Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gangguan muskuloskeletal adalah suatu kondisi yang
mempengaruhi sistem muskuloskeletal yang dapat terjadi pada tendon, otot,
sendi, pembuluh darah dan atau saraf pada anggota gerak. Gejala dapat
berupa nyeri, rasa tidak nyaman, kebas pada bagian yang terlibat dan dapat
berbeda derajat keparahannya mulai dari ringan sampai kondisi berat, kronis
dan lemah (HSE, 2014).
Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah utama
kesehatan diseluruh dunia dengan prevalensi 35 – 50% (Lindgren dkk,
2010). Pada Nord –Trøndelag County di Norwegia terdapat 45% dari
populasi orang dewasa melaporkan nyeri muskuloskeletal kronis selama
setahun terakhir (Hoff dkk, 2008).
Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh
benturan pada dinding dada yang mengenai tulang-tulang sangkar
dada, pleura dan paru-paru, diafragma ,atau organ-organ dalam
mediastinum baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat
menyebabkan gangguan system pernafasan.

Cedera pada dada secara luas diklasifikasikan menjadi dua kelompok:


cedera penetrasi dan tumpul. Cedera penetrasi (contohnya: pneumotoraks
terbuka, hemotoraks, ceder trekheobronkhial, kontusio pulmonal, ruptur
diafragma) mengganggu integritas dinding dada dan mengakibatkan
perubahan dalam tekan intratoraks. Cedera tumpul (nonpenetrasi)
(contohnya: Pneumotoraks tertutup, pneumotoraks tensi, cedera
trakheobronkhial, flail chest, rupture diafragma, cedera mediastinal, fraktur
rusuk) merusak struktur didalam rongga dada tanpa mengganggu integritas
dinding dada.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yaitu
bagaimana konsep dan manajemen kegawatdaruratan pada flail chest

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui konsep dan manajemen kegawatdaruratan pada flail chest
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep dasar flail chest
b. Mengetahui asuhan keperawatan gawat darurat pada flail chest
c. Mengetahui algoritma dan WOC pada flail chest

D. Manfaat
1. Bagi Pembaca
Untuk menambah wawasan terkait dengan cara penanganan pasien
dengan kegawatdaruratan pada pasien flail chest.
2. Bagi Penulis
Sebagai pedoman dan panduan mahasiswa dalam menangani dan
memberikan asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien flail chest.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Flail chest adalah istilah medis yang menggambarkan beberapa patah
tulang rusuk,ketika tulang rusuk yang patah atau dislokasi di lebih dari satu
tempat dan tidak ada lagi sepenuhnya terhubung ke tulang rusuk lainnya.
Flail chest adalah suatu keadaan apabila dua iga berdekatan atau lebih
mengalami fraktur pada dua tempat atau lebih. Bila fraktur terjadi pada dua sisi
maka stabilitas dinding dada lebih besar dan kurang mengancam ventilasi
daripada bila terjadi pada satu sisi.
Flail Chest adalah area toraks yang "melayang" (flail) oleh sebab adanya
fraktur iga multipel berturutan (3 iga), dan memiliki garis fraktur = 2
(segmented) pada tiap iganya. Akibatnya adalah terbentuknya area "flail" yang
akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding
dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada
ekspirasi.

B. Etiologi
Flail Chest berkaitan dengan trauma thorak, yang dapat disebabkan oleh:
1. Trauma Tumpul
Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa
antara lain: Kecelakaan lalulintas, kecelakaan pada pejalan kaki, jatuh dari
ketinggian, atau jatuh pada lantai yang keras atau akibat perkelahian.
2. Truma Tembus
Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa: Luka tusuk
dan luka tembak
3. Disebabkan bukan trauma
Yang dapat mengakibatkan fraktur costa adalah terutama akibat gerakan yang
menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya
gerakan yang berlebihan dan stress fraktur,seperti pada gerakan olahraga:
Lempar martil, soft ball, tennis, golf.
C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang biasanya tampak untuk menegakkan diagnosa
flail Chest adalah:
1. Tampak adanya gerakan paradoksal segmen yang mengambang, yaitu pada
saat inspirasi ke dalam, sedangkan pada saat ekspirasi keluar. Keadaan ini
tidak akan tampak pada klien yang menggunakan ventilator.
2. Sesak nafas
3. Takikardi
4. Sianosis
5. Akral dingin
6. Wajah pucat
7. Nyeri hebat di bagian dada karena terputusnya integritas jaringan parenkim
paru.

D. Komplikasi
1. Iga: fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada
2. Pleura,paru-paru, bronchi: hemopneumothoraks, empisema
3. Jantung: tamponade jantung, rupture jantung, rupture otot papilar, ruptur
klep jantung.
4. Pembuluh darah besar: hematothoraks
5. Esofagu: mediastinitis
6. Diafragma: herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal.
7. Gagal napas yang disebabkan oleh adanya ineffective air movement (Tidak
efektifnya pertukaran gas), yang seringkali diperberat oleh edema/kontusio
paru, dan nyeri.
E. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan yang dibutuhkan adalah
1. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun
a. Pa Co2 kadang kadang menurun
b. Pa 02 menurun
c. Saturasi O2 menurun
2. Hemoglobin mungkin menurun
3. Rontgen Standar
a. Rontgen thorak anteroposterior dan lateral dapat menunjukkan jumlah dan
tipe costae yang mengalami fraktur
b. Pada pemeriksaan foto thorak pada pasien dewasa dengan trauma tumpul
thoraks, adanya gambaran hematothoraks, pneumotoraks, dan kontusio
pulmo menunjukkan hubungan yang kuat dengan gambaran fraktur kosta.
4. EKG
5. Monitor laju nafas
6. Pulse Oksimetri

F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Konservatif
a. Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri di dada
b. Pemasangan plak/plester yang menahan fraktur costae bergerak keluar
c. Jika perlu antibiotika
d. Fisiotherapy
2. Penatalaksanaan Operatif / invasif
a. Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)
b. Pemasangan alat bantu nafas
c. Chest tube
d. Aspirasi (thoracosintesis)
e. Operasi (bedah thoraxis)
f. Tindakan untuk menstabilkan dada:
1) Miringkan pasien pada arah daerah yang terkena.
2) Gunakan bantal pasien pada daerah dada yang terkena
g. Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif,
didasarkan pada kriteria:
1) Gejala contusio paru
2) Syok atau cedera kepala berat
3) Fraktur delapan atau lebih tulang iga
4) Umur diatas 65 tahun
5) Riwayat penyakit paru-paru kronis
h. Oksigen tambahan
Asuhan Keperawatan
Pasien Dengan Flail Chest

A. Pengkajian Umum
1. Pengkajian
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas
klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2) Keluhan utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh
klien saat pengkajian. Biasanya pasien akan mengeluh nyeri pada
dada saat bernafas.
3) Riwayat Keperawatan
a. Riwayat penyakit saat ini
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui
metode PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama
keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri
dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri menjalar kemana,
Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi
nyeri atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan
klien merasakan nyeri tersebut.
b. Riwayat penyakit dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama
atau pernah di riwayat sebelumnya.
2. Pengkajian Primary Survey
a. Airway dengan kontrol servikal
Penilaian:
1) Perhatikan patensi airway (inspeksi, auskultasi, palpasi)
2) Penilaian akan adanya obstruksi
Management:
1) Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal
in-line immobilisasi
2) Bersihkan airway dari benda asing.
3) Memasang airway definitif intubasi endotrakeal

b. Breathing dan ventilasi


Penilaian
1) Inspeksi
Lihat apakah ada tanda-tanda tersebut :
a) Sianosis
b) Jejas pada dada
c) Luka tembus, Luka robek pada dada
d) Sucking wounds
e) Gerakan otot nafas tambahan
2) Auskultasi
Dengarkan apakah ada tanda-tanda tersebut :
a) Suara napas tambahan / abnormal
b) Suara napas menurun
3) Palpasi
Raba apakah ada tanda-tanda tersebut :
a) Pergeseran letak trakhea
b) Patah tulang iga / Krepitasi
c) Emfisema kulit
d)
4) Perkusi
Apakah ada tanda-tanda tersebut :
a) Redup
b) Hipersonor
Management
1) Melakukan pemasangan saturasi oksigen
2) Pemberian oksigenasi adekuat
3) Kontrol nyeri
a) Pemberian analgesia  Morphine Sulfate, Hidrokodon atau
kodein yang dikombinasi dengan aspirin atau asetaminofen
setiap 4 jam.
b) Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi
nyeri berat akibat fraktur costae
4) Stabilisasi area flail chest
a) Stabilisasi sementara dengan menggunakan towl-clip traction,
atau pemasangan firm strapping
b) Pada pasien dengan flail chest tidak dibenarkan melakukan
tindakan fiksasi pada daerah flail secara eksterna, seperti
melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh karena
akan mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara
keseluruhan.
c) Pemasangan WSD  sebagai profilaksis/preventif pada semua
pasien yang dipasang ventilator.

C. Circulation dengan kontrol perdarahan


Penilaian
1) Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
2) Mengetahui sumber perdarahan internal
3) Periksa nadi: kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus.
Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda
diperlukannya resusitasi masif segera.
4) Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
5) Periksa tekanan darah
Management:
1) Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal (balut &
tekan)
2) Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel
darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, golongan darah dan
cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).
3) Beri cairan kristaloid 1-2 liter yang sudah dihangatkan dengan
tetesan cepat. Klo os tidak syok, pemberian cairan IV harus lebih
berhati-hati.
4) Pemasangan kateter urin untuk monitoring indeks perfusi
jaringan.

D. Disability
a. Menilai tingkat kesadaran memakai GCS
b. Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, refleks cahaya dan awasi
tanda-tanda lateralisasi

E. Exposure/environment
a. Buka pakaian penderita
b. Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan temapatkan pada
ruangan yang cukup hangat.

F. Tambahan primary survey


1) Pasang monitor EKG
2) Kateter urin dan lambung
3) Monitor laju nafas, analisis gas darah
4) Pulse oksimetri
5) Pemeriksaan rontgen standar
6) Lab darah
G. Resusitasi fungsi vital dan re-evaluasi
Re-evaluasi penderita
1) Penilaian respon penderita terhadap pemberian cairan awal
2) Nilai perfusi organ (nadi, warna kulit, kesadaran, dan produksi
urin) serta
awasi tanda-tanda syok.

1. Pengkajian Secondary Survey


B1 (Breath) Subjektif
a. Kesulitan bernafas
Objektif
a. Batuk
b. Takipnea
c. Peningkatan kerja napas
d. Bunyi napas turun atau tak ada
e. Fremitus menurun
f. Perkusi dada hipersonan
g. Gerakkkan dada tidak sama
h. Kulit pucat
i. Sianosis
j. Berkeringat
k. Krepitasi subkutan
l. Mental ansietas
m. Penggunaan ventilasi mekanik
tekanan positif.

Objektif
B2 (Blood) a. Takikardia
b. Distrimia
c. Irama jantung gallop
d. Nadi apical berpindah
e. Tanda Homman
f. Distensi vena jugularis
g. Hipotensi / Hipertensi
B3 (Brain) Subjektif
a. Nyeri uni lateral
Objektif
a. Bingung
b. Gelisah
c. Pingsan
B4 (Bladder) Tidak ada kelainan
B5 (Bowel) Tidak ada kelainan
B6 (Bone) Objektif
Fraktur iga multipel
Terdapat suara krepitasi

B. Diagnosa keperawatan
1. Risiko komplikasi Asidosis Respiratorik
2. Risiko komplikasi Tamponade jantung
3. Risiko kompilkasi Kontusio paru
4. Risiko komplikasi Hemothorax

C. Analisa Data
Data fokus Problem Etiologi
Subjektif Risiko Fungsi ventilasi
a. Mengeluh sesak napas komplikasi menurun
Objektif asidosis
P Pemeriksaan fisik respiratorik
a. RR meningkat
b. Hipoksia
c. Perubahan gerakan dada.
d. penurunan tekanan
inspirasi/ekspirasi.
e. Penurunan ventilasi
semenit.
f. Penurunan kapasitas
vital.
g. Napas dalam.

Subjektif Risiko Ruptur jantung


a. Menegluh nyeri pada komplikasi
dada ( sedang sampai Tamponade
berat / tajam ) diperberat jantung
oleh inspirasi, batuk,
menelan, berbaring ,
biasanya hilang dengan
duduk.
Objektif
a. Takikardia
b. Penurunan tekanan darah
c. Dispnea dengan aktivitas
d. Terdapat trauma tumpul
atau trauma tembus.
Subjektif Risko komplikasi Trauma pada
a. Mengeluh kontusio paru paru
nyeri , dan
sesak napas
Objektif
a. Batuk tetapi
tidak
mengeluarkan
sekret
b. Takhikardia
c. Sianosis
d. Batuk
produktif dan
kontiyu
e. Trauma
tumpul pada
dada
Subjektif Risiko Trauma tumpul
a. Mengeluh sesak napas komplikasi (pecahnya
dan nyeri pada dada Hemothorax membran serosa
Objektif yang menutupi
a. Lemah paru-paru)
b. Pucat
c. Takikardia
d. Irama jantung gallop
e. Retraksi dinding dada
f. Fremitus menurun
g. Terdapat suara redup
pada saat palpasi
h. Ada luka / jejas pada
daerah dada
D. Intervensi Keperawatan
Dx Tujuan Kriteria Intervensi Keperawatan
Dan Hasil NIC NOC

1) Risiko Setelah dilakukan Mandiri : 1) Meningkatkan


komplikasi tindakan 1) Berikan posisi inspirasi
gagal keperawatan selama Semi fowler maksimal,
napas 3x24 jam diharapkan untuk meningkatkan
pasien meminimalkan ekpsnsi paru dan
dapat menunjukan: ventilasi ventilasi pada
a. Memperlihatkan 2) Jelaskan pada sisi yang tidak
frekuensi klien bahwa sakit.
pernapasan yang tindakan Observasi fungsi
efektive. tersebut pernapasan,
b. Mengalami dilakukan untuk catat frekuensi
perbaikan menjamin pernapasan,
pertukaran gas keamanan. dispnea atau
pada paru. 3).Kolaborasi: perubahan
a. radiologi dan tanda-tanda
fisioterapi. vital.
b. Pemberian 2) Pengetahuan
oksigen yang apa yang
adekuat diharapkan
c. Jika dapat
pemberian mengembangka
oksigen tetap n kepatuhan
tidak klien terhadap
membaik rencana
lakukan teraupetik.
pemasangan Pertahankan
intubasi perilaku tenang,
ventilator bantu pasien
untuk kontrol
diri dengan
menggunakan
pernapasan lebih
lambat dan
dalam.
3).Mengevaluasi
perbaikan
kondisi klien
atas
pengembangan
parunya.
2) Risiko Setelah dilakukan Mandiri: 1) Akan
komplikasi tindakan 1) Penanganan melancarkan
tamponade keperawatan selama Airway, peredaran
jantung 1 x 6 jam diharapkan Breathing, darah, sehingga
a. Nyeri berkurang/ Circulation, kebutuhan O2
dapat diadaptasi Disability, oleh jaringan
b. Dapat Eksposure akan terpenuhi,
mengindentifikas 2) Monitor EKG sehingga akan
i aktivitas yang Kolaborasi : mengurangi
meningkatkan/ 1) Tindakan nyerinya.
menurunkan Perikardiosintesi 3). Analgetik
nyeri s memblok
c. Pasien tidak 2) Tindakan lintasan nyeri,
gelisah. Torakotomi sehingga nyeri
3) Pemberian akan
analgetik berkurang.
3) Risiko Setelah dilakukan Mandiri : 2) Pemberian
komplikasi tindakan 1). Penanganan oksigenasi
kontusio keperawatan selama Airway, adekuat untuk
paru 1 x 6 jam diharapkan Breathing, mencegah
a. Nyeri dada Circulation, terjadinya
berkurang dan Disability, hipoksia yang
ventilasi adekuat 2) pemberian dapat
oksigenasi menyebabkan
adekuat kegagalan
Kolaborasi pernapasan dan
1) Intubasi dan menyebabkan
ventilator paru kolaps,
2) pembatasan sehingga
cairan kebutuhan O2
3) pemberian obat oleh jaringan
diuretik akan terpenuhi,
4) pemeriksaan dan akan
AGD mengurangi
5) Rhontgen nyerinya.
thorax 2) Pemberian obat
6) CT Scan Thorax diuretik untuk
mencegah
terjadinya
penumpukan
cairan dipleura
yang dapat
menyebabkan efusi
pleura.

4) Risiko Setelah dilakukan Mandiri : 1) Tindakan


komplikasi tindakan pemasangan ches
hemothora keperawatan 1 x 6 1) Penanganan tube harus segera
x jam diharapkan Airway, dilakukan karena
dapat Breathing, darah yang ada
a. Mengurangi Circulation, dipleura segera
terjadinya Disability, keluar sehingga
komplikasi lebih 2) pemberian tidak membeku
lanjut oksigenasi didalam pleura
adekuat yang dapat
3) Resusitasi menyebabkan
cairan komplikasi yang
Kolaborasi : lebih berisiko bagi
1) pemasangan penderita.
ches tube
Jika pemasangan
ches tube / WSD
darah juga tidak
keluar maka
diperlukan
pemasangan
Torakotomi
2) Transfusi darah
3) Pemberian
antibiotik
Resiko komplikasi :
Web of cautions
hemopneumotora
Trauma kompresi anteroposterior
x,hemathorax,
dari rongga thorax
kelumpuhan
rongga dada
Lengkung iga akan lebih melengkung lagi kearah
lateral

Saat inspirasi rongga


Fraktur iga multiple segmental (Flail Chest) dada mengenmbang

Krepitasi Adanya segmen yang Stimulasi syaraf


mengambang
Nyeri dada
RK : Ruptur Jantung
Gangguan pergerakan Nyeri akut
dinding dada
Tamponade Jantung
Gerakan napas paradoksal Trauma pada paru  Monitor tanda vital
 Ajarkan manajemen nyeri
 Penanganan kegawatan  Kolaborasi pemberian
ABCDE Flail chest akan menekan Kontusio paru (Memar / analgetik
 Perikardiosintesis paru peradangan)
 Monitor EKG
 Torakotomi Perdarahan dan kebocoran
Abnormal kinerja paru-paru
 Rujuk cairan kedalam jaringan
Fungsi ventilasi menurun
paru-paru

Gangguan pertukaran gas Akumulasi Co2 pada paru


O2 menurun dan Co2
meningkat
 Buka jalan napas Edema paru
Asidosis respiratorik
 Monitor pernapasan (frekuensi,
irama, kedalaman)
 Pantau adanya penggunaan otot
bantu napas Posisi semi fowler
 Auskultasi suara napas Hipoksia , Rk : Gagal napas
 Posisikan untuk memaksimalkan Pemberian oksigen 40 – 50%
ventilasi
 Sediakan peralatan okigen Intubasi, trakeostomi,
 Lakukan pemeriksaan penunjang ventilator
AGD
A. Algoritma Penanganan Flail Chest

Penanganan pre hospital


- Aman Diri -> Memakai APD - Minta bantuan orang
- Aman Lingkungan -> Berikan privasi dan perlindungan pada pasien disekitar utuk
Pasien dengan flail dari penonton yang ingin tahu (jika pasien kejang diluar)
menelpon 119 dan
chest - Aman Pasien -> Mengamankan pasien di lantai jika memungkinkan
Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar membantu
keras, tajam atau panas. menangani pasien

Airway + Control servikal Breathing Circulation Disability Exprosure


- Apakah ada sumbatan jalan napas ? - Cek RR - Cek Nadi - Cek Kesadaran - DOTS (Deformitas,
Ada. Lakukan head tilt, chin lift atau jaw - Cek suara nafas - Cek akral - Cek Respon motorik, Open Wound,
thrust. tambahan - Cek CRT sensorik dan Pupil Tenderness, Swelling)
- Miringkan kepalanya kesamping untuk - Cek pernafasan cuping
mencegah lidahnya menutupi jalan hidung
pernapasan
- Curigai cedera spinal : stabilisasi leher

Bila di inspeksi terdapat


jejas di bagian dada
dicurigai flail chest
Selama di ambulance :
- Cek Kesadaran
- Cek repon sensorik,
Lakukan Stabilisasi motorik dan pupil
area flail chest dengan
melakukan posisi ke
arah yang di curigai
terjadi flail chest
menunggu sampai
petugas datang
Compos Mentis
Penurunan Kesadaran - Pertahankan pasien pada
- Buka Jalan Napas salah satu sisi untuk
- Berikan oksigenasi mencegah aspirasi.
sesuai kebutuhan Yakinkan bahwa jalan
napas paten.
- Berikan oksigenasi sesuai
kebutuhan
- Perhatikan posisi pasien
agar tetap fiksasi ke arah
cedera
Penanganan in hospital
Pasien dengan
Flail Chest

MRS

IGD

Keluhan Utama
 Pasien mengeluh sesak
 Pasien mengeluh nyeri pada dada
 Pasien mengeluh lemas, lemah
 Pasien mengatakan mengalami kecelakaan dan
terbentur dan tertusuk dibagian dada

Airway + Control Penilaian Circulation Disability Exprosure


servikal Breathing - Cek Nadi - DOTS (Deformitas,
Inspeksi : Adanya sianosis, - Cek Kesadaran
- Apakah jalan napas - Cek TTV Open Wound,
jejas pada dada, luka tembus, - Akral - Cek Respon
paten/ada sumbatan? Tenderness,
 Gurgling : luka robek pada dada, Gerakan motorik, sensorik
otot nafas tambahan, napas dan Pupil Swelling)
Suction
 Snoring : OPA, paradoksal
NPA, LMA Auskultasi : adanya suara
napas tambahan, suara napas
 Curigai cedera
menurun,
leher : Fiksasi
pergeseran letak thrakea, suara
leher dengan
krepitasi,
neck collar
Palpasi: Adanya pergeseran
letak thrakea, suara Management Circulatrion
krepitasi, - Penekanan langsung pada
Perkusi : Redup / sumber perdarahan eksternal
Hipersonor
(balut & tekan)
Management Breathing - Pasang kateter IV 2 jalur
- Melakukan pemasangan ukuran besar sekaligus
pulse oksimetry , cek
saturasi oksigen mengambil sampel darah
- Pemberian oksigenasi untuk pemeriksaan rutin,
adekuat kimia darah, golongan darah
- Intubasi ventilator
dan cross-match serta
- Stabilisasi area flail chest
- Stabilisasi sementara Analisis Gas Darah (BGA).
dengan menggunakan - Beri cairan kristaloid 1-2
towl-clip traction, atau liter yang sudah dihangatkan
pemasangan firm dengan tetesan cepat. Klo os
strapping tidak syok, pemberian cairan
Pada pasien dengan IV harus lebih berhati-hati.
flail chest tidak - Pemasangan kateter urin
dibenarkan melakukan untuk monitoring indeks
tindakan fiksasi pada perfusi jaringan
daerah flail secara
eksterna, seperti
melakukan
splint/bandage yang
melingkari dada, oleh
karena akan mengurangi
gerakan mekanik
pernapasan secara
keseluruhan.
- BGA

Segera lakukan Pantau status


pemasangan WSD di ruang hemodinamik TTV
operasi pasien

Pasien
stabil di
antar
Observasi setelah pemasangan WSD keruangan
- Perhatikan setiap 15-20 menit selama 1-2 jam setelah
operasi
- Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction
normalnya 500-800cc selama 24 jam jika perdarahan
dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg bb/ jam, harus dilakukan
torakotomi.