Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) secara tradisional di definisikan sebagai
periode 6 minggu segera setelah lahirnya bayi dan mencerminkan periode
saat fisiologi ibu, terutama sistem reproduksi, kembali mendekati keadaan
sebelum hamil. Hal ini mungkin berakar dari tradisi “chuching”, yaitu
upacara keagamaan ketika wanita diterima yaitu pada periode 40hari saat
mana mereka dianggap tidak bersih. Seiring dengan meningkatkan
dominasi bidang medis, akhir masa nifas ditandai oleh pemeriksaan pasca
postpartem wanita yang bersangkutan dengan dokter. Hal ini
menyebabkan penjelasan tradisional tentang masa nifas terstruktur sebagai
periode pemulihan ibu, didukung oleh medikalisasi kehamilan menjadi
suatu keadaan medis. Bidan bertanggung jawab mempertahankan
pengawasan yang cermat terhadap perubahan fisiologis pada masa nifas
dan mengenali tanda-tanda keadaan patologis.
Selama masa nifas,terjadi penurunan yang mencolok kadar
estrogen dan progesteron dalam sistem ibu. Penurunan konsentrasi hormon
steroid mempermudah inisiasi laktasi dan memungkinkan sistem fisiologis
kembali ke pra hamil. Pada kenyataannya masa nifas seyogyanya
digambarkan sebagai transisi. Masa ini dimulai saat lahirnya bayi dan
rahimnya saat kembalinya fertilitas. Namun, wanita tidak kembali ke
keadaan fisiologis dan anatomis yang sama. Masa nifas juga, dalam
konteks sosial, mencerminkan banyak transisi bagi orang tua, anak, dan
anggota keluarga yang lain. Banyak perubahan fisiologis dalam masa
nifas, misalnya dalam pembentukan keterampilan menjadi orangtua,
laktasi pemberian makan, dimodifikasi oleh interaksi sosial dahulu dan
sekarang individu dalam situasi keluarga yang baru. (Jane Coad,Melvyn
Dunstall : 2007).

1
Adanya asuhan masa nifas ini dapat menurunkan angka kematian
dan kesakitan. Penatalaksanaan asuhan kebidanan yang menyeluruh teratur
akan meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan yang bermutu pada ibu
dimasa nifas. Serta pelayanan di tujukan juga untuk memantau tanda-tanda
bahaya nifas serta kemungkinan-kemungkinan tanda bahaya yang akan
terjadi. Masa nifas dalam konteks sosial, mencerminkan banyak transisi
bagi orang tua, anak dan anggota keluarga yang lain.

Serta bidan juga berperan penting dalam pemberian asuhan yankes


terhadap ibu masa nifas seperti promotor ASI eksklusif pada ibu serta ibu
dapat memperaktekan dengan anaknya menggunakan metode yang telah
di ajarkan secara baik dan benar.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara memeberikan kenyamanan pada ibu ?
2. Bagaimana cara membantu ibu dalam menyusui bayinya?
3. Apa saja fasilitas untuk menjadi orang tua?
4. Apa saja yang menjadi persiapan pasien pulang ?
5. Apa yang dimaksud dengan anticipatory guidance?
6. Bagaimana cara mendeteksi dini komplikasi masa nifas dan cara
penanganannya?
7. Apa saja yang termasuk healt education?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara memeberikan kenyamanan pada ibu
2. Untuk mengetahui cara membantu ibu dalam menyusui bayinya
3. Untuk mengetahui fasilitas untuk menjadi orang tua
4. Untuk mengetahui Apa saja yang menjadi persiapan pasien pulang
5. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan anticipatory guidance
6. Untuk mengetahui cara mendeteksi dini komplikasi masa nifas dan
cara penanganannya
7. Untuk menegtahui apa saja yang termasuk healt education

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Memberikan kenyamanan pada ibu


Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010 di Indonesia
pemberian ASI baru mencapai 15,3% dan pemberian susu formula meningkat tiga
kali lipat dari 10,3% menjadi 32,5%, sementara itu target pemerintah untuk
pemberian ASI adalah 80%, angka ini cukup memprihatinkan karena kesadaran
masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah ,
termasuk kurangnya pengetahuan ibu hamil, keluarga, akan pentingnya ASI
(Dwiharsono, 2011).
Sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih
dini, karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti
cara menaruh bayi di payudara ketika menyusui, isapan yang mengakibatkan
puting terasa nyeri dan masih banyak lagi masalah yang lain. Dalam proses laktasi
sering kali terjadi kegagalan baik dari bayi maupun ibu. Salah satu faktor dari ibu
yaitu cara menyusui yang tidak benar dapat menyebabkan putting susu nyeri, lecet
dan payudara bengkak. Hal ini dapat menimbulkan gangguan dalam proses
menyusui, sehingga pemberian ASI menjadi tidak adekuat, dan menyebabkan
kekurangan nutrisi pada bayi dan abyi rentan terhadap penyakit yang pada
akhirnya menyebabkan kematian bayi khususnya bayi baru lahir.
Oleh karena itu ibu-ibu memerlukan bantuan agar proses menyusui lebih
berhasil. Banyak alasan yang ditemukan oleh ibu-ibu yang tidak menyusui bayinya
antara lain ibu tidak memproduksi ASI yang cukup, melainkan karena ibu kurang
percaya diri bahwa ASI nya cukup untuk bayinya. Sehingga informasi mengenai
cara menyusui yang benar dapat membantu ibu agar dapat menyusui lebih berhasil,
sehingga bayi menghisap dengan baik dan produksi ASI cukup, serta dengan cara-
cara menyusui yang baik dapat memberikan kenyamanan dalam menyusui,
mencegah gangguan pada putting susu ibu, sehingga bayi mendapatkan cukup ASI,
terhindar dari berbagai penyakit infeksi (Marmi, 2012).
Teknik menyusui

3
Menyusui adalah hal yang mendasar bagi kesehatan dan perkembangan
anak, dan penting untuk kesehatan ibunya. Hanya ASI yang dibutuhkan bayi
selama 6 bulan pertama kehidupannya, WHO dan UNICEF merekomendasikan
agar anda hanya memberikan ASI saja, sejak dari lahir hingga 6 bulan, setelah 6
bulan mulai pemberian makanan tambahan pendamping ASI sambil terus
menyusui bayinya hinnga usia 2 tahun adalah standar emas pemberian makanan
pada bayi.

Tips cara menyusui yang sukses

Posisi

Menyusui yang tepat merupakan elemen penting dalam keberhasilan menyusui,


ibu dapat memilih posisi menyusui sambil duduk atau berbaring, yang
diperhatikan kenyamanan bagi ibu dan memudahkan bayi mencapai payudara.

a. Posisi yang benar didapat dengan cara :


 Topang badan bayi, terutama leher, bahu dan bokong , pastikan
kepala, lengan dan badan bayi berada pada satu garis lurus
 Bayi didekap berhadapan dengan ibu, perut bayi menempel dengan
perut ibu
 Kepala bayi lebih rendah dari payudara ibu
 Bayi mendekat ke payudara, hidung berhadapan dengan putting
b. Posisi ibu dan bayi yang benar saat menyusui
1) Berbaring miring
Ini posisi yang baik uantuk pemberian ASI yang petama kali atau bila
ibu merasa lelah atau merasa nyeri.
2) Duduk
Posisi ini penting untuk membarikan topangan atau sandaran pada
punggung ibu, dalam posisinya tegak lurus (90 derajat ) terhadap
pangkuannya.
c. 5 jenis posisi yang aman untuk bayi menyusui
1) Posisi mendekap

4
Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Pastikan punggung
ibu benar-benar mendukung posisi ini . jaga bayi di perut ibu, sampai
kulit ibu dan kulit bayi bersentuhan.
2) Posisi mendekap silang
Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang satu lagi mendukung
kepala, posisi menyusui ini bagus untuk ibu dengan putting susu kecil
3) Posisi sepak bola
Caranya pegang bayi di samping ibu dengan kaki dibelakang ibu dan
bayi tersilap di bawah lengan ibu.
4) Posisi duduk
Ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi
duduk. Caranya bayi duduk tegak dengan kaki mengangkangi ibu
5) Posisi berbaring
Menyusui dengan posisi berbaring akan memberi ibu lebih banyak
kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada
malam hari. Pastikan bahwa bayi menyentuh perut ibu.

B. Membantu ibu menyusui bayinya


Posisi ibu dan bayi yang benar saat menyusui
1. Berbaring miring. Posisi ini adalah posisi yang amat baik untuk pemberian
ASI yang pertama kali atau bila ibu merasa lelah dan merasa nyeri.
2. Duduk penting untuk memberi topangan atau sandaran pada punggung ibu
dalam posisinya tegak lurus ( 90 derajat terhadap pangkuannya ).ini
mungkin dapat dilakukan dengan duduk bersila diatas tempat tidur atau
dilantai, atau duduk dikursi.
3. Berbaring miring atau duduk ( dengan punggung dan kaki ditopang )akan
membantu bentuk payudara dan memberi ruang untuk mengerakkan
bayinya keposisinya yang baik
4. Badan bayi harus dihadapkan ke arah badan ibu dan mulutnya bayi
dihadapkan keputing susu ibu. Leher bayi harus sedikit ditengadahkan

5
5. Bayi sebainya ditopang pada bahunya sehingga posisi kepala yang agak
tegadah dapat dipertahankan. Posisikan birbir bawah paling sedikit 1,5 cm
dari pangkal puting susu. Bayi harus mengulum sebagian besar areola,
bukan hanya ujung putingnya. Hal ini akan memungkinkan bayi menarik
sebagian dari jaringan payudara masuk kedalam mulutnya dengan lidah dan
rahang bawah. Bila diposisikan dengan benar, bayi akan membentuk suatu
pentil dari jaringan puting susu dan payudara, dan sinus laktiferus sekarang
akan berada didalam rongga mulut bayi. Puting susu akan masuk sampai
langit-langit tersebut. Sentuhan ini akan merangsang refleks pengisapan.
6. Bayi harus ditempatkan dekat dengan ibunya dikamar yang sama ( rawat
gabung, rooming-in ). Dengan demikian, ibu dapat dengan menyusui
bayinya. Ibu harus belajar mengenali tanda-tanda yang menunjukkan
bahwa bayinya lapar.
7. Pemberian ASI pada bayi sesering mungkin. Biasanya bayi baru lahir ingin
minum ASI setiap 2-3 jam atau 10-12 kali dalam 24 jam. Bila bayi tidak
minta diberi ASI, anjurkan ibu untuk memberi ASInya pada bayi
setidaknya 4 jam. Namun, selama 2 hari pertama sesudah lahir, beberapa
bayi tidur panjang selama 6-8 jam.
8. Hanya berikan kolostrum dan ASI. Makanan lain termasuk air dapat
membuat bayi sakit dan menurunkan persedian ASI. Ibu memproduksi ASI
bergantung pada seberapa banyak ASI-nya diisap oleh bayi.
9. Hindari susu botol dan dot empeng
10. Susu botol dan empeng membuat bayi bingun dan dapat membuatnya
menolak puting ibunya atau tidak mengisap dengan baik.mekanisme
menghisap botol atau empeng berbeda dari mekanisme menghisap puting
susu pada payuda ibu. Hal ini akan membingunkan bayi. Bila bayi diberi
susu botol atau empeng, ia akan lebih susah belajar menghisap ASI ibunya.

C. Memfasilitasi menjadi orang tua


Stelle dan Pollack (1986) menyatakan bahwa mnejadi orangtua merupakan
suatu proses yang terdiri dari dua komponen. Komponen tersebut ada yang bersifat

6
praktis dan mekanis (keterampilan kognitif dan motorik), yang kedua bersifat
emosional (keterampilan afektif dan kognitif).
Perilaku orang tua mempengaruhi ikatan kasih sayang perilaku yang
memfasilitasi meliputi :
1. Menatap, mencari ciri khas anak
2. Kontak mata
3. Memberi perhatian
4. Menganggap anak sebagai individu yang unik
5. Menganggap anak sebagai anggota keluarga
6. Memberi senyuman
7. Berbicara / bernyanyi
8. Menujukan kebanggan pada anak
9. Menunjukan anak pada acara keluarga
10. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak
11. Bereaksi positif terhadap perilaku anak
Perilaku yang penghambat meliputi :
1. Menjauhi dari anak, tidak memperdulikan kehadiranyan, menghindar,
menolak untuk menyentuh anak
2. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga, tidak memberi nama
3. Menggangap anak sebagai sesuatau yang tidak disukainya
4. Terburu-buru dan menyusui
5. Tidak menggenggam jarinya
6. Menunjukan kekecewaannya pada anak,tidak berusaha memenuhi
kebutuhannya

Komunikasi antara orang tua dan bayi dapat berupa :


 Menyentuh, yang dapat terjadi pada waktu menyusui,
memeluk,membuai,dan mengusap tubuh dengan lembut.
 Kontak mata, yang dilakukan terus-menerus face to face ( wajah ibu dan
bayi sejajar 20 cm ).
 Suara bentuk respons bayi terhadap suara yang didengarnya

7
 Bau ciri khas bau bayi dan ibunya.
 Penyerapan. Umpan balik yang positif antara orang tua dan bayi untuk
komunikasi
 Timbal balik dan sinkronisasi
D. Persiapan pasien pulang
a) Yakinkan ibu dan bayi tidak mengalami masalah dalam masa ini. Kebutuhan
bayi dan ibu terpenuhi dengan meninjau kembali catatan/rekam medis ibu dan
bayi untuk melihat hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dsb. Obat-obatan
yang diberikan ataupun yang akan dibawa pulang harus ditinjau kembali.
b) Bila ibu lahir di rumah sakit. Dokter hanya dibutuhkan dalam perencanaan
pulang seorang ibu dan bayi yang mengalami komplikasi persalinan atau pada
awal masa pasca persalinan.
c) Berikan informasi mengenai kebutuhan dan perawatan ibu dan bayi selama
dirumah. Informasi mengenai tanda bahaya dan saat dimana ibu harus
menghubungi tenaga kesehatan (Bidan) dan bagaimana cara menghubunginya.
d) Informasi yang lengkap mengenai pendidikan kesehatan ibu dan bayi harus
ditinjau kembali apakah ibu benar-benar mengerti atau tidak.
e) Berikan kesempatan pada ibu atau keluarga untuk dapat menghubungi bidan
atau petugas kesehatan terkait kapan saja ibu memerlukan (misalnya: Lewat
telepon).
f) Bila lahir dirumah sakit pastikan semua administrasi sudah lengkap, benda-
benda ibu sudah disiapkan untuk dibawa pulang, gelang ibu dan bayi diperiksa
untuk menyamakan identitas.
g) Ingatkan ibu kapan harus control kerumah sakit atau klinik.
h) Sebagian besar ibu walaupun ibu lahir di rumah sakit terutama yang berasal
dari rujukan bidan komunitas, maka perawatan ibu dan bayi akan dikembalikan
pada bidan dikomunitas, dengan surat rujukan balik/resume hasil perawatan ibu
dan bayi diberikan pada bidan yang akan merawatnya dirumah. Dan ingatkan
ibu atau keluarga agar segera menghubungi bidan tersebut sesampainya
dirumah.

8
D. Anticipatory guidance
1. Pengertian
Adalah upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan
sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan
sesuai dengan usia anak. Kecelakaan merupakan penyebab utama pada
kematian anak. Kepribadian adalah faktor pendukung terjadinya kecelakaan.
Orang tua bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak, menyadari
karakteristik perilaku yang menimbulkan kecelakaan waspada terhadap faktor-
faktor lingkungan yang mengancam keamanan anak(Yupi, 2004). Dengan
demikian, dalam upaya memberikan bimbingan dan arahan pada masalah-
masalah yang kemungkinan timbul pada setiap fase pertumbuhan dan
perkembangan anak, ada petunjuk-petunjuk yang perlu di pahami orang tua.
Dengan demikian, orang tua dapat membantu untuk mengatasi masalah anak
pada setiap fase pertumbuhan dan perkembangan dengan cara yang benar dan
wajar (Nursalam dkk 2008).
2. Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan
Faktor pertama yang menyebabkan kecelakaan pada anak adalah jenis kelamin,
biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktrif di rumah. Faktor kedua
yaitu usia, pada kemampuan fisik da kognitif, semakin besar akan semakin
tahu mana yang bahaya. Faktor ketiga adalah lingkungan, adanya penjaga atau
pengasuh cenderung dapat mengurangi angka kejadian kecelakaan pada anak
(Yupi, 2004).
3. Panduan antisipasi
a. Bayi (Nursalam dkk, 2008)
Jenis kecelakaan: aspirasi benda, jatuh, luka bakar, keracunan, kurang
oksigen.
Pencegahan:
- Aspirasi : posisikan kepala bayi lebih tinggi saat menyusui.
- Lurang oksigen ; ibu jangan menyusui bayi dengan posisi tidur,
sebaiknya saat menyusui posisi ibu duduk.

9
- Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restrain), jangan meletakan bayi
di kursi atau tempat yang terlalu tinggi.
- Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
- Keracunan : simpan bahan beracun dilemari atau jauh dari jangkauan.

Antisipasi 6 bulan pertama

- Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal dalam memenuhi


kebutuhan bayi.
- Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap
stimulasi dari lingkungan.
- Support kesenangan orang tua dalam melihat pertumbuhan dan
perkembangan bayinya misalnya respon tertawa.
- Menyiapkan orang tua untuk kebutuhan keamanan bayi.
- Menyiapkan orang tua untuk imunisasi bayi.
- Menyiapkan orang tua untuk mulai memberi makanan padat pada bayi.

Antisipasi 6 bulan kedua

- Menyiapkan orang tua akan adanya “stranger anxiety”


- Menganjurkan orang tua agar anak dekat kepadanya hindari perpisahan
yang lama.
- Membimbing orang tua agar menerapkan disiplin sehubungan dengan
meningkatnya mobilitas bayi.
- Menganjurkan orang tua menggunakan kontak mata dari pada hukuman
badan sebagai suatu disiplin
- Menganjurkan orang tua untuk lebih banyak meberikan perhatian
kepada bayi berkelakuan baik daripada ketika bayi menangis.
b. Balita (1-3 tahun)
Pada usia balita atau pada masa prasekolah awal, ada 2 masalah penting
yang terjadi yaitu “latihan pipis dan buang air besar(toilet training)” dan
“persaingan dengan saudara kandung (sibling rivarly)”. Oleh karena itu,
sebelum membahas tentang petunjuk bimbingan yang diperlukan, akan

10
dijelaskan terlebih dahulu mengenai toilet training dan sibling rivarly agar
dapat membantu orang tua memahami permasalahan anaknya mengenai
fungsi eliminasi (Nursalam dkk,2008)
- Toilet training
Adalah latihan atau upaya yang harus dicapai oleh anak dalam
mengenali dorongan untuk melepaskan atau menahan BAB dan BAK,
serta mampu mengkomunikasikan kepada ibunya. Pada waktu itu, anak
sudah menguasai kemampuan motorik utama yaitu berkomunikasi
dengan jelas, memliki lebih sedikit komplik antara tuntutan diri sendiri
dengan negatifisik, dan menyadari kemampuanya untuk mengendalikan
diri ( Nursalam dkk, 2008)
- Sibling rivalry
Sibling rivarly atau persingan antara saudara kandung adalah perasaan
cemburu yang biasanya dialami oleh seorang anak terhadap kehadiran
saudara kandungnya. Perasaan tersebut timbul bukan karena benci
terhadap saudara kandungnya, akan tetapi lebih pada perubahan situasi
dan kondisi. Anak harus berpisah dengan ibu semenjak masa kehamilan
ibu, oleh karena itu orang tua harus menjelaskan kepada anak tentang
hadirnya saudara baru serta mengikutsertakan anak dalam memenuhi
keperluan saudaranya yang kan segera lahir (Nursalam dkk,2008)
Bimbingan kepada orang tua selama balita dikelompokkan berdasarkan
kelompok usia sebagai berikut ( Nursalam dkk,2008)
a) Umur 12-18 bulan ( 1-1,5 tahun)
1. Mengkaji kebiasaan makan serta meningkatkan pemasukan
makanan padat
2. Menyediakan makanan kecil antara 2 waktu makan dengan
rasa yang disukai, serta adanya jadwal makan yang rutin
3. Mengkaji pola tidur malam, terutama kebiasaan minum
malam memakai botol yang merupakan penyebab utama
gigi berlubang

11
4. Menyiapkan orang tua untuk mencegah bahaya potensial
yang terjadi di rumah seperti jatuh
5. Mendiskusikan mainan baru yang dapat mengembangkan
motorik halus, motorik kasar bahasa, pengetahuan, dan
keterampilan sosial.
b) Umur 18-24 bulan (1,5-2 tahun)
1. Menggali kebutuhan untuk menyiapkan saudara kandung
dan menekankan pentingnya persiapan anak terhadap
kehadiran bayi baru
2. Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap gigi,
serta kebiasaan makan yang menyebabkan gigi berlubang.
3. Mendiskusikan tanda-tanda kesiapan toilet training.
4. Mendiskusikan berkembangnya rasa takut, seperti saat
gelap dan saat timbul suara keras.
5. Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah sesaat dengan
mudah dari orang tuanya di bawah asuhan keluarga.
c) Umur 24-36 bulan (2-3 tahun)
1. Mendiskusikan penting nya kebutuhan anak dalam meniru
dan dilibatkan dalam kegiatan.
2. Mendiskusikan kegiatan yang dilakukan dalam toilet
training dan sikap orang tua dalam menghadapi keadaan-
keadaan seperti mengompol atau BAB dicelana.
3. Menekaankan keunikan proses berfikir balita, terutama
bahasa yag digunakan, serta pemahaman terhadap waktu.
4. Menekankan disiplin dengan tetap terstruktur secara benar
dan nyata, ajukan alasan yang rasional, serta hindari
kebingungan salah pengertian.
5. Mendiskusikan aanya taman kanak-kanak atau pusat
penitipan anak pada siang hari (play grup).
c. Prasekolah (3-6 tahun)

12
Kecelakaan pada anak prasekolah sering kali mengakibatkan
kondisi yang fatal pada anak, yaitu kematian. Kondisi yang dimaksud,
diantaranya tertabrak motor atau mobil, luka bakar, keracunan, jatuh,
dan tenggelam. Kondisi tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi apabila
orang tua memahami tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak,
khususnya anak prasekolah. Pemahaman tentang pentingnya antisipasi
terhadap bahaya yang dapat muncul karena aktivitas gerak yang khas
dari anak usia prasekolah, yaitu tidak bisa diam dan bergerak terus
(Yupi, 2004)
Oleh karena itu, orangtua harus diberi pengertian tentang bahaya
yang dapat terjadi pada anak. Tidak hanya orangtua, anak pun perlu
diberikan pemahaman tentang cara melindungi diri dari kecelakaan,
daan hubungan sebab akibat dari perbuatan berisiko untuk terjadi
kecelakaan. Tentu saja cara penyampaian informasi harus
menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti anak.
a) Anak usia 3 tahun
 Benda tajam atau benda dapur dapat disimpan di dalam laci
yang dapat dikunci sehingga tidak dapat di buka anak.
 Zat yang berbahaya, seperti obat-obatan, cairan lantai,
pestisida ,lem dan lainnya agar tersimpan dalam laci
terkunci.
 Amankan kompor dan berikan penutup yang aman.
 Jaga agar lantai rumah selalu bersih dan kering.
b) Anak usia 4 tahun (Nursalam dkk, 2008)
 Perilaku lebih agresif termasuk aktifitas motorik dan
bahasa.
 Mendiskusikan tentang kedisiplinan.
 Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi
anak.
c) Anak usia 5 tahun
 Menyiapkan anak memasuki lingkungan sekolah.

13
 Meyakinkan bahwa usia tersebut merupakan periode
tenang pada anak.
 Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum anak
masuk sekolah.
d. Usia sekolah (Nursalam, 2008)
Bimbingan pada orang tua pada usia sekolah :
a. Anak usia 6 tahun
 Bantu orang tua untuk memahami kebutuhan mendorong
anak berinteraksi dengan temannya.
 Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama
naik sepeda.
 Siapkan orang tua akan peningkatan ketertarikan keluar
rumah.
b. Usia 7-10 tahun
 Menekankan untuk mendorong kebutuhan akan
kemandirian.
 Interes beraktifitas di luar rumah.
 Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita memasuki
pra pubertas.
c. Usia 11-12 tahun
 Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan
tubuh saat pubertas.
 Anak wanita mengalami pertumbuhan cepat.
e. Remaja (Yupi, 2004)
Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada
kepala, kecelakaan karena olahraga.
E. Deteksi Dini Komplikasi Pada Masa Nifas Dan Penanganannya
Masa nifas merupakan masa yang rawan bagi ibu, sekitar 60% kematian terjadi
setelah melahirkan danhampir 40% dari kematian pada mas nifas terjadi 24 jam
pertama setelah persalinan, diantaranya disebabkan komplikasi kehamilan pada
masa nifas.

14
Patologi yang sering terjadi pada masa nifas adalah pendarahaan pada masa nifas,
infeksi pada masa nifas, sakit kepala, nyeri epigastrik, penglihatan kabur, dan
pembengkaan diwajah atau ekstermitas atas. Beberapa kemungkinan komplikasi
nifas dapat dideteksi oleh bidan secara dini melalui observasi, wawancara maupun
persalinan.

1. Pendarahan pervaginam
Pendarahan pasca persalinan adalah pendarahan pervaginam yang
melebihi 500ml melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan kala
III. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar
hemoglobin ibu. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami
akibat fatal dari kehilangan darah. Pendarahan dapat terjadi dengan lambat untuk
jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadinya
syok.
a. Klasifikasi klinis
1) Pendarahan pasca-persalinan primer (early postpartum haemorrhage, atau
pendarahan pasca-persalinan segera)
2) Terjadi 24 jam pertama, akan tetapi lebih banyak terjadi pada 2 jam
pertama. Penyebab utama pendarahan pasca-persalinan primer adalah
atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir.
3) Pendarahan pasca-persalinan sekunder (last postpartum haermorrhage
atau pendarahan pasca-persalinan lambat)
4) Pendarahan pasca-persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama.
Penyebab utama pendarahan sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa
plasenta.
b. Penyebab perdarahan pasca-persalinan
1) Atonia uteri
Pada atonia uteri uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan.
Presdisposisi (mungkin atau rentan) atonia uteri diantanya :
a) Grandemultipara

15
b) Uterus yang terlalu renggang (hindramnion, hamil ganda, anak
besar BB>4000 gr)
c) Kelainan uterus (uterus biconis, mioma uteri, bekas operasi)
d) Plasenta previa dan solution plasenta (pendarhan postpartum)
e) Partus lama (partus precipitatus)
f) Hipertensi dalam kehamilan (gestosis)
g) Infeksi uterus
h) Anemia berat
i) Pengguanan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi
partus)
j) Riwayat pendarahan pasca-persalinan sebelumnya atau riwayat
plasenta manual plasenta.
k) Pimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan
mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepas.
l) IUFD yang sudah lama, penyakit hati, emboli air ketuban
(koagulopati)
m) Tindakan operatif dengan anaestesi yang terlalu dalam
2) Robekan jalan lahir
Merupakan penyebab kedua tersering dari pendarhaan pasca-persalinan.
Perndarahan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan
oleh robekan serviks atau vagina.
a) Robekan serviks
Robekan serviks yang luas menimbulkan pendarhaan dan dapat
menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi pendarhaan
yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan
uterus sudah berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan
lahir, khususnya robekan serviks uteri.
b) Perlukaan vagina
Tidak sering tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi
dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar.

16
Robekan terdapat pada dingding lateral dan pada baru terlihat pada
pemeriksaan speculum.
 Kolpaporeksis
Kolpaporeksis adalah robekan melintang atau miring pada
bagian atas vagina. Hal ini juga bisa timbul apabila
tindakan pervaginam dengan memasukan tangan penolong
kedalam uterus terjadi kesalahan, dimana fundus uteri tidak
ditahan oleh tangan luar untuk mencegah uterus naik ke
atas.
 Fistula
Sistula akibat pembedahan vaginal makin lama makin
jarang karena tindakan vagina yang sulit untuk melahirkan
anak banyak diganti dengan section caesarea. Fistula dapat
terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang
menembus kandung kemih atau rectum, misalnya oleh
perforator atau alat untuk dekapitasi, atau karena robekan
serviks menjalar ke tempat tempat tersebut. Jika kandung
kemih luka, urine segara keluar melalui vagina. Fistula
dapat berupa fistula vesikovaginalis atau rektovaginalis.
c) Robekan perineum
Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa
menjadi luas apabila jalan lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis
lebih kecil dari pada biasnya, kepala janin melewati pintu bawah
dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia
suboksipito bregmatika.
3) Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah belum lahirnya plasenta ½ jam setelah anak lahir.
Apabila terjadi pendarahan, maka plasenta dilepaskan secara manual
terlebih dahulu, tetapi jika tidak terjadi pengeluaran darah harus dilakukan
rujukan untuk dilakukan histerektomi.
4) Tinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta)

17
Keadaan dimana suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus)
tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan
keadaan ini dapat menimbulkan pendarahan. Tetapi mungkin saja pada
beberapa keadaan tidak ada pendarhan dengan sisa plasenta.
5) Inversion uteri
Merupakan komplikasi kala III persalinan yang sangan akstrem. Inversion
uteri terjadi dalam beberapa tingkatan, mulai dari bentuk ekstrem berupa
terbaliknya uterus sehingga bagian dalam fundus uteri keluar melalui
serviks dan berada diluar seluruhnya.
Secara patologi, inversion uteri dapat terjadi pada kasus pertolongan
persalinan kala III aktif khususnya bila dilakukan penarikan tali pusat
terkendali pada saat masih belum ada kontraksi uterus dan keadaan ini
termasuk klarifikasi tindakan iatrogenic.
Faktor yang berhubungan dengan inversion uteri :
o Riwayat inversion uteri pada persalinan sebelumnya
o Implantasi plasenta dibagian fundus uteri
o Atonia uteri
o Penatalaksanaan kala III aktif yang salah

c. Gejala klinis
1) Atonia uteri
Gejala dan tanda yang selalu ada :
 Uterus tidak berkontraksi dan lembek
 Pendarahaan segera setelah anak lahir (pendarahaan pasca-
persalinan primer). Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada :
syok (tekanan darah yang rendah, denyut nadi cepat dan kecil,
ekstermitas dingin, gelisah, mual dll).
2) Robekan jalan lahir
Gejala dan tanda slalu ada :
- Pendarahan segera
- Darah segar yang mengallir segera setelah bayi lahir

18
- Uterus kontraksi yang baik
- Plasenta baik
Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada :
- Pucat
- Lemah
- Mengigil
3) Retensio plasenta
Gejala dan tanda slalu ada :
- Plasenta belum lahir setelah 30 menit
- Pendarahan segera
- Uterus berkontraksi baik
Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada :
- Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
- Inversion uteri akibat tarikan
- Pendarhaan lanjutan
4) Tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta)
Gejala dan tanda yang slalu ada :
- Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah)
tidak lengkap
- Pendarahan segera
Gejala dan tanda kadang-kadang ada : uterus berkontraksi tetapi tinggi
fundus tidak berkurang.
5) Inversio uteri
Gejala dan tanda yang slalu ada :
- Uterus tidak teraba
- Lumen vagina terisi massa
- Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
- Pendarhaan segera
- Nyeri sedikit atau berat
Gejala dan tanda yang kadan-kadang ada :
- Syok neurogenic

19
- Pucat dan limbung
d. Diagnosis pendarahaan pasca-persalinan
Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10%
dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. Gejala-gejala baru
tampak pada kehilangan darah 20%. Jika pendarahan berlangsung terus,
dapat timbul syok. Diagnosis pasca-persalinan dipermudah apabila pada
tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran
darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya. Apabila terjadi pendarhaan
pascapersalinan dan plasenta belum lahir, perlu diusahakan untuk
melahirkan plasenta segera. Jika plasenta sudah lahir, perlu dibedakan
antara pendarahaan akibat atonia uteri atau pendarrahaan karena perlukaan
jalan lahir.
Pada pendarahan karena atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada
palpasi : sedangkan pada pendarahan karena perlukaan jalan lahir, uterus
berkontraksi dengan baik. Dalam hal uterus berkontraksi baik, perlu
diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan jalan
lahir. Pada persalinan dirumah sakit, dengan fasilitasyang baik untuk
melakukan tranfusi darah, seharusnya kematian akibat pendarhaan
pascapersalinan dapat dicegah, seharusnya kematian akibat pendarahan
pasca persalinan dapat dicegah, tetapi kematian tidak dapat dihindarkan,
terutama apabila penderita masuk rumah sakit dalam keadaan syok karena
sudah kehilangan banyak darah. Karena persalinan di indonesia sebagian
besar terjadi diluar rumah sakit, pendarhaan postpartum merupakan sebab
utama kematian dalam persalian.
Diagnosis pendarahan pascapersalinan
a) Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
b) Memeriksa plasenta dan ketuban lengkap atau tidak
c) Lakukan ekplorasi cavum uteri untuk mencari :
 Sisa plasenta atau selaput ketuban
 Robekan jalan lahir
 Plasenta suksenturiata

20
d) Inspekulo : untuk melihat robekan pada serviks, vagina, dan varises
yang pecah
e) Pemeriksaan lab periksa darah yaitu Hb, COT (Clot Observation
Test), dll.
Pendarahan pascapersalinan ada kalanya merupakan pendarahan
yang hebat dan menakutkan hingga dalm waktu singkat ibu dapat
jatuh kedalam keadaan syok. Atau dapat berupa pendarhaan yang
menetes perlahan-lahantetapi terus-menerus yang juga bahaya
karena kita tidak enyangka akhirnya pendarahan berjumlah banyak,
ibu menjadi lemas dan juga jatuh dalam presyok dan syok. Karena
itu, adalah penting sekali pada setiap ibu bersalin dilakukan
pengukuran kadar darah secara rutin, serta pengawasan tekanan
darah, nadi, respirasi, dan periksa juga kontraksi uterus pendarahan
selama 2 jam postpartum.

2. Infeksi nifas
Infeksi kala masa nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genetalia
pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu
badan melebihi 380 C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama
2 hari dalam sepuluh hari pertama postpartum, jik apeningkatan suhu terjadi
pada hari tersebut masa produksi ASI maksimal. Infeksi alat genital merupakan
komplikasi masa nifas. Infeksi yangmeluas kesaluran urinaria, payudara, dan
pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab terjadinya AKI tinggi.
Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas, denyut nadi cepat. Gejala local
dapat berupa uterus lembek, kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau
adanya dysuria.
a. Penyebab dan cara terjadinya infeksi masa nifas
- Penyebab terjadinya infeksi
Menurut wijanarko (2009),terdapat beberapa macam jalan kuman
masuk kedalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari
luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan

21
endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan
lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya
tidak pathogen sebagai penghun normal jalan lahir. Kuman-kuman
yang sering menyebabkan infeksi antara lain :
a) Streptococcus haemoliticus anaerobic
Masuknya eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi
ini biasanya oksigen (ditularkan dari penderita lain, alat alat
yang tidak steril, tangan penolong, infeksi tenggorokan
orang lain)
b) Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak
ditemukan sebagai penyebab infeksi rumah sakit dan dalam
tenggorokan orang orang yang tampaknya sehat. Kuman ini
biasnyanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun
kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
c) Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektu, menyebabkan
infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endrometrium.
Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus
urinarius
d) Clostrium welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi
sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi abortus
kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar
rumah sakit.
- Cara terjadinya infeksi nifas
Menurut (anggraini, 2010), infeksi dapat terjadi sebagai berikut
:
a) Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung
tangan pemeriksan dalam atau operasi membawa bakteri
yang sudah ada dalam vagina kedalam uterus.

22
b) Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena
terkontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau
tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh
karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar
bersalin harus ditutup dengan masker dan pendeita infeksi
saluran pernapsan dilarang memasuki kamar bersalin
c) Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman kuman pathogen,
berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis
infeksi. Kuman kuman ini dibawa oleh aliran udara ke
mana-mana temasuk kain-kain, alat yang steril dan
digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada
waktu nifas.
d) Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi
penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
e) Infeksi antepartum gejalanya sudah terlihat pada waktu
persalinan. Infeksi intraantepartum terjadi pada :
 Partus lama
 Ketuban pecah
 Periksa dalam yang terlalu sering
Gejala infeksi intrapartum
 Kenaikan suhu
 Leukositosis
 Takikardi
 DJJ meningkat
 Air ketuban biasanya keruh dan berbau
a) Prognosis
 Tergantung jenis kuman
 Lamanya infeksi berlangsung
 Dapat tidaknya persalinan yang berlangsung tanpa banyak
perlukaan jalan lahir.

23
b) Faktor predisposisi infeksi nifas
i. Semua keadaann yang menurunkan daya tahan penderita
seperti pendarahan banyak, diabetes, preeklamsia,
malnutrisi, anemia. Kelelahan juga infeksi lain yaitu
pneumonia, penyakit jantung dan sebaginya.
ii. Proses persalinan bermasalah seperti partus lama/macet
terutama dengan ketuban pecah lama, korioamnionitis,
persalinan traumatic, kurang baiknya proses pencegahan
onfeksi dan manipulasi yang berlebihan.
iii. Tindakan obstetric operatif, baik pervaginam maupun
perabdominal
iv. Tertinggalnya sisa plasenta selaput ketuban dan bekuan
darah dalam rongga Rahim.
v. Episiotomy atau laserasi
c) Patologis
 Setelah kala III, bekas inserasi plasenta merupakan sebuah
luka yang diameternya +4cm. permukaan tidak rata,
berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi
thrombus.
 Daerah inserasi plasenta tempat tumbuhnya kuman dan
masuknya jenis yang phatogen tubuh wanita.
 Serviks, vulva, vagina dan perineum, sering mengalami luka
pada persalinan merupakan tempat masuknya kuman-kuman
phatogen
 Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau
dapat menyebar pada luka luar asalnya.
d) Gambaran klinis infeksi nifas
I. Infeksi pada perineum, vulva, vagina dan serviks
 Vulvitid
Pada luka infeksi bekas sayatan episiotomy atau luka
perineum jaringan di sekitarnya membengkak, tepi

24
luka menjadi merah dan bengkak, jahitan mudah
lepas, luka yang membuka menjadi ulkus dan
penguluaran pus.
 Vaginitis
Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada
luka vagina atau memalui perineum. Permukaan
mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus,
serta getah yang mengandung nanah dan keluar
didaerah ulkus. Penyebaran dapar terjadi, tetapi
infeksi pada umunya infeksi tinggal terbatas.
 Servisitis
Infeksi serviks sering juga terjadi, akan tetapi
biasnya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka
serviks yang dalam, luas danlangsung ke dasar
ligamentum latum dapat menyababkan infeksi yang
menjalar ke paramentrium.

Gejala :
1. Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi
2. Kadang-kadang perih bila kencing
3. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaan tidak
terlalu berat
4. Suhu sekitar 380c dan nadi dobawah 100x/menit
5. Kadang perih bila BAK
6. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah
radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-
400C dengan kadang-kadang disertai menggigil
Penanganan pada kasus ini merupakan pemberian antibiotic,
robonrantia, pemantauan vital sign, serta in take out pasien
(makanan dan cairan).
II. Endrometritis

25
Kadang-kadang lochea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta
dan selaput ketuban. Keadaan ini disebut lochea metra atau
lochea statis dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus
pada endrometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan
dan lembek. Pada endrometritis yang tidak meluas, penderita
merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertam.
Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan
tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam
kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali.
Lochea pada endrometritis, biasnya bertambah dan kadang-
kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat.
Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lochea yang
sedikit dan tidak berbau.
III. Septicemia dan pyenemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-
kuman yang sangat pathogen, biasanya streptococcus
haemolyticu golongan A. infeksi ini sangat berbahaya dan
tergolong 50% penyebabkematian karena infeksi nifas. Kedua-
duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala
septicemia lebih mendadak dari piemia.
1. Septicemia
Pada infeksi ini, kuman-kuman uterus langsung masuk ke
dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi
umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan
pembiakan kuman-kuman dari darah.
Gejala yang muncul pasien, antara lain :
 Permulaan penderita sudah sakit dan lemah.
 Sampai 3 hari postpartum suhu meningkat dengan
cepat, biasanya disertai menggigil.
 Selanjutnya suhu berkisar anatara 39-400C, keadaan
umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140-

26
160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal
dalam 6-7 hari postpartum. Jika ia hidup terus,
gejala-gejala menjadi seperti pyemia.
2. Pyemia
Pada pyemia, terdapat thrombophlebitis dahulu pada vena-
vena di uterus dan sinus-sinus pada bekas implantasi
plasenta. Thrombophlebitis ini menjalar ke vena uterine,
vena hipogastrik dan vena ovary. Dari tempat-tempat
thrombus ini, embolus kecil berisi kuman dilepaskan. Tiap
kali dilepaskan, embolus masuk kedalam peredaran darah
umum dan dibawa oleh aliran darah ke tempat-tempat lain,
diantaranya paru-paru, ginjal, otak, jantung dan
sebagainya, yang dapat mengakibatkan terjadinya abses-
abses di tempat tersebut.
Gejala yang dimunculkan adalah sebagai berikut :
 Penderita tidak lama postpartum sudah merasa
sakit, perut sakit, dan suhu agak meningkat.
 Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan
suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-
kuman dengan embolus memasuki peredaran darah
umum.
 Suatu ciri khusus pada pyemia ialah berulang-ulang
suhu meningkat dengan diserrtai menggigil,
kemudian diikuti oleh turunya suhu.
 Kenaikan suhu disertai menggigil terjadi pada saat
dilepaskannya embolus dari thrombophlebitis
pelvika.
 Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru,
pneumonia dan pleuritis.
 Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses
dibeberapa tempat lain.

27
IV. Peritonitis, salpingitis, dan ooforitis
1) Peritonitis
Peritonitis bisa terjadi karena meluasnya endrometrium,
tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan
salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada
kemuangkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika
mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan
menyebabkan peritonitis. Infeksi nifas dapat menyebar
melalui pembuluh limfe di dalam uterus, langsung
mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis
umum, terbatas terbatas pada daerah pelvis. Gejala-
gejalanya tidak seberapa berat seperti peritonitis umum
terbatas pada daerah pelvic. Penderita demam, perut
bawh nyeri, tetapi keadaan umum baik. Pada
pelvioperitonitis (peritonitis terbatas) bisa terdapat
pertumbuhan abses. Nanah biasnya terkumpul dalam
cavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia
posterior untuk mencegah keluarnya melalui rectum atau
kandung kemih. Peritonitis umum disebabkan oleh
kuman yang sangat pathogen dan merupakan penyakit
berat. Adapun gejalanya sebagai :
 Suhu meningkat menjadi tinggi
 Nadi cepat dan kecil
 Perut kembung dan nyeri
 Ada defense musculaire
 Muka penderita, yang mula-mula kemerah-
merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit
muka dingin; terdapat apa yang dinamakan fasies
hippocratica
 Mortalitas peritonitis umum tinggi
2) Salpingitis dan ooforitis

28
Kadang-kadang infeksi menjalar sampai ketuba fallopi,
bahkan sampai ke ovarium. Disini, terjadi salpingitis
atau ooforitis yang sukar dipisahkan dari pelvio
peritonitis dan gejala salpingitis dan ooforitispun tidak
dapat dipisahkan dari pelvio peritonitis
3) Sellulitis pelvika
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang
meningkat dalam masa nifas. Bila suhu tinggi menetap
lebih dari 1 minggu disertai dengan rasa nyeri dikiri atau
kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam ini, hal ini
patutu dicuragai terhadapat kemungkinan sellulitis
pelvika. Pada perkembangan lebih lanjut gejala-gejala
sellulitis pelvika menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan
dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah
uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan
tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan.
Ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bis a
tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula
tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai
dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat
dan perut nyeri. Dalam dua pertiga kasus tidak terjadi
pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa
minggu. Tumor disebelah uterus mengecil sedikit demi
sedikit dan akhirnya dapat parametrium yang kaku. Jika
terjadi abses, nanah harus dikeluarkan kkarena selalu ada
bahaya bahwa abses mencari ke rongga perut yang
menyebabkan pecahnya peritonitis, ke rectum atau ke
kandung kencing.
b. Cara pencegahan
a) Masa kehamilan

29
 Mengurangi atau mencegah faktor-faktor presdiposisi seperti
anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobari penyakit-
penyakit yang diderita ibu.
 Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada
indikasi yang diperlukan.
 Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi
dan dilakukan hati0hati karena dapat menyebabkan
pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah
dalam jalan lahir.
b) Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri atas membatasi sebanyak mungkin
masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir :
 Hindari partus lama dan ketuban pecah lama/menjaga
supaya persalinan tidak berlarut-larut
 Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin
 Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan, baik
pervaginam maupun perabdominam dibersihkan dijahit
sebaiknya-baiknya dan menjaga sterilitas.
 Mencegah terjadinya pendarahan banyak, bila terjadi darah
yang hilang harus digantik dengan tranfusi darah.
 Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung
dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi
pernapasan tidak boleh masuk ke kamar bersalin.
 Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus
suci hama.
 Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila
adda indikasi dengan sterilisasi yang baik, apabila bila
ketuban telah pecah.
c) Selama nifas

30
 Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi,
begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang
berhubungan dengan alat kandungan harus steril
 Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam
ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat
 Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari
pertama seapat mungkin
d) Pengobatan
 Berikan antibiotic dengan spectrum luas
 Lakukan tindakan untuk mempertinggi daya tahan tubuh
 Jika terjadi abses lakukan pembukaan jahitan
 Tranfusi darah bila perlu

3. Sakit kepala, nyeri epigastrik dan penglihatan kabur


Penanganan :
a. Jika ibu tidak sadar atau kejang mintalah pertolongan, mobilisasikan
seluruh tenaga dan disiapkan tindakan gawat darurat.
b. Segera penilaian keadaan umum dan tanda vital, mobilisasi seluruh tenaga
dan jika ibu tidak bernapas atau pernapasan dangkal perikasa dan jalan
napas bebaskan, mulai ventilasi dengan masker dan balon. Kalau perlu
intubasi. Jika ibu bernafas beri oksigen 4-6 liter per menit melalui masker
c. Jika ibu tidak sadar atu koma : bebaskan jalan nafas, baringkan pada posisi
miring kiri, periksa suhu, nadi, tekana darah, pernafasan dan periksa adakah
kaku duduk.
d. Jika ibu syok, lakukan penganan syok, jika ada pendarhan lakukan
penanganan untuk pendarahannya
e. Jika ibu kejang baringkan pada posisi miring kiri untuk mencegah
terjadinya aspirasi, posisikan kepala lebih tinggi dari pada kaki agar
sirkulasi darah lebih maksimal, bebaskan jalan nafas, hindari pasien agar
tidak jatuh dan lakukan pengawasan ketat.

31
f. Jika diagnosisnya eklamsia atau peeklamsia berat diberikan antikonvulsan
(magnesium sulfat, atau MGS04), yaitu anti hipertensi jika tekanan
diastolic lebih dari 110 mmhg dan pengawasan keseimbangan cairan.
4. Pembengkakan diwajah atau ekstermitas
Ibu nifas yang mengalami bengkak pada ekstermitas bawah perlu
dicurigai adnya varises, tromboflepbitis, dan adanya oedema. Jika terdapat
adanya oedema pada wajah atau ektermitas atas perlu dwaspadai gejala
lain yang mlebih mengarah pada proses pada kasus eklamsia.
5. Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih
Pada masa nifas dini sensitifitas pada sensifitas kandung kemih
terhadapa tegangan air kemih dalam vesika sering menurun akibat trauma
persalinan serta analgesia, epidural atau spinal. Setelah melahirkan,
terutama pada infus oksitsin dihentikan terjadi diuresis yang disertai
peningkatan produksi urine dan disestensi kandung kemih.
6. Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan merasa sakit
a. Bendungan payudara
Terjadi karenan adanya peningkatan aliran vena dan limfe sebagai
tahapan proses laktasi.
Tanda : nyeri payudara dan tegang
Penanganan :
- Bila ibu menyusui
 Susukan sesering mungkin pada payudara
 Lakukan pemijatan pada saat menyusui
 Lakukan kompres air hangat untuk mempelancar produksi
asi dan air dingin untuk mengurangi rasa nyeri diantara
waktu menyusui
 Bila perlu berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
 Lakukan evaluasi setelah 3 hari
- Bila ibu tidak menyusui

32
 Sangga payudara dan kompres dengan mengguanakan
kompres air deingin agar mengurangi rasa nyeri dan
pembengkakan.
 Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap
4 jam
 Jangan lakukan pemijatan atau pengompresan air hangat
karena akan merangsang memproduksi asi.
b. Mastitis
Terjadi jika terdapat luka oleh bakteri anaerob (strabilacoccus)
Tanda : payudara tegang, adanya nyeri dan tegang.
Penanganan:
 Berikan klokasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
 Bila diberikan sebelum terbentuk abses biasanya keluhannya
akan berkurang
 Lakukan penyanggahan peyudara
 Lakuakan kompres air dingin
 Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4
jam
 Lakukan evaluasi setelah 3 hari
c. Abses payudara
Tanda : panyudara tegang, padat, kemerahan dan adanya pus
Penanganan :
- Bila ibu menyusui
 Susukan sesering mungkin pada kedua payudara
 Lakukan pijatan saat akan menyusui
 Lakukan kompres air hangat untuk memperlancar produksi
asi dan air dingin untuk mengurangi rasa nyeri
 Bila perlu berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
 Lakukan insisi pada bagian yang terdapat pus dan lakukan
pengeluaran.

33
 Jika ada pus jangan dulu disusukan tetapi keluarkan asi
dengan cara manual
 Lakukan evaluasi setelah 3 hari
- Bila ibu tidak menyusui
 Sangga payudara dan kompres dengan air dingin agar
mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan
 Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap
4 jam
 Jangan lakukan pemijatan atau pengompresan dengan air
hangat karenan akan merangsang memprduksi asi
7. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
Berikanlah makanan yang sifatnya ringan, krena alat pencernaan
perlu istirahat guna memulihkan keadaannya. Apabila ibu menghendaki
makanan, berikanlah makanan yang sifatnya ringan walaupun dalam
persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut
mengadakan proses pencernaan, tetapi sedikit atau banyak pasti
dipengaruhi proses persalinan tersebut. Oleh karena itu tidak benar jika
ibu diberikan makanan sebanyak-banyaknya , walaupun ibu
menginginkannya. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang
amat berat, nafsu makan pun akan terganggu, sehingga ibu tidak ingin
makan sampai kehilangan nafsu makan itu hilang.
8. Rasa sakit, merah, lunak, dan pembengkakan di kaki
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode
pasca partum, pada saat kemampuan pengumpulan darah meningkat akibat
peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan
oleh tekanan kepala janin selama kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada
periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekunya
darah pada ekstremitas bagian bawah.
a. Etiologi
 perluasan infeksi endometrium

34
 mempunyai varises pada vena
 obesitas
 pernah mengalami tromboflebitis
 berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up
untuk waktu yang lama
 memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluara
b. tanda gejala
tromboflebitis femoralis
- keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari,
kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada haari ke 10-20 yang
disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
- Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan
memberikan tanda-tada, sebagai berikut :
o Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar
serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan
dengan kaki lainnya.
o Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa
tegang dan keras pada bagian paha atas
o Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
o Kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dingin
dan pulsasi menurun.
o Oedema kadang-kadang terjadi sebelum atau
sesudah nyeri pada umumnya terdapat pada paha
bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari-jari
kaki dan pergerakan kaki kemudian meluas dari
bawah ke atas.
o Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan
memijat betis atau dengan meregangkan tendon
akhiles ( tanda human positif).
c. Penatalakasanaan
Tromboflebitis femoralis

35
- Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada
ekstremitas bawah dan menurnkan kemungkinan pembentukan
darah
- Pastikan klien untuk idak berada pada posisi litotomi dan
menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk
memberikan alas pada penyokong kaki guna untuk mencegah
adanya tekakan pada betis
- Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca partum yang
memiliki varices vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan
membantu mencegah kondisi statis.
- Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung
sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2 kali sehari untuk
mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
- Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
- Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat
antikoagulan diberikan.
- Berikan antikoagulan, analgesic, dan antibiotic sesuai dengan resep
- Berikan alat pemanas seperti lampu atau kompres hangat basah
sesuai instuksi, pastikan bahhwa berat dari kompres panas tersebut
tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
- Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut kaki yang terkena.
- Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian
bandingkan pengukur tersebut dalam beberapa hari kemudian
untuk melhat adanya peningkatan atau penurunan
- Dapatkan laporan mengenai lochea dan timbang berat pembalut
perineal untuk mengkaji perdarahan jika klien dalam terapi
antikoagulan.
- Kaji adanya kemungkinan tanda perdarahan lain, misalnya :
perdaraan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang
keluar dari jahitan episiotomy

36
- Yakinkan klien bahwa hepari yang diterimanya dapat dilanjutkan
pada masa menyusui karena obat ini tidak akan berda di air susu.
- Siapkan pemberian protamine sulfat dengan antagonis heparin
- Jelaskan kepada klien mengenai pemberian heparin yang harus
dilakukan mengenai terapi subkutan.
- Jelaskan pada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus
memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapiuntuk
memastikan bahwa pencegahan tromboflebitis yang telah
dilakukan.

G. Health Education
1. Nutrisi
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena
dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat
mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi
tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan.

Ibu nifas dan menyusui dianjurkan untuk :

1. Makan dengan diet berimabang dengan menu makanan seimbang yang


harus dikonsumsi adalah porsi cukup dan teratur , cukup karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral. Disamping itu harus mengandung :
a. Sumber tenaga (Energi)
Untuk pembakaran tubuh, pembentukan jaringan baru, penghematan
protein ( jika sumber tenaga kurang, protein dapat digunakan sebagai
cadangan untuk memenuhi kebutuhan energy). Zat gizi sebagai sumber
karbohidrat terdiri dari beras, sagu, jagumg, tepung terigu dan ubi. Zat
lemak dapat diperoleh dari hewani (lemak, mentega. Keju) dan nabati
(kelapa sawit, minyak sayur, minyak kelapa dan margarin). Kebutuhan
energy ibu nifas / menyusui pada enam bulan pertama kira-kira 700
kall/hari dan enam bulan kedua 500 kkl/hari, sedangkan ibu menyusui
bayi berumur 2 tahun rataa-rata sebesar 400 kkl/hari.

37
b. Sumber pembangun (Protein)
Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang
rusak atau mati. Protein dari makanan harus diubah menjadi asam
amino sebelum diserap oleh sel mukosa usus dan dibawa ke hati
melalui pembuluh darah vena portae. Sumber protein dapat diperoleh
dari protein hewani (ikan, udang, kepiting , daging ayam, hati, telur,
dan keju, ) dan protein nabati (kacang tanah, kacang merah, kacang
hijau , kedelai, tahu dan tempe). Sumber protein terlengkap terdapat
dalam susu, telur dan keju, ketiga makanan tersebut juga mengandung
zat kapur , zat besi dan vitamin B.
c. Sumber pengatur dan pelindung ( Mineral, Vitamin dan Air)
Unsur-unsur tersebut digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan
penyakit dan pengatur kelancaran metabolism dalam tubuh. Ibu
menyusui minum air sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk
minum setiap kali habis menyusui). Sumber zat pengatur dan
pelindung biasa diperoleh dari semua jenis sayuran dan buah-buahan
segar.
d. Jenis-jenis mineral penting
- Zat kapur
Untuk pembentukan tulang, sumbernya susu, keju, kacang-
kacangan, dan sayuran berwarna hijau.
- Fosfor
Dibutuhkan untuk pembentukan kerangka dan gigi anak ,
sumbernya susu, keju, dan daging. Tambahan zat besi sangat
penting dalam masa menyusui setidaknya selama 40 hari pasca
bersalin, Karena dibutuhkan untuk kenaikan sirkulasi darah dan
sel, serta menambah (HB) sehingga daya angkut oksigen
mencukupi kebutuhan. Sumber zat besi antara lain kuning telur,
daging, kerang, ikan, kacang-kacangan dan sayuran hijau.
- Yodium

38
Sangat penting untuk mencegah timbulnya kelemahan mental dan
kekerdilan fisik yang serius, sumbernya: minyak ikan, ikan laut,
dan garam beryodium.
- Kalsium
Ibu menyusui membutuhkan kalsium untuk pertumbuhan gigi
anak, sumbernya : susu dan keju.
e. Jenis-jenis vitamin
- Vitamin A
Digunakan untuk pertumbuhan sel, jaringan, gigi, dan tulang,
perkembangan syaraf penglihatan, meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap infeksi. Sumber: kuning telur, hati, mentega, sayuran
berwarna hijau, dan buah berwarna kuning ( wortel, toomat, dan
nangka). Selain itu, ibu menyusui juga mendapatkan tambahan
berupa kapsul vitamin A (200.000 IU).
- Vitamin B1 (Thiamin)
Dibutuhkan agar kerja syaraf jantung normal, membantu
metabolism karbohidarta secara tepat oleh tubuh, nafsu makan
yang baik, membantu proses pencernaan makanan, meningkatkan
pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mengurangi keleleahan.
Sumbernya: hati, kuning telur, susu, keju, kacang-kacangan, tomat,
jeruk, nanas, dan kentang bakar.
- Vitamin B2 (Riboflavin)
Vitamin B2 dibutuhkan untuk pertumbuhan, vitalitas, nafsu makan,
pencernaan, sistem urat syaraf, jaringan kulit, dan mata. Sumber:
hati, kuning telur, susu, keju, kacang-kacangan dan sayuran
berwarna hijau.
- Vitamin B3 ( Niacin )
Disebut juga Nitocine Acid, dibutuhkan dalam proses pencernaan,
kesehatan kulit, jaringan syaraf dan pertumbuhan. Sumber : susu,
kuning telur, daging. Kaldu daging, hati, daging ayam, kacang-
kacangan, beras merah, jamur dan tomat.

39
- Vitamin B6 ( Pytidoksin)
Dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah serta kesehatan
gigi dan gusi. Sumber : gandum, jagung, hati dan daging.
- Vitamin B12 ( Cyanocobalamin)
Dibutuhkan untuk pembentukan seldarah merah dan kesehatan
jaringan saraf. Sumber : telur, daging, hati , keju, ikan laut, dan
kerang laut.
- Folic Acid
Vitamin ini dibutuhkan untuk pertumbuhan pembentukan sel
darahmerah dan produksi inti sel. Sumber: hati,daging, jeroan dan
sayur hijau.
- Vitamin C
Untuk pertumbuhan jaringan ikat dan bahan semu jaringan
ikat(untuk penyembuhan luka), pertumbuhan tulang, gigi, dan gusi,
daya tahan terhadap infeksi, serta memberikan kekuatan pada
pembuluh darah. Sumber : jeruk, tomat, melon, biji, manga, papaya
dan sayuran.
- Vitamin D
Dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan tulang dan gigi serta
peneyerapan kalsium dan fosfor. Sumber : minyak ikan, susu,
margarine, dan penyinaran kulit dengan sinar matahari, pagi (
sebelum pukul 09.00)
- Vitamin K
Dibutuhkan untuk mencegah pendarahan agar proses pembekuan
darah normal. Sumber: kuning telur, hati, brokoli, asparagus dan
bayam.

2. Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6 bulan


pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kallori dan tahun kedua 400 kalori. Jadi
jumlah kalori tersebut adalah tambahan dari kebutuhan kalori per harinya.
Missal pada ibu dengan kebutuhan per hari 1800 kalori artinya saat nifas

40
pada 6 bulan pertama dibutuhkan kalori plus tambahan 800 kalori
sehingga kalori yang dibutuhkan sebanyak 2600 kalori. Demikian pula
pada 6 bulan selanjutnya dibutuhkan rata-rata 2300 kalori dan tahun kedua
2200 kalori.
3. Asupan cairan 3 lier/hari, 2 liter didapat dari air minum dan 1 liter dari
cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan yang lain.
4. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40
hari pascapersalinan.
5. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk
suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatakan daya tahan
tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak. Pada bulan-bulan
pertama kehidupan bayi bergantung pada vitamin A yang terkandung
dalam ASI.

Tabel penambahan makanan pada wanita dewasa, hamil, dan menyusui

Zat makanan Wanita dewasa Wanita hamil 20 Wanita menyusui


tidak hamil (BB minggu terakhir
47 Kg)
kalori 2000 Kalori 3000 kalori 800 kalori
Protein 47 gram 20 gram 40 gram
Calcium 0,6 gram 0,6 gram 0,6 gram
Ferrum 12 mg 5 mg 5 mg
Vitamin A 4000 iu 1000 iu 2000 iu
Thamin 0,7 mg 0,2 mg O,5 mg
Riboflavin 1,1 mg 0,2 mg 0,5 mg
Niacin 12,2 mg 2 mg 5 mg
Vitamin C 60 mg 30 mg 30 mg

2. Hygiene
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi. Upaya yang harus
dilakukan di antaranya:

41
a. Mandi
Mandi teratur minimam 2kali sehari. Mengganti pakaian dan alas tempat
tidur, serta yang terutama dibersihkan adala puting susu dan mamae
dilanjutkan perawatan perineum.
Pada masa postpartum, seorang ibu akan rentang terhadap infeksi. Untuk
ibu, menjaga kebersihan sangat penting untuk mencegah infeksi. Anjurkan
ibu untuk menjaga kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan
lingkungan. Ajari ibu untuk membersihkan alat genitalnya dengan sabun
dan air bersih setiap kali setelah berkemih dan defekadi. Sebelum bersih
pada waktu mencuci luka ( episiotomi ), ia harus mencuci dari arah depan
kebelakang dabn mencuci daerah anusnya yang terakhir. Ibu harus
mengganti pembalut sedikitnya 2 kali sehari. Jika ia menyusui bayinya,
anjurkan untuk menjaga kebersihan payudara.

b. Perawatan Payudara
Suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa nifas(masa
menyusui) untuk melancarkan pengeluaran ASI. Perawatan payudara
pasca-persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil.
Pelaksanaan perawatan payudara pasca-persalinan dimulai sedini mungkin
yaitu 1-2 hari sesudah bayi dilahirkan. Perawatan payudara dilakukan 2
kali sehari (Admin,2009).
Perawatan payudara dapat dilakukan dengan cara:
o Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu.
o Menggunakan BH yang menyokong payudara.
o Mengoleskan kolostrum atau ASI yang keluar sekitar puting susu
apabila puting lecet dan menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting
susu yang tidak lecet.
o Mengistirahatkan payudara apabila lecet sangat berat selama 24 jam.
o Meminum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam untuk menghilangkan
nyeri.

42
o Melakukan pengompresan dengan menggunakan kain basah dan
hangat selama 5 menit apabila payudara bengkak akibat bendungan
ASI, mengurut payudara dari pangkal menuju puting atau
menggunakan sisir untuk mengurut dengan arah Z menuju puting, ASI
sebagian dikeluarkan dari bagian depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak, bayi disusui setiap 2-3 jam dan apabila tidal dapat
menghisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan lalu
meletakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui ( Saifuddin,
2001).
3. Perawatan perineum
Apa bila setelah buang air besar atau buang air kecil perineum dibersihkan
secara rutin. Caranya dibersihkan dengan air sabun lembut minimal sekali sehari.
Biasanya ibu merasa takut pada kemungkinan jahitannya akan lepas, juga merasa
sakit sehingga perineum tidak dibersihkan atau dicuci. Cairan sabun atau
sejenisnya sebaiknya dipakai setelah buang air kecil atau air besar.
Membersihkan dimulai simpisis sampai anal sehingga tidak terjadi infeksi.
Ibu diberitahu caranya mengganti pembalut yaitu bagian dalam jangan sampai
terkontaminasi oleh tangan. Pembalut sudah kotor harus diganti paling sedikit 4
kali sehari. Ibu diberi tahu tentang jumlah, warna dan bau lochea sehingga apabila
ada kelainan dapat diketahui secara dini. Sarankan ibu untuk mencuci tangan
dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin.
Apabila ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah luka.
Perawatan perinium 10 hari :
a) Ganti pembalut wanita yang bersih setiap 4-6 jam. Posisikan pembalut
dengan baik sehingga tidak bergeser.
b) Lepaskan pembalut dari arah depan kebelakang untuk menghindari
penyebaran bakteri dari anus ke vagina.
c) Alirkan atau bilas dengan air hangat/ cairan antiseptik pada area
perinium setelah defekasi. Keringkan dengan kain pembalut atau handuk
dengan cara ditepuk-tepuk, dan dari arah depan kebelakang.

43
d) Jangan dipegang sampai area itu pulih
e) Rasa gatal pada area sekitar jahitan adalah normal dan merupakan tanda
penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa tidak enak, atasi dengan
mandi berendam air hangat atau kompres dingin dengan kain pembalut
yang telah didinginkan .
f) Berbaring miring, hindari berdiri atau duduk lama untuk mengurangi
tekanan pada daerah tersebut.
g) Lakukan latihan kegel sesering mungkin guna merangsang peredarahan
darah disekitar perinium. Dengan demikian, akan mempercepat
penyembuhan dan memperbaiki fungsi otot-otot. Tidak perlu terkejut bila
tidak merasakan apapun saat pertama kali berlatih karena area tersebut
akan kebal setelah persalinan dan pulih secara bertahap dalam beberapa
minggu.
4. Istirahat dan tidur
Kebahagiaan setelah melahirkan membuat sulit istirahat. Seorang ibu baru
akan cemas apakah ia akan mampu merawat anaknya atau tidak. Hal ini
mengakibatkan sulit tidur. Juga akan terjadi gangguan pola tidur karena beban
kerja bertambah, ibu harus bangun malam untuk meneteki atau mengganti popok
sebelumnya tidak pernah dilakukan. Anjurkan ibu supaya istirahat cukup untuk
mencegah kelelahan yang berlebihan. Sarankan untuk ibu kembali pada kegiatan
rumah tangga secara perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau istirahat selama
bayi tidur. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal antara
lain mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uteri
dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan
untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
5. Ambulasi
a. Pengertian Early Ambulation
Ambulasi merupakan upaya seseorang untuk melakukan latihan jalan atau
perpindahan tempat (Ardianti, 2014). Early ambulation adalah kebijaksaan
untuk selekas mungkin pembimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan
membimbingnya selekas mungkin berjalan (FK Unpad 1983).

44
Sekarang tidak dianggap perlu lagi menahan penderita terlentang di tempat
tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Penderita sudah diperbolehkan
bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.

b. Manfaat dari Early Ambulation

Keuntungan dari early ambulation ialah :

1. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan early ambulation
2. Faal usus dan kandung kencing lebih baik
3. Early ambulation memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya ;
memandikan, mengganti pakaian, memberi makanan, dll, selama ibu
masih di rumah sakit
4. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis)

Menurut penilitian-penelitian yang seksama early ambulation tidak


mempunyai pengaruh yang buruk ; tidak menyebabkan perdarahan yang
abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhanluka episiotomi atau luka perut,
tidak memperbesar kemungkinan prolaps atau retroflexio (FK Unpad, 1983).

Early Ambulation tentu tidak dibenarkan pada penderita dengan penyakit,


misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dll. Lagipula,
penambahan kegiatan dengan early ambulation harus berangsur-angsur, jadi
bukan maksudnya ibu segera setelah bangun dibenarkan mencuci, masak, dll
(FK Unpad, 1983).

Menurut Manuaba (1998), dimasa lampau, perawatan puerperium sangat


sangat konservatif, dimana puerpera diharuskan tidur telentang selama 40 hari.
Kini perawatan puerperium lebih aktif dengan dianjurkan untuk melakukan
“mobilisasi dini” (early mobilization). Perawatan mobilisasi dini mempunyai
keuntungan :

1. Melancarkan pengluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium


2. Mempercepat involusi alat kandungan

45
3. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
4. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat
fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.

Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada kontraindikasi.


Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan mencegah risiko tromboflebitis,
meningkatkan fungsi kerja peristaltik dan kandung kemih, sehingga mencegah
distensi abdominal dan konstipasi. Bidan harus menjelaskan kepada ibu tentang
tujuan dan manfaat ambulasi dini. Ambulasi ini dilakukan secara bertahap sesuai
kebutuhan ibu. Terkadang ibu nifas enggan untuk banyak bergerak karena merasa
letih dan sakit. Jika keadaan tersebut tidak segera diatasi , ibu akan terancam
mengalami trombosis vena. Untuk mencegah terjadinya trombosis vena, perlu
dilakukan ambulasi dini oleh ibu nifas.

c. Kerugian Tidak Dilakukan Early Ambulation

Dikutip dari jurnal penelitian yang dilakukan Susilowati (2015). Beberapa


kerugian ibu nifas yang tidak melakukan ambulasi :

a) Komplikasi pada kandung kemih


b) Konstipasi
c) Trombosis vena masa nifas
d) Menyebabkan peningkatan suhu tubuh karena adanya infeksi
e) Gangguan pernafasan yaitu sekret akan terakumulasi pada saluran
pernafasan yang akan berakibat klien sulit batuk dan mengalami gangguan
bernafas.
f) Pada sistem kardiovaskuler terjadi hipotensi ortostatik yang disebabkan
oleh sistem syaraf otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah
sewaktu berdiri dari berbagai dalam waktu yang lama.
g) Pada gastrointestinal terjadi anoreksia diare atau konstipasi. Anoreksia
disebabkan oleh adanya gangguan katabolisme yang mengakibatkan
ketidak seimbangan nitrogen karena adanya kelemahan otot serta
kemunduran reflek deteksi, maka pasien dapat mengalami konstipasi

46
h) Lambatnya involusi uterus.
Menurut penilitian yang dilakukan oleh Eny Sendra (2017), dari 21
responden terdapat 15 orang (71,43%) yang mengalami involusi uterus
cepat (normal) dan 6 orang (28,57%) yang mengalami involusi uterus
lambat (tidak normal).
Involusi uterus yang cepat bisa disebabkan karena rumah sakit
menganjurkan mobilisasi dini dan mengajari cara menyusui yang benar
sebagai bentuk asuhan kebidanan pada ibu nifas. Mobilisasi dini yang
dianjurkan pada ibu nifas di RSIA Aura Syifa adnalah bertahap mulai
miring ke kanan dan ke kiri, duduk, berdiri, dan berjalan. Adapun cara
menyusui yang benar yang diajarkan kepada ibu nifas meliputi perlekatan
dan posisi menyusui yang benar. Mobilisasi dini dan cara menyusui yang
benar inilah yang mempercepat proses involusi uterus yang ditandai
dengan penurunan TFU perharinya yaitu pada hari pertama 2 jari dibawah
pusat dan pada hari kedua tiga jari.
d. Tahap Pelaksanaan Early Ambulation pada Ibu yang Bersalin Normal
Setelah kala IV ibu sudah bisa bisa turun dari tempat tidur dan
melakukan aktivitas seperti biasa, karena selama persalinan IV ibu
membutuhkan istirahat untuk menyiapkan tubuh dalam proses
penyembuhan (Mitiyani, 2009 dalam Susilowati) karena sampai akhir
persalinan kala IV, kondisi ibu biasanya telah stabil (Hamilton, 2004
dalam Susilowati). Setelah periode istirahat vital pertama berakhir atau
setelah kala IV, ibu didorong untuk sering berjalan-jalan hal ini disebut
dengan mobilisasi dini ibu nifas (Bobak, 2005 dalam Susilowati)
Seorang wanita boleh turun dari tempat tidur dalam waktu
beberapa jam setelah persalinan (Cuningham, 2004). Sebelum waktu ini,
ibu diminta untuk melakukan latihan menarik nafas dalam serta latihan
tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya di
tepi tempat tidur.
Mobilisasi ini dapat dimulai segera setelah tanda vital stabil,
fundus keras dan perdarahan tidak banyak, kecuali jika ada kontraindikasi

47
serta dapat dilakukan sesuai kekuatan ibu. Menurut Bahiyatun (2008),
pada persalinan normal, ibu diperbolehkan untuk mandi dan ke WC
dengan bantuan orang lain, yaitu pada 1 atau 2 jam setelahl persalinan jika
ibu belum melakukan rentang gerak dalam tahapan mobilisasi dini selama
1r atau 2 jam setelah persalinan, ibu nifas tersebut belum melakukan
mobilisasi secara dini (Early Ambulation).
Beberapa gerakan dalam tahapan mobilisasi pada ibu nifas yang
bersalin normal antara lain :
1. Miring ke kiri - kanan
Memiringkan badan ke kiri dan ke kanan merupakan mobilisasi
paling ringan dan yang paling baik dilakukan pertama kali. Di samping
dapat mempercepat proses penyembuhan , gerakan ini juga
mempercepat proses kembalinya fungsi usus dan kandung kemih
secara normal.
2. Menggerakan kaki
Setelah mengembalikan badan ke kanan dan ke kiri, mulai gerakan
kedua belah kaki. Mitos yang menyatakan bahwa hal ini tidak boleh
dilakukan karena dapat menyebabkan timbulnya varices adalah salah
total. Justru bila kaki tidak digerakan dan terlalu lama diatas tempat
tidur dapat menyebabkan terjadinya pembekuan pembuluh darah balik
dapat menyebabkan varices ataupun infeksi.
3. Duduk
Setelah merasa lebih ringan cobalah untuk duduk di tempat tidur.
Bila merasa tidak nyaman jangan dipaksakan, lakukan perlahan-lahan
sampai terasa nyaman.
4. Berdiri atau turun dari tempat tidur
Jika duduk tidak menyebabkan rasa pusing, teruskanlah dengan
mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Bila terasa sakit atau ada
keluhan, sebaiknya hentikan dulu dan dicoba lagi setelah kondisi terasa
lebih nyaman.
5. Ke kamar mandi dengan berjalan

48
Hal ini harus dicoba setelah memastikan bahwa keadaan ibu benar-
benar baik dan tidak ada keluhan. Hal ini bermanfaat untuk melatih
mental karena adanya rasa takut pasca persalinan.
Pada saat pertama kali turun dari tempat tidur, ibu nifas yang
bersangkutan harus ditemani oleh penunggu untuk menjaga kalau-
kalau ia mengalami sinkop dan kemudian pingsan (Leveno, 2004).
Penambahan kegiatan dalam mobilisasi dini harus berangsur-angsur,
jadi bukan maksudnya ibu segera bangun mencuci, memasak dan
sebagainya (Syafrudin, 2011).
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
Dikutip dari jurnal yang ditulis Susilowati (2015), ada beberapa hal yang
mempengaruhi mobilitas ibu nifas, diantaranya :
a. Usia
Menurut Manuaba (2004) usia reproduksi dibagi dua reproduksi sehat
umur 20-35 tahun dan tidak sehat umur < 20 tahun dan < 35 tahun.
Menurut Hidayat (2006) bahwa usia turut mempengaruhi mobilisasi
karena terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat usia
yang berbeda, hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi
alat gerak sejalan dengan pertambahan usia yang berarti semakin
matang usia reproduksi seseorang tingkat pelaksanaan mobilisasi
semakin meningkat. Berdasarkan penelitian dari Susilowati (2015),
sebagian besar responden berumur antara 20-35 tahun dan melakukan
mobilisasi dini sebanyak 36,7%.
b. Pekerjaan
Pada ibu yang bekerja cenderung lebih mandiri dibandingkan dengan
ibu yang tidak bekerja. Menurut Thomas (1996) dalam buku Nursalam
(2003) pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Keluarga
dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding dengan
keluarga dengan status ekonomi rendah, hal ini akan mempengaruhi
kebutuhan akan informasi termasuk kebutuhan sekunder. Selain itu

49
juga ibu yang bekerja memiliki kecenderungan untuk lebih mandiri
termasuk melakukan mobilisasi secara dini setelah bersalin. Ibu yang
bekerja diluar rumah memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai
informasi, termasuk mendapatkan informasi tentang arti penting
mobilisasi. Dari faktor pekerjaan didapatkan sebagian responden
bekerja yaitu sebanyak 66,7% responden, ibu nifas yang bekerja
sebanayk 50% melakukan mobilisasi dini.
c. Budaya atau adat
Adat atau budaya tertentu melarang ibu nifas untuk melakukan
gerakan atau berjalan sebelum 2 hari setelah melahirkan dan
menganjurkan ibu untuk selalu meluruskan kaki. Menurut teori
Hidayat (2006) tentang faktor yang mempengaruhi mobilisasi dini
yaitu orang memiliki budaya serin jalan-jalan jauh memiliki
kemampuan mobilitas yang lebih kuat. Namun, dari hasil penelitian,
63,3% responden tidak mengikuti budaya yang melarang ibu nifas
untuk bergerak setelah persalinan selesai, terdapat 50% responden
melakukan mobilisasi dini. Ini sesuai dengan teori yang dikemukakan
Hidayat (2006).
d. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang
wanita semakin tinggi paritas maka semakin tinggi pula kemampuan
ibu untuk melakukan mobilisasi dini karena dipengaruhi oleh paparan
informasi yang diterima dan pengalaman ibu bersalin sebelumnya.
pada penelitian Susilowati (2015), sebanyak 70% multipara yang
melakukan mobilisasi dini adalah sebanyak 43,3%.

50
51