Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

“ANESTESI UMUM PADA PASIEN LIMFADENOPATI”

Pembimbing :
dr. Ahmad Helmi Prasetyo, Sp.An

Disusun Oleh:
Rafhani Fayyadh 2013730167
Tiaz Dini U 2013730113
Siska Fitriyanasari 2008730117

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI


RUMAH SAKIT ISLAM PONDOK KOPI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas ini dapat terselesaikan dengan baik.
Tugas ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Laporan Kasus “Anestesi Umum pada
pasien Limfadenopati” pada Stase Anestesi RSIJ Pondok Kopi. Bahan-bahan dalam
pembuatan tugas ini didapat dari buku-buku yang membahas mengenai “Anestesi
Umum”,dan beberapa sumber lainnya.
Terima kasih kepada dokter pembimbing di RSIJ Pondok Kopi dr. Ahmad Helmi
Prasetyo, Sp.An yang telah membantu dalam terselesainya tugas ini.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk para pembaca.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jakarta, September 2018

Penulis
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
 Nama : Tn. SK
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Umur : 47 tahun
 Agama : Islam
 Alamat : Malaka, Jakarta Timur
 No RM : 0086****
 Diagnosis : Limfadenopati
 Dokter Bedah : dr. Amir Lubis, Sp.B
 Dokter Anestesi : dr. Indragiri, Sp. An / dr. Ahmad Helmi Prasetyo, Sp. An

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Benjolan di leher kanan & kiri sejak 4 bulan SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSIJ Pondok Kopi dengan keluhan adanya benjolan di leher kanan
& kiri sebesar telur puyuh sejak 4 bulan SMRS. Benjolan tersebut makin lama makin
membesar, terasa kenyal, bisa digerakkan, dan tidak nyeri. Benjolan teraba hangat, warna
benjolan seperti warna kulit sekitarnya. Pasien mengatakan benjolan tersebut tidak ikut
bergerak ketika pasien menelan namun pasien merasa tidak nyaman karena benjolan yang
semakin membesar. Pasien tidak pernah memijat benjolan tersebut.
Pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan di bagian tubuh lainnya. Tidak ada
keluhan nyeri menelan, sulit menelan, atau perubahan suara. Pasien menyangkal adanya
batuk lama ataupun batuk berdarah. Pasien menyangkal adanya demam, peningkatan nafsu
makan, keringat berlebih, tangan terasa basah dan gemetar, gugup, gelisah, dada terasa
berdebar-debar, gangguan tidur, mata melotot dan gangguan penglihatan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya. Riwayat TB,
keganasan, kejang, asma, diabetes, hipertensi disangkal.

Riwayat Kebiasaan
Tidak terdapat kebiasaan merokok, minum alkohol, minum kopi ataupun teh.

Riwayat Obat-Obatan yang dipakai


Pasien menyangkal pernah menjalani pengobatan untuk TB. Pemakaian obat
pengencer darah, terapi herbal, dan kortikosteroid disangkal.

Riwayat Alergi
Alergi terhadap obat, makanan, debu dan cuaca disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat TB dan penyakit keganasan pada keluarga. Kelainan perdarahan,
hipertensi, diabetes melitus, serangan jantung, dan penyakit berat lainnya disangkal.

Riwayat Operasi
Tidak pernah menjalani operasi apapun sebelumnya.

Riwayat Hal-Hal yang Digunakan Pasien


Adanya gigi goyang disangkal. Pasien tidak memakai gigi palsu ataupun alat bantu
dengar.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-Tanda Vital
Keadaan Umum : Compos mentis
Tekanan Darah : 126/64 mmHg
Nadi : 76 x/menit
RR : 19 x/menit
Suhu : 36,5 C
Antropometri
Berat Badan : 81 kg
Tinggi Badan : 170 cm
Status Generalis Internus
Kepala : Normocephal, rambut warna hitam, alopesia (-)
Mata : Mata cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (3mm/3mm)
Telinga : Normotia, nyeri tekan (-),
Hidung : Napas cuping hidung (-/-), Deviasi Septum (-)
Mulut : Mukosa bibir lembab, Mallampati score derajat 1, Tonsil (T1-T1)
Leher : Tidak ada kelainan
Thorax : Simetris, tidak ada retraksi, palpasi fokal fremitus tidak dapat
dinilai, perkusi sonor (ka=ki), auskultasi vesikuler (+/+)
ronchi basah halus (-/-), BJ I dan II normal, murmur (-),
gallop (-).
Abdomen : Supel, auskultasi BU (+) normal, perkusi timpani di
seluruh lapang abdomen, palpasi NT (-)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-/-), clubbing finger (-)

1D. PEMERIKSAAN PENUNJANG :


2

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal

HEMATOLOGI

Hemoglobin 15.1 g/dL 13,5-17,5

Jumlah Leukosit 11 103/µL 5.0-10

Jumlah Trombosit 333 103/µL 150-400

Hematokrit 46 % 40-50

Eritrosit 5.3 106/µL 4,5-5,8

MCV/VER 87 fL 82-98

MCH/HER 29 pg 27-33

MCHC/KHER 33 g/dl 31-37

LED 25 mm 0-10
HEMOSTATIS

PT 12.0 Second 11-18

APTT 27.0 Second 27-42

Median APTT 34.5 Second

DIFF COUNT

Basofil 0.5 % 0,0-1,0

Eosinofil 1.5 % 1,0-3,0

Neutrofil 74.4 % 37,0—72,0

Limfosit 15.1 % 20,0-40,0

Monosit 8.5 % 2,0-8,0

KIMIA KLINIK

SGOT 24.7 U/L 10,0-35,0

SGPT 39.0 U/L 10,0-45,0

Glucose Random 122 mg/dL 70-200

Glucose Urine Negatif

Urea 21 mg/dL 10-50

Creatinine 1.0 mg/dL 0,67-1,17

 FOTO TORAKS : Cor : Dalam batas normal


Pulmo : Tampak corakan suram di kedua paru dan
Perikardial kanan
Hilus dan diafragma normal
Kesan : Bronkopneumonia
 EKG : Dalam batas normal

E. DIAGNOSIS
Limfadenopati
F. RENCANA TINDAKAN PEMBEDAHAN
Ekstirpasi

G. TATALAKSANA ANESTESI
General Anestesi
I. Pra Operatif
 Pasien puasa 8 jam
 Dilakukan assesment pre anestesi kepada pasien
 Dilakukan pemeriksaan kembali identitas pasien, persetujuan operasi, lembaran
konsultasi anestesi, obat-obatan dan alat-alat yang diperlukan
 Mengganti pakaian pasien dengan pakaian operasi
 Pemberian cairan pengganti puasa (8 jam) dengan perhitungan
Pengganti Puasa
4 cc/kgBB/jam = 10 kg x 4 cc = 40 cc/jam
2 cc/kgBB/jam = 10 kg x 2 cc = 20 cc/jam
1 cc/kgBB/jam = 40 kg x 1 cc = 28 cc/jam
88 cc/jam x 6 jam = 528 cc
 Pasien dibaringkan di meja operasi dengan posisi telentang
 Manset tekanan darah terpasang di tangan kanan dan pulse oxymetri terpasang di digiti
I manus sinistra
II. Intra Operatif
‒ Jenis Anestesi : General Anestesi, Intubasi dengan LMA no 3
‒ Pernapasan : Kontrol
‒ Posisi : Supine
‒ Infus : Tangan Kiri, IV line Abocath no 18G, cairan Asering
‒ Pada pasien akan dilakukan anestesi umum dengan memberikan medikasi :
Induksi : Recofol 160 mg IV
Analgetik : Fentanyl 100 mcg IV
‒ Refleks bulu mata dinilai → (-) lakukan pemasangan face mask dan oksigenisasi
‒ Pasang Gudel
‒ Diberikan oksigen dengan face mask ± 5 liter/menit selama 2-3 menit sambil
melakukan triple manuver airway. Pertahankan SP02.
‒ Lepaskan gudel. Masukkan Laringoskop, cek Plika Vokalis tervisualisasi, selanjutnya
masukkan LMA no 3
‒ Dilakukan penilaian apakah posisi LMA sudah benar. Cek pengembangan kedua lapang
paru apakah simetris/tidak.
‒ Hubungkan pipa LMA dengan Sirkuit Ventilator. Berikan O2 (2L) dan N2O (2L)
(50%:50%), Maintenance anestesi dengan Sevofluran 2%.
‒ Fiksasi interna LMA dengan cuff, fiksasi eksterna dengan plester.
‒ Setelah itu setting ventilator mekanik :
Tidal Volume = 500 L/m
RR = 12 x/menit
I:E = 1:2
‒ Operasi berlangsung selama 30 menit
‒ Setelah operasi akan selesai, pemberian N2O dan Sevofluran dihentikan.
‒ Pasien diberi O2 100% diberikan selama 5 – 10 menit sambil menilai kemampuan
pasien bernapas spontan dilakukan suctioning.
‒ Melepaskan LMA dan pemberian O2 6 – 10 liter / menit menggunakan face mask.
‒ Dilakukan Look, Listen and Feel, setelah napas spontan adekuat pasien dibawa ke
recovery room.

III. Tanda Vital Intraoperatif


Waktu Tekanan Darah Nadi/menit SpO2 (%)

16.30 70/50 60 99
16.45 115/66 78 100
17.00 120/80 82 100
17:15 108/68 80 100

‒ Pemberian cairan selama operasi terdiri dari:


1. Pengganti cairan intraoperatif
Pengganti cairan berdasarkan stress operatif pada jenis operasi ringan adalah 2
cc/kgBB/jam → 2 cc/jam x 81 kg = 162 cc/jam
2. Allowable blood loss (ABL)
EBV = 75 cc/kgBB  75 cc x 81 kg = 6.075 cc
ABL Ht 24 = 1/3 EBV
1/3 x 6.075 cc = 2.025 cc
Perdarahan yang terjadi selama operasi = 50cc
Kesan : Tidak memerlukan transfuse PRC
3. Monitoring Cairan
a. Penghitungan cairan : BB : 81 Kg
10 Kg I : 10 x 4cc/KgBB/jam = 40 cc/jam
10 Kg II : 10 x 2 cc/KgBB/jam = 20 cc/jam
Sisanya 61 x 1 cc/KgBB/jam = 61 cc/jam
Total = 121 cc /jam
b. Cairan Stress operasi
4cc/kgbb/jam → 4cc/jam x 81kg = 324 cc/jam
c. Cairan Pengganti Puasa

Lama puasa x maintenance → 8 jam x 121cc/jam = 968 cc/jam

d. Cairan yang diberikan :

Jam I : Maintenance +( ½ x pengganti puasa) + stress operasi

121 ml + 484 ml + 324 ml = 929 ml/jam

Jam II : Maintenance + (¼ x pengganti puasa) + stress operasi

121 ml + 242 ml + 324 ml = 687 ml/ jam

IV. Post Operatif


 Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan (recovery room)
 Monitoring tanda-tanda vital
- TD : 110/72 mmHg
- HR : 82 x/menit
- RR : 20x/menit
- T : 36,7OC
- SpO2 : 100 %
 Dilakukan monitoring tanda-tanda vital, SpO2 setiap 5 menit

K. Aldrette Score
- Aktivitas : Dapat menggerakan 2 ekstremitas (2)
- Pernapasan : Dapat nafas dalam dan batuk (2)
- Sirkulasi : Tekanan Darah berubah <20% dari Nilai Pra Anetesi (2)
- Kesadaran : Sadar orientasi baik (2)
- Saturasi O2 : Pink perlu O2 agar saturasi SpO2 > 92 % dengan oksigen (2)
Skor : 10/10
Total skor >8 = Pasien dapat dipindahkan ke ruangan.

L. Terapi Pasca Bedah


◦ Observasi KU, TTV, Perdarahan Luka Operasi
◦ O2 3l/mnt via NC
◦ Posisi Supine
◦ Puasa hingga BU (+)
◦ Tramadol 100 mg + Ketorolac 30 mg + Ondansetron 4mg dalam RD5 500 cc

15 tpm
◦ Terapi lain sesuai terapi T.S dr Amir Lubis, Sp.B
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ANESTESI UMUM (GENERAL ANESTESI)

Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthētos,
"persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan
rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan
rasa sakit pada tubuh.Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes
Sr pada tahun 1846.

Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan
ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan
dari pasien.

TEORI ANESTESI UMUM

Ada beberapa teori yang membicarakan tentang kerja anestesi umum, diantaranya :
 Meyer dan Overton (1989) mengemukakan teori kelarutan lipid (Lipid Solubity Theory).
Obat anestetika larut dalam lemak. Efeknya berhubungan langsung dengan kelarutan
dalam lemak. Makin mudah larut di dalam lemak, makin kuat daya anestesinya. Ini
hanya berlaku pada obat inhalasi (volatile anaesthetics), tidak pada obat anestetika
parenteral.
 Ferguson (1939) mengemukakan teori efek gas inert (The Inert Gas Effect). Potensi
analgesia gas – gas yang lembab dan menguap terbalik terhadap tekanan gas – gas
dengan syarat tidak ada reaksi secara kimia. Jadi tergantung dari konsentrasi molekul –
molekul bebas aktif.
 Pauling (1961) mengemukakan teori kristal mikrohidrat (The Hidrat Micro-crystal
Theory). Obat anestetika berpengaruh terutama terhadap interaksi molekul – molekul
obatnya dengan molekul – molekul di otak.
 Trudel (1963) mengemukakan molekul obat anestetika mengadakan interaksi dengan
membrana lipid meningkatkan keenceran (mengganggu membran).

Obat anestesi yang diberikan akan masuk ke dalam sirkulasi darah yang selanjutnya
menyebar ke jaringan, yang pertama kali terpengaruh adalah jaringan yang banyak
vaskularisasinya seperti otak, yang mengakibatkan kesadaran dan rasa sakit hilang.
Kecepatan dan kekuatan anestesi dipengaruhi oleh faktor respirasi, sirkulasi, dan sifat fisik
obat itu sendiri.

TUJUAN ANESTESI UMUM

Tujuan anestesi umum adalah hipnotik, analgesik, relaksasi dan stabilisasi otonom.

SYARAT, KONTRAINDIKASI DAN KOMPLIKASI ANESTESI UMUM

Adapun syarat ideal dilakukan anestesi umum adalah :


 Memberi induksi yang halus dan cepat.
 Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespons
 Timbulkan keadaan amnesia
 Timbulkan relaksasi otot skeletal, tapi bukan otot pernapasan.
 Hambatan persepsi rangsang sensorik sehingga timbul analgesia yang cukup untuk tindakan operasi.
 Memberikan keadaan pemulihan yang halus cepat dan tidak menimbulkan ESO yang berlangsung
lama.

Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum yaitu :


 Dekompresi kordis derajat III – IV
 AV blok derajat II – total (tidak ada gelombang P).
Kontraindikasi Relatif berupa :
 Hipertensi berat/tak terkontrol (diastolik >110)
 DM tak terkontrol
 Infeksi akut
 Sepsis
 GNA
Tergantung pada efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan.Pada pasien
dengan gangguan hepar, harus dihindarkan pemakaian obat yang bersifat hepatotoksik.Pada
pasien dengan gangguan jantung, obat – obatan yang mendepresi miokard atau menurunkan
aliran koroner harus dihindari atau dosisnya diturunkan.Pasien dengan gangguan ginjal, obat
– obatan yang diekskresikan melalui ginjal harus diperhatikan. Pada paru, hindarkan obat
yang memicu sekresi paru, sedangkan pada bagian endokrin hindari obat yang meningkatkan
kadar gula darah, obat yang merangsang susunan saraf simpatis pada penyakit diabetes
basedow karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah.

Sedangkan komplikasi kadang – kadang tidak terduga walaupun tindakan anestesi


telah dilakukan dengan sebaik – baiknya.Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan
anestesi ataupun kondisi pasien sendiri.Komplikasi dapat timbul pada waktu pembedahan
ataupun setelah pembedahan. Komplikasi kardiovaskular berupa hipotensi dimana tekanan
sistolik kurang dari 70 mmHg atau turun 25 % dari sebelumnya, hipertensi dimana terjadi
peningkatan tekanan darah pada periode induksi dan pemulihan anestesi. Komplikasi ini
dapat membahayakan khususnya pada penyakit jantung karena jantung bekerja keras
dengan kebutuhan – kebutuhan miokard yang meningkat yang dapat menyebabkan iskemik
atau infark apabila tidak tercukupi kebutuhannya. Komplikasi lain berupa gelisah setelah
anestesi, tidak sadar , hipersensitifitas ataupun adanya peningkatan suhu tubuh.

PERSIAPAN UNTUK ANESTESI UMUM

Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien


menjalani suatu tindakan operasi.Pada saat kunjungan, dilakukan wawancara (anamnesis)
sepertinya menanyakan apakah pernah mendapat anestesi sebelumnya, adakah penyakit –
penyakit sistemik, saluran napas, dan alergi obat.Kemudian pada pemeriksaan fisik,
dilakukan pemeriksaan gigi – geligi, tindakan buka mulut, ukuran lidah, leher kaku dan
pendek.Perhatikan pula hasil pemeriksaan laboratorium atas indikasi sesuai dengan penyakit
yang sedang dicurigai, misalnya pemeriksaan darah (Hb, leukosit, masa pendarahan, masa
pembekuan), radiologi, EKG.
Dari hasil kunjungan ini dapat diketahui kondisi pasien dan dinyatakan dengan status
anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA).
ASA I : Pasien dalam keadaan normal dan sehat.
ASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena
penyakit bedah maupun penyakit lain. Contohnya: pasien batu ureter dengan hipertensi
sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis dan febris.
ASA III : Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang
diakibatkan karena berbagai penyebab. Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan
septisemia, atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia miokardium.
ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung
mengancam kehidupannya. Contohnya: Pasien dengan syok atau dekompensasi kordis.
ASA V : Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau
tidak. Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok hemoragik karena
ruptur hepatik.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda
darurat ( E = EMERGENCY ), misalnya ASA IE atau IIE

Pengosongan lambung untuk anestesia penting untuk mencegah aspirasi lambung


karena regurgutasi atau muntah. Pada pembedahan elektif, pengosongan lambung
dilakukan dengan puasa : anak dan dewasa 4 – 6 jam, bayi 3 – 4 jam. Pada pembedahan
darurat pengosongan lambung dapat dilakukan dengan memasang pipa nasogastrik atau
dengan cara lain yaitu menetralkan asam lambung dengan memberikan antasida
(magnesium trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin). Kandung kemih juga harus
dalam keadaan kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter. Sebelum pasien masuk dalam
kamar bedah, periksa ulang apakah pasien atau keluarga sudah memberi izin pembedahan
secara tertulis (informed concent).
Premedikasi sendiri ialah pemberian obat ½ - 1 jam sebelum induksi anestesia dengan
tujuan melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia, menghilangkan rasa
khawatir,membuat amnesia, memberikan analgesia dan mencegah muntah, menekan refleks
yang tidak diharapkan, mengurasi sekresi saliva dan saluran napas.
Obat – obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain :
 Gol. Antikolinergik
Atropin.Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah, antimual dan muntah,
melemaskan tonus otot polos organ – organ dan menurunkan spasme gastrointestinal.
Dosis 0,4 – 0,6 mg IM bekerja setelah 10 – 15 menit.
 Gol. Hipnotik – sedatif
Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital).Diberikan untuk sedasi dan mengurangi
kekhawatiran sebelum operasi.Obat ini dapat diberikan secara oral atau IM.Dosis
dewasa 100 – 200 mg, pada bayi dan anak 3 – 5 mg/kgBB.Keuntungannya adalah masa
pemulihan tidak diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap pernapasan
dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah.

 Gol. Analgetik narkotik


Morfin.Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang
operasi.Dosis premedikasi dewasa 10 – 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah pulih
pasca bedah lebih lama, penyempitan bronkus pada pasien asma, mual dan muntah
pasca bedah ada.
Pethidin.Dosis premedikasi dewasa 25 – 100 mg IV.Diberikan untuk menekan tekanan
darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.Pethidin juga berguna mencegah dan
mengobati menggigil pasca bedah.
 Gol. Transquilizer
Diazepam (Valium).Merupakan golongan benzodiazepine.Pemberian dosis rendah
bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik.Dosis premedikasi dewasa 0,2 mg/kgBB
IM.

METODE PEMBERIAN ANESTESI UMUM


Obat obat anestesi umum bisa diberikan melalui Perenteral (Intravena,
Intramuscular), perektal (melalui anus) biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak
dalam bentuk suppositoria, tablet, semprotan yang dimasukan ke anus. Perinhalasi melalui
isapan, pasien disuruh tarik nafas dalam kemudian berikan anestesi perinhalasi secara
perlahan.

STADIUM ANESTESI

Tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai
kehilangan kesadaran, stadium 2 sampai respirasi teratur, stadium 3 dan stdium 4 sampai henti napas dan
henti jantung.

Stadium I

Stadium I (St. Analgesia/ St. Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik
sampai hilangnya kesadaran.Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan
terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan
gigi dan biopsi kelenjar, dapat dilakukan pada stadium ini.Stadium ini berakhir dengan
ditandai oleh hilangnya reflekss bulu mata (untuk mengecek refleks tersebut bisa kita raba
bulu mata).

Stadium II
Stadium II (St. Eksitasi; St. Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan
pernapasan yang irreguler, pupil melebar dengan reflekss cahaya (+), pergerakan bola mata
tidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflekss
menelan dan kelopak mata.
Stadium III
Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernapasan hingga hilangnya
pernapasan spontan.Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernapasan spontan, hilangnya
reflekss kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah.
Stadium IV

Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan segera diikuti
kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal. Pasien sebaiknya tidak
mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi kedalaman anestesi yang berlebihan.

TANDA REFLEKS PADA MATA


Refleks pupil
Pada keadaan teranestesi maka refleks pupil akan miosis apabila anestesinya dangkal,
midriasis ringan menandakan anestesi reaksinya cukup dan baik/ stadium yang paling baik
untuk dilakukan pembedahan, midriasis maksimal menandakan pasien mati.
Refleks bulu mata
Refleks bulu mata sudah disinggung tadi di bagian stadium anestesi.Apabila saat dicek
refleks bulu mata (-) maka pasien tersebut sudah pada stadium 1.
Refleks kelopak mata
Pengecekan refleks kelopak mata jarang dilakukan tetapi bisa digunakan untuk memastikan
efek anestesi sudah bekerja atau belum, caranya adalah kita tarik palpebra atas ada respon
tidak, kalau tidak berarti menandakan pasien sudah masuk stadium 1 ataupun 2.
Refleks cahaya
Untuk refleks cahaya yang kita lihat adalah pupilnya, ada / tidak respon saat kita beri
rangsangan cahaya.

TEKNIK ANESTESI UMUM

Sungkup Muka (Face Mask) dengan napas spontan

Indikasi :
 Tindakan singkat ( ½ - 1 jam)
 Keadaan umum baik (ASA I – II)
 Lambung harus kosong
Prosedur :

 Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik

 Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi)

 Premedikasi + / - (apabila pasien tidak tenang bisa diberikan obat penenang) efek
sedasi/anti-anxiety :benzodiazepine; analgesia: opioid, non opioid, dll

 Induksi

 Pemeliharaan

Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan


Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube)
kedalam trakea via oral atau nasal. Indikasi; operasi lama, sulit mempertahankan airway
(operasi di bagian leher dan kepala)
Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn durasi
singkat)
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan
Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS:
S = Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope
T = Tubes. Pipa trakea. Usia >5 tahun dengan balon(cuffed)
A = Airway. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang
digunakan untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menyumbat jalan
napas
T = Tape. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut
I = Introductor. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan
C = Connector. Penyambung pipa dan perlatan anestesia
S = Suction. Penyedot lendir dan ludah

Teknik Intubasi
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin → fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) → ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong kepala sedikit
ekstensi → mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit demi sedikit,
menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
6. Cari epiglotis → tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat
epiglotis ( pada bilah lurus )
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar luar )
8. Temukan pita suara → warnanya putih dan sekitarnya merah
9. Masukan ET melalui rima glottis
10.Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas (alat resusitasi)

Klasifikasi Mallampati :
Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi Mallampati :
Intubasi Endotrakeal dengan napas kendali (kontrol)

Pasien sengaja dilumpuhkan/benar2 tidak bisa bernafas dan pasien dikontrol


pernafasanya dengan kita memberikan ventilasi 12-20 x permenit.Setelah operasi
selesai pasien dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan kemudian kita akhiri efek
anestesinya.
 Teknik sama dengan diatas
 Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama)
 Pemeliharaan, obat pelumpuh otot dapat diulang pemberiannya.

OBAT – OBAT DALAM ANESTESI UMUM

Jenis obat anestesi umum diberikan dalam bentuk suntikan intravena atau inhalasi.
Anestetik intravena
 Penggunaan :
 Untuk induksi
 Obat tunggal pada operasi singkat
 Tambahan pada obat inhalasi lemah
 Tambahan pada regional anestesi
 Sedasi
 Cara pemberian :
 Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat
 Suntikan berulang (intermiten)
 Diteteskan perinfus
Obat anestetik intravena meliputi :
 Benzodiazepine
Sifat : hipnotik – sedative, amnesia anterograd, atropine like effect, pelemas otot
ringan, cepat melewati barier plasenta.
Kontraindikasi : porfiria dan hamil.
Dosis : Diazepam : induksi 0,2 – 0,6 mg/kg IV, Midazolam : induksi : 0,15 –
0,45 mg/kg IV.

 Propofol
Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. Propofol dapat
menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan pemberian barbiturat secara
inutravena, dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Dosis : 2 – 2,5 mg/kg IV.
 Ketamin
Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic.Indikasi
pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit,
prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, pasien resiko tinggi dan asma. Dosis
pemakaian ketamin untuk bolus 1- 2 mg/kgBB dan pada pemberian IM 3 – 10
mg/kgBB.
 Thiopentone Sodium
Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan dalam air
menjadi larutan 2,5%atau 5%. Indikasi pemberian thiopental adalah induksi
anestesi umum, operasi singkat, sedasi anestesi regional, dan untuk mengatasi
kejang.Keuntungannya :induksi mudah, cepat, tidak ada iritasi mukosa jalan
napas. Dosis 5 mg/kg IV, hamil 3 mg/kg IV.

Anestetik inhalasi

a. N2O
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa dan lebih berat daripada udara.N2O biasanya tersimpan dalam bentuk
cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar ± 50
atmosfir.N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O
dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk
mendapatkan efek analgesic maksimum ± 35% .gas ini sering digunakan pada
partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa
sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu
relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O
digunakan secara intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses
persalinan dan Pencabutan gigi. H2O digunakan secara umum untuk anestetik
umum, dalam kombinasi dengan zat lain
b. Halotan
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan
tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen.Halotan bereaksi
dengan perak, tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan
plastic.Karet larut dalam halotan, sedangkan nikel, titanium dan polietilen
tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang disebut
fluotec.Efek analgesic halotan lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya
baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga
mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar minimal untuk
anestesi adalah 0,76% volume.
c. Isofluran

Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar.Secara kimiawi mirip


dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam
sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita
karena penderita menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi
preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi
bila diberikan bersama N2O dan O2.isofluran merelaksasi otot sehingga baik
untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak
menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan
frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2
mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah
hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit
dapat diatasi dengan mengatur dosis.Pada anestesi yang dalam dengan
isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran.
Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC
(minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.
d. Sevofluran
Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai
untuk induksi inhalasi.

SKOR PEMULIHAN PASCA ANESTESI


Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang
menggunakan general anestesi, maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di
observasi di ruang Recovery room (RR).

Aldrete Score

Nilai Warna
 Merah muda, 2
 Pucat, 1
 Sianosis, 0
Pernapasan
 Dapat bernapas dalam dan batuk, 2
 Dangkal namun pertukaran udara adekuat, 1
 Apnoea atau obstruksi, 0
Sirkulasi
 Tekanan darah menyimpang <20% dari normal, 2
 Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
 Tekanan darah menyimpang >50% dari normal, 0
Kesadaran
 Sadar, siaga dan orientasi, 2
 Bangun namun cepat kembali tertidur, 1
 Tidak berespons, 0
Aktivitas
 Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2
 Dua ekstremitas dapat digerakkan,1
 Tidak bergerak, 0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan
Steward Score (anak-anak)
Pergerakan
 Gerak bertujuan 2
 Gerak tak bertujuan 1
 Tidak bergerak 0
Pernafasan
 Batuk, menangis 2
 Pertahankan jalan nafas 1
 Perlu bantuan 0

Kesadaran
 Menangis 2
 Bereaksi terhadap rangsangan 1
 Tidak bereaksi 0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi: Edisi
Kedua. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
2. Morgan, G, Edward, et al. 2006. Clinical Anesthesiology, 4th edition. McGraw - Hill

Companies, Inc.

3. Omoigui, Sota. 2012. Obat-Obatan Anestesia Edisi II. 2012. Jakarta : EGC.
4. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2012. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

5. Soenarto. R., Chandra. S. Buku Ajar Anestesiologi. Departemen anestesiologi dan


intensive care FKUI –RS Cipto Mangunkusumo. Jakarta.

6. Miller, R.D. 2015. Miller’s Anesthesia, Eight Edition. Elsevier.