Anda di halaman 1dari 4

CARE OF POST VENTILATOR PATIENT

Pasien Kritis di Intensif care


Prediktor kuat mortalitas pada pasien ventilator
 Riwayat henti jantung (OR 4,5;p =0,006)
 Stroke (OR 3,39, p=0,01)
 Renjatan (OR 2,13; p=0, 012),
 Gangguan ginjal akut (OR 1,91; p=0,002)
Nursing Error
Nursing Error di Intensif care
 Nursing error pada 15 kejadian, berupa tercabutnya SET (26,6696%), jarum
infus (20%) dan NGT (13,33%)
Delapan kategori TERCAP berupa keliru pemberian obat (33,33%) keliru pendukomentasian
(26,67%), kurangnya perhatian (73,33%), penilaian kritis yang tidak tepat (73,33%),
kurangnya pencegahan (26,67%), kurang/tidak tepatnya intervensi (13,33%), interpretasi
yang tidak tepat (33,33%) dan kurangnya tanggung jawab profesional ( 40%), persepsi
perawat mengenai faktor yang berpengaruh adalah beban tugas yang tinggi (73,33%).

CARE OF POST VENTILATOR adalah perwatan yang dibutuhkan pasien sejak upaya
penyapihan ventilator, ekstubasi, bantuan oksigenasi, perwatan ETT & trakeostpmi serta
monitoring secara intensif sampai pasien keluar dari ICU.
PROSES
Gangguan Pernapasan Terapi Oksigen Gagal Napas Pemasangan alat bantu
Perawatan pasien terpasang ventilator Perawatan Post ventilator keluar ICU
Perwatan Biasa Keluar RS
CARE OF POST VENTILATOR
 Weaning (penyapihan ) Ventilator
 Perawatan Endotrakeal Tube
 Ekstubasi
 Breathing Exercise
 Bantuan terapi O2berkelanjutan
 Perawatan trakeostomi
 Monitorng hemodinamik
 Pengawasan Komplikasi
 Persiapan Psien Keluar ICU
WEANING VENTILATOR
Penyapihan adalah proses dari pelepasan dukungan mesin ventilator dan mengembalikan
kerja pernapasan dan ventilator ke pasien. Hal ini berkaitan dengan pemutusan ventilator dan
pelepasan jalan napas buatan (ekstubasi)
INDIKASI
Dahulu Weaning dilakuakn berdasarkan beberapa hal, yakni : volume permenit, (MV)
tekanan inspirasi maksimum, volume tidal, napas cepat, dangkal, indeks CORP.
Sekarang parameternya : Proses penyakit , PaO2, PEEP, FiO2, PH, Hb, kesadaran , suhu
tubuh, fungsi jantung, fungsi paru, jalan napas, obat-obat agen sedative atau agen paralisis,
serta psikologis pasien
KERITERIA
 PaCO2 <50 mmHg
 PH normal
 Kapassitass vital > 10 sampai 15 ml/kg
 VT spontan lebih > 5 sampai 8 ml/kg
 Amgka permapasan spontang kurang < 30 /menit
 Analasia gas darah dalam batas normal
MACAM PENYAPIHAN
1. Penyapihan jangka pendek : T-piece, CPAP, SIMV dan
Pressure Support Ventilation
2. Penyapihan jangka panjang : T-Piece, Intermetten Mandatory
Ventilation
FAKTOR LAMA PENYAPIHAN
1. Faktor Non Ventilator : penyalah gunaan obat sedasi,
malnutrisi, kurangnya dukungan psikologis, kurangnya dukungan dari jantung jika
terdapat kerusakan ventrikel kiri.
2. Faktor Ventilator : Over ventilasi dan under ventilasi.
TANDA KEGAGALAN PENYAPIHAN
 Tekitmea, pergerakan perut paradoxsal.
 Menggunakan otot pernapasan tambahan
PENYEBAB KEGAGALAN PENYEPIHAN : Peningkatan resistensi aliran udara,
berkurangnya kepatuhan, kelelahan otot pernapasan
Penyapihan akhir didefinisikan sebagai pemberhentian mesin ventilasi yang berakhir dengan
kematian pasien. Ketika penyapihan akhir, 3 massalah yang harus dinilai dan dibicarakan:
1)Permintaan pasien yang harus disampaikan, 2)kegagalan upaya medis, 3)Pengurangan rasa
sakit dan penderitaan.
Prosedur Penyapihan
 T-Tube Penyapihan , ventilasi yang wajib diberikan dengan
berurutan dan sinkron (SIMV) dan tekanan ventilassi bantuan (PSV)
 Pemilihan prosedur penyapihan tergantung atas kemampuan
pasien untuk bernapas secara spontan dan tingkat kekuatan otot untuk mengatassi
hambatan jalan napas.
PERAWATAN ENDOTRAKEAL TUBEadalah perawatan rutin yang membutuhkan
perawatan posisi dari selang yang benar dan memelihara hygiene dengan baik pada pasien
yang terpasang endotrakeal tube. Organ –oran yang terlibat dalam tindakan pasien tersebut
antara lain mulut , orofaring dan trachea.
Indikasi : pasien yang terpassang endotrakeal tube, Kontra indikasi : tidak ada kontra indikasi
yang pencegahan infeksi :
 Fiksasi harus baik, plester jangan terlalu tegang
 Pipa ET sebaiknya ditandai ujung mulut tercabut
 Pantau tekanan balon , jangan lebih dari 30 cm H2O
 Jaga Patensi jalan napas
 Lakukan penghisapan jika lendir berlebihan dan jika
diperlukan lakukan bronchiale toilet untuk mencegah pembentukan slym
 Reposisi atau pemindahan penempatan ET satu sisi mulut
klien ke sisi lainnya sesuai kebutuhan
 Cuci tangan 5 moment
EXTUBASI : Tindakan yang dilakuakan untuk mencabut selang ET (ETT) dari jaln napas
pasien . Dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja dengan tujuan dan maksud tertentu.
LATIHAN PERNAPASAN POST VENTILATOR
Pedoman Prosedur Deep Breathing Exercise pada klien post ventilasi mekanik.
Peralatan dan bahan:
 Bnatal sesuai kebutuhan dan kenyamanan klien
 Tempat tidur ICU elektrik dengan pengaturan kenyamanan klien
 Tissue, bengkok, suction bila diperlukan
Prosedur:
 Mencuci tangan sesuai dengan prossedur
 Mengidentifikasi post ekstubasi telah mencapai durasi minimal 1 jam
 Melakukan pemeriksaan terhadap status pernapasan
 Mengidentifikassi klien tidak dalam kondisi nyeri berat, sesak napas berat dan
emergency
 Memasstikan klien dalam kondisi sadar dan dapat mengikuti perintah dengan
baik
 Mengatur pasien berbaring diatas tempat tidur dengan kepala lebih tinggi, bila
memungkinkan posisi semi fowler atau fowler/duduk.
 Mengatur bantal sesuai dengan kenyamanan klien
 Apabila ada sekret ajarkan batuk efektif
Pedoman Prosedur Deep Breathing pada Pasien Post Ventilasi Mekanik
 Mengajarkan klien menghirup napas secra perlahan dan dalam, melalui mulut
dan hidung, sampai perut terdorong maksimal/ mengembang.
 Menahan napas 1-6 hitungan selanjutnya hembuskan udara secara hemat
melalui mulut
 Meminta klien untuk latihan secara mandiri dengan 30 kali latihan napas dala,
selam 30 menit dengan diselingi istirahat 30 menit. Latihan dilaksanakan sebanyak 6
kali sehari pada siang hari dari jam 08.00-16.00 WIB selama 4 jam.
 Setiap latihan dibagi dalam 3 fase masing-masing selam 10 menit sesuai
toleransi klien dengan jeda batuk efektif .
 Melakukan pengawasan keteraturan kemampuan latihan serta antisipassi
terhadap toleransi kemampuan dan perkembangan kondisi klien
 Melakukan pemeriksaan status pernapasan
 Membereskan alat dan mencuci tangan ssesuai dengan prosedur
 Melakssanakan dokumentasi tindakan
DBE pada Passien Post Ventilator Post Bedah Jantung (EBN Priyanto, 2011)
Merupakan latihan aktifitas paru-paru dengan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk
meningkatka ventilasi oksigenasi paru yang diterapkan pada pasien post CABG di ICU IW
Bedah Jantung RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Hasil studi menunjukkan peningkatan fungsi ventilasi oksigenasi paru setelah melakuan deep
breathing exercise (DBE) selama 5 hari. Ada peningkatan fungsi VO paru pada pasien post
CABG setelah melakukan DBE pada hari ke 2 , 3 dan 5 (p=0,2, p=0,014,p=0,032)
Masalah yang Dirasakan Pasien Terpasang Ventilator :
 Fisik
 Psikososial
 Spiritual
Kondisi yang Dialami Pasien
 Hilangnya harapn dalam menjalani hidup
 Merasa telah diambang kematian
 Prosedur suction yng dilematis-antara nyaman dan tidak nyaman
 Kehadiran orang terkasih sebagai spirit dalam melanjutkan hidup
 Memandang penyakit sebgai rencana Tuhan’mamandang citra diri
 Pentingnya fasilitator dalam menjalani ritual keagamaan
 Keinginan untuk dirawat oleh tenaga kesehatan yang terampil
Indikasi Keluar ICU
 Pasien sudah cukup membaik dan stabil
 Terapi dan perawatn intenssif tidak memberi hasil kepada pasien
 Pasien mengalami mati batang otak
 Pasien mengalami stadum akhir (ARDS stadium akhir)
 pAsien / keluarga meminta dirawat lebih lanjut di ICU
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN VENTILATOR
Sistem respirasi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme sel akan O2 dan
mengeluarkan CO2 sebagai sisa metabolisme sel.
Pengakutan jaringan tergantung: Jumlah oksigen yang masuk ke paru, pertukaran gas, aliran
darah ke jaringan, kapassitas pengangkutan oksiden oleh darah.
Ventilator adalah suatu alat yang mampu membantu atau mengambil alih alih pertukaran gas
paru untuk mempertahankan ventilassi yang fisiologis.
Tujuan Pemasangan Ventilator :
 Memberikan kekuatan pernapasan untuk mempertahankan ventilasi dan
oksigenasi
 Membantu pertukaran gas kardiopulmunal
 Meningkatkan volume paru (akhir ekspirasi dan kapasitas residual fungsional)
 Memanipulasi “airway pressure” dan corak ventilasi.
 Menurunkan work of breathing
 Memperbaiki hipoxemia dan asidosi respiratori akut
 Mencegah dan merubah atelektasis
 Pasien memerlukan sedasi atau blokade neuromuscular
 Mengurangi kerja miokard dengan jalan mengurangi kerja nafas
 Menurunkan tekanan intrakranial
Indikasi:
1. Gangguan Ventilasi
Gangguan fungsi otot pernapasan, kelelahan, gangguan dinding dada, penyakit
neuromuskuler, ventilatory drive menurun, obstruksi atau airway resistence
meningkat.
2. Gangguan oksegenasi: Perlu pemberian PEEP, Kerja pernafasan berat,
Resusitasi kardiopulmuner, hipoxemia berulang
Penyebab Gagal Napas
1.