Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIK ELEKTRONIKA DAYA

APLIKASI PENYEARAH SATU FASA DENGAN PENGATUR SATU


PULSA PADA MOTOR DC SHUNT

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA


Dosen Pembimbing : Nofiansyah, S.T., M.T

Disusun Oleh:
Nama : Mutia Imam (061630310163)
Kelas : 5 LA
Kelompok : 4
Anggota : 1. M. Oki Kurniawan Hasidin (061530310154)
2. Aditiya Octariansyah (061630310146)
3. Akmal Ramdan (061630310148)
4. Bayu Sugara (061630310151)
5. Fadel Hanifa Fuady (061630310154)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2018
APLIKASI PENYEARAH SATU FASA DENGAN PENGATUR SATU
PULSA PADA MOTOR DC SHUNT

1. Tujuan percobaan
1.1 membedakan keadaan bias terbalik dan keadaan blokir pada beban
motor
1.2 Memakai thyristor sebagai diode penyearah yang dapat diatur
dengan memakai satu pulsa penyalaan
1.3 Mencatat sifat penyearah dengan pengatur arus
1.4 Menentukan persyaratan pemadaman thyristor
1.5 Memperhatikan akibat yang timbul pada tegangan searah keluaran
bila thyristor dinyatakan dalam keadaan berbeban.
1.6 Memakai belitan sebagai induktansi perata
1.7 Mengetahui gelombang keluaran pada pembebanan motor dc.

2. Pendahuluan

Rangkaian dengan pulsa pengatur satu fasa bertujuan untuk


memperkenalkan masalah yang timbul pada saat menyalakan thyristor
dalam keadaan berbagai macam beban. Ragkaian ini juga berguna untuk
menerangkan cara kerja pengaturan dan rangkaian tiga fasa.

2.1 berlainan dengan cara kerja diode biasa, suatu thyristor akan tetap
mati (off) walaupun tegangan anoda lebih positif dari katoda sampai
saat pulsa penyalaan diberikan pada gatenya, dimana tegangan gate
harus lebih positif dari katodanya. Dengan demikian suatu thrystor
mempunyai ketiga kondisi kerja :

2.1.1 kondisi rntangan balik ( reverse blocking state )


thyristor tidak akan melakukan arus (off) walau diberikan pulsa penyalaan
pada gate karena tegangan anoda lebih negative dari katodanya VAK < 0, VGK
= bebas

2.1.2 kondisi rintangan maju (forward blocking state )

thyristor tidak akan melakukan arus (off) bila tidak diberi pulsa penyalaan
pada gatenya meskipun tegangan anoda lebih postif dari katodanya, VAK >0 ,
VGK < 0, IG= 0

2.1.3 Kondisi konduksi (conducting state )

Thyristor akan on atau mengalirkan arus apabila anoda kebih positif dari
katoda dan gatediberi sinyalatau pulsa penyalaan, VAK >0 , VGK < 0, IG<0.
Jadi thyristor akan konduksi jika VAK > 0 dan VGK > 0 , Kondisi ini tidak
akan berubah apabila arus I yang mengalir melalu thyristor tidak lebih kecil
dari arus holdingnya , meski pulsa penyalaan pada gatenya dihilangkan.
2.2 parameter yang dapat dipakai sebagai patokan untuk sudut penyalaan
dihitung dari titik nol yang biasanya disebut sudut fasa penyalaan.

Bagian dari gelombang yang berbentuk sinus adalah sebagai berikut :


a. fasa bias postif
b. menyala
c. fasa bias negative , bias terbalik
2.3 karena thyristor dapat menahan tegangan positif , jika dibandingkan
terhadap sifat diode , maka disamping harus mampu menahan
tegangan puncak thyristor juga harus mampu menahan tegangan balik
puncak positif.
2.4 Dengan mengatur sudut penyalaan tegangan searah keluaran dapat
diatur dari 0 v pada sudut penyalaan 180 derajat dan Vd maksimum
pada sudut penyalaan alpha = 0 ( α = 0 ) . pada umumnya tegangan
dapat diatur disebut Vdα. Pada keadaan tertentu misalnya untuk alpha
90’ tegangan keluaran disebut Vd90.
2.5 Pada beban tahanan murni tegangan keluaran searah akan mengikuti

rumus : Vdα = . diagram berikut menunjukkan

hubngan antara tegangan Vdα dengan sudut penyalaan α diagramnya


disebut lengkung sifat pembebanan
2.6 Dalam keadaan sebenarnya beban penyearah adalah gabungan tahanan
dan induktansi . karena beban induktansi bertindak sebagai
penyimpanan energy magnet, perubahan arus tidak setajam/sebanyak
pada rangkaian tahanan murni. Akan tetapi energy yang tersimpan
akan membuat arus yang mengalir tetap mengalir pada saat tegangan
sumber negative. Akibatnya induktansi akan bekerja meratakan arus
dan disebut sebagai perata arus.
2.7 Arus yang tetap mengalir seperti disebut diatas mengakibatkan
thyristor tetap menyala. Thyristor tidak akan padam sampai energy
yang tersimpan berkurang sampai mencapai harga dimana arus pada
thyristor tidak dapat mengalir lagi . bentuk tegangan searah dan arus
yang mengalir pada sudut penyalaan 90’ ditunjukkan pada gambar
dibawah ini.
3 Peralatan Yang Digunakan
1 . power supply +15/-15 volt ( 1buah )
2. oscilloscope ( 1buah )
3. Avometer ( 1buah )
4. wattmeter ( 1buah )
5. meter rms ( 1buah )
6. transformator 1 fasa( 1buah )
7. potensiometer set point ( 1buah )
8. adaptor arus dan tegangan ( 1buah )
9. beban ohm, 2 x 100 ohm , 2 A ( 1buah )
10. beban induktif , 100 mH/5A ( 1buah )
11. thyristor ( 1buah )
12. unit pengatur 4 pulsa ( 1 set )
13. motor dc shunt

4 Rangkaian percobaan
5 Langkah kerja
5.1 buat rangkaian percobaan seperti gambar . hubung singkatkan belitan
induktansi, sehingga beban adalah bebas tahanan murni. Pulsa
penyalaan thyristor dapat diambil dari salah satu keluaran untuk
setengah gelomang positif . atur sudut penyalaan dari 0’ sampai 180’ .
tunjukkan pulsa penyalaan pada oscilloscope. Apa polaritas pulsa itu.
5.2 Tunjukkan tegangan Vdα serta ukur dengan alat ukur kumparan putar
besarnya tegangan keluaran pada α = 0’, 45’, 90’ , 135’ , 180’ .
gambarkan grafik hubungan Vdα/ Vd0 sebagai fungsi dari α. Ukur
tegangan dengan alat ukur rms , hitung Vd0.
5.3 Tukar polaritas pulsa pengatru dengan membalik dua buah hubungan.
Amati tegangan keluaran dalam daerah 0’ < α< 180’ . lengkapi
jawaban pada lampiran kerja 1.
5.4 Tunjukkan tegangan Rm. Tegangan ini akan sebanding dengan arus
beban pada keadaan α = 90’ dan gambarkan hasil di oscilloscope.
Berapa besar Vd90 ?
5.5 Lepaskan penghubung singkat induktansi , ulangi pengamatan 5.4.
berapa besar dari Vd90
5.6 Bandingkan hasil pengukuran Vd90 yang didapat pada 5.4 dan 5.5 .
mengapa hasilnya berbeda ?
Lembar kerja 1
Polaritas pulsa penyalaan adalah………………..

Α 0’ 15’ 45’ 90’


Vd α 36
Vd α/
Vd0

Buat grafik besarnya Vdα / Vd0 untuk setiap nilai/harga sudut


penyalaan α

Hasil pengamatan tegangan bolak balik : V =…………………..VOLT

Sehingga Vd0 = …………………………volt

Untuk 5.3

Besarnya tegangan dalam daerah pengaturan, Vdα = …………..volt

Pada saat tegangan anoda katoda positf dan tegangan antara gate
dengan katoda negative maka thyristor :

6 HASIL PERCOBAAN

6.1.2TABEL POLARITAS PULSA PENYALAAN R= 200 OHM

α 0’ 15’ 45’ 90’


I (A) 0.14 0.1 0.16 0.14
P(watt) 9 20 10 9
Vd α 28 29.5 49.5 30
Vd α/ Vd0 1 1.05 1.76 1.07

6.1.2GRAFIK SUDUT PENYALAAN R= 200 OHM (Vd α/ Vd0)

6.1.3 GRAFIK PERUBAHAN DAYA TERHADAP SUDUT PENYALAAN

6.1.4 GRAFIK PERUBAHAN ARUS TERHADAP SUDUT PENYALAAN


7 PERHITUNGAN
A. R=200 OHM
- Untuk α = 0’

- Untuk α = 15’

- Untuk α = 45’

- Untuk α = 90’

- Untuk α = 180’