Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Sugeng (2002) Industri adalah kegiatan ekonomi yang
mengelolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang
jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaanya, termasuk
kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Kegiatan produksi
dalam industri disebut dengan perindustrian. Industri merupakan seluruh
bentuk dari kegiatan ekonomi yang mengelola bahan baku dan atau
memanfaatkan sumber daya industri, sehingga dapat menghasilkan barang
yang memiliki nilai tambah atau manfaat yang lebih tinggi, termasuk juga
jasa industri (UU No.3, 2014). Berbagai jenis Industri yang ada di Indonesia
salah satunya yaitu industri percetakan.
Industri percetakan adalah sebuah proses industri untuk memproduksi
secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta diatas kertas
menggunakan sebuah mesin cetak. Industri percetakan di Indonesia terus
mengalami pertumbuhan hingga akhir tahun 2012. Sejak tahun 2010 jumlah
perusahaan Grafika di Indonesia diperkirakan telah mencapai 35000
perusahaan. Peningkatan ini juga didukung melalui data impor mesin cetak
industri grafika yang naik 40% di tahun 2011 ini menjadi US$392 juta
dibandingkan dengan impor pada 2010 yang hanya US$280 juta.
Meningkatnya pertumbuhan industri percetakan ini tentu juga meningkatkan
persaingan antar perusahaan. Tidak hanya bersaing untuk mendapatkan
konsumen, mereka juga bersaing untuk mendapatkan teknologi terbaru
untuk memberikan kapasitas produksi yang lebih besar, kualitas yang baik,
dan mempermudah kinerja karyawannya (Wiranata dan Haryadi, 2013).
Bisnis percetakan mencakup area bisnis yang cukup luas aspeknya,
seperti : Graphic Design, Sablon digital, Sablon Manual, Digital Printing,
Media Cetak, Printing Chemical, Textile, dan lain-lain. Perkembangan ilmu
dan teknologi semakin cepat kemajuannya, sehingga pada saat ini industri
percetakan sudah semakin komplit dan modern. Perkembangan jumlah
perusahaan percetakan mengakibatkan semakin tingginya persaingan usaha
di bidang tersebut. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi tingkat
efisiensi antara input dan output.
Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam persaingan usaha
di bidang percetakan, salah satu yang dapat dilakukan perusahaan yaitu
harus mampu mengendalikan operasionalnya dengan baik. Dengan
melakukan pengendalian pengadaan persendian bahan baku maka kegiatan
produksi yang merupakan salah satu bagian kegiatan operasional
perusahaan akan berjalan dengan lancar.
Dari uraian diatas maka penulis tertarik membahas lebih dalam
mengenai analisis tingkat efisiensi industri percetakan di Indonesia.

1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi industri
percetakan di Indonesia
2. Untuk mengetahui pengembangan sistem pengendalian bahan baku
kertas.
3. Untuk menganalisis tingkat efisiensi industri percetakan di Indonesia

1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Penulis
Sebagai wadah untuk melatih kemampuan analisis serta pengaplikasian
konsep-konsep ilmu dan memperoleh ilmu pengetahuan baik teori maupun
praktek khususnya dibidang analisis industri percetakan.
1.3.2. Bagi Pembaca
Dijadikan sebagai salah satu bahan referensi dan bahan pertimbangan di
masa yang akan datang bagi manajemen operasional industri percetakan
dalam mengoptimalkan tingkat efisiensi industri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Efisiensi


Industri merupakan seluruh bentuk dari kegiatan ekonomi yang
mengelola bahan baku dan atau memanfaatkan sumber daya industri,
sehingga dapat menghasilkan barang yang memiliki nilai tambah atau
manfaat yang lebih tinggi, termasuk juga jasa industri (UU No.3, 2014).
Menurut SP. Hasibuan(1984;233-4) yang mengutip dari H. Emerson
yang mengatakan bahwa “ Efisiensi merupakan perbandingan yang terbaik
antara sebuah input ( masukan ) dan output ( hasil antara keuntungan
dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil
optimal yang telah dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Jadi
bisa dikatakan hubungan antara apa yang telah diselesaikan”.
Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana
penggunaan masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau
perkataan lain penggunaan yang sebenarnya (Mulyamah, 1987;3). Dengan
kata lain, efisiensi adalah perbandingan nilai tambah yang dihasilkan suatu
industri dengan input atau biaya madya yang digunakan berupa tenaga kerja,
bahan baku dan bahan baku penolong dan sebagainya.

2.2. Nilai Tambah


Nilai tambah yang diciptakan suatu industri adalah sama dengan
keluaran (output) dikurangi biaya masukan (input). Nilai tambah
mempunyai komponen upah atau gaji, sewa, pajak, penyusutan, dan
keuntungan. Variabel keluaran adalah fungsi dari berbagai kuantitas dan
kualitas masukan. Variabel keluaran identik dengan produksi akhir berupa
barang jadi atau barang setengah jadi. Masukan antara merupakan gabungan
dari bahan baku atau bahan baku penolong, biaya transportasi, sewa gedung,
mesin-mesin, jasa industri dan non industri dan alat-alat serta barang lain
(Hasibuan, 1987;5-6).
Faktor yang menyebabkan kecilnya nilai tambah yang diciptakan suatu
industri yaitu pertama, rendahnya tingkat produksi yang dihasilkan akibat
penguasaan pasar yang belum kuat. Masalah penguasaan pasar dikaitkan
dengan kemampuan industri untuk memperoleh pesanan. Semakin sedikit
pesanan semakin rendah tingkat produksi yang dihasilkan sehingga nilai
tambah yang diciptakan juga semakin kecil. Kedua, biaya madya yang
tinggi, dimana harga bahan baku dan bahan-bahan penolong pada industri
ini relatif cukup mahal. Ketiga, kemampuan dalam mengelolah bahan baku.
Masalah ini berkaitan dengan teknologi yang digunakan, selain itu
perbedaan penggunaan jumlah dan kualitas tenaga kerja dalam
mengoperasikan peralatan tersebut yang berpengaruh terhadap mutu akhir
produksi.

2.2.1. Nilai Output


Output adalah nilai keluaran yang dihasilkan dari proses kegiatan industri
yang terdiri dari (BPS) :
1. Barang-barang yang dihasilakn dari proses produksi
2. Jasa industri yang diterima dari pihak lain; Adalah kegiatan industri
yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku
disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengelolah hanya
melakukan pengolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang
atau barang sebagai balas jasa (upah makloon).
3. Tenaga listrik yang dijual.
4. Selisih nilai stok barang setengah jadi
5. Penerimaan lain dari jasa non industri.

2.2.2. Nilai Input


Nilai Input atau biaya antara adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses
produksi yang terdiri dari biaya (BPS) :
1. Bahan bbaku; Bahan baku adalah semua jenis bahan baku dan bahan
penolong yang digunakan dalam proses produksi dan tidak termasuk
pembungkus, pengepak, pengikat barang jadi, bahan bakar yang
dipakai habis, perabot/peralatan.
2. Bahan bakar, tenaga listrik dan gas; Bahan bakar yang digunakan
selam proses produksi yang berupa:bensin, solar, minyak tanah,
batubara dan lainnya.
3. Sewa gedung, mesin dan alat-alat.
4. Jasa non industri.
5. Jasa yang tidak berkaitan dengan proses produksi.

2.3. Kerangka Pemikiran


Efisiensi diukur dari perbandingan antara nilai tambah dengan nilai
biaya madya, jika terjadi kenaikan pada nilai tambah maka akan
menyebabkan efisiensi menjadi naik sehingga jika efisiensi mengalami
kenaikan maka akan menyebabkan produksi mengalami peningkatan.

Efisiensi

Nilai Biaya
Tambah Madya
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini dibatasi hanya pada industri percetakan
umum di Indonesia dengan kode ISIC (international Standard of Industrial
Classification) 22210 (tahun 2006-2009) dan 18111 (tahun 2010-2015).
Dipilihnya industri percetakan karena Perkembangan ilmu dan teknologi
semakin cepat kemajuannya, sehingga pada saat ini industri percetakan
sudah semakin komplit dan modern. Perkembangan jumlah perusahaan
percetakan mengakibatkan semakin tingginya persaingan usaha di bidang
tersebut selain itu juga tahun ini pertumbuhan industri percetakan di
Indonesia sebesar 4,7% lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan
industri percetakan dunia yang hanya mencapai 1,6%. Namun demikian
tingkat efisiensi antara input dan output yang semakin meningkat, sehingga
akan terjadi ketidakseimbangan antara input dan output.

3.2. Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
yang merupakan data time series atau rutun waktu antara tahun 2006 hingga
tahun 2015. Data yang digunakan mencakup keseluruhan industri
percetakan skala besar dan sedang yang termasuk dalam international
Standard of Industrial Classification (ISIC). Data tersebut meliputi data
nilai output, biaya madya, nilai tambah yang dihasilkan atau didapkan dari
Badan Pusat Statistik tahun 2006 hingga 20015 dan Kementerian
Perindustrian Republik Indonesia.

3.3. Teknik analisis


Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara umum
bersifat deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Teknik analisis
deskriptif kualitatif yaitu dengan menyajikan berbagai tabel dan grafik yang
diperlukan, serta pengujian hipotesis dengan teori dan analisis penjelasan
yang sesuai untuk memecahkan permasalahan yang ada.
Dalam penelitian ini yang diukur adalah analisis efisiensi pada industri
percetakan di Indonesia, sedapat mungkin penjelasan penelitian ini dibuat
agar mampu menjelaskan hubungannya dengan fakta yang ada secara
rasional.

3.3.1. Nilai Tambah


Nilai tambah yang diciptakan suatu industri adalah sama dengan
keluaran (output) dikurangi dengan biaya masukan (input). Dalam
menggunakan faktor produksi dibutuhkan biaya madya guna
menghasilkan output, dan dari output ini data diperoleh nilai tambah
sebagai pendapatan. Formulasi yang digunakan untuk menghitung nilai
tambah yaitu :
NT = NO – BM .............................................................. (1)
Dimana :
NT : Nilai Tambah
NO : Nilai Output
BM : Biaya Madya/ Biaya Input

3.3.2. Efisiensi
Untuk menghitung efisiensi digunakan formulasi yaitu :
𝑵𝑻
𝑬𝑭 = ........................................................................ (2)
𝑩𝑴

Dimana :

EF : Efisiensi yang dihasilkan

NT : Nilai Tambah

BM : Biaya Madya/ Biaya Input


BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum


Perusahaan percetakan di Indonesia berjalan dengan baik hingga awal
1995. Data Pusbuk (Pusat Grafika Indonesia) yang sebelumnya bernama
PGI pada tahun 2005 menunjukan di Indonesia terdapat sekitar 7.760
perusahaan / industri jasa cetak. Ketua Persatuan Perusahaan Grafika
Indonesia (PPGI) Jimmy Juneanto mengakui kinerja awal tahun berjalan
lambat akibat 35% perecetakan buku pesanan pemerintah terlambat.
Petumbuhan akhir tahun bagus, sekarang masih berproduksi penuh.
Kenaikan tidak terlalu banyak, berkisar 5,5%.
Industri tengah memanfaatkan momen kinerja ekspor kertas yang
terbilang landai sehingga harga kertas dalam negeri tidak dipatok tinggi.
Penggunaan kertas HVS dan fotocopi lainnya juga ikut terkerek aakibat
naiknya produksi. Namun, bisnis kemasan lebih menjanjikan, bahwa
pertumbuhan ditaksir mencapai 7%. disamping itu, dengan gencarnya
teknologi percetakan di media nonkertas seperti banner juga turut
menghidupkan bisnis percetakan (Bisnis.com, 2016).

4.2. Hasil dan Pembahasan


4.2.1. Analisis Efisiensi Industri Percetakan di Indonesia
Efisiensi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
faktor produksu semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil yang
diinginkan (Spencer,1978). Tingkat efisiensi menurut Hasibuan (1993)
berkaitan dengan faktor biaya ekonomi, jika suatu industri mengalami
nilai biaya ekonomi tinggi, maka menyebabkan industri tersebut tidak
efisien yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap antara lain adalah
kemampuan produktivitas tenaga kerja dan lainnya. Efisiensi juga
merupakan upaya penggunaan input yang sekecil-kecilnya dan
mendapatkan produksi sebesar-sebesarnya. Dalam pengukuran efisiensi
diukur membandingkan nilai tambah dan biaya madya. Jika semakin
tinggi tingkat efisiensi maka semakin rendah biaya input yang diperlukan
untuk menghasilkan suatu unit output dan sebaliknya.

Tabel. Nilai Output, Biaya Madya, Nilai Tambah dan Efisiensi

Industri Percetakan Indonesia Tahun 2007-2015

Biaya Madya/
Tahun Nilai Output Biaya Input Nilai Tambah Efisiensi Pertumbuhan
2006 3.257.757.778 1.650.300.725 1.607.457.053 0,97 -
2007 2.335.144.413 1.219.252.548 1.115.891.865 0,92 -6,04
2008 4.194.144.311 2.358.910.676 1.835.233.635 0,78 -14,99
2009 8.280.857.727 5.695.821.739 2.585.035.988 0,45 -41,66
2010 9.402.679.082 2.836.140.652 6.566.538.430 2,32 410,15
2011 22.184.729.918 14.508.701.710 7.676.028.208 0,53 -77,15

2012 15.195.084.297 9.048.527.187 6.146.557.111 0,68 28,39


2013 13.196.952.783 6.263.235.197 6.933.717.586 1,11 62,97

2014 20.168.637.637 11.029.455.912 9.139.181.725 0,83 -25,15

2015 27.008.800.526 17.915.690.188 9.093.110.338 0,51 -38,75


Rata-
Rata 12.522.478.847 7.252.603.653 5.269.875.194 0,91 33,09
Sumber : BPS, Statistik Industri Besar dan Sedang

Pada tabel diatas, memperlihatkan tingkat efisiensi pada industri


percetakan Indonesia selama kurun waktu 10 tahun yaitu mulai dari
tahun 2006 sampai dengan 2015 yang bersumber dari Badan Pusat
Statistik dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Dimana
tingkat efisiensi industri percetakan di Indonesia dengan rata-rata
efisiensi yaitu sebesar 0,91, angka tersebut menjelaskan bahwa nilai
efisiensi < 1 yang berarti industri percetakan belum efisien
(Angsari,2010). Efisiensi tertinggi yang terjadi pada industri percetakan
yaitu pada tahun 2010 dan 2013 dengan nilai sebesar 2,32 dan 1,11,
tingginya efisiensi ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor salah
satunya tingginya produksi sehingga menyebabkan output yang
dihasilkan tinggi. Sedangkan untuk tingkat efisiensi terendah yaitu 0.45
pada tahun 2009 hal ini disebabkan oleh penggunaan input yang tidak
efisien baik itu dari segi bahan baku, tenaga kerja dan modal usaha.

Kondisi ketidakefisien disebabkan adanya kelebihan penggunaan


input yang tidak didukung dengan sarana produksi sehingga efisiensi
produksi tidak tercapai. Hal ini dampak dari adanya biaya ekonomi pada
industri percetakan di Indonesia pada saat itu, yang disebabkan oleh
rendahnya kemampuan berinovasi produk di bidang percetakan dan
rendahnya penyediaan modal khususnya bagi pelaku industri skala kecil.