Anda di halaman 1dari 882

HIMPUNAN TANYA JAWAB

PERMASALAHAN DAN PAPARAN


PADA RAPAT KERJA NASIONAL
MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
DENGAN JAJARAN PENGADILAN PADA
4 (EMPAT) LINGKUNGAN PERADILAN DI
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007 DAN TAHUN 2008

PERPUSTAKAAN DAN LAYANAN INFORMASI


BIRO HUKUM DAN HUMAS BADAN URUSAN ADMINISTRASI
MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
2010
TIM PENYUSUN

Pengarah Nurhadi, SH..MH.


Kepala Biro Hukum dan Humas
Badan Urusan Administrasi
Makamah Agung RI

Penanggung Jawab : M.E.R. Herki Artani R., SH.


Kepala Bagian Perpustakaan dan Layanan Informasi,
Biro Hukum dan Humas Badan Urusan Administrasi
Mahkamah Agung RI

Sekretaris H.M. Arief Ismail, SH.


Kasubbag Penerbitan
Biro Hukum dan Humas BUA - MARI

Anggota : 1. Supenianto, SH.


2. Hidayat, SH.
3. Zamzami K.Z., SH.
4. Yuni Hayati Putri, SH.
5. Dading Rochati
6. Nur’aini

Sekretariat : 1. Kerliana Purba


2. Kartika Sandi Taurus, A.Md.
3. Dwi Listiani, A.Md.

Nara Sumber _ Sekretariat RAKERNAS 2007-2008


- Literatur Perpustakaan Mahkamah Agung RI

Alamat Redaksi Jl. Medan Merdeka Utara No. 9 - 13 Blok H Lt. 3


Jakarta 10010
Tromol Pos No. 1020
Telp. (021) 3843541 Pes.: 438 / 409
Email: perpustakaanmahkamahagungri@yahoo.co.id

v o - v g w ,
Tanggal : .................... ...
Mo. 7Induk
»i w ........ i
.... ”'•••....‘ ‘ . . l.
g.. X I- OVT- W w
No. Kias .....-
B^ifHadiah : ......
KATA PENGANTAR

Buku ini berisi Himpunan Tanya Jawab Permasalahan dan


Paparan pada Rapat Kerja Nasional Mahkamah Agung RI dengan
Jajaran Pengadilan pada 4 (empat) lingkungan Peradilan di Seluruh
Indonesia tahun 2007 dan tahun 2008.
Tanya jawab permasalahan dan paparan yang disampaikan pada
pelaksanaan RAKERNAS tersebut, oleh Biro Hukum dan Humas
dipandang perlu dihimpun, guna disebarluaskan dengan harapan agar
dapat diketahui oleh para Pejabat Peradilan sebagai salah satu usaha
menyamakan persepsi dan sebagai pedoman/acuan pelaksanaan
tugas sehari-hari dimana Aparat Pengadilan senantiasa dituntut untuk
selalu tanggap dalam menghadapi berbagai masalah hukum yang
sementara berkembang dalam praktek peradilan.
Selain ini diharapkan dengan penerbitan buku ini dapat membantu
pembinaan bidang peradilan dalam rangka meningkatkan citra dan
wibawa Pengadilan di era reformasi ini.
Dengan penerbitan buku ini diharapkan dapat turut membantu
pembinaan bidang peradilan. Ucapan terima kasih tak lupa
disampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga
terwujudnya penerbitan buku ini. Kritik dan saran senantiasa
diharapkan bagi penyempurnaan penerbitan dimasa yang akan datang.

Jakarta, Agustus 2009


Kepala Biro Hukum dan Humas
Badan Urusan Administrasi
Mahkamah Agung RI

(Nurhadi, SH.,MH.)
DAFTAR ISI

1. Kata Pengantar......................................................................... iii


2. Daftar Isi.................................................................................... v
3. Permasalahan dari Daerah dan Jawaban Bidang Perdata......... 1
4. Permasalahan dari Daerah dan Jawaban Bidang Pidana.......... 67
5. Permasalahan dari Daerah dan Jawaban Bidang Agama.......... 117
6. Permasalahan dari Daerah dan Jawaban Bidang Tata Usaha
Negara...................................................................................... 177
7. Paparan Tuada Tehnis............................................................. 201
8. Paparan Tuada Perdata........................................................... 211
9. Paparan Tuada Pidana Niaga................................................... 249
10. Paparan Tuada Pidana Khusus................................................. 253
11. Paparan Tuada Uldilag............................................................. 279
12. Paparan Tuada Uldiltun............................................................ 315
13. Membangun dan Membina Manajemen Pengelolaan Adminis­
trasi Bidang non Tehnis Peradilan............................................. 331
14. Permasalahan Hukum Perdata.................................................. 361
15. Permasalahan Hukum Perdata Khusus..................................... 369
16. Permasalahan Hukum Pidana Khusus......................................... 379
17. Permasalahan Hukum Pidana Umum.......................................... 393
18. Permasalahan Hukum pada Pengadilan Tinggi Agama se Indo­
nesia dan Mahkamah Syari’ah Provinsi Nanggroe Aceh Darus­
salam........................................................................................ 429
19. Permasalahan Hukum Pidana Militer........................................... 529
20. Permasalahan dan Jawaban Bidang Non Teknis di Lingkungan
Peradilan Militer........................................................................ 563
21. Permasalahan Hukum Tata Usaha Negara.................................. 577
22. Paparan Tuada Perdata........................................................... 645
23. Paparan Tuada Perdata Khusus.............................................. 653
24. Paparan Tuada Pidana............................................................ 664
25. Paparan Tuada Uldilag............................................................ 688
26. Paparan Tuada Uldiltun........................................................... 746

v
27. Sosialisasi RUU-Administrasi Pemerintahan : Menyongsong
Perluasan Yurisdiksi/Kompetensi Mengadili Peratun................. 753
28. Laporan Perkembangan Peradilan Militer Sebelum dan Sesu­
dah Satu Atap dengan Mahkamah Agung RI........................... 767
29. Upaya Meningkatkan Kinerja Kepaniteraan Mahkamah Agung
RI......................................................................................... 795

VI
PERMASALAHAN HUKUM
DARI DAERAH DAN JAWABAN
BIDANG PERDATA

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERDATA

1. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI PADANG

PENGADILAN NEGERI KLS. I.B BUKITTINGGI

1. Masalah pendelegasian relaas Ke Pengadilan Negeri Jakarta


Selatan dalam perkara perdata No. 11/PDT.G/2007/PN-BT :
a. Perkara tersebut terdaftar pada Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Bukittingi pada tanggal 03 Nopember
2005.
b. Diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bukittingi
pada tanggal 09 Maret 2005;
c. Dinyatakan Banding oleh Tergugat pada tanggal 15
Maret 2005;
d. Relaas Pemberitahuan putusan Pengadilan Negeri
Bukittinggi kepada Tergugat III melalui Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan tertanggal 25 April 2005 sudah
kembali;
e. Relaas pemberitahuan Pernyataan banding kepada
Tergugat III melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
tertanggal 24 Juli 2005 sudah kembali;
f. Relaas pemberitahuan Mempelajari Berkas banding
kepada Tergugat I melalui Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan tertanggal 25 Mei 2005 sudah kembali;
g. Relaas pemberitahuan Penyerahan Kontra Memori
Banding kepada Tergugat III melalui Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan tertanggal 25 Mei 2005 sudah kembali;
h. Relaas pemberitahuan Penyerahan Memori Banding
kepada Tergugat III melalui Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan tertanggal 20 Februari 2005, tetapi relaasnya
tidak kembali dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan;
i. Kemudian kami susul dengan surat tertanggal 21 April
2005, tetapi relaasnya juga tidak kembali dari
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan;

1
j. Kemudian disusul lagi dengan Surat tertanggal 24 Juni
2005 tetapi relaasnya juga tidak kembali dari Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan;
k. Kemudian disusul lagi dengan Surat tertanggal 29
Nopember tetapi relaasnya juga tidak kembali dari
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan;
l. Juga pernah menghubungi Panitera Jakarta Selatan
tanggal dan bulan tidak ingat pada tahun 2006, yang
bernama Ibu Hanna, dan beliau mengatakan sudah
dikirim ke Pengadilan Negeri Bukittingi;

Permasalahan vana tim bu l:


- Para pihak yang menyatakan Banding mendesak
supaya berkas perkaranya untuk segera dikirim ke
Pengadilan Tinggi Padang.
- Tergugat l/Pembanding berprasangka, bahwa Penga­
dilan Negeri Bukittinggi seakan-akan berpihak kepada
pihak Terbanding dengan sengaja untuk mengulur-ulur
waktu untuk mengirimnya ke Pengadilan Tinggi Padang;
- Kalau Perkara tersebut dikirim ke Pengadilan Tinggi
Padang, tanpa Relaas Pemberitahuan Penyerahan
Memori Banding yang sah dan patut jelas akan
dikembalikan ke Pengadilan Negeri Bukittinggi.

Pertanyaannya :
1. Bagaimana langkah Pengadilan Negeri Bukittinggi,
dalam hal ini untuk selanjutnya?
Jawaban :
1. Permintaan bantuan ke Pengadilan Negeri lain
(delegasi) yang sudah berkali-kali diminta namun
tidak dipenuhi, maka seharusnya Ketua Pengadilan
Tinggi wilayah pemberi delegasi mengirim surat
kepada Ketua Pengadilan Tinggi wilayah penerima
delegasi agar Ketua Pengadilan Tinggi tersebut
memerintahkan Pengadilan Negeri yang dimintai
delegasi untuk segera memenuhi permintaan
Pengadilan Negeri pemberi delegasi.
Apabila cara ini belum berhasil, laporkan ke
Mahkamah Agung.
2. Masalah ketidak hadiran salah seorang Tergugat
dan Relaas Panggilannya belum kembali dari
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yaitu dalam
perkara Perdata No. 12/PDT.G/2006/PN-BT.
a. Bahwa Tergugat E telah kami panggil melalui
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan surat
tertanggal 24 Juli 2006 untuk sidang tanggal 24
Agustus 2006, relaas panggilannya tidak
kembali dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
b. Surat Panggilan tertanggal 25 Agustus 2006
melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk
sidang tanggal 26 September 2006, relaas
panggilannya tidak kembali dari Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat.
c. Surat Panggilan tertanggal 29 September 2006
melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk
sidang tanggal 06 Nopember 2006, relaas
panggilannya tidak kembali dan Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat.
d. Bahwa perkara tersebut pemeriksaannya
dilanjutkan oleh majelis hakim, dan telah
memutus perkara tersebut dengan Putusan
Sela tentang Kompentensi Absolut, tertanggal
06 Februari 2007, yang sekarang dimohonkan
Banding oleh Penggugat dengan Akta Banding
No.01/Pdt.Bdg/2007/PN.BT tanggal 19
Februari 2007.;

Permasalahannya :
Relaas panggilan sidang yang sah dan patut tidak ada.

Pertanyaannya :
2. - Apakah putusan tersebut sah menurut Hukum?
- Apakah dalam Proses banding perkara tersebut,
setelah dikirim ke Pengadilan Tinggi Padang akan

3
diterima atau dikembalikan lagi ke Pengadilan Negeri
Bukittinggi?
- Bagaimana langkah Pengadilan Negeri untuk
selanjutnya?

Jawaban :
2. Karena perkara tersebut berada dalam proses
banding, maka tunggu sampai putusan berkekuatan
hukum tetap.

3. Masalah tempat tinggal tergugat yang berada diluar


Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Bukittinggi, dalam
perkara Perdata No. 15/PDT.G/2005/PN-BT, yang mana
tergugat B.4. dalam Gugatan Penggugat beralamat di
Jin. Teratai No. 7 Tomang Jakarta Barat, telah dipanggil
melalui Pengadilan Negeri Jakarta Barat, setelah
relaasnya kembali dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat,
ternyata di alamat tersebut tidak ada yang bernama
Tergugat B.4.

Jawaban :
3. Apabila sudah ketemu langsung orang yang
dipanggil, walaupun alamatnya tidak sama dengan
gugatan, maka relaas adalah sah.

4. Setelah mendengar berita dari pihak luar, bahwa


Tergugat B.4 tersebut beralamat di Bukittinggi,
kemudian Jurusita Pengadilan Negeri Bukitinggi
memanggil Tergugat B.4 ke tempat tinggalnya di
Bukittinggi dan bertemu langsung dengan Tergugat B4.
tersebut dan menandatangani Relaas panggilan sidang
tersebut.

Permasalahannya :
Alamat Tergugat B.4 tidak sesuai lagi dengan alamatnya
dalam surat gugatan dan tidak ada perubahannya oleh
Pihak Penggugat.

4
Pertanyaannya :
4. Bagaimana keabsahan relaas panggilan tersebut?
Jawaban :
4. Relaas yang dibuat oleh jurusita adalah sah.
Apabila tanda tangan yang ada dalam relaas
tersebut disangkal oleh yang dipanggil
tersebut, maka ia harus mengadukan pihak
yang bersangkutan sebagai tindak pidana.
Tetapi bila jurusita sengaja memalsukan tanda
tangan pihak yang dipanggil, maka selain
jurusita tersebut dapat dipidana, relaasnya juga
tidak sah.

5. Jurusita Pengadilan Negeri Bukittinggi telah memanggil


pihak tergugat tetapi tidak pernah bertemu langsung
dengan tergugat bersangkutan, sehingga Panggilan
dijalankan melalui kantor Lurah; Pada kesempatan lain
Jurusita Pengadilan Negeri Bukittinggi telah memanggil
pula Tergugat tersebut, pada alamat yang sama, dan
ada orang yang mengaku sebagai Tergugat, dimana ia
membubuhkan nama dan tandatangannya pada relaas
Panggilan;
Setelah putusan dijatuhkan ada orang yang mengaku
Tergugat asli dan menyangkali tanda tangan yang ada
pada Relaas panggilan tersebut, tanda tangan tersebut
adalah palsu karena Tergugat tidak pernah menerima
panggilan, baik dari kantor Kelurahan maupun dari
Jurusita Pengadilan Negeri Bukittinggi;

Permasalahannya :
5. Bagaimana nilai yuridis relaas panggilan jurusita
tersebut?

Jawaban :
5. Relaas yang dibuat oleh jurusita adalah sah.
Apabila tanda tangan yang ada dalam relaas
tersebut disangkal oleh yang dipanggil tersebut,

5
maka ia harus mengadukan pihak yang
bersangkutan sebagai tindak pidana.
Tetapi bila jurusita sengaja memalsukan tanda
tangan pihak yang dipanggil, maka selain jurusita
tersebut dapat dipidana, relaasnya juga tidak sah.

2. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI GORONTALO

1. Dalam perkara perdata putusan yang sudah mempunyai


kekuatan hukum tetap dan sudah dieksekusi, ternyata
pemohon dieksekusi masih mengajukan permohonan
eksekusi lagi terhadap putusan provisi dimana saat
dijatuhkan putusan provisi belum diajukan permohonan
eksekusi.
Apakah permohonan eksekusi terhadap putusan provisi
tersebut dapat dikabulkan mengingat pokok perkara telah
diputus dan telah dilaksanakan eksekusi?

Jawaban :
1. Suatu putusan provisi adalah dimaksudkan untuk
mengatasi suatu keadaan yang mendesak yang timbul
pada saat pokok perkara berjalan.
Pengertian putusan provisi adalah putusan yang bersifat
sementara yang kekuatannya akan hilang setelah ada
putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Suatu putusan provisi sifatnya berlaku serta merta.
Dengan demikian apabila suatu perkara telah ada
putusan yang berkekuatan hukum tetap, maka putusan
provisi yang ada dalam perkara tersebut kehilangan
kekuatannya yang berarti kehilangan pula kekuatan
eksekutorialnya.

3. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI DKI JAKARTA

PENGADILAN NEGERI JAKARTA TIMUR


1. Berdasarkan ketentuan pasal 200 (7) HIR maka setiap
barang tetap/bergerak harus diumumkan dahulu dalam

6
sebuah harian yang terbit ditempat dimana penjualan itu
akan diadakan atau kota terdekat sebanyak 2 (dua) kali
pengumuman dengan jangka waktu 15 hari antara satu
dengan yang lainnya dan sesuai ketentuan pasal 200 (9) HIR
dan sejalan putusan Mahkamah Agung No.316K/SIP/1973
tertanggal 18 Nopember 1975 penjualan lelang terhadap
barang-barang tidak bergerak cukup diumumkan satu kali.
Dalam pendirian Raker terdahulu Mahkamah Agung tetap
berpendirian seperti tersebut diatas sehingga bagi pencari
keadilan yang tidak mampu tidak dimungkinkan untuk
pengumuman lelang eksekusi tersebut pada harian
umum/koran karena biayanya cukup mahal.
Namun pada Rakernas Mahkamah Agung dengan Ketua
Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia tahun 1986 dan
Rakerda dengan Pengadilan Tinggi di daerah tahun 1987
pendirian Mahkamah Agung berubah dimana untuk
pengumuman lelang eksekusi bagi pencari keadilan yang
tidak mampu bisa ditempuh melalui Bupati atau Camat asal
saja sifat lelang umum tetap dipelihara;

Pertanyaannya :
1. Bagaimana sikap Ketua Pengadilan jika atas hal
tersebut diatas pihak Kantor Lelang negara tetap
menghendaki pengumuman lelang eksekusi harus
melalui media koran, media umum dan jika tidak mau
melaksanakan lelang.
2. Bagaimana jika dalam pelelangan itu hanya hadir satu
orang calon pembeli lelang sedangkan penawarannya
sudah diatas limit.

Jaw aban:
1. Pencari keadilan yang tidak mampu untuk membayar
biaya perkara dapat dibebaskan dari biaya itu dengan
penetapan hakim. Apabila pihak tersebut kemudian
menang perkara maka biaya perkara dibebankan
kepada pihak lawannya. Pihak lawan yang tidak
ditetapkan untuk berperkara prodeo mempunyai
kewajiban untuk membayar biaya perkara.

7
Pasal 182 HIR menentukan bahwa yang dimaksud
dengan biaya perkara adalah :
(6) Upah yang harus diterima oleh panitera atau
pegawai lain dalam rangka pelaksanaan putusan hakim,
kesemuanya berdasarkan ketentuan yang telah ada
atau yang kemudian akan ditetapkan oleh Menteri
Kehakiman dan bilamana tidak ada ditentukan
berdasarkan pertimbangan Ketua.
Dengan demikian biaya eksekusi dapat dibebankan
kepada pihak yang kalah dalam perkara.
Sikap Ketua Pengadilan Negeri apabila kantor lelang
menolak untuk melakukan pelelangan, maka Ketua
Pengadilan Negeri dapat menunjuk orang lain yang
cakap (lihat Pasal 200 (1) HIR/215 (1) Rbg.)

2. Apabila prosedur lelang telah ditempuh dengan benar,


dan ternyata yang menawar hanya satu orang, maka
lelang tetap sah.

DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI KALIMANTAN


SELATAN

1. Dengan diundangkannya Undang-Undang No. 3 Tahun 2006


tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989
tentang Peradilan Agama khususnya Pasal 49 yang
berbunyi:
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus dan menyelesaikan perkara ditingkatkan pertama
antara orang-orang yang beragama Islam.

Bidang Perkawinan :
Dalam penjelasan butir 20 menyatakan bahwa penetapan
asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak
berdasarkan Hukum Islam.
Pertanyaan :
1. Apakah Pengadilan Negeri masih berwenang
memeriksa permohonan Pengangkatan Anak bagi
pemohon yang beragama Islam?

Jawaban :
1. Pengangkatan anak yang merupakan kewenangan
Pengadilan Agama, adalah berbeda dengan
Pengangkatan Anak yang merupakan kewenangan
Pengadilan Negeri.
Pengangkatan anak yang merupakan kewenangan
Pengadilan Agama adalah hubungan antar anak angkat
dengan orang tua angkatnya bersifat hubungan
pemeliharaan anak. Tidak ada hubungan kewarisan
dengan anak tersebut dan si anak dapat dikawini oleh
orang tua angkatnya.
Sedangkan pengangkatan anak yang merupakan
kewenangan pengadilan negeri adalah menetapkan
hubungan hukum antara anak angkat dengan orang tua
angkatnya, sehingga terjadi hubungan waris yang
kedudukannya sama dengan anak yang sesungguhnya.
Jadi apabila tujuan pengangkatan anak itu adalah
dimaksudkan untuk terjalinnya hubungan hukum
kewarisan dan lain-lain antar anak angkat dengan orang
tua angkatnya maka pengadilan negeri berwenang
dengan tidak perlu melihat apa agama dari si pemohon.
Hanya saja hakim harus mempertimbangkan undang-
undang perlindungan anak yang menyatakan bahwa
didalam pengangkatan anak hakim harus mempertim­
bangkan agama dari orang tua yang mengangkat anak
dan anak yang diangkat adalah sama.
Dari uraian diatas, maka pengangkatan anak tergantung
dari pemohon kemana permohonan tersebut akan
diajukan. Tergantung dengan tujuan apa permohonan
pengangkatan anak tersebut.

9
2. Dalam RAKERNAS Tahun 2006 terdapat suatu wacana
bahwa terhadap permohonan Somasi sudah tidak diperlukan
lagi, karena dalam suatu gugatan apabila sudah diadakan
pemanggilan kepada pihak Tergugat hal tersebut sudah
merupakan teguran / peringatan kepada yang bersangkutan
untuk melakukan kewajibannya sehingga Pengadilan sudah
tidak perlu lagi menerima permohonan Somasi tersebut.
Kiranya mohon ketegasan dan disampaikan kepada seluruh
Pengadilan Negeri, sehingga Pengadilan Negeri tidak ragu-
ragu lagi untuk tidak menerima permohonan tersebut?.
Sedangkan Register Somasi masih ada di pengadilan negeri.

Jawaban :
2. Ketentuan somasi masih tetap diatur didalam KUH
Perdata.
Dari beberapa pengadilan negeri menyampaikan
pendapat bahwa dibeberapa daerah ketentuan somasi
tersebut masih diperlukan.

5. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI BANDA ACEH

a. Gugatan terhadap pengadilan

1. PN Tapaktuan
Di PN Tapaktuan pernah ada yang mengajukan gugatan
terhadap Ketua PN, Ketua PT dan Ketua MA. Menanggapi
gugatan tersebut KPN menyurati ybs. bahwa sesuai dengan
putusan MA tanggal 27 Pebruari 1992 No. 41 /K/Pdt/1990,
aparat pengadilan yang bertindak melaksanakan tugas-tugas
teknis peradilan atau Kekuasaan Kehakiman tidak dapat
diperkarakan secara perdata. Yang menjadi pertanyaan kami
adalah apakah sikap tersebut tidak bertentangan dengan
ketentuan dalam Pasal 16 Undang-Undang No. 4 Tahun
2004, yang menyatakan pengadilan tidak boleh menolak
untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara.....
dst.?

Milik
Perpustakaan
Mahkamah Agung - RI
Jawaban :
1. Perkara tetap diterima dan diperiksa akan tetapi diputus
dengan amar putusan gugatan ditolak.

b. Eksekusi putusan yang saling bertentangan

2. PN Sigli
Di PN Sigli ada putusan yang sudah beberapa kali dilakukan
eksekusi tetapi selalu gagal karena pihak tereksekusi
menunjukkan putusan lain yang juga sudah berkekuatan
hukum tetap atas obyek yang sama, yang isinya
bertentangan dengan isi putusan yang akan dieksekusi.
Putusan yang akan dieksekusi adalah putusan MA tgl. 30 Juli
1997 No. 3182 K/Pdt/1994 (dalam perkara No.
39/Pdt.G/1993/PN-SGI) yang amarnya a.l. berbunyi
“Menghukum para tergugat untuk menyerahkan kepada
penggugat dalam kosong setengah bagian dari kedai
terperkara milik penggugat yang jika tidak bisa dilakukan
secara innatura maka dilakukan dengan cara memberikan
seluruh kedai terperkara kepada penawar tertinggi atau dijual
lelang di muka umum dan hasilnya dibagi 2 (dua) antara
penggugat dan tergugat-tergugat”, sedang bunyi putusan PN
Sigli tanggal 25 Mei 1999 No. 60/Pdt.G/1988/PN.SGI, yang
juga sudah berkekuatan hukum tetap amarnya a.l sebagai
berikut “Menyatakan bahwa Penggugat (Mustafa Mahmud)
mempunyai hak lebih dahulu (hak langgeh) dan Tergugat I
(H. M. Kasem) untuk membayar ganti rugi atas setengah
kedai kepada Tergugat II (K. Amin)” dan “Menghukum
Tergugat I (H.M. Kasem) menerima kembali uang ganti rugi
yang telah dibayarkan kepada Tergugat II untuk setengah
kedai dengan cara menerima kembali dari Penggugat
sebanyak Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah)”.
K. Amin yang disebut dalam putusan PN Sigli tersebut
adalah Penggugat/Pemohon kasasi dalam putusan MA di
atas, yang sesuai dengan putusan MA tersebut berhak atas
separuh kedai tersebut.

11
Sebenarnya proses eksekusi sebagian sudah terlaksana,
yaitu penjualan obyek sengketa melalui pelelangan umum,
yang dimenangkan oleh H. Muhtasini. Namun karena lelang
dilakukan sebelum obyek sengketa dikosongkan, maka harus
dilakukan eksekusi riil dalam bentuk pengosongan secara
paksa. Dan eksekusi inilah yang tidak berhasil karena pihak
tereksekusi menolak eksekusi tersebut dengan menunjukkan
bukti putusan dalam perkara No. 60/Pdt.G/1988/PN-SGI,
yang memenangkan pihaknya.
Pihak penggugat dalam perkara No. 60/Pdt.G/1988/PN-SGI
inipun kemudian telah memohon eksekusi atas putusan PN
Sigli tersebut.

Pertanyaan :
2. Bagaimana seharusnya kami menyelesaikan kasus
tersebut?

Jawaban :
2. Berdasarkan Pasal 67 huruf e UU No. 14 Tahun 1985
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun
2004, putusan yang saling bertentangan merupakan
salah satu alasan untuk mengajukan peninjauan
kembali, untuk itu disarankan kepada salah satu pihak
untuk mengajukan peninjauan kembali

c. Eksekusi terhadap putusan pengadilan negeri yang


bandingnya dicabut karena terjadi perdamaian

3. PN Langsa
Waktu Aceh masih dalam suasana konflik PN Bireuen tidak
beroperasi, dan perkara-perkara di daerah hukum PN
Bireuen diadili di PN Langsa. Dalam suatu gugatan tentang
tanah yang terletak di daerah hukum PN Bireuen, PN Langsa
telah memenangkan penggugat. Terhadap putusan tersebut
tergugat mengajukan banding tetapi kemudian dicabut
karena telah ada perdamaian di luar sidang, di mana pihak
penggugat dibebani untuk membayar uang sejumlah

12
Rp. 525.000.000,. Tahun 2007 ada yang berminat membeli
tanah tersebut, tetapi menurut penggugat, tergugat tidak
akan mau lagi menerima pembayaran dari penggugat.
Penggugat kemudian meminta agar putusan PN Langsa
dieksekusi, namun KPN tidak berani mengeluarkan
penetapan eksekusi karena telah ada perdamaian di antara
para pihak di luar sidang, dan menyarankan agar yang
bersangkutan mengajukan gugatan perdata di PN Bireuen,
yang dalam petitumnya menuntut agar tergugat dihukum
untuk menerima sejumlah uang yang ditentukan dalam
perdamaian di luar sidang tersebut. Benarkah sikap KPN
tersebut?

Jawaban :
3. Langkah yang saudara lakukan sudah benar dan tetap
menunggu putusan atas gugatan wanprestasi atas
perjanjian perdamaian yang tidak ditaati oleh salah satu
pihak.

4. PN Takengon
Penggugat meminta eksekusi atas putusan PN Takengon
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena pihak
tergugat mencabut permohonan bandingnya. Namun
terhadap permohonan eksekusi tersebut KPN hati-hati dalam
menyikapinya dan meminta petunjuk kepada PT Banda
Aceh, karena kalau dilihat sejarahnya pencabutan banding
tersebut dilakukan oleh tergugat karena telah adanya
perdamaian di hadapan Penguasa Darurat Militer pada waktu
itu, di mana kedua belah pihak menyepakati untuk tidak
saling menuntut. Dalam putusan yang dimintakan eksekusi
tersebut gugatan atas dasar pencemaran nama baik
dipandang terbukti dan gugatan dikabulkan sebagian, di
mana tergugat dihukum untuk membayar ganti rugi dan
untuk meminta maaf kepada penggugat melalui iklan di
media cetak. Sampai sekarang PT Banda Aceh belum
memberikan petunjuk bagaimana KPN harus bersikap
terhadap permohonan eksekusi tersebut.

13
Pertanyaan kami adalah, apakah suatu putusan pengadilan
yang materi sengketanya telah diselesaikan melalui
perdamaian kedua belah di luar sidang, masih dapat
dimintakan eksekusi, sekalipun persyaratan dalam
perdamaian, seperti pencabutan banding, sudah dilakukan
oleh pihak tergugat?

Jawaban :
Perhatikan langkah yang diambil oleh PN Langsa seperti
tersebut diatas. Apabila ada perdamaian di luar sidang dan
salah satu pihak ingkar terhadap perdamaian itu, maka pihak
yang dirugikan dapat mengajukan gugatan wanprestasi.
Sedangkan mengenai putusan yang berkekuatan hukum
tetap yang berkaitan dengan perdamaian itu ditunda
pelaksanaannya sampai adanya putusan atas gugatan
wanprestasi.

d. permohonan penetapan kematian

5. PN Langsa
Seorang sopir bank milik negara di Langsa pada tahun 2000,
sewaktu menjalankan kendaraan dinas bank tersebut
dicegat oleh “Kelompok Orang Tak Dikenal” dan sampai
sekarang tidak diketahui keberadaannya, namun patut
diduga telah dibunuh. Pihak bank meminta penetapan dari
PN Langsa agar sopir tersebut dinyatakan telah meninggal
dunia, sehingga isteri ybs. bisa mendapat pensiun.
Pertanyaan kami adalah, apakah hakim berhak mengabulkan
permohonan semacam itu, dan kalau berhak apa dasar
hukumnya?

Jawaban :
Diminta agar saudara mempedomani Pasal 467
KUHPerdata.

14
6. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI SULAWESI
SELATAN DAN SULAWESI BARAT

1. PN POLEWALI

Ada 2 putusan, yang saling bertentangan masing-masing


putusan :
a. No. 31/I/PN/1975 dan
b. No. 52/Pdt.G/1980/PN.Pol.

Permasalahan :
Obyeknya sama tanah seluas + 28 ha. Kedua putusan
tersebut sudah sama-sama mempunyai kekuatan hukum
tetap dan sama-sama telah dieksekusi, dan masing-masing
pihak sama-sama merasa berhak atas tanah sengketa.

Riwayat kasus :
a. Perkara perdata di PN Polewali No.31/l/PN/1975. antara
BACO DAKKE Cs sebagai Penggugat-Penggugat
lawan BACO COMMO Cs sebagai Tergugat-Tergugat.
Obyeknya : tanah sawah seluas 28 Ha, yang digelar
Galung Kopp.
Putusan PN Polewali tanggal 23 Mei 1976
No.31/l/PN/1975, yang amarnya :
- Mengabulkan gugatan Penggugat sebahagian dan
menolak untuk selebihnya.
- Menghukum Tergugat-tergugat untuk mengosong­
kan sawah-sawah tersebut setelah mana
diserahkan kepada Penggugat-penggugat.
- Menetapkan bahwa keputusan ini dapat dijalankan
lebih dahulu meskipun Tergugat-tergugat banding
dan kasasi (uit voorbaarbij voorraad).

Putusan Pengadilan Tinggi Ujung Pandang tanggal


16 Juli 1977 No.293/1976/PT/Pdt, amarnya :
- Menerima permohonan banding tersebut.
- Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Polewali
tanggal 23 Maret 1976 No.31/l/PN/1975;

15
Putusan Mahkamah Agung R.l. tanggal 24 April 1980
No.803 K/Sip/1978, amarnya :
- Menolak permohonan kasasi dan Pemohon-
pemohon kasasi;

Putusan PK tanggal 9 Mei 1985 Nomor : 168


PK?perd/1983, amarnya :
- Permohonan peninjauan kembali tidak dapat
diterima;
Putusan tersebut telah dieksekusi oleh Jurusita PN
Polewali sesuai Berita Acara Eksekusi tanggal 14
Desember 1977 Nom or: 06/I/PN/76;

Perkara perdata PN Polewali Nomor ; 52/Pdt.G/1980/


PN.Pol, antara BACO COMMO Cs sebagai Penggugat-
penggugat lawan BACO DAKKA Cs sebagai
Tergugat-tergugat, obyeknya sawah seluas 25 Ha + 3
Ha yang berada ditengah-tengah, sehingga keseluruhan
areal tersebut adalah 28 Ha yang digelas Galung Koppe.
Putusan PN Polewali tanggal 12 Mei 1998 Nomor :
52/Pdt.G/1980/PN.Pol, amarnya :
- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
(Dasar pertimbangan bahwa penguasaan Tergugat-
tergugat atas tanah sengketa adalah sah sesuai
dengan Berita Acara Eksekusi tanggal 14
Desember 1977 Nom or: 06/I/PN/1976.

Putusan Pengadilan Tinggi Ujung Pandang tanggal


15 Oktober 1998 No.338/Pdt/1998/PT.UJ.PDG, amar­
nya :
Membatalkan putusan PN Polewali tanggal 12 Mei
1998 No.52/Pdt.G/1980/PN.Pol., dan :

MENGADILI SENDIRI :
- Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
Menyatakan bahwa perbuatan para Tergugat yang
menguasai dan memiliki sawah sengketa adalah
perbuatan melawan hukum;
- Menghukum para Tergugat I sampai Tergugat III
terbanding atau siapa saja yang memperoleh hak
dari padanya untuk mengembalikan sawah
sengketa kepada para Penggugat Pembanding
dalam keadaan baik seperti status semula atau
setidak-tidaknya dengan ganti rugi uang seharga
sawah sengketa sesuai dengan harga yang berlaku
setempat sejak putusan ini berkekuatan hukum
tetap.

Putusan Mahkamah Agung R.l. tanggal 30 November


2000 Nomor : 22236 K/Pdt/1999, amarnya :
— Menolak permohonan kasasi.

Putusan tersebut (No.52/Pdt.G/1980/PN.Pol), telah


selesai dieksekusi pada tanggal 7 Mei 2007.
Sekarang masing-masing pihak memiliki putusan yang
menentukan hak mereka atas obyek yang sama serta
masing-masing memiliki Berita Acara eksekusi.
Masalahnya : Kedua putusan tersebut saling
bertentangan atas obyek yang sama, masing-masing
putusan tersebut telah dieksekusi; sehingga kepastian
hukum sulit ditentukan dan menimbulkan keresahan.
Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat
berpendapat bahwa solusi atas permasalahan tersebut
adalah pihak tereksekusi dalam perkara No.52/Pdt.G/
1980/PN.Pol (pihak pemenang atau pemohon eksekusi
dalam perkara No.31/l/PN/1975), dapat mengajukan
mengajukan gugatan baru, berupa gugatan
pengosongan.

Jawaban :
Seharusnya putusan perkara No. 2236 K/PDT/1999 jo
Putusan PT No. 338/Pdt/1998/PT Uj. Pdg diajukan
Peninjauan Kembali, karena adanya 2 putusan yang
saling bertentangan, yaitu dengan putusan No. 168
PK/Pdt/1983 jo No. 31/I/PN/1975.

17
Tetapi apabila jangka waktu untuk PK tersebut telah
lewat, maka satu-satunya jalan adalah melakukan
gugatan. Tetapi tentunya harus memperhatikan azas ne
bis in idem.

Pengadilan Negeri SIDRAP


Putusan No.9/1963, Sidrap atas obyek sengketa berupa
tanah seluas + 124 hektar. (Sebelumnya adalah Putusan PN
Pare-Pare tanggal 2 Maret 1964 Nom or: 9/1963 Sidrap).
a. Putusan PN Pare-Pare tanggal 2 Maret 1964 Nomor
911963 Sidrap, amarnya :
- Mengabulkan gugatan Penggugat;
- Menetapkan bahwa sawah-sawah terperkara ter­
sebut (tanah seluas 124.05 ha) adalah milik (budel)
dari ahli waris ANDI DORA ARUNG BELLOKA yang
belum dibagi-bagi kepada warisnya;
- Menghukum tergugat serta semua orang-orang
yang mendapat hak daripadanya untuk mengosong­
kan dan menyerahkan sawah-sawah terperkara
kepada ahli waris ANDI DORA ARUNG BELOKKA
yang berhak;

b Putusan Pengadilan Tinggi Ujung Pandang tanggal


16 Juli 1968 Nomor : 208/1968/PT.Pdt, amarnya :
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Pare-Pare
tanggal 2 Maret 1964 Nom or: 9/1963 Sidrap.

c. Putusan Mahkamah Agung R.l. tanggal 14 Januari


1970 Nomor : 261 K/Sip/1969, amarnya :
- Menolak permohonan kasasi dari Penggugat untuk
kasasi: ANDE TJIBU (ahli warisnya) tersebut.

d. Berita Acara Eksekusi tanggal 13 September 2006


Nomor : 02/BA.Pdt/2006/PN.Sidrap yang ditanda
tangani oleh Panitera dan Jurusita berdasarkan
Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Sidenreng
Rappang tanggal 6 September 2006 Nomor :
09/1963/Sidrap.
Putusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Dan data yang ada berupa foto copy Berita Acara eksekusi
yang disahkan mantan Plh. Ketua Pengadilan Negeri Sidrap
bahwa putusan tersebut telah dieksekusi secara tuntas.
Pada tahun 2006, ada seorang yang mengaku sebagai ahli
waris dari salah satu Penggugat (ada 25 orang Penggugat)
dalam perkara tersebut mengajukan permohonan eksekusi
kepada Ketua PN Sidrap.
Setelah diteliti dokumen yang ada di PN Sidrap dari berkas
perkara yang bersangkutan, kolom eksekusi dalam register
induk dan register eksekusi ternyata tidak ditemukan catatan
registrasi maupun bukti-bukti bahwa putusan telah dieksekusi
secara tuntas.
Atas dasar permohonan eksekusi tersebut, KPN Sidrap
membuat Penetapan untuk melakukan Aanmaning, dan KPN
melaksanakan eksekusi.
Dalam pelaksanaan eksekusi tersebut, obyek sengketa
diambil dari tangan pihak ketiga yang tidak berkedudukan
sebagai pihak dalam perkara tersebut, termasuk PLN yang
mendapatkan tanah tersebut dari Pemda Sidrap.
Pelaksanaan eksekusi tersebut menimbulkan keresahan
masyarakat, karena gudang PLN disita eksekusi.
Kemudian ada diantara pihak yang dirugikan (sebanyak 36
orang) mengajukan gugatan ke Pengadilan. Dalam
pemeriksaan perkara tersebut beberapa saksi diantaranya :
1. Saksi ABDUL KADER, pensiunan Polisi yang
menerangkan (dahulu ia sebagai Anggota pengamanan
saat eksekusi dilakukan);
2. Saksi Hj. A. MALLIBURANG, mengaku ahli waris H.
DORA (salah satu Penggugat) yang mengaku eksekusi
telah dilakukan pada tahun 1970;
3. Saksi H. KARTINI, mantan Panitera PN Sidrap yang
mengaku telah melaksanakan eksekusi atas perkara
tersebut pada tahun 1970.
Permasalahannya adalah telah terjadi eksekusi kedua atas
suatu putusan yang telah selesai dieksekusi secara tuntas
yang seharusnya tidak boleh terjadi.

19
Pendapat Pengadilan T inggi:
Disarankan Pihak Ketiga yang merasa dirugikan menggugat
Pemohon eksekusi yang kedua kalinya tersebut.

Jawaban :
2. Setuju pendapat Pengadilan Tinggi.

KASUS PN MAKALE :
Perkara No.50/Pdt.G/1990/PN.MKL tanggal 6 Juli 1992,
obyeknya terdiri dari tanah dan bangunan permanen yang
berdiri diatas tanah tersebut.

Putusan PN Makale, No.50/Pdt.G/1990/PN.MKL tgl.6 Juli


1992, amarnya :
- Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima :

Putusan Pengadilan Tinggi Ujung Pandang tgl. 30 Juli


1993 Nomor: 219/1993.
- Menyatakan gugatan Penggugat dikabulkan untuk
sebagian;
- Menyatakan obyek gugatan (tanah) adalah milik para
Penggugat.

Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI. tanggal 31 Juli


1999 Nomor : 480 K/Pdt/1994, amarnya ;
- Menolak permohonan kasasi pemohon Kasasi.

Pihak Penggugat sebagai pemilik tanah memohon eksekusi


agar tanahnya diserahkan kepadanya, namun belum dapat
dilaksanakan berhubung bangunan tidak dapat dieksekusi.
Pada saat putusan ini mau dieksekusi, masuk perlawanan
(verset) dengan Nom or: 49/Plw/1999;

Putusan Perkara Perlawanan di Pengadilan Negeri


Makale tanggal 7 April 2000 N om or: 49/Plw/1999.
- Perlawanan dinyatakan tidak dapat diterima;
Putusan Pengadilan Tinggi Ujung Pandang Nomor :
248/2000, tgl.
- Membatalkan putusan Pengadilan Negeri;

MENGADILI SENDIRI :

DALAM POKOK PERKARA :


- Mengabulkan perlawanan Pelawan untuk sebagian;
- Menyatakan bahwa Pelawan adalah Pelawan yang
benar;
- Menyatakan bahwa Pelawan adalah pemilik yang sah
atas bangunan/rumah yang ada diatas tanah sengketa;
- Menyatakan bahwa putusan Pengadilan Tinggi tanggal
30 Juli 1993/PT.UJ.PDG, tidak dapat dilaksanakan (non
eksekutabel) sepanjang mengenai bangunan rumah
tersebut;
Terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut tidak diajukan
upaya kasasi.
Masalahnya adalah bagaimana caranya melaksanakan
eksekusi terhadap adanya redaksi tersebut diatas?.

Pendapat Pengadilan Tinggi:


Pemilik tanah mengajukan gugatan pengosongan atas
bangunan rumah permanen tersebut dengan permintaan
putusan serta merta (uit voorbaarbij voorraad).

Jaw aban:
Sayang data yang disampaikan tidak lengkap.
1. Siapa pihak dalam perkara No. 50/Pdt.G/1990 dan
siapa pihak perlawanan eksekusi (No.49/Plw/1999).
2. Apa diktum putusan Pengadilan Tinggi No. 219/1993.
Apakah ada perintah untuk mengosongkan tanah
tersebut.
Apabila pelawan dalam perkara No. 49/PLW/1999
adalah pihak dalam perkara No. 50/Pdt.G/1990 dan ada
perintah untuk mengosongkan tanah tersebut, maka

21
tidak ada alasan untuk menyatakan putusan Pengadilan
Tinggi No. 219/1993 non eksekutabel.
Tetapi apabila pihak pelawan tersebut bukan pihak
dalam perkara tersebut, maka Mahkamah Agung setuju
dengan pendapat Pengadilan Tinggi.

Partai Politik adalah organisasi Politik yang dibentuk oleh


sekelompok warga negara secara sukarela atas dasar
persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan
kepentingan anggota masyarakat, bangsa dan negara
melalui pemilihan umum.
Keberadaan parpol tidak terlepas dari AD/ART sehingga
tidak menutup kemungkinan adanya benturan “kepentingan”
dan pengurus dengan DPD Provinsi atau DPD Provinsi
dengan Kabupaten/Kota.

Masalah :
Menurut yurisprudensi (Putusan MA-RI tanggal 29 Januari
2003 No.880 K/Pdt/2003) menegaskan “Pengadilan Negeri
tidak berwenang mengadili sengketa kepengurusan partai
yang merupakan masalah internal partai juncto Surat Edaran
MA-RI No.04 Tahun 2003 tanggal 15 Oktober 2003.
Disisi lain :
Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002
diundangkan pada tanggal 27 Desember 2002 menyatakan :
“perkara partai politik berkenaan dengan ketentuan undang-
undang ini diajukan melalui pengadilan negeri.
Pertanyaan :
4. Dalam menyikapi 2 (dua) sumber hukum yang berbeda
yang mana yang harus digunakan?

Jawaban :
4. SEMA No. 4 Tahun 2003 dikeluarkan oleh Mahkamah
Agung karena dalam situasi menghadapi pemilu dan
putusan Mahkamah Agung No. 880 K/Pdt/2003 belum
merupakan yusrisprudensi tetap. Apabila ada gugatan
tentang partai politik, dapat digunakan Undang-undang
No. 31 Tahun 2002 ;

6. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MATARAM

1. Permasalahan
Suatu sengketa waris telah diputus oleh Pengadilan
Agama Selong, dimana terhadap Putusan tersebut telah
berkekuatan hukum tetap akan tetapi belum dilaksanakan
eksekusinya;
Permasalahan timbul karena pihak Tergugat dalam
perkara sengketa waris tersebut mengajukan gugatan
sebagai Penggugat kepada orang yang menguasai tanah/
obyek sengketa ke Pengadilan Negeri Selong dengan dasar
kepemilikan. Gugatan ke Pengadilan Negeri tersebut tanpa
sepengetahuan Penggugat dalam sengketa waris yang di
Pengadilan Agama Selong;
Selanjutnya dalam sengketa kepemilikan di Pengadilan
Negeri Selong dicapai suatu perdamaian diantara pihak-
pihaknya yang selanjutnya diikuti dengan penyerahan tanah
atau obyek sengketa kepada Penggugat (atau Tergugat
dalam sengketa waris di Pengadilan Agama);
Selanjutnya Penggugat (dalam perkara sengketa waris)
kemudian mengetahui adanya eksekusi penyerahan tanah
tersebut, kemudian ia mengajukan keberatan dengan
mengajukan perlawanan terhadap eksekusi penyerahan
tersebut ke Pengadilan Negeri Selong oleh Pengadilan
Negeri Selong Perlawanan tersebut ditolak dengan alasan
bahwa eksekusi atau penyerahan telah selesai dilakukan;
Ketua Pengadilan Negeri Selong meminta pendapat
Pengadilan Tinggi Mataram tentang permasalahan tersebut,
yang menurut Pengadilan Tinggi, putusan perdamaian
mempunyai kekuatan eksekutorial sama dengan putusan
yang telah berkekuatan hukum tetap dan telah selesai
dilaksanakan;
Upaya hukum terhadap eksekusi yang telah selesai
dilakukan adalah dengan mengajukan gugatan bukan

23
dengan perlawanan. Hal ini berkesesuaian dengan putusan
Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa upaya hukum
terhadap eksekusi yang telah selesai dilaksanakan adalah
dengan mengajukan gugatan baru, bukan dengan
Perlawanan;
Namun apabila kemudian Pengadilan Agama Selong
ingin melaksanakan putusan sengketa waris dengan alasan
bahwa Putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap,
akan berlawanan dengan putusan perdamaian dari
Pengadilan Negeri Selong yang justru telah selesai
dilaksanakan eksekusi penyerahannya;
Kemungkinan upaya hukum lain adalah dengan
mengajukan peninjauan kembali karena adanya 2 putusan
yang saling bertentangan, akan tetapi dalam hal ini siapa
yang harus mengajukan peninjauan kembali, apalagi
kemudian terhalang dengan adanya tenggang waktu
mengajukan peninjauan kembali yang telah lebih dari 6
bulan, sedangkan permohonan peninjauan kembali itu sendiri
juga memerlukan proses waktu yang lama;

Pendapat Pengadilan Tin g g i:


- Upaya hukum yang paling singkat adalah dengan
mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Selong
sekaligus mohon putusan yang bersifat serta merta ;
Jawaban :
1. Setuju dengan pendapat Pengadilan Tinggi, apabila
pihak yang menguasai tanah tersebut adalah pihak lain
yang tidak masuk dalam perkara di Pengadilan Agama.
Tetapi apabila pihak yang menguasai tanah sengketa
tersebut merupakan pihak didalam perkara di
Pengadilan Agama, maka Pengadilan Agama
berwenang untuk melaksanakan putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap tersebut.

Permasalahan :
Dalam suatu sengketa waris yang para pihaknya semua
beragama Islam, diajukan ke pengadilan negeri. Oleh Hakim
Pengadilan Negeri tanpa adanya eksepsi dan Tergugat
langsung mengeluarkan putusan sela yang menyatakan
dirinya tidak berwenang, karena masa sengketa waris adalah
merupakan kewenangan Pengadilan Agama;

Pendapat Pengadilan Tinggi:


- Putusan Pengadilan Negeri adalah keliru, karena
meskipun para pihaknya beragama Islam, para pihak
masih dapat untuk melakukan pilihan hukum ke
pengadilan mana ia akan mengajukan gugatan, karena
dengan dibentuknya Undang-Undang Peradilan Agama,
tidak berarti sekaligus mancabut kewenangan
Pengadilan Negeri untuk menyelesaikan sengketa yang
para pihaknya beragama Islam yang menyatakan pilihan
untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri;

Selanjutnya Kami mohon pendapat dari Mahkamah Agung


terhadap permasalahan tersebut.

Jawaban :
2. Dengan berlakunya Undang-undang No. 3 tahun 2006,
maka gugatan tentang waris mal waris antar orang yang
beragama Islam, merupakan kompetensi absolut dari
Pengadilan Agama. Tidak ada lagi pilihan hukum
sebagaimana yang dianut oleh Undang-undang No. 7
Tahun 1997.

7. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI JAWA TIMUR

1. PENGADILAN NEGERI NGAWI


1. Dalam perkara gugatan pada hari persidangan yang
telah ditetapkan pihak Penggugat hadir sedangkan pihak
Tergugat tidak hadir dan tidak menyuruh
wakilnya/kuasanya untuk hadir dalam persidangan baik
pada sidang pertama maupun sidang kedua, untuk ini
kita tahu bahwa gugatan bisa dijatuhkan dengan
putusan verstek. Namun dalam praktek seringkali
Majelis Hakim menemui kendala apabila Tergugat pada
hari sidang pertama hadir namun pada hari sidang

25
berikutnya dan seterusnya Tergugat tetap tidak hadir
dan tidak menyuruh wakilnya/kuasanya untuk hadir di
persidangan dan ketidak hadirannya tidak disertai
alasan yang sah sedangkan relaas panggilan/
pemberitahuan telah dilaksanakan sesuai undang-
undang.
Menghadapi hal seperti ini Majelis Hakim harus bersikap
bagaimana?

Jawaban :
1. Apabila Tergugat pernah hadir namun kemudian
tidak pernah hadir lagi maka perkara diperiksa terus
dan diputus dengan kontradiktoir, bukan dengan
verstek;

Mengenai upaya mediasi dalam perkara perdata, kedua


belah pihak (Penggugat dan Tergugat) telah menghadap
kepada Hakim Mediator yang ditunjuk oleh Hakim Ketua
Majelis, dan pada saat menghadap Hakim Mediator,
kedua belah pihak sepakat akan menempuh jalan damai
dan sepakat akan bertemu kembali dengan Hakim
Mediator pada hari dan tanggal yang telah disepakati
untuk membicarakan hasil dan upaya perdamaiannya.
Namun pada hari dan tanggal yang telah disepakati
untuk bertemu kembali tersebut salah satu pihak tidak
ada datang menghadap kepada Hakim Mediator,
sedangkan Hakim Mediator dibatasi waktu 30 hari untuk
mediasinya.
Menghadapi hal seperti ini bagaimana sikap Hakim
Mediator maupun Majelis Hakimnya?

Jawaban :

2. Apabila salah satu pihak tidak lagi menghadap


untuk melakukan mediasi, maka apabila jangka
waktu mediasi telah habis, perkara diserahkan
kembali ke majelis dengan membuat keterangan
mediasi tidak berhasil;
3. Dalam hal permintaan bantuan panggilan/pemberi-
tahuan hari sidang kepada para pihak/kuasa hukum
para pihak yang domisilinya berada di wilayah hukum
pengadilan negeri lain, dalam praktek seringkali
memakan waktu lama dan relaas panggilan/
pemberitahuannya tidak kunjung datang, padahal
penyelesaian sidang perkara perdata dibatasi oleh
waktu.
Menghadapi hal yang demikian Majelis Hakim yang
menangani perkara tersebut atau Pengadilan Negeri
Ngawi harus bersikap bagaimana?

Jawaban :
3. Lihat jawaban atas pertanyaan dari pengadilan
Negeri Bukit Tinggi No. 1.

2. PENGADILAN NEGERI MADIUN :


Permasalahan :
1. Dalam hal ada eksepsi kewenangan absolut, kapan
putusan sela tersebut harus diputus, sebelum replik -
duplik atau sesudah ?
2. Apabila Tergugat sakit tetapi tidak bersedia memberikan
kuasa dan dalam relaas 3 kali panggilan ia
membubuhkan tanda-tangannya, bagaimana sikap
hakim menghadapi hal seperti itu ?
3. Permohonan diajukan oleh seseorang dengan alasan
Pemohon telah membeli kendaraan yang masih dalam
status kredit. Pihak leasing sudah mengetahui hal
tersebut tetapi karena masih ada kewajiban beberapa
kali angsuran sehingga belum dapat dilakukan balik-
nama. Setelah angsuan lunas, Pemohon bermaksud
hendak mengambil BPKB di perusahaan leasing
tersebut tetapi ditolak dengan alasan yang mengambil
harus orang yang namanya tercantum dalam BPKB,
sedangkan orang dimaksud sudah tidak diketahui lagi

27
tempat tinggalnya dan karena itu Pemohon mengajukan
permohonan ke pengadilan negeri.
Apakah Pemohon harus mengajukan dalam bentuk
permohonan atau gugatan ?

Jawaban :
1. Eksepsi terhadap kompetensi harus diputus terlebih
dahulu sesudah jawab menjawab.
2. Apabila ternyata Tergugat tidak hadir karena sakit
dan tidak memberi kuasa kepada pihak lain, maka
majelis hakim harus menunggu sampai tergugat
tersebut sembuh atau sampai ia menunjuk
kuasanya.
3. Harus dengan gugatan, karena ada kepentingan
orang lain yang harus didengar.

PENGADILAN NEGERI PAMEKASAN


Permasalahan :
Dalam putusan perdata yang telah berkekuatan hukum
tetap dinyatakan bahwa sebidang tanah beserta bangunan di
atasnya (gudang dan rumah) dinyatakan sebagai jaminan
hutang dari Tergugat pada Pengugat dan sebelumnya telah
diletakkan sita jaminan.
Ada waktu penyitaan ditemui hambatan karena
penghuni rumah dalam keadaan sakit lumpuh merasa
keberatan karena obyek sengketa adalah hak miliknya
dengan sertifikat hak milik atas nama orang yang tidak ikut
digugat.
Pada waktu gugatan diajukan, Penggugat memang
mengajukan bukti berupa sertifikat tersebut tetapi tidak ada
aslinya. Penyitaan tetap berjalan dan tidak ada perlawanan
atau intervensi, dan perkara diputus dengan menyatakan
tanah beserta bangunan di atasnya merupakan jaminan
hutang Tergugat kepada Penggugat. Putusan tersebut
dikuatkan oleh pengadilan tinggi dan karena tidak diajukan
upaya hukum kasasi, maka menjadi berkekuatan hukum
tetap.
Penggugat mengajukan permohonan eksekusi dan
setelah obyek sengketa dilelang, pemenang lelang
mengajukan permohonan eksekusi.
Pada waktu eksekusi dilaksanakan, penghuni rumah tidak
bersedia keluar dan akhirnya mengajukan gugatan terhadap
pemenang lelang, Penggugat dan Tergugat dalam perkara
sebelumnya.
Bagaimana jalan keluarnya ?

Jawaban :
Ini adalah akibat proses yang salah, seharusnya sita jaminan
tersebut tidak bisa dilakukan apabila ternyata tanah tersebut
bukan milik Tergugat, akibatnya perkara ini menjadi
complicated. Dianjurkan agar pemilik rumah tersebut
mengajukan bantahan eksekusi.

4. PENGADILAN NEGERI PONOROGO :

Permasalahan :

1. Terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap,


Pemohon eksekusi telah membayar biaya eksekusi
tetapi setelah eksekusi dilaksanakan, dalam tahapan
aanmaning dan sita eksekusi Pemohon eksekusi
menghentikan eksekusi dengan alasan putusannya tidak
sesuai dengan apa yang diinginkan sehingga tidak
bersedia menambah biaya eksekusi dan tidak bersedia
memenuhi panggilan.
Mohon penjelasan !
2. Sisa panjar biaya eksekusi atas eksekusi yang tidak jadi
dilaksanakan, bagaimana cara mengambilnya apabila
pemohon eksekusi tidak mau mengambil sisa panjar
tersebut ?

Jawaban :
1. Apabila eksekusi tidak bisa berjalan karena tidak
ada biaya, tunggu sampai ada biaya tersebut.

29
Eksekusi adalah untuk kepentingan pemohon,
apabila yang bersangkutan tidak lagi serius dengan
eksekusi tersebut, pengadilan tidak bisa berbuat
apa-apa.
2. Surati agar yang bersangkutan mengambilnya, bila
tidak disimpan saja di kas pengadilan.

5. PENGADILAN NEGERI WONOGIRI


Permasalahan :
1. Tindakan apa yang harus diambil oleh Ketua Pengadilan
Negeri apabila dalam putusan pengadilan tinggi tidak
tercantum amar pengangkatan sita dan setelah para
pihak menerima putusan pengadilan tinggi tersebut,
Tergugat mengajukan permohonan sita.
2. Putusan apa yang harus dijatuhkan oleh hakim apabila
terhadap putusan verstek Tergugat mengajukan verzet
dan dalam persidangan perkara verzet tersebut
Penggugat asal/Terlawan tidak pernah hadir ?
Jawaban :
1. Pengangkatan sita dapat dilakukan pada putusan
akhir, namun apabila lupa maka dapat diajukan
tersendiri;
2. Penggugat yang tidak pernah hadir lagi setelah
diajukan perlawanan, maka Penggugat dianggap
tidak dapat membuktikan dalilnya.

6. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MANADO


1. Penggugat dalam gugatannya telah menyebut dengan
jelas alamat para Tergugat semuanya dalam wilayah
hukum dari Pengadilan Negeri di mana perkara tersebut
diajukan.
Permasalahan :
Dari relaas panggilan ternyata sejak panggilan I ada
salah satu Tergugat sudah pindah tempat tinggal ke
daerah lain (keterangan Lurah).

30
Panggilan ke II tetap dialamatkan sebagaimana
tersebut dalam surat gugatan (keterangan Lurah
tetap sama yang bersangkutan pindah tempat
tinggal ke daerah lain).
Sampai perkara diputus Tergugat tersebut tidak
pernah hadir.

Penyelesaian/jawaban Pengadilan T in g g i:
1. Karena pada panggilan I telah diketahui Tergugat
tersebut telah pindah tempat tinggal maka
seharusnya Majelis mengarahkan Penggugat untuk
memperbaiki surat gugatannya dengan
menyesuaikan alamat / tempat tinggal Tergugat
tersebut supaya dilakukan panggilan pada alamat
yang benar.

Pendapat Mahkamah Agung :


1. Setuju dengan pendapat saudara / pendapat
Pengadilan Tinggi.

2. Panggilan yang dijalankan Jurusita pada pihak yang


berperkara adalah untuk menghadiri persidangan pada hari
yang ditentukan dengan jelas dalam relaas panggilan
sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Majelis.

Permasalahan :
Dalam berkas perkara ternyata tidak ada Berita Acara
Persidangan untuk hari dan tanggal sebagaimana dimaksud
dalam relaas panggilan tersebut.

Penyelesaian/jawaban Pengadilan T in g g i:
2. - Jurusita harus dikontrol dalam menjalankan
panggilan hanya jika diperintahkan oleh Majelis
Hakim.
- Majelis Hakim harus mengontrol relaas panggilan
setiap kali panggilan tersebut dijalankan untuk
mengetahui apakah telah dilakukan dengan benar
dan patut.

31
Pendapat Mahkamah Agung :
2. Setuju dengan pendapat saudara / pendapat Pengadilan
Tinggi.

3. Perkara banding dari Pengadilan Negeri Manado terhadap


putusan verstek.
Permasalahan :
Menurut hukum acara Pasal 153 RBG, upaya hukum
terhadap putusan verstek adalah verzet bukan banding.

Penyelesaian / jawaban Pengadilan T in g g i:


3. Majelis Pengadilan Tinggi Manado memeriksa dan
memutus perkara dinyatakan “tidak dapat diterima”.

Pendapat Mahkamah Agung :


3. Tetapi apabila perkara tersebut diputus untuk yang
kedua kalinya maka upaya hukumnya adalah banding;

4. Pengadilan Negeri Bitung sudah mencoba sistem


persidangan yang cepat melalui komputer.

Permasalahan :
Para pihak dengan mudah mendapat copy putusan / Berita
Acara perkara yang bersangkutan.

Penyelesaian / jawaban Pengadilan T in g g i:


4. Disarankan masalah berita acara melalui komputer tidak
bisa dikeluarkan sebelum putusan dibacakan dan tidak
bisa diberikan kepada para pihak yang berperkara.

Pendapat Mahkamah A gung:


4. Apabila sudah melalui sistem komputer yang bisa
diakses, maka tidak mungkin mencegah untuk diakses
sebelum diputus.

DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI JAMBI

1. Pertanyaan :
Apakah putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 8 Desember
2004 yang telah dimuat dalam Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia Nomor 103 tanggal 24 Desember 2004
memiliki kekuatan hukum mengikat terhadap Pasal 31
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
Jawaban :
1. Menurut saudara bagaimana ?

2. Pertanyaan :
Sejak kapan penghitungan tenggang waktu pengajuan kasasi
terhadap Pemohon Kasasi perkara prodeo yang dikabulkan
oleh Mahkamah Agung RI ? Apakah sejak diberitahukan
penetapan Pengadilan Tinggi atau sejak diberitahukan
penetapan permohonan prodeo yang dikabulkan oleh
Mahkamah Agung RI ?
Jawaban :
2. Dihitung sejak pemberitahuan penetapan prodeo dari
Mahkamah Agung.

3. Pertanyaan :
Apakah Kepala Desa yang digugat karena jabatannya dapat
memberi kuasa kepada Kepala Bagian Hukum Pemerintah
Daerah setempat, karena Kepala Desa bukan Pegawai
Negeri Sipil.
Jawaban :
3. Kepala Desa adalah aparat Pemda, sehingga dapat saja
menguasakannya kepada bagian hukum Pemda.

4. Pertanyaan :
Apakah boleh seorang Tergugat yang berada dalam tahanan
Lembaga Pemasyarakatan hadir di muka persidangan
sendiri ? Apakah boleh hakim perdata memberi penetapan
agar Tergugat sebagai narapidana menghadiri persidangan
dengan pengawalan oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan
setempat ?
Jawaban :
4. Boleh saja.

33
5. Pertanyaan :
Sejauh mana kewenangan Jaksa Pengacara Negara dalam
mewakili negara dalam persidangan perkara perdata ?

Jawaban :
5. Undang-undang memberi wewenang kepada Jaksa
untuk mewakili kepentingan pemerintah / negara di
muka peradilan perdata.

10. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI SEMARANG

1). Pengadilan Negeri Pati


1. Apakah dalam suatu perkara perdata yang semula
pihak-pihak setelah dijatuhkan putusan, kedua belah
pihak yang berperkara sama-sama menerima putusan,
akan tetapi sebelum dalam tenggang waktu 14 (empat
belas) hari berakhir, salah satu pihak mengajukan
pernyataan banding, kalau dalam perkara pidana telah
jelas dalam undang-undang.

Pertanyaan :
Bagaimana sikap Panitera / Ketua Pengadilan Negeri
menghadapi permasalahan tersebut ?

Jawaban :
1. Jangka waktu 14 hari yang ditetapkan untuk
banding adalah jangka waktu maksimal untuk
berpikir. Apabila kedua-belah pihak telah
menyatakan menerima putusan dan telah dibuatkan
akta atau dicatat dalam berita acara, maka saat itu
putusan menjadi berkekuatan hukum tetap.
Pasal 329 Rv menentukan bahwa pihak yang telah
menyatakan menerima putusan tidak dapat lagi
mengajukan banding.

2. Suatu obyek tanah yang telah dibebani hak tangungan


dan telah bersertifikat hak tanggungan, kemudian ada
beberapa gugatan dengan nomor perkara yang

34
berbeda-beda masuk di pengadilan negeri, dengan
pihak Tergugat yang sama sebagai pemilik barang yang
dibebani hak tanggungan, dan semua gugatan tersebut
masing-masing disertai permohonan sita jaminan,
karena para Penggugat mengharapkan jika agunan hak
tanggungan dieksekusi masih ada sisa uang setelah
pelunasan hutang terhadap Bank Niaga tidak jatuh /
dikembalikan kepada Tergugat / Termohon eksekusi
selaku pemilik jaminan tersebut.
Kemudian Majelis Hakim mengabulkan sita jaminan,
dengan mengabulkan sita persamaan, karena obyek
sengketa telah diagunkan pada salah satu bank.

Pertanyaan :
Apakah tindakan Majelis Hakim tersebut tidak menyalahi
aturan ? Apabila tindakan tersebut tidak tepat, apa yang
harus dilaksanakan Ketua Pengadilan Negeri jika
dimohonkan eksekusi melalui Pengadilan Negeri ?

Jawaban :
2. Tindakan peletakan sita persamaan tersebut sudah
benar.

2). Pengadilan Negeri Magelang

Topik dan permasalahan diskusi:


Dalam perkara gugatan perceraian yang oleh Tergugat
diajukan gugatan rekonvensi pembagian harta gono-gini.
Telah terdapat Yurisprudensi MARI Nomor 913 K/Pdt/1982,
tanggal 21 Mei 1982 : “Gugatan yang petilumnya tuntutan
perceraian tidak dapat ditambah dengan tuntutan harta
bersama”.

Kesimpulan :
1. Hakim Pengadilan Negeri Magelang berpendapat bahwa
gugatan perceraian harus dipisahkan dengan gugatan
gono-gini (harta bersama) karena hukum acaranya
berbeda.

35
2. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Magelang, dalam
suatu perkara gugatan perceraian di mana kuasa hukum
Tergugat telah mengajukan gugatan rekonvensi gono-
gini (harta bersama), telah menjatuhkan putusan pada
pokoknya:
Dalam Konvensi : perceraian dikabulkan (gugatan
dikabulkan sebagian).
Dalam Rekonvensi : gugatan dinyatakan “tidak
dapat diterima”

Pertanyaan :
Apakah putusan Majelis Hakim tersebut sudah tepat ?
Bagaimana apabila dikaitkan dengan asas berperkara
sederhana, cepat dan biaya murah. Mohon petunjuk
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung RI I

Jawaban :
2. Dalam Buku II tentang Pedoman Administrasi
Pengadilan, petunjuk yang diberikan adalah sama
dengan kesimpulan Hakim Pengadilan Negeri Magelang
tersebut, namun ada juga beberapa Hakim yang
menggabungkan kedua masalah tersebut.
Di Pengadilan Agama hal seperti itu memang
diperkenankan.

3). Pengadilan Negeri Batang


Permasalahan dalam Eksekusi Pengosongan :
Dalam eksekusi pengosongan terjadi permasalahan yakni
mengenai barang-barang bergerak milik Termohon eksekusi
yang dikeluarkan dari rumah yang dikosongkan harus
ditempatkan di tempat yang layak dan aman. Dalam hal ini
dititipkan di Balai Desa atas kesepakatan dengan Kepala
Desa.

Permasalahan / pertanyaan :
Barang-barang yang ditaruh di Balai Desa tersebut siapa
yang harus mengamankan ?

36
Tanggungjawab siapa apabila barang-barang tersebut
ada yang rusak atau hilang ?
Sampai berapa lama barang-barang tersebut dapat
disimpan di Balai Desa ?
Apa tindakan pengadilan negeri, apabila barang-barang
yang ditaruh di Balai Desa tersebut tidak diambil oleh
pihak Termohon eksekusi?

Jawaban :
Tanggungjawab atas barang-barang yang telah
dikeluarkan dari rumah yang dikosongkan berada pada
pemilik barang (tereksekusi).

Permasalahan / Pertanyaan :
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan Notaris dan Undang-undang No. 18
Tahun 2003 tentang Advokat/Pengacara, Notaris tidak
menyerahkan laporan bulanan dan apabila ada Notaris baru
ataupun pindah tidak melapor ke Pengadilan Negeri,
demikian pula dengan Advokat/Pengacara, sehingga
Kepaniteraan Hukum Pengadilan Negeri kesulitan menyusun
laporan bulanan tentang advokat dan notaris tersebut.
Apakah laporan tentang notaris dan advokat tersebut masih
diperlukan?

Jawaban :
Pengawasan notaris dan advokat tidak lagi berada di
bawah pengadilan, karena pasal mengenai hal tersebut
dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004 telah
dicabut oleh Mahkamah Konstitusi.
Sehingga laporan tersebut tidak diperlukan lagi.

4). Pengadilan Negeri Kebumen


Permasalahan / pertanyaan :
Panjar biaya perkara kasasi / PK khususnya, masih
berpedoman pada Penetapan Pengadilan Negeri Kebumen
yang lama, setelah kasasi / PK turun dan dicek dalam buku
jurnal ternyata sisa panjar biaya perkara tidak mencukupi,

37
sehingga untuk memberitahukan isi putusan kepada para
pihak tidak bisa dijalankan, setelah pengiriman tagihan
kekurangan panjar biaya perkara kepada para pemohon
kasasi / PK sudah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali, namun
para pihak / pemohon tetap tidak mau menambah panjar
biaya perkara, sheingga permintaan Mahkamah Agung untuk
dapat mengirimkan relaas pemberitahuan kasasi / PK
tersebut tidak dapat dipenuhi.
Mohon petunjuk.

Jawaban :
Agar hal tersebut diputuskan sendiri oleh Ketua Pengadilan
Negeri dan dikoordinasikan dengan Panitera.

Permasalahan / Pertanyaan :
Permohonan bantuan pemberitahuan / panggilan sidang
kepada para pihak yang berperkara yang melalui pengadilan
negeri lain seringkah memakan waktu yang cukup lama,
sehingga menghambat / memperlambat jalannya suatu
perkara .
Mohon petunjuk bagaimana jalan keluarnya ?

Jawaban :
(Lihat jawaban atas pertanyaan PN Bukittinggi).

Permintaan bantuan ke pengadilan negeri lain (delegasi)


yang sudah berkali-kali diminta namun tidak dipenuhi, maka
seharusnya Ketua Pengadilan Tinggi wilayah pemberi
delegasi mengirim surat kepada Ketua Pengadilan Tinggi
wilayah penerima delegasi agar Ketua Pengadilan Tinggi
tersebut memerintahkan pengadilan negeri yang dimintai
delegasi untuk segera memenuhi permintaan pengadilan
negeri pemberi delegasi.
Apabila cara ini belum berhasil, laporkan ke Mahkamah
Agung.
5). Pengadilan Negeri Pekalongan
Permasalahan som asi:
Keinginan dan tuntutan keadilan masyarakat menghendaki
agar lembaga somasi tetap dihidupkan kembali.
Saran : Apabila dihapuskan supaya diatur secara konkrit
dengan Surat Edaran MARI.

Jawaban :
Tunggu petunjuk tertulis dari Mahkamah Agung dalam Buku
II.

Permasalahan arsip notaris:


Bagaimana menyikapi penyimpanan arsip-arsip notaris yang
hingga saat ini masih berada / dikirim ke pengadilan negeri,
sedangkan pengadilan negeri sudah buka lagi sebagai
pengawas notaris.

Jawaban :
Arsip-arsip notaris hendaknya diserahkan kepada pihak yang
berwe-nang mengawasi notaris yaitu Kanwil Departemen
Hukum dan HAM.

Permasalahan :
Pelaksanaan eksekusi putusan perdata banyak mengalami
hambatan dari tereksekusi dan simpatisannya yang
mengakibatkan eksekusi tidak terlaksana/tertunda. Untuk itu
disarankan untuk mengoptimalisasikan pelaksanaan ekse­
kusi perlu ada memorandum o f understanding (MOU) antara
MARI, Kapolri dan Mendagri.

Jawaban :
Tidak perlu ada MOU, karena tugas dari POLRI antara lain
membantu pengadilan dalam hal pengamanan pelaksanaan
eksekusi.

39
6) . Pengadilan Negeri Kendal

Permasalahan :
Tentang permasalahan permohonan perwalian sehubungan
dengan persyaratan pendaftaran anggota TNI.
1. Pengadilan mana yang berwenang ? Di tempat tinggal
wali atau di tempat tinggal anak ?
2. Pada dasarnya perwalian dibutuhkan apabila perka­
winan orang tua anak yang bersangkutan sudah diputus.
Apakah dibenarkan apabila pengadilan negeri
mengabulkan permohonan perwalian anak tersebut jika
perkawian orang tuanya belum putus ?
3. Apakah dapat dibenarkan Ketua pengadilan negeri
memberikan pengesahan atas surat keterangan
perwalian yang sudah dibuat oleh orang tua kandung
anak tersebut yang sudah diketahui oleh Kades dan
Camat setempat ?

Jawaban :
1. Permohonan perwalian diajukan di tempat tinggal anak
yang akan diajukan perwaliannya.
2. Perwalian dapat dilakukan apabila :
a. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia .
b. Kedua orang tuanya dicabut kekuasaannya sebagai
orang tua.
3. Perwalian harus diajukan sebagai perkara Permohonan.
Surat dari Kepala Desa dapat menjadi bukti untuk
memperkuat permohonannya.

7) . Pengadilan Negeri Blora


Permasalahan :
Terdapat berkas perkara register tahun 1968 yang
diketemukan pada tahun 1990 karena ada permintaan
eksekusi dari Penggugat yang menang. Keadaan berkas
tersebut belum diminutasi akan tetapi masih dalam keadaan
lengkap dan ada pernyataan banding dari Tergugat dan
catatan amar putusan yang ditandatangani oleh Panitera
Pengganti. Panitera Penggantinya sudah pensiun lalu
dipanggil untuk menyelesaikan berkas yang belum diminutasi
tersebut, kendalanya ketika akan minta tanda tangan Hakim
yang memutus telah meninggal dunia, sehingga untuk
kelengkapan akan dikirim ke pengadilan tinggi baik berita
acara maupun putusan ditandatangani oleh Ketua
Pengadilan Negeri Blora yang menjabat saat diketemukan
berkas perkara pada tahun 1990.

Pertanyaan :
Apakah surat keterangan amar putusan yang hanya
ditandatangani oleh panitera pengganti dapat berlaku seperti
halnya salinan resmi putusan pengadilan negeri ?

Jawaban :
Karena putusan sudah ditandatangani oleh Ketua Pengadilan
Negeri berarti putusan tersebut sudah benar.

8). Pengadilan Negeri Pemalang

Permasalahan :
Telah terdapat penetapan sita jaminan oleh Majelis Hakim
terhadap obyek sengketa berupa tanah dan telah ada
pemberitahuan secara lisan kepada Kantor Pertanahan
sesuai pertanyaan Kepala Kantor Pertanahan tersebut, akan
tetapi Kepala Kantor Pertanahan telah melakukan balik nama
ke pihak ke-tiga dengan dasar surat panitera yang
mengatasnamakan Ketua Pengadilan Negeri bahwa tanah
telah beralih ke pihak ke-tiga sehingga tidak bisa diletakkan
sita jaminan atas obyek sengketa tersebut, dan melampirkan
berita acara pelaksanaan tidak bisa sita tersebut.

Pertanyaan :
1. Apakah panitera yang mengatas namakan Ketua
Pengadilan Negeri bisa menyatakan "tidak bisa disita"
dengan dalih telah beralih haknya kepada pihak ke-tiga
dikarenakan telah dibalik nama atas obyek sengketa
tersebut ?

41
2. Apakah Kantor Pertanahan Kabupaten tersebut "bisa"
diperkenankan melakukan balik nama pada pihak ke­
tiga, sementara pengadilan negeri telah memberitahu­
kan secara lisan kepada Kantor Pertanahan Kabupaten
yang ditindak-lanjuti dengan surat panitera yang salah
tersebut ?

Jawaban :
1. Panitera tidak berwenang.
2. Pemberitahuan lisan tersebut secara yuridis tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

9). Pengadilan Negeri Jepara


Permasalahan :
1. Dalam hal perkara sudah diputus dalam tingkat kasasi
dan telah dieksekusi, kemudian dalam peninjauan
kembali (PK) ternyata putusan PK nya bertentangan
dengan putusan yang dieksekusi. Apakah terhadap
obyek sengketa yang telah dieksekusi tersebut dapat
dieksekusi kembali berdasarkan putusan PK ?
2. Dalam hal pengangkatan anak WNI oleh orang tua
tunggal WNI, diantaranya disyaratkan adanya izin dari
Menteri Sosial, mengingat tidak mudahnya memperoleh
izin dari menteri yang dimaksud, apakah dapat izin
mengangkat anak dari Menteri Sosial tersebut diganti
dengan izin dari pemerintah daerah yang menangani
masalah-masalah kependudukan dan sosial ?
3. Apakah terhadap grosse / sretifikat hak tanggungan atas
kredit bank yang macet yang berirah-irah "Demi
Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa"
yang dimohonkan eksekusi melalui pengadilan negeri
dapat dengan serta merta untuk dilaksanakan ?
Sedangkan terhadap obyek yang sama ternyata oleh
pihak ke-tiga dimintakan sita jaminan atas hutang
debitur dalam perkara gugatan yang telah berkekuatan
hukum tetap, yang mana pihak Tergugat tidak pernah
hadir di persidangan, kemudian diputus dengan verstek
dan sita jaminan yang dimaksud dinyatakan sah dan
berharga.
Dalam hal ini Pengadilan Negeri Jepara telah
menyarankan kepada Pemohon eksekusi / bank agar
diajukan gugatan terhadap pihak-pihak yang terkait, dan
pihak Pengadilan Negeri Jepara tidak bersedia
melaksanakan eksekusi grose akta tersebut.
4. Apakah dapat dilaksanakan eksekusi secara prodeo
(bebas biaya) terhadap permohonan eksekusi yang
dimohonkan secara prodeo (bebas biaya)? Mengingat
perkara gugatan dimaksud telah diputus pula dengan
prodeo ?

Jawaban :
1. Apabila barang obyek sengketa tersebut masih berada
di tangan Penggugat (Pemohon eksekusi) dalam
perkara lama, maka pengadilan negeri dapat melakukan
eksekusi pemulihan hak. Ini hanya berlaku dalam hal
eksekusi riil.
2. Jangan merubah ketentuan undang-undang.
3. Terhadap barang yang dibebani hak tanggungan tidak
dapat diletakkan sita jaminan. Hak tanggungan
merupakan hak prioritas, sehingga dapat dieksekusi
berdasarkan pasal 224 HIR.
4. Pihak yang berperkara secara prodeo adalah pihak yang
telah ditetapkan oleh KPN untuk berperkara secara
prodeo. Apabila yang bersangkutan menang maka biaya
perkara dibebankan kepada pihak yang kalah.
Termasuk Biaya perkara adalah biaya eksekusi (lihat
HIR).

10). Pengadilan Negeri Brebes


Permasalahan :
Telah terdaftar perkara perdata tentang sengketa tanah
dengan No. 22/Pdt.G/2000/PN.Bbs. dalam perjalanan
pemeriksaan persidangan obyek sengketa tersebut pada
tanggal 15 April 2000 dijual.

43
Pada tanggal 30 Oktober 2000 gugatan dalam perkara
No.22/Pdt.G/2000/PN.Bbs tersebut dicabut, namun
kemudian pada tanggal 8 Maret 2001 diajukan lagi dan
mendapat Nom or: 6/Pdt.G/2001/PN.Bbs.
Dalam perjalanan di persidangan telah diterbitkan
sertifikat atas tanah sengketa tersebut pada tanggal 11
Mei 2001, dan telah diajukan sebagai alat bukti dengan
tanda T ill- IV. 1.
Pada tanggal 5 September 2001 telah diletakkan sita
jaminan atas tanah tersebut, pada tanggal 26
September 2001 perkara diputus yang amarnya antara
lain menyatakan Akta jual beli tanggal 15 April 2000
adalah cacat hukum sehingga tidak mempunyai
kekuatan hukum, dalam permohonan banding oleh
Pengadilan Tinggi putusan Pengadilan Negeri tersebut
telah dikuatkan dan dalam tingkat kasasi permohonan
kasasinya ditolak.
Setelah akan dilaksanakan eksekusi pihak Termohon
eksekusi mengajukan verzet / perlawanan dengan alasa
sertifikat tidak dibatalkan padahal sertifikat tersebut
dijadikan sebagai alat bukti dan bahkan sekarang telah
dijaminkan di salah satu bank.
Mohon petunjuk untuk diberikan solusi untuk
pelaksanaan eksekusi.

Jawaban :
Yang menjadi pertanyaan adalah apa sebab tanah yang
disita dapat menjadi hak tanggungan (digadaikan di bank) ?
Apabila sita jaminan tersebut terdaftar di BPN, maka berarti
hak tanggungan tersebut batal. Akan tetapi kalau sita
jaminan tersebut tidak terdaftar di BPN maka hak
tanggungan tersebut adalah sah.

11). Pengadilan Negeri Purbalingga

Permasalahan :
Pemeriksaan perkara perdata yang pihak para Penggugatnya
berdo-misili di luar wilayah hukum pengadilan negeri yang
bersangkutan, pada saat sidang dimulai relaas panggilan
delegasi dari pengadilan negeri tempat domisili Penggugat
belum diterima, padahal Majelis Hakim telah memberikan
waktu yang cukup (dua minggu) sebelum sidang dimulai.
Bagaimana Majelis Hakim menyikapi hal tersebut ?

Jawaban :
Diusahakan dipanggil lagi dengan jangka waktu yang cukup.

12). Pengadilan Negeri Cilacap

Permasalahan A :
Dalam perkara perdata Nomor 58/Pdt.G/1998/PN.CIp
antara MARTIJAH dkk. melawan GANONG WIJAYA,
amar putusan PN Cilacap adalah menolak gugatan
seluruhnya.
Dalam tingkat banding putusan tersebut dibatalkan oleh
putusan No.367/Pdt/PT.Smg, yang pada pokoknya
putusan PN. Cilacap tersebut dibatalkan, gugatan
dikabulkan sebagian dan menghukum Tergugat untuk
membagi obyek sengketa kepada segenap 8 orang ahli
warisnya.
Putusan tersebut diakukan kasasi dan berdasarkan
putusan No. 1708 K/Pdt/1990, permohonan kasasi
ditolak.
Selanjutnya diajukan PK dan berdasarkan putusan
Mahkamah Agung No.204 PK/Pdt/1999. permohonan
PK tersebut ditolak.
Atas putusan yang telah BHT tersebut diajukan
permohonan eksekusi, akan tetapi sksekusi tidak bisa
dilanjutkan karena ada perlawanan terhadap putusan
tersebut yakni antara WASIS WIJAYA melawan
R.RADHA HAMBARA dkk.
Perkara perlawanan No. 01/Pdt.Plw/1998/PN.CIp
tersebut putusannya dalam konvensi pokok perkara :
Menyatakan bahwa putusan MARI Nomor 1708
K/PDT/1990 Jo. putusan No.367 /Pdt/PT.Smg, Jo.

45
Nomor 58/Pdt.G/1998/PN.CIp. adalah batal demi hukum.
Dan Menyatakan surat tegoran untuk melaksanakan
eksekusi tanggal 7 Maret 1998 No.02/Perm/Eks/Pdt/
1998/Pn.Clp Jo. Nomor 58/Pdt.G/1998/PN.CIp. adalah
batal demi hukum dan harus segera dicabut.
Dalam Rekonpensi : Menghukum kepada sekalian ahli
waris dalam (9 orang) dari RR.Surtinah untuk membagi
harta warisan tersebut secara adil dengan bagian yang
sama.
Atas putusan tersebut tidak diajukan upaya hukum
sehingga menjadi BHT. Selanjutnya diajukan eksekusi.
Dari dua putusan yang berbeda yang diajukan
permohonan eksekusi tersebut, putusan mana yang
harus dieksekusi ?

Jaw aban:
Putusan No.58/Pdt.G/1988 PN.CIcp. Jo. No. 1708 K/Pdt/
1990, mempunyai kekuatan eksekutorial, tetapi dimentahkan
oleh putusan 01/Pdt/Plw/1998/PN.CIp. walaupun putusan ini
menimbulkan tanda tanya.
Seharusnya putusan No.01/Pdt/Plw/1998/PN.CIp diajukan
upaya hukum.
Karena perkara (No.01/Pdt/Plw/1998/PN.CIp) telah berke­
kuatan hukum tetap dan semua upaya hukum telah tertutup
(banding, kasasi atau PK), maka putusannya dapat
dieksekusi.
Satu-satunya upaya yang dapat ditempuh oleh Martiyah
adalah apabila pihak Wasis Wijaya mengajukan eksekusi,
pihak Martiyah Cs. dapat mengajukan perlawanan.

Permasalahan B :
Pengadilan Negeri Cilacap telah menindak lanjuti
permohonan eksekusi atas putusan yang berkekuatan hukum
tetap dengan melakukan teguran, dalam tenggang waktu
teguran atau setelah lewat waktu teguran tetapi belum
diterbitkan penetapan eksekusi ternyata Termohon eksekusi
telah secara suka rela membayar uang sejumlah
Rp.40.980.000,- atas pembayaran tersebut prinsipal bersedia
menerima akan tetapi Penasihat Hukumnya tidak bersedia
menerima dengan alasan harga tanah sudah tidak sesuai /
tidak seimbang dan tetap meminta agar dilakukan
penyerahan tanah, padahal tidak ada amar condemnatoir
untuk menyerahkan tanah tersebut? Untuk sementara
pembayaran dititipkan dengan .konsignasi di Pengadilan
Negeri dan telah disimpan di BRI.
Mohon petunjuk solusinya .

Jawaban :
Ketua Pengadilan Negeri hanya berwenang untuk melaksa­
nakan putusan sesuai dengan diktum putusan. Langkah yang
diambil oleh saudara telah benar.

13). Pengadilan Negeri Boyolali

Permasalahan :
1. Perkara perdata kasasi yang tidak memenuhi syarat
formal (TMS) menurut PERMA No.1 Tahun 2001
perkara tidak dikirimkan ke MA. Panitera membuat
keterangan yangdiketahui Ketua Pengadilan Negeri dan
melaporkan ke MA.
2. Perkara perdata diputuskan oleh pengadilan negeri
dengan putusan serta merta, terhadap putusan tersebut
dengan izin dari Pengadilan Tinggi dilakukan lelang
eksekusi dan sudah diserahkan kepada pemenang
lelang. Dalam pemeriksaan banding putusan tersebut
dikuatkan oleh pengadilan tinggi, akan tetapi dalam
pemeriksaan kasasi MA putusan tersebut dibatalkan dan
gugatan dinyatakan tidak dapat diterima.
3. Bagaimana proses pembatalan penetapan pengang­
katan anak ?
4. Saat ini Hakim Pengadilan Negeri Boyolali belum ada
yang mengikuti pelatihan sebagai mediator dan hanya
ada 1 majelis sehingga tidak ada hakim yang dapat
ditunjuk sebagai mediator, apakah diperbolehkan
mengambil mediator dari pengadilan lain ?

47
Jawaban :
1. Diusahakan perkara yang tidak memenuhi syarat formil
diajukan kasasi, menurut Pasal 45 A Undang-undang
No.5 Tahun 2004, dinyatakan tidak dapat diterima
dengan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri dan berkas
perkara tidak perlu dikirim ke Mahkamah Agung.
Sejak ditetapkannya permohonan kasasi tidak dapat
diterima maka sejak tanggal tersebut perkara
berkekuatan hukum tetap dan dapat dieksekusi.
2. Ini adalah gambaran kesulitan yang diperoleh karena
eksekusi serta merta putusan sudah dilaksanakan,
ternyata putusan dibatalkan dalam tingkat kasasi,
karena barang telah dilelang, maka pihak pemenang
dalam tingkat kasasi dapat mengajukan gugatan ganti
rugi kepada pihak Penggugat.
3. Proses pembatalan penetapan pengangkatan anak
adalah dengan gugatan.
4. Lihat jawaban atas pertanyaan Pengadilan N egeri.....

11. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI PALEMBANG

Permasalahan :
Dalam praktek peradilan selama ini, dalam pemeriksaan
perlawanan {verzet) atas putusan verstek, dilakukan secara
berbeda-beda antara majelis Hakim yang satu dengan yang lain,
bahkan ada yang menyimpang dari peraturan perundangan yang
berlaku (HIR/RBG).
Dengan keadaan itu Pengadilan Tinggi Palembang berpendapat
bahwa dalam pemeriksaan perlawanan ( verzet) atas putusan
verstek dilakukan sebagai berikut:
Perlawanan ( verzet) atas putusan verstek didaftar tidak
sebagai perkara baru, tetapi memakai Nomor perkara semula
dengan kode verzet / Vzt, dan diperiksa oleh Majelis Hakim
yang memutuskan dengan verstek.
Setelah Pelawan (Tergugat semula) dan Terlawan (Tergugat
Semula) hadir, maka Majelis memeriksa Relaas
Pemberitahuan Putusan verstek, dengan meneliti:

48
1. Kepada siapa pemberitahuan putusan verstek tersebut
oleh jurusita, apakah langsung kepada Tergugat,
ataukah pihak lain ?
2. Meneliti tanggal pendaftaran verzet di pengadilan negeri.
3. Setelah meneliti kedua hal tersebutdapat disimpulkan
bahwa perlawanan (verzet) telah diajukan dalam
tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh Pasal 129
ayat (2) HIR / 152 ayat (2) RBg. Ataukah telah
melampaui tenggang waktu .
4. Apabila perlawanan ( verzet) telah diajukan dalam
tenggang waktu, maka secara formil perlawanan (ve/zet)
diterima dan langsung diputus dengan putusan (bukan
putusan sela).
Pelawan dinyatakan sebagai pelawan yang baik
dan benar.
Menerima perlawanan ( verzet) atau Pelawan.
Membatalkan putusan verstek No: ...., tanggal.....
Menghukum Terlawan membayar biaya perkara
sebesar........
5. Apabila secara formil perlawanan (verzet) diajukan telah
melampaui tenggang waktu maka amar putusan akan
berbunyi:
Menyatakan, bahwa perlawanan (verzet) terhadap
putusan Verstek tanggal.... Nomor ..., adalah tidak
tepat dan tidak beralasan.
Menyatakan oleh karena itu bahwa Pelawan adalah
pelawan yang tidak benar.
Mempertahankan putusan verstek tanggal....
Nom or....
Menghukum Pelawan (Tergugat semula) untuk
membayar biaya perkara.....

Jawaban / Pendapat Mahkamah Agung :


Setuju dengan pendapat No. 1 sampai dengan No.4.
Mengenai pendapat No.5 harus dilakukan dengan hati-
hati, karena perlawanan dapat diajukan hanya dalam
jangka waktu setelah putusan disampaikan kepada
pihak Tergugat, tetapi Tergugat masih dapat

49
mengajukan perlawanan tersebut sampai pada saat
akan diseksekusi apabila penyampaian putusan tidak
langsung kepada Tergugat.

12. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI BANGKA BELITUNG

I. Pengadilan Negeri Tanjungpandan


1. Dalam perkara perdata untuk memanggil para pihak
hadir dipersidangan pertama adalah dengan jelas
panggilan kepada para pihak yang dilaksanakan oleh
Juru Sita Pengadilan tersebut, namun apabila alamat
para pihak berada di luar wilayah hukum Pengadilan
yang memanggil maka akan memohon relaas bantuan
pemanggilan para pihak ke Pengadilan dimana domisili
pihak yang dipanggil. Permasalahannya di Pengadilan
Kami sering salah satu pihak berada di luar wilayah
hukum kami khususnya di daerah Jakarta, padahal
sebagaimana kita ketahui bersama Pengadilan Negeri
Jakarta adalah Pengadilan yang sibuk sehingga kami
memaklumi apabila relaas bantuan pemanggilan pihak
tersebut terlambat kembali kepada kami, sehingga hal
tersebut berbenturan dengan azas cepat, sederhana
dan biaya ringan dan ketentuan sama yang
mengharuskan suatu perkara diputus paling lama 6
bulan, bagaimana solusinya untuk mengatasi masalah
tersebut?

Jawaban :
1. Apabila relaas panggilan / pemberitahuan dari
pengadilan negeri yang diminta delegasi tidak
dihiraukan, maka hal tersebut dilaporkan kepada
Ketua Pengadilan Tinggi yang akan meminta
kepada Ketua Pengadilan Tinggi yang membawahi
pengadilan negeri penerima delegasi untuk
memerintahkan pengadilan negeri tersebut agar
melaksana-kan permintaan tersebut. Apabila tidak
berhasil, laporkan ke Mahkamah Agung, (lihat juga
jawaban atas pertanyaan dari PN Bukittinggi).

50
II. Pengadilan Negeri Sungailiat

1. Ada putusan pengadilan negeri yang menjatuhkan


putusan serta merta (uit voerbaar bij voorraad),
kemudian diminta pada Ketua Pengadilan Tinggi untuk
persetujuan pelaksanaan tersebut. Ketua Pengadilan
Tinggi menyetujui memberikan ijin untuk pelaksanaan
putusan tersebut, akan tetapi dalam proses peneguran
dalam waktu 8 (delapan) hari agar tereksekusi melaksa­
nakan putusan tersebut, tiba-tiba Majelis Pengadilan
Tinggi yang memeriksa perkara menjatuhkan putusan
yang isinya membatalkan putusan tersebut, dengan
pertimbangan hukum karena putusan pengadilan negeri
tersebut melebihi apa yang dituntut dalam petikan
gugatan oleh karena itu sesuai dengan Pasal 178 (3)
HIR/Pasal 189 RBG tidak dibenarkan atau dilarang dan
disamping itu menurut hakim pengadilan tinggi gugatan
penggugat kurang pihaknya sehingga perkara tersebut
di putus NO.

Pertanyaan :
Apakah putusan tersebut (uit voerbaar bit voorraad)
dapat diteruskan pelaksanaan eksekusinya yang nota
bane telah mendapat persetujuan dari Ketua Pengadilan
Tinggi tersebut atau ditangguhkan, mohon penjelasan
dengan dasar hukumnya baik jika di teruskan atau
ditangguhkan.

Jawaban :
1. Dalam kasus seperti itu, eksekusi putusan harus
dihentikan karena putusan serta merta tersebut
telah dibatalkan oleh pengadilan tinggi.

2. Gugatan perceraian yang digabungkan dengan


pembagian harta gono-gini dan pembayaran uang
nafkah menurut yurisprudensi tetap Mahkamah Agung
Republik Indonesia hal tersebut tidak diperkenankan
karena kedua persoalan tersebut beda hukum acaranya.

51
Pertanyaan :
Bagaimana kalau dalam proses persidangan antara
penggugat dengan tergugat sepakat saling setuju untuk
membagi langsung harta gono-gini tersebut dan juga
mengenai uang nafkah, apakah gugatan perceraian
yang digabungkan dengan pembagian harta gono-gini
(harta bersama) dan nafkah tersebut dapat dikabulkan
oleh hakim dalam suatu putusan, mohon penjelasan.

Jawaban :
2. Pada prinsipnya pemeriksaan atas gugatan
pembagian harta gono gini tidak dapat digabung
dengan pemeriksaan gugatan perceraian.

III. Pengadilan Negeri Pangkalpinang

Dalam perkara dengan acara gugatan perwakilan kelompok :


1. Bahwa sesuai dengan PERMA No. 1 Tahun 2002 Pasal
2 huruf c yang menyatakan bahwa wakil kelompok
mewakili kejujuran dan kesungguhan untuk melindungi
anggota kelompok yang diwakilinya. Bahwa oleh karena
hal tersebut persyaratan untuk mengajukan gugatan
perwakilan kelompok dan jika tergugat dalam
jawabannya membantah atau mendalilkan bahwa wakil
kelompok tidak memenuhi kejujuran dan kesungguhan
untuk melindungi anggota kelompok, bagaimana
pembuktiannya !
Catatan: Biasanya penggugat mendalilkan bahwa
wakil kelompok ditunggangi kepentingan
tertentu (yang lazim kepentingan politik).
2. Bahwa sesuai dengan Pasal 7 PERMA No. 1 Tahun
2002, yaitu pemberitahuan dilaksanakan setelah
mendapat persetujuan hakim;

Pertanyaan :
1. Siapakah yang akan berhubungan dengan media yang
akan membuat pemberitahuan ?
2. Siapakah yang akan melakukan pembayaran kepada
media yang akan melakukan pemberitahuan ?
3. Kalau pihak penggugat yang berhubungan dengan
media yang akan memuat pemberitahuan, apakah bukti
persetujuan akanmemuat tersebut diserahkan dahulu
kepada majelis hakim baru selanjutnya majelis hakim
membuat penetapan persetujuan?
4. Apakah biaya yang telah dibayarkan pihak penggugat
dalam pemberitahuan tersebut termasuk biaya perkara?

Jawaban :
1. Hal tersebut sepenuhnya merupakan penilaian hakim
yang berada dalam kompetensi hakim yang memeriksa.
2. No. 1 s.d. No. 3 pemberitahuan dilakukan oleh
pengadilan.
No. 4 biaya yang diterima oleh pengadilan termasuk
biaya perkara.

13. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI PEKANBARU

Permasalahan
- Masalah sita jaminan dalam perkara PHI, buruh mengalami
kesulitan dalam memperoleh data barang perusahaan,
sehingga tidak pernah terjadi atau sulit untuk mengajukan
sita jaminan kepersidangan yang akibatnya menimbulkan
kesulitan dalam pelaksanaan eksekusi;
- Dalam melaksanakan eksekusi perkara Pengadilan
Hubungan Industrial seringkali pihak perusahaan sebagai
Termohon eksekusi tidak mau memenuhi panggilan
aanmaning, sehingga ketua PHI melanjutkannya ketingkat
penyitaan eksekusi, dalam hal melakukan penyitaan barang-
barang milik termohon eksekusi PHI mendapat kesulitan
kepemilikan barang-barang termohon eksekusi tersebut
untuk disita eksekusi, karena pemohon eksekusi juga tidak
dapat memberikan data atau keterangan yang akurat tentang
kepemilikan perusahaan tersebut;

53
Pertanyaan :
Bagaimana jalan keluarnya untuk dapat mendapatkan data
yang akurat agar pelaksanaan sita eksekusi tidak salah
objek?
- Dalam hal penyitaan eksekusi terlaksana yang kemudian
dilanjutkan dengan lelang harus ada hasil atau penilaian dari
Apraisal mengenai harga Barang-barang yang akan dilelang
tesebut dipakai uang yang ada pada DIPA mengingat dalam
DIPA tidak tercantum biaya apraisal;
- Perkara-perkara yang diputus oleh P4P yang oleh
pekerjanya putusan tersebut diajukan Peninjauan kembali ke
Mahkamah Agung, sedang ash atau turunan resmi dari
putusan tersebut tidak ada, hanya ada foto copi putusan
yang dilegalisir oleh Pengadilan Negeri;
Pertanyaan :
Apakah foto copi putusan tersebut yang telah dilegalisir oleh
pengadilan negeri dapat diajukan peninjauan kembali ?

Jawaban : (Bp. Atja Sonjaya)


Untuk mengatasi eksekusi putusan perkara PHI dimana para
pekerja/buruh tidak mengetahui barang-barang milik
pengusaha, maka terlebih dahulu disita barang bergerak
milik perusahaan yang dengan mudah diketahui seperti
mobil, apabila tidak cukup maka disita barang-barang tetap
milik perusahaan, pembuktian barang-barang/asset
pengusaha dapat terlihat dalam acara perlawanan, bila
memang ada perlawanan.
Asli putusan P4P ada di arsip P4P, sedangkan yang dikirim
ke Mahkamah Agung untuk mengajukan peninjauan kembali
adalah salinannya.

Masalah gugatan perdata


- Gugatan semula diajukan A kepada B atas dasar tanah milik
A telah diduduki/dikuasai oleh B. Atas gugatan A tersebut
hingga putusan berkekuatan hukum tetap telah dinyatakan
ditolak, namun belakangan tanah yang menjadi sengketa
dikuasai oleh A selaku Penggugat.
Yang menjadi pertanyaan :
Apakah terhadap permohon eksekusi oleh B Pengadilan
Negeri dapat melaksanakan berdasarkan asas peradilan
cepat, sederhana dan biaya ringan, sedangkan menurut asas
hukum eksekusi dapat dilakukan terhadap putusan yang
sifatnya komdemnatur (menghukum).

Jawaban :
Dalam perkara tersebut upaya yang harus dilakukan
oleh B adalah melakukan gugatan terhadap A.
Sebelum eksekusi dilaksanakan untuk mengetahui letak,
batas-batas dan luas tanah sengketa dapat dilakukan
melalui pemerik-saan setempat oleh panitera/juru sita.
Yang melakukan "pemateraian kemudian" atas foto copy
surat bukti yang akan dijadikan bukti di pengadilan
adalah kantor pos.
Terhadap satu tanah yang dijual dua kali, pertama
dilakukan secara adat, dan kedua dihadapan PPAT,
maka dalam memutus perkara tersebut harus dipegang
asas pembeli yang beritikad baik harus dilindungi.
Mengenai delegasi untuk pemeriksaan setempat,
mengingat bahwa pemeriksaan setempat adalah
rangkaian pelaksanaan sidang, maka harus dilakukan
Hakim dengan komposisi Majelis, bukan Hakim Tunggal.
Dan panggilan kepada para pihak untuk hadir dalam
sidang pemeriksaan kapasitas untuk membicarakan
formalitas dan materi gugatan. Apabila salah satu pihak
atau keduanya tidak hadir sampai jangka waktu proses
mediasi telah lewat, maka mediasi telah gagal. Mediasi
wajib ditempuh juga dalam perkara perceraian.
Dalam acara gugatan perwakilan, untuk menilai
"kejujuran dan kesungguhan" wakil kelompok, adalah
hak dari anggota kelompok itu sendiri, tidak ada
kepentingan dari pihak lawan.

55
14. Pengadilan Negeri Palangkaraya

1. Pelaksanaan Eksekusi
Pelaksanaan eksekusi atas putusan Pengadilan Negeri
Palangkaraya No. 24/Pdt.G/1995/PN PI.R tanggal 11 Januari
1996 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Palangkaraya No.
12/Pdt.G/1996/PT PR. tanggal 17 Mei 1996 jo putusan MARI
No. 2614 K/Pdt/1996 tanggal 23 Juni 1998 jo putusan PK No.
433 PK/Pdt/1999 tanggal 16 Juli 2002, gagal dilaksanakan
oleh karena ada perlawanan secara fisik dari pihak
Termohon atas obyek tanah sengketa, meskipun dengan
bantuan aparat keamanan dari POLRI, POM dan SATPOL
PP.
Mohon petunjuk.

Jawaban :
1. Yang mengetahui kondisi daerah adalah Ketua
Pengadilan Negeri, karena itu Ketua Pengadilan Negeri
harus mampu menganalisis sebab-sebab kegagalan
eksekusi tersebut dan setelah mengetahui sebab-
sebabnya dapat dicari strategi untuk mengatasinya.

15. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MALUKU

Eksekusi terhadap tanah dan bangunan yang dibeli dari


lelang umum, yang obyeknya masihdikuasai olehorang lain
lalu mengajukan gugatan kepada penjual dan pembeli lelang
atas obyek dimaksud. Dalam beberapa kesimpulan rakernas
terdapat dua pendapat untuk pelak-sanaan eksekusinya,
yaitu :
1. apabila obyek yang dibeli dari lelang masih menjadi
perkara, maka eksekusinya menunggu putusan
berkekuatan hukum tetap.
2. eksekusi dapat segera dilaksanakan tanpa harus
menunggu putusan berkekuatan hukum tetap.

Dari dua pendapat tersebut, manakah yang harus diikuti ?

56
Jawaban :
Perintah eksekusi terhadap obyek perkara yang dibeli dari
lelang seharusnya dilakukan dengan bantahan dan bukan
gugatan. Prinsip yang dianut dalam yurisprudensi tetap
Mahkamah Agung adalah pihak pembeli lelang harus
dilindungi.

16. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI KENDARI

I. Pengadilan Negeri Bau-bau


Tentang upaya hukum peninjauan kembali dalam perkara /
sengketa mengenai penetapan hasil perhitungan suara
dalam pemilihan Kepala Daerah (sengketa Pilkada).
Bahwa sesuai ketentuan Pasal 94 ayat (5) Peraturan
Pemerintah No. 6 tahun 2005 (tentang Pemilihan,
Pengesahan, Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah), putusan Mahkamah
Agung berkenaan dengan sengketa hasil penghitungan
suara dalam Pilkada adalah bersifat final dan mengikat,
akan tetapi pada kenyataannya Mahkamah Agung telah
membuat preseden dengan menerima upaya hukum
peninjauan kembali (PK) atas putusan perkara / sengketa
Pilkada.
Dalam hal adanya permohonan peninjauan kembali atas
putusan Pengadilan Tinggi yang telah memutus berdasarkan
wewenang delegasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
Pasal 94 ayat (6), Peraturan Pemerintahan No. 6 tahun 2005.

Pertanyaan :
1. Melalui pengadilan manakah (Pengadilan Tinggi yang
memutus atau melalui Pengadilan Negeri tempat
tergugat berdomisili) permohonan peninjauan kembali
tersebut ditujukan dan didaftarkan? mengingat bahwa
sesuai ketentuan Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang No.
14 tahun 1985 sebagaimana telah dirubah dengan
Undang-Undang Nomor 5 tahun 2004 tentang
Mahkamah Agung jelas disebutkan, “Permohonan

57
Peninjauan Kembali diajukan oleh pemohon kepada
Mahkamah Agung melalui Ketua Pengadilan Negeri
yang memutus perkara dalam tingkat pertama dengan
membayar biaya perkara yang diperlukan”, sedangkan
Pengadilan Negeri tidak pernah memeriksa dan
memutus perkara / sengketa mengenai hasil
perhitungan suara dalam Pilkada, oleh karenanya
mengenai permohonan PK dalam sengketa Pilkada bisa
menimbulkan persoalan dalam hal pendaftaran,
penerimaan, dan pengiriman berkas permohonan
peninjauan kembali tersebut?
2. Untuk dapat dijadikan dasar acuan, apakah tidak
sebaiknya Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA/
Perma tentang prosedur permohonan PK dalam
sengketa Pilkada?
Jawaban :
1. Diajukan di pengadilan tinggi yang memeriksa
dalam tingkat pertama.
2. Prosedur peninjauan kembali (PK) dilakukan
menurut hukum acara perdata biasa.

II. Pengadilan Negeri Kendari


1. Bahwa pada Tahun 1995 tergugat meminta
belaskasihan kepada penggugat untuk mendiami bagian
atas (loteng) rumah toko milik penggugat, karena
tergugat belum memiliki rumah. Sebab penggugat
merasa iba kepada tergugat, penggugat mengizinkan
tergugat menempati ruang atas (loteng) rumah tokonya
tersebut, dengan perjanjian sewaktu-waktu apabila
diperlukan penggugat, pihak tergugat harus keluar tanpa
syarat apapun.
Penggugat akan menempati rumah toko tersebut, dan
setelah diberitahukan kepada tergugat, tergugat tidak
mau pindah dengan alasan tidak masuk akal, kemudian
penggugat mengajukan gugatan kepada tergugat
terdaftar dalam perkara perdata No. 02/Pdt.G/2002/
PN.Kdi dan dalam putusannya berbunyi:
- Dalam Eksepsi:
Menolak Eksepsi tergugat untuk seluruhnya.
- Dalam Pokok Perkara :
Menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya.
Menghukum penggugat untuk membayar ongkos
perkara sebesar Rp. 134.000,- (seratus tiga puluh
empat ribu rupiah).

Penggugat mengajukan permohonan banding.


Dalam putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara
No. 34/Pdt/2002/PT. Sultra, menguatkan putusan
Pengadilan Negeri Kendari tersebut di atas.
Penggugat selanjutnya mengajukan permohonan kasasi,
tercatat dengan No. 2409 K/Pdt/2003, yang amar
putusannya sebagai berikut:
Membatalkan putusan-putusan Pengadilan Tinggi
Sulawesi Tenggara dan Pengadilan Negeri
Kendari :

Mengadili Sendiri
1. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian.
2. Menyatakan penggugat adalah pemilik sah
atas ruko yang terletak dijalan Lasandara Toko
Cahaya Bintang Kendari.
3. Menyatakan perbuatan tergugat tidak mau
pindah adalah perbuatan melawan hukum.
4. Menghukum tergugat mengosongkan loteng
rumah penggugat yang selama ini ditempati.
5. Menghukum tergugat membayar uang perkara
sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh
ribu rupiah) perhari, atas pembangkangannya
setiap hari terhadap putusan ini.
6. Menolak gugatan penggugat selain dan
selebihnya.

Setelah putusan kasasi tersebut diberitahukan


kepada Tergugat, tanggal 28 Agustus 2006, mengajukan

59
peninjauan kembali ke Mahkamah Agung dan diregister
dengan No. 340/PK/Pdt/2006.

Amar putusan PK :
32 putusan Mahkamah Agung RI No. 2409
K/Pdt/2003 tanggal 28 Juli 2005;

MENGADILI SENDIRI

DALAM EKSEPSI :
- Menolak Eksepsi tergugat untuk seluruhnya;

DALAM POKOK PERKARA:


- Menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya.
Catatan: Bahwa terhadap putusan Mahkamah
Agung No. 2049 K/Pdt/2003 tersebut telah
dilakukan eksekusi;

Pertanyaan :
Pemohon PK, setelah menerima pemberitahuan putusan
PK tersebut secara lisan memohon kepada Ketua
Pengadilan untuk melakukan eksekusi. Bagaimana
sikap Pengadilan Negeri untuk melaksanakan putusan
PK tersebut, karena dalam pemahaman kami tidak ada
amar yang sifatnya memerintahkan dan seterusnya?

Jawaban :
1. Suatu putusan kasasi (BHT) yang telah
dilaksanakan (dieksekusi) kemudian dibatalkan oleh
putusan PK, maka apabila barang tersebut masih
ada ditangan Penggugat, kedudukan dan hak dari
tergugat yang telah dicabut dari padanya harus
dipulihkan kembali dengan eksekusi pemulihan hak.

III. Pengadilan Negeri Raha

1. Dalam suatu surat gugatan mengenai tanah, tidak


ditemukan petitum agar Tergugat dihukum untuk
menyerahkan tanah dalam keadaan kosong kepada
Penggugat, sehingga jika Majelis Hakim hendak
mengabulkan gugatan Penggugat, putusan nantinya
hanya bersifat deklaratoir;
Dapatkah majelis hakim menambah dictum dalam
putusan berupa penghukuman kepada Tergugat agar
menyerahkan tanah dalam keadaan kosong kepada
Penggugat dengan dasar ex aequo et bono (mohon
keadilan)?
Apakah penambahan tersebut tidak melanggar asas
verhandlungs maxime (tidak diperkenankan melebihi
apa yang dituntut)?

Jawaban :
1. Penambahan petitum gugatan dalam putusan
hakim (ultra petita) prinsipnya tidak diperkenankan.
Namun apabila menurut pertimbangan hakim,
petitum yang ada tidak cukup untuk menuntaskan
perkara, maka hakim dapat menambah petitum itu
kedalam diktum putusannya dengan syarat:
a. harus ada permintaan dalam gugatan agar
hakim menjatuhkan putusan yang seadil-
adilnya (ex aequo et bono).
b. Diktum yang dijatuhkan tersebut tidak menyim­
pang dari posita gugatan penggugat.

IV. Pengadilan Negeri Kolaka

1. PERKARA PERDATA YANG BERHUBUNGAN


DENGAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH

Kasus Posisi
Pengadilan Negeri Kolaka menerima gugatan yang
diajukan oleh Jr. H. DINAMIS YUNUS MAKKAJARENG
dan Drs. MALLIPPAING ALI, keduanya sebagai pihak
penggugat melawan KPUD Kolaka Utara dan kawan
sebagai pihak tergugat dan turut tergugat yang materi
gugatannya berkaitan dengan proses pendaftaran bakal

61
calon Bupati dan Wakil Bupati pada proses Pilkada di
Kabupaten Kolaka Utara, yang setelah melalui proses
persidangan, Pengadilan Negeri telah menjatuhkan
putusan yang intinya menyatakan penggugat sebagai
pihak yang dimenangkan dalam perkara tersebut
dengan mengabulkan gugatan penggugat untuk
seluruhnya.
Pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi Sulawesi
Tenggara telah menjatuhkan putusan sela yang intinya
menghukum tergugat (KPUD Kolaka Utara) untuk
menghentikan proses pelaksanaan Pilkada di Kabupaten
Kolaka-Utara sampai adanya putusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap. Kemudian Pengadilan
Tinggi Sulawesi Tenggara menjatuhkan putusan akhir
yang intinya menyatakan penggugat sebagai pihak yang
dimenangkan dalam perkara tersebut dengan
mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.
Atas putusan tersebut tergugat (KPUD Kolaka
Utara) mengajukan permohonan kasasi.
Pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung telah
menjatuhkan putusan yang intinya menguatkan putusan
Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara sehingga putusan
tersebut telah berkekuatan hukum tetap.
Pihak tergugat tidak melaksanakan/mengindahkan
putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dan
tergugat tetap melaksanakan/melanjutkan Pilkada di
Kab. Kolaka Utara sampai dengan dilantiknya Bupati
dan Wakil Bupati Kabupaten Kolaka Utara terpilih.

Pertanyaan :
1. Apakah materi gugatan yang berkaitan dengan
proses pendaftaran bakal calon Bupati dan Wakil
Bupati dalam Pilkada dapat dikategorikan perkara
Pilkada sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-
Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah?
2. Apakah Pengadilan Negeri dapat memerintahkan
agar pelaksanaan Pilkada dihentikan / ditunda
dengan putusan sela yang bersifat provisionil?
3. Bagaimanakah status hukum pelaksanaan Pilkada
yang tidak sesuai / bertentangan dengan putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap?
4. Bagaimanakah teknis pelaksanaan eksekusi
terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap yang amarnya bersifat deklaratoir atau
konstitutif yang berkaitan dengan Pilkada?
Jawaban :
1. Perkara tersebut adalah sengketa perdata biasa
karena masalah tersebut tiodak diatur di dalam
Undang-undang No.32 Tahun 2004.
2. Putusan yang demikian bertentangan dengan
undang-undang, karena pengadilan tidak punya
kewenangan untuk menghentikan proses pilkada.
3. Data putusan tidak ada sehingga sulit untuk
menjawabnya.
4. Petitum yang bersifat declaratoir / konstitutif tidak
dapat dilaksanakan.

2. PERKARA PERDATA BERKAITAN DENGAN


EKSEKUSI PUTUSAN YANG GAGAL
DILAKSANAKAN

Kasus Posisi
Penggugat sebagai pihak yang dimenangkan telah
mengajukan permohonan eksekusi kepada Ketua
Pengadilan Negeri berdasarkan putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap. Terhadap permohonan
tersebut Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan
penetapan eksekusi dan ternyata pada saat
pelaksanaan eksekusi tersebut gagal karena ada
perlawanan secara fisik dan termohon eksekusi
sehingga eksekusi harus ditunda.

Pertanyaan :
Bagaimana solusi yuridis terhadap masalah eksekusi
yang gagal dilaksanakan?

63
Jawaban :
Ketua Pengadilan Negeri harus mampu mencari solusi
dan strategi sendiri untuk menyelesaikan eksekusi,
karena saudaralah yang tahu keadaan di lapangan.

17. DAERAH HUKUM PENGADILAN TINGGI SULAWESI TENGAH

Masalah pelaksanaan sita jaminan atau sita eksekusi,


khususnya yang berkenaan dengan tanah.
Bahwa dari dahulu, Mahkamah Agung telah berulang kali
menerbitkan SEMA yang memberikan petunjuk tentang tata cara
pelaksanaan penyitaan, namun hal itu masih sering diabaikan,
sehingga sering menimbulkan permasalahan sewaktu eksekusi.
Didalam Buku Register Penyitaan (Perkara Perdata) yang
dikeluarkan oleh Mahkamah Agung yang harus diisi dan
dilaksanakan sebagaimana mestinya, ternyata juga ada yang
diabaikan, antara lain pada kolom 10 Register tersebut, judul
kolom adalah : “Tanggai, Bulan, Tahun, Hari dan Jam
Pendaftaran Sita untuk diumumkan (pasal 213 RBg/ 198
HIR)”, ternyata dalam praktek tidak diisi, karena baik Panitera,
Jurusita, Panitera Muda Perdata, ataupun petugas Register,
bahkan para Hakim dan Ketua Pengadilan Negeri, umumnya
tidak memahami hal itu.
Hai ini terjadi akibat dari Berita Acara Penyitaannya sendiri tidak
dicatat hal itu.
Untuk itu disarankan agar Mahkamah Agung mengeluarkan
petunjuk dalam SEMA, sekaligus formulir Berita Acara Penyitaan
yang benar.
Seyogyanya didalam Berita Acara Penyitaan (khususnya jika
tanah yang disita) setelah penutup Berita Acara Sita dan tanda
tangan Jurusita/Jurusita Pengganti dan saksi-saksi, dibubuhi
catatan sebagai berikut:

“Pada hari ini .................. tanggal, ................... jam


...................... . saya Jurusita/Jurusita Pengganti Pengadilan
Negeri............................... . telah memberitahukan dan meme­
rintahkan agar penyitaan .................................. (jaminan/

64
eksekusi) tersebut diatas dicatat didaiam Register Penyitaan
dan diumumkan dipapan pengumuman yang disediakan
untuk itu” (Pasal 213 RBg/198 HIR).

Jurusita/Jurusita Pengganti tersebut

( )
Selanjutnya dibawahnya :

“Pada hari ini .............................. tanggal ................... jam


................ . saya Jurusita/Jurusita Pengganti Pengadilan
Negeri ............................ . telah memberitahukan kepada
Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota
....................... tentang penyitaan tersebut diatas dan meminta
agar penyitaan tersebut dicatat dalam Buku tanah yang
bersangkutan serta diumumkan pada papan pengumuman
yang disediakan untuk itu”.

Kepala Kantor
Badan Pertanahan Nasional Jurusita /Jurusita Penganti tersebut

STEMPEL

(......................................... ) (..........................................)

Jawaban :
Setuju dengan pendapat saudara, tetapi sambil menunggu
dikeluarkannya SEMA disarankan agar para Ketua pengadilan
mengikuti langkah saudara.

65
PERMASALAHAN HUKUM
DARI DAERAH DAN JAWABAN
BIDANG PIDANA

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI BANDA ACEH

I. PRA PERADILAN :

PN.Langsa
Dalam pasal 82 ayat (1) KUHAP disebutkan bahwa dalam
hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan
Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan
kepada pra peradilan belum selesai, maka permintaan
tersebut gugur. Yang kami tanyakan adalah mengenai
pengertian “sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri”,
apakah ketika perkara pokoknya sudah dilimpahkan ke PN,
atau setelah penunjukan Majelis Hakim oleh KPN, atau
setelah Majelis Hakim menyidangkan perkara tersebut?
Jawaban :
Dalam praktek sejak perkara didaftarkan (lihat pasal 153
ayat 1 KUHAP).

II. KOMPETENSI ABSO LUT:

PN Blangkajeren
1. Bagaimana sikap PN terhadap permintaan perpanjangan
penahanan dari Penyidik terhadap tersangka dalam perkara
yang diatur dalam Qanun, seperti kasus “Perjudian” yang di
Provinsi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) diatur dalam
Qanun Provinsi NAD No. 13 Tahun 2003 tentang Maisir
(Perjudian).
2. Bagaimana sikap PN terhadap pra peradilan yang diajukan
oleh tersangka dalam perkara-perkara diatur dalam Qanun,
sedang dalam Qanun yang ada sekarang hal itu belum
diatur.
3. Bagaimana sikap PN terhadap permintaan izin penyitaan dan
Penyidik terhadap barang bukti dalam perkara-perkara yang

67
berdasarkan Qanun Provinsi NAD telah menjadi kewenangan
Mahkamah Syar’iyah, sementara dalam Qanun yang
bersangkutan hal itu belum diatur.

Jawaban :
1. Apabila Qanun (peraturan Walah), sebagai Lex
Specialis tidak mengatur tentang penahanan,
supaya diterapkan ketentuan dalam KUHAP.
2. dan 3. Berlaku KUHAP, apabila Qanun tidak
mengatur (perhatikan pasal 2 dan 3 KUHAP).

III. KOMPETENSI RELATIF :

PN.Langsa
Pada tahun 2003 Kabupaten Aceh Timur dimekarkan
menjadi tiga kabupaten/kota yaitu Kota Langsa, Kabupaten
Aceh Timur dengan ibukota Idi, dan Kabupaten Aceh
Tamiang dengan ibukota Kuala Simpang, yang masing-
masing mempunyai PN sendiri. Dalam kenyataannya kantor-
kantor pemerintah dari Kabupaten Aceh Tamiang dan
Kabupaten Aceh Timur masih berkedudukan di daerah
hukum PN Langsa. Bagaimana kalau ada perkara korupsi
yang terdakwanya adalah pejabat dan kedua kabupaten
tersebut, apakah termasuk kompetensi relatif dari PN Langsa
atau menjadi kompetensi relatif dari PN yang daerah
hukumnya meliputi kabupaten di mana pejabat tersebut
bertugas?

Jawaban :
Lihat Pasal 84 KUHAP

IV. PERADILAN ANAK :

- PN Lhokseumawe
1. Dalam pasal 51 UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan
Anak disebutkan bahwa di persidangan, anak wajib
didampingi oleh orang tua, Penasihat Hukum dan
petugas BISPA. Selama ini persidangan perkara anak

68
banyak tertunda karena ketidakhadiran orang tua,
Penasihat Hukum dan/atau petugas BISPA. Yang
menjadi pertanyaan kami adalah apakah kehadiran
mereka merupakan persyaratan mutlak sehingga
persidangan hanya sah dengan kehadiran mereka, atau
cukup sidang ditunda sekali untuk memanggil mereka
kembali, dan kalau ternyata pada sidang berikutnya
mereka tetap tidak hadir tanpa alasan yang sah, sidang
dapat dilanjutkan dan perkara dapat diputus.
2. Dalam pasal 26 ayat (3) UU No. 3 Tahun 1997 tentang
Peradilan Anak disebutkan bahwa terhadap anak nakal
yang umun belum mencapai 12 (dua belas) tahun, maka
terhadap anak tidak dijatuhkan pidana, melainkan hanya
dilakukan tindakan, berupa : mengembalikan anak
kepada orang tuanya, atau dijadikan anak negara
sampai berumur 18 tahun, atau dipekerjakan di
Departemen Sosial atau organisasi sosial lainnya.
Pertanyaan kaum mengenai jenis tindakan yang
disebutkan terakhir, apakah sebelum PN menjatuhkan
putusan harus berkoordinasi dulu dengan instansi
terkait, atau diputus saja dan urusan selanjutnya adalah
masalah eksekusi yang menjadi wewenang Penuntut
Umum?

Jawaban :
1. Mengenai kehadiran BISPA. (lihat jawaban
yang sudah ada)
2. Tidak perlu pengambilan putusan wewenang
Majelis Hakim sedangkan mengenai eksekusi
wewenang Jaksa Penuntut Umum.

PN Meulaboh
Di daerah hukum PN Meulaboh belum ada LAPAS anak atau
tempat penitipan anak nakal, dan anak yang dijatuhi pidana
penjara dimasukkan dalam LAPAS biasa, hal mana akan
berdampak buruk bagi anak. Pertanyaan kami, apakah
dengan keadaan tersebut dapat dibenarkan untuk tidak

69
menjatuhkan pidana penjara dalam perkara anak, atau
penjatuhkan pidana penjara hanya sebagai sebagai upaya
terakhir (ultimun remedium).
Jawaban :
Idem jawaban No. 2.

V. SIDANG TERTUTUP :

PN Lhokseumawe
Dalam perkara susila, yang sesuai dengan pasal 153 ayat (3)
KUHAP sidang dilakukan secara tertutup, pihak LSM yang
mendampingi korban meminta untuk hadir di persidangan.
Apakah permintaan mereka dapat dikabulkan karena mereka
mempunyai kepentingan dalam perkara tersebut, atau permintaan
tersebut harus ditolak dengan alasan bahwa sidang perkara
susila tertutup untuk umum.
Jawaban :
Yang penting sidang dinyatakan tertutup, sesuai dengan
Undang-undang, sedangkan yang hadir tergantung dari
kebijaksanaan hakim (lihat Pasal 8 ayat 4 Undang-Undang
No. 3/1997) walaupun dalam hal ini Sdr. dapat berpedoman
kepada Pasal 8 ayat 3 Undang-Undang No.3 Tahun 1997,
yaitu yang hadir hanya anak yang bersangkutan. Orang tua,
wali atau orang tua asuh, Penasehat Hukum dan
Pembimbing kemasyarakatan.

VI. TERDAKWA MELARIKAN DIRI SETELAH PEMERIKSAAN DI


PERSIDANGAN SELESAI :
PN Tapaktuan
Ketika Jaksa PU akan membacakan tuntutan pidana, terdakwa
telah melarikan diri. Apakah tuntutan pidana dan putusan dapat
dibacakan tanpa hadirnya terdakwa?
Jawaban :
Tidak dapat, tentukan sidang sampai waktu yang tidak
ditentukan (Tod nader)

70
VII. BARANG BUKTI:

1. PN Tapaktuan
Dalam suatu putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap,
barang bukti dinyatakan dirampas untuk negara. Ternyata
barang tersebut bukan milik terdakwa melainkan milik pihak
ketiga yang disewa oleh terdakwa. Upaya hukum apa yang
dapat ditempuh oleh pihak ketiga tersebut untuk memperoleh
kembali barang miliknya dalam kasus tersebut?
Jawaban :
Pihak ketiga dapat mengajukan perlawanan.

2. PN Blangkejeren
Ada perkara narkotika yang pada tahap penyidikan,
terdakwanya melarikan diri dari Rutan. Salah satu barang
bukti dalam perkara tersebut adalah sebuah mobil yang
digunakan untuk mengangkut ganja. Oleh pemilik mobil
(sesuai dengan nama yang tercantum dalam BPKB), diminta
agar mobil dikembalikan kepadanya selama proses
perkaranya berjalan (Penyidikan, Penuntutan, Persidangan
Pengadilan). Pertanyaan kami, apakah barang tersebut
harus dinyatakan dirampas, dikembalikan, atau dapat
dipinjampakaikan kepada pemilik yang namanya tercantum
dalam BPKB, atau bagaimana?
Jawaban :
Istilahnya hanya boleh “dititipkan”, yang apabila
sewaktu-waktu diperlukan untuk persidangan harus
dihadapkan ke Pengadilan.

3. PN Langsa
Polres Langsa telah menangkap sebuah kapal dengan
muatan 81 ton beras yang hendak diselundupkan ke
Kabupaten Aceh Timur, namun ABK tidak berhasil ditangkap
karena mereka menceburkan diri ke laut. Atas permintaan
penyidik, PN Langsa telah mengeluarkan izin penyitaan,
namun permintaan izin dan penyidik untuk melelang kapal
dan beras ditolak oleh PN Langsa karena locus delicti

71
terletak di wilayah hukum PN Idi. Sikap PN Langsa tersebut
adalah sebagai antisipasi terhadap kemungkinan adanya
gugatan terhadap PN Langsa, Polres Langsa dan Kantor
Lelang, dengan memanfaatkan celah soal kompetensi relatif
PN Langsa dalam mengeluarkan izin lelang tersebut. Apakah
sikap PN Langsa tersebut sudah tepat atau keliru?
Jawaban :
Yang dimaksud Ketua Pengadilan Negeri setempat yang
berhak memberi izin dalam pasal 38 ayat (1) KUHAP
adalah ketua Pengadilan Negeri dimana barang yang
akan disita itu berada, kecuali terhadap benda bergerak,
dan Kapal adalah termasuk barang tetap, (lihat butir 20
Lampiran MENKEH tgl. 10-12-1983 No.VI.14.PW.07.03
Tahun 1983).

VIII. PERMOHONAN ADVOKAT UNTUK DIBEBASKAN DARI


KEWAJIBAN MENJADI SAKSI :

PN Langsa
Seorang advokat di Langsa dipanggil oleh Penyidik untuk menjadi
saksi hubungan dengan laporan pihak tergugat dalam suatu
perkara perdata bahwa pihak penggugat telah memalsukan SHM
tanah yang menjadi obyek sengketa, dalam perkara mana
advokat tersebut menjadi kuasa dari penggugat. Advokat tersebut
menolak dan minta dibebaskan dari kewajiban menjadi saksi
dalam perkara tersebut berdasarkan pasal 179 KUHAP dan pasal
18 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2003, yang menyatakan bahwa
advokat dapat dibebaskan dari kewajiban untuk menjadi saksi
terkait dengan perkara yang ditanganinya, namun alasan tersebut
ditolak oleh Penyidik yang menyatakan bahwa menjadi saksi
adalah kewajiban setiap warganegara. Karena tidak ada titik temu
antara keduanya, maka advokat tersebut minta penetapan
pengadilan agar dirinya dibebaskan dari kewajiban menjadi saksi
terkait perkara yang dia tangani. Bagaimana KPN harus
menyikapi permohonan advokat tersebut?

Jawaban :
Yang dipegang adalah KUHAP.

72
IX. ANCAMAN PIDANA MINIMUM DAN MAKSIMUM

PN Langsa
Ada beberapa perundang-undangan pidana yang memuat
ancaman pidana minimum dan maksimum, seperti UU No. 31
Tahun 1999 tentang Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah
dengan UU No. 20 Tahun 2001 dan UU No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak. Dalam hal hakim melihat terdapat
hanyak hal yang meringankan dan kerugian negara akibat
perbuatan terdakwa relatif kecil, sehingga hakim memandang
ancaman pidana minimum terlalu berat dan tidak setimpal dengan
perbuatan terdakwa, serta bila ancaman pidana minimum
diterapkan akan terasa tidak adil bila dibandingkan dengan
pidana yang pernah dijatuhkan terhadap koruptor kelas kakap,
yang menimbulkan kerugian negara bermilyar-milyar bahkan
trilyunan, yang kebanyakan juga dipidana sesuai dengan
ancaman pidana minimum, apakah hakim dimungkinkan untuk
menjatuhkan pidana yang lebih ringan dari ancaman pidana
minimum tersebut?

Jawaban :
Tidak dapat, karena hal tersebut salah menerapkan hukum.

X. PELAKSANAAN TUGAS Kl MWAS MAT :

PN Langsa
1. Apakah SEMA No. 3 Tahun 1984 tentang Pelaksanaan
Tugas Kimwasmat dan SEMA No. 7 Tahun 1985 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Tugas Hakim Pengawas dan
Pengamat masih berlaku?
2. Lapas Langsa menampung napi yang perkaranya diputus
oleh PN Langsa dan PN Idi. Apakah Kimwasmat dari PN
Langsa hanya berwenang untuk melakukan wasmat
terhadap napi yang perkaranya diputus oleh PN Langsa saja
atau terhadap semua napi termasuk yang diputus perkaranya
oleh PN lain?
3. Bagaimana kewenangan Kiswasmat dalam memberikan
rekomendasi tentang pembinaan seorang napi?

73
4. Pasal 283 KUHAP menyebutkan bahwa hasil pengawasan
dilaporkan oleh Kimwasmat kepada KPN secara berkala.
Apa yang dimaksud berkala di sini, apakah tiga bulan, enam
bulan, atau satu tahun? Juga kepada siapa saja tembusan
laporan harus dikirimkan?

Jawaban :
1. SEMA No.3 Tahun 1984 dan SEMA No.7 Tahun
1985 masih berlaku
2. Yang diputus oleh Pengadilan Negeri yang
bersangkutan saja, karena data-data hanya dimiliki
oleh Pengadilan Negeri yang memutus.
3. dan 4. Sesuai dengan SEMA dan Bab 2 dari
narapidana tersebut berdasarkan persidangan,
perhatikan ceramah dari Tuada PIDUM tembusan
laporan diberikan pula sesuai dengan laporan
perkara.

74
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI TANJUNG KARANG

Penyebutan Nama Pengadilan Tinggi


Penyebutan nama Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia saat ini
belum ada keseragaman, ada yang menyebutkan nama propinsi
misalnya Pengadilan Tinggi Banten, ada yang menyebutkan
nama ibukota Propinsi misalnya Pengadilan Tinggi Bandung.
Yang agak janggal Pengadilan Tinggi Tanjungkarang, dengan
wilayah hukum Propinsi Lampung, Ibu kota Bandar Lampung
Tanjungkarang merupakan salah satu kota kecamatan yang ada
di Bandar Lampung, sedangkan letak kantor Pengadilan Tinggi
tidak di Tanjungkarang akan tetapi di Telukbetung yang juga
merupakan salah satu kota Kecamatan.
Pendapat Pengadilan Tinggi Tanjungkarang
> Penyebutan Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia sebaik­
nya diseragamkan dengan menyebutkan nama propinsi,
misalnya Pengadilan Tinggi Lampung, Pengadilan Tinggi
Sumatera Selatan dan seterusnya.
> Karena pembentukan Pengadilan Tinggi dengan Undang-
undang, maka perubahan nama harus dengan revisi
Undang-undang yang bersangkutan atas usul dari
Mahkamah Agung sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

Pertanyaan
• Jika pendapat Pengadilan Tinggi Tanjungkarang tersebut
dapat disetujui, sambil menunggu proses revisi Undang-
undang, apakah perubahan nama Pengadilan Tinggi tersebut
dapat dilaksanakan dengan Surat Edaran Mahkamah
Agung?
• Mohon penjelasan?

Jawaban :
Penyebutan nama Pengadilan Tinggi berdasarkan nama
Propinsi tetapi tetap menyebutkan nama Pengadilan Tinggi
berdasarkan Undang-Undang pembentukan, praktek selama
ini diperkenankan.

75
II. Kerjasama Institusional Perguruan Tinggi dengan Pengadilan
Tinggi

Salah satu Perguruan Tinggi di Lampung, yaitu Fakultas Hukum


Universitas Lampung mengajukan permintaan kerja sama
Institusional dengan Pengadilan Tinggi Tanjungkarang, dengan
ruang lingkup antara lain :
1. Melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam
bentuk konsultasi hukum, bantuan hukum dan penyuluhan
hukum;
2. Menyusun dan menyelenggarakan pelaksanaan pendidikan
hukum klinis praktek hukum penyelesaian perkara di
Pengadilan Negeri se-wilayah hukum Pengadilan Tinggi
Tanjungkarang oleh Mahasiswa dengan didampingi staf
Pengajar/Dosen (dengan surat izin insidental dari Pengadilan
Tinggi);
3. Penyelenggaran Program Ekstensi (S1) dan Program
Pascasarjana Program Magester Hukum (S2) di Fakultas
Hukum Universitas Lampung, untuk menampung para hakim,
panitera dan pegawai Pengadilan yang berminat mencapai
Strata-1 (S1) dan Strata-2 (S2).

Pertanyaan :
1. Apakah mahasiswa dengan didampingi staf Pengajar/Dosen
boleh beracara di persidangan sebagai kuasa dan salah satu
pihak dalam perkara perdata atau kuasa hukum terdakwa
dalam perkara pidana atas dasar surat kuasa insidentil
dengan izin dan Pengadilan Tinggi?

Jawaban :
Untuk memberikan bantuan hukum bukan oleh Advokat,
seharusnya dibicarakan dalam persatuan Advokat,
Pengadilan Tinggi dan Fakultas hukum yang bersangkutan;

III. Tidak perlu dijawab karena permasalahan administrasi

IV. Dalam perkara Kehutanan/lllegal Logging


Apakah Hakim dalam menentukan barang bukti terkait dengan
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.42 Tahun 2006 yang

76
isinya : Kayu temuan, sitaan atau rampasan yang berasal dari
kawasan konservasi atau hutan lindung tidak dapat dilakukan
pelelangan dan harus dimusnahkan?
Jawaban :
Putusan barang bukti dalam perkara illegal logging, supaya
memperhatikan Pasal 78 ayat 15 Undang-Undang No. 41
Tahun 1999 dan SEMA.

V. Perkara Anak ketidakhadiran petugas BAPAS di Persidangan


Dalam memeriksa perkara pidana yang dilakukan oleh anak,
sesuai dengan Undang-undang Pengadilan anak, maka petugas
Pembimbing Kemasyarakatan (BAPAS) wajib hadir dalam sidang
anak tersebut.
Kenyataannya di Pengadilan Negeri Blambangan Umpu, hal
tersebut tidak pernah berjalan. Artinya, petugas Pembimbingan
Kemasyarakatan (PK) dari BAPAS Metro yang melakukan
Penelitian Masyarakat (LITMAS), selama ini tidak pernah hadir di
Persidangan, Hakim-Hakim Anak dari Pengadilan Negeri
Blambangan Umpu telah berupaya untuk memerintahkan agar
petugas PK dari BAPAS yang bersangkutan hadir dalam
persidangan, namun tetap saja tidak hadir. Bahkan dalam
pertemuan koordinasi antara unsur-unsur CJS (Criminal Justice
System) yang pernah diadakan oleh Pengadilan Negeri
Blambangan Umpu, hal tersebut telah diperingatkan kepada
Kepala BAPAS Metro yang hadir pada waktu itu.

Pertanyaan :
1. Apakah hal dapat ditolelir, mengingat kondisi geografis
Pengadilan Negeri Blambangan Umpu dengan BAPAS Metro
yang cukup jauh (berjarak 4 jam perjalanan darat)?
2. Bila hal ini terjadi, apakah ada konsekwensi tertentu terhadap
putusan yang sidangnya tidak dihadiri oleh petugas PK?

Jawaban :
Supaya secara maksimal diusahakan kehadiran BAPAS
dengan panggilan-panggilan yang sah, karena kehadirannya

77
“Wajib” menurut Undang-undang (lihat pasal 55, 56, 57
Undang-Undang No.3 Tahun 1997).
Apabila tidak dihadirkan BAPAS dapat berakibat
pemeriksaan batal demi hukum.
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI PEKANBARU

1. Dalam perkara Pidana, sesuai dengan pasal 56 KUHAP,


terdakwa ingin didampingi oleh Penasehat Hukum, sedangkan di
Pengadilan Negeri tersebut tidak ada Penasehat Hukum tetap,
bagaimana jalan keluarnya?
Jawaban ;
Memberikan bantuan hukum berdasarkan pasal 56 KUHAP
(lihat jawaban untuk pertanyaan yang sama)

2. a. Apakah terhadap terdakwa anak dapat diterapkan ketentuan


pidana dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan anak yang sanksinya berupa pidana penjara
dan denda secara komulatif (meskipun subsidair dendanya
wajib latihan kerja), sedangkan dalam pasal 16 Undang-
undang itu sendiri ditegaskan anak (dalam hal ini selaku
terdakwa) berhak memperoleh perundangan dari penjatuhan
hukuman yang tidak manusiawi.
Jawaban :
Untuk terdakwa anak yang didakwa melanggar pasal
23/2002 tetap berlaku Undang-undang No.3 Tahun 1997

b. Apakah dengan tidak dicantumkannya umur anak (korban)


dalam tindak pidana yang berkaitan dengan Undang-Undang
No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, mengaki­
batkan dakwaan batal demi hukum atau masih dapat
ditolelir?

Jawaban :
Dakwaan dapat dinyatakan tidak dapat diterima.

c. Bagaimana penempatan nilai pembuktian dalam tindak


pidana melanggar pasal 81 ayat (1) Undang-Undang No.23
Tahun 2002, yang hanya didukung oleh saksi yang tidak
disumpah karena belum cukup umur (salah satu saksi

79
korban), sedangkan terdakwa membantah dan saksi yang
disumpah menerangkan tidak terlihat terdakwa melakukan
perbuatan yang didakwakan tersebut?
Jawaban :
Masalah penilaian pembuktian adalah wewenang hakim.

d. Dalam hal terdakwa diajukan di persidangan dengan


dakwaan melanggar Undang-undang perlindungan anak
(yang menjadi korban anak) apakah dakwaan dapat
dinyatakan kabur atau tidak jelas apabila umur anak (korban)
tidak diuraikan dalam surat dakwaan?;
Jawaban :
Lihat (b)

3. Sebuah Kapal tangker berbendera Indonesia menyelundupkan


BBM dari daerah kepabeanan Indonesia dan dibawa ke perairan
Internasional (outer Port Limit), di Perairan Internasional BBM
tersebut dijual ke kapal asing dimana Nahkoda kapal asing
tersebut adalah seorang WNI.
Apakah aparat Indonesia (bea cukai atau Angkatan laut)
berwenang untuk melakukan tindakan hukum (seperti penegakan
hukum yakni dengan ditarik ke perairan Indonesia atau
melakukan penangkapan) terhadap kapal Indonesia dan kapal
asing yang berada di perairan Internasional tersebut?

Jawaban :
Supaya diperhatikan Pasal 3 KUHAP jo pasal 8 KUHP
“Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia
bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan
tindak pidana di dalam kendaraan air atau pesawat udara.
“Penangkapan terhadap tersangka tindak pidana di perairan
Internasional dapat dilakukan karena tidak termasuk yang
dikecualikan oleh Hukum Internasional

4. Sebuah kapal tongkang Indonesia membawa barang dari


Malaysia ke Dumai, barang-barang yang dibawa tersebut tidak
mempunyai dokumen kepabeanan yang lengkap (versi pemilik

80
kapal). Dalam perjalanan dari Malaysia ke Dumai kapal tongkang
tersebut singgah di Batam dan di Batam Nahkoda menambah lagi
muatan berupa barang-barang lain yang menurut Undang-undang
Kepabeanan. Dalam perjalanan dari Batam ke Dumai kapala
tongkang ini ditangkap oleh Petugas Bea Cukai karena barang
yang dibawa dari Batam tidak memiliki dokumen kepabeanan.
Selanjutnya Nahkoda kapal diajukan ke persidangan dengan
dakwaan melanggar Undang-undang kepabeanan dan semua
muatan kapal dijadikan sebagai barang bukti, dan oleh
Pengadilan terdakwa diputus bersalah dan semua muatan kapal
dirampas untuk negara.
Bahwa pemilik barang yang memiliki dokumen yang sah tidak
memiliki kesempatan untuk mengajukan pembuktian di
persidangan untuk mempertahankan barang-barangnya yang
sudah dilengkapi dokumen kepabeanan yang sah dalam
persidangan perkara pidana tersebut pemilik barang tersebut
bukanlah pihak.
Apakah pemilik barang yang beritikad baik tersebut dapat
mengajukan gugatan perlawanan (darden verzet) terhadap
eksekusi yang dilakukan Penuntut Umum dengan menempatkan
Penuntut Umum sebagai terlawan.

Jawaban :
Yang saudara tanyakan adalah perkara yang sedang
ditangani, selesaikan saja dulu.

5. Mohon petunjuk penerapan pasal 174 ayat 2 KUHAP karena


dalam hal ini ada 2 pendapat.
Apakah sudah cukup dengan berita acara yang ditanda tangani
oleh Hakim Ketua sidang dan Panitera, Jaksa Penuntut Umum
membuat dakwaan kemudian melimpahkan perkara sumpah
palsu ke Pengadilan.

Jawaban :
Sudah cukup dengan pasal 174 ayat 2 KUHAP.

81
6. Dalam suatu perkara pidana, Majelis Hakim melakukan
pemeriksaan terhadap barang sesuai penyitaan (barang buktinya
kapal), namun ketika sampai ditempat penyimpanan ternyata
barang bukti tersebut tidak ada, terhadap masalah ini,
bagaimanakah seharusnya sikap Majelis hakim di dalam
menentukan putusan terhadap barang bukti berupa kapal oleh
pihak penyidik PPNS barang bukti tersebut telah dipinjam pakai
kepada pemiliknya tanpa sepengetahuan Majelis Hakim yang
menyidangkan perkara tersebut?
Jawaban :
Sdr. Jangan memutus barang bukti yang tidak ditujukan ke
sidang atau setelah diperiksa tidak ada;

7. Berkaitan dengan Dissenting Opinion sebagaimana diatur dalam


Pasal 19 ayat 5 Undang-Undang No. 4 tahun 2004 tentang
kekuasaan kehakiman, pendapat hakim yang berbeda yang kalah
dalam vooting, apakah harus masuk dalam putusan atau apakah
hanya bisa dalam bentuk lampiran saja.
Apakah pendapat yang berbeda itu bisa tidak dibacakan dengan
pertimbangan keamanan dan apakah didalam memberikan
pendapatnya hakim yang kalah vooting di dalam perkara yang
putusannya bebas (Vrijspraak) harus pula memberikan pendapat
tentang besarnya hukuman.

Jawaban :
Harus masuk dalam pertimbangan putusan
Dissenting opinion harus dibacakan.

8. Dalam beberapa kasus di persidangan ternyata pernah ditemukan


adanya kesalahan atau mungkin kesengajaan dalam menetapkan
tersangka/ terdakwa misalnya dalam perkara kepabeanan atau
Kehutanan, Nahkoda yang membawa barang-barang illegal atau
barang-barang yang tidak dilindungi dokumen yang sah,
seringkali terungkap di persidangan perbuatan terdakwa terbukti
tetapi majelis tidak yakin bahwa ia pelakunya, apakah hal yang
demikian ini terdakwa bisa dibebaskan?

82
Jawaban :
Dapat apabila dalam hal ini ada kesalahan subyek (error in
persona) tentunya setelah diperiksa dengan seksama
berdasarkan alat-alat bukti yang diajukan;

9. Tentang barang bukti dalam perkara Psychotropica yang diajukan


dalam persidangan, tetapi barang bukti tersebut tidak berkaitan
dengan perkara yang sedang periksa karena barang bukti
tersebut ditemukan di sekitar lokasi kejadian perkara yang oleh
penyidik dinyatakan barang bukti tersebut disertakan dalam
berkas perkara untuk memperkuat penyidikan.
Yang menjadi pertanyaan adalah terhadap status barang tersebut
bagaimana?
Jawaban :
Putusan dirampas untuk dimusnahkan saja dapat digunakan
pasal 45 ayat 4 KUHAP.

10. Perihal peninjauan kembali yang dilakukan oleh keluarga


terdakwa, dimana pemohon meminta untuk dihadirkan salah satu
terpidana dari LP Tanjung Pinang untuk didengar keterangannya
sebagai seorang saksi (sebagai bukti baru), sementara Jaksa
Penuntut Umum merasa tidak berkepentingan terhadap perkara
peninjauan kembali tersebut ia enggan untuk menghadirkan salah
satu terpidana tersebut.
Yang menjadi pertanyaan bagaimana Majelis harus bersikap?

Jawaban :
Penuntut wajib melaksanakan penetapan hakim (lihat pasal 6
(b) jo pasal 14 huruf j KUHAP), jadi dalam hal ini yang
diperintahkan Penuntut Umum bukan Jaksa;

11. Dengan semakin berkembang dan canggihnya Teknologi


informasi yang menghendaki kecepatan dalam beraktifitas,
interaksi antar manusia dapat dilakukan dengan dibantu
kecanggihan dari komputer dan hand phone yang bisa
menghasilkan data elektronik dalam bisnis misalnya segala
transaksi melalui SMS, email dapat dijadikan sarana melakukan

83
perikatan kemudian apabila diperlukan oleh para pihak hanya
tinggal print out sehingga menjadi sebuah dokumen/surat.
Yang menjadi pertanyaan apabila kelak terjadi permasalahan baik
perdata maupun pidana terhadap aktifitas para pengguna
teknologi ini apakah print out sms dan email tersebut dapat
dijadikan alat bukti surat. Mengingat sampai sekarang belum ada
aturan yang jelas terhadap produk teknologi informasi tersebut?.

Jawaban :
Lihat jawaban sebelumnya.

12. A. Kasus
Dalam hal perkara anak, sering terjadi hambatan dalam
pemeriksaan misalnya orang tua atau BAPAS tidak hadir atau
Rentu Jaksa Penuntut Umum belum turun sedangkan masa
penahanan yang tersedia cukup singkat. Selain itu ketika
seorang terdakwa anak didakwa menggunakan Undang-undang
Perlindungan Anak (terdapat pidana minimum), namun pidana
minimum yang dijatuhkan tetap dirasakan masih tinggi, hal ini
dirasa bertentangan dengan Undang-undang Pengadilan Anak
yang cenderung sangat melindungi terdakwa/terpidana anak.

B. Pertanyaan :
1. Bagaimana solusi terhadap masa penahanan yang cukup
singkat tersebut sedangkan pemeriksaan perkara belum
selesai?
2. Dapatkah pemeriksaan perkara dilanjutkan walau terdakwa
tidak didampingi orang tua dan BAPAS padahal hal tersebut
telah diatur dalam Undang undang?

Jawaban :
1. Penahanan tidak bersifat imperatif, apabila masa
penahanan habis, bisa bebas demi hukum.
2. Mengenai BAPAS tidak hadir, harus diusahakan karena
kehadirannya diwajibkan Undang-Undang (Pasal 55, 56,
57) Undang-Undang No.3 tahun 1995.

84
13. A. Kasus
Sering terjadi kondisi Jaksa Penuntut Umum dan terdakwa tidak
menghadiri persidangan tanpa alasan sehingga persidangan
harus ditunda berkali-kali.
Akibatnya proses penyelesaian perkara terhambat dan
menumpuk menjadi beban tunggakan Pengadilan.

B. Pertanyaan :
1. Bagaimana solusi terhadap hal tersebut ? Dapatkah hakim
mengambil tindakan dengan mengeluarkan penetapan untuk
mengembalikan berkas ke Kejaksaan?
2. Apabila hal tersebut bisa dilakukan, bagaimana dengan
status penahanan atas diri terdakwa? Apakah harus
dikeluarkan dari tahanan? Apabila harus dikeluarkan dari
tahanan, dikhawatirkan akan memicu protes pihak korban
dan masyarakat karena menyangkut dengan kepastian
hukum serta akan menyulitkan Jaksa Penuntut Umum untuk
menghadirkan kembali terdakwa. Namun apabila kemudian
terdakwa kembali ditahan, bagaimana perhitungan
penahanannya dan apakah tidak akan melanggar ketentuan
penahanan sebagaimana diatur dalam KUHAP?

Jawaban :
Lihat jawaban sebelumnya.

- A. Kasus
Dalam hal Jaksa Penuntut Umum tidak pernah
menghadirkan barang bukti di persidangan atau hanya
menunjukkan foto-foto barang bukti yang masih harus
dipertanyakan kebenarannya atau dari pemeriksaan
persidangan diketahui ada barang bukti yang menurut Hakim
barang bukti tersebut sangat dibutuhkan untuk pembuktian di
persidangan.

- B. Pertanyaan :
Bagaimana sikap hakim/apakah hakim boleh tidak memper­
timbangkan barang bukti tersebut?

85
14. A. Kasus
Dalam suatu perkara yang kasasi dan perpanjangan penahanan
atas diri terdakwa belum turun, sedangkan masa penahanan
Hakim sudah habis sering menimbulkan protes/keluhan dari
Lapas/Rutan mengenai status penahanan atas diri terdakwa.

B. Pertanyaan :
Bagaimana solusi terhadap hal tersebut?

Jawaban :
Kalau sudah habis masa penahanan bebaskan saja,
akibatnya penahanan tidak imperatif, tetapi dapat dilakukan.

PN. PASIR PENGARAYAN

1. Apabila terdapat 2 orang terdakwa, dan diputus 1 orang banding


dan 1 orang kasasi, maka berkas banding dikirim lebih dahulu,
sedangkan permohonan kasasi berkasnya baru dikirim setelah
ada putusan banding.
2. Apabila di Pengadilan Negeri tidak ada Penasihat Hukum, maka
dapat menggunakan bantuan hukum dari Universitas negeri
maupun swasta, atau ditunjuk Pegawai Pengadilan Negeri yang
cakap untuk itu.
3. Lihat pasal 55, 56, 57 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997.

86
PER M ASA LA H AN -PER M ASA LA H AN HUKUM PIDANA
W ILAY AH HUKUM PENGADILAN TINGGI
SULAW ESI SELATAN DAN SULAW ESI BARAT

1. Dalam hal terjadi bencana alam berupa kebakaran pasar sentral


dan masyarakat mendesak Pemerintah Daerah agar segera
membangun kembali pasar tersebut agar dapat segera berfungsi
kembali.
Namun pada saat itu Pemerintah Daerah tidak mempunyai dana
untuk membangun pasar tersebut.
Pemerintah mengambil kebijakan dengan menawarkan kepada
para Pengusaha agar bersedia membangun kembali pasar
tersebut dengan memakai modal sendiri (dari pinjaman bank).
Atas permintaan Pemerintah Daerah tersebut ada beberapa
Pengusaha bersedia.
Pemerintah Daerah mengizinkan Pengusaha tersebut memulai
pembangunan tanpa bestek dan RAB (Rencana Anggaran
Belanja).
Setelah pembangunan pasar tersebut dinyatakan selesai 100 %
oleh Pengawas, kemudian barulah dibuatkan bestek dan RAB oleh
DPU (Departemen Pekerjaan Umum). Penguasa/kontraktor juga
membuat Rencana Anggaran Belanja Penawaran.
Dalam RAB yang dibuat oleh DPU, ternyata harga Satuan Bahan
dinaikkan dengan dasar pertimbangan untuk konpensasi bunga
pinjaman Bank dan biaya kontraktor akan dibayar secara
bertahap selama 2 (dua) tahun.
Kemudian para pengusaha/kontraktor tersebut dituduh melakukan
korupsi karena merugikan Negara.

Masalah :
Sejauh mana intervensi hukum pidana terhadap kebijakan
Pemerintah yang berupa freis emerssen?
Apa parameternya, ukuran atau standarnya?

Jawaban :
1. - Parameternya adalah apabila kebijakan pemerintah ada
indikasi dibuat secara melawan hukum, untuk

87
memperkaya diri sendiri atau orang lain, dan merugikan
keuangan Negara.
- Pengertian Perbuatan melawan hukum dapat
berpedoman dalam penjelasan Undang-Undang No.3
Tahun 1971 dijelaskan “Dengan mengemukakan sarana
melawan hukum yang mengandung pengertian formil
dan materil maka dimaksudkan agar supaya lebih
mudah memperoleh pembuktian tentang perbuatan yang
dapat dihukum, yaitu memperkaya diri sendiri atau orang
lain atau suatu badan dari pada memenuhi ketentuan
untuk membuktikan lebih dahulu adanya kejahatan/
pelanggaran seperti disaratkan oleh Undang-Undang
No. 24 Prp 1960” dan dapat berpedoman pada
Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tanggal 29
Desember 1983 No.275 K/Pid/1983 Putusan Mahkamah
Agung RI tanggal 21 Januari 1989 No.241 K/Pid/1987;
Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 7 Januari 1976
No.48 K/Kr/1974.
- Mengenai sejauh mana intervensi Hukum Pidana
terhadap kebijakan pemerintah yang berupa freis
emerssen adalah kasuistis dan telah menjadi bahan
diskusi pada rakernas (makalah Tuada Pidana)

Masalah VOIP (Voice Over Internet Protokol):


Kemajuan dan perkembangan teknologi khususnya pada
penggunaan telekomunikasi tidak seimbang dengan perundang-
undangan yang berlaku misalnya VOIP, yang merupakan salah
satu dari turunan produk teknologi telekomunikasi, khususnya
penyelenggaraan jasa multi media yang lahir sebagai akibat
adanya konfergensi teknologi telekomunikasi itu sendiri.
Masalah :
- VOIP belum diatur dalam Undang-undang Telekomunikasi
No.36 Tahun 1999, sehingga VOIP tidak ada regulasinya.
- VOIP baru ada regulasinya sebagaimana diatur dalam
Keputusan Menteri Perhubungan (KEPMEN PERHUB) No.21
tahun 2001 tentang penyelenggaraan jasa telekomunikasi.
Dalam praktek VOIP ada sejak tahun 1999 dan tidak ada
aturan hukumnya.
Pertanyaan :
1. Peraturan hukum apa yang harus diberlakukan dalam hal
penyelenggaraan dan tarif VOIP.
2. Penyelenggaraan VOIP yang menggunakan saluran E.1
(milik Telkom) dengan penarikan tarif lebih murah dari yang
ditentukan oleh Menteri Perhubungan sebelum tahun 2001,
disisi lain penggunaan sarana milik Telkom tersebut sebelum
berlakunya KEPMEN PERHUB.
3. Apakah hal ini merupakan suatu perbuatan tindak pidana
korupsi sebagai per VOIP yang tarifnya lebih murah dari
pada tarif telepon biaya / lokal. Bila menggunakan E.1 sarana
milik Telkom?
Jawaban :
1. Apabila hukum tidak ada mengatur maka berdasarkan
Pasal 16 UU No.4 Tahun 2004 hakim diberi
kewenangan untuk membentuk hukumnya (Judge made
law) dan pedomannya Pasal 28 UU No.4 Tahun 2004
yang mewajibkan Hakim untuk menggali, mengikuti, dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang
hidup dalam masyarakat. Untuk membentuk hukumnya
dapat saja mengadopsi sistem hukum lain misalnya
common law.
2. Apabila selanjutnya diatur dengan KEPMEN PERHUB
maka sebagai hukum positif yang berlaku harus ditaati,
sebelum adanya ketentuan yang lebih tinggi yang
mengatur;
3. Selama tidak bertentangan dengan KEPMEN PERHUB
tersebut tidak ada perbuatan melawan hukum formil
sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat 1 UU No. 31
Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001, tetapi hal ini
tergantung dari kasusnya.

3. Penyidikan yang dilakukan terhadap Bupati /Wakil Bupati sebagai


Pejabat Negara mulai dilakukan sebelum Penyidik meminta ijin
kepada Presiden dengan alasan bilamana Penyidik meminta ijin
kepada Presiden maka oleh Petugas SEKKAB selalu meminta
hasil pemeriksaan, sehingga Penyidik dapat memulai penyeli­
dikan dan penyidikan sebelum meminta ijin kepada Presiden.
89
Demikian pula penahanan yang dilakukan terhadap Pejabat
Negara (Bupati/Wakil Bupati) tersebut oleh Kejaksaan sebelum
ada ijin dari Presiden dengan alasan pemeriksaan perkara
tersebut sudah dalam tahap penuntutan. Tindakan penahanan
tersebut didahului dengan tindakan penangkapan atas diri
tersangka.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah,
pasal 36 ayat (1) menyatakan : tindakan penyelidikan dan
penyidikan terhadap Kepala Daerah dan atau Wakil Kepala
Daerah yang dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis
dari Presiden atas permintaan penyidik.
Pasal 36 ayat (2) menyatakan : Dalam hal persetujuan tertulis
tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling lambat 60 hari
terhitung sejak diterimanya permohonan proses penyelidikan dan
penyidikan dapat dilakukan.
Pasal 32 ayat (3) menyatakan : Tindakan penyidikan yang
dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis.

Permasalahan hukum :
Apakah tindakan Penyidik tersebut dapat dijadikan alasan
tersangka dalam permohonan Pra Peradilan tentang sah atau
tidaknya suatu penangkapan dan penahanan.

Pendapat Pengadilan T inggi:


Karena tindakan Penyidik Kejaksaan mulai dari penyelidikan dan
penyidikan tidak sesuai prosedur maka tindakan penahanan pun
adalah tidak sah dan karena itu cukup menjadi alasan untuk
mengabulkan permohonan Pra Peradilan oleh tersangka.

Jawaban :
Adalah benar sah tidaknya penangkapan dan
penahanan tersebut dapat menjadi wewenang pra
peradilan (lihat Pasal 77 (a) KUHAP).
Maka apabila telah dilakukan penangkapan dan
penahanan tidak sesuai dengan prosedur sesuai dengan
Undang-undang, dapat saja diajukan pra peradilan.

90
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN HUKUM PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MANADO

A. PIDANA
1. Pada tahun 2001 A. Memasuki dan mengolah tanah kebun
karena berhak sebagai ahli waris dari X yang oleh B tanah
kebun tersebut diakui pula sebagai miliknya dengan dasar
terdapat dalam register desa adalah C ayah dari B (pelapor).

Pokok Permasalahan
- Pada tahun 2004 perbuatan A tersebut telah dilaporkan
kepada yang berwajib dan A diproses dan diajukan ke
Pengadilan Negeri. A dinyatakan terbukti melakukan
perbuatan yang didakwakan (pasal 6 ayat 1a UU No.
51/60) tapi perbuatan tersebut bukan kejahatan/
pelanggaran A dilepas dari tuntutan hukum.
- Pada tahun 2006 untuk perbuatan A tersebut kembali
dilaporkan oleh pelapor dan A diproses dengan
dakwaan melanggar pasal 167 (1) KUHP dengan
pelimpahan perkara biasa.
- Terdakwa mengajukan eksepsi dengan alasan perkara
ne bis in idem tapi oleh majelis menolak dengan
pertimbangan pasal yang didakwakan berbeda dan
alasan pemeriksaan yang digunakan juga berbeda maka
perkara tidak nebis in idem

2. Masalah Pra Peradilan


- Kuasa dalam perkara perdata dapatkah digunakan
dalam kasus pra peradilan

3. Dalam Ketentuan pasal 205 KUHP telah diatur secara tegas


tentang kategori pemeriksaan perkara tindak pidana ringan.
Dalam rangka penegakan peraturan daerah yang
seringkali melakukan kerja sama dengan Pengadilan
Negeri dengan melaksanakan persidangan dengan
acara pemeriksaan tindak pidana ringan untuk menindak

91
pelaku ditempat kejadian, ternyata ancaman pidana
yang termuat dengan peraturan daerah tersebut lebih
dari 3 (tiga bulan) dan ancaman dendanya lebih dari
Rp.7.500,-

4. Terdakwa dalam tingkat pemeriksaan di Pengadilan Negeri


ditahan dengan status tahanan kota, dan telah diperpanjang
oleh Ketua Pengadilan Negeri berdasarkan pasal 26 (2)
KUHAP untuk selama 60 hari.
Bahwa selanjutnya penahanan terdakwa tersebut tidak
diperpanjang lagi berdasarkan ketentuan pasal 29 (1, 2)
KUHAP.

Jawaban :
1. Sudah dijawab PT.
2. Sudah dijawab PT.
3. Hukum Acara berlaku secara imperatif, sehingga untuk
perkara yang diperiksa secara TIPIRING eks Pasal 205
KUHAP adalah perkara yang ancaman hukumannya
paling tinggi 3 (tiga) bulan dan ancaman denda Rp.
7.500,-
4. Penerapan Pasal 193 ayat 2 huruf b berkaitan dengan
Pasal 197 ayat 1 huruf k KUHAP yang mewajibkan
dalam putusan untuk mencantumkan apakah terdakwa
tetap ditahan atau dibebaskan, dengan ancaman
putusan akan batal demi hukum apabila hal tersebut
tidak dicantumkan dalam putusan (Pasal 197 ayat 2
KUHAP).

92
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN HUKUM PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI KENDARI

PENGADILAN NEGERI KENDARI

1. Ada Eksepsi dan penasihat Hukum Terdakwa terhadap


Materi Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum, dimana
Eksepsi tersebut tidaklah menyangkut kewenangan
Pengadilan Negeri Kendari dalam memeriksa dan mengadili
perkara a quo.
Bahwa terhadap Eksepsi tersebut Majelis Hakim telah
menjatuhkan Putusan Sela yang amarnya : Menolak Eksepsi
Penasihat Hukum Terdakwa dan memerintahkan Jaksa
Penuntut Umum untuk melanjutkan pemeriksaan pokok
perkara.
Bahwa atas “PUTUSAN SELA” tersebut Penasihat Hukum
Terdakwa menyatakan Banding dan menurut mereka
pemeriksaan perkara harus ditunda sampai ada putusan dari
Pengadilan Tinggi Sultra terhadap Banding yang mereka
ajukan dengan alasan hal tersebut sejalan dengan ketentuan
Pasal 156 ayat (4) KUHP;

Pertanyaan :
Apakah pendapat Penasihat Hukum Terdakwa tersebut
dapat dibenarkan atau tidak?
CATATAN Terhadap sikap / Pendirian Penasihat Hukum
Terdakwa tersebut Majelis Hakim berpendapat bahwa oleh
karena materi Eksepsi yang mereka ajukan tidaklah
menyangkut masalah kewenangan Pengadilan Negeri
Kendari dalam memeriksa dan mengadili perkara a quo,
maka banding yang diajukan Penasihat Hukum Terdakwa
terhadap Putusan Sela tersebut akan dikirimkan bersama-
sama dengan pokok perkara

Jawaban :
Jawaban sesuai denan pendapat PN Kendari.

93
2. Dalam menangani tindak pidana penyerobotan atas tanah,
Penyidik selaku meminta surat izin kepada Ketua Pengadilan
Negeri setempat untuk melakukan penyitaan atas tanah yang
merupakan hasil dari tindak pidana penyerobotan tersebut;
Pada umumnya Pengadilan Negeri setempat menolak untuk
memberikan surat Izin penyitaan kepada penyidik;

Yang Menjadi Pertanyaan :


1. Apakah salah / keliru kalau Pengadilan Negeri setempat
memberikan surat izin kepada penyidik untuk melakukan
penyitaan atau tanah yang merupakan hasil dari tindak
pidana penyerobotan?.
2. Apakah salah / keliru kalau Pengadilan Negeri setempat
tidak memberikan surat izin kepada penyidik?.
3. bahwa setelah penyidik mendapat surat izin dan
Pengadilan Negeri setempat lalu melakukan penyitaan
atas tanah tersebut. Yang menjadi pertanyaan siapa
yang bertanggung jawab atas penyitaan tanah
tersebut?.

Jawaban :
1. Pengadilan Negeri dapat memberikan izin
penyitaan sesuai dengan Pasal 38 ayat (1) KUHAP.
2. Pengadilan Negeri dapat saja tidak memberikan
izin, tetapi dengan alasan yang reasonable.
3. Yang bertanggung jawab atas benda yang disita,
adalah penyidik, apabila masih dalam taraf
penyidikan.

94
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI BANGKA BELITUNG

PENGADILAN NEGERI TANJUNGPANDAN

1. Berdasarkan pasal 56 KUHAP dalam hal Terdakwa


melakukan Tindak Pidana yang diancam dengan pidana mati
atau ancaman pidana 15 tahun atau lebih atau bagi mereka
yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun
atau lebih yang tidak mempunyai Penasehat Hukum sendiri,
pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan
dalam proses Peradilan wajib menunjuk Penasehat Hukum
bagi mereka, permasalahannya di wilayah hukum Pengadilan
Kami tidak mempunyai data-data tentang Penasehat Hukum
di daerah kami sehingga menyulitkan para hakim untuk
menunjuk Penasehat Hukum bagi terdakwa sebagaimana
dimaksudkan dalam pasal 56 KUHAP, untuk itu mohon
petunjuk bagaimana penyelesaian masalah tersebut.
Jawaban :
Harus diusahakan kepada LBH, LBH dan Fakultas
Hukum dll.

2. Dalam Undang-Undang No. 3/1997 tentang Peradilan Anak


jangka waktu penahanan yang diberikan Undang-Undang
tersebut untuk pemeriksaan di Pengadilan 15 hari dan dapat
diperpanjang 30 hari (pasal 47) sedangkan Undang-Undang
No. 14/20 tentang Perikanan jangka waktu penahanan
diberikan Undang-undang tersebut untuk pemeriksaan di
Pengadilan adalah 10 hari Permasalahan yang muncul
dalam perkara perikanan terdakwanya anak-anak,
bagaimana jangka waktu penahanannya? Undang-undang
yang diterapkan?.

Jawaban :
Undang-Undang No. 3/1997 sebagai lex specialis.

95
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI SULAWESI TENGAH

1. Masalah “Petikan Putusan”


Bahwa sesuai ketentuan pasal 270 KUHAP, pelaksanaan
putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap,
dilakukan oleh Jaksa, yang untuk itu Panitera (PN) mengirimkan
Salinan Putusan kepada pihak Kejaksaan selaku eksekutor.
Demikian pula jika dikaitkan dengan ketentuan pasal 226
ayat (2) KUHAP, Salinan putusan Pengadilan diberikan kepada
Penuntut Umum dan Penyidik (suatu keharusan), sedangkan
kepada terdakwa atau Penasihat Hukumnya diberikan atas
permintaan.
Bahwa dan ketentuan tersebut diatas dapat diartikan bahwa
yang menjadi dasar Jaksa selaku eksekutor dalam melaksanakan
putusan Pengadilan adalah dengan diberikannya Salinan putusan
tersebut kepada Jaksa, tidak cukup dengan dasar “Petikan
Putusan"; Dalam praktek yang sekarang terjadi, khususnya
terhadap perkara-perkara pidana yang dimohonkan Kasasi,
setelah Mahkamah Agung memutuskan perkaranya, mendahului
penyelesaian berkas/minutasi atau pengetikan putusan di
Mahkamah Agung, oleh Mahkamah Agung dikirimkan “petikan
putusan” tersebut ke Pengadilan Negeri dengan tembusan ke
Lembaga Pemasyarakatan/Rutan dan Pengadilan Tinggi.

Permasalahan yang kemudian timbul adalah :


- bahwa sekalipun kepada Penuntut Umum tidak disampaikan
petikan putusan tersebut oleh Mahkamah Agung, akhirnya
toch Penuntut Umum mengetahui perkara tersebut telah
diputus oleh Mahkamah Agung, baik oleh karena fotocopy
petikan putusan itu disampaikan oleh Pengadilan Negeri
kepada Kejaksaan maupun Kejaksaan memperoleh informasi
tersebut dari Lembaga Pemasyarakatan/ Rutan, bahkan
tentang telah diputusnya perkara tersebut telah diketahui
oleh masyarakat umum maupun LSM.
Akibatnya masyarakat / LSM menuntut agar Jaksa segera
mengeksekusi putusan tersebut terhadap terpidana yang

96
masih bebas berkeliaran diluar (catatan, dalam hal ini adalah
perkara korupsi yang menarik perhatian masyarakat).
- Permasalahan berikutnya adalah Jaksa tidak mau
melaksanakan eksekusi putusan tersebut dengan alasan ia
hanya menerima copy petikan putusan Mahkamah Agung
tersebut, bukan salinan resmi putusan Mahkamah Agung
seperti diamanatkan pasal 270 KUHAP.
Disamping itu, dalam petikan putusan Mahkamah Agung
tersebut tiap lembarnya tidak dibubuhi stempel Mahkamah
Agung serta tidak ditandatangani oleh Majelis Hakim Agung
serta Panitera Pengganti yang bersidang.

Pertanyaannya adalah :
1. Apakah dapat dibenarkan pihak Kejaksaan menolak atau
belum mau melaksanakan eksekusi putusan Mahkamah
Agung dengan alasan yang ia terima hanya copy petikan
putusan Mahkamah Agung yang tidak dibubuhi stempel
Mahkamah Agung dan tanda tangan Majelis Kasasi yang
bersidang, dan Jaksa baru mau mengeksekusi jika
kepadanya telah diberikan salinan resmi putusan Mahkamah
Agung?.
2. Apabila Pengadilan Negeri menerima petikan putusan
Mahkamah Agung (mendahului berkas perkara dan salinan
putusannya), haruskah Pengadilan Negeri tersebut
memberitahukan isi putusan Mahkamah Agung seperti
tersebut dalam petikan itu kepada Penuntut Umum/
Kejaksaan, dan juga kepada terdakwa/ Penasihat
Hukumnya?.

Saran :
1. Kiranya Mahkamah Agung dapat memprioritaskan penyele­
saian / minutasi perkara-perkara kasasi pidana, khususnya
yang terdakwanya berada dalam tahanan dan/atau perkara-
perkara yang menarik perhatian masyarakat (antara lain
perkara korupsi), sehingga dalam waktu yang tidak terlalu
lama berkas perkara berikut salinan putusan Mahkamah
Agung dapat dikirim dan diterima Pengadilan Negeri.

97
(Catatan ada perkara korupsi dan Pengadilan Negeri Toli-Toli
diputus Mahkamah Agung bulan Desember 2005, sedangkan
berkasnya baru diterima kembali oleh Pengadilan Negeri
pada bulan Mei 2007.
2. Bahwa kalaupun Mahkamah Agung mengirimkan petikan
putusan kasasi (sebelum perkaranya diminutasi oleh
Mahkamah Agung) kepada Pengadilan Negeri yang
bersangkutan, kiranya petikan putusan Mahkamah Agung
tersebut ada dibubuhi nama dan tanda tangan Majelis Kasasi
dan Panitera Pengganti yang bersidang serta dibubuhi
stempel Mahkamah Agung pada tiap lembarnya, atau
setidak-tidaknya pengeluaran petikan putusan Mahkamah
Agung tersebut diketahui dan ditandatangani oleh Panitera
atau Wakil Panitera atau Panitera Muda Pidana Mahkamah
Agung;
Dan jika perlu pengiriman petikan putusan tersebut oleh
Mahkamah Agung tidak hanya ditujukan kepada Pengadilan
Negeri yang memutus perkaranya dalam tingkat pertama
dengan tembusan ke Pengadilan Tinggi dan Lembaga
Pemasyarakatan/ Rutan seperti selama ini terjadi, tetapi juga
diberikan kepada pihak Kejaksaan/ Penuntut Umum dan
terdakwa / Penasihat Hukumnya.
3. Bahwa guna mengatasi kesulitan yang timbul dalam praktek
(oleh karena ketentuan pasal 270 KUHAP menegaskan
bahwa pelaksanaan putusan dasarnya adalah adanya
salinan putusan yang diberikan kepada Jaksa selaku
eksekutor), kiranya perlu diterbitkan PERMA (Peraturan
Mahkamah Agung) sebagai pelengkap pasal 270 KUHAP,
yang intinya mengatur bahwa pelaksanaan putusan (perkara
pidana) tidak harus dengan salinan putusan, tetapi cukup
dengan Petikan Putusan (tentang hal ini kiranya dapat
diambil sebagai acuan perihal praktek yang dahulu pernah
dijalankan, yaitu tentang Petikan Putusan (extract Vonis) dan
keterangan putusan (verklaring) sebagaimana diatur dalam
pasal 325 HIR.

98
2. Masalah penggantian biaya bagi saksi atau ahli
Pasal 229 KUHAP menentukan bahwa bagi saksi atau ahli yang
telah hadir memenuhi panggilan dalam rangka memberikan
keterangan di semua tingkat pemeriksaan (termasuk memberikan
keterangan sebagai saksi dalam persidangan Pengadilan Negeri),
berhak mendapat penggantian biaya. Bahkan pada saat
pemanggilan, kepada saksi atau ahli tersebut wajib di beritahukan
tentang haknya atas penggantian biaya tersebut.
Bahwa dahulu semasa masalah organisasi, administrasi dan
keuangan Pengadilan masih di bawah Departemen Kehakiman,
setiap Pengadilan Negeri tersedia anggaran uang penggantian
biaya bagi saksi atau ahli dimaksud, akan tetapi kemudian
menghilang.
Pertanyaannya :
2. Apakah anggaran penggantian biaya saksi atau ahli itu masih
ada? Kalau belum ada, seyogyanya Mahkamah Agung
mengusulkannya kepada Pemerintah/Menteri Keuangan, dan
dibagikan ke setiap Pengadilan Negeri sesuai dengan
volume perkara yang ada setiap tahunnya.
Jawaban :
1. Walaupun berdasarkan pasal 226 (2) KUHAP yang
harus diberikan kepada Penuntut Umum dan Penyidik
adalah salinan putusan, tetapi khusus untuk putusan
Mahkamah Agung yang harus segera dilaksanakan
sudah ada pembicaraan dengan Kejaksaan Agung,
kepada Penuntut Umum cukup diberikan salinan
putusan Mahkamah Agung, supaya hal ini dijelaskan
kepada Kejaksaan Negeri setempat.
- Petikan putusan Mahkamah Agung hanya
ditandatangani oleh Ketua Majelis dan panitera
pengganti dan saran baik untuk dimasa yang akan
datang tiap lembar kertas di paraf dan distempel
Mahkamah Agung.
- Kesulitan Mahkamah Agung dalam minutasi,
khususnya untuk perkara-perkara yang
terdakwanya berada dalam tahanan, adalah terlalu

99
banyaknya perkara yang dimohonkan kasasi
sedangkan tenaga operator masih kurang;
2. Mengenai anggaran untuk uang saksi akan segera
diusahakan.
3. Saran yang baik dan akan dibawa ke RAPIM;
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MALUKU

A. Temuan Dalam Perkara Pidana

1. Penjatuhan pidana dalam perkara tindak pidana korupsi,


kalau semua ketentuan-ketentuan ancaman pidananya
diterapkan (komulatif), khusus mengenai pidana tambahan
pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-
banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dan tindak
pidana korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 18 ayat (1)
sub b Undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999 Jo Undang-
Undang N om or: 20 Tahun 2001 dalam hal obyek atau harta
benda yang diperoleh oleh terdakwa dan tindak pidana
korupsi belum dinikmati atau seutuhnya masih dapat disita
oleh penyidik, apabila pidana yang dijatuhkan kepada
Terdakwa selain pidana penjara dan denda sebagaimana
diatur dalam Pasal 2, 3 dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 14
Undang-undang tersebut, juga dijatuhi pidana tambahan
sebagaimana pasal 18 ayat (1) sub b di atas, maka akan
terjadi perampasan milik pribadi dan Terdakwa, karena harta
yang diperoleh dari korupsi oleh Terdakwa masih utuh dan
telah disita oleh penyidik. Kasus posisi yang demikian,
apabila pidana tambahan itu diterapkan secara konsekuen,
maka Negara akan mendapatkan harta selain yang disita dan
terdakwa pribadi senilai uang atau harta yang pernah
dikorupsi dari Negara, juga akan mendapatkan uang atau
harta sebagai pidana tambahan pembayaran uang pengganti
senilai uang atau harta yang pernah dikorupsi Terdakwa dan
milik pribadi Terdakwa. Penjatuhan pidana tambahan berupa
pembayaran uang pengganti sebagaimana tersebut di atas
terkesan terjadi “double accounting” (pembayaran dua kali)
atau Negara bertindak sewenang-wenang terhadap
Terdakwa, oleh karena itu demi kepastian hukum dan
keadilan sepertinya ketentuan pembayaran uang pengganti
sebagaimana tersebut di atas masih perlu dikaji dan dibahas;

101
Jawaban :
1. Apabila akan dijatuhkan pidana tambahan
pembayaran uang pengganti, harus terbukti lebih
dahulu dan diketahui berupa jumlah yang diperoleh
dari tindak pidana korupsi (Pasal 18 ayat 1 (b)
Undang-Undang No.31/1999 jo Undang-Undang
No.20 Tahun 2001), kalau tidak terbukti Sdr. tidak
perlu melaksanakan menjatuhkan pidana tambah
membayar uang pengganti;

Di Wilayah Pengadilan Tinggi Maluku dalam pemeriksaan


perkara pidana seperti Korupsi, Narkoba, Pembunuhan,
Perkosaan, menjelang tuntutan sering kali ditunda-tunda
bahkan berulang-ulang tanpa kepastian, karena Penuntut
Umum menunggu RENTUT (Rencana Tuntutan) dan
Kejaksaan Agung yang tidak kunjung datang.
Kedengarannya klise dan klasik, tetapi masalah penundaan
berulang-ulang sering kali berakibat fatal, Terdakwa harus
keluar demi hukum karena kewenangan menahan sudah
habis. Selain itu keadaan demikian sering menimbulkan
ketidak puasan di kalangan masyarakat serta ada kecurigaan
seolah-olah Pengadilan sengaja menunda-nunda dan
melakukan KKN dengan melakukan penundaan yang
berulang-ulang.

Jawaban :
2. Kalau akibat kesalahan Penuntut Umum, karena
RENTUT terlambat, dan masa penahanan telah
habis apa salahnya RUTAN membebaskan
terdakwa dari tahanan demi hukum.
Mengenai sikap Sdr. terhadap masyarakat pada
setiap Pengadilan Tinggi atau Pengadilan Negeri
ada HUMAS supaya memberi penjelasan tentang
hal ini kepada masyarakat melalui media Pers dan
elektronik, sedangkan ke Pengadilan Tinggi dan
Mahkamah Agung melaporkan tentang hal tersebut.
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI MATARAM

Dalam suatu perkara pidana tindak pidana Korupsi terdakwa


diputus dengan pidana penjara selama misalnya 5 tahun
ditambah denda tersebut sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus
juta rupiah) subsidair 6 bulan kurungan, dengan diwajibkan
membayar uang pengganti kepada Negara sebesar
Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) yang apabila tidak dibayar,
diganti dengan hukuman penjara selama 2 tahun (sesuai Pasal
18 Undang-Undang No.31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah
dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2001 tentang Tindak
Pidana Korupsi)

Permasalahan :
1. Bagaimana seandainya terhadap uang pengganti yang
sebesar Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) tersebut
ternyata terpidana hanya bisa membayar sebesar
Rp 887.000.000,- (delapan ratus delapan puluh tujuh juta
rupiah) lalu bagaimana penerapan perhitungan terhadap
lamanya pidana penjara pengganti terhadap uang pengganti
yang tidak bisa dibayarkan oleh terpidana, lebih-lebih uang
yang dibayarkan dalam jumlah nilai pecahan yang agak sulit
dinilai banding dengan jumlah uang pengganti dalam
padanan lamanya pidana penjara;
2. Apabila sisa kekurangan uang pengganti yang masih
sebesar Rp.2.113.000.000,- (dua milyar seratus tiga belas
juta rupiah) lagi apabila terpidana memilih dengan hukuman
penjara, apakah berarti kepada terpidana mendapat pidana
penjara 2 kali?
3. Apakah penerapan pidana penjara sebagai pengganti uang
pengganti yang harus dibayar oleh terpidana tidak menyalahi
azas umum dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (pasal
10 KUHP) dimana terpidana dalam hal ini menjalani dua.
hukuman pokok yang sejenis yaitu pidana penjara;
4. Apakah Hakim masih bisa berpedoman dengan Surat Edaran
Mahkamah Agung RI Nomor : 4 Tahun 1988 tanggal 7 Juli

103
1988 tentang Eksekusi terhadap Hukuman Pembayaran
Uang Pengganti;

Selanjutnya Kami mohon pendapat dari Mahkamah Agung


terhadap permasalahan tersebut;

Jawaban :
1. dan 2. Uang Pengganti adalah wewenang Jaksa
sebagai eksekutor.
3. hal tersebut adalah Politik Hukum pembuat Undang-
undang yang berwenang untuk menetapkan ketentuan
yang bersifat lex specialis.
4. Tidak dapat, SEMA tersebut dibuat karena pada waktu
masih berlaku Undang-Undang No.3 tahun 1971 tidak
ada pidana penjara pengganti denda.

Dalam suatu perkara pidana di Pengadilan Negeri Selong yang


sedang berjalan, ternyata terdakwanya adalah anak yang masa
penahanan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri telah habis;

Permasalahan :
Terhadap masa penahanan yang telah habis tersebut selanjutnya
Ketua Pengadilan Negeri meminta perpanjangan penahanan
kepada Pengadilan Tinggi berdasarkan Pasal 29 KUHAP.

Pendapat Pengadilan T inggi:


Permintaan perpanjangan penahanan tersebut ditolak dengan
alasan bahwa Pasal 29 KUHAP tidak berlaku bagi Peradilan Anak
dan mengenai perpanjangan penahanan guna kepentingan
pemerintah terhadap terdakwa anak-anak yang proses
pemeriksaannya belum selesai, telah diatur khusus dalam pasal
50 Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997 (peradilan anak) hanya
dimungkinkan terhadap terdakwa anak yang menderita gangguan
fisik atau mental yang berat;

Jawaban :
Pengadilan Tinggi benar, lagi pula penahanan tidak bersifat
inperative, tetapi “dapat”.
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI JAWA TIMUR

PENGADILAN NEGERI NGAWI

1. Perkara pidana yang terdakwanya tidak ditahan, dalam putusan


Pengadilan Negeri Ngawi terdakwa dinyatakan terbukti bersalah
dan dijatuhi pidana penjara dan dalam amar putusannya lain ada
dinyatakan terdakwa diperintahkan untuk ditahan. Sedangkan
terdakwa pada saat putusan itu dibacakan langsung menyatakan
banding. Namun Jaksa Penuntut Umum langsung menahannya
dengan alasan melaksanakan penetapan hakim yang
menyatakan agar terdakwa segera ditahan, padahal penetapan
penahanan dan Pengadilan Tinggi belum turun (belum ada).
Bagaimana menyikapi sikap Jaksa yang demikian itu, dan apakah
penahanan yang dilakukan oleh Jaksa tersebut dapat
dibenarkan?
Jawaban :
Penahanan tersebut sesuai Pasal 193 ayat 2 huruf (b) jo
pasal 197 ayat 1 huruf k KUHAP dapat diperintahkan missal
untuk penahanan tersebut dipenuhi syarat berdasarkan
Pasal 21 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP.

2. Perkara pelanggaran terhadap (pasal 50 ayat 3 huruf h, 50 ayat 3


huruf e) Undang-Undang Nomor /: 41 tahun 1999 tentang
Kehutanan, di Kabupaten Ngawi banyak kasus kayu jati yang
barang bukti kayu jatinya berasal dari kebon rakyat dan kayu
bekas bongkaran rumah yang usianya sudah puluhan tahun dan
bisnis kayu seperti ini banyak di Kabupaten Ngawi. Dalam kaitan
kasus kayu tersebut memang terdakwa di dalam membawa,
memiliki mengangkut kayu tersebut sering tidak dilengkapi
dengan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan dengan alasan
prosedur pengurusan surat terlalu birokratis, memakan waktu
lama dan biaya besar sehingga dalam praktek terdakwa hanya
melengkapinya dengan kwitansi pembelian dan Surat Keterangan
dari Kepala Desa.

105
Dan rasa keadilan Hakim Pengadilan Negeri Ngawi harus
menjatuhkan putusan yang bagaimana? Apakah harus mengacu
kepada sanksi pidana yang diatur dalam pasal 78 ayat 7 dan
pasal 78 ayat 15 Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang
Kehutanan, dengan amar kayu dan alat angkutnya harus
dirampas untuk Negara, padahal kita tahu dari fakta yang
diperoleh di persidangan bahwa kayu tersebut cara mendapat­
kannya legal (resmi), hanya proses administrasinya, (SKSHH-
nya) yang belum diurus.
Jawaban :
Mengenai pidana yang dijatuhkan adalah wewenang Sdr.
untuk mencantumkannya sedangkan mengenai barang bukti
supaya diperhatikan Pasal 78 ayat 15 Undang-Undang No.41
Tahun 1999 dan SEMA.

3. Dalam kasus pidana yang terdakwanya tidak ditahan, dalam amar


putusan terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana
penjara, namun dalam amar putusan selanjutnya tidak ada
pernyataan yang menyatakan terdakwa segera ditahan padahal
terdakwanya tidak ditahan.
Apakah boleh Penuntut Umum langsung melaksanakan eksekusi
padahal terdakwa menyatakan banding?

Jawaban :
Karena dalam amar putusan tidak tercantum perintah
penahahan masalah Penuntut Umum tidak berwenang untuk
melakukan penahanan, apabila terhadap putusan tersebut
tidak diajukan permohonan banding.

106
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI PEKANBARU

PENGADILAN NEGERI ROKAN HILIR

1. Masalah tahanan yang sudah habis, baik perpanjangan Ketua


Pengadilan Negeri, maupun oleh Ketua Pengadilan Tinggi,
tuntutan oleh Penuntut Umum belum juga dibacakan, Bagaimana
sikap Hakim?

Jawaban :
Berikan saja RUTAN membebaskan demi hukum tahanan;

2. Masalah jadwal sudah ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri


Rokan Hilir menilai jam 10.00 WIB sampai dengan jam 16.00 WIB
dan surat ini sudah dikirim ke Kepala Kejaksaan Negeri Ujung
Tanjung, dan Penuntut Umum sudah mengetahui, namun
Penuntut Umum baru dapat memperhadapkan Terdakwa ke
persidangan pada jam 13.00 WIB, Bagaimana sikap Hakim?

Jawaban :
Ketua Pengadilan Negeri kondisikan dan konsultasikan
dengan Kajari.

3. Masalah eksekusi/berita acara eksekusi, oleh kejaksaan tidak


dikirim ke Pengadilan.
Bagaimana sikap Pengadilan menghadapi hal yang demikian?

Jawaban :
Ketua Pengadilan Negeri supaya membicarakan dengan
Kajari.

4. Masalah Narapidana membawa HP ke Rutan.

Jaw aban:
Narapidana wewenang LAPAS.

107
5. Masalah pegawai yang kurang, sedangkan volume perkara tinggi,
perlu diinformasikan bahwa untuk Pengadilan Negeri Rokan Hilir
hanya mempunyai 1 (satu) orang Panitera, 2 (dua) orang Panitera
Pengganti dan 2 (dua) orang CPNS, Pam Mud, Pendeta 1 (satu)
orang, sedangkan semua bidang seperti hukum, pidana minimum
tidak mempunya Pam Mud.

Jawaban :
Administrasi.

6. Masalah tuntutan masa tahanan sudah habis belum dituntut oleh


Penuntut Umum.
Bagaimana sikap Majelis Hakim?

Jawaban :
Lekat jawaban No.1

7. Terdakwa 2 (dua) orang dalam satu berkas, sedangkan Penuntut


Umum hanya mampu menghadapkan 1 (satu) orang terdakwa.
Bagaimana penyelesaiannya?

Jawaban :
Periksa saja terdakwa yang hadir materil yang tidak hadir
sejak semula, dinyatakan tertulis Penuntut Umum tidak dapat
diterima.

8. Masalah tahanan yang masih berstatus Hakim, tetapi berkeliaran


(tidak berada dalam tahanan) sedangkan jika ditanya ke Rutan
atau Penuntut Umum diantaranya tidak ada yang mengaku selaku
Penjamin.
Bagaimana penyelesaiannya?

Jawaban :
Ketua Pengadilan Negeri supaya mencantumkan hal tersebut
dengan Kepala RUTAN dan KAJARI.

108
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI JAKARTA

PENGADILAN NEGERI JAKARTA TIMUR


Hukum Acara Pidana
1. Sebagaimana Ketentuan pasal 160 ayat 3 KUHP sebelum
memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau
janji menurut cara agamanya masing-masing bahwa ia akan
memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain dari
pada yang sebenarnya. Bagaimana cara penyumpahan yang sah
terhadap saksi yang mengalami bisu tuli apa cukup hanya
menggunakan penterjemah saja?
2. Seorang saksi yang keterangannya disangka palsu sebagaimana
ketentuan pasal 174 KUHAP terhadapnya dapat diperintahkan
Hakim untuk ditahan, jadi reasongnya disini belum ada perkara,
belum ada berkas dan belum disidangkan sudah ada penahanan
atas perintah Hakim dan berarti hal ini merupakan acara yang
khusus (Lex Specialis).

Pertanyaannya :
a. Secara Yuridis siapakah yang bertanggung jawab atas
penahanan tersebut?
b. Apakah perpanjangan penahanan berdasarkan ketentuan
pasal 24, 25, 26 KUHAP.
c. Walaupun pasal 174 KUHP merupakan acara yang khusus
apakah pemeriksaan dan penyidikannya tetap harus
dilaksanakan oleh penyidik POLRI?
d. Bagaimana jika Penuntut Umum tidak melaksanakan
perintah Hakim tersebut

Jawaban :
1. Tentunya harus ada juru sumpah mengucapkan lapas
sumpah dan diterjemahkan untuk diikuti oleh yang bisu
tuli tersebut.
2. a) karena untuk keperluan penyidikan tanggung jawab
yuridis atas penahanan tersebut adalah penyidik

109
b) ya
c) Oleh Penyidik POLRI
d) Ketua Pengadilan Negeri melaporkan ke Kajari dan
Kajati, karena hal tersebut sudah menjadi
kewenangan Penuntut Umum berdasarkan pasal
(6.a) jo pasal 14 G) KUHAP
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI KALIMANTAN SELATAN

1. Kasasi Putusan Pra Peradilan


Pasal 244 KUHAP pada dasarnya tidak membuka kemungkinan
Kasasi atas putusan pra peradilan karena tidak sesuai dengan
prinsip penyelesaian cepat yang menjadi tujuan pra peradilan.
Namun demikian bilamana pihak yang tidak puas atas putusan
pra peradilan yang merupakan putusan Pengadilan Tingkat
Pertama dan terakhir (tidak dimungkinkan banding dan kasasi),
mengajukan permohonan kasasi, apakah permohonan kasasi
tersebut ditolak sejak upaya hukum tersebut diajukan atau
permohonan kasasi tersebut, tetap didaftarkan dan diteruskan ke
Mahkamah Agung RI ?
Contoh : Kasus pencemaran lingkungan oleh New Mont di desa
Buyat Sulawesi Utara, dimana pra peradilan dikabulkan
oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemudian
kasasi, diterima dan dikabulkan oleh Mahkamah Agung
RI.
Jawaban :
1. Kasasi Putusan Praperadilan
Permohonan kasasi tetap diterima dan diteruskan ke
Mahkamah Agung.

2. Terhadap perkara pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum,


Hakim karena pengetahuannya diawal persidangan menilai
bahwa surat dakwaan tidak sesuai dengan yang dikehendaki
pasal 143 ayat (2) KUHAP.
Apakah terhadap masalah ini Hakim dapat secara langsung
menjatuhkan putusan sebelum pembuktian yang menyatakan
surat dakwaan batal demi hukum dan penuntutan tidak dapat
diterima tanpa ada eksepsi / keberatan dari Terdakwa atas surat
dakwaan tersebut?.

111
Jawaban :
2. Apabila Surat Dakwaan tidak memenuhi Pasal 143
KUHAP, Hakim tidak dapat langsung menjatuhkan
putusan apabila tidak ada eksepsi/keberatan, kecuali
eksepsi tentang kewenangan absolut.

112
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PIDANA
WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI JAWA BARAT

PENGADILAN NEGERI PURWAKARTA


1. Dalam hal tindak pidana ex Pasal 372 atau 378 KUHP, barang
bukti berupa mobil, yang dibeli secara tunai dan hasil kejahatan
tersebut, dalam proses perkara di tingkat penuntutan oleh
Penuntut Umum telah dipinjam pakaikan kepada Perusahaan
leasing dengan alasan merupakan jaminan, leasing didaftarkan
sesudah ada penyitaan. Saat persidangan Majelis Hakim telah
memerintahkan Penuntut Umum untuk menghadirkan barang
bukti, kemudian telah diserahkan di persidangan. Hal-hal apa
sajakah yang dapat dilakukan sebelum putusan, jika :
a. Ternyata BPKB masih berada di perusahaan leasing
tersebut?
b. Pihak korban menuntut kerugian diantaranya agar BB
diserahkan kepada korban untuk penggantian kerugian?
Saran Penyelesaian :
a. Hakim secara ex officio mengeluarkan Penetapan Penyitaan
selama pemeriksaan masih berlangsung untuk menyita
BPKB.
b. Dengan persetujuan terdakwa, kendaraan dapat diserahkan/
dipinjam pakaikan kepada korban, untuk nantinya ditetapkan
statusnya dalam putusan, guna meminimalisir kerugian
korban.

2. Dalam hal tindak pidana kesusilaan, Penuntut Umum mengajukan


dakwaan Primair Pasal 81 ayat (1) UU Perlindungan Anak,
sedangkan subsidair Pasal 82 UU Perlindungan Anak. Perbuatan
terdakwa berupa 1 kali bersetubuh, dan berkali-kali cabul dalam
rentang waktu yang lama. Apakah dapat dibuktikan menjadi
komulatif, Primair untuk persetubuhan dan Subsidair untuk
perbuatan cabul? Atau apakah dakwaan tersebut termasuk dalam
kelompok dakwaan yang tidak cermat sehingga harus batal demi
hukum atau tidak dapat diterima?

113
Saran Penyelesaian :
a. Progresif. Fakta sampai persetubuhan dibuktikan,
selanjutnya fakta cabul juga dibuktikan, sehingga hasil akhir
dalam amar komulasi Tindak pidana persetubuhan dan
pencabulan terhadap anak. ATAU
b. Moderat. Diambil putusan sela dari awal persidangan setelah
dakwaan dibacakan amarnya penuntutan Penuntut Umum
dinyatakan tidak dapat diterima dengan alasan tidak cermat,
meskipun tidak ada eksepsi. Hakim melakukan penilaian
secara ex officio.
c. Konvensional. Secara informal sebelum persidangan (dalam
masa 7 hari) disampaikan kepada Penuntut Umum yang
bersangkutan tentang hal tersebut agar diperbaiki, namun
jika itu dilakukan Hakim sudah berada pada tataran parsial
(memihak) bertentangan dengan prinsip imparsialitas.

Apakah Perintah Hakim ex Pasal 174 (2) KUHAP kepada


Penuntut Umum untuk menindaklanjuti keterangan saksi dalam
hal diduga keterangannya Palsu,
a. Harus selalu ditindaklanjuti dengan penyerahan perkara
tersebut kepersidangan?
b. Apakah tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh Majelis
Hakim jika ternyata PU tidak menyerahkan perkara itu ke
pengadilan dengan alasan bukti ternyata tidak mencukupi?
c. Jika diserahkan ke Pengadilan, apakah Majelis yang
menyidangkan perkara tersebut selalu harus Majelis Hakim
yang sama?

Saran Penyelesaian :
a. Moderat. Seharusnya terbukti atau tidaknya kesalahan
seseorang hanya dapat dilakukan setelah proses
persidangan, sehingga berkas tersebut wajib untuk
diserahkan ke sidang pengadilan, Hakim yang menyidangkan
adalah Hakim yang sama dengan menyidangkan perkara
semula, dengan alasan Pengetahuan Hakim di persidangan
terdahulu atas saksi yang diduga memberikan keterangan
tidak benar itu merupakan bukti yang sempurna bagi
kesalahan terdakwa.
b. Progresif. Perkara tersebut langsung diputus oleh Majelis
yang sama dan langsung saat terjadi keterangan palsu
tersebut tanpa menunggu adanya proses dari awal berupa
penyidikan maupun penuntutan. Tujuannya adalah agar
segera ada kepastian hukum dan sekaligus demi tegaknya
kewibawaan Pengadilan. Kendala perangkat perundang-
undangan belum mengatur adanya penyim-pangan proses
acara seperti ini.
c. Konvensional. Proses dari awal penyidikan dan penuntutan
seperti perkara lainnya, Hakim yang menyidangkan tidak
harus dan Majelis yang sama. Kendala jika menurut
penyidik/Penuntut Umum tidak terdapat bukti yang cukup,
mereka tidak akan menyerahkan ke Pengadilan, Kewiba­
waan pengadilan dipertanyakan.

Pidana Materiil
4. Dalam hal terjadi tindak pidana ex Pasal 335 KUHP ataupun
tindak pidana lainnya sepanjang korban adalah Hakim yang
sedang melaksanakan tugasnya, contoh kasus seseorang
memaksa untuk disidangkan oleh seorang Hakim sedangkan
yang bersangkutan bukanlah terdakwa yang sebenarnya. Contoh
Perkara Pidana No : 241/Pid.B/2006/PN.PWK (dalam proses
kasasi). Bagaimanakah rumusan kualifikasi tindak pidananya?

Saran Penyelesaian :
Secara lazimnya kualifikasi tindak pidana ex Pasal 335 KUHP
adalah “Perbuatan tidak menyenangkan” namun jika korbannya
adalah Hakim dan pidana terjadi saat Hakim melaksanakan
tugasnya maka meskipun belum diatur dalam Undang-Undang
tersendiri tentang comptemp of court, dengan menarik dasar dan
Pasal 24 UUD 1945 menjadikan Kualifikasi tindak pidana “Tindak
Pidana Menentang Kekuasaan Kehakiman memaksa Hakim
untuk bersidang” Dengan demikian praktek akan merumuskan
hal-hal atau materi tentang comptemp of court. Dengan
penafsiran yang dilakukannya Hakim memakai Undang-undang
sehingga dapat diterapkan dalam peristiwa konkrit. Hakim adalah
penemu hukum. (Prof. Sudikno Metokusumo). Hakim juga

115
pembentuk Undang-undang melalui putusannya (Prof. Sunaryati
Hartono).

Jawaban :
1. Yang ditanyakan oleh Sdr. adalah mengenai perkara
yang sedang berjalan, putus saja sesuai dengan
pendapat Sdr. berikan hasil banding dan kasasi.
2. (Lihat jawaban sebelumnya).

116
PERMASALAHAN HUKUM
DARI DAERAH DAN JAWABAN
BIDANG AGAMA

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
PERDATA AGAMA
MAHKAMAH SYAR’IYAH PROVINSI NAD

1. Permasalahan
Objek perkara dalam putusan Mahkamah Syar’iyah/Pengadilan
Agama (tingkat pertama, banding dan kasasi) yang telah BHT,
ketika akan dieksekusi ternyata telah diletakkan sita jaminan
dalam perkara di peradilan umum.
Bagaimana cara mengeksekusinya dan apa yang harus ditempuh
oleh Mahkamah Syar’iyah/Pengadilan Agama ?

J aw ab :
Tidak dapat dilakukan eksekusi dan harus dilakukan sita
persamaan terlebih dahulu.

2. Permasalahan
Eksekusi riel terhadap harta bersama atau warisan dalam diktum
tidak disebutkan cara pembagiannya dengan lelang atau dengan
cara kompensasi.
Bolehkah jurusita melaksanakan eksekusi dengan cara lelang
atau membagi secara kompensasi atau dengan cara menentukan
bagian satu objek untuk Penggugat dan satu objek lagi untuk
Tergugat, padahal cara itu tidak disebut dalam diktum, dan
persoalannya bila hal tersebut dibolehkan, berarti jurusita telah
melebihi kewenangan Hakim dalam melaksanakan isi putusan,
namun bila tidak dibenarkan pelaksanaan eksekusi tidak dapat
dilaksanakan.

Jawab :
Laksanakan sesuai amar putusan dan bila tidak dapat
dilaksanakan, maka non eksekutable.

3. Permasalahan
Pemberitahuan isi putusan kepada pihak yang tidak hadir, verstek
atau contradictoir sifatnya wajib karena menentukan kapan
perkara tersebut BHT, dan relaas pemberitahuan tersebut masuk
dalam minutasi.

117
Yang menjadi persoalan biaya pemberitahuan ini tidak termasuk
dalam biaya perkara yang dicantumkan dalam putusan. Selama
ini secara administrasi biaya dikeluarkan dan pembukuannya
tidak ada.
Apa tidak sebaiknya biaya pemberitahuan ini masuk bagian biaya
panggilan yang disebut dalam putusan.

Jawab :
Pemberitahuan isi putusan tidak dapat dimasukkan dalam
biaya panggilan karena dalam register sudah ada kolom
pemberitahuan isi putusan meskipun dalam amar putusan
tidak dimasukkan.

4. Permasalahan
Panggilan kepada Tergugat untuk sidang pertama disampaikan
melalui Kepala Desa dan dalam relaas ditulis oleh Jurusita bahwa
Kepala Desa bersedia menyampaikan dan menandatangani
relaas tersebut, dalam persidangan Tergugat tidak hadir, lalu
Majelis memerintahkan dipanggil lagi, dan pada panggilan kedua
dalam relaas dijelaskan bahwa Tergugat bukan warga desa
tersebut.
Apakah sidang terhadap perkara tersebut dapat dilanjutkan
dengan alasan relaas pertama sudah sah dan patut, atau sidang
dialihkan menjadi perkara ghaib ?

Jawab :
Penggugat dianjurkan untuk merubah gugatannya dengan
perkara ghaib.

5. Permasalahan
Perkara gugatan kewarisan tahun 1984 objek perkara sebidang
tanah, telah diajukan upaya hukum banding, kasasi dan PK.
Sewaktu akan dilakukan eksekusi ternyata terdapat kekeliruan
mengenai batas-batas tanah dimaksud, selain itu tanah tersebut
juga telah dijual kepada orang lain.
Apakah Mahkamah Syar’iyah berwenang memperbaiki batas
tanah tersebut ?
Kalau tidak upaya apa yang dapat ditempuh oleh pihak yang
merasa dirugikan ?

118
Jawab :
Mahkamah Syar'iyah/Pengadilan Agama tidak boleh
melakukan perubahan batas dan luas tanah tersebut. Agar
tidak dirugikan, pihak pemohon eksekusi dapat mengajukan
gugatan kepada Mahkamah Syar’iyah/Pengadilan Agama
dengan petitum "Mohon perubahan atas batas-batas dan
luas tanah tersebut”. Mengenai pembatalan jual beli tanah
diajukan di Pengadilan Negeri.

6. Permasalahan
Perkara harta bersama, objek gugatan rumah beserta tanah,
putusan peradilan tingkat pertama NO, lalu Penggugat/isteri
banding dan oleh Pengadilan tingkat banding dibatalkan serta
membagi harta bersama tersebut.
Penggugat/isteri minta eksekusi akan tetapi ternyata harta
bersama tersebut telah dijual oleh Tergugat/suami kepada pihak
ketiga, sementara Penggugat/isteri tetap meminta agar eksekusi
dilaksanakan secara riel dan tidak mau dikompensasi dengan
yang lain.
Bagaimana solusinya ?
Jawab :
Non eksekutable.

7. Permasalahan
Perkara cerai talak yang diajukan oleh seorang suami terhadap
isterinya, sementara suami sebenarnya telah menceraikan
isterinya secara liar (di bawah tangan) sebanyak tiga kali yang
dijatuhkan secara terpisah dalam tiga kali kejadian.
Dalam persidangan keduanya berkeinginan rujuk kembali karena
mengingat masa depan anak-anak.
Bagaimanakah cara Pengadilan menjatuhkan putusan ?
Bila Pengadilan menganggap tidak ada talak tiga, maka akan
bertentangan dengan hati nurani karena mereka telah
menjatuhkan talak dengan tata cara syari’at Islam ?
Seandainya Pengadilan memberi putusan agar suami
menjatuhkan talak yang ketiga, maka akan kuat dugaan mereka
tidak akan datang dalam persidangan.
Bagaimana jalan keluarnya ?

119
Jawab :
Talak di luar Pengadilan tidak sah, lihat ketentuan Pasal 39
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
dan Pasal 34 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

8. Permasalahan
Pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal
139 Kompilasi Hukum Islam menentukan terhadap Tergugat yang
tidak diketahui alamatnya, maka panggilan dilakukan melalui
mass media sebanyak dua kali dengan tenggang waktu satu
bulan antara pengumuman pertama dengan kedua, dan tenggang
waktu pemanggilan terakhir dengan persidangan ditetapkan
sekurang-kurangnya tiga bulan.
Sehubungan dengan hal tersebut ditemukan kelambatan proses
berperkara bila dihubungkan dengan asas peradilan sederhana,
cepat dan biaya ringan, terlebih lagi bila dikaitkan dengan
penyelesaian perkara hendaknya sedapat mungkin diselesaikan
dalam jangka waktu enam bulan.
Disarankan agar ketentuan tersebut dapat direvisi dengan
menentukan tenggang waktu pemanggilan sampai dengan dibuka
kembali persidangan lebih singkat.

Jawab :
Laksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Bila pihak keberatan atas PP tersebut ajukan
judicial review.

9. Permasalahan
Menurut Pasal 273 RBg Penggugat/Tergugat yang tidak mampu
membayar biaya perkara dapat diizinkan untuk berperkara secara
Cuma-Cuma.
Ketentuan menghendaki pemanggilan dilakukan dengan resmi
dan patut, namun keharusan tersebut sulit dilaksanakan dengan
tidak adanya biaya, belum lagi biaya-biaya lain yang dibutuhkan,
sementara sumber dana untuk mengatasi hal tersebut tidak
ditemukan.
Untuk itu disarankan agar ada alokasi dana yang dianggarkan
khusus untuk itu.

120
Jawab :
Biaya dapat diambil dari Dipa.

10. Permasalahan
Ditengah pengaruh gender yang sedang mengglobal dewasa ini
masih saja ditemui kejadian seperti pada zaman Siti Nurbaya,
yakni perkawinan yang masih dilakukan atas keinginan orang tua
semata tanpa persetujuan baik dari keduanya maupun salah satu.
Terhadap kasus tersebut biasanya pihak isteri mengajukan
pembatalan pernikahan ke Mahkamah Syar’iyah yang disertai
tuntutan ganti rugi terhadap pihak yang menyebabkan kerugian
tersebut, termasuk di dalamnya PPN yang bertanggung jawab
atas terlaksananya perkawinan.
Dalam hal demikian apakah ada kemungkinan ditetapkan ganti
rugi dan menjadi wewenang siapa serta siapa yang harus
bertanggung jawab ?

Jawab :
Kasus ganti rugi bukan wewenang Mahkamah Syar’iyah/
Pengadilan Agama.

11. Permasalahan
Bila terjadi pihak isteri menghilang/tidak diketahui alamatnya
bahkan tidak jarang si isteri telah kawin lagi dengan laki-laki lain
sebelum ada perceraian dengan suaminya, lalu suami yang
merasa isterinya telah hilang/tidak diketahui lagi alamatnya
tersebut mengajukan cerai talak.
Biasanya terhadap suami yang akan menceraikan isterinya oleh
Pengadilan selalu dibebani mut’ah, nafkah selama masa iddah
sesuai kemampuan suami.
Kemana mut’ah dan nafkah iddah tersebut diserahkan ?
Apakah ditunggu, dan kalau ditunggu berapa lama ?
Atau diserahkan kepada keluarganya, lalu keluarga yang mana ?
Atau kalau tidak ada keduanya, apakah tidak perlu dibebani apa-
apa kepada suami ?

Jawab :
Disimpan di Mahkamah Syar’iyah/Pengadilan Agama
(Konsinyasi).

121
Sebaiknya suami tidak dibebani mut’ah dan nafkah
iddah. Isteri bila keberatan dapat mengajukan gugatan
mengenai nafkah iddah dan mut’ah dalam perkara baru.

12. Permasalahan
Bank meminta penetapan ahli waris dari Mahkamah Syar’iyah/
Pengadilan Agama, sedangkan menurut petunjuk Buku II
penetapan ahli waris tidak ada, karena untuk pengesahan ahli
waris cukup di waarmeking oleh Ketua pada susunan ahli waris
yang telah dibuat.
Dalam hal seperti itu bagaimana proses penyelesaiannya ?

Jawab :
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan
atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama membolehkan penetapan ahli waris oleh
Pengadilan Agama.

122
PENGADILAN TINGGI AGAMA PADANG

1. Permasalahan
Seorang janda semasa perkawinan dengan bekas suaminya tidak
mempunyai keturunan mengajukan gugatan ke Pengadilan
Agama dengan tuntutan agar suaminya menyerahkan 'A
(seperdua) dari gajinya yang kebetulan mantan suaminya
tersebut pegawai BUMN.
Oleh Pengadilan Agama gugatan ditolak dengan pertimbangan
bukan wewenang Pengadilan Agama dan gugatan tidak berdasar
hukum.
Jika Pengadilan Agama berpendapat perkara a quo bukan
wewenangnya, kenapa tidak sejak awal perkara dinyatakan tidak
berwenang, akan tetapi malah memeriksa perkara sampai tuntas.
Anehnya lagi dalam pertimbangan berikutnya Pengadilan Agama
menyatakan gugatan tidak beralasan dan tidak berdasar hukum,
sementara putusannya menolak bukan NO.
Dikalangan praktisi apabila perkara ditolak disebabkan karena
gugatan tidak terbukti, akan tetapi dalam perkara a quo gugatan
terbukti.
Jawab :
Bukan wewenang Pengadilan Agama, dan seharusnya yang
bersangkutan mengajukan permohonan ke Instansi dimana
mantan suaminya bekerja. Bila oleh Instansi permohonannya
ditolak, maka yang bersangkutan dapat mengajukan ke
PTUN.

2. Permasalahan
Dalam proses perkara permohonan cerai talak sering dijumpai
isteri selaku Termohon menyatakan bersedia cerai dengan syarat
suami memenuhi mut’ah, nafkah iddah dan nafkah madliyah
dalam jumlah tertentu.
Apakah perkara seperti ini layak disebut dan digolongkan pada
gugatan rekonvensi ?
Jawab :
Secara ex officio Hakim dapat menetapkan mut’ah, nafkah,
maskan dan kiswah selama masa iddah, karenannya

123
terhadap tuntutan ini tidak digolongkan gugatan rekonvensi.
Sedangkan terhadap tuntutan nafkah madliyah dapat
digolongkan sebagai gugatan rekonvensi dengan ketentuan
dilengkapi dengan alasan-alasan yang mendukung (posita
rekonvensi).

3. Permasalahan
Penetapan Pengadilan Agama dalam mengangkat anak akan
menimbulkan akibat hukum antara lain hak dan kewajiban timbal
balik antara orang tua angkat dengan anak angkatnya, seperti
biaya hadhanah, pendidikan dan lain-lain.
Hukum materil Peradilan Agama (Kompilasi Hukum Islam) tidak
mengatur hak dan kewajiban orang tua angkat terhadap anak
angkatnya.
Apakah dasar hukum adanya kewajiban hadhanah, biaya
pendidikan dan lainnya yang dibebankan kepada orang tua
angkatnya ?
Dapatkah orang tua angkat yang melalaikan kewajiban
tersebut dituntut, baik untuk membayar kewajiban tersebut
maupun untuk membatalkan pengangkatan anak yang telah
terjadi ?

Jawab :
Dasar hukumnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama
yang akan segera terbit.

4. Permasalahan
Salah satu persyaratan harta benda wakaf yang akan diwakafkan
oleh si wakif adalah harta milik (harta milik sempurna/taam, dalam
arti dia bebas bertasharruf terhadap harta itu).
Harta pusaka tinggi di Minangkabau bukanlah harta milik
perseorangan atau kelompok, tapi harta milik kaum dari dulu,
sekarang dan yang akan datang yang diwariskan secara turun
temurun dan harta tersebut tidak boleh dijual dan dipindahkan
dalam bentuk apapun.

124
Perkara sengketa wakaf yang masuk ke Pengadilan Agama
umumnya berasal dari harta pusaka tinggi.
Bagaimana sikap Pengadilan Agama terhadap status harta
dimaksud dalam memutus perkara ?

Jawab :
Kasus tersebut diputus saja dengan memperhatikan
ketentuan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Selain itu Pengadilan
Agama juga dapat memutus perkara tersebut sepanjang
seluruh kaumnya sepakat untuk mewakafkan.

5. Permasalahan
Sebagaimana diketahui syarat-syarat surat kuasa khusus adalah
tertulis, menyebutkan identitas, menegaskan objek tentang apa
yang diperkarakan, tidak menyebutkan tentang bea materai.
Apakah sebuah surat kuasa khusus mesti dibubuhi materai dan
apabila tidak apakah Hakim dapat menyatakan surat kuasa cacat
formil sehingga gugatan di NO ?

J aw ab :
Harus dimaterai, bila surat kuasa khusus tersebut belum
dimaterai, maka pihak yang memberi kuasa diperintahkan
agar surat kuasa tersebut diberi materai, bila ia menolak,
maka perkara di NO.

6. Permasalahan
Apakah penggunaan bea materai berlaku pada surat gugatan/
permohonan sebagaimana dalam putusan, penetapan dan akta
cerai ?
Mohon dijelaskan surat-surat apa saja yang mesti memakai bea
materai ?

Jawab :
Surat gugatan dan permohonan tidak perlu di materai.
Pedomani Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang
Bea Materai.

125
7. Permasalahan
Hukum adat Minangkabau berdasarkan sistem Matriakat,
karenanya pelaksanaan pembagian harta bersama bagi isteri
yang meninggal dunia sangat sulit untuk dilaksanakan, karena
ahli waris (anak) berpendapat semua harta peninggalan tersebut
adalah harta waris, bahkan bila perlu semua harta peninggalan
adalah untuk anak.
Kami mengusulkan kiranya pembagian harta bersama bagi isteri
yang meninggal dunia tidak dilaksanakan, jadi pembagian harta
bersama hanya untuk suami/isteri yang bercerai hidup.

J a w ab :
Perkara diselesaikan dengan mempedomani ketentuan Pasal
28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman.

8. Permasalahan
Hubungan SEMA Nomor 6 Tahun 1983 tentang Penyempurnaan
SEMA Nomor 2 Tahun 1979, SEMA Nomor 4 Tahun 1989 dan
SEMA Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Anak perlu
penyesuaian dengan ketentuan Pasal 49 huruf (a) (penjelasan)
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 terutama yang berkenaan
dengan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam
jo Pasal 39 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.

Jawab :
Dipertimbangkan untuk diteruskan kepada Ketua Mahkamah
Agung. Namun demikian Pengadilan Agama sudah dapat
memutus dengan mempedomani Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 serta revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan
Agama yang akan segera terbit.

9. Permasalahan
Sebelum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Administrasi Kependudukan dilaksanakan perlu disikapi hal-hal
sebagai berikut:
a. Pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu seperti
diatur dalam Pasal 32 ayat (2) sehubungan dengan :

126
Ketentuan Pasal 55 UU Nomor 1 Tahun 1974.
Penjelasan Pasal 49 ayat (2) nomor urut 20 Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah
diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006.
b. Penjelasan Pasal 35 huruf (a) UU Nomor 23 Tahun 2006,
karena Indonesia tidak mengenal perkawinan yang
dilaksanakan antar umat yang berbeda agama. Hal ini juga
tidak sejalan dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1
Tahun 1974.
c. Pencatatan perceraian di Indonesia seperti diatur pada Pasal
40 ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2006 seolah-olah atau
terkesan bahwa ketentuan itu juga termasuk perceraian yang
dilaksanakan di Pengadilan Agama.

J aw ab :
Saran ditampung.

127
PENGADILAN TINGGI AGAMA JAMBI

1. Permasalahan
Kealpaan pembubuhan tanggal pada materai putusan dan alat
bukti apakah berakibat batal demi hukum atau ada alternatif untuk
diperbaiki saja ?
Jawab :
Diperbaiki dengan memberikan tanggal pada materai
tersebut.

2. Permasalahan
Bagaimana formulasi disenting opinion dalam putusan, apakah
menyatu dalam pertimbangan hukum perkara atau dibuat
tersendiri yang terpisah dengan putusan ?

Jawab :
Dissenting opinion belum ada peraturan pelaksanaannya dari
Mahkamah Agung sebagaimana diamanatkan Pasal 19 ayat
(6) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, sehingga dalam
perkara Perdata Agama sebaiknya tidak menggunakan
dissenting opinion. Namun jika ada perbedaan pendapat
diantara para Hakim, maka dibuat catatan dalam buku
catatan sidang Hakim yang dipegang oleh Ketua pengadilan.

3. Permasalahan
Asas Pasal 55 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, setiap kali
sidang pihak-pihak harus dipanggil.
Bagaimana dengan perkara ghaib yang dipanggil melalui mass
media apabila pada sidang yang telah ditentukan ternyata
Penggugat belum bisa menghadirkan saksi ?

Jawab :
Pemanggilan para pihak harus dilakukan setiap sidang

4. Permasalahan
Berdasarkan Pasal 718 RBg/390 HIR, apabila jurusita tidak
bertemu dengan pihak-pihak disampaikan melalui Lurah.

128
Bagaimana apabila Lurah tidak menyampaikan kepada pihak-
pihak dan ternyata pihak-pihak yang dipanggil juga tidak datang
ke persidangan ?
Jawab :
Setelah dipanggil kembali untuk kedua kalinya dalam sidang
ke dua bila tidak hadir diputus secara verstek.

5. Permasalahan
Pada sidang pertama pihak Tergugat dapat menjawab gugatan
secara tertulis atau oleh kuasanya yang sah (eksepsi tentang
relatif Kompetensi).
Bagaimana kalau eksepsi pada panggilan pertama tentang
eksepsi yang menyangkut relatif kompetensi tersebut
disampaikan melalui SMS oleh Tergugat ?
Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

6. Permasalahan
Bagaimana in krackh suatu putusan yang PBTnya disampaikan
melalui Lurah/Kepala Desa ?

Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit

7. Permasalahan
Bagaimana putusan yang isi putusannya tidak bisa disampaikan
kepada yang bersangkutan atau Lurah/Kepala Desa karena yang
bersangkutan telah pindah alamat tanpa memberitahu ?
Jawab :
Diumumkan sesuai dengan ketentuan hukum acara.

8. Permasalahan
Bagaimana kekuatan sumpah pihak Pemohon yang mengingkari
tuduhan Termohon pernah dipergauli dalam perkara sedang
berjalan ?

129
Jawab :
Pedomani hukum acara sepanjang mengenai alat bukti.

9. Permasalahan
Apakah Pengadilan Agama berwenang menyelesaikan sengketa
ekonomi Syari’ah tanpa melalui Basyarnas ?

Jawab :
Berwenang, lebih lanjut pelajari Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006.

130
PENGADILAN TINGGI AGAMA PALEMBANG

1. Permasalahan
Perlawanan pihak ketiga (derden verzet) terhadap objek eksekusi
yang terletak di luar wilayah Pengadilan Agama yang memutus
perkaranya, menurut Pasal 206 ayat (6) RBg/Pasal 195 ayat (6)
HIR perlawanan diajukan, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan
Agama yang melaksanakan putusan atau Pengadilan Agama
dimana eksekusi dijalankan. Tapi menurut Pasal 379 Rv
Perlawanan pihak ketiga harus diajukan dan diputus oleh
Pengadilan Agama yang memutus perkaranya, bukan di tempat
Pengadilan Agama yang menjalankan eksekusi.
Dua aturan hukum tersebut di atas berlaku juga untuk Pengadilan
Agama berdasarkan Pasal 54 UU Nomor 7 Tahun 1989 yang
telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006. Oleh karena
saling bertentangan, mana yang didahulukan RBg/HIR atau Rv
dengan cara tarjih atau dengan cara al-Jami’ (kompromi), yaitu
diajukan kepada Pengadilan Agama yang memutus perkaranya
melalui Pengadilan Agama tempat eksekusi dijalankan ?

Jawab :
Hukum acara yang berlaku bagi Pengadilan Agama hanya
HIR dan RBg, RV hanya dipedoman bila aturan dalam RV
diperlukan, akan tetapi HIR dan RBg tidak mengatur tentang
itu.

2. Permasalahan
Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor Nomor 18 Tahun 2003
tentang Advokat, ternyata kuasa insidentil tidak/belum diatur,
berbeda dengan kuasa professional.
Dalam keadaan tententu pihak yang berperkara memberi kuasa
kepada anggota keluarga sebagai kuasa insidentil.
Keluarga yang diberi kuasa tersebut termasuk mengerti hukum
dan memenuhi syarat sebagai kuasa khusus seperti dimaksud
Surat Edaran Tuada Uldiltun Mahkamah Agung Nomor : M
A/Kumdil/ 8810/IX/1987.
Kemudian Pengadilan Agama memberi izin, tapi pihak kuasa
Tergugat (Advokat) keberatan/menolak kuasa insidentil tersebut.

131
Apakah kuasa insidentil sudah tidak berlaku lagi, padahal secara
umum diatur dalam Pasal 147 R B g /123 HIR ?

Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit

3. Permasalahan
Dengan semakin majunya teknologi di bidang informasi, maka
tuntutan atas kemudahan pelayanan dengan menggunakan
media teknologi semakin banyak, karena itu muncul pertanyaan
dikalangan praktisi hukum (Hakim, Panitera dan Jurusita), yaitu :
a. Apakah panggilan sidang kepada pihak-pihak yang
berperkara di Pengadilan Agama dapat dilakukan dengan
surat elektronik (seperti E-mail, faximile, SMS, MMS dan lain-
lain) dengan ketentuan bahwa otentikasi dan keabsahan (sah
dan patut) panggilan tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
b. Apakah pemberitahuan isi putusan dapat juga dilakukan
dengan surat elektronik, apabila yang bersangkutan
menjawab dengan surat elektronik pula dan menyatakan
telah membaca pemberitahuan tersebut. Apakah tanggal
pengiriman jawaban tersebut dapat dijadikan dasar
perhitungan tangggal BHTnya putusan ?
c. Apabila putusan telah BHT kemudian yang bersangkutan
datang dan ingin melakukan upaya hukum banding dengan
alasan putusan resmi belum diterimanya, jalur hukum apa
yang harus dia tempuh, banding atau Peninjauan Kembali
(PK) ?

J a w ab :
a. Panggilan para pihak harus berpedoman pada hukum
acara yang berlaku.
b. Pemberitahuan isi putusan kepada para pihak harus
berpedoman pada hukum acara yang berlaku.
c. Dapat diajukan Peninjauan Kembali (PK).
d. Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama
yang akan segera terbit.

132
PENGADILAN TINGGI AGAMA BANDAR LAMPUNG

1. Permasalahan
Setiap akad yang dilakukan dihadapan Bank baik Bank syari’ah
maupun Bank Perkreditan Syari’ah, mencantumkan kalimat
“Apabila terjadi sengketa dalam perjanjian tersebut, maka
diselesaikan oleh Basyarnas”.
Hal tersebut dimaklumi karena waktu itu belum ada/belum
disahkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.

Karena itu diusulkan :


1.1. Membuat edaran bahwa bunyi Pasal 31 UU Nomor 30 Tahun
1999 tentang Arbitrase yang isinya ’’Apabila terjadi sengketa,
maka diselesaikan oleh Pengadilan Negeri, dan kalau
berkaitan dengan ekonomi syari’ah diselesaikan oleh
Pengadilan Agama”.
1.2. Mengadakan negosiasi dengan Bank Indonesia (BI) bahwa
blanko yang mencantumkan ’’Apabila terjadi sengketa dalam
perjanjian tersebut, maka diselesaikan oleh Basyarnas”
supaya diubah dengan Pengadilan Agama.
1.3. Menetapkan Basyarnas menjadi Lembaga Mediasi dalam
masalah ekonomi Syari’ah, sejalan dengan PERMA Nomor 2
Tahun 2003.
1.4. Membicarakan dengan MUI agar DSN MUI mencabut
fatwanya tentang keharusan menyelesaikan sengketa
Syari’ah ke Basyarnas menjadi keharusan menyelesaikan
perkara ke Pengadilan Agama.
1.5. Mendesak DPR RI untuk segera menetapkan hukum materiel
atau Undang-Undang yang berkenaan dengan hukum bisnis
Islam atau ekonomi syari’ah.
1.6. Mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan
ekonomi syari’ah.

J aw ab :
Usul akan dilanjutkan kepada yang berkompeten.

133
2. Permasalahan
Setelah diberlakukannya UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang
Advokat dan juga dengan telah dibentuknya organisasi Advokat
dengan nama PERADI, namun kenyataannya organisasi yang
masih berlaku di daerah-daerah bahwa para Advokat masih
membawa nama organisasi lamanya, seperti AAI, IPHI, maka
untuk meluruskan dan menyeragamkan perlu adanya aturan-
aturan khusus dalam mendampingi kliennya di Pengadilan.
Untuk itu mohon kiranya Ketua MA :
2.1. Membuat edaran tentang syarat-syarat Advokat
mendampingi kliennya di Pengadilan.
2.2. Membuat edaran tentang bolehnya kuasa insidentil
mendampingi para pihak di muka Pengadilan.

Jaw ab:
Usul akan diteruskan kepada Ketua Mahkamah Agung.
Tentang kuasa insidentil tunggu revisi buku II Pedoman Kerja
Peradilan Agama yang akan segera terbit.

3. Permasalahan
Penetapan biaya perkara di Pengadilan Agama masih
menggunakan surat Edaran dan Keputusan Menteri Agama,
berhubung saat ini Pengadilan Agama sudah satu atap di bawah
MA, maka mohon kiranya ketentuan tentang biaya perkara
tersebut supaya ditetapkan oleh Ketua MA.

J aw ab :
Surat Edaran tentang hal ini akan segera terbit.

134
PENGADILAN TINGGI AGAMA BANTEN

1. Permasalahan
X mewakafkan sebidang tanah kepada Y yang kemudian tanah
wakaf tersebut dikembangkan menjadi sarana pendidikan, di
atasnya berdiri bagunan sekolah lengkap dengan fasilitasnya.
Beberapa tahun kemudian setelah yayasan tersebut berkembang
pesat dan X sudah meninggal dunia, tiba-tiba ahli warisnya
mengklaim bahwa tanah yang diwakafkan adalah boedel warisan
dan dengan kekuatan yang dimiliki sebagai tokoh yang disegani
di daerah tersebut mengambil alih pengelolaan yayasan Y.
Masyarakat tersebut merasa dirugikan dengan tindakan ahli waris
tersebut.

Pertanyaan :
Apakah gugatan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama oleh
beberapa orang yang mengatasnamakan masyarakat dan dirinya
sendiri yang merasa dirugikan secara class action ?

Jawab :
Diajukan oleh pihak yayasan.

2. Permasalahan
Peninggalan berupa sawah ± 78 Ha. Pada mulanya peninggalan
tersebut secara bersama-sama oleh seluruh ahli waris dan
keturunannya beberapa generasi hanya dinikmati hasilnya secara
bergiliran. Pada suatu waktu ada seseorang yang mengaku
sebagai salah satu anak cucu (ahli waris) dan berusaha
mengajukan gugatan waris ke Pengadilan Negeri. Setelah
diperiksa dan diadili Pengadilan Negeri menyatakan tidak
berwenang karena para pihak beragama Islam. Kemudian yang
bersangkutan mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama.
Pengadilan Agama juga menyatakan tidak berwenang, karena
obyek waris adalah tanah adat yang sudah turun temurun telah
diatur dengan sistem pembagian hasil. Bahkan Bupati setempat
telah mengeluarkan SK yang melegitimasi sistem pembagian
hasil sawah sebagai boedel warisan turun temurun yang hanya
dapat diambil manfaat hasilnya.

135
Pertanyaan :
Ke pengadilan manakah kasus tersebut seharusnya diajukan ?
Jawab :
Mengajukan PK atas putusan Pengadilan Agama ke
Mahkamah Agung.

3. Permasalahan
Di daerah Banten telah ditemukan beberapa obyek wakaf duriat
atau wakaf dzurry, wakaf yang hanya diberikan kepada anak-
anak wakif. Wakaf seperti ini oleh anak cucu keturunan wakif
hanya diambil manfaatnya saja, seperti hasil tanaman dan tempat
tinggal keturunan wakif. Pada beberapa generasi kemudian, oleh
sebagian wakif diajukan gugatan waris atas obyek tersebut
dengan alasan bahwa wakaf itu tidak mencerminkan makna yang
terkandung dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2004.

Pertanyaan :
Dapatkah wakaf tersebut dibatalkan dan diputus menjadi harta
warisan ?

Jawab :
Bila wakaf dzurriyat tersebut sudah merupakan hukum adat,
maka harus dihormati keberadaannya. Peradilan Agama
memutus kasus tersebut harus mempedomani Pasal 28 ayat
(1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004.

4. Permasalahan
Menurut ketentuan Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa harta bawaan masing-
masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-
masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah
penguasaan masing-masing.

Pertanyaan :
Apabila hadiah itu berasal dari tempat kerja suami atau istri dan
perolehannya terkait dengan prestasi kerjanya, apakah juga
termasuk sebagai harta yang berada di bawah penguasaannya
sendiri, ataukah sebagai harta bersama karena disamakan

136
dengan gaji, tunjangan dan insentif lainnya yang dikategorikan
sebagai harta bersama ?

J a w ab :
Harta bersama

5. Permasalahan
Apabila Pengadilan telah meletakkan CB (Conservatoir Beslaag)
dan ternyata barang yang disita milik pihak ketiga. Pihak ketiga
tersebut mengajukan derden verzet selama perkaranya belum
mempunyai putusan hukum tetap ?
Pertanyaan :
a. Apa upaya hukum pihak ketiga apabila perkara tersebut
sudah mempunyai kekuatan hukum tetap ?
b. Dapatkan pengadilan menunda eksekusi atas barang
tersebut sepanjang gugatan pihak ketiga belum mempunyai
kekuatan hukum tetap ?

Jawab :
a. Upaya hukum pihak ketiga intervensi pada saat perkara
diperiksa di tingkat pertama, derden verzet pada saat
sita/eksekusi, dan mengajukan gugatan apabila ekse­
kusi sudah dilaksanakan.
b. Harus ditunda sepanjang perlawanan CB belum BHT.

6. Permasalahan
Dalam proses persidangan salah seorang Tergugat tidak hadir
dalam beberapa kali persidangan, sedangkan Tergugat lainya
hadir.

Pertanyaan :
Apakah Tergugat yang tidak hadir tersebut harus tetap dipanggil
pada setiap kali persidangan sampai sidang terakhir ?

Jaw ab:
Harus dipanggil setiap sidang

137
7. Permasalahan
Banyak perkara yang berkaitan dengan harta bersama atau waris
tidak disertai amar lelang karena dalam tuntutan Penggugat tidak
mencantumkan/tidak menuntut adanya lelang.

Petanyaan :
Apakah dibenarkan jika majelis mencantumkan amar lelang,
meskipun Penggugat tidak mencantumkannya ?
Jawab :
Boleh sepanjang ada petitum subsidair.

8. Permasalahan
Menurut M. Yahya Harahap (Ruang Lingkup Permasalahan
Eksekusi Bidang Perdata halaman 67) bahwa surat perintah
eksekusi merupakan “penahapan langsung” eksekusi fisik di
lapangan, dan dengan surat perintah eksekusi Panitera atau Juru
Sita sudah dapat langsung menuntaskan eksekusi secara nyata.
Dalam praktek selama ini lazimnya untuk eksekusi riil, sebelum
pelaksanaan eksekusi terlebih dahulu diletakkan sita eksekusi
(untuk yang belum dilakukan CB).

Pertanyaan :
Ketentuan mana yang sebaiknya diterapkan ?

Jawab :
Ikuti M. Yahya Harahap.

9. Permasalahan
Gugatan/putusan pada tingkat pertama terdiri dari pihak
Penggugat dan Tergugat I, Tergugat II serta Tergugat III. Dalam
akta banding salah satu pihak/Tergugat tidak dimasukkan sebagai
Terbanding atau turut Terbanding.
Pertanyaan :
Apakah hal tersebut dikategorikan kekuarangan pihak ?

J aw ab :
Tidak, hanya seharusnya Pengadilan Tinggi Agama
melengkapi pihak-pihak dala putusan sebagaimana pihak-
pihak yang ada dalam putusan Pengadilan Agama.

138
PENGADILAN TINGGI AGAMA JAKARTA

1. Permasalahan
Bolehkah kalau secara ex officio Pengadilan memisahkan perkara
pokok yaitu perceraian dengan perkara kumulasi, misalnya harta
bersama atau lainnya bila ternyata kumulasi itu akan
menghambat proses perceraian, dengan demikian maka hakim
akan menyatakan bahwa permohonan/gugatan kumulasi
dinyatakan tidak diterima agar diajukan tersendiri setelah
perceraian.

Jawab :
Tidak boleh, selama pihak-pihak menghendaki kumulasi.

2. Permasalahan
Bolehkah dalam hal terjadi putusan kumulasi seperti tersebut di
atas upaya hukum hanya dilakukan sebagian item dari putusan
keseluruhan dan bagaimana caranya ?

Jaw ab:
Tidak boleh.

3. Permasalahan
Dalam hal permohonan banding secara prodeo agar keputusan
tentang mengabulkan/menolak permohonan izin berperkara
secara prodeo merupakan sebuah produk hukum yang dimuat
dalam putusan sela. Untuk itu permohonan banding prodeo harus
sudah terdaftar sebagai perkara banding pada Pengadilan Tinggi
Agama dan terdaftar dalam buku register perkara banding.

J aw ab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit, juga pedomani Pasal 12 sampai 14
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947.

4. Permasalahan
Seorang mewakafkan tanah pada zaman penjajahan kemudian
tanah wakaf tersebut sudah difungsikan untuk kepentingan
ibadah, misalnya untuk pembangunan Masjid atau untuk
kepentingan umum. Kemudian oleh sebagian ahli waris di klaim

139
bahwa tanah tersebut bukan tanah wakaf melainkan tanah
warisan dari moyangnya. Dalam pembuktian tidak pernah
diketemukan bukti ikrar wakaf seperti halnya zaman sekarang.
Dapatkah berdasarkan fakta riel bahwa tanah tersebut sudah
berfungsi sebagai tanah wakaf sehingga harus dinyatakan status
hukumnya sebagai wakaf.
Jawab :
Bukti wakaf tidak hanya terbatas dengan akta ikrar wakaf,
dapat dengan bukti yang lainnya.

5. Permasalahan
Mencermati apa yang diamanatkan dalam Pasal 84 ayat (1), (2),
(3) dan (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 dinilai kurang
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan apa yang dimaksud oleh
Pasal tersebut di atas (yaitu pencatatan bahwa telah terjadi
perceraian) di samping karena perkara perceraian adalah sangat
pribadi justru bisa diketahui oleh umum.
Dengan merujuk Pasal di atas (ayat 4) apakah tidak bisa yang
diserahkan ke PPN tersebut diganti dengan salinan akta cerai
saja ?

Jawab :
Tidak boleh.

6. Permasalahan
Gugatan cerai yang diajukan oleh seorang isteri yang murtad,
namun alasan perceraiannya salah satunya adalah karena suami
tidak memberi nafkah atau telah menikah lagi dan juga
perselisihan yang terus menerus.
Apakah putusannya fasakh atau talak ba’in shughra ?
Sementara itu apabila yang murtad itu suami, namun alasan
permohonan talaknya adalah sering berselisih, maka putus
cerainya seperti gugat cerai biasa ataukah diizinkan ikrar talak ?

Jawab :
Gugatan cerai atau permohonan talak yang salah satunya
sudah murtad, putusannya tetap putusan cerai bukan fasakh.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

140
7. Permasalahan
Pemanggilan pihak-pihak sesuai dengan ketentuan Pasal 390
ayat (1) HIR apabila tidak bertemu dengan yang bersangkutan
disampaikan melalui lurah/Kepala Desa dan penyampaian
kepada lurah/Kepala Desa diiringi adanya tanda bukti relaas
panggilan tersebut telah diterimakan oleh Lurah/Kepala Desa.
Berdasarkan hal tersebut khususnya untuk wilayah Jakarta yang
masyarakatnya sangat hetrogen dan hubungannya lebih dekat
dengan RT dan RW.
Bagaimana istilah Lurah/Kepala Desa ditafsirkan cukup
disampaikan kepada RT/RW ?
Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

8. Permasalahan
Sesuai Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989,
dalam acara mendamaikan suami isteri kehadiran prinsipal dalam
sidang pertama merupakan keharusan, kecuali apabila salah
satunya berada di luar negeri (ia dapat menguasakan secara
khusus untuk itu).
Dalam hal pihak prinsipal tidak mau hadir dalam persidangan
tersebut dan ia menyatakan bahwa semuanya diserahkan kepada
kuasa hukumnya.
Apakah perkaranya digugurkan/verstek atau dilanjutkan ?

Jaw ab:
Karena kuasa hadir, maka tidak menjadi gugur dan diperiksa
secara kontradiktoir bukan verstek. Tunggu revisi buku II
Pedoman Kerja Peradilan Agama yang akan segera terbit.

141
PENGADILAN TINGGI AGAMA BANDUNG

1. Permasalahan
Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
antara lain menyebutkan bahwa salah satu wewenang Peradilan
Agama adalah Pengangkatan Anak.
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, Pasal 1 ayat (9) sangat jelas, demikian pula
persyaratannya sebagaimana diatur dalam Pasal 39 ayat (2) dan
(3).
Apakah ada syarat-syarat baik fakultatif maupun limitatif sebagai
persyaratan dalam mengajukan permohonan pengangkatan
anak ?
Sebaiknya Mahkamah Agung memberikan pedoman tentang hal
ini.

Jaw ab:
Pedomani ketentuan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002, SEMA Nomor 2 Tahun 1979, SEMA Nomor 6
Tahun 1983, SEMA Nomor 4 Tahun 1989, SEMA Nomor 3
Tahun 2005, dan tunggu revisi buku II Pedoman Kerja
Peradilan Agama yang akan segera terbit.

2. Permasalahan
Pihak yang berperkara berstatus sebagai PNS, tapi tidak mau
mengurus izin dari atasannya dan hanya mau membuat
pernyataan bersedia menanggung segala resiko yang timbul
dalam perkara tersebut.
Apakah surat pernyataan tersebut dapat diterima sebagai
pengganti dari surat izin atasan ?
Dan bagaimana dengan anggota TNI/Polri ?

Jawab :
Yang bersangkutan tetap diberi kesempatan untuk mengurus
izin selama-lamanya enam bulan, dan bila tidak dilaksanakan
oleh yang bersangkutan akan tetapi yang bersangkautan
membuat pernyataan bersedia menanggung segala resiko
hukuman disiplin PNS, TNI/Polri, maka sidang dilanjutkan.

142
3. Permasalahan
Dalam hal eksekusi dimana objek sengketa tidak jelas dan tidak
ditemukan, lalu Pengadilan mengeluarkan penetapan
eksekutable.
Apakah penetapan eksekutable tersebut bersifat final atau masih
bisa dilakukan upaya hukum lain ?
J a w ab :
Putusan tersebut kurang sempurna, seharusnya dalam kasus
sengketa kebendaan Hakim harus melakukan sidang
pemeriksaan setempat, agar objek sengekta jelas mengenai
jenis, jumlah, luas, letak dan batas-batasnya.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

4. Permasalahan
Realitas di lapangan sering terjadi fakta-fakta yang berkaitan
dengan perselisihan dan percekcokan yang dijadikan alasan
perceraian. Dalam kasus ini pihak yang salah benar-benar dapat
dibuktikan.
Apakah penyelesaiannya tetap mengacu pada SEMA dimana
Majelis tidak perlu melihat siapa yang salah ?
Jika ya, apakah pihak yang merasa tidak bersalah tetap
mendapatkan keadilan ?

Jaw ab:
Ya, karena masalah rumah tangga bukan persoalan salah
atau tidak salah, yang penting keduanya masih bisa
dirukunkan atau tidak.

5. Permasalahan
Perceraian yang diajukan secara bersaman dengan sengketa
harta bersama dan telah putus, putusan telah BHT, salah satu
pihak mengajukan eksekusi.
Dalam proses aanmaning mereka kawin kembali.
Apakah eksekusi tersebut dapat terus dijalankan atau dihenti­
kan ?

143
Jawab :
Eksekusi tetap diteruskan, akan tetapi sebaiknya ditanyakan
kepada yang bersangkutan apakah akan diteruskan eksekusi
atau tidak. Bila yang bersangkutan menghendaki diteruskan
maka diteruskan dan bila menghendaki tidak, maka dapat
dihentikan.

6. Permasalahan
Dalam hal putusan telah BHT dan telah dilaksanakan eksekusi,
kemudian mengajukan PK dan PK tersebut dikabulkan,
sementara dalam pelaksanaan eksekusi tidak ada jaminan dan
objek sengketa sudah ada dipihak ketiga karena telah dijual.
Apakah yang dapat dilakukan pemegang PK terhadap hal
tersebut ?

Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja peradilan Agama yang
akan segera terbit.

144
PENGADILAN TINGGI AGAMA SURABAYA

1. Permasalahan
Seorang lelaki yang telah beristeri dengan 5 orang anak, menikah
sirri dengan seorang perempuan karena isterinya keberatan untuk
dimadu. Setelah pernikahan berjalan 20 tahun dan telah
dikaruniai anak 4 orang, isteri pertamanya setuju dan tidak
keberatan dimadu. Jika suami mengajukan izin poligami ke
Pengadilan Agama, pernikahan poligami tidak bisa berlaku surut,
sehingga status 4 orang anak dari isteri keduanya menjadi tidak
jelas dan kelak akan menimbulkan permasalahan hukum, yaitu :
Masalah kewarganegaraan.
Masalah perwalian dalam pernikahan anak perempuannya.

Jawab :
Ajukan itsbat nikah bukan permohonan pengesahan
poligami.

2. Permasalahan
Apabila ada adopsi yang diadopsi seorang anak dari keluarga
orang Islam, sedangkan yang mengadopsi dari keluarga yang
berlainan agama, si bapak nasrani sedangkan ibu beragama
Islam. Pengadilan mana yang berhak untuk menerima perkara
ini ?

J aw ab :
Perbedaan agama antara orang tua yang akan mengadopsi
dengan anak yang akan diadopsi tidak diperbolehkan (lihat
ketentuan Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).

3. Permasalahan
Putusan tentang harta bersama dan putusan tentang waris dalam
tingkat kasasi telah BHT, akan tetapi menjelang dilaksanakan
eksekusi terhadap objek sengketa, ada pihak ketiga yang
tanahnya ternyata masuk pada objek sengketa, lalu pihak ketiga
mengajukan derden verzet.

145
Apakah petitum derden verzet boleh menyatakan batal demi
hukum atau hanya sebatas menyatakan menangguhkan
eksekusi?
Apa cukup dengan tenggang waktu 180 hari dari ditemukannya
bukti sekaligus menyangkut kepentingan pihak ketiga tersebut ?
Apakah pihak ketiga tersebut boleh mengajukan PK padahal
pihak ketiga bukan para pihak ?

Jawab :
Dercen verzet diajukan atas pelaksanaan eksekusi oleh
karenanya dalam amar putusan derden verzet hanya berisi
membatalkan penetapan eksekusi. Pihak ketiga tidak boleh
mengajukan PK atas putusan yang memuat objek sengketa
milik pihak ketiga tersebut, karena pihak ketiga tersebut
bukan termasuk pihak dalam perkara.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

4. Permasalahan
Seorang laki-laki akan mengajukan cerai talak, akan tetapi ia
sudah diterima kerja ke luar negeri dengan kontrak selama dua
tahun, sedangkan tiga hari lagi akan berangkat ke luar negeri dan
berkeyakinan tidak dapat pulang sebelum kontraknya habis,
karenanya ia memberi kuasa kepada kakaknya baik yang
menyangkut izin ikrarnya maupun pengucapan ikrarnya.
Bisakah satu surat kuasa khusus untuk perceraian sekaligus
digunakan sampai ikrar talak ?
Kalau tidak bisa satu surat kuasa khusus, apakah boleh membuat
surat kuasa khusus tentang ikrar talak sekaligus sebelum putusan
cerainya mempunyai kekuatan hukum tetap ?

J aw ab :
Boleh dengan dua surat kuasa, yaitu surat kuasa proses
perceraian dan surat kuasa proses menjatuhkan talak.
Atau disatukan dalam satu surat kuasa yang isinya
mengandung dua kuasan tersebut.

146
5. Permasalahan
Pada buku pembuktian dalam berita acara dan teknis
penyusunan putusan pengadilan tingkat pertama (Hensyah
Sahlani) halaman 58 menyebutkan ’’Pelawan atau Tergugat selain
dapat membantah gugatan dapat pula mengajukan gugatan
rekonvensi”. Sedangkan menurut Yahya Harahap putusan verzet
bersifat assesoir terhadap putusan verstek, artinya putusan verzet
merupakan ikutan dari putusan verstek.
Bertitik tolak dari pendekatan assesoir tersebut, maka putusan
verzet tidak boleh menyimpang dari dalil pokok gugatan yang
tertuang dalam putusan verstek (Hukum Acara Perdata hal. 411).
Jaw ab:
Perlawanan terhadap putusan verstek boleh rekonvensi,
dalam perlawanan terhadap pelaksanaan eksekusi, terlawan
tidak boleh mengajukan rekonvensi.

6. Permasalahan
Pengangkatan anak baik menurut Pasal 39 UU Nomor 23 Tahun
2002 maupun menurut SEMA Nomor 3 Tahun 2005 adalah
merupakan ultimum remedium.
Langkah apa saja yang harus didahulukan lebih dahulu ?

J a w ab :
Asas ultimum remedium diterapkan dalam permohonan
pengangkatan anak WNI oleh WNA.
Langkah-langkah penyelesaian perkara permohonan
pengangkatan anak pedomani SEMA Nomor 2 Tahun
1979, SEMA Nomor 6 Tahun 1983, SEMA Nomor 4
Tahun 1989, SEMA Nomor 3 Tahun 2005, UU Nomor 23
Tahun 2002, UU Nomor 12 Tahun 2006.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama
yang akan segera terbit.

7. Permasalahan
Sebenarnya Pengadilan Agama manakah yang berwenang
menerima permohonan pengangkatan anak ? Apakah yang
mewilayahi tempat tinggal Pemohon ataukah tempat tinggal anak

147
yang akan diangkat ? karena terjadi antinomy antara SEMA
Nomor 6 Tahun 1983 dengan penjelasan Pasal 5 dan 21 UU
Nomor 12 Tahun 2006 serta Pasal 4 UU Nomor 23 Tahun 2004.
Jawab :
Pasal 5 dan 21 UU Nomor 12 Tahun 2006 mengatur tentang
anak WNI yang diangkat oleh WNA dan anak WNA yang
diangkat oleh WNI. Oleh karenanya sepanjang
pengangkatan anak WNI oleh WNI diajukan ke Pengadilan
Agama dimana anak bertempat tinggal. Sesuai SEMA Nomor
6 Tahun 1983.
Lihat revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

8. Permasalahan
Bisakah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dipakai di Pengadilan Agama,
baik formil maupun materil ?

Jaw ab:
Undang-undang tersebut berkaitan dengan tindak pidana
kekerasan dalam rumah tangga, oleh karenanya bukan
wewenang Pengadilan Agama.

9. Permasalahan
Penunjukan kuasa khusus dari pihak berperkara yang berada di
luar negeri melalui rekaman VCD (non rekayasa), kemudian oleh
kuasa hukumnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu VCD
tersebut diputar oleh Majelis hakim untuk dinilai kebenarannya.
Dapatkah penunjukan kuasa khusus seperti itu diterima ?
Kalau diterima, materai yang seharusnya dibubuhi tandatangan
pihak yang memberi kuasa tersebut bagaimana ?
Dapat diterimakah alat bukti berupa rekaman DVD, VCD, MMC,
Flash Disk, Hard Disk, MP 3, MP 4, MP 5 dan lain-lain ?

Jaw ab:
Tidak dapat dan harus dibuat surat kuasa khusus oleh yang
memberi kuasa dan surat kuasa tersebut dikirimkan kepada
yang diberi kuasa.

148
Tentang bukti rekaman DVD, VCD, MMC, dsb tunggu revisi
buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang akan segera
terbit.

10. Permasalahan
Amar putusan Pengadilan Agama tentang harta bersama berupa
uang dalam rekening Bank atas nama suami.
Dalam amar diperintahkan agar pihak Bank dapat mencairkan >2
(seperdua) bagian isteri, namun pihak Bank menolak pencairan
uang tersebut tanpa persetujuan pihak nasabah (suami).
Bagaimana solusi eksekusi untuk mencairkan bagian isteri
tersebut ?

Jawab :
Perlu adanya MOU antara Mahkamah Agung dengan Bank
dan hal itu akan dikonsultasikan dengan Ketua Mahkamah
Agung.
Atau solusi yang lain dapat dilakukan dengan kompensasi
dari harta bersama bagian suami.

149
PENGADILAN TINGGI AGAMA MATARAM

1. Permasalahan
Tergugat hadir dipersidangan Pengadilan Agama, selanjutnya
Tergugat tidak pernah datang lagi ke persidangan karena ia telah
pergi dan pindah ke luar negeri. Padahal menurut ketentuan
hukum acara setiap kali sidang Tergugat wajib dipanggil ke
persidangan.
Pertanyaan :
a. Apakah Tergugat yang pindah ke luar negeri harus dipanggil
lagi melalui Departemen Luar Negeri cq. Ditjen Protokol dan
Kedutaan Besar RI yang mewilayahi kediaman Tergugat di
luar negeri ?
b. Ataukah, persidangan Pengadilan Agama dapat dilanjutkan
tanpa memanggil Tergugat yang berada di luar negeri cq.
Ditjen Protokol dan Kedutaan Besar RI yang mewilayahi
kediaman Tergugat tersebut. Alasannya karena sudah
mengetahui adanya gugatan terhadap dirinya, bahkan
pernah hadir di persidangan dan tidak pula menunjuk kuasa
khusus yang akan mewakilinya di persidangan Pengadilan
Agama selanjutnya.

J a w ab :
Harus dipanggil setiap kali sidang melalui Deparlu c.q Ditjen
Protokol dan Konsulat.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

2. Permasalahan
Ketentuan mengenai sita eksekusi antara lain menegaskan
bahwa yang dapat disita eksekusi termasuk juga uang. Apakah
terhadap barang berupa uang dapat dilakukan sita jaminan,
mengingat ketentuan Pasal 261 Rbg/227 HIR tidak mengatur
yang menyangkut penyitaan barang berupa uang tersebut!

Jaw ab:
Dapat.

150
Baca M. Yahya Harahap buku Hukum Acara Perdata,
halaman 307-308.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

3. Permasalahan
Suatu perkara waris telah diputus oleh Pengadilan Agama sampai
dengan tingkat kasasi dan putusan aquo telah BHT. Selanjutnya
pihak yang menang mengajukan permohonan eksekusi ke
Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut. Akan tetapi
dalam proses pelaksanaan eksekusi oleh Pengadilan Agama,
pihak Termohon eksekusi menyatakan bahwa terhadap obyek
eksekusi tersebut telah diputus oleh Pengadilan Negeri dengan
menunjukkan putusan Pengadilan Negeri tersebut, yang tanpa
upaya hukum banding maupun kasasi bahkan telah dilaksanakan
eksekusi terhadap obyek tersebut berdasarkan putusan
Pengadilan Negeri dimaksud.

Pertanyaan :
a. Bagaimana langkah Pengadilan Agama agar kasus tersebut
dapat diselesaikan secara tuntas dengan adanya dua
putusan cq. Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri.
b. Bagaimana cara menyikapi terhadap sertifikat yang
diterbitkan oleh BPN atas nama seorang ahli waris, padahal
tanah tersebut belum dibagi waris menurut yang tadinya
dijadikan dasar oleh pihak Termohon eksekusi
mengajukannya ke Pengadilan Negeri.

Jaw ab:
Non eksekutabel, mengenai sertifikat yang diterbitkan oleh
BPN bukan wewenang PA.

4. Permasalahan
Eksekusi putusan yang obyeknya adalah sebuah rumah
permanen, dimana sesuai amar putusan seperdua bagian
Pemohon eksekusi dan seperdua bagian hak Termohon eksekusi.
Setelah dilaksanakan aanmaning, Pemohon eksekusi minta
dilaksanakan eksekusi riil, untuk itu Pemohon eksekusi rela
bagiannya kurang dari amar putusan dalam arti seperdua rumah

151
tersebut untuk Pemohon dan seperduanya lagi untuk Termohon.
Akan tetapi pihak Termohon eksekusi mengajukan perlawanan
(party verzet) atas pelaksanaan eksekusi tersebut.
Pertanyaan :
a. Apakah dengan adanya perlawanan dari pihak tereksekusi
dapat menghalangi pelaksanaan eksekusi ataukah
dilanjutkan saja eksekusinya secara riil ?
b. Apakah eksekusi riil sesuai permohonan Pemohon eksekusi
tersebut dapat dilakukan atas rumah tersebut dengan cara
membagi riil rumah permanen aquo dengan langsung
memberikan batas (tembok) antara bagian Pemohon
eksekusi dan Termohon eksekusi ?
Jawab :
Eksekusi dilaksanakan sesuai amar putusan

5. Permasalahan
Ketentuan Pasal 107 ayat (2) Undang-Undang No. 7 Tahun 1989,
Pasal 49 huruf (b) jo Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 dalam
penjelasan Pasal 49 huruf (b) memberikan kewenangan kepada
Pengadilan Agama untuk menangani P3HP yang diajukan oleh
orang yang beragama Islam.
Pertanyaan :
Apakah Pengadilan Agama dapat menerbitkan P3HP yang kedua
sebagai perbaikan karena adanya perubahan kesepakatan
diantara Pemohon terhadap besaran penarikan bagian masing-
masing ahli waris terhadap obyek harta peninggalan tersebut dan
sekaligus menarik P3HP yang pertama dikeluarkan oleh
Pengadilan Agama.

Jawab :
Boleh

6. Permasalahan
Beberapa eksekusi putusan perkara warisan yang telah BHT
gagal dilaksanakan, karena setiap kali dilaksanakan eksekusi,
Termohon eksekusi/kuasanya mengerahkan massa untuk
menghalangi eksekusi dimaksud dan juga aparat keamanan tidak

152
bertindak tegas dalam pengamanan di lokasi eksekusi. Perlu
MOU dengan KAPOLRI.
Jawab :
Usul ditampung

7. Permasalahan
Kantor BPN Lombok Timur menerbitkan sertifikat atas nama
salah seorang ahli waris, padahal tanah tersebut belum dibagi
waris atau masih dalam proses gugatan waris di Pengadilan
Agama, apakah sertifikat tersebut cukup dinyatakan
dikesampingkan atau dinyatakan tidak mempunyai kekuatan
hukum ?
J aw ab :
Tidak mempunyai kekuatan hukum

8. Permasalahan
Ada perkara waris yang telah diputus oleh Pegadilan Agama dan
sampai tingkat kasasi, ketika dieksekusi tahap I mengalami
kegagalan karena dihadang oleh massa Termohon eksekusi.
Pada saat eksekusi tahapan ke ll/lanjutan, tiba-tiba Termohon
eksekusi menyatakan bahwa terhadap obyek tersebut telah
diputus dan dieksekusi oleh Pengadilan Negeri Selong, sehingga
Pengadilan Agama mengalami kesulitan untuk mengekskusi
putusan Mahkamah Agung yang telah BHT tersebut. Masalah ini
telah dimohonkan fatwa Mahkamah Agung. Mohon penjelasan.

J a w ab :
Tunggu fatwa Mahkamah Agung

9. Permasalahan
Ada putusan Mahkamah Agung yang telah BHT, tetapi ketika mau
dieksekusi, para pihak Termohon eksekusi melakukan derden
verzet, setelah derden verzet tersebut diputus oleh Pengadilan
Agama Selong, para Pemohon verzet melakukan upaya hukum
banding terhadap putusan verzet tersebut. Oleh karena putusan
Mahkamah Agung RI tersebut telah BHT, maka Pengadilan
Agama Selong melakukan eksekusi meskipun ada upaya hukum
banding atas putusan verzet dimaksud. Selain itu Pemohon

153
derden verzet juga melakukan PK, dan saat ini Pengadilan
Agama masih terhambat pelaksanaan eksekusi alasan keamanan
yang tidak menjamin/ mendukung.
Jawab :
Persoalannya apa !

10. Permasalahan
Putusan Pengadilan Tinggi Agama Mataram yang sudah BHT dan
sudah lewat waktu untuk PK, teryata ada kesalahan amar yang
menyebabkan putusan tidak dapat dijalankan. Bagaimana jalan
keluarnya, siapa yang harus memperbaiki putusan tersebut.
Jawab :
Ajukan gugatan baru untuk perbaikan amar

11. Permasalahan
Perlawanan terhadap eksekusi dari pihak ketiga bagaimana
proses persidangannya apabila putusan ditolak dan apa upaya
hukumnya ?
J a w ab :
Proses persidangannya sama dengan proses persidangan
biasa. Apabila perlawanan ditolak, Pelawan dapat
mengajukan banding.

12. Permasalahan
Ketika lelang masa waktunya pengumumannya sudah habis, tidak
ada yang mengajukan penawaran dan tidak ada uang jaminan
yang disetor ke Bank yang ditunjuk. Bagaimana tindak lanjutnya ?
Jaw ab:
Dilakukan lelang ulang.

13. Permasalahan
Sita terhadap barang tetap dan barang bergerak yang sudah
diagunkan melalui Bank dan ternyata Bank tersebut keberatan
terhadap pelaksanaan sita. Bagaimana solusinya ?

Jawab :
Mengajukan sita persamaan, baca Yahya Harahap, Hukum
Acara Perdata 2005 halaman 319.

154
14. Permasalahan
Barang-barang isi toko yang merupakan barang-barang drop-
dropan yang dibayar setelah barangnya laku, apakah termasuk
harta bersama yang dapat disita ?

Jawab :
Bukan harta bersama, tidak dapat disita.

15. Permasalahan
Suami yang mengajukan perceraian terhadap istrinya, kemudian
istrinya mengajukan rekonvensi terhadap harta bersama, ternyata
dalam batas waktu enam bulan, suami tidak ikrar dan terindikasi
beritikad tidak baik terhadap keberadaan harta tersebut, dengan
rasa keadilan yang dialami oleh istri tersebut, apakah tanpa ikrar
harta tersebut dapat dilakukan eksekusi ?

Jaw ab:
Tidak dapat

16. Permasalahan
Pemberian hibah oleh orang tua kepada anaknya si A yang
kemudian dengan cara melawan hukum oleh saudaranya si B
dijual kepada pihak lain dan sudah disertifikatkan atas namanya
(pembeli), apakah kewenangan Pengadilan Agama atau
kewenangan pengadilan lain ?

J aw ab :
Kewenangan pengadilan lain

17. Permasalahan
Apakah boleh diisbatkan istri kedua yang dikawini secara liar,
untuk mengurus akta kelahiran anak-anaknya ?

Jaw ab:
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

18. Permasalahan
Perkara prodeo yang dikabulkan biaya proses dan meterai
diambil dari mata anggaran mana ?

155
J aw ab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Pengadilan Agama
yang akan segera terbit

156
PENGADILAN TINGGI AGAMA MAKASSAR

1. Permasalahan
Pada umumnya harta bersama ditetapkan suami isteri masing-
masing mendapat 'A (seperdua) bagian.
Apakah tidak perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Siapa yang dominan memperoleh harta tersebut ?
b. Siapa penyebab pecahnya rumah tangga ?
c. Hasil harta bawaan menjadi harta bersama atau tetap
sebagai harta bawan ?
d. Deposito biasanya dipegang oleh suami alat buktinya,
sehingga isteri sulit untuk membuktikan, di samping
hambatan soal rahasia bank.

J aw ab :
a dan b dapat dipertimbangkan.
Jawaban b, hasil harta bawaan menjadi harta bersama
kecuali diperjanjikan lain.
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama
yang akan segera terbit.

2. Permasalahan
a. Gugatan hadhanah sering di NO dengan alasan nebis in
idem padahal ada alasan kuat untuk mengajukan tuntutan
kembali.
b. Perlukah ditanya anak yang belum berumur 12 tahun akan
memilih ikut ibu atau ayah saat disengketakan seperti usul
Komnas Perlindungan anak melalui Jakarta Post.

J a w ab :
a. Tidak ada nebis in idem dalam perkara hadhanah,
selama ada alasan untuk mencabut kekuasaan orang
tua yang memegang hak hadhanah.
b. Perlu.

3. Permasalahan
A dan B menikah di Catatan Sipil, selanjutnya B (suami) menikah
lagi dengan C dan dicatatkan di KUA/PPN.

157
Pada Pengadilan manakah A mengajukan pembatalan
perkawinan, sebab B dan C melakukan perkawinan menurut
hukum Islam.
Jawab :
Ke Pengadilan Agama.

4. Permasalahan
Putusan tidak dapat dieksekusi (non eksekutable) akibat tidak
sinkronnya batas-batas dan luas objek sengketa dengan
kenyataan yang ada dilapangan.
Apakah yang dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan jika
terjadi hal-hal seperti ini ?
Jawab :
Ajukan gugatan untuk perubahan batas dan luas serta
letak objek sengketa tersebut
tunggu revisi buku I! Pedoman Kerja Peradilan Agama
yang akan segera terbit.

5. Permasalahan
Gugatan harta bersama dapat dikumulasi dengan gugatan
perceraian sesuai ketentuan undang-undang. Akibatnya jika pihak
mengajukan banding atau kasasi terhadap putusan harta
bersama, maka putusan perceraian yang sudah diterima ikut
terbanding dan terkasasi.
Jawab :
Pada dasarnya boleh hakim menyarankan untuk tidak
dikumulasi, kecuali para pihak menghendaki tetap
dikumulasi.

6. Permasalahan
Seorang mewakafkan tanah pada zaman penjajahan yang
kenyataannya dari dahulu sampai sekarang sudah difungsikan
untuk kepentingan ibadah berupa pembangunan Masjid atau
kuburan, kemudian oleh sebagian ahli waris pemberi wakaf
digugat bahwa tanah tersebut bukan tanah wakaf melainkan
tanah warisan.

158
Dalam pembuktian Penggugat tidak mampu membuktikan adanya
bukti akta ikrar wakaf yang diharuskan undang-undang.
Dapatkah berdasarkan fakta riel bahwa tanah tersebut yang
sudah berfungsi sebagai tanah wakaf, sehingga status hukumnya
dinyatakan sebagai tanah wakaf ?

Jaw ab:
Bukti wakaf tidak hanya terbatas dengan akta ikrar wakaf,
dapat dengan bukti yang lainnya.

7. Permasalahan
Pejabat pengawas menemukan bertumpuknya akta cerai di
Pengadilan Agama yang tidak sampai ke tangan pencari keadilan
karena merasa sudah cukup dengan memegang putusan dari
Pengadilan Agama, mereka tidak faham bahwa alat bukti cerai
adalah akta cerai.
Bagaimana mengatasi penumpukan akta cerai ini ?

J aw ab :
Pengadilan/Panitera berkewajian mengirimkan kepada yang
bersangkutan sesuai ketentuan Pasal 84 ayat (4) Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.

8. Permasalahan
Penentuan mut’ah sangat bervariasi, ada yang Rp 250.000; saja,
tapi ada yang menetapkan Rp 1.000.000.000;
Perlukah ada pola sebagai standar penentuan mut’ah ?

J a w ab :
Sesuaikan dengan kemampuan suami.

159
PENGADILAN TINGGI AGAMA GORONTALO

1. Permasalahan
Pemohon bersama suaminya mengajukan permohonan itsbat
nikah atas perkawinan mereka yang dilaksanakan tahun 1989
dengan tujuan untuk mendapatkan legalitas hukum dimana oleh
Pemohon penetapan tersebut akan dijadikan sebagai bukti
pengganti buku nikah guna kepentingan pengurusan akta
kelahiran anak. Sementara disisi lain Pengesahan nikah hanya
dapat dilakukan dalam hal-hal yang berkenaan dengan :
a. Perkawinan sebelum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
b. Dalam rangka perceraian.
c. Buku nikah hilang.
Apakah permohonan pengesahan nikah tersebut dapat diterima
berdasarkan asas Pengadilan tidak boleh menolak perkara yang
diajukan dengan alasan tidak ada dan atau bertentangan dengan
Undang-Undang, atau permohonan tersebut ditolak (tidak
didaftar) karena tidak ada dan atau bertentangan dengan hukum
materiel ?

Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Peradilan Agama yang
akan segera terbit.

2. Permasalahan
Dalam perkara waris pihak C berdasarkan putusan Pengadilan
Agama tersebut telah dinyatkan kalah dan dalam amar
putusannya pihak C telah dibebankan untuk membayar biaya
perkara. Dalam tenggang waktu yang ditentukan pihak C
menyatakan banding terhadap putusan tersebut.
Apakah pembebanan biaya perkara kepada C diselesaikan
setelah perkara tersebut dinyatakan telah BHT (menunggu
putusan banding/kasasi) atau Pengadilan tingkat pertama tetap
diminta kepada pihak yang kalah untuk membayar biaya perkara
dalam bentuk uang titipan sebagai jaminan dari pihak yang kalah
(mengamankan putusan tingkat pertama) meskipun pihak yang
kalah mengajukan upaya banding ataupun kasasi ?

160
J aw ab :
Eksekusi putusan setelah putusan BHT.

3. Permasalahan
Dalam putusan perkara terdapat dua pendapat, ada yang
berpendapat tidak perlu memakai materai dan ada pula yang
berpendapat harus memakai materai.
Yang menjadi permasalahan adalah bagi yang menganut faham
bahwa putusan prodeo harus memakai materai, maka materai
diperoleh dari mana ?
Bagaimana pertanggung jawabannya karena dalam buku jurnal
tidak ada materai sedang dalam putusan ada materai ?

J a w ab :
Wajib diambilkan dari Dipa.

4. Permasalahan
a. Untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan
terjadi pada saat persidangan berlangsung, maka perlu untuk
segera mengatur tentang protokoler persidangan,
kesulitannya selama ini MA belum menerbitkan pedoman
keprotokolan dalam persidangan tersebut.
b. Pasal 97 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003,
disebutkan Panitera, wakil Panitera, Panitera Muda dan
Panitera Pengganti bertugas membantu Hakim dengan
menghadiri dan mencatat jalannya sidang Pengadilan.
Dalam praktek, Panitera menunjuk wakil panitera, panitera muda
dan panitera pengganti sebagai panitera sidang, akan tetapi
masih ada Majelis Hakim yang berpendapat bahwa bukan
sebagai Panitera sidang tapi sebagai Panitera Pengganti,
sehingga dalam berita acara masih terdapat perbedaan
penulisan, yakni sebagai Panitera Pengganti dan ada sebagai
Panitera Sidang ?

Jaw ab:
a. Akan diusulkan kepada Ketua Mahkamah Agung.

161
b. Yang benar Panitera Pengganti, dan bila yang
mendampingi sidang Panitera, maka tetap ditulis
Panitera.

162
PENGADILAN TINGGI AGAMA PONTIANAK

1. Permasalahan
Berdasarkan Pasal 19 ayat (5) Undang-Undang No. 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dinyatakan bahwa dalam
hal sidang permusyawaratan tidak dapat dicapai mufakat bulat,
pendapat hakim yang berbeda wajib dimuat dalam putusan.
Pertanyaan :
Bagaimana tehnik pembuatan dan pelaksanaannya baik dalam
penulisannya maupun dalam pembacaannya ?

J a w ab :
Dicatatkan dalam buku catatan yang khusus untuk itu yang
dipegang oleh Ketua, bukan dalam putusan karena
dissenting opinion belum ada aturan pelaksanaannya dari
Mahkamah Agung sesuai yang diamanatkan oleh Pasal 19
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004.

2. Permasalahan
Dalam praktek peradilan sering terjadi perbedaan pendapat
tentang orang-orang yang berhak menerima kuasa insidentil. Ada
yang mensyaratakan adanya hubungan keluarga (suami, istri dan
anak belum kawin) sementara dalam HIR/Rbg dan aturan lain
tidak ditemukan pembatasan semacam itu, juga belum ditemukan
teks asli Keputusan Mahkamah Agung No. 5 Tahun 1972 tanggal
22 Juli 1972 untuk dipedomani.

Pertanyaan:
Bagaimana pemecahan masalah tersebut ?

Jaw ab:
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Pengadilan Agama
yang akan segera terbit.

3. Permasalahan
Istri (Pengugat) menggugat suaminya dalam perceraian, gugatan
tersebut dikumulasi dengan nafkah lampau dan hadhanah.
Tergugat menolak nafkah lampau karena Penggugat dan
Tergugat merasa sudah cerai secara adat dengan membayar

163
hukum adat sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu
rupiah).
Pertanyaan :
Bagaimana tuntutan Penggugat tersebut sedang Penggugat tidak
nusyus !

Jawab :
Oleh karena pertanyaan berupa kasus silahkan diputus

4. Permasalahan
Perkara yang Tergugat/Termohon bertempat tinggal di luar
negeri, setelah minta bantuan lewat Menteri Luar Negeri namun
sampai hari sidang yang ditentukan tidak ada balasan relaas
pangilan dan juga tidak ada tanggapan dari Menteri Luar Negeri,
yang jadi permasalahan adalah :
a. Apakah sidang perkara tersebut tetap dilangsungkan,
kemudian sidang ditunda untuk dipanggil kembali. Atau
b. Jika pada sidang berikutnya juga tidak ada balasan/
tanggapan, bagaimana jalan penyelesaiannya ?

Jawab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Pengadilan Agama
yang akan segera terbit.

5. Permasalahan
Perkara gugatan pembagian harta peninggalan, dalam jawaban
Tergugat menyatakan harta tersebut telah diserahkan oleh
almarhum kepadanya (Tergugat) dengan bukti penyerahan yang
dibuat dihadapan/oleh Notaris atau Camat selaku PPAT.

Pertanyaan :
Dapatkah majelis menolak pembagian harta warisan yang telah
diserahkan atau cukup menyatakan gugatan tidak dapat diterima
karena sudah bukan lagi harta warisan !

Jawab :
Oleh karena pertanyaan berupa kasus silahkan diputus

164
6. Permasalahan
Perkara gugat cerai. Ditingkat pertama gugatan cerai dikabulkan.
Tergugat banding, pengadilan banding menguatkan putusan
Pengadilan Agama. Pada waktu Juru Sita Pengganti Pengadilan
Agama menyampaikan Pemberitahuan Isi Putusan Pengadilan
Tinggi Agama, Tergugat dan Penggugat menyatakan bahwa
mereka sudah rukun semasa proses banding belum diputus,
tetapi tidak melapor ke Pengadilan Agama atau Pengadilan Tinggi
Agama.
Pertanyaan :
a. Apakah Pengadilan Agama tetap menerbitkan Akta Cerai
setelah putusan Pengadilan Tinggi Agama tersebut BHT atau
tidak perlu mengeluarkan Akta Cerai berdasarkan pengakuan
Penggugat dan Tergugat mereka telah rukun kembali
semasa proses banding belum diputus atau dengan
pengakuan tersebut mereka mengajukan PK agar putusan
Pengadilan Agama/Pengadilan Tinggi Agama dibatalkan.
b. Bagaimana kalau kemudian mereka cekcok kembali sampai
ingin bercerai lagi.

J a w ab :
Akta Cerai tetap dikeluarkan, setelah itu mereka boleh rujuk
atau nikah kembali.

7. Permasalahan
Bila seseorang telah melaksanakan pernikahan di bawah tangan
menurut hukum Islam, kemudian ketika memerlukan bukti Kutipan
Akta Nikah yang bersangkutan melakukan pernikahan kembali
dan dicatat di KUA, kemudian KUA mengeluarkan buku Kutipan
Akta Nikah sesuai dengan tanggal dan tahun pernikahan yang
kedua.
Pertanyaan :
a. Apakah pernikahan yang pertama (yang dilakukan di bawah
tangan) dapat diisbatkan oleh Pengadilan Agama) ?
b. Apakah pernikahan di bawah tangan dengan wali hakim yang
bukan diangkat Menteri Agama dapat disahkan oleh
Pengadilan Agama ?

165
Jawab :
Tidak dapat

8. Permasalahan
Pemeriksaan terhadap Hakim. Dalam putusan sela pengadilan
tingkat banding memerintahkan kepada pengadilan tingkat
pertama untuk memeriksa/meminta keterangan Majelis Hakim
tentang adanya perbedaan antara putusan dengan berita acara
yang dimohonkan banding. Bagaimana cara pemeriksaan
terhadap Majelis Hakim tersebut (Fatwa Mahkamah Agung No.
KMA/125/RHSA/III/1991 tanggal 31 Agustus 1991 memanggil
atau meminta keterangan Hakim harus ada persetujuan Ketua
Mahkamah Agung). Apakah hasil pemeriksaan terhadap Majelis
Hakim tersebut juga dimasukkan dan menjadi kesatuan dengan
berkas perkara.

J aw ab :
Putusan sela PTA keliru, karena semestinya putusan sela
PTA tersebut memerintahkan kepada Majelis Hakim untuk
kembali memeriksa para pihak. Dengan demikian putusan
sela PTA tidak perlu dilaksanakan.

9. Permasalahan
Pada tahun 1980 A sebagai Pewaris meninggal dunia dengan
meninggalkan satu orang istri, dua orang anak laki-laki yang udah
menikah (ada istri dan anak) dan satu orang anak perempuan
yang sudah kawin (ada suami dan anak) dengan meninggalkan
sejumlah harta. Terhadap perkara tersebut belum dilakukan
pembagian waris, baik di luar pengadilan maupun di dalam
pengadilan. Kemudian pada tahun 1985 istri tersebut meninggal
dunia dengan meninggalkan tiga orang tersebut di atas dan
sejumlah harta bersama suami yang belum dibagi. Pembagian
waris oleh ketiga anak belum juga dilakukan, baik di luar maupun
di dalam pengadilan. Pada tahun 1997 salah seorang anak laki-
laki di atas meninggal dunia, dengan meninggalkan satu orang
istri, satu orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki.
Setelah kejadian terakhir ini, karena si A di atas banyak dikuasai
oleh anak perempuannya, maka saudara laki-lakinya (anak laki-

166
laki alm arhum A) mengajukan gugatan waris ke Pengadilan
Agam a dari alm arhum A tersebut di atas.
Pertanyaan :
a. Apakah Pengadilan Agama boleh memuat amar tentang ahli
warisnya secara munasakhat ?
b. Apakah Pengadilan Agama membuat amar tentang ahli waris
untuk almarhum A sendiri, untuk istrinya sendiri dan untuk
anak laki-laki sendiri (melebihi petitum Penggugat) ?
c. Apakah Pengadilan Agama boleh memberikan penetapan
ahli waris untuk Pemohon sendiri, sedangkan yang lain agar
diajukan tersendiri ?

Jaw ab:
a. Boleh
b. Kalau sudah dibagi secara munasakhat tidak perlu
c. Boleh saja

10. Permasalahan
Apakah terhadap putusan verstek yang dijatuhkan kedua kalinya
dapat diajukan upaya hukum banding atau langsung berkekuatan
hukum tetap ?

Jaw ab:
Dapat mengajukan banding

11. Permasalahan
Terhadap putusan verzet yang membatalkan putusan verstek
diikuti amar yang menolak gugatan Penggugat Konvensi tentang
hadhanah dan mengabulkan gugatan rekonvensi tentang
hadhanah.

Pertanyaan :
Apakah ada rekonvensi diatas konvensi (satu obyek) ?

Jaw ab:
Boleh

167
12. Apakah antara gugatan rekonvensi dengan konvensi harus ada
hubungan yang erat sehingga apabila gugatan konvensi negatif,
maka putusan rekonvensi juga negatif.

J aw ab :
Tunggu revisi buku II Pedoman Kerja Pengadilan Agama
yang akan segera terbit.

13. Permasalahan
Dalam perkara cerai gugat, Penggugat mendalilkan rumah tangga
tidak bisa rukun lagi, selalu cekcok. Dalil tersebut dibenarkan oleh
Tergugat dan Tergugat menyatakan tidak ingin rukun lagi. Dalam
praktek, Pengadilan Agama agar tidak terjebak dalam
kebohongan besar, masih diharuskan mendengar keterangan
saksi.

Pertanyaan :
a. Siapa yang dibebani untuk mengajukan saksi tersebut ?
b. Apakah Penggugat (istri) dan Tergugat (suami) sama-sama
diminta untuk mengajukan saksi ?
c. Apakah sudah sampai batas minimal pembuktian kalau
masing-masing hanya mengajukan satu orang saksi
keluarga ?

Jawab :
a. Penggugat
b. Tidak perlu
c. Tergantung isi keterangan saksinya.

14. Permasalahan
Apakah istri yang perkawinannya difasakhkan karena suaminya
riddah, berhak atas nafkah iddah dan mut’ah ?

J a w ab :
Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tidak mengenal lembaga fasakh akan tetapi hanya
mengenal pembatalan perkawinan dan perceraian. Oleh
karenanya dalam hal suaminya riddah dan rumah tangganya
sulit untuk dipertahankan kemudian isteri mengajukan
perceraian, maka ia berhak atas nafkah iddah dan mut’ah.

168
PENGADILAN TINGGI AGAMA BANJARMASIN

1. Permasalahan
Bagaimana pelaksanaan P3HP setelah lahirnya UU No.3 Tahun
2006, sebaiknya perlu penegasan dari MARI tentang hal itu?

Jawab:
Sesuai ketentuan Pasal 107 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006, secara tegas diatur mengenai Permohonan
Pertolongan Pembagian Harta Peninggalan (P3HP) di luar
sengketa antara orang-orang yang beragama Islam yang
dilakukan berdasarkan hukum Islam. Akan tetapi jika ada
permohonan P3HP sebaiknya diarahkan pada permohonan
penetapan waris, diselesaikan dengan produk penetapan
Pengadilan Agama.

2. Permasalahan
Suatu perkara sengketa waris masih dalam proses persidangan,
pihak Tergugat meninggal dunia. Menurut yurisprudensi MARI
perkara tersebut dilanjutkan oleh ahli warisnya, bagaimana sikap
Pengadilan Agama?

Jawab:
Jika salah satu pihak meninggal dunia sedang perkara masih
beijalan dapat digantikan oleh ahli warisnya.

3. Permasalahan
Putusan sela PTA memerintahkan pemeriksaan tambahan/
pemeriksaaan setempat ke PA, siapa yang dibebani membayar
biaya pemeriksaan tersebut?
Jawab:
Dimintakan dari Pemohon banding, sedangkan dalam amar
putusan biaya perkara tersebut dibebankan kepada pihak
pembanding dalam kasus perceraian.
Dalam kasus lainnya dibebankan kepada pihak yang kalah.

169
4. Permasalahan
Menurut Pasal 155 Rbg/131 HIR jika kedua belah pihak hadir di
persidangan, namun tidak tercapai perdamaian, maka gugatan
dibacakan. Dalam hal Tergugat tidak hadir apakah gugatan tetap
dibacakan?
Jawab :
Gugatan tetap dibacakan meskipun Tergugat tidak hadir,
sebab masih dimungkinkan perubahan gugatan oleh pihak
Penggugat.

5. Permasalahan
Apakah ketentuan Pasal 19 (5) UU No.4 tahun 2004 tentang
dissenting opinion dapat diberlakukan di Pengadilan Tingkat
Pertama dan Tingkat Banding?

Jawab :
Pasal 19 ayat (5) UU Nomor 4 Tahun 2004 belum ada aturan
pelaksanaannya dari Mahkamah Agung sebagaimana
diamanatkan oleh Pasal 19 ayat (6) UU Nomor 4 Tahun
2004, sehingga dissenting opinion belum dapat
dilaksanakan.

170
PENGADILAN TINGGI AGAMA AMBON

1. Permasalahan
Pasal 28 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan
batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan Pengadilan
mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat
berlangsungnya perkawinan.
Hal di atas bila dihubungkan dengan Pasal 28 ayat (2) UU Nomor
1 Tahun 1974, sepertinya menunjukkan adanya ketidak adilan
dan tiadanya kepastian hukum.
1.1. Mengapa keputusan tidak berlaku surut tersebut tidak
diberlakukan juga terhadap harta bersama yang diperoleh
suami isteri ?
1.2. Bagaimana solusi penyelesaian terhadap harta bersama
yang diperoleh suami isteri tersebut ?

J aw ab :
1.1. Karena perkawinan isteri kedua tersebut dilakukan
melanggar Undang-Undang, maka putusan pembatalah
perkawinan isteri kedua dan seterusnya berlaku surut
atas harta bersama, sehingga tidak ada harta bersama.
1.2. Isteri kedua dan seterusnya tetap tidak berhak atas
harta bersama.

2. Permasalahan
Di Maluku terdapat tanah dati yang dimiliki oleh penduduk
setempat dan tanah dati tersebut atas dasar register pemerintah
belanda dan kemudian di atas tanah dati tersebut telah terbit pula
sertifikat hak milik yang dilakukan oleh BPN setempat (BPN
Maluku) yang bukan atas nama pemegang register dati tersebut.
Yang manakah menurut hukum pertanahan nasional yang
diberlakukan keabsahannya ?
Sampai dimanakah kekuatan hukum dari kepemilikan register
tanah dati jika dikaitkan dengan sertifikat yang terbit di atas tanah
dati tersebut ?
Apakah tidak seyogyanya MA mengeluarkan fatwa untuk
dijadikan pedoman dalam menangani kasus-kasus pertanahan

171
yang timbul di Maluku ini berkaitan dengan tanah-tanah dati di
atas ?

Jaw ab:
Bukan wewenang Pengadilan Agama.

172
PENGADILAN TINGGI AGAMA PALU

1. Permasalahan
Dalam perkara cerai gugat, masing-masing pihak memberikan
kuasa. Di dalam sidang perdamaian seharusnya para pihak
materiel dihadirkan, kan tetapi ternyata pihak materiel tersebut
tidak hadir, apa arti keharusan untuk menghadiri sidang tersebut
jika dikaitkan dengan Pasal 82 ayat (2) UU Nomor 7 Tahun 1989,
apakah jika pihak materiel tidak datang lalu gugatan tidak dapat
diterima ?

Jawab :
Apabila para pihak prinsipal tidak hadir, maka perkara tetap
dilanjutkan.

2. Permasalahan
Tentang gugatan kumulasi dalam perkara perceraian yang diatur
dalam Pasal 78 UU Nomor 7 Tahun 1989.
Seorang isteri menggugat cerai terhadap suaminya sekaligus
disertai tuntutan (kumulasi) mengenai pembagian harta bersama
dan pemeliharaan anak. Dalam praktek persidangan pemeriksaan
saksi-saksi perkara perceraian dilaksanakan dalam sidang yang
tertutup untuk umum, sesuai ketentuan Pasal 68 ayat (2) dan
Pasal 80 ayat (2) UU Nomor 7 Tahun 1989. Akan tetapi
pemeriksaan saksi-saksi terhadap hal-hal yang diakumulasikan
seperti tercantum dalam Pasal 78 UU Nomor 7 Tahun 1989 tidak
mengatur hal tersebut, sehingga berdasarkan Pasal 54 UU
Nomor 7 Tahun 1989 harus mengikuti hukum acara yang diatur
dalam RBg, yaitu harus dilakukan dalam persidangan yang
terbuka untuk umum. Bagaimana bila terjadi bila saksi-saksi yang
diajukan dalam persidangan pada awalnya mengemukakan
kesaksian tentang sengketa perceraian ternyata kemudian saksi
juga sekaligus mengemukakan kesaksian yang menyangkut
Pasal 78, apakah saksi ini akan dihentikan terlebih dahulu,
ataukah diteruskan untuk didengar kesaksiannya menyangkut
hal-hal yang dimaksud Pasal 78 tersebut ?

173
Jawab :
Sidang kumulasi tetapa tertutup, karena mengenai anak dan
harta bersama adalah gugatan assesoir.

3. Permasalahan
Pengangkatan anak yang Islam dilakukan secara adat, tidak
didepan Pengadilan. Kemudian setelah anak tersebut dewasa
mengajukan permohonan pengesahan pengangkatan anak ke
Pengadilan Agama, dengan maksud memperoleh perlindungan
hukum untuk memperoleh hak dari harta peninggalan orang tua
angkatnya yang telah meninggal dunia terlebih dahulu. Dapatkah
pengangkatan anak seperti tersebut di atas disamakan dengan
itsbat nikah dalam perkara perkawinan ?
Jawab :
Dapat.

4. Permasalahan
Menyangkut kewenangan pengangkatan anak bagi warga
beragama Islam apakah tidak menambah keruwetan dalam
masalah kompetensi ?, karena sebagaimana warisan dalam
praktek ternyata Pengadilan Negeri masih juga mengadili perkara
tersebut.
Apakah ada kemungkinan pengangkatan anak orang-orang
Islam (termasuk anak WNA), merupakan kewenangan Peradilan
Umum ?

Jawab :
Pengangkatan anak antara orang Islam yang berdasarkan
hukum Islam adalah kewenangan Pengadilan Agama.

5. Permasalahan
Pemohon berdalil bahwa Termohon (isteri) tidak diketahui lagi
tempat tinggalnya (ghaib). Pengadilan Agama melakukan
pemanggilan ghaib terhadap Termohon sesuai ketentuan Pasal
27 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Kemudian
Pengadilan Agama memutuskan dengan mengizinkan kepada
Pemohon untuk mengikrarkan talak terhadap Termohon.
Selanjutnya keluarlah akta cerai. Kemudian ternyata bahwa

174
Termohon (isterinya) tidak ghaib, yakni sebenarnya ada di tempat
domisili Pemohon, Termohon mengajukan keberatan kepada
Pengadilan Agama, sebab dia tidak tahu bila ia sudah ditalak oleh
suaminya, bahkan suami/Pemohon sekarang sudah mau kawin
lagi dengan wanita lain.
Apakah Termohon dapat menempuh upaya hukum untuk
peninjauan kembali ke Mahkamah Agung ?

Jaw ab:
Karena sudah terbit akta cerai, maka tidak ada upaya hukum
terhadap perceraian tersebut.

6. Permasalahan
Menurut ketentuan Pasal 90 ayat (1) huruf (d) UU Nomor 3 Tahun
2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989, adalah
termasuk biaya pemberitahuan. Sedangkan petunjuk Mahkamah
Agung yang termuat dalam buku pedoman pelaksanaan
pengawasan dilingkungan lembaga Peradilan (buku hitam) pada
bagian tata cara pemeriksaan administrasi perkara, halaman 14
huruf s, bahwa pengeluaran biaya pemberitahuan putusan
gugur/verstek/di luar hadir, tidaklah dimasukkan dalam amar
putusan. Tampaknya ada kontradiksi apa yang terdapat dalam
buku hitam dengan Pasal 90 ayat (1) huruf (f) UU Nomor 7 Tahun
1989.
Sesuai dengan kedudukannya sebagai sumber hukum tertinggi
yang harus dipedomani, maka undang-undang hums
dikedepankan dari buku pedoman, namun dalam prakteknya yang
terjadi justru sebaliknya, bahwa biaya pemberitahuan putusan
gugur/verstek/di luar hadir tidak termasuk dalam amar putusan.
Mana yang yang sebenarnya yang harus dipakai di antara dua
ketentuan yang saling bertolak belakang tersebut ?

J aw ab :
Ikuti pola bindalmin.

7. Permasalahan
Perkara harta bersama yang sudah diputus di Pengadilan Agama
dan telah BHT, yang sebelumnya telah diletakkan sita jaminan
dan telah di daftarkan yang dinyatakan sah dan berharga, namun

175
eksekusinya mengalami hambatan karena ternyata di lapangan
terhadap objek sengketa tersebut telah diletakkan sita jaminan
oleh pengadilan lain.
Apakah sita yang diletakkan oleh Pengadilan lain tersebut dapat
menghalangi pelaksanaan eksekusi atau eksekusi tetap dapat
dilaksanakan ?

Jawab :
Letakkan sita persamaan dan eksekusi belum dapat
dilaksanakan.

8. Permasalahan
Seorang wanita, hamil di luar nikah karena ia telah melakukan
hubungan biologis dengan tiga orang pria. Wanita tadi datang ke
PPN.

Jawab :
Bukan urusan Pengadilan Agama tapi urusan PPN.

176
PERMASALAHAN HUKUM
DARI DAERAH DAN JAWABAN
BIDANG TATA USAHA NEGARA

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
A. PERMASALAHAN HUKUM ACARA

PENGADILAN TATA USAHA NEGARA MANADO

1. Pada buku register induk perkara gugatan, dalam kolom


acara biasa, terdapat bagian yang isinya:
a. Tanggal penetapan
b. Amar Penetapan
c. Tanggal Penetapan Penundaan
d. Amar Penetapan Penundaan

Permasalahan :
Penetapan dan amar apa yang dimaksud dalam huruf a
dan b tersebut ? Apakah penetapan pemeriksaan
persiapan yang dimaksud atau penetapan yang lain?

Jawaban :
Penetapan yang dimaksud huruf a dan b tersebut
adalah semua produk penetapan yang di lakukan
selama proses pemeriksaan perkara.
- Sedang maksud amar dalam penetapan ini adalah apa
yang menjadi isi penetapan tersebut.
- Penetapan yang dimaksud antara lain adalah pene­
tapan persiapan. Penetapan pemeriksaan setempat,
dan lain-lain.

2. Pada Juklak No. 2 Tahun 2005 tentang tata cara


penyelenggaraan peradilan di bidang kejurusitaan pada
Pengadilan Tata Usaha Negara (melaui surat TUADA TUN
No. 33/Td-TUN/XII/2005 tanggal 8 Desember 2005) dalam
Pasal 2 ayat (3) ditentukan tugas jurusita adalah
mengadministrasikan dalam melaksanakan berkas perkara
banding, kasasi dan Peninjauan Kembali.

Permasalahan :
Ketentuan tersebut (khusus: melaksanakan berkas perkara
dalam buku II ditentukan sebagai tugas meja III) oleh
karena itu supaya tidak tumpang tindih perlu dipertegas
(dengan memberi wewenang) kepada Ketua Pengadilan
Tata Usaha Negara untuk mengaturnya.
177
Jawaban :
- Tugas dan tanggung jawab Kejurusitaan Pengadilan
Tata Usaha Negara tidak diatur secara tegas dalam UU
No. 9 Tahun 2004. Pasal 39A s/d Pasal 39 E UU No. 9
Tahun 2004 hanya mengatur mengenai pembentukan
dan pengangkatan kejurusitaan pada Pengadilan Tata
Usaha Negara, sehingga oleh karena itu sebelum ada
ketentuan hukum yang mengatur lebih lanjut mengenai
tugas dan tanggung jawab kejurusitaan Pengadilan
Tata Usaha Negara, maka Mahkamah Agung RI
mengeluarkan Petunjuk Pelaksanaan No. 2 Tahun 2005
No. 33/Td.TUN/XII/2005 tanggal 8 Desember 2005
tentang Tata Cara Penyelenggaraan Peradilan Di
Bidang Kejurusitaan Pada Pengadilan Tata Usaha
Negara. Dalam Pasal 2 menyatakan :
Tugas Jurusita adalah :
(1) Mengadministrasikan surat-surat panggilan
dan surat-surat pemberitahuan pengadilan;
(2) Mengadministrasikan dan melaksanakan
pengiriman salinan penetapan dan atau
salinan putusan pengadilan;
(3) Mengadministrasikan dan melaksanakan
pengiriman berkas perkara banding, kasasi,
dan peninjauan kembali;
(4) Mengadministrasikan dan atas perintah
ketua pengadilan melaksanakan upaya
paksa terhadap Tergugat yang tidak mau
secara sukarela melaksanakan putusan
yang telah berkekuatan hukum tetap dan
atau tidak mau melaksanakan penetapan
penundaan pelaksanaan putusan tata usaha
negara;
(5) Membuat berita acara pelaksanaan upaya
paksa yang salinan resminya diserahkan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan;
(6) Mengadministrasikan dan atas perintah
Panitera melaksanakan pengumuman
Pejabat yang tidak bersedia secara sukarela
melaksanakan putusan yang telah berke­
kuatan hukum tetap;
(7) Melaksanakan tugas-tugas lain yang
ditentukan oleh pimpinan pengadilan.
Dari bunyi Pasal 2 ayat (7) diatas menunjukkan bahwa
selain tugas yang disebutkan dalam Pasal 2 ayat (1)
s/d ayat (6) diatas Ketua Pengadilan berwenang untuk
menetapkan tugas-tugas lain kejurusitaan pada
Pengadilan Tata Usaha Negara;
- Selain dari pada itu sesuai dengan Keputusan Ketua
MA RI No. KMA/096/SK/X/2006 Ketua Pengadilan
Tingkat Pertama dan Ketua Pengadilan Tingkat
Banding menjalankan pengawasan terhadap jalannya
peradilan dan tingkah laku hakim dan pegawai
pengadilan;
Berdasarkan alasan diatas, dengan demikian Ketua
Pengadilan berwenang mengatur tugas-tugas lain
kejurusitaan selain yang telah diatur dalm Pasal 2
diatas, bahkan mengawasi jalannya peradilan
merupakan tanggung jawab dari Ketua Pengadilan.

II. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA MAKASAR

1. Pemanggilan, dan pemberitahuan putusan yang


dilakukan Juru Sita untuk luar kota, sulit ditentukan
sejak kapan surat tersebut diterima oleh yang
bersangkutan sehingga untuk menghitung tenggang
waktu banding, kasasi dan PK sulit ditentukan, untuk itu
mohon penjelasan ?

Jawaban :
- Pada prinsipnya pemanggilan dan pemberitahuan
putusan atau pemberitahuan eksploit lainnya
dilaksanakan dengan surat tercatat (Vide Pasal 65
jo. Pasal 108 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1986.

179
Setelah UU No. 5 Tahun 1986 diubah dengan
UU No. 9 Tahun 2004 Kejurusitaan dibentuk di
Pengadilan Tata Usaha Negara, akan tetapi tugas
dan tanggung jawab Jurusita tidak diatur dalam UU
tersebut.
Sebelum Juklak No. 2 Tahun 2005 No. 33/Td.TUN/
XII/2005 tanggal 08 Desember 2005 dikeluarkan, di
dahului pembahasan dalam Rekernas di Denpasar
tahun 2005. Rakernas mengambil kesimpulan :
1) Pada butir ke 3 Permasalahan yang dihadapi
dan saran pemecahan menyatakan, karena
luasnya wilayah hukum PTUN dan PT.TUN
mengakibatkan pelaksanaan tugas-tugas kejuru­
sitaan tidak maksimal. Untuk itu penyampaian
surat-surat panggilan/pemberitahuan dilakukan
dengan cara :
a. Untuk wilayah dalam kota disampaikan
secara langsung oleh Jurusita.
b. Untuk wilayah luar kota disampaikan melalui
pos sesuai dengan ketentuan Pasal 65 UU
No. 5 Tahun 1986 sebagaimana diubah
dengan UU No. 9 Tahun 2004.
2) Pada butir 2 permasalahan yang dihadapi dan
sasaran pemecahan, merekomendasikan
kepada MA agar sebelum adanya peraturan
pelaksanaan yang mengatur tentang struktur
tugas dan wewenang dari Jurusita/Jurusita
Pengganti, untuk itu MA perlu segera
mengeluarkan pedoman pelaksanaannya.
3) Kemudian berdasarkan rekomendasi Rakernas
di Denpasar tersebut, MA RI mengeluarkan
Juklak No. 2 Tahun 2005 No. 33/Td.TUN/XII/
2005 tanggal 08 Desember 2005.
4) Dalam Pasal 2 ayat (2) Juklak No. 2 Tahun 2005
menyatakan tugas Jurusita adalah mengadmi-
nistrasikan dan melaksanakan pengiriman
salinan penetapan dan atau salinan putusan
pengadilan. Pasal ini mengkehendaki pelaksa­
naan pemanggilan, pemberitahuan putusan dan
eksploit lainnya adalah dengan cara pengiriman
melalui surat tercatat sebagaimana dikehendaki
yang diatur dalam Pasal 65 jo Pasal 108 ayat (2)
UU No. 5 Tahun 1986 diatas.
5) Juklak No. 2 Tahun 2005 diatas tidak mengatur
secara tegas apakah Jurusita dapat memanggil
atau memberitahukan putusan dan eksploit
lainnya secara langsung kepada pihak-pihak
tanpa surat tercatat.
6) Sambil menunggu dikeluarkannya Juklak tam­
bahan mengenai kejurusitaan, sebaiknya hasil
kesimpulan Rakernas di Denpasar disebutkan
diatas dapat dijadikan pedoman.
7) Besarnya biaya pemanggilan dalam kota dan
pemberitahuan lainnya, agar berkoordinasi
dengan Pengadilan Negeri dan atau Pengadilan
Agama setempat.
8) Penetapan besarnya biaya pemanggilan dan
pemberitahuan ditetapkan Ketua Pengadilan
Tata Usaha Negara bersama-sama dengan
Panitera yang dituangkan dalam bentuk surat
keputusan ketua Pengadilan Tata Usaha
Negara.
9) Cara menghitung pemanggilan dan pemberita­
huan putusan yang dilakukan dengan surat
tercatat ada dua pendapat:
a. Pendapat Pertama: Juklak 222/Td.TUN/
X/1993 tanggal 14 Oktober 1993 dan Juklak
223/Td.TUN/X/1993 tanggal 14 Oktober
1993 mempergunakan cara penghitungan
’’Teori Penerimaan”.
b. Juklak 224/Td.TUN/1993 tanggal 14 Oktober
1993 mempergunakan 2 cara:

181
1) Apabila tidak ada keraguraguan sejak
kapan diterima, maka dipergunakan
’’teori penerim aan”
2) Apabila ragu-ragu sejak kapan diterima,
maka dihitung menurut kearifan hakim.
10. Praktek yang dipergunakan, adalah memper­
gunakan "teori pengirim an.” kecuali dibuktikan
sebaliknya bahwa pemanggilan atau pemberi­
tahuan senyatanya baru diterima yang
bersangkutan.

2. Apakah kepada pihak Intervensi dapat dikenakan biaya


persekot perkara ?
Jawanan :
- Penjelasan Pasal 59 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1986
sebagaimana di ubah dalam UU No. 9 Tahun 2004
uang muka biaya perkara dibayar lebih dahulu oleh
Pihak Penggugat. Yang dimaksud dengan ’’uang
muka biaya perkara” ialah biaya yang dibayar lebih
dahulu sebagai uang panjar oleh pihak Penggugat
terhadap perkiraan biaya perkara yang diperlukan
dalam proses berperkara seperti biaya
kepaniteraan, biaya meterai, biaya saksi, biaya ahli,
biaya alih bahasa, biaya pemeriksaan ditempat lain
dari ruang sidang dan biaya lain yang diperlukan
bagi pemusatan sengketa atas perintah hakim
Intervensi maksudnya adalah masuknya atau
bergabungnya seseorang atau badan hukum
perdata kedalam suatu perkara yang sedang
berjalan. Intervensi dapat terjadi atas kemauan
sendiri atau ditarik masuk oleh salah satu Pihak
yang berperkara.
Oleh karena UU No. 5 Tahun 1986 sebagaimana di
ubah dalam UU No. 9 Tahun 2004 telah tegas
menyatakan yang membayar persekot panjar biaya
perkara adalah Pihak Penggugat. Maka biaya
persekot perkara tidak dibebankan kepada
Intervensi.
- Dengan adanya 2 (dua) pihak yang membayar
pemanjar biaya perkara (Penggugat dan Intervensi),
dalam prakteknya sulit untuk menghitung biaya
perkara yang dicantumkan dalam putusan, karena
sebahagian ada yang dikeluarkan dari buku kas
keuangan perkara Penggugat, sebahagian lagi
dikeluarkan dari buku kas keuangan perkara
Intervensi.
Oleh karena dasar hukum untuk biaya panjar
perkara dari Intervensi tidak ada, maka praktek
pemungutan panjar biaya perkara dari pihak
Intervensi ditiadakan.

3. Agar MA mengeluarkan SEMA untuk menjadi acuan di


daerah-daerah untuk persamaan persepsi terhadap
Pasal 45 A UU No. 5 Tahun 2005?

Jawaban :
- Mengenai pembatasan upaya hukum kasasi
sebagaimana dimaksud Pasal 45 A ayat (2) butir
c UU No. 5 Tahun 2004 telah diatur dalam
SEMA No. 6 Tahun 2005 No. MA/Kumdil/80A/
IV/K/2005 taggal 26 April 2005.
- SEMA No. 6 Tahun 2005 diatas hanya mengatur
bentuk surat pembatasan upaya hukum kasasi
yaitu berbentuk ’’Surat Keterangan Ketua PTUN”
dan tidak mengatur tentang parameter (ukuran)
untuk menentukan apakah keputusan daerah
yang jangkauannya hanya berlaku di wilayah
daerah yang bersangkutan, sehingga praktek
dilapangan terjadi penafsiran yang berbeda-
beda satu sama lain.
- Mengenai parameter atau ukuran pembatasan
Kasasi Vide Pasal 45 A ayat (2) butir c UU No. 5
Tahun 2005 telah dibahas dalam Rakernas
2006 di Batam, hasil Rakernas menyimpulkan

183
Parameter (ukuran) yang dapat digunakan oleh
Ketua PTUN untuk menentukan apakah
keputusan pejabat daerah yang jangkauannya
hanya berlaku di wilayah daerah yang
bersangkutan adalah:
a. Keputusan Pejabat Daerah tersebut diter­
bitkan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang secara atributif memberikan
kewenangan langsung kepada pejabat
daerah (Jadi, perlu dicermati peraturan
dasar yang dijadikan dasar kewenangan
penerbitan keputusan itu).
b. Produk keputusannya hanya berlaku di
wilayah daerah yang bersangkutan.
c. Tidak termasuk keputusan itu adalah kepu­
tusan yang diterbitkan oleh pejabat daerah
yang sumber kewenangannya berasal dari
pelimpahan wewenang berdasarkan
peraturan perundang-undangan (delegasi)
yang secara atributif kewenangan tersebut
merupakan kewenangan pejabat pusat
(penjelasan Pasal 45 A ayat (2) huruf c UU
No. 5 Tahun 2004).
d. Menyangkut hal tersebut diatas ada
beberapa wacana :
- bahwa yang dimaksudkan keputusan
yang berlaku di wilayah daerah yang
bersangkutan adalah khusus keputusan
kepala daerah yang didasarkan pada
kewenangan daerah berdasarkan asas
desentralisasi, jadi tidak termasuk
keputusan yang diterbitkan berdasarkan
kewenangan yang didasarkan pada asas
dekonsentrasi dan asas medebewind
(Tugas Perbantuan). Dengan kata lain
hanya meliputi keputusan-keputusan
yang diterbitkan oleh pejabat daerah
dalam melaksanakan otonomi daerah.
Bahwa untuk menentukan apakah suatu
keputusan TUN dapat diajukan upaya
hukum kasasi maka terlebih dahulu
harus mendengar dari para pihak yang
bersengketa dan selanjutnya oleh Ketua
Pengadilan mengeluarkan surat
keterangan bahwa perkara tersebut tidak
dapat dikasasi dengan alasan bahwa
objek sengketanya mempunyai jang­
kauan berlaku di wilayah daerah yang
bersangkutan.
e. Dalam hal ada pihak yang bersikeras tetap
berpendirian bahwa perkaranya masih dapat
diajukan kasasi. Maka kepada yang ber­
sangkutan dapat disarankan agar menga­
jukan upaya hukum peninjauan kembali
(PK).
f. Sebagai konsekuensi dari adanya
pengiriman surat keterangan penolakan
upaya kasasi ke MA maka disarankan
adanya register tersendiri/khusus di MA
untuk mencatat tentang surat keterangan
ketua peradilan tersebut.
g. Bahwa hasil Rakernas di Batam tahun 2006
diatas dapat dijadikan acuan dalam hal
penerapan pembatasan upaya kasasi
sampai menunggu adanya SEMA tambahan
atau Juklak yang berhubungan dengan itu;
h. Akan tetapi karena masih adanya penerapan
penafsiran yang berbeda-beda mengenai
parameter untuk menyatakan keputusan
daerah yang berlaku di daerah masih
berbeda-beda satu sama lain, maka apabila
terjadi saling bersikeras pendirian kedua
belah pihak (salah satu pihak menyatakan
dibatasi upaya kasasi sebagaimana
dimaksud Pasal 45 A ayat (2) butir c UU

185
No. 5 Tahun 2004 dan di pihak lain
menyatakan tidak termasuk yang dibatasi)
maka perkara tersebut harus dicatatkan
kasasinya.
i. Dalam hal apabila Ketua Pengadilan telah
mengeluarkan surat keterangan yang
menyatakan objek sengketa dalam putusan
perkara tersebut merupakan keputusan yang
dibatasi untuk kasasi sebagaimana
dimaksud Pasal 45 ayat (2) butir c UU No. 5
Tahun 2005 diatas, sementara ada pihak
yang bersikeras untuk tetap menyatakan
kasasi, maka permohonan kasasi tersebut
tetap dibuat akte kasasinya, dengan catatan
yang dicatatkan dalam Akte Kasasi bahwa
Ketua PTUN telah mengeluarkan surat
keterangan pembatasan kasasi dalam
perkara ini. Dan berkas perkara kasasinya
bersama dengan surat keterangan ketua
tersebut dikirimkan ke MA.
j. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang
pelaksanaan Pasal 45 ayat (2) butir c UU
No. 5 Tahun 2005 maka tenggang waktu
pengajuan kasasi menjadi tertunda.

Apakah uang paksa, sanksi administratif, dan


pengumuman di media massa hingga kini belum ada
petunjuk pelaksanaannya.

Jawaban :
Sebelum menjawab permasalahan diatas
terlebih dahulu mari kita telaah kembali apa
yang menjadi tuntutan pokok dalam gugatan
sengketa TUN di Pengadilan Tata Usaha
Negara;
- Tuntutan pokok yang dapat dimintakan dalam
sengketa TUN adalah mengenai: 1) Pembatalan
atau tidak sahnya suatu keputusan TUN,
permohonan penerbitan surat keputusan TUN,
2) Ganti rugi (tuntutan ganti rugi bersamaan
dengan tuntutan pembatalan atau permohonan
tidak sah keputusan TUN, jadi ganti rugi tidak
dapat berdiri sendiri tanpa harus bersamaan
dengan tuntutan pembatalan atau tidak sahnya
Keputusan TUN, 3) Rehabilitasi (khusus
Kepegawaian) (Vide Pasal 53 ayat (1) UU No.
9/2004 jo. Pasal 3 UU No. 5/1985).
Uang Paksa (dwangsom), Sanksi Administratif,
dan Pengumuman di masmedia, sesuai dengan
Pasal 116 ayat (4) dan (5) UU No. 9/2004 timbul
atau terjadi adalah disebabkan oleh karena
Pejabat TUN tidak mau melaksanakan sendiri
secara sukarela putusan Pengadilan Tata
Usaha Negara yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, dengan perkataan lain uang paksa
(dwangsom), sanksi administratif, dan pengu­
muman di masmedia tidak akan dikenakan
mana kala Pejabat TUN melaksanakan putusan
dengan sukarela, dengan tepat waktu.
Menurut konteks Pasal 116 ayat (3), (4) dan (5)
UU No. 9/2004 kewenangan untuk menerapkan
uang paksa, sanksi administratif, pengumuman
di masmedia adalah kewenangan Ketua
Pengadilan Tata Usaha Negara apabila Pejabat
TUN tidak melaksanakan putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap (terpisah dari
amar putusan), hanya saja bentuk dan
tehnisnya sulit untuk dilaksanakan, sehingga
timbul pemikiran apakah uang paksa, sanksi
administratif, dan pengumuman di masmedia
tidak sebaiknya dicantumkan dalam gugatan/
putusan. (Uang paksa, sanksi administratif, dan
pengumuman di masmedia tidak akan
dieksekusi mana kala putusan dilaksanakan
secara sukarela).

187
Uang paksa (dwangsom), Saksi administratif,
dan Pengumuman di media massa adalah
sebagai upaya penekanan agar putusan
dilaksanakan, akan tetapi apabila putusan
dilaksanakan, maka uang paksa, sanksi
administratif, dan pengumuman di media massa
tidak akan dilaksanakan, akan tetapi sebaliknya
apabila putusan tidak dilaksanakan secara
sukarela, maka tuntutan pokok dan upaya
tekanan berupa uang paksa, sanksi administratif
akan dilaksanakan secara bersama-sama.
Dalam sengketa perdata dwangsom dimohon­
kan bersamaan dengan gugatan pokok,
demikian juga halnya apabila dwangsom
dikabulkan maka dicantumkan dalam amar
putusan, dwangsom tidak dilaksanakan apabila
pihak yang kalah melaksanakan putusan secara
sukarela.
Secara khusus uang paksa dalam sengketa
TUN masih diperdebatkan, karena kepada siapa
uang paksa tersebut dikenakan apakah kepada
Pejabat TUN yang menerbitkan SK TUN yang
dipersengketakan ataukah kepada Pejabat TUN
yang tidak melaksanakan putusan, ataukah
kepada negara (Instansi yang bersangkutan).
Hal ini tidak semudah penerapan dwangsom
dalam sengketa perdata.
Besarnya uang paksa dalam perkara perdata
ditetapkan berdasarkan kearifan hakim yang
ditetapkan dalam amar putusan.
Mengenai uang paksa, sanksi administratif tidak
perlu dipermasalahkan untuk sementara waktu
lebih dahulu, sebab mengenai hal ini telah
merupakan bahagian yang menjadi pemba­
hasan dalam RUU Administrasi Pemerintahan,
sebaiknya kita menunggu dulu sampai RUU
tersebut menjadi UU. (RUU Administrasi
Pemerintah pada saat ini telah dibahas di DPR).
III. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA PALU

1. Walaupun sudah ada SEMA No. 6 Tahun 2005 tanggal


26 April 2005 supaya Ketua Pengadilan mengeluarkan
’’Surat Keterangan” tetapi masih ada Ketua
Pengadilan yang menerbitkan ’’Penetapan” untuk itu
perlu keseragaman untuk seluruh Pengadilan Tata
Usaha Negara di Indonesia.
Jawaban :
Bentuk surat sehubungan dengan Pelaksanaan
Pasal 45 A ayat (2) huruf c UU No. 5 Tahun
2004, telah ditetapkan dalam SEMA No. 6
Tahun 2005 yaitu bentuknya ’’surat Keterangan
Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara” untuk itu
kepada seluruh Ketua PTUN agar memperha­
tikan dan melaksanakannya, SEMA tersebut.

2. Bagaimanakah nasib surat keterangan yang


dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan terkait Pasal 45 A
ayat (2) c sedangkan ada pihak yang bersikeras untuk
mengajukan kasasi seandainya akhirnya berkas
dikirimkan ke MA atau bagaimana penyelesaiannya jika
terdapat perbedaan pendapat antara Ketua Pengadilan
Tata Usaha Negara dengan MA RI tentang perkara
TUN yang tidak dapat diajukan kasasi ?

Jaw aban:
- Menganai hal ini sebaiknya menunggu putusan
MA (Yurisprudensi).

3. Dengan direvisinya UU No. 5 Tahun 1986 menjadi UU


No. 9 Tahun 2004 khususnya mengenai Pasal 116
tentang eksekusi, maka terhadap eksekusi putusan
yang membebankan upaya paksa pembayaran
sejumlah uang menjadi permasalah karena sampai
saat ini belum ada petunjuk tehnis terhadap
pelaksanaannya?

189
4. Bagaimana standar/batasan untuk menetapkan jumlah
uang paksa kepada Tergugat, apakah akan ditetapkan
oleh Hakim dalam amar putusan ?

Jawaban No. 3 dan 4 :


Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 4.

PENGADILAN TATA USAHA NEGARA BANDA ACEH

1. Bagaimana sikap hakim apabila Penggugat dalam


gugatannya mencantumkan tuntutan sejumlah uang
paksa, sanksi administrasi dan pengumuman di media
massa terhadap Tergugat/Pejabat TUN yang tidak mau
melaksanakan putusan tersebut ?

Jawaban :
- Diberitahukan kepada para pihak pada waktu
pemeriksaan persiapan bahwa pelaksanaan
mengenai hal itu belum ada peraturan pelaksa­
naannya. Kalau tetap bersikeras mencantum­
kannya dalam gugatan, maka hal itu jadikan
sebagai pertimbangan dalam pertimbangan
putusan, bahwa hal itu belum ada peraturan
pelaksanaannya sehingga haruslah ditolak).

2. Apakah pencantuman dwangsom, sanksi administrasi


dalam amar putusan tidak bertentangan dengan Pasal
116 ayat (3) UU No. 9 Tahun 2004, (karena menurut
Pasal 116 ayat (3) dwangsom dibebankan kepada
pejabat yang tidak melaksanakan putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap) ?

3. Berapa standar yang layak untuk membebankan uang


paksa terhadap Tergugat, apakah pembebanannya
dihitung perhari atau perbulan?
4. Apakah penghitungan uang paksa dihitung sejak
putusan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak
diterbitkannya surat penetapan Ketua PTUN ?
5. Bagaimana eksekusi riil yang harus dilakukan oleh
PTUN tentang uang paksa tersebut?

Jawaban pertanyaan No. 2 s/d 5 :


- Llihat jawaban permasalahan Pengadilan Tata
Usaha Negara Makassar No. 4.

V. PENGADILAN TINGGI TATA USAHA NEGARA


SURABAYA

1. Pembatasan Kasai sesuai Pasal 45 A ayat (2 ) c UU


No. 5 Tahun 2004. Bagaimana sikap Ketua Pengadian
Tata Usaha Negara terhadap suatu putusan perkara
yang menurut Pasal 45 A ayat (2) c UU No. 5 Tahun
2004 dibatasi untuk mengajukan upaya hukum kasasi,
dimana para pihak yang berperkara (Penggugat
bersikeras agar Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara
mengeluarkan Surat Keterangan yang menyatakan
perkara tersebut dibatasi untuk kasasi dan bersikeras
mohon eksekusi, sedang Tergugat bersikeras
menyatakan akan mengajukan kasa») ?
Jawaban:
- Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 3.

2. Apakah PTTUN dapat mencampuri terhadap


permasalahan tersebut, dengan mendasarkan kepada:
- Pengawasan Ketua PT TUN
- Surat-surat permohonan eksekusi tetap ditembus­
kan kepada Ketua PT TUN, kemudian Ketua PT
TUN menugaskan Ketua Pengadilan Tata Usaha

191
Negara untuk mengeluarkan penetapan tentang
tidak adanya upaya kasasi ?
Jawaban :
Pada dasarnya pelaksanaan pembatasan kasasi
sepenuhnya merupakan kewenangan Ketua
Pengadilan Tata Usaha Negara (Vide SEMA No.
6 Tahun 2005 No. MA/Kumdil/80A/IV/K/2005
tanggal 26 April 2005).

PENGADILAN TATA USAHA NEGARA SEMARANG

1. Bagaimana sikap Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara


apabila suatu putusan menurut Pasal 45 A ayat (2) c
UU No. 5 Tahun 2004 pihak Tergugat ngotot
menyatakan sikap untuk mengajukan kasasi, pada hal
putusan tersebut merupakan putusan Pengadilan Tata
Usaha Negara yang tidak dapat atau dibatasi untuk
upaya hukum kasasi ?

Jawaban :
- Lihat jawaban permasalahan hukum yang
dikemukakan oleh Pengadilan Tata Usaha
Negara Makassar No. 3.

2. Apakah Panitera dapat menolak pendaftaran perkara


dengan alasan nebis in idem, karena perkara tersebut
telah pernah diperiksa di PTUN Semarang ?

Jawaban :
- Penitera tidak dapat menolak hal itu. Karena
nebis in idem telah berkaitan dengan materi
gugatan dan yang dapat mempertimbangkan
nebis in idem suatu perkara adalah hakim. (Lihat
SEMA No. 2 Tahun 1991 angka 6 butir c).

3. Di PTUN Semarang ada sengketa TUN dimana


Penggugat dan kuasanya beralamat di Jayapura
sedangkan kedudukan Tergugat dan lokasi tanahnya
berada di wilayah hukum PTUN Semarang, sengketa
TUN tersebut didaftarkan di PTUN Jayapura, kemudian
PTUN Jayapura meneruskan sengketa TUN tersebut ke
PTUN Semarang. Ketua telah menunjuk Majelis Hakim,
dan Ketua Majelis telah menetapkan hari pemeriksaan
persiapan dengan tenggang waktu pemanggilan yang
patut.
Apakah majelis hakim berwenang menyarankan agar
Penggugat memberikan kuasa kepada Advokat yang
berdomisili di wilayah hukum PTUN Semarang, atau
kuasa hukum yang telah ditunjuk Penggugat tersebut
memberikan kuasa Subsitusi kepada Advokat di
wilayah hukum PTUN Semarang, dengan pertimbangan
pemeriksaan yang sederhana, cepat, biaya ringan ?
Jawaban :
- Pihak-pihak yang bersengketa masing-masing
dapat didampinggi atau diwakili oleh seorang
atau beberapa orang kuasa (vide Pasal 57
ayat (1).
Dalam hal Penggugat atau kuasanya tidak hadir
di persidangan pada hari pertama dan pada hari
yang ditentukan dalam pemanggilan yang kedua
tanpa alasan yang dapat dipertanggung
jawabkan, meskipun setiap kali dipanggil
dengan patut, gugatan dinyatakan gugur dan
penggugat harus membayar biaya perkara (Vide
Pasal 71 ayat (1).
- Penunjukan kuasa adalah hak dari para pihak,
demikian juga dapat tidaknya suatu kuasa untuk
di subsitusikan adalah hak dari pemberi kuasa.

VII. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA YOGYAKARTA

1. Dwangsom sampai saat ini belum ada peraturan


maupun juklak yang mengatur mengenai dwangsom,
apakah dwangsom perlu dimasukkan dalam diktum,

193
dan bagaimana pemecahan masalahnya apabila
dwangsom dimasukkan dalam diktum ?
Jawaban :
Llihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 4.

2. Sampai saat ini belum ada peraturan yang mengatur


mengenai kejurusitaan, fungsi dan keberadaan juru sita
sampai saat ini masih rancu, karena menghendaki agar
pemanggilan dan lain-lain sebagainya dilakukan melalui
surat tercatat.
Jawaban :
- Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Manado No. 2. dan Jawaban permasalahan
hukum yang diajukan oleh Pengadilan Tata
Usaha Negara Makassar No. 1.

3. Bagaimana pemecahan permasalahan pembatasan


upaya kasasi menurut Pasal 45A ayat (2) c UU No. 5
Tahun 2004 ?
Jawaban :
- Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan PTUN Makassar No. 3.

VIII. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA DENPASAR

1. Menurut Pemandangan Majelis hakim, pihak ketiga


yang terkait dengan objek sengketa untuk dipanggil
agar masuk sebagai pihak dalam suatu perkara yang
sedang berjalan (Intervensi) akan tetapi kesulitan untuk
mengetahui alamatnya yang jelas, dan kadang-kadang
meskipun alamatnya cukup jelas tetapi pihak ketiga
yang terkait dengan objek sengketa tersebut tidak mau
hadir walaupun telah dipanggil secara patut ?

194
Jawaban :
- Untuk mendapatkan alamat tempat tinggal pihak
ketiga yang terkait dengan objek sengketa yang
sedang berjalan diusahakan semaksimal
mungkin.
- Akan tetapi apabila pihak ketiga diketahui
alamatnya dan telah dipanggil secara patut
tetapi tidak mau hadir, maka hakim dalam
pertimbangan hukumnya mempertimbangkan
ketidak hadirannya tersebut.

IX. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA MATARAM

1. Bagaimana mekanisme pelaksanaan sanksi uang


paksa (dwangsom), sanksi administratif Pasal 116 ayat
(2) dan (3) UU No. 9 Tahun 2004 terhadap suatu
putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(Inkrach van gewijde’) sementara Tergugat tidak mau
melaksanakan putusan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap tersebut ?
2. Apakah Sanksi dwangsom, sanksi administratif
dicantumkan dalam amar putusan ?
Jawaban No. 1 dan 2 :
Lihat jawaban permasalahan hukum yang
dikemukakan Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 4.

3. Apakah pemanggilan, pemberitahuan penetapan/


putusan, yang berada di luar kota Provinsi bisa
dilakukan melaui Kantor Pos dan dalam wilayah yang
dekat dalam dilakukan oleh jurusita ?

Jawaban :
Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan Pengadilan Tata Usaha Manado No. 2
dan jawaban permasalahan hukum yang

195
diajukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 1.

4. Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara sesuai


Pembatasan upaya hukum kasasi sebagaimana
dimaksud Pasal 45 A ayat (2) c UU No. 5 Tahun 2004
telah mengeluarkan suat keterangan yang menyatakan
perkara tersebut tidak dapat kakasi, namun setelah
yang bersangkutan melapor ke MA lalu MA menegur
Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut agar
mengirimkan berkas tersebut ke MA, untuk itu mohon
agar MA lebih konsisten dalam penerapan Pasal 45 A
tersebut?
Jawaban :
Lihat jawaban permasalahan hukum yang
dikemukakan oleh Pengadilan Tata Usaha
Negara Makassar No. 3.

PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KUPANG

1. Sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan No. 2 Tahun


2005 tanggal 8 Desember 2005 membuka kewenangan
atasan Pejabat dapat memberikan sanksi administratif
kepada Pejabat yang tidak mau melaksanakan putusan
Pengadilan Tata Usaha Negara, mengusulkan agar
sanksi administratif tersebut berupa Penurunan
pangkat, penundaan pelaksanaan kenaikan pangkat,
penundaan gaji berkala, teguran keras dari atasan yang
bersangkutan.

Jawaban :
- Juklak No. 2 Tahun 2005 tanggal 08 Desember
2005 adalah mengenai tata cara penyeleng­
garaan peradilan di bidang kejurusitaan pada
Pengadilan Tata Usaha Negara.
Mengenai pemberian sanksi administratif
kepada pejabat tata usaha negara yang tidak
mau melaksanakan putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap lihat jawaban
permasalahan hukum yang diajukan Pengadilan
Tata Usaha Negara Palu No. 3.

XI. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA BANJARMASIN

1. Apakah keputusan Pejabat Daerah yang berasal dari


pendelegasian kewenangan dari pusat, termasuk
keputusan yang dibatasi untuk kasasi sebagaimana
dimaksud Pasal 45 A ayat (2) c UU No. 5 Tahun 2004 ?
Jawaban :
Lihat jawaban permasalahan hukum yang diajukan
PTUN Makassar No. 3.

2. Isi putusan yang bersifat bagaimana yang dapat


dibebani dengan uang paksa ?
3. Bagaimana cara menjatuhkan dwangsom ?
4. Kepada Siapa Dwangsom dibebankan ?
5. Bagaimana cara menjatuhkan sanksi administratif ?
6. Apa jenis sanksi administratif ?
7. Kepada Siapa perintah untuk memberikan sanksi yang
akan dijatuhkan ?

Jawaban No. 2 s/d 7 :


Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan PTUN Makassar No. 4.

8. Bagaimana caranya mengumumkan suatu putusan


yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
dimasmedia cetak setempat, dan dari siapa biayanya,
dan berapa kali diumumkan ?

Jawaban :
Lihat Juklak No. 2 Tahun 2005 No. Td.TUN/XII/
2005 tanggal 08 Desember 2005.

197
XII. PENGADILAN TATA USAHA NEGARA KENDARI

1. Uang Paksa (dwangsom )


a. Masih banyak Para Hakim dan aparat Pengadilan
Tata Usaha Negara yang belum mengerti atau
memahami apa yang dimaksud dengan uang paksa
(dwangsom), dan apa bedanya dengan ganti rugi.
Oleh karena itu perlu adanya forum untuk
menjelaskan dan menyamakan persepsi mengenai
permasalahan tersebut.
b. Seperti diketahui ada 3 jenis hukuman yakni:
Deklaratoir, Comdemnatoir dan Constitutif. Dan
ketiga jenis hukuman tersebut mana yang dapat
dijatuhkan hukuman dwangsom ?
c. Jika uang paksa tidak dicantumkan dalam gugatan
apakah uang paksa dapat dijatuhkan dalam amar
putusan secara ambtshalve oleh hakim ?
d. Kepada Siapa uang paksa dibebankan, apakan
kepada pribadi yang menjabat atau kepada
negara ?
e. Dari uang/harta pribadi yang mana yang dapat
dipaksakan untuk membayar dwangsom tersebut ?
(gaji atau harta kekayaan yang lain). Dan berapa
besarnya uang paksa tersebut ?
f. Bagaimana bunyi amar putusan yang
memerintahkan pembebanan uang paksa ?
g. Jenis sanksi administrasi apa saja yang dapat
dijatuhkan kepada pihak dalam amar putusan ?
h. Kepada siapa perintah menjatuhkan Sanksi
administratif yang diperintahkan dalam amar
putusan ?
i. Apakah hakim menyebutkan langsung jenis sanksi
administrasi dalam amar putusannya atau cukup
memerintahkan atasan atau pejabat yang
berwenang menghukum untuk menjatuhkan sanksi
administratif tanpa menyebut jenis sanksi
administrasinya ?

198
Jawaban No. 1 a s Id i:
Lihat jawaban permasalahan hukum yang
diajukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Makassar No. 4.

2. Apakah Lembaga hukum publik, (misalnya Pemerintah


Daerah) dapat berkedudukan sebagai Penggugat
dalam sengketa tata usaha negara ?
Jawaban :
Badan Hukum Publik (Pemerintah) dapat
berkedudukan sebagai Penggugat mana kala
Badan Hukum Publik tersebut berada dalam
kedudukannya sebagai Badan Hukum Perdata.

199
PAPARAN
TUADA TEHNIS

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
DIMENSI “A D M IN IS T R A T IV E P E N A L L A W ” SEBAGAI
TINDAK PIDANA KORUPSI**
O leh:
Dr. Parman Soeparman, S.H., M.H.***

Dikaji dari perspektif kebijakan legislasi khususnya dalam


kerangka hukum pidana maka terminologi “Administrative PenaI Law”
adalah semua produk legislasi berupa peraturan perundang-undangan
yang tercakup dalam ruang lingkup administrasi negara yang
memiliki sanksi pidana. Produk legislasi demikian seperti Undang-
Undang Pajak, Undang-Undang Lingkungan Hidup, Undang-Undang
Perikanan, Undang-Undang Pertambangan, Undang-Undang
Kehutanan, Undang-Undang Keuangan, Undang-Undang Perbankan,
Undang-Undang Pasar Modal, Undang-Undang Ketenagalistrikan,
Undang-Undang Telekomunikasi, dan lain-lain merupakan dimensi
“Administrative Penal Law” sepanjang dalam Undang-Undang tersebut
telah diatur ketentuan yang ada sanksi pidananya. Oleh karena itu,
maka perbuatan yang dipandang merupakan pelanggaran terhadap
perundang-undangan administrasi lazim disebut dengan Tindak
Pidana Lingkungan Hidup, Tindak Pidana Perbankan, Tindak Pidana
Pajak, Tindak Pidana Kehutanan, dan lain sebagainya.
Dari dimensi demikian maka adanya sanksi pidana yang terdapat
di dalam “Administrative Penal Law” lazimnya menimbulkan persoalan
baru dikaji dan perspektif normatif, teoretik dan praktik peradilan. Di
satu sisi, apakah produk demikian tersebut masuk dalam ruang
lingkup hukum administrasi negara sehingga sanksi yang diterapkan
kepada pelanggarnya merupakan dimensi administrasi negara
ataukah tidak. Sedangkan di sisi lainnya, apakah dimensi
“Administrative Penal Law” bukan merupakan dimensi hukum
administrasi negara akan tetapi, melainkan merupakan ranah dari
penegakan hukum pidana sehingga bagi pelanggarnya akan
dikenakan sanksi pidana.

* Bahan Rapat Keija Nasional 2007.


** Ketua Muda Pidana Mahkamah Agung R.l.

201
Oleh karena itu, maka persoalan multi kriminalisasi yang bersifat
khusus tersebut, sebagaimana telah disebutkan di atas yaitu adanya
tindak pidana pajak, tindak pidana kehutanan, tindak pidana
kehutanan yang berdimensi sebagai tindak pidana korupsi memang
merupakan persoalan baru yang memerlukan pemecahan secara
mendalam. Persoalan gradual dan substansi fundamental muncul dari
dimensi tersebut yaitu apakah pelanggaran terhadap "Administrative
Penal Law” dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi
karena adanya suatu perbuatan materiil (materiele daad) adalah
sama, dalam perspektif pelanggaran beberapa perundang-undangan.

Antara “A d m in istra tive P e n al L a w ” dengan Asas “L ex Specialis


S ystem atic D e ro g a t L e x G enelari”

Pada dasarnya, ajaran lex specialis dalam hukum pidana telah


berkembang dengan pesatnya. Perkembangan tersebut mempunyai
dimensi bukan saja merupakan suatu pengenyampingan asas umum
(lex generalis) tetapi juga memberikan suatu alternatif hukum pidana,
karena terdapat dalam perundang-undangan yang bersifat khusus
atau berada di luar KUHP, seperti dalam Undang-Undang Pajak,
Undang-Undang Lingkungan Hidup, Undang-Undang Perikanan,
Undang-Undang Pertambangan, Undang-Undang Kehutanan,
Undang-Undang Keuangan, dan lain sebagainya.
Asas hukum pidana mengenai asas lex specialis sudah
berorientasi kepada dimensi untuk menentukan Undang-undang
khusus mana yang harus diberlakukan dan ketentuan mana yang
diberlakukan dalam suatu Undang-undang khusus. Pada dasarnya,
untuk menentukan Undang-undang khusus mana yang harus
diberlakukan maka berlaku asas logische sp e cia lite it atau
kekhususan yang logis. Artinya, ketentuan pidana dikatakan bersifat
khusus apabila ketentuan pidana tersebut selain memuat unsur-unsur
(bestanddelen) lain juga harus memuat unsur ketentuan pidana
bersifat umum. Misalnya, Pasal 341 KUHP yang harus diterapkan dari
pada Pasal 338 KUHP terhadap kasus pembunuhan yang pelakunya
seorang ibu terhadap anaknya. Atau dapat juga ditentukan
keberlakuan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
ketimbang Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 .
202
Selain itu pula maka untuk menentukan ketentuan mana yang
diberlakukan dalam suatu Undang-undang khusus maka berlaku pula
asas “L e x S pecialis S ystem atic D ero g at L ex G en elari” atau asas
kekhususan yang sistematis. Artinya, ketentuan pidana yang bersifat
khusus apabila pembentuk Undang-undang memang bermaksud
untuk memberlakukan ketentuan pidana tersebut sebagai suatu
ketentuan pidana yang bersifat khusus atau ia akan bersifat dari
khusus yang ada. Sebagai contoh, subyek personal, obyek dugaan
perbuatan yang dilanggar, alat bukti yang diperoleh, lingkungan dan
locus dan tempus delicti dalam konteks perpajakan maka Undang-
Undang Perpajakan yang diberlakukan, perbankan maka Undang-
Undang Perbankan yang diberlakukan, konteks lingkungan hidup
maka Undang-Undang Lingkungan Hidup yang diberlakukan, atau
konteks kehutanan maka Undang-Undang Kehutanan yang
diberlakukan, meskipun Undang-Undang Khusus lainnya (seperti
Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi memiliki unsur delik yang
dapat mencakupnya) adalah akseptabelitas sifatnya.
Untuk lebih menjelaskan dimensi ini maka diajukan dimensi
perpajakan. Pertanyaan mendasar yang dapat dikemukakan konteks
ini adalah apakah sudah tepat jikalau tindak pidana dalam bidang
perpajakan dikorelasikan dengan tindak pidana korupsi sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi?
Dimensi terhadap pertanyaan aspek demikian berorientasi kepada
kedudukan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 sebagai Undang-
Undang Administratif yang diperkuat sanksi pidana dan kedudukan
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 sebagai Undang-Undang Khusus. Kemudian juga aspek
tersebut berkorelasi dengan adanya unsur “kerugian keuangan
negara” baik dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 maupun
dalam Undang-Undang Administratif yang diperkuat sanksi pidana dan
kedudukan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Pada asasnya, kedudukan Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2002 merupakan “L e x Specialis System atic D e ro g at L e x G en elari”
atau asas kekhususan yang sistematis terhadap obyek Undang-
undang tersebut yaitu Undang-undang ini tidak berlaku terhadap
setiap orang melainkan hanya terhadap setiap wajib pajak. Begitu pula

203
hanya dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 hanya berlaku bagi setiap orang yang
melakukan tindak pidana korupsi (bukan tindak pidana pajak) dan
Undang-undang ini merupakan lex specialis terhadap Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) karena tindak pidana korupsi tidak
diatur dalam KUHP dan sistem pidananya juga berbeda dengan apa
yang diatur di dalam KUHP. Oleh karena itu maka perbedaan kedua
Undang-undang tersebut di atas menunjukan adanya dua rezim yang
berbeda yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 berada dalam
rezim hukum administratif sedangkan Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 berada dalam
lingkup rezim hukum pidana.
Dimensi lain dari aspek itu, juga telah ditentukan secara tegas
dalam ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999,
yang berbunyi:
“Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-undang yang
secara tegas
Menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang-
undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi, berlaku ketentuan
yang diatur dalam Undang-undang ini. ”

Dari dimensi ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31


Tahun 1999 melalui penafsiran argumentum a contrario dapat
disebutkan bahwa selain Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak ditegaskan
bahwa pelanggaran atas ketentuan pidana dalam Undang-undang lain
merupakan tindak pidana korupsi maka ketentuan Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 tidak berlaku atau tidak dapat diterapkan.
Analisis ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
merupakan Asas “L ex Speciails S ystem atic D ero gat L ex G en elari”
yang membedakan dengan Asas “Lex Specialis D e ro g a t Lex
G enerali
Oleh karena itu, maka dapat ditegaskan adalah tidak relevan
untuk mengkaitkan antara tindak pidana pajak, tindak pidana
kehutanan, tindak pidana perbankan, dan lain sebagainya sebagai
tindak pidana korupsi. Dalam aspek penerapannya, maka baik
Undang-undang pajak maupun Undang-undang tindak pidana korupsi

204
bertujuan untuk mencegah adanya kerugian keuangan negara. Oleh
karena itu, eksistensi kedua Undang-undang tersebut tidak boleh
dilihat dari sudut pandang utilitarianisme akan tetapi juga harus dilihat
dari sudut moralitas. Pada hakikatnya, hukum harus diterapkan
dengan menganut asas lex certa, mementingkan keseimbangan
antara hak dan kewajiban sesuai HAM dan memegang prinsip
transparansi, akuntabilitas dan memelihara akses masyarakat ke
dalam kinerja pajak. Konsekuensi logisnya, maka pengertian unsur
“kerugian keuangan negara” (lost o f the state monetary) dalam
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tidak dapat disamakan dengan berkurangnya pendapatan
negara (low o f state’s income) dari kewajiban pajak yang tidak
dilaksanakan.
Selain itu, dalam aspek perbankan maka “A d m in istra tive Penal
Law ” dalam tindak pidana perbankan berorientasi dengan kebijakan
(beleid) yang dalam praktek peradilan berkorelasi atas pelanggaran
asas “prinsip kehati-hatian perbankan” atau asas prudential banking.
Pada asasnya, suatu kebijakan merupakan persoalan “kebebasan
kebijakan” atau “beleidsvrijheid” atau “freies ermessen” dari negara
dalam melaksanakan tugas publiknya tidak dapat dinilai oleh hakim
pidana ataupun hakim perdata, yang menurut Prof. Oem ar Seno Adji,
S.H. mendekatkan diri pada suatu “separation o f powers”, khususnya
dalam arti “separation o f functions” ataupun “separation o f organism”.
Oleh karena itu, maka kebijakan tidak termasuk penilaian oleh hakim,
yang memfokuskan diri pada aspek “rechtmatigheid” dan bukan
“doelmatigheid”. Prof. Lie Oen Hock, S.H. secara tegas menyatakan
bahwa Hakim tidak diperkenankan mengadili mengenai kebijakan
penguasa. Bukanlah pengadilan yang dapat menilai kebijakan
penguasa dengan Freis Ermessen, sehingga kebijakan pemerintah
tidak boleh dicampuri oleh hakim umum. Pembatasan terhadap
beleidsvrijheid itu adalah apabila terdapat perbuatan yang masuk
dalam kategoris penyalahgunaan wewenang (detournement de
pouvoir) dan perbuatan sewenang-wenang (abus de droit), dan pola
penyelesaian terhadap penyimpangan ini adalah melalui peradilan
administrasi/tata usaha negara.
Oleh karena itu, maka misalnya kebijakan Direksi Bank Indonesia
(kasus BLBI) dalam menentukan untuk memberikan atau tidak
memberikan kredit likuiditas, baik melalui fasilitas saldo debet ataupun

205
fasilitas diskonto, maupun untuk menghentikan atau tidak
menghentikan kliring bagi ke-18 bank yang saldo debet merupakan
kebebasan kebijakan, suatu freis ermessen atau beleidsvrijheid dalam
rangka staatsbeleid yang dalam tataran implementasinya dilakukan
oleh Direksi Bank Indonesia selaku overheidsbeleid, dan tidak menjadi
wewenang oleh hakim umum (perdata maupun pidana). Konsekuensi
logisnya maka penilaian benar tidaknya suatu kebijakan negara (in
casu kebijakan direksi Bank Indonesia dalam memberikan fasilitas
kredit likuiditas) yang masuk dalam kategoris beleidsvrijheid tidak
merupakan kompetensi dari peradilan umum untuk mengadili perkara
tersebut.
Aspek ini ditegaskan pula dalam pertimbangan Putusan
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nom or: 148/PID/2003/PT. DKI tanggal
29 Desember 2003, disebutkan :
“Menimbang, bahwa karena terbukti Keputusan Direksi bank
Indonesia tanggal 15 dan 20 September 1997 adalah
Kebijaksanaan Pemerintah yang dilaksanakan oleh Bank
Indonesia sebagai upaya untuk menyelamatkan sistem moneter
dan Perbankan, maka Pengadilan Tinggi berpendapat bahwa
Pengadilan tidak berhak menilai suatu kebijaksanaan (beleid) dari
Pemerintah Cq Bank Indonesia, terlepas dari pada apakah
kebijaksanaan tersebut berhasil atau tidak untuk menyelamatkan
sistem moneter atau perbankan atau perekonomian Negara”.

Konklusi dari pertimbangan sebagaimana tersebut di atas terbukti


adanya perbuatan material (materiale f e if) berupa rapat pada tanggal
15 dan 20 Agustus 1997 yang menghasilkan kebijaksanaan Dewan
Direksi Bank Indonesia bagi pemberian dispensasi kliring untuk 18
bank yang mengalami saldo debet yang tidak dapat dianggap sebagai
tindak pidana. Lebih lanjut, walaupun ada korelasi antara hukum
administrasi negara dengan hukum pidana (korupsi), akan tetapi
terhadap kebijakan tersebut merupakan dimensi hukum administrasi
dan bukan ranah dari hukum pidana. Aspek ini ditegaskan dalam
Putusan Mahkamah Agung RI No. 72K/Pid/2003 tanggal 4 Februari
2004 terhadap kasus Ir. Akbar Tanjung, dimana Mahkamah Agung
mempertimbangkan, bahw a:
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terbukti di
atas, Mahkamah Agung berkesimpulan bahwa apa yang
206
dilakukan Terdakwa I, yaitu menerima dana budgeter sebesar
Rp. 40 milyar kemudian diserahkan kepada Terdakwa II untuk
digunakan dalam pengadaan dan penyaluran sembako untuk
masyarakat miskin, bukan merupakan penyahgunaan wewenang,
kesempatan atau sarana yang ada pada Terdakwa I baik selaku
Mensegneg maupun selaku koordinator yang menangani program
pengadaan dan penyaluran sembako tersebut, tetapi merupakan
suatu tindakan yang harus dilakukan oleh seorang
Koordinator/Mensegneg dalam keadaan darurat sesuai dengan
kewenangan diskresioner yang ada padanya untuk melaksanakan
perintah Presiden sebagai atasannya. Bahwa dalam keadaan
darurat, tentu tidak dapat diharapkan menempuh prosedur dan
cara-cara dalam keadaan normal, terlebih pula penggunaan dan
pengelolaan Keuangan Negara dalam bentuk dana non budgeter
hanya diatur oleh apa yang disebut “konvensi”, tidak seperti
halnya keuangan negara dalam bentuk APBN yang penggunaan
dan pengelolaannya diatur oleh Keppres, misalnya untuk
pengadaan barang oleh Pasal 21 sampai dengan 30 dalam
Keppres No. 16 Tahun 1999 dan Keppres No. 18 Tahun 2000
sebagaimana telah dikemukakan di atas”.

Oleh karena itu maka Prof. Dr. RM Grindro Pringgodigdo, S.H. instant
decision yang merupakan kebijakan tersebut, baik wijsheid maupun
overheidsbeleid berupa pengambilan keputusan yang bersifat
pernyataan (tertulis) dan/atau keputusan tertulis atau lisan didasarkan
atas kekuasaan/wewenang discretioner (discretionary power atau
authornity) yang memiliki sesuai azas kecermatan substantif/yang
masih dalam batas-batas asas-asas umum pemerintahan yang baik
(algemene beginselen van behoorlyk bestuur).

Penutup

Kewenangan diskresioner dari aparatur negara yang dilakukan


dalam kerangka batas-batas asas-asas umum pemerintahan yang
baik (algemene beginselen van behoorlyk bestuur) sehingga sifatnya
overheidsbeleid merupakan domein dari Hukum Administrasi Negara
dan tidak merupakan yurisdiksi dan makna “menyalahgunakan
kewenangan” maupun dimensi “melawan hukum” (baik melawan

207
hukum formal dan melawan hukum materiel dalam hukum pidana
khususnya terhadap tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, maka
kewenangan diskresioner berupa beleidvrijheid maupun wijsheid,
dapatlah dibenarkan asal sesuai dengan maksud ditetapkannya
kewenangan atau memang telah sesuai tujuan akhirnya, sesuai pula
dengan aspek doelgerichte ditetapkannya diskresioner tersebut.
Apabila terjadi adanya penyimpangan dari asas doelgerichte tersebut
maka aspek ini baru merupakan domein dari Hukum Pidana sebagai
dasar pijakannya.
Oleh karena dimensi sebagaimana diuraikan konteks di atas
maka pelanggaran perundang-undangan administrasi yang telah berisi
memuat sanksi pidana (administrative penal law) seperti pelanggaran
Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang Pajak, tidaklah selalu
dapat diartikan sebagai perbuatan koruptif, karena berdasarkan asas
“Lex Specialis Systematic Derogat Lex Genelari” atau kekhususan
yang sistematis, pelanggaran terhadap perundang-undangan
administrative yang bersanksi pidana adalah merupakan domein dari
tindak pidana pada perundang-undangan administratif, bukan
merupakan domein dari tindak pidana korupsi. Aspek ini ditegaskan
dari ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang
berbunyi:
“Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-Undang yang
secara tegas
Menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang-
Undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi, berlaku
ketentuan yang diatur dalam
Dalam Undang-Undang ini.”

Dari dimensi ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31


Tahun 1999 melalui penafsiran argumentum a contrario dapat
disebutkan bahwa selain Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak ditegaskan
bahwa pelanggaran atas ketentuan pidana dalam Undang-undang lain
merupakan tindak pidana korupsi maka ketentuan Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 tidak berlaku atau tidak dapat diterapkan.
Analisis ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
merupakan Asas “Lex Specialis Systematic Derogat Lex Genelari”

208
yang membedakan dengan Asas “L ex S pecialis D e ro g a t L e x
G en erali”.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu adanya pemecahan
masalah dalam praktek, dimana Penuntut Umum dalam surat
dakwaan sering menerapkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 jo
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 terhadap tindak pidana lainnya
yang diatur oleh perundang-undangan administrative yang bersanksi
khusus atau sebagai “lex Specialis” (misalnya Undang-Undang No.
41 Tahun 1999, Undang-Undang No. 35 Tahun 1999) padahal
Undang-Undang Khusus tersebut tidak menentukan secara tegas
bahwa perbuatan itu merupakan tindak pidana korupsi
sebagaimana dimaksud oleh Pasal 14 Undang-Undang No. 31
Tahun 1999.
Dalam hal ini perlu adanya kesamaan persepsi dari Hakim dalam
semua tingkat peradilan dalam menghadapi dakwaan sejenis itu,
mengingat dakwaan adalah merupakan dasar untuk mengambil
putusan, sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Agung antara lain
dalam putusannya tanggal 16 Desember 1976 No. 68 K/Kr/1973, yang
menyatakan “bahwa putusan haruslah didasarkan pada tuduhan
................................ dan seterusnya".

Jakarta, Juli 2007.

209
PAPARAN
TUADA PERDATA

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
PAPARAN KETUA MUDA PERDATA YANG
MERUPAKAN TEMUAN-TEMUAN MAHKAMAH AGUNG
PADA RAKERNAS MAHKAMAH AGUNG 2007
DI MAKASSAR

1. Penetapan Voluntair
Walaupun sudah berkali-kali diingatkan dan terakhir di
Rekernas di Denpasar (2005) dan Rakernas dPBatam (2006),
namun kenyataannya masih juga ada Hakim mengabulkan suatu
permohonan yang sifatnya Voluntair, walaupun dalam perkara
tersebut ada pihak lain yang berkepentingan.

a. Pengadilan Negeri Surabaya perkara No.428/Pdt.P/2006.


Hakim memberi izin pemeriksaan audit keuangan PT. SB.
Penetapan ini menimbulkan reaksi dari PT. SB, karena Direksi
dari PT. SB tersebut tidak dilibatkan.
Mahkamah Agung telah memberi petunjuk kepada Ketua
Pengadilan Negeri sebagai berikut:
Bahwa suatu penetapan hanya mengikat pihak-pihak yang
memohon penetapan tersebut. Penetapan yang menyangkut
pihak lain tidak dapat dipaksakan untuk dilaksanakan.

b. Pengadilan Negeri Kalianda No.16/Pdt/P/1995.


Hakim mengabulkan suatu permohonan yang diajukan
Pemohon tentang kepemilikan 3 buah pulau di gugusan
kepulauan krakatau. Menteri Kehutanan mengajukan
keberatan terhadap penetapan tersebut.
Mahkamah Agung membatalkan penetapan tersebut dengan
pertimbangan bahwa :
- Mahkamah Agung sebagai lembaga tertinggi yang harus
melakukan pengawasan terhadap jalannya peradilan.
Pengadilan Negeri tidak mempunyai kewenangan untuk
menetapkan suatu hak tanpa adanya sengketa.
Penetapan tersebut dinyatakan tidak mempunyai kekuatan
hukum.

211
c. Pengadilan Negeri Tangerang (Penetapan tanggal 22
Desember 2006).
Hakim mengabulkan suatu permohonan pembubaran sebuah
PT dengan Voluntair, yang didasarkan pada pasal 117 UU
No.1 Tahun 1995. Pihak Direksi dan Komisaris keberatan
dengan penetapan tersebut dan melaporkan ke Mahkamah
Agung.
Mahkamah Agung yang memeriksa keberatan tersebut
berpendapat:
Bahwa walaupun di dalam pasal 117 UU No.1 Tahun 1995
menyatakan bahwa pemegang saham 1/10 suara dapat
mengajukan “Permohonan” kepada Pengadilan Negeri
untuk membubarkan suatu perusahaan, namun hal
tersebut tidak dapat diartikan bahwa Hakim boleh
mengabulkan permohonon tersebut dengan ex parte,
karena permohonan dalam pasal tersebut tidak dapat
diartikan permohonan Voluntair. Di dalam kasus ini ada
kepentingan pihak lain yaitu Direksi, Komisaris dan
Pemegang Saham yang lain yang harus pula
dipertimbangkan oleh Hakim.
Dengan demikian penetapan tersebut telah mengabaikan
azas audi alteram partem atau azas hoor en weder hoor.
Berdasarkan kewenangan Mahkamah Agung di dalam
mengawasi jalannya peradilan agar dilaksanakan sebagaimana
mestinya, maka Mahkamah Agung menyatakan penetapan
tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

d. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Hakim mengabulkan suatu permohonan Voluntair yang
menyatakan tidak sah suatu Anggaran Dasar suatu PT.
Pihak Direksi mengajukan keberatan atas penetapan tersebut
ke Mahkamah Agung.
Mahkamah Agung yang memeriksa keberatan tersebut,
menyatakan penetapan tersebut tidak berkekuatan hukum,
dengan alasan :
Penetapan tersebut tidak mempunyai dasar hukum.

212
Di dalam penetapan tersebut terkait adanya kepentingan
pihak lain yang tidak didengar.
Mahkamah Agung menyatakan penetapan tersebut tidak
berkekuatan hukum.

e. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Persoalan ini bermula dari hubungan antara seorang pria (A)
yang sudah beristri dengan seorang wanita (B). Dari hubungan
tersebut lahir seorang anak di Singapura. Di Singapura
Keduataan Besar Indonesia mengeluarkan akte kelahiran.
Beberapa tahun kemudian Si A tersebut berusaha untuk
memutus hubungan hukum dengan anak tersebut yaitu
memohon pembatalan akte kelahiran anak tersebut yang oleh
Hakim dikabulkan.
Sampai saat ini Mahkamah Agung belum mengambil sikap
untuk membatalkan penetapan tersebut, apakah akan
didasarkan pada fungsi Pengawasan Mahkamah Agung
ataukah harus melalui upaya hukum Kasasi ataukah
Peninjauankembali.

f. Pengadilan Negeri Tangerang.


Almarhum A meninggal dunia dengan meninggalkan 2 orang
isteri yaitu B dan C dan Anak.
Ternyata kemudian Si B dan anak-anaknya memohon penetapan
ahliwaris dari Si A dan Hakim kemudian mengabulkan
permohonan tersebut.
Si C (Isteri kedua) dari almarhum A keberatan dengan
penetapan tersebut dan mengajukannya kepada Mahkamah
Agung.
Mahkamah Agung dalam penetapannya menyatakan
Penetapan Pengadilan Negeri tersebut tidak berkekuatan
hukum.

g. Pengadilan Negeri Bandung.


Sebuah PT. MRA didirikan oleh 3 orang, A, B, C.
A : Pemegang saham 50 % bertindak sebagai Presiden
Komisaris.

213
B : Pemegang saham 25 % sebagai Direktur.
C : Pemegang saham 25 % sebagai Wakil Direktur.
Setelah beberapa tahun PT. tersebut beroperasi timbul
perselisihan antara Komisaris (A) dengan Direktur dan Wakil
Direktur PT (B dan C). Karena tidak ada titik temu, maka B dan
C selaku Direktur dan Wakil Direktur mengajukan permohonan
Voluntair kepada Pengadilan Negeri untuk membubarkan
Perseroan.
Di dalam permohonan tersebut dijelaskan apa sebab Direktur,
Wakil Direktur memohon pembubaran PT.
Hakim yang memeriksa permohonan tersebut mengabulkan
permohonan pemohon. Si A sebagai Komisaris keberatan atas
penetapan tersebut karena ia tidak dilibatkan dalam
permohonan tersebut sehingga merasa dirinya dirugikan.
Mahkamah Agung berpendapat bahwa penetapan tersebut
keliru karena :
a. Diajukan secara Voluntair, sehingga pemegang saham
yang lain tidak didengar.
b. Sebagai Direksi dan Wakil Direksi tidak berhak meminta
pembatalan tersebut, seharusnya pembubaran dilakukan
melalui RUPS.
Pasal 114 UU No.1 Tahun 1995 menentukan bahwa
pembubaran suatu PT dapat terjadi:
1. Jangka waktunya telah habis menurut Anggaran Dasar.
2. Putusan RUPS.
3. Penetapan Hakim.
Mahkamah Agung memanggil meminta Ketua Pengadilan
Negeri untuk menganjurkan kepada Si A untuk mengajukan
gugatan bilamana penetapan tersebut dianggap merugikan
dirinya.

2. Gugatan Intervensi (Pengadilan Negeri Cianjur).


Dalam sebuah perkara gugatan antara A (Penggugat) melawan
Tergugat (B), kemudian muncul intervenient (C) yang mengajukan
gugatan intervensi. Setelah perkara intervensi tersebut diperiksa

214
oleh Hakim, intervensi ditolak (Putusan Sela) pihak intervenient
mengajukan banding atas putusan tersebut.
Dalam perkara pokok antara A melawan B diteruskan
pemeriksaannya oleh Hakim sampai pada putusan. Kedua belah
pihak (A dan B) menerima putusan tersebut.
Pihak Penggugat intervensi meminta agar berkas perkara yang
bersangkutan dikirim ke Pengadilan Tinggi, karena intervenient
banding. Karena Pengadilan Negeri menolak untuk mengirim
berkas ke Pengadilan Tinggi, maka yang bersangkutan
melaporkan tindakan Ketua Pengadilan Negeri kepada Ketua
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Ketua Pengadilan
Tinggi yang menerima pengaduan yang bersangkutan memerin­
tahkan Ketua Pengadilan Negeri untuk mengirim berkas kepada
Pengadilan Tinggi.

Pendapat Mahkamah Agung :


Putusan Hakim yang menolak masuknya intervienent ke dalam
perkara adalah Putusan Sela yang menurut Pasal 9 UU No. 20
Tahun 1947 tidak dapat dibanding.
Seharusnya intervenient tersebut mengajukan gugatan tersendiri.

3. Putusan Perdamaian (Pengadilan Negeri Tegal).


Ada suatu akte perdamaian yang akan dieksekusi oleh Pengadilan
Negeri. Pihak Termohon Eksekusi keberatan. Oleh Ketua
Pengadilan Negeri dianjurkan untuk mengajukan Permohonan
Peninjaun Kembali.
Assosiasi pemikiran Ketua Pengadilan Negeri ini didasarkan
bahwa akte perdamaian sama dengan putusan yang Berkekuatan
Hukum Tetap (BHT).
Pasal 130 (2-3) HIR/154 (2) RBg memang menyatakan bahwa
akte perdamaian mempunyai kekuatan yang sama dan
dilaksanakan dengan cara yang sama sebagai suatu putusan
biasa yang tidak dapat diajukan banding.
Hal ini berarti bahwa akte perdamaian kekuataanya sama dengan
putusan biasa. Tetapi proses terjadinya akte perdamaian dengan
putusan biasa berbeda.

215
Putusan biasa telah melalui jawab menjawab serta pemeriksaan
bukti-bukti, sedangkan akte perdamaian dibuat berdasarkan
kesepakatan, maka akte perdamaian mustahil dapat diajukan
upaya hukum banding, kasasi atau peninjauan kembali, karena
proses pemeriksaan awal tidak pernah ada.
Apabila setelah terjadi akte perdamaian salah satu pihak merasa
ada yang salah sehingga terjadi perdamaian misalnya ada tipuan
atau kebohongan maka upaya hukumnya hanya dengan gugatan
untuk membatalkan atas perdamaian tersebut.

4. Pengadilan Negeri Enrekang.


Dalam suatu putusan Peninjauan Kembali (No.417 PK/Pdt/2002)
mengabulkan suatu permohonan Peninjauan Kembali dengan
dasar bukti PK 1, PK 2, PK 3. Pada waktu akan eksekusi Ketua
Pengadilan Negeri meminta pendapat kepada Pengadilan Tinggi
dengan pertanyaan apakah eksekusi dapat dilakukan, sedangkan
obyek sengketa di dalam bukti PK I, PK II dan PK III tidak
disebutkan baik obyek sengketa, luas, letak dan batas-batas
tanahnya.
Pengadilan Tinggi memberikan petunjuk bahwa putusan tersebut
non executable.
Suatu obyek eksekusi ditentukan oleh batas-batas yang
disebutkan dalam putusan yang berasal dari obyek yang disebut
dalam surat gugatan.
Bila dalam surat gugatan telah disebutkan obyek gugatan dengan
jelas yang dikabulkan oleh Hakim maka tidak ada alasan untuk
menyatakan putusan tersebut non executable.

5. Pengadilan Negeri Bondowoso.


Dalam suatu Putusan Mahkamah Agung disebutkan :
- Mengabulkan gugatan Penggugat sebahagian.
- Menghukum Tergugat untuk mengosongkan obyek sengketa.
Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa sebesar
Rp............./hari apabila tidak mau menyerahkan tanah tersebut
kepada Penggugat, terhitung sejak gugatan diajukan.

Ketua Pengadilan Negeri menanyakan sejak kapan eksekusi


putusan dwangsom tersebut dihitung.

216
Dalam putusan tersebut terdapat kontradiksi yaitu Tergugat
dihukum membayar uang paksa (dwangsom) yaitu harus dihitung
sejak Tergugat dipandang lalai melaksanakan putusan yang
Berkekuatan Hukum Tetap (BHT), sedangkan dibagian lain
dwangsom dihitung sejak gugatan diajukan. Hal ini tidak dapat
dipakai sebagai patokan karena putusan yang belum Berkekuatan
Hukum Tetap (BHT) belum mempunyai kekuatan eksekutorial.

6. Pengadilan Negeri Pati No.5/Pdt.G/2007/PN.PT.


Perkara ini adalah perkara perceraian dan diputus oleh Hakim
tanggal 15 Maret 2007 yang dihadiri oleh kedua belah pihak,
sesudah putusan diucapkan, kedua belah pihak menyatakan
menerima putusan dan dicatat di dalam berita acara :
Pada tanggal 26 Maret 2007, Penggugat menerima salinan
putusan yang dalam catatan disebutkan putusan tersebut telah
Berkekuatan Hukum Tetap (BHT) sejak tanggal 15 Maret 2007.
Pada tanggal 27 Maret 2007, Panitera mengirim salinan putusan
ke Catatan Sipil.
Tanggal 29 Maret 2007, Tergugat mengajukan banding.
Pengadilan Negeri mengirimkan perkara tersebut ke Pengadilan
Tinggi, pihak Penggugat berkeberatan dengan pengiriman
tersebut.
Pasal 329 Rv ; menyatakan apabila pihak telah menerima putusan,
maka permohonan banding tidak dapat lagi diterima.

7. Salah Satu PN di Sul-Sel Perkara No.8 PK/Pdt/2007.


Seorang laki-laki (A) yang sudah beristri (B) melakukan hubungan
dengan seorang perempuan (C). Dari hubungan antara A dan C
tersebut lahir seorang anak (D) yang merupakan anak biologis dari
Si A. Atas persetujuan A, B dan C anak yang lahir tersebut (D)
dalam umur 6 bulan disetujui untuk diadopsi oleh pasangan A dan
B, tetapi anak tersebut tetap dipelihara oleh C. Permohonan
adopsi dikabulkan oleh Hakim. Setelah si anak tersebut berumur
12 tahun, A dan B mengajukan gugatan pembatalan penetapan
adopsi tersebut, dengan alasan si anak tersebut pernah dipelihara
oleh Penggugat (A dan B).

217
Menjadi persoalan apakah alasan tersebut dapat dibenarkan.
Dalam kasus ini Hakim harus bertitik tolak pada Undang-
Undang Perlindungan Anak (UU No.23 Tahun 2002).
Kelihatannya Si A akan menghindarkan diri dari tanggung
jawab yang akan merugikan si anak. Dengan dibatalkannya
penetapan adopsi tersebut, maka si anak akan kehilangan hak
warisnya dari bapak angkatnya yang sekaligus sebagai bapak
biologisnya.

8. Pengadilan Negeri Kerawang.


Dalam Putusan Mahkamah Agung No. 125 PK/Pdt/2002 dinyatakan
menghukum T. I, T. II, T. Ill, atau siapa saja yang memperoleh hak
dari padanya untuk menyerahkan tanah atau hak surat-surat milik
para Penggugat/Pembanding dalam keadaan bebas dari segala
beban, bilamana perlu dengan bantuan alat negara, atau;
Menghukum T.l, T.ll dan Tergugat III secara tanggung renteng
membayar harga tanah sengketa per-meter persegi seharga
Rp.30.000,-/meter seluruhnya Rp. 1.487.400.000,- secara
sekaligus dan seketika.
Permasalahan : Pada waktu akan dilakukan pengosongan tanah
sengketa, batas-batas tanah sengketa tidak dapat lagi ditentukan
karena telah ditimbun.
Ketua Pengadilan Negeri kemudian menyatakan penetapan
tersebut non executable.
Diktum putusan tersebut adalah bersifat alternatif. Apabila
alternatif pertama tidak dapat dilaksanakan karena Tergugat telah
menghilangkan batas-batas tanah sehingga tidak mungkin lagi
ditemukan batas-batasnya, maka seharusnya Ketua Pengadilan
Negeri yang bersangkutan beralih kepada alternatif kedua yaitu
membayar harga tanah tersebut.

9. Pengadilan Negeri Blitar (No.102 K/Pdt/2004).


Suatu penetapan yang dibuat oleh Hakim Pengadilan Negeri Blitar
menyatakan Akta Kelahiran T.l.K adalah tidak syah dan tidak
mempunyai kekuatan hukum. Pada waktu permohonan tersebut
diajukan oleh salah seorang kerabat dari T.T.K, T.T.K telah
meninggal dunia.

218
Setelah penetapan tersebut dikeluarkan oleh Hakim, ahliwaris dari
T.T.K mengetahui dan kemudian ia mengajukan gugatan
pembatalan penetapan tersebut, karena ternyata pemohon
penetapan tersebut telah menggunakan penetapan itu untuk
mencabut kewarganegaan T.T.K.
Putusan Pengadilan Negeri yang dikuatkan Pengadilan Tinggi
menyatakan bahwa Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk
memeriksa gugatan tersebut, karena berdasarkan Pasal 30 UU
No.14 Tahun 1985 menentukan bahwa Mahkamah Agung dalam
tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan
dari semua lingkungan peradilan.
Pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan oleh karena Pengadilan
Negeri dapat saja memeriksa dan mengadili suatu perselisihan
yang diakibatkan oleh timbulnya suatu penetapan Hakim yang
merugikan pihak lain.

10. Pengadilan Negeri Bangkinan No.08/Pdt.G/PN.Bkn jo No. 108


K/Pdt/2003.
Dalam suatu perkara gugatan, pihak Tergugat mengajukan
eksepsi kompetensi absolut. Hakim Pengadilan Negeri menolak
eksepsi tersebut dengan penetapan. Kemudian penetapan
tersebut diajukan banding dan kemudian kasasi.
Apa yang dilakukan oleh Hakim tersebut menimbulkan proses
yang berlarut-larut.
Berdasarkan pasal 185 (1) HIR / 196 (1) RBg, dinyatakan bahwa
putusan yang bukan merupakan putusan akhir tidak dituangkan
dalam suatu surat tersendiri tetapi cukup dicatat dalam berita
acara.
Dan selain dari itu eksepsi tentang kompetensi yang ditolak adalah
merupakan Putusan Sela. Suatu Putusan Sela tidak dapat
diajukan banding tersendiri (Pasal 9 UU No.20 Tahun 1947).

11. Pengadilan Negeri Medan (No.1753 K/Pdt/2005).


Ada seorang suami (A) pengelola hotel melakukan hubungan
dengan seorang perempuan dan dipelihara di hotel tersebut.
Si isteri dari Si A yaitu Si B tersebut dengan maksud agar supaya
suaminya (Si A) tidak bisa lagi leluasa membiayai perempuan

219
piaraannya, maka Si B tersebut mengajukan permohonan
pengampuan (Curatele) bagi suaminya (Si A) dengan alasan
boros. Hakim mengabulkan permohonan tersebut.
Sang suami (A) kemudian menggugat isterinya dan meminta
Hakim untuk membatalkan Penetapan Curatele tersebut.
Pengadilan Negeri menolak gugatan Si A yang dikuatkan
Pengadilan Tinggi.
Pertimbangan Majelis Kasasi menyatakan sebagai berikut:
Suatu penetapan selain dapat langsung diajukan kasasi, juga
dapat ditempuh gugatan biasa.
- Penetapan yang dibuat oleh Pengadilan Negeri telah
melanggar:
a. Pasal 438 BW, yang menentukan bahwa sebelum Hakim
memutuskan permohonan tersebut, Hakim wajib men­
dengar keterangan keluarga sedarah dan semenda dari
Termohon.
b. Pasal 439 BW, Hakim juga wajib mendengar dari orang
yang dimohonkan Curatele tersebut.

Jakarta, 2007

220
KETUA M A H KAM A H AG UN G
REPU BLIK INDO NESIA
Jakarta, 15 Januari 2007
Kepada Yth,
Nomor 01/Tuada Pdt/l/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran Surabaya
Perihal Penetapan d i-
No.428/Pdt.P/2006/Sbv. Surabava.

Sesuai disposisi Ketua Mahkamah Agung tanggal


27 September 2006, sehubungan dengan surat Saudara
Gusti Made Kartika, SH., No.32/GMK/IX/2006 tertanggal
19 September 2006, yang intinya adalah :
1. Keberatan terhadap Penetapan Pengadilan Negeri
No.428/Pdt.P/2006/-PN.Sby tanggal 11 Juli 2006
yang didasarkan atas permohonan Ibnu Susanto
untuk diberikan izin untuk melakukan panggilan
sendiri RUPS tahunan dan luar biasa atas PT.
Sasana Boga.
2. Keberatan didasarkan oleh karena Penetapan
tersebut diambil oleh hakim atas dasar pemeriksaan
voluntair, pada hal perkara ini termasuk perkara
sengketa, sehingga seharusnya perkara tersebut
diajukan dalam bentuk gugatan.

Berdasarkan keberatan tersebut, Mahkamah Agung


telah memeriksa Penetapan Hakim Pengadilan Negeri
Surabaya No.428/Pdt.P/2006/PN.Sby, dan Mahkamah
Agung memberikan petunjuk sebagai berikut:
1. Bahwa petunjuk-petunjuk tekhnis yang menyangkut
permohonan yang berhubungan Undang-Undang

221
No.1 Tahun 1995 telah diberikan oleh Mahkamah
Agung dalam Rakernas 2005 di Denpasar - Bali.
2. Bahwa “Permohonan” yang dimaksud pasal 67
Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tidak dapat
diartikan sebagai permohonan voluntair, karena
pemanggilan RUPS terkait pihak-pihak berkepen­
tingan yaitu pemegang saham, direksi dan
komisaris. Oleh karena itu permohonan dari
pemegang saham untuk melakukan RUPS, hakim
harus pula mendengar direksi dan komisaris,
sebelum hakim memberikan izin.
3. Bahwa suatu Penetapan yang didasarkan pada
permohonan oleh seseorang tanpa melibatkan
orang lain yang berkepentingan, hanya akan
mengikat pemohon itu sendiri, sedangkan pihak lain
yang berkepentingan yang tidak dilibatkan dalam
permohonan tersebut, Penetapan tersebut tidak
mengikat baginya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kiranya


Saudara dapat mengingatkan para hakim agar tidak
mudah mengabulkan suatu permohonan yang bersifat
voluntair, apabila dalam perkara tersebut ada pihak lain
yang terkait dan berkepentingan.

Demikan penyampaian kami untuk seperlunya.

KETUA MUDA BIDANG PERDATA


MAHKAMAH AGUNG - RI

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

Tembusan Kepada Yth, :


1. Ketua Mahkamah Agung RI.
2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial.

222
3. Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya.
4. Sdr. Gusti Made Kartika, SH.
di Komp. Villa Delima Blok K 39 -
Jl. Karang Tengah, Lebak Bulus, Jak-Sel.
KETUA M AHKAM AH AG UNG
REPUBLIK INDO NESIA
Jakarta, 15 Januari 2007
Kepada Yth,
Nomor : 02/Tuada Pdt/l/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi
Lampiran : - Mataram
Perihal : Mohon Fatwa (Petunjuk). d i-
Mataram.

Sehubungan dengan surat Saudara


No.W24.DMT.HT.04.10-675 tanggal 23 Agustus 2006,
perihal tersebut di atas, bersama ini disampaikan :
1. Kewenangan untuk melaksanakan suatu putusan
yang Berkekutan Hukum Tetap (BHT) adalah pada
Ketua Pengadilan Negeri dibawah Pengawasan
Ketua Pengadilan Tinggi.

2. Dalam kasus yang Saudara tanyakan, maka sesuai


ketentuan hukum acara :
a. Apabila Perlawanan tersebut dilakukan oleh
Pihak Termohon Eksekusi sendiri, maka
sesuai pasal 227 ayat (1) RBg menyatakan
bahwa Perlawanan tidak mencegah atau
menunda eksekusi, kecuali jika oleh pejabat
yang memerintahkan dilakukannya penyitaan
itu diperintahkan lain.
(2). Perintah itu dicatat dalam surat
permohonan atau dalam catatan permohonan
lisan yang ia buat.
b. Apabila Perlawanan tersebut dilakukan oleh
Pihak III, maka sesuai pasal 228 ayat (1) RBg,

224
menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan
dalam tiga pasal di atas berlaku juga atas
Perlawanan Pihak Ketiga terhadap
pelaksanaan penyitaan dengan dalil adanya
hak miliknya atas barang-barang yang disita
itu.
(2). Terhadap putusan-putusan yang diambil
berdasar pasal ini dan pasal 226, 231, 238
dan 240 berlaku ketentuan-ketentuan umum
mengenai banding.

Demikan penyampaian kami kepada Saudara untuk


seperlunya.

KETUA MUDA BIDANG PERDATA


MAHKAMAH AGUNG - RI

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

Tembusan Kepada Y th .:
1. Ketua Mahkamah Agung RI.
2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial.
3. Ketua Pengadilan Negeri Mataram.

225
KETUA M AHKAM A H AG UNG
REPUBLIK INDO NESIA

Jakarta, 13 Pebruari 2007


Kepada Yth,
Nomor : 01/ll/Tuada Pdt/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran : - di
Perihal : Mohon Petunjuk. Bondowoso

Sehubungan dengan surat Saudara


No.W24.DMT.HT.04.10-675 tanggal 23 Agustus 2006,
perihal tersebut di atas, bersama ini disampaikan :
1. Bahwa lembaga dwangsom tidak diatur dalam HIR
dan RGB, tetapi diatur didalam pasal 606 a dan 606
RV.
2. Bahwa dwangsom menurut teori hokum acara adalah
merupakan bagian dari hukum eksekusi sama dengan
lembaga gijzeling, yaitu sebagai alat eksekusi tidak
langsung (indirecte executie middle) untuk menekan
si terhukum secara psychis agar denan suka rela mau
melaksanakan hukuman pokok.
3. Bahwa dalam kasus yang Saudara hadapi, maka
hukuman pokok yang harus dilaksanakan oleh
tergugat adalah menerbitkan izin HO dan IMB.
Apabila hukuman pokok tersebut tidak dilaksanakan
oleh tergugat maka ia dikenakan uang paksa
(dwangsom) sebesar Rp. 1.000.000,- setiap hari
keterlambatan. Artinya hukum dwangsom baru

226
berlaku apabila Tergugat lalai/tidak melaksanakan
hukuman pokok (menerbitkan izin HO dan IMB).
4. Bahwa waktu perhitungan dwangsom mulai berlaku,
setelah si tergugat (terhukum) tidak melaksanakan
hukuman pokoknya. Dalam hal ini setelah Ketua
Pengadilan Negeri memberikan teguran (aanmaning)
untuk dalam waktu yang ditentukan melaksanakan
hukuman pokok tersebut.

Demikian untuk diketahui

Tuada Perdata

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

Tembusan :
1. Ketua Mahkamah Agung-RI
2. Wakil Ketua MA-Rl Bid. Yudisial
3. Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya

227
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 20 Pebruari 2007


Kepada Yth,
Nomor : 04/Tuada Pdt/11/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran : - di
Perihal : Rekomendasi Fatwa INDRAMAYU
Atas Putusan MA-RI
No. 316 K/Pdt/2004.

Sesuai disposisi dari Ketua Mahkamah Agung - RI


Tanggal 2 Pebruari 2007, sehubungan dengan surat
Saudara No.W11.U12.HT.02.02-172 tanggal 31 Januari
2007 perihal tersebut diatas, bersama ini disampaikan :

1. Bahwa eksekusi suatu putusan adalah kewenangan


dan tanggung jawab dari Ketua Pengadilan Negeri
yang bersangkutan dibawah pengawasan Ketua
Pengadilan Tinggi.
2. Bahwa didalam rangka melaksanakan (eksekusi)
putusan tersebut, harus mengacu pada hukum
acara yang berlaku (pasal 195 HIR dan seterusnya)
yaitu :
a. Ada permohonan eksekusi
b. termohon eksekusi diaanmaning (ditegur)
untuk memenuhi putusan
c. Apabila termohon eksekusi tidak melaksa­
nakan putusan dengan suka rela maka
dilakukan pelaksanaan (eksekusi) putusan

228
3. Bahwa didalam surat Saudara menyebutkan bahwa
objek sengketa berada di berbagai tempat di pulau
Jawa. Sesuai dengan ketentuan hukum acara
bahwa apabila objek sengketa berada diluar wilayah
Pengadilan Negeri yang bersangkutan, maka
Pengadilan Negeri tersebut meminta bantuan
kepada Pengadilan Negeri dimana barang tersebut
berada (Pasal 195 (2) HI R).

Demikian penyampaian kami kepada Saudara untuk


seperlunya.

Tuada Perdata

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

Tembusan:
1. Ketua Mahkamah Agung-RI
2. Wakil Ketua MA-RI Bid. Yudisial
(1 -2 sebagai laporan)

229
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 13 Maret 2007

Kepada Yth,
Nomor : 03/Tuada Pdt/lll/2007. 1. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran : - Jakarta Barat.
Perihal : Mohon Fatwa (Petunjuk). 2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Timur,
di -
Jakarta

Sesuai disposisi dari Ketua Mahkamah Agung


tanggal 20 Desember 2006, sehubungan dengan surat
Saudara No. W7.Db.Ht.04.10.4486-2006, bersama ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa setelah Mahkamah Agung mempelajari


permintaan Pengadilan Negeri Jakarta Timur
tersebut, maka terlebih dahulu Mahkamah Agung
perlu memberikan petunjuk langkah yang harus
ditempuh, karena dalam proses sampai timbulnya
Penetapan No.45/2006.Eks/PN.Jkt.Tim jo
No. 135/786 tanggal 22 Nopember 2006 menurut
pendapat Mahkamah Agung terdapat kekeliruan
dalam penerapan pasal 225 HIR ;
Untuk menggunakan upaya yang disebut dalam
pasal 225 HIR, maka terlebih dahulu Ketua
Pengadilan harus menentukan apakah diktum
tersebut dapat dilaksanakan, namun pihak Tergugat
tidak mau melaksanakannya dalam waktu yang
ditentukan oleh Ketua Pengadilan N egeri;

230
2. Bahwa Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur
No.45/2006.Eks/-PN.Jkt.Tim jo No.138/75.G. adalah
untuk melaksanakan putusan pengadilan yang
Berkekuatan Hukum Tetap (No.138/75.G tanggal 4
Maret 1976 jo No.153/1976 PT. Perdata tanggal 22
Maret 1977 jo No.775 K/Sip/1978 tanggal 28
September 1978;
3. Bahwa putusan tersebut telah dilaksanakan
seluruhnya, kecuali diktum yang berbunyi:
“Menghukum Tergugat untuk menyediakan
pelataran parkir khusus untuk para Penggugat dan
tamu/relasinya yang dapat menampung 500 mobil”.
Diktum tersebut intinya adalah m enyediakan
pelataran p a rkir khusus , sehingga permasalahan
yang harus dicermati adalah :
a. Apakah mungkin Tergugat menyediakan
pelataran parkir khusus tersebut, dengan
melihat keadaan lokasi saat in i;
b. Apa sebab eksekusi tersebut baru diajukan
sekarang ini, pada hal putusan dalam perkara
ini telah Berkekuatan Hukum Tetap sejak
tahun 1978 (putusan kasasi);
Apa ada itikad buruk dari pemohon eksekusi;
4. Bahwa apabila keadaan lokasi saat ini
memungkinkan Tergugat melaksanakan putusan
tersebut, tetapi ia tidak mau melaksanakannya
dalam waktu yang ditentukan oleh Ketua
Pengadilan Negeri, maka barulah Ketua Pengadilan
Negeri dapat menggunakan ketentuan pasal
225/HIR ;
Ketua Pengadilan Negeri yang akan menetapkan
suatu jumlah berdasar pasal 225/HIR tersebut,
wajib mendengar pihak Termohon Eksekusi dan
orang yang akhli untuk menentukan jumlah yang
obyektif;
5. Dalam menyelesaikan persoalan ini, seharusnya
Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur terlebih

231
dahulu meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Barat untuk melaksanakan diktum
“Menghukum Tergugat untuk menyediakan
pelataran parkir khusus untuk para Penggugat
dan tamu/relasinya yang dapat menampung 500
mobil” dalam waktu tertentu, dan apabila menurut
pendapat Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat
berdasarkan penelitian, bahwa keadaan lokasi yang
harus menyediakan pelataran parkir tidak
memungkinkan untuk dilaksanakan, maka Saudara
dapat melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Timur, dan Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Timur dapat mengeluarkan penetapan non
eksekutable terhadap diktum putusan tersebut;
Pemohon Eksekusi dapat menggugat Termohon
Eksekusi untuk membayar ganti rugi karena tidak
dapat menyediakan pelataran parkir yang
diperjanjikan ;
Dalam kasus ini, Hakim tentunya akan mempertim­
bangkan adanya itikad tidak baik dari pihak-pihak
yang berperkara.

Demikan penyampaian kami kepada Saudara untuk


seperlunya.

KETUA MUDA BIDANG PERDATA


MAHKAMAH AGUNG - RI

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

Tembusan Kepada Y th .:
1. Ketua Mahkamah Agung RI.
2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial.
3. Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta.
4. A r s i p .

232
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 19 April 2007

Kepada Yth,
Nomor 11/Tuada Pdt/IV/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran di
Perihal Mohon bantuan untuk SUKABUMI
Melakukan Eksekusi
Lelang/Penjualan Umum
Perk. No.i 14/Pdt.G/2000/PN.Jak.Sel

Sehubungan dengan surat Saudara No.


W 11.U4.DLHT.04. 10.148 tanggal 12 Pebruari 2007,
bersama ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa penetapan untuk berperkara secara prodeo,
hanya berlaku bagi orang yang ditetapkan. Dalam
perkara aquo adalah Penggugat yang saat ini
sebagai pihak pemenang/ Pemohon Eksekusi.
2. Bahwa hal ini berarti bahwa Tergugat yang kalah
dalam perkara harus dihukum Hintuft membayar
biaya perkara mulai dari tingkat pertama sampai
ditingkat kasasi.
3. Bahwa yang dimaksud biaya perkara, diatur dalam
pasal 182 HIR antara lain :
(6) Upah yang harus diterima oleh Panitera atau
Pegawai-Pegawai lain dalam rangka
pelaksanaan Putusan Hakim kesemuanya
berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah
ada atau yang kemudian akan ditetapkan oleh

233
Menteri Kehakiman dan bilamana tidak ada
ditentukan berdasarkan pertimbangan Ketua.

Dengan demikian biaya eksekusi dapat dibebankan


kepada pihak yang kalah dalam perkara.
1. Bahwa berdasarkan hal tersebut diatas, maka
apabila eksekusi tersebut dilakukan dengan
pelelangan, maka biaya eksekusi dapat
diperhitungkan dari hasil lelang barang-barang milik
tergugat (pihak yang kalah), karena sesuai dengan
ketentuan hukum, sisa hasil lelang dari yang
diterima oleh pihak pemenang perkara (Penggugat)
harus dikembalikan kepada Tergugat (pihak yang
kalah).
Dengan demikian diharapkan didalam menentukan
barang yang akan dilelang tersebut, diperhitungkan
biaya eksekusi.
2. Bahwa mungkin yang menjadi persoalan siapa yang
harus membayar biaya-biaya sebelum lelang
dilaksanakan sebagai panjar, maka hendaknya hal
tersebut Saudara bicarakan dengan Pemohon
Eksekusi.

Demikian penyampaian kami kepada Saudara untuk


seperlunya.

TUADA PERDATA,
Ttd.
DR. HARIFIN A.TUMPA. SH.MH.

Tembusan : Kepada Yth.


1. Ketua Mahkamah Agung - RI
2. Wakil Ketua MA-RI bidang Yudisial
(sebagai laporan).
3. Ketua Pengadilan Tinggi Bandung.
4. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

234
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 26 Juni 2007

Kepada Yth,
Nomor 17/Tuada Pdt/VI/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran di
Perihal Pelaksanaan Lelang Jakarta Pusat
Eksekusi

Sehubungan dengan surat Saudara No.


W7.Dc.HT.1921. 2007.01 tanggal 2 April 2007, bersama
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Permasalahan apakah harga limit harus diumumkan
bersama dengan pengumuman rencana lelang.
Masalah ini tidak diatur dalam peraturan
perundangan hukum acara yang berlaku bagi
pengadilan negeri. Oleh karena itu, tekhnis
pelaksanaannya adalah sesuai kebijaksanaan
Ketua Pengadilan Negeri.
Sejalan dengan hal tersebut diatas, didalam
Peraturan Menteri Keuangan No. 40/PMK.07/2006,
tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, ditentukan
dalam pasal 31 (1) bahwa “harga limit dapat
bersifat terbuka/tidak rahasia atau dapat bersifat
tertutup/rahasia sesuai keinginan penjual/pemilik
barang”. Artinya apakah harus terbuka atau tertutup
tergantung pada kebijaksanaan Ketua Pengadilan
Negeri.

235
2. Permasalahan apakah Ketua Pengadilan Negeri
dapat melakukan penjualan pelelangan tanpa
melibatkan kantor lelang.
Pasal 195 (1) HIR menentukan bahwa putusan
pengadilan dilaksanakan atas perintah dan dibawah
pimpinan Ketua Pengadilan menurut hukum acara.
Dalam pasal 36 (3) Undang-undang No 4 tahun
2004 ditentukan bahwa Pelaksanaan putusan
pengadilan perkara perdata dilakukan oleh Panitera
Pengadilan dipimpin oleh Ketua Pengadilan.
Menurut pasal 200 (1) HIR/215 (1) Rbg menentukan
bahwa penjualan barang-barang yang disita
dilakukan dengan perantaraan kantor lelang atau
dengan mengingat keadaan menurut pertimbangan
Ketua oleh orang yang melakukan penyitaan dan
atau oleh orang lain yang cakap dan terpercaya,
yang ditunjuk untuk itu oleh Ketua. Ketentuan
tersebut membawa arti bahwa Ketua Pengadilan
Negeri tidak selalu minta perantara Kantor Lelang,
melainkan dapat menunjuk orang lain yang
dipandang cakap dan dapat dipercaya.
Namun kelaziman selama ini, apabila ditempat
tersebut terdapat Kantor Lelang, maka penjualan
lelang dimintakan kepada kantor lelang. (Lihat
Sema 02 tahun 1973).

3. Wewenang yang diberikan oleh undang-undang


tersebut tidak dapat dikurangi dengan peraturan
perundangan dibawah undang-undang, apalagi
kewenangan Ketua Pengadilan Negeri tersebut
diperkuat oleh pasal 31 dari Peraturan Menteri
Keuangan No. 40/PMK.07/2006.

236
Demikian penyampaian kami kepada Saudara untuk
seperlunya.

TUADA PERDATA,
Ttd.
DR. HARIFtN A.TUMPA. SH.MH.

Tembusan : Kepada Yth.


1. Ketua Mahkamah Agung - RI
2. Wakil Ketua MA-RI bidang Yudisial
(sebagai laporan).
3. Ketua Pengadilan Negeri se DKI.

237
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 4 Juli 2007

Kepada Yth,
Nomor 21/Tuada Pdt/VII/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran di
Perihal Permohonan KUDUS
Perlindungan Hukum.

Sehubungan dengan surat dari Gubernur Bank


Indonesia No. 9/1/GBI/DHk/Rahasia, tanggal 20 Juni
2007 perihal tersebut diatas yang tembusannya juga
disampaikan kepada Saudara, maka bersama ini diminta
kepada Saudara untuk memberikan laporan tentang hal-
hal sebagai berikut:
1. Apakah benar Saudara akan melaksanakan
putusan Mahkamah Agung No. i/Banding/Wasit/
2003, khususnya diktum yang berbunyi
“Menghukum PT Pura Barutama untuk
memusnahkan kertas uang sesuai dengan
ketentuan yang berlaku atas biaya perusahaan
tersebut “.
2. Apabila benar maka, minta Saudara jelaskan :
a. Siapa yang memohon eksekusi dan
kepentingan apa yang bersangkutan mohon
eksekusi.
b. Apakah objek yang akan dieksekusi tersebut
ada ditangan Tergugat.

238
Selanjutnya diminta perhatian Saudara sebagai berikut:
1. Suatu diktum putusan yang berisi “Penghukuman”
tidak selalu harus diartikan eksekusinya melalui
Pengadilan Negeri, karena kemungkinan diktum
tersebut harus dilaksanakan sendiri oleh yang
dihukum. Dalam kasus aquo hendaknya Saudara
membaca dengan cermat diktum yang
bersangkutan.
2. Jurusita Pengadilan Negeri bukanlah aparat yang
sama dengan polisi yang dapat melakukan
penyelidikan dan penyidikan untuk mencari objek
yang dijadikan perkara.
3. Menganalisa surat BI tersebut diatas, terutama
apakah objek eksekusi tersebut dikuasai oleh BI,
sehingga tunduk pada pasal 50 Undang-Undang
No. 1/2004.

Demikian untuk menjadi perhatian.

Tuada Perdata,

Ttd.

DR. HARIFIN A, TUMPA. SH.MH

Tem busan: Kepada Yth.


1. Ketua Mahkamah Agung-RI.
2. Wakil Ketua MA-RI bidang Yudisial.
3. Gubernur Bank Indonesia.
4. Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.

239
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 24 Juli 2007

Kepada Yth,
Nomor : 22/Tuada Pdt/VII/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran : - Cianjur
Perihal : Mohon Petunjuk Tentang di -
Pelakanaan Eksekusi Cianjur
Atas Putusan Mahkamah
Agung RI No. 706 K/Pdt/2004

Sehubungan dengan surat Saudara


No.W11.U11.HT.04. 10.289/2007 tanggal 24 Desember
2007 dan surat Ketua Pengadilan Tinggi Bandung No.
W11.U.HT.04.10-1053 tanggal 7 Mei 2007 perihal
tersebut surat di atas, bersama ini disampaikan :

1. Bahwa kewenangan eksekusi putusan ada ditangan


Ketua Pengadilan Negeri, sehingga apakah suatu
putusan dapat dilaksanakan adalah ditentukan oleh
Ketua Pengadilan Negeri.
2. Bahwa diktum putusan perkara perdata No.22/
Pdt.G/2002/ PN.Cj jo No.141/Pdt/2003/ PT.Bdg jo
No.706 K/Pdt/2004 yang telah Berkekuatan Hukum
Tetap (BHT) yang dipersoalkan adalah diktum
putusan Pengadilan Tinggi yang berbunyi:
“Menyatakan Para Tergugat serta Turut Tergugat II
sampai dengan XIII dan siapa saja yang mem­
peroleh hak dari padanya untuk mengosongkan dan

240
mengembalikan obyek perkara tersebut kepada
Penggugat-Penggugat dalam keadaan kosong
tanpa beban".
3. Bahwa hakim di dalam membaca suatu putusan
tidak boleh hanya terpaku pada satu kata akan
tetapi suatu putusan harus dibaca secara utuh,
dalam suatu hubungannya satu dengan yang lain.
4. Bahwa kata “menyatakan” di dalam diktum putusan
tersebut merujuk pada konotasi “deklarator”, akan
tetapi bila dibaca secara keseluruhan kalimat,
maka pengertian kalimat tersebut “mengandung
perintah”. Hal ini menimbulkan persangkaan bahwa
kata “menyatakan” merupakan kekeliruan
pengetikan.
Apabila dihubungkan dengan petitum gugatan
Penggugat butir 7 yang berbunyi “menghukum Para
Tergugat serta Turut Tergugat II sampai dengan XIII
mengosongkan dan mengembalikan obyek perkara
dari segala kepunyaannya atau kepunyaan orang
lain yang diberi hak olehnya kepada Penggugat-
Penggugat”, akan memperkuat diktum tersebut
adalah condemnatoir.
5. Bahwa namun demikian segala sesuatunya tetap
terpulang kepada penafsiran dan pemahaman
Ketua Pengadilan Negeri yang akan melaksanakan
putusan tersebut.

Demikan untuk menjadi maklum.

KETUA MUDA BIDANG PERDATA


MAHKAMAH AGUNG - RI

Ttd.

( DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH )

241
Tembusan Kepada Y th .:
1. Ketua Mahkamah Agung RI.
2. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial.
3. Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat.
4. A r s i p .

242
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 2 Juli 2007

Kepada Yth,
Nomor 19/Tuada Pdt/VII/2007. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
Lampiran di -
Perihal Mohon Petunjuk KUDUS

Sehubungan dengan surat Saudara No.PU.11.Kds/


475/H.PDT/IV/07, tanggal 26 April 2007, perihal tersebut
pokok surat diatas, bersama ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Bahwa dalam putusan No. 596 PK/Pdt/2002 tanggal
3 Mei 2004, dinyatakan pada pokoknya :
- Menetapkan bahwa barang sengketa Bab A
sebidang tanah pekarangan terletak di desa
Mlatilor luas ± 720 M2, yang diatas tanah
tersebut berdiri sebuah rumah bangun Paris
dengan ukuran ± 14 x 9 M adalah berasal dari
pemberian almarhum Pak Haji Sawi dengan
almarhumah ibu Soekarsi kepada almarhum
ayahnya bernama Soekadar Trisno;
- Menetapkan kedua belah pihak adalah ahli
waris dari almarhum suami istri Pak Haji Sawi
dengan almarhumah ibu Soekarsi, sehingga
dengan demikian barang sengketa Bab A
kedua belah pihak yang berhak memilikinya;
- Menghukum Para Tergugat serta siapa saja
dan apapun yang ada dan yang mendapat hak

243
dari padanya supaya mengosongkan dan
dalam keadaan kosong menyerahkan kepada
para Penggugat tanah sengketa Bab A untuk
selanjutnya dipecah/dibagi waris diantara ahli
awaris almarhum Pak Haji Sawi dengan ibu
Soekarsi menurut hak masing-masing menurut
putusan Pengadilan.
2. Dari perkara tersebut dapat disimpulkan :
a. Tanah sengketa Bab A adalah harta
peninggalan Haji Sawi dan Soekarsi.
b. Penggugat dan Tergugat adalah ahli waris dari
Haji Sawi dan Soekarsi.
c. Tanah sengketa Sub A berhak dimiliki oleh
Penggugat dan Tergugat.
3. Walaupun dalam putusan tersebut ada perintah
kepada Tergugat untuk mengosongkan dan
menyerahkan tanah sengketa kepada Penggugat,
dan selanjutnya untuk dipecah/ dibagi waris
menurut putusan Pengadilan, namun diktum
demikian belum dapat dilaksanakan karena :
a. Putusan Pengadilan yang menentukan bagian
masing-masing belum ada.
b. Yang merupakan bagian Penggugat dari harta
warisan tersebut belum jelas.

Sehubungan dengan apa yang diuraikan diatas,


maka sebaiknya Penggugat mengajukan gugatan baru
untuk meminta kepada Pengadilan menentukan bagian
masing-masing dari ahli waris dan menentukan bagian
mana dari harta warisan tersebut yang merupakan bagian
dari masing-masing ahli waris.

Demikian untuk menjadi maklum.

Tuada Perdata,
Ttd.
DR. HAR1FIN A. TUMPA. SH.MH.
Tem busan: Kepada Yth.
1. Ketua Mahkamah Agung - RI.
2. Wakil Ketua MA-RI bidang Yudisial.
3. Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.
TO PIK DISKUSI DALAM RAKERNAS 2007
BIDANG HUKUM PERDATA

I. Hukum Eksekusi
1.Perlawanan Eksekusi Oleh Pihak III.
Permasalahan :
Pasal 195 (6) HIR/206 (6) RBg menentukan bahwa perlawanan
terhadap pelaksanaan putusan, juga dari pihak III berdasarkan
dalil tentang adanya hak miliknya atas benda yang disita
tersebut.
Apakah hal tersebut berarti bahwa perlawanan pihak III, hanya
dapat dilakukan atas alas hukum adanya hak milik.
Bagaimana dengan adanya hak-hak yang lain, misalnya hak
pakai, hak tanggungan, hak sewa dan lain-lain.
2. Parate Eksekusi.
Pihak kreditor berdasarkan wewenang yang diberikan Undang-
undang dapat melaksanakan sendiri penjualan barang jaminan
yang didasarkan pada hak tanggungan.
Permasalahan :
Apakah barang yang telah dibeli pembeli lelang dapat
menggunakan pasal 200 (11) HIR/218 (2) RBg untuk
mengosongkan barang yang telah dibeli lelang yang dilakukan
dengan parate eksekusi.

II. Sita
1. Sita Persamaan.
a. Sita persamaan tidak diatur di dalam HIR maupun RBg,
tetapi diatur di dalam pasal 463 Rv.
Di dalam pasal tersebut yang dapat diletakkan sita
persamaan hanyalah terhadap barang-barang bergerak.
Permasalahan :
Aperkah dalam praktek sita persamaan tersebut dapat juga
diterapkan terhadap barang tetap.
b. Apabila suatu Sita Jaminan (CB) dimintakan kepada
pengadilan negeri lain (delegasi) ternyata pengadilan
negeri penerima delegasi tersebut telah melakukan Sita
Jaminan (CB) sendiri karena ada perkara di pengadilan

246
negeri tersebut. Apakah pengadilan negeri penerima
delegasi dapat langsung meletakkan sita persamaan
ataukah terlebih dahulu melaporkannya ke pengadilan yang
memberi delegasi.
c. Apabila suatu obyek perkara yang diletakkan Sita Jaminan
(CB) dan Sita Persamaan. Di dalam perkara yang telah
Berkekuatan Hukum Tetap (BHT), barang yang disita
tersebut telah di eksekusi Ril dan telah diserahkan kepada
Penggugat.
Permasalahan adalah bagaimana nasib dari Sita
Persamaan tersebut. Apakah dengan adanya eksekusi Ril
tersebut, Sita Persamaan kehilangan kekuatannya demi
hukum ataukah masih diperlukan Penetapan dari Ketua
Pengadilan Negeri yang menyatakan bahwa Sita
Persamaan dicabut.

III. Konsinyasi
1. Konsinyasi diatur di dalam pasal 1404 s/d 1412 KUHPerdata.
Permaslahan :
a. Apakah penawaran dan penetapan harus disahkan dengan
putusan Hakim ataukah dengan penetapan Hakim.
Bagaimana prosesnya.
b. Apakah ada upaya hukum dari putusan/penetapan Hakim
tersebut.
2. Apakah konsinyasi dapat dilakukan tanpa didasarkan pada
perjanjian, misalnya ganti rugi tanah oleh Pemerintah.

IV. Penetapan
Penetapan voluntair hanya dapat dilakukan apabila :
a. Mempunyai dasar hukum.
b. Tidak bersangkut yang dapat mengganggu kepentingan orang
lain.
Apabila ada penetapan hakim yang menyimpang dari ketentuan
tersebut, maka upaya hukum apa yang dapat dilakukan.
Praktek selama ini menunjukkan ada tiga upaya :
1. Pihak yang dirugikan mengadu ke Mahkamah Agung dan
berdasarkan kewenangan pengawasannya Mahkamah Agung

247
dapat menyatakan Penetapan tersebut tidak berkekuatan
hukum.
2. Pihak yang dirugikan menggugat dengan kemungkinan
banding dan kasasi.
3. Pihak yang dirugikan mengajukan kasasi atas Penetapan
tersebut.

248
PAPARAN
TUADA PERDATA NIAGA

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
Masalah sita jaminan dan/atau sita eksekusi atas suatu
putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum
tetap, yang kemudian obyek sita tersebut dengan suatu
putusan Pengadilan Niaga pemiliknya dinyatakan Pailit.

Permasalahan tersebut harus mengacu kepada Pasal 29 dan


Pasal 31 Undang-Undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
PKPU.
- Pasal 29 Undang-Undang No.37 tahun 2004 berbunyi:
Suatu tuntutan hukum di Pengadilan yang diajukan terhadap
Debitur Pailit sejauh bertujuan untuk memperoleh pemenuhan
kewajiban dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan,
auaur demi hukum dengan diucapkannya putusan
pernyataan pailit terhadap Debitur.

- Pasal 31 ayat (1) berbunyi:


Putusan pernyataan pailit berakibat bahwa segala penetapan
pelaksanaan Pengadilan terhadap setiap bagian dari kekayaan
Debitur yang telah dimulai sebelum kepailitan, harus
dihentikan seketika dan seiak itu tidak suatu putusan yang
dapat dilaksanakan termasuk atau juga dengan menyandera
Debitur.

- Pasal 31 ayat (2) berbunyi:


Semua penyitaan yang telah dilakukan meniadi hapus dan
jika diperlukan Hakim Pengawas harus memerintahkan
pencoretannya.

Implementasi ketentuan Pasal 31 tersebut di atas di


Pengadilan masih tidak jelas dan mengundang permasalahan
dan Pengaduan ke Mahkamah Agung. Walaupun Pasal 31 (1)
secara tegas menyatakan bahwa atas sita harta pailit yang
dijatuhkan sebelum Debitur pailit harus dihentikan seketika.
Bagaimana proses dan bentuk penghentian sita/pengangkatan
sita belum ada kejelasan, sehingga hal ini membuat proses
pemberesan/verifikasi menjadi berlarut-larut.

249
Kiranya untuk mengatasi masalah ini dan
demikepastian hukum, maka setelah putusan pernyataan pailit
dijatuhkan dan sebelumnya telah ditetapkan sita atas budel
pailit dalam perkara perdata, maka Ketua Pengadilan dengan
suatu Penetapan harus segera mengangkat sita tersebut.
Kalimat “Jika diperlukan Hakim Pengawas harus
memerintahkan pencoretannya” dalam Pasal 31 ayat (2) harus
dihubungkan dengan kata “harus dihentikan seketika” dalam
ayat (1) harus diartikan bahwa Ketua Pengadilan Negeri secara
aktif dengan suatu Penetapan menghentikan seketika dalam
arti mengangkat sita tersebut seketika itu juga sehingga
berakibat tidak ada suatu putusan yang dapat dilaksanakan
sehubungan dengan penyitaan yang telah dilakukan sebelum
putusan pernyataan pailit.
Sedangkan menyangkut implementasi dari Pasal 29, jika
perkara gugatan yang menyangkut pemenuhan kewajiban dari
harta pailit, yang perkaranya sedang diperiksa oleh majelis
Hakim pada Pengadilan Negeri yang bersangkutan, maka
dengan adanya putusan pailit, majelis Hakim yang memeriksa
segera menghentikan pemeriksaan perkara tersebut dengan
suatu Penetapan menyatakan perkara tersebut gugur demi
hukum.
Jika perkara Perdata yang sedang berjalan ada dalam
tahap upaya hukum banding atau kasasi, setelah adanya
putusan pailit, Ketua Pengadilan tingkat pertama pengaju
harus memberitahukan secara tertulis keadaan pailit tersebut
ke Pengadilan Tingkat Banding atau Mahkamah Agung.
Selanjutnya berdasarkan pemberitahuan tersebut Majelis
Hakim Pengadilan Tinggi dan/atau majelis Hakim Mahkamah
Agung dengan suatu Penetapan menyatakan bahwa perkara
tersebut gugur demi hukum.

Dari uraian singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa :


1. Dalam hal suatu perkara masih sedang berjalan, dengan
diucapkannya putusan pernyataan pailit terhadap Debitor
maka demi hukum putusan tersebut gugur, namun demi
kepastian hukum Ketua Pengadilan Negeri dengan suatu

250
Penetapan menyatakan perkara tersebut gugur demi
hukum. Apabila perkara tersebut masih ditingkat banding
atau kasasi maka Ketua Pengadilan Negeri
memberitahukan secara tertulis kepada Ketua Pengadilan
Tinggi dan/atau Mahkamah Agung tentang adanya putusan
pernyataan pailit dimaksud dan atas dasar tersebut Ketua
Pengadilan Tinggi dan/atau Mahkamah Agung dengan
suatu Penetapan menyatakan perkara tersebut gugur demi
hukum.
2. Dalam hal menyangkut Penetapan pelaksanaan
Pengadilan atas bagian dari kekayaan Debitor yang telah
dimulai sebelum kepailitan, maka Ketua Pengadilan Negeri
dengan suatu Penetapan segera mengangkat sita tersebut.
Apabila perkaranya sudah ada ditingkat banding dan/atau
kasasi, maka Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan
memberitahukan pengangkatan sita tersebut kepada
Pengadilan Tinggi dan/atau Mahkamah Agung.
3. Penetapan tentang pernyataan gugur demi hukum dan
Penetapan pengangkatan sita tersebut dilakukan oleh
Ketua Pengadilan Negeri atau Ketua Pengadilan Tinggi
atau Ketua Mahkamah Agung jika perkara dimaksud belum
dibagikan kepada Majelis Hakim yang bersangkutan, tetapi
apabila sudah ditentukan/dibagikan kepada Majelis Hakim,
maka pernyataan gugur demi hukum ataupun
pengangkatan sita dimaksud dilakukan oleh Majelis Hakim
yang bersangkutan.

Ketua Muda Perdata Khusus

Ttd.

H.A. Kadir Mappong, SH.

251
PAPARAN
TUADA PIDANA KHUSUS

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S D 6 SEPTEMBER 2007
INVENTARISASI MASALAH TINDAK PIDANA KHUSUS

I. TINDAK PIDANA KORUPSI

A. PENERAPAN PASAL 2 DAN PASAL 3 UU No.31 TAHUN


1999
Secara umum dakwaan Pasal 2 dapat berlaku terhadap
setiap orang sebagaimana tercantum dalam pasal tersebut
akan tetapi dalam penerapannya ternyata sering dikenakan
Pasal 3 nya, ada beberapa alasan akan hal tersebut:
1. Perbuatan yang dilakukan oleh pegawai negeri atau
pejabat Negara adalah menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena
jabatan atau kedudukan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan.
2. Ancaman pidana dalam Pasal 3 lebih rendah dari Pasal
2, Pasal 2 berlaku pidana paling singkat 4 tahun dan
denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00, sedangkan
dalam Pasal 3 paling singkat 1 tahun dan atau denda
Rp. 50.000.000,00.
3. Pasal 2 berlaku ancaman kumulatif, yaitu pidana penjara
dan denda, sedangkan dalam Pasal 3 berlaku alternatif,
yaitu pidana penjara dan atau denda.
4. Pasal 2 dan Pasal 3 tidak menentukan berapa nilai
kerugian Negara yang diderita sehingga seseorang
dapat dikenakan Pasal 2 dan Pasal 3.

Berdasarkan alasan tersebut perlu dipertimbangkan :


1. Apakah Pasal 2 hanya berlaku terhadap Terdakwa yang
berstatus swasta dan Pasal 3 berlaku terhadap Pegawai
Negeri atau pejabat.
2. Apa yang menjadi dasar alasan Terdakwa pejabat
Negara yang melakukan tindak pidana dengan kerugian
Negara yang besar, dakwaannya dialihkan menjadi
Pasal 3?

253
3. Apakah jika didakwakan hanya Pasal 2, dengan alasan
jabatan/ kewenangan Terdakwa, terhadap Terdakwa
tersebut dapat dikenakan Pasal 3 dengan alasan
pidananya bisa lebih rendah dan tanpa dikenakan uang
pengganti?

B. PEMBAYARAN UANG PENGGANTI (Pasal 18 ayat (1) b,


(2) dan (3)).

I. Pidana penjara sebagai pengganti dari uang pengganti


dalam tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam
Pasal 18 ayat (3) UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20
Tahun 2001.

A. Permasalahan
Banyak Narapidana kasus Tindak Pidana Korupsi
yang tidak sanggup membayar uang pengganti
sebagaimana tercantum dalam amar putusan
pengadilan yang dinyatakan dalam surat
pernyataan yang dibuat oleh Narapidana yang
diketahui dan ditandatangani oleh Jaksa Penuntut
Umum, sehingga Terpidana harus menjalani pidana
penjara yang ditentukan dalam putusan pengadilan
karena tidak membayar uang pengganti. Apakah
pidana penjara tersebut dapat dijadikan satu
dengan pidana pokoknya?

B. Dasar Hukum
1. Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP),
Hukuman-hukuman terdiri dari hukuman pokok
antara lain hukuman mati, hukuman penjara,
hukuman kurungan dan hukuman denda,
sedangkan hukuman tambahan antara lain
pencabutan beberapa hak tertentu,
perampasan barang yang tertentu dan
pengumuman keputusan hakim.

254
Dalam penjelasan Pasal 10 KUHP disebutkan :
Hukuman tambahan gunanya untuk menam­
bah hukuman pokok, jadi tidak mungkin
dijatuhkan sendirian.
2. Pasal 15 ayat (1) KUHP,
Orang yang dihukum penjara boleh dilepaskan
dengan perjanjian, bila telah lalu dua pertiga
bagian dari hukumannya yang sebenarnya dan
juga paling sedikit sembilan bulan dari pada itu.
Kalau siterhukum itu harus menjalani beberapa
hukuman penjara berturut-turut, maka dalam
hal ini sekalian hukuman itu dianggap sebagai
satu hukuman.
3. Pasal 30 ayat (2) KUHP jo Pasal 41 ayat (1)
KUHP,
Jika dijatuhkan hukuman denda, dan denda
tidak dibayar, maka diganti dengan hukuman
kurungan.

4. Pasal 32 ayat (2) KUHP.


Jika dengan keputusan hakim bersama-sama
dijatuhkan hukuman penjara dan hukuman
kurungan sedang siterhukum sudah dalam
tahanan sementara karena semua perbuatan
itu, dan keputusan buat segala hukuman
mendapat ketetapan bersama-sama waktunya,
maka hukuman penjara mulai dijalankan pada
waktu itu juga dan hukuman kurungan segera
mulai dijalankan pada waktu habis hukuman
penjara.

Dari pasal-pasal yang diatur dalam KUHP, dapat


disimpulkan bahwa hukuman pokok yang dijatuhkan
bersama-sama dengan hukuman tambahan,
dianggap sebagai satu hukuman dan tidak mungkin
dilaksanakan secara sendiri-sendiri.

255
Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20
Tahun 2001 mengatur tentang pidana tambahan
selain yang dimaksud dalam Pasal 10 KUHP yang
merupakan lex spesialis yang berlaku dalam Tindak
Pidana Korupsi, antara lain perampasan barang
bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud
atau barang tidak bergerak yang digunakan atau
yang diperoleh dari tindak pidana korupsi,
pembayaran uang pengganti yang jumlahnya
sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda
yang diperoleh dari tindak pidana korupsi,
penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk
waktu paling lama 1 (satu) tahun, pencabutan
seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau
penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan
tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh
Pemerintah kepada terpidana.

Pasal 18 ayat (2) UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No.


20 Tahun 2001, ditegaskan bahwa : Jika tidak
membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud
ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu)
bulan sesudah putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta
bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang
untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Pasal 18 ayat (3) UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No.


20 Tahun 2001, juga diatur dalam hal Terpidana
tidak mempunyai harta benda yang mencukupi
untuk membayar uang pengganti, maka dipidana
dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi
ancaman maksimum dari pidana pokoknya.

C. Kesimpulan
Dengan mengacu kepada pasal 15 ayat (1) KUHP
dan Pasal 32 ayat (2) KUHP, maka jika tenggang
waktu sebagaimana dalam Pasal 18 ayat (2) UU
No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001
terlewati, maka subsidaritas dari ayat (2) yang
diatur dalam ayat (3) mulai berlaku, yang
pelaksanaannya disatukan antara pidana pokok dan
pidana tambahan dengan menjumlahkan lamanya
pidana pokok dan subsidaritas dari pidana
tambahan.

II. Terhadap Pidana korupsi selain dikenakan pidana


penjara dan denda, juga dapat dikenakan pidana
tambahan berupa pembayaran uang pengganti yang
antara lain sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (1)
huruf b UU No. 31 Tahun 1999 : Pembayaran uang
pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama
dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana
korupsi.
Pasal 18 Ayat (2) dan (3)nya mencantumkan secara
lengkap uang pengganti tidak dibayar dalam waktu 1
(satu) bulan sesudah putusan berkekuatan hukum tetap,
maka harta bendanya disita dan dilelang dan jika tidak
mempunyai harta benda yang cukup untuk membayar
uang pengganti, maka dipidana dengan pidana penjara
yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dan
pidana pokok.
Terhadap pidana tambahan pembayaran uang
pengganti tersebut, ada 2 pendapat, yaitu :
1. Pembayaran uang pengganti disubsidairkan dengan
pidana penjara dengan rumusan sebagaimana
dalam ayat (2) dan (3).
2. Pembayaran uang pengganti tidak disubsidairkan
dengan pidana penjara.

Terhadap 2 pendapat tersebut ada beberapa alasan :


1. Pencantuman subsidair penjara dimaksudkan agar
apabila uang pengganti tidak dibayar maka diganti

257
dengan pidana penjara, sehingga penjatuhan uang
pengganti tidak sia-sia.
2. Pencantuman subsidair penjara, dimaksudkan
menjadi daya paksa bagi Terdakwa yang tidak
berkenan membayar uang pengganti kepada
Negara, padahal Terdakwa mempunyai uang untuk
mengembalikan uang pengganti, sehingga
diharapkan Terdakwa membayar uang pengganti
tersebut daripada menjalani penjara dan kerugian
negara yang dikorupsi Terdakwa dapat kembali.
3. Jika pembayaran uang pengganti tidak
disubsidairkan dengan pidana penjara,
permasalahannya adalah jika ternyata Terdakwa
sudah tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk
membayar uang pengganti tersebut dan biasanya
Penyidik/Penuntut tidak mendahulukan menyita
barang-barang Terdakwa sebagai upaya agar
Terdakwa tidak mengalihkan harta kekayaannya,
maka putusan tentang uang pengganti berapapun
besarnya menjadi sia-sia. Jika Terdakwa masih
memiliki asset yang cukup untuk membayarnya
tetapi tidak berkenan membayar, perlu upaya lain
yang harus ditempuh agar Terdakwa mau
membayar.

Berdasarkan alasan tersebut perlu dipertimbangkan :

1. Penjatuhan uang pengganti tetap disubsidairkan


dengan penjara dengan rumusan sebagaimana
diamanatkan Pasal 18 ayat (2) dan (3) dengan
subsidair penjara yang tinggi akan tetapi tidak
melebihi pidana pokoknya.
2. Penjatuhan uang pengganti tidak disubsidairkan
dengan penjara, akan tetapi dengan pidana pokok
penjara lebih tinggi apabila sudah ada harta yang
disita sebelumnya yang nilainya sepadan dengan
kerugian Negara akibat korupsi yang dilakukan oleh
Terdakwa.
III. Terhadap ketentuan pembayaran uang pengganti yang
bila tidak dibayar, dipidana dengan pidana penjara
sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) dan ayat
(3) UU Nomor 31 Tahun 1999.
Permasalahan yang timbul adalah dalam hal Terdakwa
telah memenuhi pembayaran uang pengganti
sebagiannya namun tidak mampu membayar kewajiban
selebihnya, lalu bagaimana perhitungan penerapan
pidana penjaranya?
Permasalahan ini dapat dicari rujukan solusinya dengan
memper- hatikan ketentuan Pasal 31 ayat (3) KUHP.
Pasal 31 ayat (3) KUHP menegaskan :
“Dengan membayar sebagian dari denda, baik
sebelum maupun sesudah mulai dijalani hukuman
kurungan, dapatlah dibebaskan sebagian dari
hukuman pengganti itu, sepadan dengan bagian
denda yang dibayar”

Pemahaman terhadap ketentuan ini dihubungkan


dengan ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan ayat (3) UU
Nomor 31 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1. Hukuman tambahan berupa pembayaran uang
pengganti bersifat pilihan, yakni dapat memilih
untuk membayar atau tidak membayar tetapi
menjalani pidana penjara;
2. Hukuman pembayaran uang pengganti dapat
dibayar sebagian;
3. Dalam hal Terpidana tidak mampu memenuhi
kewajiban pembayaran sisa/kekurangan uang
pengganti yang telah sebagiannya dibayar,
pengenaan pidana penjara untuk melanjutkan lama
waktu pidana penjara yang harus dijalani Terpidana
harus sepadan dengan jumlah uang pengganti yang
telah dibayar;
(Perhatikan penjelasan R. Soesilo dalam bukunya
KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap

259
Pasal Demi Pasal, terbitan Politeia Bogor, Tahun
1983, halaman 53).

C. APAKAH BOLEH DIJATUHKAN PIDANA PERCOBAAN


DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI?

Pasal 2 sampai dengan Pasal 12 Undang-Undang No. 31


Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001
mencantumkan pidana penjara paling singkat, apakah
dengan adanya batas minimal pidana dimungkinkan untuk
menjatuhkan pidana percobaan?.
Beberapa alasan yang jadi pertimbangan :
1. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999jo. Undang-Undang
No. 20 Tahun 2001 tidak mengatur tentang pidana
percobaan.
2. Pasal 12 A Undang-Undang No. 20 Tahun 2001,
terhadap tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari
Rp. 5.000.000,00 hanya dicantumkan maksimal pidana
3 (tiga) tahun, tidak menyebutkan batas minimal. Dalam
penjelasan, ketentuan pasal tersebut dimaksudkan
untuk menghilangkan rasa kekurangadilan bagi pelaku
tindak pidana korupsi, dalam hal nilai yang dikorup relatif
kecil.
3. Dengan tidak diaturnya pidana percobaan memung­
kinkan berkembang 2 pendapat, yaitu :
a. Tidak dimungkinkan pidana percobaan dengan
alasan :
- Tindak pidana korupsi digolongkan sebagai
kejahatan yang pemberantasannya harus
dilakukan secara luar biasa.
- Tindak pidana korupsi dilakukan secara
sistematik dan meluas sehingga tidak hanya
merugikan keuangan Negara, tetapi juga telah
melanggar hak-hak sosial dan ekonomi
masyarakat secara luas.

260
- Sudah diaturnya pidana minimal untuk Tindak
Pidana Korupsi.
b. Dimungkinkan pidana percobaan, dengan alasan :
- Dalam Undang-undang tindak pidana korupsi
tidak mengatur secara khusus mengenai
pidana percobaan, sehingga dimungkinkan
berlaku pidana secara umum sebagaimana
diatur dalam Pasal 14a KUHP.
- Ketentuan batas pidana paling singkat 1 tahun,
hanya dicantumkan dalam Pasal 3, 5 dan 11.
- Dengan berdasarkan atasan keadilan/social
justice, pidana percobaan dimungkinkan untuk
berlaku jika yang terbukti adalah melanggar
Pasal 3, 5 dan 11 Undang-undang korupsi
dengan nilai yang dikorupsi sedemikian kecil.

D. PEMBERLAKUAN BATAS MINIMAL DAN MAKSIMAL


PEMIDANAAN

Dalam Tindak Pidana Korupsi diatur tentang batas minimal


dan maksimal pemidanaan, sebagaimana diatur dalam Pasal
2 sampai dengan Pasal 12 Undang-Undang No. 31 Tahun
1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. Selain itu ada
beberapa Undang-undang lain yang juga mengatur tentang
batas minimal dan maksimal pemidanaan, antara lain :
1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika.
2. Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
3. Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Pencucian
Uang.
4. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Ada 2 (dua) pendapat tentang pembatasan pemidanaan


tersebut, yaitu :
1. Yang membolehkan disimpangi batas minimal
pemidanaan, sehingga dijatuhkan dibawah batas
minimal dengan alasan social justice.

261
2. Pakem terhadap Undang-undang, yaitu dengan tetap
memberlakukan batas minimal dan maksimal.

Yang menjadi permasalahan :


1. Jika dibolehkan disimpangi penjatuhan dibawah minimal
pemidanaan, apakah boleh dijatuhkan diatas maksimal
pemidanaan.
2. Aturan batas minimal dan maksimal pemidanaan dalam
Undang-undang tersebut di atas menjadi tidak berarti.
3. Kewenangan menjatuhkan pidana di bawah minimal
yang ditentukan dengan alasan social justice membuka
peluang tidak ditegakkannya aturan yang ada.

E. APAKAH TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI DAPAT


DIKENAKAN HANYA PIDANA DENDA TANPA PIDANA
BADAN (PENJARA)?

Ada beberapa pasal dalam Undang-undang Tindak Pidana


Korupsi yang mencantumkan secara alternatif pidana, yaitu
pidana penjara dan atau denda antara lain Pasal 3, 5, 7 dan
11 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999.

Apakah terhadap pasal-pasal tersebut dapat dikenakan


hanya penjara tanpa denda atau hanya denda tanpa
penjara?

Pertimbangannya adalah :
1. Pidana penjara dan denda, keduanya merupakan jenis
hukuman pokok sebagaimana diatur dalam Pasal 10
KUHP.
2. Minimal hukuman denda yang dijatuhkan adalah
Rp.50.000.000,00, bagaimana jika nilai yang dikorupsi
jauh lebih kecil dari itu, apakah tetap dikenakan denda?
Sebagai catatan :
Jika denda tidak dibayar, maka diganti dengan
Kurungan pengganti denda atau kurungan subsidair
sekurang-kurangnya satu hari dan selama-lamanya

262
enam bulan dalam hal maksimum denda dapat
dikenakan delapan bulan. (Pasal 30 KUHP).

Kesimpulan :
Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana
Korupsi memperbolehkan penjatuhan jenis pemidanaan
secara alternatif, yakni boleh dengan penjatuhan pidana
penjara saja, atau pidana denda saja.

F. TENTANG BENTUK SURAT DAKWAAN DALAM TIPIKOR.

Dalam praktek persidangan sehari-hari adakalanya muncul


permasalahan berikut:
Jaksa/Penuntut Umum menyusun surat dakwaannya dengan
menempatkan pelanggaran ketentuan Pasal yang ancaman
pidananya lebih rendah pada bagian terdahulu dibandingkan
ketentuan Pasal yang ancaman pidananya lebih tinggi.
(Contoh : Pasal 3 mendahului Pasal 2 UU No.31 Tahun
1999).
Terhadap permasalahan ini, solusinya adalah dengan
mempedomani ketentuan Pasal 143 ayat (2) b dan ayat 3
KUHAP, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Dakwaan yang demikian harus dinyatakan batal demi
hukum, oleh karena disusun secara tidak cermat;
2. Konsekwensinya adalah : Jaksa/Penuntut Umum harus
memperbaiki bentuk surat dakwaannya;
3. Pengadilan dapat memeriksa perkara yang sama,
dengan ketentuan Jaksa/Penuntut Umum telah memper­
baiki bentuk surat dakwaannya;

G. TENTANG TITIK SINGGUNG ANTARA PERKARA TINDAK


PIDANA KORUPSI (TIPIKOR) DENGAN PERKARA-
PERKARA LAINNYA.
Seringkali dalam berbagai pertemuan yang membahas hal-
hal tekhnis yudisial, Mahkamah Agung diperhadapkan
dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

263
1. Apakah setiap pelanggaran ketentuan yang
mengakibatkan kerugian keuangan Negara selalu
diajukan sebagai perkara Tindak Pidana Korupsi
(Tipikor)?.
2. Dimana letak titik singgung suatu perkara itu dinyatakan
sebagai pelanggaran terhadap UU Tindak Pidana
Korupsi atau bukan?

Berdasar alasan di atas, Mahkamah Agung perlu


menegaskan bahwa permasalahan tersebut adalah
merupakan persoalan titik singgung yang dapat ditemukan
jawabannya dengan merujuk pada ketentuan Pasal 14
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999


menegaskan:
“Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-
undang yang secara tegas menyatakan bahwa
pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang
tersebut sebagai tindak pidana korupsi berlaku
ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini”.

Dengan demikian, dengan merujuk pada ketentuan Pasal 14


Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tersebut di atas, maka
titik singgung suatu tindak pidana itu merupakan tindak
pidana korupsi atau bukan, terletak pada :
1. Suatu tindak pidana itu diajukan sebagai suatu tindak
pidana korupsi sepanjang perbuatan pidana tersebut
merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Undang-
undang. Tindak Pidana Korupsi, yakni Undang-Undang
No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 Tahun
2001.
2. Suatu pelanggaran ketentuan Undang-undang di luar
Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, akan tetapi
Undang-undang tersebut menyatakan secara tegas
bahwa pelanggaran itu adalah tindak pidana korupsi,

264
maka dalam hal ini berlaku ketentuan Undang-undang
Tindak Pidana Korupsi.

II. TENTANG KEHUTANAN (UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN


1999).

A. BAB XIV tentang KETENTUAN PIDANA, Pasal 78 ayat 15,


sebagai berikut:
Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan
atau alat alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan
untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagai
dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara.

Masih ada perbedaan pendapat tentang perampasan alat


angkut yang digunakan dalam tindak pidana kehutanan.
1. Jika alat angkut berupa truk atau kapal yang seluruhnya
mengangkut kayu tanpa SKSHH, berarti truk atau kapal
tersebut adalah alat angkut yang digunakan untuk
melakukan kejahatan sebagaimana Pasal 78 ayat 15
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 jo Pasal 39 ayat (1)
huruf b KUHAP, terhadap alat tersebut dilakukan
penyitaan dan dirampas untuk Negara.
2. Jika alat angkut berupa kapal penumpang yang hanya
sebagian mengangkut kayu tanpa SKSHH, maka perlu
dipertimbangkan tingkat kesalahan pemilik/pengelola/
nakhoda kapal tersebut.
Perlu lebih disosialisasikan lagi tentang hal tersebut.

B. MENENTUKAN STATUS BARANG BUKTI

Ada kalanya terhadap barang bukti alat angkut kayu seperti


truk berasal dari sewa/pinjam, dan Pengadilan Negeri
memberi izin kepada pemilik truk untuk pinjam barang bukti
selama persidangan.
Terhadap peminjaman barang bukti tersebut perlu
diperhatikan sebagai berikut:

265
1. Pasal 78 ayat (15) terhadap alat angkut dirampas untuk
Negara.
2. Jika setelah putusan diucapkan dengan amar alat
angkut tetap dirampas untuk Negara sedangkan truk
tersebut hilang atau terkait dengan tindak pidana lain
dan Jaksa sebagai eksekutor meminta pertanggung­
jawaban Hakim yang memberikan izin pinjam pakai.

Berdasarkan hal tersebut perlu diperhatikan :


1. Untuk lebih hati-hati dalam memberikan izin pinjam
pakai barang bukti.
2. Alat angkut dalam Tindak pidana Kehutanan sebaiknya
tidak diberikan izin pinjam pakai selama persidangan
berlangsung.

III. TINDAK PIDANA PERIKANAN (UNDANG-UNDANG NO. 31


TAHUN 2004)

Barang Bukti dalam Tindak Pidana Perikanan.


Berdasarkan studi kasus Putusan Pengadilan Negeri Tual No.
60/Pid.B/ 2004/PN/TL tanggal 22 Mei 2004.

A. Permasalahan
Barang bukti berupa ikan dilelang dan uangnya dijadikan
bukti di pengadilan, dalam putusannya Pengadilan Negeri
Tual menyatakan uang lelang ikan tersebut dirampas untuk
Negara dengan cara membagi : 20 % untuk pemerintah
pusat dan 80 % untuk pemerintah daerah.
Pertimbangan pengadilan negeri:
1. Ikan ditangkap dari perairan di sekitar wilayah hukum
Tual.
2. Berdasarkan otonomi daerah, maka kekayaan yang
berada di wilayah hukum Tual adalah milik Pemerintah
Daerah Tual.

266
3. Berdasarkan Perimbangan keuangan Negara dan
keuangan daerah, hasil bumi dan hasil perikanan dari
daerah dibagi menjadi 20 % untuk pusat dan 80 % untuk
daerah.

Terhadap hal tersebut perlu dipertegas :


1. Pengertian barang bukti dirampas untuk Negara.
2. Mekanisme penyerahan barang bukti dengan amar
dirampas untuk Negara.

B. Dasar Hukum

1. Pasal 39 ayat (1) KUHAP, yang dapat dikenakan


penyitaan adalah :
a. Diperoleh dari Tindak Pidana.
b. Digunakan secara langsung untuk melakukan
Tindak Pidana.
c. Digunakan untuk menghalangi Penyidikan.
d. Khusus dibuat untuk melakukan Tindak Pidana.
e. Mempunyai hubungan langsung dengan Tindak
Pidana yang dilakukan.

2. Pasal 45 ayat (1) KUHAP :


“Benda sitaan yang dapat lekas rusak atau yang
membahayakan, atau biaya penyimpanan terlalu
tinggi, dapat dijual lelang”.
Ayat (2) : Hasil lelang berupa uang dipakai sebagai
barang bukti.

3. Pasal 46 ayat (2) KUHAP :


“Apabila perkara sudah diputus, maka benda yang
dikenakan penyitaan dikembalikan kepada Orang
atau kepada mereka yang disebut dalam putusan
tersebut, kecuali jika menurut putusan hakim benda
itu dirampas untuk Negara, untuk dimusnahkan
atau untuk dirusakkan sampai tidak dapat

267
digunakan lagi atau jika benda tersebut masih
diperlukan sebagai barang bukti dalam perkara
lain”.

4. Pasal 194 ayat (1) KUHAP :


“Dalam hal putusan pemidanaan atau bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum, pengadilan
menetapkan supaya barang bukti yang disita
diserahkan kepada pihak yang paling berhak
menerima kembali yang namanya tercantum dalam
putusan tersebut, kecuali jika menurut ketentuan
Undang-undang barang bukti itu harus dirampas
untuk kepentingan Negara atau dimusnahkan atau
dirusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi”.
Pasal 194 ayat (3) KUHAP :
“Perintah penyerahan barang bukti dilakukan tanpa
disertai sesuatu syarat apapun kecuali dalam hal
putusan pengadilan belum mempunyai kekuatan
hukum tetap”.

Dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang


Perikanan juga diatur tentang barang bukti, antara lain :
1. Pasal 104 ayat (2),
Benda dan atau alat yang digunakan dalam
dan/atau yang dihasilkan dari tindak pidana
Perikanan dapat dirampas untuk Negara.

2. Pasal 105 ayat (1),


Benda dan atau alat yang dirampas dari hasil tindak
pidana perikanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 104 dilelang untuk Negara.

3. Pasal105 ayat (2),


Kepada aparat penegak hukum yang berhasil
menjalankan tugasnya dengan baik dan pihak yang
berjasa dalam upaya penyelamatan kekayaan
Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan insentif yang disisihkan dari hasil lelang.

4. Pasal 105 ayat (3),


Ketentuan, lebih lanjut mengenai pemberian insentif
diatur dalam Peraturan Menteri.

Dari ketentuan-ketentuan yang diatur dalam KUHAP maupun


Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,
mengenai barang bukti dapat ditentukan :
1. Dikembalikan kepada yang berhak.
2. Dirampas untuk Negara.
3. Dirampas untuk dimusnahkan.

Sebagai bahan pertimbangan :

Pasal 273 ayat (3) KUHAP :


Jika putusan pengadilan menetapkan bahwa barang
bukti dirampas untuk Negara, selain pengecualian
sebagaimana tersebut pada Pasal 46, Jaksa
menguasakan benda tersebut kepada Kantor Lelang
Negara dan dalam waktu 3 (tiga) bulan untuk dijual
lelang, yang hasilnya dimasukkan ke Kas Negara untuk
dan atas nama Jaksa.

Berdasarkan hal tersebut:


1. Perlu dibuat kesepahaman boleh tidaknya pengadilan
(Hakim Pidana) mencantumkan amar dirampas untuk
Negara kemudian dibagi sebagian untuk pemerintah
pusat dan sebagian untuk pemerintah daerah.
2. Perlu dibuat penjelasan tentang pengertian “dapat”
sebagaimana tercantum dalam Pasal 104 ayat (2), untuk
menghindari dimudahkannya barang bukti sebagaimana
diatur dalam Pasal 39 KUHAP dilepaskan begitu saja.

Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tidak mengatur secara


rinci tentang pelaksanaan putusan yang barang buktinya

269
dirampas untuk Negara, oleh karena itu maka berlaku
ketentuan hukum acara yang bersifat umum yaitu KUHAP
Pasal 273 ayat (3).
Apakah Hakim dapat melakukan pembagian barang bukti
yang dirampas untuk Negara dengan mengacu kepada
Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang dalam
Pasal 6 ayat (5) :
“Penerimaan Negara dari sumber daya alam sektor
kehutanan, sektor pertambangan umum, dan sektor
perikanan dibagi dengan imbangan 20 % (dua puluh
persen) untuk Pemerintah Pusat dan 80 % (delapan
puluh persen) untuk daerah”.

Ketentuan Pasal 6 ayat (5) di atas haruslah dibaca dengan


tetap mengkaitkan dengan pasal-pasal lainnya, antara lain :

1. Pasal 1 butir 1, yaitu :


Perimbangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam
kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian
keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta
pemerataan antar Daerah secara proporsional,
demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan
potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, sejalan dengan
kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara
penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk
pengelolaan dan pengawasan keuangannya.

2. Pasal 1 butir 14, yaitu :


Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dan
penerimaan APBD, adalah suatu rancangan keuangan
tahunan Daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan
Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah.

3. Pasal 4 tentang Sumber Pendapatan Asli Daerah, terdiri


d a ri:
a. Hasil pajak daerah;
b. Hasil retribusi daerah;
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil
pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang
dipisahkan;
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.

Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang


Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah tersebut tidak mengatur bahwa penerimaan daerah
juga termasuk dari barang bukti yang terkait dengan tindak
pidana yang diperoleh dari hasil tindak pidana yang
dilakukan di daerah tersebut.

C. Kesimpulan

1. Barang bukti dalam tindak pidana yang amarnya


dinyatakan dirampas untuk Negara, maka dalam
pelaksanaan putusannya tetap berpedoman pada Pasal
273 ayat (3) KUHAP, yaitu dimasukan ke kas Negara
untuk dan atas nama Jaksa.
2. Hakim pidana tidak boleh masuk dalam wilayah perdata
dengan melakukan pembagian atas barang bukti.
3. Tentang pembagian insentif atas jasa dalam upaya
penyelamatan kekayaan Negara dalam tindak pidana
perikanan telah diatur dalam Pasal 105, yang sampai
saat ini Peraturan Menteri dimaksud belum ada.
4. Perlu diinformasikan kepada hakim di daerah tentang
pelaksanaan putusan sebagaimana dimaksud Pasal 273
ayat (3) KUHAP, untuk menghindari kesan putusan
Hakim dijadikan sebagai alat untuk kekuasaan eksekutif.

IV. BATASAN USIA ANAK

Pengertian anak berdasarkan usia mempunyai batasan yang


berbeda-beda dalam Undang-undang, antara lain ;

271
1. Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak,
Pasal 1 butir 1 dan Pasal 4 ayat (1), batas umur anak yang
dapat diajukan ke sidang anak adalah sekurang-kurangnya 8
(delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan
belas) tahun dan belum pernah kawin.
2. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, Pasal 1 butir 1, Anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan.
3. Pasal 171 a KUHAP,
Yang boleh diperiksa untuk memberi keterangan tanpa
disumpah ialah anak yang umurnya belum cukup 15 (lima
belas tahun) dan belum pernah kawin.

Dari beberapa Undang-undang yang mengatur usia anak


khususnya Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 menimbulkan
perbedaan pendapat khususnya tentang perlindungan anak
dalam hal anak melakukan tindak pidana, karena dalam Undang-
undang tersebut tidak menyebutkan belum pernah kawin,
sehingga terhadap anak yang melakukan tindak pidana di bawah
usia 18 tahun dan sudah kawin tetap memerlukan perlindungan
dan karenanya masuk dalam lingkup peradilan anak.

Terhadap pendapat tersebut perlu pemahaman yang sama,


tentang :
1. Pengertian anak yang melakukan tindak pidana adalah
pengertian anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
No. 3 Tahun 1997.
2. Pembatasan usia anak dalam Undang-undang yang lain
adalah berlaku dalam konteks dan pengertian sebagaimana
Undang-undang tersebut.
3. Pengertian anak dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002
tidak menghapuskan aturan tentang pengertian anak dalam
Undang-undang yang lain.

272
V. ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DI LUAR KUHP

Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak


menempatkan anak yang melakukan tindak pidana secara
khusus, kekhususan tersebut diatur dalam Undang-undang agar
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial anak
tetap menjadi prioritas sebagai upaya perlindungan dan
pembinaan di masa depan.
Kekhususan tersebut antara lain :
1. Pasal 8, Pemeriksaan sidang anak dilakukan secara tertutup.
2. Pasal 9, Hakim yang memeriksa ditetapkan berdasarkan
Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI.
3. Pasal 41 ayat (1) dan Pasal 53 ayat (1), Penyidikan dan
Penuntutan dilakukan oleh petugas khusus.
4. Bab IV Pasal 33 s.d Pasal 39 dan Pasal 55, Adanya
laporan hasil penelitian kemasyarakatan dari Petugas
Kemasyarakatan.

Bagaimana dengan anak yang melakukan tindak pidana di luar


KUHP, contoh HAM, Korupsi, Perselisihan Hubungan Industrial
dan Perikanan? Hal ini terkait dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1),
yaitu Anak yang melakukan tindak pidana bersama-sama dengan
orang dewasa diajukan ke sidang anak, sedangkan orang dewasa
diajukan ke sidang orang dewasa.

Dalam Undang-undang di luar KUHP tersebut mengharuskan


pemeriksaan dipersidangan dilakukan oleh majelis hakim yang
terdiri dari Hakim dari Pengadilan Negeri dan Hakim Ad-Hoc.,
sebagaimana diatur d alam :
1. Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 26 Tahun 2000
tentang HAM.
2. Pasal 58 ayat (2) Undang-Undang No. 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
3. Pasal 60 Undang-Undang No. 2 Tahun 2004 tentang
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
4. Pasal 78 ayat (1), (2), (3) dan (4) Undang-Undang No. 31
Tahun 2004 tentang Perikanan.
273
Dari ke 4 perundangan tersebut, hanya tentang HAM yang
mengatur secara tegas jika Terdakwanya anak-anak, yaitu diatur
dalam Pasal 6, sebagai berikut:
“Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus
perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang
dilakukan oleh seseorang yang berumur di bawah 18
(delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan”.

Sehingga terhadap anak yang terkait tindak pidana HAM, maka


yang berwenang memeriksanya adalah peradilan umum dan
berlaku Undang-Undang No. 3 Tahun 1997.

VI. TENGGANG WAKTU PENYERAHAN BERKAS PERKARA


PIDANA KASASI

Sering ditemukan perkara kasasi pidana yang ketika sampai di


Tim :
1. Masa tahanan hampir habis,
2. Masa tahanan pas habis pada saat perkara diterima di Tim,
3. Masa tahanan sudah habis dan tidak dapat diperpanjang
lagi,
4. Perkara diterima di Tim pada saat masa tahanan putusan
Pengadilan Tinggi hampir habis,
5. Perkara diterima Tim dengan tenggang waktu mengajukan
kasasi (akta) lebih dari satu tahun.

Hal ini berkenaan dengan tenggang waktu dari mulai pengajuan


kasasi sampai perkara kasasi dikirim ke Mahkamah Agung.
Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 (KUHAP) diatur
sebagai berikut:
1. Pasal 245 ayat (1), Permohonan kasasi disampaikan oleh
Pemohon dalam waktu 14 hari sesudah putusan pengadilan
yang dimintakan kasasi diberitahukan kepada Terdakwa.
2. Pasal 248 ayat (1), Pemohon kasasi wajib menyampaikan
memori kasasi dalam waktu 14 hari setelah mengajukan
permohonan tersebut.

274
3. Pasal 248 ayat (6), Tembusan memori kasasi oleh Panitera
disampaikan kepada pihak lainnya (tanpa keterangan untuk
tenggang berapa lama Panitera harus menyerahkan memori
kasasi kepada pihak lainnya setelah diterimanya memori
kasasi.
4. Pasal 248 ayat (6), Pihak lain berhak mengajukan kontra
memori kasasi. (Tanpa keterangan berapa lama dari
diterimanya memori kasasi, pihak lain tersebut dapat
menyerahkan kontra memori kasasi).
5. Pasal 248 ayat (7), Dalam tenggang waktu 14 (empat belas)
hari, Panitera menyampaikan tembusan kontra memori
kasasi kepada pihak yang semula mengajukan memori
kasasi.
6. Pasal 249 ayat (1), Dalam hal salah satu pihak berpendapat
masih ada sesuatu yang perlu ditambahkan dalam memori
kasasi atau kontra memori kasasi, kepadanya diberikan
kesempatan untuk mengajukan tambahan dalam tenggang
waktu 14 (empat belas) hari.
7. Pasal 249 ayat (3), Selambat-lambatnya 14 hari setelah
diberikan kesempatan menyerahkan tambahan memori atau
kontra memori, permohonan kasasi selengkapnya diserah­
kan ke Mahkamah Agung.
8. Pasal 250 ayat (1), Setelah panitera pengadilan negeri
menerima memori dan atau kontra memori, ia wajib segera
mengirim berkas perkara kepada Mahkamah Agung.

Dari ketentuan pasal-pasal tersebut, tidak jelas berapa hari


penyerahan berkas kasasi dari Pengadilan Negeri sampai di
Mahkamah Agung, oleh karena itu untuk menghindari
keterlambatan penyerahan berkas kasasi ke Mahkamah Agung,
ada baiknya ditentukan tenggang waktu maksimal tentang :
1. Penyerahan tembusan memori kasasi kepada pihak lain,
(untuk melengkapi Pasal 248 ayat (6)).
2. Penyerahan Kontra memori kasasi dari pihak lain (untuk
melengkapi Pasal 248 ayat (6)).

275
VII. TENTANG PENINJAUAN KEMBALI PUTUSAN PENGADILAN
YANG TELAH MEMPEROLEH KEKUATAN HUKUM TETAP
DALAM PERKARA PIDANA

A. Dasar Hukum
I. Tentang Pihak yang Berhak Mengajukan PK.
Pasal 263 ayat (1) KUHAP menegaskan bahwa hanya
Terpidana atau ahli warisnya yang dapat mengajukan
permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah
Agung.

II. Tentang Tenggang Waktu.


Berdasar ketentuan Pasal 264 ayat (3) KUHAP :
Permintaan peninjauan kembali tidak dibatasi dengan
suatu jangka waktu.
Sedangkan berdasar ketentuan Pasal 268 ayat (3)
KUHAP:
Permintaan peninjauan kembali atau suatu putusan
hanya dapat dilakukan satu kali saja.

III. Tentang Putusan.


1. Berdasar ketentuan Pasal 266 ayat (1) KUHAP :
Mahkamah Agung menyatakan permintaan
peninjauan kembali tidak dapat diterima apabila
permintaan peninjauan kembali tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana tersebut pada Pasal 263
ayat (2) KUHAP, yakni tidak memenuhi persyaratan
formal berupa persyaratan yang berkenaan dengan
alasan-alasan pengajuan peninjauan kembali.

2. Berdasar ketentuan Pasal 266 ayat (2) huruf a


KUHAP : Mahkamah Agung menolak permintaan
peninjauan kembali dengan menetapkan bahwa
putusan yang dimintakan peninjauan kembali itu
tetap berlaku, apabila Mahkamah Agung tidak
membenarkan alasan pemohon.

276
3. Berdasar ketentuan Pasal 266 ayat (2) huruf b
KUHAP Mahkamah Agung mengabulkan
permintaan peninjauan kembali, apabila Mahkamah
Agung membenarkan alasan pemohon, dengan
menjatuhkan putusan yang dapat berupa :
a. Putusan bebas;
b. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum;
c. Putusan tidak dapat menerima tuntutan
penuntut umum;
d. Putusan dengan menerapkan ketentuan pidana
yang lebih ringan.
4. Putusan pemidanaan pada peninjauan kembali
tidak boleh melebihi pidana yang telah dijatuhkan
dalam putusan semula.

B. Kesimpulan
Berdasar ketentuan di atas, disimpulkan bahwa pihak
yang berhak mengajukan permohonan peninjauan
kembali adalah Terpidana atau Ahli Warisnya,
sedangkan permintaan peninjauan kembali tersebut
tidak dibatasi dengan suatu jangka waktu, dan
permintaan tersebut hanya dapat dilakukan untuk satu
kali saja.

277
PAPARAN
TUADA ULDILAG

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
TOPIK DISKUSI PADA RAKERNAS MA-RI 2007
Tanggal 2 s.d. 6 September 2007 di Makassar
Bidang Hukum Perdata Agama

Beberapa Permasalahan Lama Untuk Mendapatkan Pemecahan


Secara Nasional

Pengantar.

Berbagai persoalan lama belum pernah dipecahkan secara


Nasional, karena selama ini banyak masalah yang lebih penting untuk
didahulukan pembahasannya pengawasan dan pembinaan.
Kini saatnya untuk menampilkan persoalan-persoalan tehnis
hukum untuk dicari solusinya, agar pelaksanaan tugas-tugas peradilan
semakin mantap dan pemecahan-pemecahan itu tidak berbeda di
seluruh tanah air.

Masalah-masalah itu antara lain :

1. EKSEKUSI ANAK

Permasalahan.
a. Selalu gagal, sebab petugas keamanan sendiri tidak mau
bertanggung jawab apabila si anak meronta-ronta tidak mau
dipindahkan pemeliharaanya ;
b. Kalau berkali-kali gagal, putusan menjadi tidak berwibawa.

2. AKTA CERAI.
Permasalahan :
a. Pengawas Mahkamah Agung menemukan Akta Cerai
bertumpuk di Pengadilan Agama, tidak disampaikan kepada
pencari keadilan;
b. Pencari keadilan salah persepsi, mereka menganggap bukti
cerai adalah putusan pengadilan;
c. Jika pengawas minta agar akta itu disampaikan kepada para
pencari keadilan, pejabat pengadilan merasa kesulitan sebab
tidak ada biaya penyampaian.

279
3. KUMULASI PERCERAIAN DAN HARTA BERSAMA.

Permasalahan :
a. Sering sekali para pihak sudah menerima perceraian, akan
tetapi putusan menjadi lama karena dikumulasi dengan harta
bersama, sehingga perceraian ikut dibanding dan dikasasi;
b. Kasus-kasus perceraian di Pengadilan Negeri lebih cepat
dibanding pada Peradilan Agama, sebab pada Pengadilan
Negeri perceraian tidak dikumulasi dengan harta bersama.
Kesan menjadi negatif, padahal pengadilan sudah menjadi
satu atap di bawah Mahkamah Agung;
c. Perceraian dapat didamaikan pada semua tingkat peradilan,
hal itu diatur oleh Undang-Undang, mengapa buru-buru
dibagi harta bersama.
d. Banyak yang beralasan jangan sampai dipindah tangankan
atau diboroskan oleh salah satu pihak, apakah tidak
sebaiknya diletakkan sita jaminan dahulu untuk
pengamanan.
e. Kasus perceraian berbeda acaranya dengan harta bersama,
perceraian dengan sidang tertutup, sedang sengketa harta
bersama dengan sidang terbuka untuk umum.

4. PANGGILAN GHAIB.
Permasalahan :
a. Panggilan gaib berdasarkan Pasal 27 PP No. 9 Tahun 1975,
berbeda pelaksanaannya di Pengadilan Negeri dan
Pengadilan Agama.
Pada Pengadilan Negeri 2 x panggilan dengan jarak
satu bulan dan tiga bulan, dan pada setiap panggilan
dilakukakan sidang, dengan demikian 2 x panggilan untuk 2 x
sidang.
Sedangkan pada Pengadilan Agama 2 x panggilan
untuk 1 x sidang yakni pada panggilan terakhir yang berjarak
3 bulan.
b. Kesan di kalangan Advokat, dan pencari keadilan menjadi
negatif, mengapa penerapannya berbeda padahal hukum
acaranya sama.

280
5. HADHANAH.
Permasalahan :
a. Perkara Hadhanah yang sudah berkekuatan hukum tetap,
lalu diajukan kembali oleh salah satu pihak karena ada
alasan baru, disikapi berbeda oleh Pengadilan Agama.
Ada yang mau mengadili kembali perkara itu dan ada
yang tidak menerima (NO) dengan alasan nebis in idem.
b. Ada penelitian dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan
Anak, bahwa di Jakarta ada 1200 kasus hadhanah /
pemeliharaan anak di Pengadilan Negeri dan Pengadilan
Agama (Jakarta Post, Bulan Pebruari 2007).
Pada umumnya anak usia 12 tahun ke bawah
diserahkan kepada Ibu pemeliharaanya tanpa menanyakan
kepada anak yang bersangkutan, mau ikut Ibu atau Bapak ?
Sebaiknya ditanya terlebih dahulu (usul dari Ketua
Komnas Perlindungan Anak).

6. WAKAF
Permasalahan :
a. Wakaf jaman Belanda, tidak diikuti dengan Akta Ikrar Wakaf,
akhirnya ada cukup dengan menggunakan bukti tertulis yang
autentik menggugat wakaf itu sebagai harta warisan.
b. Dapatkah bukti lawan dengan saksi-saksi yang tidak
mengalami sendiri mengalahkan bukti surat autentik ?

7. M UTAH
Permasalahan :
a. Penentuan Mut’ah sangat variatif, ada yang hanya Rp.
250.000,- dan ada yang sampai satu milyar.
Apakah tidak perlu ada satndar atau pola penentuan
angka dan jenis mut’ah?
b. Di Mesir, orang asing yang mau kawin dengan putri Mesir harus
menyetor uang jaminan pada Bank Nasser sekian ribu pound
yang dicairkan oleh Pengadilan saat ia meninggalkan istri dan
anak-anaknya.
Di Indonesia hal itu tidak ada, apakah orang asing yang
menceraikan istrinya yang dikawini secara Islam dikom­
pensasi dengan mut’ah yang besar.

281
c. Standar 1/3 gaji untuk bekas istri (PP 10/83) tidak dilaksana­
kan oleh Pengadilan Agama karena menurut hukum Islam
istri yang diceraikan hanya diberi nafkah iddah 3 x suci (3
bulan).
Apakah tidak perlu nafkah seumur hidup itu
dikompensasi ke mut’ah ?

8. HARTA BERSAMA

Permasalahan :
a. Harta istri pertama sering ditarik menjadi harta bersama
untuk istri-istri yang ada, apakah ini adil ?
b. Hasil dari harta bawaan apakah menjadi harta bersama atau
tetap menjadi harta bawaan / harta asal.
Kalau di California, hasil dari harta bawaan tetap harta
bawaan / harta asal.
c. Royalti dari suatu hak cipta, apakah menjadi harta bawaan
atau harta bersama ?

Penutup.
Tentu saja beratus-ratus kasus yang kita jumpai dan memerlukan
pemecahan, akan tetapi kasus-kasus yang sifatnya insidentil dan tidak
umum, sudah dijawab melalui pertanyaan-pertanyaan / permasalahan-
permasalahan yang diajukan untuk dijawab dalam rangka Rakernas
Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2007.
Berharap bahwa permasalahan-permasalahan lama ini dapat
dipecahkan secara bersama-sama sehingga dapat ditangani tidak
berbeda-beda.
Kelak nantinya adalah kepercayaan yang semakin besar dari para
pencari keadilan dan mempercepat terwujudnya harapan pengadilan
yang semakin bermartabat dan dihormati orang.
Kepada Allah jua kita bermohon taufiq dan hidayahNya. Amin,

Jakarta, 9 Agustus 2007

Tuada Uldilag.

282
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN SENGKETA
KEPEMILIKAN DAN KEPERDATAAN LAIN
MENYANGKUT KEWENANGAN PERADILAN AGAMA
DI BIDANG PERTANAHAN

Oleh:
Prof. Dr. H. MUCHSIN, S.H.*>

Abstrak

Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 yang


merubah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989
Tentang Peradilan Agama telah memberikan
perluasan wewenang dibidang ekonomi syari’ah
serta beberapa perubahan yang memerlukan
perhatian lebih lanjut.
Menurut pengalaman perubahan/perluasan
wewenang dalam perjalanan/dilapangan sering
terjadi titik temu/titik taut/titik singgung dengan
badan/lembaga-lembaga lain, terhadap keadaan
seperti dimaksud perlu diantisipasi melalui kajian-
kajian dan pengaturan-pengaturan/regulasi-regulasi
oleh Mahkamah Agung.
Keuntungan yang diperoleh dalam masalah
tersebut dapat diatasi oleh Mahkamah Agung,
karena Mahkamah Agung merupakan puncak
segala penyelesaian kewenangan.
Masalah yang tak kalah menarik adanya
sengketa-sengketa tanah wakaf baik karena
banyaknya tanah wakaf yang belum bersertifikat
juga karena sebab-sebab lain, antara lain perkem­
bangan pembangunan dan aturan-aturan baru di
bidang perwakafan.
Makalah ini memang tidak lengkap/sempuma,
namun diharapkan dapat dijadikan masukan atau
awal dari pemikiran untuk dikembangkan.

■>HAKIM AGUNG

283
A. Pendahuluan
Undang-undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia
adalah negara hukum; salah satu pilar sebagai negara hukum adalah
adanya Kekuasaan Kehakiman yang merdeka.
Bahwa Peradilan Agama menurut Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman sebagai Undang-undang
organik atas Pasal 24 UUD 1945 pasca perubahan dengan sistem
satu atap (one roof system) adalah merupakan lingkungan Peradilan
di bawah Mahkamah Agung sebagai Pelaku Kekuasaan Kehakiman
yang merdeka untuk menyelenggarakan Peradilan Agama mene­
gakkan hukum dan keadilan.
Sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum
masyarakat, khususnya masyarakat muslim telah dikeluarkan Undang-
Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Dengan Undang-undang tersebut telah diberikan perluasan
wewenang dari Pengadilan Agama antara lain wewenang mengadili di
bidang ekonomi syari’ah disamping wewenang dan tugas-tugas lain.
Perubahan dan perluasan Peradilan Agama memiliki imple­
mentasi yang luas antara lain: “Penyiapan sumber daya manusia di
lingkungan Peradilan Agama, perangkat hukumnya khususnya hukum
materiil, dan tidak ketinggalan tentunya bidang sarana dan prasarana."
Dalam kaitannya dengan perubahan undang-undang tersebut
dalam penjelasan umum yang menyatakan;
“Para pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk
memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan
“Dinyatakan dihapus”.
Dalam makalah ini disamping masalah yurisdiksi Peradilan
Agama juga akan dikemukakan sengketa pertanahan yang terkait
dengan wewenang Peradilan Agama, terkait dengan bidang
pertanahan, yang berhubungan dengan masalah pertanahan/sengketa
tanah wakaf.
Hal yang perlu dicatat disini adalah adanya prinsip dalam
Undang-undang Kekuasaan Kehakiman pada pasal 4 ayat (2): “bahwa
Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan. ”
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi harapan para
pencari keadilan, sederhana dimaksudkan agar pemeriksaan dan
penyelesaian perkara dilakukan dengan cara effisien dan effektif,

284
biaya ringan dimaksudkan agar biaya perkara dapat terpikul oleh
rakyat.
Sengketa tanah wakaf sering terjadi apalagi tanah-tanah
sekarang ini nilai ekonomisnya cukup tinggi di kota-kota. Dan ternyata
tanah-tanah yang oleh masyarakat sebagai tanah wakaf banyak yang
belum atau tidak bersertifikat walaupun pemerintah telah berupaya
menghimpun dan mensertifikatkan tanah-tanah tersebut.
Masalah pembuktian sesuai dengan hukum acara yang berlaku,
masih memerlukan aktualisasi dan pengertian serta makna yang
mendukung penyelamatan tanah-tanah wakaf.

B. Kewenangan Peradilan Agama Pasca Perubahan Undang-


Undang Nomor 7 Tahun 1989
Yurisdiksi/wewenang Pengadilan agama sebagai salah satu
peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama
mengalami perubahan yang strategis dan disesuaikan dengan
perkembangan situasi dan kondisi di masyarakat terutama adanya
pengaturan mengenai kegiatan ekonomi yang didasarkan pada
syari’ah. K ew en angan Peradilan A g am a dinyatakan dalam p a s a l
4 9 s a m p a i dengan p a s a l 52 A. Sebagai berikut:

Pasal 49
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memu­
tuskan dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara
orang-orang yang beragama Islam di bidang :
a. Perkawinan
b. Waris
c. Wasiat
d. Hibah
e. Wakaf
f. Zakat
g. Infaq
h. Shadaqah, dan
i. Ekonomi Syari’ah

285
Penjelasan Pasal 4 9 :
Penyelesaian sengketa tidak dibatasi di bidang perbankan
syari’ah, melainkan juga di bidang ekonomi syari’ah lainnya. Yang
dimaksud dengan “antara orang-orang yang beragama Islam’’
adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan
seandainya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum
Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Pengadilan
Agama sesuai dengan ketentuan Pasal ini.
Huruf a :
Yang dimaksudkan dengan “Perkawinan” adalah hal-hal yang
diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai
perkawinan yang berlaku atau dilakukan menurut syari’ah antara
lain:
1. Izin beristri lebih dari seorang.
2. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum
berusia 21 (dua puluh satu) tahun, dalam hal orang tua atau
wali atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan
pendapat.
3. dispensasi kawin.
4. pencegahan perkawinan.
5. penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah.
6. pembatalan perkawinan
7. gugatan kelalaian atas kewajiban suami atau istri.
8. perceraian karena talak.
9. gugatan perceraian
10. penyelesaian harta bersama
11. mengenai penguasaan anak-anak
12. ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak
bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak
memenuhinya.
13. penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh
suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban
bagi bekas istri.
14. putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak.
15. putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua.
16. pencabutan kekuasaan wali.
17. penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadila dalam hal
kekuasaan seorang wali dicabut.

286
18. menunjuk seoarang wali dalam hal seorang anak yang belum
cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua
orang tuanya padahal tidak ada penunjukkan wali oleh orang
tuanya.
19. pembebasan kewajiban ganti kerugian terhadap wali yang
telah menyebabkan kerugian atas harta benda anak yang
ada di bawah kekuasaannya.
20. penetapan asal-usul seorang anak.
21. putusan tentang hal, penolakan pemberian keterangan untuk
melakukan perkawinan campuran.
22. pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum
Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
dan dijalankan menurut peraturan yang lain.

Huruf B
Yang dimaksud dengan “Waris” adalah penentuan siapa yang
menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan,
penentuan pembagian masing-masing ahli waris dan
melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta
penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang
siapa yang menjadi ahli waris, penentuan pembagian masing-
masing ahli waris.

Huruf C
Yang dimaksud dengan “Wasiat” adalah perbuatan seseoarang
memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau
lembaga/badan hukum, yang berlaku setelah orang yang
memberi tersebut meninggal dunia.

Huruf D
Yang dimaksud dengan “Hibah” adalah pemberian suatu benda
secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang atau badan
hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk memiliki.

Huruf E
Yang dimaksud dengan “W akaf adalah perbuatan seseorang
atau sekelompok orang (wakil) untuk memisahkan dan/atau
menyerahkan sebagian harga benda miliknya untuk dimanfaatkan
selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan

287
kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan
umum menurut syari’ah.
Huruf F
Yang dimaksud dengan “Zakat” adalah harta yang wajib
disisihkan oleh seoarang muslim atau badan hukum yang dimiliki
oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan syari’ah untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya.
Huruf G
Yang dimaksud dengan “Infaq” adalah perbuatan seorang
memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi
kebutuhan, baik berupa makanan, minuman, mendermakan,
memberikan sebagian rezeki (karunia) yang dimiliki atau
menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas,
dan karena Allah Subhanahu Wata’ala.
Huruf H
Yang dimaksud dengan “Shadaqah" adalah perbuatan seseorang
memberikan sesuatu kepada orang lain atau lembaga/badan
hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu
dan jumlah tertentu dengan mengharap ridha Allah Subhanahu
Wata’ala dan pahala semata.
Huruf I
Yang dimaksud dengan “Ekonomi Syari’ah” adalah perbuatan atau
kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara
lain m eliputi:
a. Bank syari’ah
b. Lembaga keuangan mikro syari’ah
c. Asuransi syari’ah
d. Reasuransi syari'ah
e. Reksa syari’ah
f. Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah
syari’ah
g. Sekuritas syari'ah
h. Pembiayaan syari'ah
/. Pegadaian syari’ah
j. Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah, dan
k. Bisnis syari’ah.

288
Pasal 50
1. Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam
perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49, khusus
mengenai objek sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu
oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.
2. Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 yang subjek hukumnya antara orang-orang yang beragama
Islam, objek sengketa tersebut diputuskan oleh Pengadilan
Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam
pasal 49.

Penjelasan Pasal 50
Ayat 1
Cukup jelas

Ayat 2
Ketentuan ini memberi wewenang kepada Pengadilan Agama
untuk sekaligus memutuskan sengketa milik atau keperdataan
lain yang terkait dengan objek sengketa yang diatur dalam pasal
49 apabila subjek sengketa antar orang-orang yang beragama
Islam.
Hal ini menghindari upaya memperlambat atau mengulur waktu
penyelesaian sengketa karena alasan adanya sengketa milik atau
keperdataan lainnya tersebut sering dibuat oleh pihak yang
merasa dirugikan.
Sebaliknya apabila subjek yang mengajukan sengketa hak milik
atau keperdataan lain tersebut bukan yang menjadi subjek yang
bersengketa di Pengadilan Agama, sengketa di pengadilan
agama ditunda untuk menunggu putusan gugatan yang diajukan
ke pengadilan di lingkungan umum.
Penangguhan dimaksud hanya dilakukan jika pihak yang
berkeberatan telah mengajukan bukti ke Pengadilan Agama
bahwa telah didaftarkan gugatan di Pengadilan Negeri terhadap
objek sengketa di Pengadilan Agama.
Dalam hal objek sengketa lebih dari satu objek dan yang tidak
terkait dengan objek sengketa yang diajukan keberatannya,
Pengadilan agama tidak perlu menangguhkan putusannya
terhadap objek sengketa yang tidak terkait dimaksud.

289
Pasal 52
1. Pengadilan dapat memberikan keterangan, pertimbangan, dan
nasihat tentang hukum Islam kepada Instansi Pemerintah di
daerah hukumnya, apabila diminta.
2. Selain tugas dan kewenangan sebagaimana yang dimaksud
dalam Pasal 49 dan Pasal 51, Pengadilan dapat diserahi tugas
dan kewenangan lain oleh atau berdasarkan Undang-undang.

Penjelasan Pasal 52:


Ayat 1
Pemberian keterangan, pertimbangan, dan nasihat tentang
hukum Islam dikecualikan dalam hal-hal yang berhubungan
dengan perkara yang sedang atau akan diperiksa di Pengadilan.
Ayat 2
Yang dimaksud “oleh undang-undang” adalah ditetapkan atau
diatur dalam undang-undang tersendiri, sedangkan yang
dimaksud “berdasarkan Undang-undang” adalah ditetapkan atau
diatur dalam Peraturan Pemerintah berdasarkan Undang-undang
ini.

Pasal 52 A
Pengadilan Agama memberikan istbat kesaksian rukyat hilal
dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriyah.

Penjelasan pasal 52 A :
Selama ini Pengadilan Agama diminta oleh Menteri Agama untuk
memberikan penetapan (istbat) terhadap kesaksian orang yang
telah melihat atau menyaksikan hilal pada bulan pada setiap
memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal tahun
Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan
secara nasional untuk penetapan 1 (satu) Syawal.
Pengadilan Agama dapat memberikan keterangan atau nasihat
mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu
shalat.

Dari uraian tersebut di atas dapat dilihat bahwa ada 3 (tiga) tugas/
wewenang Pengadilan A gam a:

290
1. Di bidang yudisial (memutus perkara) atau ada 9
(sembilan) butir pokok.
2. Di bidang fatwa /pendapat hukum.
3. Di bidang istbat rukyat hilal (memutuskan tanggal 1
Ramadhan dan 1 Syawal).

C. Masalah Sengketa Tanah Wakaf


Pada dasarnya tanah yang telah diikrarkan untuk diwakafkan
adalah pengalihan kekuasaan dan penggunaan yang hasilnya untuk
kepentingan umum, sedangkan statusnya adalah menjadi milik Allah
SWT dan bukan menjadi milik penerima wakaf, namun wakif (orang
yang mewakafkan) tetap boleh mengambil manfaatnya.1
Realita kehidupan, masih banyak kasus sengketa tanah wakaf
muncul ke permukaan, hal ini membuktikan bahwa pada masa lalu
orang mewakafkan tanahnya untuk kegiatan keagamaan hanya
didasari rasa ikhlas berjuang membesarkan agama Islam tanpa
memerlukan adanya bukti tertulis, ini juga disebabkan karena
perwakafan dalam literatur fikih tidak harus tertulis.
Menurut Imam Syafi’i, wakaf adalah suatu ibadah yang
disyari’atkan, wakaf telah berlaku sah bilamana wakif telah
menyatakan dengan perkataan waqaftu (telah saya wakafkan),
sekalipun tanpa diputuskan hakim.1
2
Tanah wakaf di tanah air kita terbentang luas. Terbukti
berdasarkan data Departemen Agama (Depag) hingga September
2002 memperlihatkan tanah wakaf di Indonesia tersebar di 362.471
lokasi, seluas 1.538.198.586 meter persegi.3 Sayangnya, masih
banyak pula tanah wakaf yang belum memiliki sertifikat yang
menjelaskan posisinya sebagai tanah wakaf. Tanah wakaf yang belum
bersertifikat ini menjadi salah satu kendala pendayagunaan tanah
wakaf dan berpotensi menimbulkan sengketa di kemudian hari.
Dengan tidak adanya bukti tertulis tersebut dikemudian hari
menyebabkan timbul berbagai permasalahan menyangkut harta wakaf
khususnya tanah yang telah diwakafkan, sebagai contoh hilangnya

1 Abdul Ghofur Anshori, H u k u m d a n p ra k tik P e rw a k a fa n d i In d o n e s ia , Pilar


Media, Yogyakarta, 2006, hal. 33
2 Ib id
3 www.Republika.co.id. 5 September 2006

291
tanah wakaf Masjid Besar Semarang sejak tahun 1980, begitu pula
tanah wakaf + 994 m2 di Ringin Anom Malang, maupun tanah wakaf
yang menjadi sengketa di desa Sumberpucung (Putusan MARI No.
259/K/AG/1994-PTA Surabaya No. 88/Pdt.G/1993/PTA Sby), menun­
jukkan bahwa bukti tertulis menjadi persoalan di kemudian hari.4
Untuk lebih memperjelas kewenangan Peradilan Agama, selain
kasus tidak adanya bukti tertulis terhadap tanah wakaf, dalam
menyelesaikan sengketa tanah dapat dilihat dari yurisprudensi di
bawah in i:
a. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor
57.K/AG/1999 tanggal 27-4-20005 :

Kasus posisi:
Seorang anak angkat telah menerima hibah wasiat dari bapak
angkat semasa hidupnya (Tahun 1964) berupa sebidang tanah
dan rumah, yang merupakan harta bersama dari suami istri yang
semasa hidupnya tidak mempunyai anak kandung, namun
sebelum menikah dengan suami yang baru ini, istrinya telah
mempunyai anak dari pernikahannya yang dahulu.
Suami meninggal lebih dahulu, kemudian tanah tersebut
diwakafkan oleh istri atau jandanya kepada Yayasan Keta’miran
Masjid yang dituangkan dalam surat/akta wakaf tanggal 5
Nopember 1991 dan dibuat oleh pejabat KUA.
Pada tahun 1993 istri atau janda yang mewakafkan tanah dan
Ta’mir Masjid tersebut meninggal dunia, kemudian anak angkat
yang merasa telah menerima hibah wasiat atas sebidang tanah
dan rumah tersebut mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama
dengan didasari oleh dalil gugatan yang pada pokoknya:
Penggugat adalah anak angkat dari Mardjoeki Toyib, semasa
hidupnya 1964, telah memberikan tanah sengketa Jl.
Peneleh XI/ No. 12 Surabaya kepada Penggugat melalui
“hibah wasiat”.

4 Saifudin Noorhadi, Wakaf Dalam Perspektif Hukum Agraria Nasional,


Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang, 2005, hal.
R in g k a s a n D ise rta si,
40
5 Varia Peradilan, M a ja la h H u k u m IK A H I, Tahun XIX Nomor 225 Juni 2004, hal.
90-96

292
Moedjenah, istri/janda Mardjoeki Toyib pada tahun 1991
telah mewakafkan tanah haknya Penggugat tersebut kepada
Yayasan Ta’mir Masjid Peneleh tanpa seizin yang berhak
(Penggugat)
Perbuatan hukum “W akaf tanah sengketa oleh Moedjenah
semasa hidupnya tersebut adalah tidak sah dan batal demi
hukum.

Dengan dalil yang pokoknya disebutkan diatas Penggugat


mengajukan tuntutan ke Pengadilan Agama :
1. Mengabulkan gugatan seluruhnya
2. Menyatakan batal demi hukum wakaf tanggal 5 Nopember
1991 atas tanah sengketa kepada Yayasan Ketakmiran
Masjid Peneleh Surabaya
3. Memerintahkan kepada Tergugat I dan II untuk tunduk dan
patuh atas isi putusan ini.
4. Memerintahkan kepada Tergugat II untuk menyerahkan
obyek tanah sengketa wakaf kepada Penggugat.
5. Menyatakan Putusan ini dapat dijalankan lebih dulu meski
ada verzet, banding dan kasasi.
6. Menghukum Tergugat membayar ongkos perkara
Atau Mohon putusan lain yang seadil-adilnya.

Dalam Gugatan Rekonpensi diajukan tuntutan sebagai berikut:


1. Mengabulkan gugatan rekonpensi.
2. Menyatakan hukum, bahwa rumah dengan tanahnya Jl.
Peneleh gang XI/ No. 12 Surabaya yang telah “diwakafkan”
oleh pemiliknya Ny. Moedjenah pada 5 Nopember 1991
kepada Ketakmiran Masjid Peneleh, Bp. K.H. A. Wahab
Turcham dalam “Surat Pernyataan W a k a f adalah sah
menurut hukum.

Am ar Putusan Pengadilan Agama :


Mengadili:

Dalam Konpensi:
Menyatakan tidak menerima gugatan konpensi

293
Dalam Rekonpensi:
Menyatakan tidak menerima gugatan Rekonpensi
Menghukum Penggugat Konpensi/Tergugat Rekonpensi
membayar beaya perkara
Atas Putusan Tersebut Tergugat mengajukan banding ke
Pengadilan Tinggi Agama

Amar Putusan Pengadilan Tinggi Agama :


Mengadili:
Menyatakan permohonan banding, dapat diterima.
Membatalkan putusan Pengadilan Agama Surabaya No.
996/Pdt.G/1996/PA.Sby.

Mengadili Sendiri:
Dalam Konpensi
Menolak gugatan Penggugat Konpensi/Terbanding
Dalam Rekonpensi
Menyatakan gugatan Rekonpensi, tidak dapat diterima.
Membebankan beaya perkara kepada Penggugat/
Terbanding

Amar Putusan Majelis Mahkamah A gung:


Dasar pertimbangan Hukum dari Majelis Mahkamah Agung
adalah:
Bahwa Surat bukti (T.l) berupa “Surat Pernyataan Wakaf’ telah
memenuhi syarat formil dan materiil pembuktian, sehingga
tuntutan gugatan rekonpensi tentang pengesahan wakaf atas
tanah dan rumah objek sengketa dalam gugat rekonpensi
tersebut, secara hukum dapat dikabulkan.

Mengadili :
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya
No. 04/Pdt.G/1998/PTA.Sby dan putusan Pengadilan Agama
Surabaya No. 996/Pdt.G/1996/PA.Sby.

Mengadili Sendiri :
Dalam Konpensi:
Menolak gugatan Penggugat

294
Dalam Rekonpensi:
Mengabulkan gugatan Penggugat Rekonpensi
Menyatakan bahwa WAQAF atas rumah/tanah Jl. Peneleh
Gang XI/12 Surabaya dengan batas-batasnya yang ada, luas
60 M2 oleh Ny. Moedjenah kepada Pengurus Ta’mir Masjid
Peneleh, KHA. Wahab Turcham yang tertuang dalam “Surat
Pernyataan W aqaf, tertanggal 5 Nopember 1991 adalah sah
menurut hukum.
Menghukum Termohon kasasi membayar beaya perkara.

Kasus-kasus tersebut memberikan gambaran terhadap watak dan


corak sengketa pertanahan di Indonesia masa kini, dimana bukti
tertulis dijadikan sebagai dasar kepemilikan, selain itu juga adanya
desakan kebutuhan ekonomi, dimana pada masa sekarang terutama
di kota-kota besar tanah merupakan komoditi investasi karena
harganya yang semakin hari tidak semakin turun.

D. Penutup

Kesimpulan
I. Bahwa Pengadilan Agama diberi tugas dan wewenang
memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan antara orang-
orang yang beragama Islam dalam 9 (sembilan) bidang :
1. Perkawinan
2. Waris
3. Wasiat
4. Hibah
5. Wakaf
6. Zakat
7. Infaq
8. Shadaqah, dan
9. Ekonomi Syari’ah
Sedang yang dimaksud dengan antara orang-orang yang
beragama islam termasuk orang atau badan hukum yang
dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada
Hukum Islam, sebagaimana dimaksud dibidang 9 (sembilan)
tersebut.

295
II. Bahwa ekonomi syari’ah adalah perbuatan atau kegiatan usaha
yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah antara lain (11
bidang):
1. Bank syari’ah
2. Lembaga keuangan mikro syari’ah
3. Asuransi syari’ah
4. Reasuransi syari’ah
5. Reksa syari’ah
6. Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah
syari’ah
7. Sekuritas syari’ah
8. Pembiayaan syari’ah
9. Pegadaian syari’ah
10. Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah, dan
11. Bisnis syari’ah.

Pada butir I dan II sebagaimana dimaksud adalah terkait dengan :


a. Lembaga atau institusinya
b. Subyek hukum
c. Perbuatan hukum
d. Obyek hukum

Dalam hal ini lembaga, subyek, perbuatan, dan obyek (barang)


tidak akan terlepas dari pembahasan sengketa di badan/lembaga
peradilan dalam mengadili suatu perkara.

III. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang merubah Undang-


Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang
memberikan perluasan wewenang serta beberapa perubahan
lainnya dapat terjadi titik temu/titik taut/titik singgung yang
menyangkut kasus-kasus karena kompleksnya masalah.

Saran
I. Diperlukan sosialisasi dan pemahaman yang tepat serta benar
yang menyangkut 9 (sembilan) bidang kewenangan Pengadilan
Agama, baik kepada masyarakat pencari keadilan maupun aparat
peradilan.

296
fl. Prinsip syari’ah maupun ekonomi syari’ah memerlukan kajian dan
aktualisasi baik melalui penelitian, pendapat para ahli, sebagai
bahan para hakim untuk menggali nilai-nilai hukum yang hidup
dalam masyarakat.
III. Untuk mengatasi titik temu/titik taut/titik singgung tentang
kewenangan mengadili perlu dibentuk Pokja dari badan-badan
Peradilan yang terkait untuk dikeluarkan pedoman oleh
Mahkamah Agung berupa PERMA atau aturan-aturan yang lain.
Hal lain yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan adalah :
1. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia para hakim
2. Disusun dan dibuatnya hukum materiil/terapan terhadap
hukum ekonomoi syari’ah
3. Sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan.

297
Daftar Bacaan

Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia,


Pilar Media Yogyakarta, 2006
-------------------- Pokok-pokok Hukum Perjanjian Islam di Indonesia,
Citra Media, Yogyakarta, 2006
--------------------- Peradilan Agama di Indonesia Pasca Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2006, Uli Press, Yogyakarta, 2007
Saifuddin Noorhadi, Wakaf Dalam Perspektif Hukum Agraria Nasional,
Disertasi, Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang, 2005
Varia Peradilan, Majalah Hukum IKAHI, Tahun XIX Nomor 225 Juni
2004
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan
Kehakiman
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 41 Tentang Wakaf.

298
UPAYA-UPAYA
DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN AGAMA
MENDUKUNG MISI PELAYANAN HUKUM
DI LINGKUNGAN PERADILAN AGAMA1

Oleh: Wahyu W idiana1


2

A. PENDAHULUAN
Kedudukan peradilan agama berdasarkan UU No. 3/2006 adalah
sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat
pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu
di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq,
shadaqah dan ekonomi syari’ah.
Pelaku kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan agama
tersebut dilaksanakan oleh pengadilan agama dan pengadilan
tinggi agama dan berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai
Pengadilan Negara Tertinggi.
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara
orang-orang beragama Islam di bidang sebagaimana disebutkan
diatas. Sedangkan pengadilan tinggi agama memiliki tugas dan
wewenang mengadili perkara yang menjadi kewenangan
pengadilan agama dalam tingkat banding.
Disamping itu Pasal 52 A Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
memberikan kewenangan kepada Pengadilan Agama untuk
memberikan kesaksian rukyatul hilal dalam penentuan awal I bulan
pada tahun Hijriyah3.

1 Makalah disampaikan pada Rakernas Mahkamah Agung, 3-6 September 2007 di


Makassar.
2 Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI
3 Selama ini pengadilan agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan
penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan
hilal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan syawal tahun
Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk
penetapan 1 (satu) Ramadhan dan 1 (satu) Syawal. Pengadilan Agama dapat

299
Efektifitas pelaksanaan misi pelayanan hukum di lingkungan
peradilan agama didukung oleh Direktorat Jenderal Badan
Peradilan Agama (Ditjen Badilag), sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya.
Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, berdasarkan Pasal 9
Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2005, mempunyai tugas
membantu sekretaris Mahkamah Agung dalam merumuskan dan
melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
pembinaan tenaga teknis, pembinaan administrasi peradilan,
pranata dan tatalaksana perkara dari lingkungan Peradilan Agama
pada Mahkamah Agung dan pengadilan di lingkungan peradilan
agama.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Ditjen Badilag telah
melakukan langkah-langkah strategis untuk mendukung misi
pelayanan hukum peradilan di lingkungan peradilan agama.
Langkah-langkah strategis tersebut sejalan dengan reformasi
yudisial yang telah digulirkan oleh Mahkamah Agung, terutama di
bidang manajemen perkara, transparansi, akuntabilitas dan akses
informasi publik terhadap informasi peradilan.

B. MISI PELAYANAN HUKUM PERADILAN AGAMA


Misi merupakan pernyataan tentang tujuan organisasi yang
diwujudkan dalam produk dan pelayanan, kebutuhan yang dapat
ditanggulangi kelompok masyarakat, nilai yang dapat diperoleh,
serta cita-cita di masa mendatang. Misi juga terkait dengan
kewenangan yang dimiliki oleh lembaga berdasarkan peraturan
perundang-undangan4.

Berdasarkan konsep tersebut, maka misi pelayanan hukum


peradilan agama secara garis besar terbagi pada dua bagian.
Pertama, misi yang berkaitan dengan penanganan perkara, dan
yang kedua, misi yang berkaitan dengan non perkara

memberikan keterangan atau nasihat mengenai perbedaan penentuan arah qiblat dan
penentuan waktu shalat
4 Lembaga Administrasi Negara, M o d u l S is te m A k u n ta b ilita s K in e r ja In s ta n s i
P e m e r in ta h (Edisi Kedua). Jakarta, Penerbit LAN, 2004 halaman 91

300
1. Misi pelayanan hukum dalam penanganan perkara;
Misi ini tergambar dalam Ayat 2 Pasal 49 UU No 3/2006
sebagai berikut:
- Pengadilan Agama sebagai pelaku kekuasaan
kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang
beragama Islam mengenai perkara tertentu di
bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf,
zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi syari’ah. (Pasal
2 UU No 3/2006)
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara
di tingkat pertama antara orang-orang beragama
Islam di bidang :
a. Perkawinan;
b. Waris;
c. Wasiat;
d. Hibah;
e. Wakaf;
f. Zakat;
g. Infaq;
h. shadaqah dan
i. ekonomi syari’ah. (Pasal 49 UU No. 3/2006)

- Pengadilan Tinggi Agama bertugas dan berwenang


mengadili perkara yang menjadi kewenangan
peradilan agama dalam tingkat banding (pasal 51
ayat 1 UU No. 7/1989 jo UU. 3/2006), Pengadilan
Tinggi Agama juga bertugas dan berwenang
mengadili di tingkat pertama dan terakhir sengketa
kewenangan mengadili antar pengadilan agama di
daerah hukumnya (pasal 51 ayat 2 UU No. 7/1989
jo UU 3/2006);

2. Misi pelayanan hukum di luar penanganan perkara;


Misi ini tergambar dalam Pasal 52 UU 7/1989 jo Pasal 52 A UU
No. 3/2006, sebagai berikut:

301
Pengadilan dapat memberikan keterangan,
pertimbangan, dan nasihat tentang hukum Islam
kepada instansi pemerintah di daerah hukumnya
jika diminta;
Pengadilan agama memberikan itsbat kesaksian
rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan pada
tahun Hijriyah” Termasuk pula dalam misi ini
Pengadilan Agama dapat memberikan keterangan
atau nasihat mengenai perbedaan penentuan arah
qiblat dan penentuan waktu shalat5

Dalam melaksanakan misi pelayanan hukum tersebut, Undang-


Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman telah
menentukan asas-asas sebagai berikut:
a. Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan
biaya ringan (Pasal 4 ayat 2);
b. Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh
pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang
(Pasal 4 ayat 3)
c. Peradilan mengadili menurut hukum dengan tidak
membeda-bedakan orang (Pasal 5 ayat 1)
d. berusaha mengatasi hambatan dan rintangan untuk
dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat
dan biaya ringan (Pasal 5 ayat 2)

Disamping asas-asas tersebut hendaknya pula diperhatikan


prinsip-prinsip penyelenggaraan Negara yang baik (good
governance), seperti : akuntabilitas (accountability), transparansi
(itransparency), dan keterbukaan (openess6).
Independensi peradilan, sebagaimana tercermin dalam Pasal 4
ayat 3 UU No 4/2004, merupakan salah satu prinsip utama dari
pengadilan. Namun demikian independensi peradilan tidak

5 Penjelasan Pasal 52 A UU Nomor 3 Tahun 2006


6 Akuntabilitas merupakan tanggung gugat dari badan peradilan kepada stake holder
internal dan eksternal, transparansi dititik beratkan pada dapat diketahuinya
perumusan kebijakan oleh banyak pihak yang berkepentingan, sedangkan
keterbukaan adalah pemberian informasi secara terbuka, dan terbuka pula kepada
kritik. Termasuk pada yang disebutkan terakhir adalah membuka akses public
terhadap informasi peradilan.

302
diartikan mengesampingkan prinsip akuntabilitas maupun
transparansi. Dalam diskursus tentang konsep independensi dan
akuntabilitas/transparansi kekuasaan kehakiman, pertanyaan
yang sering muncul adalah apakah prinsip-prinsip tersebut saling
bertentangan, karena pelaksanaan prinsip akuntabilitas dan
transparansi dikhawatirkan akan mempengaruhi independensi
peradilan. Atau apakah sebaliknya, pelaksanaan prinsip akunta­
bilitas dan transparansi justru mendukung terciptanya peradilan
yang independen7.
Bagi Mahkamah Agung dan lingkungan peradilan di bawahnya,
akuntabilitas dan transparansi mempunyai posisi yang signifikan
sebagai pendukung independensi peradilan8
Misi pelayanan hukum peradilan agama, sebagaimana disebutkan
diatas, dapat digambarkan sebagai berikut:

----------------------------------
PRODUK dan
\
PELAYANAN

4 Melakukan kekuasaan NILAI PENCAPAIAN


kehakiman bagi rakyat
pencari keadilan yang - Adil
beragama Islam Sederhana, cepat,
mengenai perkara biaya ringan;
tertentu di bidang Menjaga
perkawinan, waris,
independensi
wasiat, hibah, wakaf,
zakat, infaq, shadaqah peradilan
dan ekonomi syari’ah. Transparan;
4 Melakukan tugas admi­ Akuntabilitas
nistratif yg diberikan
UU

7 Mahkamah Agung RI, C e ta k B ir u P e m b a r u a n M a h k a m a h A g u n g R I, Jakarta,


Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2003, halaman 199
8 ibid

303
Yang menjadi objek utama (stake holder) dari misi pelayanan
hukum di lingkungan peradilan agama adalah rakyat pencari
keadilan yang beragama Islam, atau badan hukum yang dengan
sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum
Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan peradilan
agama. Mereka adalah setiap orang baik warga Negara Indonesia
maupun orang asing yang mencari keadilan pada pengadilan
agama di Indonesia9.

C. UPAYA-UPAYA DITJEN BADILAG DALAM MENDUKUNG MISI


PELAYANAN HUKUM PERADILAN AGAMA

Tugas pokok Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama


berdasarkan Pasal 9 Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2005
adalah membantu Sekretaris Mahkamah Agung dalam
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi
teknis di bidang pembinaan tenaga teknis, pembinaan administrasi
peradilan, pranata dan tata laksana perkara dari lingkungan
Peradilan Agama pada Mahkamah Agung dan pengadilan di
lingkungan Peradilan Agama10.

Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, Direktorat Jenderal


Badan Peradilan Agama menyelenggarakan fungsi:
1. penyiapan perumusan kebijakan di bidang pembinaan tenaga
teknis, pembinaan administrasi peradilan, pranata dan tata
laksana perkara dari lingkungan Peradilan Agama pada
Mahkamah Agung dan Pengadilan di lingkungan Peradilan
Agama;
2. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan tenaga teknis,
pembinaan administrasi peradilan, pranata dan tata laksana
perkara dari lingkungan Peradilan Agama pada Mahkamah
Agung dan pengadilan di lingkungan Peradilan Agama sesuai

9 Lihat penjelasan Pasal I angka 1 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006


10 Sedangkan tugas pokok Sekretariat Mahkamah Agung adalah membantu Ketua
Mahkamah Agung dalam menyelenggarakan koordinasi dan pembinaan dukungan
teknis, administrasi, organisasi dan finansial kepada seluruh unsur di lingkungan
Mahkamah Agung dan Pengadilan di semua lingkungan Peradilan.

304
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
3. perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang
pembinaan tenaga teknis, pembinaan administrasi peradilan,
pranata dan tata laksana perkara dari lingkungan Peradilan
Agama pada Mahkamah Agung dan pengadilan di lingkungan
Peradilan Agama;
4. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi;
5. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

Berdasarkan pada tugas pokok dan fungsinya tersebut, Ditjen Badilag


telah melakukan upaya mendukung misi pelayanan hukum peradilan
agama, yang bersifat dukungan teknis administratif. Dukungan
tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan bidang-bidang yang
menjadi prioritas reformasi yudisial Mahkamah Agung. Bidang-bidang
tersebut adalah manajemen perkara, transparansi yudisial, teknologi
informasi, dan manajemen sumberdaya aparatur.

1. Manajemen Perkara
Manajemen perkara merupakan tata kerja penyelesaian perkara.
Di lingkungan peradilan agama, manajemen perkara ini dimulai
sejak perkara diterima di kepaniteraan, diregistrasi, didistribusikan,
diperiksa, diputus, dilaporkan dan diarsipkan. Pola manajemen
perkara ini diatur oleh Ketua Mahkamah Agung RI Nomor
KMA/001/SK/1991 tanggal 24 Januari 1991 tentang Pola-pola
Pembinaan dan Pengendalian Administrasi Perkara.
Untuk mendukung efektifitas manajemen perkara yang berbasis
pada system pelayanan hukum yang cepat, sederhana, dan biaya
ringan, Ditjen Badilag telah melakukan upaya-upaya :

a. Mengembangkan Sistem Aplikasi Administrasi Perkara


Peradilan Agama (SIADPA),
Pengembangan SIADPA ini telah dilakukan sejak tahun 2001.
Ketika Pengadan Agama belum satu atap dengan Mahkamah
Agung.
SIADPA adalah otomatisasi dari pola bindalmin, sehingga alur
kerja manajemen perkara tidak berubah. Hal ini tergambar
dalam bagan berikut:

305
Sasaran pengembangan aplikasi manajemen perkara ini
adalah meningkatnya pelayanan administrasi perkara peradilan
agama yang meliputi sistem prosedur penerimaan perkara
(tingkat pertama dan tingkat banding), register perkara,
pelaporan perkara, dan kearsipan perkara) yang lebih baik
(better), lebih cepat (faster), lebih murah (cheaper), dan lebih
sederhana (more simple) melalui implementasi teknologi
informasi;
Sampai dengan tahun 2006, 98 Pengadilan Agama telah
terinstali system aplikasi SIADPA (29 %). Untuk tahun
anggaran 2007 ini Ditjen Badilag sedang dalam proses
penambahan sebanyak 60 satker pengadilan agama yang
terinstalasi aplikasi SIADPA. Di akhir tahun 2008 ditargetkan
100 satker pengadilan agama telah terinstalasi SIADPA. Ditjen
Badilag mengharapkan 2009 seluruh pengadilan di lingkungan
peradilan agama telah terinstali aplikasi ini.

b. Mengadakan pelatihan administrator Sistem Aplikasi


Administrasi Perkara Peradilan Agama (SIADPA),
Kompetensi SDM menjadi prasarat efektifitas implementasi
SIADPA. Oleh karena itu kegiatan ini menjadi prioritas dalam
DIPA. Dalam setiap melakukan instali, Ditjen Badilag sekaligus

306
melakukan pelatihan administrator dan operator SIADPA.
Bahkan di beberapa tempat telah dilakukan pelatihan ini yang
diikuti pula oleh satker-satker yang SIADPAnya belum
terinstali. Hal ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan
kemampuan dan skill pegawai, sekaligus memberi motivasi
pemasangan SIADPA di luar program yang dilakukan oleh
Ditjen Badilag. Disamping melakukan pelatihan, Ditjen pun
melakukan monitoring implementasi SIADPA, baik secara
langsung maupun dalam forum rapat koordinasi pimpinan.

c. Mengadakan lomba tertib administrasi perkara;


Lomba tertib administrasi di lingkungan peradilan agama telah
dilakukan mulai tahun 2006. Lomba ini sebagai motivator bagi
aparatur peradilan agama untuk selalu menjaga tertib
administrasi peradilan agama sehingga dicapai kesamaan pola
tindak dan pola pikir, yang akan berimbas pada kualitas
pelayanan pada pencari keadilan. Pemenang lomba tertib
administrasi -yang masih digabungkan dengan lomba
kebersihan- tingkat nasional tahun 2006 secara berturut-turut
adalah : PA Kabupaten Malang (wilayah PTA Surabaya), PA
Majalengka (wilayah PTA Bandung), dan PA Tenggarong
(wilayah PTA Samarinda)

2. Transparansi Yudisial/Akses Publik terhadap Peradilan


Agama
Transparansi merupakan prinsip pundamental dalam
penyelenggaraan negara yang baik (g o o d governance). Dalam
konteks peradilan, transparansi berarti dibukanya akses publik
terhadap informasi peradilan. Jaminan untuk mengakses informasi
ini akan memudahkan publik untuk melakukan social control
terhadap lembaga peradilan. Dengan adanya transparansi ini
aspek akuntabilitas pun akan tercapai.
Program transparansi yudisial di lingkungan peradilan agama yang
secara teknis didukung oleh Ditjen Badilag ini, dimaksudkan untuk
meningkatnya akses publik terhadap lembaga peradilan agama,
disertai tumbuhnya kesadaran hukum masyarakat terhadap tugas
pokok, fungsi dan kewenangan peradilan agama.

307
Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menciptakan
transparansi yudisial ini adalah :
a. Membangun situs web Ditjen Badilag
Situs web ditjen badilag ini beralamat di www.badilaa.net.
Diluncurkan pada tanggal 16 April 2006. Sejak diluncurkannya
tersebut, kini www.badilaq.net telah dikunjungi oleh 107.267
orang (data pada tanggal 3 Agustus 2007 jam 10:28). Secara
statistik, rata-rata setiap harinya web site badilag dikunjungi
oleh 227 orang. Namun, secara perkembangannya, jumlah
pengunjung situs belakangan ini semakin meningkat, setiap
hari dikunjungi oleh lebih dari 1000 orang. Hal ini terjadi setelah
sosialisasi situs ini dilakukan secara gencar dalam berbagai
kesempatan, termasuk melakukan couching para admin dan
operator tiap PTA seluruh Indonesia.
Web site badilag memuat menu-menu yang mendukung
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi peradilan agama.
Diantara menu-menunya tersebut adalah : berita (umum
maupun kegiatan peradilan agama), profil lembaga, artikel-
artikel hukum, prosedur berperkara, peraturan perundang-
undangan, konsultasi hukum, jadwal persidangan, jadwal
perkara yang diputus, hisab rukyat, menu interaktif (buku
tamu), dan lain-lain.

b. Pemanfaatan Web Ditjen Badilag untuk Aspek Yudisial


Website Badilag sejak bulan Mei 2007 telah menambah menu
baru jadwal persidangan, jadwal perkara yang diputus, dan
pemanggilan pihak yang tidak diketahui alamatnya.
Menu jadwal persidangan yang dimuat di web badilag, pada
mulanya hanya diperuntukan bagi 12 pengadilan agama di
wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi
(Jabodetabek). Kemudian Dirjen Badilag membuat surat
edaran Nomor : 413/DjA/HK.00A/ll/2007 tanggal 26 Juli 2007
perihal Pengiriman Jadwal Sidang, Rekap Perkara Yang
Diputus, dan Panggilan Bagi Yang Tidak Diketahui
Alamatnya yang ditujukan kepada ketua pengadilan tingkat
perama di lingkungan peradilan agama yang berada di ibu kota
provinsi. Surat tersebut menindaklanjuti SE Tuada Uldilag

308
MARI Nomor : 08/TUADA-AGA/ll/ 2007 tanggal 17 Juli 2007
tentang pemanfaatan teknologi informasi.
Berdasarkan surat tersebut, disamping PA Se-Jabodetabek,
semua PA di ibu kota propinsi wajib mengirimkan jadwal
perkara yang akan disidangkan secara mingguan ke website
ditjen badilag. Dengan adanya instruksi ini, kini ada 45
Pengadilan Agama (13 %) yang jadwal persidangannya,
putusannya, panggilan “ghaib”nya bisa diakses secara on line
oleh para pengunjung di seluruh dunia. Sesungguhnya menu
layanan ini dapat dimanfaatkan oleh pengadilan agama di
seluruh Indonesia. Namun untuk saat ini, kita uji coba dulu
untuk daerah Jabodetabek dan kota-kota provinsi se Indonesia.
Pada saatnya nanti, setelah sarana prasarananya memadai,
layanan ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh PA/MS se
Indonesia.
Khusus untuk panggilan pihak yang tidak dikenal, media
website ini keberadaannya -sementara- adalah sebagai
alternatif media di samping media yang sudah biasa dilakukan
oleh Pengadilan Agama seperti surat kabar dan radio. Namun
demikian, suatu waktu, dapat saja pemanfaatan internet untuk
kepentingan pemanggilan “ghaib” ini dijadikan alternatif utama,
sebab internet termasuk media masa, yang -bahkan-
jangkauannya lebih luas dari surat kabar dan radio. Demikian
pula, biayanya dapat lebih murah dari media lainnya itu. Kami
yakin internet pun dapat dikategorikan media masa
sebagaimana dimaksud oleh Pasal 27 Peraturan Pemerintan
Nomor 9 Tahun 1975.

c. Publikasi Prosedur Berperkara


Membuat publikasi-publikasi dalam bentuk buku, brosur,
leaplet, mengenai prosedur berperkara. Kegiatan ini
merupakan kegiatan konvensional yang sudah sejak lama
dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Peradilan Agama
sewaktu masih di Departemen Agama.

d. Mengalokasikan Dana DIPA untuk Perkara Prodeo


Untuk membuka akses pencari keadilan yang tidak mampu
membayar biaya perkara ke Pengadilan Agama, sejak tahun

309
2007 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 50.000.000,
melalui DIPA Ditjen Badilag. Jumlah ini di luar beberapa satker
PA yang menerima bantuan hukum biaya prodeo melalui DIPA
satker masing-masing. Pada tahun anggaran 2008, alokasi
dana untuk bantuan hukum biaya prodeo ini dialokasikan
sebesar Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).

Melakukan Pemetaan dan Monitoring Tempat Pelaksanaan


Sidang Keliling
Banyak masyarakat yang aksesnya terhambat ke pengadilan.
Faktor penyebabnya, di samping persoalan biaya juga jarak
tempat kediaman ke kantor pengadilan atau bahkan kumulasi
keduanya. Untuk itu, beberapa Pengadilan Agama melakukan
kegiatan sidang keliling pada tempat-tempat yang telah
ditetapkan. Berdasarkan data sampel di Pengadilan Agama
Cilacap dan Berebes, perkara yang masuk ke pengadilan tiap
bulan, 15-25 % diantaranya dari perkara sidang keliling.
Untuk itu, Ditjen Badilag memberikan dukungan terhadap
penyediaan infrastruktur dan biaya operasioanal penyeleng­
garaan sidang keliling, melalui DIPA masing-masing satker
terkait.

Implementasi Teknologi Informasi

Untuk mendukung misi pelayanan hukum peradilan agama,


Ditjen badilag telah menggariskan kebijakan pemberdayaan
teknologi informasi dalam pelaksanaan tugas pokok. Dirjen
Badilag telah mengeluarkan surat nomor 414/DjA/OT.OO/
VII/2007 tanggal 26 Juli 2007 Perihal Pemanfaatan Teknlogi
Informasi di Lingkungan Peradilan Agama. Surat Dirjen
tersebut lebih memantapkan hal-hal yang sebelumnya telah
berjalan, antara lain :

1) Pengiriman laporan perkara Pengadilan Tingkat Pertama


dan Tingkat Banding ke Ditjen Badilag melalui e-mail yang
disediakan oleh website badilag (dirien@badilag.net);
2) Membuat Forum Pengelola Website Peradilan Agama (e-
FPWP)
Untuk efektifitas dukungan teknis teknologi informasi bagi
pelayanan hukum perlu didukung oleh pengelola IT di
daerah. Oleh karena itu Dirjen Badilag telah menerbitkan
Surat Keputusan tentang Pengelola Website Peradilan
Agama. Anggota forum ini menyebar di 29 PTA se-
Indonesia. Merekalah yang bertanggung jawab secara
teknis di bidang pengelolaan website badilag, meliputi :
browsing dan down load berita, pengiriman e-mail,
pengiriman berita kegiatan di daerah.
3) Merencanakan dalam RKAKL 2008 pembangunan 29
sub domain web site badilag bagi pengadilan tingkat
banding di lingkungan peradilan agama. Apabila sub
domain telah tersedia, maka semua informasi yudisial dari
seluruh Pengadilan Agama dapat dimuat di website
www.badilaq.net
4) Memanfaatkan fasilitas yang ada dan mengusahakan
agar ada internet dengan saluran tersendiri, tidak dijadikan
satu dengan saluran tilpon. Fasilitas internet tersebut
harus ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau dan
diakses oleh seluruh pegawai dan para pejabat. Dengan
demikian, maka akses pegawai peradilan agama terhadap
informasi, terutama terhadap www.badilag.net dan
www.mahkamahaqunq.qo.id dapat berjalan baik.

g. Sistem Informasi Manajemen Pegawai (Tenaga Teknis)


Sumberdaya manusia menjadi komponen yang sangat penting
dalam melaksanakan misi pelayanan hukum. Oleh karena itu
adanya system informasi pegawai yang dapat menyajikan data
dan informasi kepegawaian secara akurat dan real time
menjadi keniscayaan. Data dan informasi tersebut dijadikan
dasar pengembangan, mutasi, dan pembinaan pegawai.
Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama
kini sedang mengembangkan Sistem Informasi Manajemen
Kepegawaian (SIMPEG). Simpeg ini telah terinstali di seluruh
Pengadilan Tinggi Agama dan Mahkamah Syar’iyah Aceh.
Proses updating data mutasi dalam SIMPEG pun
pengirimannya telah menggunakan fasilitas website
www.badilaq.net.

311
D. KENDALA DAN SOLUSI

1. Kendala.
Yang dianggap sebagai kendala dalam peningkatan
pelayanan hukum oleh kalangan peradilan agama -dan ini
sebetulnya merupakan permasalahan klasik- adalah kurang­
nya anggaran, sarana dan sumber daya manusia, apalagi
jika dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi informasi (Tl).
Memang benar, bahwa ketiga hal tersebut merupakan faktor
yang ikut menentukan keberhasilan. Namun demikian,
dengan kondisi peradilan agama seperti sekarang ini -
apalagi setelah satu atap, dimana kenaikan anggaran
PA sangat signifikan, walaupun masih tetap di bawah
kebutuhan-, pelayanan publik mestinya dapat lebih
ditingkatkan dengan memanfatkan anggaran dan fasilitas
yang ada.
Oleh karena itu, yang menjadi kendala utama sekarang,
adalah motivasi dan komitmen dari seluruh jajaran
peradilan agama, terutama para pemegang otoritasnya di
masing-masing satker. Dengan motivasi yang tinggi dan
komitmen yang kuat, maka misi pelayanan hukum dapat
dilakukan dengan baik. Motivasi dan komitmen dapat
menutup kelemahan bidang lainnya.

2. Solusi
Beberapa solusi di bawah ini dapat dijadikan alternatif dalam
peningkatan pelayanan hukum. Sudah barang tentu, solusi
ini perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan yang ada,
bahkan dapat dicarikan solusi-solusi lainnya sesuai keadaan
daerah masing-masing. Beberapa solusi itu adalah sebagai
berikut:

a. Meningkatkan motivasi dan membangun komitmen,


dimulai dari para pemimpin peradilan agama, secara
berturut-turut sampai tingkat bawah. Cara yang
ditempuh antara lain menyamakan pemahaman tentang
pentingnya pelayanan hukum dan pemahaman tentang
manfaat dari media atau cara yang digunakan,

312
termasuk manfaat dari TI (SIADPA, SIMPEG, email,
internet dan lain-lainnya). Pimpinan satker harus tampil
di depan menjadi panutan, dengan selalu memberi
kesempatan kepada para pegawai dan melakukan
motivasi serta kontrol.
Saat ini Ditjen Badilag sedang giat melakukan
sosialisasi pemanfaatan TI, baik kepada para pejabat
dan pegawai Ditjen maupun daerah-daerah. Secara
simultan, Ditjen juga sedang giat melakukan pengisian
dan up dating materi pada menu-menu situs badilag.

b. Para pimpinan pengadilan hendaknya memanfaatkan


setiap anggaran dan fasilitas yang ada untuk
kepentingan pelayanan hukum. Misalnya, mengusaha­
kan adanya fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan
oleh seluruh karyawan, bukan hanya pejabat tertentu
saja.
Di lobi kantor Ditjen Badilag, sejak bulan Juli ini disedia­
kan satu unit komputer layanan internet untuk diguna­
kan oleh para tamu dan pegawai Ditjen, dengan diberi
petunjuk yang cukup mencolok bertuliskan “LAYANAN
PUBLIK, INTERNET GRATIS”. Layanan internet ini
hanya dapat membuka situs www.badilaq.net dan
www.mahkamahaqunq.qo.id serta situs-situs terkait
yang ada dalam link situs badilag, seperti situs Republik
Indonesia, MK, KY, Kominfo, Hukum online, dan
lainnya.

c. Mengenai kekurangan dana dan fasilitas, untuk tahun


2008 dapat dialokasikan peningkatan anggaran bagi
jasa, pengadaan komputer, pelatihan khusus TI, dan
kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan
pelayanan hukum.

d. Untuk mengatasi kekurangan sumber daya manusia,


perlu diusulkan penerimaan pegawai baru dari calon
yang berlatar belakang pendidikan komputer. Sambil
menunggu, kita dapat melakukan pelatihan khusus TI,

3151
baik untuk admin maupun operator, dengan sistem
estapet. Secara nasional, Ditjen Badilag melatih dan
membina secara periodik, para penanggung jawab Tl,
baik di bidang internet, SIMPEG atau SIADPA.
Sementara di tingkat PTA, mereka inilah yang harus
diberi tugas oleh pimpinan PTA untuk mengembangkan
Tl dan SDMnya, sampai tingkat PA.
e. Membangun, membina dan mengembangkan jaringan
admin, operator dan pencinta Tl di wilayah masing-
masing, untuk kepentingan mendukung pelaksanaan
tugas pokok, termasuk pelayanan hukum.
f. Meningkatkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan
sidang keliling dalam rangka pemberian pelayanan
hukum yang lebih baik.
g. Merencanakan dan mengusulkan adanya biaya
penanganan perkara prodeo melalui APBN atau pihak
donor yang tidak mengikat.

E. PENUTUP
Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MARI, sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya, telah berupaya memberikan
dukungan teknis, administratif, dan finansial bagi efektifnya
pelaksanaan tugas pokok peradilan agama dalam bingkai asas,
sederhana, dan biaya ringan.
Peran teknologi informasi dirasakan sangat signifikan
pengaruhnya dalam peningkatan kinerja, efisensi, dan
kemudahan kerja. Oleh karena itu, implementasi teknologi
informasi dalam pelaksanaan tugas pokok menjadi prioritas
kebijakan Ditjen Badilag. Pimpinan satker di daerah, baik di
pengadilan tingkat banding maupun tingkat pertama, diharapkan
ikut mengembangkan dan memonitor pemanfaatan Tl ini untuk
kepentingan pelaksanaan tugas peradilan, dan pelayanan hukum
kepada masyarakat.
Demikianlah makalah ini, kiranya menjadi bahan pembahasan
dan penyempurnaan pada forum Rakernas Mahkamah Agung
tahun 2007 di Makassar.

314
PAPARAN
TUADA ULDILTUN

RAPAT KERJA NASIONAL


MAHKAMAH AGUNG RI
DENGAN
JAJARAN PENGADILAN
DARI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN
SELURUH INDONESIA
TAHUN 2007

MAKASSAR
2 S.D 6 SEPTEMBER 2007
PERKEMBANGAN
PERADILAN TATA USAHA NEGARA SEJAK
BEROPERASIONAL (1991) DAN
PEMIKIRAN DALAM PERSPEKTIF
KE ARAH MASA-DEPAN

Oleh :
Paulus Effendie Lotulung
Mahkamah Agung

315
Persiapan:
- Rekrutmen
- Kapasitas SDM
- Sarana/Prasarana

Evaluasi

Pengembangan

I
Peradilan vana lebih :
- berkualitas
- efektif
- effisien

316
UNDANG-UNDANG
NO. 5 TAHUN 1986

- Kewenangan mengadili / kompetensi


- Proses memeriksa dan memutus (hukum acara)
- Eksekusi putusan
- Upaya Hukum

Problema dalam praktek:


- Teknis -------------------------------- Sebelum putusan
- SDM sesudah putusan
- Kwantitas perkara

317
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2006

I PT. TUN Jakarta 254 3

1. PTUN Jakarta 76 21

2. PTUN Bandung 21 5

3. PTUN Banjarmasin 10 0

4. PTUN Pontianak 8 3

5. PTUN Samarinda 5 1

6. PTUN Palangkaraya 1 0

318
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2006

II PT. TUN Surabaya 0 0

1. PTUN Surabaya 22 8

2. PTUN Semarang 7 4

3. PTUN Kupang 4 1

4. PTU N Denpasar 3 4

5. PTUN Yogyakarta 2 1

6. PTUN Mataram 3 1

319
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2006

III PT. TUN Medan 0 0

1. PTUN Medan 25 7

2. PTUN Palembang 6 2

3. PTUN Padang 0 0

4. PTUN Bandar Lampung 2 0

5. PTUN Banda Aceh 0 0

6. PTUN Pekanbaru 9 0

7. PTUN Jambi 0 0

8. PTUN Bengkulu 0 1

320
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali

Tahun 2006

IV PT. TUN M akassar 0 0

1. PTU N Makassar 36 4

2. PTU N Manado 7 1

3. PTU N Ambon 0 0

4. PTUN Jayapura 0 1

5. PTU N Palu 0 0

6. PTU N Kendari 4 0

Jum lah seluruhnya 505 68

Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2007 (Januari - Juli)

1 PT. TUN Jakarta 157 9

1. PTUN Jakarta 47 8

2. PTUN Bandung 21 8

3. PTUN Banjarmasin 4 0

4. PTUN Pontianak 1 1

5. PTUN Samarinda 8 1

6. PTUN Palangkaraya 1 0

321
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2007 (Januari - Juli)

II PT. TUN Surabaya 0 0

1. PTUN Surabaya 15 4

2. PTUN Semarang 15 4

3. PTUN Kupang 3 0

4. PTUN Denpasar 7 0

5. PTU N Yogyakarta 0 0

6. PTUN Mataram 3 0

322
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2007 (Januari -Juli)

III PT. TUN Medan 0 0

1. PTUN Medan 19 3

2. PTUN Palembang 6 0

3. PTUN Padang 1 1

4. PTUN Bandar Lampung 3 2

5. PTUN Banda Aceh 0 0

6. PTUN Pekanbaru 10 2

7. PTUN Jambi 0 0

8. PTUN Bengkulu 1 2

323
Peninjauan
No Nama Pengadilan Kasasi
Kembali
Tahun 2007 (Januari - Juli)

IV PT. TUN Makassar 1 0

1. PTUN Makassar 17 6

2. PTUN Manado 9 0

3. PTUN Ambon 1 0

4. PTUN Jayapura 3 1

5. PTUN Palu 0 0

6. PTUN Kendari 6 0

Jumlah seluruhnya 359 52

324
Pengadilan Tata Usaha Negara yang jum lah
perkaranya relatif sedikit adalah sebagai b e r ik u t:

1. Pengadilan Tata Usaha Negara Aceh :


Tahun 2006 sebanyak 8 (delapan) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 13 (tiga
belas) perkara.

2. Pengadilan Tata Usaha Negara Palangkaraya :


Tahun 2006 sebanyak 11 (sebelas) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 8 (dela­
pan) perkara.

3. Pengadilan Tata Usaha Negara K endari:


Tahun 2006 sebanyak 13 (tiga belas) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 9 (sembi­
lan) perkara.

4. Pengadilan Tata Usaha Negara Ambon :


Tahun 2006 sebanyak 8 (delapan) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 6 (enam)
perkara.

5. Pengadilan Tata Usaha Negara Kupang :


Tahun 2006 sebanyak 17 (tujuh belas) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 9 (sembi­
lan) perkara.

6. Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta :


Tahun 2006 sebanyak 10 (sepuluh) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 9 (sembi­
lan) perkara.

325
Pengadilan Tata Usaha Negara yang jum lah
perkaranya relatif banyak adalah sebagai b e rik u t:

1. Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta :


Tahun 2006 sebanyak 175 (seratus tujuh puluh lima) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 105 (seratus
lima) perkara.

2. Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya :


Tahun 2006 sebanyak 118 (seratus delapan belas) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 87 (delapan
puluh tujuh) perkara.

3. Pengadilan Tata Usaha Negara Makassar :


Tahun 2006 sebanyak 66 (enam puluh enam) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 47 (empat
puluh tujuh) perkara.

4. Pengadilan Tata Usaha Negara Medan :


Tahun 2006 sebanyak 51 (lima puluh satu) perkara.
Tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 55 (lima
puluh lima) perkara.

326
UNDANG-UNDANG
UPAYA PEMBARUAN HUKUM

}
NO. 9 TAHUN 2004

- Struktur organisasi
Administratip Kekuasaan Kehakiman
Personil SISTEM SATU ATAP
Keuangan )

- Pembatasan Pengajuan
Upaya hukum Kasasi
(Juncto UU No. 5 Tahun 2004)

- PROSEDUR EKSEKUSI PUTUSAN

- PENINGKATAN:-KAPASITASSDM
-ADMINISTRASI
-SARANA/PRASARANA

327
i

MASA
DEPAN

□ Pemikiran perluasan kompetensi /


kewenangan mengadili

□ Penerapan:
HUKUM P U B LIK ------- - Peradilan Tata Usaha Negara
HUKUM PR IVAT------- - Peradilan Umum

□ PENINGKATAN:
- TEKNIS PROSEDURAL
- PENINGKATAN DAN
PENGEMBANGAN SDM

328
RANCANGAN
UNDANG-UNDANG
NOMOR........ TAHUN.........
TENTANG
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 44
(Ketentuan Peralihan)
(1) Kewenangan untuk memeriksa dan memutus perkara yang
berkaitan dengan tindakan Pejabat administrasi Pemerintahan
atau badan yang menimbulkan kerugian material maupun
immaterial menurut Undang-Undang ini dilaksanakan oleh
Peradilan Tata Usaha Negara.

(2) Perkara perbuatan melanggar hukum administrasi pemerintahan


oleh pejabat administrasi pemerintahan yang sudah didaftar tetapi
belum diperiksa oleh pengadilan di lingkungan Peradilan Umum
dialihkan dan diselesaikan oleh Peradilan Tata Usaha Negara.

(3) Perkara perbuatan melanggar hukum administrasi pemerintahan


oleh pejabat administrasi pemerintahan yang sudah diperiksa
tetap diselesaikan dan diputus oleh pengadilan di lingkungan
Peradilan Umum.

(4) Keputusan Administrasi Pemerintahan berkekuatan hukum


yang sama dengan Keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan
Undang-Undang ini.

329
MEMBANGUN DAN MEMBINA
MANAJEMEN PENGELOLAAN ADMINISTRASI
BIDANG NON TEHNIS PERADILAN

Oleh :
SUBAGYO, SH.MM.
Kepala Badan Urusan Administrasi

MAHKAMAH AGUNG - RI
2007
MANAJEMEN PENGELOLAAN ADMINISTRASI BIDANG
NON TEHNIS PERADILAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perkembangan ketata-negaraan dan peraturan
perundang-undangan di bidang Peradilan serta tuntutan,
dinamika dan aspirasi masyarakat dewasa ini memacu
Mahkamah Agung untuk segera mengambil langkah-langkah
yang lebih difokuskan pada upaya penyempurnaan tatanan
peradilan yang efektif dan efisien agar mampu mengatasi
permasalahan dan mengantisipasi masa depan yang penuh
tantangan.
Upaya Mahkamah Agung dalam penyempurnaan
tersebut perlu dibangun dengan komitmen yang kuat berupa
visi mengembangkan peradilan yang baik, berwibawa dan
dihormati melalui pembenahan Organisasi dan Manajemen
(administrasi publik) yang ditujukan untuk menciptakan
lembaga peradilan yang solid, kuat dan mantap yang diisi
oleh tenaga profesional, bebas dari politik praktis, korupsi,
kolusi dan nepotisme serta konsisten dan tidak diskriminatif
dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Upaya untuk lebih menekankan keberpihakan pada
administrasi publik tersebut memerlukan perubahan
paradigma dalam Manajemen Peradilan dan yang berlaku
sekarang ini.

B. Paradigma Baru dalam Manajemen Peradilan


Trend yang berkembang saat ini dalam organisasi
pemerintahan di manapun, kecenderungannya lebih
mengedepankan asas pertanggungjawaban publik (public
accountability). Oleh karena itu konsep administrasi publik
yang menekankan pentingnya proses menemu kenali
kembali tugas-tugas mana yang lebih tepat ditangani
oleh para birokrat (reinventing government) dan tugas-tugas
331
mana yang lebih tepat ditangani oleh non birokrat. Hal ini
berlaku juga di lingkungan Badan Peradilan termasuk
Mahkamah Agung.
Paradigma yang perlu dipertimbangkan dalam penataan
kelembagaan dan organisasi Badan Peradilan adalah
perlunya perubahan kultur, yang secara langsung
berpengaruh terhadap sistem nilai, visi, sikap dan perilaku
lembaga birokrasi peradilan. Organisasi yang dibangun
seringkali membuat kekakuan dan menjadikan hubungan
sangat formal di antara orang-orang yang terlibat dalam
organisasi, sehingga perlu dikembangkan budaya Self
Organizing Control untuk menjembatani kekakuan struk­
tural dan hubungan formal tersebut.
Perubahan dan perkembangan model penyerahan
urusan ke model pengakuan wewenang dalam Undang-
undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
ditindak lanjuti Keputusan Presiden No. 21 Tahun 2004
tentang Pengalihan Organisasi, Administrasi dan Finansial di
lingkungan Peradilan Umum dan TUN serta Peradilan
Agama ke Mahkamah Agung, terakhir Keputusan Presiden
No. 56 Tahun 2004 bagi Peradilan Militer, menyebabkan
Mahkamah Agung mempunyai lebih banyak kebebasan dan
keleluasaan (diskresi) menentukan Organisasi dan
Manajemen Peradilan di semua lingkungan Peradilan.
Kewenangan Mahkamah Agung dalam menyeleng­
garakan Peradilan sangat luas, baik yang menyangkut teknis
yustisial maupun non yustisial termasuk administratif yang
mencakup kewenangan dalam seluruh Badan Peradilan dari
4 (empat) lingkungan peradilan di seluruh Indonesia.
Kewenangan Mahkamah Agung sebagai pelaku
Kekuasaan Kehakiman pada Badan Peradilan di Pusat, pada
dasarnya dilakukan dalam rangka penguatan desentralisasi
Peradilan, sehingga kewenangan Mahkamah Agung
posisinya lebih besar pada penetapan kebijakan yang
bersifat norma, standar, kriteria dan prosedur (lebih
bersifat steering). Adapun kewenangan yang bersifat
pelaksanaan (rowing) sebagian dapat didelegasikan pada
Pengadilan Tingkat Banding. Pembagian kewenangan pada
Pengadilan Tingkat Banding sangat diperlukan dengan
tujuan :
1. Memperhatikan dan memelihara identitas dan integritas
Badan Peradilan.
2. Menjamin keseragaman dan kualitas pelayanan yang
setara bagi Pengadilan Tingkat Pertama secara efesien.
3. Menjamin pengadaan teknologi keras dan lunak yang
langka, canggih, mahal dan beresiko tinggi serta sumber
daya manusia yang berkualitas tinggi tetapi sangat
diperlukan oleh masyarakat pencari keadilan.
4. Menciptakan konsistensi dan stabilitas peradilan dalam
rangka peningkatan kinerja peradilan.

Sejalan dengan pemetaan kewenangan diatas maka diperlukan


upaya reposisi dan desentralisasi organisasi dan manajemen
peradilan melalui kebijakan penataan kelembagaan yang
menyeluruh dan terintegrasi.
Di lain pihak kewenangan yang dapat didelegasikan kepada
Pengadilan Tingkat Banding mengacu kepada kriteria sebagai
berikut:
1. Kewenangan dalam bidang teknis yang bersifat lintas
Pengadilan Tingkat Pertama, serta kewenangan dalam
bidang administrasi tertentu yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan.
2. Kewenangan Pengadilan Tingkat Banding sebagai wilayah
hukum dan wilayah administrasi mencakup kewenangan
dalam bidang penyelenggaraan peradilan yang dilimpahkan
kepada Ketua Pengadilan Tingkat Banding selaku kawal
depan atau perwakilan Mahkamah Agung.
3. Kewenangan untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang
berkaitan dengan tugas pengadilan yang menyangkut
penyediaan pelayanan, pengaturan dan pembangunan yang
bersifat lintas Peradilan Tingkat Pertama.

333
II. KEWENANGAN MANAJEMEN PERADILAN
Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999, tentang perubahan
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian telah menegaskan bahwa kebijakan manajemen
Sumber Daya Manusia yang meliputi norma, standar, prosedur,
formasi, kepangkatan, pengembangan kualitas Sumber Daya
Manusia, pemindahan, gaji, tunjangan, kesejahteraan, pember­
hentian, hak, kewajiban dan kedudukan hukum secara
menyeluruh berada pada Presiden selaku Kepala Pemerintahan.
Selain itu Undang-undang No. 43 Tahun 1999 juga telah
mengatur bahwa pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian
Pegawai Negeri Sipil dilakukan oleh Presiden dan untuk
memperlancar pelaksanaannya Presiden dapat mendelegasikan
sebagian kewenangannya kepada Pejabat Pembina
Kepegawaian Pusat dan dapat menyerahkan sebagian
kewenangannya kepada Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah.
Pendelegasian dan penyerahan sebagian kewenangan dan
Presiden kepada Pejabat Pembina Kepegawaian tersebut di atas,
dilaksanakan sesuai dengan batas-batas kewenangan yang
didelegasikan atau diserahkan serta dilaksanakan sesuai dengan
Peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti pendele­
gasian untuk Badan Peradilan sesuai dengan Undang-undang
No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Penyerahan
sebagian kewenangan dalam lingkup manajemen Sumber Daya
Manusia kepada Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah,
dimaksudkan pula untuk menyikapi pelaksanaan tugas bantuan
pada kawal depan Mahkamah Agung, sehingga kebijakan yang
akan, sedang dan telah dilakukan harus tetap mulai berlaku
peraturan yang berlaku dan telah diatur oleh Mahkamah Agung
(Integrated Sistem).
Satu hal perlu dipertimbangkan, bahwa setiap pejabat
peradilan baik teknis maupun non teknis yang diberhentikan
dengan hormat mendapat hak pensiun, pembayaran pensiunnya
sebagian besar atau hampir 80 % masih menjadi tanggungan
APBN (subsidi Pemerintah) sehingga sangat beralasan jika
Pemerintah (eksekutif) masih berkepentingan dalam penetapan
formasi pegawai. Dan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana

334
mekanisme atau ketatalaksanaan kepentingan pemerintah
tersebut dalam penentuan formasi pegawai tanpa
mengabaikan prinsip Kemandirian Peradilan efesien dan
efektifitas.
Meski Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tidak
menyebutkan secara tegas siapa yang dimaksud dengan Pejabat
Pembina Kepegawaian, namun apabila ditinjau dari apa yang
tersirat dan historis penyusunannya, dapat dipahami bahwa yang
dimaksud dengan Pejabat Pembina Kepegawaian adalah pejabat
struktural eselon tertinggi (eselon I atau eselon II) yang
membidangi manajemen terutama kepegawaian, sehingga penye­
lenggaraan manajemen sepenuhnya akan menjadi tanggung
jawab pejabat karier (struktural).
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 Tentang
Mahkamah Agung secara jelas tersirat adanya Sekretaris
Mahkamah Agung sebagai pejabat Pembina Kepegawaian di
tingkat pusat. Namun untuk Pejabat Pembina Kepegawaian di
tingkat Pengadilan Tingkat Banding (daerah), perlu adanya
komitmen bersama, apakah Ketua Pengadilan atau
Panitera/Sekretaris?
Untuk menentukan hal ini hendaknya tidak terpaku pada
cerminan keadaan yang ada saat ini, baik dari kapasitas Sumber
Daya Manusia (SDM) maupun struktural organisasinya, tetapi
harus melihat kondisi yang akan datang sehingga proporsionalitas
kelembagaannya yang perlu ditingkatkan dan kejelasan jabatan
struktural pada Pengadilan.
Oleh karena itu dalam perkembangannya tidak berkelebihan
jika kemudian melahirkan satu pemikiran atau pendapat yang
menginginkan agar prinsip netralitas dan proporsional benar-
benar dapat ditegakan, sehingga alternatif yang ditawarkan
adalah pejabat struktural eselon tertinggi yang membidangi
manajemen peradilan secara konsisten seperti Sekretaris pada
Mahkamah Agung dan SekretarisA/Vakil Sekretaris pada
Pengadilan. Perkembangan ini tidak perlu disikapi secara
berlebihan karena satu hal yang lebih penting adalah siapapun
yang menjadi Pejabat Pembina Manajemen dan Kepegawaian
harus mampu menjamin dan menjalankan manajemen sesuai

335
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
dilaksanakan secara konsekuen, transparan dan bebas KKN
(Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

III. KONDISI ORGANISASI DAN MANAJEMEN DIMASA YANG


AKAN DATANG
Perubahan organisasi dan manajemen Badan Peradilan
sedang berlangsung antara lain dengan pelaksanaan Sistem
Satu Atap, pengalihan kewenangan dan Pemerintah
(Departemen) ke Mahkamah Agung dengan kegiatan sosialisasi,
inventarisasi, penyusunan konsep-konsep pedoman, prosedur
dan ketatalaksanaan Pengadilan. Dalam pelaksanaannya upaya
perubahan tersebut dihadapkan pada tantangan dan kendala
seperti di bidang sosial dan politik, dengan menghadapi sistem
Administrasi Negara dengan sistem penyatuan Rutin dan
Pembangunan membawa dampak aplikasi penyusunan program
dan anggaran sangat signifikan. Demikian pula penentuan pagu
anggaran dengan berbagai faktor eksternal sangat berpengaruh
pada kinerja Peradilan yang akan datang.
Walaupun upaya pelaksanaan perubahan secara internal
Peradilan sudah ada kemajuan namun perubahan tersebut
memerlukan proses, tahapan waktu, kesinambungan dan
keterlibatan semua komponen yang saling terkait dan berinteraksi.
Oleh karenanya perubahan yang terjadi belum terlihat secara
baik, walaupun arah kebijakannya sudah disesuaikan dengan
dinamika satu atap dan demokratisasi.
Pelaksanaan perubahan dilakukan melalui penyelarasan
kegiatan :
- Penataan kelembagaan,
- Penataan Sumber Daya Manusia,
- Penataan ketatalaksanaan secara dinamis,
- Penataan sistem pengawasan dan akuntabilitas
- Peningkatan kualitas pelayanan public, dan
Membangun kultur birokrasi baru.

336
Oleh karena itu pelaksanaan perubahan organisasi dan
manajemen peradilan merupakan kebutuhan dan harus sejalan
dengan perubahan tatanan kehidupan peradilan dan dinamika
sosial.
Hakekat manajemen peradilan adalah upaya pembinaan,
penyempurnaan, penertiban, pengawasan dan pengendalian
administrasi secara terencara, sistematik, bertahap, komprehensif
dan berkelanjutan guna terwujudnya birokrasi peradilan yang
bersih, efisien, profesional dan kompetitif sebagai prasyarat
sistem peradilan yang baik.
Kebijakan dan langkah yang perlu dilakukan Mahkamah Agung
setelah satu atap adalah sebagai berikut:
A. Penataan Kelembagaan.
Format organisasi peradilan, baik di Mahkamah Agung
maupun di Pengadilan-Pengadilan penyusunannya belum
didasarkan visi, misi, strategi dan analisis yang obyektif
berdasarkan prinsip-prinsip organisasi, melainkan masih
diwarnai kecenderungan “kepentingan" tertentu seperti
orientasi untuk menempatkan orang atau untuk
memperbesar kapasitas penyerapan anggaran. Hal ini
menjadi faktor terjadinya tumpang tindih tugas dan
kewenangan antar organisasi, belum lagi ditambah adanya
kelompok kerja, tim-tim kerja yang berada di luar unit
organisasi yang telah ada menambah semakin kurang
jelasnya kewenangan-kewenangan yang dipunyainya. Selain
itu, responsivitas (kepekaan) organisasi masih rendah yang
ditandai dengan banyaknya tuntutan masyarakat akan
perubahan.
Beranjak dari kondisi kelembagaan seperti di atas, maka
organisasi Badan Peradilan disusun berdasarkan strategi
pencapaian visi, misi yang jelas dengan menetapkan
kebijakan penataan kelembagaan Mahkamah Agung beserta
Badan Peradilan lainnya, sehingga di masa yang akan
datang diharapkan dapat mewujudkan kelembagaan
Peradilan yang memenuhi ciri-ciri sebagai organisasi yang
proporsional, datar, efektif, efisien, responsif dan
kehadirannya mempunyai makna yang signifikan bagi publik.

337
Dalam hal ini, maka kelembagaan yang seperti itu,
selanjutnya diisi oleh Sumber Daya Manusia yang handal
dengan mekanisme, sistem dan prosedur yang efisien
sehingga tidak asal diisi oleh pejabat yang kurang profesional
karena hanya sebagai batu loncatan dan dalam kerangka
like and dislike dalam penunjukannya.
Langkah awal dalam rangka menciptakan kelembagaan
peradilan yang ideal adalah menyusun suatu grand design
kelembagaan Mahkamah Agung yang diwujudkan dalam
bentuk Rancangan Keputusan Presiden Tentang Sekretariat
Mahkamah Agung dan Kepaniteraan Mahkamah Agung.

B. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Peradilan


Kondisi Sumber Daya Manusia Peradilan yang dihadapi
saat ini, antara lain :
1. Sistem Manajemen Kepegawaian belum berdasarkan
merit sistem karena belum ada instrumen pendukung­
nya;
2. Distribusi pejabat dan pegawai Pengadilan belum
merata;
3. Komposisi tenaga/pegawai yang tidak mendukung
pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi;
4. Struktur penggajian atau kesejahteraan yang berlaku
belum dapat berfungsi sebagai pemacu peningkatan
kinerja, karena kesejahteraannya belum berdasarkan
bobot jabatan.

Dalam perkembangan penataan Sumber Daya Manusia


Peradilan saat ini perlu diatur mengenai kewenangan
pengangkatan dan pemberhentian pegawai secara
berjenjang untuk memudahkan mutasi antar Pengadilan,
antara Mahkamah Agung dengan Pengadilan Tingkat
Banding dan Pengadilan Tingkat Pertama.
Sebagai langkah awal menuju Sistem Manajemen
Kepegawaian yang terpadu (unified) saat ini dilakukan
Pendataan Ulang Pegawai Pengadilan baik teknis maupun

338
non teknis dalam rangka menciptakan Sistem Informasi
Manajemen Kepegawaian untuk mendukung pengambilan
keputusan yang cepat dan tepat di bidang kepegawaian.

C. Pengaturan Ketatalaksanaan
Kenyataan menunjukan bahwa sistem, prosedur dan
mekanisme kerja administrasi peradilan dan pembangunan
masih belum mendukung produktivitas dan efesiensi kerja.
Proses penyusunan kebijakan dan peraturan,
perencanaan dan pembuatan keputusan, mekanisme,
koordinasi, pengelolaan administrasi umum, pengelolaan
keuangan dan perlengkapan, penyusunan tata hubungan
kerja dan tanggungjawab serta sistem kerja masih belum
mencerminkan penyelenggaraan peradilan yang tertib,
efesien dan efektif.
Upaya peningkatannya, yang harus dilakukan kedepan
adalah melakukan pengaturan yang mampu menciptakan
ketatalaksanaan yang terkait dengan penataan kewenangan
dan hubungan kerja antara Mahkamah Agung dan Penga­
dilan di 4 (empat) lingkungan peradilan, penyederhanaan
sistem dan prosedur kerja, korporatisasi unit organisasi
pelayanan, serta profesionalisme pejabat yang transparan
dan akuntabel.
Berbagai Surat Edaran dan petunjuk Mahkamah Agung
yang telah disampaikan kepada seluruh jajaran Pengadilan
hendaknya dapat sebagai pedoman yang selanjutnya
ditindaklanjuti dan dilaksanakan secara konsisten oleh
seluruh Pengadilan.

D. Pengawasan dan Akuntabilitas Pengadilan


Hasil pemeriksaan aparat pengawasan baik internal
maupun eksternal termasuk tindaklanjut pengaduan
masyarakat menunjukan bahwa pelaksanaan sistem
pengendalian manajemen di setiap unit kerja dan pengadilan
dipandang masih lemah. Sistem Pengendalian Manajemen
adalah sistem pengendalian (pengaturan, dan pengarahan)

339
yang mencakup seluruh sistem organisasi, kebijakan,
prosedur dan metode-metode yang diterapkan.
Untuk menciptakan sistem dan lingkungan kerja yang
kondusif dan dapat memperkecil peluang timbulnya KKN
(Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), perlu kiranya meningkatkan
intensitas tidak lanjut dan penegakan hukum secara adil dan
konsisten yang terpantau melalui mekanisme pengawasan
yang tepat. Hal ini akan dapat menimbulkan rasa takut untuk
melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi negara dan masyarakat. Menurunnya
penyimpangan, meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan
dan prosedur kerja dalam pelaksanaan kegiatan yang
sistematis, efektifnya sistempengendalian manajemen
seperti pengawasan melekat, pengawasan fungsional, sistem
pengawasan masyarakat serta sistem akuntabilitas kinerja
organisasi peradilan adalah sebagai indikator keberhasilan
pengawasan.
Langkah awal yang telah dilakukan Mahkamah Agung
melaksanakan sosialisasi sistem AKI P (Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah) yang didukung dengan perbaikan-
perbaikan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis
kinerja. Keberhasilan atau kegagalan dari sistem
pengawasan di atas,sangat tergantung pada tingkat
pemahaman, komitmen dan rasa tanggung jawab kita
bersama untuk melaksanakan perubahan administrasi
peradilan dalam penyelenggaraan tugas-tugas Pengadilan.

E. Pengembangan Budaya Kerja


Untuk membangun kultur birokrasi Pengadilan,
dilakukan pengembangan budaya kerja aparat Pengadilan
menuju profesionalisme dan produktif melalui penerapan
budaya kerja, pembentukan jati diri dan pelatihan mind
setting and values kepada para pejabatnya.
Pengembangan budaya kerja dimaksudkan untuk
melakukan perubahan sikap dan perilaku serta motivasi kerja
untuk menciptakan iklim kerja yang berorientasi pada etos
kerja dan produktivitas yang tinggi.
Langkah tindak yang dilakukan adalah sosialisasi dan
mengadakan program percontohan pada setiap unit kerja
dan Pengadilan.
Bentuk implementasinya berupa pengembangan sikap
dan perilaku keteladanan dan panutan pimpinan, serta
penerapan nilai-nilai konsistensi dan tanggungjawab
terhadap kebijakan/peraturan, pencegahan terjadinya
perilaku KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemberian
penghargaan kepada yang berprestasi dan sanksi yang
tegas kepada pelaku pelanggaran.

F. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik


Kondisi pelayanan publik oleh Pengadilan pada saat ini
dihadapkan suatu permasalahan yaitu apakah upaya
peningkatannya telah dilakukan sesuai dengan harapan dan
tingkat kepuasan masyarakat. Paradigma yang diinginkan
adalah masyarakat berhak memperoleh pelayanan yang baik
dari Pengadilan dan Pengadilan wajib memenuhinya. Saat ini
berbagai kebijakan dan praktek penyelenggaraan pelayanan
publik masih terdapat kelemahan antara lain, adanya
tumpang tindih kewenangan, prosedur yang berbelit-belit dan
kurang transparan, peraturannya belum konsisten, belum
ada jaminan kepastian waktu penyelesaian dan lain-lain.
Memperhatikan kelemahan-kelemahan di atas, kebi­
jakan yang harus diterapkan adalah bagaimana mewujudkan
pelayanan publik yang prima/baik, dalam pengertian produk
dan pelayanan publik yang cepat, tepat, efesien, transparan,
akuntabel dan menjamin rasa aman dan tertib sehingga
akhirnya berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap peradilan. Dengan demikian paradigma yang harus
dibangun adalah paradigma yang bertujuan untuk member­
dayakan masyarakat dan dilakukan langkah-langkah
terobosan yang dilandasi oleh tekad dan semangat yang kuat
dan segenap aparatur Pengadilan.
Langkah awal yang telah dilaksanakan Mahkamah
Agung adalah membangun dan mengembangkan Sistem
Informasi Mahkamah Agung (SIMARI) dan sebagai

341
percontohan di Pengadilan telah dikembangkan di
Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama dengan
memasang Web Side.

IV. MANAJEMEN PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA


PERADILAN

1. Umum.
Pembangunan adalah suatu upaya untuk mengadakan
perubahan yang lebih baik yang dilakukan secara berencana dan
terarah menuju kepada masyarakat yang maju sejahtera lahir dan
batin. Agar perubahan tersebut dapat berjalan secara berencana
dan terarah diperlukan peranan hukum dan penegakkan hukum
yang baik. Hukum diperlukan karena merupakan salah satu
mekanisme untuk melakukan rekayasa sosial (law as to o l of
s o c ia l engineering). Dalam penegakan hukum dibutuhkan
dukungan sarana dan prasarana yang baik, memadai, dan
modern.
Sarana dan prasarana peradilan yang baik, memadai, dan
modern diperlukan untuk memberi dukungan pelaksanaan tugas
kepada 4 (empat) lingkungan peradilan yang berada dibawah
Mahkamah Agung, yaitu peradilan umum, peradilan tata usaha
negara, peradilan agama dan peradilan militer agar dapat
mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam pemberian
pelayanan publik. Keempat lingkungan peradilan tersebut
mempunyai sifat dan ciri kekhususan masing-masing sebagai­
mana diamanatkan dalam pasal 13 ayat (3) Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 yang berbunyi “Ketentuan mengenai
organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk masing-masing
lingkungan peradilan diatur dalam undang-undang sesuai
dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing”.
Ini berarti bahwa dalam penyediaan sarana dan prasarana
peradilan akan ada perbedaan untuk hal-hal tertentu. Dalam
penyediaan sarana dan prasarana peradilan yang diperlukan
meliputi perangkat keras dan perangkat lunak sebagai berikut:

342
a. Perangkat keras antara lain :
1) . Gedung kantor
2) . Tempat Sidang Tetap
3) . Rumah Jabatan
4 ) . Mobilitas (roda 4 dan roda 2)
5) . Peralatan kantor (komputer, mesin ketik, sarana
komunikasi, fax, meja kursi dan lain-lain).
6) . Peralatan fungsional Peradilan (toga, palu, laken hijau,
kalung hakim jas panitera dan lencana jabatan panitera,
bendera persidangan, dan lain-lain)
b. Perangkat lunak antara lain :
1) . Buku-buku perpustakaan.
2) . Register perkara, register keuangan, formulir, buku
agenda sidang dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan pengadaan sarana dan prasarana harus


berpedoman pada pola sebagai "guidance” guna mencapai
keseragaman dan sasaran yang diinginkan sehingga
memudahkan dalam pengadaan, penyimpanan/ pemeliharaan,
penyaluran dan pengawasannya.
Karena masing-masing lingkungan Peradilan yang berada
dibawah Mahkamah Agung mempunyai kekhususan maka pola-
pola yang ada pada Direktorat Jenderal Peradilan Umum dan
Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Agama dan Peradilan
Militer dan adanya peraturan baru maka sudah seharusnya
diadakan perubahan terhadap pola-pola yang sudah ada untuk
disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan.

2. Pengadaan Sarana Pengadilan


Dalam pengadaan sarana dan prasarana harus berpedoman
pada pola/ standar yang baku untuk mendapatkan keseragaman
serta berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
yaitu :
a. Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelak­
sanaan APBN.

343
b. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
c. Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep.295/
KMK.012/2001 tentang Tatacara Pelaksanaan Pembukuan
dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga.
d. Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep.470/KMK.01/1994
tentang Tatacara Penghapusan dan Pemanfaatan Barang
Milik Kekayaan Negara.
e. Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep.350/KMK.04/1994
tentang Tatacara Tukar Menukar Barang Milik Kekayaan
Negara.
f. Dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait.

Cara mendapatkan barang/jasa menurut macamnya selain


dengan cara pembelian dapat ditempuh pula dengan cara
penyewaan; peminjaman; penerimaan hibah dan tukar guling
(ruilslag).
Sedangkan prosedur pengadaan barang/jasa dapat ditempuh
melalui pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan
langsung, penunjukan langsung dan swakelola.

3. Penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan.


Barang milik/kekayaan negara inventaris pengadilan adalah
merupakan aset Mahkamah Agung yang jenis dan jumlahnya
cukup besar serta lokasinya tersebar merata di seluruh Indonesia,
sehingga diperlukan suatu pembinaan dalam pengelolaannya
berdasarkan ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam
pengelolaan barang milik/kekayaan negara mengandung pokok-
pokok pengertian pembinaan perlengkapan/logistik yang
siklusnya berawal dengan tahap perencanaan kebutuhan,
perencanaan pengadaan, pendistribusian, pemeliharaan,
(prosedur dan tata cara lihat lampiran I)

4. Inventarisasi.
Sejak masuknya 4 (empat) lingkungan peradilan pada
Mahkamah Agung dirasa perlu mengadakan inventarisasi (audit
aset kekayaan) yang selanjutnya diserahkan kepada Mahkamah

344
Agung. Oleh karena itu untuk selanjutnya Mahkamah Agung
perlu mengeluarkan petunjuk pelaksanaan penatausahaan/
inventarisasi barang-barang milik/kekayaan negara.
(prosedur dan tata cara lihat lampiran II & III)

5. Penghapusan.
Penghapusan barang diperlukan untuk menghapus barang
yang berlebih, barang yang sudah rusak, barang yang
kadaluwarsa untuk menghindari biaya pemeliharaan dan
perawatan yang mahal serta untuk memudahkan mendapatkan
barang penggantinya.
Dengan adanya perubahan organisasi dan tata kerja
Mahkamah Agung perlu dipikirkan adanya juklak penghapusan
pada Mahkamah Agung berdasarkan Surat Keputusaan
Menteri Keuangan Nomor : 470/KMK.0111994 tentang Tata
cara Penghapusan dan Pemanfaatan Barang Milik/Kekayaan
Negara.
(prosedur dan tata cara lihat lampiran IV-VI)V
.

V. MANAJEMEN PENGELOLAAN KEUANGAN PERADILAN


Sebagaimana kita fahami bersama bahwa dengan
diberlakukanya Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara memuat berbagai perubahan yang mendasar
dalam pendekatan penyusunan anggaran. Perubahan tersebut
terjadi karena dorongan berbagai faktor termasuk diantaranya
perubahan yang berlangsung begitu cepat dibidang politik,
desentralisasi, dan berbagai perkembangan tantangan pem­
bangunan yang dihadapi oleh pemerintah. Berbagai perubahan ini
membutuhkan berbagai sistem penganggaran yang lebih
responsif, yang dapat memfasilitasi upaya peningkatkan kinerja.
Dalam penyusunan anggaran tahun 2005 terjadi perubahan
sistem penyusunan anggaran yaitu tidak lagi mengenal
pembedaan antara anggaran rutin dan anggaran pembangunan.
Kedua jenis anggaran ini telah menyatu dalam satu sistem
anggaran. Dalam melakukan penyusunan anggaran tersebut
perlu dibuat/disusun suatu mekanisme atau prosedur yaitu untuk

345
pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding agar
menyesuaikan dan bertanggung jawab kepada. Mahkamah
Agung R.l. selaku pemegang mata anggaran.

1. Prosedur penyusunan anggaran.


Dalam penyusunan anggaran harus memperhatikan
prinsip-prinsip dasar dan pokok yaitu :
a. Dalam menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (RAPBN) harus memperhatikan prinsip
hemat, cermat, tepat dan cepat serta berdasarkan skala
prioritas usul dan pengadilan tingkat pertama,
pengadilan tingkat banding yang biasanya dalam
terminologi keuangan disebut satuan kerja (Satker).
b. Jalur komunikasi dalam menyusun RAPBN dianut
prinsip dan atas ke bawah dalam penyampaian
kebijaksanaan dan dari bawah ke atas dalam
penyampaian data dan informasi (up and down stairs),
sehingga dapat disusun RAPBN yang mutakhir (up to
date) dan terpadu.
c. Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
adalah merupakan rencana kerja tahunan yang dituang­
kan dalam angka (uang), yang memuat penerimaan
yang diharapkan dan pengeluaran-pengeluaran yang
direncanakan untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk
undang-undang.
d. Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003
ditetapkan perincian lebih lanjut dari pada APBN dalam
unit organisasi, fungsi, program, kegiatan dan jenis
belanja.
e. APBN masing-masing Direktorat Jenderal dan Badan di
bawah Sekretaris dan Panitera Mahkamah Agung
merupakan rencana kerja yang dituangkan dalam angka
(uang) untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi
masing-masing Direktorat Jenderal, Badan dan Panitera
untuk memberikan dukungan dalam pelaksanaan tugas
pokok Mahkamah Agung dan lingkungan peradilan yang
berada di bawahnya.

346
f. Berpedoman kepada prinsip tersebut di atas setiap
Kantor/ Satuan Kerja menyusun RKA bagi kantornya
masing-masing untuk tahun anggaran berikutnya.
g. Setiap Kantor/Satuan Kerja dalam menyusun RKA
menggunakan formulir-formulir yang baku yaitu berupa
Sistem Informasi Manajemen (SIM) Keuangan yang
dikeluarkan oleh Departemen Keuangan.
h. Dalam penyusunan anggaran harus dilengkapi data
pendukung antara lain Rencana Anggaran Biaya (RAB)
dan unsur teknis, foto-foto kerusakan bangunan
kantor/rumah jabatan, daftar inventaris, status tanah,
rekomendasi dari Pemda atau instansi terkait dan
kerangka acuan/TOR.
i. Tanah/lokasi untuk pembangunan gedung kantor baru di
daerah yang disediakan oleh Pemerintah Daerah
maupun yang harus dibeli minimal luasnya 2.500 m2
dengan ukuran ideal lebar menghadap jalan 50 m,
statusnya jelas/tidak bermasalah.
j. Prosedur penyampaian Rencana Kerja dan Anggaran
(RKA) disusun oleh masing-masing pengadilan tingkat
pertama, dan kemudian diteruskan kepada pengadilan
tingkat banding, setelah diadakan evaluasi dan
penelitian oleh pengadilan tingkat banding dan dihimpun
menjadi Rencana Kerja Anggaran dalam wilayah
pengadilan tingkat banding dan selanjutnya diteruskan
kepada Mahkamah Agung.
k. Setelah diterimanya usulan dari masing-masing
pengadilan tingkat banding dilakukan penelitian dan
pembahasan kemudian ditentukan urutan skala prioritas
oleh BUA dan selanjutnya diteruskan kepada Sekretaris
Mahkamah Agung.
(prosedur dan tatacara lihat lampiran VII)
l. Jadual waktu penyampaian R K A :
1) Jadual waktu penyampaian RKA dari pengadilan
tingkat pertama diterima oleh pengadilan tingkat
banding selambat-lambatnya pada akhir Maret
tahun berjalan.

347
2) Jadual waktu penyampaian RKA dari pengadilan
tingkat banding diterima oleh BUA c/q Biro
Perencanaan dan Organisasi, Badan Urusan
Administrasi selambat-lambatnya pada akhir Mei
tahun berjalan.
m. Bendaharawan dan atasan bendaharawan
1) Pengangkatan Bendaharawan dan atasan langsung
Bendaharawan dilakukan oleh Sekretaris
Mahkamah Agung berdasarkan usulan yang
disampaikan oleh Direktur Jenderal dan Kepala
Badan serta Ketua Pengadilan Tingkat Banding.
2) Penyampaian usulan bendahara dan atasan
tersebut dilakukan selambatnya-lambatnya akhir
bulan Agustus.

Pelaksanaan Anggaran.
Pengelolaan dan pelaksanaan anggaran yang menjadi
tugas dan tanggung jawab masing-masing unit pemegang
mata anggaran perlu ditunjang dengan pelaksanaan
administrasi keuangan yang tertib, transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan dan dengan berpedoman pada
ketentuan yang berlaku antara lain :
1) Undang-undang APBN yang bersangkutan.
2) Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Jasa dan Konstruksi.
3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perben­
daharaan Negara.
4) Peraturan Pengurusan Tata Usaha (terjemahan dari
Reglemen voor het Administratief Beheer) atau RAB
Stbl.1933 No. 381 setelah diubah dan ditambah.
5) Keputusan Presiden RI Nomor 42 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan APBN.
6) Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
7) Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep.
295/KMK.012/2001, tentang Tata Cara Pelaksanaan
Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada
Departemen/Lembaga.
8) Dokumen pelaksanaan anggaran yang bersangkutan.

3. Pengelolaan dan Pengawasan Anggaran.


Pengelolaan dan Pengawasan anggaran adalah suatu
rangkaian kegiatan untuk membukukan/mencatat segala
aktivitas/kegiatan yang telah direncanakan serta melakukan
penelitian dan evaluasi apakah pelaksanaannya sudah
sesuai dengan rencana/program kerja dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dengan pengertian
sebagai berikut :
a. Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban
negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala
sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang
dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
b. Administrasi Keuangan Negara pada Mahkamah Agung
RI adalah keseluruhan proses kerjasama yang dapat
memberikan dukungan terhadap proses perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian tugas pokok dan fungsi
Mahkamah Agung.
c. Penyusunan dokumen anggaran berdasarkan rencana
kerja Mahkamah Agung yang telah ditetapkan sebagai
suatu keputusan setelah dibahas dengan DPR.
d. Program adalah penjabaran kebijakan kementerian
negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu
atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber
daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur
dengan misi kementerian negara/lembaga dalam rangka
penyusunan anggaran.
e. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan
oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian
dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program
yang terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan

349
sumber daya baik yang berupa personil (SDM), barang,
modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau
kombinasi dan beberapa atau semua jenis sumber daya
tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan
keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.
f. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang
menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan
kegiatan tersebut.
g. Rencana Kerja dan Anggaran adalah merupakan tindak
lanjut dan rencana kerja Mahkamah Agung yang telah
ditetapkan dalam rangka penyusunan RAPBN.
h. Belanja Pegawai adalah kompensasi dalam bentuk uang
maupun barang yang diberikan kepada pegawai yang
bertugas didalam maupun diluar negeri sebagai imbalan
atas pekerjaan yang telah dilaksanakan.
i. Belanja Barang adalah pembelian barang dan jasa yang
habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang
dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan.
j. Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pembentukan modal.
k. Belanja lain-lain adalah pengeluaran/belanja pemerintah
pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis
belanja pada huruf h sampai dengan j.
l. Monitoring/pemantauan adalah proses kegiatan penga­
matan baik dengan cara mengikuti perkembangan
pelaksanaan anggaran melalui pelaporan maupun
pengamatan langsung dilapangan yang akan
memberikan umpan balik (feed-back) pada pimpinan,
sehingga pimpinan dapat mengetahui hambatan-
hambatan yang terjadi di lapangan, mengambil langkah-
langkah pengamanan sehingga pelaksanaan pekerjaan
dapat diselesaikan tepat waktu, tepat mutu dan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
m. Pengawasan diperlukan untuk meneliti dan meng­
evaluasi apakah pelaksanaan anggaran sesuai dengan
rencana kerja dan program kerja yang telah ditetapkan

350
serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

4. Pelaporan dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan


Anggaran.
Untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas dalam
pengelolaan keuangan negara, laporan pertanggungjawaban
keuangan negara perlu disampaikan secara tepat waktu dan
disusun mengikuti standar akutansi yang berlaku. Adapun
rangkaian penyampaian laporan dan pertanggungjawaban
pelaksanaan anggaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Kepala kantor pengadilan tingkat pertama dan tingkat
banding wajib melakukan pembukuan atas uang yang
dikelolanya (termasuk uang dan Penerimaan Negara
Bukan Pajak/PNBP dan Uang Pihak Ketiga), penata­
usahaan barang yang dikuasainya serta membuat
laporan pertanggung jawaban mengenai pengelolaan
uang dan barang yang dikuasainya kepada Sekretaris
Mahkamah Agung RI.
b. Kepala kantor pengadilan tingkat banding wajib
membuat laporan keuangan sebagai rekapitulasi
pelaksanaan anggaran dan kepala kantor pengadilan
tingkat pertama untuk disampaikan kepada Sekretaris
Mahkamah Agung RI.
c. Direktorat Jenderal Badan dan Panitera menyeleng­
garakan pembukuan atas uang yang dikelolanya dan
menyelenggarakan penatausahaan barang serta
membuat laporan pertanggungjawaban mengenai
pengelolaan uang dan barang yang dikuasainya.
d. Dirjen Badan dan Panitera pada Mahkamah Agung
membuat laporan keuangan yang dikelolanya dan
menyampaikannya kepada Sekretaris Mahkamah Agung
RI.

351
V. PENUTUP
Dalam kesempatan ini secara khusus diharapkan agar
pengorganisasian dan ketatalaksanaan di lingkungan Mahkamah
Agung dan Badan Peradilan lainnya sebagai konsekwensi
implementasi Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 dan Undang-
undang Nomor 5 tahun 2004.
Untuk menjaga konsistensi kebijakan yang diambil, maka
dalam masa transisi sekarang langkah hati-hati perlu dirumuskan
agar dalam pelaksanaan perubahan sistem manajemen peradilan
dapat menjamin keberhasilan penyelenggaraan manajemen untuk
kondisi yang akan datang.
Target dan pelaksanaan perubahan sistem manajemen
peradilan adalah untuk mewujudkan kinerja Pengadilan yang
optimal melalui pengembangan sistem kebijakan yang arahnya
antara lain sebagai berikut:
a. Untuk mengantisipasi kebijakan satu atap, mengembangkan
fungsi-fungsi Pengadilan sebagai unsur pelaksana teknis
secara berimbang dan proporsional dengan fungsi-fungsi
Mahkamah Agung.
b. Memantapkan otoritas Mahkamah Agung sebagai perumus
dan penetapan norma standar dan prosedur manajemen
peradilan yang berlaku di 4 (empat) lingkungan peradilan.
c. mengunifikasi manajemen peradilan Mahkamah Agung dan
Badan Peradilan di 4 (empat) lingkungan peradilan ke dalam
satu sistem manajemen yang terintegrasi, sistematis dan
harmonis.
d. Merumuskan, menetapkan dan mengaplikasikan norma,
standar dan prosedur operasional manajemen peradilan
yang baku dan dapat diterapkan secara luwes baik untuk
Mahkamah Agung maupun jajaran Pengadilan.
e. Merumuskan mobilitas Sumber Daya Manusia, keuangan,
dan perlengkapan dari Mahkamah Agung ke Pengadilan
Tingkat Banding dan Pengadilan Tingkat Pertama yang
dinamis dan komprehensif.

Sebagai penutup kami ucapkan terima kasih atas kerjasama


dan partisipasi aktif peserta Rakernas 2008 ini semoga uraian

352
singkat ini dapat berguna sebagai bahan diskusi dalam menyikapi
arah penyempurnaan manajemen dan organisasi peradilan
secara komprehensif.

353
LAMPIRAN I

SKEMA PENYIMPANAN PENYALURAN DAN PEMELIHARAAN BARANG

PANGADAAN

354
LAMPIRAN II

ORGANISASI INVENTARISASI PADA MAHKAM AH A G U N G

PEBIN : Pembina Barang Inventaris


PBI : Pengelola Barang Inventaris
UPB : Unit Pemakai Barang Inventaris
SEKMA : Sekretaris Mahkamah Agung
BUA : Badan Urusan Administrasi

355
LAMPIRAN III

SKEM A LAPORAN INVENTARIS

356
LAMPIRAN IV

ORGANISASI PENGH APUSAN PADA M.A.R.I.

PEBIN : Pembina Barang Inventaris adalah Sekretaris Mahkamah Agung.


PBI : Penguasa Barang Inventaris / Unit Eselon I Pusat pada Hirarkinya.
PPBI : Pembantu Penguasa Barang Inventaris adalah Pengadilan TK Banding
UPB : Unit Pengurus Barang adalah Pengadilan TK I.

357
LAMPIRAN V

M EKANISM E PENGHAPUSAN BARAN G TID A K B ER G ER A K


MILIK/KEKAYAAN N EGAR A

358
LAMPIRAN VI

MEKANISME PENGHAPUSAN BARANG TID AK BER GERAK


MILIK/KEKAYAAN NEGARA

359
360
LAMPIRAN VII

TA H A P A N DAN P R O SED UR P E N Y U S U N A N APBN

Akhir Mei

Dirjen Badan
Panitera/ES i

Akhir April

^ z
PERMASALAHAN HUKUM
PERDATA

JAKARTA
4 S.D 7 AGUSTUS 2008
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERDATA

1. Pengadilan Negeri Langsa


1. Kasus:
Tahun 2002, seorang sopir Bank BUMN, dicegat dan dibawa
kelompok tak dikenal, sampai dengan sekarang (2008) tidak
diketahui nasibnya.
Pertanyaan:
Apakah Hakim berwenang menerbitkan penetapan bahwa
sopir tersebut dinyatakan telah meninggal?
Jawaban :
Jika sudah lewat 5 (lima) Tahun sejak
keberangkatannya, tidak ada kabar bahwa ia masih
hidup, maka orang-orang yang berkepentingan (istri)
dapat meminta kapada Hakim supaya diterbitkan suatu
keputusan, bahwa sopir tersebut dianggap telah
meninggal”.
Untuk itu sopir tersebut harus dipanggil dalam surat
kabar 3 x 3 bulan, dan mendengar saksi-saksi yang
dianggap perlu (lihat Pasal 467 dst. KUHPer.)

2. Kasus:
Advokat dipanggil Polisi sebagai saksi, Advokat memohon ke
Pengadilan untuk ditetapkan bebas menjadi saksi.

Pertanyaan :
Bagaimana sikap Hakim menangani permohonan tersebut?

Jawaban :
Hakim perdata tidak berwenang menangani hal tersebut.

3. Kasus:
Ada eksekusi "pelelangan” Debitur mengajukan perlawanan.
Oleh PN perlawanan dikabulkan, tapi ditingkat banding

361
perlawanan Debitur ditolak. Pelawan Kasasi. Ternyata
berkas kasasi tersebut hilang, tidak terdaftar di MA.
Pertanyaan :
Apakah eksekusi pengosongan dapat dilaksanakan?
Jawaban :
Perlawanan oleh Debitur/tereksekusi hanya dapat
dilakukan apabila ia telah memenuhi kewajibannya.
Karena itu eksekusi pengosongan atas permohonan
pemenang lelang dapat dilanjutkan.

4. Kasus:
Dalam perjanjian perdamaian disebutkan klausul;
Penggugat harus mencabut gugatannya.
Pertanyaan :
Kalau dicabut berarti tidak ada perkara, bagaimana?
Jawaban :
Kalau perdamaian tidak dituangkan dalam akta
perdamaian, maka klausul gugatan dicabut, benar. Tapi
kalau kedua belah pihak ingin perjanjian perdamaian
dituangkan dalam akta perdamaian, gugatan tidak
dicabut.

5. Kasus:
Amar putusan berbunyi ’’Menyatakan tanah obyek
sengketa untuk Penggugat”.
Pertanyaan :
Bagaimana eksekusinya?
Jawaban :
Karena amar tersebut hanya bersifat deklaratoir, maka
tidak ada eksekusi.

6. Kasus:
Perjanjian perdamaian sudah dikukuhkan dalam akta
perdamaian. Syarat-syarat perdamaian oleh kedua
belah pihak setuju diubah.

362
Pertanyaan :
Apkakah perubahan tersebut diperkenankan?
Jawaban :
Akta Perdamaian secara normative sama dengan
putusan yang berkekuatan hukum tetap, karena itu tidak
dapat dirubah lagi.

2. PN Meulaboh
Kasus :
Ada beberapa perkara, baik pada taraf putusan maupun berkas
perkara yang akan dikirim ke PT hilang saat bencana tsunami.

Pertanyaan :
Bagaimana jalan keluarnya?
Jawaban :
Kalau para pihak masih menguasai dokumen lengkap dapat
dipakai sebagai acuan.

3. PN Rantauprapat
Kasus:
Putusan PT berbunyi PN berwenang secara absolute mengadili
perkara tersebut, pihak Tergugat kasasi atas putusan banding
tersebut.
Pertanyaan:
Apakah berkas diselesaikan lebih dahulu kasasi atau
diperiksa dahulu baru kasasi?

Jawaban :
Kasasi selesaikan lebih dahulu.

4. PN Kuala Tungkai
Kasus:
Tidak ada Hakim bersertifikat sebagai mediator dan
tidak ada mediator lain yang bersertifikat.

363
Pertanyaan :
Jalan keluarnya bagaimana?
Jaw aban:
Hakim yang tidak bersertifikat mediator boleh ditunjuk
sebagai
mediator.

5. PT Jambi
Kasus :
Alat angkut illegal logging, di sita penyidik. Pemilik truk/Lembaga
Pembiayaan dengan jaminan fiducia, mengajukan verzet atas
penyitaan tersebut.

Pertanyaan :
Apakah Hakim perdata berwenang mengadili verzet tersebut?

Jawaban :
Perlawanan atas penyitaan, hanya berlaku dalam penyitaan
perkara perdata saja.

6. PN Jakarta Selatan
Kasus :
Selatan Pewaris meninggalkan anak dibawah umur, dan harta
peninggalan (tanah) dalam SHM atas nama Pewaris.

Pertanyaan :
Apakah ijin menjual dari Pengadilan dapat dikeluarkan?

Jawaban :
Karena Pewaris (misal Ayah) meninggalkan anak dibawah
umur, maka yang berhak mewaris a.l. anak tersebut. Kalau
ayah meninggal, meninggalkan iteri dan anak dibawah umur,
maka isteri/ibu anak tersebut demi hukum menjadi wali.
Wali kalau mau menjual harta tersebut, yang sebagian
adalah hak si anak, perlu kuasa/ijin dan Hakim (Pasal 393
dst KU H Per.).

364
7. PN Bengkalis
Kasus:
Tereksekusi telah dipanggil dua kali secara patut untuk ditegur
guna memenuhi putusan, tapi tidak hadir tanpa alasan.
Pemohon eksekusi tidak sanggup membayar biaya eksekusi.

Pertanyaan :
Jalan keluarnya bagaimana?
Jawaban :
Tergugat dianggap telah ditegur. Ketua PN dapat
meneruskan
eksekusi.
Kalau Pemohon eksekusi tidak dapat membayar biaya untuk
eksekusi, maka eksekusi tersebut tidak dapat dilakukan.

8. PN Bangkinang
Kasus:
Para Tergugat tidak pernah hadir, sekalipun telah dipanggil
dengan patut, Hakim melanjutkan pemeriksaan, kemudian
Tergugat muncul dan menyerahkan jawaban.
Jawaban :
Seharusnya, Hakim tidak melanjutkan pemeriksaan tapi
memutus perkara tersebut dengan verstek.
Karena tidak dijatuhkan putusan verstek maka kehadiran
Tergugat dengan menyerahkan jawaban, diterima. Putusan­
nya bukan verstek.

9. PN Pelalawan
1. Kasus:
Poin menyita barang, dan dijadikan barang bukti dalam
perkara pidana.
Pertanyaan :
1. Apakah dapat disita dalam perkara perdata?
2. Dapatkah diajukan perlawanan terhadap penyitaan yang
diajukan oleh Polri?

365
Jawaban :
1. Tidak dapat, karena barang yang telah dikenakan
penyitaan tidak boleh disita lagi. Apalagi penyitaan
dalam hal ini adalah sita berdasarkan hukum publik
2. Tidak mungkin. Karena perlawanan terhadap
penyitaan hanya dapat dilakukan terhadap sita
privat.

2. Kasus:
Surat permohonan bantuan memanggil para pihak/saksi ke
PN lain, dapatkah dilakukan dengan menggunakan fax?
Jawaban :
Dapat, bahkan dianjurkan, untuk memperlancar proses.

3. Kasus:
Tanda bukti sebagai Advokat, berdasarkan kartu anggota
organisasi, bukan kartu PERADI.

Jawaban :
Boleh.

10. PN Sumber
Kasus :
1. Bolehkah Hakim melakukan pemeriksaan setempat atas
tanah sengketa yang terletak diluar wilayah hukumnya.
2. Biaya panggilan untuk Tergugat yang tidak hadir saat
proses mediasi, siapa yang membayar.
3. Apakah PN berwenang menangani permohonan peng­
angkatan anak yang beragama Islam?
4. Tanah yang dibebani hak tanggungan, oleh pemiliknya dijual.
Apakah hak tanggungan dapat dieksekusi terhadap pemilik
baru?

Jawaban :
1. Minta bantuan ke PN dimana tanah sengketa itu berada.
Karena eksekusinya juga dengan parantaraan PN yang
wilayah hukumnya meliputi tanah tersebut berada.

366
2. Penggugat, dengan dianggarkan saat mengajukan surat
gugatan.
3. Berwenang.
4. Dapat, karena hak tanggungan itu melekat pada
tanahnya, ditangan siapapun tanah itu berada.

11. PN Palembang
1. Kasus:
A menggugat B soal utang piutang. Tanah milik B
dikenakan sita jaminan.
Putusan Pengadilan : B Dihukum membayar hutangnya
kepada A, dan sita Jaminan dinyatakan sah. Saat proses
perkara, B menjual tanah yang telah disita kepada C dan
oleh C dijadikan jaminan hutangnya kepada Bank.
A mohon eksekusi putusan tersebut.
Pertanyaan :
Dapatkah lelang dilaksanakan?
Jawaban :
Jual beli dan menjaminkan barang yang tengah disita,
batal demi hukum.
Karena itu lelang atas barang tersebut dapat dilakukan.
C dapat menggugat B dan mohon ganti rugi.
Begitu pula Bank dapat menggugat C membayar
hutangnya, barang C lainnya dapat disita. Karena hak
tanggungan barang tersebut diatas menjadi batal demi
hukum.

2. Kasus:
Pemenang lelang tahun 1983, adalah A. Sebelum dilakukan
pengosongan obyek lelang, A meninggal.
Ahli waris A menghibahkan tanah tersebut kepada B.
Tahun 2003 B mohon pengosongan, ternyata diatas tanah
tersebut sudah berdiri bangunan sekolah milik yayasan.

Pertanyaan :
Bolehkah dilakukan pengosongan?

367
Jawaban :
Pembeli lelang harus dilindungi. B sebagai pemilik baru.
Tanah yang dilelang pasti ada sita eksekusi.
Yayasan yang memperoleh tanah dengan status dalam
sitaan, maka peralihan hak pada yayasan batal demi hukum.
Secara normatif tanah tersebut dapat dikosongkan.

3. Kasus:
Dalam tingkat banding PT memutuskan : membatalkan berita
acara sidang dan putusan PN, serta memerintahkan PN untuk
mengadili ulang.
PN mengadili ulang perkara tersebut, para pihak tidak
mengajukan upaya hukum banding.
Ada permintaan PT tambahan biaya banding, Pembanding
semula Penggugat membayar tambahan biaya tersebut.
Pertanyaan :
Apakah Penggugat harus dianggap secara diam-diam banding?
Jawaban :
Apabila dalam tenggang banding tidak diajukan banding,
maka putusan PN menjadi berkekuatan hukum tetap.
Banding tidak dapat dilakukan secara diam-diam, ia harus
menyatakan banding dihadapan Panitera Muda, dan
membayar biaya perkara kepada kasir, melalui bank yang
ditunjuk.

368
PERMASALAHAN HUKUM
PERDATA KHUSUS

JAKARTA
4 S.D 7 AGUSTUS 2008
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERDATA KHUSUS

1. PN. Sekayu
Permasalahan :
KPUD
1. Apakah diperkenankan Majelis Hakim menyimpangi
ketentuan Pasal 33 ayat (!) UU No.2 Tahun 2008 tentang
partai politik (penyelesaian perkara oleh PN selama 60 hari),
mengingat dalam proses jawab jinawab, pembuktian dan
kesimpulan membutuhkan waktu yang melebihi ketentuan
tersebut.
Jawaban :
Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang No 31 Tahun 2002
tentang partai politik menentukan bahwa perkara partai
politik diselesaikan oleh Pengadilan Negeri paling lama
60 hari.
Undang-undang tidak mengatur sanksi terhadap penye­
lesaian perkara partai politik melebihi jangka waktu yang
ditentukan.

2. PT. YOGYAKARTA
Permasalahan :
PHI
1. Dalam Pasal 112 UU No.2 Tahun 2004, menentukan “bahwa
sub Kepaniteraan PHI pada Pengadilan Negeri dalam waktu
selambat-lambatnya 14 hari terhitung sejak tanggal
penenmaan permohonan kasasi harus sudah menyampaikan
berkas perkara kasasi kepada Ketua MA".
Dalam praktek relaas panggilan/pemberitahuan yang didele­
gasikan ke Pengadilan Lain sering terlambat atau lama
dilaksanakan.
- Apakah sub Kepanitaraan PHI dapat mengirimkan
berkas kasasi ke MA, sementara berkas belum lengkap

369
dikarenakan keterlambatan relaas pemberitahuan yang
didelegasikan ke Pengadilan lain.
- Bagaimana cara menyelesaikannya jika hal tersebut
terjadi.
Jawaban :
- Berkas yang belum lengkap jangan dulu dikirim ke MA.
- Apabila berkas yang tidak lengkap tetap dikirimkan, MA
akan menyurati Pengadilan pengaju atau mengirimkan
kembali berkas untuk dilengkapi persyaratan permo­
honan kasasi. Hal ini sudah tentu akan memperlambat
proses penyelesaian perkara.

Apabila dalam melaksanakan eksekusi atas perjanjian


bersama yang telah didaftarakan kepada PHI, ternyata ada
pihak ketiga yang mengajukan perlawanan derden verzet,
sedangkan Pasal 56 UU No.2 Tahun 2004 hanya bertugas
dan berwenang memutus mengenai Perselisihan hak,
Perselisihan kepentingan, Perselisihan pemutusan hubungan
kerja, Perselisihan antara serikat pekerja/serikat buruh dalam
satu perusahaan.
- Apabila biaya eksekusi perkara PHI melebihi dari biaya
yang ditentukan, dari mana kekurangan biaya tersebut
diambil.
- Pasal 58 UU No.2 Tahun 2004 menyebutkan bahwa
“dalam proses berita acara di PHI pihak-pihak yang
berperkara tidak dikenakan eksekusi yang nilai
gugatannya di bawah Rp. 150.000.000.

Jawaban :
- Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam
Pasal 56 Undang-Undang No.2 Tahun 2004 Penga­
dilan Hubungan Industrial hanya bertugas dan
berwenang memeriksa dan memutus mengenai
Perselisihan hak, Perselisihan kepentingan,
Perselisihan pemutusan hubungan kerja, Perse­
lisihan antara serikat pekerja/serikat buruh dalam
satu perusahaan.
- Berdasarkan uraian pasal tersebut di atas, derden
verzet adalah merupakan kewenangan Pengadilan
Negeri.
- Undang-undang tidak mengatur biaya perkara yang
melebihi dari biaya yang ditentukan.
- Terhadap biaya eksekusi yang nilai gugatannya di
bawah Rp. 150.000.000, dibebankan kepada
Negara.

3. PT. Bandung
Permasalahan :
PHI
1. Majelis PHI membuat Penetapan sita atas suatu obyek yang
terletak pada Pengadilan tertentu.
Berdasarkan Penetapan tersebut Jurusita PHI melaksanakan
sita tersebut dengan datang ke obyek sita.
- Apakah diperbolehkan Jurusita PHI langsung
melaksanakan sita, tanpa delegasi ke Pengadilan Negeri
tempat obyek yang disita? Atau melapor dulu ke
Pengadilan Negeri setempat dan didampingi Jurusita
Pengadilan Negeri tersebut.

Jawaban :
Jurusita tersebut PHI tersebut melaksanakan sita
dengan pemahaman bahwa wilayah hukumnya meliputi
Propinsi Jawa Barat.
Penetapan dan Majelis Hakim PHI, sepanjang obyek
yang disita berada di wilayah Hukum Pengadilan
Hubungan Industrial tersebut. Pelaksanaan sita tersebut
dapat dilakukan tanpa didelegasikan kepada Pengadilan
Negeri dimana obyek sita itu berada.

2. Dalam pengajuan perkara PHI dikenakan biaya perkara


karena gugatan di atas nominal Rp. 150 juta. Pada waktu
kasasi juga dikenakan biaya perkara. Kemudian dalam
putusan kasasi dinyatakan biaya perkara dibebankan kepada
Negara, oleh karena itu Pihak yang bersangkutan meminta

371
uang kembali, sedangkan uang telah dikeluarkan termasuk
PNBP, hal ini menyulitkan pembukuan.
- Mohon ketentuan biaya perkara ditanggung oleh negara
atau tidak dilihat dari nominal gugatan bukan nilai
nominal dikabulkan.
Jawaban :
Terhadap putusan kasasi dapat dimintakan perbaikan
biaya perkara kepada Mahkamah Agung karena
ternyata nilai gugatan perkara tersebut di atas Rp. 150
juta.

4. PN. Jakarta Selatan


Permasalahan :
KPPU
- Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sering menerima
keberatan terhadap perkara Komisi Pengawasan Persaingan
Usaha (PKKU) dimana salah satu pihak berada di luar
negeri.
- Batas waktu pemanggilan jika salah satu pihak berada di luar
negeri adalah 3 bulan.
- Jika panggilan tidak mendapat tanggapan dari Departemen
Luar Negeri Cq. Dirjen Protokoler dengan melewati tenggang
waktu 3 bulan, dapatkah dinyatakan panggilan tersebut
sudah ada.
Jawaban :
Panggilan dinyatakan sah sejak diterima Dirjen Protokoler
Departemen Luar Negeri.

5. PT. Gorontalo
Permasalahan :
KPUD
Partai politik atau gabungan partai politik dalam mendaf­
tarkan pasangan calon menyerahkan surat pencalonan
beserta lampirannya yang ditandatangani oleh Pelaksana

372
Harian (PLH) pimpinan partai politik kepada PKUD, karena
pimpinan partai yang bersangkutan sedang keluar daerah.
- Setelah KPUD meneliti persyaratan administrasi pasangan
calon tersebut, ternyata menurut KPUD tidak memenuhi
syarat administrasi karena surat pencalonan tidak
ditandatangani oleh pimpinan partai definitif, maka oleh
KPUD pasangan calon tersebut dicabut, digugurkan dan
tidak diizinkan untuk mengikuti PILKADA, mestinya
pasangan calon tersebut oleh KPUD diberi kesempatan
untuk melengkapi/ memperbaiki surat pencalonan beserta
lampirannya paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya
surat pemberitahuan hasil penelitian. Pasangan calon yang
di gugurkan kepada KPUD, namun PILKADA jalan terus
sampai selesai.
- Karena kasus ini terjadi sebelum PILKADA kepada siapakah
keberatan tersebut harus diajukan, apakah ke Pengadilan
Tinggi atau kepada Pengadilan Negeri dengan perbuatan
melawan hukum.
- Jika diajukan ke Pengadilan Negeri dan amar dikabulkan
bagaimana hasil PILKADA yang telah berlangsung dan
telaha disahkan apakah batal demi hukum atau dapat
dibatalkan.
- Bagaimana kekuatan eksekusi putusan Pengadilan Negeri
yang telah berkekuatan hukum tetap terhadap hasil
PILKADA.

Jawaban :
- SEMA No. 8 Tahun 2005 gugatan terhadap KPUD (baik
mengenai keputusan-keputusannya maupun tindakan
hukum lainnya diajukan ke Pengadilan Negeri.
Penggugat yang merasa dirugikan karena pelaksanaan
pemilihan pasangan calon dapat mengajukan gugatan
perdata ke Peradilan Umum.

373
6. PT. Jayapura
Permasalahan :
PHI
- Putusan P4D telah dikuatkan oleh Mahkamah Agung dan
telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Salah satu amar
putusan P4D mewajibkan Pengusaha untuk membayar hak
pekerja (upah/gaji) tetapi tidak ditentukan sejak kapan dan
berapa jumlah yang pasti yang harus dibayar oleh
Pengusaha kepada pekerja. Dalam hal ini perincian yang
dibuat pekerja lebih besar dari perincian yang dibuat
Pengusaha.
- Apakah putusan tersebut dapat dieksekusi, jika dapat
bagaimana dasar perhitungannya, apakah sejak putusan
atau sejak di PHK.
- Apakah selisih perincian upah antara pekerja dengan
pengusaha tersebut harus dieksekusi oleh Pengadilan
ataukah pekerja ataukah pekerja mengajukan gugatan lagi
khusus tentang selisih perhitungan upah.
Jawaban :
- Pelaksanaan eksekusi dapat diajukan kepada
Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan
Negeri pada wilayah yang bersangkutan.

7. PN. Wamena
Permasalahan :
PILKADA
- Sesuai putusan MA No. 880K/Pdt/2003 tanggal 29 Januari
2003, Pengadilan Negeri tidak berwenang mengadili
sengketa kepengurusan partai yang merupakan masalah
internal partai. Tetapi di dalam Undang-Undang No. 31
Tahun 2003 tentang partai politik Pasal 16, bahwa perkara
partai politik dapat diajukan ke Pengadian Negeri.
- Mengingat banyaknya perkara pertai politik yang diajukan ke
Pengadilan Negeri, bagaimanakah sikap yang harus diambil
oleh Hakim.

374
- Apakah kriteria perkara partai politik yang menjadi
kewenangan Pengadilan seperti yang dimaksud undang-
undang tersebut.
Jawaban :
- Sesuai dengan SEMA No. 8 Tahun 2005 tentang
Petunjuk Teknis tentang sengketa mengenai Pemilihan
Umum Kepala Daerah (PILKADA), segala gugatan
terhadap KPUD mengenai keputusan-keputusannya
ataupun penetapan-penetapan yang berkaitan dengan
Pemilihan Umum, baik dalam rangka persiapan
pelaksanaan maupun tindakan-tindakan hukum lainnya
diajukan ke Pengadilan Negeri (Peradilan Umum).

8. PN. Manokwari
Permasalahan :
PHI
1. Dalam satu petitum gugatan para pekerja sebagai Penggugat
meminta untuk dipekerjakan kembali karena PHK yang
dilakukan Pengusaha bertentangan dengan UU No. 13
Tahun 2003, dan oleh Majelis Hakim petitum tersebut
dikabulkan.
- Apakah yang dapat dilakukan Pengusaha yang tidak
bersedia memperkarakan kembali Pekerja yang terkena
PHK tersebut.

Jaw aban:
1. Setiap petitum gugatan yang berisi mempekerjakan
kembali Pekerja yang telah di PHK, hendaklah
ditambahkan dengan tuntutan pembayaran uang
paksa. Jika hal itu tidak memungkinkan maka amar
putusan tersebut hendaklah diganti dengan
membayar sejumlah uang.

2. Pasal 88 ayat (1) dan (2) UU No. 2 Tahun 2004 menentukan


KPN menetapkan Majelis Hakim terdiri dari satu orang Hakim
sebagai Ketua Majelis, dua orang Hakim Ad Hoc sebagai
Anggota Majelis. Hakim Ad Hoc dimaksud satu orang dan

375
unsur pekerja dan satu unsur dan Pengusaha. Dalam
petunjuk teknis huruf c disebutkan dalam hal salah satu
unsur berhalangan tetap/ sementara demi kecepatan
pemeriksaan perkara, Ketua PHI berhak menunjuk Hakim Ad
Hoc dan unsur lain.
Siapakah yang dimaksud dengan unsur lain tersebut,
apakah unsur lain disini dapat ditaksirkan dalam satu
majelis, Hakim Ad Hocnya berasal dari unsur yang
sama.
Jawaban :
2. Undang-undang hanya menetapkan Majelis Hakim
terdiri dari 1 (satu) orang Hakim dan 2 (dua) orang
Hakim Ad Hoc, dan undang-undang tidak menye­
butkan tentang unsur lain tersebut

Suatu perkara telah dilakukan mediasi oleh Mediator dan


Dinas Tenaga Kerja Kota Sorong tapi tidak berhasil. Pekerja
lalu mengajukan gugatan ke PHI Manokwari, saat
penundaan sidang kedua, pekerja mencabut gugatannya.
Para pihak yang berselisih menyelesaikan sengketa mereka
di Kantor Gubernur Papua Barat yang difasilitasi oleh Wakil
Gebernur dibantu oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi
Papua Barat. Penyelesaian dilakukan dengan cara intimidasi
kepada Pengusaha, sehingga terjadi kesepakatan
Pengusaha tetap melakukan pembayaran.
- Apakah mekanisme non litigasi yang dilakukan tersebut
di atas dapat dibenarkan.
- Apakah kesepakatan non litigasi dapat didaftarkan di
PHI Manokwari untuk dibuatkan Pendaftaran Perjanjian
Bersama.
Apabila PHI tidak mengeluarkan bukti Pendaftaran
Perjanjian Bersama, bagaimana perlindungan hukum
kepada Pengusaha yang telah melakukan pembayaran.
Bagaimana keefektifan UU No. 13 Tahun 2003 jo UU
No. 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus dimana
kewenangan menangani masalah ketenagakerjaan
menjadi kewenangan daerah, yaitu tanggung jawab
mediator di Dinas Tenaga Kerja dan Kepala Dinas
Tenaga Kerja setempat.
Jawaban :
3. Penyelesaian suatu sengketa di luar persidangan
sepanjang itu dilakukan berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak adalah sah saja.
Jika pihak dapat membuktikan bahwa penyelesaian
itu dilakukan dengan^cara paksaan atau intimidasi
dapat mengajukan pembatalan ke Pengadilan.

9. PT. Banda Aceh


Permasalahan :
PARPOL
- Pengadilan Negeri Lhoksukon menerima gugatan anggota
DPR Aceh Utara terhadap partai yang melakukan
pemecahan kadernya, sebagai anggota partai dan sebagai
Anggota Dewan.
- Menghadapi gugatan tersebut ada 2 persoalan teknis yuridis
yang perlu disikapi:
1. SEMA No.14 Tahun 2003 menentukan persoalan partai
adalah persoalan internal, apabila diajukan ke
Pengadilan hendaklah Pengadilan menyatakan dirinya
tidak berwenang memeriksa perkara bersangkutan.
2. UU No. 2 Tahun 2008 Pasal 33 menentukan bahwa
perkara partai politik diajukan ke Pengadilan Negeri.
- Bagaimana sikap Pengadilan menghadapi dua sikap yang
kontraversial tersebut.

Jawaban :
- Pengadilan dapat menerima gugatan tersebut berda­
sarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2008.

377
PERMASALAHAN HUKUM
PIDANA KHUSUS

JAKARTA
4 S.D 7 AGUSTUS 2008
JAWABAN TERHADAP PERTANYAAN-PERTANYAAN
TINDAK PIDANA KHUSUS

I. Tindak Pidana Korupsi


1. PT. Tanjung Karang
Permasalahan :
a. Dalam hal pemeriksaan tindak pidana korupsi sudah
sampai pemeriksaan saksi ke -4 dari 40 saksi yang akan
diperiksa, kemudian Terdakwa terkena stroke dan
berdasarkan keterangan dokter terdakwa tidak dapat
dihadirkan lagi karena akan membahayakan nyawanya,
bagaimana sikap yang dapat ditempuh Pengadilan
Negeri?
b. Bagaimana bila Penuntut Umum meminta Pengadilan
Negeri untuk memeriksa perkara tersebut secara in
absentia?
Jawaban :
a. Menghadapi keadaan ini, dapat ditempuh hal-hal
berikut:
a.1. Menunda pemeriksaan persidangan sampai
batas waktu yang tidak ditentukan sampai
Terdakwa dapat dihadirkan kembali;
a.2. Memberikan kesempatan kepada Terdakwa
untuk berobat dan melakukan perawatan
kesehatannya di bawah pengawasan JPU;
b. Tentang peradilan in absentia, dimungkinkan oleh
pasal 38 ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No.21/2000,
yaitu dalam hal Terdakwa telah dipanggil secara
sah dan tidak hadir dipersidangan tanpa alasan
yang sah.

2. PT Banda Aceh
Permasalahan:
Apakah pembagian bonus yang dilakukan oleh BUMN yang
merugi kepada seluruh jajaran Komisaris, Direksi dan
379
Karyawannya (dalam hal ini seperti yang dilakukan oleh PLN
pada Tahun 2004) dapat dikategorikan sebagai perbuatan
korupsi?
Jawaban :
Pertimbangan hukum dalam pembuktian didasarkan
pada :
a. Ketentuan-ketentuan tentang BUMN dan
Ketentuan-ketentuan pada institusi PLN;
b. Unsur-unsur yang terkandung dalam pasal tindak
pidana yang didakwakan;
c. Perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa;

PN Purbalingga
Permasalahan :
Pada persidangan perkara Tipikor, Majelis menemukan
indikasi adanya pihak-pihak lain yang terlibat akan tetapi
tidak diajukan sebagai Terdakwa, sedangkan pada
pemeriksaan saksi-saksi, terdapat saksi-saksi yang ketika
didengar keterangannya menyatakan tidak tahu, lupa atau
ragu-ragu dalam menjawab, padahal Majelis menduga saksi-
saksi ini tidak menerangkan yang sebenarnya.
a. Apakah dimungkinkan Majelis menentukan pihak-pihak
yang diduga terlibat tersebut agar dilakukan penyidikan?
b. Bagaimana bila terhadap saksi-saksi di atas diterapkan
ketentuan dengan menganalogi ketentuan Pasal 174
KUHAP (sumpah palsu)?
Jawaban :
a. Dalam hal majelis melihat adanya indikasi bahwa
masih ada orang lain yang terlibat tetapi tidak
didakwakan oleh Jaksa, maka Majelis Hakim dapat
bertanya tentang hal tersebut, tetapi tidak
berwenang memerintahkan JPU menyidik perkara
tersebut;
b. Sumpah palsu hanya dapat diterapkan apabila
saksi-saksi tidak mengatakan yang sebenarnya apa
yang dilihat, didengar atau diketahuinya sendiri.
Majelis dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang kiranya menjadikan saksi-saksi tersebut
mengatakan yang sebenarnya, walaupun tidak
terdapat dalam BAP, sebab pengakuan saksi
adalah apa yang diterangkan di muka persidangan;

il. TINDAK PIDANA KEHUTANAN


1. PT Tanjung Karang
Permasalahan :
Apabila barang bukti dalam kasus illegal logging adalah milik
orang lain yang dipergunakan Terdakwa tanpa sepenge­
tahuan pemiliknya, apakah barang bukti tersebut harus
dirampas untuk Negara atau bisa dikembalikan kepada
pemiliknya yang sah?
Jawaban :
Barang bukti dalam kasus illegal logging, walaupun
barang tersebut adalah milik orang lain dan
dipergunakan terdakwa tanpa sepengetahuan
pemiliknya, tetap harus dirampas untuk negara. Hal ini
ditegaskan secara imperatif dalam pasal 78 ayat (15)
UU No. 41 Tahun 1999.

2. PT Gorontalo
Permasalahan :
Apakah dibenarkan untuk melelang barang bukti terlebih
dahulu sambil menunggu perkaranya mempunyai kekuatan
hukum tetap?

Jawaban :
Pelelangan barang bukti dilakukan setelah Putusan
Pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali
dalam hal sebagaimana diatur dalam Pasal 45 KUHAP;

381
3. PT Palangkaraya
Permasalahan :
Seringkali secara khusus barang bukti dalam perkara illegal
logging terkait dengan hak-hak pihak lain atau pihak ketiga
seperti hak sewa, hak fiducia atau leasing. Bagaimana
solusinya?
Jawaban :
Keberatan dan pihak yang merasa bahwa barang bukti
tersebut berstatus sewa atau leasing, dsb., adalah
merupakan keberatan dalam hubungan hukum
keperdataan antar pihak-pihak yang bersangkutan, yang
bukan merupakan kewenangan Pengadilan perkara
pidana. Hal ini tidak berarti bahwa Pengadilan tidak
bersikap bijaksana/adil karena menerapkan ketentuan
sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (15) UU No. 41
Tahun 1999 tersebut;

4. PT Jambi
Permasalahan :
Bagaimana sikap Majelis Hakim terhadap benda sitaan yang
dijual lelang?
Jawaban :
Pelelangan atas benda sitaan harus mempedomani
ketentuan yang diatur dalam pasal 45 KUHAP.

5. PN Manokwari
Permasalahan :
a. Bagaimana menentukan status barang bukti yang telah
pernah diputus untuk dikembalikan kepada pemiliknya
yang berhak, sedangkan pada putusan selanjutnya
barang bukti tersebut ditetapkan dirampas untuk
negara?, padahal kedua berkas perkara itu perkara split
dan Penuntut Umum tidak menjelaskannya baik dalam
dakwaan maupun dalam tuntutannya?

382
b. Bagaimana status kelebihan uang lelang yang terlanjur
disetor ke kas negara?, apakah dapat diminta untuk
dikembalikan kepada pemiliknya?, dan bagaimana
prosedur pengembaliannya?
Jawaban:
a. Pada tindak pidana kehutanan, dalam hal JPU tidak
mencantumkan status barang bukti yang diajukan di
persidangan, kalau Terdakwa dinyatakan bersalah
maka barang bukti yang digunakan atau yang
merupakan hasil tindak pidana harus dirampas
untuk negara sesuai pasal 78 ayat (15) UU No. 41
Tahun 1999;
b. Setiap kelebihan uang lelang harus disetor ke Kas
Negara. Kelebihan uang lelang dan kewajiban
Terdakwa yang terlanjur disetor ke Kas Negara
supaya dikoordinasikan kepada instansi terkait;

6. PN Tolitoli
Permasalahan:
a. Dalam perkara illegal logging terdapat barang bukti truk
kontainer yang ternyata telah melekat hak fiducia oleh
pihak ketiga, bagaimana status barang bukti ini, apabila
Terdakwa diputus bersalah?
b. Bagaimana konsekwensi hukumnya bagi pihak ketiga
yang telah mempunyai hak fiducia terhadap barang bukti
tersebut?
Jawaban :
a. Tentang barang bukti dalam perkara tindak pidana
kehutanan, diterapkan ketentuan sebagaimana
diatur dalam Pasal 78 ayat (15) UU No. 41 Tahun
1999;
b. Terhadap hak fiducia pihak ketiga, merupakan
hubungan hukum keperdataan antara pihak-pihak
yang bersangkutan, yang bukan merupakan
kewenangan Pengadilan perkara pidana;

383
III. NARKOTIKA/ PSIKOTROPIKA

1. PT Palangkaraya
Permasalahan :
Apakah dalam perkara Tindak Pidana Narkotika/Psikotropika
Hakim dapat menerobos ketentuan pidana minimum?
Jawaban :
Hakim wajib menerapkan ketentuan sebagaimana yang
telah diatur dalam Undang-Undang (walaupun ada juga
yang berpendapat dapat dilakukan “penerobosan”
berdasar social moral justice);

2. PN Blangkejeren
Permasalahan :
Bagaimana sikap Pengadilan Negeri terhadap barang bukti
kendaraan yang telah digunakan sebagai alat angkut dalam
perkara narkotika (ganja)?

Jawaban :
Pasal 90 UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika,
mewajibkan perampasan terhadap barang-barang atau
peralatan yang digunakan untuk melakukan tindak
pidana narkotika.V
.I

IV. TINDAK PIDANA PERIKANAN


1. PT Ambon
Permasalahan :
Batas waktu 30 (tiga puluh) hari penyelesaian perkara
perikanan menemukan berbagai kendala, terutama dalam hal
Penuntut Umum tidak tepat waktu menyampaikan surat
Tuntutan. Dalam hal ini, dapatkah Majelis Hakim memutus
perkara tanpa surat Tuntutan Penuntut Umum?

Jaw aban:
Dalam hal Penuntut Umum tidak menyampaikan surat
Tuntutan padahal waktu 30 (tiga puluh) hari sudah
terlampaui, maka Majelis Hakim tidak boleh memutus

384
tanpa adanya surat penuntutan. Dalam praktek, batas
waktu tersebut dapat dilampaui. Hakim harus menegur
Penuntut Umum yang belum menyampaikan tuntutan­
nya dalam batas waktu yang ditentukan;

2. PT Manado
Permasalahan:
Perkara perikanan harus sudah diputus oleh Hakim dalam
waktu 30 (tiga puluh) hari.
a. Seringkali Jaksa/Penuntut Umum terlambat dalam
mengajukan penuntutan dengan alasan “Rentut”
(rencana tuntutan) dan Kejaksaan Negeri terlambat
sehingga penahanan akan berakhir, bagaimana sikap
Majelis Hakim?
b. Mengingat tenggang waktu habis maka Hakim segera
memutus atau setelah habis masa penahanan maka
Terdakwa keluar demi hukum?
c. Bagaimana dengan Terdakwa Warga Negara Asing?

Jaw aban:
a. Hakim tidak boleh memutus tanpa adanya surat
tuntutan dari Penuntut Umum. Dalam praktek, batas
waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut dapat dilampaui.
Akan tetapi Hakim harus menegur Penuntut Umum
yang belum menyampaikan tuntutannya dalam
batas waktu yang ditentukan;
b. Dalam hal tahanan sudah habis masa pena­
hanannya, Terdakwa harus dikeluarkan demi
hukum;
c. Dalam hal Terdakwa adalah Warga Negara Asing,
maka habisnya masa penahanan dan dikeluar­
kannya Terdakwa demi hukum, harus diberitahukan
kepada Konsulat Negara yang bersangkutan.
Demikian pula pemberitahuan putusan Banding
atau Kasasi;

385
3. PN Tanjung Pinang
Permasalahan :
Mengenai penanganan perkara-perkara perikanan (illegal
fishing) yang cenderung mengabaikan Hukum Acara Pidana
dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) oleh karena:
jangka waktu penahanan sangat singkat sedangkan
ancaman hukuman cukup tinggi, barang bukti jarang ada
yang dapat diajukan dipersidangan, Penerjemah (transletter)
untuk bahasa Vietnam, Thailand dan RRC khususnya sering
menjadi kendala untuk kelancaran jalannya persidangan dan
saksi penangkap yang tidak mau dihadirkan dipersidangan
walaupun telah dipanggil secara patut.
Bagaimana Hakim menyikapi keadaan ini?
Jawaban :
a. Lakukan koordinasi dengan instansi terkait;
b. Laksanakan sidang sesuai ketentuan hukum acara
yang berlaku;V
.

V. PERLINDUNGAN ANAK/PENGADILAN ANAK

1. PT Ambon, PT Palangkaraya, dan PN Rantau Prapat


Permasalahan :
Bagaimana Hakim Anak bersikap apabila Pembimbing
Kemasyarakatan tidak hadir dan tidak mengirimkan hasil
Penelitian Kemasyakatan (LitMas) di persidangan anak?,
bagaimana pula bila tidak ada laporan mengenai keadaan
orang tua Si anak dalam Litmas oleh karena petugas Bapas
tidak dapat bertemu dengan orang tua Terdakwa anak
tersebut, dan bagaimana pula bila selama persidangan orang
tua Terdakwa anak tidak pernah hadir mendampingi Si
anak?.
Bila tidak terdapat Bapas di suatu daerah, dan Kepala Rutan
menunjuk salah satu pegawainya untuk membuat Litmas
serta untuk mendampingi anak dipersidangan, apakah hasil
Litmas ini dapat dibacakan dipersidangan?

386
Jawaban:
Apabila Bapas tidak dapat hadir, atau tidak terdapat
Bapas di suatu daerah sehingga tidak terdapat laporan
Litmas dalam berkas, maka kewajiban Hakim untuk
memutus perkara tersebut dengan mempertimbangkan
seluruh aspek kehidupan dan lingkungan anak serta
keluarganya.
Tanpa kehadiran BAPAS dan keluarga anak tersebut,
tidak berarti bahwa sidang pengadilan tidak dapat
dilanjutkan. Demikian pula apabila orang tua atau
penasihat hukum tidak dapat dihadirkan.
Pegawai Rutan yang ditunjuk oleh Kepala Rutan dapat
bertindak sebagai BAPAS sepanjang hal itu diperlukan
demi kepentingan yang terbaik untuk anak (berdasarkan
Yurisprudensi tetap MARI, karena keadaan khusus).
Dalam hal tersedia Penasihat Hukum, tetapi terdakwa/
keluarga terdakwa tidak mampu, Hakim menunjuk
Penasihat Hukum.

2. PT Jambi, PN Kolaka, dan PN Arga Makmur


Permasalahan :
a. Apakah ketentuan maksimum pidana penjara terhadap
anak sebagai diatur dalam Pasal 26 ayat (1) UU No.3
Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, dapat juga
ditafsirkan sebagai pembatasan minimum pidana
penjara 1/2 dan minimum ancaman pidana penjara bagi
orang dewasa?
b. Apakah hal ini juga diartikan bahwa batas minimum
pengenaan pidana penjara terhadap anak sekurang-
kurangnya 1 (satu) hari sebagaimana diatur dalam Pasal
12 ayat (2) KUHP?
c. Dalam perkara banding/kasasi anak, adakalanya lama
putusan pidana penjara yang dijatuhkan hampir sama
dengan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa,
apakah dalam hal ini dapat diperintahkan supaya
Terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan?

387
d. Sering terjadi pihak keluarga dan atau Penasihat Hukum
Tedakwa anak lebih dahulu mengetahui putusan
banding/kasasi daripada Pengadilan Negeri, dan lalu
mendesak Pengadilan Negeri supaya segera mem-
beritahu Kejaksaan Negeri untuk segera mengeksekusi
putusan, bagaimana sikap Pengadilan Negeri menyikapi
hal ini?

Jawaban :
a. Memang benar bahwa pidana bagi anak adalah 1/2
dan ancaman maksimum pidana yang dapat
dijatuhkan kepada orang dewasa (Pasal 26 ayat (1)
UU No.3 Tahun 1997).
Hal ini diberlakukan juga untuk pidana denda dan
ancaman pidana penjara minimum yang diatur
secara khusus dalam Undang-undang (sesuai
Yurisprudensi tetap MARI);
b. Pemidanaan paling singkat apabila tidak ditentukan
dalam UU Khusus (misal psikotropika) adalah 1
hari, sesuai ketentuan umum dalam KUHP.
c. Dalam hal Putusan Banding/Kasasi memutus sama
dengan masa tahanannya, maka anak harus segera
dikeluarkan dari tahanan.
d. Eksekusi pemidanaan bagi anak, harus menunggu
salinan putusan, setidak-tidaknya ekstrak vonnis
(petikan) yang biasanya dikirim melalui faksimili.

PN Kolaka
Permasalahan :
Apabila UU Perlindungan Anak dan UU Pengadilan Anak
saling bersinggungan dalam suatu perkara anak, bagaimana
Hakim bersikap?

Jawaban :
Dalam perkara anak, anak adalah pelaku sekaligus
korban dan ketidak dewasaannya, lingkungan,
keluarganya. Oleh karena itu Hakim harus lebih
bijaksana serta arif dalam memeriksa dan memutus
perkara anak, dengan mendasarkan kedua Undang-
undang tersebut secara paralel;

4. PN Palembang
Permasalahan:
a. Dalam satu berkas perkara terdapat Terdakwa dewasa
dan anak, bagaimana tata cara persidangannya?
b. Bagaimana apabila putusan perkara di atas ada
Terdakwa anak yang bebas, dan ada pula Terdakwa
anak yang dipidana penjara, apakah perkara kasasi
terhadap putusan bebasnya harus menunggu putusan
banding terhadap Terdakwa anak yang dipidana
penjara?
Jaw aban:
a. Sidang dilaksanakan sesuai Pasal 7 ayat (1) UU
No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, yang
berbunyi : “Anak yang melakukan tindak pidana
bersama-sama dengan orang dewasa diajukan ke
sidang anak, sedangkan yang dewasa diajukan ke
sidang bagi orang dewasa;
b. Terhadap terdakwa anak yang dipidana sedangkan
yang lainnya bebas, maka apabila Jaksa atau
Terdakwa mengajukan banding atau kasasi, maka
harus ditunggu putusan yang terakhir.

5. PN Pati
Permasalahan:
a. Apakah di benarkan pernyataan kasasi yang diajukan
oleh orang tua bukan oleh Terdakwa anak sendiri?
b. Dalam hal di atas ini, apakah orang tua juga harus
dilengkapi dengan surat kuasa khusus dan anak kepada
ayahnya?

Jaw aban:
a. Pernyataan Banding/kasasi yang diajukan oleh
orangtua anak dapat diterima karena orangtua anak

389
secara hukum adalah wali amanah dan anak
tersebut;
b. Surat kuasanya dapat dibuat dihadapan hakim dan
diketahui oleh hakim yang bersangkutan;

VI. KDRT
PT Jayapura dan PN Serui
Permasalahan :
Perkawinan yang dilakukan secara hukum adat di Papua, apakah
apabila terjadi tindak pidana dalam ruang lingkup keluarga dapat
juga dipidana dengan mempergunakan UU KDRT?
Jawaban :
Istri yang dikawini yang dilaksanakan secara adat di Papua
dapat dilindungi berdasarkan UU No.23 Tahun 2004 karena
perempuan tersebut berada dalam lingkup rumah tangga
suami (Pasal 2).
KDRT yang dilakukan oleh suami tersebut dapat diperiksa
dan diadili berdasarkan UU No.23 Tahun 2004;V
I.

VII. TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG


PT. Kalimantan Selatan
Permasalahan ;
Berkenaan dengan ketentuan Pasal 37 UU No. 25 Tahun 2003
tentang Pencucian Uang yang menentukan bahwa Hakim dapat
menetapkan harta kekayaan Si Terdakwa yang telah meninggal
dunia yang telah disita, dirampas untuk Negara.
Apakah ahli waris dapat mengajukan keberatannya terhadap
penetapan Hakim tersebut?
Jawaban :
Undang-undang tidak mengatur tentang hal tersebut.
Dalam praktek, terhadap suatu Penetapan dan Pengadilan
Negeri dapat diajukan perlawanan kepada Mahkamah
Agung;

390
VIII. LAIN-LAIN
1. PN Sukoharjo
Permasalahan :
Seringkali tuntutan dalam perkara-perkara tindak pidana
khusus diajukan ketika waktu penahanan Terdakwa hampir
habis, bagaimana Pengadilan Negeri menyikapi hal ini?

Jawaban :
Sebaiknya tentang tahanan yang hampir habis masa
penahanannya padahal tuntutan belum juga diajukan,
masalah ini dibicarakan dengan Kepala Kejaksaan
Negeri setempat, karena masalah tuntutan adalah
tanggung jawab instansi Kejaksaan.

2. PN Meulaboh
Permasalahan:
Bagaimana sikap Hakim apabila menerima berkas perkara
pidana yang didalamnya terkandung 2 (dua) jenis tindak
pidana yang berlainan (yakni: tindak pidana khusus dan
pidana umum)?

Jaw aban:
Harus diperhatikan hukum acara yang berlaku bagi
masing-masing tindak pidana yang bersangkutan,
khususnya kewenangan Penyidik dan Penuntut Umum.
Pelanggaran terhadap hukum acara dapat menye­
babkan tidak sahnya penyidikan dan penuntutan;

391
PERM ASALAHAN HUKUM

PIDANA UMUM

JAKARTA
4 S.D 7 AGUSTUS 2008
PERMASALAHAN-PERMASALAHAN DARI DAERAH
TINDAK PIDANA UMUM

PENGADILAN TINGGI JAMBI


Dalam perkara “Illegal Loging” barang buktinya cukup banyak,
Penyidik dengan berdasarkan Pasal 45 ayat (1) KUHAP melakukan
pelelangan barang bukti kayu tanpa mengajukan ijin ke Ketua
Pengadilan Negeri.

1. Pertanyaan:
Apakah dapat dikabulkan permintaan persetujuan penyitaan
yang dimohon oleh penyidik Kehutanan terhadap lahan Hutan
Produksi yang dikuasai pihak ketiga secara tidak sah, sedangkan
berdasarkan Pasal 50 UU No.1 tahun 2004 Tentang
Perbendaharaan negara tidak diperbolehkan penyitaan terhadap
kekayaan negara?
Jawaban :
Berdasarkan pasal 50 huruf (d), bahwa barang tidak
bergeraK/hak kebendaan lainnya milik Negara/Daerah, tidak
dapat disita akan tetapi karena barang tersebut berada di
tangan pihak ketiga dan dikuasai secara tidak sah, maka
terhadap benda/barang tersebut dapat disita.

2. Pertanyaan:
Dalam Pasal 45 ayat (1) huruf a KUHAP pada prinsipnya
mengatur bahwa “benda sitaan dengan kriteria tertentu yang
perkaranya masih ada ditangan penyidik atau Penuntut Umum,
dapat dilelang?
Jawaban :
Berdasarkan Pasal 45 UU No. 8 tahun 1985, Pasal 45 A
memuat apabila perkara masih ada ditangan Penyidik /
Penuntut Umum, benda tersebut dapat dijual lelang / dapat
diamankan Penyidik / Penuntut Umum, dengan disaksikan
oleh Kuasanya, kemudian dalam Kep. Men. Keh. RI No. M-
14-PW. 07.03 Tahun 1983 tentang tambahan pelaksanaan

393
KUHAP “menegaskan” jika akan mengubah status sitaan
negara (dijual, dimusnahkan, dsb) harus mendapat ijin dari
ketua Pengadilan Negeri.

3. Pertanyaan:
Di Persidangan, Jaksa Penuntut Umum hanya mengajukan
surat bukti berupa “Risalah Lelang” dan “Bukti Penitipan Uang
hasil lelang di BRI” tanpa bukti tertulis izin penjualan lelang dan
Ketua Pengadilan Negeri, apakah dapat dibenarkan?
Jawaban :
Dalam hal Jaksa Penuntut Umum melakukan pelelangan
barang bukti tanpa ijin Ketua Pengadilan Negeri, hal tersebut
tidak dibenarkan, karena tidak sesuai dengan Kep. Men.
Keh. No. M-14-PW. 07.03 Tahun 1983 tentang tambahan
pelaksanaan KUHAP yang “menegaskan” jika akan
mengubah status sitaan negara (dijual, dimusnahkan, dsb)
harus mendapat ijin dari ketua Pengadilan Negeri.

4. Pertanyaan:
Sering terjadi bahwa pihak Terdakwa (keluarga/Penasehat
Hukum Terdakwa) lebih dulu mengetahui isi putusan dan
Pengadilan Negeri dan selanjutnya pihak terdakwa mendesak
Pengadilan menjalankan pemberitahuan ke Kejaksaan supaya
segera dapat dieksekusi.
Apakah hanya berdasarkan faxcimile dari Pengadilan Tinggi /
Mahkamah Agung, maka Pengadilan sudah dapat melaksanakan
pemberitahuan petikan putusan ke pihak Kejaksaan?

Jawaban :
Dapat, untuk keperluan eksekusi terutama bagi perkara-
perkara yang terdakwanya ditahan (dalam tahanan),
sedangkan salinan resmi dapat dijadikan dasar perhitungan
tenggang waktu dalam rangka memajukan upaya hukum.

5. Pertanyaan:
Dalam KUHAP Pasal 23 dimungkinkan adanya pengalihan
penahanan dan tahanan Rutan ke tahanan Kota.
394
Bagaimana kalau Terdakwa bertempat tinggal di kota lain
(jauh) diluar yuridiksi Pengadilan Negeri yang melakukan
pengalihan penahanan, dan siapa yang mempunyai kewenangan
untuk melakukan penahanan apakah Pengadilan Negeri dimana
Terdakwa secara nyata bertempat tinggal? Dan siapa yang
melakukan pengawasan.
Jawaban :
Yang mempunyai kewenangan melakukan penahanan
adalah Pengadilan Negeri yang menyidangkan perkara dan
untuk pengawasan terhadap Terdakwa tersebut berada pada
Jaksa Penuntut Umum sebagai pelaksana penetapan Hakim.

6. Pertanyaan :
Untuk perkara-perkara tertentu, Jaksa Penentut Umum
memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mengajukan
Tuntutan pidana dengan alasan Rentut Pidana belum turun,
sedangkan perpanjangan penahanan terdakwa hampir habis
bahkan tidak mungkin untuk diperpanjang lagi.
a. Bagaimana jalan keluar agar pemeriksaan perkara tidak
berlarut-larut?
b. Apakah Majelis Hakim diperkenankan untuk menjatuhkan
putusan tanpa adanya tuntutan pidana dan Jaksa Penuntut
Umum untuk memberikan rasa keadilan dan menjamin
kepastian hukum bagi Terdakwa?

Jawaban:
a. Bahwa Majelis Hakim yang menyidangkan perkara
hendaknya melaporkan kepada Ketua Pengadilan
Negeri agar ketua Pengadilan Negeri berkoordinasi
dengan Kepala Kejaksaan Negeri setempal (koordinasi
secara honzontal dan vertikal).
b. Tidak boleh, karena dapat mengakibatkan putusan batal
demi hukum.

395
PENGADILAN TINGGI GORONTALO

1. Pertanyaan:
Lampiran SEMA Nomor 1 tahun 1981 tanggal 22 Januari
1981 Mahkamah Agung melampirkan Keputusan Mahkamah
Agung tanggal 21 Januari 1981 Nomor 121/KJKR/1980 dalam
putusan Mahkamah Agung termaksud, tersirat, Pengadilan
Tingkat Pertama menjatuhkan amar Tuntutan Jaksa tidak dapat
diterima dengan bentuk putusan (vide lampiran SEMA Nomor 1
tahun 1981). Atas dasar tersebut oleh karena lampiran tersebut
merupakan bagian tidak terpisahkan dengan SEMA Nomor 1
tahun 1981 dikirimkan ke Pengadilan seluruh Indonesia, apakah
tidak sebaiknya dalam praktek peradilan sekarang ini demi
kepastian hukum dan untuk keseragaman mengacu kepada
lampiran termaksud in casu dengan bentuk putusan?
Jawaban :
Jika berpegang pada laporan SEMA No. 1 tahun 1981 /
tanggal 21 Januari 1981 maka terhadap putusan “tidak dapat
diterima”, harus dengan bentuk putusan.

2. Pertanyaan :
Apakah tidak ada solusi dan atau upaya-upaya lain selain
harus menunggu terdakwa sembuh, dan bahkan menunggu
sampai terdakwa meninggal dunia, bagaimana dengan barang
bukti yang dikuasai oleh terdakwa yang tidak dapat diperiksa ?
sementara masyarakat menunggu untuk itu, demi penegakan
hukum dan tentunya kerugian negara sementara tidak dapat
dikembalikan karenanya? mohon penjelasan...

Jawaban :
Bahwa terhadap barang bukti yang dikuasai oleh terdakwa
yang pemeriksaannya ditangguhkan karena sakit dapat
dilelang terlebih dahulu dan tidak harus menunggu terdakwa
sembuh, (vide pasal 45 ayat 1 KUHAP)

396
3. Pertanyaan:
Untuk menghindari alasan sakit yang tidak dapat
disembuhkan disalah gunakan dalam kasus serupa (menjadi
preseden). Apakah diperbolehkan melakukan penerobosan
hukum dengan melakukan pemeriksaan secara In Absensia demi
untuk kepentingan Negara, kepentingan umum khususnya
terhadap kasus-kasus yang merugikan keuangan / perekonomian
Negara kendatipun untuk itu syarat-syarat formil pemeriksaan In
Absensia tidak terpenuhi? Mohon penjelasan...
Jawaban :
Tidak boleh, karena pengertian In Absensia adalah dari sejak
semula terdakwa tidak diketahui keberadaannya, kecuali
dalam tindak pidana tertentu. Misalnya tindak pidana Money
Laundry, tindak pidana korupsi.

4. Pertanyaan:
Dalam perkara yang diatur dalam U.U. No. 31 tahun 1999 jo
U.U. No. 20 tahun 2001 telah diatur tentang batas minimum bagi
terdakwa pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun. Bagi
Majelis Hakim tingkat pertama telah dihimbau oleh Pimpinan
Mahkamah Agung RI untuk tidak melanggar batas minimal
hukuman tersebut sebagaimana yang telah ditentukan dalam
Undang-Undang, bagi yang melanggar batas minimum tersebut
dianggap Majelis Hakim tidak profesional dan akan diambil
tindakan oleh Mahkamah Agung R.l.
Selama ini putusan Mahkamah Agung RI selalu menjadi
acuan dan yurisprudensi bagi hakim-hakim yang dibawahnya,
namun demikian bagaimana apabila ada putusan Majelis Hakim
Agung yang memutus perkara tindak pidana korupsi hukumannya
berupa hukuman percobaan. Apakah putusan Hakim Agung yang
seperti tersebut bisa dipakai sebagai acuan dan diikuti oleh
Hakim-Hakim peradilan dibawahnya didalarn memutus perkara
korupsi dalam kasus yang sama?

Jawaban :
Tidak boleh, karena tidak semua putusan Mahkamah Agung
dapat dijadikan sebagai acuan oleh pengadilan dibawahnya

397
(Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri), kecuali apabila
putusan tersebut sudah menjadi yurisprudensi.

PENGADILAN TINGGI BENGKULU


PENGADILAN NEGERI BANGKULU

1. Pertanyaan:
Apakah Pengadilan Tinggi pada saat memeriksa perkara
pidana dalam tingkat banding, atas permohonan pinjam pakai
barang bukti, dapat mengabulkan permohonan tersebut sebelum
perkara diputus, mengingat Pengadilan Tinggi juga sebagai
Yudex Facti?
Jawaban :
Dapat, karena tanggung jawab yuridis terhadap barang bukti
tersebut berada di Hakim Tinggi yang menyidangkan perkara
tersebut.

PENGADILAN NEGERI CURUP


1. Pertanyaan:
Putusan Kasasi perkara pidana yang diterima dari
Mahkamah Agung RI. Oleh Pengadilan Negeri baru berupa
Extract Vonis, dalam hal terdapat permohonon Peninjauan
Kembali (PK) atas putusan Kasasi tersebut dapatkah
diterima/diregister oleh Pengadilan Negeri, karena jika diterima /
diregister, permohonan PK tersebut harus diperiksa yang
tentunya memerlukan berkas perkara selengkapnya?
Jawaban :
Extract Vonis atau petikan putusan tidak dapat dijadikan
dasar untuk mengajukan permohonan PK, yang dapat
dijadikan sebagai dasar permohonan PK adalah salinan
putusan resmi.

PENGADILAN NEGERI WONOSOBO


1. Pertanyaan:
Bahwa Mahkamah Agung telah mengirim petikan putusan
No.93 K/Pid/Sus/2007 tanggal 12 September 2007 atas nama

398
terdakwa ENDRI SUMARGITO, yang telah diterima di
Pengadilan Negeri WONOSOBO pada tanggal 4 Oktober 2007,
namun sampai saat ini berkas perkara dan salinan resmi putusan
Mahkamah Agung tersebut Pengadilan Negeri Wonosobo belum
menerima dan terdakwa saat ini sudah keluar demi hukum dan
tahanan RUTAN Wonosobo karena telah habis menjalani masa
pidana selama 1 (satu) tahun penjara, Mohon penjelasan...
Jawaban :
Petikan putusan tidak dapat dijadikan dasar untuk
mengajukan permohonan PK, yang dapat dijadikan sebagai
dasar permohonan PK adalah salinan putusan resmi.

2. Pertanyaan:
Memperhatikan pasal 56 ayat (1) KUHAP dan Pasal 55 U.U.
No.3 Tahun 1997, yang kedua U.U. tersebut mewajibkan
kehadiran Penasihat Hukum untuk mendampingi terdakwa di
persidangan, namun karena sampai saat ini Pemerintah/
Mahkamah Agung tidak mengeluarkan anggaran untuk
kepentingan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-
Undang tersebut diatas, sehingga ketentuan-ketentuan yang
dimaksud dalam Undang-Undang tersebut kurang terpenuhi.
Mohon solusi...
Jawaban :
Untuk biaya bantuan hukum oleh Ketua Pengadilan dapat
diusulkan untuk dimasukan ke dalam DIPA.

3. Pertanyaan:
Bahwa akhir-akhir ini volume perkara pidana khususnya di
Pengadilan Negeri Wonosobo semakin meningkat yang dengan
disertai pula adanya barang bukti khususnya sepeda motor serta
barang bukti lainya, untuk pengamanan terhadap barang bukti
tersebut menjadi sangat penting, karena keterkaitan dengan
perkara yang sedang diperiksa di persidangan Pengadilan,
sedangkan Pengadilan Negeri Wonosobo sampai saat ini belum
mempunyai tempat khusus penyimpanan barang bukti tersebut.
Mohon solusi...

399
Jawaban :
Terhadap barang bukti yang diajukan di persidangan perkara
pidana, tanggung Jawab yuridis atas barang bukti tetap
berada di Pengadilan yang memeriksa perkara tersebut dan
tidak menutup kemungkinan disimpan di Kejaksaan
sepanjang di daerah Pengadilan Negeri tersebut tidak
terdapat Rubasan.

PENGADILAN NEGERI KOLAKA


Pasal 45 A ayat (3) Undang-Undang No. 5 tahun 2004 tentang
Mahkamah Agung menyatakan bahwa “Permohonan kasasi terhadap
perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau permohonan
kasasi yang tidak memenuhi syarat-syarat formal, dinyatakan tidak
dapat diterima dengan penetapan Ketua Pengadilan tingkat pertama
dan berkas perkaranya tidak dikirimkan ke Mahkamah Agung.

1. Pertanyaan:
Apakah untuk permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang
tidak memenuhi syarat formal, misalnya terlambat mengajukan
permohonan PK, diperlakukan sama seperti permohonan Kasasi
yaitu dinyatakan tidak dapat diterima dengan penetapan ketua
Pengadilan tingkat pertama dan berkas perkaranya tidak
dikirimkan ke Mahkamah Agung?

Jawaban :
Pasal 45 A ayat 3 UU No. 5 tahun 2004, hanya mengatur
permohonan kasasi yang tidak memenuhi syarat-syarat
formal, dinyatakan tidak dapat diterima, dengan surat
keterangan ketua pengadilan, yang menyatakan perkaranya
tidak dikirimkan ke Mahkamah Agung, sedangkan untuk
perkara PK aturan yang demikian tidak ada, maka
permohonan PK yang tidak memenuhi syarat formal, tetap
harus diterima dan dikirim ke Mahkamah Agung.

2. Pertanyaan:
Jika memang berkas perkaranya harus dikirim, apakah
perkara tersebut bisa dilakukan eksekusi sebelum adanya

400
putusan Peninjauan Kembali (PK) ? karena sesuai ketentuan,
Peninjauan Kembali tidak menangguhkan eksekusi.
Jawaban :
Benar; karena permohonan PK tidak menangguhkan
eksekusi.

PENGADILAN NEGERI SUMBER


1. Pertanyaan:
Dijumpai permasalahan dalam kasus-kasus pelanggaran
Perda. Di satu sisi, pelanggaran-pelanggaran terhadap suatu
ketentuan Perda (misalnya : tentang penertiban lingkungan
masyarakat, minuman keras, penjualan minyak tanah eceran
tanpa ijin dan sebagainya), pada umumnya bersifat sangat ringan
dan sangat sederhana serta mudah penanganannya sehingga
tepat jika diadili dengan Acara Pemeriksaan Cepat, akan tetapi
di sisi lain, ancaman pidana dalam perda tersebut adalah 6 bulan
sehingga tidak memenuhi kriteria Pasal 205 KUHP yang
maksimal ancaman hukumannya adalah 3 bulan dan tidak tepat
dijatuhkan dengan Acara Pemeriksaan Cepat, bagaimana
menyingkapi pelanggaran-pelanggaran perda yang demikian ini?

Jaw aban:
Perkara yang demikian tetap dapat diperiksa secara cepat,
sepanjang belum ada ketentuan lain yang mengatur.

2. Pertanyaan:
Dalam pelanggaran-pelanggaran tertentu terhadap peraturan
perundang-undangan lalu lintas jalan yang diajukan ke
Pengadilan oleh Penyidik berdasarkan pasal 211 KUHAP dengan
Acara Pemeriksaan Cepat, tidak ditemukan ancaman pidana
dalam pasal-pasal ketentuan peraturan perundang-undangan lau
lintas itu, sehingga Hakim kesulitan menjatuhkan jenis pidana
kepada Pelanggar aturan itu, Bagaimana menyingkapi pengajuan
perkara yang demikian tadi.

Jaw aban:
Berkas perkara tersebut dikembalikan kepada penyidik.

401
PENGADILAN NEGERI KUALA TUNGKAL
1. Pertanyaan:
Apakah dapat dikabulkan permintaan persetujuan penyitaan
yang dimohon oleh penyidik kehutanan terhadap lahan Hutan
Produksi yang dikuasai pihak ketiga secara tidak sah sedangkan
berdasarkan Pasal 50 UU. No.1 tahun 2004 Tentang Perbenda­
haraan Negara tidak diperbolehkan penyitaan terhadap kekayaan
negara?
Jawaban :
Berdasarkan pasal 50 huruf (d), bahwa barang tidak
bergerak/hak kebendaan lainnya milik Negara/Daerah, tidak
dapat disita akan tetapi karena barang tersebut berada di
tangan pihak ketiga dan dikuasai secara tidak sah, maka
terhadap benda/barang tersebut dapat disita.

2. Pertanyaan:
Apakah tidak didampinginya seorang terdakwa pada tahap
penyidikan dapat menjadi dasar eksepsi bagi Penasehat Hukum
agar tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima?

Jawaban :
Dapat, lihat Pasal 156 ayat 1 dan 2 KUHAP.

PENGADILAN NEGERI SUKOHARJO


1. Pertanyaan:
Di dalam pemeriksaan perkara pidana khususnya
menyangkut perkara korupsi, illegal logging, perkara kekerasan
terhadap anak, korupsi, narkotika, sering tuntutan yang dijatuhkan
oleh Penuntut Umum lama tidak dibacakan (lebih dari dua
minggu, bahkan sering empat minggu), hal ini menyebabkan
waktu penahanan hampir habis, dan hal ini menimbulkan
kekhawatiran terdakwa bebas demi hukum.

Jaw aban:
Lihat jawaban tentang penjelasan RenTut. (hal ini dapat
diatasi melalui koordinasi antar pimpinan).

402
2. Pertanyaan:
Masih sering dijumpai penetapan penahanan oleh
Pengadilan Tinggi dalam perkara berdasar pasal 29 KUHAP atau
perkara yang banding surat penetapannya terlambat diterima
(mepet), mohon kiranya penetapan dapat lebih cepat diterima
oleh Pengadilan Negeri.
Jawaban :
Bukan pertanyaan (tidak ada jawaban)

3. Pertanyaan :
Berita acara eksekusi oleh Kejaksaan Negeri sering tidak
dikirim atau terlambat diterima, sehingga mempersulit Ketua
Pengadilan Negeri dalam melakukan pengawasan terhadap
eksekusi terdakwa.
Jawaban :
Harus tetap berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri.

4. Pertanyaan:
Belum tersedianya ruang sidang khusus bagi anak,
mengakibatkan kendala bagi lancarnya pemeriksaan perkara
sesuai dengan prinsip-prinsip pengadilan anak.

Jaw aban:
Bukan Pertanyaan.

PENGADILAN NEGERI PURWOREJO


Apabila eksepsi yang dijatuhkan oleh Penasehat Hukum
Terdakwa mengenai dakwaan batal demi hukum, ternyata dikabulkan
oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri, dengan amar putusan pada
pokoknya:
Putusan Sela :
- Mengabulkan Eksepsi Penasehat Hukum Terdakwa;
- Menyatakan Dakwaan Penuntut Umum batal demi Hukum;
- Memerintahkan agar terdakwa dibebaskan dari tahanan:
- Membebankan biaya perkara kepada Negara;

403
Kemudian atas putusan sela tersebut, Penuntut Umum
menyatakan mengajukan perlawanan (vide pasal 156 ayat 3 KUHAP)
kepada Pengadilan Tinggi, dan ternyata Pengadilan Tinggi
memutuskan Menguatan Putusan Sela Pengadilan Negeri tersebut.

1. P ertanyaan:
Apabila Penuntut Umum mengajukan kembali perkara
tersebut dengan dakwaan yang sudah diperbaiki, bagaimana
status tahanan terdakwa tersebut, (apabila Majelis akan menahan
terdakwa) ? apakah Majelis Hakim yang baru atas penunjukan
Ketua Pengadilan Negeri, membuat penahanan yang baru
selama 30 hari ataukah hanya menyambung atau melanjutkan
saja sisa penahanan yang ada?
Jaw aban:
Masa tahanan yang telah dijalani terdakwa tetap diperhi­
tungkan, karena KUHAP mengedepankan hak asasi
Tersangka/Terdakwa.

2. P ertanyaan:

Bagaimana dengan berkas perkaranya, Apakah dikembali­


kan oleh Pengadilan Negeri kepada Penuntut Umum atau
menjadi arsip di Pengadilan Negeri.

Jawaban :
Berkas perkara dikembalikan kepada Jaksa Penuntut Umum
dan sebagai arsip di Pengadilan Negeri berkas tersebut
dapat di copy.

3. P e rtan y aan :
Apabila Penuntut Umum membuat berkas baru, apakah
dibolehkan Penuntut Umum memfotocopy berkas perkara
tersebut, kemudian mengajukan berkas perkara dengan dakwaan
yang sudah diperbaiki, namun BAP saksi-sksi dan terdakwa
hanya dengan foto copy. Apakah nantinya Pengadilan boleh
menerima, memeriksa dan memutuskan perkara tersebut yang
hanya dengan foto copy.

404
Jawaban :
Sudah dijawab di atas.

4. Pertanyaan:
Dalam perkara pidana yang sudah sampai pada tahap
putusan, dan terdakwa sudah tiga kali dipanggil oleh Jaksa
Penuntut Umum tidak hadir dipersidangan, apakah perkaranya
dapat diputus tanpa kehadiran terdakwa, sedangkan perkara
yang lain (perkara diseplits) baru sampai pada tahap pemeriksaan
terdakwa. Apakah tuntutan tetap dapat dilakukan tanpa kehadiran
terdakwa.
Jawaban :
Terhadap perkara yang sudah diajukan tuntutan, dan pada
sidang penjatuhan putusan terdakwa tidak hadir walaupun
sudah tiga kali dipanggil oleh Penuntut Umum, maka Majelis
Hakim dapat memutus perkara tersebut tanpa kehadiran
terdakwa.

PENGADILAN NEGERI MUNGKID


1. Pertanyaan:
Masalah penyitaan yang dilakukan oleh penyidik, yang pada
umumnya tidak sesuai dengan Pasal 129 ayat (1) KUHAP, yakni
harus disaksikan oleh Kepala Desa atau Ketua Lingkungan,
apakah penyitaan tersebut sah? Kalau tidak sah bagaimana
solusinya?
Jawaban :
Penyitaan itu tetap sah, dengan ketentuan diketahui atau
diperlihatkan kepada terdakwa dan keluarga dan 2 (dua)
orang saksi (Pasal 129 ayat 2 KUHAP)

2. Pertanyaan:
Hampir tidak pernah pihak Penyidik minta ijin terlebih dahulu
untuk melakukan sita barang bukti dengan alasan : “Dalam
keadaan yang sangat perlu dan mendesak” (sebagaimana dalam
Pasal 38 ayat (2) KUHAP), yang dalam penjelasan pasal tersebut

405
tidak dijelaskan, apakah definisi “Dalam keadaan yang sangat
perlu dan mendesak"?
Jawaban :
Yang dimaksud keadaan mendesak adalah dalam suatu
keadaan dimana surat ijin Pengadilan Negeri tidak mungkin
diperoleh dengan cara yang singkat oleh penyidik, misalnya
dikhawatirkan barang bukti tersebut dimusnahkan, dipindah-
tangankan dan lain-lain.

PENGADILAN TINGGI ACEH


Pengadilan Negeri Langsa
- Di dalam persidangan perkara-perkara korupsi sering diajukan
kwitansi, bukti-bukti pembayaran, notulen, surat keputusan dan
sebagainya. Kalau surat-surat tersebut dikatagorikan sebagai alat
bukti maka hukumnya adalah wajib oleh Jaksa Penuntut Umum di
ajukan di Persidangan, karena merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan berkas perkara cq proses pembuktian.
- Dalam perkara tersebut di atas timbul permasalahan apabila
Jaksa Penuntut Umum tidak mau menyerahkan surat-surat
sebagaimana diatas sebagai bahan pembuktian, namun hanya
diperlihatkan saja pada Majelis, walaupun dalam hal ini Majelis
telah memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk menyerahkan
surat-surat tersebut dan dicatat dalam berita acara persidangan,
namun Jaksa Penuntut Umum tetap tidak mau menyerahan surat-
surat tersebut, sebagai bahan pembuktian dan merupakan satu
kesatuan dari perkara tersebut.1

1. a. Pertanyaan:
Bagaimana nantinya jika Majelis Hakim Banding atau Kasasi
meminta bukti surat-surat tersebut di atas untuk kepentingan
pemeriksaan berkas perkaranya? padahal surat-surat tersebut
diperoleh melalui penyitaan oleh penyidik dan telah disetujui oleh
Ketua Pengadilan Negeri, dan tidak diajukan di Persidangan oleh
Jaksa Penuntut Umum.
Jaw aban:
Karena dari semula Majelis meminta dari Jaksa Penuntut
Umum tapi tidak diserahkan; maka apabila Majelis Hakim

406
banding/kasasi meminta surat bukti tersebut, maka hal ini
tidak dapat dipenuhi dan tidak perlu dipertimbangkan dalam
putusan.

b. Pertanyaan:
Apakah dibenarkan apabila Majelis Hakim Pengadilan Negeri
tidak mempertimbangkan keberadaan surat-surat tersebut baik
sebagai alat bukti maupun barang bukti, namun dalam amar
putusannya ditentukan status hukumnya?
Jawaban :
Barang bukti/surat bukti yang tidak diajukan oleh Jaksa
Penuntut Umum di muka Persidangan tidak perlu dipertim­
bangkan dalam putusan.

2. Pertanyaan:
Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP menyebutkan : “dalam hal
suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri,
sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada
praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur”.
Bagaimana mengartikan pengertian “sudah mulai diperiksa oleh
Pengadilan Negeri”, apakah diartikan ketika perkara tersebut
dilimpahkan ke Pengadilan Negeri atau ketika setelah ditunjuk
Majelis Hakimnya oleh Ketua Pengadilan Negeri, dengan
penetapan, atau setelah ditentukan hari sidangnya oleh Majelis
Hakim, ataukah setelah disidangkan pokok perkaranya?

Jawaban :
Yang dimaksud dengan perkara sudah mulai diperiksa
adalah sejak perkara mulai disidangkan.

3. Pertanyaan:
Dalam teori hukum pidana diajarkan ada 3 (tiga) jenis
putusan pidana, yaitu masing-masing berupa penghukuman (bila
dakwaannya terbukti), pelepasan (onslaag) ketika dakwaan
dinyatakan terbukti tetapi perbuatan terdakwa bukan merupakan
tindak pidana, serta pembebasan (vrijpraak) bila dakwaan tidak
terbukti. Bagaimana jika yang terbukti tersebut bukan pidana akan

407
tetapi yang terbukti masuk bidang hukum lain, Bagaimana Hakim
harus menyatakan dalam amar putusannya apakah vrijpraak,
atau onslaag ketika surat dakwaan dinyatakan terbukti, tetapi ada
diketemukan alasan pemaaf atau alasan pembenar dalam
perbuatan terdakwa itu.
Jawaban :
Lepas dari tuntutan hukum (onslaag).

4. Pertanyaan:
Lazimnya, bila sebuah dakwaan disusun secara alternatif
subsidaritas, maka dakwaan primair harus dibuktikan terlebih
dahulu, dan apabila dakwaan primair tidak terbukti maka barulah
dibuktikan dakwaan subsidair, dan seterusnya.
Bagaimana bila dakwaan primair terbukti, tetapi perbuatan
terdakwa bukan merupakan tindak pidana yang oleh karenanya
demi hukum terdakwanya harus lepas (onslaag), apakah Hakim
harus membuktikan dakwaan subsidair?
Jaw aban:
Kalau bentuk dakwaannya (alternatf subsidaritas), maka
dakwaan berikutnya harus dibuktikan.

5. Menurut KUHAP, pejabat yang melaksanakan penetapan hakim


adalah Jaksa Penuntut Umum, namun KUHAP tidak mengatur
tentang sanksi tatkala penetapan hakim tidak dilaksanakan oleh
Jaksa Penuntut Umum.
a. Pertanyaan:
Bagaimana Hakim harus menyingkapi ketika Jaksa Penuntut
Umum enggan melaksanakan penetapan Hakim, padahal
penetapan itu sangat urgent untuk dilaksanakan.
Jawaban :
Ditempuh melalui koordinasi antar pimpinan.
b. Pertanyaan:
Bisakah Hakim memanggil saksi yang dianggap penting
sehubungan dengan pembuktian tanpa melalui perintah
kepada Jaksa Penuntut Umum lagi, seperti proses acara
perdata.
408
Jawaban :
Tidak boleh karena yang berkewajiban menghadapkan
saksi dan melaksanakan penetapan Hakim adalah
Jaksa Penuntut Umum.

6. Pertanyaan:
Menurut ketentuan KUHAP dan dalam praktek praperadilan,
bahwa yang dijadikan dasar pemeriksaan, tuntutan, pembelaan,
dan putusan hakim pidana adalah surat dakwaan Jaksa Penuntut
Umum.
Bagaimana jika Jaksa Penuntut Umum menyusun surat
dakwaan tunggal, yaitu pasal 359 KUHP saja, yaitu “karena
kealpaannya menyebabkan matinya orang lain”, dan bukannya
dakwaan alternatif subsidaritas yang diawali dengan dakwaan
primair melanggar pasal 338 KUHP yaitu pembunuhan (dollus
eventualis, kesengajaan sebagai kemungkinan). Benarkah sikap
hakim bila memutus perkara tersebut (tidak sejalan dengan
KUHAP) dengan pasal 338 KUHP sebagai dollus eventualis yang
terbukti dan bukan pasal 359 KUHP. Dengan pertimbangan
bahwa karakter hukum peristiwa pidana itu adalah pararel, yaitu
pembunuhan, dan karena kealpaannya menyebabkan matinya
orang lain.

Jawaban :
Tidak boleh, karena yang menjadi dasar pemeriksaan dalam
perkara pidana adalah surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum
(lihat; Putusan MA No. 47 K/Kr/1956 tanggal 23 Maret 1957
jo. Putusan MA No. 68 K/Kr/1963 tanggal 16 Desember
1976).

Pengadilan Negeri Blangkejeren


Dengan terbentuknya Mahkamah Syar’iyah menimbulkan beberapa
masalah :
1. Pertanyaan:
a. Bagaimana sikap Pengadilan Negeri terhadap masalah
perpanjangan penahanan yang dimintakan oleh penyidik,
sedangkan tindak pidana yang bersangkutan telah menjadi

409
wewenang Mahkamah Syar’iyah, sementara dalam Qanum
tidak ada pengaturan mengenai hal tersebut.
b. Bagaimana sikap Pengadilan Negeri terhadap masalah
praperadilan yang diajukan oleh terdakwa perkara-perkara
yang menjadi kewenangan Mahkamah Syar’iyah karena
dalam Qanum tidak ada pengaturan mengenai hal tersebut.
c. Bagaimana sikap PN terhadap permintaan ijin penyitaan dan
penyidik terhadap perkara yang menjadi wewenang
Mahkamah Syar’iyah?
Jawaban :
Mohon dilihat kembali hasil tanya jawab hasil Raker
Makassar No. 7

2. Pertanyaan:
Bagaimana sikap Pengadilan Negeri terhadap masalah
permintaan pengembalian oleh pemilik (sesuai BPKB) terhadap
barang bukti kendaraan yang telah digunakan sebagai alat angkut
dalam perkara narkotika (ganja), sementara pelaku (tersangka)
telah melarikan diri dari Lembaga Permasyarakatan :
- selama proses penyidikan
- selama proses penuntutan/proses persidangan di Pengadilan
Apakah dapat dirampas atau dikembalikan, atau dipinjam
pakaikan atau bagaimana?
Jaw aban:
Bagi pemilik yang merasa berhak, dapat mengajukan
gugatan.

Pengadilan Negeri Takengon


- Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, hakim menunda sidang
untuk memberikan kesempatan kepada Penuntut Umum untuk
mengajukan tuntutan, tetapi telah lewat beberapa lama bahkan
lewat dari 6 bulan sejak pemeriksaan dinyatakan selesai Penuntut
Umum tidak mengajukan tuntutan.
- Akibatnya, terdakwa dapat keluar dari tahanan demi hukum. Jika
perkara tersebut menarik perhatian, bukan mustahil Pengadilan

410
menjadi sorotan negatip oleh masyarakat, yang hanya
mengetahui bahwa keterlambatan memeriksa dan mengadili ada
di Pengadilan.

Pertanyaan :
Langkah apa yang harus dilakukan oleh Pengadilan jika
Jaksa Penuntut Umum yang belum atau tidak mengajukan
tuntutan dalam waktu sekian lama?
Jawaban :
M ajelis y an g m enyidangkan perkara tersebut m elaporkan ke
K etua P eng adilan N e g e ri selanjutnya berkoordinasi dengan
K epala K ejaksaan Negeri.

Pengadilan Negeri Kualasimpang

1. Pertanyaan:
Tuntutan Jaksa Penuntut Umum seringkali turun tidak tepat
pada penundaan sidang, sehingga sidang selalu ditunda sampai
berpuluh-puluh kali, bahkan sampai habis perpanjangan
penahanan Ketua Pengadilan Tinggi. Akibatnya administrasi
penundaan dalam BAP menjadi tidak realistis atau tidak
memenuhi azas peradilan cepat murah dan sederhana; kiranya
jajaran pimpinan Mahkamah Agung dapat berkonsolidasi dengan
Kejaksaan Agung untuk meniadakan lembaga Rentut tersebut.
Jawaban :
Lihat ja w a b a n m en g en ai R entut

2. Pertanyaan:
Apabila pemeriksaan perkara telah selesai dan tinggal
menunggu tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, namun Jaksa
Penuntut Umum tidak kunjung melakukan penuntutan, akibat hal
tersebut menjadikan tunggakan perkara pada tahun berikutnya.
Apakah majelis hakim dapat memutus perkara tersebut dengan
putusan N.O. dengan alasan bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak
sungguh-sungguh dalam menyelesaikan perkara.

411
Jawaban :
Lihat ja w a b a n m en g enai RenTut.

3. Pertanyaan:
Dalam perkara pidana penyertaan, salah satu pelaku
melarikan diri (DPO), lalu dalam persidangan terdakwa yang lain
setelah diadakan pemeriksaan terbukti bahwa barang bukti yang
diajukan di Persidangan adalah milik pelaku yang sudah
melarikan diri (DPO). Bagaimana menentukan status barang bukti
tersebut?
Jaw aban:
B aran g bukti dikem balikan kepada Jaksa Penuntut Umum
untuk dijadikan bukti dalam perkara lain.

Pengadilan Negeri Meulaboh


1. Pertanyaan:
Dakwaan yang dibuat oleh Penuntut Umum memakai 2 jenis
delik pidana yang berbeda, yaitu delik khusus (pasal 82 UU No.22
Tahun 2002) dan delik umum (pasal 290 KUHP). Sistem hukum
pidana dikenal dengan istilah lex specialis de rogat lex generalis,
sehingga jika dihubungkan dengan dakwaan Penuntut Umum
tersebut di atas, bahwa pasal yang mengadung delik khususlah
yang dipakai untuk menentukan kesalahan terdakwa.
Bagaimana sikap hakim apabila menerima berkas perkara
pidana yang didalamnya terkandung 2 jenis delik pidana yang
berlainan tersebut?
Jawaban :
P ertan y a an tidak je la s karena tidak m enguraikan bentuk
dakw aan.

2. Pertanyaan:
Penundaan acara persidangan harus memperhatikan azas
keseimbangan antara kedua belah pihak, baik Penuntut Umum
maupun terdakwa atau kuasanya. Bagaimana apabila pada saat
acara tuntutan dan Penuntut Umum waktu yang diberikan

412
misalnya 10 (sepuluh) hari, karena dalam melakukan Rencana
Tuntutannya, Penuntut Umum harus meminta persetujuan dari
Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Agung. Apabila waktu
diberikan kepada Terdakwa/Penasihat Hukumnya selama 7
(tujuh) hari.
Apakah tindakan hakim tersebut dapat dikatakan melanggar
azas keseimbangan dalam mengadili suatu perkara?
Jawaban :
Untuk menentukan tenggang waktu yang diberikan kepada
Jaksa Penuntut Umum atau kuasa hukum/terdakwa dalam
menunda sidang adalah diskresi hakim dengan memper­
hatikan sisa tahanan yang masih ada.

Pengadilan Negeri Lhoksukon


Pertanyaan :
Pada Tahun 2005 PN Lhoksukon telah memutus perkara
terhadap 5 orang Terdakwa dalam berkas terpisah menjadi 4
berkas perkara, majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon
menyatakan bahwa para terdakwa yang disidangkan dalam 4
berkas tersebut tidak terbukti dan dibebaskan; Terhadap putusan
Pengadilan Negeri tersebut Jaksa Penuntut Umum mengajukan
Kasasi; Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili
perkara tersebut adalah satu majelis, yaitu 1 berkas dinyatakan
menguatkan putusan Pengadilan Negeri, sementara 3 berkas
lainnya menerima memori kasasi Jaksa Penuntut Umum dengan
menghukum para terdakwa masing-masing seumur hidup;
Pengiriman berkas antara yang dinyatakan bersalah dan yang
dinyatakan menguatkan Pengadilan Negeri Lhoksukon berselang
satu tahun; Terhadap persoalan tersebut Pengadilan Negeri
Lhoksukon sebagai garda terdepan dalam posisi sulit, karena
menjadi sasaran demo akibat putusan yang tidak konsisten dan
satu Majelis Hakim Agung yang tidak sama, bagaimana
menyingkapinya?

Jawaban :
Laksanakan sesuai dengan putusan Mahkamah Agung.

413
PENGADILAN TINGGI AMBON
Pertanyaan :
Masa penahanan terdakwa hampir berakhir ternyata perkara
belum diputus walaupun pemeriksaan telah dinyatakan selesai
(Pasal 182 ayat 1 a) karena Penuntut Umum dalam jangka waktu
yang telah ditentukan pada agenda persidangan belum siap
mengajukan tuntutan pidana dengan alasan rencana penuntutan
dan Kejaksaan Tinggi/Kejaksaan Agung belum turun.
Menanyakan apakah sidang ditunda sampai penuntut umum
mengajukan tuntutan dengan resiko terdakwa keluar demi
hukum? Atau diputus saja tanpa surat tuntutan?
Jawaban :
Lihat ja w a b a n tentang rentut.

PENGADILAN TINGGI DENPASAR


Terhadap terpidana mati yang putusannya telah memperoleh
kekuatan hukum tetap karena alasan keamanan, pejabat yang
berwenang menempatkan terpidana mati tersebut diluar wilayah
hukum Pengadilan yang memutus perkara tersebut.

1. Pertanyaan:
Bagaimana pelaksanaan KIMWASMAT atas terpidana mati
tersebut, apakah dapat didelegasikan kepada KIMWASMAT
Pengadilan dalam wilayah hukum dimana terpidana mati tersebut
dipindahkan; Siapa yang bertanggung Jawab atas pelaksanaan
KIMWASMAT tersebut; Apakah eksekusinya belum dilaksanakan,
dapat dilakukan pengawasan sehubungan dengan ketentuan
pasal 280 ayat (1) KUHAP?

Jaw aban:
B ah w a kew en an g an K IM W A S M A T dilakukan terhadap
narapidana y an g sem entara m enjalani hukum an penjara
b u kan terhadap seorang terpidana mati.

2. Pertanyaan:
Terhadap terdakwa yang tidak ditahan di Pengadilan Tingkat
Pertama kemudian terdakwa menyatakan banding atas putusan

414
Pengadilan Negeri, oleh Hakim Tingkat Banding memandang
perlu untuk melakukan penahanan terhadap terdakwa tersebut
dengan menerapkan pasal 193 ayat (2) a KUHAP dengan
mencantumkan putusannya memerintahkan supaya terdakwa
tersebut ditahan.
Apakah hakim tingkat banding dapat menggunakan pasal 19
ayat (2) KUHAP karena kalau dibaca penjelasan pasal tersebut
hanya bilamana Hakim Pengadilan Tingkat Pertama memandang
perlu untuk memerintahkan menahan terdakwa?
Jawaban :
S eja k p ern yataan banding m aka kew enangan pen ah an an
beralih m en jad i kew enangan H akim Tinggi.

PENGADILAN TINGGI DKI JAKARTA


Pengadilan Negeri Jakarta Timur
1. Pertanyaan:
Permohonan Banding/Kasasi yang diajukan oleh terdakwa
yang berada dalam Rutan/Lapas sering oleh petugas Rutan/
Lapas terlambat menyampaikan ke Pengadilan Negeri, sehingga
kewenangan penahanan oleh Pengadilan Tinggi sudah habis
terpakai didalam tenggang waktu dan pernyataan Banding
ditanda tangani sampai pernyataan banding tersebut diteruskan di
Pengadilan Negeri (kadang-kadang sampai 2 minggu),
selanjutnya solusi apa yang dapat ditempuh dalam hal tersebut.

Jawaban :
Ketua P engadilan N eg eri berkoordinasi dengan K epala
Lapas / R utan a g a r pernyataan banding / k asasi yang
dilakukan oleh terdakwa segera disam paikan ke Pengadilan
Negeri.

2. Pertanyaan:
Relaas pemberitahuan dalam perkara pidana; Pemberi-
tahuan-pemberitahuari putusan banding, kasasi, inzage, serta
penyerahan Memori/kontra Memorinya kepada Terdakwa/
Penasihat Hukumnya yang berada diluar wilayah Pengadilan

415
Negeri yang dimintakan bantuan karena tidak tersedianya biaya
relaas pemberitahuan tersebut. Solusi apa yang dapat ditempuh
dalam hal tersebut.
Jawaban :
K etua P eng adilan m engusulkan a g a r biaya relaas pem beri­
tahuan dim asukkan dalam D IP A.

3. Pertanyaan:
Dalam Pasal 82 huruf e KUHAP menyatakan bahwa dalam
hal perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri,
sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan Pra peradilan
belum selesai, maka permintaan tersebut gugur. Bagaimana
penafsiran mengenai “perkara sudah mulai diperiksa oleh
Pengadilan Negeri”, apakah sejak perkara tersebut diterima oleh
Pengadilan Negeri atau sejak perkara tersebut disidangkan,
mengingat dalam hal perkara singkat/sumir saat berkas tersebut
diterima perkara langsung disidang baru dicatat dan diberi nomor
register, sedangkan dalam perkara biasa saat berkas
diterima diregister dulu baru disidangkan.

Jawaban :
S e ja k p erkara tersebut m ulai disidangkan

4. Pertanyaan:
Apabila terpidana mengajukan permohonan peninjauan
kembali tanpa diwakili oleh Penasihat Hukum dan kemudian
dalam proses pemeriksaan peninjauan kembali, terdakwa
menunjuk Penasihat Hukum, serta pada saat sidang permohonan
peninjauan kembali/terpidana tidak dapat hadir di persidangan,
apakah terpidana/pemohon peninjauan kembali tersebut dapat
diwakili Penasihat Hukumnya untuk menandatangani berita acara
pemeriksaan permohonan peninjauan kembali bersama-sama
Hakim, Jaksa dan Panitera sesuai Pasal 265 ayat (3) KUHAP.

Jaw aban:
D apat, sepanjang a d a kuasa untuk itu.

416
Pengadilan Negeri Jakarta Barat
1. Pertanyaan:
Terdakwa menyatakan banding terhadap putusan sela
(putusan tentang eksepsi) karena eksepsi ditolak, pemeriksaan
pokok perkara dilanjutkan dan terdakwa dijatuhi hukuman, atas
hukuman tersebut terdakwa menyatakan menerima putusan
(tidak banding).
Oleh karena Terdakwa menerima putusan sela apakah
banding terhadap putusan sela perlu dilanjutkan ke Pengadilan
Tinggi.
Jawaban :
Tidak perlu dikirim karena terdakw a telah m enerim a putusan.

Pengadilan Negeri Jakarta Utara


Pertanyaan :
Bahwa terhadap perkara kasasi yang telah diputus oleh
Mahkamah Agung, Pengadilan Negeri baru menerima petikan
putusannya saja, sedang berkas perkaranya cukup lama tidak kunjung
dikirim ke Pengadilan Negeri, padahal pemberitahuan isi putusan
berdasar petikannya telah diberitahukan baik kepada terdakwa
maupun Jaksa Penuntut Umum dan apabila berkas perkaranya cepat
dikirim ke Pengadilan Negeri akan memudahkan pencari keadilan
apabila berkehendak melakukan upaya hukum.

Jawaban :
Ini h anya m erupakan saran, bukan pertanyaan.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat


1. Pertanyaan:
Terpidana mengajukan PK terhadap putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, akan tetapi terpidana tersebut
sedang menjalani pidananya di lembaga permasyarakatan, yang
tidak berada di wilayah hukum Pengadilan Negeri yang ber­
sangkutan.

417
Jika pemohon yang bersangkutan/terpidana ingin di dengar/
dihadapkan ke Pengadilan Negeri yang memeriksa PK yang
bersangkutan, siapakah yang bertanggung Jawab untuk mengha­
dapkan termasuk untuk pengamanan bagi pemohon/terdakwa?
Jawaban :
P em oho n y an g m engajukan PK ke P engadilan yang
m em utus perkaranya, Pengadilan N eg eri tersebut dapat
m en d elegasikan pem eriksaan perkara tersebut ke
P en g ad ilan N e g e ri tem pat pem ohon ditahan. M en g en ai
k e a m a n a n terpidana m enjadi tanggung Jaw ab PO LRI
den g an biaya y an g tersedia dalam D IPA.

2. Pertanyaan:
Putusan Pengadilan Negeri yang menyatakan bahwa
dakwaan Penuntut Umum dinyatakan tidak dapat diterima karena
surat dakwaan obscuur libele, Penuntut Umum mengajukan
perlawanan ke Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tinggi menyatakan
bahwa surat dakwaan telah memenuhi syarat hukum sehingga
putusan Pengadilan Negeri dibatalkan, kemudian atas putusan
Pengadilan Tinggi tersebut Penasehat Hukum / Terdakwa
mengajukan kasasi.
- Apakah Pengadilan Negeri wajib memeriksa kembali perkara
yang bersangkutan ataukah berkas harus dikirim ke
Mahkamah Agung?
- Dan bagaimana tentang penahanan terdakwa, siapakah
yang berwenang melakukan penahanan?

Jaw aban:
- P eng adilan N e g e ri wajib m em eriksa kem bali perkara
y a n g bersangkutan (baca P a s a l 156 K U H A P ).
- K ew en a n g a n untuk m elakukan p e n ah an an berada p ad a
setiap tingkat pem eriksaan.

Pengadilan Jakarta Selatan


1. Pertanyaan:
Dalam persidangan perkara pra peradilan, Termohon menga­
jukan eksepsi tentang kewenangan mengadili secara relatif;

418
Apakah eksepsi tersebut dapat dibenarkan?
Jawaban :
Dapat, karena E ksepsi adalah h ak Termohon.

2. Pertanyaan:
Apakah tempat ditangkapnya terdakwa atau disitanya
barang-barang bukti, dimanakah Praperadilan diajukan.
Jawaban :
P raperadilan diajukan di pengadilan tem pat perkara pokok
diperiksa (lihat P a s a l 77 s /d 8 3 K U H A P )

3. Pertanyaan:
Sehubungan dengan ketentuan Pasal 45 A UU No. 5 Tahun
2004 tentang perubahan atas UU. No. 14 Tahun 1985 Tentang
M.A, mengenai perkara-perkara yang dikecualikan untuk diajukan
kasasi, diantaranya perkara pra peradilan dan pelaksanaannya
dimuat dalam Surat Edaran M.A.R.I. No.7 Tahun 2005 dimana
perkara-perkara yang tidak memenuhi syarat formal tidak perlu
dikirim ke M.A. dan untuk itu Ketua Pengadilan Negeri
mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan permintaan
kasasi tersebut tidak dapat diterima dan tidak dikirim ke
Mahkamah Agung.

Permasalahan :
Namun dengan menunjuk pada buku “Penyusunan
kelengkapan berkas Perkara Kasasi” yang disampaikan oleh
kepaniteraan M.A, dinyatakan bahwa “... maka apabila ada
“permasalahan kasasi” atas putusan praperadilan, Ketua
Pengadilan wajib meneruskan permohonan tersebut ke M.A.
Berdasarkan hal ini kami mendapatkan dua pedoman yang saling
bertolak belakang, yang menimbulkan ketidak pastian bagi
Pengadilan untutk bersikap
Jawaban :
P a d a prinsipnya sesu ai p a sa l 4 5 A U U N o .5 2 0 0 4 tidak perlu
dikirim akan tetapi dalam hal-hal yan g sfatnya eksepsional

419
d a p a t dikirim apabila a d a perm asalahan yang m engancam
k e a m a n an phisik, kantor, karyawan atau warga pengadilan.

PENGADILAN NEGERI SIDOARJO


Terhadap relaas pemberitahuan isi putusan / relaas panggilan
(Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung) yang
disampaikan melalui kelurahan (bilamana yang dipanggil tidak
bertemu) dalam catatan relaas tersebut oleh jurusita ditulis “Oleh
karena yang bersangkutan tidak bertemu, selanjutnya relaas ini
disampaikan melalui Lurah untuk diberitahukan kepada yang
bersangkutan.

1. Pertanyaan:
Di kota-kota besar relaas panggilan ditulis “untuk diberita­
hukan kepada yang bersangkutan”, pihak Lurah tidak mau
menandatangani relaas dimaksud, bagaimana solusinya?
Jaw aban:
D ilaporkan k e K etua Pengadilan a g a r m asalah seperti ini
d a p a t dibicarakan dengan Pem da.

2. Pertanyaan:
Darimanakah penghitungan tenggang waktu bahwa putusan
telah berkekuatan hukum tetap.

Jawaban :
Dihitung sejak putusan diberitahukan kepada Terdakwa.

PENGADILAN TINGGI KALIMANTAN SELATAN


Perkara pidana yang telah diputus oleh Pengadilan Tinggi atau
Mahkamah Agung lalu petikan dikirim lebih dahulu ke Pengadilan
Negeri dengan melalui Faximile.

1. Pertanyaan:
Apakah petikan putusan tersebut dapat digunakan untuk
memberitahukan putusan secara resmi kepada Jaksa Penuntut
Umum dan terdakwa ? dan Apakah pemberitahuan kepada Jaksa

420
Penuntut Umum atau terdakwa terhitung sejak disampaikan
petikan berdasarkan Faximile atau setelah pemberitahuan
dengan turunan putusan setelah berkas perkara diterima kembali
di Pengadilan Negeri?
Jawaban :
Dapat disam paikan dalam h al terdakw a berad a dalam
tahanan, dan pem beritahuan putusan diberitahukan kepada
Jaksa P enu ntut Um um dan Terdakw a setelah salinan
putusan diterima P engadilan Negeri.

2. Pertanyaan :
Salah satu yang menghambat jalannya sidang perkara
pidana, khususnya perkara narkoba dan korupsi, karena adanya
ketentuan yang mengharuskan tuntutan dari Jaksa Penuntut
Umum Rencana Tuntutannya harus dijatuhkan terlebih dahulu ke
Kejaksaan Agung, sedangkan Pengadilan Negeri terbentur
dengan masa penahanan terdakwa yang akan habis, bagaimana
penyelesaiannya?
Jawaban :
Lihat ja w a b a n RenTut.

3. Pertanyaan:
Dalam perkara kasasi, dimana pidana penjara yang
dijatuhkan kepada terdakwa oleh Pengadilan Negeri atau
Pengadilan Tinggi sudah habis waktunya, tetapi putusan kasasi
Mahkamah Agung belum juga turun ke Pengadilan Negeri apakah
terdakwa dapat dikeluarkan dari tahanan atau tidak?
Jawaban :
Terdakw a dikeluarkan dem i hukum (baca surat edaran
M ah kam ah Agung).

PENGADILAN TINGGI MANADO


Putusan Pidana yang diucapkan tanpa hadirnya terdakwa;
- Pemeriksaan pembelaan, Duplik & Replik, terdakwa hadir.
- Telah dilakukan pemanggilan secara paksa akan tetapi Jaksa
tidak dapat menghadirkan terdakwa karena alasan sakit.

421
- Terdakwa tidak hadir pada saat putusan akan dibacakan juga
Penasihat Hukum terdakwa tidak hadir

1. Pertanyaan:
Apakah memutus perkara tanpa hadirnya terdakwa dapat
dibenarkan?
Jaw aban:
D a p a t dibenarkan

2. Pertanyaan:
Bagaimana pemberitahuan putusan kepada terdakwa
sementara tempat tinggalnya tidak lagi ditemukan?
Jawaban :
Jaksa y a n g berkew ajiban untuk m em beritahukan terhadap
terdakwa.

3. Pertanyaan:
Kapan mulai dihitung jangka waktu pikir-pikir bagi terdakwa
untuk menerima putusan atau menggunakan upaya hukuman?

Jaw aban:
S e ja k pem beritahuan putusan terhadap terdakwa.

PENGADILAN NEGERI PATI


Kami mengalami kendala penyelesaian berkas perkara pidana
banding yang telah diputus, terdakwanya tidak ditahan/diluar tahanan
dan saat pemberitahuan putusan alamat dan orangnya tidak diketahui
lagi keberadaannya, di lain pihak Penuntut Umum mengajukan kasasi.
1. Pertanyaan:
Bagaimana cara yang sah menurut hukum, penyampaian
adanya putusan banding dan memori kasasi kepada Terdakwa
yang tidak diketahui lagi keberadaannya?
Jaw aban:
D e n g a n pem beritahuan umum m elalui Bupati/W alikota.

422
2. Pertanyaan :
Apakah cukup memberi tahu ke alamat terdakwa terakhir
melalui Lurah dan didukung surat keterangan dari Lurah bahwa
yang bersangkutan tidak lagi berada di Desa setempat.
Jawaban :
Ya, dan ditam bah dengan pem beritahuan um um m elalui
Bupati/W aiikota

3. Pertanyaan :
Apakah pemberitahuan harus melalui pemberitahuan umum,
pengumuman radio, surat kabar, atau pengumuman Bupati.
Jawaban :
Benar.

4. Pertanyaan :
Apakah untuk menghindari perkara terkatung katung cukup
lama, berkas perkara kasasi dapat dikirim tanpa dilengkapi akta
pemberitahuan putusan, kontra memori kasasi, akta pemeriksaan
berkas perkara.
Jawaban :
Tidak d a p at (lihat P a s a l 4 5 A U U N o .5 2 0 0 4 jo surat edaran
M A No. 7 tahun 2 0 0 5 )

PENGADILAN NEGERI TEGAL


1. Pertanyaan :
Penyampaian pemberitahuan putusan banding / kasasi
melalui bantuan Pengadilan Negeri lain, sedangkan juru sita/ juru
sita pengganti tidak bertemu dengan terdakwa namun
pemberitahuan tersebut disampaikan melalui Kelurahan.
Sampai kapan perkaranya tersebut mempunyai kekuatan
hukum yang tetap, suatu misal terdakwa seorang nelayan yang
sampai berbulan-bulan tidak tentu pulangnya.

Jawaban :
Tetap dihitung sejak putusan tersebut diberitahukan terhadap
terdakwa.

423
PENGADILAN NEGERI REMBANG
1. Pertanyaan:
Perkara banding yang telah diputus oleh Pengadilan Tinggi
tetapi berkas dan salinan putusannya belum diterima oleh
Pengadilan Negeri (yang diterima baru fax dan kutipan
putusannya/ekstra vonis) sehingga belum bisa diberitahukan
kepada pihak-pihak, sementara masa penahanan terdakwa
berdasarkan penetapan penahanan dan Pengadilan Tinggi sudah
berakhir sebelum putusan bandingnya diterima oleh Pengadilan
Negeri, bagaimana status terdakwa?
Jawaban :
Terdakw a harus dikeluarkan dem i hukum.

2. Pertanyaan:
Siapakah yang bertanggung jawab terhadap barang bukti
yang perkaranya sedang diperiksa dalam tingkat banding atau
kasasi jika didaerah ybs belum ada RUPBASAN dan tidak ada
tempat untuk menyimpan barang bukti?
Jawaban :
Y ang bertanggung ja w a b secara yuridis terhadap barang
bukti berada p a d a setiap tingkat pem eriksaan, akan tetapi
s ecara pisik, tanggung ja w a b berada p a d a instansi yang
m enyim pan barang bukti tersebut.

PENGADILAN NEGERI PEMALANG


1. Pertanyaan:
Seorang terdakwa dalam tahanan kota sejak tingkat
penyidikan sampai dilimpahkan ke kejaksaan, kemudian Majelis
Hakim pengadilan juga mengeluarkan penetapan penahanan
kota, namun sejak sidang I sampai penundaan sidang yang ketiga
ternyata Jaksa tidak pernah menghadirkan terdakwa, selanjutnya
perkara tersebut oleh majelis hakim diputuskan dengan perintah
untuk dikembalikan ke Kejaksaan, Apabila perkara tersebut
diajukan lagi oleh Jaksa ke pengadilan, bagaimana status
penahanan kota terdakwa tersebut?

424
Jawaban :
P en a h a n a n kota y an g pernah dikeluarkan tetap diperhitungkan,
nam un apabila p en ah an a n kota tersebut belum diperpanjang,
m aka terhadap terdakw a dapat dilakukan penahanan je n is
lainnya (tahanan rutan, tahanan kota) sesuai dengan kepentingan
pem eriksaan.

2. Pertanyaan:
Putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap, dimana amar
putusannya tidak ada perintah untuk mengurangi penahanan
yang dijatuhkan kepadanya, berdasarkan hal-hal tersebut timbul
beberapa pertanyaan, yaitu :
a. Apakah putusan yang demikian bisa dinyatakan batal demi
hukum?
b. Apakah putusan yang demikian, harus dilaksanakan secara
absolut dalam pelaksanaan eksekusi oleh Jaksa Penuntut
Umum?
c. Apakah putusan yang demikian, tetap harus dilaksanakan
pengurangan dan pidana yang dijatuhkan?

Jawaban :
a. Lihat p a s a l 3 3 a y a t 1 dan 2 K U H P id an a
b. Tidak boleh
c. Tidak boleh

PENGADILAN NEGERI BANJARNEGARA


- Perkara yang telah dinyatakan terbukti dan diputus bersalah serta
dijatuhi pidana oleh Hakim Pengadilan Negeri dan terdakwa
dinyatakan tetap ditahan, kemudian terdakwa banding, oleh
Hakim Banding terdakwa dinyatakan bebas.
- Pengadilan Tinggi mengirim kutipan putusan tidak disertai dengan
berkas perkara, lalu Pengadilan Negeri dengan dasar kutipan
putusan tersebut memberitahukan isi putusan kepada Jaksa
Penuntut Umum dan terdakwa.
- Terdakwa menyatakan menerima putusan, dan Jaksa Penuntut
Umum menyatakan kasasi.

425
- Berkas perkara oleh Pengadilan Tinggi dikirimkan setelah
tenggang waktu pembuatan memori kasasi, sehingga Jaksa
Penuntut Umum belum bisa membuat memori kasasi karena
perkara belum turun, sedang tenggang waktu 14 hari sejak
pemberitahuan sudah habis.
1. Pertanyaan :
a. Apakah tenggang waktu 14 hari dihitung sejak berkas
diterima oleh pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, atau
sejak kutipan putusan diberitahukan kepada Jaksa Penuntut
Umum dan terdakwa?
b. Apakah memori kasasi yang dibuat setelah berkas diterima
Pengadilan Negeri dapat dijadikan lampiran permohonan
kasasi?
Jawaban :
a. Tenggang waktu 14 hari dihitung sejak salinan putusan
diberitahukan kepada Jaksa Penuntut Um um dan
Terdakw a
b. P ertan yaan tidak jelas.

2. Pertanyaan:
Dengan memperhatikan Pasal 45 A UU. No. 5 tahun 2004
tentang Mahkamah Agung bahwa perkara yang ancaman
pidananya kurang dari satu tahun Terdakwa dan Jaksa Penuntut
Umum tidak diperbolehkan mengajukan kasasi. Dalam praktek
Jaksa Penuntut Umum dan terdakwa tetap mengajukan
permohonan kasasi dan Pengadilan Negeri tidak boleh menolak
perkara, apakah permohonan yang diajukan Jaksa Penuntut
Umum atau terdakwa tersebut tetap dikirim ke Mahkamah
Agung?

Jaw aban:
Tidak perlu dikirim ke M ahkam ah Agung karena sesu ai p asal
4 5 A No. 5 tahun 2004, jo surat edaran MA. No. 7 tahun 2005;
cukup K etua P engadilan N eg eri m em buat surat keterangan
y an g m enyatakan bahw a perm ohonan kasasi tidak
m em en u h i persyaratan form al dan tidak dikirim ke
M ah k am a h Agung.

426
PENGADILAN NEGERI TOLITOLI
Dalam pembuktian perkara pidana Illegal Loging terdapat barang
bukti berupa kendaraan truk container, dimana dipersidangan oleh
pihak ketiga (lembaga finance) dibuktikan bahwa truk container
tersebut telah melekat hak fiducia yang dipegang oleh pihak ketiga.

1. Pertanyaan:
Kapan waktu yang tepat bagi pihak ketiga untuk menyatakan
atau membuktikan bahwa truk tersebut diatas telah melekat hak
fiducia pihak ketiga dalam persidangan perkara pidana illegal
loging dan bagaimana status tentang barang bukti tersebut?
Jawaban :
P ih ak ketiga d a p at m engajukan keberatan atas barang bukti
tersebut selam a proses persidangan berlangsung, dan
seandainya H akim dalam putusannya, m eram p as untuk
negara, m aka pihak ketiga yang berkepentingan dap at
m engajukan tuntutan m elalui gugatan.

PENGADILAN TINGGI PALANGKARAYA


1. Pertanyaan:
Bahwa dalam ketentuan Pasal 78 ayat (15) UU. RI. Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan jo UU No. 19 Tahun 2004,
telah ditentukan secara tegas mengenai status barang bukti
dalam pekara Illegal Loging dimana mengenai hal tersebut juga
diterbitkan SEMA No. 01 Tahun 2008 tentang Penunjukan
Penanganan Perkara Tindak Pidana Kehutanan. Mengenai status
barang bukti perkara Illegal Loging dalam ketentuan tersebut
memang diatur secara tegas namun ketentuan tersebut mengatur
secara umum, sedangkan seringkali khusus barang bukti Illegal
Loging yang ditangani terkait dengan hak-hak pihak lain atau
pihak ketiga seperti hak sewa, hak fiducia, leasing. Bagaimana
solusinya?

Jaw aban:
Lihat ja w a b a n sebelum nya.

427
PER M A SA LA H A N HUKUM

AGAMA

JAKARTA
4 S.D 7 AGUSTUS 2008
PERMASALAHAN HUKUM
PADA PENGADILAN TINGGI AGAMA
SE INDONESIA DAN MAHKAMAH SYARPIYAH
PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

TIM PENJAWAB
1. Drs. H. Mukhtar Zamzami, SH.,M.H. (Ketua)
2. Drs. H. Edi Riadi, SH.,M.H. (Sekretaris)

NARA SUMBER
1. Drs. H. Andi Syamsu Alam, SH.,M.H. (Tuada Uldilag MA)
2. Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH.,S.IP.M.Hum. (Hakim Agung)
3. Dr. H. Rifyal Ka’bah, M.A. (Hakim Agung)
4. Drs. H. Habiburrahman, M.Hum. (Hakim Agung)
5. Drs. H. Hamdan, SH., M.H. (Hakim Agung)

MAHKAMAH AGUNG RI
TAHUN 2008

429
PERMASALAHAN HUKUM PADA PENGADILAN TINGGI AGAMA
SE INDONESIA DAN MAHKAMAH SYAR’IYAH PROVINSI NAD
TAHUN 2008

MAHKAMAH SYAR’IYAH PROVINSI NAD

MS. SINABANG
PERMASALAHAN
1. Dalam petitum surat gugatan perkara cerai Gugat, Penggugat
(isteri) menuntut supaya Tergugat (suami) membayar nafkah
iddah dan mut’ah kepada Penggugat, sedangkan Tergugat
menolak/tidak bersedia membayar dengan alasan karena
perceraian tersebut terjadi berdasarkan permintaan isteri bukan
kehendak suami.
- Dapatkah tuntutan penggugat (isteri tersebut dikabulkan)?
2. Dalam perkara Cerai Gugat, Penggugat mendalilkan bahwa
Tergugat dalam keadaan sakit jiwa (gila) akan tetapi penggugat
tidak melampirkan surat keterangan dari Dokter yang menyatakan
bahwa Tergugat benar dalam keadaan sakit ingatan (gila)
- Kepada siapakah seharusnya panggilan tergugat disampai­
kan dan apabila panggilan disampaikan melalui kepala desa
dan tergugat dan/atau walinya tidak hadir dipersidangan,
dapatkah gugatan penggugat dikabulkan secara verstek?
3. Satu pasangan suami isteri yang beragama non Islam telah
menikah menurut tata cara hukum dijumpai adanya perkawinan
yang terjadi setelah tahun 1974 dan mereka mengajukan itsbat
nikah ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah untuk keperluan
diperolehnya bukti nikah yang sah/legal, bukan dalam rangka
penyelesaian perceraian.
- Apakah perkara tersebut merupakan kewenangan
Mahkamah?

JA W A B :
1. Dalam kasus cerai gugat dimana Istri mengajukan tuntutan
nafkah iddah dan mut’ah, Pengadilan hanya dapat menga-

430
bulkan tuntutan nafkah iddah sepanjang penyebab keretakan
rumah tangga tersebut ditimbulkan oleh pihak suami. Bahkan
Pengadilan secara ex officio dapat menghukum Si suami
untuk membayar nafkah iddah. Karena salah satu tujuan
iddah untuk kepentingan suami dalam rangka istibra untuk
memastikan apakah si istri mengandung atau tidak.
(Yurisprudensi MARI).
2. Gugatan perceraian terhadap pihak suami/istri dalam
keadaan gila, yang didudukkan sebagai Tergugat adalah wali
pengampunya atau orang yang dianggap wali pengampunya
yang sehari-hari mengurus suami atau istri yang dalam
keadaan gila. Panggilan sidang pun harus disampaikan
kepada wali pengampunya atau orang yang dianggap
pengampunya.
3. Permohonan pengesahan perkawinan yang digabung
dengan permohonan cerai dan salah seorang pasangan
suami istri yang sebelumnya beragama selain Islam dan
perkawinannya tidak dicatatkan di Kantor Catatan Sipil
kemudian keduanya memeluk agama Islam, dapat
dikabulkan sepanjang terbukti mereka telah melangsungkan
perkawinan menurut agama mereka sebelumnya. Karena
perkawinan yang dilakukan berdasarkan agama yang
dianut sebelumnya setelah mereka memeluk agama Islam
tidak perlu diperbaharui. (Amalan Nabi SAW dan para
sahabat Nabi)
4. Permohonan pengesahan Perkawinan tidak tercatat yang
dilakukan sesudah berlakunya UU No. 1/1974 dapat
dikabulkan sepanjang dapat dibuktikan perkawinan tersebut
telah memenuhi rukun dan syarat perkawinan menurut
hukum Islam (Ps 2 (1) UU No. 1/1974) dan perkawinan
tersebut tidak melanggar Ps 3 dan 4 UU No. 1/1974. Tata
cara pengajuan dan pemeriksaan kasus pengesahan
perkawinan agar dipedomani buku II Tahun 2008 yang akan
segera terbit.

431
MS. LHOKSEUMAWE
PERMASALAHAN
1. Talak tiga sekaligus yang diucapkan oleh suami terhadap
isterinya diluar persidangan oleh masyarakat talak tiga tersebut
dianggap telah terjadi perceraian, sedangkan menurut Pasal 115
KHI menjelaskan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan
didepan sidang Pengadilan Agama/ Mahkamah Syar’iah, setelah
Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah tersebut berusaha dan
tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Kemudian pihak
suami mengajukan permohonan cerai talak tiga ke Mahkamah
Syari’ah wilayah hukumnya, setelah diperiksa dipersidangkan
ternyata bahwa pihak Pemohon mengakui bahwa ucapan talak
tiga tersebut telah diucapkannya serta dikuatkan oleh sakel,
dalam hal tersebut masyarakat menganggap telah terjadi talak
dan sesuai pula dengan fatwa Ulama, Pesantren. Mahkamah
Syar”iah menganggap bahwa talak diluar persidangan tidak dapat
ditolerirnya sehingga Mahkamah Syari’ah memberi putusan
dengan izin talak satu. Setelah adanya penetapan Ikrar talak dari
Mahkamah Syari’ah, Pemohon dengan Termohon rujuk kembali
sehingga masyarakat dan Ulama Pesantren menganggap bahwa
Mahkamah Syari’ah telah menetapkan hukum yang dilarang dan
bertentangan dengan hukum yang hidup dalam masyarakat Aceh,
akibatnya pihak suami dan Isteri yang dirujuk tersebut mendapat
cemoohan sampai ketingkat pengusiran dari desa setempat.
- Bagaimana yang sebaiknya hakim Mahkamah Syar’iah
Lhokseumawe mengambil sikap?

JA W A B :
Perceraian hanya sah apabila dilakukan didepan sidang
Pengadilan. Oleh karenanya bila dalam kasus cerai talak
yang diajukan oleh suami yang sudah menjatuhkan talak tiga
di luar Pengadilan Agama, Pengadilan Agama hanya dapat
mengabulkan dan memberikan izin talak satu setelah alasan
cerai talak terbukti. Ekses yang terjadi ditengah masyarakat
akibat mereka rujuk lagi setelah melakukan talak tiga di luar
pengadilan bukan kewenangan Pengadilan Agama.

432
MS. LANGSA
PERMASALAHAN
1. Pengesahan Nikah.
Berdasarkan Pasal 7 ayat (3) KHI ditentukan Itsbat Nikah dapat
diajukan berkenaan dengan :
a. Dalam rangka penyelesaian perceraian;
b. Hilang Akta Nikah;
c. Ada keraguan tentang sah atau tidak suatu perkawinan;
d. Perkawinan sebelum tahun 1974;
e. Perkawinan tidak dilarang menurut UU No. 1 Tahun 1974;
Bahwa, perkawinan yang dilaksanakan setelah tahun 1975 yang
sama sekali tidak didaftar di PPN/KUA, masih banyak terjadi.
Dalam keadaan yang demikian untuk keperluan sesuatu, seperti
penerbitan akta kelahiran anak atau untuk persyaratan tunjangan
keluarga bagi PNS diperlukan itsbah nikah.

2. Perceraian / Talak.
Berdasarkan Pasal 39 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 jo. Pasal 05
UU No. 7 Tahun 1989, perceraian hanya dapat dilakukan di
depan sidang Pengadilan yang setelah Pengadilan yang
bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua
belah pihak. Bahwa, setelah 33 (tiga puluh tiga) tahun diundang­
kan Pasal tersebut, namun masih ditemui perceraian/talak di luar
pengadilan. Hal ini disebabkan pengaruh pemahaman hukum
yang hidup/berkembang dimasyarakat (hukum Islam), yang sulit
malah tidak mungkin dirubah. Dalam keadaan yang demikian
timbul kontra yang berkepanjangan dan tidak pasti kapan
berakhirnya, antara penerapan peraturan perundang-undangan
disatu segi dan penghayatan hukum yang hidup dalam
masyarakat disisi lain. Akan lebih meresahkan masyarakat bila
perkara yang diajukan setelah tiga kali talak di luar pengadilan,
kemudian oleh Pengadilan tetap menyatakan / menjatuhkan talak
satu.
Untuk solusi tersebut, bolehkah itsbah nikahnya didasarkan
dengan penafsiran sedemikian rupa ke huruf (b) atau huruf
(c) Pasal tersebut di atas. Kalau tidak mungkin ditafsirkan

433
sedemikian rupa, ke Pasal mana itsbat nikah tersebut
didasarkan?

JAWAB :
1. Permohonan pengesahan nikah yang dilakukan setelah
berlakunya UU No. 1/1974, lihatjawaban MASYA
SINABANG nomor 4 di atas.
2. Perceraian di luar Pengadilan dapat dilihat jawaban
MASYA LHOKSEUMAWE nomor 1 di atas.

MS. KUALASIMPANG
PERMASALAHAN
“Tergugat/Pembanding mengajukan bukti baru bersamaan dengan
Memori Banding, pada hal pada persidangan tingkat pertama,
Tergugat/Pembanding tidak mengajukan bukti-bukti tersebut walaupun
Tergugat telah diberi waktu cukup untuk itu, hal ini telah dituangkan
dalam berita acara persidangan.”
- Apakah pengajuan bukti-bukti tersebut dapat dibenarkan dalam
hukum acara perdata?
1. Pada dictum:
“Memerintahkan Panitera mengirimkan salinan putusan ke KUA”
- Apakah diktum tersebut tidak menyalahi tehnis yuridis,
sementara kita tahu hal itu merupakan tindakan
administratif?

2. Perkara permohonan Penetapan Ahli waris (voluntair) yang telah


diputus atau telah berkekuatan hukum tetap, kemudian ternyata
ada ahli waris yang lain yang tidak masuk atau tidak dimasukkan
dalam permohonan tersebut, kemudian ahil waris itu mengajukan
keberatannya.
- Dalam hal ini, upaya hukum apa yang dapat dilakukan?
3. Mahkamah Syari’ah Kualasimpang, pada tahun 2006 pernah
dilanda banjir bandang, demikian juga dengan Mahkamah
Syari’ah lain yang ditimpa musibah gempa bumi dan gelombang
tsunami yang mengakibatkan semua arsip/bundel perkara hilang
dan hancur. Kemudian datang pihak-pihak yang telah berperkara

434
untuk mengambil salinan putusan/akta cerai, sedangkan berkas
tidak ada lagi.
- Langkah apa yang dapat kita lakukan

JAWAB :
1. Pengadilan Tinggi merupakan judex facti berwenang
untuk melakukan pembuktian tambahan. Caranya dapat
membuat putusan sela dengan perintah kepada
Pengadilan Tingkat Pertama yang memutus perkara
untuk memeriksa alat bukti tambahan, atau Pengadilan
Tinggi yang bersangkutan memeriksa alat bukti
tambahan dimaksud.
2. Diktum “memerintahkan Panitera untuk mengirimkan
salinan putusan kepada KUA” merupakan Yurisprudensi
MARI yang dilatar belakangi oleh keteledoran
Pengadilan Agama dalam melaksanakan Ps 84 UU No.
7/1989 yang telah diubah dengan UU No. 3/2006,
sehingga agar tertibnya pelaksanaan tugas Pengadilan
Agama yang berhubungan dengan Ps. 84 UU No.
7/1989 dibuat diktum tersebut. Jika Pengadilan Agama
telah tertib melaksanakan ketentuan Ps 84 UU No.
7/1989 amar tersebut dapat ditiadakan.
3. Jika dalam penetapan (voluntair) ahli waris yang sudah
mempunyai kekuatan hukum tetap terdapat sebahagian
ahli waris yang tidak dicantumkan, maka pihak ahli waris
yang tidak dicantumkan dalam penetapan tersebut dapat
melakukan perlawanan terhadap penetapan ahli warjs
tersebut kepada Pengadilan Agama yang telah memutus
penetapan ahli waris dimaksud. (Yurisprudensi MARI).
4. Suami dan istri, yang tidak memiliki akta cerai karena
hilang sedangkan di Pengadilan Agama dimana mereka
pernah bercerai juga data perceraian mereka tidak
ditemukan akibat bencana alam, dapat mengajukan
permohonan telah terjadinya perceraian antara suami
istri tersebut kepada Pengadilan agama yang dulu
memutus perkara perceraiannya. Permohonan tersebut
bersifat voluntair bila diajukan oleh kedua belah pihak
suami istri atau jika salah satu pihak suami istri telah
435
meninggal dunia. Permohonan harus berbentuk
contentius dengan mendudukkan pihak suami atau istri
sebagai pihak lawan jika diajukan oleh salah satu pihak
suami atau istri. Pengadilan agama dapat mengabulkan
permohonan tersebut setelah para pihak dapat
membuktikan dalil permohonannya. Amar putusan
Pengadilan agama harus berbunyi “menyatakan bahwa
A dan B telah bercerai di Pengadilan Agama ... pada
tanggal...”

MS. LHOKSUKON
PERMASALHAN
1. Salah satu jenis perkara yang merupakan kewenangan
Mahkamah Syari’ah adalah Harta bersama dalam perkawinan.
Apabila terjadi perceraian maka harta tersebut dibagikan kepada
suami dan isteri masing-masing mendapat 1/2 bagian. Diantara
harta bersama tersebut ada berupa bangunan diatas tanah yang
merupakan milik dari suami isteri. Contoh kasus Mahkamah
Syari’ah Lhoksukon Nomor : 81/Pdt.G/2-7/Msy-Lsk. Tanggal 15
Agustus 2007 dimana suami isteri membangun rumah diatas
tanah milik dan isteri yang merupakan harta bawaan isteri. Dalam
putusan Mahkamah Syari’ah membagikan harta tersebut berupa
bangunan rumah tersebut kepada suami dan isteri masing-
masing mendapat 1/2 bagian. Setelah putusan berkekuatan hukum
tetap, pihak isteri mengajukan eksekusi pada Mahkamah Syar’iah
Lhoksukon untuk membagikan dan menyerahkan bangunan
rumah kepada pihak suami dan isteri sesuai dengan diktum isi
putusan, namun kalau dibagi rumah dengan cara membongkar
tentu manfaatnya tidak ada, sehingga Mahkamah Syari’ah
Lhoksukon menghubungi kantor Badan Lelang dan Piutang
Negara di Lhokseumawe untuk dilaksanakan jual lelang dan
menurut informasi Badan Lelang Piutang Negara terhadap
bangunan tersebut tidak dapat dilaksanakan jual lelang kepada
pihak ke - 3, karena bangunan rumah dengan atas haknya tidak
satu milik, sehingga pihak ketiga tidak akan mau membelinya dan
kalau dibeli oleh suami atau isteri dalam ketentuan jual lelang
tidak dibenarkan, hanya diperbolehkan adalah pihak ketiga.

436
Bagaimana pelaksanaan eksekusi tersebut dan apa upaya
Mahkamah Syar’iah Lhoksukon untuk dapat dilaksanakan
eksekusi tersebut?

JAWAB :
Jika dalam kasus harta bersama terdapat suatu benda
sebagai harta bersama yang melekat diatas harta bawaan
salah satu pihak, seharusnya Pengadilan Agama memutus
perkara tersebut dengan amar yang memudahkan untuk
eksekusi Misalnya: “Menetapkan bangunan rumah luas ...
diatas tanah milik Tergugat adalah harta bersama Penggugat
dan Tergugat” amar berikutnya “menetapkan Penggugat dan
Tergugat masing-masing mendapat seperdua bagian dari
harga bangunan rumah tersebut”, amar berikutnya
“memerintahkan Tergugat untuk menyerahkan seperdua
bagian harga bangunan rumah tersebut kepada Penggugat”

MS. MEULABOH
PERMASALAHAN
A. SITA MARITAL DALAM PROSES KASASI
Gugatan pembagian harta bersama suami isteri tanpa dibarengi
dengan permohonan sita mantan isteri pelaku Penggugat.
Putusan tingkat pertama dimohon banding oleh Tergugat (mantan
suami). Putusan banding memperbaiki amar putusan tingkat
pertama tanpa merubah isi putusan, Pembanding belum puas
dengan putusan dan mohon kasasi. Selama proses banding pihak
tergugat (mantan suami) mengutak atik sebagian besar harta
bersama (objek gugatan) dengan menyewakan kepada pihak lain,
Penggugat asal atau mantan isteri mengetahui perbuatan
Tergugat (mantan suaminya) setelah ada putusan banding, dan
telah memohon untuk diletakkan sita atas objek perkara termasuk
yang telah disewakan,
1. Kemana permohonan sita ditujukan, ke MA atau pengadilan
tingkat pertama, oleh karena proses pemeriksaan pada
tingkat pertama sudah selesai.
2. Bagaimana proses penyitaan :

43f7
- Apakah langsung dilakukan oleh pangadilan tingkat
partama, berita acara disampaikan bersama permo­
honan kasasi atau;
Menunggu perintah dari MA setelah menyampaikan
berita permohonan sita.
- Bagaimana kalau ada reaksi pihak ketiga (sipenyewa,
perihal keberatan untuk dilakukan penyitaan)?
3. Bagaimana sikap seharusnya pihak ketiga tersebut?

B. PERNIKAHAN TANPA PERSETUJUAN WALI (DILANGSUNG­


KAN DENGAN WALI HAKIM)
Pernikahan dilangsungkan di Kantor Urusan Agama, oleh
Kepala Kantor sendiri tanpa dihadiri wali perempuan dengan
manipulasi surat-surat oleh mempelai, diantara surat yang
dimanipulasi pernyataan tidak ada wali di tempat, akhirnya
penyimpangan itu diketahui.
Pihak wali yang mengajukan permohonan pembatalan perka­
winan permohonan dikabulkan dan pernikahan dibatalkan, dan
putusan mempunyai kekuatan hukum tetap karena pihak-pihak
tidak mengajukan banding namun pihak mempelai tetap masih
kumpul serumah seperti suami isterl yang sah walaupun
pernikahan tetap diputuskan tidak sah/batal apabila dikaitkan
dengan ketentuan jinayat berdasarkan qanun No. 14 Tahun 2003,
maka pasangan tidak sah itu patut didakwa telah terjadi
pelanggaran terhadap qanun dengan sanksi uqubat tertentu,
anehnya pihak WH juga tidak peduli, pada hal sudah dilaporkan
(informasi masyarakat). Apabila dilihat secara perdata, maka
pihak mempelai tidak sah telah sengaja mengabaikan putusan
pengadilan (Mahkamah Syar’iah).
1. Apa tindakan yang harus dilakukan terhadap pasangan tidak
sah tersebut?
2. Siapa yang bertanggung jawab?
3. Apakah kepolisian dapat secara langsung turun tangan tanpa
ada proses wh (wilayatul hisbah)
4. Secara perdata dilaksanakan eksekusi dalam kasus seperti
itu andaikata dimohonkan?

438
C. PELANGGARAN QANUN NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Akhir pekan ini, sering terjadi pelanggaran Qanun di
Nanggroe Aceh Darussalam terutama Qanun No. 14 Tahun 2003
tentang khalwat/mesum bahkan sering di ekspose oleh mas
media tentang penangkapan yang dilakukan masyarakat terhadap
pasangan berlawanan jenis di tempat sepi, pada kondisi yang
berpotensi zina setelah ditangkap diserahkan kepada WH, namun
anehnya tidak pernah lagi diproses secara pidana atas dasar
Qanun, hanya dikenakan sanksi adat dimandikan tengah malam
buat ketan kuning bahkan sering dilanjutkan dengan pernikahan
atas inisiatip pemangku adat setempat, yang lebih kacau balau
lagi yang sudah dijatuhkan uqubut tidak dilaksanakan eksekusi.
1. Sejauh mana kekuatan adat dibandingkan dengan Qanun
yang telah dibuat dengan prosedur resmi dan telah diber­
lakukan operasionalnya sejak 6 Oktober 2004 berdasarkan
keputusan ketua MARI nomor KMA/070/SK/X/2004.
2. Apa batasan pelanggaran syara’ yang diproses secara adat
dan batas yang diproses berdasarkan qanun lebih rumit lagi
kalau perempuan isteri orang, diharapkan ada petunjuk MARI
untuk mengatasi kerancuan seperti itu?

D. KEDUDUKAN QANUN TENTANG PENAHANAN


Ada kecenderungan pemahaman praktisi hukum, penahanan
untuk kepentingan penyidik, penuntutan dan penyidangan tidak
dilakukan berdasarkan qanun dengan dalih bertentangan undang-
undang yang lebih tinggi yaitu KUHAP yang dalam Pasal 21
dapat dilakukan yang ancamanpidananya dipenjara lima tahun
atau lebih sedangkan dalam qanun tidak ada uqubat penahanan
bagi sipelaku hanya cambuk dan denda, lagipula hukuman
penjara dapat dikurangi selama masa tahanan sementara dalam
proses penyidik penuntut dan penyidangan sedangkan cambuk
tidak dapat dikurangi.
1. Apakah terhadap qanun yang merupakan perintah undang-
undang (UU No. 18 Tahun 2001 tentang otonomi khusus/UU
No. 11 Tahun 2006) tidak berlaku atas spesialis de rogat lex
generalis pada hal dalam Pasa-Pasal menyangkut dengan

439
penyidik, penuntutan dan penyidangan telah disebutkan
ketentuan penahanan dan penjelasan Pasal-Pasal qanun.
2. Ketentuan tentang uqubat pencambukan juga tidak diatur
dalam KUHAP mengapa tidak dipermasalahkan, penahanan
yang sudah cukup jelas dipermasalahkan, bagaimana yang
sebenarnya?

E. HARTA BERSAMA SUAMI YANG MEMPUNYAI DUA ISTERI


Seorang suami selama berumah tangga dengan seorang
isteri, telah memperoleh sejumlah harta tidak bergerak yang
masih tergolong areal liar (rawa-rawa/gambut) sebagian
berpotensi untuk kebun dan sebagian berpotensi untuk sawah.
Setelah menempuh hidup berumah tangga beberapa tahun
dengan pasangan tersebut, suami menikah lagi dengan seorang
perempuan lain, perkawinan kedua itu direstui isteri pertama
dengan seizin pengadilan, setelah beberapa lama hidup dalam
suasana poligi dengan kondisi damai mulai timbul masalah dan
isteri pertama sering meninggalkan rumah pulang ke kampung
orang tuanya berjarak ratusan km, keadaan itu berlangsung
berbulan-bulan. Dalam keadaan tidak harmonis seperti itu rumah
tangga tersebut tetap berjalan bertahun-tahun, namun tidak
memperoleh keturunan/anak, sejak bermasalah dengan Isteri
pertama, si suami tersebut hanya dibantu dan dilayani isteri
keduanya. Akhirnya hubungan nikah suami dengan isteri pertama
tidak dapat dipertahankan lagi, terjadilah perceraian. Pada saat
perceraian terjadi harta bersama yang dulu diperoleh semasa
dengan Isteri pertama masih dalam keadaan alam liar
(gambut/payau), setelah diolah/digarap sekarang sudah menjadi
lahan produktif, sebagai catatan bahwa selama penggarapan
tersebut suami lebih banyak di bantu oleh isteri kedua karena,
isteri pertama sering tidak di tempat/bersama suami.
1. Bagaimana pembagian harta bersama yang diperoleh
selama perkawinan seperti kasus tersebut diatas?
2. Apakah isteri kedua mempunyai hak atas harta bersama
tersebut pada hal diperoleh selama dengan isteri pertama?
3. Kalau isteri kedua dianggap mempunyai hak atas harta
benda yang selama pengolahan dan penggarapan ia telah

440
membantu memberi dukungan dan melayani suami dengan
setia, apakah tidak mengurangi rasa keadilan?
4. Ada pendapat, isteri kedua sebagai bagiannya cukup dan
hasil yang dinikmati selama berumah tangga dengan
suaminya itu pada hal isteri pertama juga menikmati,
walaupun ia sering meninggalkan dan membiarkan suaminya
itu, apakah pendapat tersebut memenuhi rasa keadilan,
mohon petunjuk.

JAWAB :
1. Dalam kasus sengketa harta bersama yang sedang proses
kasasi, permohonan sita marital dapat diajukan kepada
pengadilan agama yang memutus perkara. Pengadilan
agama dalam waktu yang singkat mengirimkan salinan
penetapan sita marital tersebut kepada MARI. Dalam kasus
MASYA MEULABOH sita tidak dapat dilakukan karena harta
bersama yang disengketakan sudah dipindah tangankan
kepada pihak ketiga. Pihak suami atau istri yang merasa
dirugikan atas pemindahtanganan harta bersama tersebut
dapat mengajukan pembatalan pemindahtanganan harta
bersama tersebut kepada Pengadilan Negeri.
2. Dalam kasus harta bersama yang suaminya beristri lebih dari
satu orang, harta yang diperoleh selama dengan istri
pertama merupakan harta bersama suami dengan istri
pertama, sedangkan harta yang diperoleh selama
perkawinan dengan istri pertama dan kedua menjadi harta
bersama suami, istri pertama dan istri kedua. Cara
pembagiannya lihat buku pedoman kerja yang akan segera
diedarkan oleh MARI. Dalam kasus di MASYA MEULABOH
dimana harta bersama yang diperoleh bersama istri pertama
berupa rawa kemudian istri pertama meninggalkan suami
tanpa alasan dan tanah rawa tersebut diusahakan menjadi
lahan pertanian oleh suami dengan istri kedua. Dalam
memutus perkara perceraian istri pertama yang digabung
dengan gugatan harta bersama hendaknya MASYA
MEULABOH memutus perkara tersebut dengan memper­
timbangkan rasa keadilan.

441
MS. BLANGKEJEREN
PERMASALAHAN
1. Eksekusi biaya perkara yang tidak dilaksanakan.
2. Perkara yang akan dieksekusi, lalu Termohon eksekusi menga­
jukan peninjauan kembali.
3. Bagaimana status perkara yang telah dieksekusi, apakah boleh
eksekusi ulang atas permohonan tereksekusi?
4. Apakah Panitera/Juru Sita waktu menjalankan eksekusi dapat
melakukan konpensasi atau penukaran antara objek-objek
perkara, misalnya tanah untuk satu orang, kebun untuk lima
orang dan sawah untuk empat orang?
5. Putusan cerai gugat (misalnya : Pasal 19 huruf (f) PP. No. 9
Tahun 1975). Putusan itu (menjatuhkan talak satu bain sughra);
suami banding pada hari yang ketigabelas, tiga hari kemudian
mereka mau berbalik kembali, maka suami mencabut
bandingnya. Apa solusinya supaya mereka bisa suami isteri
kembali, sedangkan putusan telah berkekuatan hukum tetap?

JA W A B:
1. Amar biaya perkara yang tidak dilaksanakan dengan
suka rela dapat dilakukan eksekusi bila Penggugat
mengajukan permohonan eksekusi atas biaya perkara
dimaksud.
2. Peninjauan kembali tidak menghalangi eksekusi, akan
tetapi dalam kasus peninjauan kembali dengan alasan
ada bukti baru ditemukan yang dalam proses
pemeriksaan di tingkat judex facti tidak ditemukan dan
bukti baru tersebut menurut penilaian Pengadilan
Agama sangat menentukan, Pengadilan agama sebaik­
nya menunda eksekusi tersebut.
3. Pertanyaan nomor tiga tidak jelas,
4. Pelaksaan eksekusi harus sesuai bunyi putusan. Bila
tidak dapat dieksekusi secara riil dilakukan lelang. Bila
para pihak dalam melaksanakan eksekusi berdamai
mengenai pembagian objek sengketa eksekusi dapat
menyimpangi bunyi putusan dan dilakukan pembagian
sesuai kesepakatan para pihak.

442
5. Cerai gugat produknya adalah talak satu ba’in sughra
yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. Oleh
karenanya pihak suami tidak dapat melakukan ruju’
melainkan harus melakukan nikah ulang, (lihat P.119 (2)
cKHI).

MS. IDI
PERMASALAHAN
1. Perkara warisan yang hartanya tanah kebun perkaranya sudah
putus dan sudah berkekuatan hukum tetapi karena proses dalam
masa konflik maka tidak dilakukan Pemeriksaan setempat
kemudian oleh pihak yang menang mengajukan permohonan
eksekusi, masalahnya didalam amar putusan tidak ada yang
bersifat condemnatoir (menghukum), kemudian tanah tersebut
berbeda luas yang sebenarnya dengan yang tercantum dalam
Putusan.
- Bagaimana cara penyelesaiannya apakah dapat langsung di
eksekusi

2. Perkara Pengesahan hibah yang objeknya tanah sawah yang


dihibahkan kepada 2 (dua) orang setelah tanah tersebut dibagi 2
(dua) salah satu batasnya berbeda dengan yang di dalam surat
gugatan, akan tetapi dalam proses pemeriksaan Tergugat tidak
pernah membantah perkara tersebut. Pada tingkat pertama telah
diputus yaitu menetapkan sah hibah sebagaimana dimohon oleh
penggugat, pada tingkat Banding dikuatkan Putusan Pengadilan
tingkat pertama, pada tingkat kasasi juga dikuatkan putusan
tingkat pertama, kemudian Penggugat mengajukan eksekusi pada
saat An maning kuasa Tergugat tidak datang, kemudian proses
terus jalan dan pada saat eksekusi dilakukan Kepala Desa tidak
mau tanda tangan berita acara eksekusi karena beralasan tanah
tidak sesuai dengan yang sebenarnya, sesudah eksekusi
dilakukan anak-anak tergugat mengajukan Derden Verzet,
dengan alasan ada haknya pada harta tersebut karena ayahnya
(Tergugat) saudara kandung dari isteri Ibrahim (suami isteri)
pemilik tanah tersebut, padahal yang sebenarnya pasangan
suami isteri tersebut tidak ada anak, pada waktu dihibahkan tanah
tersebut jumlahnya sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah

443
harta lain yang sangat banyak, dan pada saat dihibah sudah
diberi tahu ke semua ahli waris dan semuanya setuju tidak ada
yang keberatan.
- Bagaimana penjelasannya
- Bagaimana yang sebenarnya penyelesaian terhadap rumah
tersebut?
- Bagaimana penyelesaian yang seharusnya?
3. Perkara harta bersama antara suami isteri tetapi tanah yang
dikuasai oleh pasangan suami isteri tersebut selama 20 tahun
bukan tanah hak milik sahnya tetapi tanah tersebut adalah tanah
Negara. Putusan terhadap perkara itu adalah tanah tersebut tidak
dibagi dua akan tetapi tanah tersebut tetap tanah Negara
sedangkan tanaman di atas tanah tersebut dibagi 2 (dua karena
tanaman tersebut adalah harta bersama.
Harta bersama yaitu :
Seorang suami mempunyai 2 (dua) orang isteri dan mempunyai
harta yang banyak, dan harta itu kebanyakan diperoleh pada
hidup bersama isteri tuanya. Pada saat itu lahir beberapa orang
anak kemudian ketika isterinya sakit-sakit, laki-laki kawin lagi dan
pada saat dia kawin diserahkan 2 petak tanah kebun kepada isteri
mudanya, pada tanah kebun tersebut harta bersama dengan isteri
pertamanya, dan selama hidup bersama isteri mudanya tidak ada
hasil apa-apa karena si suami sudah tua dan tidak ada anak.
Setelah suami meninggal dunia harta warisan dibagi di kampung
kepada seluruh ahli waris yaitu anak-anaknya pada isteri pertama
dan isterinya yang tua dan yang muda. Masalahnya isteri yang
muda tidak puas terhadap pembagian di kampung karena ada
harta pada isteri tuanya tidak diberikan pada isteri mudanya
padahal statusnya sama-sama isteri lalu masalahnya masuk
Mahkamah Syari’ah IDI kemudian harta tersebut memang jelas
harta bawaan isteri tuanya maka perkaranya ditolak.

JAWAB :
1. Jika dalam putusan waris dalam amar putusannya
mengenai ukuran objek sengketa tidak jelas dan tidak
ada amar condemnatoir, pihak yang berkepentingan
dapat mengajukan gugatan ulang kepada Pengadilan

444
agama yang memutus agar memerintahkan Tergugat
untuk menyerahkan objek sengketa dan Pengadilan
agama dapat melakukan pemeriksaan tambahan
dengan cara pemeriksaan setempat untuk memperjelas
ukuran, batas-batas serta letak objek sengketa yang
akan dituangkan dalam amar putusan sebagai perbaikan
atas amar putusan sebelumnya.
2. Jika ada pihak ketiga yang mempunyai kepentingan atas
objek sengketa dalam suatu putusan yang telah
dilakukan eksekusi, maka pihak yang berkepentingan
dapat melakukan gugatan mengenai objek sengketa
dimaksud.
3. Tanah negara bukan merupakan harta bersama,
tanaman yang ada diatas tanah negara tersebut
merupkan harta bersama, jika hak garap atas tanah
negara tersebut diperoleh pada saat perkawinan suami
istri hak garap atas tanah tersebut dapat dibagi dua.

MS. JANTHO
PERMASALAHAN
1. Akibat dari bencana gempa bumi dan Tsunami yang melanda
NAD banyak bermunculan permasalahan hukum di Aceh baik
tentang Kewarisan, Perwalian Anak, dsb diantaranya banyak
permohonan Penetapan Ahli waris yang diajukan ke Mahkamah
Syari’ah oleh keluarga korban Tsunami dengan tujuan untuk
mengurus harta yang ditinggalkan oleh korban tersebut.
Sedangkan pewaris tersebut adalah suami isteri yang telah lama
hidup bersama sebagai suami isteri dan patut diduga bahwan
harta yang ditinggalkan pewaris dengan suaminya (jika pewaris
perempuan) atau dengan isterinya (jika pewaris laki-laki) sering
kali terjadi permohonan Penetapan Ahli Waris tersebut oleh
keluarga salah satu pihak dan suami ataupun isteri yang
kemudian diperiksa dan diselesaikan secara voluntair yang
mengakibatkan terdapat ahil waris lain yang berhak yang tidak
ditetapkan sebagai ahli waris dari harta tersebut karena yang
memohon hanya salah satu pihak saja.

445
- Apakah pemohon tersebut dapat ditetapkan sebagai Ahli
Waris SS
2. Pasca terjadinya gempa bumi dan tsunami, terdapat permohonan
penetapan perwalian anak yang dimohonkan oleh Badan Hukum
(yayasan-yayasan) terhadap anak-anak tidak saja yang orang
tuanya menjadi korban tsunami, tetapi ada juga anak-anak yang
orang tuanya kurang mampu yang bertujuan untuk menjamin
hidup dan pendidikan mereka dengan menggunakan penetapan
perwalian tersebut untuk keperluan mendapatkan dana bantuan
dan pihak donatur padahal meskipun secara ekonomi orang tua
anak tersebut tidak mampu namun mereka masih cakap untuk
bertindak sebagai wali.
- Dapatkah Badan Hukum seperti ini ditetapkan sebagai wali
bagi seorang anak atau beberapa orang dengan kondisi
orang tua anak tersebut masih cakap bertindak sebagai wali?
- Atau perlukah adanya peninjauan kembali terhadap
kebolehan Badan Hukum tersebut untuk menjadi wali?
3. Dalam keadaan diaman seorang meninggal dunia dan tidak
meninggalkan ahil waris melainkan beberapa orang keluarga
yaitu :
a. Anak saudara laki-laki kandung (yang ayahnya telah lebih
dahulu meninggal dunia sebelum pewaris meninggal dunia)
b. Anak saudara perempuan kandung (yang ibunya telah lebih
dahulu meninggal dunia)
c. Saudara seayah paman (saudara laki-laki ayah).
- Apakah anak laki-laki atau saudara perempuan kandung
tersebut dapat dijadikan ahli waris pengganti menggantikan
orang tua mereka sebagai saudara laki-laki kandung atau
saudara perempuan kandung?
- Jika anak saudara laki-laki atau saudara perempuan
kandung tersebut dijadikan ahli waris pengganti
menggantikan orang tua mereka sebagai saudara laki-laki
kandung dan saudara perempuan kandung, maka apakah
pihak keluarga lain yang terdiri dari saudara seayah dan
paman (saudara laki-laki ayah) serta baitul mal akan
terhijab?

446
JAWAB :
1. Permohonan penetapan ahli waris bersifat voluntair.
Oleh karenanya Pengadilan hanya menetapkan
mengenal ahli waris, tidak boleh berisi penetapan harta
waris dan pembagian harta waris. Jika dikemudian hari
ada pihak lain yang merasa mempunyai hak atas harta
warisan dapat mengajukan gugatan waris.
2. Ahli waris pengganti tidak hanya terbatas pada
keturunan anak, melainkan termasuk keturunan saudara
Ik-pr (baik sekandung, seayah, seibu), keturunan paman
dan pihak ayah, keturunan paman dari pihak ibu,
keturunan kakek dan nenek pihak ayah (bibi dari pihak
ayah dan keturunannya), keturunan kakek dan nenek
dari pihak ibu (bibi dari pihak ibu dan keturunannya),
(lihat Ps. 185(1) Jo Ps. 174(1) KHI).
3. Badan hukum dapat ditunjuk menjadi wali atas anak
yang berusia di bawah 21 th dan belum pernah
melangsungkan perkawinan. Akan tetapi hak perwalian
dapat dipindahkan kepada pihak lain dari kuasa asuh
orang tua jika orang tuanya dinyatakan tidak cakap
melakukan kuasa asuh dan hak kuasa asuh orang tua
atas anaknya telah dicabut berdasarkan putusan
Pengadilan, (lihat Ps.47 - Ps.51 UU No. 1/1974 jis.
Ps.10 UU No. 4/1979 dan Ps. 98 KHI)

MS. BIREUN
PERMASALAHAN
1. Seorang perempuan pencari keadilan mengajukan perkara
permohonan ahli waris (Voluntair) yang menginginkan dia
ditetapkan sebagai ahli waris yang ditinggalkan oleh pewaris
(kakak kandungnya) ada meninggalkan harta-harta (tirkah)nya,
menurut ketentuan hukum islam seorang saudara perempuan
kandung mendapat 1/2 (setengah) bahagian, karena tidak ada
ahli waris lain tentunya sisanya akan ditunjuk untuk Baitul Mal.
Untuk inkrach (BHT) sebuah putusan bila kedua pihak datang
pada waktu dibacakan putusan maka berkekuatan hukum tetap
setelah melewati hari ke 14, bila salah satu pihak (Tergugat) tidak

447
datang pada waktu dibacakan putusan maka harus disampaikan
isi putusan tersebut kepada pihak yang tidak datang. Yang
menjadi permaslahan pada waktu panggilan sidang, Tergugat ada
di alamat yang tertera di dalam gugatan, akan tetapi pada waktu
disampaikan isi putusan (kebetulan tergugat tidak datang pada
waktu baca putusan) dia tidak lagi dijumpai dialamat yang dulu,
kemudian oleh jurusita/jurusita penggganti menjumpai kepala
desa, penjelasan kepala desa yang bersangkutan tidak ada lagi di
desa ini dan kepala desa tidak bersedia menerima pemberitahuan
tersebut karena (tergugat) tidak ada lagi di desa dan alamatnya
yang baru pun tidak diketahui.
- Bagaimana pihak pencari keadilan mengajukan perkara,
apabila diajukan dengan Voluntair, apakah perlu dimasukkan
objek-objeknya dan bila diajukan dengan perkara contensius
siapa-siapa pihaknya, apakah Baitul Mal diikutkan sebagai
Tergugat?
- Upaya apa yang harus ditempuh supaya putusan itu Inkrach?

JAWAB :
1. Permohonan penetapan ahli waris bersifat voluntair.
Sehingga Pengadilan hanya memutus penetapan ahli
waris, tidak boleh sekaligus memutus penetapan harta
waris dan pembagiannya, jika permohonan menyangkut
penetapan harta waris dan pembagiannya maka harus
berbentuk gugatan (contentius). Dalam kasus di Masya
Bireuen tersebut jika harta waris yang ditinggalkan oleh
kakak pemohon dikuasai oleh pemohon berarti tidak ada
sengketa.
2. Putusan dinyatakan sudah mempunyai kekuatan hukum
tetap setelah lewat waktu empat belas hari sejak
putusan diucapkan jika para pihak hadir pada sidang
ucapan. Jika salah satu pihak tidak hadir pada sidang
ucapan putusan mempunyai kekuatan hukum tetap
setelah lewat waktu empat belas hari sejak isi putusan
diberi tahukan kepada pihak yang tidak datang. Untuk
perkara selain perceraian, jika yang bersangkutan tidak
diketahui tempat tinggalnya, putusan mempunyai
kekuatan hukum tetap setelah lewat waktu empat belas
hari sejak tanggal isi putusan tersebut diumumkan
dipapan pengumuman kantor pemerintah daerah
kabupaten/kota.

MS. TAKENGON
PERMASALAHAN
1. Eksekusi sudah dilaksanakan kemudian Termohon eksekusi
merasa tidak puas dan mengajukan pembatalan permohonan
eksekusi yang telah dijalankan tidak sesuai dengan amar
putusan. Setelah diteliti oleh Ketua Mahkamah Syar’iah ternyata
memang benar eksekusi tidak sesuai dengan amar putusan, lalu
Ketua membatalkan eksekusi tersebut kemudian Termohon
eksekusi mengajukan eksekusi ulang, dan setelah dilakukan
anmaning lalu Pemohon eksekusi (Termohon) mencabut
permohonan eksekusinya.
- Apakah tindakan Ketua membatalkan eksekusi sudah tepat?
2. Pelelangan. Dalam amar putusan tidak ada perintah pelelangan
sementara objek terperkara tidak dapat dibagi secara natura.
- Bagaimana status eksekusi yang telah dibatalkan kemudian
mengabulkan eksekusi ulang dan setelah aanmaning
permohonan eksekusi ulang dicabut kembali?

3. Sumpah Pemutus. Apakah Pengadilan (MS) dapat mengabulkan


permohonan para pencari keadilan yang menghendaki dilaksa­
nakan sumpah ditempat tertentu (mesjid) dan dengan Al-Quran
yang ditunjuk (disediakan) oleh yang bersangkutan.
- Objek terperkara telah berubah wujud (tidak sesuai lagi
sebagaimana tersebut dalam amar putusan) sementara
terhadap objek perkara tersebut tidak ada diletakkan sita
jaminan. Apakah terhadap objek perkara tersebut dapat atau
tidak dapat dieksekusi, kalau dapat bagaimana cara
melaksanakannya?
4. Dicente. Majelis Hakim menghendaki terhadap objek perkara
akan dilakukan pemeriksaan setempat akan tetapi pihak Tergugat
tidak mengizinkan hakim untuk melakukan pemeriksaan terhadap
salah satu objek perkara bahkan melakukan pengancaman akan

449
melakukan tindakan anarkis jika dilakukan pemeriksaan
setempat.
- Pihak tergugat menguasai objek perkara berupa tanah
kosong kemudian didirikan bangunan di atas tanah tersebut
dan bangunan tersebut telah disewakan kepada pihak ketiga
sementara majelis hakim memutuskan bahwa penggugat
mendapat bahagian di atas tanah objek terperkara tersebut,
sementara amarnya tidak ada kalimat mengosongkan.
- Bagaimana cara mengeksekusinya?
- Bagaimana penyelesainnya?

JAWAB :
1. Upaya hukum terhadap objek sengketa yang sudah
selesai dilakukan eksekusi adalah gugatan baru.
2. Dalam amar putusan, mencantumkan pelelangan objek
sengketa bukan suatu kewajiban. Sehingga walaupun
dalam putusan yang tidak mencantumkan amar
pelelangan dan saat eksekusi tidak dapat dieksekusi
secara nil maka secara otomatis putusan dapat
dilakukan eksekusi lelang.
3. Sumpah pemutus dilakukan di dalam persidang
pengadilan kecuali ada halangan yang sah, sumpah
dilakukan di rumah orang yang disumpah. Lihat Ps.158
(1) HIR jo. Ps.158 (1) Rbg.
4. Pemeriksaan di tempat dibutuhkan bila dalam
persidangan tidak jelas mengenai luas, batas-batas dan
letak objek sengketa. Jika dalam persidangan melalui
bukti sertifikat tanah dan keterangan saksi-saksi sudah
jelas mengenai letak, luas dan batas-batas objek
sengketa tidak diperlukan sidang di tempat.

MS. MEUREUDU
PERMASALAHAN
1. Tergugat tertarik. Penggugat dalam gugatannya tidak mengikut
sertakan Tergugat tertarik sebagai pihak pembeli objek terperkara
yang telah dijual oleh Tergugat.

450
2. Permasalahan eksekusi perkara wakaf (putusan No.
97/Pdt.G/1998/PA-Mrd tanggal 31 Mei 1999)
Kasus:
Penggugat T.M. Amin Bin Ishak selaku nasir mengajukan gugatan
terhadap Tergugat T. Dahlan Bin A. Rahman atas penguasaan
harta wakaf oleh Tergugat ke Pengadilan Agama Meureudu dan
Majelis hakim tersebut tanggal 31 Mei 1999 yang amarnya
sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat;
2. Menetapkan harta-harta terperkara sebagai harta wakaf desa
menasah Puduek Kec. Trienggadeng.
3. Menghukum tergugat untuk menyerahkan harta-harta
tersebut kepada Penggugat selaku nazir,
Bahwa penggugat pada tanggal 31 Agustus 2007 telah
mengajukan permohonan tersebut telah mengajukan eksekusi ke
MS Meureudu dan atas permohonan tersebut telah dilakukan
anmaning terhadap Termohon eksekusi tidak diketahui alamatnya
dl Indonesia akan tetapi pada saat dilaksanakan eksekusi
datanglah pihak ketiga yang menyatakan bahwa tanah terperkara
telah digadaikan Tergugat/Termohon eksekusi kepadanya dan
ianya tidak mau menyerahkan harta tersebut sebelum ada
tebusan (karena harta itu mereka gadai sebelum berperkara di PA
Meureudu)
Kami telah menempuh jalan perdamaian dengan memanggil
Pemohon eksekusi dan pihak-pihak yang menguasai harta wakaf
tersebut dan pihak ke tiga menyatakan bersedia menyerahkan
harta wakaf asalkan ditebus oleh Nazir dan pihak Nazir bersedia
menebusnya.
Apakah dengan demikian gugatan Penggugat tergolong tidak
memenuhi syarat subjektif
Apakah eksekusi dapat dijalankan karena harta terperkara
telah dikuasai oleh pihak ketiga?
- Apakah eksekusi harus dinyatakan Non Eksekutabel?

JAWAB :
1. Jika sebagian harta waris atau sebagian harta hibah dan
wasiat yang dilakukan berdasarkan hukum Islam sudah dijual.

451
kepada pihak ketiga, pihak ketiga sebagai pembeli tidak perlu
dijadikan pihak, karena pembatalan jual beli bukan
wewenang absolut Pengadilan Agama.
2. Dalam kasus tanah wakaf yang sudah digadaikan tidak dapat
dieksekusi kecuali ada kesepakatan damai antara Nazir dan
pihak yang memegang gadai.

MS. SABANG
PERMASALAHAN
1. Perkara Cerai Gugat, gugatan dikabulkan secara verstek.
Tergugat mengajukan upaya hukum perlawanan (Verzet) Dalam
buku “Hukum Acara Peradilan Agama Dalam Praktek” Karangan
Drs. H. Muktin Arto, SH, menyebutkan bahwa pada saat Pelawan/
Tergugat mendaftarkan perlawannya, maka kasir membuat skum
nihil alias tidak dipungut biaya dari Pelawan. Tetapi dalam
putusan akhirnya Hakim sering membebankan biaya perkara
tersebut kepada Pelawan.
2. Perkara Cerai thalak tempat tinggal Termohon tidak diketahui di
seluruh wilayah RI. Panggilan kepada Termohon telah dilaksa­
nakan sesuai dengan maksud Pasal 27 ayat (1), (2) dan (3) PP
No. 9 Tahun 1975. Mahkamah Syari’ah telah memberi izin
kepada Pemohon untuk mengikrarkan talak terhadap Termohon.
3. Perkara harta bersama sebagian objek gugatan berada di luar
negeri, Tergugat mengakui keberadaannya, tetapi tidak mau
menyerahkan bagian yang menjadi hak Penggugat.
4. Perkara gugatan Kewarisan sudah ada putusan kasasi dalam
salah satu dictum amar putusan kasasi menyebutkan
“menghukum Penggugat Rekonpensi sebanyak Rp. 10.000.000,-
(sepuluh juta rupiah) sebagai pengganti separuh rumah yang
terletak di jl. T. Hamzah Keluarah Kota Bawah Barat Kecamatan
Sukakarya Sabang” Dalam proses eksekusi Tergugat Rekonpensi
sebagai pemohon eksekusi keberatan untuk menerima uang
tersebut dengan alasan harga rumah tersebut sekarang sudah
sangat tinggi dan meminta dihargakan kembali. Sedangkan
Penggugat Rekonpensasi sebagai Termohon eksekusi hanya
bersedia menyerahkan uang sesuai dengan yang tercantum
dalam amar putusan Mahkamah Agung tersebut.

452
- Kepada siapakah sebenarnya biaya perkara tersebut
dibebankan, apakah kepada Pelawan (Tergugat asal) atau
kepada Terlawan (Penggugat asal)
- Apakah panggilan kepada Termohon untuk sidang
penyaksian ikrar talak masih diperlukan bagaimana tata cara
pemanggilannya?
- Apakah Mahkamah Syari’ah berwenang menetapkan harta
yang berada diluar negeri tersebut sebagai harta bersama.
Kalau boleh sejauh mana kewenangan Mahkamah Syari’ah
selanjutnya untuk melakukan penyitaan dan pelaksanaan isi
putusan (eksekusinya) dan kalau tidak boleh bagaimana
solusinya?
Bagaimana jalan keluarnya, Apakah Mahkamah Syari’ah
tetap pedoman kepada apa yang tercantum dalam amar
putusan ataukah perlu menaksir kembali sesuai dengan
harga sekarang?
JAWAB :
1. Perlawanan atas putusan verstek merupakan kelanjutan
dan perkara sebelumnya, sehingga tidak dibuatkan
nomor perkara baru. Verzet dalam kasus ini pada
hakikatnya merupakan jawaban atas gugatan cerai
pihak penggugat sehingga biaya perkara tetap harus
dibebankan kepada pihak Penggugat cerai.
2. Dalam sidang penyaksian ikrar talak yang pihak
termohon tidak diketahui tempat tinggalnya di seluruh
wilayah Indonesia, Termohon tetap harus dipanggil
untuk menghadiri sidang ikrar talak. Cara pemang­
gilannya tetap seperti pemanggilan sidang perceraian
seperti dalam HIR/RBg.
3. Masalah eksekusi harta bersama yang berada di luar
negeri menyangkut hukum Perdata Internasional.
Dalam praktek yang bersangkutan memohon kepada
pengadilan dimana harta bersama tersebut berada untuk
melakukan eksekusi.
4. Dalam kasus waris seharusnya jangan membagi harta
waris berdasarkan taksiran harga, karena harga barang
senantiasa berfluktuasi. Amar putusan cukup menetap-

453
kan ahil waris, menetapkan harta warisan, menetapkan
bagian masing-masing ahli waris dan menghukum
Tergugat untuk menyerahkan bagian masing-masing
harta warisan. Dalam kasus ini sebaiknya dilakukan
upaya mengajukan Peninjauan Kembali dengan alasan
terdapat kekeliruan hakim.

PERMASALAHAN
Dalam petitum surat gugatan perkara cerai Gugat, Penggugat
(isteri) menuntut supaya Tergugat (suami) membayar nafkah iddah
dan mut’ah kepada Penggugat, sedangkan Tergugat menolak/tidak
bersedia membayar dengan alasan karena perceraian tersebut terjadi
berdasarkan permintaan isteri bukan kehendak suami.
- Dapatkah tuntutan penggugat (isteri tersebut dikabulkan)?
JAWAB :
Dalam kasus cerai gugat dimana istri mengajukan tuntutan nafkah
iddah, Pengadilan dapat mengabulkan tuntutan nafkah iddah,
sepanjang penyebab keretakan rumah tangga tersebut
ditimbulkan oleh pihak suami. Bahkan Pengadilan secara ex
officio dapat menghukum si suami untuk membayar nafkah iddah.
Karena salah satu tujuan iddah untuk kepentingan suami dalam
rangka istibra untuk memastikan apakah si istri mengandung atau
tidak. (Yurisprudensi MARI).

PERMASALAHAN
Dalam perkara Cerai Gugat, Penggugat mendalilkan bahwa
Tergugat dalam keadaan sakit jiwa (gila) akan tetap Penggugat tidak
melampirkan surat keterangan dan Dokter yang menyatakan bahwa
Tergugat benar dalam keadaan sakit ingatan (gila)
- Kepada siapakah seharusnya panggilan Tergugat disampaikan
dan apabila panggilan disampaikan melalui kepala desa dan
Tergugat dan/atau walinya tidak hadir dipersidangan, dapatkah
gugatan Penggugat dikabulkan secara verstek?

JAW AB:
- Panggilan kepada walinya.
- Dapat.

454
PERMASALAHAN
Satu pasangan suami isteri yang beragama non Islam telah
menikah menurut tata cara hukum dijumpai adanya perkawinan yang
terjadi setelah tahun 1974 dan mereka mengajukan itsbat nikah ke
Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah untuk keperluan diperolehnya
bukti nikah yang sah/legal, bukan dalam rangka penyelesaian
perceraian.
- Apakah perkara tersebut merupakan kewenangan Mahkamah?

JAWAB :
Menjadi kewenangan Mahkamah Syar’iyah.

MS. BANDA ACEH


PERMASALAHAN
Apakah boleh bagi Hakim dalam mengadili perkara jinayat (pidana)
menjatuhkan hukum/sanksi bagi Terdakwa di bawah ancaman
hukuman minimal atau melebihi dari ketentuan sanksi yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan atau Qanun di Aceh.

JAWAB :
Asas legalitas tidak boleh melebihi hukuman maksimal dan
membawahi hukuman minimal.

PERMASALAHAN
Bagaimana tindakan hakim Mahkamah Syar’iah, apabila Jaksa
Penuntut Umum mengajukan dakwaan, ternyata pada saat
persidangan Jaksa penuntut Umum tidak dapat menghadirkan
Terdakwa. Karena Terdakwa tidak ditahan, atau Jaksa Penuntut
Umum beserta Terdakwa tidak hadir pada persidangan, sedangkan
jadwal persidangan telah diberitahukan secara sah dan patut.

JAWAB :
Sidang ditunda, Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum dipanggil
sidang lagi. Apabila dua kali Terdakwa tidak bisa dihadirkan,
maka perkaranya diputus dengan amar tuntutan Jaksa Penuntut
Umum dinyatakan tidak dapat diterima.

455
PERMASALAHAN
Perkara jinayat Khalwat diajukan/dilimpahkan oleh JPU dengan dua
orang terdakwa, terhadap para terdakwa tidak dilakukan penahanan
baik oleh JPU maupun oleh Hakim Mahkamah Syar’iyah. Akan tetapi
beberapa hari menjelang persidangan digelar, salah seorang
Terdakwa melarikan diri dari JPU tidak dapat menghadirkan Terdakwa
tersebut ke persidangan. Selanjutnya dipersidangan, JPU mengajukan
revisi surat dakwaan dan hanya mengajukan satu orang Terdakwa
saja, sedangkan Terdakwa yang sudah lari dikeluarkan dan surat
dakwaan dan tidak diajukan lagi dalam perkara tersebut.
Apakah revisi surat dakwaan JPU tersebut dapat diterima dan
dapatkah persidangan dilanjutkan dengan satu orang Terdakwa, atau
apakah JPU harus mencabut dulu perkara tersebut dan mengajukan
kembali sebagai perkara baru setelah dilakukan revisi surat dakwaan?

JAWAB :
Guna memenuhi asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya
ringan, maka yang terdakwanya lan dinyatakan tidak dapat
ditenima, sedangkan yang hadir dilanjutkan pemeniksaan dan
diputus.

PERMASALAHAN
Perkara Pencabutan Wali diajukan/ didaftarkan dalam bentuk Volunter.
Pada saat persidangan wali yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
Pengadilan merasa hak perwaliannya dirugikan dengan adanya
permohonan pencabutan wali tersebut. Dalam upaya memper­
tahankan hak perwalian tersebut apakah wali yang telah ditetapkan itu
dapat melakukan Intervensi pada perkara Volunter? Dengan kata lain
la bukan sebagal pihak atau sebagal pihak ketiga.
Kalau perkara tersebut dialihkan menjadi perkara Kontensius,
bagaimana dengan sistem pembukuan dan Register perkara.

JAWAB :
Permohonan pencabutan kekuasaan wali bersifat contensius,
pihak yang dituntut untuk dicabut hak kekuasaan walinya
didudukkan sebagai Termohon. Petunjuk lebih rinci mengenai
pencabutan hak wali agar dipedomani Buku II Tahun 2008 yang
akan segera terbit.

456
PTA. PALEMBANG
PERMASALAHAN
Dalam Surat Kuasa tidak dicantumkan kata-kata kalau penerima
kuasa dan Tergugat diberi pula hak untuk mengajukan “gugatan balik",
sedangkan “kata-kata dan lain-lainnya” atau kata-kata “diberi hak
untuk membela kepentingan pemberi kuasa Tergugat dalam segala
hal” ternyata tidak ada. Padahal nilai objek gugatan balik tersebut
cukup besar.
Apakah surat kuasa yang demikian dapat dianggap telah mencakup
untuk mengajukan gugatan balik?

JAWAB :
Perlu diperhatikan ketentuan Pasal 1795 KU H Perdata serta
Pasal 123 HIR, lalu pelajari SEMA No. 6 Tahun 1994 tanggal 14
Oktober 1994, dimana dalam SEMA tersebut dijelaskan tentang
syarat sahnya surat kuasa khusus harus meliputi:
1. menyebutkan dengan jelas dan spesifik surat kuasa untuk
berperan di pengadilan.
2. menyebutkan kompetensi relatif.
3. menyebutkan identitas dan kedudukan para pihak.
4. menyebutkan secara ringkas dan konkrit pokok dan objek
sengketa yang diperkarakan.
Bila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka surat kuasa
khusus menjadi tidak sah.
Dalam kasus di atas, bila surat kuasa khusus tersebut telah
memenuhi syarat sebagaimana disebutkan dalam SEMA, maka
dapat dianggap memenuhi syarat karena gugatan rekonvensi
merupakan bagian dari perkara yang sedang disengketakan.

PERMASALAHAN
Tuntutan serta merta untuk membongkar atas sebuah bangunan
dikabulkan, dan ketika akan dilakukan eksekusi Tergugat
berkeberatan karena sangat berkepentingan dengan bangunan
tersebut, akan tetapi Tergugat bersedia mengganti/memberikan
sejumlah uang sebagai jaminannya, agar bangunan tersebut tidak jadi
dibongkar. Apakah hal itu dapat dibenarkan ? Bagaimana proses
selanjutnya?
457
JAWAB :
Hal tersebut dapat dibenarkan, asalkan telah terjadi kesepakatan
antara kedua belah pihak atau antara Pemohon Eksekusi dan
Termohon Eksekusi.

PERMASALAHAN
Dalam proses lelang terhadap objek perkara yang sebelumnya tidak
dilakukan sita jaminan; tiba-tiba muncul permintaan (delegasi) dari
Pengadilan Agama lain untuk minta diletakkan sita jaminan terhadap
objek tersebut. Karena cukup beralasan, maka mana yang
diprioritaskan, sita jaminan dikabulkan dan lelang ditangguhkan atau
Sita jaminan di tolak dan lelang diteruskan?

JAWAB :
Jika dalam perkara tersebut telah dilakukan sita eksekusi, maka
sita jaminan (CB) dan Pengadilan Agama lain tersebut dapat
diterima dengan sita persamaan dan lelang tetap diteruskan.

PERMASALAHAN
Seorang meninggal dunia, meninggalkan harta warisan berupa
sebuah rumah permanen dan sebuah kendaraan roda empat serta
perabotan rumah tangga lainnya, tetapi tidak meninggalkan ahli waris
sama sekali termasuk zawil arham. Almarhum semasa hidupnya
hanya bersama 3 (tiga) orang anak angkatnya seorang anak
angkatnya telah berpisah tempat tinggal, sehingga semua harta
almarhum dikuasai oleh 2 (dua) orang anak angkatnya, oleh karena
seorang di antara mereka ini merasa dirugikan/tidak diberi, maka ia
mengajukan gugatan harta waris ke Pengadilan Agama.

1. Bagaimana menyelesaikan sengketa waris tersebut?


2. Apakah anak angkat dapat mengajukan gugatan harta warisan
dan orang tua angkatnya?
3. Kaiau ada sita harta warisan tersebut, setelah dibagikan kepada
anak angkatnya, diserahkan kepada siapa sisa harta tersebut,
sedangkan kita belum memiliki Baitulmal?

458
JAWAB :
Dalam kasus ini, anak angkat dapat mengajukan gugatan
sengketa waris dan harta waris dibagi habis, karena wasiat
wajibah merupakan bagian dari perkara waris.

PERMASALAHAN
Gugatan rekonvensi yang diajukan oleh Tergugat pada waktu
pengajuan duplik, gugatan rekonpensi tersebut tidak dijawab oleh
Tergugat Rekonpensi/Penggugat Konpensi, kemudian oleh Majelis
Hakim, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan alat-alat bukti,
kemudian pada waktu sidang tahap kesimpulan baru Tergugat
Rekonvensi/Penggugat Rekonvensi menyampaikan jawaban atas
gugatan rekonvensi.
- Apabila Majelis Hakim tidak memberikan kesempatan kepada
Tergugat rekonvensi pada tahap kesimpulan tersebut, apakah
dapat dikatakan menyalahi Hukum Acara?
- Dan apakah dapat/boleh gugatan rekonvensi tersebut dinyatakan
tidak dapat diterima?
JAWAB :
- Jika gugatan rekonvensi diajukan pada tahap duplik, maka
Tergugat Rekonvensi harus diberikan kesempatan untuk
memberikan jawaban gugatan rekonvensi tersebut.

PERMASALAHAN
Pemanggilan terhadap Tergugat yang ghaib dilakukan via internet,
tergugat mengajukan jawaban melalui internet pula yaitu melalui email
ke Pengadilan Agama yang bersangkutan, isi jawaban tergugat
sebagai berikut:
1. Eksepsi bahwa Pengadilan Agama tersebut tidak berwenang
mengadili perkara tersebut karena bukan kompetensi relatifnya.
2. Tergugat mohon kepada Pengadilan Agama agar gugatan
Penggugat dikirimkan ke emailnya yang untuk selanjutnya
Tergugat akan menyampaikan jawaban tentang pokok perkara
melalui internet pula.
a. Dapatkah eksepsi dan jawaban terhadap perkara tersebut
dilakukan melalui internet?
b. Sampai dimana kekuatan hukumnya?
459
JAWAB :
Keduanya tidak boleh, karena pangadilan tidak berkewajiban pro
aktif untuk membuka ke Internet mengenai kasus yang ditangani.

PERMASALAHAN
Sesuai Pasal 54 UU. No 7 Tahun 1989 yang diperbaharui dengan UU
No 3 Tahun 2006, di jelaskan bahwa Hukum Acara Pengadilan Agama
adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada lingkungan
Pengadilan Umum, kecuali yang disebutkan secara khusus, dalam
Pasal 1967 BW dijelaskan bahwa semua tuntutan hak, baik yang
bersifat kebendaan maupun perorangan hapus setelah lampau waktu
30 tahun (kadaluarsa):
a. Bagaimana aturan di atas bila dikaitkan dengan perkara gugatan
waris, dimana harta waris puluhan tahun dikuasai Tergugat (lebih
30 tahun) sampai beranak cucu, kemudian setelah itu adik-adik
Tergugat, anak-anak saudara yang orang tuanya meninggal lebih
dahulu, juga ibu Tergugat dan yang lainnya menggugat harta
waris yang dikuasai Tergugat.
Dapatkah gugatan waris tersebut di ajukan meskipun lewat waktu,
kalau dapat apa dasarnya dalam waris tidak mengenal
kadaluarsa (sebagai pengecualian hukum) tersebut.
b. Apabila dalam proses gugatan tersebut di atas Tergugat
meninggal dunia dengan meninggalkan istri dan 4 (empat) orang
anak, dalam hal ini dapatkah gugatan terhadap Tergugat
almarhum diteruskan kepada ahli warisnya/istri dan 4 (empat)
orang anaknya, sebagaimana dimaksud Pasal 7 Rv./Pasal 1194
BW, atau gugatan menjadi gugur karena meninggalnya Tergugat?
c. Dapatkah ketentuan KHI diberlakukan surut terhadap kasus ahli
waris yang terjadi lama sebelum lahirnya KHI, seperti ahli waris
pengganti untuk kasus yang lama sebelum lahirnya KHI, dan apa
dasar pertimbangannya.

JA W A B:
a. Gugatan waris tersebut dapat diajukan, karena perkara
kewarisan dalam Islam tidak mengenal istilah kadaluarsa
(lampau waktu). Hal tersebut didasarkan ada pertimbangan
bahwa hak kewarisan adalah hak mutlak bagi ahli waris dan

460
selama harta waris belum dibagi, maka kapanpun dapat
dituntut/digugat karena memang itu haknya, dan juga asas
hukum waris itu bersifat ijbari. Selain itu didasarkan pada
putusan Mahkamah Agung No. 6 K/Sip/1960 tanggal 9 Maret
1960, No. 932 K/Sip/1971 tanggal 12 Januari 1972, No. 7
K/Sip/1973 tanggal 27 Februari 1975, No. 31 K/Sip/1991 dan
No. 268 K/AG/1977 yang intinya menyebutkan tidak ada
kadaluarsa dalam waris.
b. Apabila Tergugat meninggal dunia; maka gugatan waris
dapat diteruskan atau dialihkan kepada ahil warisnya. Hal
tersebut didasarkan pada putusan Mahkamah Agung Nomor:
53K/ SK/1967 tanggal 18 Oktober 1967.
c. Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak dapat diberlakukan
terhadap kasus waris yang sudah dibagi sebelum lahirnya
KHI.

PTA. PADANG
PERMASALAHAN
Perkara Permohonan Itsbat Nikah.
a. Dalam Pasal 7 ayat (3) huruf (a) Kompilasi Hukum Islam (KHI)
dinyatakan “bahwa itsbat nikah dapat diajukan berkenaan dengan
adanya perkawinan dalam rangka perceraian” sementara dalam
Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 56 ayat (3) KHI dinyatakan pula bahwa
perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan PPN dan
perkawinan yang dilakukan tanpa izin pengadilan tidak
mempunyai kekuatan hukum.
1) Apakah permohonan itsbat nikah untuk perceraian dapat
diberikan terhadap semua perkawinan yang tidak tercatat,
atau dibatasi dengan ketentuan Pasal 6 ayat (2) dan Pasal
56 ayat (3) KHI.
2) Kalau itsbat nikah untuk perceraian dibolehkan untuk semua
perkawinan yang tidak tercatat bagaimana dampaknya
terhadap keabsahan anak, perwalian, harta bersama,
kewarisan, dan lain-lain.
b. Dalam Buku II Mahkamah Agung RI (edisi revisi) disebutkan
bahwa permohonan Itsbat nikah termasuk salah satu dari jenis
perkara volunter.
461
Apakah upaya hukum bagi pihak yang merasa dirugikan (Isteri
dalam kasus poligami liar), kalau dengan memasukkan gugatan
baru apakah tidak terlalu berbelitftidak sesuai dengan asas
peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.

JAW AB:
Pedoman Buku II Tahun 2008 yang akan segera terbit.

PERMASALAHAN
Biaya Perkara Prodeo.
Dalam tahun anggaran 2008 disediakan dalam DIPA anggaran biaya
perkara prodeo.
a. Pola Bindatmin tidak mengatur tentang tata cara dan mekanisme
pembayaran dan pengeluaran biaya perkara dengan cara
pembebanan kepada negara (DIPA). Untuk itu, perlu adanya
peraturan khusus untuk itu,
b. HIR/RBg juga tidak mengatur tentang pembebanan biaya perkara
kepada negara (DIPA). Kalau diizinkan oleh pengadilan (Hakim)
untuk berperkara secara prodeo (cuma-cuma) dan biaya
perkaranya dibebankan kepada negara (DIPA), bagaimana bunyi
amar putusan pengadilan.

JA W A B:
- Pedomani Buku II Tahun 2008 yang akan segera terbit.
- Perkara Prodeo pedomani buku II terbaru tahun 2008.
- Rumusan amar menghukum Penggugat atau Tergugat untuk
membayar biaya perkara nihil.

PERMASALAHAN
Dessenting Opinion (Pendapat Berbeda)
Pasal 19 ayat (5) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman tidak dijelaskan bagaimana cara penerapan
dessenting opinion.
a. Apakah menjadi bagian dalam putusan, atau
b. Terlampir dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan
c. Kalau terlampir apakah hanya ditandatangani oleh Hakim yang
berbeda pendapat saja.

462
JAWAB :
Dessenting Opinion menjadi bagian dalam putusan, dimasukkan
dalam pertimbangan hukum pada bagian akhir sebelum
pertimbangan biaya perkara.

PERMASALAHAN
Terjadinya perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006
mengakibatkan terjadi pula perubahan dalam berbagai hal yang
memerlukan perubahan dan pengaturan lebih lanjut, antara lain :
a. Pasal 90 ayat (2) “Biaya perkara diatur oleh Mahkamah Agung”.
- Perlu segera diterbitkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah
Agung tentang biaya perkara di lingkungan Peradilan Agama.
b. Pasal 44 “Panitera pengadilan tidak merangkap sebagai
sekretaris pengadilan”.
- Perlu segera diterbitkan SK Ketua Mahkamah Agung RI
tentang susunan organisasi dan tata kerja Pengadilan
Agama dan Pengadilan Tinggi Agama.
c. Pasal 49 huruf (i) yang mengatur tentang penambahan
kewenangan Peradilan Agama di bidang ekonomi syariah,
- Perlu ditindaklanjuti dengan perubahan register dan bentuk
laporan yang ada selama ini.

JAWAB :
Usul ditampung untuk diteruskan kepada KMA.

PERMASLAHAN

Dalam Pasal 390 HIR dinyatakan bahwa kalau para pihak tidak
ditemui di alamatnya maka panggilan disampaikan kepada kepala
desa/lurah.
Mengingat RT dan RW adalah merupakan perangkat resmi
pemerintah dan mereka lebih dekat dan lebih tahu dengan warganya,
apakah tidak mungkin ketentuan Pasal 390 HIR ini tidak diartikan
secara sempit/eksplisit dan dapat ditafsirkan lebih luas dan logis.

463
JAWAB :
Ketentuan Pasal 390 HIR tetap harus dipedomani, sehingga
relaas/ surat panggilan yang sah dan resmi bagi para pihak yang
pada saat dipanggil tidak dapat bertemu adalah lewat kepala
Desa/Lurah. Sedangkan penyampaian surat panggilan/relaas
dapat saja diberikan kepada RT/RW setempat agar surat
panggilan tersebut cepat sampai kepada yang bersangkutan.

PERMASALAHAN
Salah satu kewenangan Pengadilan Agama dalam perkara di bidang
perkawinan adalah perkara pengangkatan anak (Pasal 49 Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2006).
a. Tidak adanya keseragaman peraturan yang ada tentang usia
maksimal seorang anak (antara Undang-Undang Perkawinan,
Undang-Undang Kependudukan, dan Undang-Undang Perlin­
dungan Anak). Begitu juga dalam terminologi fiqh apakah yang
dikatakan anak itu sampai mumayyiz atau sampai mukallaf
(baligh berakal).
b. Apablia terjadi kelalaian orang tua angkat terhadap anak angkat
dalam hal biaya perawatan, nafkah, pendidikan, dan lain-lain,
dapatkah orang tua angkat dituntut?. Kalau dapat, apa dasar
hukumnya.

JAWAB :
- Pengadilan Agama berwenang menerima dan memeriksa
permohonan pengangkatan anak terhadap anak yang
berusia di atas 5 tahun.
- Lihat Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak.
Pedomani Buku II Tahun 2008 yang akan segera terbit.
Dapat digugat.

PERMASALAHAN
Pasal 160 KHI menyatakan bahwa besarnya mut’ah disesuaikan
dengan kepatutan dan kemampuan suami.

464
- Di negara-negara timur tengah pembebanan mut’ah untuk isteri
itu cukup besar sementara untuk Indonesia diserahkan kepada
pertimbangan Hakim berdasarkan asas kepatutan dan
kemampuan. Alangkah lebih baiknya ditetapkan standar yang
jelas dalam suatu peraturan.

JAWAB :
Silahkan putuskan sesuai dengan rasa keadilan dan keyakinan
saudara sebagai hakim.

PERMASALAHAN
Mengingat banyaknya tanah wakaf yang belum bersertifikat terutama
yang digunakan untuk kepentingan ibadah/sosiai sementara wakaf itu
telah terjadi dalam waktu yang cukup lama. Perlu dibuka kemungkinan
dibolehkannya itsbat wakaf.

JAWAB :
Pedomani Buku II Tahun 2008 yang akan segera terbit.

PERMASALAHAN
Hasil Rakernas Mahkamah Agung RI tahun 2007 di Makassar tentang
kebolehan eksekusi penyerahan anak perlu ditinjau lagi mengingat
dampak psikologis yang akan terjadi terhadap anak dikemudian hari
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.

JAWAB :
Pelaksanaan eksekusi anak dilakukan dengan cara yang
bijaksana dan hati-hati dengan memperhatikan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

PTA. BANDAR LAMPUNG


PERMASALAHAN
Jika putusan PA telah mempunyai kekuatan hukum tetap, namun
salah satu pihak ngotot mau mengajukan upaya hukum banding,
apakah Pengadilan berhak untuk menahan atau tidak mengeluarkan
Akte Cerainya sampai dengan adanya putusan banding perkara

465
dim aksud atau dapat dengan segera untuk m engeluarkan Akte
Cerainya walaupun ada salah satu pihak yang mengajukan banding.
JAWAB :
Menurut Pasal 78 ayat 4 UU No.7 Tahun 1989 sebagaimana telah
diubah dengan UU No.3 Tahun 2006 sebagai berikut:
- Panitera berkewajiban memberikan akta cerai sebagai surat
bukti cerai kepada para pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari terhitung setelah putusan yang memperoleh kekuatan
hukum tetap tersebut diberitahukan kepada para pihak.
Berdasarkan ketentuan tersebut tidak ada alasan yang
membenarkan bagi aparat Peradilan Agama menahan atau
tidak mengeluarkan Akta cerai setelah putusan berkekuatan
hukum tetap.
Sedangkan menyangkut keinginan pihak yang dikalahkan
untuk melakukan upaya hukum, Pengadilanpun tidak dapat
mencegah pihak untuk melakukan upaya hukum, namun
sepatutnya bila yang bersangkutan diberi petunjuk tentang
kemungkinan-kemungkinan dan akibat upaya hukum
tersebut dengan segala resikonya.

PERMASALAHAN
Penanggulangan perkara Prodeo sudah masuk dalam DIPA tahun
2008, namun sampai saat ini belum ada petunjuk teknis tentang tata
cara pencairan dana yang dimaksud, maka oleh karena itu mohon
penjelasan :
a. Bagaimana tata cara pencairan dan pertanggungjawaban dana
perkara Prodeo yang tercantum dalam DIPA?
b. Apakah rincian pengeluaran dana perkara prodeo tersebut perlu
dimasukkan dalam buku jurnal atau tidak perlu?
c. Apakah Ketua Majelis berwenang/berhak memerintahkan kepada
bendahara pengguna anggaran untuk mencairkan dana perkara
prodeo yang tercantum dalam DIPA?

JAWAB :
Pada prinsipnya perkara prodeo menurut ketentuan hukum acara
tidak ada biaya yang dipungut dan pihak yang berperkara,

466
kalaupun biaya prodeo telah ditanggulangi dalam DIPA, maka hal
itu perlu petunjuk teknis dan pimpinan Mahkamah Agung baik
berupa Surat Edaran atau Surat Keputusan dsb, sebab
pengeluaran dana DIPA merupakan tanggung jawab administrasi
yang bersifat non yudisial.

PERMASALAHAN
Penyelesaian perkara itsbat wakaf sesuai rumusan hasil diskusi
kelompok bidang Peradilan Agama pada Rakernas MARI tahun 2007
di Makassar; poin A. 11.a: Dalam hal tanah wakaf yang tidak memiliki
Akta Ikrar Wakaf dapat diajukan permohonan Itsbat Wakaf ke
Pengadilan Agama dengan berpedoman pada petunjuk teknis
Mahkamah Agung, namun ternyata sampai saat ini petunjuk teknis
dimaksud belum ada. Oleh karena itu mohon Mahkamah Agung
segera menerbitkan surat edaran I petunjuk mengenai hal tersebut.

JAWAB :
Penyelesaian perkara Istbat wakaf merupakan upaya legitimasi
atas objek wakaf yang secara yuridis formil tidak sah karena tidak
memiliki Akta Ikrar Wakaf, namun menurut ketentuan Kompilasi
Hukum Islam diatur sebagai berikut:
Pasal 228
Perwakafan benda, demikian pula pengurusannya yang terjadi
sebelum dikeluarkannya ketentuan ini, harus dilaporkan dan
didaftarkan kepada Kantor Urusan Agama Kecamatan setempat
untuk disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan ini.
Menyangkut teknis pengajuan permohonan Isbat wakaf agar
diproses sesuai prosedure pengajuan perkara permohonan serta
tahapan-tahapan pemeriksaan sambil menunggu surat edaran
MARI guna menghindari kekosongan hukum (rechtvacuum).

PERMASALAHAN
Sesuai hasil Rakernas Mahkamah Agung RI tahun 2007 di Makassar,
bahwa untuk penyampaian Akte Cerai yang menumpuk di Pengadilan
supaya segera disampaikan kepada para pihak oleh Jurusita dengan
biaya dibebankan kepada DIPA. namun sampai saat ini petunjuk

467
teknisnya belum ada, maka oleh karena itu dimohon Mahkamah
Agung segera menerbitkan surat petunjuk dimaksud.

JAWAB :
Usul dilanjutkan kepada pejabat yang berkompeten.

PERMASALAHAN
Dalam hal penyampaiaan panggilan pemberitahuan kepada para
pihak yang tidak dapat dijumpai ditempat tinggalnya, maka panggilan I
pemberitahuan disampaikan melalui Lurah! Kepala Desa setempat.
Dalam hal penyampaian pemberitahuan melalui Lurah I Kepala Desa
tersebut) apakah boleh biaya Transport lurah atau kepala desa untuk
menyampaikan panggilan I pemboritahuan kepada para pihak tersebut
dimasukkan kedalam komponen biaya panggilan! pemberitahuan
(biaya perkara).
JAWAB :
Biaya panggilan untuk Kepala Desa/Lurah diperhitungkan dalam
biaya pemanggilan Jurusita Penggariti.

PERMASALAHAN

a. Biaya prodeo yang dituangkan dalam DIPA belum ada juklak


untuk mekanisme penggunaan dan pencairannya.
b. Belum ada ketetapan besaran panjar biaya perkara dan MARI
khususnya biaya banding.
c. Belum ada ketegasan penggunaan Biaya Hukum dan HAM yang
dituang dalam DIPA.
d. Belum disetujuinya Pembentukan PA Lampung Timur bahkan
sudah terbentuk Kabupaten baru yaitu Kabupaten Pesawaran.

JAWAB :
Usul dilanjutkan ke pihak yang berkompeten.

PERMASALAHAN
a. Kode surat yang ada belum terperinci menurut jenis kegiatan
masing-masing.

468
b. Penerapan Informasi technology (IT) dilingkungan PTA masih
belum maksimal, khususnya di PA Blambangan Umpu karena
belum ada jaringan Telpon.
c. Belum adanya penegasan jabatan struktural tidak boleh mengikuti
test CPP.
d. Usulan RKA-KL ketika menjadi DIPA tidak sesuai sehingga apa
yang sudah diprogramkan belum dapat dilaksanakan.

JAWAB :
Usul dilanjutkan kepada pihak yang berkompeten.

PTA. BANTEN
PERMASALAHAN
Ada 2 (dua) pendapat yang berkembang tentang eksekusi anak :
- Pendapat pertama bahwa anak dapat dieksekusi sebagai
konsekuensi logis adanya amar putusan yang menetapkan hak
asuh (pemeliharaan) seorang anak jatuh kepada salah seorang
orang tuanya (bapak atau ibu).
Pendapat kedua bahwa anak tidak dapat dieksekusi karena anak
bukanlah behda/barang yang dengan mudah dapat dipindahkan/
dialihkan dari kekuasaan orang lain
Pendapat manakah yang sebenarnya?

JAWAB :
Pada prinsipnya apabila putusan bersifat condemnatoir, telah
BHT, diajukan permohonan eksekusi, telah dilakukan aanmaning
tetapi tidak mau melaksanakan isi amar putusan, maka sesuai
ketentuan Pasal 225 HIR dapat dilakukan eksekusi setelah ada
Penetapan Eksekusi. Akan tetapi untuk eksekusi anak harus
menggunakan pendekatan yang berbeda dengan eksekusi
benda/barang. Untuk eksekusi anak yang harus diperhatikan
adalah psikologis anak dan “kepentingan yang terbaik bagi anak”
(vide : Pasal 2 huruf b UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak).

469
PERMASALAHAN
Tanah menganut asas horizontal (menurut konsideran UUPA
Nomor 5 Tahun 1960) akan tetapi dalam berbagai hal persoalan tanah
tidak dapat dipisahkan dengan bangunan yang berdiri di atas tanah
yang bersangkutan, sebagaimana “hukum perlekatan” ex. Pasal 500
KUH Perdata yang berbunyi segala sesuatu yang termasuk dalam
suatu barang karena hukum perlekatan, begitu pula segala hasilnya,
baik hasil alam maupun hasil usaha kerajinan, selama masih melekat
pada dahan atau akarnya atau terpaut pada tanah adalah bagian dari
barang itu, apakah Pasal tersebut dapat dijadikan pernyataan sebagai
dasar hukum pelaksanaan eksekusi.
Pada satu sisi tanah tersebut adalah tanah milik salah satu pihak
suami isteri (bukan harta bersama), disisi lain bangunan permanen
yang berdiri di atasnya adalah harta bersama suami isteri.
Bagaimana solusinya atas harta bersama berupa bangunan
permanen tersebut, agar dapat dibagi dua antara suami dan isteri
yang bercerai?

JAWAB :
Eksekusi adalah melaksanakan putusan hakim yang bersifat
condemnatoir. Apabila harta bersama hanya berupa bangunan
rumah tanpa tanahnya, maka yang dieksekusi adalah rumahnya
saja. Teknik eksekusinya adalah rumah diberikan kepada suami
atau isteri yang menjadi pemilik tanah dengan konpensasi
membayar setengah dari nilai harga rumah tersebut kepada
suami atau isteri yang bukan pemilik tanahnya.

PERMASALAHAN

Harta warisan telah dijual kepada pihak ketiga (beragama non muslim)
oleh salah seorang ahli waris sebelum dibagikan kepada para ahli
waris lainnya, suatu ketika ahli waris yang lain menggugat ke
Pengadilan Agama menuntut haknya, tanpa mengikut sertakan
“pembeli” tersebut sebagai “turut Tergugat”.
Apabila tidak ditarik sebagai pihak, apakah gugatan tersebut termasuk
kategori plurium litis consortium yang berakibat gugatan tersebut di
NO?

470
JAWAB :
Gugatan tersebut tidak termasuk kategori “plurium litis
consortium” karena dalam sengketa kewarisan para ahil warislah
yang berkualitas sebagai pihak, sedangkan pembeli (non Muslim)
adalah pihak ketiga.

PERMASALAHAN
a. Organisasi advokat adalah satu-satunya wadah profesi advokat
yang bebas dan mandiri yang dibentuk sesuai dengan ketentuan
undang-undang ini dengan maksud dan tujuan untuk
meningkatkan kualitas profesi advokat (Pasal 28 ayat (1) UU No.
18 Tahun 2003)
b. Advokat yang menjalankan pekerjaan profesi advokat adalah
yang diangkat sesuai dengan ketentuan undang-undang ini;
c. Setiap advokat yang diangkat berdasarkan undang-undang ini
wajib menjadi anggota organisasi advokat (Pasal 30 ayat (1, 2)
UU No. 18 Tahun 2003).
Peradi sebagai wadah tunggal advokat saat ini mengalami
perpecahan dan akan berpotensi bagi terbentuknya wadah lain selain
PERADI.
Apakah advokat yang diangkat selain oleh PERADI dapat diterima
beracara di pengadilan?

JAWAB :
Satu-satunya Organisasi Advokat yang pernah disepakati
para advokat yang telah dilaporkan kepada Mahkamah
Agung RI dan Menteri Hukum dan Ham adalah Peradi.
Pengadilan berpegang teguh pada kesepakatan i