Anda di halaman 1dari 8

Pembahasan Kasus Berdasarkan Pada Kaidah Dasar Bioetika

Meildy Galanita Widodo Putri

102015088

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Abstrak

Kata ‘Bioetika’ terdiri dari dua kata dasar, yakni bios yang berarti ‘kehidupan’, dan ethos
yang berarti ‘norma-norma’ ataupun ‘nilai-nilai moral’. Jadi, pengertian paling mendasar dari
‘bioetika’ adalah “etika ilmu-ilmu kehidupan”. Pengertian lebih luas dari ‘bioetika’ menurut F.
Abel adalah “studi interdisipliner tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di
bidang biologi dan ilmu kedokteran pada skala mikro maupun makro termasuk dampaknya
terhadap masyarakat luas serta sistem nilainya, kini dan masa mendatang”. Hal ini menunjukkan
bahwa bioetika juga terhubung dengan pembahasan dalam bidang sosial, agama, ekonomi,
politik dan tentunya masalah hukum

Kata Kunci : Bioetika

Abstract

The word ‘Bioethics’ consist of two basic words, namely bios menas ‘life’ and etios
means ‘the norms’ or ‘moral value’. Thus, the most fundamental understanding of bioethics is
the ethics of the life sciences. Broader understanding of bioethics by F. Abel is “interdiscplinary
study of the problem psed by developments in biology and medicine at the micro and macro
scale including its impact on the wider community and value system, present and future”. This
suggest that bioethics is also connected with the discussion in the fields of social, religious,
economic, political and legal problems of course.

Key Words : Bioethics


Pendahuluan

Cakupan masalah bioetika sekarang telah berkembang sangat luas. Pada awalnya,
bioetika membahas terutama pada masalah-masalah legalitas tindakan (misalnya : aborsi,
euthanasia, transplantasi organ, rekayasa genetik). Sekarang bioetika juga mencakup faktoor-
faktor yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas (misalnya : kesehatan lingkungan
kerja, demografi, penyembuhan tradisional, hak-hak pasien, dll). Ada juga tambahan cakupan
mengenai kesehatan subjek penelitian.

Menurut Beauchamp dan Childress (1994), suatu keputusan etik dapat diambil setelah
menimbang empat kaidah dasar bioetik dan beberapa aturan dibawahnya. Keempat kaidah dasar
bioetik tersebut antara lain adalah ‘Beneficence’, ‘Non-Maleficence’, ’Autonomi’, dan ‘Justice’.
Keempat kaidah bioetik tersebut bertujuan untuk membantu dokter mengambil keputusan yang
tepat menurut etika kedokteran dan bioetika. Tujuan utama bioetika adalah untuk membantu
dokter dalam berhadapan dengan pasien, mencegah dokter menyalah-gunakan kewenangan yang
dimiliki, dan untuk melindungi hak-hak pasien.

Pembahasan
SKENARIO F

Dokter B sedang bertugas di unit gawat darurat, pada saat dr.B bertugas, datang seorang pemuda
berumur 25 tahun, berlumuran darah diantar oleh beberapa orang. dari orang yang mengantarnya
dr.B mengetahui pasiennya ternyata mengalami kecelakaan lalu lintas ketika sedang
mengendarai motornya. Dr.B lalu memeriksa pemuda tersebut dan dari hasil pemeriksaan,
pemuda tersebut membutuhkan tranfusi darah untuk menolong jiwanya. Walaupun pemuda
tersebut telah kehilangan banyak darah kondisinya masih dalam keadaan sadar. Dr.B lalu
menjelaskan kepada pemuda tersebut bahwa ia membutuhkan tranfusi darah untuk menolongnya.
Namun pemuda tersebut menolak untuk tidak memberi tranfusi darah kepada pemuda tersebut.
I. Beneficence

Beneficence memiliki artian seorang dokter berbuat sebaik mungkin dalam menjaga
pasiennya dalam kondisi sehat. Dokter harus menyediakan kemudahan dan kesenangan bagi
pasien, dan memaksimalisasi akibat baik daripada akibat buruk. Dalam singkatnya, beneficence
memberikan perlakuan terbaik pada pasien.

Ada dua prinsip beneficence, yaitu:

1.Positive Beneficence
Mencegah hal yang buruk dan membahayakan pasien, memaksimalisasi akibat baik
2.Balancing of Utility/ Proportionality
Mempertimbangkan dengan bijak manfaat dan kerugian (biaya, efektivitas, resiko)

Beneficence dibagi dua jenis, yakni:

1.General Beneficence
•Melindungi & mempertahankan hak yang lain
•Mencegah terjadinya kerugian pada yang lain
•Menghilangkan kondisi penyebab kerugian
2.Specific Beneficence
•Menolong orang cacat
•Menyelamatkan orang dari bahaya

Ciri-ciri Beneficence adalah sebagai berikut:

1.Mengutamakan Altruisme
2.Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3.Memandang pasien/ keluarga/ sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter
4.Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu
keburukannya
5.Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang
6.Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
7.Pembatasan “goal based”
8.Memaksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9.Minimalisasi akibat buruk
10.Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11.Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12.Tidak menarik honorarium di luar kepantasan
13.Maksimalisasi kepuasaan tertinggi secara keseluruhan
14.Mengembangkan profesi secara terus menerus
15.Memberi suatu resep berkhasiat namun murah
16.Menerapkan Golden Rule Principle

Dalam kasus Skenario F, kaidah beneficence sama sekali tidak dipakai karena dalam
kasus ini bukanlah kasus yang wajar dalam kata lain ini adalah kasus emergency. Jadi, tidak ada
pembahasan antara kaidah beneficence dengan Skenario F karena tidak berhubungan.

II. Non-Maleficence

Prinsip Non-Maleficence dapat dijelaskan secara singkat, yakni tidak melakukan hal-hal
yang dapat memperparah kondisi pasiennya, dan memilih pengobatan yang memiliki resiko
paling kecil. Non-Maleficence lebih diutamakan pada kasus pasien gawat darurat.

Ciri-ciri kaidah Non-Maleficence antara lain adalah:

1. Menolong pasien emergensi


2. Mengobati pasien yang luka
3. Tidak membunuh pasien
4. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
5. Tidak memandang pasien hanya sebagai obyek
6. Mengobati secara tidak proporsional
7. Mencegah pasien dari bahaya
8. Menghindari misrepresentasi dari pasien
9. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
10. Memberikan semangat hidup
11. Melindungi pasien dari serangan
12. Tidak melakukan white collar crime
Dalam kasus pada Skenario F, kaidah non-maleficence dapat digunakan dengan alasan
pasien yang dihadapi oleh sang dokter adalah pasien emergency. Sesuai dengan kasus yang telah
dipaparkan diatas, dokter telah melakukan beberapa point, dan berikut beberapa point yang
termasuk : 1. Menolong pasien emergency

2.i. Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat) atau beresiko hilangnya sesuatu
yang penting (gawat)

3. Mengobati pasien yang luka

III. Autonomi

Kaidah Autonomi mewajibkan seorang dokter menghormati martabat dan hak pasiennya,
terutama untuk mengambil keputusan sendiri dan menentukan nasibnya. Pasien berhak
mengetahui segala hal mengenai penyakitnya, tindakan apa yang akan dilakukan oleh dokter,
alternatif lain, dan resiko-resikonya. Setelah mengetahui seluruh informasi mengenai kondisinya,
pasien memiliki hak untuk memilih tindakan medis yang ia perbolehkan lakukan, dan bahkan
menolak seluruh penanganan medis yang ditawarkan oleh pihak dokter.

Prinsip-prinsip Autonomi antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri


2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan Informed Consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien
10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk
keluarga pasien sendiri
11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non-emergensi
12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
13. Menjaga hubungan (kontrak)

Sesuai dengan apa yang telah dibahas bersama dalam kelompok, kaidah autonomi
merupakan kaidah yang tepat untuk kasus pada Skenario F karena sebagian besar point
yang terdapat dalam check list sangat cocok untuk kasus ini. Berikut adalah point-
pointnya :

1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien


2. Berterus terang
3. Menghargai privasi
4. Menghargai rasionalitas pasien
5. Melaksanakan informed consent
6. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
7. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
IV. Justice

Keadilan dalam bioetika sangat berperan penting, demi kenyamanan dan kesenangan
pasien. Prinsip Keadilan atau Justice ini berintikan seorang dokter wajib memberikan
perlakuan yang sama pada seluruh pasien, sesuai dengan hak tiap-tiap pasien, tanpa
memandang status sosial-ekonomi, status politik, dan terutama SARA. Bila kaidah Justice
tidak dilaksanakan dengan baik, niscaya praktek kedokteran tidak akan berjalan dengan
lancar. Ciri-ciri Justice antara lain adalah:

1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal


2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability,
quality)
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok rentan
8. Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status sosial, dll
9. Tidak melakukan penyalahgunaan wewenang
10. Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat
15. Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan kesehatan
16. Bijak dalam makroalokasi

Menurut pembahasan kelompok kami, kaidah justice tidaklah tepat untuk kasus pada
Skenario F karena tidak ada pembanding atau pasien lain yang dihadapi oleh dokter
untuk melakukan tindakan keadilan. Namun, beberapa point ada yang cocok untuk kasus
ini, diantaranya :

1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal


2. Menghargai hak hukum pasien
3. Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
4. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

Kesimpulan

Dari pembahasan kasus Skenario F diatas, dapat dilihat bahwa dr.B telah melaksanakan
kode etik kedokteran sesuai dengan kaidah dasar bioetik yaitu autonomi. Meskipun demikian,
bukan berarti dr.B tidak melakukan kaidah dasar bioetik yang lainnya, hanya saja kaidah dasar
bioetik yang dilakukan oleh dr.B lebih tertuju pada kaidah autonomi dimana dr.B sangat
menghargai keputusan yang diambil oleh pasiennya dan pasien tersebut pun telah sesuai dengan
ketentuan (seperti : dewasa dan kompeten).

Daftar Pustaka

1. Hanafiah MJ, Amri Amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Edisi
ke-4. Jakarta: EGC.
2. Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep DS. 2005. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Edisi
Pertama. Jakarta: Pustaka Dwipar.