Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PAPER

FERRITIN

DISUSUN OLEH :

SULTAN

NIM. 21706324

DOSEN : DR.dr.ROBERT V.PHILLIPS.,M.Kes.,MARS.,DPDK

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAKASSAR

TAHUN AKADEMIK 2017/2018


Feritin adalah protein penyimpan zat besi yang larut dalam air terdiri dari selubung

protein (apoferitin) yang merupakan gabungan garam ferri dengan protein dan inti kristalin

yang terdiri dari ribuan molekul ferri oksihidroksida.

Ferritin mengandung sekitar 23% besi. Setiap satu kompleks ferritin bisa menyimpan

kira – kira 3000 - 4500 ion Fe3+ di dalamnya. Ferritin bisa ditemukan atau disimpan di Liver,

Limpa, Otot Skelet dan Sumsum Tulang. Dalam keadaan normal, hanya sedikit ferritin yang

terdapat dalam plasma manusia. Jumlah ferritin dalam plasma menggambarkan jumlah besi

yang tersimpan di dalam tubuh kita.

Pemeriksaan ferritin dilakukan untuk mengukur konsentrasi ferritin atau cadangan besi di

dalam tubuh. Sekitar 30% besi yang berada di dalam tubuh, tersimpan sebagai feritin di

limpa, sumsum tulang dan hati. Pemeriksaan ini berkorelasi dan berguna pada evaluasi total

body storage iron.

STRUKTUR DAN FUNGSI FERRITIN

Ferritin adalah protein berbentuk glubular dan mempunyai dua lapisan dengan diameter

luarnya berukuran 12 nm dan diameter dalamnya berukuran 8 nm. Besi tersimpan di dalam

protein ferritin tersebut tepatnya di tengah. Bila dilihat dari stuktur kristalnya, satu monomer

ferritin mempunyai lima helix penyusun yaitu blue helix, orange helix, green helix, yellow

helix dan red helix dimana ion Fe berada di tengah kelima helix tersebut.

Besi bebas bersifat toxic untuk sel, karena besi bebas merupakan katalisis pembentukan

radikal bebas dari Reactive Oxygen Species (ROS) melalui reaksi Fenton. Untuk itu, sel
membentuk suatu mekanisme perlindungan diri yaitu dengan cara membuat ikatan besi

dengan ferritin. Jadi ferritin merupakan Protein utama penyimpan besi di dalam sel.

Asupan zat besi yang masuk ke dalam tubuh kita kira-kira 10 – 20 mg setiap harinya,

tapi ternyata hanya 1 – 2 mg atau 10% saja yang di absorbsi oleh tubuh. 70% dari zat besi

yang di absorbsi tadi di metabolisme oleh tubuh dengan proses eritropoesis menjadi

Hemoglobin, 10 - 20% di simpan dalam bentuk ferritin dan sisanya 5 – 15% di gunakan oleh

tubuh untuk proses lain. Besi Fe3+ yang disimpan di dalam ferritin bisa saja di lepaskan

kembali bila ternyata tubuh membutuhkannya.

KELAINAN

Kadar ferritin normal 30-300 ng/mL untuk pria dan 15-200 ng/mL untuk wanita. Kadar

ferritin yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya hemokromatosis sedangkan kadar

ferritin yang terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi.

Anemia defisiensi besi atau yang dikenal juga dengan Anemia Sideropenik biasanya

disebabkan karena asupan zat besi yang kurang, infeksi parasit, menoragi, metroragi,

menstruasi, premenopause, kehamilan, ulkus peptikum, penggunaan obat-obatan dalam jang

waktu yang lama dan lain – lain. Ketika tubuh kehilangan zat besi melebihi asupannya maka

tubuh akan mulai membongkar dan memakai besi yang tersimpan dalam ferritin di liver,

limpa, otot dan sumsum tulang, yang merupakan cadangan dalam tubuh.

Kadar ferritin pun berkurang secara progresif. Cadangan besi yang telah berkurang tidak

dapat memenuhi kebutuhan untuk pembentukan eritrosit, sehingga eritrosit yang dihasilkan

jumlahnya menjadi lebih sedikit. Kadar eritrosit menurun mengakibatkan hemoglobin pun

ikut menurun. Mulailah terjadi anemia. Tubuh pun berusaha melakukan kompensasi, dimana
sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan besi dengan mempercepat

pembelahan sel dan menghasilkan eriitrosit dengan ukuran yang sangat kecil (Mikrositik)

yang khas untuk anemia defisiensi besi.

Pemeriksaan serum Ferritin merupakan pemeriksaan yang paling spesifik untuk

mendiagnosa Anemia defisiensi besi. Kadar serum ferritin yang sangat rendah menunjukkan

Anemia defisiensi besi.

Manfaat Pemeriksaan :

Pemantauan perkembangan defisiensi besi pada penyakit anemia, diagnosa hipokromik

dan anemia mikrositik. Kadar ferritin berkolerasi dengan dan berguna pada evaluasi dari total

body storage iron. Pada hemokromatosis, ferritin dan iron saturation meningkat. Kadar

ferritin pada hemokromatosis bisa mencapai > 1000 ng/mL (Serum Iron/SI : > 1000 ng/mL).

Berapa kadar protein pengikat zat besi yang normal dalam tubuh?

Kadar normal protein pengikat zat besi ini dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Menurut WebMD, kadar normal dari protein pengikat zat besi ini adalah:

 Pria : 18-270 mcg/L

 Wanita : 18-160 mcg/L

 Anak-anak : 7-140 mcg/L

 Bayi usia 1-5 bulan : 50-200 mcg/L

 Bayi baru lahir : 25-200 mcg/L

Namun, kadar normal zat tersebut seperti di atas mungkin berbeda dengan kadar normal

yang digunakan oleh laboratorium di mana Anda melakukan tes. Setiap laboratorium
mungkin memiliki kisaran kadar normal tes protein ferritin yang berbeda-beda. Biasanya,

kisaran kadar normal tercantum dalam hasil tes yang diberikan laboratorium Anda.

Bagaimana jika kadar protein ini terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam tubuh?

Kadar protein pengikat zat besi ini bisa lebih tinggi atau malah lebih rendah dari normal.

Kadar zat ini yang tinggi maupun rendah dapat menunjukkan adanya gangguan penyimpanan

zat besi.

Kadar ferritin yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 1000 mcg/ L, menunjukkan adanya

penumpukan zat besi dalam tubuh. Ini dikenal dengan nama hemokromatosis. Penyakit ini

bisa diturunkan dalam keluarga (genetik). Selain itu, hemokromatosis juga bisa disebabkan

oleh talasemia, beberapa jenis anemia yang menyebabkan sel darah merah hancur

(seperti anemia hemolitik), terlalu banyak mendapatkan transfusi darah, atau jika Anda

seorang yang sering minum minuman beralkohol.

Kadar protein pengikat zat besi yang tinggi juga bisa disebabkan oleh penyakit

Hodgkins, leukimia, infeksi, artritis, lupus, atau diet tinggi zat besi.

Sebaliknya, kadar ferritin yang rendah bisa menunjukkan bahwa tubuh sedang

kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi. Kekurangan zat besi bisa disebabkan oleh

kehilangan banyak darah karena menstruasi berat, perdarahan saat kehamilan, kurang

mengonsumsi makanan kaya zat besi, atau karena perdarahan pada usus. Di mana,

perdarahan pada usus ini bisa disebabkan oleh bisul dalam usus, polip usus, atau kanker usus

besar.

Status besi pada pasien Kadar besi di dalam tubuh manusia normal umumnya berkisar 4

gram dan dua pertiganya berada di dalam hemoglobin. Selain itu, besi juga didapatkan dalam

bentuk cadangan di dalam hati, limpa, sumsum tulang, di dalam otot sebagai mioglobin juga

sebagai enzim sitokrom dan katalase dalam jaringan. Oleh karena itu, kekurangan besi dapat
menimbulkan anemia, lesu, lemah, lekas lelah dan kelemahan pada otot. kekurangan besi

pada anak akan mengakibatkan berkurangnya aktifitas serta daya tangkap. Kebutuhan besi

orang dewasa sekitar 20 mg/hari dan hanya 10% yang diserap oleh tubuh. Penyerapan besi ini

meningkat bila pembentukan eritrosit di sumsum tulang meningkat dan akan menjadi lebih

mudah diserap bila terdapat vitamin C. Namun dapat dihambat oleh asam fitat yang terdapat

dalam sereal serta senyawa fosfat dan oksalat yang banyak didapat dalam sayuran. Besi yang

diserap oleh usus akan memasuki aliran darah dan diangkut oleh apotransferin dan apoferitin.

Besi yang terikat pada apotransferin disebut serum iron, sedangkan besi yang terikat pada

apoferitin disebut feritin. Besi dikeluarkan oleh tubuh sebagian besar melalui saluran cerna

dan pada saat penglepasan epitel kulit. Pada wanita, besi juga dikeluarkan pada saat haid, hal

inilah yang menyebabkan kebutuhan besi pada wanita jauh lebih banyak daripada pria. Gejala

apa yang muncul pada penderita gangguan status besi? Penderita gangguan status besi

umumnya terlihat pucat. Penurunan kadar besi dalam tubuh dapat menyebabkan turunnya

kadar mioglobin dalam otot, sehingga pasien dengan gangguan status besi mudah lelah dan

letih serta dapat mengalami kejang otot. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas karena

turunnya jumlah besi dalam tubuh akan mengurangi kemampuan hemoglobin untuk mengikat

oksigen dalam darah. Keluhan lain yang biasanya terjadi berupa kesemutan, nyeri pada lidah

(glositis), luka pada sudut mulut dan kuku berbentuk seperti sendok (koilonichia).