasorbsi natrium dan air oleh karena
hiperosmolaritas daerah medula menurun.
 Duktus Koligentes penghambatan reasorbsi natrium dan air akibat
adanya papilarry washout, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau
adanya faktor lain.

diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal.
Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan isosorbid.
2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase
Tempat Dan Cara Kerja :
Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara menghambat
reabsorpsi bikarbonat.
Yang termasuk golongan diuretik ini adalah asetazolamid, diklorofenamid
dan meatzolamid.
3. Diuretik golongan tiazid
Tempat Dan Cara Kerja :
Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara
menghambat reabsorpsi natrium klorida.
Obat-obat diuretik yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid,
hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid,
benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan
indapamid.
4. Diuretik hemat kalium
Tempat Dan Cara Kerja :
Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus
koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium
dan sekresi kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton)
atau secara langsung (triamteren dan amilorida).
Yang tergolong dalam kelompok ini adalah: antagonis aldosteron.
triamterenc. amilorid.
5. Diuretik kuat
Tempat Dan Cara Kerja :
Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden pada bagian
dengan epitel tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium,
kalium, dan klorida.
Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid dan
bumetamid.
6. Xantin
Xantin ternyata juga mempunyai efek diuresis. Efek stimulansianya pada
fungsi jantung, menimbulkan dugaan bahwa diuresis sebagian disebabkan
oleh meningkatnya aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus. Namun
semua derivat xantin ini rupanya juga berefek langsung pada tubuli ginjal,
yaitu menyebabkan peningkatan ekskresi Na+ dan Cl- tanpa disertai
perubahan yang nyata pada perubahan urin. Efek diuresis ini hanya sedikit
dipengaruhi oleh keseimbangan asam-basa, tetapi mengalami potensiasi
bila diberikan bersama penghambat karbonik anhidrase.Diantara
kelompok xantin, theofilin memperlihatkan efek diuresis yang paling
kuat.
(http://www.academia.edu/9066300/diuretik)

Penggunaan klinik diuretik.

 Diuretik golongan Tiazid, merupakan pilihan utama step 1, pada sebagian


besar penderita.

 Diuretik golongan tiazid, :

a. digunakan pada payah jantung kronik kongestif, bila fungsi ginjal


normal.
b. Digunakan pada penderita batu ginjal.
c. disertai dengan diet rendah garam digunakan pada penderita diabetes
insipidu

 Diuretik kuat biasanya (furosemid) :

a. terutama bermanfaat pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.


b. Udem paru akut.
c. digunakan bila terdapat gangguan fungsi ginjal atau bila diperlukan
efek diuretik yang segera.
d. diberikan bersama infus NaCl hipertonis pada penderita hiperklasemia

 Diuretik osmotik :

a. pada penderita udem otak


b. Diuretik osmotik atau asetazolamid digunakan prabedah pada penderita
acute angle closure glaucoma.
 Diuretik hemat kalium, digunakan bersama tiazid atau diuretik kuat, bila
ada bahaya hipokalemia.

 Biasanya digunakan diuretik golongan tiazid atau diuretik kuat bersama


dengan spironolakton untuk penderita sindrom nefrotik

Proses Pembentukan Urine di Dalam Ginjal

Di dalam ginjal terjadi serangkaian proses pembentukan urine. Proses


pembentukan urine meliputi 3 tahap yaitu :

1. Tahap penyaringan (filtrasi).


Tahap filtrasi terjadi di badan Malpighi yang di dalamnya terdapat glomerulus
yang dikelilingi sangat dekat oleh kapsula Bowman . Proses filtrasi: Ketika
darah yang mengandung air, garam, gula, urea dan zat-zat lain serta sel-sel
darah dan molekul protein masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi
sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut,
melewati pori-pori endotelium kapiler glomerulus, kecuali sel-sel darah dan
molekul protein. Kemudian menuju membran dasar dan melewati lempeng
filtrasi, masuk ke dalam ruang kapsula Bowman. Hasil filtrasi dari glomerulus
dan kapsula Bowman disebut filtrat glomerulus atau urine primer. Urine primer
ini mengandung: air, protein, glukosa, asam amino, urea dan ion anorganik.
Glukosa, ion anorganik dan asam amino masih diperlukan tubuh.
2. Tahap penyerapan kembali (reabsorpsi).
Filtrat glomerulus atau urine primer mengalami tahap reabsorpsi yang terjadi di
dalam tubulus kontortus proksimal, dan lengkung Henle. Proses tahap ini
dilakukan oleh sel-sel epitelium di seluruh tubulus ginjal. Banyaknya zat yang
direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu. Zat-zat yang direabsorpsi
antara lain adalah: glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca, 2+, Cl-, HCO3-,

dan HbO42-, sedangkan kadar urea menjadi lebih tinggi.


Proses reabsorpsi : mula-mula urine primer masuk dari glomerulus ke tubulus
kontortus proksimal, kemudian mulai direabsorpsi hingga mencapai lengkung
Henle. Zat-zat yang direabsorpsi di sepanjang tubulus ini adalah glukosa, ion
Na+, air, dan ion Cl-. Setiba di lengkung Henle, volume filtrat telah berkurang.
Hasil tahap reabsorpsi ini dinamakan urine sekunder atau filtrat tubulus.
Kandungan urine sekunder adalah air, garam, urea, dan pigmen empedu yang
berfungsi memberi warna dan bau pada urine. Urine sekunder masuk ke dalam
tubulus kontortus distal dan terjadi lagi penyerapan zat-zat yang tidak
digunakan dan kelebihan air diserap sehingga terbentuk urine.
3. Tahap Pengeluaran (Augmentasi).
Urine sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju saluran
pengumpul (tubulus kolektivas). Dari tubulus kolektivas, urine dibawa ke
pelvis renalis, lalu ke ureter menuju kantung kemih (vesika urinaria). Siswa
SMP, perhatikan gambar 11 agar ketiga tahap tadi dapat lebih kamu pahami.

Gb. 11. Proses penyaringan darah atau pembentukan urin


Kantung kemih merupakan tempat penyimpanan sementara urine. Jika kantung
kemih sudah penuh oleh urine, maka urine harus dikeluarkan dari tubuh,
melalui saluran uretra. Dimanakah letak ureter, kantung kemih dan uretra Coba
kamu perhatikan lagi gambar (seperti gambar 7) berikut ini.

Volume urine yang dikeluarkan antara lain tergantung pada hal-hal berikut:
· Jumlah air yang diminum.
· Jumlah garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan osmosis
tetap.
· Hormon antidiuretik (Anti Diuretic Hormone = ADH) yang dihasilkan oleh
kelenjar hipofisis di bagian belakang otak.

(https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?ver=12&idmateri
=11&lvl1=3&lvl2=3&lvl3=0&kl=9)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat, Bahan, Hewan Coba dan Cara Kerja

1. ALAT
a. Sarung tangan
b. Sondelambung
c. Masker
d. Stopwatch
e. Timbangan analitik
f. Gelas ukur
g. Mortir
h. Batang pengaduk
i. Dacing
j. Tisu
k. Toples
2. BAHAN
a. Hewan percobaan (tikus)
b. Obat HCT, Forosemid, Spironolakton
c. Aquadest
d. PGA
3. CARA KERJA
1. Tikus ditandai dengan menggunakan spidol permanen pada bagian
ekornya
2. Timbang dan catat masing-masing berat tikus sesuai beratnya
3. Bagi tikus menjadi 4 kelompok, kelompok pertama diberikan
Furosemid, kelompok kedua diberi spironolakton, kelompok ketiga
diberi HCT dan kelompok keempat diberi aquadest.
4. Pemberian obat untuk Tikus
a). Membuat suspensi PGA
Ambil PGA sebanyak 1 g, ditambahkan air hinggah 100 ml
b). Untuk Tablet (Hidroklorthiazida, Furosemid, spironolakton)
Timbang obat yang sudah disiapkan
 Gerus obat, lalu ditimbang sesuai perhitungan dosis untuk
tikus, encerkan dengan menambahkan suspense PGA
hinggah 100 ml
 Tikus diambil dari kandangnya, dengan cara diangkat ujung
ekor tikus dengan satu tangan, lalu diletakkan pada tempat
yang permukaannya tidak licin, leher tikus diapit pada jari
telunjuk dan jari tengah, sedangkan kaki kanan tikus diapit
oleh ibu jari dan jari telunjuk, kaki kiri diapit jari tengah dan
jari manis,
 Sondelambung, diambil lalu diisi dengan obat, sesuai jumlah
volume obat (Hidroklorthiazida, Furosemid, spironolakton)
untuk masing-masing tikus, dimasukan kedalam mulut tikus,
lewat mulut bagian kanan, hingga seluruh bagian
sondelambung masuk, lalu obat dalam sondelambung
diinjeksi
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

Jumlah tikus yang digunakan adalah 12 ekor, 3 ekor tikus diberikan


Hidroklorthiazida, 3 ekor Spironolakton, 3 ekor furosemid dan 3 ekor lainnya
diberikan PGA. Berikut adalah hasil pengamatan terhadap tikus-tikus tersebut :

TABEL HASIL PENGAMATAN

1. Tikus yang diberikan Hidroklorthiazida

Tikus II

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - 2 ml -
Urin
Frekuensi - - - - 1 -
Tikus III

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - 2 ml - -
Urin
Frekuensi - - - 1 - -
Tikus IV

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - 1,3 ml - -
Urin
Frekuensi - - - 1 - -
2. Tikus yang diberikan PGA

Tikus I

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -
Tikus IV

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -
Tikus VI

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -

3. Tikus yang diberikan obat Spironolakton

Tikus I

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -
Tikus II

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - 1
Urin
Frekuensi - - - - - 1,2 ml
Tikus III

Waktu 5 10 15 Menit 20 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -

4. Tikus yang diberikan Obat Furosemid

Tikus I

Waktu 5 10 15 Menit 30 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - -
Urin
Frekuensi - - - - - -
Tikus II

Waktu 5 10 15 Menit 30 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume 0,9 ml - - - - -
Urin
Frekuensi 2 - - - - -
Tikus III

Waktu 5 10 15 Menit 30 Menit 45 Menit 60


Menit Menit Menit
Volume - - - - - 2 ml
Urin
Frekuensi - - - - - 1

4.2 PEMBAHASAN

Pada percobaan praktikum farmakologi kali ini adalah percobaan obat


diuretik. Setiap kelompok menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Hewan coba yang akan di gunakan di sini adalah tikus dengan sampel obat Secara
keseluruhan yang digunakan adalah tablet HCT (Hidrochlortiazida) 25 mg, tablet
Spironolakron 25 mg, tablet Furosemida 40 mg,PGA 1% dan Aquadest. Setelah
semua di siapkan dengan baik,lalu mulai menghitung bahan yang akan dibuat dan
yang akan diberikan dalam bentuk suspensi, sesuai dengan berat badan tikus yang
digunakan masing-masing kelompok.

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui daya dan kekuatan suatu obat
diuretik dan juga untuk membandingkan obat diuretik satu dengan yang lainnya.
Adapun alat yang digunakan adalah jarum oral (sonde lambung), batang
pengaduk, gelas kimia, gelas ukur, dan menggunakan 2 timbangan yaitu
timbangan analitik untuk menimbang obat dan timbangan hewan untuk
menimbang berat badan tikus.

 Pemberian obat Furosemid

Pemberian suspensi furosemid secara perlahan serta mengamati dan


mencatat volume atau frekuensi kencing selama 1 jam. Furosemid yang kami
timbang adalah 175 mg, dan kami berikan secara oral pada tikus I sebanyak 3,5
mL, tikus II sebanyak 2,5 mL dan tikus III sebanyak 3 mL. Ternyata efek yang
ditimbulkan setelah memberikan obat furosemid hanya pada tikus III pada menit
ke-60 dengan volume urin 2 mL dan frekuensi I.

 Pemberian obat Spironolakton

Spironolakton yang kami timbang adalah 282 mg, dan diberikan perlahan-
lahan secara oral pada tikus 1 sebanyak 3,62 mL, tikus II sebanyak 3,5 mL, dan
tikus III sebanyak 3,74 mL. Dan efek yang ditimbulkan hanya pada tikus Iiyaitu
pada menit ke 60 dengan volume urin 1,2 mL dan frekuensi 1x.

 Pemberian obat HCT

HCT yang di timbang 151 mg, dan di berikan pelan-pelan secara oral pada
tikus I,II dan III sebanyak 3 ml dan efek yang di timbulkan selama 1 jam setelah
diberikan obat HCT pada tikus I di peroleh volume urine pada menit ke 45
sebanyak 2 ml dengan frekuensi 1x,pada tikus II menit ke 30 di peroleh volume
urine 2 ml dengan frekuensi 1x,pada tikus 3 di peoleh volume urine sebanya 1,3
ml dengan frekuensi 1x pada menit ke 30.

 Pemberian suspensi PGA

Pada pemberian suspensi PGA pada tikus I di berikan sebanyak 2 ml,tikus II


sebanyak 4 ml,dan tikus IIIsebanyak 2 ml dan efek yang di timbulkan selama 1
jam setelah pemberian suspensi PGA yaitu pada tikus I,II dan III tidak ada efek
yang di timbulkan pada hewan coba.

Obat diuretik memiliki efek yang berbeda-beda, yakni yang berdasarkan


penggolongan obatnya:

a. HCT (Hidrochlortiazida) merupakan macam obat diuretik yang termasuk


golongan derivate tiazida, efeknya lebih lemah dan lambat, juga lebih lama
.
b. Spironolakton merupakan obat diuretik yang termasuk golongan diuretika
penghemat kalium. Obat ini memiliki efektivitas yang rendah dan lambat
tetapi karna dalam dosis tinggi yakni 100 mg menyebabkan frekuensi
diuretik yang lebih besar, namun bila obat ini dalam dosis rendah,
sebaliknya dikombinasikan dengn golongan derivate thiazida agar
aktivitasnya meningkat dan dalam praktikum ini yang didapat hasil bahwa
obat ini efeknya lambat, namun frekuensi diuresisnya lama.

c. Furosemida merupakan obat diuretik yang termasuk golongan diuretika


lengkungan. Obat ini berefek kuat dan pesat dengan masa kerja yang
relatif singkat.

Dari hasil pengamatan percobaan di atas, dapat di ketahui hasilnya bahwa


obat diuretik yang paling bagus adalah HCT, hingga pada menit ke-60 frekuensi
kencing mencapai 3 kali dibanding obat yang lain. Padahal bila dilihat dari
penggolongan obatnya tablet Furosemid seharusnya lebih efektif cara kerjannya
dari pada tablet HCT, hal ini dikarenakan beberapa faktor yaitu :

1. Perlakuan hewan coba,pengeluaran urin hewan coba akan


terhambat bila hewan coba dalam keadaan stres.
2. Adanya kesalahan pemberian suspensi, yaitu pada saat pemberian
suspensi jumlah yang diberikan tidak sesuai dari dosis pemberian
karena banyak yang terbuang.
3. Faktor lingkungan, pada suhu dingin sekresi urin bertambah atau
mengalami peningkatan sedangkan pada suhu panas sekresi urin
berkurang.
BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan


sebagai berikut:

1. Cara pengujian obat diuretic dalah dengan mengamati frekuensi urin dan
mengukur volume urin hewan coba yang diber obat diuretic.
2. Kekuatan dieresis dari obat diuretik berturut turut adalah HCT lebih besar
dari Furosemid dan lebih besar dari spironolakton.

5.2 SARAN

1. Dosen
Sebaiknya pak dosen selalu memberikan dukungan untuk mahasiswa/i
agar praktikum berjalan lebih baik lagi.
2. Kepala Lab
Menyiapkan alat pengganti atau alat cadangan dalam praktikum
3. Laboran
Sebaiknya laboran menyiapkan alat praktikum sebelum dimulainya
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Tjay Tan Hoan dan Rahardja Kirana. 2013.OBAT-OBAT PENTING.Jakarta:PT.


Elex Media Komputindo

Depkes RI. 1979. FARMAKOPE INDONESIA EDISI III. Jakarta

Depkes RI. 1995. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV. Jakarta

Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007. FARMAKOLOGI DAN


TERAPI, FKUI. Jakarta
Lampiran

1. PERHITUNGAN DOSIS :
a) HCT (hidroklorthiazida)
 Nama Obat : HCT (hidroklorthiazida)
 Dosis satu kali minum untuk manusia = 25 mg
 Untuk tikus dengan berat 200 gram diberikan obat 4 ml
Berat Total = 1,51 gram
1,51
Berat rata-rata = 10

= 0,151 gram
= 151 mg
Dosis untuk Tikus :
FK×Dosis Manusia
= 0,018 ×25 mg
= 0,45
Berat obat yang harus diambil :
Obat dengan dosis 25 mg memiliki berat 151 mg maka obat
dengan berat 0,45:
0,45
= ×151
25

= 2,718 mg (ditambah air hinggah 4 ml, karena


penimbangan menggunakan timbangan gram, sehingga tidak dapat
ditimbang, maka diencerkan hinggah 100 ml)
Pengenceran :
2,718
= × 100 ml
4 𝑚𝑙

= 67,95 mg
Sehingga timbang 67,95 mg + suspense PGA 1% (1 gram dalam
100 ml)
 maka volume obat yang diberikan :
1. Untuk tikus I :
Berat tikus II =150 gram
Sehingga
150 gram =x
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
150
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3 ml

2. Untuk tikus II :
Berat tikus II =150 gram
Sehingga
150 gram =x
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
150
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3 ml
3. Untuk Tikus III
Berat tikus II =150 gram
Sehingga
150 gram =x
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
150
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3 ml

b) Spironolakton
 Nama Obat : Spironolakton
 Dosis satu kali minum untuk manusia = 25 mg
 Untuk tikus dengan berat 200 gram diberikan obat 4 ml
Berat Total = 2,82 gram
2,82
Berat rata-rata = 10

= 0,282 gram
= 282 mg
Dosis untuk Tikus :
FK×Dosis Manusia
= 0,018 ×25 mg
= 0,45
Berat obat yang harus diambil :
Obat dengan dosis 25 mg memiliki berat 151 mg maka obat
dengan berat 0,45:
0,45
= ×282
25

= 5,076 mg (ditambah air hinggah 4 ml, karena


penimbangan menggunakan timbangan gram, sehingga tidak dapat
ditimbang, maka diencerkan hinggah 100 ml)
Pengenceran :
5,076
= × 100 ml
4 𝑚𝑙

= 126,9 mg
Sehingga timbang 67,95 mg + suspense PGA 1%
 maka volume obat yang diberikan :
1. Untuk tikus I :
Berat tikus I = 181 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
181
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3,62 ml
2. Untuk tikus II
Berat tikus I = 175 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
175
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3,5 ml
3. Untuk tikus III
Berat tikus I = 181 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
187
x= × 4 𝑚𝑙
200

x = 3,74 ml

c) Furozemid
 Nama Obat : Furozemid
 Dosis satu kali minum untuk manusia = 40 mg
 Untuk tikus dengan berat 200 gram diberikan obat 4 ml
Berat Total = 1,75 gram
1,75
Berat rata-rata = 10

= 0,175 gram
= 175 mg
Dosis untuk Tikus :
FK×Dosis Manusia
= 0,018 × 40 mg
= 0,72
Berat obat yang harus diambil :
Obat dengan dosis 40 mg memiliki berat 175 mg maka obat
dengan berat 0,72:
0,72
= ×175
40

= 3,15 mg (ditambah air hinggah 4 ml, karena


penimbangan menggunakan timbangan gram, sehingga tidak dapat
ditimbang, maka diencerkan hinggah 100 ml)
Pengenceran :
3,15
= 4 𝑚𝑙× 100 ml

= 78,75 mg
Sehingga timbang 78,75 mg + suspense PGA 1% (1 gram dalam
100 ml)
 maka volume obat yang diberikan :
1. Untuk tikus I :
Berat tikus I = 175 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
175
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3,5 ml
2. Untuk tikus II
Berat tikus I = 125 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
125
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 2,5 ml
3. Untuk tikus III
Berat tikus I = 150 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
150
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 3 ml
d) PGA
 Nama : PGA
 Konsentrasi yang digunakan 1% (1 g dalam 100 ml air)
Sebagai pembanding
1. Untuk tikus I
Berat tikus I = 100 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
100
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 2 ml
2. Untuk tikus V
Berat tikus I = 100 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga diberikan volume obat sebanyak 4
ml
3. Untuk tikus VI
Berat tikus I = 100 gram
Karena 200 gram = 4 ml
Sehingga :
100
x=200 × 4 𝑚𝑙

x = 2 ml

2. PERHITUNGAN STATISTIC
3. URAIAN OBAT
I. Spironolakton
 Bentuk sediaan : tablet 100 mg dan 25 mg
 Indikasi : Pengobatan hipertensi atau edema yang
refrakter, edema yang disebabkan

 Merupakan penghambat aldosteron. Kerjanya setelah 2-3


hari dan bertahan sampai beberapa hari pula setelah
pengobatan dihentikan. Daya diuretisnya agak lemah, maka
khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika umum
lainnya.

 Resorpsinya di usus tidak lengkap dan diperbesar oleh


makanan. PP nya 98%. Dalam hati, dirombak menjadi
metabbolit aktif antara lain kankeron. T ½ sampai 2 jam,
kankeron 20 jam. Diekskresikan melalui kemih dan tinja.

 Efek samping : pada penggunaan lama dan dosis tinggi,


gangguan potensi dan libido pada pria, sedangkan pada
wanita nyeri buah dada dan gangguan haid.

 Dosis : oral 1-2 kali sehari 25-100 mg pada waktu makan.

II. Furosemid

• Berdaya diuretik kuat dan bertitik kerja pada lengkung henle


bagian atas.
• Resorpsinya di usus hanya k.l 50%, Ppnya k.l 97%. T ½ 30-60
menit. Ekskresinya melalui kemih. Pada dosis tinggi juga melalui
empedu.
• Efek samping : Hipokaliemia (jarang)
• Dosis : Hipertensi : injeksi IV 20-40 mg sampai 500 mg.

III. HCT (hidroklorothiazida)

• Bekerja dibagian muka tubuli distal, efek diuresisnya lebih


ringan dan bertaham lama. Daya hipotensifnya lebih kuat,
sehingga digunakan sebagai pilihan pertama untuk HT ringan
samapai sedang. Pada kasus yang lebih berat, sering
dikombinasikan dengan beta-blokers.
• Resorpsinya di usus 80%, PP k.l 70% dengan t ½ 6-15 jam.
Ekskresinya lewat kemih secara utuh.
• Dosis hipertensi : 12,5 mg pagi p.c, udema 1-2 kali sehari 25-
100 mg, pemeliharaan 25-100 mg 2-3 kali sehari.

Gambar
 Penimbangan bahan
HCT dan PGA
 Suspensi
HCT dan PGA

 Penimbangan hewan