Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Ketulian adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara
pada salah satu atau kedua telinga. Proses mendengar terjadi karena adanya integrasi dari
sistem pendengaran yang meliputi telinga luar, telinga tengah, telinga dalam. Telinga luar
berfungsi dalam penangkapan dan penghantaran getaran suara ke telinga tengah untuk
diperbesar dan diperkuat yang selanjutnya diteruskan ke telinga dalam. Telinga dalam
mengubah energi mekanik menadi impuls listrik yang kemudian dihantarkan melalui saraf ke
otak untuk diinterpretasikan sebagai bunyi. Gangguan proses medengar dapat terjadi dibagian
mana saja, salah satu atau kedua telinga, sehingga tidak dapat mendengar dengan baik atau
tidak dapat mendengar sama sekali. 1,2

Kelainan telinga dapat menyebabkan tuli konduktif dan tuli sensorineural. Dari semua
kasus kehilangan pendengaran, 90% merupakan tuli sensorineural. Tuli sensorineural adalah
tuli yang terjadi karena gangguan pada telinga dalam atau pada jalur saraf dari telinga dalam
ke otak. Tuli ini dapat mengenai semua usia dengan etiologi yang berbeda-beda. Sekitar 50%
kasus merupakan faktor genetik dan 50% faktor didapat (acquired). 1,2

Tuli sensorineural dibagi dalam tuli sensorineural koklea dan retrokoklea. Tuli
sensorineural koklea disebabkan oleh kelainan kongenital, labirinitis, intoksikasi obat, selain
itu dapat disebabkan oleh tuli mendadak, trauma kapitis, trauma akustik dan pajanan bising.
Sedangkan tuli sensori neural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut
pons cerebellum, myeloma multiple, cedera otak, perdarahan otak dan kelainan otak lainnya.
1,2

Perkiraan dari kejadian tahunan sekitar 15.000 kasus SNHL (Sensory Neural Hearing
Loss) dilaporkan per tahun diseluruh dunia dengan 4000 orang terjadi di Amerika Serikat.
Satu dari setiap 10.000 sampai 15.000 orang akan menderita dari kondisi ini dengan insiden
tertinggi terjadi antara 50-60 tahun. Insiden terendah adalah antara 20-30 tahun. Dari pasien
yang menderita SNHL, 2 % adalah gangguan bilateral. Angka kejadian hampir sama antara
laki-laki dan perempuan. 1,2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga

Telinga terdiri dari telinga luar, telinga tengah, telinga dalam yang akan diuraikan
seperti dibawah ini.

a. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari auricula dan meatus acusticus externus. Auricula mempunyai
bentuk yang khas dan berfungsi mengumpulkan getaran udara. Auricula terdiri dari lempeng
tulang rawan elastis tipis yang ditutupi kulit. Auricula mempunyai otot intrinsik dan
ekstrinsik, kedua disarafi oleh n. Fasialis. 4

Gambar 1. Anatomi telinga

Meatus acusticus externus adalah tabung berkelok yang menghubungkan auricula dengan
membran timpani. Tabung ini berfungsi menghantarkan gelombang suara dari auricula ke
membrana timpani. Pada orang dewasa panjangnya lebih kurang 1 inci (2,5 cm) dan dapat
diluruskan utuk memasukkan otoskop dengan cara menarik auricula ke atas dan belakang.
Pada anak-anak, auricula ditarik lurus ke belakang, atau ke bawah dan belakang. 3,4,5,6

2
Rangka sepertiga bagian luar meatus adalah kartilago elastis dan dua pertiga bagian
adalah tulang yang dibentuk oleh lempeng timpati. Meatus dilapisi oelh kulit, dan sepertiga
bagian luarnya mempunyai rambut, kelenjar sebasea, dan glandula ceruminosa. Glandula ini
adalah modifikasi kelenjar keringat yang menghasilkan sekret lilin berwarna coklat
kekuningan. Rambut dan lilin merupakan barier yang lengket, untuk mencegah masuknya
benda asing. 3

b. Telinga tengah

Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis temporalis yang
dilapisi oleh membrana mukosa. Ruang ini berisi tulang-tulang pendengaran yang berfungsi
meneruskan getaran membrana timpani ke perilimfa telinga dalam. Cavum timpani berbentuk
celah sempit yang miring dengan sumbu panjang terletak lebih kurang sejajar dengan bidang
membran timpani dan ruangan ini juga berhubungan dengan nasopharing melalui tuba
auditiva dan di belakang dengan antrum mastoideum. 3,4,5,6

Gambar 2. Anatomi telinga tengah

Telinga tengah mempunyai batas-batas yaitu atap, lantai, anterior, dinding posterior,
dinding lateral, dan dinding medial. Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang yag disebut
dengan tegmen timpani yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis. Lempeng
ini memisahkan cavum timpani darin meningens dan lobus temporalis otak di dalam fossa
cranii media. 3,4,5,6

Lantai dibentuk di bawah oleh lempeng tipis tulang yang menungkin tidak lengkap
dan mungkin diganti dengan sebagaian jaringan fibrosa. Lempeng ini memisahkan cavum
timpani dari bulbus superior v. Jugularis interna. 3,4,5,6

3
Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng tipis tulang yang memisahkan
cavum timpani dari a. carotis interna. Pada bagian atas dinding anterior terdapat muara dari
dua saluran. Saluran yang lebih besar dan terletak lebih bawah menuju tuba auditiva, dan
yang terletak lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam saluran untuk m. Tensor tympani.

Di bagian atas dinding posterior terdapat sebuah lubang besar yang tidak beraturan
yaitu aditus ad antrum. Di bawah ini terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit,
kecil, disebut pyramis. Dari puncak pyramis ini keluar tendo m. Stapedius. Sebagian besar
dinding lateral dibentuk oleh membran timpani. 3,4,5,6

Membran timpani adalah membrana fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara.
Membrana ini terletak miring, menghadap ke bawah, depan, dan lateral. Permukaannya
konkaf ke lateral. Pada dasar cekungannya terdapat lekukan kecil yaitu umbo yang terbentuk
oleh manubrium mallei. Bila membrana terkena cahaya otoskop, bagian cekung ini
menghasilkan kerucut cahaya yang memancar ke anterior dan inferior dari umbo. 3,4,5,6

Membran timpani berbentuk bulat dengan diameter lebih kurang 1 cm. Pinggirnya
tebal dan melekat di dalam alur pada tulang. Daerah segitiga kecil pada membrana timpani
yang dibatasi oleh plica-plica yang lembut disebut plica flacida, bagian lainnya disebut plica
tensa. Manubrium mallei dilekatkan di bawah pada permukaan dalam membran timpani oleh
membran mukosa. Membran timpani sangat peka terhadap nyeri dan permukaan luarnya
dipersarafi oleh n. Auriculotemporalis dan ramus auricularis n vagus. 3,4,5,6

Gambar 3. Membran Anatomi

Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dalam. Bagian terbesar dari
dinding menunjukkan penonjolan bulat disebut promontorium, diatas dan belakang
promontorium terdapat fenestra vestibuli yang berbentuk lonjong dan ditutupi oleh basis

4
stapedis. Pada sisi medial fenestra terdapat perlimfe skala vestibuli telinga dalam. Dibawah
ujung posterior promontorium terdapat fenestra koklea yang berbentuk bulat dan ditutupi
oelh membrana timpani secundaria. Pada sisi medial dari fenesta terdapat perilimfe ujung
buntu skala timpani. 3,4,5,6

Ossicula audittus adalah malleus, incus, stapes. Malleus adalah tulang pendengaran
besar dan terdiri atas caput, collum, processus longum atau manubrium, sebuah processus
anterior dan processus lateralis. Incus mempunyai corpus yang besar dan dua crus, ujung
bawah crus tersebut melengkung ke medial dan bersendi dengan caput stapedis. Stapes
mempunyai caput, collum, dua lengan dan sebuah basis. Caput stapedis kecil dan bersendi
dengan crus longum incudes. Collum berukuran sempit dan merupakan tempat insersio m.
Stapedius. 3,4,5,6

Tuba eustachius merupakan suatu bagian dari telinga bagian tengah yang terbentang
dari dinding anterior cavum timpani ke bawah, depan, dan medial sampai nasopharing.
Sepertiga bagian posteriornya adalah tulang dan dua pertiga anteriornya adalah cartilago.
Tuba berhubungan dengan nasopharing dengan berjalan melalui pinggir atas m. Constrictor
superior. Tuba berfungsi menyeimbangkan tekanan udara dalam cavum timpani dengan
nasopharing.

Gambar 4. Tuba eustachius pada anak dan dewasa

Antrum mastoideum terletak di belakang cavum timpani di dalam pars petrosa ossis
temporalis, dan berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus. Dinding anterior
berhubungan dengan telinga tengah dan berisi aditus ad antrum. Dinding posterior
memisahkan antrum dari sinus sigmoideus dan cerebellum. 3,4,5,6

5
c. Telinga Dalam

labirinthus terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis, medial terhadap telinga
tengah dan terdiri atas labirinthus osseus yang tersusun dari sejumlah rongga di dalam tulang;
dan labirinthus membranaceus tersusun daru sejumlah saccus dan ductus membranosa di
dalam labirinthus osseus. 3,4,5,6

Gambar 6. Anatomi telinga dalam

Labirinthus osseus terdiri atas tiga bagian: vestibulum, canalis semisircularis, dan koklea.
Ketiganya merupakan rongga-rongga yang terletak di dalam substansia compacta tulang dan
dilapisi endosteum serta berisi cairan bening yaitu perilimfe yang didalamnya terdapat
labirinthus membranaseus.

Vestibulum merupakan bagian tengah labirinthus osseus, terletak posterior terhadap


koklea dan anterior terhadap canalis semisircularis. Didalam vestibulum terdapat succulus
dan utriculus labirinthus membranaceus. Ketiga canalis semisircularis yaitu canalis
semisircularis superior, posterior dan lateral bermuara ke bagian posterior vestibulum.

Koklea berbentuk seperti rumah siput dan bermuara ke dalam bagian anterior
vestibulum. Umumnya terdiri dari satu pilar sentral, modiolus koklea yang dikelilingi tabug
tulang yang sempit sebanyak dua setengah putaran. 3,4,5,6

Labirinthus Membranaceus.

Labirinthus membranaceus terletak di dalam labirinthus osseus dan berisi endolimfe


dan dikelilingi oleh perilimfe. Labirinthus membranaceus terdiri atas utriculus dan sacculus
yang terdapat di dalam vestibulum osseus; tiga ductus semisircularis yang terletak di dalam
canalis semisirkularis osseus; dan ductus koklearis yang terletak di dalam koklea.

6
Utrikulus adalah yang terbesar dari dua buah saccus vestibule yang ada, dan
dihubungkan tidak langsung dengan saccus dan ductus endolimfakus oleh ductus
utriculosaccularis. Saccus berbentuk bulat dan berhubungan dengan utriculus. 3,4,5,6

N. vestibulokoklearis

N. vestibularis melebar untuk membentuk ganglion vestibulare. Cabang-cabang saraf


kemudian menembus ujung lateral meatus acusticus internus dan masuk ke dalam labirinthus
membranaceus untuk mempersarafi utriculus, sacculus dan ampullae ductus semisircularis.

N. koklearis bercabang-cabang dan masuk ke foramina pada basis modiolus. Ganglion


sensorik saraf ini berbentuk ganglion spiral memanjang yang terletak di dalam canalis yang
mengelilingi modiolus pada basis lamina spinalis. 3,4,5,6

N. maxilaris.

N. maxilaris dipercabangkan dari ganglion trigeminus di fossa cranii media. Saraf ini
berjalan ke depan di dalam dinding lateral sinus cavernosus dan meninggalkan tengkorak
melalui foramin rotundum dan masuk ke fossa pterygopalatina. 3

2.2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
untuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga
perilimfe pada skala vestibule akan bergerak. Gerakan diteruskan melalui membrana reissner
tang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran
basilaris dan membrana tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan
terjadi pelepasan ion bermuatan listik dari badan sel. Keadaaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius
sampai korteks pendengaran dilobus tempolaris. 4,6,8

7
Gambar 7. Fisiologi Pendengaran

2.3 Gangguan Fisiologi Telinga

Gangguan telinga luar dan tengah dapat menyebabkan tuli konduktif, sedangkan
gangguan telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural yang terbagi atas tuli koklea dan tuli
retrokoklea. Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan pada telinga tengah dan akan
menyebabkan terjadinya tuli konduktif. Gangguan pada vena jugulare berupa aneurisma akan
menyebabkan telinga berbunyi sesuai dengan denyut jantung. Antara inkus dan maleus
berjalan n. Fasialis yang disebut korda timpani. Bila terdapat radang di telinga tengah atau
trauma mungkin korda timpani terjepit, sehingga timbul gangguan pengecap. 4,6,8

Di dalam telinga dalam terdapat alat keseimbangan dan alat pendengaran. Obat-
obatan dapat merusak stria vaskularis, sehingga saraf pendengaran rusak, dan terjadi tuli
sensorineural. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti streptomisin, akan terdapat gejala
gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural dan gangguan keseimbangan 4,6,8

Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural, serta tuli campur. Pada tuli
konduktif terdapat gangguan hantaran suara, disebabkan oleh kelainan penyakit di telinga
luar atau telinga tengah. Pada tuli sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea,
nervus VIII atau di pusat pendengaran, sedangkan tuli tuli campur disebabkan kombinasi tuli
konduktif dan tuli sensorineural. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit, misalnya
radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit yang
berlainan, misalnya tumor nervus VIII dengan radang telinga tengah. Jadi jenis ketulian

8
sesuai dengan letak kelainan. Suara yang didengar dapat dibagi dalam bunyi, nada murni, dan
bising. Bunyi frekuensi 20-18.000 Hertz merupakan frekuensi nada murni yang dapat
didengar oelh telinga normal. Nada murni (pure tone) hanya satu frekuensi, misalnya dari
garpu tala, piano. Bising (noise) dibedakan antara NB (narrow band) terdiri atas beberapa
frekuensi, spektrumnya terbatas dan WN (hite noise) yang terdiri dari banyak frekuensi. 4,6,8

2.4 Cara Pemeriksaan Pendengaran

Untuk memeriksa pendengaran diperlukan pemeriksaan hantaran melalui udara dan


melalui tulang dengan memakai garpu tala atau audiometri nada murni. Kelainan hantaran
melalui udara menyebabkan tuli konduktif, berarti ada kelainan di telinga luar atau telinga
dalam, seperti atresia liang telinga, eksostosis liang telinga, serumen, sumbatan tuba
eustachius, serta radang telinga tengah 4,6,7

Kelainan di telinga dalam menyebabkan gangguan tuli sensorineural koklea dan


retrokoklea. Secara fisiologi telinga dapat mendengar nada antara 20 Hz sampai 18.000 Hz.
Untuk pendengaran sehari-hari yang paling efektif antara 500-2.000 Hz. Oelh karena itu
untuk memeriksa pendengaran dipakai garpu tala 512, 1024, dan 2048 Hz. Penggunaan
ketiga garpu tala ini penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Bila salah satu frekuensi ini
terganggu penderita kan sadar adanya gangguan pendengaran. Bila tidak mungkin
menggunakan ketiga garpu tala ini, maka diambil 512 Hz karena penggunaan garpu tala ini
tidak terlalu dipengaruhi suara bising disekitarnya. Pemeriksaan pendengaran dilakukan
secara kualitatif dengan mempergunakan garpu tala dan kuantitaf menggunakan audiometer.
4,6,7

2.4.1 Uji Penala

Satu perangkat penala yang memberikan skala pendengaran dari frekuensi rendah
hingga tinggi akan memudahkan survey kepekaan pendengaran. Perangkan yang lazim
mengambil beberapa sampel nada C dari skala musik yaitu 128, 256, 512, 1024, 2048, 4096,
dan 8192 Hz. Semakin tinggi frekuensi, makin tinggi pula nadanya. 4,6

Penala dipegang pada tangkainya, dan salah satu tangan garpu tala dipukul pada
permukaan yang berpegas sepeti punggung tangan atau siku. Perhatikan jangan memukulkan
penala pada ujung meja atau benda lainnya karena akan menimbulkan nada berlebihan, yang
adakalanya kedengarang dari jarak yang cukup jauh dari penala dan bahkan dapat
menyebabkan perubahan menetap pada pola getar penala. Penala dipegang di dekat telinga

9
dan pasien diminta melapokan saat bunyi tidak lagi terdengar. Sesudah itu garpu tala
dipindahkan dekat telinga pemeriksa dan dilakukan penghitungan selang waktu antara saat
bunyi tidak lagi didengar pasien dengan saat bunyi tidak lagi terdengar pemeriksa. Prosedur
ini tidak saja memberikan estimasi kasar tentang kepekaan pendengaran relatif, tapi juga
suatu pola kepekaan nada tinggi jika penala tersedia dalam berbagai frekuensi 4,6,7

Uji Schwabach

Uji schwabach membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa. Pasien


diminta melaporkan saat penala bergetar yang ditempelkan pada mastoidnya sampai tidak
dapat terdengar. Pada saat itu, pemeriksa memindahkan penala ke mastoidnya sendiri dan
menghitung berapa lama (dalam detik) ia masih dapat menangkap bunyi. 4,6,8

Uji schwabach dikatakan normal bila hantaran tulang pasien dan pemeriksa hampir
sama. Uji schwacah memanjang dan meningkat bila hantaran tulang pasien lebih lama
dibandingkan pemeriksa, misalnya pada kasus gangguan pendengaran konduktif. Jika telinga
pemeriksa masih dapat mendengar penala setelah pasien tidak lagi mendengar, maka
dikatakan schwabach memendek 4,6,7

Hasil Uji Schwabach Status pendengaran Interpretasi

Normal Normal Tak ada gangguan

Memanjang Tuli konduktif Gangguan telinga luar atau tengah

memendek Tuli sensorineural Koklea atau retrokoklearis

Uji Rinne

Uji Rinne membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara pendengaran pasien.
Tangkai penala yang bergetar ditempelkan pada mastoid pasien hingga bunyi tidak lagi
terdengar, penala kemudian dipindahkan ke dekat telinga sisi yang sama (hantaran udara).
Telinga normal masih akan mendengar penala melalui hantaran udara. 4,6,7

Pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural juga akan memberi rinne positif
seandainya sungguh-sungguh dapat mendengar bunyi penala, sebab gangguan sensorineural
seharusnya mempengaruhi baik hantaran udara maupun hantaran tulang (HU>HT) 4,6,7

10
Gambar 8. Tes rinne

Istilah rinne negatif dipakai bila pasien tidak dapat mendengar melalui hantaran udara setelah
penala tidak lagi terdengar melalui hantaran tulang (HU<HT) 4,6,7

Hasil Uji Rinne Status pendengaran Lokus

Positif HU>HT Normal atau gangguan Tak ada atau koklearis-


sensorineural retrokoklearis

Negatif HU<HT Gangguan konduktif Telinga luar atau tengah

Uji Webber

Uji webber merupakan tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang


telinga kiri dengan telinga kanan. Gagang pelana yag bergetar ditempel di tengah dahi dan
pasien diminta melaporkan apakah suara terdengar di kiri, kanan atau keduanya.

Umumnya pasien mendengar bunyi penala pada telinga dengan konduksi tulang yang
lebih baik ayau dengan komponen konduktif yang lebih besar. Jika nada terdengar pada
telinga yang dilaporkan lebih buruk, maka tuli konduktif perlu dicurigai pada telinga tersebut.
Jika terdengar pada telinga yang lebih baik, maka dicurigai tuli sensorineural pada telinga
yang terganggu. Fakta bahwa pasien mengalami lateralisasi pendengaran pada telinga dengan
gangguan konduksi dan bukannya pada telinga yang lebih baik mungkin terlihat aneh bagi
pasien dan kadang-kadang juga pemeriksa. 4,6,7

Uji webber sangat bermanfaat pada kasus-kasus gangguan unilateral, namun dapat
meragukan bila terdpat gangguan konduktif maupun sensorineural (campuran), atau bila
hanya menggunakan penala frekuensi tunggal. Klinis harus melakukan uji webber bersama
uji lainnya dan tidak boleh diinterpretasikan secara tersendiri. 4,6,7

11
Gambar 9. Tes weber

Uji Bing

Uji bing merupakan aplikasi dari apa yang disebut sebagai efek oklusi, dimana penala
terdengar lebih keras bila telinga normal ditutup. Cara pemeriksaan adalah dengan tragus
telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, sehingga terdapat tuli konduktif
kira-kira 30 dB. Penala digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala (seperti pada tes
webber).

Penilaian yaitu bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup, berarti telinga
tersebut normal. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti telinga
tersebut menderita tuli konduktif. 4,6,7

2.4.2 Tes Berbisik

Pemeriksaan ini bersifat semi kualitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal
ini yang perlu diperhatikan ialah ruangan yang cukup tenang, dengan panjang minimal 6
meter. Pada nilai normal tes berbisik: 5/6-6/6. 4

2.4.3 Audiometri Nada Murni

Pada pemeriksaan audiometri nada murni perlu dipahami hal-hal seperti ini, nada
murni, bising NB (narrow band) dan WN (white noise), frekuensi, intensitas bunyi, ambang
dengar, nilai nol audiometri, standar ISO (International Standart Organization) dan ASA
(American Standart Association), notasi pada audiogram, jenis dan derajat ketulian serta gap
dan masking. Untuk membuat audiogram diperlukan alat audiometer.

12
Nada murni (pure tone) merupakan bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi,
dinyatakan dalam jumlah getaran perdetik. Bising merupakan bunyi yang mempunyai banyak
frekuensi, terdiri dari narrow band spektrum terbatas dan white noise spectrum luas. 4,6,8

2.4.4 Respon Auditorius Batang Otak

Pemeriksaan ini mengukur gelomang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan
pada saraf pendengaran. Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau
fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.

Beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada anak-anak, diantaranya:

1. Free Field Test


Dilakukan pada ruangan kedap suara dan diberikan rangsangan suara dalam berbagai
frekuensi untuk menilai respon anak terhadap bunyi
2. Behavioral observation
Pada pemeriksaan ini diamati respon terhadap sumber bunyi berupa perubahan sikap
atau refleks pada bayi yang sedang diperiksa
3. Conditioned Test (2-4 tahun)
Anak dilatih untuk melakukan suatu kegiatan saat mendengar suara stimuli tertentu
4. BERA (brain evoked response audiometry)
Dapat menilai fungsi pendengaran anak atau bayi yang tidak kooperatif.

2.5 Tuli Sensorineural


2.5.1 Definisi
Merupakan keadaan berkurangnya pendengaran atau gangguan pendengaran yang
terjadi akibat kerusakan pada telinga bagian dalam, saraf yang berjalan dari telinga sampai ke
otak (saraf pendengaran) 1,2,4,6
2.5.2 Etiopatogenesis
Penyebab tuli sensorial dibagi menjadi:
a) Koklea
Penyebab tuli sensorineural yang berasal dari koklea terdiri dari
1. Labirinithis
Merupakan suatu radang yang melibatkan telinga dalam, paling sering disebabkan
oleh otitis media kronik dan berat. Penyebab lainnya bisa disebabkan oleh meningitis
dan infeksi virus. Pada otitis, kolesteatom paling sering menyebabkan labirinithis

13
yang mengakibatkan kehilangan pendengaran mulai dari ringan sampai berat. Pada
labirinithis virus, terjadi kerusakan pada organ korti, membrana tektoria dan selubung
myelin saraf akustik. Labirinithis serosa terjadi ketika toksin bakteri dan mediator
inflamasi host misalnya sitokin, mediator inflamasi dan komplemen melewati
membrana tingkap bundar dan menyebabkan inflamasi labirin. Penetrasi agen
inflamasi ke endolimfe pada membrana basilaris koklea mengakibatkan tuli
sensorineural frekuensi sedang-tinggi. 1,2,4,6,9
2. Obat ototoksik
Obat ototoksik merupakan obat yang dapat menimbulkan gangguan fungsi dan
degenreasi seluler telinga dalam dan saraf vestibuler. Gejala utama yang dapat timbul
akibat ototoksisitas ini adalah tinitus, vertigo, dan gangguan pendengaran yang
bersifat sensorineural. Ada beberapa obat yang tergolong ototoksik, diantaranya:
 antibiotik
1. aminoglikosida: streptomisin, neomisin, amikasin, kanamisin, gentamisin
2. golongan makrolid: eritromisin
3. golongan quinolon: kloramfenikol
 loop diuretic: furosemide, ethyrynic, bumetanides
 obat anti-inflamasi: salisilat seperti aspirin
 obat anti-malaria: kina dan kloroquin
 obat anti-tumor: bleomisin, cisplatin
kerusakan yang ditimbulkan oelh preparat tersebut antara lain:
a) degenerasi stria vaskularis. Kelainan patologi ini terjadi pada penggunaan semua jenis
obat ototoksik
b) degenerasi sel epitel sensori. Kelainan patologi ini terjadi pada organ korti dan labirin
vestibular akibat penggunaan antibiotika aminoglikosida, sel rambut luar lebih
terpengaruh daripada sel rambut dalam, dan perubahan degeneratif ini terjadi dari
basal koklea dan berlanjut terus menerus hingga akhirnya sampai ke bagian apeks
c) degenerasi sel ganglion. Kelainan ini terjadi sekunder akibat adanya degenerasi dari
sel epitel sensori. Umumnya efek yang ditimbulkan bersifat irreversibel, bila dideteksi
cukup dini dan pemberian obat dihentikan, sebagian ketulian dapat dipulihkan.
3. Prebikusis

Merupakan tuli sensorineural frekuensi tinggi yang terjadi pada orangtua akibat
mekanisme penuaan pada telinga dalam. Umumnya terjadi mulai usia 65 tahun,

14
simetris pada kedua telinga dan bersifat progresif. Pada prebikusis terjadi beberapa
keadaan patologis yaitu hilangnya sel-sel rambut dan gangguan pada neuron-neuron
koklea. Secara klinis ditandai dengan terjadinya kesulitan untuk memahami
pembicaraan terutama pada tempat yang ribut atau bising.

Prebikusis ini terjadi akibat dari proses degenerasi yang terjadi secara bertahap oleh
karena efek kumulatif terhadap pajanan yang berulang, prebikusis diperngaruhi
banyak faktor, terutama faktor lingkungan dan diperburuk oleh penyakit yang
menyertainya. Adapun faktor-faktor tersebut diantaranya suara bising yang berasal
dari lingkungan kerja, lalu lintas alat-alat yang menghasilkan bunyi termasuk musik
yang keras. Selain itu, prebikusis juga bisa dipengaruhi oleh faktor herediter, penyakit
seperti aterosklerosis, diabetes melitus, hipertensi, obat ototoksik dan kebiasaan
makanan yang tinggi lemak. Proses degenerasi yang terjadi secara bertahap ini akan
menyebabkan perubahan struktur koklea dan n. VIII. Pada koklea, perubahan yang
mencolok ialah atrofi dan degenerasi sel-sel rambut penunjang pada organ korti. 1,2,4,6

Proses atrofi disertai dengan perubahan vaskular juga terjadi pada stria vaskular pada
dinding lateral koklea. Selain itu terdapat pula perubahan berupa berkurangnya
jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf. Hal yang sama juga terjadi pada myelin
akson saraf. 1,2,4,6

Ada 4 tipe prebikusis berdasarkan patologi tempat terjadinya perubahan atau


degenerasi di koklea, yaitu:

 Prebikusis sensorik
Pada tipe ini terjadi atrofi epitel yang disertai dengan hilangnya sel rambut
sensoris pada organ korti. Proses ini dimulai dari basal koklea dan secara
perlahan berlanjut sampai ke bagian apeks lapisan epitel koklea, perubahan
pada epitel ini menyebabkan ketulian pada nada tinggi.
 Prebikusis neural
Terjadi atrofi pada sel-sel saraf dikoklea dan oada jalur hantaran suara ke
pusat saraf. Jadi gangguan primer terdapat pada sel-sel saraf, sementara sel-sel
rambut di koklea masih dipertahankan. Pada tipe ini, diskriminasi kata-kata
relatif lebih terganggu dengan hanya sedikit gangguan sel rambut.
 Prebikusis metabolik

15
Terjadi atrofi pada stria vaskularis, dimana stria vaskularis tampak menciut
akan tetapi masih memberi skor diskriminasi yang bagus terhadap suara
walaupun proses degenerasi menyebabkan ketulian sedang hingga berat.
 Prekusis mekanik
Terjadi oleh karena penebalan dan pengerasan membran basalis koklea.
4. Tuli mendadak
Merupakan tuli sensorineural berat yang terjadi tiba-tiba tanpa diketahui pasti
penyebabnya. Tuli mendadak didefinisikan sebagai penurunan pendengaran
sensorineural 30dB atau lebih paling sedikit tiga frekuensi berturut-turut pada
pemeriksaan audiometri dan berlangsung dalam waktu kurang dari tiga hari. iskemia
koklea merupakan penyebab utama tuli mendadak, keadaan ini dapat disebabkan oleh
spasme, trombosis atau peradarahan arteri auditiva interna. Pembuluh darah ini
merupaka suatu end arteri sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini
koklea sangat gampang terjadi kerusakan. Iskemia mengakibatkan degenerasi luas
pada sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligamen spiralis, kemudia diikuti dengan
pembentukan jaringan ikat da penulangan. Kerusakan sel-sel rambut tidak luas dan
membrana basilaris jarang terkena. 1,2,4,6,9

5. Kongenital
Menurut konigsmark, pada tuli kongenital atau onset awal yang disebabkan oelh
faktor keturunan ditemukan bahwa 60-70-% bersifat otosom resesif, 20-30% bersifat
otosom dominan, sedangkan 2% bersifat x-linked. Tuli sensorineural kongenital dapat
berdiri sendiri atau sebagai salah satu gejala dari sindroma, antara lain sindroma
Usher (retinitis pigmentosa dan tuli sensorineural kongenital), sindroma waadenburg
(tuli sensorineural kongenital dan canthus medial yang bergeser ke lateral, pangkal
hidung yang melebar, rambut putih bagian depan kepala dan heterokromia iridis) dan
sindrom alport (tuli sensorineural dan nefritis).

6. Trauma
Trauma pada telinga dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu trauma akustik dan
trauma mekanis. Trauma tertutup ataupun langsung pada tulang temporal bisa
mengakibatkan terjadinya tuli sensorineural. Diantaranya semua trauma, trauma
akustik merupakan trauma yang paling umum penyebab tuli sensorineural. Fraktur
tulang temporal dapat menyebabkan tuli sensorineural unilateral dan tuli konduktif.
16
Tuli sensorineural terjadi jika fraktur tersebut melibatkan labirintis. Trauma dapat
menimbulkan perpecahan pada foramen ovale sehingga perilimfe bocor ke teinga.
Pasien tiba-tiba mengalami kehilangan pendengaran bersama dengan tinitus dan
vertigo. 1,2,4,6,9

7. Tuli akibat bising


Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu dan tidak dikehendaki. Hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subjektif, tergantung dari masing-
masing individu, waktu dan tempat terjadinya bising. Sedangkan secara audiologi,
bising adalah campuran bunyi nada muri dengan berbagai frekuensi.
Bising dengan intensitas 80dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan reseptor
pendengaran corti pada telinga dalam. Hilangnya pendengaran sementara akibat
pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam.
Bising dengan intensi tinggi dalam waktu yang cukup lama (10-15 tahun) akan
menyebabkan robeknya sel-sel rambut korti sampai terjadinya destruksi total organ
corti. Hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara
lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising,
kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian.
Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya
degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan.
Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon
terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai
lebih banyak kerusakan seperti kehilangan stereosilia. Daerah yang pertama kali
terkena adalah bagian basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan
diganti oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut
dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-
sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus
pendengaran pada batang otak. 1,2,4,6,9
a) Retrokoklea
1. penyakit meniere
Penyakit meniere merupakan penyakit yang terdiri dari trias atau sindroma meniere
yaitu vertigo, tinitus, dan tuli sensorineural.
Penyebab pasti dari penyakit meniere belum diketahui, tetapi diduga penyebab dari
penyakit ii berhubungan dengn hidrops endolimfe keluar dari saluran yang normal
17
mengalir ke area lain yang menyebabkan terjadinya gangguan. Ini mungkin
dihubungkan dengan pembengkakansakus endolimfatik dan atau jaringan di sistem
vestibuler dari telinga dalam yang merangsang organ keseimbangan.
Gejala klinis penyakit ini disebabkan adanya hidrops endolimfe pada koklea dan
vestibulum. Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul diduga disebabkan
oleh:
 Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri
 Meningkatnya tekanan osmotik ruang kapiler
 Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler
 Tersumbatnya jalan keluar sakus endolimfe sehingga terjadi penimbunan cairan
endolimfe.

Hal-hal diatas pada awalnya menyebabkan pelebaran skala medial mulai dari daerah
apeks koklea kemudia dapat meluas mengenai bagian tengah dan basal koklea. Hal ini
yang menjelaskan terjadinya tuli sensorineural nada rendah menyakit meniere. 1,2,4,6,9

2. Penyakit akustik

Neuroma akustik adalah tumor intrakranial yang berasal dari selubung sel schwann
nervus vestibuler atau nervus koklearis. Lokasi tersering berda di serebelopontin
angel.

Neuroma akustik berasal dari saraf vestibularis dengan gambaran makroskopis


berkapsul, konsistensi keras, berwarna kuning kadang putih atau translusen dan bisa
disertai komponen kistik maupun perdarahan. Neuroma akustik ini diduga berasal dari
titik dimana glia nervus bertransisi menjadi sel schwann dan fibroblas. Lokasi transisi
ini biasanya terletak didalam kanalis auditoris internus. Tumor akan tumbuh dalam
kanalis auditoris internus dan menyebabkan pelebaran diameter dan kerusakan dari
bibir bawah porus. Selanjutnya akan tumbuh dan masuk ke cerebelopontin angel
mendorong batang otak dan cerebellum. Tuli akibat neuroma akustik ini terjadi
akibat:

 Trauma langsung terhadap nervus koklearis


 Gangguan suplai darah ke koklea

18
Trauma langsung yang progresif meyebabkan tuli sensorineural yang berjalan
progresif lambat sedangkan pada gangguan suplai darah koklea ditemukan tuli
sensorineural mendadak dan berfluktuasi. 1,2,4,6,9

2.5.3 Manifestasi Klinis

Gangguan pendengaran mungkin timbul secara bertahap atau tiba-tiba. Gangguan


pendengaran mungkin sangat ringan, mengakibatkan kesulitan kecil dalam berkomunikasi
atau berat seperti ketulian. Kehilangan pendengaran secara cepat dapat memberikan petunjuk
untuk penyebabnya. Jika gangguan pendengaran terjadi secara mendadak, mungkin
disebabkan oleh trauma atau adanya gangguan dari sirkulasi darah. Sebuah onset yang terjadi
secara bertahap bisa dapat disebabkan oleh penuaan atau tumor.

Gejala seperti tinitus atau vertigo mungkin menunjukkan adanya masalah dengan
saraf di telinga atau otak. gangguan pendengaran dapat terjadi unilateral atau bilateral.
Kehilangan pendengaran unilateral yang paling sering dikaitkan dengan penyebab konduktif,
trauma, neuroma akustik. Nyeri di telinga dikaitkan dengan infeksi telinga, trauma, dan
obstruksi pada kanal. Infeksi telinga juga dapat menyebabkan demam. 1,2,4,6,9

2.6.4 Diagnosa

a) Anamnesis
Anamnesis menunjukkan gejala penurunan pendengaran, baik yang terjadi secara
mendadak maupun yang terjadi secara progresif. Gejala klinis sesuai dengan etiologi
masing-masing penyakit. 1,2,4,6,9
b) Pemeriksaan fisik
Penderita tuli sensorineural cenderung berbicara lebih keras dan mengalami gagguan
pemahaman kata sehingga pemeriksa sudah dapat menduga adanya suatu gangguan
pendengaran sebelum dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut. Pada pemeriksaan
otoskop, liang telinga dan membran timpani tidak ada kelainan. 1,2,4,6,9
c) Pemeriksaan penunjang
 Tes penala
Pemeriksaan ini merupakan tes kualitatif dngan menggunakan garpu tala
 Tes rinne
Tujuannya membandingkan hantaran melalui udara dengan hantaran tulang
pada satu telinga penderita.

19
Cara kerja: garpu tala digetarkan, letakkan tangkainya tegak lurus pada
prosesus mastoid penderita sampai penderita tidak mendengar, kemudian
cepat dipindahkan ke depan liang telinga penderita sekitar 2,5 cm
Interpretasi
a. bila penderita masih mendengar disebut Rinne Positif
b. bila penderita tidak mendengar disebut Rinne Negatif
 Tes webber
Tujuannya embandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita.
Cara kerja: garpu tala digetarkan, letakkan di garis tengah kepala (vetreks,
dahi, pangkal hidung, ditengah-tengah gigi seri atau di dagu).
Interpretasi:
a. bila bunyi garpu tala terdengar keras pada salah satu telinga disebut webber
lateralisasi ke telinga tersebut.
b. bila tidak dapat dibedakan kearah mana bunyi terdengar lebih keras disebut
webber tidak ada lateralisasi. Pada tuli sensorineural, lateralisasi ke arah
telinga sehat.
 Tes Schwabach
Tujuannya membandingkan hantaran tulang penderita dengan pemeriksa yang
pendengarannya normal.
Cara kerja: garpu tala digetarkan, letakkan garpu tala pada prosesus
mastoideus penderita sampai tidak terdengar bunyi. Kemudia tangkai penala
segera dipindahkan pada prosesus mastoideus pemeriksa.
Interpretasi:
a. bila pemeriksa masih mendengar getaran garpu tala disebut schwabach
memendek. Ini mempunyai arti klinis tuli sensorineural.
b. bila pemeriksa tidak mendengar getaran garpu tala, maka pemeriksaan
diulangi dengan garpu tala diletakkan terlebih dahulu di prosesus mastoideus
pemeriksa. Jika pemeriksa masih dapat mendengar dsebut schwabach
memanjang (tuli konduktif) dan jika penderita tidak mendengar disebut
schwabach normal.

20
Tes Rinne Tes Webber Tes Schwbach Diagnosis
Positif Tidak ada lateralisasi Sama dengan Normal
pemeriksa
Negatif Lateralisasi ke Memanjang Tuli konduktif
telinga yang sakit
Positif Lateralisasi ke memendek Tuli sensorineural
telinga sehat

 Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri, dibuat grafik (audiogram) yang merupakan
ambang pendengaran lewat hantaran tulang (Bone conductor= BC) dan
hantaran udara (Air conductor = AC) dan pemeriksaan audiometri ini bersifat
kuantitatid dengan frekuensi suara 125, 500, 1000, 2000, 4000 dan 8000 Hz.
Pada tuli sensorineural, dari penilaian audiogram didapatkan:
- AC dan BC lebih dari 25 dB
- AC dan BC tidak terdapat gap
Pada audiogram dapat menentukan jenis tuli yang diderita, derajat ketulian
yang dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher yaitu:
Ambang Dengar (AD) =
𝐴𝐷 500 𝐻𝑧 + 𝐴𝐷 1000 𝐻𝑧 + 𝐴𝐷 2000 𝐻𝑧 + 𝐴𝐷 4000 𝐻𝑧
4

Interpretasi audiogram harus ditulis telinga mana, apa jenis ketulian,


bagaimana derajat ketulian. Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung
hanya ambang dengar hantaran AC saja. Derajat ketulian menurut ISO
diantaranya:

0-25 dB Normal
>25-40 dB Tuli ringan
>40-55 dB Tuli sedang
>55-70 dB Tuli sedang berat
>70-90 dB Tuli berat
>90 dB Tuli sangat berat
 Brainstem Evoked Response Audiometry
BERA merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan
fungsi n. VIII. Cara pemeriksaan ini bersifat objektif, tidak invasif. Pemeriksaan
ini bermanfaat terutama pada keadaan dimana tidak memungkinkannya dilakukan
pemeriksaan pendengaran biasa, misalnya pada bayi, anak dengan gangguan sifat
dan tingkah laku, intelegensi rendah dan kesadaran menurun. Pada orang dewasa

21
juga bisa digunakan pada orang yang berpura-pura tuli atau pada kecurigaan tuli
sensorineural retrokoklea. 1,2,4,6,9
Prinsip pemeriksaan BERA adalah menilai perubahan potensial listrik diotak
setelah pemberian rangsang sensoris berupa bunyi. Rangsang bunyi yang
diberikan melalui headphone akan menempuh perjalanan melalui n. VIII di koklea
(gelombang I), nukleus koklearis (gelombang II), nukleus olivarius superior
(gelombang III), lemnikus lateralis (gelombang IV), kolikulus inferior (gelombang
V) kemudian menuju ke korteks auditorius di lobus temporalis otak.
Perubahan gelombag yang timbul di setiap nukleus saraf sepanjangjalu saraf
pendengaran tersebut dapat dinilai bentuk gelombang dan waktu yang dperlukan
dari saat pemberian rangsang suara sampai mencapai nukleus-nukleus saraf
tersebut. Dengan demikian setiap keterlambatan waktu untuk mencapai masing-
masing nukleus saraf dapat memberi arti klinis keadaan saraf pendengaran
maupun jaringan otak disekitrnya. 1,2,4,6,9
Peribahan potensial listrik di otak akan diterima oleh elektroda di kulit kepala,
dari gelombang yang timbul disetiap nukleus saraf sepanjang jalur saraf
pendengaran tersebut dapat dinilai bentuk gelombang dan waktu yang diperlukan
dari saatu pemberian rangsang suara sampai mencapai nukleus-nukleus saraf
tersebut. Dengan demikian setiap keterlambatan waktu untuk mencapai masing-
masing nukleus saraf dapat memberi arti klinis keadaan saraf pendengaran
maupun jaringan otak disekitarnya. 1,2,4,6,9
Penilaian BERA:
- Masa laten absolut gelombang I, III, V
- Beda masing-masing masa laten absolut (interwave latency I-V, I-III, III-V)
- Beda masa laten absolut telinga kanan dan kiri (interneural latency)
- Beda masa laten pada penurunan intensitas bunyi (latency intency function)
- Rasio amplitude gelombang V/I yaitu rasio antara nilai puncak gelombang V
ke puncak gelombang I yang akan meningkat dengan menurunnya intensitas.
 Otoacustic emission / OAE (emisi otoakustik)
Emisi otoakustik merupakan respon koklea yang dihasilkan oleh sel-sel rambut
luar yang dipancarkan dalam bentuk energi akustik. Sel-sel rambut luar dipersarafi
oleh serabut eferen yang mempunyai elektromotilitas, sehingga pergerakan sel-sel
rambut akan menginduksi depolarisasi sel. Pergerakan mekanik yang kecil
diinduksi menjadi lebih besar, akibatnya suara yang kecil diubah menjadi lebih
22
besar. Hal inilah yang menunjukkan bahwa emisi otoakustik adalah gerakan sel
rambut luar dan merefleksikan fungsi koklea. Sedangkan sel rambut dalam
dipersarafi serabut eferen yang berfungsi mengubah suara menjadi bangkitan
listrik dan tidak ada gerakan dari sel rambut sendiri. 1,2,4,6,9
Pemeriksaan OAE dilakukan dengan cara memasukkan sumbat telinga (probe) ke
dalam telinga luar. Dalam probe tersebut terdapatmikrofon dan pengeras suara
yang berfungsi memberikan stimulus suara. Mikrofon berfungsi menangkap suara
yang dihasilkan koklea seteah pemberian stimulus. Sumbatan telinga dihubungkan
dengan komputer untuk mencatat respon yang timbul dari koklea. Pemeriksaan
sebaiknya dilakukan di ruangan yang sunyi atau kedap suara. 1,2,4,6,9
Emisi otoakustik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
- Emisi otoakustik spontan
SOAE merupakan emisi otoakustik yang dihasilkan koklea tanpa stimulus dari
luar, didapatkan pada 60% telinga sehat, bernada rendah, dan mempunyai nilai
klinis rendah.
- Evoked otoacustic emission
EOAE merupakan respon koklea yang timbul dengan adanya stimulus suara,
ada tiga jenis:
1. stimulus frequency otoacustic emission (SFOAE) merupakan repson yang
dibangkitkan oleh nada murni secara terus menerus, jenis ini tidak mempunyai
arti klinis dan jarang digunakan.
2. tranciently evoked otoacustic emission (TEOAE) merupakan respon
stimulus klik dengan waktu cepat yang timbul 2-2,5 msec setelah pemberian
stimulus, TEOAE tidak dapat dideteksi dengan ambang dengar lebih dari 40
dB.
3. Distortion product otoacustic emission (DPOAE) terjadi karena stimuluasi
dua nada murni dengan frekuensi tertentu. Nada murni yang diberikan akan
merangsang daerah koklea secara terus menerus. 1,2,4,6
 Audiologi anak
Untuk memeriksa ambang dengar anak dilakukan di dalam ruangan khusus (free
field). Cara memeriksa ialah dengan beberapa cara:
1. free field test menilai kemampuan anak memberikan respon terhadap
rangsangan bunyi yang diberikan. Anak-anak diberi rangsangan bunyi sambil

23
bermain, kemudian dievaluasi reaksi pendengarannya. Alat yang digunakan dapat
berupa neometer atau viena tone
2. Audiometri bermain (play audiometri) pemeriksaan audiometri nada murni
pada anak yang dilakukan sambil bermain. Dapat dimulai pada usia 3-4 tahun bila
anak cukup kooperatif.
3. BERA menilai fungsi pendengaran secara objektif, dapat dilakukan pada anak
yang tidak kooperatif yang sulit diperiksa dengan pemeriksaan konvensional.
4. echocheck dan emisi otoakustik menilai koklea secara objektif dan dapat
dilakukan dalam waktu singkat. Sangat bermanfaat untuk program skrining
pendengaran pada bayi dan anak. 1,2,4,6
2.5.5 Tatalaksana
Tuli sensorineural tidak dapat diperbaiki dengan terapi medis atau bedah tetapi dapat
distabilkan dan dapat dicegah seperti memakai tutup teling di lingkungan kerja yang bising
dengan suara berfrekuensi tinggi. Tuli sensorineural umumnya diperlakukan dengan
menyediakan alat bantu dengar (hearing aid) khusus. Volume suara akan ditingkatkan melalui
amplifikasi, tetapi suara akan tetap terendam. Saat ini, alat bantu digital yang diprogram
sudah tersedia, dimana dapat diatur untuk menghadapi keadaan yang sulit untuk
mendengarkan. Tuli sensorineural yang disebabkan oleh penyakit metabolik tertentu
(diabetes melitus, hipotiroidisme, hiperlipidemia, dan gagal ginjal) atau gangguan autoimun
(poliarthtritis dan lupus eritomatosus) dapat diberikan pengobatan medis sesuai penyakit yang
mendasarinya.
Tuli yang disebabkan oleh obat-obat ototoksik, pengobatan dengan obat tersebut
harus segera dihentikan. Berat ringannya ketulian yang terjadi tergantung kepad jenis obat,
dosis dan lamanya pengobatan. Beberapa individu dengan tuli sensorineural berat dapat
dipertimbangkan untuk melakukan implantasi bedah perangkat elektronik di belakang telinga
yang disebut implan koklea yang secara langsung merangsang saraf pendengaran. 1,2,4,6

2.5.6 Prognosis
Pasie dengan gangguan pendengaran sensorineural yang berat mungkin dapat
mendengar suara setelah melakukan implantasi koklea. Jika tinitus disebabkan oleh tumor
akustik, otosklerosis atau kondisi tekanan telinga tengah meningkat (sindroma meniere),
operasi untuk mengangkat lesi atau menyamankan tekanan dapat dilakukan. Tinitus
berkurang atau sembuh sekitar 50% dari kasus yang berat setelah menjalani operasi. 1,2,4,6

24
BAB III
KESIMPULAN

Tuli sensorineural adalah tuli yang terjadi karena adanya gangguan pada telinga
dalam atau pada jalur saraf dari telinga dalam ke otak. tuli sensorineural dibagi dalam tuli
sensorineural koklea dan retrokoklea. Tuli sensorineural koklea disebabkan oleh kelainan
kongenital, labirinithis, intoksikasi obat, selain itu juga dapat disebabkan oleh tuli mendadak,
trauma kapitis, trauma akustik, dan pajanan bising. Sedangkan retrokoklea disebabkan oleh
neuroma akustik, tumor sudut pons cerebelum, myeloma multiple, cedera otak, perdarahan
otak dan kelainan otak lainnya. Untuk menegakkan diagnosis tuli sensorial didapatkan dari
anamnesa yaitu adanya gejala penurunan pendengaran baik yang terjadi secara mendadak
maupun yang terjadi secara progresif, gejala klinis sesuai dengan etiologi masing-masing
penyebab. Penderita cenderung berbicara lebih keras dan mengalami gangguan pemahaman
kata-kata.
Dari pemeriksaan otoskop, liang telinga dan membran timpani tidak ada kelainan.
Pemeriksaan telinga yang bisa digunakan untuk menegakkan tuli sensorineural antara lain tes
penala, audiometri, BERA, Otoacustic emission. Tuli sensorineural tidak dapat diperbaiki
dengan terapi medis, tetapi dapat dipertahankan kemampuannya dengan menghindari etiologi
dan penggunaan alat bantu dengar. Implan koklea dapat dipertimbangkan pada tuli
sensorineural yang berat.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. http://emedicine.medscape.com/article/856116-overview
2. http://dizziness-and-balance.com/disorder/hearing/sensorineural.htm
3. Snell, R. 2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta.EGC
4. Soepardi, EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher.Jakarta. FKUI
5. Burns, EA. 2011. Oxford American handbook of Clinical Examination and Practical
Skill. P 120-126
6. Adams, G. 1997. Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta; EGC
7. Swartz, M. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta; EGC
8. Guyton, A. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
9. Tanto, C. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II edisi IV. Jakarta. Media
Aesculapius

26