Anda di halaman 1dari 61

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA “NY. M” DENGAN DIAGNOSA

MEDIS CARCINOMA NASOFARING DI RUANG PERAWATAN

PALEM ATAS RSUP DR WAHIDIN SUDIROHUSODO

DISUSUN OLEH :

RACHMAT FAHRI (21706316)


SYAMSURIATY (21706284)
ULPA HERAWATI (21706326)
ZAKIA DERAJAT (21706330)
ARIDA SARI (21706305)
WINDA FADILAH (21706328)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAKASSAR

2018

i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kepada ALLAH SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang
berjudul “Asuhan Keperawatan pada Ny. M dengan Diagnosa Medis Carcinoma
Nasofaring Di Ruang Perawatan Palem atas RSUP DR Wahidin Sudirohusodo “
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dalam menempuh
pendidikan jenjang Strata I Keperawatan di STIK Yayasan Pendidikan
Makassar.Dalam melakukan penyusunan makalah ini penulis banyak memperoleh
bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak.
Sebagai manusia biasa, penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu segala kritik dan saran yang
konstruktif penulis harapkan untuk kesempurnaan dalam penulisan selanjutnya.
Semoga karya ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT dan dapat memberikan
sumbangan dan bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di
bidang keperawatan.

Makassar, Mei 2018

KELOMPOK 5

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Medis 4
1. Definisi 4
2. Anatomi Nasofaring 5
3. Etiologi 7
4. Klasifikasi 10
5. Patofisiologi ………………………………………………. 14
6. Gejala dan tanda 14
7. Penatalaksanaan 15
8. Penatalaksanaan Diet 15
B. Konsep Keperawatan 19
1. Pengkajian 19
2. Diagnosa Keperawatan 23
3. Rencana Keperawatan 23
BAB III TINJAUAN KASUS 35
A. Pengkajian Keperawatan 35
B. Klasifikasi Data 42
C. Analisa Data 43
D. Diagnosa Keperawatan 44
E. Rencana Keperawatan 44
F. Implementasi Keperawatan 50
G. Evaluasi Keperawatan 52
BAB IV PENUTUP ……………………………………………….. 55

A. kesimpulan …………………………………………………… 55
B. Saran ……………………………………………………… 56
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Nasofaring merupakan ruang berbentuk trapezoid dengan ukuran

tinggi 4 cm, lebar 4 cm dan anteroposterior 3 cm. Dinding anterior dibentuk

oleh koana dan batas posterior septum nasi. Lantai dibentuk oleh permukaan

atas palatum mole. Bagian atap dan dinding posterior dibentuk oleh

permukaan yang melandai dibatasi oleh sfenoid. Dinding lateral terdapat

muara tuba Eustachius. Dinding nasofaring diliputi oleh mukosa dengan

banyak lipatan atau kripta. Secara histologi mukosa nasofaring dibentuk oleh

epitel berlapis silindris bersilia (pseudostratified ciliated columnar

epithelium) yang ke arah orofaring akan berubah menjadi epitel gepeng

berlapis (stratified squamous epithelium). Di antara keduanya terdapat epitel

peralihan (transitional epithelium) yang terutama didapatkan pada dinding

lateral di daerah fosa Rosenmuller (Brennan, 2006).

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel

yang melapisi nasofaring, tidak termasuk tumor kelenjar atau limfoma.

Angka kejadian karsinoma nasofaring cukup tinggi tergantung dari letak

geografinya. Daerah endemik karsinoma nasofaring adalah daerah dengan

populasi resiko tinggi, terutama di daerah Cina Selatan dan Asia Tenggara,

India Barat Daya, Afrika Utara, Eskimo dan Alaska. Karsinoma nasofaring

merupakan kanker yang sering terjadi di Indonesia dan menempati peringkat

1
ke empat setelah kanker leher rahim, kanker payudara, kanker kulit dan

merupakan kanker yang paling sering terjadi di bagian kepala leher. Penyakit

ini 100% terkait dengan EBV, terutama tipe undifferentiated carcinoma.

Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher adalah karsinoma nasofaring,

kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring

(16%), tumor ganas rongga mulut, tonsil, tiroid dan hipofaring dalam

prosentase yang lebih rendah (Roezin dan Adham, 2007).

Secara umum karsinoma nasofaring ditemukan pada populasi yang

lebih muda daripada kanker kepala dan leher di tempat lain. Pada daerah

endemik insiden meningkat sejak usia 20 tahun dan mencapai puncak pada

dekade IV dan dekade V (Chan dan Felip, 2009). Pada daerah resiko rendah

usia terbanyak pada dekade V dan dekade VI tapi masih terdapat angka

kejadian yang signifikan pada usia di bawah 30 tahun, dengan puncak

awalnya antara usia 15-25 tahun. Karsinoma nasofaring lebih sering dijumpai

pada pria daripada wanita dengan perbandingan pria dan wanita 3 : 1 (Marur

dan Forastiere, 2008). Di Indonesia perbandingan penderita laki-laki dan

perempuan berkisar antara 2-3 berbanding 1, dengan frekuensi terbanyak

pada umur 40-60 tahun. Hasil penelitian di dalam maupun luar negeri

melaporkan bahwa sebagian besar penderita (69-96%) datang berobat ke

rumah sakit sudah dalam keadaan stadium lanjut atau stadium III dan IV

(Widiastuti dkk., 2011).

Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada

pertumbuhan lokal dan metastasenya. Kesulitan yang timbul pada perawatan

2
pasien pasca pengobatan lengkap dimana tumor tetap ada (residu) akan

kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastasis jauh pasca

pengobatan seperti ke tulang, paru, hati, otak. Pada kedua keadaan tersebut

diatas tidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan

simtomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien akhirnya

meninggal dalam keadaan umum yang buruk , perdarahan dari hidung dan

nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat-alat vital

akibat metastasis tumor (Fuda Cancer Hospital Guangzhou, 2002 dan Roezin,

Anida, 2007). Proses perawatan pasien dengan carsinoma nasofaring tidak

lepas dari kemampuan perawat dalam membuat sebuah konsep asuhan

keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi pasien. Melalui

makalah ini penulis menyusun konsep asuhan keperawatan pada pasien

dengan diagnosa medis karsinoma nasofaring.

B. TUJUAN PENULISAN

Diketahuinya konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa

medis karsinoma nasofaring.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP MEDIS

1 Definisi

Kanker adalah suatu penyakit pertumbuhan sel karena di dalam

organ tubuh timbul dan berkembang biak sel-sel baru yang tumbuh

abnormal, cepat, dan tidak terkendali dengan bentuk, sifat dan gerakan

yang berbeda dari sel asalnya, serta merusak bentuk dan fungsi organ

asalnya (Dalimartha, 2004).

Kanker sering dikenal sebagai tumor, tetapi tidak semua tumor

disebut kanker. Tumor merupakan satu sel liar yang berada dibagian

tubuh dan terus membesar di lokasi yang tetap atau tidak menyebar ke

bagian tubuh lain. Mengakibatkan terbentuknya benjolan di bagian tubuh

tertentu dan jika tidak diobati dengan tepat sel tumor berubah menjadi

kanker.

Berbeda dengan sel tumor yang tidak menyebar kebagian tubuh

lain, sel kanker akan terus membelah diri dengan cepat dan tidak

terkontrol menyebabkan sel kanker sangat mudah menyebar ke beberapa

bagian tubuh melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening

(Aprianti, 2012). Kanker nasofaring adalah tumor ganas yang timbul di

daerah nasofaring area di atas tenggorok dan dibelakang hidung (POI,

4
2010). Dapat ditemukan berbagai jenis tumor ganas di nasofaring, antara

lain :

a. Jenis karsinoma epidermoid

Tumor yang berasal dari sel yang melapisi organ-organ internal

biasanya timbul dari jaringan epitel kulit atau epidermis kulit dan

kebanyakan berasal dari kelenjar sebasea atau kelenjar yang

mengeluarkan minyak dari dalam kulit.

b. Jenis adenokarsinoma

Tumor yang berasal dari bagian dalam kulit seperti endodermis,

eksodermis dan mesodermis.

c. Jenis karsinoma adenoid kistik

Benjolan kecil yang berkembang dibawah kulit pada batang leher

wajah tumbuh lambat dan sering menyakitkan yang mudah

digerakan, serta berbagai jenis sarkoma dan limfoma maligna

(Soepardi et al, 1993).

2 Anatomi Nasofaring

Anatomi letak nasofaring dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

5
Nasofaring merupakan suatu ruangan yang dilapisi mukosa dan

disebelah lateral dibatasi oleh lamina medialis processus pterygoidei, di

superior oleh os sphenoideum, di anterior oleh choanae dan vomer

tengah, di posterior oleh clivus dan di inferior oleh palatum molle. Tuba

eustachii bermuara ke arah posterolateral dan dikelilingi oleh suatu

struktur kartilago. Dibelakang tuba eustachii adalah lekuk-lekuk mukosa

yang disebut sebagai fossae rosenmulleri. Adenoid (tonsilla

pharyngealis) menggantung dari fassae tersebut dan dinding

posterosuperior kubah nasofaring (Khoa dan Gady, 2012). Nasofaring

merupakan rongga dengan dinding kaku yang berada pada atas, belakang

dan lateral. Bagian depan berhubungan dengan rongga hidung melalui

koana sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering

timbul. Penyebaran tumor ke lateral akan menyumbat muara tuba

6
Estachius dan akan mengganggu pendengaran serta menimbulkan cairan

di telinga tengah. Metastasis jauh dapat terjadi di daerah kepala serta

dapat menimbulkan ganggu pada saraf otak (Ballenger, 2010).

3 Etiologi

Etiologi karsinoma nasofaring sudah hampir dapat dipastikan bahwa

faktor pencetus terbesarnya ialah suatu jenis virus yang disebut virus

Epstein-Barr (Soepardi et al, 1993). Karena pada semua pasien

nasofaring didapatkan titer anti-virus Epstein-Barr (EB) yang cukup

tinggi. Titer ini lebih tinggi dari titer orang sehat, pasien tumor ganas

leher dan kepala lainnya dan tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada

kelainan nasofaring yang lain sekalipun (Soepardi et al,2012). Selain dari

itu terdapat juga faktor predisposisi yang mempengaruhi pertumbuhan

tumor ganas ini, seperti :

a. Faktor ras

Banyak ditemukan pada ras Mongoloid, terutama di daerah Cina

bagian selatan berdasarkan hasil pengamatan cara memasak

tradisional sering dilakukan dalam ruang tertutup dan dengan

menggunakan kayu bakar (Soepardi et al, 1993).

b. Faktor genetik

Tumor ini atau tumor pada organ lainnya ditemukan pada beberapa

generasi dari suatu keluarga (Soepardi et al, 1993).

c. Faktor sosial ekonomi

7
Faktor yang mempengaruhi ialah keadaan gizi, polusi dan lain-lain

(Soepardi et al, 1993).

d. Faktor kebudayaan

Kebiasaan hidup dari pasien, cara memasak makanan serta

pemakaian berbagai macam bumbu masak mempengaruhi

tumbuhnya tumor ini dan kebiasaan makan makanan terlalu panas.

Terdapat hubungan antara kadar nikel dalam air minum dan

makanan dengan mortalitas karsinoma nasofaring (Soepardi et al,

2012). Beberapa penelitian juga menyebutkan hubungan antara

kanker nasofaring dengan kebiasaan memakan ikan asin secara terus

menerus dimulai dari masa kanak-kanak. Konsumsi ikan asin

meningkatkan risiko 1,7 sampai 7,5 kali lebih tinggi dibanding yang

tidak mengkonsumsi ikan asin (Ondrey dan Wright, 2003 cit

Ariwibowo, 2013). Ikan asin dan makanan yang diawetkan

menggunakan larutan garam akan mengubah senyawa yang

terkandung dalam ikan yakni senyawa nitrat menjadi senyawa

nitrosamin. Tubuh mengkonsumsi makanan tinggi garam dapat

menurunkan kadar keasaman lambung, sehingga dapat memicu

perubahan nitrat pada ikan asin atau makanan yang mengandung

tinggi garam menjadi nitrit dan nitrosamin yang bersifat

karsinogenik pemicu kanker (Barasi, 2007). Rendahnya kadar

vitamin C sewaktu muda dan kekurangan vitamin A dapat merubah

8
nitrat menjadi nitrit dan senyawa nitrosamin menjadi zat karsinogen

pemicu kanker (Ballenger,2010).

e. Letak geografis

Terdapat banyak di Asia Selatan, Afrika Utara, Eskimo karena

penduduknya sering mengonsumsi makanan yang diawetkan (daging

dan ikan) terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya

kejadian kanker nasofaring (Soepardi et al, 2012).

f. Jenis kelamin

Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dari pada

perempuan disebabkan kemungkinan ada hubungannya dengan

faktor kebiasaan hidup laki-laki seperti merokok, bekerja pada

industri kimia cenderung lebih sering menghirup uap kimia dan lain-

lain (Soepardi et al, 2012).

g. Faktor lingkungan

Faktor yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia, asap

sejenis kayu tertentu yang dihasilkan dari memasak menggunakan

kayu bakar, terutama apabila pembakaran kayu tersebut tidak

sempurna dapat menyebarkan partikel-partikel besar (5-10

mikrometer) yang dalam segi kesehatan dapat tersangkut di hidung

dan nasofaring, kemudian tertelan. Jika pembersihan tidak sempurna

karena ada penyakit hidung, maka partikel ini akan menetap lebih

lama di daerah nasofaring dan dapat merangsang tumbuhnya tumor

(Ballenger, 2010).

9
h. Radang kronis daerah nasofaring

Dianggap dengan adanya peradangan, mukosa nasofaring menjadi

lebih rentan terhadap karsinogen lingkungan (Iskandar et al, 1989).

4 Klasifikasi

Menentukan stadium dipakai sistem TMN (sistem tumorkelenjar-

metastasis) menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) /

UICC (Union Internationale Contre Cancer) (2010), Edisi 7, untuk

Kanker Nasofaring dapat dilihat pada Tabel.

Klasifikasi stadium TNM (sistem tumor-kelnjar-metastasis) American

Joint Committee on Cancer (AJCC) 2010, Edisi 7 untuk Kanker

Nasofaring dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) 2010

Keadaan Tumor Batasan


Primer (T)
Tx Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 Tidak terdapat tumor primer.
Tis Karsinoma in situ.
T1 Tumor terbatas pada nasofaring atau meluas ke
orofaring dan/atau kavitas nasal, tanpa ekstensi
T2 parafaringeal.
T3 Tumor meluas ke parafaringeal.
Tumor masuk ke struktur tulang pada dasar
T4 tengkorak dan/atau sinus paranasal.
Tumor dengan perluasan intrakranial, hipofaring,
orbita, atau infratemporal fossa.
Kelenjar Getah Batasan
Bening Regional
(N)
Nx Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai.
N0 Tidak terdapat metastasis ke kelenjar getah bening
N1 regional.
Metastasis unilateral di kelenjar getah bening
servikal, 6cm atau kurang di atas fosa

10
suprakavikula, atau keterlibatan kelenjar getah
N2 bening retrofaringeal bilateral atau unilateral, < 6
cm pada dimensi terbesarnya.
N3 Metastasis bilateral di kelenjar getah bening, 6 cm
N3a atau kurang dalam dimensi terbesar diatas fosa
N3b suprakalvikula
Metastasis di kelenjar getah bening, ukuran > 6 cm.
Ukuran > 6 cm
Perluasan ke fosa supraklavikula
Metastasis Jauh Batasan
(M)
Mx Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Metastasis jauh.
Sumber : Perhimpunan Onkologi Indonesia. Edisi 1, 2010.

Berdasarkan TNM (sitem tumor-kelenjar-metastasis) tersebut, stadium

penyakit dapat dikelompokkan berdasarkan American Joint Committee

on Cancer (AJCC) 2010 dapat dilihat pada Tabel.

Tabel stadium Karsinoma Nasofaring

Stadium Keadaan Kelenjar Metastasis


Tumor Getah Tumor
Primer Bening
Regional
Stadium 0 Tis N0 M0
Stadium I T1 N0 M0
Stadium II T1 N1 M0
T2 N0 M0
T2 N1 M0
Stadium III T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N0 M0
T3 N1 M0
T3 N2 M0
Stadium IVA T4 N0 M0

11
T4 N1 M0
T4 N2 M0
Stadium IVB Semua T N3 M0
Stadium IVC Semua T Semua N M1
Sumber : Perhimpunan Onkologi Indonesia. Edisi 1, 2010.

Keterangan :

a. Stadium 0 = Tumor terbatas di nasofaring, tidak ada pembesaran,

tidak ada metastasis jauh.

b. Stadium II = Tumor terbatas di nasofaring, metastasis kelenjar getah

bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6

cm, diatas fossa supraklavikula, tidak ada metastasis jauh. Terjadi

perluasan tumor ke rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring,

metastasis kelenjar getah bening unilateral. Disertai perluasan ke

parafaring, tidak ada pembesaran dan metastasis kelenjar getah

bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6

cm, diatas fossa supraklavikula, tidak ada metastasis jauh.

c. Stadium III = Tumor terbatas di nasofaring, metastasis kelenjar getah

bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6

cm, diatas fossa supraklavikula, dan tidak ada metastasis jauh.

d. Stadium IVA = Tumor dengan perluasan intrakranial dan / atau

terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring,

orbita atau ruang mastikator. Tidak ada pembesaran dan metastasis

kelenjar getah bening unilateral serta metastasis kelenjar getah

bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6

cm, diatas fossa supraklavikula. Tidak ada metastasis jauh.

12
e. Stadium IVB = Tumor primer, tidak tampak tumor, tumor terbatas di

nasofaring, tumor meluas ke jaringan lunak, perluasan tumor ke

orofaring dan / atau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring,

disertai perluasan ke parafaring, tumor menginvasi struktur tulang

dan / atau sinus paranasal, tumor dengan perluasan intrakranial dan /

atau terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal,

hipofaring, orbita atau ruang mastikator. Metastasis kelenjar getah

bening bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6 cm, atau terletak di

dalam fossa supraklavikula. Tidak ada pembesaran.

f. Stadium IVC = Tumor primer, tidak tampak tumor, tumor terbatas di

nasofaring, tumor meluas ke jaringan lunak, perluasan tumor ke

rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring. Bisa jadi disertai

perluasan ke parafaring, tumor menginvasi struktur tulang dan atau

sinus paranasal, tumor dengan perluasan intrakranial dan atau

terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring,

orbita atau ruang mastikator. Selain itu dapat juga pembesaran

kelenjar getah bening regional, pembesaran kelenjar getah bening

tidak dapat dinilai, tidak ada pembesaran, metastasi kelenjar getah

bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6

cm, diatas fossa supraklavikula, metastasis kelenjar getah bening

bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm,

diatas fossa supraklavikula, Metastasis kelenjar getah bening

bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6 cm, atau terletak di dalam

13
fossa supraklavikula, ukuran lebih dari 6 cm, di dalam

supraklavikula, dan terdapat metastasis jauh. (Soepardi et al, 2012).

5. Patofisiologi

6. Gejala dan Tanda

Gejala dan tanda kanker nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok yaitu

a. Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan

hidung dan pilek (Soepardi et al, 2012). Gejala sumbatan hidung

yang didahului oleh epitaksis yang berulang. Pada keadaan lanjut

tumor masuk ke dalam rongga hidung dan sinus paranasal (Soepardi

et al, 1993).

b. Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena

tempat asal tumor. Gangguan dapat berupa tinitus, rasa penuh di

14
telinga, berdengung sampai rasa nyeri di telinga (Soepardi et al,

2012).

c. Gangguan penglihatan sehingga penglihatan menjadi diplopia

(penglihatan ganda) (Soepardi et al, 2012). Gejala dimata terjadi

karena tumor berinfiltrasi ke rongga tengkorak, dan yang pertama

terkena ialah saraf otak ke 3, 4 dan 6, yaitu yang mempersarafi otot-

otot mata, sehingga menimbulkan gejala diplopia. Gejala yang lebih

lanjut ialah gejala neurologik, karena infiltrasi tumor ke intrakranial

melalui foramen laserum, dapat mengenai saraf otak ke 3, sehingga

mengenai saraf otak ke 9, 10, 11 dan 12, dan bila keadaan ini terjadi

prognosisnya buruk (Soepardi et al, 1993).

d. Metastasis ke kelenjar leher dalam bentuk benjolan di leher

(Soepardi et al, 2012).

6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan metode pengobatan pada penderita kanker nasofaring

dapat dilihat pada Tabel.

Penatalaksanaan Metode Pengobatan Pada Kanker Nasofaring

Stadium Penatalaksanaan
Stadium I Radioterapi
Stadium II & III Kemoradiasi
Stadium IV dengan N < 6 cm Kemoradiasi
Stadium IV dengan N > 6 cm Kemoterapi dosis penuh dilanjutkan
dengan kemoradiasi
Sumber : Soepardi et al, 2012.

7. Pemilihan Terapi Kanker

Memilih obat kanker tidaklah mudah, banyak faktor yang perlu

15
diperhatikan yakni jenis kanker, kemosensitivitas atau resisten, populasi

sel kanker, persentasi sel kanker yang terbunuh, siklus pertumbuhan

kanker, imunitas tubuh dan efek samping terapi yang diberikan

(Sukardja, 2000). Terapi medik yang dapat digunakan untuk mengobati

karsinoma nasofaring ialah :

a. Radioterapi

Terapi radiasi adalah mengobati penyakit dengan menggunakan

gelombang atau partikel energi radiasi tinggi yang dapat menembus

jaringan untuk menghancurkan sel kanker (Kelvin dan Tyson, 2011).

Radio terapi masih memegang peranan terpenting dalam pengobatan

karsinoma nasofaring (Soejipto cit Iskandar et al, 1989). Radioterapi

merupakan pengobatan utama, sedangkan pengobatan tambahan

yang diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetra siklin,

faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti

virus (Soepardi et al, 2012). Dosis yang diberikan 200 rad / hari

sampai mencapai 6000-6600 rad untuk tumor primer, untuk kelenjar

leher yang membesar diberikan 6000 rad. Jika tidak ada pembesaran

diberikan juga radiasi elektif sebesar 4000 rad (Soejipto cit Iskandar

et al, 1989). Kesulitan-kesulitan yang dihubungkan dengan

pemberian terapi radiasi dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan

lanjut. Kompilikasi dini dan lanjut tersebut dapat berupa mukositis

dengan disertai rasa tidak enak pada faring, hilangnya nafsu makan

16
(anoreksia), nausea (mual) dan membran mukosa yang kering

(Adams, 1994).

b. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan obatobatan.

Kemoterapi dapat menjalar melalui tubuh dan dapat membunuh sel

kanker dimanapun di dalam tubuh. Kemoterapi juga dapat merusak

sel normal dan sehat, terutama sel sehat dalam lapisan mulut dan

sistem gastrointestinal, sumsung tulang serta kantung rambut (Kelvin

dan Tyson, 2011).

c. Terapi kombinasi

Merupakan terapi kombinasi dari beberapa terapi. Seperti kombinasi

antara kemo-radioterapi dengan motomycin C dan 5-fluorouracil

memberikan hasil yang cukup memuaskan dan memperlihatkan hasil

yang memberi harapan kesembuhan total pasien karsinoma

nasofaring (Soetjipto cit Iskandar et al, 1989).

d. Operasi

Tindakan operasi berupa diseksi leher radikal, dilakukan jika masih

ada sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar,

dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih

(Soetjipto cit Iskandar et al, 1989). Operasi tumor induk sisa (residu)

atau kambuh (residif) diindikasikan, tetapi sering timbul komplikasi

yang berat akibat operasi (Soeperdi et al, 2012).

8 Penatalaksanaan Diet Pada Pasien Kanker Nasofaring

17
a. Jenis Diet

Diet yang diberikan bagi penderita kanker adalah Diet Tinggi Kalori

Tinggi Protein (TKTP) (Almatsier, 2004). Pada pasien kanker

nasofaring selama pengobatan, seringkali kehilangan nafsu makan,

mual, muntah, diare, pembengkakan pada mulut, kesulitan menelan

dan lain sebagainya yang menyebabkan pasien perlu asupan

makanan tinggi kalori dan tinggi protein untuk meningkatkan

kekebalan tubuh penderita dan mengurangi efek yang lebih parah

dari pengobatan kanker (Moore, 2002).

b. Tujuan Diet

Tujuan diet penyakit kanker adalah untuk mencapai dan

mempertahankan status gizi optimal dengan cara :

1) Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan

penyakit serta daya terima pasien.

2) Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara

berlebihan.

3) Mengurangi rasa mual, muntah dan diare.

4) Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap

makanan oleh pasien dan keluarganya.

c. Syarat Diet

Syarat-syarat diet penyakit kanker adalah sebagai berikut :

1) Energi tinggi, yaitu 36 Kcal/kg BB untuk laki-laki dan 32

Kcal/kg BB untuk perempuan. Apabila pasien dalam keadaan

18
gizi kurang, maka kebutuhan energi menjadi 40 Kcal/kg BB

untuk laki-laki dan 36 Kcal/kg BB untuk perempuan.

2) Protein tinggi yaitu 1-1,5 g/kg BB.

3) Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total.

4) Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total.

5) Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A, B kompleks, C

dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen.

6) Rendah iodium bila sedang menjalani medikasi radioaktif

internal. Bila imunitas menurun (leukosit < 10 ul) atau pasien

akan menjalani kemoterapi agresif, pasien harus mendapat

makanan yang steril. Porsi makan diberikan dalam porsi kecil

dan sering (Almatsier, 2004).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Wawancara

Menurut Sjamsuhidajat (1998), Mansjoer (1999), Iskandar (1989),

informasi yang perlu didapatkan pada wawancara adalah sebagai

berikut :

1) Menanyakan kepada pasien mengenai gejala-gejala yaitu pada

telinga (sumbatan muara tuba dan otitis media) atau adanya

gangguan pendengaran. Selain itu, tanyakan pada pasien

mengenai gejala hidung seperti epistaksis dan sumbatan hidung.

19
2) Menanyakan kepada pasien apakah mempunyai riwayat kanker,

kebiasaan makan makanan yang asin, mengenai keadaan sosial

ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. Apakah

pasien sering kontak dengan zat karsinogen, juga adanya radang

kronis.

b. Identitas

1) Identitas klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,

agama, suku bangsa, status marital, pendidikan, pekerjaan,

tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor medical

record, diagnosis dan alamat.

2) Identitas penanggung jawab yang meliputi : nama, umur, jenis

kelamin, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan

alamat.

c. Riwayat kesehatan

1) Keluhan utama

Biasanya didapatkan adanya keluhan suara agak serak,

kemampuan menelan terjadi penurunan dan terasa sakit waktu

menelan atau nyeri dan rasa terbakar dalam tenggorok.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien

dirawat di rumah sakit. Menggambarkan keluhan utama klien,

kaji tentang proses perjalanan penyakit sampai timbulnya

keluhan, faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan

20
dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan,

daerah terasanya keluhan, semua dijabarkan dalam bentuk

PQRST.

3) Riwayat kesehatan dahulu

Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya

yang ada hubungannya dengan penyakit keturunan dan

kebiasaan atau gaya hidup.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang

sama dengan klien atau adanya penyakit keturunan, bila ada

cantumkan genogram.

d. Dasar Data Pengkajian Pasien

1) Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola

istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya

faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas,

berkeringat malam.

2) Neurosensori

Gejala : gangguan pendengaran dan penghidu, adanya pusing,

sinkope.

3) Nyeri / kenyamanan

Gejala : nyeri terjadi pada bagian nasofaring, terasa panas.

4) Pernapasan

21
Gejala : Adanya asap pabrik atau industri

Tanda : pada pemeriksaan penunjang dapat terlihat adanya

sumbatan seperti massa.

5) Makanan /cairan

Gejala : anoreksia, mual/muntah.

Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit.

e. Pemeriksaan fisik

Inspeksi : Pada bagian leher terdapat benjolan, terlihat pada benjolan

warna kulit mengkilat.

Palpasi : Pasien saat dipalpasi adanya massa yang besar, selain itu

terasa nyeri apabila ditekan.

f. Pemeriksaan THT

1) Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.

2) Rinoskopia anterior : Pada tumor endofilik tidak jelas kelainan

di rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret. Pada tumor

eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga hidung,

tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.

3) Rinoskopia posterior : Pada tumor indofilik tidak terlihat masa,

mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tidak rata dan

paskularisasi meningkat. Pada tumor eksofilik tampak masa

kemerahan.

22
4) Faringoskopi dan laringoskopi : Kadang faring menyempit

karena penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat

menghilang.

5) X – foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan

2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan karsinoma nasofaring

menurut NANDA yaitu :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (neoplasma)

b. Mual berhubungan dengan tumor terlokalisasi (tumor nasofaring)

c. Resiko ketidakseimbangan elektrolit faktor resiko : muntah

d. Gangguan menelan berhubungan dengan mengunyah tidak efisien,

muntah

e. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan

f. Intoleran aktivitas berhubungan dengan tirah baring

g. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit, perubahan

fungsi tubuh

3 Rencana Tindakan Keperawatan

Rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan karsinoma nasofaring

menurut NIC serta tujuan dan kriteria hasil berdasarkan NOC yaitu :

No Diagnosa Tujuan Dan Intervensi (NIC)


Keperawatan Kriteria Hasil
(NANDA) (NOC)
1 Nyeri akut Tujuan : Setelah Manajemen nyeri
berhubungan dilakukan tindakan a. Lakukan

23
dengan agen keperawatan selama pengkajian nyeri
cedera biologis 3x24 jam, pasien komprehensif
(neoplasma) akan menunjukkan yang meliputi
kemampuan untuk lokasi,
mengontrol nyeri karakteristik,
dengan indikator : onset/durasi,
a. Melaporkan frekuensi,
ketidaknyamana kualitas,
n dari berat (1) intensitas atau
sampai tidak beratnya nyeri
ada (5) dan faktor
b. Melaporkan pencetus.
gangguan dalam b. Pastikan
perasaan perawatan
mengontrol dari analgesik bagi
berat (1) sampai pasien dilakukan
tidak ada (5) dengan
c. Melaporkan pemantauan yang
gangguan ketat
pergerakan fisik c. Berikan
dari berat (1) informasi
sampai tidak mengenai nyeri,
ada (5) seperti penyebab
nyeri, berapa
lama nyeri akan
dirasakan, dan
antisipasi dari
ketidaknyamanan
akibat prosedur
d. Kendalikan
faktor lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
respon pasien
terhadap
ketidaknyamanan
(misalnya suhu
ruangan,
pencahayaan,
suara bising)

24
e. Ajarkan prinsip-
prinsip
manajemen nyeri
f. Dorong pasien
untuk memonitor
nyeri dan
menangani
nyerinya dengan
tepat
g. Pilih dan
implementasikan
tindakan yang
beragam
(misalnya
farmakologi,
nonfarmakologi,
interpersonal)
untuk
memfasilitasi
penurunan nyeri
sesuai kebutuhan
Pemberian analgesik
a. Cek perintah
pengobatan
meliputi obat,
dosis, dan
frekuensi obat
analgesik yang
diresepkan
b. Pilih analgesik
atau kombinasi
analgesik yang
sesuai ketika
lebih dari satu
diberikan
2 Mual Tujuan : Setelah Manajemen mual
berhubungan dilakukan tindakan a. Dorong pasien
dengan tumor keperawatan selama untuk memantau
terlokalisasi 3x24 jam, pasien pengalamn diri
(tumor akan menunjukkan terhadap mual

25
nasofaring) kemampuan b. Pastikan bahwa
mengontrol mual obat antiemetik
dan muntah dengan yang efektif
indikator : diberikan untuk
a. Melaporkan mencegah mual
asupan cairan bila
menurun dari memungkinkan
parah (1) c. Kendalaikan
sampai tidak faktor lingkungan
ada (5) yang mungkin
b. Melaporkan membangkitkan
asupan makanan mual (misalnya
berkurang dari bau yang tidak
parah (1) menyenangkan)
sampai tidak d. Lakukan
ada (5) kebersihan mulut
c. Melaporkan sesering mungkin
kehilangan untuk
selera makan meningkatkan
dari parah (1) kenyamanan
sampai tidak kecuali jika hal
ada (5) ini merangsang
mual
e. Dorong pola
makan dengan
porsi sedikit
makanan yang
menarik bagi
pasien
f. Intruksikan
pasien mengenai
diet tinggi
karbohidrat dan
rendah lemak
yang sesuai
g. Berikan cairan
bening dingin
yang bersih dan
makanan yang
tidak berbau dan

26
tidak berwarna
yang sesuai
h. Berikan
informasi
mengenai mual,
seperti penyebab
mual dan berapa
lama itu akan
berlangsung
3 Resiko Tujuan : Setelah Manajemen
ketidakseimbang dilakukan tindakan elektrolit :
an elektrolit keperawatan selama Hiponatremia
faktor resiko : 3x24 jam, kadar a. Monitor nilai
muntah elektrolit seimbang natrium secara
dengan indikator : ketat
a. Menunjukkan b. Monitor
peningkatan manifestasi
serum sodium hiponatremia
dari deviasi terhadap fungsi
berat dari neurologi atau
kisaran normal muskuloskletal
(1) sampai tidak c. Dorong makanan
ada deviasi dari / cairan tinggi
kisaran normal natrium sesuai
(5) kebutuhan
b. Menunjukkan d. Berikan salin
peningkatan hipertonik (3%-
serum klorida 5%) setiap
dari deviasi 3cc/kg/jam atau
berat dari sesuai kebijakan
kisaran normal institusi dengan
(1) sampai tidak koreksi yang hati-
ada deviasi dari hati sesuai
kisaran normal kebutuhan
(5) e. Batasi aktivitas
pasien untuk
pemulihan energi
sesuai kebutuhan
f. Monitor asupan
dan output

27
g. Intruksikan
pasien dan
keluarga
mengenai semua
terapi yang
dilakukan untuk
menangani
hiponatrium
Manajemen cairan
a. Monitor status
hidrasi
b. Monitor hasil
laboratorium
yang relevan
dengan retensi
cairan
c. Monitor tanda
vital pasien
d. Berikan terapi
intravena seperti
yang ditentukan
4 Gangguan Tujuan : Setelah Terapi menelan
menelan dilakukan tindakan a. Bantu pasien
berhubungan keperawatan selama untuk duduk
dengan 3x24 jam, pasien tegak (sebisa
mengunyah akan menunjukkan mungkin
tidak efisien, kemampuan menelan mendekati 90
muntah : fase faringeal derajat) untuk
dengan indikator : makan/ latihan
a. Melaporkan makan
reflek menelan b. Ajarkan pasien
yang sesuai untuk
pada waktunya mengucapkan
dari sangat kata “ahs” untuk
terganggu (1) meningkatkan
sampai tidak elevasi langit-
terganggu (5) langit halus jika
b. Melaporkan memungkinkan
jumlah makanan c. Intruksikan
yang ditelan pasien untuk

28
sesuai dengan membuka dan
ukuran / tekstur menutup mulut
dari sangat terkait dengan
terganggu (1) persiapan
sampai tidak memanipulasi
terganggu (5) makanan
c. Melaporkan d. Sediakan permen
tersedak dari tusuk/ loli untuk
berat (1) sampai dihisap pasien
tidak ada dengan tujuan
tersedak (5) untuk
d. Melaporkan meningkatkan
meningkatnya kekuatan lidah
usaha menelan jika diperlukan
dari berat (1) e. Monitor tanda
sampai ringan dan gejala
(4) aspirasi
f. Intruksikan
pasien / pemberi
perawatan terkait
kebutuhan nutrisi
dan modifikasi
diet , dengan
berkolaborasi
pada ahli gizi.
Pencegahan aspirasi
a. Monitor tingkat
kesadaran, reflek
batuk,
kemampuan
menelan
b. Pertahankan
kepatenan jalan
napas
c. Beri makanan
dalam jumlah
sedikit
d. Haluskan obat-
obatan dalam
bentuk pil

29
sebelum
pemberian
e. Berikan
perawatan mulut

5 Ketidakseimban Tujuan : Setelah Manajemen


gan nutrisi : dilakukan tindakan gangguan makan
kurang dari keperawatan selama a. Monitor
kebutuhan tubuh 3x24 jam, pasien intake/asupan dan
berhubungan akan menunjukkan asupan cairan
dengan perbaikan status secara tepat
ketidakmampua nutrisi : asupan b. Timbang berat
n mencerna makanan dan cairan badan klien
makanan dengan indikator : secara rutin
a. Melaporkan c. Beri tanggung
asupan makanan jawab terkait
secara oral dari dengan pilihan-
tidak adekuat pilhan makanan
(1) sampai dan aktivitas fisik
sepenuhnya dengan klien
adekuat (5) dengan cara yang
b. Melaporkan tepat
asupan cairan d. Bantu klien untuk
secara oral dari mengevaluasi
tidak adekuat kesesuaian/konsi
(1) sampai kuensi pilihan
sepenuhnya makanan dan
adekuat (5) aktivitas fisik
c. Menunjukkan Manajemen nutrisi
asupan nutrisi a. Tentukan status
parenteral dari gizi pasien dan
tidak adekuat kemampuan
(1) sampai pasien untuk
sepenuhnya memenuhi
adekuat (5) kebutuhan gizi
b. Identifikasi
adanya alergi
atau intoleransi
makanan yang
dimiliki pasien

30
c. Beri obat-obatan
sebelum makan
(misalnya
penghilang rasa
sakit, antiemetik)
jika diperlukan
d. Anjurkan pasien
terkait dengan
kebutuhan diet
untuk kondisi
sakit
e. Pastikan diet
mencakup
makanan tinggi
kandungan serat
untuk mencegah
konstipasi
Terapi nutrisi
a. Pilih suplemen
nutrisi sesuai
kebutuhan
b. Kaji kebutuhan
nutrisi parenteral
c. Berikan nutrisi
yang dibutuhkan
sesuai batas diet
yang dianjurkan
d. Monitor intruksi
diet yang sesuai
untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
pasien perhari
sesuai kebutuhan
6 Intoleran Tujuan : Setelah Peningkatan latihan
aktivitas dilakukan tindakan : latihan kekuatan
berhubungan keperawatan selama a. Lakukan skrining
dengan tirah 3x24 jam, pasien kesehatan
baring akan menunjukkan sebelum memulai
toleransi terhadap latihan
aktivitas dengan b. Sediakan

31
indikator : informasi
a. Melaporkan mengenai fungsi
kekuatan tubuh otot, latihan
bagian atas dari fisiologis
sangat c. Bantu
terganggu (1) mengembangkan
sampai tidak program latihan
terganggu (5) kekuatan yang
b. Melaporkan sesuai dengan
kekuatan tubuh tingkat kebugaran
bagian bawah otot, hambatan
dari sangat muskuloskletal
terganggu (1) tujuan kesehatan
sampai tidak fungsional
terganggu (5) d. Evaluasi ukang
c. Melaporkan tingkat kebugaran
kemudahan otot
dalam Manajemen energi
melakukan a. Kaji status
aktivitas hidup fisiologis pasien
harian dari yang
sangat menyebabkan
terganggu (1) kelelahan
sampai tidak b. Tentukan jenis
terganggu (5) dan banyaknya
aktivitas yang
dibutuhkan untuk
menjaga
ketahanan
c. Monitor
intake/asupan
nutrisi untuk
mengetahui
sumber energi
yang adekuat
d. Bantu pasien
identifikasi
aktivitas yang
akan dilakukan
e. Lakukan ROM

32
aktif/ pasif untuk
menghilangkan
ketegangan otot
f. Evaluasi secara
bertahap
kenaikan level
aktivitas klien
7 Gangguan citra Tujuan : Setelah Peningkatan citra
tubuh dilakukan tindakan tubuh
berhubungan keperawatan selama a. Tentukan harapan
dengan 3x24 jam, pasien citra diri pasien
penyakit, akan menunjukkan didasarkan pada
perubahan citra tubuh positif tahap
fungsi tubuh dengan indikator : perkembangan
a. Melaporkan b. Gunakan
gambaran bimbingan
internal diri dari antidsipatif
tidak pernah menyiapkan
positif (1) pasien terkait
sampai dengan
konsisiten perubahan citra
positif (5) tubuh yang telah
b. Melaporkan diprediksikan
deskripsi bagian c. Bantu pasien
tubuh yang untuk
terkena dampak mengidentifikasi
dari tidak bagian dari
pernah positif tubuhnya yang
(1) sampai memiliki persepsi
konsisiten positif terkait
positif (5) dengan tubuhnya
c. Melaporkan d. Bantu pasien
kepuasan untuk
dengan mengidentifikasi
penampilan tindakan yang
tubuh dari tidak akan
pernah positif meningkatkan
(1) sampai penampilan
konsisiten e. Identifikasi
positif (5) kelompok

33
d. Melaporkan pendukung yang
penyesuaian tersedia bagi
terhadap pasien
perubahan f. Fasilitasi kontak
fungsi tubuh dengan individu
dari tidak yang mengalami
pernah positif perubahan
(1) sampai
konsisiten
positif (5)

34
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Sumber informasi : Pasien dan Keluarga

Nama Pasien : Ny.M

Umur : 41 tahun

Tanggal pengkajian : 15 Mei 2018 / 09.30 WITA

No. Rekam Medis : 820525

Ruang Rawat : Palem Atas

Riwayat Kesehatan

Diagnosis masuk Tumor Nasofaring T4N2MX

Keluhan utama Nyeri kepala

Riwayat keluhan Pasien mengeluh nyeri kepala sejak kurang lebih 1


utama bulan yang lalu, nyeri dirasakan tertusuk-tusuk.
Selain di area kepala, nyeri juga dikeluhkan pada
area leher.

Riwayat kesehatan Pasien berbaring supine di tempat tidur dengan


sekarang kondisi lemah, nyeri masih dikeluhkan. Pada pasien
terpasang IVFD RL 28 tetes per menit.

Riwayat medis yang Pasien pernah dirawat di rumah sakit awal bros
pernah dialami sekitar 3 minggu yang lalu.

Kebiasaan Pasien tidak memiliki kebiasaan yang dapat


menggangggu kesehatan seperti merokok dan minum
minuman beralkohol.

Riwayat alergi Pasien tidak memiliki riwayat alergi.

Transfusi darah Pasien memilki riwayat transfusi packed red cell 2


kantong 1 minggu yang lalu.

35
Hasil Pemeriksaan Fisik

PEMERIKSAAN HASIL
FISIK
Tanda Vital Hasil pengukuran tanda-tanda vital :
Tekanan Darah: 11070 mmHg
Pernapasan: 16 x/mnt
Nadi: 88 x/mnt
Suhu: 36,5 oC.
Posisi saat diukur : Berbaring

IMT Berat Badan : 40 kg Tinggi Badan : 155 cm


IMT : BB = 40 = 16,7
TB2 1,552
IMT : Berada pada kisaran berat badan kurang

Rambut dan Inspeksi : Bentuk kepala mesosepal, rambut nampak


Kepala bersih, hitam, lurus dan nampak tipis.
Palpasi : Tidak teraba benjolan pada kepala,
teridentifikasi adanya nyeri tekan.

Mata Inspeksi : Konjungtiva berwarna merah muda, sclera


tidak ikterik, tIdak teridentifikasi adanya oedema pada
daerahe palpebrae. Ukuran pupil 2 mm/ 2mm. Pasien
tidak memiliki riwayat menderita glaukoma, katarak,
kerusakan penglihatan, gatal, penglihatan berawan,
dan nyeri pada mata.
Refleks kornea OS : Positif, ukuran 60/60
Refleks Kornea OD : Positif, ukuran 60/60

Hidung Inspeksi : Tidak nampak adanya pengeluaran darah


dari hidung, tidak teridentifikasi adanya deviasi
septum, tidak nampak adanya jejas/trauma.
Palpasi : Tidak teridentifikasi aadnya nyeri tekan.

Telinga Inspeksi : Bentuk telinga simetris, tulang rawan


lembut, mudah kembali bila dilipat. Telinga nampak
bersih, tidak nampak adanya penggunaan alat bantu
pendengaran.

Mulut Inspeksi : Mulut nampak bersih, stomatitis tidak ada,


nyeri dan kesulitan menelan ada.

36
Labio Inspeksi : Mukosa bibir lembab, bibir tidak nampak
pucat, tidak tampak lesi.

Lidah Inspeksi : Bersih

Gigi Inspeksi : Bersih

Faring Inspeksi : Teridentifikasi pembengkakan

Leher Inspeksi : Nampak adanya pembengkakan, ada keluhan


sulit menelan.

Dada Inspeksi : Tidak ada keluhan nyeri dada, berdebar-


debar, batuk, hemoptisis. AP/Lat =, ekspansi dada
simetris, tidak nampak retraksi dinding dada. Tidak
nampak ada benjolan pada payudara, puting tidak
nampak tenggelam. Pola napas normopneu,
Palpasi :
Perkusi :
Auskultasi : Bunyi napas bronkovesikuler, bunyi
jantung S1/S2 murni regular.

Abdomen Inspeksi : Abdomen nampak datar,


Auskultasi : Bising usus minimal, frekuensi 8x/menit
Palpasi : Turgor kulit abdomen baik.
Perkusi :

Genitalia Inspeksi : Bersih, tidak nampak adanya pengeluaran


cairan.

Uretra Inspeksi : Tidak ada keluhan

Anus Inspeksi : Tidak teridentifikasi adanya haemoroid, lesi,


perdarahan, prolaps dan iritasi.

Ekstermitas Inspeksi : Gerak terbatas pada ekstermitas atas dan


bawah, kelelahan ada.

Bentuk

Punggung Kuku Inspeksi : Normal

Persendian Inspeksi : Tidak nampak adanya pembengkakan.


Palpasi : Tidak teridentifikasi aadnya kontraktur.

Kulit Inspeksi : Berwarna merah muda, tidak nampak adanya

37
pucat, cyanosis, ikterik, jaringan parut dan lesi.
Palpasi : Kulit teraba elastis

Sirkulasi Palpasi : Hangat

Tonus Otot 2 2
2 2

Kekuatan Motorik 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5

0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5

ROM Aktif Aktif


Aktif Aktif

Punggung Inspeksi : Bentuk normal, warna normal sesuai warna


kulit tidak nampak adanya kemerahan, pucat dan nyeri
punggung.

Pengkajian Resiko Jatuh/ Morse Fall Scale

Faktor Risiko Skala Skor


Riwayat jatuh dalam 90 hari terakhir Tidak = 0
Ya = 25
0
Diagnosis sekunder Tidak = 0
15
Ya = 15
Alat bantu berjalan
Bed rest /dgn bantuan perawat 0
0
Tongkat/walker 15
Perabot/Furniture 30
IV/Heparin Lock Tidak = 0
0
Ya = 20
Gaya berjalan
Normal/Bedrest /Immobile 0 10
Lemah 10
Terganggu 20
Status mental
Orientasi sesuai kemampuan 0 0
Melupakan keterbatasan diri 15
Total Skor 25
Level Risiko Jatuh

Level Risiko Jatuh : 25 (Resiko sedang)

Risiko Kerusakan Integritas Kulit (Norton Skin Integrity Risk

Assessment)

38
KRITERIA 0 1 2 3 SKOR

Mobilitas Mandiri penuh Agak terbatas Sangat terbatas Immobile 1

Kadang 1
Status Mental Terjaga penuh Sangat bingung Letargi/Koma
bingung
Baik; habis 75% Cukup; 50-74% 3
Status Nutrisi Buruk; <50% porsi Per selang/IV
porsi porsi
Kondisi Kulit Secara Abrasi/keme- Turgor buruk,
Turgor baik Kering,atropi 0
Umum rahan edema, eritema
Urinari dan 0
Inkontinensi Tidak ada Urinari Fekal
Fekal
Kondisi Fisik Secara 1
Baik Cukup Buruk Sangat buruk
Umum
TOTAL 6

Resiko Integritas kulit : 6 (Resiko rendah)

Pengkajian Nyeri :  Nyeri  Tidak nyeri

Provokes/Pemicu : Pertumbuhan jaringan pada area nasofaring, saat

bergerak

Gambaran Nyeri : Tertusuk-tusuk

Lokasi Nyeri : Area kepala dan leher

Durasi : 1-3 menit

Skala nyeri : 3/10 NRS

Frekuensi : 6-8 kali dalam 24 jam

Neurosensori :

Rasa ingin pingsan : Tidak ada keluhan rasa ingin pingsan, tidak ada

riwayat kejang.

Orientasi waktu : Tidak ada masalah

Tempat : Tidak ada masalah

Orang : Tidak ada masalah

Riwayat demam : Tidak ada riwayat demam dan menggigil.

39
Genggaman tangan : Baik.

Pola Aktivitas Harian Dan Status Fungsional

Istirahat dan Tidur Ada keluhan sulit tidur. Lama tidur siang 3 jam, tidur
malam 4 jam, pasien tidur tanpa bantuan penggunaan
alat bantu. Hal yang membuat pasien cepat tidur
adalah dengan mematikan lampu.

Makan dan Minum Pasien mengeluh mual, tidak ada riwayat alergi. Diet
melalui akses IV (Intra Vena) menggunakan IV-cath
no. 20, lokasi tangan kiri. Cairan yang diberikan RL :
aminofluid 1.000cc 2:1 28 tetes/menit menggunakan
infues set jenis makro. Jumlah minum 1000 cc/hari,
jenis minuman yang dikonsumsi air putih.

Eliminasi BAB
BAB normal konsistensi lunak.
BAK
Frekuensi BAK 7-8x/hari. Urine berwarna kuning.

Kebersihan Diri Pasien memiliki kebiasaan mandi 1x/hari, sikat gigi


2x/hari

Olahraga Pasien mengaku jarang melakukan olahraga.

Aktivitas Secara Tidak ada keluhan respon terhadap aktivitas seperti


Umum berdebar-debar, nyeri dada dan sesak.
Seluruh aktivitas pasien memerlukan bantuan
keluarga.

Identifikasi Derajat Ketergantungan (Metode Douglas)

40
KRITERIA YA TIDAK

A. Perawatan Minimal
1. Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2. Makan dan minum dilakukan sendiri
3. Ambulasi dengan pengawasan
4. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift
5. Pengobatan minimal, status psikologis stabil
B. Perawatan Parsial
1. Kebersihan diri, makan dan minum dibantu
2. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 4 jam
3. Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
4. Foley kateter, input-output dicatat
5. Klien terpasang infus, persiapan pengobatan yang memerlukan
prosedur
C. Perawatan Total
1. Semua kebutuhan klien dibantu
2. Pergantian posisi dan observasi tanda-tanda vital/2 jam
3. Makan melalui NGT, terapi intravena
4. Pemakaian suction

5. Gelisah/disorientasi

Hasil Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium tanggal 14 Mei 2018


Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

GDS 66 mg/dl < 140


SGOT 37 U/L L < 37 P < 31
SGPT 32 U/L L < 42 P < 32
Ureum 6 mg/dl 10-50
Kreatinin 0.4 mg/dl L 0.7-1.3 P 0.6-1.1
Albumin 3.0 gr/dl 3.5-5.0
Natrium 125 mmol/l 136-145
Kalium 4.0 mmol/l 3.5-5.1
Klorida 92 mmol/l 97-111

WBC 9.83 103 / mm3 4.0-10.0


RBC 3.66 106/mm3 4.00-6.00
HGB 10.2 gr/dl 12.0-16.0
HCT 30.0 % 37.0-52.0
PLT 460 103 / mm3 150-450

Pemeriksaan Patologi Anatomi Tanggal 29 April 2018 :


Malignant Ephitealial Tumor

41
Terapi Medis

Terapi Dosis

IVFD RL : Aminofluid 1000cc 2 : 1 28 tpm


Inj. Neurobion 1 Amp/ 24 jam/ IV
Paracetamol drips 1 gr/ 8 Jam/ IV
Inj. Ondancentron 4 mg 1 amp/ 8 jam/ IV jika
muntah
Zinc 20 mg/ 24 jam/ Oral
Vitamin B Kompleks 2 tab / 8Jam/ Oral
Pujimin 2 caps/ 8 Jam/ Oral

B. KLASIFIKASI DATA

DATA OBJEKTIF DATA SUBJEKTIF


1 Nampak ekspresi wajah pasien 1. Pasien mengeluh nyeri :
meringis Provokes/Pemicu :
2 Nampak adanya benjolan pada area Pertumbuhan jaringan
leher pada area nasofaring, saat
3 Hasil pemeriksaan IMT : 16,7 bergerak
(rentang gizi kurang) Gambaran Nyeri :
4 Nampak pasien tidak mampu untuk Tertusuk-tusuk
mengunyah makanan padat Lokasi Nyeri : Area
5 Jenis diet pasien adalah diet cair kepala dan leher
6 Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal Durasi : 1-3 menit
14-5-2018 : Skala nyeri : 3/10 NRS
Kadar natrium dalam darah : 125 Frekuensi : 6-8 kali dalam
mmol/l (hiponatremi) 24 jam
Kadar Clorida dalam darah : 92 2. Pasien mengeluh mual
mmol/l (hipoklorida) 3. Pasien mengeluh muntah
7 Hasil pemeriksaan patologi anatomi 4. Pasien mengaku lemas
Tanggal 29 April 2018 : Malignant 5. Pasien mengaku sulit
Ephitealial Tumor menelan
6. Pasien mengeluh sulit
mengunyah makanan

42
C. ANALISA DATA

Analisa Data Hasil Pengkajian

NO DATA MASALAH
KEPERAWATAN
1 Data Subjektif : Nyeri Akut
Pasien mengeluh nyeri :
Provokes/Pemicu : Pertumbuhan jaringan
pada area nasofaring, saat bergerak
Gambaran Nyeri : Tertusuk-tusuk
Lokasi Nyeri : Area kepala dan leher
Durasi : 1-3 menit
Skala nyeri : 3/10 NRS
Frekuensi : 6-8 kali dalam 24 jam
Data Objektif :
a. Nampak ekspresi wajah pasien meringis
b. Nampak adanya benjolan pada area leher
c. Hasil pemeriksaan patologi anatomi
Tanggal 29 April 2018 : Malignant
Ephitealial Tumor

2 Data Subjektif : Ketidakseimbangan


a. Pasien mengeluh mual nutrisi : kurang dari
b. Pasien mengeluh muntah kebutuhan tubuh
c. Pasien mengaku lemas
d. Pasien mengaku sulit menelan
e. Pasien mengeluh sulit mengunyah
makanan
Data Objektif :
a. Nampak adanya benjolan pada area leher
b. Hasil pemeriksaan IMT : 16,7 (rentang
gizi kurang)
c. Nampak pasien tidak mampu untuk
mengunyah makanan padat
d. Jenis diet pasien adalah diet cair
e. Hasil pemeriksaan patologi anatomi
Tanggal 29 April 2018 : Malignant
3 Ephitealial Tumor Resiko
ketidakseimbangan

43
Faktor resiko : elektrolit
a. Pasien mengeluh mual
b. Pasien mengeluh muntah
c. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 14-
5-2018:
Kadar natrium dalam darah : 125 mmol/l
(hiponatremi)
Kadar Clorida dalam darah : 92 mmol/l
(hipoklorida)

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (neoplasma)

2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan mencerna makanan

3. Resiko ketidakseimbangan elektrolit , faktor resiko :

a. Pasien mengeluh mual

b. Pasien mengeluh muntah

c. Hasil pemeriksaan elektrolit tanggal 14-5-2018:

Kadar natrium dalam darah : 125 mmol/l (hiponatremi)

Kadar Clorida dalam darah : 92 mmol/l (hipoklorida)

E. RENCANA KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Dan Kriteria Intervensi (NIC)


Keperawatan Hasil (NOC)
(NANDA)
1 Nyeri akut Tujuan : Setelah dilakukan Manajemen nyeri
berhubungan tindakan keperawatan h. Lakukan
dengan agen selama 3x24 jam, pasien pengkajian nyeri
cedera biologis akan menunjukkan komprehensif
(neoplasma) kemampuan untuk yang meliputi

44
mengontrol nyeri dengan lokasi,
indikator : karakteristik,
d. Melaporkan onset/durasi,
ketidaknyamanan dari frekuensi,
berat (1) sampai tidak kualitas,
ada (5) intensitas atau
e. Melaporkan gangguan beratnya nyeri
dalam perasaan dan faktor
mengontrol dari berat pencetus.
(1) sampai tidak ada i. Pastikan
(5) perawatan
f. Melaporkan gangguan analgesik bagi
pergerakan fisik dari pasien dilakukan
berat (1) sampai tidak dengan
ada (5) pemantauan yang
ketat
j. Berikan
informasi
mengenai nyeri,
seperti penyebab
nyeri, berapa
lama nyeri akan
dirasakan, dan
antisipasi dari
ketidaknyamanan
akibat prosedur
k. Kendalikan
faktor lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
respon pasien
terhadap
ketidaknyamanan
(misalnya suhu
ruangan,
pencahayaan,
suara bising)
l. Ajarkan prinsip-
prinsip
manajemen nyeri

45
m. Dorong pasien
untuk memonitor
nyeri dan
menangani
nyerinya dengan
tepat
n. Pilih dan
implementasikan
tindakan yang
beragam
(misalnya
farmakologi,
nonfarmakologi,
interpersonal)
untuk
memfasilitasi
penurunan nyeri
sesuai kebutuhan
Pemberian analgesik
c. Cek perintah
pengobatan
meliputi obat,
dosis, dan
frekuensi obat
analgesik yang
diresepkan
d. Pilih analgesik
atau kombinasi
analgesik yang
sesuai ketika
lebih dari satu
diberikan
2 Ketidakseimban Tujuan : Setelah dilakukan Manajemen
gan nutrisi : tindakan keperawatan gangguan makan
kurang dari selama 3x24 jam, pasien e. Monitor
kebutuhan tubuh akan menunjukkan intake/asupan dan
berhubungan perbaikan status nutrisi : asupan cairan
dengan asupan makanan dan secara tepat
ketidakmampua cairan dengan indikator : f. Timbang berat
n mencerna d. Melaporkan asupan badan klien

46
makanan makanan secara oral secara rutin
dari tidak adekuat (1) g. Beri tanggung
sampai sepenuhnya jawab terkait
adekuat (5) dengan pilihan-
e. Melaporkan asupan pilhan makanan
cairan secara oral dari dan aktivitas fisik
tidak adekuat (1) dengan klien
sampai sepenuhnya dengan cara yang
adekuat (5) tepat
f. Menunjukkan asupan h. Bantu klien untuk
nutrisi parenteral dari mengevaluasi
tidak adekuat (1) kesesuaian/konsi
sampai sepenuhnya kuensi pilihan
adekuat (5) makanan dan
aktivitas fisik
Manajemen nutrisi
f. Tentukan status
gizi pasien dan
kemampuan
pasien untuk
memenuhi
kebutuhan gizi
g. Identifikasi
adanya alergi
atau intoleransi
makanan yang
dimiliki pasien
h. Beri obat-obatan
sebelum makan
(misalnya
penghilang rasa
sakit, antiemetik)
jika diperlukan
i. Anjurkan pasien
terkait dengan
kebutuhan diet
untuk kondisi
sakit
j. Pastikan diet
mencakup

47
makanan tinggi
kandungan serat
untuk mencegah
konstipasi
Terapi nutrisi
e. Pilih suplemen
nutrisi sesuai
kebutuhan
f. Kaji kebutuhan
nutrisi parenteral
g. Berikan nutrisi
yang dibutuhkan
sesuai batas diet
yang dianjurkan
h. Monitor intruksi
diet yang sesuai
untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
pasien perhari
sesuai kebutuhan
3 Resiko Tujuan : Setelah dilakukan Manajemen
ketidakseimbang tindakan keperawatan elektrolit :
an elektrolit selama 3x24 jam, kadar Hiponatremia
faktor resiko : elektrolit seimbang dengan h. Monitor nilai
muntah indikator : natrium secara
c. Menunjukkan ketat
peningkatan serum i. Monitor
sodium dari deviasi manifestasi
berat dari kisaran hiponatremia
normal (1) sampai terhadap fungsi
tidak ada deviasi dari neurologi atau
kisaran normal (5) muskuloskletal
d. Menunjukkan j. Dorong makanan
peningkatan serum / cairan tinggi
klorida dari deviasi natrium sesuai
berat dari kisaran kebutuhan
normal (1) sampai k. Berikan salin
tidak ada deviasi dari hipertonik (3%-
kisaran normal (5) 5%) setiap
3cc/kg/jam atau

48
sesuai kebijakan
institusi dengan
koreksi yang hati-
hati sesuai
kebutuhan
l. Batasi aktivitas
pasien untuk
pemulihan energi
sesuai kebutuhan
m. Monitor asupan
dan output
n. Intruksikan
pasien dan
keluarga
mengenai semua
terapi yang
dilakukan untuk
menangani
hiponatrium
Manajemen cairan
e. Monitor status
hidrasi
f. Monitor hasil
laboratorium
yang relevan
dengan retensi
cairan
g. Monitor tanda
vital pasien
h. Berikan terapi
intravena seperti
yang ditentukan

49
F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA HARI / IMPLEMENTASI


KEPERAWA TGL
TAN /JAM
1 I Selasa, 15 a. Melakukan pengkajian nyeri
Mei 2018- komprehensif Hasil :
05-18 Provokes/Pemicu : Pertumbuhan
10.00 jaringan pada area nasofaring, saat
WITA bergerak
Gambaran Nyeri : Tertusuk-tusuk
Lokasi Nyeri : Area kepala dan leher
Durasi : 1-3 menit
Skala nyeri : 3/10 NRS
Frekuensi : 6-8 kali dalam 24 jam
b. Mengajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri
Hasil : Pasien mampu melakukan
tekhnik manajaemen nyeri dengan
relaksasi napas dalam
c. Mengecek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan frekuensi
obat analgesik yang diresepkan
Hasil : Pasien diberikan therapy
Paracetamol drips 1 gr via intravena
d. Memastikan perawatan analgesik
dilakukan dengan pemantauan yang
ketat
Hasil : Setelah 1 jam pemberian
paracetamol 1gr via intravena nyeri
berkurang 2/10 NRS

2 II Selasa, 15 a. Menimbang berat badan klien secara


Mei 2018- rutin
05-18 Hasil : Berat badan berdasarkan
11.15 LILA : 40 kg
WITA b. Memonitor intake/asupan dan
asupan cairan secara tepat
Hasil : Saat ini pasien diberikan diet
cair 200 cc setiap 2 jam
c. Membantu klien untuk mengevaluasi

50
kesesuaian/konsikuensi pilihan
makanan dan aktivitas fisik
Hasil : Pasien mengaku masih lemas
karena hanya mengkonsumsi air
putih, susu, dan jus buah. Namun,
pasien mengetahui bahwa diet cair
merupakan program diet yang sesuai
dengan kondisinya saat ini yang
mengalami kesulitan menelan.
d. Mengidentifikasi adanya alergi
Hasil : Tidak ada keluhan alergi
selama program diet dilaksanakan
e. Menentukan status gizi pasien dan
kemampuan pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizi
Hasil : Pasien dalam kondisi status
gizi kurang, saat ini menjalani
program diet cair dan pemberian
nutrisi via parenteral.
f. Memastikan diet mencakup
makanan tinggi kandungan serat
untuk mencegah konstipasi
Hasil : Pasien diberikan diet sari
buah, frekuensi eliminasi fekal 1 kali
dalam 24 jam konsistensi lunak
g. Memberikan suplemen nutrisi sesuai
kebutuhan
h. Hasil : Melakukan pemberian :
Zinc 20 mg/ 24 jam/ Oral
Vitamin B Kompleks 2 tab / 8Jam/
Oral
Pujimin 2 caps/ 8 Jam/ Oral
i. Memberikan nutrisi yang dibutuhkan
sesuai batas diet yang dianjurkan
Hasil : Telah dilakukan pemberian
aminofluid 1.000 cc 28 tetes / menit
via intra vena

3 III Selasa, 15 a. Memonitor nilai natrium


Mei 2018- Hasil : Nilai natrium 125 mmol/l

51
05-18 b. Dorong makanan / cairan tinggi
12.15 natrium sesuai kebutuhan
WITA Hasil : Pasien mengkonsumsi garam
dapur ½ sendok teh setiap hari
dibawah pengawan dietisien
c. Memonitor status hidrasi
Hasil : Turgor kulit elastis
d. Memonitor asupan dan output
Hasil : Jumlah asupan dalam 24 jam
: 2.000 cc, produksi urine 1.800 cc/
24jam berwarna bening
e. Memonitor tanda vital pasien
Hasil : Tekanan Darah: 11070
mmHg
Pernapasan: 16 x/mnt
Nadi: 88 x/mnt
Suhu: 36,5 oC.
f. Mengelola pemberian salin
hipertonik 3%:
Hasil : Sementara pemberian infus
NaCl 3% 16 tetes/menit cabang
NaCl 0,9% 2 tpm via intravena

G. EVALUASI KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA HARI/ EVALUASI


KEPERAWATAN TANGGA
L/ JAM
1 I Selasa 15 S: Pasien mengaku nyeri
Mei 2018 berkurang 2/10 NRS bersifat
14.00 hilang timbul
WITA O:
a. Ketidaknyamanan (3 =
sedang)
b. Gangguan dalam perasaan (3
= sedang)
c. Gangguan pergerakan fisik (3
= sedang)
A: Nyeri Akut
P : Pertahankan Intervensi :

52
a. Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif
b. Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri
c. Pastikan perawatan analgesik
dilakukan dengan
pemantauan yang ketat
Lanjutkan intervensi :
a. Kendalikan faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan
(misalnya suhu ruangan,
pencahayaan, suara bising)
b. Dorong pasien untuk
memonitor nyeri dan
menangani nyerinya dengan
tepat
2 II Selasa 15 S: Pasien mengaku menghabiskan
Mei 2018 diet cair yang diberikan
14.15 O:
WITA a. Asupan makanan secara oral
(2 = sedikit adekuat)
b. Asupan cairan secara oral (2
= sedikit adekuat)
c. Asupan nutrisi parenteral (4
= sebagian besar adekuat)
A: Ketidakseimbangan nutrisi :
kurang dari kebutuhan tubuh
P : Pertahankan Intervensi :
a. Timbang berat badan klien
secara rutin
b. Monitor intake/asupan dan
asupan cairan secara tepat
c. Bantu klien untuk
mengevaluasi
kesesuaian/konsikuensi
pilihan makanan dan
aktivitas fisik
d. Berikan suplemen nutrisi

53
sesuai kebutuhan
e. Berikan nutrisi yang
dibutuhkan sesuai batas diet
yang dianjurkan
3 III Selasa 15 S : Nilai Natrium : 125 mmol/l
Mei 2018 O:
14.30 a. Peningkatan serum sodium (3
WITA = Deviasi sedang dari kisaran
normal)
b. Peningkatan serum klorida (3
= Deviasi sedang dari kisaran
normal)
A: Resiko ketidakseimbangan
elektrolit
P : Pertahankan Intervensi :
a. Monitor nilai natrium
b. Monitor status hidrasi
c. Monitor asupan dan output
d. Monitor tanda vital pasien
e. Kelola pemberian salin
hipertonik 3%.

54
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Pengkajian

Dalam makalah ini, antara pengkajian pada tinjauan teoritis dan

tinjauan kasus sudah terdapat kesamaan antara teori dan aplikasinya

pada tinjauan kasus.

2. Diagnosa

Diagnosa keperawatan yang muncul yang ada pada tinjauan teoritis

tidak seluruhnya muncul pada tinjauan kasus. Namun diagnosa yang

diangkat sesuai dengan masalah yang ada pada tinjauan kasus sudah

cukup mewakili dan sesuai dengan tinjauan teoritis.

3. Intervensi

Intervensi yang disusun berdasarkan prioritas masalah yang ada pada

tinjauan kasus sudah sesuai dengan tinjauan teoritis.

4. Implementasi

Implementasi merupakan aplikasi dari intervensi yang telah disusun.

5. Evaluasi

Hasil evaluasi dari implementasi keperawatan pada tinjauan kasus

setelah dilakukan perawatan selama 2x 24 jam sudah sangat

memuaskan karena semua masalah teratasi.

55
B. SARAN

1. Untuk Institusi

a. Mengupas secara jelas tentang konsep teoritis dan asuhan keperawatan

pada klien dengan CARSINOMA NASOFARING.

b. Mendemonstrasikan kepada mahasiswa tindakan keperawatan yang

benar pada klien CARSINOMA NASOFARING.

2. Untuk Rumah sakit

a. Memperbaiki sistem manajemen Rumah sakit, sehingga mempermudah

proses keperawatan.

b. Memperhatikan jadwal pemulangan klien dengan CARSINOMA

NASOFARING.

c. Meningkatkan mutu pelayanan.

3. Untuk Perawat

a. Melakukan perawatan terhadap klien dengan gangguan CARSINOMA

NASOFARING. dengan keperawatan professional

b. Melakukan perawatan sesuai dengan prosedur tetap.

c. Melibatkan keluarga dalam proses keperawatan.

56
DAFTAR PUSTAKA

American Joint Committee on Cancer, (2011). AJCC Cancer Staging Manual.


Edisi 8.
New York. Springer
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3.
Jakarta : EGC.
Bryan N, Mark C, 2001. Nasopharyngeal cancer. In Bailey BJ (ed): Head and
neck surgery otolaryngology, volume one, Lippincott Co, Philadelphia,
Damayanti, S. 2005. Karsinoma Nasofaring. Jakarta : FK UI.
Iskandar.N.1989. Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosis dan
Penatalaksanaan. Jakarta : Fakultas Kedokteran Umum, Universitas
Indonesia.
NANDA International.2015. Nursing Diagnosis Classification 2015-2017.
Jakarta : EGC.
National Cancer Institute, (2011). Nasopharyngeal Cancer Treatment. USA.
National Cancerinstitute. http://www.cancer.gov (14 Mei 2018)
Ningrum, Dyah Ayu Retno. 2015. Pengaruh Kemoterapi Terhadap Asupan Makan
Dan Status Gizi Penderita Kanker Nasofaring Di Ruang Rawat Inap
RSUD Dr. Moewardi Di Surakarta. Skripsi thesis, Universitas
Muhammadiyah Surakarta http://eprints.ums.ac.id/ (14 Mei 2018)
Nursing Outcome Classification (NOC) .2008.
Nursing Intervention Classification (NOC) .2008. Jakarta : Mocomedia.
Roezin A, Syafril A, 2006. Karsinoma Nasofaring. Dalam: Soepardi E A. (ed).
Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. Edisi kelima.
Jakarta.
Soepardi, E.A, N.Iskandar, J. Bashiruddin, R.D. Restuti, 2011. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Volume 6.
Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

57
Suyatno. (2010). Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Jakarta : Sagung Seto
Widiastuti dkk. 2011. Ekspresi Protein Cox-2 pada Karsinoma Nasofaring
Respons Tinggi dan Respons Rendah Pasca-Radioterapi. Jakarta : JBP.

58