Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN
1.1 Pengertian BPH
BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran prostat yang menyumbat urethra
sehingga menyembabka ngangguan urinarius (hermawan, 2009).
Disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan
kelenjer / jaringan fibro muskuler yang menyebabkan penyumbatan urethra pars prostatika. (
Lab/UPF Ilmubedah RSUD dr. sutomo, 1994).

1.2 Anatomi fisiologi prostat


Anatomi prostat
Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar bledderneck (leher
kandung kemih) dan bagian proksimal uretra , mudah teraba.
Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira – kira 20 gram dengan ukuran rata- rata : panjang
3,4 cm lebar 4,4 cm dan tebal 2,6 cm secara embriologis terdiridari 5 lobus : lobus medius 1
buah, lobus anterior 1 buah , lobus posterior 1 buahdanlobus lateral 2 buah. Padalo busmedius
kadang –kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogeny berwarna
abu – abu , dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut prostat. Pada laki- laki
remaja prostat belum teraba pada colon dubur, sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan
orang tua biasanya mudah teraba. Tambahan unsur kelenjar menghasilkan warna putih abu-
abu andan padat.apabila tonjolan itu ditekan keluar cairan seperti susu. Apabila jaringan
fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu, padat dan tidak mengeluarkan
cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan urethra dari lateral sehingga
lumen urethra menyerupai cela.

1.3 Fisiologi prostat


Prostat ialah suatua alat tubuh yang tergantung pengaruh endrokrin dan dapat dianggap
imbangan (counterpart) dari pada payudara pada wanita. Fungsi kelenjar prostat, menambah
cairan alkalis pada cairan seminalis, yang berguna melindungin spermatozoa terhadap tekanan
yang terdapat pada urethra. Secret kelenjar prostate dalah cairan seperti sus u yang bersama-
sama secret dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen. Semen
berisi sejumlah asamsitrat sehingga pH nya agak asam. Secret prostat dikeluarkan selama
ejakulasi melalui kontraksi otot polos (hermawan, 2009).

1.4 Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belom diketahui. Factor lain yang
erat kaitannya denagn BPH adalah proses penuaan. Mulai ditemukan umur 45 tahun dan
frekuensi makan bertambah sesuai dengan bertambahnya umur, sehingga di atas umur 80 tahun
kira-kira 80% menderita kelainan ini.
Karenaetiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya
hiperplasiprostat menurut Roger Kirby antaralain :
a. Dihydrotesteron
Peningkatan 5 alfa reductase danreseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari
kelenjar prostat mengalami hiperplasi.

b. Perubahan keseimbangan hormone estrogen – tertoteron


Pada proses penuaan pada pria terjad ipeningkatan hormonertrogen dan penurunan
tertoteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.

c. Interaksi stroma epitel


Peningkatan epidermis gorwth factoratau fibroblast growth factor danpenurunan
transforming gerwth factor beta menyebabkan stroma danepitel.

1.5 pathofisiologi
sejarahdengan pertambahan umur, kelenjer prostat akan mengalami hyperplasia, jika prostat
membesarakan meluas keatas (bladder), didalam mempersempit saluran uretra prostatica dan
menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal.
Pada fase awal dari hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan
sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut
sebagai prostat hyperplasia kompensata kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang
dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari mukulus destrusor
menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine didalam buli-buli saat miksi berakhir sering kali
prostat hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra
abdominal ( mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemor hoid puncak
dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya
retensi urine, keadaan ini disebut sebagai prostat hyperplasia dekompensata. pembesaran
prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara
perlahan-lahan. Fase penebalan detrusor ini disebut fase komfensasi. Apabila keadaan berlanjut,
makn detrusor menjadi lelah dan menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan
tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensia urine yang selanjutnya dapat
menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

1.6 gejala klinis


gejala klinis yang ditimbulkan oleh benigne prostat hyperplasia disebut sebagai syndroma
prostatisme. syndroma prostatisme dibagi dua yaitu:
a. gejala obstruktif yaitu :
1. hesitancy yaitu memulai kencing yang lama dan sering kali di sertai dengan
mengejan yang di sebab kan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan
waktu beberapa lama menikatkan tekanan intravesikal guna mengatasi ada nya
tekanan dalam urethra prostatika.
2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang di sebabkan karena
ketidakmampuan otot destrussor dalam mempertahankan tekanan tekanan intra
vesika samapi berakhurnya miksi .
3. Terminal dribling yaitu menetes nya urine pada akhir kencing
b. Gejala iritasi yaitu
1.urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
2. frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasa nya dapat terjadi
pada malam hari (nockturia) dan pada siang hari .
3.disuria yaitu nyeri pada waktu kencing .

1.7 Derajat benigne prostat hyperplasi

BPH berbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya:

a. Derajat I :
1. Keluhan prostatisme.
2. Ditemukan penemuan prostat 1-2 cm, berat ± 20 gram.
3. Sisa urine kurang 50 cc.
4. Pancaran lemah .
5. Nocturia.
b. Derajat II :
1. Keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nocturia, bertambah berat.
2. Panas badan tinggi (menggigil)
3. Nyeri daerah pinggang.
4. Prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50-100 cc dan beratnya ± 20-
40 gram.
c. Derajat III :
1. Gangguan lebih berat dari pada derajat dua.
2. Batas sudah tak teraba.
3. Sisa urune lebih 100 cc.
4. Penonjolan prostat 3-5 cm, dan beratnbya 40 gram.
d. Derajat IV :
1. Inkontenensia
2. Prostatblebih menonjol dari 4 cm.
3. Adanya pengulit keginjal seperti gagal ginjal, hydronefrosis.

Biasanya gejala-gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai lower uninary tract symptom
(LUTS), dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif.

Gejala iritatif yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam (nocturia),
perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria).

Gejala obstruksi adalah pancaran melemah, rasa tidak lampias atau puas sehabis miksi, kalo mau
miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengedan (training), kencing, terputus-putus
(intermmitency) dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urine dan inkontinen
karena overflow.
Sisten skor internasional gejala prostat atau internasianal prostatic symptom scroce (I-PSS).

Dari skor I-PSS itu dikelompokan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:

a. Ringan : skor 0-7


b. Sedang : skor 8-19
c. Berat : skor 20-35

Derajat berat gejala klinis dibagi menjadi 4 gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan
sisa volume urine, seperti bagian bawah:

Derajat Colok dubur Sisa volume urine

I Penonjolan prostat, batas mudah diraba < 50 ml

II Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai 50 – 100 ml

III Batas atas prostat tidak bisa di raba >100 ml

IV Retensi urine

1.8 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS BENIGNA


PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Mengumpulkan data
yang akurat dan sistematis akan membatu penentu status kesehatan dan pola pertahana.
Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi TUR-P dan pengkajain
post operasi TUR-P.

A. Pengkajian pre operasi TRU-P


Pengkajian ini dilakukan sejak klie ini MRS sampai saat ini operasiny, meliputu :
a) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama/kepercayaan, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, no.registrasi dan diagnosa medis.
b) Riwayat penyakit sekarang
Pada klien BPH keluhan –keluhan yang ada adalah frekuensi, nokturia, urgency,
disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas habis miksi, hesitensi, intermitency dan
waktu miksi memanjang dan akhirnya menjadi retensio urine
c) Riwayat penyakit dahulu
Adanya penyakit yang berhubungn dengan saluran perkemihan, misalnya
ISK(infeksi sakuran kencing) yang berulang. Penyakit keronis yang pernah
diderita. Operasi yang pernah dijalanin kecelakaan yang pernah di alamiadanya
riwayat penyakit DM dan hipertensi.
d) Riwayat penyakit keluarga
Adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita
penyakit BPH anggota keluarganya menderita DM, asma atau hipertensi.

e) Riwayat Psikososial
Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul kecemasan.
Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan prosedur pembedahan. Tingkat
kecemasan dapat dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien tentang sakit.
f) Pola fungsi kesehatan
1. Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat
Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan tembakau, penggunaan
obat-obatan, penggunaan alkohol, dan upaya yang bisa dilakukan dalam
mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatanberkala, gizi makanan
yang adekuat).
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah
minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang
mengganggu nutrisi seperti nause, stomatitis, anoreksia dan homiting. Pada
pola ini umumnya tidak mengalami gangguan atau masalah.
3. Pola eliminasi
Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu-ragu,
menetes-netes, jumlah klien harus bangun pada malam hari untuk berkemih,
kekuatan berkemih. Klien juga ditanya apakah mengedan untuk mulai atau
mempertahankan aliran kemih klien ditanya tentang defikasi, apakah ada
kesulitan seperti konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rektum.
4. Pola tidur dan istirahat
Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang berkurang karena
frekuensi miksi yang sering pada malam hari (nokturia). Kebiasaan tidur
memakai bantal atau situasi lingkungan wakti tidur juga perli ditanyakan.
Upaya mengatasi kesulitan tidur.
5. Pola aktivitas
Klien ditanya aktiviasnya sehari-hari, aktivitas penggunaan waktu senggang,
kebiasaan berolahraga. Apakah ada perubahan sebelum sakit dan setelah sakit
dan selama sakit. Pada umumnya aktivitas sebelum poperasi tidak mengalami
gangguan, dimana klien masih memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri.
6. Pola hubungan dan peran
Bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga, pasien lain, perawat atau
dokter. Peran klien dalam keluarga. Apakah klien dapat berperan sebagaimana
mestinya.
7. Pola persepsi dan konsep diri
Informasi tentang perasaan yang dialami atau dirasakan klien sebelum
pembedahan. Biasanya muncul kecemasan.
8. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan penderan dari klien.
Pola kognitif berisi tentang proses berfikir, isi pikiran, daya ingat dan waham.
Pada klien biasanya tidak terdapatgangguan atau masalah pada pola ini.
9. Pola reproduksi seksual
Klien ditanya jumlah anak, hubungan dengan pasangannya, pengetahuan
tentang sek sualitas. Perlu dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang,
masalah seksual yang dialami sekarang (masalah kepuasan, ejakulasi dan
eraksi) dan pola prilaku seksual.
10. Pola penanggulangan stress
Menyakan apa klienmerasakan stress, apa penyebab stress, mekanisme
penanggulangan terhadap stress yang dialami. Pemecahan masalah biasanya
dilakukan bersama. Apakah mekanisme penanggulangan stressor positif dan
negatif.
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama apa, bagaimana dengan aktifitas keagamaannya.
Kebiasaan klie dalam menjalankan ibadah.
g) Pemeriksaan fisik
1. Status kesehatan umum keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara,
status/habitus, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi.
2. Kulit
Apakah tanpak pucat, bagaimana permukaannya, adakah kelaina
pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku klien.
3. Kepala
Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan, nyeri kepala
atau trauma.
 Muka
Bentu simetris atau tidak adakah odema, otot rahang bagaimana
kadannya, begitu pula bagaimana otot mukanya.
 Mata
Bagaimana keadaan alis mata, kelompok mata odema atau
tidak.pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan
perdarahan. Slera tampak ikterus atau tdak.
 Telinga
Ada atau tidak keluarnya secret, serumen atau benda asing.
Bagaimana bentunya, apa ada gangguan pendengaran.
 Hudung
Bentuknya bagaiman, adakah pengeluaran secret, apa ada obsruksi
atau polip, apakah hidung berbau dan adakah pernafasan cuping
hidung.
 Mulut dan faring
Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada
pendarahan atau ulkus. Lidah tremor, parese atau tidak adakah
pembesaran tonsil.
 Leher
Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran
kelenjarlimphe.
 Thorak
Bentuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
a. Paru
Bentuk bagaiman, adakah pencebungan atau penarikan.
Pergerakan, bagaiman suara nafasnya. Apakah ada suara nafas
tambahan seperti ronchi, wheezing atau egofoni.
b. Jantung
Bagaimana pulpasi jantung (tampak atau tidak). Bagaimana
dengan iktus atau getarannya.

 Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen, pada klien dengan keluhan retensi
umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra pubik.
Apakah ada nyeri tekan, tugor kulit, turgornya bagaiman. Pada
klien biasanya terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal
teraba atau tidak. Peristaklit menurun atau meningkat.
 Genitalia dan anus
Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat dapat
terabapada saat rectal touche. Pada klien yang terjadi retensi urine,
apakah terpasang kateter, bagaiman bentuk scrotum dan testisnya.
Pada anus biasanya ada haemorhoid.
 Ekstrimitas dan tulang belakang
Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari-jari tremor apa tidak
apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada
tanda – tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan.
Bentuk tulang belakang bagaimana.
h) Pemeriksaan diagnostic
Untuk pemeriksaan diagnostic sudah dijabarkan penulis pada konsep dasar.
B. Pengkajia post operasi TUR-P
Pengkajian ini dilakukan etelah klien menjalani operasi yang meliputil :
a. Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda-beda antara klien yang satu dengan yang lain.
Kemungkinan keluhan yang tibul pada klien pos operasi TUR-P adalah keluhan
tidak nyaman, nyeri karena spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi
pada waktu pembedahan. Hal ini ditunjukan dari ekpresi klien dan ungkapan dari
klie sendiri.
b. Keadaan umum
Kesadaran, GCS, ekpresi wajah klien, suara bicara.
c. Sistem respirasi
Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas atau tidak.apakah
perlu O2. Frekuensi nafas, irama nafas, irama nafas. Ada weezing dan ronchi atau
tidak. Gerakan bantu otot nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan
perut. Tanda-tanda cyanosis ada atau tidak.
d. Sistem sirkulasi
Yang dikaji: nadi (takikardi/bradikardi , irama), tekanan darah, suhu tubuh, monitor
jantung (EKG).
e. Sistem gastrointestinal
Hal yang dikaji: frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi/obstipasi,
bagaiman dengan bising usus, sudah flatus apa belum, apakah ada mual dan
muntah.
f. Sistem neurology
Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri kepala.
g. Sistem muskuloskeletal
Bagaimana aktivitas klien sehari-hari setelah operasi. Bagaimana kebutuhan
nutrisinya. Apakah terpasang infus dan dibagiamana di pasang serta keadaan
disekitar daerah yang terpasang infus. Keadaan ekstremitas.
h. Sistem eliminasi
Apa ada ketidaknyamanan pada supra publik, kandung kemih penuh. Masih ada
kandungan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada tanda-tanda pendarahan , infeksi.
Memakai kateter jenis apa, irigansi kandung kemih. Warna urine dan jumlah
produksi urine tiap hari. Bagaimana keadaan disekitar daerah pemasangan kateter.
i. Terapi yang diberikan setelah operasi
Infus yang terpasang, obat-obatan seperti antibiotika, analgetika, cairan irigasi
kandung kemih.

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa sebelum operasi
a) Nyeri akut berhubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap pembesaran prostat.
b) Perubahan eliminasi urine : frekuensi, urgensi, hesistancy, inkontinensi,
retensi, nokturia atau perasaan tidak puassetelah miksi berhubungan dengan
obstruksi mekanik: pembesaran prostat.
c) Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, prosedur, pembedahan, kurang
pengetahuan tentang aktivitas rutin dan aktivitas post operasi.

Diagnosa susudah operasi


a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
sekunder pada TUR-P.
b. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi
sekunder dari TUR-P : bekuan darah, edema
c. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
d. Risiko disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten
akibat dari TUR-P.
e. Kurang pengetahuan tentang TUR-P berhubungan dengan kurang
informasi.
3. Rencana keperawatan

Pre operasi

No. Dx. Kep Tujuan Intervensi


Nyeri akut setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (pain manajement):
1. berhubungan keperawatan kepada TN.A - Kaji secara komprehensif tentang nyeri,
dengan selama 2×24 jam dengan klien meliputi: lokasi, karakteristik dan onset, durasi,
penyumbatan dapat: frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri dan
salular 1. Mengontrol nyeri faktor-faktor presipitas.
kencing (pain cantrol) dengan - Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidak
sekuder kriteria haril : nyamanan, khususnya dalam ketidak mampuan
terhadap - Mengenal faktor untuk komunisasi secara efektif.
pembesaran penyebab nyeri. - Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat
prostat. - Onset nyeri. mengekpresikan nyeri.
- Tindakan - Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap
pencegahan. kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan,
- Tindakan aktivitas, mood, hubungan dengan orang lain.
penolongan non- - Kaji pengalaman individu terhadap nyeri,
analgeti. keluarga dengan nyeri kronis.
- Menggunakan - Berikan dukungan terhadap nyeri, keluarga
analgetik dengan dengan nyeri kronis.
tepat. - Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga.
- Mengnal tanda- - Berikan informasi tentang nyeri, seperti:
tanda pencetus penyebab, berapa lama terjadi dan tindakan
nyeri untuk pencegahan.
mencari - Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
pertolongan. (misalnya: relaksasi, guided imegery,terapi
- Melapor gejala- musik,distraksi, aplikasi panas dingin, massase).
gejala kepada - Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan
tenaga kesehatan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
(perawat/dokter). - Modifikasi tindakan mengontrol nyeri
berdasarkan respon klien.
- Monitor kenyamanan klien terhadap manajemen
nyeri.
- Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.
Perubahan Setelah dilakukan tindakan Manegemen eliminasi urine
2. eliminasi keperawatan kepada TN. A - Kaji yang komprehensif mengenai saluran
urine: selama 2×24 jam klien urine, pola berkemih tiap 6 jam .
frekuensi, menunjukan kontinensia urine - Pantau eliminasi, meliputi frekuensi,
urgensi, dengan kriteria hasil: konsistensi, bau,volume dan warna juka perlu.
hesistancy, - Klien menunjukan - Jelaskan kepada klien tentang perubahan dari
retensi, eliminasi urine pola eliminas.
nokturia atau tidak terganggu : - Dorong klien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan
perasaan tidak bau, jumlah, dan bila di rasakan.
puas setelah warna urine dalam - Anjurkan klien minum sampai 3000 ml sehari,
miksi batas normal. dalam toleransi jantung bila diindikasikan.
berhubungan - Klien menunjukan - Pantau tingkat distensi kandung keming melalui
obstruksi batas pengeluaran palpasi dan perkusi.
mekanik: urine tanpa nyeri. - Observasi aliran dan kekuatan urine, ukur residu
pembesaran - Klien dapat urine pasca berkemih. Jika volume residu urine
prostat. berkemih dalam lebih besar dari 100cc maka jadwalkan program
jumlah normal kateterisasiintermiten.
tidak teraba - Monitor laboratorium : urinalisasi dan kultur,
distensi kandung BUN, kreatinin.
kemih. - Ajarkan klien untuk segera berespon terhadap
- Residu pasca keinginan berkemih, jika perlu.
berkemih kurang - Lakukan kateterisasi urine jika perlu.
dari 50ml. - Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
- Dapat berkemih obat: antagonis alfa-adrenergik (prazosi).
volunter.
Menurubkan kecemasan (Anxiety reduction):
3. Cemas Setelah dilakukan tindakan - Gunakan ketenangan pada pendekatan terhadap
berhubungan keperawatan kepada TN.A klien.
dengan selama 2×24 jam klien manpu - Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien
hospitalisasi, mengontrol cemas (anxiety dan perasaan yang mungkin muncul pada saat
prosedur control) dengan kriteria hasil: melakukan tindakan.
pembedahan, - Klien dapat - Berusaha memahami situasi strees yang dialami
kurang merencanakan klien.
pengetahuan strategi koping - Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis
tentang efektif. dan tindakan.
aktivitas rutin - Klien melapor - Temanin klien untuk memberikan kenyamanan.
dan aktivitas tidak ada gejala - Dorong keluarga untuk menemani klien sesuai
post operasi fisik kecemasan. kebutuhan.
- Klien melapor - Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
tidak ada gejala perasaannya.
perilaku akibat - Identifikasi tingkat kecemasan klien.
kecemasan. - Berikan aktivitas hiburan untuk mengurangi
- Klien dapat ketegangan.
meneruskan - Bantu klien untuk mengidentifikasi situasi yang
aktivitas yang menyebabkan kecemasan.
dibutuhkan - Ajarkan klien teknik relaksasi
meskipun ada - Observasi gejala verbal dan non-verbal dari
kecemasan. kecemasan.
- Klien menunjukan
kemampuan untuk
fokus pada
pengetahuan dan
keterampilan yang
baru.
Post operasi

1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (pain management)


berhubungan keperawatan kepada TN.A
dengan selama 2×24 jam klien manpu - Kaji secara komprehensif tentang nyeri,
spasme mengontrol cemas (pain meliputi: lokasi, karakteristik dan onset, durasi,
kandung kontrol) dengan kriteria hasil: frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri dan
kemih dan - Mengnal faktor. faktor-faktor presipitas.
insisi sekunder penyebab nyeri. - Observasi isyarat-isyarat non-verbal dari
pada TUR-P - Onset nyeri. ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidak
- Tindakan mampuan untuk komunikasi secara efektif.
pencegahan. - Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat
- Pertolongan non- mengekpresikan nyeri.
analgetik. - Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap
- Menggunakan kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan,
analgetik dengan aktivitas, mood, hubungan dengan orang lain.
tepat. - Kaji pengalaman individu terhadap nyeri,
- Mengenal tanda- keluarga dengan nyeri kronis.
tanda pencetus - Berikan dukungan terhadap nyeri, keluarga
nyeri untuk dengan nyeri kronis.
mencari - Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga.
pertolongan. - Berikan informasi tentang nyeri, seperti:
- Melapor gejala- penyebab, berapa lama terjadi dan tindakan
gejala kepada pencegahan.
tenaga - Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi
kekesehatan(kera (misalnya: relaksasi, guided imegery,terapi
watan / dokter). musik,distraksi, aplikasi panas dingin, massase).
- Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan
mengontrol nyeri yang telah digunakan.
- Modifikasi tindakan mengontrol nyeri
berdasarkan respon klien.
- Monitor kenyamanan klien terhadap manajemen
nyeri.
Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.

2. Perubahan Setelah dilakukan tindakan Manajemen eliminasi urine


eliminasi urine keperwatan kepada TN.A
berhubungan selama 2×24 jam klien - Kaji output urine dan karakteristiknya .
dengan menunjukkan kontinensia - Pantau eliminasi, meliputi frekuensi,
obstruksi urine dengan kriteria hasil : konsistensi, bau, volume dan warna jika perlu.
sekunder dari - Jelaskan pada klien tentang perubahan dari pola
TUR-P : - Klien eliminasi. Pertahankan irigasi kandung kemih
bekuan darah menunjukan yang konstan selama 24 jam pertama.
edema. eliminasi urine - Pertahankan posisi dower kateter .
tidak terganggu : - anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai
bau, jumlah, dan toleransi.
warna urine dalam - Setelah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah
batas normal. urine dan ukuran aliran.
- Klien dapat - Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih,
berkemih volunter. ketidakmampuan berkemih, urgensi atau gejala-
- Klien akan gejala retensi.
berkemih dalam
dalam jumlah
normal tanpa
retensi.
- Klien akan
menunjukkan
prilaku yang
meningkatkan
kontrol kandung
kemih.
- Tidak terdapat
bekuan darah
sehingga urine
lancar lewat
kateter.

3. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi (infection control)


berhubungan keperawatan kepada TN.A
dengan selam 2×24 jam klien dapat - Bersihkan lingkungan secara tepat setelah
prosedur meningkatkan pertahanan digunakkan oleh klie.
invasif : alat tubuh (immnune status) - Ganti pralatan klien setiap selesai tindakan.
selama dengan kriteria hasih: - Anjurkan klien untuk cici tangan dengan tepat.
pembedahan, - Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan
irigasi - Klien tidak ssebelum dan sesudah meninggalkan ruangan
kandung mengalami klien.
kemih sering. infeksi. - Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
- Klien dengan klien.
menunjukkan - Gunakan sarung tangan steril.
dalam tanda vital - Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda –tanda
batas normal. dan gejala dari infeksi.
- Klien - Anjurkan intake cairan yang cukup (2500-3000)
menunjukkan niali sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.
leukosit dalam - Observasi tanda-tanda vital, laporkan tanda-
batas normal. tanda shock dan deman.
- Klien dapat - Observasi urine : warna, jumlah dan bau.
mencapai waktu - Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat
penyembuhan. antibiotik.
- Klien tidak dapat
menunjukkan
adanya tanda-
tanda shock.

4. risiko disfunsi setelah dilakukan keperawatan Sexual counseling (konseling seksual)


seksual diharapka klien fungsi seksual
berhubungan adekuat dengan kriteria hasil : - Ciptakan hubungan terapeutik yang didasari
dengan oleh rasa percaya.
ketakutan - Klien menunjukan - Berikan privasi dan pastikan kerahasian klien.
akan impoten adanya keinginan - Informasi kepada klien lebih awal bahwa
akibat dari untuk hubungan seksual merupakan bagian dari hidup
TUR-P. mendiskusikan dan keadaan sakit, pengobatan dan strees atau
perubahan pada masalah lain yang dialami klien sering
fungsi seksual. menyebabkan perubahan fungsi seksual.
- Klien meminta - Berikan informasi mengenai fungsi seksual
informasi yang sesuai kebutuhan.
dibutuhkan - Berikan kesempatan bagi klien dan pasangnya
tentang perubahan untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan
pada fungsi secara wajar.
seksual. - Berikan kesempatan pada klen untuk
- Klien tampak memperbincangkan tentang pengaruh TUR-P
rileks dan terhadap seksual.
melaporkan - Dorong klien untuk menanyakan kedokter
kecemasan selama dirawat dirumah sakit dan kunjungan
menurun. dan lanjutan.
- Klien mengatakan
pemahaman
situasi individual.
- Klien menunjukan
keterampilan
pemecahan
masalah.
- Klien mengerti
tentang pengaruh
TUR-P pada
seksual.

5. Kurang Setelah dilakukan tindakan Pendidikan kesehatan :


pengetahuan keperawatan kepada TN.A
disfungsi selam 2×24 jam, klien - Kaji tingkat pengetahuan klien tentang prosedur
seksual mempunyai mempunyai pengobatan yang pasien lakukan.
berhubungan pantangan kegiatan serta - Berikan informasi kepada klien tentang
dengan kebutukan berobat lanjutan kondisinya.
ketakutan dengan kriteria hasil: - Ber ikan informasi tentang tindakan diagnostik
akan impoten yang dilakukan.
akibat dari - Klien akan - Berikan penjelasan untuk mencegah mengedan
TUR-P. melakukan waktu BAB selama 4-6 minggi; dan memakai
perubahan prilaku. peumah tinja untu laksatif sesuai kebutuhan
- Klien (karena mengedan bisa menimbulkan
berpartisipasi pendarahan, pelunak bisa mengurangi
dalam pengobatan. kebutuhan mengedan pada saat BAB)
- Klien mengatakan - Jelaskan tentang prosedur pengobatan yang
pemahaman pada telah dilakukan dan perawat.
pantangan - Jelsakan kepada klen tujuan dari tindakan setiap
kegiatan dan pengobatan.
kebutuhan berobat - Anjurkan intake cairan sekurang-kurangnya
lanjutan. 2500-300 ml/hari untuk mengurangi risiko
infeksi dan gumpalan darah.
- Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.
- Kosongkan kandung kemi apabila kadung
kemih sudah penuh.

4. Pelaksanaan

Hanya denga melakukan prostatektomi yang merupakan reseksi bedah bagian prostat yang
memotong urethra untuk memperbaiki ariran urine dan menghilangkan retensi urinaria akut, ada
beberapa alternatif pembedahan meliputi:

a. Transsurethral Resection Of Prostate (TURP)


Dimana jaringan prostat obtruksi dari lobus media sekitar urethra diangkat dengan
sistoskop/resektoskop dimasukan melalui urethra.
b. Suprapubic / Open Prostatektomi
Dengan diindikasikan untuk massa lebih dari 60g/60cc. Penghambat jaringan prostat
diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih, pendekataan ini
lebih ditunjukan bila ada batu kandung kemih.
c. Retropubic Prostatektomi
Massa jaringan prostat hipertropi (lokasi tinggi bagian pelvis) diangkat elalui insisiabdomen
bawah tanpa pembukaan kandung kemih.
d. Perineal Prosteatektomi
Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi diantara skrotum dan rektu,
prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.

5. evaluasi perawatan

Pre operasi
Diagnosa keperawatan : nyeri akut
a. Klien dapat mengenal faktor penyebab, onset nyeri,tindakan pencegahan dan penanganan
nyeri.
b.Kliem dapat melapor nyeri dan frekuensi nyeri.
c. Klien tidak gelisah, tidak ada perubahanresoirasi, nadi dan tekanan darah.
Diagnosa keperawatan : perubahan eliminasi urine

a. klien menunjukan eliminasi urien tidak terganggu : bau jumlah dan warna urine
dalam batas normal.
b. Klien menunjukan pengeluaran urine tanpa nyeri
c. Klien dapat berkemih dalam jumlah normal, tidak teraba distensi kandung kemih.

Diagnosa keperawatan: kecemasan

a. Klien melaporkan penggunaan teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan.


b. Klien dapat mempertahankan hubungan sosial.
c. Klien melaporkan tidur yang adekuat.
d. Klien dapat menurunkan stimulus lingkungan ketika cemas.

Post operasi
Diagnosa keperawatan : nyeri akut
a. Klien dapat mengnal faktor penyebab, onset nyeri, tindakan pencegahan dan penanganan
nyeri.
b. Klien dapatkan melaporkan nyeri, frekuensi nyeri.
c. Klien tidak gelisa, tidak ada perubahan respirasi, nadi dan tekanan darah.

Diagnosa keperawatan : perubahan eliminasi urine


a. Klien menunjukan eliminasi urine tidak terganggu : bau jumlah dan warna urine dalam
batas normal.
b. Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi.
c. Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih.
d. Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.

Diagnosa keperawatan : risiko infeksi


a. Klien tidak mengalami infeksi.
b. Klien menunjukan tanda vital dalam batas normal.
c. Klien menunjukan nilai leukosit dalam batas normal.
d. Klien dapat mencapai waktu penyembuhan.
e. Klien tidak menunjukkan adanya tanda-tanda shock.