Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari
suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon
terhadap suara atau bunyi tersebut (Keliat, 2006).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan, mesin, barang,
kejadian alamiah dan musik dalam keaadan sadar tanpa adanya rangsangan apapun
(Maramis, 2005).
Halusinasi pendengaran adalah persepsi sensorik yang keliru melibatkan panca
indra pendengaran (Isaac, 2005).

2. Etiologi
Menurut stuart ( 2007) faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
a. Faktor Predisposisi
1) Biologis
Abnormalitas perkambangan syaraf berhubungan dengan respon neorologis
yang maladaftif baru mulai dipahami, ini ditunjukkan oleh penelitian-
penelitian sebagai berikut:
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukan keterlibatan otak yang lebih
luas dalam perkembangan skizofren
b) Beberapa zat kimia diotak seperti dopamin neorotransmiter yang
berlebihan
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia.
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keaadan yang dapat
mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan
kekerasan dalam rentang hidup klien.
3) Sosial budaya
Kondisi ini mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti :
kemiskinan, perang, kerusuhan, bencana alam dan kehidupan yang terisolasi
b. Faktor presipitasi
Secara fisik klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya
hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa
dan tidak berdaya. Penilaian induvidu terhadap stressor dan maslah koping dapat
mengindikasi kemungkinnan kekambuhan (Kelliat,2006).
Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnomalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak akibat
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima
oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap sress yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang ditimbulkan pada individu yang mengalami halusinasi dengar:
a. Bicara, senyum dan tertawa sendiri
b. Mengatakan mendengar suara
c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan
d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata
e. Tidak dapat mremusatkan konsentrasi / perhatian
f. Pembicaraan kacau kadang tidak masuk akal
g. Sikap curiga dan bermusuhan
h. Menarik diri, menghindar dari orang lain
i. Sulit membuat keputusan
j. Ketakutan
k. Mudah tersinggung, jengkel, mudah marah
l. Menyalahkan diri sendiri/orang lain
m. Tidak mampu melaksanakan asuhan mandiri : mandi, berpakaian
n. Muka merah kadang pucat
o. Ekspresi wajah tegang
p. Tekanan sdarah meningkat
q. Nadi cepat
r. Banyak keringat
4. Jenis halusinasi
Menurut Stuart (2007) halusinasi terdiri dari dua jenis:
a. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering mendengar suara orang. Suara
berbentuk kebinsingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara
tentang klien, bahkan sampai ada percakapan lengkap antara dua orang yang
mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan
bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
b. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun,
bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan biasa yang menyenangkan atau
menakut ksn seperti melihat monster.
c. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-
bauan yang tidak menyenang kan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke,
tumor, kejang , atau dimensia.
d. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
e. Perabaan
mengalami nyeri atau ketidak nyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tesentrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
f. Cenestetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan
makanan atau pembentukan urine.
g. Kinistetik
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
5. Tahapan halusinasi
a. Fase I:
Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah
dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenang kan untuk
meredakan ansietas. Disini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik
sendiri.
b. Fase II:
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali
dan mungkin mencoba untuk mengendalikan jarak dirinya dengan sumber yang
dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat
ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernafasan dan
tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan
untuk membedakan halusinasi dengan realita.
c. Fase III:
Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah
pada halusinasi tersebut. Disni klien sukar berhubungan orang lain, berkeringat,
tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi
yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
d. Fase IV:
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah
halusinasi. Disini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu
berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.

6. Rentang respon

Respon adaptif Respon maladaptive

Pikiran logis Kadang proses pikir Gangguan proses


Persepsi akurat terganggu pikir; waham
Emosi konsisten Ilusi Halusinasi
Perilaku sesuai Emosi berlebihan / Kesukaran proses
Hubungan sosial kurang emosi
harmonis Perilaku tidak sesuai Perilaku tidak
/ tidak biasanya terorganisir
Menarik diri Isolasi sosial
Gambar: Rentang Respon Kecemasan

Halusinasi merupakan salah satu respon maladatif individu yang berada dalam
rentang respon neurobiologi.
a. Pikiran logis : yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
b. Persepsi akurat : yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang
didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang
ada di dalam maupun diluar dirinya.
c. Emosi konsisten : yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar di
sertai banyak banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
d. Perilaku sesuai : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian
masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang
belaku.
e. Hubungan sosial harmonis : yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan
antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerja sama.
f. Proses pikir kadang tergantung (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi implus
eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada
area tertentu diotak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah
dialami sebelumnya.
g. Emosi berlebihan atau kurang : yaitu menisfatasi perasaan atau afek keluar
berlebihan atau kurang.
h. Perilaku atau tidak sesuai atau biasa : yaitu perilaku individu berupa tindakan
nyata dalam penyesuaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sesial
atau berbudaya umum yang berlaku.
i. Perilaku aneh atau tidak biasa : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum yang berlaku.
j. Menarik diri : yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain.
k. Isolasi sosial : menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam
berinteraksi.
Berdasarkan rentang diatas diketahui bahwa halusinasi merupakan respon
persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat, persepsinya akurat, mampu
mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang
diterima melalui panca indra (pendengaran, penglihatan,penghidu,pengecapan, dan
perabaan), sedangkan klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulul panca
indra walaupun sebenarnya stimulas itu tidak ada.
7. pohon masalah
Risiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perubahan persepsi sensori : halusinasi defisit perawatan diri

Isolasi sosial : menarik diri kurang motivasi

Gangguan konsep diri : HDR

(Budi Anna Keliat, 2006)

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan telambat
1) Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minuman dan rasa aman
2) Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi
3) Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan.
b. Faktor komunikasi dalam keluarga
1) Komunikasi peran ganda
2) Tidak ada komunikasi
3) Tidak ada kehangatan
4) Komunikasi dengan emosi berlebihan
5) Komunikasi tertutup
6) Orang tua yang membandingkan anak-anaknya, orang tua yang otoritas dan
komplik orang tua.
2. Faktor sosialisasi budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang
terlalu tinggi.
a. Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri
tinggi, harga diri rendah, idintitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri
negatif dan koping deskruptif.
b. Faktor biologis
Adanya kegiatan terhadap fisik, berupa: atropi otak, pembesaran Vertikel,
perubahan besar dan bentuk sel bentuk sel korteks dan limbik.
c. Faktor Genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromosom
tertentu. Namun demikian kromosom yang berada yang menjadi faktor
penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga
letak gen skizoprenia adalah kromosom nomor enam, dan kontribusi genetik
tambahan nomor 4, 8, 5, dan 22. anak kembar identik memiliki kemungkinan
mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia,
sementara jika dizyote peluangnya sebesar 15%, seorang anak yang salah satu
orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia,
sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka perluangnya menjadi
35%.
3. Faktor presipitasi
a. Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sirkadian, kelelahan
dan infeksi, obat-obatan, system syaraf pusat,kurangnya latihan dan hambatan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
b. Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktifitas sehari-hari,
sukar dalam berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya
dukungan sosial, tekanan kerja (kurang tampil dalam berkerja), stigmasasi,
kemiskinan, kurangnya alat tranportasi dan ketidakmampuan mendapat
pekerjaan.
c. Sikap
Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri),
merasa gagal (kehilangan motovasi menggunakan keterampilan diri),
kehilangan kendali diri (demonstrasi), merasa punya kekuatan berkelebihan,
merasa malang (tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak
seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan
sosialisasi, prilaku asertif, prilaku kekerasan, ketidak adekuatan pengobatan
dan ketidakadekuatan penanganan gejala.
4. Prilaku
Respon prilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, rasa
tidak aman, gelisah, bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu
mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri, tidak dapat membedakan
yang nyata dengan yang tidak nyata.Prilaku klien yang mengalami halusinasi
sangat tergantung pada jenis halusinasinya, meliputi:

a. Isi halusinasi
Ini dapat ditanyakan, suara apa yang didengar, apa saja yang dikatakan
suara itu, jjika halusinasi auditorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh
klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium, jika halusinasi penghidu,
rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecap, dan apa yang diraskan
dipermukaan tubuh jika halusinasii perabaan.
b. Waktu dan frekuensi
Ini dapat ditanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul,
berapa kali sehari, seminggu, sebulan pengalaman halusinasi itu muncul.
c. Pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi
muncul. Selain itu perawat perlu juga bisa mengobservasi apa yang dialami
klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasikan pernyataan
klien.
d. Respon klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien, bisa
dikaji dengan apa yang dilakukan klien saat mengalami halusinasi.
5. Mekanisme koping
a. Regresi: menjadi malas beraktivitas sehari-hari
b. Proyeksi: menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain
c. Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal
6. Masalah keperawatan
a. Perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
b. Risiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
c. Isolasi sosial: menarik diri
d. Gangguan konsep diri: HDR
e. Intoleransi aktivitas
f. Difisit perawatan diri
7. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
b. Risiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
c. Isolasi sosial: menarik diri
d. Gangguan konsep diri: HDR
e. Difisit perawatan diri.
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Bina pelayanan keperawatan dan pelayanan medik departemen


kesehatan, 2007 di kutip dari http://lensapropesi.blogspot.com/2008/11/halusinasi-
penglihatan-trisnawati.html diambil tanggal 04 november 2010

Hawari, 2001 dikutif darihttp://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-halusinasi


diambil tanggal 04 november 2010

Isaacs, 2002 dikutip dari http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-halusinasi


diambil tanggal 04 november 2010

Keliat, 2006 dikutip dari http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-halusinasi


di ambil tanggal 04 november 2010

Keliat, budi anna.(2006) proses keperawatan kesehatan jiwa.jakarta:penerbit buku


kedokteran EGC
Maramis, 2005 dikutip dari http://lensapropesi.blogspot.com/2008/11/halusinasi-penglihatan-
trisnawati.html diambil tanggal 04 november 2010

Menkes, 2005 dikutip dari http://lensapropesi.blogspot.com/2008/11/halusinasi-


penglihatan-trisnawati.html diambil tanggal 04 november 2010

Diktat Panduan Pengkajian Keperawatan dan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi


Praktek Keperawatan Jiwa Mahasiswa Program D III di RSJ Tampan Propinsi Riau.

Marlyyn E. Doengos Rencana Asuhan Keperawatan psikiatri editor bahasa indonesia,


Monica ester. Jakarta: EGC 2006