Anda di halaman 1dari 15

KEMENTERIAN RISET TEKNOILOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI

TUGAS TAMBANG UMUM

“ Ventilasi Tambang”

Oleh
Rafsanjani
F 121 14 065

PALU
2018
Dalam teknologi penambangan bawah tanah ada dua masalah pokok yang
menjadi kendala pada saat pelaksanaan, yaitu :
1. Segi Mekanika Batuan
Apakah sistem tambang bawah tanah yang akan diterapkan dapat ditunjang oleh
sistem penyanggaan terhadap bukaan-bukaan di dalam tambang.
2. Segi Ventilasi Tambang
Apakah pada kedalam tambang yang akan dihadapi masih dimungkinkan untuk
melakukan pengaturan udara agar penambangan dapat dilaksanakan dengan suasana
kerja dan lingkungan kerja yang nyaman.
1. Fungsi Ventilasi Tambang
a. Menyediakan dan mengalirkan udara segar kedalam tambang.
b. Melarutkan dan membawa keluar gas, sehingga udara dalam tambang dapat
memenuhi syarat bagi pernapasan.
c. Mengatur panas dan kelembaban udara ventilasi tambang bawah tanah sehingga
dapat diperoleh suasana / lingkungan kerja yang nyaman.
2. Prinsip Ventilasi Tambang
a. Udara akan mengalir dari kondisi bertemperatur rendah ke temperatur panas.
b. Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang
memberikan tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahanan yang
lebih besar.
c. Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan dalam
ventilasi tambang.
3. Lingkup Bahasan Ventilasi Tambang
a. Pengaturan./Pengendalian kualitas udara tambang.
b. Pengaturan/pengendalian kuantitas udara tambang segar yang diperlukan oleh
pekerja tambang bawah tanah.
c. Pengaturan suhu dan kelembaban udara tambang agar dapat diperoleh lingkungan
kerja yang nyaman.

4. Pengertian mengenai Udara Tambang


Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari ; Nitrogen,
Oksigen, Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Udara Segar

Unsur PersenVolume Persen Berat


(%) (%)
Nitrogen (N2) Oksigen 78,09 75,53

(O2) Karbondioksida 20,95 23,14


(CO2) Argon (Ar), dll 0.03 0,046
0,93 1,284

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar normal
terdiri dari : Nitrogen = 79% dan Oksigen = 21%.

A. PENGENDALIAN KUALITAS UDARA TAMBANG


1. Perhitungan Keperluan Udara Segar
Pada manusia yang bekerja keras, angka bagi pernafasan ini (respiratori
quotient) sama dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan
sama dengan jumlah O2 yang dihirup pada pernafasannya.Tabel 2 berikut memberikan
gambaran mengenai keperluan oksigen pada pernafasan pada tiga jenis kegiatan
manusia secara umum.
Tabel 2. Kebutuhan Udara Pernafasan (Hartman, 1982)

Laju Udara terhirup per Oksigen ter Angka bagi


3
Kegiatan kerja Pernafasan menit dalam in /menit konsumsi cfm pernafasan
-4 3 -5 3
Per menit (10 m /detik) (10 m /detik) ( respiratori
quotient)
Istirahat 12 – 18 300-800 (0,82-2,18) 0,01 (0,47) 0,75
Kerja Moderat 30 2800-3600 (7,64-9,83) 0,07 (3,3) 0,9
Kerja keras 40 6000 (16,4) 0,10 (4,7) 1,0

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah udara yang diperlukan
perorang untuk pernafasan, yakni;
Atas dasar kebutuhan O2 minimum, yaitu 19,5 %. Jumlah udara yang dibutuhkan
= Q cfm. Pada pernafasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm ; sehingga
akan dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai berikut;
0,21 Q - 0,1 = 0,195 Q
(Kandungan Oksigen) – (Jumlah Oksigen pada pernafasan) = ( Kandungan Oksigen
minimum untuk udara pernapasan)
Atas dasar kandungan CO2 maksimum, yaitu 0,5 %. Dengan harga angka bagi
pernafasan = 1,0 ; maka jumlah CO2 pada pernafasan akan bertambah sebanyak 1,0
x 0,1 = 0,1 cfm. Dengan demikian akan didapat persamaan :
0,0003 Q + 0,1 = 0,005 Q

(Kandungan CO2 – ( Jumlah CO2- = ( kandungan CO2 maksimum


dlm udara normal) hasil pernafasan) dalam udara)

a. Kandungan Oksigen Dalam Udara


Oksigen merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk kehidupan manusia.
Dalam udara normal, kandungan oksigen adalah 21 % dan udara dianggap layak untuk
suatu pernafasan apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang dari 19,5 %.
Banyak proses-proses dalam alam yang dapat menyebabkan pengurangan
kandungan oksigen dalam udara; terutama untuk udara tambang bawah tanah.
Peristiwa oksidasi, pembakaran pada mesin bakar dan pernafasan oleh manusia
merupakan contoh dari proses kandungan pengurangan oksigen .
b. Gas-Gas Pengotor
Dalam tambang batubara, gas methan (CH4) merupakan gas yang selalu ada
dalam lapisan batubara. Gas-gas pengotor yang terdapat dalam tambang bawah tanah
tersebut, ada yang berifat gas racun, yakni; gas yang bereaksi dengan darah dan dapat
menyebabkan kematian.
1) Karbondioksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan
bukan merupakan gas racun.
2) Methan (CH4)
Gas methan ini merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara
dan sering merupakan sumber dari suatu peledakan tambang.
Methan merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
mempunyai rasa.
3) Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada saat
terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat kematian
yang tinggi.
4) Hidrogen Sulfida (H2S)
Gas ini sering disebut juga ‘stinkdamp’ (gas busuk) karena
baunya seperti bau telur busuk. Gas ini tidak berwarna, merupkan gas racun dan dapat
meledak, merupakan hasil dekomposisi dari senyawa belerang.
5) Sulfur Dioksida (SO2)
Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa
terbakar. Merupakan gas racun yang terjadi apabila ada senyawa belerang yang
terbakar.
6) Nitrogen Oksida (NOX)
Gas nitrogen oksida sebenarnya merupakan gas yang ‘inert’,
namun pada keadaan tekanan tertentu dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas
yang sangat beracun. Terbentuknya dalam tambang bawah tanah sebagai hasil
peledakan dan gas buang dari motor bakar.
c. Pengendalian Gas-Gas Tambang
Beberapa cara pengendalian berikut ini dapat dilakukan terhadap pengotor
gas pada tambang bawah tanah :
1) Pencegahan (Preventation)
a) Menerapkan prosedur peledakan yang benar
b) Perawatan dari motor-motor bakar yang baik
c) Pencegahan terhadap adanya api
2) Pemindahan (Removal)
a) Penyaliran (drainage) gas sebelum penambangan
b) Penggunaan ventilasi isap lokal dengan kipas
3) Absorpsi (Absorption)
a) Penggunaan reaksi kimia terhadap gas yang keluar dari mesin b) Pelarutan dengan
percikan air terhadap gas hasil peledakan
4) Isolasi (Isolation)
a) Memberi batas sekat terhadap daerah kerja yang terbakar
b) Penggunaan waktu-waktu peledakan pada saat pergantian gilir atau waktu-waktu
tertentu
5) Pelarutan
a) Pelarutan lokal dengan menggunakan ventilasi lokal b) Pelarutan dengan aliran
udara utama
Biasanya cara pelarutan akan memberikan hasil baik, tetapi sering beberapa cara
tersebut dilakukan bersama-sama.
Jumlah udara segar yang diperlukan untuk mengencerkan suatu masukan gas
sampai pada nilai MAC adalah: Q = (Qg/ (MAC) – B) – Qg
Dimana ; Qg = masukan gas pengotor
B = konsentrasi gas dalam udara normal
B. PENGENDALIAN KUANTITAS UDARA
1. Perubahan Energi Di Dalam Aliran Fluida
Ventilasi tambang biasanya merupakan suatu contoh aliran tunak (steady),
artinya tidak ada satupun variabelnya yang merupakan fungsi waktu. Salah satu tujuan
dari perhitungan ventilasi tambang adalah penentuan kuantitas udara dan rugi-rugi,
yang keduanya dihitung berdasarkan perbedaan energi.
Hukum konservasi energi menyatakan bahwa energi total di dalam suatu sistem
adalah tetap, walaupun energi tersebut dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Gambar 1, Sistem Aliran Fluida
Perhatikan gambar 1, dimana;
Gambar 1, Sistem Aliran Fluida
Energi total 1 = energi total 2 + kehilangan energi … … … … … … .. (1)
Atau;
Energi masuk sistem = energi keluar sistem
Jadi didapat persamaan yang disebut persamaan Bernouli :
(P1/w) + (V1 /2g) + ( Z1) = (P2/w) + (V2 /2g) + ( Z2) + Hl … … .. … .. (2)
Dimana :
(P/w) = energi statik /head statik
(V2/2g) = energi kecepatan /head kecepatan
Z = energi potensial /head potensial
Hl = energi kehilangan /head kehilangan
2. Prinsip Pengaliran Udara Serta Kebutuhan Udara Tambang
a. Head Los
Aliran udara terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang ditimbulkan
antar dua titik dalam sistem. Energi yang diberikan untuk mendapatkan aliran yang
tunak (steady), digunakan untuk menimbulkan perbedaan tekanan dan mengatasi
kehilangan aliran (HL).
Head los dalam aliran udara fluida dibagi atas dua komponen, yaitu : ‘friction
loss (Hf)’ dan ‘shock loss (Hx)’. Dengan demikian head loss adalah: HL = Hf + Hx
b. Mine Head
Untuk menentukan jumlah aliran udara yang harus disediakan untuk mengatasi
kehilangan head (head losses) dan menghasilkan aliran yang diinginkan, diperlukan
penjumlahan dari semua kehilangan energi aliran.
1) Mine statik head (mine Hs)
Merupakan energi yang dipakai dalam sistem ventilasi untuk mengatasi
seluruh kehilangan head aliran. Hal ini sudah termasuk semua kehilangan dalam head
loss yang terjadi antara titik masuk dan keluaran sistem dan diberikan dalam bentuk
persamaan: Mine Hs = HL = (Hf + Hx)
2) Mine velocity head (mine Hv)
Dinyatakan sebagai velocity head pada titik keluaran sistem. Velocity head akan
berubah dengan adanya luas penampang dan jumlah saluran dan hanya merupakan
fungsi dari bobot isi udara dan kecepatan aliran udara. Jadi bukan merupakan suatu
head loss komulatif, namun untuk suatu sistem merupakan kehilangan, karena
energi kinetik dari udara dilepaskan ke atmosfer.
3) Mine total head (mine HT)
Merupakan jumlah keseluruhan kehilangan energi dalam system ventilasi.
Secara matematis, merupakan jumlah dari mine statik (Hs) dan velocity head (Hv),
yaitu : Mine HT = mine Hs + mine Hv
3. Teori Perhitungan Jaringan Ventilasi
a. Hubungan Antara Head dan Kuantitas
Seperti sudah diketahui dari persamaan Atkinson bahwa head merupakan fungsi
kuantitas aliran udara
HL ~ Q2
HS ~ Q2
HV ~ Q2
HT ~ Q2
Oleh karenanya persamaan head loss untuk ventilasi tambang ditulis sebagai berikut :
H ~ Q2
Dalam pembuatan kurva, kuantitas diasumsikan dahulu, kemudian head ditentukan
dengan persamaan : H1/H2 = (Q1/Q2)2 atau H2 = H2 (Q2/Q1)
b. Tahanan Saluran Udara Tambang (Airway Resistance)
Hubungan dasar antara head dengan kuantitas aliran udata dinyatakan pada
persamaan Atkinson yang dapat dituliskan sebagai berikut : HL = R Q
Dimana , R = konstanta proporsionalitas.
R = KP (L + Le) / 5,2 A3
Untuk sistem ventilasi tambang, R kemudian disebut tahanan ekuivalen. Tahanan
ekuivalen serupa dengan sistem aliran listrik yang mengikuti hukum Ohm.
1. Hukum Kirchoff
Ada dua dasar aturan dalam mempelajari sistem aliran listrik, yang dapat
digunakan pada sistem jaringan ventilasi. Hukum Kirchoff 1 Bila ada aliran-aliran
udara yang masuk melalui sutau titik atau disebut juga Junction dan keluar lagi ke
percabangan, maka udara keluar harus sama dengan udara masuk (lihat gambar 2)
Q1 + Q2 = Q3 + Q4 = 0
Bila aliran udara keluar persimpangan dinyatakan positif dan yang masuk
dinyatakan negatif, maka; Q1 + Q2 - Q3 - Q4 = 0 Atau ; Q = 0

Q2 Q4

Gambar 2 Aplikasi Hukum Kirchoff 1

c. Jaringan Paralel
Bila jaringan ventilasi dihubungkan secara paralel, maka aliran udara dibagi
menurut jumlah cabang paralel, yang besarnya masing-masing tergantung kepada
tahanan salurannya. Di dalam ventilasi tambang, percabangan paralel ini disebut
sebagai ‘splitting’ sedangkan cabangnya sendiri disebut ‘split’. Kalau jumlah aliran
udara dibagi ke percabangan paralel menurut karakteristik alamiahnya tanpa peraturan,
hal ini disebut ‘natural splitting’ Sedangkan splitting terkendali berlaku bila pembagian
jumlah aliran udara diatur dengan memasang beberapa penyekat (regulator) di dalam
saluran udara yang dikehendaki.
Menurut hukum Kirchoff 1; Q = Q1 + Q2 + Q3 + …
Maka bila aliran udara didalurkan kepercabangannya paralel maka jumlah total
aliran udara merupakan penjumlahan jumlah aliran udara setiap saluran. Demikian juga
halnya dengan head loss.
d. Analisis Jaringan Kompleks
Suatu jaringan disebut komleks jika sirkuit-sirkuit paralel saling tumpang tindih
dan terkait. Pemisahan sirkuit-sirkuit tersebut tidak dapat dilakukan atau dengan kata
lain jaringan tersebut tidak dapat disederhanakan menjadi saluran ekuivalen.

Gambar 3, Penyelesaian Grafis Jaringan Ventilasi Sederhana


C. PERENCANAAN VENTILASI TAMBANG DALAM
Dalam rangka penentuan rencana pembuatan ventilasi tambang, sebaiknya
dipertimbangkan persyaratan-persyaratan seperti di bawah ini:
1. Konstruksinya harus dibuat sedemikian rupa, agar ventilasi yang diperlukan untuk
pengembangan pit kedepan, dapat dilakukan secara ekonomis, dan
konstruksinya dibuat dengan memiliki kelonggaran (kelebihan) udara ventilasi
secukupnya, untuk mengantisipasi pertambahan atau perkembangan pit di kemudian
hari, serta peningkatan gas yang mungkin timbul akibat dari penambangan batubara.
2. Struktur yang diinginkan untuk metode ventilasi pada jenis ventilasi utama adalah
sistem diagonal . Sedangkan pembuatan vertical shaft, khusus dilakukan
terhadap kondisi penambangan bagian dalam. Selain itu, pada tempat yang sulit
dilakukan penggalian vertical shaft (misalnya tambang batu bara dasar laut),
diharapkan memiliki inclined shaft khusus dengan penampang berbentuk
lingkaran. Selain itu konstruksinya dibuat sedemikian rupa agar tahanan ventilasi
utama menjadi sekecil mungkin, dan memungkinkan mengambil ventilasi cabang
sebanyak mungkin dari terowongan ini.
3. Dalam melaksanakan pengembangan pit dan penambangan serta dilihat dari segi
konstruksi pit, penting kiranya dibuat ventilasi pada permukaan kerja. Sehingga
penambangan batu bara dan penggalian maju menjadi ‘independen’ secara
sempurna. Selain itu untuk daerahpenambangan yang luas, diharapkan mempunyai
sistem ventilasi, baik intake air maupun exhaust air, yang terpisah dari daerah lain.
1. Ventilasi Utama
a. Jenis Ventilasi Utama
1. Penggolongan berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi, terdiri dari :
Ventilasi alami dan ventilasi mesin
2. Penggolongan berdasarkan tekanan ventilasi pada ventilasi mesin, terdiri dari :
Ventilasi tiup dan ventilasi sedot.
3. Penggolongan berdasarkan letak intake dan outtake airway, terdiri dari : Ventilasi
terpusat dan ventilasi diagonal
2. Ventilasi Alami
Setiap kenaikan atau penurunan temperatur sebesar 10 C, semua jenis gas akan
memuai atau menyusut sebesar 1/273 kali volumenya pada 00 C. Dengan kata lain,
berat per satuan volume akan bertambah atau berkurang sebesar 1/273 kali.
Penyebab yang dapat membangkitkan daya ventilasi adalah sebagai berikut:
1) Perbedaan tinggi mulut pit intake dan outtake
2) Perbedaan tempetarur intake dan return airway
3) Perbedaan temperatur di dalam dan luar pit
4) Komposisi udara di dalam pit.
5) Tekanan atmosfir
Pada suatu pit yang mempunyai 2 buah mulut pit yang ketinggiannya berbeda
seperti gambar di bawah, dimana pada musim panas temperatur di dalam pit lebih
rendah dari pada temperatur luar, maka udara di dalam pit menjadi lebih berat dari pada
udara di luar pit yang sama-sama mempunyai tinggi L, sehingga mulut pit bawah
menjadi outtake/exhaust. Pada musim dingin terjadi kebalikannya.

Gambar 4, Kondisi Ventilasi Alami


Dalam kasus ni, daya ventilasi dapat dinyatakan dengan rumus berikut:
dimana:
4,17
ℎ= 𝐿 (𝑡 − 𝑡𝛼)
1.000
h = tekanan ventilasi (mmaq
L = perbedaan tinggi (m)
t = temperatur exhaust air (oC)
t = temperatur udara luar (oC)
3. Ventilasi Mesin
Metode yang menggunakan kipas angin untuk melakukan ventilasi dengan
menciptakan tekanan ventilasi (positif atau negatif) di mulut pit intake/outtake. Pada
metode ini, dipilih kipas angin yang paling sesuai dilihat dari jumlah udara ventilasi
yang diperlukan dan perbedaan tekanan ventilasi untuk mengalirkan jumlah udara
tersebut.
4. Ventilasi Sistem Tiup dan Ventilasi Sistem Sedot
Ventilasi sistem tiup adalah metode ventilasi yang membangkitkan tekanan di
mulut intake yang lebih tinggi (tekanan positif) dari pada tekanan atmosfir, untuk
meniup masuk udara dalam pit. Apabila kipas angin utama dijalankan dengan metode
ini gas metan akan terperangkap di dalam gob atau dinding batu bara, sehingga
senadainya kipas angin berhenti beroperasi, ada bahaya gas tersebut mengalir ke dalam
terowongan atau lokasi kerja dalam waktu bersamaan. Selain itu, pada sistem ini
pintu ventilasi harus dibuat di mulut pit intake, sehingga menjadikannya sebagai
terowongan transportasi akan merepotkan, dan juga banyak kebocoran angin. Untuk
meniadakan kelemahan ini, memang return airway bisa dijadikan sebagai
terowongan transportasi, namun ditinjau dari segi keamanan terhadap fasilitas
transportasi sebaiknya dihindari.
Kebalikan dari sistem tiup, maka pada sistem sedot, kipas angin ditenpatkan di
mulut pit outtake, membangkitkan tekanan yang lebih rendah (tekanan negatif) dari
pada tekanan atmosfir, untuk menyedot keluar udara dari dalam pit. Karena tidak ada
kelemahan seperti ventilasi tiup yang ditulis di depan maka saat ini ventilasi di tambang
batu bara menggunakan metode ini.
► Rumus Perhitungan Tahanan Ventilasi
Untuk melakukan jumlah aliran udara yang sama, makin besar tahanan
ventilasi, diperlukan tekanan ventilasi yang makin besar. Untuk itu, tahanan ventilasi
dinyatakan dengan tekanan ventilasi.
Kalau hal-hal yang berhubungan dengan tahanan ventilasi seperti yang diuraikan
di atas dinyatakan dalam rumus, akan menjadi sebagai berikut.
𝑢𝐿
ℎ=𝐾 𝑣2
𝑎

h = tekanan ventilasi (mm air)


K = koefisien gesek terowongan (tabel, satuan: Kgs2/m4)
u = panjang keliling penampang terowongan (m) L = Panjang terowongan (m)
a = Luas penampang terowongan (m2)
v = kecepatan angin (m/s)
Pada rumus di atas, kecepatan aliran adalah jumlah aliran dibagi luas Q penampang
artinya v = a (Q = jumlah aliran). Dengan substitusi v ke dalam rumus di atas, maka
𝑢𝐿𝑂2
menjadi : ℎ = 𝐾 Artinya, pada rumus yang tidak memasukkan kecepatan
𝑎3

angin, tahanan ventilasi berbanding terbalik dengan pangkat 3 luas penampang


terowongan.
5. Ventilasi Lokal
Tujuan utama ventilasi adalah mengamankan pit dengan mengirimkan udara
yang cukup ke lokasi kerja untuk menyingkirkan gas. Diantara ventilasi permuka kerja,
ada yang melakukan ventilasi dengan membawa masuk intake air secara langsung,
seperti ventilasi permuka kerja penambangan, dan ada yang mengirimkan angin yang
dibangkitkan oleh kipas angin lokal, air jet dan lain-lain, dengan menggunakan saluran
udara (air duct) seperti pada ventilasi permuka kerja penggalian maju.
Ventilasi lokal termasuk ke dalam kelompok kedua, yang mana
melakukan ventilasi menggunakan kipas angin lokal, air jet dan lain-lain. Disini akan
diuraikan pokok-pokok umum mengenai ventilasi lokal dan ventilasi permuka
kerja penambangan batu bara.
a. Pokok Perhatian Terhadap Ventilasi Permuka Kerja
1) Ventilasi permuka kerja penambangan yang mempunyai kemiringan, harus
dilakukan dengan mengalirkan udara dari bagian bawah ke bagian atas. (Mengenai hal
ini, peraturan keselamatan tambang batu bara Jepang menetapkan, bahwa di lokasi
kerja penambangan batu bara sistem lorong panjang pad atambang batu bara kelas A,
tidak diperbolehkan melakukan ventilasi mengarah ke bawah. Kecuali ada alasan
khusus seperti lapisan batu baranya landai, dan mendapatkan izin dari kepala bagian
pengawasan keselamatan tambang).
2) Intake dan return airway permuka kerja penambangan dapat mengalami
penyempitan dengan majunya permuka kerja, sehingga terowongan tersebut senantiasa
harus dijaga pada ukuran yang telah ditentukan.
3) Pada permuka kerja sistem mundur, ada kemungkinan gas pakat di gob mengalir
masuk ke bagian dangkal (up-dip) permuka kerja. Oleh karena itu, ventilasi bagian
dangkal terutama perlu hati-hati, dan gas pekat diencerkan dengan air jet atau kipas
angin lokal, atau dihantar ke tempat yang aman di dalam return airway dengan saluran
udara.
4) Batuan ambruk dari atap (caving) dan batu kayu (petorified wood) yang ada di
permuka kerja dapat meningkatkan tahanan ventilasi permuka kerja secara drastis,
sehingga harus disingkirkan secepatnya.