Anda di halaman 1dari 26

TUGAS

PATOFISIOLOGI
DOSEN PENGAMPU : Ns. MIRATA, S.kep

NAMA: M. RIJAL HIDAYATULLAH


NIM : 01.12.004
PRODI: S1 KEPERAWATAN

PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN


INSTITUT ILMU KESEHATAN NURUL HARAMAIN NW
NARMADA LOMBOK BARAT-NTB
2013
BAB I

PEMBAHASAN

A. Imunologi Humoral

Respon imun humoral (HIR) adalah aspek imunitas yang dimediasi oleh
disekresikan antibodi (sebagai lawan imunitas diperantarai sel , yang melibatkan
limfosit T ) yang diproduksi dalam sel-sel B limfosit garis keturunan ( sel B ). B Cells
(with co-stimulation) berubah menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi. The co-
stimulation sel B dapat berasal dari sel lain antigen menyajikan, seperti sel dendritik .
Seluruh proses ini dibantu oleh CD4 + T-helper 2 sel, yang menyediakan co-stimulasi.
Antibodi disekresikan mengikat antigen pada permukaan mikroba seperti virus atau
bakteri

Studi tentang komponen molekuler dan seluler yang terdiri dari sistem
kekebalan tubuh , termasuk fungsi dan interaksi . Sistem kekebalan tubuh dibagi
menjadi primitive innate immune system, dan acquired atau adaptive immune
sistem vertebra, masing-masingmengandung komponen humoral dan selualar.

Kekebalan humoral mengacu pada produksi antibodi dan proses aksesori yang
menyertainya, termasuk: Th2 aktivasi dan produksi sitokin, pusat germinal
pembentukan isotipe switching, pematangan afinitas dan memori sel generasi. Hal ini
juga mengacu pada efektor fungsi antibodi, yang mencakup netralisasi patogen dan
racun, classical complement activation, and opsonin phagocytosis dan eliminasi
pathogen.
B. SEL LlMFOSIT B

 Progenitor sel limfosit B adalah sel stem hematopoietik pluripoten. Dinamakan


pluripoten karena sel ini juga merupakan progenitor sel hematopoietik lainnya,
seperti sel polimorfonuklear, sel monosit dan sel makrofag.
 Pada masa embrio sel ini ditemukan pada yolk sac, yang kemudian bermigrasi ke
hati, limpa dan sumsum tulang. Setelah bayi lahir, sel asal (stem cell) hanya
ditemukan pada sumsum tulang. Dinamakan limfosit B karena tempat
perkembangan utamanya pada burung adalah bursa fabricius, sedangkan pada
manusia tempat perkembangan utamanya adalah sumsum tulang.
 Sel pertama yang dapat dikenal sebagai prekursor (pendahulu) sel limfosit B
adalah sel yang sitoplasmanya mengandung rantai berat µ, terdiri atas bagian
variabel V dan bagian konstan C tanpa rantai ringan L, dan tanpa imunoglobulin
pada permukaannya. Sel ini dinamakan sel pro-limfosit B. Selain rantai µ, sel pro-
limfosit B juga memperlihatkan molekul lain pada permukaannya, antara lain
antigen HLA-DR, reseptor komplemen C3b dan reseptor virus Epstein-Barr
(EBV). Pada manusia sel pro-limfosit B sudah dapat ditemukan di hati fetus pada
masa gestasi minggu ke-7 dan ke-8.
 Sel pro-limfosit B ini berkembang menjadi sel limfosit B imatur. Pada tahap ini sel
limfosit B imatur telah dapat membentuk rantai ringan L imunoglobulin sehingga
mempunyai petanda imunoglobulin pada permukaan membran sel yang berfungsi
sebagai reseptor antigen. Bila sel limfosit B sudah memperlihatkan petanda rantai
berat H dan rantai ringan L yang lengkap, maka sel ini tidak akan dapat memproduksi
rantai berat H dan rantai ringan L lain yang mengandung bagian variabel (bagian yang
berikatan dengan antigen) yang berbeda. Jadi setiap sel limfosit B hanya
memproduksi satu macam bagian variabel dari imunoglobulin. lni berarti
imunoglobulin yang dibentuk hanya ditujukan terhadap satu determinan antigenik
saja. Sel B imatur mempunyai sifat yang unik. Jika sel ini terpajan dengan ligannya
(pasangan kontra imunoglobulin yang ada pada permukaan membran sel), sel ini tidak
akan terstimulasi, bahkan mengalami proses yang dinamakan apoptosis sehingga sel
menjadi mati (programmed cell death). Jika ligannya itu adalah antigen diri (self
antigen), maka sel yang bereaksi terhadap antigen diri akan mengalami apoptosis
sehingga tubuh menjadi toleran terhadap antigen diri. Hal ini terjadi pada masa
perkembangan di sumsum tulang. Oleh karena itu, sel limfosit B yang keluar dari
sumsum tulang merupakan sel limfosit B yang hanya bereaksi terhadap antigen asing.
Kemudian sel limfosit B imatur yang telah memperlihatkan imunoglobulin lengkap
pada permukaannya akan keluar dari sumsum tulang dan masuk ke dalam sirkulasi
perifer serta bermigrasi ke jaringan limfoid untuk terus berkembang menjadi sel
matur. Sel B ini memperlihatkan petanda imunoglobulin IgM dan IgD dengan bagian
variabel yang sama pada permukaan membran sel dan dinamakan sel B matur.
 Perkembangan dari sel asal (stem cell) sampai menjadi sel B matur tidak memerlukan
stimulasi antigen, tetapi terjadi di bawah pengaruh lingkungan mikro dan genetik.
Tahap perkembangan ini dinamakan tahapan generasi keragaman klon (clone
diversity), yaitu klon yang mempunyai imunoglobulin permukaan dengan daya ikat
terhadap determinan antigen tertentu.
 Tahap selanjutnya memerlukan stimulasi antigen, yang dinamakan tahapan respons
imun. Setelah distimulasi oleh antigen, maka sel B matur akan menjadi aktif dan
dinamakan sel B aktif. Sel B aktif kemudian akan berubah menjadi sel blast dan
berproliferasi serta berdiferensiasi menjadi sel plasma yang akan memproduksi
imunoglobulin.
 Beberapa progeni sel B aktif tersebut akan mulai mensekresi imunoglobulin kelas lain
seperti IgG, IgA, dan IgE dengan bagian variabel yang sama yang dinamakan alih
isotip atau alih kelas rantai berat (isotype switching).
 Beberapa progeni sel B aktif lainnya ada yang tidak mensekresi imunoglobulin
melainkan tetap sebagai sel B yang memperlihatkan petanda imunoglobulin pada
permukaannya dan dinamakan sel B memori. Μ
 Sel B memori ini mengandung imunoglobulin yang afinitasnya lebih tinggi. Maturasi
afinitas ini diperoleh melalui mutasi somatik. Sel B matur yang tidak distimulasi, jadi
yang tidak menemukan ligannya, akan mati dengan waktu paruh 3-4 hari. Sedangkan
sel B memori akan bertahan hidup lebih lama berminggu-minggu sampai berbulan-
bulan tanpa stimulasi antigen. Sel B memori ini akan beresirkulasi secara aktif
melalui pembuluh darah, pembuluh limfe, dan kelenjar limfe. Bila antigen dapat lama
disimpan oleh sel dendrit di kelenjar limfe, maka sel dendrit ini pada suatu waktu
akan mengekspresikan antigen tersebut pada permukaannya. Antigen yang
diekspresikan oleh sel dendrit ini akan merangsang sel B memori menjadi aktif
kembali, berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang memproduksi
antibodi. Dalam hal ini, kadar antibodi terhadap suatu antigen tertentu dapat bertahan
lama pada kadar protektif, sehingga kekebalan yang timbul dapat bertahan lama.
C. Aktivasi dan fungsi sel B

 Bila sel limfosit B matur distimulasi antigen ligannya, maka sel B akan
berdiferensiasi menjadi aktif dan berproliferasi. Ikatan antara antigen dan
imunoglobulin pada permukaan sel B, akan mengakibatkan terjadinya ikatan silang
antara imunoglobulin permukaan sel B. Ikatan silang ini mengakibatkan aktivasi
enzim kinase dan peningkatan ion Ca++ dalam sitoplasma. Terjadilah fosforilase
protein yang meregulasi transkripsi gen antara lain protoonkogen (proto oncogene)
yang produknya meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel. Aktivasi mitosis ini
dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan sel T, tergantung pada sifat antigen yang
merangsangnya. Proliferasi akan mengakibatkan ekspansi klon diferensiasi dan
selanjutnya sekresi antibodi. Fungsi fisiologis antibodi adalah untuk menetralkan dan
mengeliminasi antigen yang menginduksi pembentukannya.
 Dikenal 2 macam antigen yang dapat menstimulasi sel B, yaitu antigen yang tidak
tergantung pada sel T (TI = T cell independent) dan antigen yang tergantung pada sel
T (TD = T cell dependent). Antigen TI dapat merangsang sel B untuk berproliferasi
dan mensekresi imunoglobulin tanpa bantuan sel T penolong (Th = T helper).
Contohnya adalah antigen dengan susunan molekul karbohidrat, atau antigen yang
mengekspresikan determinan antigen (epitop) identik yang multipel, sehingga dapat
mengadakan ikatan silang antara imunoglobulin yang ada pada permukaan sel B.
Ikatan silang ini mengakibatkan terjadinya aktivasi sel B, proliferasi, dan diferensiasi.
Polisakarida pneumokok, polimer D-asam amino dan polivinil pirolidin mempunyai
epitop identik yang multipel, sehingga dapat mengaktifkan sel B tanpa bantuan sel T.
Demikian pula lipopolisakarida (LPS), yaitu komponen dinding sel beberapa bakteri
Gram negatif dapat pula mengaktifkan sel B. Tetapi LPS pada konsentrasi tinggi
dapat merupakan aktivator sel B yang bersifat poliklonal. Hal ini diperkirakan karena
LPS tidak mengaktifkan sel B melalui reseptor antigen, tetapi melalui reseptor
mitogen.
 Antigen TD merupakan antigen protein yang membutuhkan bantuan sel Th melalui
limfokin yang dihasilkannya, agar dapat merangsang sel B untuk berproliferasi dan
berdiferensiasi.
 Terdapat dua macam respons antibodi, yaitu respons antibodi primer dan sekunder.
Respons antibodi primer adalah respons sel B terhadap pajanan antigen ligannya yang
pertama kali, sedangkan respons antibodi sekunder adalah respons sel B pada pajanan
berikutnya, jadi merupakan respons sel B memori. Kedua macam respons antibodi ini
berbeda baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Perbedaan tersebut adalah
pada respons antibodi sekunder terbentuknya antibodi lebih cepat dan jumlahnya pun
lebih banyak.
 Pada respons antibodi primer, kelas imunoglobulin yang disekresi terutama adalah
IgM, karena sel B istirahat hanya memperlihatkan IgM dan IgD pada permukaannya
(IgD jarang disekresi). Sedangkan pada respons antibodi sekunder, antibodi yang
disekresi terutama adalah isotip lainnya seperti IgG, IgA, dan IgE sebagai hasil alih
isotip. Afinitas antibodi yang dibentuk pada respons antibodi sekunder lebih tinggi
dibanding dengan respons antibodi primer, dan dinamakan maturasi afinitas.
 Respons sel B memori adalah khusus oleh stimulasi antigen TD, sedangkan stimulasi
oleh antigen TI pada umumnya tidak memperlihatkan respons sel B memori dan
imunoglobulin yang dibentuk umumnya adalah IgM. Hal ini menandakan bahwa
respons antibodi sekunder memerlukan pengaruh sel Th atau limfokin yang
disekresikannya.
D. STRUKTUR IMUNOGLOBULIN

 Imunoglobulin atau antibodi adalah sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam


serum atau cairan tubuh pada hampir semua mamalia. Imunoglobulin termasuk dalam
famili glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96%
polipeptida dan 4-18% karbohidrat. Komponen polipeptida membawa sifat biologik
molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu mengikat
antigen secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi komplemen serta pelepasan
histamin dari sel mast.
 Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap kelas mempunyai perbedaan sifat
fisik, tetapi pada semua kelas terdapat tempat ikatan antigen spesifik dan aktivitas
biologik berlainan. Struktur dasar imunoglobulin terdiri atas 2 macam rantai
polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam amino yang dikenal sebagai rantai H
(rantai berat) dengan berat molekul 55.000 dan rantai L (rantai ringan) dengan berat
molekul 22.000. Tiap rantai dasar imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan
2 rantai L. Kedua rantai ini diikat oleh suatu ikatan disulfida sedemikian rupa
sehingga membentuk struktur yang simetris. Yang menarik dari susunan
imunoglobulin ini adalah penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino yang
dikenal sebagai daerah domain, yaitu bagian dari rantai H atau rantai L, yang terdiri
dari hampir 110 asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain, sedangkan
ikatan antara 2 rantai dihubungkan oleh ikatan disulfid interchain. Rantai L
mempunyai 2 tipe yaitu kappa dan lambda, sedangkan rantai H terdiri dari 5 kelas,
yaitu rantai G (γ), rantai A (α), rantai M (μ), rantai E (ε) dan rantai D (δ). Setiap rantai
mempunyai jumlah domain berbeda. Rantai pendek L mempunyai 2 domain; sedang
rantai G, A dan D masing-masing 4 domain, dan rantai M dan E masing-masing 5
domain.
 Rantai dasar imunoglobulin dapat dipecah menjadi beberapa fragmen. Enzim papain
memecah rantai dasar menjadi 3 bagian, yaitu 2 fragmen yang terdiri dari bagian H
dan rantai L. Fragmen ini mempunyai susunan asam amino yang bervariasi sesuai
dengan variabilitas antigen. Fab memiliki satu tempat tempat pengikatan antigen
(antigen binding site) yang menentukan spesifisitas imunoglobulin. Fragmen lain
disebut Fc yang hanya mengandung bagian rantai H saja dan mempunyai susunan
asam amino yang tetap. Fragmen Fc tidak dapat mengikat antigen tetapi memiliki
sifat antigenik dan menentukan aktivitas imunoglobulin yang bersangkutan, misalnya
kemampuan fiksasi dengan komplemen, terikat pada permukaan sel makrofag, dan
yang menempel pada sel mast dan basofil mengakibatkan degranulasi sel mast dan
basofil, dan kemampuan menembus plasenta.
 Enzim pepsin memecah unit dasar imunoglobulin tersebut pada gugusan karboksil
terminal sampai bagian sebelum ikatan disulfida (interchain) dengan akibat
kehilangan sebagian besar susunan asam amino yang menentukan sifat antigenik
determinan, namun demikian masih tetap mempunyai sifat antigenik. Fragmen Fab
yang tersisa menjadi satu rangkaian fragmen yang dikenal sebagai F(ab2) yang
mempunyai 2 tempat pengikatan antigen.
E. KLASIFIKASI IMUNOGLOBULIN

Klasifikasi imunoglobulin berdasarkan kelas rantai H. Tiap kelas mempunyai


berat molekul, masa paruh, dan aktivitas biologik yang berbeda. Pada manusia dikenal
4 sub kelas IgG yang mempunyai rantai berat γl, γ2, γ3, dan γ4. Perbedaan antar
subkelas lebih sedikit dari pada perbedaan antar kelas.

1. Imunoglobulin G

 IgG mempunyai struktur dasar imunoglobulin yang terdiri dari 2 rantai berat H dan 2
rantai ringan L. IgG manusia mempunyai koefisien sedimentasi 7 S dengan berat
molekul sekitar 150.000. Pada orang normal IgG merupakan 75% dari seluruh jumlah
imunoglobulin.
 Imunoglobulin G terdiri dari 4 subkelas, masing-masing mempunyai perbedaan yang
tidak banyak, dengan perbandingan jumlahnya sebagai berikut: IgG1 40-70%, IgG2
4-20%, IgG3 4-8%, dan IgG4 2-6%. Masa paruh IgG adalah 3 minggu, kecuali
subkelas IgG3 yang hanya mempunyai masa paruh l minggu. Kemampuan mengikat
komplemen setiap subkelas IgG juga tidak sama, seperti IgG3 > IgGl > IgG2 > IgG4.
Sedangkan IgG4 tidak dapat mengikat komplemen dari jalur klasik (ikatan C1q) tetapi
melalui jalur alternatif. Lokasi ikatan C1q pada molekul IgG adalah pada domain
CH2.
 Sel makrofag mempunyai reseptor untuk IgG1 dan IgG3 pada fragmen Fc. Ikatan
antibodi dan makrofag secara pasif akan memungkinkan makrofag memfagosit
antigen yang telah dibungkus antibodi (opsonisasi). Ikatan ini terjadi pada subkelas
IgG1 dan IgG3 pada lokasi domain CH3.
 Bagian Fc dari IgG mempunyai bermacam proses biologik dimulai dengan kompleks
imun yang hasil akhirnya pemusnahan antigen asing. Kompleks imun yang terdiri dari
ikatan sel dan antibodi dengan reseptor Fc pada sel killer memulai respons sitolitik
(antibody dependent cell-mediated cytotoxicity = ADCC) yang ditujukan pada
antibodi yang diliputi sel. Kompleks imun yang berinteraksi dengan sel limfosit pada
reseptor Fc pada trombosit akan menyebabkan reaksi dan agregasi trombosit.
Reseptor Fc memegang peranan pada transport IgG melalui sel plasenta dari ibu ke
sirkulasi janin.
2. Imunoglobulin M
 Imunoglobulin M merupakan 10% dari seluruh jumlah imunoglobulin, dengan
koefisien sedimen 19 S dan berat molekul 850.000-l.000.000. Molekul ini mempunyai
12% dari beratnya adalah karbohidrat. Antibodi IgM adalah antibodi yang pertama
kali timbul pada respon imun terhadap antigen dan antibodi yang utama pada
golongan darah secara alami. Gabungan antigen dengan satu molekul IgM cukup
untuk memulai reaksi kaskade komplemen.
 IgM terdiri dari pentamer unit monomerik dengan rantai μ dan CH. Molekul monomer
dihubungkan satu dengan lainnya dengan ikatan disulfida pada domain CH4
menyerupai gelang dan tiap monomer dihubungkan satu dengan lain pada ujung
permulaan dan akhirnya oleh protein J yang berfungsi sebagai kunci.

3. Imunoglobulin A

 IgA terdiri dari 2 jenis, yakni IgA dalam serum dan IgA mukosa. IgA dalam serum
terdapat sebanyak 20% dari total imunoglobulin, yang 80% terdiri dari molekul
monomer dengan berat molekul 160.000, dan sisanya 20% berupa polimer dapat
berupa dua, tiga, empat atau lima monomer yang dihubungkan satu dengan lainnya
oleh jembatan disulfida dan rantai tunggal J . Polimer tersebut mempunyai koefisien
sedimentasi 10,13,15 S.
Sekretori IgA

1. Sekretori imunoglobulin A (sIgA) adalah imunoglobulin yang paling banyak terdapat


pada sekret mukosa saliva, trakeobronkial, kolostrum/ASI, dan urogenital. IgA yang
berada dalam sekret internal seperti cairan sinovial, amnion, pleura, atau serebrospinal
adalah tipe IgA serum.
2. SIgA terdiri dari 4 komponen yaitu dimer yang terdiri dari 2 molekul monomer, dan
sebuah komponen sekretori serta sebuah rantai J. Komponen sekretori diproduksi oleh
sel epitel dan dihubungkan pada bagian Fc imunoglobulin A oleh rantai J dimer yang
memungkinkan melewati sel epitel mukosa. SIgA merupakan pertahanan pertama
pada daerah mukosa dengan cara menghambat perkembangan antigen lokal, dan telah
dibuktikan dapat menghambat virus menembus mukosa.

4. Imunoglobulin D
 Konsentrasi IgD dalam serum sangat sedikit (0,03 mg/ml), sangat labil terhadap
pemanasan dan sensitif terhadap proteolisis. Berat molekulnya adalah 180.000. Rantai
δ mempunyai berat molekul 60.000 – 70.000 dan l2% terdiri dari karbohidrat. Fungsi
utama IgD belum diketahui tetapi merupakan imunoglobulin permukaan sel limfosit B
bersama IgM dan diduga berperan dalam diferensiasi sel ini.
Imunitas seluler

Kekebalan selular adalah respon imun yang tidak mengikutsertakan antibodi,


tetapi mengikutsertakan aktivasi makrofaga, sel NK, sel T sitotoksik yang mengikat
antigen tertentu, dan dikeluarkannya berbagai sitokina sebagai respon terhadap
antigen. Sistem imun terbagi menjadi dua cabang: imunitas humoral, yang merupakan
fungsi protektif imunisasi dapat ditemukan pada humor dan imunitas selular, yang
fungsi protektifnya berkaitan dengan sel. Imunitas selular didefinisikan sebagai suatu
respons imun terhadap antigen yang diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa
bantuan komponen sistem imun lainnya.

Imunitas seluler merupakan bagian dari respons imun didapat yang berfungsi
untuk mengatasi infeksi mikroba intraseluler. Imunitas seluler diperantarai oleh
limfosit T. Terdapat 2 jenis mekanisme infeksi yang menyebabkan mikroba dapat
masuk dan berlindung di dalam sel. Pertama, mikroba diingesti oleh fagosit pada awal
respons imun alamiah, namun sebagian dari mikroba tersebut dapat menghindari
aktivitas fagosit. Bakteri dan protozoa intraseluler yang patogen dapat bereplikasi di
dalam vesikel fagosit. Sebagian mikroba tersebut dapat memasuki sitoplasma sel dan
bermultiplikasi menggunakan nutrien dari sel tersebut. Mikroba tersebut terhindar dari
mekanisme mikrobisidal. Kedua, virus dapat berikatan dengan reseptor pada berbagai
macam sel, kemudian bereplikasi di dalam sitoplasma sel. Sel tersebut tidak
mempunyai mekanisme intrinsik untuk menghancurkan virus. Beberapa virus
menyebabkan infeksi laten, DNA virus diintegrasikan ke dalam genom pejamu,
kemudian protein virus diproduksi di sel tersebut.

 Masuknya antigen ke dalam tubuh akan mengakibatkan suatu seri kejadian yang
sangat kompleks yang dinamakan respons imun. Secara garis besar, respons imun
terdiri atas respons imun selular dan humoral.
 Sebenarnya kedua macam respons imun ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lain, oleh karena respons yang terjadi pada umumnya merupakan gabungan dari kedua
macam respons tersebut. Hanya saja pada keadaan tertentu imunitas selular lebih
berperan daripada respons humoral, sedang pada keadaan lainnya imunitas humoral
yang lebih berperan.
 Eliminasi mikroba yang berada di vesikel fagosit atau sitoplasma sel merupakan
fungsi utama limfosit T pada imunitas didapat. Sel T helper CD4+ juga membantu sel
B memproduksi antibodi. Dalam menjalankan fungsinya, sel T harus berinteraksi
dengan sel lain seperti fagosit, sel pejamu yang terinfeksi, atau sel B. Sel T
mempunyai spesifisitas terhadap peptida tertentu yang ditunjukkan dengan major
histocompatibility complex (MHC). Hal ini membuat sel T hanya dapat merespons
antigen yang terikat dengan sel lain.
F. SEL LIMFOSIT T

 Pada mulanya kita hanya mengenal satu macam limfosit. Tetapi dengan
perkembangan di bidang teknologi kedokteran, terutama sejak ditemukannya antibodi
monoklonal, maka kita mengetahui bahwa ada 2 macam limfosit, yaitu limfosit T dan
limfosit B. Keduanya berasal dari sel asal (stem cell) yang bersifat multipotensial,
artinya dapat berkembang menjadi berbagai macam sel induk seperti sel induk
eritrosit, sel induk granulosit, sel induk limfoid, dan lain-lain. Sel induk limfoid
kemudian berkembang menjadi sel pro-limfosit T dan sel pro-limfosit B. Sel pro-
limfosit T dalam perkembangannya dipengaruhi timus yang disebut juga organ
limfoid primer, oleh karena itu dinamakan limfosit T. Sedangkan sel pro-limfosit B
dalam perkembangannya dipengaruhi oleh organ yang pada burung dinamakan bursa
fabricius atau gut-associated lymphoid tissue, karena itu dinamakan limfosit B.
 Perkembangan sel limfosit T intratimik membutuhkan asupan sel asal limfoid terus-
menerus yang pada fetus berasal dari yolk sac, hati, serta sumsum tulang; dan sesudah
lahir dari sumsum tulang. Sel yang berasal dari hati fetus dan sumsum tulang yang
bersifat multipotensial itu dalam lingkungan mikro timus akan berkembang menjadi
sel limfosit T yang matur, toleran diri (self tolerant) dan terbatas MHC diri (major
histocompatibllity complex restricted). Di dalam timus, dalam proses menjadi limfosit
matur terlihat adanya penataan kembali gen yang produk molekulnya merupakan
reseptor antigen pada permukaan limfosit T (TCR) dan juga ekspresi molekul-
molekul pada permukaan limfosit T yang dinamakan petanda permukaan (surface
marker) limfosit T. Dinamakan petanda permukaan limfosit T karena molekul
tersebut dapat membedakan limfosit T dengan limfosit lainnya. Di dalam timus,
sebagian besar sel limfosit T imatur akan mati dengan proses yang dinamakan
apoptosis. Apoptosis adalah kematian sel yang diprogram (fisiologis) demi kebaikan
populasi sel lainnya. Sedangkan nekrosis atau disebut juga kematian sel accidental
adalah kematian sel karena kerusakan berat (patologis), misalnya akibat infeksi
mikroorganisme, trauma fisis, zat kimia, hipertermia, iskemia, dan lain-lain.
 TCR merupakan kompleks glikoprotein yang terdiri atas rantai α, β atau γ, δ.
Sebagian besar TCR matur merupakan dimer α, β sedangkan dimer γ, δ merupakan
TCR limfosit T awal (early). Hanya 0,5-10% sel T matur perifer mempunyai TCR,
yaitu limfosit T yang tidak memperlihatkan petanda permukaan CD4 dan CD8 yang
dinamakan sel limfosit T negatif ganda (double negative = DN). Sel DN matur ini
dapat mengenal aloantigen kelas I, mungkin juga aloantigen kelas II, dengan
mekanisme yang belum jelas. Masih belum jelas pula apakah sel DN matur juga dapat
mengenal antigen asing. Gen yang mengkode TCR terletak pada kromosom 14 (α,γ)
dan kromosom 7 (β,δ). Gen ini merupakan anggota dari superfamili gen
imunoglobulin, karena itu molekul TCR mempunyai struktur dasar yang sama dengan
struktur dasar imunoglobulin. Segmen gen ini ada yang akan membentuk daerah
variabel M dari TCR, daerah diversitas (D), daerah joining (J), dan daerah konstan
(C). Karena segmen gen ini terletak terpisah, maka perlu diadakan penataan kembali
gen VDJC atau VJC agar dapat ditranskripsi dan menghasilkan produk berupa TCR.
Penataan kembali segmen DNA ini akan memungkinkan keragaman (diversity)
spesifisitas TCR yang luas. Setiap limfosit T hanya mengekspresikan satu produk
kombinasi VDJC atau VJC, yang membedakan klon yang satu dari klon lainnya.
 Limfosit T yang mempunyai TCR antigen diri (self antigen) akan mengalami
apoptosis karena ia telah terpajan secara dini pada antigen diri dan mati insitu dengan
mekanisme yang belum jelas. Karena itu, limfosit matur yang keluar dari timus adalah
limfosit yang hanya bereaksi dengan antigen non self dan dinamakan toleran diri. Di
dalam timus, limfosit T juga mengalami pengenalan antigen diri hanya bila
berasosiasi dengan molekul MHC diri, melalui proses yang juga belum diketahui
dengan jelas yang dinamakan terbatas MHC diri. Molekul TCR III diekspresikan pada
membran sel T bersama molekul CD3, yaitu salah satu molekul petanda permukaan
sel T.

1. Reseptor antigen sel limfosit T (TCR)

 Molekul TCR terdapat pada membran sel T berasosiasi dengan molekul CD3,
merupakan kompleks glikoprotein transmembran. Sebagian besar dari molekul ini
berada ekstraselular dan merupakan bagian pengenal antigen. Sedangkan bagian
transmembran merupakan tempat berlabuhnya TCR pada membran sel yang
berinteraksi dengan bagian transmembran molekul CD3.
 Molekul CD3 mempunyai segmen intrasitoplasmik yang agak panjang sesuai dengan
perannya untuk sinyal intraselular. Demikian pula molekul TCR mempunyai segmen
intrasitoplasmik yang akan mentransduksi sinyal ke dalam sel. Bagian distal
ekstraselular TCR merupakan bagian variabel yang dapat mengenal antigen, yang
membedakan satu klon sel T dari klon lainnya.

G. AKTIVASI SEL T

 Sel limfosit T biasanya tidak bereaksi dengan antigen utuh. Sel T baru bereaksi
terhadap antigen yang sudah diproses menjadi peptida kecil yang kemudian berikatan
dengan molekul MHC di dalam fagosom sitoplasma dan kemudian diekspresikan ke
permukaan sel. Sel limfosit T hanya dapat mengenal antigen dalam konteks molekul
MHC diri. Molekul CD4 dan CD8 merupakan molekul yang menentukan terjadinya
interaksi antara CD3/TCR dengan kompleks MHC/antigen. Sel T CD4 akan mengenal
antigen dalam konteks molekul MHC kelas II, sedang sel T CD8 akan mengenal
antigen dalam konteks molekul MHC kelas I.
 Untuk dapat mengaktifkan sel T dengan efektif, perlu adanya adhesi antara sel T
dengan sel APC atau sel sasaran (target). Adhesi ini, selain melalui kompleks
CD4/CD8-TCR-CD3 dengan MHC kelas II/kelas I-ag, dapat juga ditingkatkan
melalui ikatan reseptor-ligan lainnya. Reseptor-ligan tersebut antara lain, CD28-B7,
LFA-I-ICAM1/2 (molekul asosiasi fungsi limfosit 1 = lymphocyte function associated
1, molekul adhesi interselular l = inter cellular adhesion molecule 1), CD2-LFA3,
CD5-CD72
 Terjadinya ikatan antara antigen dan TCR dinamakan tahapan primer. Aktivasi sel T
juga memerlukan adanya stimulasi sitokin, seperti interleukin 1 (IL-1) yang
dikeluarkan oleh sel APC yang dinamakan ko-stimulator. Sinyal adanya ikatan TCR
dengan antigen akan ditransduksi melalui bagian TCR dan CD3 yang ada di dalam
sitoplasma (lihat Gambar 10-3). Sinyal ini akan mengaktifkan enzim dan
mengakibatkan naiknya Ca++ bebas intraselular, naiknya konsentrasi c-GMP dan
terbentuknya protein yang dibutuhkan untuk transformasi menjadi blast. Terjadilah
perubahan morfologis dan biokimia. Tahapan ini dinamakan tahapan sekunder.
Kemudian terjadilah diferensiasi menjadi sel efektor/sel regulator dan sel memori.
Sebagai akibat transduksi sinyal, juga terjadi ekspresi gen limfokin dan terbentuklah
berbagai macam limfokin. Melalui pembentukan limfokin, sel regulator akan
meregulasi dan mengaktifkan sel yang berperan dalam eliminasi antigen, sedangkan
sel efektor akan melisis antigen/sel sasaran atau menimbulkan peradangan pada
tempat antigen berada, agar antigen tereliminasi. Tahapan ini dinamakan tahapan
tersier. Tahapan ini dapat dipakai untuk menilai fungsi sel T.

2. Fase-fase respons sel T

Respons limfosit T terhadap antigen mikroba terdiri dari beberapa fase yang
menyebabkan peningkatan jumlah sel T spesifik dan perubahan sel T naif menjadi sel
efektor. Limfosit T naif terus bersirkulasi melalui organ limfoid perifer untuk mencari
protein antigen asing. Sel T naif mempunyai reseptor antigen dan molekul lain yang
dibutuhkan dalam pengenalan antigen. Di dalam organ limfoid, antigen diproses dan
ditunjukkan dengan molekul MHC pada antigen-presenting cell (APC), kemudian sel
T bertemu dengan antigen tersebut untuk pertama kalinya. Pada saat itu, sel T juga
menerima sinyal tambahan dari mikroba itu sendiri atau dari respons imun alamiah
terhadap mikroba.

Sebagai respons terhadap stimulus tersebut, sel T akan mensekresi sitokin.


Beberapa sitokin bekerja sama dengan antigen dan sinyal kedua dari mikroba untuk
menstimulasi proliferasi sel T yang spesifik untuk antigen. Hasil dari proliferasi ini
adalah penambahan jumlah limfosit spesifik antigen dengan cepat yang disebut clonal
expansion. Fraksi dari limfosit ini menjalani proses diferensiasi dimana sel T naif
(berfungsi untuk mengenal antigen mikroba) berubah menjadi sel T efektor (berfungsi
untuk memusnahkan mikroba). Sebagian sel T efektor tetap di dalam kelenjar getah
bening dan berfungsi untuk memusnahkan sel terinfeksi atau memberikan sinyal
kepada sel B untuk menghasilkan antibodi. Sebagian sel T berkembang menjadi sel T
memori yang dapat bertahan lama. Sel ini tidak aktif dan bersirkulasi selama beberapa
bulan atau tahun, serta dapat merespons dengan cepat apabila terjadi paparan berulang
dengan mikroba. Setelah sel T efektor berhasil mengatasi infeksi, stimulus yang
memicu ekspansi dan diferensiasi sel T juga berhenti. Klon sel T yang sudah
terbentuk akan mati dan kembali ke keadaan basal. Hal ini terjadi pada sel T CD4+
dan CD8+, namun terdapat perbedaan pada fungsi efektornya.

3. Peran ko-stimulasi dalam aktivasi sel T

Aktivasi penuh sel T tergantung dari pengenalan ko-stimulator di APC. Ko-


stimulator merupakan “sinyal kedua” untuk aktivasi sel T. Istilah “ko-stimulator”
menunjukkan bahwa molekul tersebut memberikan stimuli kepada sel T bersama-
sama dengan stimulasi oleh antigen. Contoh ko-stimulator adalah B7-1 (CD80) dan
B7-2 (CD86). Keduanya terdapat pada APC dan jumlahnya meningkat bila APC
bertemu dengan mikroba. Jadi, mikroba akan menstimulasi ekspresi B7 pada APC.
Protein B7 dikenali oleh reseptor bernama CD28 yang terdapat pada sel T. Sinyal dari
CD28 bekerja bersama dengan sinyal yang berasal dari pengikatan TCR dan ko-
reseptor kompleks peptida-MHC pada APC yang sama. Mekanisme ini penting untuk
memulai respons pada sel T naif. Apabila tidak terjadi interaksi CD28-B7, pengikatan
TCR saja tidak mampu untuk mengaktivasi sel T sehingga sel T menjadi tidak
responsif. Antigen presenting cell (APC) juga mempunyai molekul lain yang struktur
dan fungsinya serupa dengan B7-1 dan B7-2. Molekul B7-like ini penting pada
aktivasi sel T efektor.

Molekul lain yang turut berperan sebagai ko-stimulator adalah CD40 pada
APC dan ligan CD40 (CD154) pada sel T. Kedua molekul ini tidak berperan langsung
dalam aktivasi sel T. Interaksi CD40 dengan ligannya menyebabkan APC membentuk
lebih banyak ko-stimulator B7 dan sitokin seperti IL-12. Interaksi ini secara tidak
langsung akan meningkatkan aktivasi sel T.

Pentingnya peran ko-stimulator dalam aktivasi sel T dapat menjelaskan


mengapa antigen protein yang digunakan dalam vaksin tidak dapat menimbulkan
respons imun sel T, kecuali jika antigen tersebut diberikan bersama dengan bahan lain
untuk mengaktivasi makrofag dan APC. Bahan ini disebut adjuvant dan berfungsi
untuk merangsang pembentukan ko-stimulator pada APC, serta untuk menstimulasi
produksi sitokin dari APC. Sebagian besar adjuvant merupakan produk mikroba atau
bahan yang menyerupai mikroba. Adjuvant akan mengubah protein antigen inert agar
menyerupai mikroba patogen.

Aktivasi sel T CD8+ distimulasi oleh pengenalan peptida yang berhubungan


dengan MHC kelas I, serta membutuhkan kostimulasi dan/atau sel T helper.
Perkembangan sel T sitotoksik CD8+ pada infeksi virus membutuhkan sel T helper
CD4+. Pada infeksi virus, sel yang terinfeksi dicerna oleh APC khususnya sel dendrit,
kemudian antigen virus akan dipresentasikan silang (cross-presented) oleh APC.
Antigen presenting cell (APC) akan mempresentasikan antigen dari sitosol sebagai
kompleks dengan MHC kelas I, dan antigen dari vesikel sebagai kompleks dengan
MHC kelas II. Oleh sebab itu, sel CD4+ dan sel CD8+ yang spesifik untuk antigen
virus tersebut akan bekerja secara berdekatan. Sel TCD4+ memproduksi sitokin atau
molekul membran untuk mengaktivasi sel TCD8+, sehingga ekspansi klonal dan
diferensiasi sel TCD8+ menjadi sel T sitotoksik (TC) efektor dan memori tergantung
dari bantuan sel TCD4+. Hal ini dapat menjelaskan terjadinya defek respons sel TC
terhadap virus pada pasien human immunodeficiency virus (HIV). Selain respons yang
telah dijelaskan di atas, terdapat pula respons sel TC terhadap beberapa virus yang
tidak bergantung kepada bantuan sel T CD4+.

H. FUNGSI IMUNITAS SELULAR

 Imunitas selular berfungsi untuk mengorganisasi respons inflamasi nonspesifik


dengan mengaktivasi fungsi makrofag sebagai fagosit dan bakterisid, serta sel fagosit
lainnya; selain itu juga mengadakan proses sitolitik atau sitotoksik spesifik terhadap
sasaran yang mengandung antigen.
 Imunitas selular berfungsi pula untuk meningkatkan fungsi sel B untuk memproduksi
antibodi, juga meningkatkan fungsi subpopulasi limfosit T baik sel Th/penginduksi
maupun sel Tc/sel supresor. Fungsi lainnya adalah untuk meregulasi respons imun
dengan mengadakan regulasi negatif dan regulasi positif terhadap respons imun.

I. RESPONS IMUN SELULAR DALAM KLINIK

Dalam klinik respons imun selular ini dapat kita lihat berupa hipersensitivitas
kulit tipe lambat, imunitas selular pada penyakit infeksi mikroorganisme intraselular
(bakteri, virus, jamur) serta penyakit parasit dan protozoa, imunitas selular pada
penyakit autoimun, reaksi graft versus host, penolakan jaringan transplantasi, dan
penolakan sel tumor.

 Hipersensitivitas kulit tipe lambat (reaksi tipe IV) Dalam klinik reaksi tipe IV dapat
kita lihat berupa reaksi pada kulit bila seseorang yang pernah kontak dengan antigen
tertentu (seperti bakteri mikobakterium, virus, fungus, obat atau antigen lainnya)
kemudian dipaparkan kembali dengan antigen tersebut pada kulitnya. Terlihat reaksi
berupa eritema, indurasi pada kulit atau peradangan pada tempat antigen berada
setelah satu sampai beberapa hari kemudian. Secara histologis kelainan kulit ini
terdiri atas infiltrasi sel mononuklear yaitu makrofag, monosit dan limfosit di sekitar
pembuluh darah dan saraf. Reaksi tipe IV ini umumnya dapat terlihat pada respons
imun infeksi mikroorganisme intraselular, juga pada reaksi penolakan jaringan yang
memperlihatkan peradangan pada tempat transplantasi, dan pada reaksi penolakan
tumor.
 Imunitas selular pada infeksi bakteri Imunitas selular pada infeksi bakteri misalnya
terlihat berupa pembentukan kavitas dan granuloma pada infeksi dengan
Mycobacterium tuberculosis, demikian pula lesi granulomatosa pada kulit penderita
lepra. Limfokin yang dilepaskan sel Td mengakibatkan terjadinya granuloma dan sel
yang mengandung antigen akan mengalami lisis oleh sel Tc dan sel killer lainnya.
 Reseptor antigen sel limfosit T (TCR) Molekul TCR terdapat pada membran sel T
berasosiasi dengan molekul CD3, merupakan kompleks glikoprotein transmembran.
Sebagian besar dari molekul ini berada ekstraselular dan merupakan bagian pengenal
antigen. Sedangkan bagian transmembran merupakan tempat berlabuhnya TCR pada
membran sel yang berinteraksi dengan bagian transmembran molekul CD3.
 Imunitas selular pada infeksi virus Imunitas selular pada infeksi virus sangat berperan
pada penyembuhan yaitu untuk melisis sel yang sudah terinfeksi. Ruam kulit pada
penyakit campak, lesi kulit pada penyakit cacar dan herpes simpleks juga merupakan
reaksi tipe IV dan lisis oleh sel Tc.
 Imunitas selular pada infeksi jamur Peradangan pada infeksi jamur seperti
kandidiasis, dermatomikosis, koksidiomikosis dan histoplasmosis merupakan reaksi
imunitas selular. Sel TC berusaha untuk melisis sel yang telah terinfeksi jamur dan
limfokin merekrut sel-sel radang ke tempat jamur berada.
 Imunitas selular pada penyakit parasit dan protozoa Peradangan yang terlihat pada
penyakit parasit dan protozoa juga merupakan imunitas selular. Demikian pula
pembentukan granuloma dengan dinding yang menghambat parasit dari sel host
sehingga penyebaran tidak terjadi.
 Imunitas selular pada penyakit autoimun Meskipun dalam ontogeni sel T autoreaktif
dihancurkan dalam timus, dalam keadaan normal diperkirakan bahwa sel T
autoreaktif ini masih tetap ada, tetapi dalam jumlah kecil dan dapat dikendalikan oleh
mekanisme homeostatik. Jika mekanisme homeostatik ini terganggu dapat terjadi
penyakit autoimun. Kunci sistem pengendalian homeostatik ini adalah pengontrolan
sel T penginduksi/Th. Sel T penginduksi/Th dapat menjadi tidak responsif terhadap
sel T supresor, sehingga merangsang sel T autoreaktif yang masih bertahan hidup atau
sel Tc kurang sempurna bekerja dalam penghapusan klon antara lain karena gagalnya
autoantigen dipresentasikan ke sel T. Jika ada gangguan sel T supresor atau gagal
menghilangkan sel T autoreaktif atau gagal mempresentasikan autoantigen pada masa
perkembangan, maka dapat terjadi penyakit autoimun.
 Imunitas selular pada reaksi graft versus host Pada reaksi graft versus host, kerusakan
yang terlihat disebabkan oleh sel imunokompeten donor terhadap jaringan resipien.
Reaksi tersebut berupa kelainan pada kulit seperti makulopapular, eritroderma, bula
dan deskuamasi, serta kelainan pada hati dan traktus gastrointestinal. Kelainan yang
timbul juga disebabkan oleh imunitas selular.
 Imunitas selular pada penolakan jaringan Pada transplantasi jaringan dapat terlihat
bahwa jaringan yang tadinya mulai tumbuh, setelah beberapa hari berhenti tumbuh.
Ini disebabkan oleh reaksi imunitas selular yang timbul karena adanya antigen asing
jaringan transplantasi. Organ transplantasi menjadi hilang fungsinya. Secara histologis
terlihat adanya infiltrasi intensif sel limfoid, sel polimorfonuklear dan edema
interstisial. Dapat dilihat terjadinya iskemia dan nekrosis. Peradangan ini disebabkan
karena sel T resipien mengenal antigen kelas I dan II donor yang berbeda dengan
antigen diri. Pengenalan ini sama seperti pengenalan antigen asing di antara celah
domain molekul MHC. Terjadi lisis alograft oleh sel TC resipien. Demikian pula
limfokin yang dilepaskan sel T akan merusak alograft dengan merekrut sel radang.
 Imunitas selular pada penolakan tumor Imunitas selular pada penolakan tumor sama
dengan imunitas selular pada penolakan jaringan transplantasi. Tentu saja imunitas
selular ini bukanlah satu-satunya cara untuk menghambat pertumbuhan sel tumor,
imunitas humoral juga dapat berperan. Adanya ekspresi antigen tumor akan
mengaktifkan sel Tc host demikian pula interferon yang dilepaskan sel T juga akan
mengaktifkan sel NK (natural killer) untuk melisis sel tumor. Limfokin akan
merekrut sel radang ke tempat tumor berada dan menghambat proliferasi tumor serta
melisis sel-sel tumor.
DAFTAR PUSTAKA

 Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and molecular immunology.
Philadelphia: WE Saunders Company, 1991.
 Scandinavian Journal of Immunology. Monthly journal published by Blackwell
Science Ltd., Osney Mead Oxford OX2 OEL, UK.
 Scientific American. Monthly journal published by Scientific American Inc., 415
Madison Avenue, N.Y., USA.
 Mims C, Playfair J, Wakelin D, and R Williams. Medical Microbiology. 4th Ed.
Mosby, London, 2007.

 Abbas AK. Maturation of B lymphocytes and expression of immunoglobulin genes.


Dalam: Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS, penyunting. Cellular and molecular
immunology. Philadelphia: Saunders, 1991; 70-96.
 Roitt IM. The basic of immunology. Specific acquired immunity. Dalam: Roitt IM,