Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ETIKA PROFESI

DAN HUKUM KESEHATAN


ETIKA TERAPIS GIGI YANG PROFESIONAL

Commented [v1]:

Oleh :
NETA DAMAYANTI
ARTIKEL

RSUD Tugurejo bantah malpraktik pasien tewas usai cabut gigi

Merdeka.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo, Jawa Tengah membantah jika
kematian Sutrisno (48) pada Rabu (27/2) akibat kelalaian dokter dari RSUD Tugurejo
Semarang yang mencabut giginya.
Sebelumnya diberitakan jika Sutrisno, warga Kelurahan Purwoyoso RT 4/RW 5 Kecamatan
Ngaliyan, Kota Semarang meninggal dunia usai empat giginya dicabut oleh Handoko, dokter
spesialis gigi di RSUD Tugurejo.
Humas RSUD Tugurejo Semarang Endang Dwiningsih menjelaskan, pasien tersebut telah
dirawat oleh tim dokter yang terdiri dari dokter gigi spesialis bedah mulut, dokter penyakit
dalam dan dokter spesialis paru-paru.
"Kepada pasien telah dilakukan terapi dan tindakan pencabutan gigi untuk menghilangkan
penyebab infeksi serta tindakan insisi dan drainase intra oral. Juga sudah dilakukan audit medis
bahwa proses penindakan sudah sesuai prosedur," kata Endang Dwiningsih saat dikonfirmasi
merdeka.com Sabtu (2/3) melalui ponselnya.
Endang menegaskan, pemberitaan yang mengatakan bahwa rumah sakit menegur dokter gigi
yang bersangkutan karena melakukan kelalaian adalah tidak benar, sebab rumah sakit telah
mengadakan audit medis. Sehingga tindakan yang dilakukan tim dokter sudah sesuai prosedur.
"Sehingga tidak ada indikasi RSUD Tugurejo Semarang melakukan malpraktik," jelasnya.
Soal Samanah istri Sutrisno yang menyatakan bahwa telah melapor ke pihak rumah sakit dan
telah diberikan teguran kepada Handoko selaku dokter dinilai RSUD Tugurejo Semarang
sebagai pernyataan sepihak. "Itu pernyataan sepihak dari keluarga dan tidak ada langkah
teguran ke dokternya," tandas Endang.
Sebelumnya, Sutrisno meninggal dunia usai empat giginya dicabut oleh Handoko, dokter
spesialis gigi di RSUD Tugurejo, Jl Raya Mangkang Semarang, Jateng.
Tragedi ini bermula saat Sutrisno mengeluh pada Samanah, istrinya, kalau gigi bagian belakang
sakit. Kemudian dia memutuskan ke RSUD Tugurejo untuk berobat dan berkonsultasi dengan
dokter.
Saat itu Sutrisno ditempatkan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Saat itu memang kondisi
sudah memprihatinkan, karena selain sakit gigi dia juga mengeluhkan ada benjolan sebesar
tangan anak kecil di bawah tenggorokannya. Diduga, benjolan muncul karena infeksi dari
rahang akibat giginya yang membengkak.
Melihat kondisi Sutrisno, Handoko, dokter spesialis gigi di rumah sakit itu kemudian
berkonsultasi dengan dokter-dokter lainnya dan memutuskan mencabut gigi Sutrisno sekaligus
empat.
Tapi Handoko lupa membuat lubang di bawah rahang Sutrisno, untuk aliran sisa cairan dari
pencabutan gigi. Usai dicabut giginya, Sutrisno mengaku pada istrinya sudah tak lagi merasa
sakit gigi. Tapi yang terjadi, paru-parunya malah sakit. Mendengar keluhan suami, Samanah
melapor kepada Handoko selaku dokter yang menangani suaminya.
"Kami langsung melapor ke pihak rumah sakit dan akhirnya pihak rumah sakit menegur dokter
gigi Handoko," ungkap Samanah Kamis(28/2) saat ditemui wartawan di rumah duka.
Kemudian, pihak dari RSUD Tugurejo langsung melakukan pemeriksaan di paru-paru
Sutrisno. Setelah diperiksa ternyata di dalam paru-paru, terdapat nanah dan darah, yang diduga
sisa cairan dari empat gigi yang dicabut saat itu.

ESSAY

1. Etika
Kode etik adalah pernyataan standar professional yang digunakan sebagai pedoman perilaku
dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.
Profesional suatu bentuk pekerjaan yang memiliki kode etik sebagai acuan dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya. Standar Profesi sebagai batasan aktivitas dan kode etik
sebagai batasan moral. Hak dan kewajiban tenaga kesehatan secara khusus berkaitan
kewenangan sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikannya
 Kewajiban umum
1. Setiap perawat gigi indonesia senantiasa menjalankan profesinya secara optimal
2. Setiap perawat gigi indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma hidup yang
luhur.
3. Dalam menjalankan profesi, setiap Perawat Gigi Indonesia tidak dibenarkan
melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kode etik.
4. Setiap Perawat Gigi Indonesia agar menjalin kerjasama yang baik dengan tenaga
kesehatan lainnya.
5. Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib bertindak sebagai motivator dan pendidik
masyarakat.
6. Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib berupaya meningkatkan kesehatan gigi dan
mulut masyarakat dalam bidang promotif, preventif, dan kuratif sederhana.

Sebagai terapis gigi yang Profesional, hal tersebut tidak akan terjadi jika dokter pencabut gigi
tidak lalai dalam tugasnya, Seharusnya dokter tersebut lebih teliti dalam mengatasi berbagai
keluhan pasien, dapat bertanggung jawab atas kejadian yang dia lakukan, dan dapat
mengerjakan tugasnya dengan optimal.
Seorang terapis gigi juga dapat menghimbau kepada dokter tersebut untuk bekerja sama
dengan rekan se profesinya, agar pekerjaan bisa maksimal dan tidak terjadi kendala saat proses
penyembuhan berlangsung.
Sebagai terapis gigi juga bisa menganalisis bahwa kode etik yang dilakukan dokter tersebut telah
dilanggar karena kelalaian dalam bertugas dan tidak teliti dalam mengerjakan profesinya,
akibatnya pasien yang akan berkonsultasi dengan dokter tersebut merasa terancam dan
khawatir dengan kelakuan dokter tersebut.
2. Profil Terapis Gigi Beretika yang diharapkan

Berkaitan dengan hak dan kewajiban tenaga kesehatan yang perlu mendapat sorotan
terutama terhadap tenaga kesehatan yang berhadapan dengan pasien pada umumnya
sering menghadapi kendala dan resiko bahkan kadang-kadang dihadapkan kepada
situasi yang sulit.

Pelanggaran terhadap Standar Profesi terjadi berdasarkan;


a. Pengaduan klien/pasien atau keluarganya.
b. Timbulnya akibat samping yang merugikan klien / pasien akibat tindakan yang
tidak sesuai dengan Standar Profesi yang ditentukan berdasarkan pembuktian.

Ruang lingkup hak pasien mencakup antara lain hak akan informasi, hak untuk
menentukan pilihan terapi dan persetujuannya, hak untuk memperoleh pertimbangan
dari orang lain yang dimintakan pendapat olehnya.

Mengingat profesi perawat gigi merupakan tugas mulia yang tidak terlepas dari fungsi
kemanusiaan dalam bidang kesehatan maka perlu memiliki suatu kode etik yang dijiwai
oleh nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Seorang perawat gigi dalam menjalankan profesinya perlu membawa diri dalam sikap
dan tindakan yang terpuji. Baik dalam hubungannya terhadap penderita, masyarakat,
rekan sejawat, maupun profesinya.