Anda di halaman 1dari 2

RESENSI BUKU SEGENGGAM IMAN ANAK KITA

Anak merupakan titipan Allah swt untuk para orang tua. Dengan begitu, orang tua memiliki
tanggungjawab untuk melindungi, memelihara, dan memberikan pendidikan yang layak
untuk anak. Telah diketahui bersama bahwa pola asuh orang tua pada anak sangat
berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak.

Jika anak dibesarkan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, maka dipastikan akan
menjadi manusia yang pandai bersyukur dan memiliki jiwa sosial tinggi. Sebaliknya, jika
anak dibesarkan di bawah tekanan dari orang tua, maka tak lain akan menjadi seorang yang
memiliki jiwa kerdil (pesimistis) dan suka melanggar aturan.

Maka dari itu, sebagai orang tua harus bisa menerapkan pola asuh yang tepat bagi anaknya.
Tidak serampangan dalam mendidik anak. Memang, tidak salah orang tua mendambakan
anaknya menjadi orang yang cerdas. Tapi ingat, cerdas saja tak cukup untuk menghadapi
ujian dan cobaan hidup. Perlu adanya bekal spiritual dan moral. Dengan kedua bekal ini,
Insya Allah anak akan tumbuh dalam koridor ketaatan. Dengan ketaatan ini, anak akan
memiliki semangat tinggi dalam meraih cita-citanya.

Untuk itu, perlu adanya sebuah panduan yang bisa digunakan sebagai ‘jalan’ untuk mengasuh
dan mendidik anak. Kabar baiknya, semua itu terangkum apik dalam buku ini. Buku berjudul
“Segenggam Iman Anak Kita” ini memaparkan beberapa panduan mengasuh anak agar
menjadi pribadi mulia dan tidak mudah terseret arus globalisasi.

Pada bab pertama dipaparkan tiga bekal yang perlu dimiliki orang tua untuk mengasuh anak-
anaknya. Pertama, rasa takut terhadap masa depan anak. Berbekal rasa takut, kita siapkan
mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah. Kedua, takwa kepada Allah swt. Berbekal
takwa, ucapan kita akan terkendali dan tindakan kita tak akan melampaui batas. Ketiga,
berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan). Berbicara dengan perkataan benar
akan mendorong kita untuk selalu berbenah.(hal. 50-52)

Setelah ketiga bekal tersebut tertanam dalam diri orang tua, tugas selanjutnya adalah
menanamkan keberanian pada anak. Seorang anak haruslah memiliki rasa percaya diri yang
tinggi. Seorang anak yang percaya terhadap kemampuannya, meski prestasinya lebih rendah
dibanding temannya, bisa jauh lebih berprestasi.

Keyakinan tinggi memacu anak untuk berusaha lebih gigih sehingga ia mampu menguasai
apa yang sebelumnya terasa sulit. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki perasaan mampu,
akan mudah jatuh mentalnya dan kendor semangatnya, meski ia memiliki prestasi tinggi.
Hilangnya perasaan mampu menjadikan anak takut menghadapi tantangan. (hal. 58-59)

Ironisnya, justru orang tualah penyebab hilangnya rasa percaya diri pada anak. Pasalnya,
banyak orang tua yang membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain yang
dianggap lebih cerdas darinya. Tidak hanya itu, disadari atau tidak, orang tua terkadang juga
meremehkan kemampuan dan prestasi anak. Orang tua hanya melihat hasil dan menafikan
proses. Padahal, yang terpenting adalah prosesnya. Seorang anak yang mendapat nilai 6
dalam ujiannya dengan belajar yang gigih, jauh lebih layak mendapat penghargaan daripada
mendapat nilai 8 tapi hasil dari mencontek.
Kehidupan anak tak selamanya mulus. Anak, sebagai manusia kecil, juga memiliki
permasalahan yang sulit dipecahkan. Anak membutuhkan seseorang yang bisa memahami
permasalahan yang tengah ia alami. Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan penting untuk
menjadi ‘teman curhat’ sang anak. Orang tua harus mau mendengarkan cerita sang anak dan
menerima perasaannya.

Jika anak menampakkan rasa takut terhadap sesuatu yang telah menimpanya, terimalah
perasaan itu dengan penuh perhatian. Jangan sampai orang tua mengabaikan, apalagi
menolaknya dengan perkataan, “Gitu aja kok takut, kamu gimana sih?” atau semacamnya.
Semakin orang tua menolak perasaan anak, semakin sulit juga menetralkan trauma anak
terhadap peristiwa yang terjadi. Bahkan bisa jadi, penolakan orang tua terhadap perasaan
anak membuatnya merasa tidak diterima atau diabaikan. Pada akhirnya, anak akan tumbuh
menjadi manusia berjiwa kerdil yang tidak memiliki semangat hidup.

Menginjak remaja, anak akan menemukan hal-hal yang baru. Mulai dari perubahan bentuk
tubuh, sampai dengan ketertarikan kepada lawan jenis. Hal ini, jika tidak dipantau oleh orang
tua, akan berbahaya. Untuk itu, orang tua harus mampu memahami kebutuhan anak
remajanya. Merebaknya alat elektronik seperti Hp, laptop, dll, yang memiliki akses ke
internet menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam memantau perkembangan anak di
dunia maya.

Mau tidak mau, orang tua harus bisa mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang ditawarkan
internet (khususnya media sosial). Orang tua bisa sesekali mengecek facebook ataupun media
sosial lainnya yang digunakan oleh anak remajanya. Dengan begitu, orang tua akan tahu apa
saja yang dilakukan anak remajanya di dunia maya. Tentu saja, hal ini akan memudahkan
orang tua dalam membimbing anak.

Akhirnya, dengan membaca buku setebal 228 halaman ini, pembaca akan menemukan
berbagai informasi terkait parenting dan pendidikan berbasis tauhid. Bahasanya yang
mengalir dan sederhana memudahkan para pembaca untuk memahami isinya. Sangat cocok
bagi para orang tua dan calon orang tua sebagai bekal mengasuh dan mendidik anak agar
menjadi generasi cerdas yang Islami. Selamat membaca!

Sumber: https://www.dakwatuna.com/2014/06/03/52493/segenggam-iman-anak-
kita/#ixzz4z7ttWIdH
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook