Anda di halaman 1dari 4

KATEGORI LOMBA : CERPEN

“SIMFONI DIBAWAH LANGIT NANGROE”

Aprilia Hidayana

170110162

Teknik Sipil

Teknik

2017

BEM FISIP UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

1
SIMFONI DI BAWAH LANGIT NANGROE

Alam memang tak mampu berkata-berkata, namun mampu merintih dalam jiwanya.
Alam berhembus seakan punya ketertarikan dengan segenap makhluk yang menghampirinya.
Hanya alam yang mengerti bisikan-bisikan ketertarikan manusia, menamainya dengan
eksplorasi, menikmati tiada henti. Angin sepoi-sepoi bersahabat dengan cahaya disiang hari,
pembawaaan nya membuat daun-daun jati berguguran terhembus angin yang membawanya
ke liang bumi, tergeletak pasrah lalu terinjak-injak oleh orang-orang yang terlintas.

Semua terlihat baik-baik saja. Pagi hari seperti ini memang sudah banyak pejuang-
pejuang berjalan di jalanan kampus yang sudah mulai terik karena matahari. Petugas sampah
dan muda mudi, warga Nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku pun tak
menghiraukan itu, memang sudah biasa

“Alam yang bagus, obat gratis dikala stres” ujarku senyum

“kalau disana obat stress bayar ya?” tanya Vina yang tenyata mendegar gumananku

“iya, tak selalu dan tak semua sih” jawabku singkat.

Suara kepakan burung, lambaian pohon dan angin senja begitu indah seakan
menyambut kedatanganku. Aku masih saja menelusuri sepanjang pantai dengan jiwa yang
santai. Nama ku April, Aku anak perantauan yang berasal dari Medan yang sedang transit di
negeri Aceh. Aku sedang mengejar gelar dan menyebarluaskan relasi pada jurusan Teknik
Sipil. Aku sebatang kara, oh tidak, terlalu kasar. Aku seorang diri berada disini untuk
menuntut ilmu. Hidupku musti hemat, bahkan untuk liburan pun musti mencari yang gratis.
Hari ini Aku menghabiskan sore ku dengannya, menyegarkan kembali pikiran akibat tugas
yang terlalu banyak.

Senja mulai hilang, malam mulia bertamu, Aku dan Vina bergegas kembali ke Kostan
kami. diperjalanan Aku menemui beberapa aktifitas anak anak dan warga sini yang
membuatku tersentuh saat pertama datang ke Aceh. Tanpa sengaja air mata ku seperti sudah
bersiap akan turun, Aku sangat tersentuh. Pasalnya menjelang magrib para warga sekitar
sigap untuk ke Masjid/Meunasah terdekat, anak anak bergegas ke balai pengajian, rumah
warga senyap, semua toko dan tempat jual beli berhenti. Sungguh syahdu.

2
Kejadian ini mengingatkanku pada kampung halaman, Aku jadi rindu, rindu semua
hal yang pernah kulalui. Aku dan Vina sepakat berhenti untuk Sholat Maghrib. Usai sholat
kami menikmati suasana Masjid yang megah dan bersih, ramai, dan aman. Aku duduk di
ujung tepat dekat tiang penyangga, begitupun Vina. Aku mengeluarkan note kecil sekedar
agar ada kerjaan tanganku selain main Hp. sesaat setelah itu, Aku mendengar Lantunan Ayat
suci Alquran, suaranya manis, kecil dan terdengar muda, bersih dan fasih. Aku mencari
dimana sumber suaranya, tepat dibelakangku, seorang gadis kecil sedang mengaji dengan
khidmat. Aku mendengarkannya, sambil mengingat kapan terakhir kali Aku mengaji seindah
dia.

“Pril, come on. laper ini” senggol Vina tiba-tiba.

Kami melanjutkan perjalanan pulang kami pulang dan makan disalah satu tempat
makan. selama perjalanan kami melihat beberapa tempat makan tutup. Aku baru sadar
bahwasanya Magrib,sholat Jumat dan hari besar lainnya toko dan tempat lainnya ditutup.
Vina sengaja memperlambat motornya sambil melihat tempat makan/cafe/ semacamnya yang
bisa mengisi perut. Aku terlihat seperti hidup tanpa ajaran agama, melihat keadaan begitu saja
langsung terhenyut. tapi untungnya Aku orang yang tak terlalu suka memikirkan apa kritik
orang tentang kita apalagi menjatuh dan berkomentar sembarangan. Tak penting di bahas dan
di tidaklanjuti. Aku hanya kagum dan rindu Pada keaadaan seperti ini, dan dengan Aku
memilih untuk transit di Serambi Mekkah ini sangat mengunggah jiwa raga hatiku.

Aku masih cerita Nangroe bagian yang sedang ku tempati, Aceh Utara. belum lagi
menelusuri seluruh Aceh. Benar – benar luar biasa. alamnya kaya dan mahal, unik dan ramah,
mengundang kita untuk kembali mengasrikan diri dan alam. Museum Tsunami yang
mengundang sedih dan perih, mengajak kita untuk jadi orang yang mengasihi. Kapal Apung
yang mengingtakan kita bahwa apa yang terjadi sama kita takselamanya seperti itu. Masjid
Raya Baiturrahaman dan semua Masjid lainnya yang membuat kita terpanggil untuk
beribadah, Pantai dan Lalut yang membuat kita sadar Alam luas. Hutan lindung yang
membuat kita sadar untuk menjaga. semua titik lokasi di Nangroe tak pantas jika di
berlakukan tak pantas. Aku mulai dasar, Aku mulai jatuh hati pada Nangroe.

kami berhenti disalah satu cafe, dan memesan menu yang mengundang selera kami.
menunggu hidangan datang Aku masih terbuai oleh keadaan sore ini. ya, walaupun bukan
pertama tapi selalu memberi makna. Aku suka membandingkan Nanggroe dengan kampung
halaman kusendiri. jujur saja Aku hanya mengikuti sekolah Arab selama 2 tahun, dan ngaji

3
private oleh Nek Siti. Guru ngaji yang datang de setiap rumah untuk mengajar dan dibayar
seikhlasnya. Masa kecilku pergi untuk berjamaah ke Masjid sangat minim, kebanyakan
temanku dilarang oleh orang tuanya, jauh perjalanan dan rawan. rasanya Aku harus bersyukur
bisa melanjutkan pendidikan di Serambi Mekkah ini. Penuh ajaran yang mengubah hidupku.

segelas creeme Latte dan Mie Aceh udang bersih ku habiskan dengan lahap, dan
Alhamdulillah, Aku kenyang. sedikit perbincanganku dengan Vina dan kami pulang untuk
segera melanjutkan tugas kuliah.

Begitu hari kami berakhir. Simfoni yang selalu indah, penuh bermacam nada dan
suara, Nangroe Negeri Islami, Nangroe Penuh Inspirasi.

- SEKIAN -