Anda di halaman 1dari 49

MODUL

PENGUJIAN DAN PEMERIKSAAN BAHAN

1. PENGUJIAN KEKERASAN ROCKWELL


2. PENGUJIAN TARIK
3. PENGUJIAN TEKAN
4. PENGUJIAN BENDING
5. PENGUJIAN IMPAK
6. PENGUJIAN PUNTIR
7. PENGUJIAN STRUKTUR MIKRO

NAMA : ASRI ANSAR


NIM : 1622042016
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
MODUL I PENGUJIAN KEKERASAN ROCKWELL

1. Tujuan Pengujian

Mengetahui tingkat kekerasan suatu bahan ( logam )


Pengaruh perlakuan – perlakuan tertentu terhadap perubahan tingkat kekerasan bahan.

2. Dasar Teori

Kekerasan didefinisikan sebagai ukuran ketahanan bahan terhadap deformasi plastis


(permanen). Deformasi plastis dapat terjadi karena penekanan (penetrasi/indetansi),
penggoresan (scratching) atau penumbukan (rebound). Kekerasan suatu bahan dapat
berubah di pengaruhi perlakuan – perlakuan tertentu misalnya,
a. Penambahan Unsur Paduan.
Penambahan unsur paduan (solute) terhadap unsur utama ( solvent ) dalam
keadaan larut padat (solid solution) mengakibatkan bahan menjadi keras, baja
menjadi lebih keras apabila kandungan karbonya lebih tinggi.
b. Perlakuan Panas (Heat Treatment)
Baja dengan kandungan karbon diatas 0,3 % dipanaskan sampai temperatur
austenit (austenisasi) kemudian didinginkan, kekerasanya dapat berubah
tergantung dari kecepatan pendinginan yang terjadi.
 Pendinginan Lambat
Proses pendinginan dilakukan dalam waktu yang sangat lambat, misalnya
didinginkan dalam tungku setelah pemanasan (austenisasi) berakhir. Hasil
yang diperoleh adalah baja lunak, sehingga proses demikian sering dikatakan
sebagain proses (annealing).
 Pendinginan Normal
Proses pendinginan dilakukan dalam waktu yang normal, misalnya
didinginkan di udara terbuka. Kekerasan yang terjadi pada pendinginan normal
ini lebih tinggi dibandingkan dengan proses anneal. Proses ini sering disebut
proses normalizing.
 Pendinginan Cepat
Proses pendinginan dilakukan dalam waktu yang cepat, misalnya dicelupkan
kedalam oli, air atau air garam. Setelah proses ini kekerasan bahan meningkat
tajam sehingga cenderung getas. Untuk sedikit melunakkan biasanya diikuti
dengan proses temper.

Proses Pengerjaan Dingin (Cold Working)

Pengerjaan dingin adalah proses yang dilakukan terhadap bahan dalam keadaan
dingin (dalam temperatur ruang). Proses dingin ini misalnya di rol, ditarik,
dilebarkan atau ditempa, akibat dari proses dingin bahan menjadi lebih keras.
Metode Pengujian Kekerasan :
 Menggores
Dua bahan yang berbeda saling digoreskan, tingkat kekerasanya ditentukan
dari bahan mana yang tergores dan mana yang mampu menggores. Bahan yang
mampu menggores lebih keras dibanding yang tergores. Metode ini
dikembangkan oleh MOHS. Khusus untuk batuan, sehingga didapat 10
(sepuluh) tingkat kekerasan dari yang paling rendah talkum sampai tertinggi
intan.
Gambar tingkat kekerasan logam :

 Tumbukan (Rebound/Dynamic Hardness)


Metode ini dikembangkan oleh SHORE dengan menyatukan baja – baja dari
ketinggian tertentu bahan uji seperti ditunjukkan pada gambar 2.1 dibawah ini :

Harga kekerasan ditentukan seberapa tinggi bola baja tersebut memantul


kembali setelah dijatuhkan.
 Penekanan (Penetrasi/Indentasi)
Metode ini dilakukan dengan menekan penetrator / indentor terhadap benda uji
dengan beban tertentu. Harga kekerasan didapat dengan metode, Brinnel,
Vickers atau Rocwell.

Harga kekerasan Brinnel

Penetrator / Indentor yang digunakan Brinnel terbuat dari bola baja yang keras,
oleh karena itu pengujian dengan metode Brinnel dibatasi hanya untuk baja
yang tidak dikeraskan, besi tuang logam non fero.

 Harga kekerasan Vickers


Pengujian dengan metode Vickers, menggunakan penetrator terbuat dari intan
berbentuk piramid dengan sudut 136o . Metode vickers ini dapat digunakan
untuk menguji kekerasan berbagai macam tingkat kekerasan bahan.
 Harga kekerasan Rockwell.
Menentukan harga kekerasan dengan metode rockwell agak berbeda
dibandingkan dengan Brinell maupun Vickers.
Langkah melakukan pengujian rockwell :
 Tahap 1 = Penetrator digerakkan tepat diatas specimen.
 Tahap 2 = Penetrator ditekan dengan beban minor. Ujung penetrator yang
diwakili oleh jarum ukur, diletakan pada harga maksimum.

 Tahap 3 = Penetrator diberi beban tambahan menjadi beban mayor,


ditunggu beberapa saat.Tahap 4 = Beban mayor ditiadakan tinggal
beban minor. Karena berkurangnya beban, maka specimen memberikan
reaksi balik sehingga penetrator terangkat keatas.
Harga kekerasan rockwell diukur dari garis minimum sampai ujung penetrator
pada tahap IV (empat).
3. Prosedur Pengujian

 Metode Rockwell
1. Siapkan alat dan bahan
2. Kikir bahan yang akan diuji :
- St 37
3. Setelah bahan dikikir hinggal halus menggunakan kikir kasar lalu kikir halus
bahan siap diuji kekerasannya dengan metode rockwell
4. Pasang tatakan uji keras pada mesin uji keras rockwell.
5. Pasang indentor
6. Nyalakan mesin, pilih indentor diamond dan ball
7. Putar beban 150 pada saat menggunakan indentor diamond dan 100 pada saat
menggunakan indentor ball.
8. Pasang bahan yang akan di uji pada tatakan tadi, lalu putar alat uji di angka
360 (standar mesin). Jika melewati angka standar maka akan ada tanda
overload.
9. Lalu setelah tepat diputar sesuai standar mesin, tekan start tunggu hingga
mesin memberi sinyal kekuatan bahan yang terbaca pada mesin ( jika good
maka bahan dapat diuji dengan indentor yang kita gunakan, jika not good
maka bahan tidak dapat diuji dengan indentor yang kita gunakan)
10. Ujia bahan sebanyak 20 kali dan catat hasilnya lalu cari rata-rata dari
pengujian setiap bahan untuk mendapat nilai HRB atau HRC rata-rata nya.
11. Rapikan tempat, alat, dan bahan.
12. Kembalikan semua alat dan bahan ke tempat semula.
- Tabel pemilihan beban dan penetrator ditunjukan seperti pada tabel :
Metode atau Penetrator Beban
Skala Rockwell (indentor) Mayor (kg) Minor (kg)
B Bola baja 1/16” 100 10
o
C Intan 120 150 10
D Intan 120o 100 10
G Bola baja 1/16” 150 10
Super Rockwell
30 N Intan 120o 30 3
30 T Bola baja 1/16” 30 3
 Metode Brinell
1. Siapkan alat dan bahan
2. Kikir bahan yang akan diuji :
- St 37
3. Setelah bahan dikikir hinggal halus menggunakan kikir kasar
lalu kikir halus bahan siap diuji kekerasannya dengan metode
brinell.
4. Pasang tatakan uji keras pada mesin uji keras brinell.
5. Pasang indentor khusus untuk uji brinell.
6. Ukur diameter bola indentor.
7. Lalu atur gaya tekan pada mesin sebesar 500 N.
8. Lalu pompa tuas hingga beban naik ke batas merah.
9. Setelah sampai ke batas merah lepaskan tuas hingga turun
kebawah.
10. Setelah itu hitung diameter cekungan akibat pembebanan
yang dilakukan menggunakan mikroskop pengukur.
4. Data Pengujian

Jenis Mesin : pengujian kekerasan rockwell


Tgl. Pengujian : 4 oktober 2018
Standard Pengujian :……………………………………………..
Penguji : Asri Ansar

Beban Indentor Kekerasan


No Bahan
(N) Rockwell
1 St 37 100 Bola baja 1/16” 61.5 HR / RHN

2 St 37 100 Bola baja 1/16” 61 HR / RHN

3 St 37 100 Bola baja 1/16” 64.5 HR / RHN

4 St 37 100 Bola baja 1/16” 66 HR / RHN

5 St 37 100 Bola baja 1/16” 64 HR / RHN

6 St 37 100 Bola baja 1/16” 66.5 HR / RHN

7 St 37 100 Bola baja 1/16” 64.5 HR / RHN

8 St 37 100 Bola baja 1/16” 68 HR / RHN

9 St 37 100 Bola baja 1/16” 63.5 HR / RHN

10 St 37 100 Bola baja 1/16” 64 HR / RHN

11 St 37 100 Bola baja 1/16” 61 HR / RHN

12 St 37 100 Bola baja 1/16” 61 HR / RHN

13 St 37 100 Bola baja 1/16” 60.5 HR / RHN

14 St 37 100 Bola baja 1/16” 61.5 HR / RHN

15 St 37 100 Bola baja 1/16” 63.5 HR / RHN

16 St 37 100 Bola baja 1/16” 61 HR / RHN

17 St 37 100 Bola baja 1/16” 63.5 HR / RHN

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 1


18 St 37 100 Bola baja 1/16” 61.5 HR / RHN

19 St 37 100 Bola baja 1/16” 63.5 HR / RHN

20 St 37 100 Bola baja 1/16” 64 HR / RHN

Skala kekerasan Rockwell :


Skala A : untuk logam lunak, indentor kerucut intan; Skala B : untuk baja
karbon, indentor bola baja dan skala C : untuk baja perlakukan panas,
indentor kerucut intan.

5. Pengolahan Data
(Gunakan Analisis Statistik Sederhana untuk Mendapatkan Harga
Kekerasan Rata Rata dan Standar Deviasi Data hasil Pengujian)

Kekerasan
No Rockwell (𝑋 − 𝑋̅) (𝑋 − 𝑋̅)2
(X)
1 61.5 HR / RHN
2 61 HR / RHN
3 64.5 HR / RHN
4 66 HR / RHN
5 64 HR / RHN
6 66.5 HR / RHN
7 64.5 HR / RHN
8 68 HR / RHN
9 63.5 HR / RHN
10 64 HR / RHN
11 61 HR / RHN
12 61 HR / RHN
13 60.5 HR / RHN
14 61.5 HR / RHN
15 63.5 HR / RHN
16 61 HR / RHN
Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 2
17 63.5 HR / RHN
18 61.5 HR / RHN
19 63.5 HR / RHN
20 64 HR / RHN
∑𝑋 = ∑(𝑋 − 𝑋̅)2 =
1200.5

∑𝑋
𝑋̅ = =
20
63.18421

∑(𝑋 − 𝑋̅)2
𝑺𝑫 = √ =
𝟐𝟎

6. Pembahasan
a. Jelaskan adanya perbedaan harga kekerasan yang timbul pada
pengujian suatu spesimen (jika ada).
b. Jelaskan sumber-sumber kesalahan yang mungkin timbul dalam
pengujian kekerasan.
c. Menentukan jenis bahan uji berdasarkan harga kekerasan spesimen
uji dalam diagram kekerasan bahan.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 3


Penyelesaian
1. adanya perbedaan harga kekerasan yang timbul pada pengujian
suatu specimen hal itu di sebabkan karena pada waktu mengikir
specimen kerja menggunakan mesin pengikir terjadi ketidakrataan
sudut pengikiran dan akibat terlalu cepat specimen kerja hangus
menyebabkan benda kerja kekerasaannya jadi melemah akibat
panas akibat gesekan dari mesin kikir.
2. kesalahan pembacaan alat ukur hal ini sering terjadi akibat jika
tidak teliti dalam melakukan pengukuran.
Kesalahan dalam pengikiran pada saat mengikir pengikiran
terlalu cepat sehingga benda jadi hangus sehingga benda rusak.

3. Menentukan jenis bahan uji berdasarkan harga kekerasan spesimen


uji dalam diagram kekerasan bahan. Hal ini sangat penting karena
penggunaan indentor juga harus sesuai dengan specimen benda
kerja

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 4


7. Kesimpulan dan Saran

Dalam pengujian bahan yaitu pengujian kekerasan Rockwell yang sangat


perlu di perhatikan adalah pada saat pengikiran benda kerja dan kerataan
benda kerja demi tercapainya pengukuran yang maksimal. Dan juga pada
saat pembacaan alat ukur ini menentukan sekali pembacaan alat harus
sangat teliti.

Saran
dalam pengujian kekerasan Rockwell di harapkan memperhatikan
specimen dan pengukuran harus sesuai untuk hasil yang sangat
pengukuran yang lebih baik

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 5


MODUL II PENGUJIAN TARIK

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 6


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 7
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 8


4. Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji universal
(Universal Testing Machine). Data pengujian berupa hasil print out
grafik dan hasil pengujian berupa data gaya, tegangan dan regangan
yang telah dilakukan (Grafik hasil pengujian beserta data record
dilampirkan dalam modul).

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 9


5. Pembahasan
a. Hitung tegangan - regangan teknik bahan dan tegangan – regangan
sebenarnya kemudian gambarkan dalam bentuk grafik (σ – ε) dan (σt
– εt)

b. Tentukan batas luluh bahan berdasarkan grafik yang ada jika batas
yield tidak terlihat dengan jelas.
c. Hitung energi resilence bahan dari hasil pengujian.
d. Hitung keuletan bahan berdasarkan data hasil pengujian.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 10


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 11


MODUL III PENGUJIAN TEKAN

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 12


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 13
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 14


4. Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji universal
(Universal Testing Machine). Data pengujian berupa hasil print out
grafik dan hasil pengujian berupa data gaya, tegangan dan regangan
yang telah dilakukan (Grafik hasil pengujian beserta data record
dilampirkan dalam modul).

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 15


5. Pembahasan
a. Hitung tegangan - regangan teknik bahan dan tegangan – regangan
sebenarnya kemudian gambarkan dalam bentuk grafik (σ – ε) dan (σt
– εt)

b. Tentukan batas luluh bahan berdasarkan grafik yang ada jika batas
yield tidak terlihat dengan jelas.
c. Hitung energi resilence bahan dari hasil pengujian.
d. Hitung keuletan bahan berdasarkan data hasil pengujian.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 16


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 17


MODUL IV PENGUJIAN BENDING

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 18


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 19
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 20


4. Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji universal
(Universal Testing Machine). Data pengujian berupa hasil print out
grafik dan hasil pengujian berupa data gaya, tegangan dan regangan
yang telah dilakukan (Grafik hasil pengujian beserta data record
dilampirkan dalam modul).

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 21


5. Pembahasan
a. Hitung tegangan - regangan teknik bahan dan tegangan – regangan
sebenarnya kemudian gambarkan dalam bentuk grafik (σ – ε) dan (σt
– εt)

b. Tentukan batas luluh bahan berdasarkan grafik yang ada jika batas
yield tidak terlihat dengan jelas.
c. Hitung energi resilence bahan dari hasil pengujian.
d. Hitung keuletan bahan berdasarkan data hasil pengujian.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 22


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 23


MODUL V PENGUJIAN IMPAK

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 24


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 25
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 26


4. Data Pengujian

Jenis Mesin :……………………………………………..


Tgl. Pengujian :……………………………………………..
Standard Pengujian :……………………………………………..
Pjg lengan ayun (R) :…..…………………………………………
Massa bandul (m) :……………………………………………..
Penguji :……………………………………………..

l
p

h1

h2
Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 27
h l α β A = hl HI Permukaan
Bahan EI (J)
(mm) (mm) (drjt) (drjt) (mm2) (J/mm2) Patahan

h, l, α, β rata-rata 3x pengukuran

5. Pembahsan

a. Jelaskan perbedaan-perbedaan utama antara patah ulet dengan


patah getas.
b. Hal-hal manakah yang cenderung menyebabkan patah getas?
c. Berikan interpretasi mengenai harga impak serta bentuk patahan
atas pengujian yang anda lakukan.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 28


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 29


MODUL VI PENGUJIAN PUNTIR

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 30


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 31
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 32


4. Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji tarik. Data
pengujian berupa hasil print out grafik dan hasil pengujian berupa data
gaya puntir, momen puntir, tegangan puntir dan regangan puntir yang
telah dilakukan (Grafik hasil pengujian beserta data record dilampirkan
dalam modul).

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 33


5. Pembahasan
a. Tentukan batas luluh geser material dari kondisi elastis ke plastis.
b. Tentukan modulus geser (G) dari material uji dengan mengambil
kurva lurus pada daerah geseran elastis.
c. Interpretasikan data dan grafik yang diperoleh dari hasil pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 34


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 35


MODUL VII PENGUJIAN STRUKTUR MIKRO

1. Tujuan Pengujian

2. Dasar Teori

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 36


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 37
3. Prosedur Pengujian

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 38


4. Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji struktur mikro
(Stereo Microscope). Data pengujian berupa hasil print out struktur
mikro yang telah dilakukan (Foto struktur mikro dilampirkan dalam
modul).

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 39


5. Pembahasan
a. Bagaimana bentuk dan orientasi butir bahan sesuai pengamatan
pada hasil foto struktur mikro.
b. Tentukan diameter butir bahan sesuai hasil foto struktur mikro.
c. Analisis fasa yang menjadi penyusun logam sesuai hasil foto struktur
mikro.
d. Berdasarkan ukuran butir, orientasi butir dan fasa yang terbentuk
tentukanlah proses pengerjaan yang telah dilakukan pada sampel
bahan yang diuji.

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 40


6. Kesimpulan dan Saran

Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 41


Modul pengujian dan pemeriksaan bahan 42