Anda di halaman 1dari 29

APLIKASI MOBILISASI PADA PASIEN POST

OPERASI FRAKTUR FEMUR DI RUANG RAJAWALI 5B RSUP

DR.KARIADI SEMARANG

Disusun Oleh :

PIPIN DIANA

(G3A017215)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS GENAP

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fraktur merupakan kerusakan kontinuitas tulang, yang dapat bersifat


komplet (inkomplet diseluruh tulang, dengan dua ujung tulang terpisah) atau
(patah sebagian atau pecah). Fraktur terjadi ketika kekuatan (tekanan) yang
diberikan pada tulang melebihi kemampuan tulang untuk meredam syok,
terdapat 3 kategori penyebab : 1. Cedera traumatik mendadak seperti pukulan,
tekanan, puntiran langsung yang mendadak; 2. Cedera stress atau penggunaan
berlebih, seperti yang terjadi pada kaki pemain basket dan tulang kering
pelari; 3. Patologi atau gangguan tulang yang melemahkan integritas tulang,
seperti infeksi, kista, tumor, osteoporosis, atau penyakit paget, dan
penggunaan inhibitor pompa proton atau steroid menurut (Hurst, 2016).
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang biasa
terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian),
dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah
ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 2012:543).
Fraktur femur merupakan hilangnya kontinuitas tulang paha dan
kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur yang disertai
dengan adanya kerusakan jaringan lunak seperti otot, kulit, jaringan saraf dan
pembuluh darah (Helmi, 2012).

2
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, dapat diambil sebagai rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa pengertian Fraktur Femur?
2. Apa penyebab Fraktur Femur?
3. Bagaimana penatalaksanaan Fraktur Femur?
4. Bagaimana asuhan keperawatan Fraktur Femur?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien Ny.S
dengan Fraktur Femur di Ruang Rajawali 5B RSUP dr. Kariadi Semarang

2. Tujuan Intruksional Khusus


a. Mahasiswa mampu melaporkan konsep dasar tentang penyakit
Fraktur Femur
b. Mahasiswa mampu menjabarkan diagnosa keperawatan
c. Mahasiswa mampu mendeskripsikan intervensi keperawatan
d. Mahasiswa mampu menjelaskan implementasi keperawatan
e. Mahasiswa mampu memaparkan tindakan keperawatan yang sudah
dilakukan
f. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien
dengan diagnosa keperawatan dengan gangguan mobilitas fisik

3. Metode Penulisan
Pada metode penulisan makalah ini saya mengumpulkan referensi yang
relevan dari perpustakaan, dan mencari referensi yang relevan dari
internet.

3
4. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika yang terdiri dari poin-poin yang
penting, diantaranya yaitu;
BAB I : Pendahuluan yang berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah,
Tujuan Penulisan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Konsep Dasar yang berisi Definisi dari Fraktur Femur,
etiologi Fraktur Femur , patofisiologi Fraktur Femur, manifestasi klinik
Fraktur Femur , penatalaksanaan Fraktur Femur, konsep Fraktur Femur :
pengkajian fokus, pathways keperawatan, diagnosa keperawatan, fokus
intervensi.
BAB III : Resume Askep yang berisi pengkajian fokus, diagnosa
keperawatan, fokus intervensi.
BAB IV : Aplikasi jurnal EBN
BAB V : Pembahasan
BAB V : Kesimpulan dan Saran.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengetian

Fraktur merupakan kerusakan kontinuitas tulang, yang dapat bersifat


komplet (inkomplet diseluruh tulang, dengan dua ujung tulang terpisah) atau
(patah sebagian atau pecah). Fraktur terjadi ketika kekuatan (tekanan) yang
diberikan pada tulang melebihi kemampuan tulang untuk meredam syok,
terdapat 3 kategori penyebab : 1. Cedera traumatik mendadak seperti pukulan,
tekanan, puntiran langsung yang mendadak; 2. Cedera stress atau penggunaan
berlebih, seperti yang terjadi pada kaki pemain basket dan tulang kering
pelari; 3. Patologi atau gangguan tulang yang melemahkan integritas tulang,
seperti infeksi, kista, tumor, osteoporosis, atau penyakit paget, dan
penggunaan inhibitor pompa proton atau steroid menurut (Hurst, 2016).
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang biasa
terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian),
dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah
ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 2012:543).
Fraktur femur merupakan hilangnya kontinuitas tulang paha dan
kondisi fraktur femur secara klinis bisa berupa fraktur femur yang disertai
dengan adanya kerusakan jaringan lunak seperti otot, kulit, jaringan saraf dan
pembuluh darah (Helmi, 2012).

5
B. Etiologi

Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab fraktur


dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Cedera traumatic
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1. Cedera langsung berarti pukulan/kekerasan langsung terhadap tulang
sehingga tulang patah secara spontan ditempat itu. Pemukulan
biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit
diatasnya.
2. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
3. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot
yang kuat.
b. Fraktur patologik

Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada
berbagai keadaan berikut :

1. Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang


tidak terkendali dan progresif.
2. Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi
akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
lambat dan sakit nyeri.
3. Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain,
biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang

6
dapat disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena
asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit
polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Jitowiyono dkk, 2010:16).

C. Patofisiologi

Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang :

a. Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama
dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan
dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada
tempat patah tulang. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan
berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
b. Proliferasi sel
Dalam sekitar 5 hari, hematome akan mengalami organisasi.
Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendela darah , membentuk
jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
c. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan
tulang di gabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang
serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung
dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang
tak bisa lagi digerakkan.

7
d. Penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu
patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus
menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dan keras.
Penulangan perlu waktu 3-4 bulan.
e. Remodeling menjadi tulang dewasa
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan
mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-
tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi
tulang, dan stres fungsional pada tulang (Smeltzer & Bare,
2002:2268).
D. Manifestasi Klinik

Menurut Smeltzer & Bare (2012:2358), manifestasi klinis fraktur adalah


nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi,
pembengkakan lokal dan perubahan warna.

a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang


diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.

b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung


bergerak secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau
tungkai menyebabkan deformitas ekstremitas, yang bisa diketahui dengan
membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ektremitas tak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas
tulang tempat melekatnya otot.

c. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang, yang sebenarnya karena


kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.

8
d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
yang dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainnya. ( uji kripitasi dapat membuat kerusakan jaringan lunak
lebih berat).

e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai


akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru
terjadi setelah bebebrapa jam atau hari setelah cedera.

E. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan kedaruratan

Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak

menyadari adanya fraktur, dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah.

Maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagian

tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera

harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian,

ektremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah

gerakan rotasi dan angulasi. Gerakan angulasi patahan tulang dapat

menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut.

Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan

bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Pada cedera

ekstremitas atas lengan dapat dibebat dengan dada, atau lengan yang cedera

dibebat dengan sling. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut

bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.

9
2. Prinsip penanganan fraktur

Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan

pengambilan fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.

1) Reduksi fraktur

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen

tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis

a) Reduksi tertutup : pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup

dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang

keposisinya ( ujung-ujungnya saling berhubungan ) dengan

manipulasin atau traksi manual.

b) Traksi : dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi

dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan

spasme otot yang terjadi.

c) Redusi terbuka : pada fraktur tertentu memerlukan reduksi

terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang

direduksi. Alat fiksasi interna dapat berupa pin, kawat,

skrup, plat, paku atau batangan logam dapat digunakan

untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya

sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

2) Imobilisasi fraktur

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau

dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai

10
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi

eksterna dan interna. Metode fiksasi eksterna meliputi

pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau

fiksator eksterna.

3) Mempertahankan dan mengembalikan fungsi : segala upaya

diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi

dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan.

4) Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur: diperlukan

berminggu-minggu sampai berbulan–bulan untuk kebanyakan

fraktur untuk mengalami penyembuhan. Adapun faktor yang

mempercepat penyembuhan fraktur adalah:

a. Imobilisasi fragmen tulang

b. Kontak fragmen tulang maksimal

c. Asupan darah yang memadai

d. Nutrisi yang baik

e. Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang

f. Hormon– hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin

D, steroid anabolik

g. Potensial listrik pada patahan tulang

Faktor – faktor yang memperhambat penyembuhan tulang

a. Trauma lokal ekstensif

b. Kehilangan tulang

11
c. Imobilisasi tak memadai

d. Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang

e. Infeksi

f. Penyakit tulang metabolik

g. Nekrosis avaskuler

h. Usia (lansia sembuh lebih lama) (Smeltzer & Bare, 2012 :

2359)

F. Konsep
1. Pengkajian Fokus
a. Identitas
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
3) Riwayat kesehatan dahulu
4) Riwayat kesehatan keluarga
b. Pola Fungsional
1) Pola nutrisi dan metabolisme
2) Pola eliminasi
3) Pola istirahat tidur
4) Pola aktivitas
c. Pemeriksaan Fisik
1) Status kesehatan umum
2) Head to toe

12
2. Pathways

3. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
2. Skan tulang, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
4. Hitung darah lengkap: HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur) perdarahan
bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel.
5. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beeban kreatinin untuk klirens
ginjal.
6. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multipel, atau cidera hati ( Doenges dalam Jitowiyono,
2010:21).
4. Diagnosa Keperawatan

13
a. Gangguan mobilitas fisik
b. Gangguan rasa nyaman nyeri
c. Resiko infeksi

5. Fokus Intervensi
a. Gangguan mobilitas fisik b. d gangguan neuromokuler
NOC : mobility level
Kriteria hasil :
1. Kekuatan otot meningkat
2. Pasien dan keluarga mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
fisik
NIC :
Exercise therapynambulation:
1. kaji kemampuan pasien dalam melakukan mobilitas fisik
Rasional : untuk mengetahui sejauh mana mobilitas fisik pasien
2. jelaskan pada pasien dan keluarga manfaat mobilitas fisik
Rasional : untuk memberikan informasi pentingnya mobilitas fisik
3. atur posisi atau alih baring setiap 2 jam ( miring kanan, miring kiri)
Rasional : agar tidak terjadi luka tekan pada pasien
4. Monitor tanda tanda vital
Rasional : untuk mengetahui kondisi pasien

14
BAB III

RESUME ASKEP

A. Pengkajian Fokus
1. Identitas
Nama : Ny.S
Umur : 50 th
Pendidikan : SD
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Pekerjaan : Pedagang
Tanggal MRS : 25-6-2018
Diagnosa Medis : Fraktur Femur
Identitas penanggung jawab
Nama : Tn.t
Umur : 55 th
Pendidikan : SD
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Pekerjaan : Pedagang
Hubungan dengan pasien : Suami
2. Keluhan Utama: pasien mengatakan nyeri di tulang paha
3. Riwayat Penyakit Sekarang:
Keluarga pasien mengatakan pada tanggal 20 06 2018 malam masih
bisa berkomunikasi dan jalan kesana kemari namun pada saat keesokan

15
harinya tidak bisa berjalan , keluarga membawa kerumah sakit terdekat
namun tidak ada yg sanggup menangani pasien, pihak rumah sakit
menyarankan segera dibawa ke RSUP dr.Kariadi untuk mendapatkan
penangan khusus.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Keluarga pasien mengatakan pernah melakukan operasi ca mamae.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien mengatakan di keluarganya tidak ada yang mempunyai
penyakit keturunan seperti DM, Hipertensi ASMA dan Jantung
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran : Composmentis
b. Tanda vital :
TD : 130/ 90 mmHg
N : 80x/mnt
RR : 24x/mnt
S : 36,5O C
BB : 67 kg
TB : 150 cm
c. Head to Toe
a. Kulit
Kulit kering, tidak ada edema
b. Kepala
Rambut bersih, rambut berwarna hitam, kepala simetris, tidak ada
benjolan, tidak ada nyeri tekan
c. Wajah
Tidak terdapat luka bekas operasi, tidak simetris, luka bersih, tidak
ada edema
d. Mata

16
Mata simetris, konjungtiva anemis
e. Hidung
Hidung simetris , bersih tidak ada secret, tidak ada polip, tidak
edema, tidak ada pernafasan cuping hidung.
f. Telinga
Telinga simetris, bersih, tidak ada ada serumen, tidak ada nyeri
tekan, tidak ada edema, tidak ada tanda tanda inflamasi, tidak
menggunakan alat bantu pendengaran.
g. Mulut
Mukosa bibir lembab, bersih, simetris, gigi tidak ada yang karies.
h. Leher
Tidak ada pembesaran vena jugularis
i. Dada
a. Paru
Dada simetris, pengembangan dada kanan dan kiri sama, tidak
ada luka, tidak ada nyeri tekan, taktil femitus kanan dan kiri
sama, sonor, suara paru vesikuler, tidak ada suara nafas
tambahan.
b. Jantung
Simetris, tidak ada pembesaran jantung, tidak ada nyeri tekan,
pekak, suara jantung lubdup
j. Abdomen
Perut simetris, tidak ada luka, simetris, bising usus 11x/menit,
tympani, tidak ada nyeri tekan
k. Ekstremitas
Kedua tangan dan kaki lengkap, tangan kanan terpasang infus
20tpm, terdapat gif pada kaki kiri karena post op. fraktur femur
7. Pola Fungsi Gordon
a. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan

17
Pasien mengatakan kesehatan merupakan sangat penting. Jika pasien
sakit maka akan menganggu aktifitasnya, karena pasien sebagai
karyawan swasta. Jika pasien sakit membeli obat di apotik, jika
sakitnya tidak sembuh-sembuh pasien memeriksakan kesehatannya ke
doter terdekat atau di puskesmas
habis setengah porsi.
b. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit: pasien mengatakan sebelum sakit dapat beraktifitas
secra mandiri
Saat sakit: pasien tidak dapat beraktifitas secara mandiri, pasien hanya
berada di tempat tidur, pasien tampak lemah, indeks barthel :
ketergantungan berat
c. Pola Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit tidurnya teratur, tidur
malam kurang lebih 8 jam dan tidur siang 1 jam
Saat sakit: pasien tidur terus
d. Sirkulasi
Pasien mengatakn tidak mempunyai riwayat penyakit hipertensi,
jantung dan tidak ada alergi obat, TD 130/90 mmhg, tekanan nadi
teraba kuat, membrane mukosa bibir kering
e. Eliminasi
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit bak 3-5x dan bab 1-
2x
Saat sakit : pasien bab 1x sehari, frekuensi 50cc, bau khas, warna
kuning, bau khas
f. Neurosensori dan kognitif
Composmentis
g. Keamanan

18
Keluarga pasien merasa aman karena pasien sudah mendapatkan
perawatan di rumah sakit
h. Persepsi diri, konsep diri dan Koping
Pasien mengatakan sedih karena penyakitnya, seharusnya jika dirasa
sejak dulu maka tidak separah ini, dalam pengambilan keputusann
pasien di bantu oleh istrinya, pasien merasa cemas akan penyakitnya
i. Interaksi social
Pasien mengatakan orang yang berpengaruh dalam hidupnya yaitu
keluarganya, jika da masalah pasien selalu menyelesaikan masalahnya
dengan keluarganya
j. Pola nilai dan keyakinan
Sebelum sakit: pasien melaksanakan sholat 5 waktu
Saat sakit: pasien hanya bias berdoa agar segerda sembuh dari
penyakitnya

19
B. Analisa Data
Data Fokus Problem Etiologi

DS : pasien mengatakan nyeri di kaki Gangguan Kerusakan


sebelah kiri dan tidak bias berjalan mobilitas integritas truktur
fisik tulang
DO: TD 130/900 mmhg, RR 24x/menit,
Suhu 36.5, Nadi 80x/menit, pasien
tampak hanya berbaring ditempat tidur
Diagnosa medis : fraktur femur

C. Diagnosa Keperawatan
Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang

20
D. Pathways

E. Fokus Intervensi

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Setelah dilakukan tindakan Exercise therapynambulation


keperawatan diharapkan mobility level
1. kaji kemampuan pasien dalam
dengan kriteria hasil :
melakukan mobilitas fisik
1. Kekuatan otot meningkat Rasional : untuk mengetahui
2. Pasien dan keluarga mengerti sejauh mana mobilitas fisik
tujuan dari peningkatan mobilitas pasien
fisik 2. jelaskan pada pasien dan keluarga
manfaat mobilitas fisik

21
Rasional : untuk memberikan
informasi pentingnya mobilitas
fisik
3. Monitor tanda tanda vital
Rasional : untuk mengetahui
kondisi pasien

22
BAB IV

APLIKASI JURNAL EVIDENCE BASED NURSING RISET

A. Identitas Klien
Nama : Ny.S
Umur : 50th
Pendidikan : SD
Jenis kelamin : perempuan
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Pekerjaan : pedagang
Tanggal MRS : 25-06-2018
Diagnosa Medis: fraktur femur
Identitas penanggungjawab
Nama : Tn.T
Umur : 55th
Pendidikan : SD
Jenis kelamin : lai-laki
Agama : Islam
Alamat : Semarang
Pekerjaan : Pedagang
Hubungan dengan pasien : suami

23
B. Data Fokus
Data Fokus Problem Etiologi

DS : pasien mengatakan nyeri di kaki Gangguan Kerusakan


sebelah kiri dan tidak bias berjalan mobilitas integritas struktur
fisik tulang
DO: TD 130/900 mmhg, RR 24x/menit,
Suhu 36.5, Nadi 80x/menit, pasien
tampak hanya berbaring ditempat tidur
Diagnosa medis : fraktur femur

C. Diagnosa Keperawatan Yang Berhubungan Dengan Jurnal


Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang
D. Evidence Based Nursing Practice Yang Diterapkan Di Pasien
Dari data fokus yang diperoleh maka dapat diambil diagnosa keperawatan
Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang, untuk
evidence based nursing practice yang diterapkan yaitu mobilisasi

24
E. Analisa Sintesa Justifikasi

Tulang

Jaringan lunak ← Pembuluh darah → Serabut saraf dan sum-sum tulang


↓ ↓

Luka Perdarahan

fraktur

Gangguan mobilitssas fisik


(EBN mobilisasi)

F. Landasan Teori Terkait Penerapan Evidence Based Nursing Practice

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat,
2006 ; Mansjoer, 2000).

Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh karena trauma atau
kekuatan fisik (Price & Wilson, 2006).

25
BAB V

PEMBAHASAN

A. Justifikasi Pemilihan Tindakan Berdasarkan Evidence Based Nursing


Peneliti memilih tindakan alih baring 2 jam kepada pasien bedrest
sebagai intervensi keperawatan karena berdasarkan diagnosa keperawatan
yang didapat dari hasil pengkajian pasien muncul masalah Gangguan
mobilitas fisik b.d gangguan neuromoskuler. Kemudian pemilihan alih baring
setiap 2 jam adalah berdasarkan riset yang telah dilakukan penelitian.
1. Judul Penelitian
Pengaruh alih baring 2 jam terhadap resiko dikubitus dengan varian berat
badan pada pasien bedrest total di SMC RS Tlogorejo
2. Peneliti
Zulaikah, Sri Puguh Kristiawati, dan Eko Ch. Purnomo
3. Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif korelasi dengan
menggunakan cross sectional. Populasi penelitian adalah 66 responden
yang mengalami bedrest total yang belum terjadi luka tekan, dan
menggunakan teknik Purposive Sampling.
B. Mekanisme Penerapan Evidence Based Nursig Practice Pada Kasus
Penelitian dilakukan dengan melakukan alih baring setiap 2 jam sekali
pada pasien bedret totaluntuk menghindari terjadinya luka tekan.
C. Hasil Yang Dicapai
Pencegahan dikubitus merupakan prioritas dalam perawatan pasien
terutama pada pasien yang mengalami bedret total. Diharapkan cara alih
baring setiap 2 jam sekali ini mampu mencegah terjadinya dikubitus tersebut.

26
D. Kelebihan Dan Kekurangan Aplikasi Evidence Based Nursing
Kelebihan dari alih baring 2 jam sekali ini adalah mampu membantu
pasien bedrest total agar tidak terjadi luka tekan atau dikubitus, dan dapat
dilakukan oleh keluarga pasie sendiri.

27
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemberian tindakan alih baring 2 jam sekali mampu mencegah
terjadinya luka tekan atau dikubitus pada pasien bedrest total.
B. Saran
Diharapkan Perawat melakukan alih baring 2 jam sekali kepada
pasien bedrest toal untuk menghidari terjadinya dikubitus pada pasien , dan
memberikan edukasi kepada keluarga pasien agar sepulang dari rumah sakit
keluarga dapat melakukan alih baring 2 jam sekali secara mandiri.

28
DAFTAR PUSTAKA

Bernatzky, G, Presch, M. Dkk. Emotional Foundation of Music as a Non-


Pharmacological Pain Management Tool in Modern Medicine.
Neuroscience and Biobehavioral Reviews, 30(60):11.2011
Huda, amin dkk. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diganosa Medis &
Nanda.. MediAction. Yogyakarta.2017
Engram, Barbara ( 2009 ), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah, edisi
Indonesia, EGC, Jakarta.
Brunner, Lillian S; Suddarth, Doris S ( 1986 ), Manual of Nursing Practice, 4th
edition, J.B. Lippincott Co. Philadelphia.
Aziz. 2006. Nursing Interventions Classification (NIC). Solo: Mosby An Affiliate
OfElsefer.
Herlman, T. Heather.2012. NANDA International Diagnosis Keperawatan : Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Potter, P.A.Perry, Anne Griffin. (eds). Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, dan Praktik Edisi 7 volume 2. EGC. Jakarta. 2010B
Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2010. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC

29