Anda di halaman 1dari 21

APLIKASI TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI TERHADAP

INTENSITAS NYERI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.


F DENGAN APPENDISITIS DI RUANG AYUB 3 RS. ROEMANI
MUHAMMADIYAH SEMARANG

OLEH

PIPIN DIANA

G3A017215

PROGRAM STUDI NERS (TAHAP PROFENSI)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2018
Tanggal pengkajian 1 November 2018

A. IDENTITAS
1. Identitas pasien
Nama : An. F
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 15 tahun
Pendidikan terakhir : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status perkawinan : Belum kawin
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Manyaran, Semarng Barat
Diagnosa medik : Appendisitis
2. Identitas penanggung jawab
Nama : Ny. C
Umur : 46 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Hubungan dg pasien : Ibu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Manyaran, Semarng Barat

B. STATUS KESEHATAN
1. Keluhan utama (Saat dikaji)
Nyeri perut bagian kanan bawah, post op App
2. Alasan masuk rumah sakit
Pasien masuk di rumah sakit pada tanggal 30-10-2018, datang dengan keluhan
nyeri perut bagian kanan bawah menyebar 1 minggu lalu

3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Klien dibawa ke poli Rs. Roemani Semarang pada tanggal 30 Oktober 2018.
Di poli klien diberikan obat anti nyeri dan dirujuk ke ruang ayyub 3. Saat
pengkajian diruang Ayub 3 pada tanggal 1 Oktober pasien mengatakan lemas,
klien mengeluh nyeri pada perut, badan terasa panas dan pusing. P: nyeri post
Op. hari ke-1, Q: nyeri seperti bekas sayatan, R : nyeri perut bagian kanan
bawah, S : VAS ; 6, T : sewaktu-waktu.
Td : 130/80 mmHg, N : 80 x/m, T : 37.9ᵒ C.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan belum pernah dirawat di rumah sakit dan belum pernah
operasi.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang memiliki penyakit yang
sama dengan pasien, keluarga juga tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi,
DM.

C. PENGKAJIAN POLA FUNGSI DAN PEMERIKSAAN FISIK


1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan setiap sakit periksa ke puskesmas terdekat. Pasien mengatakan
selalu memeriksakan diri ke pusat layanan kesehatan terdekat apabila merasakan
bahwa dirinya sedang sakit. Pasien mengatakan akan kooperatif dengan prosedur
terapi yang ada di ruma sakit
2. Pola nutrisi dan metabolik
Sebelum sakit klien makan tidak teratur, klien suka makan mie instan, frekuensi
makan kadang-kadang 2-3 kali dalam 1 hari dengan porsi makan cukup, tidak ada
makanan yang dihindarin. Saat dirawat klien mengatakan pola makan cukup
dengan porsi setengah. Saat sedang pusing dan demam tinggi pasien merasa mual
muntah.
rumus
a. Antropometri
BB = 54 Kg

TB = 167 cm

LILA = 21 cm

50/(1,67X1,67) = 17.93 IMT Normal weight

b. Biochemical data
Hemoglobin = 13,3 mg/dl

Hemotokrit = 39.2 mg/dl

c. Clinical sign of nutritional status


Rambut tipis, bibir kering, wajah klien tampak lembab.

d. Diit
Diit biasa (tipe) : makan nasi lunak, sayur, lauk dan buah.

3. Pola eliminasi
a. Eliminasi feses
Klien mengatakan sebelum sakit BAB 2 kali dalam 1 hari, saat dirawat klien
mengatakan belum bisa BAB.
b. Pola BAK (frekuensi, watu, warna, jumlah)
Klien mengatakan sebelum sakit BAK 3 kali dalam 1 hari dengan warna
kekuningan jernih dan bau khas, saat sakit pola BAK sama seperti sebelum
sakit, tidak ada masalah. Pasien terpasang selang kateter.
Cairan masuk
Minum : 500 cc
Makan : 100 cc
Infus : 500 cc
CAIRAN MASUK = 500 + 100 + 500
= 1100
CAIRAN KELUAR
BAB : 200 cc
BAK : 150 cc
IWL = (15 x BB)
24jam
=(15x54)/24
= 33,75 cc/ jam
Dalam 24 jam maka : 810 cc
4. Pola aktivitas dan latihan
Klien mengatakan sebelum sakit klien beraktivitas sehari-hari secara mandiri,
klien berperan sebagai pelajar, sehari-hari belajar. Saat dirawat klien mengatakan
tidak bisa aktivitas mandiri. Aktivitas sehari-hari dengan bantuan.
5. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit klien mengatakan tidur kadang susah, biasanya mengalihkan
dengan mendengarkan musik, tidur kira-kira selama 6-7 jam. Saat dirawat klien
mengatakan susah tidur, tidur terbangun terus karena nyeri pada perut bagian
kanan bawah
6. Pola persepsi sensori dan kognitif
Sebelum dan saat dirawat klien tidak ada masalah dengan penglihatan dan
pendengaran, klien tidak memakai alat bantu. Klien mengatakan nyeri perut.
P:saat berbaring masih nyeri, nyeri terus-menerus. Q: nyeri tertusuk-tusuk, R :
nyeri perut bagian kanan bawah, S : VAS ; 6, T : sewaktu-waktu.
7. Pola hubungan dengan orang lain
Sebelum sakit klien termasuk tipe ceria dan mudah akrab dengan orang lain,
hubungan dengan orang lain baik. Setelah sakit hubungan dengan orang lain baik,
temantemannya banyak yang menjenguk tapi terbatas karena menjalani perawatan
di rumah sakit.
8. Pola reproduksi dan Seksual
Klien berjenis kelamin laki-laki, klien belum menikah.
9. Persepsi diri dan konsep diri
Klien mengatakan akan penyakitnya, klien pasti sembuh, sudah pasrah dan ikhtiar
dengan kesembuhannya. Klien mengatakan tidak ada penyesalan, karena semua
penyakit datangnya dari Tuhan.
10. Pola mekanisme koping
Klien selalu berfikir positif dengan penyakit ataupun masalah, klien mengatakan
pasti sembuh dan bisa menjalani proses pengobatan dan perawatan dengan baik.
11. Pola nilai kepercayaan dan keyakinan
Klien mengatakan beragama islam, sebelum sakit klien menjalani ibadah shalat 5
waktu kadang berjamaah di masjid. Setelah sakit klien menjalani ibadah shalat
seperti biasa, tetapi saat kondisi lemas klien shalat dengan duduk atau berbaring.

D. PENGKAJIAN FISIK
1. Keaadaran umum :
Kesadaran : Composmetis (Kesadaran penuh)
2. Tingkat kesadaran : composmentis GCS : E= 4 M=6 V = 5
3. Tanda-tanda vital (TTV)
a. Tekanan Darah : 130/80
b. Nadi : 70x/ Menit
c. Suhu : 37,8 C
d. BB : 54 Kg
e. TB : 167 Cm
4. Pemeriksaan fisik :
a. Kepala : bentuk kepala menonjol ke belakang, bentuk wajah simetris, kepala
agak bersih
1) Rambut : warna rambut hitam, rambur merata, rambut tipis, rambut agak
bersih.
2) Mata : kemampuan penglihatan baik, ada reflek berkedip dengan cahaya,
mata tampak bersih tidak ada secret, pada konjungtiva tidak tampak
anemis dan ikterik.
3) Hidung : Tampak simetris, sedikit kotor, tidak ada polip, tidak mempunyai
riwayat sinusitis
4) Mulut : mukosa tampak kering, bibir agak kering, keadaan mulut bersih

b. Dada
1)Thorax :
Inspeksi : tidak ada bekas luka, bentuk simetris , mamae normal, tidak
tampak penggunaan otot aksesoris
Palpasi : tidak terdapat krepitasi, tidak ada nyeri tekan pada dada
Perkusi : terdengar suara sonor disemua lapang paru
Auskultasi : terdengar bunyi vaskuler disemua lapang dada
2) Jantung :
Inspeksi : ictus kordis tidak terlihat
Palpasi :tidak ada kelainan diarea jantung, iktus cordis teraba di intercostal
4-5
Perkusi : terdengar bunyi redup
Auskultasi : bunyi jantung reguler “lub-dub-lub-dub”, tidak ada bunyi
tambahan.
c. Abdomen :
Inspeksi : tidak tampak pembesaran abdomen, terdapat luka post operasi
diperut bagian kanan bawah
Auskultasi : bising usus 20 x/m
Perkusi : bunyi perkusi tympani
Palpasi : saat diraba perut terasa nyeri bagian kanan bawah
d. Genital :
Berjenis kelamin perempuan daerah genital tampak agak bersih dan tidak ada
kelainan di area genital
e. Ekstremitas :
Ekstremitas teraba hangat, baik pada ekstremitas atas maupun ekstremitas
bawah. Pada ekstremitas atas dan bawah tampak normal dan tonus otot
normal. Dan tidak ada tanda infeksi didaerah infus. Tangan kanan pasien
terpasang infus, tidak ada tanda dan gejala infeksi pada aera infus. Ekstremitas
simetris, kulit tampak bersih, kulit berwarna sawo matang. Reflek otot baik,
capillary refill 3 detik kembali, tidak ada odem.

E. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium
Tanggal 31 Oktober 2018

1. Hematologi

Darah rutin Hasil Unit Nilai


rujukan

Hemoglobin 13.3 g/Dl 11.7-15.5

Lekosit 8.500 /mm3 3600-11000

Trombosit 257.000 /mm3 150000-


440000

Hematokrit 39.2 % 35-47

Hitung jenis

Eosinofil 2.9 % 2-4

Basofil 1.5 % 0-1

N. segmen 40.8 % 50-70

Limfosit 45.8 % 25-40

Monosit 9.0 % 2-8


Laju endap darah 20 mm/jam 0-20

Eritrosit 4.05 Juta/uL 3.8-5.2

MCV 91 fL 80-100

MCH 30 Pg 26-34

MCHC 33 % 32-36

RDW 11.0 % 11.5-14.5

2. IMUNOSROLOGI

HbsAg Negatif Negatif

2. Radiologi
31 Oktober 2018
Appendicogram appendix tak terisi kontras
Kesan : mendukung diagnosa appendicitis

3. Obat-obatan
Obat injeksi
 Ceftriaxone 500mg/24jam
 Ketorolac 1amp/8 jam
 Infus R/L 20 tts/menit
4. Diit
Lunak

F. ANALISA DATA

DS & DO MASALAH ETIOLOGI

DS: post op Nyeri akut Jaringan dan integritas


Pasien mengatakan nyeri bagian adanya luka bekas
perut pada bekas operasi operasi.
DO:
Post op. Hari ke 1, pasien tampak
kesakitan memegangi perut, klien
tampak gelisah. P: saat berbaring
masih nyeri, nyeri terus-menerus.
Q: nyeri tertusuk-tusuk, R : nyeri
perut bagian kanan bawah, S : VAS
; 8, T : sewaktu-waktu.
TD : 120/90 mmHg, HR : 90
x/menit

DS :
Pasien mengatakan nyeri perut Resiko infeksi Prosedur infasif
pada luka operasi
DO :
Post op 1, balutan tampak bersih,
luka tampak merah
TD : 130/80 mmHg, HR : 80
x/menit

DO:
Pasien mengeluh mual, saat makan Resiko kebutuhan Mual-mual
perut semakin sakit, klien merasa nutrisi kurang dari
susan makan. kebutuhan tubuh
DS:
Pasien tampak lemas
TD : 130/80 mmHg, HR : 80
x/menit, RR : 20 x/menit

G. PATHWAYS KEPERAWATAN BERDASARKAN MASALAH

Makan tak teratur Kerja fisik yang keras

Massa keras fases

Obstrusi lumen

Suplay darah menurun, mukosa terkikis

Peradangan appendic

Nyeri akut

Perforasi abses Distensi abdomen


Apendiktomi Menekan gaster

Agen injuri Resti infeksi HCL meningkat

Nyeri akut
Mual, muntah

Keb. Nutrisi kurang


dari keb tubuh
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Nyeri akut berhubungan dengan jaringan dan integritas adanya luka bekas operasi

b. Resiko Infeksi berhubungan dengan tindakan infasif

c. Resiko kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
mual.

I. PERENCANAAN

No. Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


DX hasil

1. Setelah dilakukan a. Pantau tanda-tanda a. Mengenal dan


tindakan keperawatan vital, intensitas/skala memudahkan dalam
selama 3x24 jam melakukan tindakan
nyeri
pasien mengatakan keperawatan.
bahwa rasa sakit telah
b. Ajarkan teknik b. relaksasi mengurangi
terkontrol / hilang.
relaksasi dan napas ketegangan dan membuat
Kriteria hasil: perasaan lebih nyaman.
dalam
 Nyeri berkurang c. Istirahat untuk
c. Anjurkan klien istirahat mengurangi intesitas
bahkan hilang
ditempat tidur. nyeri.
 Pasien tampak d. Untuk mengurangi nyeri
d. Berikan analgetik.
rileks sehingga pasien menjadi
lebih nyaman

Setelah dilakukan a. Tingkatkan cuci tangan a. Menurunkan resiko


tindakan keperawatan yang baik kontaminasi silang.
selama 3x24 jam akan
mencapai b. Memberikan informasi
b. Kaji kulit atau warna
penyembuhan tepat trenteng status proses
insisi. Suhu dan integrits: penyembuhan dan
waktu,bebas drenase
purulen atau eritema perhatikan adanya mewaspadakan staf
dan tidak demam. terhadap dini infeksi.
eritema /inflamasi
Kriteria hasil: kehilangan penyatuan c. Mencegah kotaminasi dan
luka. resiko infeki luka,dimana
 Resiko infeksi tak
dapat memerlukan post
terjadi c. Gunakan antiseptik atau
prostese
kebersihan yang ketet
 Luka bekas insisi
sesuai indikasi untuk d. Mungkin berguna secara
sembuh
menguatkan atau profilaktik untuk
menganti balutan dan mencegah infeksi
bila menangani
drain.insruksian pasien
tidak untuk menyentuh
atau menggaruk insisi

d. Berikan antibiotik sesuai


indikasi

setelah dilakukan a. Jelaskan pentingnya a. Penyembuhan luka


tindakan keperawatan masukan nutrisi harian memerlukan masukan
selama 3x24 jam cukup protein mungkin
optimal
pasien mual mual menunjukkan kebutuhan
bersandar orang lain untuk
sementara waktu.
Kriteria hasil: b. Pertahankan hygiene b. Mulut yang bersih dan
 Nafsu makan oral yang baik setiap segar dapat merangsang
bertambah nafsu makan
waktu
 Status nutrisi
c. Memenuhi kebutuhan
adekuat c. Anjurkan makan sedikit nutrisi
tapi sering
d. Antiemetik, mencegah
d. Berikan antiemetik mual dan muntah
J. IMPLEMENTASI

No
Waktu Tindakan Respon TT
dx
1 1-11-2018 Mengobservasi keadaan S: klien mengatakan nyeri
14.20 umum pasien pada bagian perut, nyeri Pipin
seperti ditusuk-tusuk skala Diana
nyeri 6
O: pasien tampak kesakitan,
lemah

Mengajarkan pasien untuk S: pasien mengatakan nyeri


15.00 teknik relaksasi genggam berkurang setelah melakukan
jari genggam jari
O: paien tampak sedikit
rileks, scala nyeri menjadi 4

S: -
16.00 Membrikan obat : O: obat diterima pasien dan
Obat injeksi diminum,obat masuk melalui
 ceftriaxone 500mg IV.
 Ketorolac 1amp
S: klien mengatakan masih
merasa nyeri, makan habis ½
Observasi tanda-tanda vital porsi
O: TD: 120/90 mmHg, N: 90
x/mnt reguler, RR 20 x/mnt
reguler
2 20.00 Mengobservasi luka dan S : -
memberikan perawatan O : luka bekas operasi bersih
luka. dan masih kemerahan

3 20.00 Memberikan pemahaman S: Pasien mengatakan paham


mengenai pentingnya mengenai yang dijelaskan
masukan nutrisi untuk perawat
penyembuhan luka O:pasien kooperatif

1 2-11-2018 Mengobservasi keadaan S: pasien mengatakan nyeri


07.30 umum pasien post operasi pada bagian operasi, skala
hari-2 nyeri 4
O: pasien tampak sedikit
kesakitan, lemas

S : pasien mengatakan nyeri


09.00 Mengkaji nyeri post op perut bekas operasi
O : nyeri skala 8

S: pasien mengatakan nyeri


10.00 Mengajarkan pasien untuk berkurang setelah melakukan
teknik relaksasi genggam napas dalam
jari O: paien tampak sedikit
rileks, skala nyeri menjadi 6

S : pasien mengatakan nyeri


11.00 Mengajarkan mobilisasi dini berkurang dan bisa berlatih
dengan miring kanan miring sendiri
kiri O : pasien kooperatif

S: -
12.00 Berikan obat O: obat masuk melalui IV.
Obat injeksi

 Ketorolac 1amp
S:-
2 12.00 Mengobservasi luka dan O: luka bersih, tidak ada
memberikan perawatan tanda-tanda infeksi
luka.
S: klien mengatakan masih
12.00 Observai tanda-tanda vital merasa nyeri, makan habis ½
pasien porsi
O: TD: 120/70 mmHg, N: 88
x/mnt reguler, RR 20 x/mnt
reguler

S: Pasien mengatakan paham


3 12.30 Memberikan pemahaman mengenai yang dijelaskan
mengenai pentingnya perawat
masukan nutrisi untuk O:pasien kooperatif
penyembuhan luka
S: pasien mengatakan sudah
13.00 Anjurkan makan lunak memahami tentang saran
sedikit tapi sering perawat
O: pasien kooperatif, pasien
mau makan sedikit dikit

1 3-11-2018 Mengobservasi keadaan S: pasien mengatakan nyeri


07.20 umum pasien post operasi pada bagian operasi, skala
nyeri 3 Pipin
O: pasien tampak sedikit diana
kesakitan, lemas

08.30 Mengkaji nyeri post op S : pasien mengatakan nyeri


perut bekas operasi
O : nyeri skala 3

09.00 Mengajarkan pasien untuk S: pasien mengatakan nyeri


teknik relaksasi genggam berkurang setelah melakukan
jari genggam jari
O: paien tampak sedikit
rileks, skala nyeri menjadi 3

09.20 Mengajarkan mobilisasi dini S : pasien mengatakan nyeri


dengan miring kanan miring berkurang dan bisa berlatih
kiri sendiri
O : pasien kooperatif

10.00 Berikan obat S: -


Obat injeksi O: obat masuk melalui IV.

 Ketorolac 1amp

2 11.00 Mengobservasi luka dan S:-


memberikan perawatan O: luka bersih, tidak ada
luka. tanda-tanda infeksi

12.00 Observai tanda-tanda vital S: klien mengatakan masih


pasien merasa nyeri, makan habis ½
porsi
O: TD: 120/70 mmHg, N: 88
x/mnt reguler, RR 20 x/mnt
reguler
3 13.00 Anjurkan makan lunak S: pasien mengatakan sudah
sedikit tapi sering. memahami tentang saran
Edukasi tentang pentingnya perawat
nutrisi untuk pemulihan. O: pasien kooperatif, pasien
mau makan sedikit dikit

K. EVALUASI

No. Dx Evaluasi TTD

1. S : Pasien mengeluh nyeri berkurang

O : TD : 120/80 mmHg, HR : 80 x/menit, RR : 20 x/menit, Pipin Diana


skala nyeri 4, pasien tampak kesakitan
A : malah nyeri teratasi sebagian
P : lanjut intervensi
 Terapkan relaksasi genggam jari
 Beri pemahaman tentang pentingnya mobilisasi
 Lanjut therapy injeksi

2. S : pasien mengatakan luka sedikit nyeri


O : luka bersih, tidak ada tanda – tanda infeksi Pipin Diana
A : masalah resiko infeksi tidak terjadi
P : lanjut intervensi
 Pantau keadaan luka
 Lakukan ganti balut setiap pagi

3. S : pasien mengatakan nafsu makan sudah meningkat, makan


habis 1 porsi,
O : pasien menghabiskan makan 1 porsi Pipin Diana
A : masalah nutrisi teratasi sebagian
P : lanjut intervensi
 Anjurkan makan sedikit tapi sering
 Anjurkan pasien untuk menjaga pola makan
BAB IV
APLIKASI JURNAL EVIDENCE BASED NURSING RISET

A. Identitas
Nama : An. F
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 15 tahun
Pendidikan terakhir : SMP
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status perkawinan : Belum kawin
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Manyaran, Semarng Barat
Diagnosa medik : Appendisitis
B. Data fokus pasien
Data subyektif dan Masalah ( p ) Etiologi ( E )
obyektif

DS: post op Nyeri akut Jaringan dan integritas


Pasien mengatakan nyeri adanya luka bekas
bagian perut pada bekas operasi.
operasi
DO:
Post op. Hari ke 1, pasien
tampak kesakitan
memegangi perut, klien
tampak gelisah. P: saat
berbaring masih nyeri,
nyeri terus-menerus. Q:
nyeri tertusuk-tusuk, R :
nyeri perut bagian kanan
bawah, S : VAS ; 8, T :
sewaktu-waktu.
 TD : 120/90 mmHg,
HR : 90 x/menit

C. Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan jurnal evidence based


nursing riset yang diaplikasikan “Nyeri akut berhubungan dengan jaringan
dan integritas adanya luka bekas operasi”

D. Analisa sintesa justifikasi

Massa keras fases

obstruksi lumen

mukosa terkikis

peradangan appendisitis

nyeri akut

perfusi abses

appendiktomi

agen injuri

nyeri akut

BAB V
PEMBAHASAN

A. Pembahasan diagnosa keperawatan


1. Pengertian diagnosa keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan jaringan dan integritas adanya luka bekas operasi.

2. Alasan ditegakkannya diagnosa keperawatan


Perawat menegakan diagnosa keperawatan karena ditemukannya data sebagai
berikut:
Data subyektif :
Pasien mengatakan nyeri bagian perut pada bekas operasi

Data obyektif :
Post op. Hari ke 1, pasien tampak kesakitan memegangi perut, klien tampak
gelisah. P: saat berbaring masih nyeri, nyeri terus-menerus. Q: nyeri tertusuk-
tusuk, R : nyeri perut bagian kanan bawah, S : VAS ; 8, T : sewaktu-waktu.

Dan kemudian di temukan masalah nyeri akut berhubungan dengan jaringan dan
integritas adanya luka bekas operasi.

B. Pembahasan aplikasi evidence based nursing


1. Justifikasi pemilihan tindakan berdasarkan EBN
Teknik relaksasi genggam jari terhadap pasien post operasi appendisitis sangat
sederhana dan mudah di terapkan. Teknik relaksasi genggam jari dapat mengurangi
ketegangan fisik dan emosi yang akan membuat tubuh rileks.

2. Mekanisme penerapan EBPN


Menurut jurnal yang di dapatkan bahwa teknik relaksasi genggam jari dilakukan
dengan cara pasien berbaring lurus ditempat tidur, minta pasien untuk mengatur
nafas dan merileksasikan otot, kemudian pasien di pandu untuk menggenggam ibu
jari selama kurang lebih 3-5 menit dengan napas secara teratur dan kemudian
seterusnya satu persatu beralih kejari selanjutnya dengan rentang waktu yang sama.

3. Hasil yang di capai


Setelah di lakukan tindakan teknik relaksasi genggam jari dapat di simpulkan :
a. Intensitas nyeri klien dapat berkurang.
b. Klien dapat melakukan teknik genggam jari dengan mandiri
c. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari teknik relaksasi
genggam jari dengan melihat respon wajah pasien.
4. Kelebihan dan kekurangan selama EBN
a. Kelebihan
Teknik relaksasi genggam jari adalah tehnik yang mudah dilakukan untuk
membantu menurunkan intensitas nyeri.
b. Kekurangan
Tidak ada kekurangan yang berarti dalam melakukan aplikasi EBN ini terhadap
pasien anak dengan post operasi appendisitis di ruang Anak Ayub 3 RS.
Roemani Muhammadiyah Semarang.
5. Tehnik genggam jari
a. Pengaturan posisi tubuh
Posisikan pasien dengan berbaring lurus ditempat tidur, minta pasien untuk
mengatur nafas dan merileksasikan otot.
b. Caranya:
1. Peneliti duduk berada disamping pasien, relaksasi dimulai dengan
menggenggam ibu jari pasien dengan tekanan lembut, genggam hingga
nadi pasien terasa berdenyut.
2. Pasien diminta unuk mengatur nafas dengan hitungan mundur
3. Genggam ibu jari selama kurang lebih 3-5 menit dengan napas secara
teratur dan kemudian seterusnya satu persatu beralih kejari selanjutnya
dengan rentang waktu yang sama.
4. Pasien di minta untuk melakukan sendiri dengan cara yang sama dari
genggam ibu jari jari selama kurang lebih 3-5 menit dengan napas secara
teratur dan kemudian seterusnya satu persatu beralih kejari selanjutnya
dengan rentang waktu yang sama.

c. Tabel PRE dan POST Teknik Genggam Jari

No/Tgl Sebelum dilakukan teknik genggam jari Setelah dilakukan teknik genggam jari
1./1-11-18 Pasien nyeri skala 6 Pasien mengikuti intruksi perawat, pasien
Dengan muka meringis kesakitan merasa rileks
Pasien dapat melakukan sendiri saat nyeri
timbul
2. 2-11-18 Pasien mengatakan menerapkan tektik Skala nyeri pasien berkurang menjadi 3
relaksasi mandiri saat nyeri timbul Wajah pasien tambah rileks dan tidak
merasa nyeri
3.3-11-18 Pasien tampak rileks Teknik relaksasi terbukti dapat
menurunkan intensitas nyari post operasi
appendicitis.
Skala nyeri 2
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan

Nyeri adalah suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang
disebabkan oleh stimulus tertentu. Salah satu terapi non farmakologi dalam
penanganan nyeri adalah teknik relaksasi genggam jari. Teknik realaksasi genggam
jari dapat mengurangi ketegangan fisik dan emosi yang akan membuat tubuh rileks.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh teknik relaksasi genggam jari
terhadap intensitas nyeri pada pasien post appendiktomi.
Bronkopneumonia merupakan salah satu penyakit yang menyerang saluran
pernafasan dimana manifestasi penyakit ini bervariasi mulai dari batuk, pilek, disertai
dengan panas. Pada anak dengan bronkopnemoni berat akan muncul manifestasi
klinik sesak nafas yang hebat apabila tidak di tangani dengan segera. Salah satu cara
yang dapat mengatasi masalah tersebut jika manifestasi klinis batuk disertai dengan
produksi sputum berlebih yang sulit untuk dikeluarkan yaitu fisioterapi dada.
Dengan data yang didapatkan pada pasien bernama An. F berusia 15 tahun, jenis
kelamin laki-laki, dengan keluhan nyeri akut karena post operasi appendicitis. Data
subyektif yang didapatkan Pasien mengatakan nyeri bagian perut pada bekas operasi.
Sedangkan data obyektif yang didapatkan ialah Post op. Hari ke 1, pasien tampak
kesakitan memegangi perut, klien tampak gelisah. P: saat berbaring masih nyeri, nyeri
terus-menerus. Q: nyeri tertusuk-tusuk, R : nyeri perut bagian kanan bawah, S : VAS ;
8, T : sewaktu-waktu.

B. Saran
Dengan pembuatan makalah ini, diharapkan perawat dapat memberikan
informasi, pengertian dan pendidikan tentang teknik relaksasi nafas dalam dan
penyakit appendisitis, serta tindakan yang perlu dilakukan untuk menangani
beberapa manifestasi yang muncul. Perawat juga diharapkan mampu memberikan
pelayanan yang penuh terhadap pasien yang mengalami appendisitis. Pada
mahasiswa, diharapkan mahasiswa keperawatan memahami tentang penyakit
appendisitis yang terjadi pada anak dan menetapkan masalah keperawatan serta
mampu memberikan intervensi yang tepat pada klien appendisitis pada anak.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif, (2009), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius,


Jakarta.

Oswari E, (2009), Bedah dan Perawatannya, Gramedia Jakarta

Suzanne C. Smeltzer, Brenda G Bare (2009), Buku Ajar Keperawatan Medical


Bedah Edisi 8, EGC, Jakarta Penerbit Buku Kedokteran.

Johnson, M.,et all, 2010, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.

Mansjoer, A. (2010). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius


FKUI

Mc Closkey, C.J., Iet all, 2010, Nursing Interventions Classification (NIC) second
Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.

NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.

Smeltzer, Bare (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner &
Suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC