Anda di halaman 1dari 10

Prinsip Perlakuan Setara Terhadap pemegang Saham

1. Kesamaan Hak untuk Saham dengan Kelas yang Sama


Perkembangan struktur pendanaan perusahaan melahirkan berbagai jenis dan
kelompok pemegang saham.Pada perusahaan keluarga yang go public terbentuk keleompok
pemegang saham pengendali (pemilik keluarga) dan pemegang saham non-pengendali
(publik). Pada perusahaan negara yang go public terdapat negara sebagai salah satu
kelompok pemegang saham selain pemegang saham publik. Seluruh kelompok pemegang
saham (investor) tersebut menanamkan dana di perusahaan dan berharap dana tersebut
dikelola sebaik mungkin sehingga memberikan mereka optimal return.
Untuk mencapai struktur pendanaan yang optimal, banyak perusahaan yang
menerbitkan beberapa jenis saham.Misalnya, perusahaan dapat menerbitkan saham preferen
yang tidak memiliki hak suara namun memiliki hak didahulukan dalam pembayaran
deviden.Perusahaan juga dapat menerbitkan beberapa jenis seri saham biasa dengan
karakteristik yang berbeda-beda. BUMN yang go public memiliki jenis saham khusus yang
merupakan milik pemerintah (misalnya saham Dwi warna Pemerintah Indonesia di beberapa
BUMN yang telah go public). Saham pemerintah tersebut umumnya memiliki karakteristik
hak suara yang berbeda dari kelompok saham lainnya.
Untuk kepentingan tertentu, ada kemungkinan manajemen dan/atau pemegang saham
pengendali memberikan perlakuan atau hak yang berbeda untuk kelompok pemegang saham
yang sama. Selain itu, manajemen dan/atau pemegang saham pengendali dapat
menyembunyikan informasi profil seri saham tertentu dari calon investor sehingga keputusan
yang diambil oleh calon investor menjadi tidak tepat.Manajemen dan/atau pemegang saham
pengendali juga dapat melakukan keputusan penerbitan jumlah atau seri saham baru yang
dapat merugikan pemegang saham lama.Bebagai insentif dan keberadaan informasi asimetris
memungkinkan manajemen dan/atau pemegang saham pengendali melakukan tindakan
merugikan tersebut. Oleh sebab itu diperlukan pelaksanaan prinsip yang menjamin perlakuan
yang sama untuk seluruh pemegang saham yang berasal dari seri yang sama.
Kesamaan hak untuk saham dengan kelas yang sama merupakan salah satu sub-
prinsip dari prinsip OECD ke-3, yaitu sub-prinsip A.1. Menururt sub-prinsip A.1, terdapat
tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menjamin kesamaan hak untuk kelas yang sama, yaitu
(1) pada seri kelas yang sama, seluruh saham harus memiliki hak sama, (2) semua investor
harus memperoleh informasi tentang hak masing-masing seri dan kelas saham sebelum
melakukan pembelian saham, (3) setiap perubahan pada hak suara harus mendapatkan
persetujuan lebih dulu dari pemegang saham yang memperoleh dampak negatif dari
perubahan hak suara tersebut.
Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan Bapepam-
LK, yaitu sebagai berikut:
a. UU PT Pasal 53 ayat (2) menyatakan bahwa setiap saham dalam klasifikasi yang sama
memberikan kepada pemegangnya hak yang sama. Pasal ini merupakan dasar hukum
perlakuan yang sama pada kelompok saham yang sama.
b. Peraturan Bapepam-LK VIII.G.7 mewajibkan perusahaan mengungkapkan jenis saham
dalam CALK. Ketentuan ini memungkinkan calon investor mengetahui jenis dan
karakteristik saham perusahaan sebelum melakukan pembelian saham.
2. Persetujuan dan Pengungkapan Hak untuk Saham dengan Kelas yang Berbeda
Kepemilikan saham pada suatu perusahaan pada umumnya melibatkan pemegang
saham asing dimana pemegang saham asing tersebut juga melibatkan pihak lain yang
berperan sebagai kustodian.Kustodian adalah suatu lembaga yang bertanggung jawab untuk
mengamankan asset keuangan dari suatu perusahaan ataupun perorangan yang berdasarkan
suatu kontrak. Kustodian memiliki saham di suatu perusahaan atas nama investor sehingga
hak suara yang dimilikinya seharusnya digunakan dalam kerangka kepentingan investor.
Namun, terdapat potensi kebijakan penggunaan hak suara oleh kustodian tidak sejalan
dengan kepentingan investor.
Pada sub-prinsip A.3 OECD menegaskan bahwa penggunaan hak suara oleh
kustodian harus dilakukan sesuai kesepakatan dengan investor (beneficial owners). Prinsip
OECD juga menegaskan bahwa investor yang memiliki saham melalui kustodian tetap harus
memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam tata kelola perusahaan. Menurut sub-prinsip
A.4 OECD, kerangka hukum dan peraturan yang berlaku harus mengatur dengan jelas pihak
yang berhak mengendalikan hak suara dalam situasi cross-border. Sub-prinsip ini juga
menganjurkan penentuan periode pemanggilan pemegang saham yang cukup memadai
sehingga pemegang saham asing memiliki kesempatan yang sama dengan pemegang saham
domestik.
Dalam UU PM di Indonesia mewajibkan custodian menyampaikan seluruh informasi
terkait RUPS yang relevan kepada pemegang saham akhir atau ultimate
shareholders.Ketentuan ini memberikan perlindungan hak atas informasi kepada pemegang
saham.Dalam peraturan Bapepam-LK, IV.A.3, juga diatur mengenai hak dan kewajiban
pemegang saham terhadap custodian, termasuk kewajiban kustodian untuk meneruskan
informasi yang relevan bagi pemegang saham.

3. Transaksi dengan Pihak Berelasi/Mengandung Benturan Kepentingan


Salah satu yang mengandung potensi tindakan yang bersifat abusive dari suatu
kelompok pemegang saham-saham tertentu (yaitu pemegang saham pengendali) kepada
kelompok pemegang saham lainnya (yaitu pemegang saham non-pengendali) adalah
transaksi pihak berelasi/mengandung benturan kepentingan.Dalam PSAK 7 disebutkan
bahwa transaksi pihak berelasi adalah suatu pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban
antara entitas pelapor dengan pihak-pihak yang berelasi, terlepas apakah ada harga yang
dibebankan.Pihak-pihak berelasi didefinisikan sebagai orang atau entitas yang terkait dengan
entitas tertentu dalam meyiapkan laporan keuangannya.
Transaksi antar pihak berelasi/mengandung benturan kepentingan dapat mencakup
transaksi yang bersifat operasional dan rutin, seperti transaksi penjualan dan pembelian
barang dan jasa, serta dapat berupatransaksi strategis seperti pendanaan, investasi, merger,
dan lainnya. Transaksi antar pihak berelasi dapat dilakukan dengan tujuan efisiensi, misalnya
seperti penghematan biaya penjualan dan pemasaran, menjaga kemandirian ketersediaan dan
kualitas bahan baku, dan lainnya. Namun demikian, transaksi berelasi/mengandung benturan
kepentingan juga berpotensi menjadi abusive terhadap pihak tertentu.Transaksi abusive
tersebut terjadi ketika manajemen dan/atau pemegang saham pengendali dapat mengarahkan
transaksi yang hanya menguntungkan perusahaan yang dikendalikannya dan menyebabkan
kerugian di perusahaan tersebut.

1
Penanganan Transaksi dengan Pihak Berelasi
Menurut peraturan Bapepam-LK (OJK) telah dijelaskan mengenai ketentuan
pengungkapan dan persetujuan transaksi pihak berelasi/mengandung benturan kepentingan,
yaitu:
 IX.E.1, mengatur secara khusus transaksi afiliasi (transaksi pihak berelasi) dan transaksi
yang mengandung benturan kepentingan.peraturan ini mengarahkan perusahaan pada
pelaksanaan transaksi yang bersifat wajar dan arm’s length. IX.E.1 mewajibkan
perusahaan untuk mengungkapkan transaksi pihak berelasi kepada publikdan
melaporkannya kepada regulator (OJK), serta mewajibkan transaksi dengan benturan
kepentinganuntuk disetujui terlebih dahulu oleh RUPS pemegang saham independen.
Ketentuan ini adalah upaya pencegahan transaksi dengan pihak berelasi yang berpotensi
merugikan pemegang saham non-pengendali.
 X.K.6, mewajibkan pengungkapan transaksi pihak berelasi dan transaksi benturan
kepentingan dalam laporan tahunan perusahaan.
 VIII.G.7, mewajibkan penyajian terpisah dan pengungkapan pos-pos laporan keuangan
dengan pihak berelasi, serta pengungkapan transaksi pihak berelasi dalam catatan atas
laporan keuangan.

4. Perdagangan Orang Dalam (Insider Trading)


Prinsip OECD ke-3, sub-prinsip B melarang perdagangan oleh orang dalam (insider
trading) dan transaksi abusive lainnya yang memanfaatkan hubungan dekat dengan
perusahaan, termasuk dengan pemegang saham pengendali, untuk kepentingan pribadi yang
merugikan perusahaan dan investor. Keuntungan yang diperoleh dari hubungan tersebut
misalnya adalah abnormal return dari perubahan harga saham, menjadi motivasi terjadinya
insider trading.Keberadaan informasi asimetris sering menyulitkan untuk mencegah dan
membuktikan transaksi insider trading. Sementara di sisi lain, dampak transaksi ini selain
merugikan perusahaan dan investor, juga dapat menurunkan kredibilitas pasar modal secara
keseluruhan. Oleh sebab itu, prinsip pelanggaran perdagangan oleh orang dalam sangat
penting untuk dilaksanakan.
Praktik insider trading ini tentu dapat merugikan berbagai pihak.Salah satunya adalah
merugikan pasar uang bagi suatu negara. Kepercayaan investor terhadap pasar tersebut tentu
akan berkurang. Bagaimana tidak, jika ada orang-orang yang memiliki informasi internal
yang tak dimiliki sejumlah investor lainnya.Tentu sejumlah orang dengan informasi internal
tersebut dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pada investor lainnya.Belum
lagi praktik insider trading ini melanggar asas paling penting dalam pasar modal, yaitu asas
keterbukaan.

a. Cakupan Insider Trading


Menururt UU PM Pasal 95, perdagangan orang dalam mencakup: (a) pembelian atau
penjualan atas efek emiten atau perusahaan publik, (b) pembelian atau penjualan atas efek
perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik; oleh orang
dalam dari emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan yang memiliki informasi orang
dalam. Sedangkan menururt UU PM Pasal 96, perdagangan orang dalam juga mencakup
upaya orang dalam yang: (a) mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau
penjualan atas efek dimaksud; atau (b) member informasi orang dalam kepada pihak mana

2
pun yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan
pembelian atau penjualan atas efek.
Dalam Pasal 97 UU PM ditambahkan bahwa perdagangan orang dalam juga
mencakup transaksi yang dilakukan oleh pihak lain yang memperoleh informasi orang dalam
dari orang dalam dengan cara melawan hukum. Transaksi efek emiten dan perusahaan public
tersebut juga termasuk perdagangan oleh orang dalam, kecuali transaksi tersebut dilakukan
atas perintah nasabahnya dan Perusahaan Efek tidak memberikan rekomendasi kepada
nasabahnya mengenai efek yang bersangkutan (Pasal 98 UU PM). Dalam penjelasan atas
pasal 95, orang dalam yang dimaksud dalam UU PM adalah: (a) komisaris, direktur, atau
pegawai emiten atau perusahaan publik; (b) pemegang saham utama emiten atau perusahaan
public; (c) orang perseorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau karena hubungan
usahanya dengan emiten atau perusahaan public memungkinkan orangtersebut memperoleh
informasi orang dalam; (d) atau pihak yang dalam waktu enam bulan terakhir tidak lagi
menjadi pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, atau huruf c di atas.

b. Penanganan Insider Trading


Peraturan Bapepam-LK X.M.1 mengatur tentang keterbukaan informasi pemegang
saham tertentu juga ditujukan untuk mencegah atau mendeteksi mengenai perdagangan orang
dalam.X.M.1 mewajibkan Direktur atau Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik
melaporkan kepada OJK atas kepemilikan dan setiap perubahan kepemilikannya atas saham
perusahaan tersebut selambat-lambatnya dalam waktu sepuluh hari sejak terjadinya
transaksi.Kewajiban tersebut berlaku juga bagi setiap pihak yang memiliki 5% atau lebih
saham yang disetor.Salinan dari laporan tersebut harus tersedia untuk dilihat umum dan dapat
disalin di OJK. Kewajiban pengungkapan informasi yang sama dalam laporan keuangan dan
laporan tahunan perusahaan juga diatur dalam X.K.6 dan VIII.G.7.
Pencegahan perdagangan oleh orang dalam juga disebutkan dalam Pedoman Umum
GCG Indonesia. Dalam bab V tentang pemegang saham bagian Pedoman Pelaksanaan 2.4,
disebutkan bahwa perusahaan tidak boleh memihak pemegang saham lainnya. Informasi
harus diberikan kepada semua pemegang saham tanpa menghiraukan jenis dan klasifikasi
saham yang dimilikinya.

5. Peran Akuntan Profesional dalam Memfasilitasi Perlakuan Setara Terhadap


Pemegang Saham
Akuntan professional dapat berperan aktif dalam mewujudkan prinsip perlakuan yang
setara terhadap pemegang saham, diantaranya:
 Melakukan audit secara professional, khususnya dalam memastikan
pengungkapan transaksi pihak berelasi sesuai dengan PSAK dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
 Membantu komisaris independen dalam melakukan revisi atas kewajaran
transaksi pihak berelasi.
 Merancang dan mengimplementasikan sistem infromasi pengendalian yang
mendorong terciptanya perlakuan setara terhadap pemegang saham, khususnya
dengan transaksi pihak berelasi dan perdagangan orang dalam.
 Mengendalikan diri dan unit/area yang menjadi tanggung jawabnya dari
keterlibatan perdagangan oleh orang dalam. Akuntan dan bidang pekerjaannya
merupakan salah satu pihak yang berpotensi dikategorikan sebagai orang dalam.

3
 Mendorong keterbukaan dan kewajaran dalam pengungkapan transaksi pihak
berelasi dan transaksi yang mengandung benturan kepentingan.

Kasus :Prinsip 2 & 3 OECD-PT Sumaliando Lestari Tbk


A. Profil Perusahaan
PT. Sumalindo Lestari Jaya Tbk adalah perusahaan kayu di Kalimantan Timur yang
berdiri sejak tanggal 14 April 1880 dan memiliki empat anak perusahaan. PT. Sumalindo
Lestari Jaya Tbk terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sejak 21 Maret 1994.

Visi:
Menjadi industri perkayuan terpadu terbaik di dunia dan bertanggung jawab sosial,
memberikan solusi dengan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang
menggunakan bahan baku dari hutan yang dikelola secara lestari.

Misi:
- Mengelola kelompok usaha industri perkayuan terpadu di bidang kayu lapis dan kayu
lapis olahan, MDF serta produk-produk turunan lainnya yang berkaitan dengan industri
perkayuan serta mempunyai tanggung jawab sosial.
- Menjaga keberlangsungan kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari hutan alam dan
hutan tanaman yang dikelola berdasarkan prinsip pengelolaan hutan lestari.
- Melakukan proses produksi yang memenuhi standar ramah lingkungan.
- Memberikan nilai tambah produk melalui peningkatan nilai disetiap proses tahapannya,
pengembangan produk, sumber daya manusia dan jalur distribusi.

B. Sejarah Singkat
Sejak mulai awal dibentuk, PT. SLJ mengkhususkan diri di bidang kehutanan dan
industri perkayuan dengan mengelola 1 areal IUPHHK (dahulu Hak Pengusahaan Hutan)
seluas 132.000 ha dan pabrik kayu lapis dengan kapasitas produksi 66.000 m3/tahun. Pada
Tahun 1985 PT. SLJ melakukan penggabungan usaha dengan 4 (empat) Perseroan perkayuan
yakni PT. Rimba Nusantara, PT. Emporium Lumber, PT. Rimba Lapis Permai dan PT.
Gonpu Indonesia Limited. Melalui penggabungan usaha tersebut PT. SLJ mendapat
tambahan areal hutan alam seluas 150.000 ha dan kapasitas produksi kayu lapis dan kayu
lapis olahan menjadi 120.000m3/tahun. PT. SLJ kian berkembang hingga pada Tahun 1994
dan resmi menjadi Perseroan terbuka (Go Public) melalui Penawaran Umum 25.000.000
saham biasa atas nama kepada masyarakat dan mencatatkan seluruh saham yang telah
dikeluarkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Pada tahun 2002, PT. Astra International Tbk selaku pemegang saham mayoritas PT.
SLJ sebesar 75% menjual seluruh kepemilikan sahamnya kepada PT. Sumber Graha
Sejahtera (PT. SGS). PT. SGS merupakan sebuah perseroan telah cukup lama berkecimpung
di bidang Perkayuan Indonesia.Pada bulan Juli 2006, PT. SLJ melakukan Penawaran Umum
Terbatas II dengan menawarkan 155.713.448 saham dan sebanyak 155.713.488 waran seri I.
Tahun 2008, PT. SLJ mengambil alih areal IUPHHK Hutan Alam PT. Essam Timber
yang berlokasi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur dengan luas 355.800
hektar. Melalui anak perusahaan mereka yaitu PT. Sumalindo Alam Lestari, mereka
mengambil alih 99.2 % saham PT. Wana Kaltim Lestari berupa suatu unit usaha hutan
tanaman industri dengan luas 16.280 hektar di propinsi Kalimantan Timur.

4
Pada tahun 2009, PT. SLJ kembali mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dengan
memberikan 1(satu) ijin pengelolaan hutan alam seluas 69.765 ha yakni PT. Sumalindo
Lestari Jaya Tbk (PT. SLJ) sesuai SK 438/Menhut-II/2009 tanggal 27 Juli 2009. Areal baru
ini berlokasi di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, berdampingan dengan areal hutan
alam PT. SLJ dan anak perusahaan lainnya yakni IUPHHK-HA PT. SLJ-Unit- II Long
Bagun dan areal IUPHHK- HA PT. Essam Timber.
Akhirnya pada tahun 2010, PT. SLJ melaksanakan Penawaran Umum Terbatas (PUT)
III pada 24 Maret sampai 30 Maret 2010 dengan melepas saham sejumlah 1.236.022.311
lembar saham.Diakhir tahun tersebut, PT. SLJ melakukan divestasi sebagian saham pada
anak perusahaan mereka yaitu PT. Sumalindo Mitra Resindo.

C. Gugatan Pemegang Saham terhadap PT SLJ


Konflik antar pemegang saham ini juga dipicu ketika Direktur PT. SLJ mengumumkan
bahwa PT. Sumalindo Hutani Jaya (salah satu Pemegang Saham Publik Minoritas PT. SLJ)
telah dijual kepada PT. Tjiwi Kimia Tbk. Berbagai pihak beranggapan bahwa selain
penjualan tersebut tidak memiliki manfaat sama sekali bagi PT SLJ dan penjualan tersebut
dinilai sangat merugikan. Hal tersebut dianggap merugikan karena pada tanggal 1 Juli 2009,
PT. Sumalindo Hutani Jaya telah menerbitkan Zero Coupon Bond (surat utang tanpa bunga)
atas utangnya kepada PT. SLJ sebesar lebih dari Rp 140 Miliar Rupiah, untuk jangka waktu
satu tahun.
Deddy Hartawan Jamin dalam gugatannya mengklaim bahwa tindakan PT. SLJ dalam
menjual PT. SHJ telah mengabaikan asas good corporate governance, dan banyak
mengabaikan keputusan hukum yang sudah berlaku, sehingga merugikan banyak
pihak.Dalam gugatan tersebut PT. SLJ juga dianggap melakukan kesalahan prosedur dalam
mengajukan permohonan persetujuan pengalihan saham kepada Menteri kehutanan tanpa
didahului persetujuan RUPS PT. SLJ dan atas dasar dokumen palsu yang mengakibatkan
kerugian bagi Deddy Hartawan Jamin sebagai penggugat.
Atas gugatan tersebut, Deddy Hartawan Jamin melibatkan 11 pihak sebagai tergugat
yang merupakan pemegang saham mayoritas PT. SLJ, antara lain PT. Sumalindo Lestari Jaya
(SLJ), Amir Sunarko, David, Lee Yuen Chak, Ambran Sunarko, Setiawan Herliantosaputro,
Kadaryanto, Harbrinderjit Singh Dillon, Husni Heron, Sumber Graha Sejahtera, Kantor Jasa
Penilai Publik Benny, Desmar dan Rekan. Dalam gugatan tersebut, Deddy Hartawan Jamin
menuntut ganti rugi materiil maupun immateriil, senilai Rp 18,7 triliun rupiah, karena dana
sebesar itu sesungguhnya adalah bersumber dari PT. SLJ. Jika gugatan Deddy Hartawan
Jamin dikabulkan, ganti rugi tersebut selanjutnya akan dikembalikan ke rekening PT. SLJ
untuk memperbaiki kinerja dan manajemen mereka.

D. Analisa Penerapan Prinsip II OECD PT Sumalindo Jaya Lestari Tbk


Prinsip CG OECD tentang tata kelola menyebutkan bahwa kerangka tata kelola
perusahaan harus melindungi hak-hak pemegang saham dan memfasilitasi pelaksanaan hak-
hak pemegang saham. Berikut adalah hasil analisis penerapan prinsip kedua OECD pada PT.
Sumalindo Jaya Lestari Tbk
 Terkait dengan pemegang saham memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara efektif
dan memberikan suara dalam RUPS serta diberikan informasi mengenai peraturan-
peraturan termasuk prosedur penyampaian hak suara. Terkait dengan prinsip ini, PT.
Sumalindo telah melaksanakan dalam RUPS nya terkait informasi peraturan-peraturan

5
termasuk prosedur. “Pemegang saham memiliki kewenangan penuh dan berhak
memperoleh keterangan mengenai kinerja pengawasan dan pengelolaan Perseroan dan
Dewan Komisaris / Direksi melalui forum RUPS-T. Melalui RUPS-T, pemegang saham
mengambil keputusan untuk menerima atau menolak laporan Dewan Komisaris dan
Direksi.
 Terkait dengan mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Dewan Komisaris,
“Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan melalui keputusan RUPS setelah
melalui proses pencalonan sesuai dengan Anggaran Dasar dan perundang-undangan yg
berlaku dg masa jabatan anggota dewan komisaris selama 2 tahun.”
 Terkait dengan hak-hak pemegang saham untuk berpartisipasi dan mendapatkan cukup
informasi dalam pengambilan keputusan penting perusahaan, “Selama tahun 2016,
Corporate Audit dan Corporate Secretary telah menyusun kembali SOP untuk
memastikan bahwa prinsip akuntabilitas, tanggung jawab dan keadilan serta yg
ditetapkan Perseroan di implementasikan di seluruh organisasi sesuai ketentuan peraturan
OJK No. 22/POJK.04/2014”.
 Analisis 4 terkait dengan hak pemegang saham utk berpartisipasi secara efektif dan
memberikan suara dalam RUPS, meliputi: Informasi yg memadai terkait tanggal, lokasi
dan agenda RUPS dan kesempatan untuk bertanya kepada pengurus, Pasal 13 No 2
Perubahan Anggaran Dasar PT. SLJ Global Tbk yang berbunyi: “Satu pemegang saham
atau lebih yang bersama-sama mewakili 1/10 [satu per sepuluh] atau lebih dr jumlah
seluruh saham dg hak suara, dapat meminta agar diselenggarakan RUPS Luar Biasa dan
diajukan kepada Direksi dengan surat tercatat disertai alasannya”

E. Analisis Penerapan Prinsip III OECD PT Sumalindo Jaya Lestari, Tbk


Pada prinsip ketiga ini ditekankan perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh
pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing.Prinsip
ini menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar modal.Pada praktiknya pemegang
saham utama perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memberikan
pengaruhnya dalam kegiatan operasional perusahaan.Berdasarkan praktik tersebut, seringkali
transaksi yang terjadi hanya memberikan manfaat hanya kepada pihak-pihak tertentu yang
berkepentingan seperti pemegang saham utama, komisaris, atau bahkan dewan direksi.
Berikut adalah hasil analisis prinsip ketiga OECD pada PT. Sumalindo Jaya Lestari, Tbk
setelah dilakukannya reorganisasi tahun 2013:
 Analisis 1 [terkait dengan investor asing harus mendapatkan informasi mengenai
perusahaan dengan lengkap dan terperinci]
Pasal 13 No 8  Pengumuman RUPS wajib diumumkan menggunakan bahasa Inggris
dan harus memuat informasi yang sama dengan informasi dalam pengumuman RUPS
yang menggunakan bahasa Indonesia.
 Analisis 2 [insider trading dan perlakuan kasar harus dilarang dalam kegiatan
perusahaan]
Dalam kasus PT. SLJ Global Tbk tidak terdapat informasi yang mengindikasikan adanya
pelanggaran dalam prinsip ini.
 Analisis 3 [anggota dewan dan eksekutif harus mengungkapkan kepada dewan apakah
mereka secara langsung, tidak langsung atau atas nama pihak ketiga memiliki
kepentingan material dlm suatu transaksi yang berpengaruh besar thd perusahaan.
Mereka wajib memberitahukan bisnis-bisnis apa saja yang sedang mereka kelola]

6
CALK No. 27 menjelaskan kasus hukum yang sedang dihadapi oleh perusahaan yakni
“Deddy Hartawan, pemegang saham perusahaan, mengajukan gugatan perdata terkait dg
transaksi pengalihan saham perusahaan di PT. Sumalindo Hutani Jaya kepada PT. Tjiwi
Kimia selaku pihak ke 3 dan pengalihan tagihan perusahaan SHJ berupa zero coupon
bond kepada Marshall Enterprise Ltd”.
 Analisis 4 [terkait dengan setiap hambatan untuk memberikan suara dalam RUPS harus
dihapuskan]
Pasal 15 No. 4-5 “Akta berita acara RUPS harus disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan
maksimal 30 hari setelah RUPS diselenggarakan dan wajib memuat informasi mengenai:
- Tanggal, waktu, tempat dan mata acara RUPS.
- Anggota direksi dan dewan komisaris yang hadir.
- Jumlah saham dengan hak suara yg sah yg hadir pada saat RUPS dan
persentasenya dari jumlah seluruh saham yang mempunyai hak suara yg sah.
- Ada tidaknya pemberian kesempatan kepada pemegang saham utk mengajukan
pertanyaan dan/atau memberi pendapat tentang mata acara rapat.
- Mekanisme pengambilan keputusan RUPS.
- Hasil pemungutan suara yg meliputi jumlah yang setuju, tidak setuju, dan abstain.

Kesimpulan Penerapan Prinsip II dan III OECD pada PT. SLJ Global Tbk
1. Implementasi GCG dalam lingkungan bisnis PT. SLJ Global Tbk. telah dilakukan secara
maksimal dan menyeluruh sejak Perseroan dan entitas Anak Perusahaan berdiri.
2. Perusahaan telah menerapkan prinsip-prinsip GCG secara konsisten dengan memandang
bahwa implementasi GCG merupakan sebuah kewajiban untuk menjaga transparansi dan
akuntabilitas kepada publik. Oleh karena itu, struktur GCG Perseroan dan entitas Anak
Perusahaan memastikan kerangka kerja setiap organ dijalankan secara terpadu dan
berdasarkan pada best practices.

7
ETIKA PROFESI dan TATA KELOLA KORPORAT

“PRINSIP PERLAKUAN SETARA TERHADAP PEMEGANG SAHAM”

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3

 Intan Novita (176602003)


 Gloria Stevani Pallangan (176602049)
 Wa Ode Aqina Pratiwi (176602085)
 Ajeng Trisnawati Kadir (176602113)
 Muhammad Taufik (176602136)
 Erni (176602177)

DOSEN PEMBIMBING:
Sri Rachmawati Rachman, S.AK.,M,ACC.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ENAM ENAM KENDARI
TAHUN AJARAN 2018/2019

8
9